Materi Kajian ManisSiroh dan Tarikh

Naik Haji di Masa Revolusi (K. H. Abdussamad, 1948)

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸŒΉ

πŸ“ Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

Jakarta, Muharram 1368
Desember 1948

TANJUNG PERIUK – COLOMBO

Naik

Tanggal 7 Syawal 1367 kami naik kapal Prometheus kepunyaan Oceaan di Tanjung Periuk. Ada 1.000 lebih jemaah haji.

Tidak semudah yang disangka, jemaah masuk hangar di Tg. Periuk. Sibuknya bukan alang kepalang. Jemaah berlaku tidak sabar, polisi bertindak keras. Yang menderita jemaah itu.

⚠️ Tema sentral hajji selalu tentang sabar!

Sesudah masing-masing disuntik (Cholera, tipus, dan cacar), sepuluh demi sepuluh dibolehkan naik kapal. Di atas kapal diperiksa pas dan tiket, lalu diberi kartu untuk mengambil makanan.

Oleh karena tempat di kapal sebagian sudah ditempati jemaah dari Surabaya dan Semarang, untuk jemaah dari Jakarta tak cukup tempat lagi. Pegawai kapal menerangkan, tiap-tiap jemaah berhak mendapat tempat 90 x 180 cm. Tetapi banyak jemaah hanya mendapat 60 x 100 cm. Itu pun masih ada kira-kira 150 orang tidak dapat tempat. Masing-masing berusaha mencari tempat di bawah-bawah tangga, di balik-balik mesin pengangkat dan sebagainya.

⚠️ Sekarang dengan pesawat berpendingin ruangan, yaa Rabb itu saja masih banyak yang mengeluh!

Yang dinamakan tempat di kapal haji itu bukannya sebagai di dalam bangsal tetapi tempat di dalam palka (ditulis polkah dalam manuskrip aslinya), biasanya tempat barang-barang.

Satu palka (ruang) itu sampai beratus orangnya. Karena itu udara dalamnya kurang sehat. Baunya 1.001 (campur aduk).

Apalagi kalau kebetulan gelombang besar, banyak orang mabuk laut.

Ahli saya (ahli maksudnya keluarganya) dan saya yang tidak tahan menderita bau yang 1.001 itu, memilih mengambil tempat di atas palka. Apa malang, kerap kali turun hujan; sibuk pula mencari tempat berteduh. Untungnya hujan di laut itu tidak berhariharian, sebagai di daratan, kadang-kadang hanya 10-15 menit saja.

⚠️ Maa-syaa-Allah begitu tantangan tahun 1948, belum lagi bisingnya mesin kapal.

Barang-barang diseling dengan mesin. Tiba di atas kapal masing-masing jemaah memilih barang-barangnya. Sibuknya tidak tepermanai (tak terkira). Banyak barang yang rusak diinjak oleh kawan yang memilih barangnya.

⚠️ Ketika egoisme membuat manusia hanya mementingkan dirinya saja.

Petangnya pukul 6.30 baru kapal berangkat. Di kuala ia bermalam dan besoknya pk. 6 pagi meneruskan perjalanan.

πŸ“š Naik Haji di Masa Silam – Kisah-kisah Orang Indonesia Naik Haji 1482-1964 (Jilid II) Tahun 1900-1950 – Naskah dan Dokumen Nusantara Seri XXXI, Henri Chambert Loir, KPG-EFEO dan Perpustakaan Nasional RI, Jakarta: 2013, p.703

Agung Waspodo tidak mengubah redaksi dan hanya menambah kesannya pada tanda ⚠️ serta keterangan tambahan dalam kurung (x).

Depok, 6 Shafar 1441 Hijriyah

➑️ Bersambung ke Bagian 2️⃣

πŸƒπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸƒ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Subscribe YouTube MANIS : https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

Follow Media Sosial MANIS :

IG : https://www.instagram.com/majelis_manis/?igshid=YmMyMTA2M2Y%3D

FB: http://fb.com/majelismanis

TikTok https://www.tiktok.com/@majelis_manis_

πŸ“±Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis

πŸ’° Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Iman Islam
No Rek BSI : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/6285279776222
wa.me/6287891088812

Related Posts

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *