Bila Janji Telah Dibuat

Assalamu’alaikum ustadz/ah.

Ada suatu organisasi Islam di tempat saya tinggal, yg sedang berusaha membeli properti utk dijadikan masjid + Islamic centre. Pada saat acara Islamic conference (yg sudah menjadi program tahunan) yg diadakan organisasi ini, pembicara dari pihak panitia mengundang peserta utk menjadi donatur tetap utk biaya pembelian properti. Beliau meminta org2 yg bersedia utk menjadi donatur utk mengangkat tangan, lalu dibagikan selembar kertas utk mengisi data diri & berkas2 donasi. saya saat itu mengangkat tangan krn ingin ikut menyumbang, namun akhirnya tdk jadi mengembalikan kertas k panitia krn ragu apakah saya mampu atau tidak utk commit menyumbang setiap bulannya.

Bagaimanakah hukumnya dalam situasi ini? Apakah dengan mengangkat tangan itu tercatat sebagai janji saya utk menyumbang yg harus dipenuhi? Apa yg sebaiknya saya lakukan?
Jazakumullah
Manis A26

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Jika sudah menyanggupi, baik itu dgn mengangkat tangan, tanda tangan, atau apa saja yang dimaknai dgn itu, maka kita telah berjanji yang mesti kita tepati.

Bagaimana kalau dikemudian hari khawatir tidak bisa komit? Silahkan batalkan janji  sebelum hari H agreemennya, dan kemukakan uzurnya. Tidak ada kaffarat krn janji bukan nadzar dan sumpah. Hanya saja mungkin secara moral dan sosial, nama baik kita mungkin bisa ternoda.

Wallahu a’lam

Mereka berkata tentang ​Syaikh Yusuf bin Abdillah Al Qaradhawy​ Hafizhahullah

​Imam Hasan Al Banna​ berkata: “Sesungguhnya ia adalah seorang penyair yang jempolan dan berbakat.” 

☆☆☆☆☆

​Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz​ mantan mufti kerajaan Saudi dan ketua Hai’ah Kibarul Ulama berkata: “Buku-bukunya memiliki bobot ilmiah dan sangat berpengaruh di dunia Islam.” 

☆☆☆☆☆

​Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany​-ahli hadits terkemuka abad 20 berkata, “Saya diminta (al Qaradhawy) untuk meneliti riwayat hadis serta menjelaskan kesahihan dan ke dha’ifan hadis yang terdapat dalam bukunya (Halal wal Haram). Hal itu menunjukkan ia memiliki akhlak yang mulia dan pribadi yang baik. Saya mengetahui semua secara langsung. Setiap dia bertemu saya dalam satu kesempatan, ia akan selalu menanyakan kepada saya tentang hadis atau masalah fiqh. Dia melakukan itu agar ia mengetahui pendapat saya mengenai masalah itu dan ia dapat mengambil manfaat dari pendapat saya tersebut. Itu semua menunjukkan kerendahan hatinya yang sangat tinggi serta kesopanan dan adab yang tiada tara. Semoga Allah Ta’ala mendatangkan manfaat dengan keberadaannya.”

☆☆☆☆☆

​Syaikh Abul Hasan Ali An Nadwi​ – ulama terkenal asal India berkata: “Al Qaradhawy adalah seorang ‘alim yang sangat dalam ilmunya sekaligus sebagai pendidik kelas dunia.”

☆☆☆☆☆

​Al ‘Allamah Musthafa az Zarqa’,​ ahli fiqh asal Suriah berkata: “Al Qaradhawy adalah Hujjah zaman ini dan ia merupakan nikmat Allah atas kaum muslimin.”

☆☆☆☆☆

​Al Muhaddits Abdul Fattah Abu Ghuddah​, ahli hadis asal Suriah dan tokoh Ikhwanul Muslimin berkata: “Al Qaradhawy adalah mursyid kita. Ia adalah seorang ‘Allamah.”

☆☆☆☆☆

​Syaikh Qadhi Husein Ahmad​, amir Jamiat Islami Pakistan berkata: “Al Qaradhawy adalah madrasah ilmiah fiqhiyah dan da’awiyah. Wajib bagi umat untuk mereguk ilmunya yang sejuk.”

☆☆☆☆☆

​Syaikh Thaha Jabir al Ulwani​, direktur International Institute of Islamic Thought di AS – berkata: “Al Qaradhawy adalah faqihnya para dai dan dainya para faqih.”

☆☆☆☆☆

​Syaikh Muhammad Al Ghazaly​- dai dan ulama besar asal Mesir yang pernah menjadi guru al Qaradhawy sekaligus tokoh Ikhwanul Muslimin berkata: “Al Qaradhawy adalah salah seorang Imam kaum muslimin zaman ini yang mampu menggabungkan fiqh antara akal dengan atsar.”

Ketika ditanya lagi tentang Al Qaradhawy, ia menjawab, “Saya gurunya, tetapi ia ustadzku. Syaikh dulu pernah menjadi muridku, tetapi kini ia telah menjadi guruku.”

☆☆☆☆☆

​Syaikh Abdullah bin Bayah​ -dosen Univ. malik Abdul Aziz di Saudi – berkata: “Sesungguhnya Allamah Dr. Yusuf Al Qaradhawy adalah sosok yang tidak perlu lagi pujian karena ia adalah seorang ‘alim yang memiliki keluasan ilmu bagaikan samudera. Ia adalah seorang dai yang sangat berpengaruh. Seorang murabbi generasi Islam yang sangat jempolan dan seorang reformis yang berbakti dengan amal dan perkataan. Ia sebarkan ilmu dan hikmah karena ia adalah sosok pendidik yang profesional.”

Lebih dari itu, sesungguhnya Syaikh al Qaradhawy bukanlah seorang faqih yang hanya menyodorkan solusi teoritis mengenai masalah-masalah umat saat ini, masalah ekonomi, sosial dan lainnya, tetapi ia adalah seorang praktisi lapangan yang tangguh dan langsung turun ke lapangan. Ia telah menyumbangkan kontribusinya yang sangat besar dalam mendirikan pusat-pusat kajian keilmuan, universitas-universitas, dan lembaga-lembaga bantuan.

Ringkasnya, Al Qaradhawy adalah seorang Imam dari para Imam kaum muslimin masa kini dan ia adalah seorang Syaikhul Islam masa kini.

Jika anda sepakat dengannya, pasti anda akan merasakan kepuasan dengan alasan-alasan dan hujjah yang ia kemukakan. Jika tidak setuju dengannya, pasti anda akan menghormati pendapatnya karena pendapat yang ia lontarkan adalah pendapat seorang ‘alim yang takwa. Pendapat yang tidak muncul dari kebodohan dan tidak pula dari hawa nafsu. Takwa dan ilmu merupakan syarat bagi mereka yang menerjukan diri dalam fatwa agar fatwa dan kata-kata yang dikeluarkannya dihormati dan bernilai. Dua syarat itu telah terpenuhi Syaikh Yusuf al Qaradhawy.

Ia memiliki karakter yang sangat memadai untuk disebut sebagai seorang ‘alim dan Imam. Ia adalah seorang ‘alim yang berilmu

sangat luar dan dalam. Pengetahuannya multidimensi. Ia mampu menggabungkan antara naqli dan aqli, antara Alquran dan Assunnah, antara pokok (ushul) dan cabang (furu), antara sastra dan bahasa.

Di samping itu, ia pun memiliki ilmu penetahuan modern yang sangat luas. Hujjah-hujjah nya sangat jelas dan keterangan- keterangannya sangat memukau. Selain itu, ia memiliki kepribadian yang menawan, jiwa yang baik, rendah hati, lidahnya bersih dan selamat dari rasa dengki. Karangannya seringkali menjadi senjata untuk membela orang-orang sezamannya seperti yang ia lakukan untuk Syaikh Al Ghazaly. Sesungguhnya Syaikh Yusuf Al Qaradhawy adalah ulama unik yang jarang kita dapatkan di masa kini.”

☆☆☆☆☆

​Syaikh Abdullah Al ‘Aqil​-mantan sekretari Liga Muslim Dunia-berkata: “Al Qaradhawy adalah laki-laki yang tahu langkah dakwah sekaligus sebagai faqih zaman ini.”

☆☆☆☆☆

​Syaikh Abul Majid Az Zindan​i-dai dan tokoh harakah asal Yaman-berkata, “Al Qaradhawy adalah seorang ‘alim dan mujahid.”

☆☆☆☆☆

​Syaikh Abdul Qadir Al Umari​-mantan ketua Mahkamah Syariah Qatar-berkata, “Al Qaradhawy adalah seorang faqih yang membawa kemudahan-kemudahan.”

☆☆☆☆☆

​Syaikh Muhammad ‘Umar Zubair​ berkata, “Al Qaradhawy adalah pembawa panji kemudahan dalam fatwa dan kabar gembira dalam dakwah.”

☆☆☆☆☆

​Syaikh  Muhammad Fathi ‘Utsman​-seorang pemikir Islam terkenal-berkata, “Al Qaradhawy adalah seorang tokoh dan dai yang memiliki mata hati yang tajam dalam melihat realitas.”

☆☆☆☆☆

​Syaikh Adil Husein​-penulis muslim dan tokoh Partai Amal di Mesir-berkata, “Al Qaradhawy adalah seorang ahli fiqh moderat zaman ini.”

☆☆☆☆☆

​Syaikh Rasyid Al Ghanusyi​-tokoh harakah dan ketua Partai Nahdhah di Tunisia berkata, “Ia adalah Imam Mujaddid. Al Qaradhawy adalah lisan kebenaran yang memberikan pukulan keras kepada orang-orang munafik di Tunisia.”

☆☆☆☆☆

​Syaikh Ahmad ar Rasyuni​ – ketua Jama’ah Tauhid di Maroko berkata, “Al Qaradhawy adalah seorang faqih yang mengerti maksud penerapan syariah.”

☆☆☆☆☆

​Syaikh Umar Nashef​ – Direktur Univ. King Abdul Aziz berkata, “Al Qaradhawy berada pada puncak pengabdiannya pada ilmu pengetahuan.”

☆☆☆☆☆

​Syaikh Adnan Zarzur​ -Profesor dan Ketua Dekan Fakultas ushuluddin di Univ. Qatar berkata, “Al Qaradhawy adalah seorang mujaddid. Ia adalah faqih dan mujtahid zaman ini. Al Qaradhawy telah berhasil menggabungkan ketelitian seorang faqih, semangat seorang dai, keberanian seorang mujaddid dan kemampuan seorang Imam. Al Qaradhawy telah membangun dakwah Islam dalam fiqh dan ijtihad.”

☆☆☆☆☆

​Syaikh Isham Talimah​ mengutip perkataan seorang ulama, “Andaikata Al Qaradhawy hanya mengarang buku Fiqh Zakat, dia akan berjumpa dengan Allah Ta’ala dan telah dianggap membaktikan dirinya di bidang ilmiah untuk kepentingan Islam dan Umat Islam.”

☆☆☆☆☆

​Syaikh Abul A’la al Maududi​ mengatakan bahwa Fiqh Zakat adalah buku zaman ini dalam fiqh Islam. Para spesialis masalah zakat mengatakan belum pernah ada satu karya pun yang menandingi Fiqh Zakat karya Al Qaradhawi.

​Semoga Allah Ta’ala menjaga Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, memberkahi usianya dan menjadikan ilmunya bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin. Amiin.​

​Maroji’​
📚 ​Syaikh Isham Talimah, Manhaj Fiqih Syaikh Yusuf Al Qaradhawi​

Wallahu a’lam

Perempuan Tarawih di Rumah Atau Masjid?

Assalamu’alaikum Ustadz bagaimana caranya memberitau ke orang lain bahwa sholat tarawih itu bagi perempuan lebih baik di rumah , karena saya lebih di sarankan sama suami saya sholat dirumah saja  dan ada beberapa orang yg nanya ke saya kenapa ga kemasjid . bagaimana menjawabnya supaya  tidak menyinggung perasaan nya? Soalnya saya suka di bilang aneh yg lain kemasjid kok ini di rumah….

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam betsabda:

لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ

Janganlah kalian melarang hamba-hamba Allah yang wanita terhadap masjid-masjid Allah.​  ​(HR. Al Bukhari No. 900, dari Ibnu Umar)

Dalam hadits lain:

وخير صفوف النساء آخرها وشرها أولها

Sebaik-baiknya shaf bagi wanita adalah yang paling belakang dan yang terburuk adalah yang paling depan​.  ​(HR. Muslim No. 440, dari Abu Hurairah)

Maka, dua hadits ini menunjukkan bahwa wanita dibolehkan shalat di masjid, dan jika mereka berjamaah tentu juga mendapatkan nilai keutamaan shalat berjamaah.  Tentu kebolehan ini selama tetap menjaga adab-adab Islam.

Tetapi, memang lebih utama shalatnya di rumah, hal ini berlaku baik shalat wajib dan shalat sunnah, kecuali shalat-shalat tertentu yang memang mesti keluar rumah seperti shalat ‘id, istisqa, dan gerhana.

Hal ini berdasarkan pada hadits berikut:

صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا

“Shalatnya wanita di rumahnya lebih utama  daripada shalatnya di  kamar rumahnya, dan shalat seorang wanita di ruang kecil khusus untuknya lebih utama baginya daripada di ruangan lain di rumahnya”​  ​(HR. Abu Dawud 570. Al Hakim, No. 757, katanya: shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim)

Tetapi, jika sedang di Mekkah maka shalat di Masjidil Haram lebih utama di banding di rumahnya.

Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu berkata:

مَا لِامْرَأَةٍ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهَا فِي بَيْتِهَا، إِلَّا فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Tidak ada yang lebih utama bagi shalat wanita  dibanding di rumahnya, kecuali di masjidil haram.​ ​( ​Akhbar Makkah Lil Fakihi​, 1204)

Wallahu a’lam.

Lupa Rakaat Sholat Tarawih

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Jika saya ikut shalat tarawih berjamaah tiba2 lupa udah sampai rakaat yg keberapa dan jadi berfikiran ngikut imam saja tanpa tahu sudah berapa rakaat. Bagaimana hukum shalatnya ?

Dan ke 2

Sah atau tidak jika niat shalat berjamaah, imamnya di masjid tp saya nya di kos ? Sedangkan bacaan imam terdengar dengan jelas ?
A22

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Lupa jumlah rakaat salah satu sebab mengharuskannya sujud sahwi. Jadi, ketika lupa itu anggap saja sebagai rakaat angka kecilnya, lalu lanjutkan kekurangannya, dan ketika duduk tasyahud akhir dgn 2 x sujud sahwi, dilakukan setelah membaca innaka hamidum majid. Wallahu a’lam

Berpisah dgn Imam sampai lain gedung, tidak sah shalatnya. Kecuali jika ada sebab syar’i seperti masjid yg tidak menampung jamaah akhirnya jamaah sampai numpang di gedung2 sekitar, ini tidak apa2, dan pernah terjadi di masa aahabat dan tabi’in.

Wallahu a’lam.

Da’wah Nabi: Antara Lembut dan Tegas

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

Islam mengajarkan untuk tawazun (seimbang):

_wa aqiimul wazna bil qishthi wa laa tukhsirul miizaan_

Di antara keseimbangan itu adalah seimbang antara reward dan punishment, pujian dan kritik, serta kelembutan dan ketegasan.

Pada dasarnya, lembut adalah baik, tapi jika bukan pada tempat dan waktunya maka itu zalim.

Pada dasarnya, tegas itu bagus, tapi jika bukan pada tempat dan waktunya, itu juga zalim.

Kedua sikap ini benar pada kondisinya masing-masing.

Da’wah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sangat memperhatikan keduanya.

Nabi pernah melerai seorang pemuda yang mabuk dari amuk massa saat itu, dan menyelamatkannya, serta mengatakan _”dia masih mencintai Allah dan Rasul-Nya”._

Nabi pernah menjenguk Yahudi yang sakit lalu mengajaknya kepada Islam.

Nabi tidak memarahi Badui yang kencing di masjid, justru melarang para sahabat yang bersikap keras kepadanya.

Nabi tidak menghardik orang yang tubuhnya beraroma bawang merah dan bawang putih di  masjid, tapi dia pegang tangannya dengan lembut dan membawa  keluar masjid sampai ke Baqi’.

Masih banyak fragmen lain, yang menunjukkan kelembutan da’wah nabi.

Tapi .. kita dapati ketegasan pula dalam da’wahnya, jika memang itu yang diperlukan.

Nabi pernah memboikot tiga sahabatnya sendiri lantaran tidak mentaatinya untuk mengikuti perang Tabuk , 50 hari lamanya mereka didiamkan sampai Allah menerima taubat mereka.

Nabi pernah mendiamkan semua istrinya sebulan lamanya pasca perang Hunain, lantaran mereka meminta harta dunia yang tidak dimilikinya.

Nabi pernah sangat marah kepada Usamah bin Zaid karena mencoba merayu nabi agar meringankan hukuman bagi wanita Bani Makhzum yang mencuri, _”Seandainya Fathimah mencuri aku sendiri yang memotong tangannya!”_ Kata nabi.

Nabi pernah marah kepada Usamah bin Zaid karena telah membunuh  musuh yang telah bersyahadat, walau syahadatnya itu menurutnya hanya untuk menghindar saja, _”Kenapa kau tidak belah saja dadanya agar kau tahu karena apa dia bersyahadat!”_ Kata nabi.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah marah kepada para sahabat yang telah salah dalam fatwa mandi wajib bagi yang junub dalam keadaan pendarahan sehingga hilang nyawa seseorang karena fatwa itu, _”Mereka telah membunuhnya, semoga Allah memerangi mereka!”_ Kata nabi.

Masih banyak fragmen ketegasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam baik kepada sahabatnya dan juga musuhnya.

Maka, selalu lembut tanpa kenal ketegasan adalah banci …

Selalu tegas tanpa kenal kelembutan adalah preman …

Da’wah Nabi dan para sahabat amat memperhatikan keseimbangan keduanya ..

Keshalihan seseorang tidak semata dinilai dari berapa lembut dia terhadap manusia ..
Keshalihan seseorang juga tidak dinilai dari berapa tegas dia terhadap manusia ..

Tetapi ditentukan oleh kemampuannya dalam meletakkan posisi manusia dan kesalahan mereka ..yang dengannya disikapi lembut atau tegas.

Maka, lembut atau tegas karena tiga hal: kondisi orangnya, kadar dan jenis kesalahannya, dan situasi yang melatar belakanginya.

Pemahaman terhadap hal-hal ini sangat vital, jika tidak memahaminya pasti dia tergelincir dan jauh tergelincir .. walau dia merasa benar dan tahu.

Wallahu a’lam

Penyakit Hati dan Obatnya (2)

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

💌 Penyakit Hati dan Obatnya

2. Kibr (Sombong)

▪Kadang juga dinamakan tinggi hati, yaitu penyakit hati berupa sikap merasa lebih pintar, lebih kaya, lebih tampan, lebih hebat, dan sebagainya dibanding orang lain, sehingga merendahkan dan meremehkan orang lain, serta menolak masukan, pendapat, atau apa saja dari selain dirinya.

Al Kibr (sombong) didefinisikan oleh Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana dialog berikut:

لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر قال رجل إن الرجل يحب أن يكون ثوبه حسنا ونعله حسنة قال إن الله جميل يحب الجمال الكبر بطر الحق وغمط الناس

“Tidak akan masuk surga orang yang dihatinya ada sombong walau sebesar atom.”  Ada seseorang berkata: “Ada seseorang yang suka memakai pakaian yang bagus dan sendal yang bagus.” Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah itu indah menyukai yang keindahan, sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim No. 91)

Puncaknya kesombongan manusia, pernah dilakukan Fir’aun ketika berkata:

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

“Maka Fir’aun berkata: ‘Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. (QS. An-Nazi’at: 24)

Akhir hidup orang-orang sombong selalu mengenaskan, mereka binasa tidak berdaya, apa yang mereka miliki baik uang, tentara, jabatan, kekuatan, tidak menyelematkan sama sekali. Mereka tertipu oleh diri sendiri. Maka, ambil-lah pelajaran !

Allah Ta’ala berfirman:

فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الْآخِرَةِ وَالْأُولَىٰ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِمَنْ يَخْشَىٰ

“Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).” (QS. An-Nazi’at: 25-26)

▪Solusi terhadap kesombongan adalah sering-sering ingat dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan berakhir. Semua manusia berasal dari air yang hina. Diperut kita terdapat kotoran yang hina. Kita pun akan mati menjadi bangkai yang busuk. Apa yang perlu disombongkan?

3.  I’jab binnafsi (Kagum dengan diri sendiri)

▪Pernahkah saat beribadah merasa ibadah Anda sangat hebat? Pernahkah ketika membaca Al-Quran merasa bacaan Anda begitu merdu dan bagus? Pernahkah ketika Anda mengemukakan pendapat Anda merasa begitu cerdas? Pernahkah saat memberikan gagasan, Anda merasa begitu pintar? Jika ya, maka itulah ‘ujub, atau i’jab binnafsi (kagum dengan diri sendiri).

Dampak negatif dari penyakit ini adalah kurangnya bahkan hilangnya kepekaan atas kekurangan diri sendiri. Bahkan dalam keadaan negatif pun dia masih merasa hebat. Oleh karena itu Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

وَأَمَّا الْمُهْلِكَاتِ: فَهَوًى مُتَّبِعٌ، وَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ، وَهِيَ أَشَدُّهُنَّ

“Ada pun yang membinasakan manusia adalah hawa nafsu yang diikuti, sifat kikir yang dituruti dan seseorang yang kagum dengan dirinya sendiri, dan ini yang paling bahaya diantara semuanya.” (HR. Al Baihaqi, Syu’abul Iman No. 6865)

▪Solusi dari penyakit ini adalah mengevaluasi dan mengakui diri dengan jujur, bahwa kita memiliki kekurangan, dan orang lain punya kelebihan. Walau manusia memuji kita, tapi kita tahu  kondisi kita sebenarnya. Hindari memunculkan diri dan mencari perhatian manusia. Nabi saw bersabda:

إن الله يحب العبد التَّقيَّ الغنيَّ الخفيَّ

“Sesungguhnya Allah cinta kepada hamba yang: bertaqwa, kaya, dan tersembunyi.” (HR. Muslim No. 2965)

Semoga Allah Ta’ala merahmati Imam Asy Syafi’iy ketika dia berkata:

رأيي صواب يحتمل الخطأ ، ورأي غيري خطأ يحتمل الصواب

“Pendapatku benar tapi bisa jadi salah, pendapat orang lain salah tapi bisa jadi benar. (Dikutip oleh Imam Ibnu Hajar Al Haitami dalam Al Fatawi-nya, 6/344)

Wallahu A’lam

Penyakit Hati dan Obatnya

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

💌 Penyakit Hati dan Obatnya

▪Mukadimah

Manusia memiliki unsur terpenting dalam kehidupannya  yaitu  Hati. Hal ini disampaikan oleh Nabi kita, Muhammad ﷺ, sebagaimana hadits berikut:

Dari An-Nu’man bin Bisyr Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

أَلا وإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وإذَا فَسَدَت فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلا وَهيَ القَلْبُ

“Ketahuilah, Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging jika dia baik maka baiklah seluruh jasad itu, jika dia rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan posisi hati yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Sayangnya, zaman ini manusia lebih besar perhatiannya terhadap kesehatan fisik dan penampilan luar, sedikit perhatian mereka terhadap kesehatan hati dan keindahannya. Anggaran habis ratusan ribu bahkan berjuta-juta untuk fisik saja, mulai dari pakaian, fitnes, makanan, dan aksesoris. Tapi, kesehatan hati diperhatikan jika ingat, itu pun sesaat saja. Padahal Allah ﷻ sangat perhatian dengan hati manusia.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada penampilan kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat pada hati dan perbuatan kalian.” (HR. Muslim 4/1987, dari Abu Hurairah)

▪Macam-Macam Penyakit Hati

Hati, sebagaimana badan, juga dapat dihinggapi penyakit. Baik berat atau ringan. Bedanya, penyakit badan hanya membuat penderitaan dunia, sedangkan penyakit hati mambawa penderitaan dunia dan akhirat.

Berikut ini adalah macam-macam penyakit hati:

1. An-Nifaq (Hipokrit)

An-Nifaq adalah seseorang yang dimulutnya mengikrarkan sesuatu tapi dihatinya tidak meyakininya. Di mulut meyakini Islam, memuji Allah, Rasul-Nya, Al-Quran, ulama, umat Islam, dan seterusnya, tapi dihatinya membenci itu semua. Mereka memiliki wajah ganda, di hadapan orang beriman seperti apa, dibelakangnya lain lagi. Orangnya disebut munafiq.

Dalam Al-Quran banyak sekali Allah ﷻ menceritakan tentang karakter mereka. Di antaranya:

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

“Dan jika mereka berjumpa dengan orang-orang beriman mereka berkata: “Kami ini beriman.” Dan jika mereka kembali kepada syetan-syetan (pembesar-pembesar) mereka, mereka mengatakan: “Kami masih bersama kalian, sesungguhnya kami hanya memperolok-olok semata.” (QS. Al-Baqarah: 14)

Bagi orang-orang munafiq, azab mereka sangat keras. Allah ﷻ berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا

“Allah telah menyediakan bagi kaum munafik laki-laki dan perempuan, dan orang-orang kafir, yaitu neraka jahanam, mereka kekal abadi di dalamnya.” (QS. At-Taubah: 68)

Ayat lainnya:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik berada di neraka yang paling bawah, dan mereka sama sekali tidak memiliki penolong.” (QS. An-Nisa: 145)

Solusi bagi yang memiliki penyakit ini adalah hendaknya berusaha sekuat tenaga, menyadarkan diri untuk, menyelaraskan antara mulut dan hatinya. Jujur dalam keimanan kepada Islam, dan bersama kaum muslimin.

(Bersambung ..)

Keutamaan Memberi Makan Sahur

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

©Keutamaan Memeberikan Makan Sahur

▪Memberikan makan untuk orang yang bersahur termasuk amal shalih yang utama. Sebab itu menjadi fasilitas dan mempermudah orang lain untuk beribadah. Apalagi jika mereka yang bersahur adalah orang-orang yang tidak mampu. Hal ini sejalan dengan ayat:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

“Dan saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan taqwa.” (QS. Al Maidah: 2)

▪Serta hadits Nabi ﷺ :

وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ

“Barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah ﷻ akan penuhi kebutuhan dia. (HR. Al-Bukhari No. 2442,  Muslim No. 2580)

▪Imam Al Munawi Rahimahullah mengatakan:

أي في قضاء حاجة أخيه في الدين

“Yaitu memenuhi kebutuhan saudaranya seagama. (Faidhul Qadir, 6/317)

▪Imam Ibnu ‘Allan Rahimahullah mengatakan:

أي ما يحتاج إليه حالاً أو مآلاً

“Yaitu memenuhi apa-apa yang dia butuhkan baik berupa keadaan (non harta) dan harta.” (Dalilul Falihin, 2/282)

▪Lalu, apakah juga akan mendapatkan pahala seperti orang yang santap sahur?

Sebagaimana kita ketahui bahwa makan sahur itu berkah, sebagaimana hadits Nabi ﷺ. Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

“Bersahurlah kalian, karena pada santap sahur itu ada keberkahan.”  (HR. Bukhari No. 1923, Muslim No. 1095)

▪Maka, semoga keberkahan ini juga diperoleh oleh orang yang memberikan makan sahur. Sebab, prinsip umum dalam Islam, orang yang menjadi sebab munculnya kebaikan maka dia akan mendapatkan ganjaran kebaikan itu. Hal ini bisa terlihat dalam beberapa hadits berikut:

مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللهِ فَقَدْ غَزَا

“Barang siapa yang membantu persiapan orang berjihad maka dia juga telah berjihad.” (HR. Al Bukhari No. 2843)

▪Hadits lain:

ألا الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله وما والاه وعالم أو متعلم

“Ketahuilah dunia ini terlaknat, terlaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali: berdzikir kepada Allah, dan apa-apa yang mendukung dzikir, dan orang berilmu atau penuntut ilmu.” (HR. At Tirmidzi No. 2322, hasan)

▪Dari Zaid bin Khalid Al Juhani Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barang siapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi orang berpuasa maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana orang tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang itu.” (HR. At Tirmidzi No. 807, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 21676, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 3332. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 3952. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: hasan lighairih. Lihat ta’liq Musnad Ahmad No. 21676, Al Bazzar dalam Musnadnya No. 3775)

Demikianlah keutamaan memberikan makan sahur.

Wallahu A’lam

Wanita Ziarah Kubur

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Benarkah wanita dilarang ziarah kubur? Bagaimana dengan wanita haid berziarah kubur?

Wassalamu ‘Alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh. (dari beberapa hamba Allah)

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
 Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Ashhabihi wa Man waalah, wa ba’d:

Semoga limpahan rahmat Allah Ta’ala menaungi kita semua …
Untuk menjawab pertanyaan ini, kami akan tuangkan beberapa hadits tentang ziarah kubur, sebagai berikut:

Hadits Pertama
عن بُرَيْدَة – رضي الله عنه – ، قَالَ : قَالَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عن زِيَارَةِ القُبُورِ فَزُوروها )) رواه مسلم . وفي رواية : (( فَمَنْ أرَادَ أنْ يَزُورَ القُبُورَ فَلْيَزُرْ ؛ فإنَّهَا تُذَكِّرُنَا الآخِرَةَ ))

Dari Buraidah Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Dahulu saya melarang kalian dari berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah.”(HR. Muslim). Riwayat lain: “maka barangsiapa yang hendak berziarah kubur maka berziarahlah, karena hal itu bisa mengingatkan akhirat.”

Hadits ini dikeluarkan oleh:
- Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1977
- Imam An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 5162
– Imam Ibnu Majah dalam Sunannya No. 1571
- Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 9289
– Imam Abu ‘Uwanah dalam Musnadnya No. 7879, 7882
- Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 1235, 4319, 13512, 13640, 23053
– Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Al MushannafNo. 312, 11928, 11935
- Imam Al Bazzar dalam Musnadnya No. 4373, 4465, 7366
- Imam Ath Thabarani dalam Musnad Asy Syamiyin No. 604, 2442, dalam Al Ausath No. 6394
– Imam Ath Thahawi dalam Musykilul Aatsar No. 4130
- Imam Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 2708

Hadits Kedua
 عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّمَا كَانَ لَيْلَتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ إِلَى الْبَقِيعِ فَيَقُولُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَأَتَاكُمْ مَا تُوعَدُونَ غَدًا مُؤَجَّلُونَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَهْلِ بَقِيعِ الْغَرْقَدِ

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, dia berkata: dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika giliran malamnya bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau keluar pada malam itu menuju pekuburan Baqi’, Beliau bersabda: Salam sejahtera untuk kalian negeri kaum beriman, telah didatangkan kepada kalian apa-apa yang dijanjikan, hari besok akan segera, dan kami –Insya Allah- akan besama kalian, Ya Allah berikanlah ampunan kepada penghuni Baqi’. (HR. Muslim)

Hadits ini dikeluarkan oleh:
- Imam Muslim dalam Shahihnya No. 974
- Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7002, 10077
- Imam Ibnu ‘Asakir dalam Mu’jamnya No. 1550

Hadits Ketiga
عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُهُمْ إِذَا خَرَجُوا إِلَى الْمَقَابِرِ فَكَانَ قَائِلُهُمْ يَقُولُ فِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ وَفِي رِوَايَةِ زُهَيْرٍ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ

Dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, katanya: Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan mereka jika keluar menuju pekuburan, yang mereka ucapkan –dia katakan dalam riwayat Abu Bakar- : “Salam sejahtera atas penduduk negeri “–dalam riwayat Zuhair- “Salam sejahtera atas kalian penduduk negeri kaum mu’minin dan muslimin, dan kami Insya Allah akan benar-benar  menjumpai, aku minta kepada Allah keselamatan untuk kami dan kalian.”

Hadits ini dikeluarkan oleh:
- Imam Muslim dalam Shahihnya No. 975
- Imam Ibnu ‘Asakir dalam Mu’jamnya No. 185
– dll

Hadits Keempat
 عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقُبُورِ الْمَدِينَةِ فَأَقْبَلَ عَلَيْهِمْ بِوَجْهِهِ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ الْقُبُورِ يَغْفِرُ اللَّهُ لَنَا وَلَكُمْ أَنْتُمْ سَلَفُنَا وَنَحْنُ بِالْأَثَرِ

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, katanya: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melewati kuburan di Madinah, Beliau menghadapkan wajahnya kepada mereka.  Beliau bersabda: Salam untuk kalian wahai penghuni kubur, semoga Allah mengampuni kami dan kalian, kalian adalah pendahulu kami dan kami mengikuti jejak kalian. 

Hadits ini dikeluarkan oleh:
- Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 1053, katanya: hasan
- Imam Alauddin Al Muttaqi dalam Kanzul ‘Ummal No. 42561
- Dll

Hadits-hadits ini mengandung beberapa faedah:
1. Fatwa bisa berubah karena perubahan kondisi dan keadaan manusia. Hal ini bisa kita lihat bahwa dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallammelarang ziarah kubur ketika masa awal Islam, lalu Beliau membolehkannya ketika aqidah tauhid sudah mapan pada masa-masa selanjutnya. Dan, dalam beberapa kasus selain Ziarah kubur juga terjadi perubahan fatwa. Misal: ketika umat Islam masih sedikit dan lemah, Allah Ta’ala memerintahkan kaum muslimin untuk bersabar, berdakwah saja, menjalankan shalat, menahan tangan untuk berperang dari gangguan musuh.
Allah Ta’ala berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!”  (QS. An Nisa: 77)

Namun ketika umat Islam sudah kuat dan banyak, dan kezaliman semakin menjadi-jadi maka mereka diizinkan untuk berperang.
Allah Ta’ala berfirman:
أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ  

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena Sesungguhnya mereka telah dianiaya. dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (QS. Al Hajj: 39)

Ada pun syariat Islam dia adalah tsabit(tetap), yang bisa berubah karena kondisi dan keadaan adalah fatwa.

2.Ziarah kubur adalah sunah, khususnya bagi kaum laki-laki, dan ini menjadi pandangan jumhur (mayoritas ulama), bahkan ada yang mengatakan ijma’ (konsesus para ulama).

Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri Rahimahullahmenjelaskan:
( فزوروها ) الأمر للرخصة أو للاستحباب وعليه الجمهور بل ادعى بعضهم الاجماع بل حكى بن عبد البر عن بعضهم وجوبها

(maka berziarahlah) perintah ini menunjukkan keringanan atau menunjukkan kesunahannya, dan inilah pendapat mayoritas ulama, bahkan sebagian mereka ada yang mengklaim adanya ijma’, bahkan Ibnu Abdil Bar dan selainnya menceritakan tentang wajibnya berziarah kubur. (Tuhfah Al Ahwadzi, 4/135)

Ada pun bagi wanita, para ulama berbeda pendapat boleh atau tidaknya kaum wanita berziarah kubur.

Kelompok pertama, Sebagian ulama mengatakan boleh, Apa dasarnya?
- Kata fazuuruuha (maka berziarahlah kalian) adalah berlaku umum, baik laki-laki atau  wanita.

Imam At Tirmidzi Rahimahullah mengatakan tentang hadits La’ana Az Zawaaraat Al Qubur(Rasulullah melaknat wanita yang berziarah kubur):
قد رأى بعض أهل العلم أن هذا كان قبل أن برخص النبي – صلى الله عليه وسلم – في زيارة القبور، فلما رخص دخل في رخصته الرجال والنساء.

Sebagian ulama mengatakan bahwa hal ini terjadi ketika sebelum diberikan keringanan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang ziarah kubur, maka ketika sudah diberikan keringanan, maka keringanan itu mencakup laki-laki dan wanita. (Lihat Sunan At TirmidziNo. 1056, lihat juga Imam As Suyuthi dalamSyarh Sunan Ibni Majah, 1/113, Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, 2/417 )

- Begitu pula kata: “karena hal itu bisa mengingatkan akhirat.” Mengingat akhirat dan kematian bukan hanya kebutuhan kaum laki-laki, tetapi juga wanita.

Berkata Al ‘Allamah Asy Syaikh Waliyuddin At Tibrizi Rahimahullah:
لأن الزيارة عللت بتذكير الموت ، ويحتاج إليه الرجال والنساء جميعاً

Karena berziarah merupakan sebab untuk mengingat kematian, dan hal itu dibutuhkan oleh laki-laki dan wanita sekaligus. (Misykah Al Mashabih, 5/1033)

Berkata Imam Mulla Ali Al QariRahimahullah:
وقد عللت الزيارة فيها بأنها ترق القلب وتدمع العين وتذكر الآخرة والموت ، وبأن فيها عبرة ما لفظه هذه الأحاديث بتعليلاتها تدل على أن النساء كالرجال في حكم الزيارة

Telah ada   berbagai sebab berziarah bagi wanita, di dalamnya hal itu bisa melembutkan hati, mengalirkan air mata, dan mengingat akhirat dan kematian, dan   pelajaran yang terdapat pada berbagai hadits yang menyebutkan sebab itu menunjukkan bahwa wanita adalah sama dengan laki-laki tentang hukum berziarah (kubur). (Ibid)

- Aisyah Radhiallahu ‘Anha pernah berziarah ke kubur saudaranya, bernama Abdurrahman bin Abu Bakar.
عن ابن أبي مليكة عن عائشة رضي الله عنها أنها كانت إذا قدمت مكة جاءت إلى قبر أخيها عبد الرحمن بن أبي بكر رضي الله عنهما فسلمت عليه

Dari Ibnu Abi Malikah, dari ‘AisyahRadhiallahu ‘Anha, bahwa Beliau jika datang ke Mekkah, mendatangi ke kubur saudaranya Abdurrahman bin Abu Bakr Radhiallahu ‘Anhuma, dan mengucapkan salam kepadanya.(HR. Al Fakihi, Akhbar Makkah, No. 2443, Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 3/235)

Apa yang ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anhalakukan menunjukkan kebolehannya, sebab jika berziarah ke kubur terlarang bagi wanita, tentu ‘Aisyah adalah pihak yang paling tahu itu, karena Beliau isteri terdekat RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

- Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhumenceritakan:
مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي وَلَمْ تَعْرِفْهُ فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallammelewati seorang wanita yang menangis di sisi kubur. Nabi bersabda: “Bertaqwa-lah kepada Allah dan bersabarlah.” Wanita itu berkata: “Enyah kau dariku, kau tidak  mendapatkan musibah seperti yang aku terima.” Wanita itu tidak mengenalinya, lalu dikatakan kepadanya bahwa itu adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Lalu wanita itu mendatangi pintu rumah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak menemui penjaga pintu. Lalu  dia berkata: “Aku tadi tidak mengenali engkau.” Nabi bersabda: “Sabar itu dihantaman yang pertama.”  (HR. Bukhari No. 1283)

Hadits ini sangat jelas menunjukkan kebolehannya, jika terlarang tentulah wanita itu sudah dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
- Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, -haditsnya cukup panjang kami ambil bagian akhirnya saja:

فَقَالَ إِنَّ رَبَّكَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَ أَهْلَ الْبَقِيعِ فَتَسْتَغْفِرَ لَهُمْ قَالَتْ قُلْتُ كَيْفَ أَقُولُ لَهُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ قُولِي السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ

Beliau bersabda: Sesungguhnya Rabbmu memrintahkan kamu untuk mendatangi ahlul baqi’ (kuburan baqi’), hendaknya memhonkan ampun buat mereka.” ‘Aisyah berkata: Aku bertanya: “Bagaimana yang aku ucapkan untuk mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “katakanlah: As Salamu ‘Ala Ahlad Diyar minal mu’minin wal Muslimin ………….dst.” (HR. Muslim No. 974)

Kisah ini menunjukkan secara terang benderang kebolehannya. Jika berziarah kubur dilarang, tentulah pertanyaan ‘Aisyah itu tidak akan dijawab, atau sekalipun dijawab akan dijawab dengan larangan ke kubur bagi dirinya.

Demikianlah alasan-alasan pihak yang membolehkan. Pendapat ini didukung juga oleh Syaikh Al Albani Rahimahullah. Syaikh Al Mubarkafuri mengutip dari Imam ibnu Hajar bahwa ini adalah pendapat mayoritas ulama.(Tuhfah Al Ahwadzi, 4/137)

Kelompok Kedua, pihak yang melarang, mereka beralasan dengan hadits:
عن أبي هريرة  أن رسول الله صلى الله عليه و سلم لعن زوارات القبور

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  melaknat zawaaraat (wanita peziarah) kubur.(HR. At Tirmidzi No. 1056, katanya: hasan shahih)

Hadits lain:
عن ابن عباس قال  لعن رسول الله صلى الله عليه و سلم زائرات القبور والمتخذين عليها المساجد والسرج .

Dari Ibnu Abbas, katanya: RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat para wanita yang berziarah kubur, dan orang-orang yang menjadikan masjid dan penerangan di atasnya. (HR. Abu Daud No. 3236)

Inilah pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr, dan lainnya. Menurut mereka hadits ini tegas menjadi larangan bagi wanita, yakni haram berziarah kubur. Makna zawaratmenurut mereka bukan sering atau banyak berziarah, tetapi bermakna asalnya yakbi berziarah itu sendiri.

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah menjelaskan:
فالقول الصحيح هو القول بالتحريم، وأن النساء لا يجوز لهن أن يزرن القبور، ثم أيضاً -كما هو واضح- أن المرأة إذا تركت الزيارة فأكثر ما في الأمر أنها تركت أمراً مستحباً، وأما إذا فعلت الزيارة فإنها تتعرض للعنة كما في هذا الحديث، ومعلوم أن ترك هذا الفعل الذي تسلم فيه من اللعنة أولى ومقدم على كونها تفعل شيئاً لو تركته لم يحصل لها شيء إلا أنها تركت أمراً مستحباً لا يترتب على تركه شيء. إذاً: القول بالتحريم والمنع هو الأظهر والأولى

Maka, pendapat yang benar adalah pendapat yang mengharamkannya, bahwa wanita tidak boleh berziarah kubur, lalu juga –sebagaimana yang telah jelas- bahwa wanita jika dia meninggalkan ziarah, maka paling banyak dia  akan meninggalkan perkara sunah saja, ada pun jika dia melakukan ziarah, maka dia akan mendapatkan laknat sebagaimana disebutkan oleh hadits, telah maklum bahwa meninggalkan perbuatan ini, yang dengan itu akan membuatnya selamat dari laknat, adalah lebih utama dan didahulukan dibanding dia melakukan perbuatan yang jika dia tinggalkan tidak berdampak apa-apa, melainkan hanya dia telah meninggalkan  anjuran saja, dan jika dia tinggalkan tidak apa-apa. Jadi, pendapat yang mengharamkannya lebih kuat dan utama.(Syarh Sunan Abi Daud, 17/150)

Pihak yang membolehkan telah mengkoreksi alasan-alasan pihak yang melarang ini. Imam Ibnu Abdil Bar menyebutkan:
قال أبو بكر وسمعت أبا عبد الله يعني أحمد بن حنبل يسأل عن المرأة تزور القبر فقال أرجو إن شاء الله أن لا يكون به بأس عائشة زارت قبر أخيها قال ولكن حديث ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم لعن زوارات القبور ثم قال هذا أبو صالح ماذا كأنه يضعفه ثم قال أرجو إن شاء الله عائشة زارت قبر أخيها قيل لأبي عبد الله فالرجال قال أما الرجال فلا بأس به

Berkata Abu Bakar: Aku mendengar Abu Abdillah –yakni Imam Ahmad bin Hambal- ditanya tentang wanita yang berziarah kubur. Beliau menjawab: “Aku harap hal itu tidak apa-apa, Insya Allah. ‘Aisyah menziarahi kubur saudaranya. ” Orang itu berkata: “Tetapi ada hadits Ibnu Abbas bahwa Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam melaknat wanita peziarah kubur.” Imam Ahmad menjawab: “Hadits ini terdapat Abu Shalih.”   Apa yang dikatakannya seakan dia mendhaifkan hadits ini. Lalu Imam Ahmad berkata: “Aku harap tidak apa-apa, Insya Allah, ‘Aisyah berziarah ke kubur saudaranya.” Ditanyakan kepada beliau: “Kalau kaum laki-laki?” Beliau menjawab: “Ada pun laki-laki, tidak apa-apa.” (At Tamhid, 3/234)

Syaikh Al Albani telah mendhaifkan hadits Ibnu Abbas di atas, dan Beliau telah mengkritik para ulama yang telah berhujjah dengan hadits ini. Katanya:
أن هذا الحديث مع شهرته ضعيف الاسناد، لا تقوم به حجة، وإن تساهل كثير من المصنفين فأوردوه في هذا الباب وسكتوا عن علته، كما فعل ابن حجر في (الزواجر)، ومن قبله العلامة ابن القيم في (زاد المعاد)، واغتر به جماهير السلفيين وأهل الحديث فاحتجوا به في كتبهم ورسائلهم ومحاضراتهم.

Hadits ini walau terkenal, isnadnya lemah (dhaif). Tidak boleh berhujjah dengannya. Sesungguhnya telah banyak penyusun kitab meremahkan hal ini, mereka menyampaikan hadits ini dalam permasalahan ini dan mereka diam saja terhadap cacat yang ada dalam hadits ini, sebagaimana yang dilakukan Ibnu Hajar dalam Az Zawajir. Juga sebelum beliau, Al ‘Allamah Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad, yang dnegannya mayoritas salafiyin dan ahli hadits terperdaya. Mereka berdalil dengan hadits ini baik pada kitab, risalah, dan ceramah-ceramah mereka.(Ahkamul Janaiz, Hal. 232)

Lalu, hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah melaknat zawaaraat, adalah hadits shahih, tetapi ada beberapa catatan:
1. Artinya bukan melaknat wanita yang berziarah, tetapi melaknat wanita yang banyak atau sering-sering berziarah. Zawaaraat menunjukkan jumlah yang banyak.
Disebutkan dalam Tuhfah Al Ahwadzi:
قال القارىء لعل المراد كثيرات الزيارة وقال القرطبي هذا اللعن إنما هو للمكثرات من الزيارة

Berkata Al Qari bahwa bisa jadi maknanya adalah banyak berziarah. Al Qurthubi berkata: laknat ini adalah untuk yang banyak melakukan ziarah. (Syaikh Abul ‘Ala Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwdzi, 4/126)
Imam As Suyuthi mengatakan, bahwa yang dilaknat dalam hadits ini adalah wanita yang berziarah dengan tanpa menjaga adab dan akhlak, katanya:
إن اللعن محمول على زيارتهم بما لا يجوز كالتبرج والجزع والصياح وغير ذلك مما لا ينبغي ، وأما إذا أمن جميع ذلك فلا مانع من الإذن لهن

Sesungguhnya laknat di sini dimaknai bahwa ziarahnya mereka itu dibarengi dengan hal-hal yang tidak diperbolehkan seperti tabarruj (bersolek), mengeluh, berteriak,  dan hal-hal tidak pantas lainnya. Ada pun jika aman dari semua hal ini, maka tidak terlarang mengizinkan mereka (untuk ziarah). (Misykah Al Mashabih, 5/1033)

Imam Asy Syaukani mengomentari penjelasan para imam ini, katanya:
وهذا الكلام هو الذي ينبغي اعتماده في الجمع بين أحاديث الباب المتعارضة في الظاهر

Dan ini adalah perkataan yang  tepat untuk dijadikan pegangan di dalam mengkompromikan hadits-hadits yang secara zahirnya nampak bertentangan dalam bab ini.(Nailul Authar, 4/95)

2. Hadits ini telah mansukh (dihapus) sebagaimana yang disebutkan oleh Imam At Tirmidzi, Imam Al Baghawi, dan lainnya, bahwa laknat ini terjadi ketika sebelum diberikan kebolehan berziarah.

Mansukh-nya hadits ini semakin jelas dengan riwayat  ketika ‘Aisyah berziarah ke kubur saudaranya:
فقيل لها أليس قد نهى النبي صلى الله عليه و سلم عن ذلك قالت نعم كان نهى ثم أمر بزيارتها انتهى

Dikatakan kepada ‘Aisyah, bukankah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang hal itu? Beliau menjawab: “Ya, dahulu  Beliau melarang, kemudian Beliau memerintahkan untuk berziarah.” Selesai.(Tuhfah Al Ahwadzi, 4/137)

Kesimpulan:
Telah nampak bahwa pendapat yang membolehkan adalah pendapat yang lebih kuat. Dilihat dari banyak sisi :
- Hadits-haditsnya jauh lebih banyak jumlahnya, lebih kuat dalam periwayatannya, dan lebih beragam jenisnya, baik qauliyah (ucapan) dantaqririyah (persetujuan) nabi, yakni disebutkan dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan lainnya. Hadits-hadits ini ada yang berlaku umum (laki-laki dan wanita), dan ada pula yang khusus wanita.
- Sementara hadits yang paling kuat tentang pelarangan diriwayatkan lebih sedikit, dan diragukan keshahihannya,  yang paling kuat adalah yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi dari Abu Hurairah.
- Hadits riwayat Imam At Tirmdzi itu pun dimungkinkan telah mansukh sebagaimana keterangan sebagian ulama, dan diperkuat oleh pernyataan   ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha.
- Kalau pun hadits itu tidak mansukh, maknanya bukan berarti terlaknat wanita yang berziarah kubur, tetapi terlaknat yang banyak berziarah, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ali Al Qari, Imam Al Qurthubi, Imam As Suyuthi, dan lainnya, dan yang dikuatkan oleh Imam Asy Syaukani dan Syaikh Al Albani.

Peringatan:
Walau pun dibolehkan namun ada beberapa patokan yang mesti diperhatikan oleh kaum wanita:
1.       Tidaklah sering-sering ziarah kubur, agar terhindar dari makna zawaaraat.

2.       Tidak melakukan aktifitas terlarang seperti histeris dan meratap.

3.       Tidak bersolek dan berhias dengan cara yang menyerupai wanita kafir.

4.       Menutup aurat secara sempurna dan pakaian yang layak dilingkungan kuburan.

Adapun wanita haid, dia sama dengan wanita yang sedang suci. Tak ada dasarnya larangan bagi wanita haid untuk berziarah kubur, karena kebolehannya adalah mutlak.

Wallahu a’lam.

Kumpulan Hadits-Hadits Shahih Tentang Shaum dan Ramadhan (5)

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

28. *Doa ketika Lailatul Qadar*

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan doa khusus  untuk kita baca ketika Lailatul Qadar.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Dari ‘Aisyah, dia berkata “Aku berkata: Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui bahwa pada suatu malam adalah Lailatul Qadar, apa yang aku ucapkan?” Beliau menjawab: “Ucapkanlah, ‘Allahumma innaka ‘afuwwun karim tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni.” (HR. At Tirmidzi No. 3513, At Tirmidzi berkata: hasan shahih. Ibnu Majah No. 3850. Syaikh Al Albani menshahihkannya. Lihat As Silsilah Ash Shahihah No. 3337, Shahihul Jami’ No. 4423, dan lainnya)

29. *Orang yang tidak berpuasa tanpa alasan*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, secara marfu’:

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلَا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ وَإِنْ صَامَهُ

“Barang siapa yang  tidak berpuasa pada Ramadhan tanpa adanya uzur, tidak pula sakit, maka tidaklah dia bisa menggantikannya dengan puasa sepanjang tahun, jika dia melakukannya. (HR. Bukhari No. 1934)

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

عرى الاسلام، وقواعد الدين ثلاثة، عليهن أسس الاسلام، من ترك واحدة منهن، فهو بها كافر حلال الدم: شهادة أن لا إله إلا الله، والصلاة المكتوبة، وصوم رمضان
              
“Tali Islam dan kaidah-kaidah agama ada tiga, di atasnyalah agama Islam difondasikan, dan barangsiapa yang meninggalkannya satu saja, maka dia kafir dan darahnya halal ( untuk dibunuh), (yakni):  Syahadat Laa Ilaaha Illallah, shalat wajib, dan puasa Ramadhan.” (HR. Abu Ya’ala No. 2349, Alauddin Al muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 23, juga Ad Dailami dan dishahihkan oleh Imam Adz Dzahabi. Berkata Hammad bin Zaid: aku tidak mengetahui melainkan hadits ini  telah dimarfu’kan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Al Haitsami mengatakan sanadnya hasan, Majma’ Az Zawaid, 1/48. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Tetapi didhaifkan oleh Syaikh Al Albani Rahimahullah)

Berkata Imam Adz Dzahabi Rahimahullah:

وعند المؤمنين مقرر:  أن من ترك صوم رمضان بلا مرض، أنه شر من الزاني، ومدمن الخمر، بل يشكون في إسلامه، ويظنون به الزندقة، والانحلال.

“Bagi kaum mukminin telah menjadi ketetapan bahwa meninggalkan puasa Ramadhan padahal tidak sakit adalah lebih buruk dari pezina dan pemabuk, bahkan mereka meragukan keislamannya dan mencurigainya sebagai zindiq dan tanggal agamanya.” (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/434. Lihat juga Imam Al Munawi, Faidhul Qadir, 4/410. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

30. *Puasa adalah tameng dari Api Neraka*

Dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّار
ِ
“Puasa adalah tameng, orang berpuasa akan melindungi dirinya dari api neraka.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya No. 14669) Imam Al Haitsami mengatakan: isnadnya hasan. (Majma’ Az Zawaid, No. 5077)

Berkata Syaikh Syu’aib Al Arnauth:

حديث صحيح بطرقه وشواهده وهذا إسناد حسن

 ”Hadits shahih dengan berbagai jalur dan penguatnya. Isnad hadits ini hasan.” (Ta’liq Musnad Ahmad No. 14669, Jadi sanad hadits ini hasan, namun terangkat menjadi shahih karena banyaknya jalan. Demikian menurut Syaikh Syu’aib Al Arnauth. Syaikh Al Albani juga menghasankan hadits ini. Lihat Shahihul Jami’ No. 4308)

Wallahu A’lam