logo manis4

Wudhu dan Shalat Bagi Yang Beser

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, Ibu mertua ana kena stroke sehingga susah bila harus ke toilet apabila pipis. Akhirnya dipakaikan pampers. Yang jadi pertanyaan, bagaimana apabila ingin wudhu dan shalat?

Jawaban

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Kondisi orang seperti yang anda tanyakan dalam kajian fiqih disebut dengan bab salisul baul, yaitu orang yang keluar kencing terus menerus, atau di masyarakat disebut beser. Jika air kencing keluar terus menerus tidak berhenti, atau apa saja yang membatalkan wudhu, seperti keluar angin terus menerus, maka hukumnya diqiyaskan dengan wanita istihadhah, yaitu yang keluar darah terus menerus di luar haid.

Terhadap orang seperti ini, Rasulullah saw bersabda,

جَاءَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي امْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ، أَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ؟ قَالَ: “لَا، إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ، فَإِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي

“Fatimah binti Abu Hubaiys datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku adalah seorang wanita yang keluar darah istihadlah (darah penyakit) hingga aku tidak suci. Apakah aku boleh meninggalkan shalat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menjawab: “Jangan, sebab itu darah yang berasal dari urat nadi dan bukan darah haid . Jika datang haidmu maka tinggalkan shalat, dan jika telah terhenti maka bersihkanlah sisa darahnya lalu shalat.” (HR. Bukhari, dll)

Kesimpulannya, orang yang mengalami kondisi seperti itu, setiap masuk shalat, bersihkan najis semampunya dari tubuhnya, lalu tampal kemaluannya agar najisnya tidak berceceran, lalu dia berwudhu dan kemudian dia shalat. Jika masih keluar juga najisnya, maka hal itu tidak mengapa.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Andai Ini Ramadhan Terakhirku

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Waktu begitu terasa cepat putarannya.
Setiap lajunya berkuranglah jatah umur kita.
Usia makin menua dan akan sampai pada akhir hidup kita.

Kematian menjadi misteri supaya manusia mempersiapkan diri.
Hidup hanya untuk mengabdi pada Ilahi.
Hingga bekal yang dibawa cukup harus kembali.

Imam Syafi’i berpesan,”Jadikan akhirat dihatimu, dunia ditanganmu, dan kematian di pelupuk matamu”

Saat ini…
Dzikrul maut banyak di depan mata kita.
Ketika terbang tinggi bersama pesawat bisa terjatuh dan tak bernyawa.
Yang di daratan ada banjir bandang melanda.
Yang di kepulauan ada gempa mengguncang wilayahnya.
Yang di pegunungan ada tanah longsor yang mengancam jiwa.
Dan dimana-mana maut sudah mengintai kita.

Tinggal menghitung hari menuju bulan suci.
Dahulu para sahabat menanti datangnya Ramadhan sepenuh hati
Selayak akan datangnya tamu spesial, persiapan menyambutnya sudah jauh-jauh hari.
Banyak amalan yang sudah mulai jadi kebiasaan sehari-hari.

Andai ini Ramadhan terakhir.
Banyak hal yang harus diukir.

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr : 1-3)

Lantas bagaimana jika ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita?

Pernahkah kita membayangkan bahwa ini adalah ramadhan terakhir dalam hidup kita? Hidup itu boleh berharap tetapi kenyataan hidup berkata bahwa yang sudah terjadi adalah kenangan, yang sedang terjadi adalah kenyataan dan yang akan terjadi hanya sebuah harapan. Bagaimana pun juga kita tak pernah tahu bahwa Ramadhan mendatang apakah kita masih hidup?

Jangankan sampai berjumpa dengan Ramadhan, mungkin sedetik ke depan jika Allah berkehendak semua bisa saja terjadi dan saat itulah Allah telah memanggil kita. Dan bila esok Ramadhan terakhir kita maka kita harus bersiap untuk menjadikannya lebih bermakna. Apa saja yang harus kita lakukan.

1. Segera bertaubat dan memperbaiki tabiat.
2. Menambah keimanan dengan menjadi hamba yang taat.
3. Berusaha sebaik mungkin menjalankan syariat.
4. Target optimal dalam beramal sunnah baginya menjadi tekad yang bulat.
5. Tilawah Al-Qur’an tidak pernah terlewat.

Masih banyak lagi sebenarnya yang bisa kita persiapkan. Apalagi nanti ketika masuk ramadhan. Harus lebih bernilai puasanya, lebih banyak tilawahnya, lebih peduli kepada sesama, lebih khusyu’ shalat wajib dan sunahnya serta dzikir sepanjang harinya.

Hidup selalu berbatas dengan kematian. Sudahkah kita bersiap untuk menyambutnya? Kematian bukan datang sesuai harapan kita, namun sudah ditetapkan oleh Sang Maha Kuasa. Kendatipun demikian bolehlah kita meminta dipanjangkan usia agar lebih banyak lagi catatan kebaikan yang kita tinggalkan.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Wafatnya Ulama adalah Musibah untuk Ummat

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi MA

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Wafatnya seorang ulama berbeda dengan wafatnya seorang pejabat. Jika seorang presiden wafat, maka minggu depan sudah ada gantinya; sedangkan para ulama yang mumpuni dibidangnya, ketika ia wafat belum tentu ada gantinya.

Sampai saat ini kita belum mendapatkan penggantinya Natsir, kita juga belum mendapatkan kemampuan ulama yang kompetensinya seperti Hamka, ia penulis, orator dan juga sastrawan.

Wafatnya seorang ulama adalah musibah bagi umat, karena itu pertanda ilmu diangkat oleh-Nya, lalu yang tersisa adalah hanya ulama-ulama karbitan yang tidak memilki kemampuan, lalu mereka menjawab pertanyaan umat tergantung dengan pesanan dan siapa yang bayar, dan tidak peduli apakah fatwanya itu menyesatkan umat atau tidak.

Dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan mencabut ilmu dari umat manusia dengan sekali cabut. Akan tetapi, Dia akan mencabut dengan mematikan para ulama (ahlinya). Sampai apabila Dia tidak menyisakan seorang alim, umat manusia akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pimpinan-pimpinan mereka. Mereka ditanya (oleh umatnya) lantas menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Wafatnya seorang ahli ilmu berbeda dengan wafatnya seorang ahli ibadah, karena mereka yang beribadah bisa melakukannya dengan benar karena bimbingan dan penjelasannya para ulama, maka jangan sia-siakan para ulama selagi mereka masih hidup, dengan mendengarkan kajiannya atau duduk di majelisnya.

ويقولُ سيِّدُنا عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عنهُ: مَوتُ ألفِ عابِدٍ قائِمِ اللَّيلِ صائِمِ النَّهارِ أهوَنُ من مَوتِ عالِمٍ بَصيرٍ بِحَلالِ الله وحَرامِهِ

Umar bin Khattab berkata, “Wafatnya seribu ahli ibadah yang rajin melaksanakan tahajjud di malam hari dan puasa di siang hari, masih lebih ringan dari wafatnya seorang ulama yang mengetahui hukum halal dan haram.”

Dalam Alquran ada satu ayat yang oleh sebagian ahli tafsir dijadikan dalil tentang peran ulama. Allah berfirman,

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا

“Apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah itu, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?” (QS. Ar-Ra’du: 41)

Ibnu Abbas berkata:

خرابها بموت علمائها وفقهائها وأهل الخير منها “

Yaitu hancurnya sebuah daerah dengan wafat ulamanya, ahli fiqhnya dan orang-orang baiknya.

Zaid bin Tsabit berkata, “Barangsiapa yang ingin melihat perginya ilmu, beginilah cara Allah menghilangkannya yaitu dengan mewafatkan para ulama.“

Wafatnya ulama adalah pertanda rapuhnya sendi-sendi pertahanan umat, karenanya wafatnya mereka harus menjadi motivasi untuk kita semua untuk mempersiapkan anak-anak cucu kita menjadi generasi yang tidak buta akan Islam. Mereka boleh menjadi dokter, insinyur dan lain sebagainya, tetapi mereka harus melek akan nilai nilai Islam yang mulia; kalau Istilah KH. Zainudin MZ, “Otak boleh Jerman tetapi hati tetap Mekah.“

Wafatnya seorang ulama yang hafal Alquran, hendaknya menjadi motivasi buat kita untuk menghafal Alquran dan menjadikan anak cucu kita sebagai generasi menghafal dan mengamalkan Alquran. Jika kita tidak menjadikan semua keturunan kita ahli Alquran, maka jadikanlah salah satunya agar kita mendapatkan mahkota kemuliaan di akhirat nanti.

Wafatnya seorang ulama adalah nasihat buat kita untuk bisa wafat dalam keadaan husnul khatimah yaitu wafat di jalan dakwah, karena bagaimanapun hidup seseorang begitulah ia akan wafat kelak. Siapa yang hidup berjuang memperjuangkan kebenaran, maka ia akan wafat di atasnya; dan siapa yang hidup berlumur dosa dan bangga akannya, maka ia akan wafat hitam legam terkubur dosa.

Kisah wafatnya syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, semoga bisa menjadi penyemangat kita untuk wafat dalam keadaan husnul khatimah.

Syaikhul Islam, beliau wafat di penjara Qal’ah. Beliau mengakhiri hidupnya setelah membaca ayat yang maknanya sangat indah.

Salah satu muridnya, Ibnu Abdil Hadi bercerita, setelah Syaikhul Islam banyak menulis buku, beliau habiskan waktunya untuk beribadah, membaca al-Quran, dzikir, tahajud, hingga wafat. Selama di penjara, beliau mengkhatamkan al-Quran sebanyak 80 atau 81 kali. Dan di akhir bacaan beliau, beliau membaca,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ. فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.” (QS. al-Qamar: 54).

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Pernikahan Non Muslim Apa Tetap Sah Saat Sudah Menjadi Muslim?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, ada sepasang suami istri yang sebelumnya mereka non muslim, Alhamdulillah saat ini mereka sudah muslim, tapi apakah pernikahan mereka tetap sah, walau waktu menikah dulunya masih non muslim?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Dalam hal ini ada 2 pendapat ulama:

1. Ulang akadnya.

Berdasarkan kisah Abu al-Ash (menantu Rasulullah, dan dia musyrik), dipisahkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dari istrinya (yaitu Zainab), setelah turun ayat larangan seorang muslimah bersuamikan non muslim. (Mumtahanah: 10)

Setelah 6 tahun, Abu al Ash masuk Islam, akhirnya oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mereka dinikahkan lagi dengan akad awal.

رَدَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَيْنَبَ ابْنَتَهُ عَلَى أَبِي الْعَاصِ بْنِ الرَّبِيعِ، عَلَى النِّكَاحِ الْأَوَّلِ بَعْدَ سِتِّ سِنِينَ

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengembalikan Zainab (putrinya) kepada Abu al Ash berdasarkan pernikahan awal, setelah 6 tahun (berpisah). (HR. Al Baihaqi no. 14068 dalam Sunan al Kubra)

2. Tidak ulang

Berdasarkan fakta para sahabat nabi yang masuk Islam begitu banyak, bersama istri-istri mereka, tapi mereka tidak ada yang mengulangi akad-akad nikah mereka setelah Islamnya.

Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua. Tidak perlu diulang. Sebab, kasus Abu al-Ash dan Zainab itu adalah bagi YANG SUAMINYA MUALAF, karena pernikahan mereka tadinya tidak sah. Tapi, untuk yang MUALAFNYA BERSAMA-SAMA SUAMI ISTRI TERSEBUT maka tidak perlu akad ulang, inilah pendapat umumnya ulama.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Membaca Surat Al ‘Ashr di Akhir Majelis atau Pertemuan

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apakah Sunnah Nabi membaca surat Al-Asyr di akhir pertemuan seperti disekolah dan TPA?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Sejak kecil, di surau-surau diajarkan guru ngaji bahwa di akhir majelis kita membaca surat Al ‘Ashr. Sebagian manusia bertanya: Apakah ini ada dasarnya? Ataukah ini kebiasaan saja di negeri kita?

Ketahuilah, membaca surat Al ‘Ashr adalah kebiasaan yang terjadi di masa sahabat Nabi ﷺ. Kita meyakini yang mereka lalukan tentunya bukan bid’ah, dan betapa jauh mereka dari bid’ah. Apalagi Allah Ta’ala telah memuji mereka sebagai generasi terbaik (khairu ummah), Rasulullah ﷺ pun memuji mereka sebagai manusia-manusia terbaik.

Abu Madinah Radhiallahu ‘Anhu menceritakan:

كَانَ الرَّجُلانِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَيَا لَمْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَقْرَأَ أَحَدُهُمَا عَلَى الآخَرِ : ” وَالْعَصْرِ إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ” ، ثُمَّ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمَا عَلَى الآخَرِ

Dahulu dua orang sahabat Nabi ﷺ jika berjumpa, mereka tidak akan berpisah sampai salah satu dari mereka membaca kepada yang lainnya surat: “Wal ‘Ashr, innal insaana lafiy Khusr”, kemudian yang satu salam atas yang lainnya. (Imam Abu Daud, Az Zuhd No. 417, Imam Ath Thabarani, Al Awsath, 5/215, Imam. Al Baihaqi, Syu’abul Iman, 6/501)

Imam Al Haitsami mengatakan: “Seluruh perawinya adalah perawi Shahih.” (Majma’ Az Zawaid, 10/233)

Dari atsar ini, ada dua pelajaran:

1. Dianjurkan mengucapkan salam saat berpisah dari sebuah pertemuan atau majelis. Hal ini sama dengan saat awal berjumpa.

2. Salah satu kebiasaan para sahabat Nabi ﷺ adalah membaca surat Al ‘Ashr sebelum berpisah.

Syaikh Al Albani Rahimahullah, setelah menyatakan keshahihan atsar ini, beliau mengatakan:

التزام الصحابة لها. وهي قراءة سورة (العصر) لأننا نعتقد أنهم أبعد الناس عن أن يحدثوا في الدين عبادة يتقربون بها إلى الله إلا أن يكون ذلك بتوقيف من رسول الله صلى الله عليه وسلم قولاً ، أو فعلاً ، أو تقريراً ، ولِمَ لا ؟ وقد أثنى الله تبارك وتعالى عليهم أحسن الثناء ، فقال : (وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ) التوبة/100

Kebiasaan para sahabat terhadap surat tersebut, yaitu membaca surat Al ‘Ashr (saat berpisah). Kita meyakini bahwa mereka adalah manusia yang paling jauh dari mengada-ngada dalam urusan agama dan ibadah yang dengannya mereka bertaqarrub kepada Allah. Kecuali apa yang mereka dapatkan merupakan penerimaan dari apa yang Nabi ﷺ lakukan, atau katakan, atau persetujuannya. Bagaimana tidak? Allah Ta’ala telah memuji mereka dengan pujian yang terbaik, dalam firmanNya:

Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. [Q.S. At-Taubah, Ayat 100] (As Silsilah Ash Shahihah No. 2648)

Maka, tidak dibenarkan jika menuduh membaca surat Al ‘Ashr di akhir majelis adalah sebuah bid’ah.

Demikian. Wallahu A’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Saat Zaman Berganti Dengan Zaman Berikutnya Yang Lebih Kelam

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عَنْ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِيٍّ قَالَ أَتَيْنَا أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنْ الْحَجَّاجِ، فَقَالَ اصْبِرُوا، فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ، سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه البخاري)

Dari Zubair bin ‘Adi ra mengatakan, bahwa kami pernah mendatangi Anas bin Malik ra, kemudian kami mengutarakan kepada beliau perihal keluh kesah kami tentang (kedzaliman) Al-Hajjaj. Maka beliau menjawab; ‘Bersabarlah, sebab tidaklah kalian menjalalni suatu zaman, melainkan zaman sesudahnya lebih buruk daripadanya, sampai kalian menjumpai rabb kalian. Aku mendengar hadits ini dari Nabi kalian Saw. (HR. Bukhari)

©️ Takhrij Hadits ;

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Al-Fitan, Bab La Ya’ti Zaman Illalladzi Ba’dahu Syarrun Minhu, hadits no 6541. Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, hadits no 11897, 12352 dan 12373. Juga Imam Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab Al-Fitan an Rasulillah Saw hadits no 2132.

®️ Hikmah Hadits ;

1. Adalah Anas bin Malik ra merupakan salah seorang sahabat yg paling akhir wafatnya, sehingga beliau banyak bertemu dengan sebagian besar kalangan tabiin. Bahkan Anas bin Malik ra kerap kali menjadi tumpuan curhatan generasi semasanya, termasuk ketika ada permasalahan menyangkut adanya kepemimpinan yg dzalim pada masa tersebut, yaitu pada masa kepemimpinan Hajjaj bin Yusuf As-Tsaqafy.

2. Hajjaj bin Yusuf As-Tsaqafy merupakan salah seorang pemimpin dari kalangan Kekhilafahan Bani Umayyah, tepatnya ia adalah seorang gubernur di Kufah (Iraq) yang memimpin pada tahun 694 -714 M. Hampir semua buku sejarah mencatat bahwa Hajjaj sebagai seorang pemimpin yg dikenal kelam, karena kekejaman demi kekejaman yg dilakukannya. Di zamannya banyak sekali ulama2 yg ditangkap dan dipenjarakan, hanya karena tidak sependapat dengannya. Di zaman beliau pula banyak ulama dan kaum muslimin yang dibunuh dan bahkan dipenggal kepalanya. Ia juga pernah menyerang Mekah hingga merusak salah satu bagian Ka”bah.

3. Oleh karena kelamnya zaman di bawah kepemimpinan Hajjaj, maka Zubair bin Adiy ra datang untuk curhat dan mengadu kepada sahabat Nabi Saw yaitu Anas bin Malik ra, meminta arahan dan nasehat dari beliau. Maka atas curahan Zubair bin Adiy tsb, Anas bin Malik ra mengemukakan agar hendaknya mereka “bersabar” atas kondisi yg menimpa mereka. Bahkan Anas kemudian mengutip hadits Nabi Saw perihal adanya kondisi yg lebih buruk setelah zaman berlalu dan berganti dengan zaman sesudahnya. Artinya bahwa setiap pergantian zaman, bisa jadi zaman berikutnya akan menjadi lebih buruk dibandingkan dengan zaman sebelumnya. Karena seiring berjalan waktu, kecenderungannya semakin manusia jauh dari ajaran agama.

4. Bahwa konteks anjuran untuk bersabar terhadap kedzaliman bukan berarti berdiam diri dan berpangku tangan serta pasrah menyerah terhadap kondisi yg ada, namun sabar adalah melakukan segala usaha dan segenap upaya sesuai dengan kemampuan dan konteksnya, untuk Istiqamah di jalan Allah Swt dan berupaya utk merubah kondisi ke arah yang lebih baik lagi. Berikut ini adalah diantara upaya ketika timbulnya kedzaliman khususnya saat kedzaliman dilakukan oleh para pemimpin, yaitu sebagai berikut ;

#1. Melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Karena amar ma’ruf nahi munkar merupakan karakter dasar umat Islam sebagai khairu ummah, yang harus dilakukan antara seorang muslim dengan muslim yg lainnya, termasuk kepada para pemimpin dan penguasa semakin jauh dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw serta dari nilai2 dasar Dinul Islam.

#2. Memberikan nasehat dengan baik dan mendoakannya agar mendapatkan hidayah Allah Swt. Karena nasehat sesama muslim adalah suatu kewajiban, dengan cara yg hikmah, mau’idzah hasanah dan berdebat dengan cara yg lebih baik. Karena dalam hadits disebutkan bahwa agama merupakan nasehat kepada Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya, para pemimpin umat dan umat Islam secara keseluruhan.

#3. Meluruskan kesalahan yang dilakukan oleh para pemimpin. Dalam hadits bahkan disebutkan bahwa meluruskan kesalahan pemimpin merupakan sebuah jihad yg terbaik. Hal tersebut karena meluruskan kesalahan yang dilakukan para pemimpin bukanlah perkara mudah. Karena mengandung resiko yg cukup besar. Dalam hadits disebutkan:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ أَوْ أَمِيرٍ جَائِرٍ (رواه أبو داود والترمذي)

Dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda: “Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang dhalim, atau pemimpin yang dhalim.” (HR. Abu Daud, no 3781, Tirmidzi no 2100, dsb)

4#. Meluruskan kesalahan dilakukan dengan tiga tahapan, dengan tangannya, dengan lisannya atau dengan hatinya.

عن أَبي سَعِيدٍ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ رَأَى مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ (رواه مسلم)

Dari Abu Sa’id ra berkata, “Saya mendengar Rasulullah Saw bersabada, “Barang siapa yang melihat kemungkaran maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya dan apabila ia tidak mampu maka dengan lidahnya dan apabila tidak mampu maka dengan hatinya dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no 70)

5. Bahwa kondisi suatu umat diibaratkan Nabi Saw seperti suatu kaum yg naik perahu secara bersama-sama. Maka apabila ada penumpang di bagian bawah melubangi perahu, sementata yg lainnya hanya pasrah diam saja, maka semua mereka akan binasa, karena perahu akan tenggelam dan karam. Namun jika mereka saling mengingatkan, mencegah siapapun dari penumpang tersebut yg akan melubangi perahu, maka ia akan selamat dan semuanya juga akan selamat. Mudah2 an Allah Swt menyelematkan kita semua dari segala keburukan, kedzaliman, aniaya dan dari segala fitnah dan tipudaya kehidupan dunia.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Sibuk

📝 Pemateri: Ustadz Bendri Jaisyurrahman

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Jadi ayah tuh gak harus ribet-ribet banget. Mentang-mentang dituntut untuk jadi ayah hebat, lantas merasa bersalah dengan aktivitas segudang di luar. Kemudian, memutuskan resign dari kantor agar lebih lama di rumah. Terus mencoba-coba untung bisnis online. Pasang instagram, kalau perlu beli follower. Habis itu DM ke mereka “Cek IG aku ya sis”.

Atau buat komen spam di akun-akun selebgram. Kadang gak lihat situasi. Saat pemilik akun sedang menyampaikan berita duka kematian tiba-tiba ayah yang masih newbie di dunia bisnis online ini langsung komen, “Hari gini masih gemuk? Itu badan apa gentong? Hubungi kami segera tuk cari solusi.” Wah, ini mah ngajak ribut dan mengundang komen sadiz netijen +62. Plis ayah, jangan gitu-gitu amat.

Dengan kata lain, ayah sebenarnya gak mesti dipaksa meninggalkan aktivitas di luar demi menjadi ayah hebat. Ayah biarlah dengan aktivitas seperti biasanya. Biarkan ayah menjadi makhluk luar rumah. Kalau perlu buatlah maha karya luar biasa selagi di luar. Anak mendapatkan inspirasi pengasuhan lewat kesibukan ayah. Khususnya bagi anak lelaki. Bahwa lelaki emang dituntut produktif menghasilkan karya yang positif.

Bukan cuma mampu membuat istri positif hamil. Namun juga membuat karya positif yang bermanfaat bagi masyarakat. Sebuah amal yang berdampak luas. Malu ama diri. Masa’ badan doang yang luas? Sementara amal sholeh kok sempit. Cuma ngerjain yang menguntungkan diri sendiri. Gak peduli dengan orang lain dan masyarakat.

Nah, ayah hebat menjadikan amal sholeh di masyarakat sebagai wasilah pengasuhan. Anak melihat visi hidup lewat kesibukan ayah. Inilah yang memberi inspirasi anak untuk tidak malas. Seperti kisah masyhur tabi’in, Rabi’ah Ar Ra’yi. Yang menjadi guru bagi umat di zamannya karena terinspirasi dari figur ayah yang sibuk sebagai mujahid di luar. “Ayah berjuang dengan pedang, maka biarlah aku berjuang dengan pena.” Demikian kira-kira tekad anak yang mengagumi kesibukan ayahnya.

Agar ayah sibuk tetap dikagumi, maka jadilah ayah yang menyenangkan saat tiba di rumah. Belajarlah jadi kawan baik buat anak. Jangan jadi bos yang suka memerintah. Nanti anak bersenandung meniru lagu kekeyi,…
“Aku bukan bonekamu…
Bisa kau suruh-suruh…
Dengan seenak maumu”

Wallahu a’lam bish showab

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Sebarkan! Raih Pahala

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Gerakan Yang Membatalkan Shalat

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apakah bergerak tiga kali dalam shalat bisa membatalkan shalat?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Faisal Kunhi MA.

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Di dalam kitab Kifayatul Akhhyar dikatakan

و أما العمل الكثير كالخطوات الثلاث المتواليات وكذا الضربات تبطل الصلاة ولافرق فى ذالك بين العمد والنسيان لان العمل الكثير يغير نظمها ويذهب الخشوع وهو مقصودها وأن العمل القليل فى محل الحاجة لا يبطل الصلاة

“Gerakan yang banyak berturut-turut seperti langkah dan pukulan membatalkan shalat dan tidak ada perbedaan apakah gerakan itu dilakukan dengan sengaja atau tidak, karena gerakan yang banyak itu merubah disiplin shalat dan menghilangkan kekhusyuan, sedangkan gerakan sedikit sesuai dengan keperluan tidak membatalkan shalat.”

Syaikh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah mengatakan bahwa gerakan sedikit tidak membatalkan shalat.

Contohnya ketika kita shalat, kalau handphone kita berdering maka tidak apa kita mematikannya agar tidak menganggu jama’ah shalat.

Sebagaimana juga Rasulullullah SAW membolehkan untuk membunuh ular dan kala jengking dalam shalat tanpa harus membatalkannya, maka ini menandakan bolehnya melakukan gerakan sedikit yang diperlukan dalam shalat.

Karena Nabi ﷺ pernah memerintahkan:

اُقْتُلُوْا الْأَسْوَدَيْنِ فِي الصَّلَاةِ: الحَيَّةَ، وَالْعَقْرَبَ

“Bunuhlah dua ekor si hitam meski dalam shalat, yaitu ular dan kalajengking.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ahmad (II: 233, 248)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Hukum Mandi Bareng Suami Istri

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bolehkan mandi bareng istri?? I_18

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Djunaidi, SE

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Mandi bareng istri ternyata telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW terhadap istri-istrinya. Dengan kata lain Islam pun juga menganggap hal ini adalah sebuah bentuk kewajaran.

Sebagaimana diriwayatkan Hadist Riwayat. Bukhari no. 316, Muslim no. 321. ‘Aisyah berkata,

“Aku dan Rasulullâh mandi bersama dalam suatu wadah yang sama sedangkan kami berdua dalam keadaan junub.”

Mandi bersama bisa menimbulkan rasa kasih sayang dan bermain -main bersama istri, saling siram-siraman atau saling berebut gayung dan selebihnya anda yang tahu.

Sebagaimana hadits Nabi dan ‘Aisyah saling berebut air ketika mandi bersama. (HR. Muslim I/257 no 321)

Imam Muslim Rahimahullahu Ta’ala menyampaikan sebuah riwayat agung dari Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq.

“Aku mandi bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dari satu bejana. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam mendahuluiku sampai aku berkata, ‘Tinggalkan untukku. Tinggalkan untukku.’”

Dalam kelanjutan riwayat yang dikutip oleh Salim A Fillah dalam Bahagianya Merayakan Cinta ini disebutkan, “Waktu itu, keduanya berjanabat (mandi wajib).”

Bukan sekali ini Rasulullah SAW diriwayatkan mandi bareng istrinya. Dalam riwayat lain oleh Imam Abdurrazaq dan Ibnu Abi Syaibah Rahimahumallahu Ta’ala, dikisahkan dari Ummul Mukminin Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Aku biasa mandi bersama dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dari satu bejana. Kami terbiasa memasukkan tangan kami bersama-sama ke dalam satu bejana.”

Rasullulah yang mulia telah memberi contoh terbaik. Mandi berdua. Saling rebut air dan alat mandi, hingga terbit senyum dan tawa renyah dari keduanya.

Inilah sunnah yang tidak hanya bisa menautkan hati dan membuat cinta di antara kalian saling bertambah, tapi juga dijanjikan pahala yang agung di dunia dan akhirat..

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Keutamaan Tidak Akan Bisa Diraih Dengan Santai

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi MA

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

«المصالح والخيرات واللذات والكمالات كلها لا تُنال إلا بحظ من المشقة، ولا يُعبر إليها إلا على جسر من التعب!»

“Maslahat, kebaikan, kelezatan, dan kesempurnaan, semuanya tidak bisa diraih kecuali dengan sebagian kesulitan. Ia juga tidak bisa dicapai kecuali melalui jembatan keletihan.”

Miftah Daaris Sa’adah, jilid 2 hlm. 15

Penjelasan:

1. Ulama berkata

وما اللذة الا بعد التعب

Tiada kelezatan kecuali setelah bersusah payah.

Pepatah kita berkata, “Berakit-rakit dahulu, berenang kemudian , bersusah-susah dahulu, senang kemudian.”

2. Al Quran mengajarkan, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al Baqoroh : 214)

3.  Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi berkata: “Ayat ini menunjukkan bahwa termasuk sunnatullah yang tidak dapat dirubah adalah memberikan ujian dan cobaan kepada orang yang menegakkan agama dan syari’at-Nya.

Jika seseorang bersabar terhadap perintah Allah dan tidak peduli terhadap rintangan yang menghadang, maka dia adalah orang yang benar imannya dan akan memperoleh kebahagiaan secara sempurna.” (Aisarut Tafasir).

4. ‘Abdurrahman bin Abu Hatim berkata, “Laa yustatho’ul ‘ilmu bi rohatil jasad“

Ilmu -agama- tidaklah bisa diraih dengan badan yang bersantai-santai. (Siyar A’lamin Nubala’, 13/266)

5. Mau kaya harus bekerja, mau pintar harus belajar; sungguh dunia ini bukan tempat bersantai-santai tetapi ia tempat berkeringat, mengalirkan darah dan menumpahkan air mata  untuk meraih kebahagiaan yang abadi di akhirat kelak.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678