Jastip, Biayanya Ditentukan Belakangan?

0
102

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bagaimana ketentuan syariah terkait jasa titip (jastip)? Bolehkah menawarkan jastip barang tanpa mencantumkan biayanya? Mohon penjelasan Ustadz. Terima kasih —
Miqdad, Bekasi

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃


Jawaban

Oleh: Ustadz Dr. Oni Sahroni

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jawaban atas pertanyaan tersebut, saya coba jelaskan dalam poin-poin berikut.

Pertama, agar memperjelas gambaran tentang jastip yang mungkin beragam karena dilakukan oleh individu atau personal dan juga dilakukan oleh platform, maka jastip dapat diilustrasikan sebagai berikut.

(1) Bapak A sedang di luar negeri untuk menyelesaikan study-nya. Ia pun memberikan pengumuman ke tetangga di grup kompleknya bahwa ia bersedia menerima jasa membelikan barang dengan kompensasi fee untuknya yang ia tentukan berdasarkan berat barang yang dititip.

(2) Ibu B yang bekerja di salah satu perusahaan. Ia pun menyampaikan ke teman-teman kerja di kantornya bahwa setiap Sabtu dan Ahad, ia pergi ke toko furniture dan menawarkan untuk jastip dengan mengenakan fee atas pemberian berdasarkan berat barang, tetapi biayanya baru ditentukan kemudian.

Untuk menjelaskan apakah jastip dengan biaya yang ditentukan kemudian atau belakangan itu dibolehkan, akan dijelaskan dhawabith (batasan) jastip secara umum termasuk di dalamnya bagaimana perihal biaya atau fee dalam jastip.

Kedua, pada dasarnya jastip itu dibolehkan dengan ketentuan: (1) Barang yang dibeli (dititip) itu halal. Seperti pakaian, ATK, kebutuhan dapur, dan lainnya.

Sedangkan barang atau kebutuhan yang tidak halal seperti minuman keras, dan barang yang merusak kesehatan menurut medis.

(2) Alat bayar yang digunakan halal. Seperti pembayaran melalui debit rekening syariah, pembayaran melalui QRIS, pembayaran melalui kartu kredit syariah dan sejenisnya.

(3) Upah penyedia jasa titip dalam bentuk nominal (terpisah dari harga barang atau produk) yang harus ditentukan di awal pada saat kesepakatan jastip.

Oleh karena itu, jastip menjadi tidak sah pada saat perjanjian yang digunakan itu perjanjian atau kesepakatan ijarah, tetapi ujrah atau fee penyedia jasa titip belum ditentukan di awal, malah ditentukan kemudian. Karena ada unsur gharar atau ketidakpastian.

(4) Buat ketentuan tambahan terkait saat gagal serah terima atau terlambat serah terima dan sejenisnya. Hal ini agar saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti keterlambatan penyerahan barang atau barang yang dipesan itu tidak tersedia di market atau barang diterima cacat karena terjadi saat pengiriman dan sejenisnya.

Jika terjadi hal tersebut, dituangkan dalam perjanjian agar hak-hak para pihak terlindungi.

(5) Ketentuan tersebut dituangkan dalam perjanjian, dipahami, dan disepakati bersama.

(6) Jika jastip dilakukan melalui platform, maka dipastikan platform tersebut legal. Sedangkan jika jastip dilakukan melalui personal, maka dipastikan personal tersebut dikenal amanah.

Ketiga, ketentuan tersebut didasarkan pada: (1) Tashawwur (gambaran). Pada saat seseorang nitip untuk dibelikan suatu produk tertentu itu melibatkan tiga pihak. Ia sendiri sebagai pembeli, kemudian penyedia jasa titip sebagai pihak yang menawarkan menjual jasa untuk membelikan dan pihak ketiga adalah penjual.

Pada umumnya, penyedia jasa murni menyediakan jasa membelikan, tidak sebagai pembeli kemudian menjual.

(2) Ketentuan akad yang berlaku. Berdasarkan gambaran dan kesimpulan tentang transaksi dan skema yang terjadi dalam jastip ini, maka disimpulkan perjanjian atau akad atau kesepakatan yang lebih tepat adalah ijarah atau lebih tepatnya ijarah al-asykhash, di mana seseorang menawarkan jasa untuk membelikan dan atas jasa tersebut ia mendapatkan fee atau upah. Sementara pembeli dan penjual adalah pihak lain.

Oleh karena itu, berlaku seluruh ketentuan akad ijarah sebagaimana Fatwa No 112/DSN-MUI/IX/2017 tentang Akad Ijarah dan ketentuan wakalah bil ujrah sebagaimana Fatwa No 113/DSN-MUI/IX/2017 tentang Akad Wakalah bi Al-Ujrah, serta Standar Syariah Internasional AAOIFI No 9 tentang Ijarah dan IMBT.

Wallahu a’lam.

Sumber: Konsultasi Syariah Republika Online, 29 November 2023

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

Subscribe YouTube MANIS : https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/6285279776222
wa.me/6287782223130

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here