Larangan Meniup Makanan dan Minuman

Larangan Meniup Makanan Dan Minuman

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Apakah hadits larangan meniup air yang mau kita minum juga dimaksudkan melarang kita untuk meniup makanan yang masih panas? Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih. jazakalloh khoiron katsir.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d.

Ya, hal itu dilarang, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, katanya:

نهى أن يتنفس في الإناء أو ينفخ فيه

Nabi melarang bernafas di bejana atau meniupnya (saat minum). (HR. At Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, shahih)

Imam Asy Syaukani Rahimahullah menjelaskan:

أي في الإناء الذي يشرب منه ، والإناء يشمل إناء الطعام والشراب، فلا ينفخ في الإناء ليذهب ما في الماء من قذارة ونحوها ، فإنه لا يخلو النفخ غالباً من بزاق يستقذر منه ، وكذا لا ينفخ في الإناء لتبريد الطعام الحار ، بل يصبر إلى أن يبرد ، ولا يأكله حاراً ، فإن البركة تذهب منه ، وهو شراب أهل النار”

Yaitu larangan meniup di tempat air minum, dan ini mencakup tempat makanan dan minuman.

Maka, janganlah meniup air supaya hilang kotoran dan semisalnya, sebab hal itu tidak akan lepas tertiup pula air ludah yang akan mengotorinya, begitu pula jangan meniup makanan panas supaya dingin, tetapi hendaknya dia bersabar.

Dan jangan minum saat masih panas, sebab keberkahan akan hilang, dan itu minuman penghuni neraka. (Nailul Authar, 8/221)

Imam Al Munawi Rahimahullah berkata:

والنفخ في الطعام الحار يدل على العجلة الدالة على الشَّرَه وعدم الصبر وقلة المروءة

Meniup makanan panas menunjukkan ketergesa-gesaannya, yang menunjukkan kejelekannya, tidak sabar, dan sedikitnya muru’ah.
(Faidhul Qadir, 6/346)

Lalu, apa implikasi hukum larangan ini? Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah menjelaskan:

وهذا النهي عن الأمرين للكراهة ، فمن فعلهما أو أحدهما لا يأثم إلا أنه قد فاته أجر امتثال هذه التوجيهات النبوية، كما فاته أيضاً التأدب بهذا الأدب الرفيع الذي تحبه وترضاه النفوس الكاملة

Larangan dua hal ini (bernafas dan meniup bejana) adalah makruh, siapa yang melakukan keduanya atau salah satunya dia tidak berdosa. Tapi dia kehilangan mendapatkan pahala dari mengikuti arahan kenabian dalam masalah ini. Sebagaimana dia juga kehilangan nilai pendidikan dari adab yang mulai ini, yang disukai dan diridhai oleh jiwa yang sempurna. (Selesai)

Bagaimana jika memang waktu sempit, sehingga dia harus makan saat itu juga dan makanan masih panas?

Imam Al Mardawiy Rahimahullah menjelaskan;

قال الآمدي : لا يكره النفخ في الطعام إذا كان حاراً . قلت (المرداوي) وهو الصواب ، إن كان ثَمَّ حاجة إلى الأكل حينئذ

Berkata Al Amidiy: tidak dimakruhkan meniup makanan jika makanan itu panas. Aku (Al Mardawiy) berkata: Ini benar, jika di sana memang ada kebutuhan yang membuatnya harus makan saat itu juga.
(Al Inshaf, 8/328).

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Barzakh

Ketika Langit Terbelah – Tadabbur Surat al-Infithar

📝 Pemateri: Ustadz Dr. H. Saiful Bahri, M.A

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Mukaddimah: Kepemilikan yang Sempurna

Surat al-Infithar diturunkan di kota Makkah setelah surat an-Nâzi’ât.

Tak jauh berbeda dengan surat-surat sebelumnya, surat ini memuat dan menjelaskan kondisi alam saat terjadinya hari kiamat dan mengupas keadaan manusia yang tidak mampu dan tahu berterimakasih sedikit pun kepada Dzat Yang Maha Pemurah. Ia mendurhakai-Nya, kafir terhadap ajaran-Nya, serta mendustakan kebenaran hari kiamat. Bahkan ia mengajak sebanyak-banyak manusia untuk berbuat seperti dirinya.

Nantinya, di hari penentuan itu semua akan menjadi gamblang. Ada dua golongan besar yang masing-masing akan menuju tempat akhirnya, sesuai amal perbuatannya.

Pada hari itu semua titah dan kekuasaan hanya milik Allah semata. Siapapun orangnya takkan mampu menolong orang lain atau bahkan dirinya sendiri.

Semuanya hanya bisa menunggu keputusan terakhir yang akan diberikan Allah untuk mereka. Keputusan yang seadil-adilnya.

Hari Kiamat: Keniscayaan Hancurnya Alam Semesta.

“Apabila langit terbelah. Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan. Dan apabila lautan menjadikan meluap. Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar” (QS. 82: 1-4).

Langit yang batas luasnya hanya diketahui Allah pada hari kiamat akan dihancurkan. Demikian juga bintang-bintang yang dijadikan penghias langit, yang jumlahnya juga hanya diketahui Allah akan berjatuhan ke bumi. Dan air laut yang telah memanas akan bergejolak karena goncangan yang sangat dahsyat dan kemudian batas-batasnya menjadi sirna dan bercampurlah semua yang ada di dalamnya.

Hal-hal tersebut benar-benar terjadi saat itu.

Dan pada saat hari kebangkitan datang, semua orang takkan mampu bersembunyi di manapun juga.

Karena semua yang mati akan dibangkitkan oleh Dzat yang mampu menghidupkan yang mati dan mengubah yang tak ada menjadi ada.

Inilah takwilan pembongkaran kuburan yang relevan dengan susunan kata-kata sebelumnya. Kata yang digunakan untuk mengekspresikan kebangkitan kali ini adalah “bu’tsirat” yang berarti pembongkaran. Aslinya berasal dari “al-ba’tsarah” yaitu membuat tanah berantakan karena ada sesuatu di bawahnya yang dikeluarkan.

Ini berarti menggabungkan antara menyatukan ruh dan jasad kemudian mengeluarkannya dari kuburan masing-masing dengan cara yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya.
“Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya” (QS. 82: 5)

Semua orang saat itu sudah merasa apa saja yang telah ia perbuat dari amal-amal kebaikan atau sebaliknya perbuatan-perbuatan jahat, serta apa-apa saja yang ia lalaikan dan tunda-tunda dari pekerjaan baik. Ibnu Abbas, demikian juga Ibnu Mas’ud dan Qatadah memberikan penafsiran yang spesifik. Manusia akan menyesal saat itu, karena ia tahu apa-apa yang telah ia kerjakan terdapat banyak perbuatan yang tidak baik. Serta ia melalaikan serta suka menunda-nunda untuk berbuat baik dan bertaubat.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Kelalaian Manusia

“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah”. (QS. 82: 6)

Bagaimana mungkin manusia lupa dan lalai terhadap Tuhan yang sangat pemurah. Dia memberi rizki siapa saja, baik yang taat atau yang bejat dan durhaka pada-Nya.

Dia tak pernah menunda rahmat-Nya kepada makhluk-Nya. Semuanya takaran takdir telah ditentukannya. Karena ketaatan dan kemaksiatan makhluk-Nya sama sekali tidaklah mempengaruhi wibawa ketuhanan-Nya. Karena itu sangat pas jika kata yang dipakai di sini adalah “al-karim” dan bukan yang lainnya.

Atau apakah kelalaian itu justru disebabkan oleh kemurahan yang diberikan Allah serta kemudahan-kemudahan hidup serta fasilitas yang semuanya diperuntukkan oleh Allah demi kemaslahatan manusia, seperti tutur Yahya bin Mu’adz.

Sangat pantas jika kemudian Allah menyatakan bahwa hanya sedikit dari hamba-Nya yang mampu mengingat-Nya dan bersyukur atas segala karunia dan limpahan nikmat-Nya. Itupun hanya sebagian kecil saja yang bisa disyukuri. Sangat pantas jika kemudian manusia dicap sebagai makhluk yang bodoh dan zhalim.

Padahal Allahlah yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.  Dalam bentuk apa saja yang dia kehendaki, dia menyusun tubuhmu”. (QS. 82: 7-8)

Apakah manusia lupa dari mana ia berasal dan bagaimana ia diciptakan? Bukankah ia berasal dari ketiadaan dan tidak pernah disebut sekalipun oleh siapapun sebelumnya.
Kemudian Allah jadikan ia ada. Dijadikan dari sel kecil yang berada dalam satu tetes air mani yangtelah ditakar kejadiannya. Diberi dan dikaruniakan kepadanya tubuh yang sempurna, namun ia tak pernah merasa bahwa itu adalah pemberian dari Tuhan-Nya. Dia –bahkan- lupa padahal hampir setiap saat ia bercermin.

Pernahkah ia berpikir, siapa yang menjadikan susunan wajahnya seperti sekarang ini. Mata, hidung, telinga, mulut, lidah semuanya pada posisi yang sudah sangat pas.

Demikian juga anatomi tubuhnya. Baik bagian luar maupun dalam, siapakah yang menyusunnya. Tengkorak kepalanya yang melindungi otak yang didalamnya ada jutaan sel, siapakah yang sanggup membuatnya dengan demikian detil. Dia juga yang menjadikannya sesuai dengan kehendak-Nya; apakah ia mirip dengan ibunya atau bapaknya, cantik rupawan atau ada bagian tubuhnya yang kurang sempurna fungsinya.

Namun secara umum, Allah telah membaguskan bentuk manusia) jauh lebih bagus dan sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk- Nya yang lain.

Dan yang menjadikan manusia sangat keterlaluan dan melampaui batas adalah sikap angkuh dan durhakanya yang tak berhenti namun menjadi-jadi bertambah. Seperti ungkap Allah dalam ayat selanjutnya,

“Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan”
(QS. 82: 9)

Itulah–kebanyakan- manusia. Lalai dan tak pandai berterima kasih. Naifnya, bukan hanya itu sifat jeleknya, ia menambahnya dengan pendustaan terhadap kebenaran terjadinya hari pembalasan. Padahal jelas-jelas setiap manusia selalu diikuti oleh malaikat pencatat amal yang tak pernah lalai sedikitpun merekam semua amal perbuatan yang dilakukannya untuk kelak diberikan balasannya sesuai dengan perbuatannya.

Tidakkah ia malu, dalam setiap detiknya ada yang selalu memperhatikannya, merekam amal perbuatannya, yang besar dan kecil.

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu). Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 82: 10-12).

Para pencatat amal itu bukan sembarang utusan Allah. Mereka adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah swt dan penduduk langit. Mereka juga sangat disiplin dalam merekam dan membukukan amal perbuatan anak adam dengan teliti. Mereka juga tidak bisa ditipu dan dikelabuhi. Tak heran, jika kemudian Imam al-Bazzar meriwayatkan sebuah hadits yang didengar oleh sahabat Ibnu Abbas ra. Yaitu tentang larangan bertelanjang, karena ada para malaikat Allah yang selalu menyertai manusia kecuali dalam tiga keadaan: sedang buang hajat, mandi dan ketika berkumpul dengan istrinya).

Balasan yang Setimpal

“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan” (QS. 82: 13)

Setelah semua buku dan catatan amal diberikan kemudian dipersaksikan kepada masing-masing manusia seluruh anggota tubuhnya yang berbicara sebagai saksi atas titah Sang Maha Kuasa. Tak seorang pun mampu memungkiri perbuatannya. Hanya sesallah yang ada saat itu. Baik ia seorang yang baik ataupun ia seorang yang buruk akhlaknya.

Dan orang-orang yang baik yang ketika di dunia selalu takut akan adzab Allah serta bertakwa kepada-Nya, maka Allah sediakan bagi mereka berbagai kenikmatan yang belum ada tandingannya sebelum dan sesudahnya. Karena itu ungkapan ”la fî na’îm” sangat relevan. Karena mereka benar-benar tenggelam dalam kenikmatan yang tiada tara. Di ayat lain bahkan digambarkan tenggelam dalam kesibukan menikmati karunia Allah. Dan mereka memang benar layak demikian setelah jerih payah dan usahanya di dunia.

Setelah ia menahan hawa nafsunya untuk menaati ajaran Allah dan tunduk pada titah-Nya.

Sementara itu sebaliknya orang-orang yang melampaui batas tadi sebagaimana diceritakan di atas. “Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka” (QS. 82: 14)

Orang-orang durhaka dan para pendusta tadi akan benar-benar sengsara. Berada dalam keabadian adzab yang pedih di neraka. Hari yang mereka dustakan juga akan menjadi saksi kebenaran kejadiannya. Saat itulah mereka benar-benar terpanggang dalam panas dan pedihnya siksa neraka, “Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan” (QS. 82: 15). Dan begitu mereka masuk, “mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu” (QS. 82: 16). Mereka benar-benar celaka. Hari yang mereka dustakan sekaligus mereka takuti kebenarannya kini telah benar-benar ada di depannya. Bahkan mereka takkan pernah keluar sejenak pun untuk menghirup udara segar atau beristirahat melepas penat. Sebagaimana yang digambarkan dalam surat an-Naba. “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,  selain air yang mendidih dan nanah” (QS. 78: 24-25)

Sekali-kali takkan pernah mereka merasakan kenyamanan dan kesejukan. Al-Farra’ menafsirkan ayat 24 surat An-naba dengan kenyamanan beristirahat dari panasnya hawa neraka sehingga disebut dengan ”la bardan”, takkan ada kesejukan dan kenyamanan dari siksa neraka yang tak kenal ampun. Bahkan sekedar mendapatkan hembusan angin pun tidak, seperti tutur Az-Zajjaj dalam tafsirnya. Tidak juga mereka mendapatkan sesuatu yang bisa mengusir dahaga dan haus karena menahan panas yang sangat luar biasa. Tak ada air. Kecuali air yang menggelegak atau nanah yang sangat menjijikkan dan baunya menyengat.

Mungkin gambaran ini tak pernah terdetik dalam hati para pendusta itu. Atau jika mereka sempat percaya, ditutupi oleh gengsi untuk mengungkapkan iman dan mengikutinya dengan perbuatan baik.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Kebenaran Hari Pembalasan

“Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?” (QS. 82: 17-18)

Sebenarnya seperti apakah hari pembalasan itu? Sampai Allah perlu mengulang pertanyaan dua kali di akhir surat ini. Ini memberikan indikasi, betapapun jelas tanda dan bukti kebenaran hari pembalasan pasti tetap akan banyak yang mendustakan dan tidak memperca-yainya. Padahal dengan adanya hari pembalasan seseorang akanmendapatkan haknya dengan adil. Ketidakadilan yang terjadi di dunia akan diselesaikan pada hari itu dengan sangat transparan dan profesional. Tak ada yang dizhalimi hari itu. Tak ada yang menzhalimi orang pada hari itu kecuali zhalim pada dirinya sendiri di masa lalu dengan tidak mengindahkan ajakan dan titah Allah.

Hari pembalasan ini menjadi pembuktian janji Allah yang tak sedikit pun mengambil manfaat dari ketaatan manusia, juga tidak merugi sedikit pun karena kemaksiatan yang terus menerus dilakukan manusia.

Sudah demikian jelasnya kebenaran hari pembalasan ini, manusia tetap tidak menggubrisnya. Sebagian karena hatinya tertutup oleh kedustaan, sebagian karena menjadi manusia matrealis, sebagian lagi lalai yang diperturutkan dan suka menunda-nunda taubat dan amal baik.

Dengarkan penuturan Allah tentang maksud dari hari pembalasan itu, “(yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah” (QS. 82: 19)

Jangankan untuk menolong orang lain, hari yang sangat menegangkan dan menakutkan itu benar-benar membuat manusia lupa  terhadap siapapun. “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya. Dari ibu dan bapaknya. Dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya”. (QS. 80: 34-37).

Dan karena sebenar-benar kekuasaan hanya dimiliki Allah, tanpa tandingan dan saingan oleh siapapun.

Keangkuhan dan kesombongan yang pernah didengungkan didunia seketika sirna dan tak berkutik. Karena semuanya semu dan hanya fatamorgana, ketika bertemu dengan kekuasaan dan kebenaran yang sesungguhnya. Hari itu sepenuhnya dimiliki oleh Allah.

Tentunya, sebagaimana hari-hari sebelumnya. Hanya saja selama ini manusia tak menganggapnya demikian. Saat itulah kebenaran terungkap dan tak seorang pun mampu membantahnya.

Penutup
Semoga saat langit benar-benar terbelah dan bintang berjatuhan serta batas-batas laut disirnakan, serta penghuni-penghuni kubur dibangkitkan, kita berharap semoga berada dalam golongan orang-orang yang selalu berada dalam kenikmatan surga dan keridhoan Allah. Amin

(Selesai)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Quran dan Hadits

Kedudukan Ulama dalam Islam

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, 1. Bagaimana kedudukan ulama di mata Islam, 2. Ada yang bilang jangan dengarkan ulama, patuh pada Al-Quran dan sunnah saja A_11

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Ustadz : Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Kedudukan ula ma di dalam Islam itu luar biasa. Belajar Islam pun harus melalui ulama. Hanya orang bodoh, aneh, dan sombong, yang tidak memerlukan bimbingan ulama.

Langsung terjun bebas membuka Al-Quran dan As-Sunnah, tanpa guru yang mengajarkannya, adalah kecerobohan. Lihat … Fisika, biologi, kimia, dll, apakah kita paham dengan hanya membaca bukunya tanpa bimbingan ahlinya?

Saya sering jumpai orang orang yang “tidak butuh ulama, cukup Al-Quran dan As-Sunnah”, terjebak pada kesesatan berpikir sendiri.. Tidak mau taklid kepada ulama, tapi dia taklid dengan pikirannya sendiri.. Padahal Al-Quran sendiri memerintahkan untuk bertanya kepada para ulama. As-Sunnah juga memerintahkan agar segala urusan serahkan kepada ahlinya..

▪️Memuliakan, mencintai dan menghormati ulama

Anjuran menghormati, memuliakan, dan mencintai ulama (orang berilmu), sangat banyak, baik Al-Quran dan As-Sunnah. Bahkan Allah memuliakan mereka, maka pantaslah jika manusia memuliakan mereka pula.

Misalnya:

1. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menjadikan mereka sebagai tempat bertanya

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada ahludz dzikri (orang yang mempunyai pengetahuan) jika kamu tidak mengetahui. (Qs. An Nahl: 43)

Berkata Imam Al-Qurthubi Rahimahullah dalam kitab tafsirnya:

وقال ابن عباس: أهل الذكر أهل القرآن وقيل: أهل العلم، والمعنى متقارب

Berkata Ibnu ‘Abbas: “Ahludz Dzikri adalah Ahlul Quran (Ahlinya Al Quran), dan dikatakan: Ahli Ilmu (ulama), makna keduanya berdekatan.” (Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Quran, Juz. 10, Hal. 108, Ihya’ Ats Turats Al ‘Arabi, 1985M-1405H. Beirut-Libanon)

2. Allah Ta’ala membedakan kedudukan ulama dengan lainnya

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُون

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Qs. Az Zumar: 9)

3. Allah Ta’ala menerangkan ulama itu orang yang takut kepada Allah

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Qs. Fathir: 28)

4. Allah Ta’ala mengangkat derajat orang beriman dan berilmu

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al Mujadilah: 11)

Dalam As Sunnah, saya ambil beberapa saja:

5. Bukan Umat Rasulullah mereka yang tidak mengetahui hak-hak ulama

Dari ‘Ubadah bin Ash Shaamit Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

Bukan termasuk umatku, orang yang tidak menghormati orang besar kami (orang tua, pen), tidak menyayangi anak kecil kami, dan tidak mengetahui hak para ulama kami.” (HR. Ahmad No. 22755, Al Bazzar No. 2718, Ath Thahawi dalam Syarh Musykilul Atsar No. 1328, Asy Syaasyi dalam Musnadnya No. 1272. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: Shahih lighairih. Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 22755)

Tiga hal dalam hadits ini yang dinilai “bukan golongan umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,” yakni:

1. Tidak menghormati orang besar/orang tua.

2. Tidak sayang dengan yang kecil

3. Tidak mengetahui hak ulama yang dengan itu dia merendahkannya

Imam Ibnu ‘Asakir memberikan nasihat buat kita, khususnya orang yang merendahkan ulama (karena mungkin merasa sudah jadi ulama sehingga dia berani merendahkannya!

يا أخي وفقنا الله وإياك لمرضاته وجعلنا ممن يغشاه ويتقيه حق تقاته أن لحوم العلماء مسمومة وعادة الله في هتك أستارمنتقصيهم معلومة وأن من أطلق لسانه في العلماء بالثلب ابتلاه الله تعالى قبل موته بموت القلب فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم

Wahai saudaraku –semoga Allah memberikan taufiq kepada saya dan anda untuk mendapatkan ridhaNya dan menjadikan kita termasuk orang yang bertaqwa kepadaNYa dengan sebenar-benarnya- dan Ketahuilah, bahwa daging–daging ulama itu beracun, dan sudah diketahui akan kebiasaan Allah dalam membongkar tirai orang-orang yang meremehkan mereka, dan sesungguhnya barang siapa siapa yang melepaskan mulutnya untuk mencela ulama maka Allah akan memberikan musibah baginya dengan kematian hati sebelum ia mati: maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (Imam An Nawawi, At Tibyan, Hal. 30. Mawqi’ Al Warraq)

7. Allah Ta’ala umumkan perang kepada orang yang memusuhi para ulama

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

Barang siapa yang memusuhi waliKu, maka aku telah umumkan peperangan kepadanya .. (Hr. Al Bukhari No. 6021)

Para ulama, amilin (orang yang beramal shalih), shalihin, zahidin (orang yang zuhud), adalah para wali-wali (kekasih) Allah Ta’ala. Memusuhi mereka, maka Allah Ta’ala proklamirkan perang buat buat musuh-musuh mereka.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Bersuci Istinja Cebok Bersih Najis

Wudhu Dengan Air Seukuran Bak atau Gayung, Bolehkah? Apakah dikucurkan atau bolehkah dikobok ke dalamnya?

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Bismillahirrahmanirrahim al Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

Wudhu dengan air di bak mandi, selama air tersebut suci dan mensucikan adalah Boleh dan SAH. Hal ini berdasarkan beberapa hadits berikut:

Pertama. Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْسِلُ أَوْ كَانَ يَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ وَيَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ

Nabi ﷺ membasuh, atau mandi dengan satu sha’ hingga lima mud, dan berwudhu dengan satu mud. [1]

Satu mud itu tidak banyak, Imam Al ‘Ainiy mengatakan 1,3 Rithl Iraq (Rithl itu bukan liter), sebagaimana pendapat Imam Asy Syafi’i dan ulama Hijaz. Ada yang mengatakan 2 Rithl yaitu Imam Abu Hanifah dan ulama Iraq.[2]

Sementara Imam Ash Shan’ani menjelaskan dengan lebih sederhana yaitu sepenuh dua telapak tangan manusia berukuran sedang dengan telapak tangan yang dibentangkan (madda), dari sinilah diambil kata mud.[3]

Satu mud ini adalah cukup, jangan dikurangi lagi. Imam Al Munawiy mengatakan: “Maka, sunahnya adalah tidak kurang dari itu dan jangan ditambah bagi orang yang ukuran badannya seperti badannya (Rasulullah ﷺ). [4]

Ini menunjukkan air seukuran gayung pun boleh dipakai dan sah, selama suci dan mensucikan.

Kedua. Hadits lainnya adalah:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِيَ بِئْرٌ يُطْرَحُ فِيهَا الْحِيَضُ وَلَحْمُ الْكِلَابِ وَالنَّتْنُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

Dari Abu Sa’id Al Khudri, bahwa ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ: “Apakah kami boleh berwudhu dari sumur budhaa’ah, yaitu sumur yang kemasukan Al Hiyadh (pembalut wanita), daging anjing, dan An Natnu (bau tidak sedap).” Lalu Rasulullah ﷺ menjawab: “Air itu adalah suci, tidak ada sesuatu yang menajiskannya.” [5]

Hadits ini menunjukkan hukum dasar air adalah suci, dan tidak ada apa pun yang dapat menajiskannya. Bahkan Imam Malik Rahimahullah mengatakan walau airnya sedikit, selama sifat sucinya belum berubah, baik warna, aroma, dan rasa.

Imam Ash Shan’ani Rahimahullah mengatakan: “Dengan hadits ini, Imam Malik berdalil bahwa sesungguhnya air tidak menjadi najis dengan terkenanya air itu dengan najis –walau air itu sedikit- selama salah satu sifatnya belum berubah.” [6] Tapi, para ulama mengoreksi pendapat Imam Malik, bahwa hadits tersebut adalah khusus untuk sumur Budhaa’ah yang memang berukuran besar, sebagaimana keterangan Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuriy berikut:

“Ta’wilnya adalah bahwa air yang kalian tanyakan adalah tentang air sumur Budhaa’ah, maka jawabannya adalah itu khusus, bukan untuk umum sebagaimana pertanyaan Imam Malik. Selesai. Jika Alif dan Lam (pada kata Al Maa’/air) menunjukkan jenis, maka hadits ini adalah spesifik (khusus) menurut kesepakatan sebagaimana Anda lihat (tidak ada sesuatu yang menajiskannya) karena banyaknya, sesungguhnya sumur budhaa’ah adalah sumur yang banyak airnya, lebih dari dua qullah, maka terkena semua hal ini tidaklah merubahnya, dan air yang banyak tidaklah menjadi najis karena sesuatu selama belum terjadi perubahan.” [7]

Ummu ‘Umarah bercerita:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ فَأُتِىَ بِإِنَاءٍ فِيهِ مَاءٌ قَدْرُ ثُلُثَىِ الْمُدِّ

Bahwa Nabi ﷺ berwudhu dengan dibawakan untuknya di bejana berisi air seukuran 2/3 mud. [8]

Ketiga, Hadits lainnya:

عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ لَقَدْ رَأَيْتُنِي أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ هَذَا فَإِذَا تَوْرٌ مَوْضُوعٌ مِثْلُ الصَّاعِ أَوْ دُونَهُ فَنَشْرَعُ فِيهِ جَمِيعًا فَأُفِيضُ عَلَى رَأْسِي بِيَدَيَّ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَمَا أَنْقُضُ لِي شَعْرًا

Dari ‘Ubaid bin ‘Umair, bahwa ‘Aisyah Radhiyallahu anha berkata, “ Aku menyaksikan diriku mandi bersama Rasulullah ﷺ dari ini, – yaitu sebuah bejana kecil tempat yang berukuran satu shaa’ atau lebih kecil- kami menyelupkan tangan kami seluruhnya, aku mencelupkan dengan tanganku pada kepalaku tiga kali dan aku tidak menguraikan rambut.” [9]

Maka, dari hadits-hadits ini dapat disimpulkan bahwa wudhu dengan air seukuran bak mandi adalah sah, begitu pula dengan memakai gayung, yang penting tetap pada prinsip “suci dan mensucikan”, tidak ada perubahan sifat dasar sucinya, walau volume bak itu tidak sampai dua qullah. Ada pun jika sudah ternoda najis dan merubah salah satu sifat dasarnya maka tidak boleh wudhu dengannya.

Namun, dalam madzhab Syafi’i, wudhu dengan air di wadah yang sedikit (misal gayung) tidaklah dengan mencelupkan (mengkobok) tangan ke wadah tersebut, tetapi hendaknya dikucurkan, agar tidak menjadi air musta’mal.

Syaikh Wahbah Az Zuhailiy Rahimahullah menyebutkan tentang pendapat Syafi’iyyah:

“Kesimpulannya, tidak sah bersuci dengan air musta’mal yang sedikit untuk keperluan menghilangkan hadats dan membersihkan najis. Jika seorang yang berwudhu memasukkan tangannya ke air yang sedikit (misal di gayung, pen) setelah mencuci wajahnya, maka air yang tersisa tersebut adalah musta’mal.” [10]

Bersuci dengan air musta’mal tidaklah sah menurut madzhab Syafi’i, Hanafi, dan Hambali. Sebab air tersebut suci tapi tidak mensucikan. Namun sah bagi Maliki dan Zhahiri.

Imam Ibnu Mundzir Rahimahullah mengatakan: “Para ulama telah ijma’ bahwa air yang sedikit dan banyak, jika terkena najis lalu berubah rasa, atau warna, atau aroma, maka dia menjadi najis selama seperti itu.” [11]

Syaikh Muhammad Muhajirin Amsar Rahimahullah mengatakan: “Para ulama telah ijma’ bahwa air yang telah berubah salah satu sifatnya yang tiga itu, maka menjadi najis, walau air itu sebanyak lautan.” [12]

Kesimpulan:

– Berwudhu dengan volume air sebesar bak mandi atau gayung adalah SAH selama air tersebut tetap suci dan mensucikan, tidak ada perubahan baik rasa, warna, dan aroma.

– Ada pun berwudhu dengan air di wadah kecil, misal gayung, hendaknya dikucurkan, dialirkan, bukan dikobok. Sebab hal itu menjadikannya sebagai air musta’mal. Dalam madzhab Syafi’i, Hanafi, dan Hambali, air musta’mal tidak boleh digunakan untuk bersuci, ada pun madzhab lainnya membolehkan wudhu dengan air musta’mal.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

[1] HR. Bukhari no. 201

[2] Imam Badruddin Al ‘Aini, ‘Umdatul Qari, 4/433

[3] Imam Ash Shan’aniy, Subulus Salam, 1/49

[4] Imam Al Munawiy, At Taysir, 2/545

[5] HR. Abu Daud No. 67, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf No. 1513, Imam Al Baghawi, Syarhus Sunnah, 2/61, dll. Imam Ibnu Hajar berkata: “Hadits ini dishahihkan oleh Imam Ahmad bin Hambal, Imam Yahya bin Ma’in, dan Imam Ibnu Hazm.” (Talkhish Al Habir, 1/125-126), Imam An Nawawi mengatakan: “shahih.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/82)

[6] Imam Ash Shan’aniy, Subulus Salam, 1/16

[7] Imam Abul ‘Ala Al Mubarkafuriy, Tuhfah Al Ahwadzi, 1/170. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah

[8] HR. Abu Daud no. 94, Dishahihkan oleh Abu Zur’ah, dan dihasankan oleh Imam An Nawawi dan Imam Al ‘Iraqiy. Lihat Shahih Abi Daud, 1/158

[9] HR. An Nasa’iy, no. 416

[10] Syaikh Wahbah Az Zuhailiy, Al Fiqhu Asy Syafi’iyyah Al Muyassar, 1/82

[11] Imam Ibnul Mundzir, Al Ijma’, Hal. 35

[12] Syaikh Muhammad Muhajirin Amsar, Mishbahuzh Zhalam, 1/35

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678