Jangan Bermain Ular

0
190

🍃🍃🌺🍃🌺🍃🍃

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi M.A

مَنْ لَاعَبَ الثُعْبَانَ فيِ كَفِّهِ #
هَيْهَاتَ أَنْ يَسْلَمَ مِنْ لَسْعَتِهِ

“Barangsiapa memainkan ular di telapak tangannya, tdak mungkin baginya untuk selamat dari gigitannya.”

إِنَّ الغُصُوْنَ إِذَا قَوَّمْتَهَا اعْتَدَلَتْ #
وَلَا يَلِيْنُ إِذَا قَوَّمْتَهُ الخَشَبُ

“Sesungguhnya ranting itu akan lurus jika engkau meluruskannya, namun tidaklah demikian jika yang kau luruskan itu adalah batang pohon.”

Penjelasan:

1. Jangan bermain di pinggir jurang jika tidak ingin jatuh ke jurang, jangan bermain di tempat basah jika tidak ingin terpeleset dan jangan dekati zina jika tidak ingin terperosok ke dalamnya.

2. Di dalam Islam segala sesuatu yang dorongannya untuk melakukan begitu kuat, maka dilarang untuk mendekatinya, seperti zina dan memakan harta anak yatim, sehingga mendekatinya saja dilarang.

3. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isrâ: 32).

Ibnu Katsir menjelaskan, “Allah melarang hamba-Nya berbuat zina dan mendekatinya, yaitu semua faktor dan aspek yang mengantarkan kepada perbuatan zina, karena ia merupakan perbuatan yang keji atau dosa besar dan jalan yang buruk, yaitu merupakan seburuk-buruknya jalan dan karakter.”

Ibnu Abi Dunya meriwayatkan dari jalur Al-Haitsam bin Malik Ath- Thaiy, dari Nabi beliau bersabda, “Tidak ada dosa yang paling besar setelah syirik di sisi Allah melainkan seseorang yang menaruh sperma pada rahim perempuan yang tidak halal baginya.”

4. Allah juga berfirman terkait harta anak yatim:

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُ ۚ

“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa.” (QS. An Nisa: 34)

Maksudnya janganlah kalian membelanjakan harta anak-anak yatim kecuali dengan penuh kehati-hatian, Allah berfirman:

وَآتُوا الْيَتَامَىٰ أَمْوَالَهُمْ ۖ وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ ۖ وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَىٰ أَمْوَالِكُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا

“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.”

5. Mendidik anak dalam Islam adalah sebuah proses yang panjang, oleh karena itu harga yang harus dibayar adalah keseriusan dan keletihan; anak yang shaleh dan berprestasi tidak akan lahir dari orang tua yang bersantai-santai dalam mendidiknya.

6. Mendidik anak ketika kecil bagaikan membentuk ranting, sedangkan jika kita mendidiknya saat sudah dewasa maka pasti kita akan menemukan kesulitan sebab karakter dalam dirinya sudah terbentuk bagaikan sebuah pohon yang besar dimana ia sulit untuk dibengkokkan dan kalau kita paksa untuk dibengkokkan maka ia akan patah.

7. Di antara cara untuk menghadirkan anak yang shaleh adalah sebagai berikut:

Yang pertama adalah berdoa sebagaimana yang dicontohkan oleh para nabi:

Doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Robbi hablii minash shoolihiin” [Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh] (QS. Ash Shaffaat: 100).

Doa Nabi Zakariya ‘alaihis salaam,

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Robbi hab lii min ladunka dzurriyyatan thoyyibatan, innaka samii’ud du’aa’” [Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa] (QS. Ali Imron: 38).

Doa ‘Ibadurrahman (hamba Allah yang beriman),

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Robbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa” [Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa]. (QS. Al-Furqan: 74)

Yang kedua adalah usaha orang tua untuk memperbaiki dirinya, sebab bayangan tidak akan lurus jika kayunya bengkok; artinya anak tidak akan menjadi anak yang shalih jika orang tua tidak berusaha untuk menshalehkan dirinya.

Sa’id bin Al-Musayyib pernah berkata pada anaknya,

لَأَزِيْدَنَّ فِي صَلاَتِي مِنْ أَجْلِكَ

“Wahai anakku, sungguh aku terus menambah shalatku ini karenamu (agar kamu menjadi shalih, pen.).” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 467).

🍃🍃🌺🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

Subscribe YouTube MANIS : https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/6285279776222
wa.me/6287782223130

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here