Terpaksa Bekerja Ditempat yang Kurang Baik

โœUstadz Rikza Maulana Lc.M.Ag
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ€๐ŸŒป๐Ÿ๐Ÿ„๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒน
Assalaamu’alaikum Wr Wb.                                     
___________________
Pertanyaannya.                
Ada  seorang janda yg menjadi tulang punggung klrg, beliau kerja di bank conventional bag.marketing. saat Ini beliau sdh mulai menyadari ttg HK.riba Dan setiap menyarankan klien utk melakukan pinjaman pasti hrs ada kebohongan2 yg dilakukan. Beliau amat takut dg dosa tsb, disisi lain beliau bertanggungjawab dg anaknya yg msh bersekolah. Apakah sebaiknya beliau resign Dr kantornya?      
___________________
Jawabannya.                            
Wa alaikum salam wr wb
Ybs wajib hukumnya utk mencari pekerjaan lain yg halal. Namun selama belum mendapatkan pekerjaan baru yg halal, ybs masih boleh bekerja di konvensional. Dan dianjurkan utk memperbanyak infak shadaqah, disamping istighfar dan taubat.
Wallahu A’lam 
๐ŸŒบ๐Ÿ€๐ŸŒป๐Ÿ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒน
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

Bahaimana Hukum Shalat Bagi Lansia Yang Sudah Pikun?

โœUstadzah Dra Indra Asih
๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒป๐ŸŒน
Assalamu’alaikum Wr. Wb. 
Tanya Ustadz/Ustadzah
1. Orang tua saya berumur 80 tahun, rajin sholat, bahkan jumat kemaren ikut ke masjid sholat jumat diantar anaknya, keesokan harinya diajak sholat tidak mau alasannya lupa sholat, katanya tidak hafal bacaan sholat, katanya lagi kalau sholat bacaannya tidak ingat nanti jadi dosa, makanya tidak mau sholat, ini sudah 3 hari tidak mau sholat. Bagaimana apakah orang tua saya berdosa? Mohon penjelasan Ustadz/Ustadzah. 
Ukhty Sri, Grup Manis A 06
2. Apakah berdoa dengan perantara air dibolehkan atau tidak dalam syariat Islam? Yaitu meminta pertolongan pada Allah dengan media air. (Usul untuk dijadikan meteri kajian MANIS)
Jazakillah Ustadz/Ustadzah๐Ÿ™๐Ÿป
_____________________
JAWABAN
Pertanyaan1
Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, โ€œBarang siapa yang lupa shalat maka shalatlah ketika ingat, tidak ada tebusan baginya selain seperti itu.โ€ ( HR Bukhari )
Orang yang pikun tidak diwajibkan shalat. Pembebanan syariat ( taklif ) ditujukan untuk yang berakal. Karena itu, Allah mewajibkan berbagai bentuk ibadah kepada manusia selama ia berakal sehingga dapat memahami perintah, larangan, serta tujuan ibadah tersebut.
Adapun orang yang tidak berakal tidak dibebani kewajiban-kewajiban syarโ€™i. Oleh karena itu, orang gila, anak kecil, dan orang yang belum baligh tidak dibebani kewajiban syariat. Inilah dimensi rahmat Allah di balik pembebanan syariat.
Contoh lainnya adalah orang yang akalnya tidak normal meski belum sampai pada tingkat gila, atau orang tua yang sudah kehilangan ingatan maka tidak wajib atasnya shalat dan puasa karena ingatannya telah hilang. Dalam kondisi pikun sama kedudukannya seperti bayi yang tidak bisa membedakan. Maka itu, terlepaslah beban syariat darinya.
Pertanyaan2
Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam jika merasakan sakit beliau (membaca kemudian) meniupkan surat Al Ikhlas dan Muโ€™awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas) pada tangan beliau sebanyak 3 kali. Lalu mengusapkan kedua tangannya pada bagian tubuh yang mampu diusap sebelum tidur. Dimulai dari kepala, wajah, lalu ke dada. Sebagaimana yang diberitakan oleh โ€˜Aisyah radhiallahuโ€™anha dalam hadits yang shahih.
Selain itu, Jibril pernah meruqyah beliau shallallahuโ€™alaihi wasallam ketika beliau sakit, dengan menggunakan air yang dibacakan doa:
ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุฃุฑู‚ูŠูƒุŒ ู…ู† ูƒู„ ุดูŠุก ูŠุคุฐูŠูƒุŒ ู…ู† ุดุฑ ูƒู„ ู†ูุณ ุฃูˆ ุนูŠู† ุญุงุณุฏ ุงู„ู„ู‡ูŠุดููŠูƒุŒ ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุฃุฑู‚ูŠูƒ
โ€œbismillaah urqiika min kulli syaiโ€™in yuโ€™dziika wa min syarri kulli nafsin au โ€˜ainin hasidin allaahu yasyfiika bismillaahi urqiikaโ€
โ€œDengan nama Allah aku meruqyahmu, dari segala sesuatu yang mengganggumu, dan dari keburukan penyakit โ€˜ain yang timbul dari pandangan mata orang yang dengki, semoga Allah menyembuhkanmu, Dengan nama Allah aku meruqyahmuโ€
Ini sebanyak 3 kali. Ini adalah metode ruqyah yang disyariatkan dan bermanfaat.
Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam juga pernah membacakan (doa/ruqyah) pada air untuk Tsabit bin Qais radhiallahuโ€™anhu lalu memerintahkan ia untuk memercikkan air tersebut padanya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab Ath Thib dengan sanad yang hasan.
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป
Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com
๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia….

Bolehkah Bisnis MLM

โœUst. Farid Nu’man Hasan
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท        
Pertanyaannya.                
Assalamuallaikum.         
Ustadz  bagaimana hukumnya bisnis dg sistim MLM? Bolehkah, tolong penjelasannya?                    
_________________
Jawabannya.                        
Wa ‘alaikumussalam warahmatullah wa barakatuh.
Masalah bisnis MLM ini tidak bisa digeneralisir. Semua tergantung komitmen masing2 perusahaan MLM terhadap syariah. Bukan sekedar penamaan “MLM syariah”.
– Pd  dasarnya semua bentuk muamalah dan akad adalah sah dan boleh sampai ada dalil yang melarangnya (kullul asyyaa al ibaahah illa maa warada ‘anisy syaari’ tahriimuhu), termasuk MLM
– MLM pd dasarnya keumuman ayat: wa ahallallahul bai’a .. dan Allah halalkan jual beli
maka, selama tdk ada, atau bebas dari:
* barang dan jasa haram 
* gharar(penipuan)
* dharar (bahaya)
* Zhulm (ada pihak yang dirugikan)
* unsur riba
* dua akad dalam 1 transaksi,
Maka, MLM boleh-boleh saja, asalkan para upline dan downline sama2 bekerja.
Jadi, secara global ada aspek:
1. Aspek barang dan jasa, ini harus jelas halalnya
2. Aspek mekanisme penjualannya, juga harus jelas  halalnya juga akadnya.
Pihak yg mengharamkan MLM beralasan ada unsur haram, yaitu satu transaksi ada dua akad. Akad jual beli dan ijarah/sewa jasa. Yaitu ketika anggota beli barang biasanya lebih murah dibanding bukan anggota. Maka “lebih murah” itu merupakan reward dari keanggotaannya, itulah akad keduanya yaitu dimurahkan krn jasanya sebagai anggota.
Sementara pihak yang membolehkan menganggap bahwa seseorang yg telah menjadi anggota, maka dia menjadi “pengiklan dan penawar” produk yg bisa menekan biaya produksi sperti iklan. Posisi seperti ini namanya SAMSARAH orangnya disebut SIMSAAR, bahasa kita adalah makelar atau perantara. Ini dibolehkan para salaf seperti Ibnu Abbas, Ibnu Sirin, Atha,  Al Bukhari, Ibrahim. (Fiqhus Sunnah, 3/159).
Jadi, dia mendapat murah bukan karena akad kedua dalam satu transaksi, tapi itu transaksi yang berbeda yaitu samsarah/makelar, dia ikut menjadi perantara antara produsen dan konsumen, sehingga wajar dia mendapat diskon, bonus, tip, atau istilah lainnya.
Perselisihan ini sangat wajar mengingat model ini adalah sistem kontemporer yang sangat mungkin beda sudut pandang.
Wallahu A’lam.           
๐Ÿ€๐ŸŒป๐Ÿ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒน
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

Berjabat Tangan dengan Kerabat yang Bukan Mahram

โœUstadzah Dra Indra Asih
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน.                                                                       
๐Ÿ“ŒAssalamu’alaikum
Pertanyaannya,                     
Jika orang tua beranggapan bahwa setiap anggota keluarga atau kerabat dekat yg di ikat karena satu suku dengan kita(ortu dan anak2nya) tanpa ada garis keturunan yg sekandung(Mahram) dan mereka menganjurkan agar bersalaman dengan yg bukan mahram kita tersebut sedangkan itu nyata salah,bagaimana cara menjelaskannya ustadzah agar ortu ana paham dan mereka tidak tersinggung dengan penolakan ana untuk bersalaman..
Terimakasih.      
Susan ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ7โƒฃ.                            
___________________
Jawabannya.                    
Wa alaikum salam wr wb,                                          
DR.  Yusuf Qardhawi (Ketua Persatuan Ulama Internasional) dalam bukunya Fatwa-fatwa Kontemporer (terbitan Gema Insani Pres) menjelaskan dengan detil terkait hukum berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram.
Kutipan kesimpulannya sbb:
(disarankan untuk mengkaji/membaca secara lengkap  di http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/Jabat1.html )
“Sesungguhnya ditusuknya kepala salah seorang diantara kamu dengan jarum besi itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” [HR Thabrani-Baihaqi]
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan pengambilan hadits di atas sebagai dalil:
1. Bahwa imam-imam ahli hadits tidak menyatakan secara jelas akan kesahihan hadits tersebut, hanya orang-orang seperti al-Mundziri dan al-Haitsami yang mengatakan, “Perawi-perawinya adalah perawi-perawi kepercayaan atau perawi-perawi sahih.”
Perkataan seperti ini saja tidak cukup untuk menetapkan kesahihan hadits tersebut, karena masih ada kemungkinan terputus jalan periwayatannya (inqitha’) atau terdapat ‘illat (cacat) yang samar. Karena itu, hadits ini tidak diriwayatkan oleh seorang pun dari penyusun kitab-kitab yang masyhur, sebagaimana tidak ada seorang pun fuqaha terdahulu yang menjadikannya sebagai dasar untuk mengharamkan berjabat tangan antara laki-laki dengan perempuan dan sebagainya.
2. Andaikata kita terima bahwa hadits itu sahih dan dapat digunakan untuk mengharamkan suatu masalah, maka saya dapati petunjuknya tidak jelas. Kalimat “menyentuh kulit wanita yang tidak halal baginya” itu tidak dimaksudkan semata-mata bersentuhan kulit dengan kulit tanpa syahwat, sebagaimana yang biasa terjadi dalam berjabat tangan. Bahkan kata-kata al-mass (massa – yamassu – mass: menyentuh) cukup digunakan dalam nash-nash syar’iyah seperti Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan salah satu dari dua pengertian, yaitu:
– Bahwa ia merupakan kinayah (kiasan) dari hubungan biologis (jima’) sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas dalam menafsirkan firman Allah: “Laamastum an-Nisa” (Kamu menyentuh wanita). Ibnu Abbas berkata, “Lafal al-lams, al-mulaamasah, dan al-mass dalam Al-Qur’an dipakai sebagai kiasan untuk jima’ (hubungan seksual). Secara umum, ayat-ayat Al-Qur’an yang menggunakan kata al-mass menunjukkan arti seperti itu dengan jelas, seperti firman Allah yang diucapkan Maryam:
– Bahwa yang dimaksud ialah tindakan-tindakan dibawah kategori jima’, seperti mencium, memeluk, merangkul, dan lain-lain yang merupakan pendahuluan bagi jima’ (hubungan seksual). Ini diriwayatkan oleh sebagian ulama salaf dalam menafsirkan makna kata mulaamasah.
Dari Aisyah, ia berkata:
“Sedikit sekali hari (berlalu) kecuali Rasulullah saw. mengelilingi kami semua – yakni istri-istrinya – lalu beliau mencium dan menyentuh yang derajatnya dibawah jima’. Maka apabila beliau tiba di rumah istri yang waktu giliran beliau di situ, beliau menetap di situ.”
Karena itu, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Fatawa-nya melemahkan pendapat orang yang menafsirkan lafal “mulaamasah” atau “al-lams” dalam ayat tersebut dengan semata-mata bersentuhan kulit walaupun tanpa syahwat.
Dalam menutup pembahasan ini ada dua hal yang perlu saya tekankan:
Pertama, bahwa berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan itu hanya diperbolehkan apabila tidak disertai dengan syahwat serta aman dari fitnah (fitnah seperti: dituduh selingkuh, menjalin asmara). Apabila dikhawatirkan terjadi fitnah terhadap salah satunya, atau disertai syahwat dan taladzdzudz (berlezat-lezat) dari salah satunya (apa lagi keduanya) maka keharaman berjabat tangan tidak diragukan lagi.
Bahkan seandainya kedua syarat ini tidak terpenuhi – yaitu tiadanya syahwat dan aman dari fitnah – meskipun jabatan tangan itu antara seseorang dengan mahramnya seperti bibinya, saudara sesusuan, anak tirinya, ibu tirinya, mertuanya, atau lainnya, maka berjabat tangan pada kondisi seperti itu adalah haram.
Bahkan berjabat tangan dengan anak yang masih kecil pun haram hukumnya jika kedua syarat itu tidak terpenuhi.
Kedua, hendaklah berjabat tangan itu sebatas ada kebutuhan saja, seperti yang disebutkan dalam pertanyaan di atas, yaitu dengan kerabat atau semenda (besan) yang terjadi hubungan yang erat dan akrab diantara mereka; dan tidak baik hal ini diperluas kepada orang lain, demi membendung pintu kerusakan, menjauhi syubhat, mengambil sikap hati-hati, dan meneladani Nabi saw.
Dan yang lebih utama bagi seorang muslim atau muslimah – yang komitmen pada agamanya – ialah tidak memulai berjabat tangan dengan lain jenis. Tetapi, apabila diajak berjabat tangan barulah ia menjabat tangannya.
Saya tetapkan keputusan ini untuk dilaksanakan oleh orang yang memerlukannya tanpa merasa telah mengabaikan agamanya, dan bagi orang yang telah mengetahui tidak usah mengingkarinya selama masih ada kemungkinan untuk berijtihad.
Wallahu a’lam
๐ŸŒบ๐Ÿ€๐ŸŒป๐Ÿ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒน
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Doa Agar Bebas dari Hutang

โœUstadzah Dra.Indra Asih
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒธ๐ŸŒป๐ŸŒท๐ŸŒน
Assalamu’alaikum ustadzah. Ada pertanyaan dari Korma 03 A14.
Pertanyaan:
1. Bagaimana Zakat penghasilan yang diserahkan ke keluarga dekat? Boleh tidak?
2. Bagaimana doa terbebas dari hutang?
3. Apakah benar ada hadist tentang larangan memasukkan biji pala pada masakan?
4. Bagaimana hukum minuman sari buah pala ?
———–
JAWABAN:
๐ŸŒฟPertanyaan1
Memberi Zakat kepada Kerabat
Boleh menyerahkan zakat kepada kerabat jika memang mereka betul-betul orang yang berhak menerima zakat yaitu termasuk delapan golongan sebagaimana yang telah dijelaskan. Ketika zakat kita berikan pada kerabat, ada pahala sedekah (zakat) sekaligus pahala menjalin hubungan kekerabatan (silaturahmi).
Dari Salman bin โ€˜Amir, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,
ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุตู‘ูŽุฏูŽู‚ูŽุฉูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุณู’ูƒููŠู†ู ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉูŒ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุฐููŠ ุงู„ุฑู‘ูŽุญูู…ู ุงุซู’ู†ูŽุชูŽุงู†ู ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉูŒ ูˆูŽุตูู„ูŽุฉูŒ
โ€œSesungguhnya sedekah kepada orang miskin pahalanya satu sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat pahalanya dua; pahala sedekah dan pahala menjalin hubungan kekerabatan.โ€( HR. An Nasai, At Tirmidzi , Ibnu Majah)
๐ŸŒฟPertanyaan2
Doa 1
Telah diceritakan dari Zuhair bin Harb, telah diceritakan dari Jarir, dari Suhail, ia berkata, โ€œAbu Shalih telah memerintahkan kepada kami bila salah seorang di antara kami hendak tidur, hendaklah berbaring di sisi kanan kemudian mengucapkan,
ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฑูŽุจู‘ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ุงู„ุณู‘ูŽุจู’ุนู ูˆูŽุฑูŽุจู‘ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุฑู’ุดู ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู’ู…ูุŒ ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ูˆูŽุฑูŽุจู‘ูŽ ูƒูู„ูู‘ ุดูŽูŠู’ุกูุŒ ููŽุงู„ูู‚ูŽุงู„ู’ุญูŽุจูู‘ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽูˆูŽู‰ุŒ ูˆูŽู…ูู†ู’ุฒูู„ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽูˆู’ุฑูŽุงุฉู ูˆูŽุงู’ู„ุฅูู†ู’ุฌููŠู’ู„ู ูˆูŽุงู„ู’ููุฑู’ู‚ูŽุงู†ูุŒ ุฃูŽุนููˆู’ุฐู ุจููƒูŽ ู…ูู†ู’ ุดูŽุฑูู‘ ูƒูู„ูู‘ ุดูŽูŠู’ุกูุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุขุฎูุฐูŒ ุจูู†ูŽุงุตููŠูŽุชูู‡ู. ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุงู’ู„ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ู ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽูƒูŽ ุดูŽูŠู’ุกูŒุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุงู’ู„ุขุฎูุฑู ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽูƒูŽุดูŽูŠู’ุกูŒุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุงู„ุธู‘ูŽุงู‡ูุฑู ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ููŽูˆู’ู‚ูŽูƒูŽ ุดูŽูŠู’ุกูŒุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุงู„ู’ุจูŽุงุทูู†ู ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุฏููˆู’ู†ูŽูƒูŽ ุดูŽูŠู’ุกูŒุŒ ุงูู‚ู’ุถูุนูŽู†ู‘ูŽุง ุงู„ุฏู‘ูŽูŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุฃูŽุบู’ู†ูู†ูŽุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ููŽู‚ู’ุฑู
Allahumma robbas-samaawaatis sabโ€™i wa robbal โ€˜arsyil โ€˜azhiim, robbanaa wa robba kulli syai-in, faaliqol habbi wan-nawaa wa munzilat-tawrooti wal injiil wal furqoon. Aโ€™udzu bika min syarri kulli syai-in anta aakhidzum binaa-shiyatih. Allahumma antal awwalu falaysa qoblaka syai-un wa antal aakhiru falaysa baโ€™daka syai-un, wa antazh zhoohiru fa laysa fawqoka syai-un, wa antal baathinu falaysa duunaka syai-un, iqdhi โ€˜annad-dainaa wa aghninaa minal faqri.
Artinya:
โ€œYa Allah, Rabb yang menguasai langit yang tujuh, Rabb yang menguasai โ€˜Arsy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al-Qurโ€™an). Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya (semua makhluk atas kuasa Allah). Ya Allah, Engkau-lah yang awal, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkaulah yang terakhir, setelahMu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang lahir, tidak ada sesuatu di atasMu. Engkau-lah yang Batin, tidak ada sesuatu yang luput dari-Mu. Lunasilah utang kami dan berilah kami kekayaan (kecukupan) hingga terlepas dari kefakiran.โ€ (HR. Muslim)
Doa 2
Abu Said Al-Khudhri radhiyallahu โ€™anhu bertutur: โ€œPada suatu hari Rasulullah shollallahu โ€™alaih wa sallam masuk masjid. Tiba-tiba ada seorang sahabat bernama Abu Umamah radhiyallahu โ€™anhu sedang duduk di sana. Beliau bertanya: โ€Wahai Abu Umamah, kenapa aku melihat kau sedang duduk di luar waktu sholat?โ€ Ia menjawab: โ€Aku bingung memikirkan hutangku, wahai Rasulullah.โ€ Beliau bertanya: โ€Maukah aku ajarkan kepadamu sebuah doโ€™a yang apabila kau baca maka Allah taโ€™aala akan menghilangkan kebingunganmu dan melunasi hutangmu?โ€ Ia menjawab: โ€Tentu, wahai Rasulullah.โ€ Beliau bersabda,โ€Jika kau berada di waktu pagi maupun sore hari, bacalah doโ€™a:
ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ุฃูŽุนููˆุฐู ุจููƒูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู‡ูŽู…ู‘ู ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุฒูŽู†ู ูˆูŽุฃูŽุนููˆุฐู ุจููƒูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุนูŽุฌู’ุฒู ูˆูŽุงู„ู’ูƒูŽุณูŽู„ู ูˆูŽุฃูŽุนููˆุฐู ุจููƒูŽ ู…ูู†ู’ุงู„ู’ุฌูุจู’ู†ู ูˆูŽุงู„ู’ุจูุฎู’ู„ู ูˆูŽุฃูŽุนููˆุฐู ุจููƒูŽ ู…ูู†ู’ ุบูŽู„ูŽุจูŽุฉู ุงู„ุฏู‘ูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽู‚ูŽู‡ู’ุฑู ุงู„ุฑู‘ูุฌูŽุงู„ู
โ€Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.โ€ Kata Abu Umamah radhiyallahu โ€™anhu: โ€Setelah membaca doโ€™a tersebut, Allah berkenan menghilangkan kebingunganku dan membayarkan lunas hutangku.โ€ (HR Abu Dawud)
๐ŸŒฟPertanyaan 3 dan 4
Pohon pala sudah dikenal sejak jaman dahulu kala dan buahnya pun telah lama digunakan sebagai salah satu bumbu rempah untuk menambah aroma dan citarasa masakan. Bangsa Mesir kuno juga menggunakan pala sebagai obat sakit perut dan untuk mengeluarkan angin.
Pohon pala mampu tumbuh hingga mencapai ketinggian sekitar 10 meter dan selalu berdaun hijau. Buahnya memiliki bentuk mirip seperti buah pir, namun ketika sudah matang, buah tersebut akan diselimuti oleh cangkang/kulit yang keras dan inilah yang dikatakan buah pala. Pohon ini tumbuh di daerah tropis seperti India, Indonesia dan Sri Lanka.
Pengaruh (efek) yang dihasilkan buah ini ialah seperti halnya pengaruh ganja. Jika dikonsumsi dalam jumlah besar maka seseorang akan mengalami gangguan pada pendengarannya (berdenging), sembelit (susah buang air besar), kesulitan untuk buang air kecil, diliputi kecemasan dan tegang (mengalami stress), terganggunya sistem syaraf pusat, dan bahkan mampu menyebabkan kematian.
Adapun berkenaan dengan hukumnya, maka para ulama berbeda pendapat dan terbagi kepada dua pendapat:
Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat haramnya menggunakan buah pala baik dalam jumlah sedikit maupun banyak.
Sedangkan ulama yang lain berpendapat bolehnya menggunakan buah pala dalam jumlah sedikit bila dicampurkan dengan bahan-bahan yang lain.
Para pengikut mazhab Maliki, Syafiโ€™i dan Hambali bersepakat, bahwa buah pala tersebut merupakan sesuatu yang memabukkan dan sebagaimana disebutkan dalam kaidah umum:
ูƒู„ ู…ุณูƒุฑ ุฎู…ุฑ ุŒ ูˆูƒู„ ุฎู…ุฑ ุญุฑุงู…
โ€œSetiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr adalah haram.โ€
Adapun pengikut mazhab Hanafi, mereka memandang bahwa pala ini bisa digolongkan semacam khamr ataupun seperti narkotika. Dan semuanya bisa menganggu atau merusak akal, sehingga hukumnya haram {akhir kutipan}.
Lihat kitab Az-Zawaajir โ€˜an Iqtiraab al-Kabaaโ€™ir (1/212) dan Al-Mukhaddiraat oleh Muhammad Abdul Maqshud (halaman 90).
Dalam konferensi Lembaga Fiqih Kedokteran (An-Nadwah Al-Fiqhiyyah Al-Thibbiyyah) yang ke-8 mengenai โ€œPandangan Islam dalam Beberapa Masalah-masalah Kesehatanโ€ dengan sub-bahasan โ€œBahan-bahan yang Haram dan Najis dalam Makanan dan Obat-obatanโ€ yang di adakan di Kuwait, 22-24 Dzulhijjah 1415H (22-24 Mei 1995), mereka berpendapat:
Bahan-bahan narkotika adalah terlarang (haram) dan tidak diperbolehkan untuk mengkonsumsinya kecuali untuk tujuan pengobatan tertentu dimana takaran pemakaiannya berdasarkan ketentuan dokter dan murni tanpa adanya campuran bahan (kimia) lainnya.
Tidaklah mengapa menggunakan buah pala sebagai penyedap rasa suatu masakan, selama dalam jumlah yang sedikit, dan tidak memabukkan atau menghilangkan kesadaran akal.
Syaikh Dr. Wahbah al-Zuhaili berkata,
โ€œTidak terlarang menggunakan sedikit pala sebagai bumbu penyedap baik pada makanan, kue dan sejenisnya namun menjadi terlarang (haram) bila banyak jumlahnya, karena akan menjadikan orang tersebut mabuk. Namun yang lebih selamat adalah pendapat yang melarangnya walaupun dicampur dengan bahan yang lain dan meskipun jumlahnya sedikit, karena โ€˜setiap yang memabukkan dalam jumlah yang banyak, maka yang sedikitnya pun haramโ€˜.โ€
Sebagai informasi bahwa buah pala โ€“baik dalam bentuk biji ataupun bubuk- terlarang untuk diimpor atau dibawa ke negara Arab Saudi dan hanya diperbolehkan untuk mengimpor bubuk pala bila telah dicampur dengan bahan rempah-rempah lainnya dalam prosentasi yang diijinkan, tidak lebih dari 20% saja
Sumber: https://pengusahamuslim.com/2333-buah-pala-haram-untuk-dikonsumsi.html
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

Menghadiri Pernikahan Non Muslim

โœUstadzah Nurdiana
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท
Pertanyaannya,                
Assalamuallaikum,           
Apa  hukumnya bila menghadiri pesta pernikahan teman  ยฅฤ…ษฒวฅ non islam,apakah boleh kita memasuki tempat. Beribadahnya ? Mohon penjelasan!!!      
Member ๐Ÿ…ฐ2โƒฃ8โƒฃ.   
 ________________. 
Jawabannya,                        
Wa alaikum salam wr wb,                                            
hukum menghadiri pesta pernikahan  ยฅฤ…ษฒวฅ non muslim boleh, karena ini bagian dari muamalah kita, bagaimana kita menjalin hubungan baik sebagai makhluk sosial, sementara tuk memasuki rumah peribadatannya ulama berbeda pendapat.                              
A. Haram ketika ada peribadatan, dalilnya qs Alkafirun, “katakanlah hai orang-orang kafir, aku tdk menyembah apa  ยฅฤ…ษฒวฅ kamu sembah dan kamu bukan penyembah tuhan  ยฅฤ…ษฒวฅ aku sembah, dst,.. hingga akhir surah. Juga fatwa Umar ibnul khattab “janganlah kalian memasuki tempat ibadah orang kafir pada saat mereka sedang merayakan hari agama mereka,karena kemarahan Allah akan turun kepada mereka”.                               
B. Ketika tidak ada peribadatan, khilaf ada  ยฅฤ…ษฒวฅ membolehkan ada  ยฅฤ…ษฒวฅ melarang.                 
Kesimpulannya, kalau hanya menghadiri pernikahan di bolehkan akan tetapi kalau acaranya di gereja atau  ยฅฤ…ษฒวฅ semisalnya sebaiknya tidak usah .     
Wa Allahu a’lam. 
๐Ÿ€๐ŸŒป๐Ÿ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒน
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

Memanfaatkan Uang Syubhat Untuk Kepentingan Masjid, Bolehkah?

Tanya Ustadz
Kepada Ust Farid Nu’man
Assalamu’alaykum..
Pertanyaan  :
Bolehkah uang syubhat digunakan untuk membeli cat untuk masjid atau kipas angin untuk MDA/TPA?
Ceritanya, di tempat saya sedang ada pengecatan dinding, loteng dan atap masjid, sama ada kebutuhan MDA/TPA yang mau membeli kipas untyk di kelas, karena di kelasnya panas..
Firna A01
Jazakumullahu khair..
Jawaban:
Wa ‘alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh. 
Berikut ini jawaban saya atas pertnyaan serupa sekitar 5 tahun lalu.
๐Ÿ‘‡๐Ÿพ๐Ÿ‘‡๐Ÿพ๐Ÿ‘‡๐Ÿพ
Assalamu โ€˜Alaikum Wr Wb. Ust, ana mewakili teman-teman dari beberapa propinsi mau bertanya beberapa hal:
Bolehkah uang syubhat digunakan untuk membangun masjid? Karena masjid termasuk kepentingann umum.
Kalau untuk anak yatim atau fakir miskin gimana? Karena mereka termasuk rakyat.
Dari Heru (081354511xxx โ€“ Pegawai BPS – Sulawesi Tengah)
Jawab:
                Bismillah, walhamdulillah wash Shalatu wassalamu โ€˜Ala Rasulillah, wa baโ€™du:
                Dalam sebuah hadits disebutkan:
ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ู†ูู‘ุนู’ู…ูŽุงู†ู ุจู’ู†ู ุจูุดููŠู’ุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠูŽู‚ููˆู’ู„ู: (ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ุญูŽู„ุงู„ูŽ ุจูŽูŠูู‘ู†ูŒ ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ุญูŽุฑูŽุงู…ูŽ ุจูŽูŠูู‘ู†ูŒ ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ุฃูู…ููˆู’ุฑูŒ ู…ูุดู’ุชูŽุจูู‡ูŽุงุช ู„ุงูŽ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ูู‡ูู†ูŽู‘ ูƒูŽุซููŠู’ุฑูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณุŒู ููŽู…ูŽู†ู ุงุชูŽู‘ู‚ูŽู‰ ุงู„ุดูู‘ุจูู‡ูŽุงุชู ููŽู‚ูŽุฏู ุงุณู’ุชูŽุจู’ุฑุฃูŽ ู„ูุฏููŠู’ู†ูู‡ู ูˆุนูุฑู’ุถูู‡ุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูˆูŽู‚ูŽุนูŽ ูููŠ ุงู„ุดูู‘ุจูู‡ูŽุงุชู ูˆูŽู‚ูŽุนูŽ ูููŠ ุงู„ุญูŽุฑูŽุงู…ู ูƒูŽุงู„ุฑูŽู‘ุงุนููŠ ูŠูŽุฑู’ุนูŽู‰ ุญูŽูˆู’ู„ูŽ ุงู„ุญูู…ูŽู‰ ูŠููˆุดููƒู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู‚ูŽุนูŽ ูููŠู’ู‡ู. ุฃูŽู„ุง ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ ู„ููƒูู„ูู‘ ู…ูŽู„ููƒู ุญูู…ูŽู‰ู‹ . ุฃูŽู„ุง ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ ุญูู…ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ู…ูŽุญูŽุงุฑูู…ูู‡ูุŒ ุฃูŽู„ุง ูˆุฅูู†ูŽู‘ ูููŠ ุงู„ุฌูŽุณูŽุฏู ู…ูุถู’ุบูŽุฉู‹ ุฅูุฐูŽุง ุตูŽู„ูŽุญูŽุชู’ ุตูŽู„ูŽุญูŽ ุงู„ุฌูŽุณูŽุฏู ูƒูู„ูู‘ู‡ู ูˆุฅุฐูŽุง ููŽุณูŽุฏูŽุช ููŽุณูŽุฏูŽ ุงู„ุฌูŽุณูŽุฏู ูƒูู„ูู‘ู‡ู ุฃูŽู„ุง ูˆูŽู‡ูŠูŽ ุงู„ู‚ูŽู„ู’ุจู)  ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆู…ุณู„ู… .
Dari Abu Abdillah An Nuโ€™man bin Basyir Radhiallahu โ€˜Anhuma, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Aalihi wa Sallam bersabda:
โ€œSesungguhnya yang halal adalah jelas dan yang haram juga jelas dan di antara keduanya terdapat perkara yang samar, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menghindar dari yang samar maka dia telah menjaga agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjatuh dalam perkara yang samar maka dia telah terjatuh dalam perkara yang haram, seperti penggembala yang berada dekat di pagar milik orang lain dikhawatiri dia masuk ke dalamnya.  Ketahuilah setiap raja memeliki pagar (aturan), aturan Allah adalah larangan-laranganNya. Sesungguhnya di  dalam tubuh terdapat segumpal daging jika dia baik maka baiklah seluruh jasad itu, jika dia rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah itu adalah hati.โ€ (HR. Bukhari No.52, 1946, Muslim   No. 1599,  At Tirmidzi  No. 1221,  Ibnu Majah  No. 3984,  Abu Daud   No. 3329 ,  Ad Darimi   No. 2531,  Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 10180)
Selanjutnya kita fokus pada:
ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ุฃูู…ููˆู’ุฑูŒ ู…ูุดู’ุชูŽุจูู‡ูŽุงุช :
 dan di antara keduanya terdapat perkara yang samar
Bainahuma – Di antara keduanya yakni diantara halal dan haram, artinya secara asal dia bukan termasuk haram, dan juga bukan termasuk halal.
Umuurun Musytabihaat โ€“ perkara yang samar  yakni perkara yang belum jelas hukum halal haramnya. (Syaikh Ismail bin Muhammad Al Anshari, At Tuhfah Ar Rabbabiyah, No. 6. Maktabah Al Misykah)  
Menurut Syaikh Al โ€˜Utsaimin,  ketidak jelasan ini disebabkan beberapa hal:
1.       Ketidak jelasan dalil; jika dalilnya dari hadits, apakah haditsnya shahih atau tidak?
2.       Kalau pun shahih, apakah hadits tersebut secara makna memang mengarah pada hukum perkara  tersebut atau tidak? (Syarhul Al Arbaโ€™in, Hal. 107. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam)
Secara Bahasa (Lughah) arti syubhat adalah  Al Mitsl  (serupa, mirip) dan iltibas (samar, kabur, tidak jelas, gelap, sangsi). Maka, sesuatu yang dinilai syubhat  belum memiliki hukum yang sama dengan haram atau sama dengan halal. Sebab mirip halal bukanlah halal, dan mirip haram bukanlah haram.  Maka, tidak ada kepastian hukum halal atau haramnya, masih samar dan gelap.
Imam Ibnu Daqiq Al โ€˜Id Rahimahullah menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam mengkategorikan perkara syubhat:
1.Kelompok yang memasukan syubhat sebagai perkara yang haram. Alasan mereka adalah ucapan Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam: โ€œBarangsiapa yang menghindar dari yang samar maka dia telah menjaga agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjatuh dalam perkara yang samar maka dia telah terjatuh dalam perkara yang haram.โ€
2. Kelompok yang memasukan syubhat sebagai perkara yang halal. Alasan mereka adalah ucapan Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam: โ€œseperti penggembala yang berada dekat di pagar milik orang lain.โ€  Ini menunjukkan dia belum masuk keharaman, namun   sebaiknya kita bersikap waraโ€™ (hati-hati)  untuk meninggalkannya.
3.  Kelompok yang mengatakan bahwa syubhat  bukanlah halal dan bukan pula haram, dan Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam telah menyebutkan bahwa halal dan haram adalah jelas, maka hendaknya kita bersikap seperti itu. Tetapi meninggalkannya adalah lebih baik, dan hendaknya bersikap waraโ€™. (Imam Ibnu Daqiq Al โ€˜Id, Syarh Al Arbain An Nawawiyah, Hal. 44. Maktabah Al Misykah)  
Pendapat kelompok ketiga inilah yang nampaknya lebih kuat. Hal ini diperkuat lagi oleh ucapan Nabi:
 ู„ุงูŽ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ูู‡ูู†ูŽู‘ ูƒูŽุซููŠู’ุฑูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณ
 : Banyak manusia yang tidak mengetahuinya
Berkata Imam Ibnu Daqiq Al โ€˜Id Rahimahullah:
ูˆููŠู‡ ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุดุจู‡ุฉ ู„ู‡ุง ุญูƒู… ุฎุงุต ุจู‡ุง ูŠุฏู„ ุนู„ูŠู‡ ุฏู„ูŠู„ ุดุฑุนูŠ ูŠู…ูƒู† ุฃู† ูŠุตู„ ุฅู„ูŠู‡ ุจุนุถ ุงู„ู†ุงุณ.
โ€œHal ini menunjukkan bahwa masalah syubhat mempunyai hukum tersendiri yang diterangkan oleh syariโ€™at sehingga sebagian orang ada yang berhasil mengetahui hukumnya dengan benar.โ€ (Syarhul Arbaโ€™in An Nawawiyah, Hal. 47)  
Contoh Perkara Syubhat:
Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits dari โ€˜Aisyah, ia berkata : โ€œSaโ€™ad bin Abu Waqash dan โ€˜Abd bin Zamโ€™ah mengadu kepada Rasulullah tentang seorang anak laki-laki. Saโ€™ad berkata : Wahai Rasulullah anak laki-laki ini adalah anak saudara laki-lakiku.โ€™Utbah bin Abu Waqash. Ia (โ€˜Utbah) mengaku bahwa anak laki-laki itu adalah anaknya. Lihatlah kemiripannyaโ€ sedangkan โ€˜Abd bin Zamโ€™ah berkata; โ€œ Wahai Rasulullah, Ia adalah saudara laki-lakiku, Ia dilahirkan ditempat tidur ayahku oleh budak perempuan milik ayahkuโ€, lalu Rasulullah memperhatikan wajah anak itu (dan melihat kemiripannya dengan โ€˜Utbah) maka beliau Rasulullah bersabda : โ€œAnak laki-laki ini untukmu wahai โ€˜Abd bin Zamโ€™ah, anak itu milik laki-laki yang menjadi suami perempuan yang melahirkannya dan bagi orang yang berzina hukumannya rajam. Dan wahai Saudah, berhijablah kamu dari anak laki-laki iniโ€ sejak saat itu Saudah tidak pernah melihat anak laki-laki itu untuk seterusnya.
Abd bin Zamโ€™ah adalah Saudara laki-laki dari Saudah (istri Nabi). Dan, Rasulullah menetapkan bahwa anak laki-laki tersebut adalah hak (saudara) dari Abd bin Zamโ€™ah. Tetapi, ternyata Rasulullah memerintahkan Saudah untuk berhijab (menutup aurat) di depan laki-laki tersebut, padahal Saudah juga saudara dari Abd bin Zamโ€™ah. Perintah ini disebabkan kesamaran (syubhat) pada masalah ini dan ini menunjukan kehati-hatian Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam.
Contoh lain:
Pada Hadits โ€˜Adi bin Hatim, ia berkata : โ€œWahai Rasulullah, saya melepas anjing saya dengan ucapan Bismillah untuk berburu, kemudian saya dapati ada anjing lain yang melakukan perburuanโ€ Rasulullah bersabda, โ€œJanganlah kamu makan (hewan buruan yang kamu dapat) karena yang kamu sebutkan Bismillah hanyalah anjingmu saja, sedang anjing yang lain tidakโ€. Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam memberi fatwa semacam ini dalam masalah syubhat karena beliau khawatir bila anjing yang menerkam hewan buruan tersebut adalah anjing yang dilepas tanpa menyebut Bismillah. Jadi seolah-olah hewan itu disembelih dengan cara diluar aturan Allah. Allah berfirman, โ€œSesungguhnya hal itu adalah perbuatan fasiqโ€ (QS. Al Anโ€™am (6):121)
Dalam fatwa ini Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam menunjukkan sifat kehati-hatian terhadap hal-hal yang masih samar tentang halal atau haramnya, karena sebab-sebab yang masih belum jelas. Inilah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam , โ€œTinggalkanlah sesuatu yang meragukan kamu untuk berpegang pada sesuatu yang tidak meragukan kamu.โ€
Firman Allah Taโ€™ala:
ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุงู’ ุฃูŽู†ููู‚ููˆุงู’ ู…ูู† ุทูŽูŠู‘ูุจูŽุงุชู ู…ูŽุง ูƒูŽุณูŽุจู’ุชูู…ู’ ูˆูŽู…ูู…ู‘ูŽุง ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌู’ู†ูŽุง ู„ูŽูƒูู… ู…ู‘ูู†ูŽ ุงู„ุฃูŽุฑู’ุถู ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽูŠูŽู…ู‘ูŽู…ููˆุงู’ ุงู„ู’ุฎูŽุจููŠุซูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ุชูู†ููู‚ููˆู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽุณู’ุชูู… ุจูุขุฎูุฐููŠู‡ู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุฃูŽู† ุชูุบู’ู…ูุถููˆุงู’ ูููŠู‡ู ูˆูŽุงุนู’ู„ูŽู…ููˆุงู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ู‡ูŽ ุบูŽู†ููŠู‘ูŒ ุญูŽู…ููŠุฏูŒ  
 โ€œHai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.โ€ (QS. Al Baqarah : 267)
 Ayat lainnya:
ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ุฑู‘ูุณูู„ู ูƒูู„ููˆุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ุทู‘ูŽูŠู‘ูุจูŽุงุชู ูˆูŽุงุนู’ู…ูŽู„ููˆุง ุตูŽุงู„ูุญู‹ุง ุฅูู†ู‘ููŠ ุจูู…ูŽุง ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ ุนูŽู„ููŠู…ูŒ 
 โ€œHai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.โ€ (QS. Al Mu’minun(23) : 51)
Firman-Nya:
ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุงู’ ูƒูู„ููˆุงู’ ู…ูู† ุทูŽูŠู‘ูุจูŽุงุชู ู…ูŽุง ุฑูŽุฒูŽู‚ู’ู†ูŽุงูƒูู…ู’ …
 โ€œHai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.โ€ (QS. Al Baqarah (2) : 172)
            Sedangkan, dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa  Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:
  ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุทูŽูŠู‘ูุจูŒ ู„ูŽุง ูŠูŽู‚ู’ุจูŽู„ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุทูŽูŠู‘ูุจู‹ุง
โ€œWahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik, tidak akan menerima kecuali yang baik-baik.โ€  (HR. Muslim  No. 1015. At Tirmidzi  No. 4074, katanya: hasan gharib. Al Baihaqi, Syuโ€™abul Iman, No. 5497)
Maka, aktifitas ibadah maaliyah (ibadah harta)4 seperti sedekah ke fakir miskin, ongkos haji, zakat, biaya dakwah dan jihad, biaya daurah islamiyah, biaya pembangunan dan operasional masjid, dan semisalnya, juga kebutuhan hidup pribadi seperti makan, minum, pakaian, tempat tinggal, biaya kesehatan dan sekolah, listrik, dan lainnya, hendaknya menggunakan harta yang PASTI halalnya. Sebab, Allah Ta’ala memerintahkan memungutnya dari yang halal lagi baik, dan Dia hanya mau menerima dari yang baik-baik. Dan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga memerintahkan kita untuk menjaga diri dari yang syubhat.
                Jadi, jika seseorang mencegah hal-hal haram dan syubhat untuk kebutuhan dirinya (makan, pakaian, tempat tinggal, uang listrik, SPP sekolah, dan semisalnya), maka sudah selayaknya dia mencegahnya untuk kepentingan agamanya. Jika dia mencegah dirinya dari perkara haram dan syubhat, maka sebuah keanehan jika dia mempersembahkan untuk agama dan akhirat dengan uang haram dan syubhat. Jika dia tidak rela memakannya, maka mengapa dia rela itu di makan fakir miskin dan anak yatim?   sama saja dia melemparkan api yang dia sendiri tidak menginginkannya.
๐ŸŽ“ Memahami Ini dari Dua Perspektif
1โƒฃ Menurut sudut pandang si pemilik harta syubhat tersebut (si pemberi), jika si pemberi TAHU itu sebagai uang haram dan syubhat.
Telah jelas menurut pandangan berdasarkan nash, bahwa seseorang terlarang menggunakan harta haram dan syubhat untuk kepentingan agama (dakwah, jihad, Haji, ta’lim, masjid, menyantuni anak yatim, dan semisalnya). Inilah yang dipegang oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Syaikh Sayyi Sabiq, ketika dia memandang BATAL dan HARAM orang yang pergi haji dengan harta yang tidak halal. Sekali pun ada ulama yang menyatakan SAH, tetapi mereka pun mengatakan tetaplah itu perbuatan dosa.
Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:
  ูˆูŠุฌุฒุฆ ุงู„ุญุฌ ูˆุฅู† ูƒุงู† ุงู„ู…ุงู„ ุญุฑุงู…ุง ูˆูŠุฃุซู… ุนู†ุฏ ุงู„ุงูƒุซุฑ ู…ู† ุงู„ุนู„ู…ุงุก. ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุงู…ุงู… ุฃุญู…ุฏ: ู„ุงูŠุฌุฒุฆุŒ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุงุตุญ ู„ู…ุง ุฌุงุก ููŠ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ุตุญูŠุญ: ” ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ุทูŠุจ ู„ุง ูŠู‚ุจู„ ุฅู„ุง ุทูŠุจุง “.
                โ€œHaji tetap sah walau dengan uang haram, namun pelakunya berdosa menurut mayoritas ulama. Imam Ahmad berkata: hajinya tidak sah. Dan inilah pendapat yang paling benar sesuai hadits shahih: Sesungguhnya Allah baik, tidaklah menerima kecuali yang baik.โ€   (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/640)
                Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri Rahimahullah berkata:
ูˆู…ุนู†ู‰ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุฃู†ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู…ู†ุฒู‡ ุนู† ุงู„ุนูŠูˆุจ ูู„ุง ูŠู‚ุจู„ ูˆู„ุง ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ูŠุชู‚ุฑุจ ุฅู„ูŠู‡ ุฅู„ุง ุจู…ุง ูŠู†ุงุณุจู‡ ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ู…ุนู†ู‰. ูˆู‡ูˆ ุฎูŠุงุฑ ุฃู…ูˆุงู„ูƒู… ุงู„ุญู„ุงู„ ูƒู…ุง ู‚ุงู„ ุชุนุงู„ู‰: {ู„ูŽู†ู’ ุชูŽู†ูŽุงู„ููˆุง ุงู„ู’ุจูุฑู‘ูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูู†ู’ููู‚ููˆุง ู…ูู…ู‘ูŽุง ุชูุญูุจู‘ููˆู†ูŽ}
                โ€œMakna hadits ini adalah bahwa Allah Taโ€™ala suci dari segala aib, maka tidaklah diterima dan tidak sepatutnya mendekatkan diri kepadaNya kecuali dengan apa-apa yang sesuai dengan makna ini. Yakni dengan sebaik-baik hartamu  yang halal, sebagaimana firmanNya: โ€œKamu selamanya belum mencapai kebaikan sampai kamu menginfakan apa-apa yang kamu cintai ..โ€  (Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri, Tuhfah Al Ahwadzi, Juz. 8, Hal. 333, No. 4074. Al Maktabah As Salafiyah)
                Ada pun jika si pemberi TIDAK TAHU jika harta tsb berasal dari  usaha yang haram, atau syubhatnya, maka dia tidak dinilai  salah menggunakannya untuk pribadi, atau infak, atau haji, masjid, dan lainnya.
Sebab Allah Ta’ala berfirman:
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. ..” (QS. Al Baqarah (2): 286)
Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam juga bersabda:
ุชุฌุงูˆุฒ ุงู„ู„ู‡ ุนู† ุฃู…ุชูŠ ุงู„ุฎุทุฃ ุŒ ูˆุงู„ู†ุณูŠุงู† ุŒ ูˆู…ุง ุงุณุชูƒุฑู‡ูˆุง ุนู„ูŠู‡
                โ€œAllah Taโ€™ala membiarkan (memaafkan) dari umatnya: โ€œKesalahan yang tidak sengaja, lupa, dan perbuatan yang dia terpaksa melakukannya.โ€ (HR. Al Hakim, Al Mustadrak โ€˜alash Shahihain, Juz. 6, Hal. 421, No. 2752. Katanya: โ€œShahih sesuai syarat syaikhan (Bukhari-Muslim)โ€. Al Haitsami berkata: โ€œDiriwayatkan oleh Ath Thabarani dalam Al Awsath, dalam sanadnya terdapat perawi bernama Muhammad bin Mushafa yang dinilai tsiqah (bisa dipercaya) oleh Abu Hatim dan lainnya, dan pada dirinya ada pembicaraan yang tidak membuatnya cacat. Sementara para perawi lainnya adalah perawi shahih.โ€ Majmaโ€™ az Zawaid, Juz. 3, Hal. 101)
2โƒฃ Sudut Pandang Si Penerima Uang Haram dan  Syubhat (Yakni Masjid dan Anak Yatim)
Jika dia  TAHU bahwa uang itu haram dan syubhat, maka hendaknya dia menolaknya, sebagaimana perilaku Abu Bakar Ash Shiddiq ketika dia memuntahkan barang syubhat dari kerongkongannya.  Pada sebuah riwayat disebutkan, suatu hari pembantu Abu Bakar datang dengan membawa makanan.  Maka, Abu Bakar mengambil dan memakannya. Sang Pembantu berkata, โ€œWahai Khalifah Rasululullah, biasanya setiap kali aku datang membawa makanan, Anda selalu bertanya dari mana asal makanan yang aku bawa. Kenapa sekarang Anda tidak bertanya?โ€
Abu Bakar menjawab, โ€œSungguh hari ini aku sangat lapar sehingga lupa untuk menanyakan hal itu. Kalau begitu ceritakanlah, dari mana kamu mendapat makanan ini?โ€
Si Pembantu menjawab, โ€œDulu sebelum aku masuk Islam pekerjaanku adalah sebagai dukun. Suatu hari aku pernah diminta salah satu suku untuk membacakan mantra di  daerah  mereka. Mereka berjanji akan membalas jasaku itu. Pada hari ini aku melewati  daerah itu dan  mereka sedang mengadakan pesta, maka mereka pun menyiapkan makanan untukku sebagai balasan atas jasaku yang pernah kuberikan.โ€
Mendengar itu, Abu Bakar langsung memasukkan jari ke kerongkongannya untuk dimuntahkan. Setelah muntah Abu Bakar berkata, โ€œJika untuk mengeluarkan makanan itu aku harus menebus dengan nyawa, pasti akan aku lakukan karena aku pernah mendengar Rasulullah  Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda, โ€˜Tidak ada daging yang tumbuh dari makanan yang haram melainkan neraka layak untuk dirinyaโ€™.โ€
                Jika si penerima (Pengurus Masjid, Pengasuh Anak Yatim, Fakir Miskin) sudah tahu keharamannya namun masih menerimanya, maka dia dosa. Jika barang itu syubhat, maka dia telah tidak menjaga dirinya, masjid, dan orang yang berada dalam pengawasannya dari perkara syubhat, yang seharusnya tetap dijauhkan.
                Namun, jika mereka dalam keadaan TIDAK TAHU, lalu mereka menerimanya, maka mereka tidak salah dan tidak berdosa.  Berdasarkan surat Al Baqarah ayat 286, dan hadits riwayat Al Hakim di atas.
                Bahkan, sebenarnya  mereka tidak dituntut  untuk tahu, walau demi kehati-hatian sebaiknya mereka mencari tahu sebagaimana perilaku Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu โ€˜Anhu.
                 Dalam hadits lain:
ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง
ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ู‹ุง ู‚ูŽุงู„ููˆุง ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ู‹ุง ูŠูŽุฃู’ุชููˆู†ูŽู†ูŽุง ุจูุงู„ู„ู‘ูŽุญู’ู…ู ู„ูŽุง ู†ูŽุฏู’ุฑููŠ ุฃูŽุฐูŽูƒูŽุฑููˆุง ุงุณู’ู…ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฃูŽู…ู’ ู„ูŽุง ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุณูŽู…ู‘ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽูƒูู„ููˆู‡ู
               
Dari Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, bahwa ada segolongan manusia berkata: โ€œWahai Rasulullah, sesungguhnya ada kaum yang medatangi kami sambil membawa  daging, kami tidak tahu apakah disebut nama Allah terhadap daging itu atau tidak.โ€ Rasulullah menjawab: โ€œSebutlah nama Allah atasnya, dan makanlah.โ€  (HR. Bukhari, Juz. 7, Hal. 211, No. 1916. Maโ€™rifatus Sunan wal Atsar Lil baihaqi, Juz.15, Hal. 87, No. 5807)
Hadits ini dengan tegas membolehkan makanan yang belum diketahui disembelih pakai bismillah atau tidak, dan kita tidak  dibebani untuk mengorek-ngorek beritanya. Tetapi jika sudah diketahui bahwa hewan tersebut tidak disembelih dengan membaca bismillah, maka hadits ini tidak bisa dijadikan dalil,  jadi harus dikembalikan ke hukum hewan yang dipotong tidak membaca bismillah yakni haram.
                Begitu pula hal di atas, jika sudah ketahui bahwa itu haram dan syubhat, maka wajib menghindari yang haram dan menjaga diri dari yang syubhat, dalam pembiayaan kepentingan agama (Infak buat masjid), dan konsumsi hidup manusia (memberi makan anak yatim dan fakir miskin).
โœ” Solusinya?
                Telah  jelas bahwa uang syubhat hendaknya tidak digunakan untuk kepentingan agama dan konsumsi makanan kaum muslimin. Lalu diapakan harta tersebut? Dibuangkah? Atau โ€ฆ.?
                Sebagian ulama mengatakan sebaiknya harta tersebut diabaikan (disia-siakan). Diantaranya menurut Imam Fudhail bin โ€˜iyadh dan Imam Al Ghazali.   Imam Fudhail bin Iyadh Radhiallahu โ€˜Anhu pernah mendapakan dua keping dirham yang tidak halal, lalu ia melemparkannya di antara bebatuan. Lantas ia berkata, โ€œAku tidaklah bersedekah kecuali dengan harta yang baik. Demikian pula aku tidak rela orang selain aku memiliki harta yang aku tidak rela diriku memilikinya.โ€
                Sebagain lain mengatakan, sebaiknya harta tersebut dibelanjakan (disedekahkan) untuk kebaikan yang sifatnya kemanusiaan (bukan kepentingan agama), seperti menjaga fasilitas umum, jalanan, jembatan, membangun, memberi makanan kepada tawanan orang kafir, dan semisalnya, sebab pada hakikatnya harta haram bukanlah miliknya dan tidak pantas seorang mukmin memilikinya. Inilah pandangan Imam Ahmad bin Hambal, Imam Harits Al Muhasibi, termasuk Imam Abul Faraj Al Jauzi, Imam Ibnu Abdil Bar, dan ulama kontemporer seperti   Faqihul Islam Asy Syaikh Al Qaradhawi,   Syaikh Ibnu Baaz, dan Syaikh Shalih Fauzan. Namun demikian pelakunya tidak boleh berharap pahala dari harta yang disalurkannya tersebut, sebab secara umum Allah Taโ€™ala hanya mau menerima yang baik-baik.
Imam Ahmad dalam Musnadnya meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam pernah dihidangkan daging untuk beliau. Lalu diberitahukan bahwa daging itu haram, saat itu Beliau bersabda: โ€Berikanlah daging iu sebagai makanan para tawanan.โ€ (tawanan tersebut adalah tawanan kafir)
Alasan lain adalah apa yang diriwayatkan Imam Al Baihaqi, ketika turun surat Ar Rum 1-3, tentang ramalan akan dikalahkannya bangsa Romawi. Pada waktu itu kaum musyirikin tidak percaya. Lalu Abu Bakar   bertaruh dengan mereka.  Ketika Allah Taโ€™ala  membuktikan kebenaran Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam atas ayat tersebut. Abu Bakar datang membawa uang taruhan, lantas Rasulullah bersabda :  โ€Harta taruhan ini adalah haram. Bersedekahlah dengan harta itu.โ€ (Saat itu turunlah ayat tentang larangan bertaruh).
           Dari sini kita paham, ada dua cara menyikapi harta haram dan syubhat, yaitu:
๐Ÿ“Œ Disia-siakan
๐Ÿ“Œ Dibelanjakan/disedekahkan untuk kepentingan kemanusiaan/fasum (fasilitas umum-publik),  bukan kepentingan agama dan ibadah khusus.
Namun, pendapat yang paling kuat dan berdasarkan dalil adalah cara yang kedua yaitu harta tersebut jangan disia-siakan, tapi sedekahkan untuk pembangunan/perbaikan jalan, jembatan, WC umum, taman kota, makanan hewan, juga untuk makanan tawanan kafir.
Demikian jawaban saya. Wallahu Aโ€™lam wa Ilaihi Musytaka โ€ฆ
๐ŸŒป๐Ÿƒ๐ŸŒด๐ŸŒฟ๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒพ๐Ÿ€๐ŸŒน
โœ Farid Nuโ€™man Hasan

Hubungan Dengan Kerabat Non Muslim

โœUstadz Dr.Wido Supraha

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒธ๐ŸŒป๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamualaikum, saya Angelina Lily, grup Manis 30, ingin bertanya, saya mualaf, asal agama katolik, yang memeluk Islam karena  mempelajari agama nasrani, orangtua saya masih katolik. Bagaimana hukumnya dalam agama tentang hubungan saya dengan orangtua. Almarhum mama wafat masih nasrani. Haruskah saya mendoakan beliau?

Dan kepada papa yang masih hidup, apakah saya masih wajib berbakti?

Sejak saya mualaf hubungan kami merenggang karena kami dari keluarga aktifis gereja. Soo.. saya dianggap aib keluarga karena masuk Islam walau asal agama orangtua juga Islam semua, karena nenek saya semua muslim. Terimakasih atas jawabannya, jazakumullah khairan.

Jawaban:

Wa ‘alaikumusalaam warahmatullah Saudari Angelina Lily.
Sebelumnya saya mendoakan keberkahan dan rahmat-Nya atas keputusan Ibu untuk kembali memeluk Islam, semoga sentiasa dalam hidayah dan istiqomah, dan teruslah menuntut ilmu berpandukan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Terkait pertanyaan Ibu, sungguh kita turut bersedih atas wafatnya sang Ibunda tanpa sempat kembali memeluk Islam sementara orangtua beliau sejatinya adalah Muslim. Hal yang sama terjadi kepada Nabi Muhammad, yakni ketika pamannya wafat, atau jauh sebelumnya telah pernah terjadi kepada Nabi Ibrahim a.s. ketika ayahnya, Azar, wafat. Sekian lama Nabi Ibrahim a.s. berdakwah mengajak ayah kandungnya untuk kembali ke dalam Islam, namun hidayah adalah milik Allah.

ูˆูŽุงุฐู’ูƒูุฑู’ ูููŠ ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ูƒูŽุงู†ูŽ ุตูุฏู‘ููŠู‚ู‹ุง ู†ูŽุจููŠู‘ู‹ุง (41) ุฅูุฐู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูุฃูŽุจููŠู‡ู ูŠูŽุง ุฃูŽุจูŽุชู ู„ูู…ูŽ ุชูŽุนู’ุจูุฏู ู…ูŽุง ู„ูŽุง ูŠูŽุณู’ู…ูŽุนู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุจู’ุตูุฑู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุบู’ู†ููŠ ุนูŽู†ู’ูƒูŽ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง (42) ูŠูŽุง ุฃูŽุจูŽุชู ุฅูู†ู‘ููŠ ู‚ูŽุฏู’ ุฌูŽุงุกูŽู†ููŠ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฃู’ุชููƒูŽ ููŽุงุชู‘ูŽุจูุนู’ู†ููŠ ุฃูŽู‡ู’ุฏููƒูŽ ุตูุฑูŽุงุทู‹ุง ุณูŽูˆููŠู‘ู‹ุง (43) ูŠูŽุง ุฃูŽุจูŽุชู ู„ูŽุง ุชูŽุนู’ุจูุฏู ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ุนูŽุตููŠู‘ู‹ุง (44) ูŠูŽุง ุฃูŽุจูŽุชู ุฅูู†ู‘ููŠ ุฃูŽุฎูŽุงูู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู…ูŽุณู‘ูŽูƒูŽ ุนูŽุฐูŽุงุจูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ููŽุชูŽูƒููˆู†ูŽ ู„ูู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ูˆูŽู„ููŠู‘ู‹ุง (45)

โ€œCeritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quraan) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; โ€œWahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitanโ€.โ€ (QS. Maryam [19] : 41-45)

Pada saat ayahnya wafat, Nabi Ibrahim a.s. sangatlah sedih karena hingga ayahnya wafat, ia tidak mampu meng-Islam-kan-nya, padahal ia mampu meng-Islam-kan orang lain, sehingga secara naluri anak, beliau berdo’a atas keselamatan ayahnya di akhirat.

ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุบู’ููุฑููˆุง ู„ูู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ูƒูŽุงู†ููˆุง ุฃููˆู„ููŠ ู‚ูุฑู’ุจูŽู‰ ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏู ู…ูŽุง ุชูŽุจูŽูŠู‘ูŽู†ูŽ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุงู„ู’ุฌูŽุญููŠู…ู (*) ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุงุณู’ุชูุบู’ููŽุงุฑู ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ู„ูุฃูŽุจููŠู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุนูŽู†ู’ ู…ูŽูˆู’ุนูุฏูŽุฉู ูˆูŽุนูŽุฏูŽู‡ูŽุง ุฅููŠู‘ูŽุงู‡ู ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ุชูŽุจูŽูŠู‘ูŽู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุนูŽุฏููˆู‘ูŒ ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุจูŽุฑู‘ูŽุฃูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ู„ูŽุฃูŽูˆู‘ูŽุงู‡ูŒ ุญูŽู„ููŠู…ูŒ

Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) jahim. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (at-Taubah: 113-114)

Oleh karenanya, sebaiknya Ibu saat ini lebih memfokuskan kepada ayah yang masih hidup bersama Ibu. Berbaktilah kepadanya, karena Islam menganjurkan birrul walidain tanpa memandang agama orang tua. Islam pun mengajarkan umatnya untuk terus mendoakan ayah yang belum kembali ke dalam Islam, agar semoga Allah memberikannya hidayah.

Dalam posisi Ibu yang dianggap terhina karena memeluk agama Islam, maka inilah saat yang tepat untuk menunjukkan Kasih, Damai, dan Keindahan Islam. Bahwa Islam is beautifull. Pada fase awal ini, sering-seringlah ibu memberikan ayah ragam kebaikan, senyuman, hadiah dan hal-hal yang disukainya. Berlatihlah sabar dalam hal ini untuk tujuan yang lebih besar dan mulia. Umumnya, hati manusia pelan-pelan akan berubah, laksana batu yang kokoh namun terus menerus tertetesi air yang sejuk. Minimalkan berbicara agama dalam fase ini, hingga kemudian Ibu berhasil membawa ayah untuk siap menerima diskusi ilmiah dan logis, dan membawanya pada ketertarikan untuk menemukan kebenaran, kebahagiaan dan cahaya yang sejati itu, yakni Al-Islam, Din Al-Anbiya wa al-Mursalin.

Yassirlana wa lakum.

Wassalam,
supraha.com

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒธ๐ŸŒป๐ŸŒท๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

Bolehkan Asuransi?

โœ Ustadz Dr. Wido Supraha

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒธ๐ŸŒป๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamu’alaykum
Ustadz, mau tanya. Bagaimana hukum tentang asuransi dalam islam? Dan hukum bagi orang yang mengasuransikan dirinya?
Sekarang banyak sekali lembaga asuransi yg menawarkan spt menabung sekian banyak perbulan dgn batas waktu tertentu baru bisa diambil. Dan nanti hasilnya jauh lebih besar dr jml tabungan yg kita masukan itu..
Mohon penjelasannya ๐Ÿ™๐Ÿผ
Jazakallahu khairan katsira.

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,

Asuransi dalam Islam masuk dalam kategori muamalah, dan dalam hal ini seluruhnya dikembalikan kepada jenis akad yang digunakan.

Di negara kita, sudah ada Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI yang akan memonitor seluruh akad yang digunakan oleh Asuransi Syari’ah.

Oleh karenanya, kita serahkan seluruh mekanisme kepada yang lebih otoritatif dalam menghukuminya.

Demikian, semoga Allah Swt sentiasa menjaga kita dari bentuk muamalah yang tidak diridhoi-Nya.

Wassalam,
supraha.com

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐Ÿ„๐ŸŒธ๐ŸŒป๐ŸŒท๐ŸŒน

Dipersembahkam oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia…

Wanita Berenang Di Kolam, Bolehkah?

โœ Ustadzah Dra Indra Asih

๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒป๐ŸŒน

Assalamu’alaikum.

1. Apakah berenang di air kolam itu hukumnya boleh/halal atau tidak boleh/haram?
    Dari  Evie Member A04

2. Saya ingin mengetahui lebih benar tentang hadist yang menyatakan bahwa yg dirukyah akan hilang kesempatannya memasuki surga tanpa hisab. Mohon penjelasannya Ustadz/Ustadzah.

3. A. Uang SHU koperasi itu hukumnya bagaimana?
    B. Kalau koperasinya menggunakan bunga riba, uang yang kita terima diapakan baiknya?

Dari Devirta dan Asmirda A04

Jazakillah Ustadz/Ustadzah

__________________
JAWABAN

1. Hukum asal boleh. Kecuali ada catatan khusus terkait peetanyaan tsb

2. Jika ruqyahnya tidak sesuai syar’i/tuntunan

3. A. Kalo usahanya halal, SHU halal…keuntungan usaha yg dibahikan ke anggota

B. Sebaiknya disumbangkan utk sarana/fasilitas umum seperti jalan.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia…