uang takziyah

Apakah Uang Takziyah Termasuk Harta Waris?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, Jika seorang bapak meninggal lalu saat acara takziyah terkumpul dana tali asih dari para pentakziyah, pertanyaannya jika pengurusan jenazah sudah diselesaikan, apakah uang sisa itu termasuk uang yang diwariskan?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Uang takziyah, statusnya sama dengan hibah untuk keluarga yang sedang kesulitan dan Musibah. Pemanfaatannya yang di utamakan adalah untuk pengurusan jenazah, jika masih ada sisa maka itu untuk keluarganya, dan keluarganya boleh memanfaatkan untuk hal-hal bermanfaat lainnya.

Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah ﷺ dikala Ja’far bin Abi Thalib wafat:

اصْنَعُوا لِأَهْلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ

“Buatkanlah makanan untuk KELUARGA Ja’far, sungguh telah datang kepada mereka sesuatu yang menyibukkannya.” (HR. At Tirmidzi no. 998, hasan)

Itu bukan harta warisan, sebab harta warisan adalah peninggalan yang dimiliki oleh yang wafat saat dia masih hidup, bukan hibah saat dia sudah wafat.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Zakat dari Tabungan Haji

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apakah uang tabungan haji di bank jika sudah genap setahun atau setiap tahunnya wajib dikeluarkan zakatnya?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Salah satu sifat harta yang wajib zakat adalah milkut taam (dalam kuasa penuh pemiliknya). Jika harta tersebut ditangan orang lain, baik dalam bentuk piutang, atau untuk membayar sesuatu maka itu tidak kena zakat.

Untuk Tabungan haji, perlu diperinci. Jika sudah disetorkan, maka tidaklah termasuk harta yang wajib zakat, sudah tidak dalam kuasa penuh pemiliknya.

Tapi tabungan haji jika masih disimpen sendiri, belum dibayarkan sebagai ONH, maka itu wajib zakat karena masih milkut taam, dengan syarat JIKA sudah nishab (setara harga 85 gr emas) dan haul (satu tahun).

ONH di Indonesia sepertinya jauh dari nishab, masih di bawah 40 jt, maka ini belum kena zakat. Jika kira-kira harga 1 gr emas saat ini adalah 800 ribu, maka nishab 800rb X 85= 68 jt.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

cropped-logo-manis-1.png

Hukum Mencabut Alat Pasien ICU yang Sudah Divonis Mati.

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, ada kasus kondisi pasien yang di ICU sudah tergantung dengan alat, dan dokter sudah memvonis bahwa pasien tsb sudah mati batang otak, nah bagaimana hukumnya jika keluarga mengambil langkah untuk mencabut alat yang terpasang di tubuh pasien? Apakah hal tersebut sama dengan membunuh pasien?

 

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Boleh,.. Jangan dikira dengan memasang alat-alat itu adalah menolongnya, justru itu mempersulit kehidupannya

Biarlah dia wafat dengan cara yang alami, jika memang dokter terpercaya sudah mengatakan hakikatnya sudah wafat.

Para ulama seperti Syaikh al Qaradhawi dan lainnya mengatakan tidak masalah dicabut, untuk meringankannya. Serta meringankan keluarganya dengan beban biayanya.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Utang

Membeli Rumah Dengan Cara Kredit

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bagaimana hukum Islam dalam Kredit Rumah?
Karna keluarga ini ingin punya rumah sendiri dan hanya mampu utk kredit dan belum mampu utk cash. Apakah ada dalil yang membolehkan atau bagaimana Ustadz? A06

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz DR Oni Sahroni, MA

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Membeli rumah dengan cara kredit dari penjual itu dibolehkan. Misalnya beli rumah satu kavling secara tunai 300 juta, tetapi jika dibeli secara tidak tunai, berangsur cicil itu harganya 400 juta, maka selisih tersebut dibolehkan karena itu bagian dari margin dari hak penjual.

Nah, tetapi yang tidak dibolehkan adalah membeli rumah dengan cara kredit ribawi seperti melalui kredit di bank konvensional karena itu kredit ribawi. Oleh karena itu, saran saya beli dari penjual langsung secara kredit atau beli melalui bank syariah agar kreditnya halal.

Kenapa kredit dari penjual bank syariah atau developer itu halal? Karena sebagaimana hadits Rasulullah Saw.

عن عبد الله بن عمرو أمرني رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أشتري بعيرا ببعيرين إلى أجل (رواه أبو داود والدارقطني والبيهقي)

“Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah Saw meminta saya untuk membeli satu unta dengan dua unta secara tidak tunai”. (HR. Abu Dawud, Daruquthni, dan Baihaqi).

Dan sebagaimana Rasulullah juga membolehkan transaksi salam dan istishna’ di mana dalam kedua transaksi tersebut itu diperjualbelikan secara tidak tunai dengan harga lebih. Sebagaimana hadits Rasulullah dari Ibn ‘Abbas;

مَنْ أَسْلَفَ فِي شَيْءٍ فَفِيْ كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ

“Barang siapa melakukan salaf (salam), hendaknya ia melakukan dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas, untuk jangka waktu yang diketahui” (HR. Bukhari).

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Membayar Zakat

Zakat Jual Beli Burung

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya tentang zakat, tetangga saya menanyakan tentang zakat burung yang harganya puluhan bahkan ratusan juta rupiah karena suaranya yang bagus, bagaimana itu tentang zakatnya, pertanyaan dari teman yang banyak mempunyai dan jual beli serta memelihara burung. A_07

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Burung tentu bukan hewan yang dizakati. Tapi, melihat dari pertanyaannya bahwa dia bisnisnya jual beli burung, maka ini masuk kategori zakat perniagaan (tijarah).

Abu Amr bin Himas menceritakan, bahwa ayahnya menjual kulit dan alat-alat yang terbuat dari kulit, lalu Umar bin Al Khathab berkata kepadanya:

يَا حِمَاسُ ، أَدِّ زَكَاةَ مَالَك ، فَقَالَ : وَاللَّهِ مَا لِي مَالٌ ، إنَّمَا أَبِيعُ الأَدَمَ وَالْجِعَابَ ، فَقَالَ : قَوِّمْهُ وَأَدِّ زَكَاتَهُ.

“Wahai Himas, tunaikanlah zakat hartamu itu.” Beliau menjawab: “Demi Allah, saya tidak punya harta, sesungguhnya saya cuma menjual kulit.” Umar berkata: “Perkirakan harganya, dan keluarkan zakatnya!”

(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 10557, Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 7099, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7392)

Dari kisah ini, Imam Ibnu Qudamah mengatakan adanya zakat tijarah adalah ijma’, sebab tidak ada pengingkaran terhadap sikap Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu.

Nishab utk zakat perniagaan adalah sama dengan zakat emas yakni jika semua burung itu sudah senilai dengan 85 gram emas. Kemudian, besaran zakatnya 2,5 %. Zakat tijarah yang dikeluarkan adalah modal yang masih diputar plus keuntungan, lalu dikurangi hutang (kalau punya) dan pajak (kalau ada), lalu dikalikan 2,5%.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doa keberkahan hidup

Belanja Sesuai Kebutuhan

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bismillaah, titip pertanyaan dari teman.

Jadi gini, suami saya kan rencana mau mengajukan kredit syariah ke salah satu lembaga, kredit motor, krna motor yg dirumah mau dipake adik sekolah, jd kami mau beli motor baru.
Cicilannya ini lumayan berat utk kondisi sekarang, pemasukan hanya dri suami, skrg suami lg ga ada lemburan krna pandemi, hanya gaji pokok saja. Terus saya usulkan utk beli motor dg type lain, yg cicilannya ringan, tp suami ttp keukeuh, malah bilang suruh pangkas jatah belanja bulanan/berhemat (padahal itu primer). Dan bbrpa kali suami meyakinkan saya utk percaya pada rezeki Allaah yg kasih dari pintu mana saja, ga bakal terhitung dg hitungan manusia. Ya memang, tp itu ga bisa diprediksi kedepannya gmna (menurut saya). Jadi sya cuma hitung dana dri pekerjaan suami saja, yg mana kalo ambil type yg cicilannya ringan, udah cukup dg gaji pokok tsb. Tp beliau keukeuh maunya motor sesuai keinginannya,

Mohon pencerahannya ustadz, barangkali ada solusi dari segi agama ttg hal ini.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim..

Jika kendaraan utk transportasi saja, maka motor apa pun yg penting awet dan enak dikendarai, itu sdh cukup. Apalagi setelah kondisi ekonomi sdg berat, kalkulasi rasional tidak boleh diabaikan.

Jika kendaraan bagi seseorang juga sebagai “gaya hidup” untuk menunjukkan kelas sosial pdhal sdh sulit, maka ini berlebihan dan lebih ikut hawa nafsu.

Ada pun “rezeki dari Allah” sudah sama-sama kita ketahui dan imani, tapi jgn sampai kalimat itu adalah senjata utk membungkam rasionalitas dan protes istrinya. Rezeki memang dari Allah, tp Allah Ta’ala juga memerintahkan untuk melihat dan mempersiapkan apa yang terjadi besok. Perlu diingat, urusan rumah tangga bukan hanya motor, tp jg kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Prinsip Jual Beli

Memanfaatkan Diskon dengan Minimum Pembelian, Bolehkah?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, jika kita belanja di toserba atau swalayan dengan jumlah harga tertentu maka kita boleh membeli produk tertentu dengan harga spesial sementara jika jika kurang dr harga tsb maka produknya berharga normal. Bagaimana hukumnya ustadz?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Pedagang punya hak dan kuasa penuh untuk memberikan hadiah, diskon, harga special, atau cash back, dalam rangka promosi atas barang dagangannya.

Hal itu dibolehkan, selama jujur (bukan diskon palsu), transparan, dan tidak mengandung riba dan judi. Apa yang ditanyakan di atas, jika jelas harganya, jelas pula rewardnya, maka bukan termasuk yg dilarang, krn tidak ada unsur judi dan riba.

Hanya saja, hati-hati jika sampai memunculkan mental konsumerisme, yaitu “doyan belanja” krn terpengaruh oleh diskon atau harga murah walaupun kita tidak membutuhkan barang tsb. Ini yg perlu dihindari.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Prinsip Jual Beli

Hukum Menjual Barang Temuan

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bagaimana hukumnya membeli barang yang didapat oleh orang lain sedangkan barang tersebut adalah barang temuan yang sudah diumumkan tapi tidak ada pemiliknya makasih ustadz

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Dalam fiqih itu istilahnya LUQATHAH, yaitu menemukan atau mendapatkan barang/harta .., bukan rikaz (barang temuan karena ada usaha dulu) seperti harta Karun

Ini Ada 2 macam:

1. Barang yang masih diharapkan oleh pemiliknya untuk kembali. Maka, ini tidak boleh dimiliki oleh siapa pun kecuali pemiliknya. Seperti barang-barang yang masih bagus, uang dengan angka psikologis yang memang tidak rela untuk hilang, dan semisalnya, apalagi emas.

Jika yang punya tidak ada, atau tidak jelas rimbanya, maka barang ditangguhkan setahun, sampai dia datang mengambilnya. Kalau tidak ada yang datang, maka negara boleh memasukannya dalam baitul maal. Tapi, negara kita tidak menggunakan sistem ini, maka sedekahkan saja atas nama HAMBA ALLAH, si pemiliknya itu. Bukan dijual atau dinikmati pribadi, ini terlarang.

2. Barang yang sudah tidak diharapkan lagi untuk diambil pemiliknya, seperti barang rongsokan, bahan bekas, atau harta yang angka nominalnya diperkirakan direlakan oleh yang punya, seperti Rp. 500,- yang biasanya kalau hilang sudah direlakan dan semisalnya.

Yang jenis ini boleh langsung dimiliki, seperti aktifitas pemulung misalnya ..

Di jual oleh yang menerima sedekah itu boleh. Tapi pihak yang menemukan pertama kali tetap paling bertanggung jawab jika ternyata pemiliknya masih ada dan masih berharap.

Wallahu a’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Undangan

Tidak Diundang, Bolehkah Datang?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, Jika kita di undang oleh teman atau sdra kita maka kita wajib dtg..tapi jika kita tdk mndpt undangan,pdhal kita kenal dekat dgn yg pny hajat..lalu kita tetap dtg..apakah benar itu di anggap sebagai seorang pencuri?Apakah itu benar ustadz?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim…

Pada dasarnya tidak boleh datang kalau kita tidak diundang. Tapi jika dugaan kuatnya kita diizinkan, maka menurut Sebagian Syafi’iyah hal itu boleh.

Jika tidak diundang, maka justru TERLARANG untuk datang, KECUALI dugaan kuatnya tuan rumah akan ridha jika kita datang.

Dalam Al Mausu’ah tertulis:

صَرَّحَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ – وَهُوَ الْمُتَبَادَرُ مِنْ أَقْوَال الْحَنَفِيَّةِ – أَنَّ حُضُورَ طَعَامِ الْغَيْرِ بِغَيْرِ دَعْوَةٍ، وَبِغَيْرِ عِلْمِ رِضَاهُ حَرَامٌ، بَل يُفَسَّقُ بِهِ إِنْ تَكَرَّرَ. لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَال: مَنْ دُعِيَ فَلَمْ يُجِبْ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ، وَمَنْ دَخَل عَلَى غَيْرِ دَعْوَةٍ دَخَل سَارِقًا، وَخَرَجَ مُغِيرًا

Kalangan Malikiyah, Syafi’iyyah, Hambaliyah dan juga respon dari Hanafiyah, menjelaskan bahwa menghadiri undangan makan orang lain tanpa diundang dan tanpa sepengetahuan Ridhanya adalah HARAM, bahkan FASIQ jika diulang-ulang. Sebab, telah diriwayatkan bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang diundang tapi tidak memenuhi maka dia telah durhaka kepada Allah dan RasulNya, barangsiapa yang mendatangi undangan tanpa diundang maka dia datang sebagai pencuri dan keluar sebagai penyerang.”

(Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 12/143)

Namun, hadits di atas dianggap dhaif oleh para ulama, sebab ada perawi yg majhul (tidak diketahui keadaannya) yaitu Aban bin Thariq, seperti yang dikatakan oleh Imam Abu Daud.

Imam Zakariya Al Anshariy Rahimahullah mengatakan:

(وَيَحْرُمُ التَّطَفُّلُ) وَهُوَ حُضُورُ الْوَلِيمَةِ مِنْ غَيْرِ دَعْوَةٍ إلَّا إذَا عَلِمَ رِضَا الْمَالِكِ بِهِ

Diharamkan At Tathafful, yaitu menghadiri pesta tanpa diundang kecuali jika diketahui adanya Ridha dari pemiliknya (tuan rumah).

(Asnal Mathalib, 3/227)

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Maaf

Jika Sudah Memaafkan, Ungkapkanlah!

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, Jika kita disakiti atau di dzalimi orang lain, di sisi lain memaafkan tapi di sisi lain meminta kepada Alloh agar diberi anugerah yang menyenangkan berupa balasan dari kedzaliman orang lain tsb. Apakah kita masih termsuk ke dalam orang yg memaafkan kesalahan orang lain, walaupun kepada Alloh meminta pahala dan anugerah untuk dirinya?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim..

Memaafkan itu sangat mulia, Allah Ta’ala menceritakan salah satu sifat penghuni surga:

والعافين عن الناس

Mereka memaafkan manusia (QS. Ali Imran: 134)

Namun demikian, jika seseorang memaafkan sebaiknya dia menyatakan agar orang yang berbuat salah tidak menyangka bahwa dia masih marah. Jangan hanya disimpan dihati, lalu berharap mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala. Insya Allah, Allah Ta’ala akan memberikan pahala. Tapi dalam konteks hubungan sosial ada baiknya kita menyatakan memaafkannya atau menunjukkan sikap yang mengindikasikan sudah memaafkannya. Agar tidak menjadi misteri bagi salah satu pihak.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678