Pertanyaan
السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
Ustadz…
Izin bertanya.
Tadi saat ikut kajian Ustadz menjelaskan bahwa jika menjamak shalat harus ada sebab atau udzur nya.
Lalu bagaimana dengan hadits dibawah ini ustadz?
“Nabi saw menjama’ sholat zuhur dan ashar juga menjama’ sholat maghrib dan isya di madinah tanpa ada sebab ‘takut’ dan juga tanpa sebab hujan” (HR Muslim).
Mohon penjelasannya Ustadz.
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃
Jawaban
Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاتة
Jamak tanpa sebab termasuk dosa besar. Sebagaimana dikatakan sebagian sahabat nabi.
عن أبي موسى قال: الجمع بين الصلاتين من غير عذر من الكبائر
Dari Abu Musa Al Asy’ari: Menjamak dua Shalat tanpa uzur termasuk dosa besar
Ada pun hadits di atas, ada dua penjelasan ulama:
– Itu bermakna Rasulullah ﷺ melakukan Zuhur mepet dengan ashar, begitu juga Maghrib mepet dengan waktu isya. Bukan bermakna jamak sebagaimana yang kita pahami. Itu istilahnya JAMA’ SUURIY
..Artinya, Rasulullah ﷺ mengakhirkan Zuhur hingga akhir waktunya lalu segera mengerjakan Ashar di awal waktunya; demikian pula Maghrib di akhir waktunya dan Isya di awal waktunya. Jadi, secara lahir tampak dijamak, tetapi masing-masing tetap dikerjakan pada waktunya.
– Pendapat lain mengatakan itu adalah jamak hakiki sebagaimana jamak yang kita pahami. Tapi, bukan berarti tanpa uzur total, tetap ada uzur seperti hajat (keperluan ) tertentu.
Seperti penjelasan Imam Nawawi terhadap hadits tsb:
وَذَهَبَ جَمَاعَةٌ مِنْ الْأَئِمَّة إِلَى جَوَاز الْجَمْع فِي الْحَضَر لِلْحَاجَةِ لِمَنْ لَا يَتَّخِذهُ عَادَة ، وَهُوَ قَوْل اِبْن سِيرِينَ وَأَشْهَب مِنْ أَصْحَاب مَالِك ، وَحَكَاهُ الْخَطَّابِيُّ عَنْ الْقَفَّال وَالشَّاشِيّ الْكَبِير مِنْ أَصْحَاب الشَّافِعِيّ عَنْ أَبِي إِسْحَاق الْمَرْوَزِيِّ عَنْ جَمَاعَة مِنْ أَصْحَاب الْحَدِيث ، وَاخْتَارَهُ اِبْن الْمُنْذِر وَيُؤَيِّدهُ ظَاهِر قَوْل اِبْن عَبَّاس : أَرَادَ أَلَّا يُحْرِج أُمَّته ، فَلَمْ يُعَلِّلهُ بِمَرَضٍ وَلَا غَيْره وَاللَّهُ أَعْلَم
“Sekelompok para imam, membolehkan jamak ketika tidak bepergian apabila ia memiliki keperluan, namun hal itu tidak dijadikan sebagai kebiasaan. Demikianlah pendapat dari Ibnu Sirin, Asyhab dari golongan Malikiyah. Al Khathabi menceritakan dari Al Qaffal dan Asy Syasyil kabir dari madzhab Syafi’i, dari Abu Ishaq al Marwazi dan dari jamaah ahli hadits. Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Mundzir, yang didukung oleh zhahir ucapan Ibnu Abbas, bahwa yang dikehendaki dari jamak adalah ‘agar umatnya keluar dari kesulitan.’ Karena itu, tidak jelaskan alasan jamak, apakah karena sakit atau yang lainnya. Wallahu A’lam.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/219).
Demikian.
Wallahu A’lam
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸
Dipersembahkan oleh : www.manis.id
Subscribe YouTube MANIS : https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial
Follow Media Sosial MANIS :
IG : https://www.instagram.com/majelis_manis/?igshid=YmMyMTA2M2Y%3D
FB: http://fb.com/majelismanis
TikTok https://www.tiktok.com/@majelis_manis_
📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis
💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Iman Islam
No Rek BSI : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/6285279776222
wa.me/6287782223130





