Larangan Meniup Makanan dan Minuman

Larangan Meniup Makanan Dan Minuman

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Apakah hadits larangan meniup air yang mau kita minum juga dimaksudkan melarang kita untuk meniup makanan yang masih panas? Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih. jazakalloh khoiron katsir.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d.

Ya, hal itu dilarang, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, katanya:

نهى أن يتنفس في الإناء أو ينفخ فيه

Nabi melarang bernafas di bejana atau meniupnya (saat minum). (HR. At Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, shahih)

Imam Asy Syaukani Rahimahullah menjelaskan:

أي في الإناء الذي يشرب منه ، والإناء يشمل إناء الطعام والشراب، فلا ينفخ في الإناء ليذهب ما في الماء من قذارة ونحوها ، فإنه لا يخلو النفخ غالباً من بزاق يستقذر منه ، وكذا لا ينفخ في الإناء لتبريد الطعام الحار ، بل يصبر إلى أن يبرد ، ولا يأكله حاراً ، فإن البركة تذهب منه ، وهو شراب أهل النار”

Yaitu larangan meniup di tempat air minum, dan ini mencakup tempat makanan dan minuman.

Maka, janganlah meniup air supaya hilang kotoran dan semisalnya, sebab hal itu tidak akan lepas tertiup pula air ludah yang akan mengotorinya, begitu pula jangan meniup makanan panas supaya dingin, tetapi hendaknya dia bersabar.

Dan jangan minum saat masih panas, sebab keberkahan akan hilang, dan itu minuman penghuni neraka. (Nailul Authar, 8/221)

Imam Al Munawi Rahimahullah berkata:

والنفخ في الطعام الحار يدل على العجلة الدالة على الشَّرَه وعدم الصبر وقلة المروءة

Meniup makanan panas menunjukkan ketergesa-gesaannya, yang menunjukkan kejelekannya, tidak sabar, dan sedikitnya muru’ah.
(Faidhul Qadir, 6/346)

Lalu, apa implikasi hukum larangan ini? Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah menjelaskan:

وهذا النهي عن الأمرين للكراهة ، فمن فعلهما أو أحدهما لا يأثم إلا أنه قد فاته أجر امتثال هذه التوجيهات النبوية، كما فاته أيضاً التأدب بهذا الأدب الرفيع الذي تحبه وترضاه النفوس الكاملة

Larangan dua hal ini (bernafas dan meniup bejana) adalah makruh, siapa yang melakukan keduanya atau salah satunya dia tidak berdosa. Tapi dia kehilangan mendapatkan pahala dari mengikuti arahan kenabian dalam masalah ini. Sebagaimana dia juga kehilangan nilai pendidikan dari adab yang mulai ini, yang disukai dan diridhai oleh jiwa yang sempurna. (Selesai)

Bagaimana jika memang waktu sempit, sehingga dia harus makan saat itu juga dan makanan masih panas?

Imam Al Mardawiy Rahimahullah menjelaskan;

قال الآمدي : لا يكره النفخ في الطعام إذا كان حاراً . قلت (المرداوي) وهو الصواب ، إن كان ثَمَّ حاجة إلى الأكل حينئذ

Berkata Al Amidiy: tidak dimakruhkan meniup makanan jika makanan itu panas. Aku (Al Mardawiy) berkata: Ini benar, jika di sana memang ada kebutuhan yang membuatnya harus makan saat itu juga.
(Al Inshaf, 8/328).

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Nutrisi Akal dan Jiwa

Peraturan Membaca Al-Qur’an Di Kantor

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, saya bekerja di sebuah kantor, kantor saya mempunyai kebijakan kepada seluruh pekerja yaitu mengadakan meeting pagi setiap pukul 8 s.d 9, Salah satu kegiatan pada meeting pagi adalah membaca Al Quran Dan semua staff yang hadir harus membaca al-Quran bersama-sama. kebetulan seluruh pegawai adalah Muslim Dan sudah bisa membaca Al quran.

Namun ada kawan saya diperusahaan lain yang lulusan sebuah universitas Islam mengatakan bahwa hal yang dilakukan oleh perusahaan saya adalah Salah, karena hal tersebut seperti memaksa orang untuk mengaji Al Quran,

Dia mengatakan bahwa dalam Al Quran Allah berkata : , اسئلو اهل علم ان كنتم لا تعلمون

Dan dia mengatakan bahwa hal yang di lakukan oleh perusahaan saya bisa membuat orang jadi munafiq.
Karena disaat masuk kantor dia terpaksa harus mengaji karena sudah merupakan kebijakan perusahaan. Dan jika tidak mengikutinya maka akan mempengaruhi nilai kerja. Padahal waktu meeting pagi Dan mengaji itu benar-benar dihitung sebagai jam kerja

Mohon penjelasannya pak ustadz. A_11


🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Apa yg dilakukan oleh kantor tersebut sudah benar dalam membangun tadayyun sya’bi, iklim keberagaman, di kantor. Jika membaca Al Quran sdh dihitung sebagai bagian jam ngantor, maka memang harus ditaati semua karyawan sebagai konsekuensi SPK (Surat Perjanjian Kerja) yg harus ditaati, dan status aktifitas membaca Al Quran tersebut menjadi sama seperti aktifitas kerja lainnya di kantor tersebut. Bukan pemaksaan.

Hal itu tidaklah ada kaitannya menjadi manusia munafiq. Sebab, munafiq itu menyimpan kekafiran, dan menampakkan keislaman. Sdgkan karyawan tersebut tdk ada satu pun yang kafir atau menyimpan kekafiran.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Syariat dalam Transaksi

Hukum Mengkonversi Sejumlah Uang Dengan Emas/Dolar

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, apakah boleh menabung emas/dolar? (Mengkonversi sejumlah uang dengan harga emas/dolar saat itu). Jazakallah khairan.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Ustadz : Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Menyimpan uang dan emas, boleh, tdk ada larangan. Bukankah ada zakat emas dan uang? Bagaimana bisa dizakatkan jika tidak ditabung dulu?..

Ada pun jika menabungnya dipegadaian, maka ini perlu dilihat dulu seperti apa sistem dan teknisnya. Jika ternyata sama seperti beli emas secara cicil, yaitu memberikan uang dulu secara angsur, tapi emasnya belakangan dan sesuaikan dgn uang yg kita berikan. Maka ini diperselisihkan hukumnya. Ini sama dgn beli emas scr kredit, istilahnya saja yg diubah.

Sebagian ulama mengharamkan, sebagian membolehkan. Ini pernah dibahas 👇

Masalah cicilan membeli emas ada 2 pendapat ulama,

1. Melarang, sebab nabi memerintahkan jual beli emas secara yadan biyadin (kontan), kalau tdk kontan, maka jatuhnya riba, sebab harga emas yg berkembang. Ini pe pendapat mayoritas ulama.

Dalilnya:

لَا تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ وَلَا تَبِيعُوا الْوَرِقَ بِالْوَرِقِ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ وَلَا تُشِفُّوا بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ وَلَا تَبِيعُوا شَيْئًا غَائِبًا مِنْهُ بِنَاجِزٍ إِلَّا يَدًا بِيَدٍ

“Janganlah kalian jual beli emas dengan emas atau perak dengan perak kecuali jika sama berat, dan janganlah kalian melebihkan antara satu dengan yang lain. Dan jangan pula salah seorang dari kalian melakukan transaksi sedangkan yang lain tidak ada di tempat, kecuali jika dengan tunai.”

(HR. Muslim no. 1584)

Syaikh Abdullah Al Faqih mengatakan:

 فدل الحديث على أنه إن كان البيع ذهباً بذهب فيشترط فيه شرطان التماثل والتقابض

Hadits ini menunjukkan bahwa jika membeli emas dengan emas ada dua syarat: setara nilainya dan _taqabudh (serah terima langsung). (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 100033)

Beliau jg berkata:

ولا بد في بيع الذهب بالنقد من التقابض، أما البيع بالأقساط فغير جائز،

Dan diharuskan dalam jual beli emas dengan uang secara taqabudh, ada pun dengan cara kredit TIDAK BOLEH. (Ibid)

2. Membolehkan, sebab emas saat ini sama dgn sil’ah (barang biasa), yang bisa dijual belikan sbgmn barang lain. Ada pun yadan biyadin krn zaman dulu emas mrpakan alat tukar transaksi, berbeda dgn saat ini emas tak ubahnya seperti rumah, kendaraan, dan semisalnya. Ini pendapat Syaikh Ali Jum’ah, dan Fatwa Dewan Syariah Nasional.

Secara pribadi saya ikut pendapat pertama, sampai saat ini.
Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Setiap Perbuatan Baik Adalah Sedekah

Mengambil Kembali Pemberian, Sedekah, Waqaf, yang Sudah diberikan ke orang lain

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, apakah harta/benda yang pernah kita hibahkan/wakafkan/hadiahkan boleh diambil kembali, apabila ada penyalahgunaan oleh orang yang diberikan?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillah wal Hamdulillah …

Harta yang sudah kita hibahkan, sedekah, waqaf, dan semisalnya, tidak boleh diambil lagi. Ada pun penyalahgunaan yang mereka lakukan, atau kurang dirawat dengan baik, sudah bukan tanggung jawab si pemberinya. Itu tanggung jawab yang menerima.

Hal ini berdasarkan riwayat berikut, dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الْعَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَعُودُ فِي قَيْئِهِ لَيْسَ لَنَا مَثَلُ السُّوءِ

“Orang yang mengambil kembali pemberiannya, bagaikan anjing yang menjilat muntahnya sendiri, kami tidak memiliki sebuah perumpamaan yang buruk semisal ini “. (HR. Al Bukhari No. 2589, 6975, Muslim No. 1622)

Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah berkata:

ولعل هذا أبلغ في الزجر عن ذلك وأدل على التحريم

Dan bisa jadi ini peringatan yang paling keras tentang masalah ini, dan menunjukkan keharamannya. (Tuhfah Al Ahwadzi, 4/435)

Dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Berkata Imam Ash Shan’ani Rahimahullah:

فيه دلالة على تحريم الرجوع في الهبة وهو مذهب جماهير العلماء

Pada hadits ini terdapat dalil keharaman mengambil lagi pemberian. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. (Subulus Salam, 3/90)

Demikianlah secara umum, namun ada pengecualian, yaitu dibolehkan mengambil kembali pemberian jika pemberian orang tua ke anaknya. Misal anak diberikan HP, tp HP itu membuatnya lupa shalat dan belajar, maka tidak apa-apa diambil lagi sebagai hukuman dan pendidikan bagi anak.

Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لا يحل لأحد أن يعطي عطية فيرجع فيها إلا الوالد فيما يعطي ولده

Tidak halal bagi seseorang memberi suatu pemberian lalu dia ambil kembali, kecuali orangtua, dia boleh mengambil kembali apa yang telah diberikan kepada anaknya”. (HR. At Tirmidzi No. 1298. Hadits ini shahih)

Imam At Tirmidzi Rahimahullah berkomentar:

والعلم على هذا الحديث عند بعض أهل العلم من بعض أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم وغيرهم قالوا من وهب هبة لذي رحم محرم فليس له أن يرجع فيها ومن وهب هبة لغير ذي رحم محرم فله أن يرجع فيها ما لم يثب منها وهو قول الثوري وقال الشافعي لا يحل لأحد أن يعطي عطية فيرجع فيها إلا الوالد فيما يعطي ولده واحتج الشافعي بحديث عبد الله بن عمرو عن النبي صلى الله عليه و سلم قال لا يحل لأحد أن يعطي عطية فيرجع فيها إلا الوالد فيما يعطي ولده

Sebagian ulama dari sahabat nabi dan yang lainnya mempraktekkan hadits ini. Mereka berkata, “Seseorang yang memberi suatu pemberian kepada kerabat mahramnya (orang yg haram menikah dengannya), dia boleh mengambil kembali pemberian tersebut, sementara orang yang memberi suatu pemberian kepada orang lain yang bukan mahramnya, maka dia tidak boleh mengambil kembali pemberian tersebut. Demikian ini juga pendapat Ats-Tsauri. Asy Syafi’i berkata, “Tidak halal bagi seseorang yang memberi suatu pemberian. lalu mengambilnya kembali. kecuali orangtua, dia boleh mengambil apa yang telah diberikan kepada anaknya.” Asy Syafi’i berdalih dengan hadits Abdullah bin Umar, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau bersabda: “Tidak halal bagi seseorang memberikan snatu pemberian lalu mengambilnya kembali, kecuali orangtua”. Dia boleh mengambil kembali apayang telah diberikan kepada anaknya. (Sunan At Tirmidzi No. 1299)
Wallahu A’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Kaidah Kemudahan Sesuai Syariat

Wanita Berobat Ke Terapis/Dokter Laki-Laki dan Sebaliknya

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz…
Apa hukumnya seorang perempuan/ ibu yang berobat terapi totok punggung pada terapis laki laki dengan pegang punggungnya tetapi dengan sarung tangan?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d.

Berobat adalah upaya masyru’ dan di dorong oleh syariat yang mulia. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ :

إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala menurunkan penyakit dan obatnya, dan Dia jadikan setiap penyakit pasti ada obatnya, maka berobatlah dan jangan berobat dengan yang haram.” [1]

Berobat, sebisa mungkin dengan obat yang halal dan suci, serta dilakukan dengan cara yang benar, dan dilakukan oleh orang yang tepat, agar selamat secara medis dan syariat.

Jika pasiennya laki-laki sebagusnya dokternya laki-laki, dan jika pasiennya wanita sebagusnya dokternya wanita. Kebutuhan ini menunjukkan kemestian membuka peluang bagi kaum wanita muslimah untuk menuntut ilmu kedokteran sebagaimana kaum laki-laki.

🥈Jika Keadaan Tidak Ideal

Dalam keadaan masyarakat yang normal dan wajar, saya rasa tidak sulit mencari dokter laki-laki dan wanita dengan spesialisasinya masing-masing. Sehingga kita relatif tidak sulit berobat dengan mekanisme yang dibenarkan syariat. Tapi, keadaan seperti itu tidak selalau sama di masing-masing daerah. Ada daerah minus dokter kandungan muslimah, bidan muslimah, atau semisalnya, yang ada adalah dokter laki-laki. Padahal pasien itu bisa laki-laki bisa juga perempuan, dan kesehatan serta kehidupan mereka mesti sama-sama dijaga.

Dalam keadaan seperti itu tidak mengapa seorang wanita berobat ke dokter laki-laki (atau sebaliknya jika memang dokter laki-laki yang minim), selama adab-adabnya terjaga. Di sisi lain, dalam dunia pengobatan, di dalamnya sangat memungkinkan terjadi persentuhan langsung antara dokter dan pasiennya, karena itulah cara untuk mendeteksi dan mendiagnosa penyakit.

Pembolehan ini mengingat beberapa fakta sejarah dan kaidah berikut:

1. Dalam kitab Shahih Al Bukhari terdapat sebuah bab:  Bab Mudawatin Nisa’ Al Jarha fil Ghazwi (Pengobatan Wanita untuk yang terluka dalam peperangan), juga bab: Bab Raddin Nisa’ Al Jarha wal Qatla Ilal Madinah(Wanita Memulangkan Pasukan terluka dan terbunuh ke Madinah)

2. Beberapa kaidah fiqih:

 الْمَشَقَّةُ تَجْلُبُ التَّيْسِيرَ

Kesulitan membawa pada kemudahan.[2]

Atau seperti yang dikatakan Imam Tajuddin As Subki:

المشقة نجلب التيسير وإن شئت قلت : إذا ضاق الأمر اتسع

Kesulitan membawa pada kemudahan, dan jika anda mau, anda bisa katakan: jika keadaan sempit maka membawa kelapangan.[3]

Kaidah ini berdasarkan firman Allah ﷻ :

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah: 185)

Ayat lainnya:

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Allah memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS.  An Nisa’: 28)

Ada pun dalam hadits:

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ   bersabda:

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا، وَلاَ تُنَفِّرُوا

Permudahlah dan jangan persulit, berikanlah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari. [4]

Dari Aisyah  Radhiallahu ‘Anha:

مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا، مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْه

 “Sesungguhnya Rasulullah jika dihadapkan dua perkara, dia akan memilih yang lebih ringan, selama tidak berdosa, jika ternyata mengandung dosa maka dia adalah orang yang paling jauh darinya.” [5]

Maka, keadaan jika sulit, sempit, payah, termasuk dalam berobat mencari yang  “seharusnya” maka tidak mengapa, dan membuatnya lapang untuk berobat dengan dokter yang ada, walau dia lawan jenis. Sebab, jika tidak demikian maka itu membuatnya jatuh dalam dharar (kerusakan yang lebih besar), dan itu justru terlarang.

Sebagaimana kaidah lain:

الضَّرَرُ يُزَالُ

Adh Dhararu Yuzaal – kerusakan mesti dihilangkan.[6]

Dalil kaidah ini  adalah:

وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al Baqarah (2): 195)

Dan hadits Nabi ﷺ :

لا ضرر ولا ضرار

Jangan membuat kerusakan dan jangan menjadi rusak. [7]

Hanya saja ada beberapa adab yang mesti dijaga:

1. Hendaknya memakai pakaian yang sesuai syariat.

2. Jika hendak membuka bagian tubuh yang sakit, dan itu ternyata aurat, maka bukalah sesuai kebutuhan pemeriksaan, sesuai kaidah:

الضرورة تقدر بقدرها

Kondisi darurat ditakar sesuai kadar kebutuhannya. [8]

3. Jika mungkin, dokternya menggunakan sarung tangan.

4. Hendaknya ditemani oleh orang lain, baik mahram, atau ajnabi yang terpercaya.

Demikian. Wallahu A’lam wa Ilahil Musytaka

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

[1] HR. Abu Daud No. 3876, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 20173. Imam Ibnul Mulaqin mengatakan: shahih. (Tuhfatul Muhtaj, 2/9). Imam Al Haitsami mengatakan: perawinya terpercaya. (Majma’uz Zawaid, 5/86)

[2] Imam Ibnu Nujaim, Al Asybah wan Nazhair, Hal. 75. 1400H-1980M. Darul Kutub Al ‘ilmiyah

[3]  Imam Tajuddin As Subki, Al Asybah wan Nazhair, 1/61. Cet. 1, 1411H-1991M. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah

[4] HR. Al Bukhari No. 69, Muslim No. 1732

[5] HR. Al Bukhari 3560, 6126, 6786, Muslim No. 2327

[6] Imam As Suyuthi, Al Asybah wan Nazhair, Al Kitabul Awwal, Kaidah keempat, Hal. 83. Imam Tajuddin As Subki, Al Asybah wan Nazhair, Kaidah kedua,  1/51. Imam Ibnu Nujaim, Al Asybah wan Nazhair, Kaidah kelima, Hal. 85. Syaikh Zakariya bin Ghulam Qadir Al Bakistani, Min Ushul Al Fiqh ‘Ala Manhaj Ahlil Hadits, Hal. 190

[7] HR. Ath Thabarani dalam Al Awsath No. 268, 1033, 3777, 5193, juga dalam Al Kabir No. 1387, 11576, 11806, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 11166, 11167, 11657, 11658, 20230, 20231. Malik dalam Al Muwaththa’ biriwayah Yahya Al Laitsi No. 1429, Ibnu Majah No. 2340, 2341, Ad Daruquthni No. 83, 288, Ahmad No. 2867, Asy Syafi’i dalam Musnadnya No. 1096, Abu Nu’aim dalam Ma’rifatush Shahabah No. 1300, dll

Imam Al Hakim mengatakan: “Shahih, sesuai syarat Imam Muslim.” (Al Mustadrak No. 2354) dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi dalam At Talkhish-nya.

[8] Syaikh Shalih bin Muhammad bin Hasan Al Asmary, Majmu’ah Al Qawaid Al Bahiyyah, Hal. 60. Cet.1, 1420H-2000M. Darush Shami’iy


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Quran dan Hadits

Jika Asi Terminum Suami

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, Mohon bantu saya, tentang keharaman/kebolehan ASI terminum suami?A/04

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Djunaedi, SE

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Dari Ibni Abbas ra berkata, “Penyusuan itu tidak berlaku kecuali dalam usia dua tahun” (HR. Ad-Daruquthuny).

Rasulullah SAW bersabda, “Penyusuan itu tidak berlaku kecuali apa yang bisa menguatkan tulang menumbuhkan daging.” (HR. Abu Daud).

Dari Ummi Salamah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Penyusuan itu tidak menyebabkan kemahraman kecuali bila menjadi makanan dan sebelum masa penyapihan.” (HR. At-Tirmizi).

Hadits terakhir menjelaskan bahwa bila telah lewat masa penyapihan seorang bayi lalu dia menyusu lagi, maka bila dia menyusu lagi tidak berdampak pada kemahramannya. Namun dalam hal ini para fuqoha berbeda pendapat:

1. Al-Malikiyah berpendapat bahwa hal itu tidak menyebabkan kemahraman dengan bayi yang menyusu pada wanita yang sama. Karena kedudukan air susu itu baginya seperti minum air biasa.

Dengan demikian maka bila seorang suami menyusu pada istrinya, jelas tidak mengakibatkannya menjadi saudara sesusuan, karena seorang suami bukanlah bayi dan telah tidak menyusu sejak lama. Suami itu sudah melewati usia dua tahunnya, sehingga ketika dia menyusu kepada seorang wanita lain termasuk istrinya, tidak berpengaruh apa-apa.

2. Namun sebagian ulama mengatakan bila seorang bayi sudah berhenti menyusu, lalu suatu hari dia menyusu lagi kepada seseorang, maka hal itu masih bisa menyebabkan kemahramannya kepada saudara sesusuannya. Di antara mereka adalah Al-Hanafiyah dan Asy-Syafiiyyah. Termasuk pandangan ibunda mukimin Aisyah ra.

Pendapat mereka itu didasarkan pada keumuman hadits Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya penyusuan itu karena lapar”.(HR. bukhari, Muslim dan Ahmad).

Dan dalam kondisi yang sangat mendesak, menyusunya seseorang laki-laki kepada seorang wanita bisa dijadikan jalan keluar untuk membuatnya menjadi mahram. Hal itulah yang barangkali dijadikan dasar oleh Aisyah ra. tentang pengaruh menyusunya orang dewasa kepada seorang wanita.

Rasulullah SAW memerintahkan Sahlah binti Suhail untuk menyusui Salim maka dikerjakannya, sehingga dia berposisi menjadi anaknya. (HR Ahmad, Muslim, Nasai dan Ibnu Majah).

Namun menurut Ibnul Qayyim, hal seperti ini hanya bisa dibolehkan dalam kondisi darurat di mana seseorang terbentuk masalah kemahraman dengan seorang wanita. Jadi hal ini bersifat rukhshah (keringanan). Hal senada dipegang oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah.

Wallahu Alam Bish-shawab.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Mempermudah dalam Muamalah

Hukum Menggunakan Aplikasi Cicilan

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, bagaimana hukumnya dengan sistem aplikasi yg sperti ini, apakah ada unsur ribanya?

Ada aplikasi dengan rule seperti ini :
1. Aplikasi registrasi gratis
2. Aplikasi Menjadikan belanjaan kita menjadi cicilan 4x tanpa bunga tanpa syarat
3. Cicilan dibayar tiap bulan
4. Apabila pengguna telat maka aplikasi pengguna akan di non aktifkan
5. Apabaila pengguna mau mengaktifkan lagi aplikasinya maka dikenakan biaya aktifasi 50rb
6. Jika pengguna tidak ingin mengaktifkan lagi maka pengguna tidak harus membayar sisa cicilan, “hanya berdasar kesadaran aja”

A/09

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Jawaban

Oleh: Ustadz DR Oni Sahroni, MA

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pertama, informasi tentang aplikasi ini harus diketahui dengan jelas bagaimana proses bisnisnya, sudah mendapatkan legal dari otoritas atau belum, termasuk juga otoritas terkait dengan kesyariahannya, seperti DSN MUI.

Kedua, oleh karena itu bisa dicek legalitas tersebut. Apabila legal, ada pernyataan kesesuaian syariah dari otoritas seperti DSN MUI, maka menurut saya itu boleh digunakan.

Ketiga, tetapi jika tidak ada info tersebut, maka harusnya tidak menggunakan sesuatu yang tidak diketahui bagaimana proses bisnisnya. Dalam kondisi ini abaikan dan tinggalkan.
Wallahu A’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Ciri Penghuni Surga

Memaafkan, Salah Satu Ciri Penghuni Surga

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, apa yang sebaiknya kita lakukan jika ada orang yg menghujat dan memfitnah kita. Kemudian orang itu melakukan pendekatan seolah perbuatan yang sudah dilakukannya tidak pernah terjadi. Sedangkan bagi hati yg sudah dilukai masih merasa sakit dan tidak mudah melupakannya. Salahkah jika orang yg tersakiti tersebut mau memaafkan bila sang pelaku sudah meminta maaf?
Terima kasih. A/10

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Memaafkan itu bukan perbuatan salah, justru itu perbuatan mulia yg mengantarkan pelakunya ke surga. Memaafkan itu memang berat, dan kadang itu menjadi ujian bagi orang posisinya benar.

Ciri-ciri penghuni surga, Allah Ta’ala ceritakan dalam Al Quran:

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,

-Surat Ali ‘Imran, Ayat 134

Dalam ayat lainnya:

ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ ٱلسَّيِّئَةَۚ نَحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَا يَصِفُونَ

Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan (cara) yang lebih baik, Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan (kepada Allah).

(QS. Al-Mu’minun, Ayat 96)

Demikian. Wallahu A’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Wasiat Harta

Judul: Wasiat Harta

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… mau bertanya. Apa perbedaan seseorang berwasiat harta dengan memberikan hadiah?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Syaikh K.H. Muhammad Muhajirin Amsaar Bakasiy Rahimahullah -seorang ulama Nusantara, berasal dari Bekasi- dia berkata dalam Syarahnya terhadap kitab Bulughul Maram:

و الوصية بالمال هي التبرع بعد الموت و اما التبرع فى الحياة فانه هبة أو صدقة أو هدية فلا تنفيذ الوصية الا بعد الموت

Wasiat dengan harta adalah pemberian yang dilakukan setelah kematian. Sedangkan pemberian pada saat masih hidup itu adalah hibah, sedekah, dan hadiah. Maka, wasiat tidak bisa dilaksanakan kecuali setelah kematian.

(Mishbahuzh Zhalam Syarh Bulugh Al Maram, Jilid. 3, Hal. 13. 2914M-1435H. Darul Hadits. Jakarta)

Syariat Islam menganjurkan umatnya menuliskan wasiat, sebagaimana hadits berikut:

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ما حقُّ امِرئٍ مسلمٍ ، له شيءُ يُوصي فيه ، يَبِيتُ ليلتين إلا ووصيتُه مكتوبةٌ عندَه

Tidak ada hak bagi seorang muslim yang memiliki sesuatu yang bisa diwasiatkan, dia bermalam selama dua malam, melainkan wasiatnya sudah tertulis disisinya. (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Ini menunjukkan anjuran kuat bagi seorang muslim untuk melakukannya. Syaikh K.H. Muhammad Muhajirin Amsaar Rahimahullah berkata:

قال النووى فى شرح مسلم : فيه الحث على الوصية، قد اجمع على الامر بها، لكن مذهبنا و مذهب الجماهير انها مندوبة لا واجبة، و قال داود و غيره من اهل الظاهر: هي واجبة لهذا الحديث و لا دلالة لهم فيه، فليس فيه تصريح بإيجابها لكن ان كان على الإنسان دين أو حق أو عنده وديعة أو نحوه لزمه إيصاء بذلك

Imam An Nawawi berkata dalam Syarh Muslim: “Pada hadits ini terdapat dorongan untuk membuat wasiat. Telah terjadi ijma’ atas perintah membuatnya. Tetapi madzhab kami dan juga madzhab mayoritas ulama berpendapat bahwa hal itu sunah bukan wajib. Sedangkan Daud dan selainnya, dari golongan tekstualist (Ahluzh Zhahir), berpendapat wajib berwasiat berdasarkan hadits ini. Hadits ini bukankah alasan bagi mereka.

Di dalam hadits ini tidak ada keterangan yang menunjukkan wajibnya. Tetapi, jika manusia memiliki hutang, atau hak, atau dia memiliki harta wadi’ah (titipan), atau yang semisalnya, maka dia mesti/wajib berwasiat karena hal ini. (Mishbahuzh Zhalam, Ibid)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Wali Nikah

Nikah Tanpa Wali Ayah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, apakah jika janda menikah, wali merupakan syarat sahnya nikah? Bagaimana kalau janda nikah tanpa wali ayahnya dengan alasan tidak dapat restu dari ayahnya, apakah nikahnya sah?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadzah Herlini Amran, MA.

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Salah satu dari rukun nikah adalah adanya Wali, baik bagi seorang gadis ataupun pernikahan seorang janda.

لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ

“Tidak sah nikah kecuali dengan keberadaan wali.” (HR. Abu Daud).

Namun bagi para janda, mereka berhak atas dirinya dalam arti orang tua atau wali tidak berhak menghalanginya untuk menikah dengan pria manapun.

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ

“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis ‘iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya.” (Al-Baqarah/2: 232).

Dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata, Nabi SAW bersabda: “Perempuan janda lebih berhak terhadap dirinya daripada walinya. Anak gadis diminta pertimbangannya dan izinnya adalah diamnya.”

Bahkan wanita manapun (baik masih gadis ataupun sudah janda) pernikahannya dianggap tidak sah bila menikah tanpa sepengetahuan walinya (orangtuanya).

أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا، وَإِنِ اشْتَجَرُوْا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهَا

“Wanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya, maka pernikahannya bathil, pernikahannya bathil, pernikahannya bathil. Jika seseorang menggaulinya, maka wanita itu berhak mendapatkan mahar, sehingga ia dihalalkan terhadap kemaluannya. Jika mereka terlunta-lunta (tidak mempunyai wali), maka penguasa adalah wali bagi siapa (wanita) yang tidak mempunyai wali.” (HR. At Tirmizi).

Pengecualian disini apabila janda tersebut sudah minta izin walinya untuk menikah dengan laki-laki pilihannya, namun orangtuanya tidak merestuinya, maka dia bisa meminta wali hakim untuk menikahkannya (tentu saja sepengetahuan wali/orang tuanya), bukan menikah diam-diam.
Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678