Ketika Seorang Kemal Mencoba Memutus Sejarah Seorang Durjana Berada Diatas Hukum​


📅 Revolusi Penggantian Huruf – 1 November 1928
🎩 1 Kasım 1928 – Harf İnkılâbı

Poster yang menggambarkan perubahan huruf resmi dari hijaiyyah (Arab-Turki) menjadi huruf latin (Latin-Turki).

Setelah kekhilafahan Turki Utsmani ditumbangkan oleh Mustafa Kemal pada tahun 1924, maka menyusul setelah itu penghapusan atas huruf Osmanlı. Tujuan jangka panjangnya adalah menjauhkan masyarakat dari sejarah kekhilafahan yang sudah berlangsung lebih dari 600 tahun; memutus mata rantai keterhubungan dengan al-Qur’an dan Islam.

Teşekkür ederim

Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Mengusik Lawan,(apakah) Siap Perang?​


​Pertempuran Katia (Qatia/Qatiyah)​
🌐 Sinai, Sebelah Timur Terusan Suez
📆 23 April 1916, Perang Dunia Pertama

Pertempuran ini terjadi antara kekuatan Turki Utsmani dengan pasukan Inggris dan sekutunya di sebelah utara stasiun kereta-api el-Ferdan. Kekuatan militer Turki Utsmani dipimpin oleh Jenderal Friedrich Freiherr Kress von Kressenstein yang berkebangsaan Jerman. Serangan mendadak ini menyergap sebagian dari Brigade Berkuda ke-5 Inggris yang berkekuatan tiga setengah skuadron. Kebetulan, brigade ini tersebar kedudukannya sehingga tidak solid dalam bertahan.

Brigade ke-5 ini sejatinya ditugaskan untuk melindungi proyek pembuatan jalur kereta-api dari Kantara (Qantara) di Terusan Suez menuju perbatasan Palestina. Karena jalur pembangunan jalan kereta-api ini berada di luar lingkup zona pertahanan Terusan Suez maka diperlukan kekuatan yang bermobilitas tinggi. Target capaian pertama adalah kota Romani sebelum Inggris dan sekutunya dapat mengerahkan balatentaranya menyerbu pertahanan kekhilafahan di Palestina.

Sebenarnya, pasukan Kress von Kressenstein sudah lama aktif di wilayah tersebut sejak serangan Turki Utsmani terhadap Terusan Suez pertama kali tahun 1915. Serangan yang dikerahkan dalam 3 kolom tempur itu pernah berhasil melintasi Gurun Sinai. Namun, efek dari serangan atas Terusan Suez tidak terwujud; bangsa Mesir tidak bangkit melawan penjajahan.

Sejak serangan tahun 1915 itu Inggris dan sekutunya memperkuat pertahanan Terusan Suez dengan sumberdaya mereka. Serangan 23 April 1916 ini seolah ingin mengingatkan kembali bahwa kekhilafahan Turki Utsmani masih ada.

Serangan Kress von Kressenstein kali ini berhasil melumatkan kurang lebih satu resimen dari Brigade ke-5 Inggris. Walaupun, serangan serentak serupa di Duidar tidak berhasil karena terlalu dekat dengan Zona Pertahanan Kanal yang sudah diperkuat.

Reaksi Inggris atas kekalahan kecil ini adalah melipatgandakan kekuatan dengan mengirimkan Brigade Kuda Ringan ke-2 serta Brigade Senapan Berkuda Selandia Baru. Keduanya dikirim untuk memperkuat Katia dan Romani. Disusul kemudian oleh Brigade Kuda Ringan Australia serta Divisi Infanteri Lowland ke-52. Pada awal bulan Agustus 1916 kembali terjadi bentrok senjata di Romani. Tetapi itu kisah lainnya.

Agung Waspodo, kembali ke narasi Perang Dunia Pertama.

Lapangan Banteng, 16 November 2017

Optimalkan Apa yang Ada Pada Dirimu Jangan Terlalu Banyak Mengeluh​


Setelah perang Balkan ke-3 berkahir pada tanggal 29 September 1913 dengan kekalahan yang melelahkan, angkatan udara Turki Utsmani pun sudah kehabisan perbekalan. Beruntung, para mujahid di garis depan belum kehabisan akal walau sultan sudah dikebiri kekuasaannya oleh rejim Turki Muda.

Sesungguhnya di front masih ada dua detasemen angkatan udara di atas kertas. Namun hanya dua pesawat yang masih bisa terbang dan itupun tidak lagi bisa diservis karena keterbatasan suku cadang. Pesawat jenis Bleriot XI-2 dua-kursi sedang diupayakan perbaikannya oleh Yüzbaşı (Kap) Salim di Kirkkilise sedangkan Yüzbaşı Nuri memperbaiki pesawat Deperdussin dua-kursi dengan apa saja yang tersedia di Edirne. ​Tak ada akar, rotan pun jadi (hanya kids jaman ancient yang ngerti).​

Pada tanggal 24 Oktober 1913 pesawat dianggap sudah layak terbang. Yüzbaşı Nuri dan operator radio Mülazım (Let) Kani menerbangkan Deperdussin yang bernama “Prens Celaleddin” langsung menuju lapangan udara Yeşilköy. Penerbangan melalui jalur Babaeski dan Çorlu itu menempuh waktu 3 jam 5 menit dan mendarat mulus di Yeşilköy. Keduanya tercatat sebagai pilot udara kekhilafahan Turki Utsmani pertama yang terbang sejauh itu dan sultan menghadiahi 10 Livre emas atas prestasi itu. ​Bukan nasi kotak ya, catat itu!​

Semangat para pilot lainnya melambung tinggi, memang suatu kebaikan akan mendorong kebaikan lainnya. ​Sedari dulu muslim adalah para pelopor hasanat.​

Mendengar keberhasilan itu, maka pesawat kedua Bleriot XI-2 yang bernama “Tarik bin Ziyad” juga diberangkatkan pada 29 Oktober 1913 dengan pilot Yüzbaşı Salim dan pengintai udara Yüzbaşı Kemal. Mereka menerbangkan Bleriotnya dari Kirkkilise langsung menuju Yeşilköy. Namun kali ini cuaca tak bersahabat dan lapangan pendaratan tak terlihat. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyeberangi Laut Marmara dan mendarat di kota Manyas. Semua orang di Yeşilköy menanti kabar dengan penuh harap. ​Mereka memang sangat selektif dalam memilih nama pesawat.​

Keesokan hari setelah cuaca membaik, pesawat terbang lagi ke Bandırma dulu untuk mengisi bahan bakar sebelum balik menyeberangi Laut Marmara. Alhamdulillah, dalam 24 jam mereka telah berhasil menyeberangi Laut Marmara dua kali. Pendaratan yang mulus di Yeşilköy kembali menyegarkan semangat jihad para pionir pejuang udara kekhilafahan Turki Utsmani. Bandırma itu kota yang dekat dengan pantai Erdek, pantainya Abu Ayyub al-Anshari (ra), ​awas jangan gafok!​

Pada akhir bulan Oktober 1913 itulah di Yeşilköy tertulis sejarah baru lainnya. Bunda Belkıs Şevket Hanım turut terbang sebagai muslimah pertama dengan pesawat Deperdussin dua-kursi yang bernama “Osmanli” yang telah juga berhasil diperbaiki. Pesawat yang jauh lebih dahulu tiba itu (12 Maret 1912) diterbangkan oleh Yüzbaşı Fethi.

Agung Waspodo, mengucapkan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni mereka semua dan menerima amal ibadahnya.

Depok, 12 November 2017

🔸Foto dari Ottoman Aviation 1909-1919, Updated 2nd Version 2012, Ole Nikolajsen, hal. 29-30.🔹

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Memuji dan Mengkritik Sesuai Proporsinya & Bahaya Kelezatan Dunia bagi Pemimpin​


Sejarawan Yusuf ibn Taghribirdi mencatat Sultan Mehmed II (Fatih) ibn Murad II sebagai pemimpin yang meneruskan perjuangan ayahnya. Khususnya dalam jihad melawan musuh Kesultanan Turki Utsmani dengan merebut wilayah serta benteng strategis dari lawannya.

Sang ayah, Murad II ibn Mehmed I Çelebi, wafat pada usia menjelang paruh baya (44 tahun). Sebagai sejarawan resmi Kesultanan Mamluk di Mesir, Ibn Taghribirdi menilai Murad II sebagai sultan terbaik di Timur dan Barat. Karakter utamanya adalah sempurna akal, kuat determinasi, penuh energi, lapang pemberiannya, dan adil kepemimpinannya.

مما اشتمل عليه من العقل والحزم والعزم والكرم والشجاعة والسؤْدد

Catatan yang bernada pujian terhadap almarhum Sultan Murad II terus dituliskan oleh penulis kitab an-Nujum az-Zahirah ini: ia yang menghabiskan usianya dalam jihad fi sabilillah, melancarkan banyak ekspedisi militer, banyak menaklukkan lawan, sehingga menguasai berbagai benteng (lawan) yang selama ini tak tertembus. Oleh karenanya berbagai pertahanan serta wilayah kuat milik lawan menjadi terbengkalai (ditinggalkan pemiliknya).

Kemudian, Yusuf ibn Taghribirdi, mulai menyeimbangkan dengan beberapa penilaian terhadap almarhum Sultan Murad II. Beliau mengatakan bahwa “hanya saja sultan terkadang hanyut dalam kelezatan dunia yang seharusnya ia tinggalkan”.

على أنه كان منهمكًا في اللذات التي تهواها النفوس

Dimana hal itu mendorong sebagian pihak untuk “mempertanyakan tentang kualitas agamanya” yang dijawab oleh Yusuf ibn Taghribirdi dengan menukil perkataan langsung almarhum Sultan Murad II ibn Mehmed I sebagai berikut: “aku telah merobek (kesalihan) dengan ma’siat, namun telah kujahit kembali dengan istighfar” sebagai bentuk penyesalannya:

فقال: أمزِّقه بالمعاصي وأرقِّعه بالإستغفار

Kemudian sejarawan kita yang mulia ini menutup paragrafnya dengan mengatakan: beliau lebih pantas mendapatkan ma’af dan penghargaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala karena jasanya yang telah masyhur; yaitu pembelaannya atas Islam serta serangannya kepada lawan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa almarhum Sultan Murad II seperti pagar yang melindungi Islam serta kaum Muslimin:

حتى قيل عنه إنه كان سياحًا للإسلام والمسلمين

Beliau menutup kalimat terakhir itu dengan mendoakan: semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya dengan jasa tersebut serta menggantikan masa muda (yang dihabiskan dalam jihad) di dalam JannahNya.

عفا الله عنه وعوّض شبابه الجنة

​Demikian para ulama generasi kita terdahulu, mereka memuji serta mengritik sesuai proporsinya. Mereka tak lupa mendoakan untuk kebaikannya.​

Agung Waspodo, menikmati pelajaran dari sejarawan Mesir yang bernama Jamaluddin Abil-Mahasin Yusuf ibn Taghribirdi al-Attabiki dalam kitabnya An-Nujum az-Zahira fi Muluk Misri wal-Qahirah, jilid ke-16 halaman 2-3.

Depok yang baru selesai hujannya, 9 November 2017

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Samudera Hindia di Era Kekhilafahan Turki Utsmani (5/5)​


​​Menulis Kehidupan, Menjadi Saksi Sejarah​​

Setelah ekspedisi kedua dinilai tidak cukup berhasil, maka diutuslah Seydi Ali Reis sebagai admiral pada tahun 1553. Ketika ia sampai ke Basra melalui jalur darat, apa yang dia temukan adalah armada yang terbengkalai. Dengan perbaikan sekadarnya, beliau memutuskan untuk berlayar.

Setelah Selat Hormuz berhasil dikelabuhi, Seydi Ali Reis mengambil jalur pesisir Oman. Pada jalur yang seharusnya aman pun, Seydi Ali Reis sempat dipergoki dan bertempur dua kali dengan patroli kapal perang Portugis. Dengan cekatan ia berlayar menuju Hadhramaut untuk segera menuju pesisir Yaman yang dikuasai kekhilafahan Turki Utsmani.

Namun, qadarulLaah bahwa armada dengan admiral cekatan ini dihantam taifun ganas yang oleh pelaut lokal disebut Tufan al-Fil atau Taufan Gajah. Dari ke-13 kapal yang berangkat dari Basra, hanya 6 galley yang berhasil lolos dari taifun. Keenamnya lolos dari taifun dengan berbalik arah menuju India. Selebihnya terpaksa menepi darurat di berbagai tempat.

Seydi Ali Reis menembus hutan tropis untuk sampai ke ibukota Daulah Mughal. Beliau diterima dengan hormat oleh Pangeran Akbar, putera mahkota berusia 12 tahun, yang kelak menjadi sultan Mughal.

Dari pedalaman India, rombongan Seydi Ali Reis menempuh jalur darat untuk kembali ke İstanbul. Sebuah perjalanan jauh lagi berbahaya karena menembus wilayah Kerajaan Safavi syi’ah yang bermusuhan dengan Khilafah Turki Utsmani. Mereka sampai ke İstanbul setelah Perjanjian Amasya ditandatangani oleh kedua pihak tersebut tahun 1555.

Sekembalinya Seydi Ali Reis, ia menulis kitab Mir’at al-Mamalik tentang riwayat perjalanannya serta kumpulan nasihat bagi para pemimpin pada tahun 1557. Buku ini dipersembahkannya kepada Sultan Süleyman Kanuni.

Agung Waspodo, merasakan betapa ringannya permasalahan yang pernah ia hadapi dibandingkan ummat terdahulu.

Pondokcina, 23 Oktober 2017

🔹Ilustrasi menunjukkan peta perjalanan Seydi Ali Reis serta koin kehormatan yang pernah dicetak Republik Turki untuk tokoh ini.🔸

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Samudera Hindia di Era Kekhilafahan Turki Utsmani (4/5)​


​​Kecakapan Teknikal, Semua Musti Memilikinya​​

Setelah dieksekusinya Muhiddin Piri Reis terkait fitnah atas tindakannya meninggalkan armada Turki Utsmani di Basra maka ditugaskan Kapten (Reis) Murad Yaşlı (Bapak Tua) untuk menyelesaikannya. Viceroy untuk Kegubernuran Portugis di India dipegang oleh Afonso de Noronha (November 1550-September 1554).

Ekspedisi besar keempat ini dipimpin oleh Murad Reis Yaşlı yang kedudukannya pada waktu itu adalah Sancak-Beğ untuk Qatif atau setara gubernur. Qatif adalah sebuah pelabuhan di pesisir barat Teluk Arab sekitar 50 kilometer sebelah utara Pulau Bahrain. Murad Reis ditugaskan untuk membawa armada yang tertambat di Basra balik ke pangkalan utama Armada Samudera Hindia di Suez.

Dalam pelayarannya mendekati Selat Hormuz pada bulan Juli 1553, armada Murad Reis tercegat oleh patroli armada Dom Diogo de Noronha sehingga terpaksa bertempur. Sejarah mencatat ini sebagai pertempuran di laut terbesar antara armada Portugis dan Turki Utsmani. Murad Reis berhasil menenggelamkan kapal bendera Noronha. Namun, perubahan arah angin secara mendadak membuat Murad Reis kewalahan menghadapi kapal-kapal Portugis yang lebih gesit. Oleh sebab itu Beliau memutuskan untuk menarik mundur sisa armadanya kembali ke Basra.

Salah satu taktik yang dilakukan oleh Murad Reis untuk menyelamatkan armadanya adalah dengan manuver ke laut dangkal penuh karang. Hal ini menyebabkan sisa armada Portugis tidak berani mengejarnya diantara pulau-pulau lepas pantai Hormuz itu.

Armada Portugis juga tidak memanfaatkan perubahan cuaca ini untuk mengejar armada kekhilafahan Turki Utsmani. Mungkin juga tenggelamnya kapal bendera membuat mereka ragu-ragu.

Agung Waspodo, merasa perlu belajar pelayaran.

Kalibata, 23 Oktober 2017

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Samudera Hindia di Era Kekhilafahan Turki Utsmani (4/5)​


​​Kecakapan Teknikal, Semua Musti Memilikinya​​

Setelah dieksekusinya Muhiddin Piri Reis terkait fitnah atas tindakannya meninggalkan armada Turki Utsmani di Basra maka ditugaskan Kapten (Reis) Murad Yaşlı (Bapak Tua) untuk menyelesaikannya. Viceroy untuk Kegubernuran Portugis di India dipegang oleh Afonso de Noronha (November 1550-September 1554).

Ekspedisi besar keempat ini dipimpin oleh Murad Reis Yaşlı yang kedudukannya pada waktu itu adalah Sancak-Beğ untuk Qatif atau setara gubernur. Qatif adalah sebuah pelabuhan di pesisir barat Teluk Arab sekitar 50 kilometer sebelah utara Pulau Bahrain. Murad Reis ditugaskan untuk membawa armada yang tertambat di Basra balik ke pangkalan utama Armada Samudera Hindia di Suez.

Dalam pelayarannya mendekati Selat Hormuz pada bulan Juli 1553, armada Murad Reis tercegat oleh patroli armada Dom Diogo de Noronha sehingga terpaksa bertempur. Sejarah mencatat ini sebagai pertempuran di laut terbesar antara armada Portugis dan Turki Utsmani. Murad Reis berhasil menenggelamkan kapal bendera Noronha. Namun, perubahan arah angin secara mendadak membuat Murad Reis kewalahan menghadapi kapal-kapal Portugis yang lebih gesit. Oleh sebab itu Beliau memutuskan untuk menarik mundur sisa armadanya kembali ke Basra.

Salah satu taktik yang dilakukan oleh Murad Reis untuk menyelamatkan armadanya adalah dengan manuver ke laut dangkal penuh karang. Hal ini menyebabkan sisa armada Portugis tidak berani mengejarnya diantara pulau-pulau lepas pantai Hormuz itu.

Armada Portugis juga tidak memanfaatkan perubahan cuaca ini untuk mengejar armada kekhilafahan Turki Utsmani. Mungkin juga tenggelamnya kapal bendera membuat mereka ragu-ragu.

Agung Waspodo, merasa perlu belajar pelayaran.

Kalibata, 23 Oktober 2017

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Samudera Hindia di Era Kekhilafan Turki Usmani (2/5)​


​Kadang Anak Keturunan tidak Mewarisi Semangat Juang Para Pendahulunya​

​​Kisah Hadim Süleyman Paşa (foto)​​

Wafatnya Sultan Selim I Yavuz cukup memperlambat realisasi janjinya mendukung Muzaffer II Sultan Gujarat. Naiknya Sultan Süleyman Kanuni menggantikan ayahnya yang wafat ternyata kembali memberikan harapan.

Bahadur Shah anak Muzaffer II kembali meminta bantuan kekhilafahan Turki Utsmani untuk memerangi Portugis di anak-benua India. Sultan Süleyman memanfaatkan permintaan ini sebagai kesempatan untuk mengimbangi ekspansi Portugis di Samudera Hindia.

Untuk ekspedisi tersebut Süleyman Kanuni mengangkat orang kepercayaannya yaitu Hadim Suleiman Paşa sebagai admiral armada Samudera Hindia. Pada tahun 1538, Hadim Süleyman Paşa memimpin 90 kapal kelas galleys dari pangkalan di Suez menuju Gujarat. Rute yang dilewati adalah sepanjang Laut Merah dan membelah Laut Arab menuju anak-benua India.

Sesampainya di Gujarat, ternyata Bahadur Shah ibn Muzaffar II baru saja terbunuh dalam pertempuran laut melawan Portugis. Sedangkan penerusnya justru memilih untuk bersekutu dengan Portugis.

Setelah armada tersebut gagal mencoba menyerang kota Diu, mental pasukan jatuh. Hadım Süleyman Paşa memutuskan untuk kembali ke Suez untuk menyelamatkan sisa armadanya. Dalam perjalanan balik tersebut mereka berhasil menguasai kota pelabuhan Aden serta sebagian besar wilayah Yaman.

Atas keberhasilan di Yaman itulah, Hadim Süleyman Paşa diangkat menjadi sadrazam, atau perdana menteri, bagi Sultan Süleyman Kanuni.

Agung Waspodo, masih tertarik dengan periode sejarah ini.

Depok, 22 Oktober 2017

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Samudera Hindia di Era Kekhilafan Turki Usmani​


​​Sebelum Ada Terusan Suez Sekalipun, Kapal Turki Utsmani sudah Berada di Samudera Hindia​​

Pada tahun 1911 pernah ada upaya untuk menggambar ulang peta Samudera Hindia dari peta Mohit yang dibuat tahun 1554. Peta ini disusun oleh seorang pelaut sekaligus kartografer kekhilafahan Turki Utsmani pada pertengahan abad ke-16.

Berbagai ekspedisi militer laut yang dilancarkan oleh kekhilafahan Turki Utsmani ke Samudera Hindia dikenal sebagai Hint Seferleri atau Hint Deniz Seferleri. Secara harafiah diterjemahkan Kampanye/Perjalanan Samudera Hindia.

Terdapat empat ekspedisi amfibi besar pada antara tahun 1538-1554 pada era kepemimpinan Sultan Süleiman Kanuni.

Agung Waspodo, terus mengumpulkan bahan untuk pengembangan kajian periode ini.

Depok, 22 Oktober 2017

Bagian pertama dari lima tulisan tentang ini

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Kaum yang Terpercaya, Banu an-Najjar ; Kaum yang Tak Luput Masalah Kemunafikan​

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ عَنْ أَبِي التَّيَّاحِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits dari Abu At-Tayyah dari Anas bin Malik (ra) berkata,

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَنَزَلَ أَعْلَى الْمَدِينَةِ فِي حَيٍّ يُقَالُ لَهُمْ بَنُو عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ فَأَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِمْ أَرْبَعَ عَشْرَةَ لَيْلَةً
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah lalu singgah di perkampungan bani ‘Amru bin ‘Auf, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di sana selama empat belas malam.

ثُمَّ أَرْسَلَ إِلَى بَنِي النَّجَّارِ فَجَاءُوا مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ
Kemudian beliau mengutus seseorang menemui bani Najjar, maka mereka pun datang dengan pedang di badan mereka.

كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَاحِلَتِهِ وَأَبُو بَكْرٍ رِدْفُهُ وَمَلَأُ بَنِي النَّجَّارِ حَوْلَهُ حَتَّى أَلْقَى بِفِنَاءِ أَبِي أَيُّوبَ
Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas tunggangannya sedangkan Abu Bakar membonceng di belakangnya dan para pembesar bani Najjar berada di sekelilingnya hingga sampai di sumur milik Abu Ayyub.

​HR al-Bukhari no. 410​

Begitu dipercayanya Suku an-Najjar sampai Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam meminta mereka untuk mengawal perjalanan dari Quba ke Yastrib (Madinah). Namun begitu, Kaum al-Khazraj ini tak luput dari penyakit kemunafikan, walau jumlah kasusnya menurut catatan Ibnu Hisyam tidak sebanyak Kaum Aws.

Disamping tokoh paling utama kemunafikan, Abdullah ibn Ubay ibn Salul dari Suku ‘Auf juga terdapat empat sekawan munafiqin dari Suku an-Najjar. Keempat orang ini adalah Rafi ibn Wadiyah, Zayd ibn Amru, Amru ibn Qays, dan Qays ibn Amru. Mereka bertempat menimbulkan keresahan melalui bisikan dan hasutan di Masjid Nabawi. Untuk mencegah berkembangnya penyakit ini, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam menugaskan para sahabat untuk mengusir mereka. Mereka ini dilarang menginjakkan kakinya di Masjid Nabawi lagi.

Tebet, 18 Oktober 2017

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA