Kemenangan Tidak Selalu Membuahkan Kemajuan Tanpa Tindak Lanjut yang Nyata!

Pemateri: Ust. Agung Waspodo, SE, MPP

Pertempuran Anzen – 22 Juli 838

Pertempuran Anzen, atau juga disebut Pertempuran Dazimon, terjadi pada hari Senin 26 Sya’ban 223 Hijriah atau 22 July 838 di daerah Anzen/Dazimon antara pasukan Byzantium dan kekuatan Khilafah ‘Abbasiyah.

Pada waktu itu Khilafah ‘Abbasiyah sedang melancarkan sebuah ekspedisi besar dengan 2 kelompok balatentara terpisah sebagai jawaban atas keberhasilan kampanye militer Emperor Theophilos setahun sebelumnya. Tujuan utama ekspedisi ini adalah utk menghancurkan Amorion, salah satu kota besar Byzantium di Asia Kecil. Di palagan Anzen, pasukan Theophilos berjumlah lebih besar dibandingkan dengan pasukan muslimin dibawah pangeran ketundukan (vassal) Iran yg bernama Afshin.

Strategi bumi hangus tentu berbeda dengan strategi penaklukan teritorial. Sangat disayangkan jika pada periode ino upaya terstruktur lagi menyeluruh tidak dilakukan utk menyebarkan Islam ke daerah Asia Kecil (Asia Minor, atau sering disebut sebagai Anatolia di masa Turki Utsmani nantinya).

Pasukan Byzantium yg jumlahnya lebih banyak itu pada awalnya memperoleh keberhasilan dalam kontak senjata ini, tetapi ketika Emperor Theophilos memutuskan utk ikut menyerang secara langsung; maka ketiadaan sosoknya di tengah-tengah para prajurit yg tidak biasanya ini menimbulkan kepanikan. Sebuah kepanikan yg tidak ia pertimbangkan sebelumnya ini semakin menjadi-jadi hingga berkembang isu bahwa emperor telah terbunuh. Isu ini ditambah dengan serangan balik pasukan panah-berkuda Afshin yg gigih menyebabkan pasukan utama Byzantium patah arang hingga akhirnya mundur dari lapangan tempur.

🔅Pemimpin memang patut memberi teladan, namun dalam taktik militer keteladanan ini harus diletakkan dalam bingkai strategi dengan pola komunikasi yg aman lagi efektif. Dalam kasus ini, alih-alih merebut kemenangan, ternyata kesemangatan pemimpin maju ke barisan terdepan malah membuat kekacauan pada keseluruhan barisan.

Kekacauan ini, menyebabkan kontingen yg dipimpin langsung oleh Emperor Theophilos dan pasukan pengawalnya menjadi terkepung sementara di sebuah bukit sebelum berhasil meloloskan diri. Kekalahan ini menyebabkan hancurnya kota Amorion beberapa pekan kemudian, sebuah momen kemunduran dan hantaman berat bagi prestise Byzantium dalam perseteruan beberapa abad dari Perang Arab-Byzantium.

Kekalahan yg seandainya ditindak-lanjuti dengan pendudukan wilayah maka akan memberikan hasil yg optimal utk perencanaan tahun berikutnya. Yang masih menimbulkan tanda tanya adalah, apa yg menjadi alasan bagi Khilafah ‘Abbasiyah tidak menguasai wilayah yg sdh rapuh dan runtuh pertahanannya itu? Perlu banyak membaca lagi sejarah era ini.

Kekalahan ini dinilai sangat tragis utk Byzantium pada waktu itu, namun peristiwa di Anzen dan hancurnya kota Amorion secara militer, anehnya tidak berdampak jangka panjang bagi imperium. Hal ini disebabkan karena Khilafah ‘Abbasiyah tidak meneruskan keberhasilan militer ini menjadi sebuah keuntungan yg lebih besar. Hal yg justru mencuat di sisi Byzantium adalah meningkatnya sentimen negatif terhadap ikonoklasme (iconoclasm) yg hampir selalu membutuhkan keberhasilan militer utk menjaga keabsahannya.

Stabilitas dalam negeri selalu menjadi faktor penentu berapa kuat dan lama sebuah ekspedisi militer ke wilayah luar. Ia bisa menjadi faktor pemicu namun bisa juga menjadi faktor penghambat; lawan pun harus cerdas memperhatikan momentum ini.

Tidak lama setelah wafatnya Emperor Theophilos pada tahun 842, empat tahun setelah pertempuran ini, gerakan memuja simbol-simbol relijius bergambar (icons) kembali marak sebagai penanda keberhasilan Nasrani Orthodox di seluruh penjuru kerajaan. Pertempuran Anzen dapat juga dilihat sebagai contoh betapa sulitnya militer Byzantium menghadapi ancaman pasukan panah-berkuda. Hal ini merupakan faktor militer yg besar pada abad ke-6 dan ke-7 yg kemudian berkembang menjadi kekuatan inti tradisi serta doktrin militer Byzantium.

Kekalahan tidak selalu berdampak negatif, dalam aspek militer maka kecerdasan sebuah peradaban juga dapat diukur dari seberapa cepat penyesuaian yg dilakukannya utk mengimbangi keunggulan lawan. Kemenangan tidak berdampak jauh ke depan jika tidak diimbangi oleh kesigapan utk selalu memiliki strategi dan taktik yg terus berkembang diluar pantauan lawan.

Suatu hal yg juga mencengangkan adalah pertempuran ini menjadi momen dimana Byzantium menghadapi taktik bangsa nomaden Turki dengan gaya perang Asia Tengahnya. Keturunan mereka nanti adalah bangsa Turki Saljuq yg akan menjadi antagonis bagi Byzantium dari abad ke-11 hingga seterusnya.

Agung Waspodo, masih terpana dengan mendalamnya sejarah Khilafah ‘Abbasiyah setelah 1177 tahun kemudian.

Depok, 22 Juli 2015, pagi selepas waktu subuh..

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Tiga Perkara

Pemateri: Ust. Abdullah Haidir Lc.

ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ وَ ثَلاَثُ مُنْجِيَاتٍ وَ ثَلاَثُ كَفَّارَاتٍ وَ ثَلاَثُ دَرَجَاتٍ ;

Ada Tiga Perkara
Membinasakan,
Menyelamatkan,
Menghapuskan Dosa dan Meningkatkan Derajat

فَأَمَّا الْمُهْلِكاَتُ: فَشُحٌّ مُطَاعٌ وَ هَوًى مُتَّبَعٌ وَ إِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

1. Adapun yang membinasakan;
Bakhil yang dituruti,
Hawa nafsu yang diikuti dan
Bangga terhadap diri sendiri.

وَ أَمَّا الْمُنْجِيَاتُ: فَالْعَدْلُ فِي الْغَضَبِ وَ الرِّضَا وَ الْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَ الْغِنَى وَ خَشْيَةُ اللهِ تَعَالَى فِي السِّرِّ وَ الْعَلاَنِيَةِ ;

2. Adapun yang menyelamatkan adalah:
Adil saat marah maupun ridha,
Hemat  saat miskin maupun kaya, dan
Takut kepada Allah saat sendiri maupun ramai.

وَ أَمَّا الْكَفَّارَاتُ: فَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ وَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي السَّبَرَاتِ وَ نَقْلُ اْلأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ ;

3. Adapun yang menghapus dosa adalah:
Menunggu waktu shalat (berikutnya) setelah shalat (sebelumnya),
Menyempurnakan wudhu saat cuaca sangat dingin dan
Melangkahkan kaki untuk menghadiri (shalat) jamaah.

وَ أَمَّا الدَّرَجَاتُ: فَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَ إِفْشَاءُ السَّلاَمِ وَ الصَّلاَةُ بِاللَّيْلِ وَ النَّاسُ نِيَامٌ (رواه الطبراني وحسنه الألباني في جامع الصغير

4. Adapun yang meninggikan derajat adalah:
Memberi makan,
Menebarkan salam dan
Shalat malam saat orang lain tertidur.”

(HR. Thabrani, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Jami Ash-Shagir)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Mempersiapkan Generasi Masa Depan Adalah Bagian Dari Penguatan Estafet Kebudayaan & Mencegah Perpecahan

Oleh: Ust. Agung Waspodo, SE, MPP

Pertempuran Marj-Rahit – 18 Agustus 684

Pertempuran ini dalam sejarah Islam dikenal sebagai Yawm Mardj Rāhiṭ‎ yang merupakan pertempuran pada awal Perang Fitnah Kedua yang membelah ummat Islam ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah balatentara Yaman (Kalb) yang mendukung Khilafah Umayyah pimpinan Marwan I ibn al-Hakam dan kelompok kedua adalah Banu Qays pimpinan ad-Dahhak ibn Qays al-Fihri yang mendukung ‘Abdullah ibn az-Zubayr yg menjadi khalifah di Makkah. Pertempuran ini berlangsung pada hari Kamis 1 Muharam 65 Hijriah (18 August 684).

Kemenangan ini mengokohkan posisi Banu Umayyah yang dipimpin oleh Marwan I ibn al-Hakam atas wilayah Syam; yang pada akhirnya mengalahkan kekuatan yg mendukung Ibn az-Zubayr pada akhir Periode Fitnah Kedua. Namun, peristiwa ini juga meninggalkan kegetiran dan ketajaman perselisihan antara suku Qays dan Kalb yang terus menjadi sebab permasalahan sampai akhir era Khilafah Umayyah.

Latar Belakang

Ketika Mu’awiyah I ibn Abi Sufyan wafat pada tahun 680, dunia Islam tenggelam dalam pusaran konflik yang kencang. Walaupun Mu’awiyah sudah menunjuk anaknya, Yazid I ibn Mu’awiyah sebagai penerus kekhilafahan namun pilihan itu tidak mendapatkan dukungan yang bukat; terutama dari kalangan elit di Madinah yang tidak dapat menerima begitu saja estafet tersebut.

Diantara yang dianggap pantas untuk meneruskan kekhilafahan pada waktu itu adalah Husayn ibn ‘Ali (ra) dan ‘Abdullah ibn az-Zubayr. Husayn ibn ‘Ali (ra) yang menerima dukungan dari pendukung ayahnya ‘Ali ibn Abi Thalib (ra) berangkat ke Kufah untuk diangkat menjadi khalifah namun tidak kesampaian karena terbunuh oleh unsur-unsur pengadu domba pada Pertempuran di Karbala, Oktober 680. Wafatnya beliau menjadikan Ibn az-Zubayr menjadi satu-satunya tokoh yang menandingi Yazid I. Selama ia tinggal di Makkah, Ibn az-Zubayr tidak secara terang-terangan mengangkat dirinya sebagai khalifah, namun ini tidak menerima kekhalifahan Yazid I secara formal. Ia menegaskan bahwa seorang khlifah harus dipilih melalui proses syura diantara para pemimpin Suku Quraisy.

Aksi Yazid I ibn Mu’awiyah

Setelah beberapa pihak di Madinah secara terbuka mengumumkan ketidak setujuan mereka atas pengangkatan Yazid I sebagai khalifah maka hal tersebut dianggap sebagai sebuah pemberontakan. Yazid I mengirim pasukan untuk memadamkan aksi yang difolongkan sebagai pemberontakan ini. Setelah penduduk Madinah tunduk, pasukan tersebut mengepung kota Makkah. Namun, wafatnya Yazid I memaksa pasukan tersebut untuk kembali ke Syam.

Masa Mu’awiyah II yang Singkat

Kekhalifahan Yazid I kemudian diteruskan oleh anaknya, Mu’awiyah II ibn Yazid I namun tidak berlangsung lama karena ia wafat beberapa pekan kemudian. Pengakuan terhadap kekhilafahannya hanya didapatkan dari lingkar keluarganya di Syam. Wafatnya Mu’awiyah II ini meletupkan krisis baru karwna saudaranya yang lain juga masih terlalu muda untuk memimpin. Hal ini merubuhkan otoritas Umayyah di seantero dunia Islam sehingga Ibn az-Zubayr secara umum diterima sebagai pemimpin ummat.

Gubernur Irak yang pro-Umayyah yang bernama ‘Ubaidallah ibn Ziyad diusir dari propinsinya dan mata uang atas nama Ibn az-Zubayr mulai dicetak. Pada saat yang sama, Banu Qays berdatangan dari bagian utara Syam dan wilayah Jazirah untuk mendukung Ibn az-Zubayr. Bahkan sebagiam keluarga Banu Umayyah sudah mempertimbangkan untuk berangkat ke Makkah untuk memberikan dukungan kepadanya.

Pada bagian tengah dan selatan Syam dukungan terhadap Banu Umayyah tetap kuat dan disokong oleh Banu Kalb yang dipimpin oleh Ibn Bahdal dan ‘Ubaydallah ibn Ziyad. Melalui inisiatif mereka berdua kemudian diselenggarakan syura beberapa suku di kota Jabiyah yang mengangkat sepupu Mu’awiyah II yang bernama Marwan ibn al-Hakam sebagai kandidat khalifah. Marwan ini merupakan seorang yang loyal pada masa khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan namun tidak tercatat mengambil peran pada era Mu’awiyah I ibn Abi Sufyan.

Manuver Militer

Pemilihan atas Marwan menyulut reaksi suku Qays yang memusatkan kekuatannya bersama gubernur Damaskus yang dijabat oleh ad-Dahhak ibn Qays al-Fihri. Setelah ad-Dahhak mencermati kedua pihak, akhirnya ia terpedaya untuk mendukung kelompok Ibn az-Zubayr dan mulai mengumpulkan kekuatan oerang di Marj as-Suffar, dekat Damaskus. Sebagai reaksinya, para panglima pendukung Banu Umayyah bergerak cepat menuju kota Damskus yang menyerang begitu saja setelah gerbang dibuka oleh Suku Ghassan.

Pertempuran

Kedua pasukan bentrok senjata pertama kali pada pertengahan bulan Juli 684 di sekitar padang rumput Marj as-Suffar dimana pihak Banu Qays terdesak ke daerah Marj Rahit. Bentrok senjata ringan lagi sporadis antar kedua pihak berlangsung 20 hari hingga pertempuran utama pada hari Kamis 1 Muharam 65 Hijriah (18 Agustus 684).

Jumlah kedua oihak tidak diketahui secara terperinci: ath-Thabari mencatat 6.000 pasukan Marwan, catatan lain menulis 13.000 pasukan Marwan dan 30.000 pasukan ad-Dahhak, bahkan sejarawan Ibn Khayyat menuliskan 30.000 Marwan dan 60.000 ad-Dahhak. Berapapun angka persisnya, namun mereka semua sepakat jika pasukan pembela Umayyah jauh lebih sedikit dibandingkan dengan lawannya.

Komandan lapangan pasukan Marwan diserahkan kepada Abbas ibn Ziyad, Amr ibn Sa’id al-As, dan ‘Ubaydallah ibn Ziyad. Dalam catatan sejarah lainnya ditemukan bahwa ‘Ubaydallah ibn Ziyad memimpin pasukan berkuda dan Malik ibn Hubayra al-Skauni memimpin pasukan infanteri. Sedangkan komandan lapangan dari pihak ad-Dahhak hanya tercatat naman Ziyad ibn Amr ibn Mu’awiya al-‘Uqayli.

Banyak sekali kitab yanh menulis hikmah dari kisah-kisah pertempuran, namun hampir tidak ada yang mendeskripsikan alur pertempuran. Yang sama-sama disepakati adalah kekalahan telak menimpa kelompok Ibn az-Zubayr dan ad-Dahhak sendiri gugur di medan tempur.

Agung Waspodo, yang masih mencatat benang merah peristiwa yang menjerembabkan kembali ummat dalam keterpecahan yang akut.

Depok, 20 Agustus 2015.. sedikit lewat tengah malam..

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Seharusnya Mengandalkan dan Percaya Pada Kekuatan Sendiri, Sisi Lain Masa Kepemimpinan ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz

Oleh: Ust. Agung Waspodo, SE, MPP

Pengepungam Kedua atas Konstantinopel
15 Juli/Agustus 717 s/d 15 Agustus 718

Pengepungan kedua atas kota Konstantinopel, ibukota Imperium Byzantium , ini merupakan serangan gabungan darat dan laut yg dikerahkan oleh Khilafah Bani Umayyah. Kampanye militer ini merupakan kulminasi dari 20 tahun peperangan serta penguasaan wilayah secara bertahap oleh khilafah terhadap daerah Imperium Byzantium, disamping kelemahan internal Byzantium itu sendiri.

Pada tahun 716, setelah persiapan beberapa tahun, kaum Muslimin bangsa Arab dipimpin oleh Maslama ibn Abdul Malik memasuki wilayah Byzantium melalui Anatolia. Pasukan ini tadinya hendak memanfaatkan perang saudara dan kekacauan internal Byzantium dengan ikut mendukung Leo III Isaurian yg bangkit melawan Kaisar Theodosius III. Namun, ekspedisi tersebut lebih dimanfaatkan oleh Leo III untuk mengukuhkan dirinya di singgasana Byzantium. Demikianlah akhir dari ekspedisi kedua yg didorong oleh seruan Rasul (saw) tentang penaklukan kota legendaris ini belum berhasil mewujudkan “latuftahanna” yang dijanjikan.

Persiapan Ekspedisi

Setelah menghabiskan musim dingin di pesisir Anatolia di sisi Asia, pasukan kaum Muslimin ini menyeberang ke wilayah Thrace di sisi Eropa pada awal musim panas tahun 717. Mereka membangun garis pengepungan untuk memblokade kota yg terlindungi oleh dinding Theodosian. Armada laut kaum Muslimin yg berlayar untuk mendukung laju angkatan darat telah direncanakan untuk menyempurnakan blokade pada sisi laut. Namun armada ini tidak mengantisipasi “senjata rahasia” angkatan laut Byzantium berupa Api-Yunani (Greek Fire) yang merupakan senjata sembur api yg mematikan di pertempuran laut karena nyalanya semakin besar ketika bercampur dengan air laut.

Hilangnya sayap kekuatan laut ini membuat blokade kota Konstantinopel menjadi bolong dimana bantuan yang mengalir lewat laut tidak dapat dicegah oleh balatentara Maslamah. Di sisi yg lain, pasukan kaum Muslimin didera musim dingin yg hebat sehingga menimbulkan kelaparan serta berjangkitnya wabah penyakit. Pada awal musim semi tahun 718, Maslamah mendapatkan sedikit harapan tentang adanya bantuan yg dikirimkan kepada mereka. Malangnya, 2 armada laut yang dikirimkan ternyata dikhianati oleh awak kapal berkebangsaan Mesir dan Yunani, sedangkan angkatan darat yg juga dikirim sebagai bantuan malah terjebak dan terkalahkan. Untuk menambah masalah, garis belakang pasukan Maslamah diserbu oleh Bangsa Bulgar sehingga menimbulkan kerugian yg semakin menipiskan logistik yang sudah tidak seberapa jumlahnya itu. Kesemua faktor negatif ini memaksa kaum Muslimin untuk melepaskan blokadenya pada hari Senin 13 Muharam 100 Hijriah. Dalam perjalanan pulang cuaca buruk kembali memakan korban dengan menenggelamkan sisa armada laut, bahkan kapal-kapal yg lamban bergerak pun disergap oleh angkatan laut Byzantium yang membuntuti hingga sampai di luar wilayah laut Byzantium.

Latar Belakang

Setelah Pengepungan Pertama tahun 674-678 terdapat waktu damai antara kedua belah pihak. Setelah tahun 680, Khilafah Umayyah sedang disibukkan oleh Perang Saudara Kaum Muslimin yang kedua. Pada saat yg hampir bersamaan, Imperium Byzantium justru sedang menguat sehingga khalifah terpaksa membayar upeti yang cukup besar demi memperoleh masa gencatan senjata.

Pada tahun 692, Khilafah Umayyah memenangkan Perang Saudara kedua itu dan bersamaan dengan itu, Kaisar Justinian II mengumumkan perang krmbali. Sebagai hasilnya Byzantium terpaksa kehilangan kendalinya atas armenia, beberapa propinsi di kaki Gunung Kaukasus, dan mundurnya batas pertahanan. Hampir setiap tahun, panglima perang Umayyah masuk dan menyerang wilayah Byzantium. Setelah tahun 712 mulai terlihat bahwa sistem pertahanan perbatasan Byzantium adalah lemah, serbuan mulai masuk ke dalam wilayah Byzantium, perbentengan perbatasan mulai sering direbut atau dihancurkan, sedangkan perlawanan maupun serangan balik Byzantium justru semakin langka.

Sumber Referensi

Informasi tentang pengepungan ini diperoleh dari sumber-sumber sejarah yg ditulis setelah peristiwa tersebut terjadi; sebagian diantaranya saling bertolak-belakang. Sumber dari pihak Byzantium yg paling padat dan kaya informasi adalah Chronicle of Theophanes the Confessor (760–817) dan yg lebih singkat adalah Breviarium of Patriarch Nikephoros I of Constantinople (wafat 828) namun berbeda soal urutan kejadian. Kedua sumber ini menggunakan data primer yg dibuat pada masa Leo III sehingga cenderung membela posisinya sebagai pemberontak.

Sedangkan untuk detail informasi sebelum hingga menjelang pengepungan ini dapat dibaca dari Theophilus of Edessa yang ditulis pada awal abad ke-8 yang banyak merekam tentang hubungan diplomasi antara Maslamah dan Leo III.

Sumber dari pihak kaum Muslimin yang paling populer adalah Kitab al-‘Uyūn yg ditulis pada abad ke-11 serta Kitāb al-Umam wal Mulūk yg ditulis oleh Imam ath-Thabarī (838-923). Keduanya mengandalkan sumber primer dari catatan sejarawan pada awal abad ke-9 dengan berbagai perbedaan kronologi.

Ada juga catatan sejarah berbahasa Syriac yang ditulis oleh Agapius of Hierapolis (wafat 942) yang mengambil dari sumber primer yang sama dengan Theophanes tetapi lebih pendek.

Persiapan Ekspedisi

Dari awal persiapan, kaum Muslimin telah mengantisipasi serbuan berskala besar atas kota Konstantinopel ini; hadits tentang kejatuhannya menjadi dorongan yang sangat kuat. Beberapa catatan yg dapat melukiskan skalanya antara lain: Zuqnin Chronicle berbahasa Syriac abad ke-8 bahkan mendeskripsikannya “tak terhitung,” dari Michael the Syrian abad ke-12 mencatat 200.000 personil dan 5.000 kapal, sejarawan al-Mas’udi abad ke-10 mencatat 120.000 personil, dan dari Theophanes menctat 1.800 kapal.

Cadangan logistik untuk menggerakkan kampanye militer sebesar ini menuntut adanya penumpukan yg lama serta persiapan alat-alat kepung serta bahan peledak (naptha) yg tidak sedikit. Rombongan logistiknya saja membutuhkan 12.000 personil, 6.000 unta, serta 6.000 keledai. Bahkam juga tercatat bahwa kaum Muslimin membawa benih gandum untuk ditanam di lokasi pertahanan guna mengantisipasi masa pengepungan yanh panjang. Seorang sejarawan yg bernama Bar Hebraeus menambahkan adanya 30.000 pasukan sukarela (mutawa) pada ekspedisi ini.

Berapapun jumlah sebenarnya yang dilibatkan, tentu jumlah pasukan kaum Muslimin jauh lebih banyak dari personil yang mempertahankan kota Konstantinopel. Komposisi persis balatentara kaum Muslimin yg diberangkatkan tidak dapat diketahui, yang jelas ekspedisi ini dipimpin oleh Ahlusy-Syām yg merupakan bangsa Arab dari Syria dan Jazaira yang menjadi tulang-punggung ketentaraan Khilafah Umayyah pada waktu itu. Ahlusy-Syam ini adalah pasukan yang loyalitasnya kepada Khilafah Umayyah tidak diragukan lagi dan sebagian besar pasukannya berstatus veteran berbagai konflik dengan Byzantium sebelumnya. Selain Maslamah, catatan Theophanes dan Agapius juga mencatat sosok pimpinan lainnya seperti ‘Umar ibn Hubayra, Sulayman ibn Mas’ud, dan Bakhtari ibn al-Hasan. Sedangkan pada Kitāb al-‘Uyūn nama Bakhtari tidak ada, karena digantikan dengan ‘Abdallah al-Battal.

Walaupun ekspedisi militer ini menyedot sumber daya dan personil khilafah dalam jumlah yang besar, namun khilafah masih dapat melancarkan berbagai serbuan ke wilayah perbatasan Byzantium di Anatolia sepanjang durasi ekspedisi tersebut. Sebagai contoh pada tahun 717, anak dari khalifah Sulayman yg bernama Daud, berhasil merebut benteng di dekat Melitene. Pada tahun 718 juga dikabarkan bahwa ‘Amr ibn Qays menyerbu perbatasan secara besar-besaran.

Pada pihak Byzantium tidak ditemukan jumlah yg spesifik akan tetapi mereka dapat mengandalkan balatentara Bulgars yg memiliki perjanjian aliansi militer. Leo memperkirakan bahwa suatu saat kaum Muslimin pasti mencoba merebut kotanya lagi dan kerjasama dengan bangsa Bulgars memiliki nilai yang strategis.

Pengepungan

Pada awal musim panas, Maslamah memerintahkan armadanya untuk menyeberangkan angkatan darat yg beliau pimpin melalui selat Hellespont (Dardanelles) di Abydos dan terus bergerak ke wilayah Thrace. Sekitar pertengahan Juli atau Agustus pasukan Maslamah berhasil mencapai kota Konstantinopel dan mereka segera membangun 2 baris benteng dari batu. Satu menghadap ke arah kota sedangkan, satunya lagi menghadap ke daerah terbuka Thrace, dan mereka membangun tenda diantara keduanya.

Menurut sumber-sumber sejarah kaum Muslimin pada saat itu Leo menawarkan upeti berupa 1 keping uang emas untuk setiap penduduknya. Tawaran ini tentu saja ditolak oleh Maslamah karena ia bertekad untuk menaklukkannya. Armada laut kaum Muslimin kemudian tiba dibawah pimpinan Sulayman (bukan sang khalifah) pada hari Rabu 20 Muharam 99 Hijriah (1 September 717) dan merapat dekat Hebdomon untuk mengistirahatkan awaknya. Dua hari kemudian armada ini bergerak ke berbagai arah; sebagian menduduki Eutropios dan Anthemios untuk menjaga arah selatan Selat Bosphorus, sebagian lagi melewati kota Konstantinopel menuju Galata dan Kleidion yang memutus akses Konstantinopel ke arah Laut Hitam.

Sebuah kejadian mengenaskan terjadi ketika rombongan paling belakang yang terdiri atas 20 kapal angkut dengan 2.000 marinir kaum Muslimin menghadapi perubahan angin yang mendadak sehingga kapal-kapal berat itu terdorong ke arah benteng pertahanan kota hingga masuk jarak tembak. Kedua puluh kapal ini menjadi mangsa empuk Greek Fire yang membakar mereka hidup-hidup; sebagian yang masih dapat melarikan diri bahkan harus berjuang dari kejaran kapal Byzantiun dan akhirnya mengambil posisi bertahan di kepulauan Princes di Oxeia dan Plateia.

Kemenangan kecil ini membuat Leo menjadi berani untuk melawan. Theophanes mencatat bahwa kapal yang membawa marinir ini merupakan salah satu andalan Suleyman yg telah berencana untuk menyerang dinding kota yang menghadap ke laut pada malam hari. Leo mengambil langkah pencegahan berikutnya dengan membentangkan rantai pertahanan dari kota menuju Galata guna mencegah terobosan lawannya ke arah teluk Golden Horn. Aksi pertahanan ini mengendurkan semangat angkatan laut kaum Muslimin dan mereka untuk sementara mundur ke dermaga Sosthenion yang terletak lebih ke utara Selat Bosphorus pada sisi Eropa. Melemahnya blokade laut berarti kota Konstantinopel dapat membawa masuk logistik tambahan bagi keperluan konsumsi internal mereka. Angkatan darat kedua kaum Muslimin yang beroperasi pada sisi Asia juga membantu mengirimkan logistik ke posisi Maslamah.

Ketika pengepungan memasuki musim dingin maka negosiasi mulai terbuka dari kedua belah pihak; sesuatu yg banyak ditulis oleh catatan sejarah kaum Muslim tetapi tidak dihiraukan oleh sejarawan Byzantium. Leo memainkan diplomasi dua muka terhadap kaum Muslimin; kadang ia keras untuk mendapatkan dukungan penduduk kota namun kadang ia lunak untuk menekan para pendukung Theodosius yg masih memusuhinya.

Musim dingin tahun 718 sangat parahh dimana salju menutupi tanah selama 3 bulan sehingga menghabiskan cadangan logistik kaum Muslimin sampai kelaparan melanda dan wabah penyakit merebak.

Secerah Harapan yang Sirna

Keadaan yang serba buruk bagi pasukan Maslamah seperti mendapatkan harapan baru ketika khalifah ‘Umar II ibn ‘Abdul ‘Aziz (memerintah tahun 717-720) mengirimkan 2 armada bantuan. Satu berkekuatan 400 kapal dari Mesir dipimpin Sufyan dan satu lagi 360 kapal dari Ifriqiyah dipimpin ‘Izid; keduanya sarat perbekalan dan persenjataan. Pada saat yg bersamaan balatentara bantuan mulai bergerak melintasi perbatasan Anatolia. Ketika kedua armada tiba, mereka menghindari jangkauan tembak Greek Fire dan berlabuh pada pesisir Asia. Armada dari Mesir buang sauh di Teluk Nicomedia dekat Tuzla dan armada Ifriqiyah di pesisir Chalcedon di beberapa tempat seperti Satyros, Bryas, dan Kartalimen.

Satu hal yang kurang menjadi perhatian adalah bahwa sebagian besar awak kapal ini adalah bangsa Mesir yg beragama Nasrani itu berpotensi membelot. Benar saja, ternyata mereka ini sudah membocorkan informasi lebih dahulu sehingga Leo mengambil inisiatif untuk melakukan serangan mendadak dengan angkatan lautnya. Sebagian besar hancur terbakar, sebagian lagi dikuasai dengan bantuan pembelotan, dan selebihnya ditenggelamkan.

Sementara kota Konstantinopel sudah aman dari serangan laut, Leo mengirimkan satuan darat untuk mengantisipasi kedatangan rombongan perbantuan yang besar kemungkinan informasinya sudah bocor juga. Rombongan bala bantuan kaum Muslimin dibawah pimpinan Mardasan itu berhasil dijebak dan dikalahkan dekat Sophon, Nicomedia bagian selatan.

Kota Konstantinopel memiliki alasan yang kuat untuk kembali bersemangat untuk melawan kepungan ini, bahkan para nelayan berani melaut karena armada kaum Muslimin mulai jarang terlihat. Dalam kondisi kelaparan dan memburuknya situasi, Theophanes mencatat Maslamah menderita sebuah kekalahan lagi dari bangsa Bulgars dan kehilangan sekitar 22.000 personil. Serangan ini bisa dilihat sebagai bagian dari kesepakatan antata Bulgars dan Leo III atau sebagai serangam balasan atas elemen pasukan Maslamah yang mencoba mengumpulkan logistik dari wilayahnya; begitu menurut catatan Chronicle Syriac tahun 846.

Keputusan Mundur

Menurut catatan Michael the Syrian, bangsa Bulgars sudah menyerang kaum Muslimin sejak mereka mendarat pertama kali. Maslamah harus menjaga keutuhan pasukannya ketika menembus wilayah Thrace menuju batas kota Konstantinopel. Babak ini tidak kita dapatkan dari catatan lainnya.

Kegagalan ekspedisi militer ini sudah sampai ke khalifah ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz dan beliau memutuskan setelah 13 bulan agar Maslamah menarik mundur balatentaranya. Perintah mundur dikeluarkan oleh Maslamah pada hari Senin 13 Muharam 100 Hijriah (15 Agustus 718). Badai dan permasalahan lain yang menimpa perjalanan mundur kaum Muslimin sampai Theophanes mencatat hanya 5 kapal yang selamat balik ke Syam dengan total korban tidak kurang dari 100.000 jiwa.

Kesudahan

Kegagalan ekspedisi ini jelas melemahkan kekuatan Khilafah Bani Umayyah dengan cukup terkurasnya sumber dana sehingga mendorong ketegangan finansial maupun bibit-bibit penolakan terhadap kebijakan Damaskus. Hancurnya 3 armada laut sekaligus membuat kekuatan militernya di Mediterranean bagian timur kurang disegani lawan.

Walaupun kekalahan angkatan darat Khilafah Umayyah tidak sedahsyat angkatan lautnya, namun sempat menjadi pertimbangan bagi Khalifah ‘Umar II untuk menghentikan aktivitas militer di Hispania dan Transoxiana serta menarik mundur pasukannya dari Cilicia dan wilayah Byzantium lainnya. Hal sedrastis ini tidak disepakati oleh para amir dan penasihat khalifah sehingga hanya wilayah perbatasan Byzantium yg dikosongkan dimana di Cilicia hanya benteng Mopsuestia yg tetap dipertahankan sebagai pertahanan kuat bagi akses ke kota Antioch.

Serbuan Balik Byzantium

Dari pihak Byzantium, kemenangan ini merupakan momentum yang dimanfaatkan secara optimal dengan merebut kembali wilayah Armenia bagian barat walau sementara sifatnya. Pada tahun 719, armada Byzantium menyerbu pantai Syria dan melumatkan kota Laodicea. Pada tahun 720 dan 721, armada Byzantium juga menyerbu pantai Mesir dan menghancurkan kota Tinnis. Kemajuan lain adalah Leo menguasai kembali Sisilia yang memberontak dibawah Basil Onomagoulos ketika pengepungan oleh Maslamah atas Konstantinopel diperkirakan berhasil. Satu-satunya kemnuduran bagi Byzantiim adalah lepasnya pulau Sardinia dan Cirsica dari kekuasaannya.

Hanya saja, Byzantium tidak mencoba ekspedisi serupa terhadap wilayah kaum Muslimin. Sehingga pada tahun 720, setelah dua tahun kosong, serbuan terhadap wilayah Byzantium kembali dilancarkan oleh kaum Muslimin. Namun serangan tersebut tidak lagi sebesar sebelumnya dan tidak lagi diarahkan untuk menggempur Konstantinopel. Serangan oleh Khilafah Umayyah kembali menguat selama 2 dekade sampai terhenti setelah kekalahan di Pertempuran Akroinon tahun 740. Setelah itu tidak lama kemudian terjadi Revolusi ‘Abbasiyah pada tahun 750 yang menyudahi kesemangatan Bani Umayyah dalam mewujudkan Latuftahanna.

Catatan Lintas Era

Salah seorang komandan kesatuan kawal pada ketentaraan Maslamah adalah ‘Abdullah al-Battal yang memimpin benerapa serbuan ke wilayah Byzantium pada dekade selanjutnya. Al-Battal menjadi sebuah inspirasi tersendiri bagi bangsa Turki yang datang pada era berikutnya; beliau dikenal sebagai “Battal Gazi” yang menjadi legenda di kalangan pasukan Turki Utsmani nantinya.

Sebuah masjid yang didirikan pertama kali di kota Konstantinopel juga diriwayatkan dibangun pada era ekspedisi pimpinan Maslamah. Masjid yang berlokasi dekat markas Praetorium ini lebih mungkin dibangun pada masa diplomasi Khilafah ‘Abbasiyah pada tahun 860. Catatan lain adalah pembangunan Masjid Arab (Arap Cami) di Galata yang juga dialamatkan kepada Maslamah tetapi dicatat pada tahun 686. Hali ini mungkin sebuah kesalahan persepsi terhadap ekspedisi pertama tahun 670.

Agung Waspodo, tertarik untuk menelusuri lebih lanjut antara kegemilangan era ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz pada sektor perekonomian ummat dan hubungannya terhadap kekalahan ini dan dampaknya bagi babak terakhir Khilafah Umayyah, setelah berlalu 1.297 tahun, lewat 4 hari.. maaf pekan ini benar-benar padat.

Depok, 19 Agustus 2015.. pagi sebelum berangkat.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Menjawab Mengapa Turki Anggota NATO (Agar Tidak Terjebak Pada Berbagai Sangkaan)

Pemateri: Ust. Agung Waspodo, SE, MPP

Krisis Selat-Selat Turki
Memasuki Tingkat Tinggi: 7 Agustus 1946 s/d 30 Mei 1953

Krisis selat-selat Turki (Dardanelles dan Bosphorus) merupakan bagian dari konflik yang berlarut-larut hingga masuk ke periode Perang Dingin (Cold War) yang mencakup konflik teritorial antara Uni Soviet dan Turki.

Turki, yang secara resmi berposisi netral selama kurun waktu Perang Dunia Kedua yang waktu itu baru saja berakhir, mendapatkan tekanan dari pemerintah Uni Soviet untuk membebaskan pelayaran negerinya melalui kedua selat yang menghubungkan antara Laut Hitam dan Laut Tengah (Mediterranean).

Pemerintah Turki tidak bergeming dari tekanan tersebut sehingga suhu perpolitikan di region tersebut meningkat tajam. Uni Soviet membalas sikap Turki tersebut dengan menggelar kekuatan laut di dekat perbatasannya. Insiden ini kelak menjadi faktor penting dalam pelaksanaan Doktrin Truman bagi meluasnya hegemoni Amerika Serikat pada waktu itu. Pada puncak krisis, Turki akhirnya terpaksa memeinta dukungan Amerika Serikat untuk mendapatkan dukungan serta kemudian memuluskan langkah menjadi anggota NATO. Keputusan tersebut terus mempengaruhi politik luar negeri Turki hingga kini.

Kepentingan

Kedua selat penghubung Laut Hitam dan Laut Mediterranena itu sangat penting bagi jalur perdagangan antara negara-negara yang memiliki akses ke Laut Hitam kepada dunia. Apalagi waktu itu Uni Soviet, Romania, dan Bulgaria berada pada satu pihak Pakta Warsawa yg berlawanan arah dengan NATO. Posisi kedua selat ini tentu saja sangat strategis dalam perspektif militer dimana kendalinya akan mempengaruhi strategi perang di region tersebut.

Latar Belakang Politik

Konflik ini memiliki akar permasalahan dari hubungan Uni Soviet-Turki pada masa persis sebelum Perang Dunia Kedua. Keduanya memiliki hubungan yg dekat bahkan erat pada paruh terakhir dekade 1930an. Sebelum era tersebut, Russia Bolshevik dan Turki Utsmani pernah menyepakati untuk mempererat kerjasama pada Perjanjian Moscow.

Konvensi Montreaux yang membahas tentang masalah yang sama pernah disepakati pada tahun 1936 dimana negara-negara seperti Australia, Bulgaria, Perancis, Jerman, Jepang, Uni Soviet, Turki, Inggris Raya, dan Yugoslavia telah menyepakati bagaimana Turki memainkan perannya sebagai pemilik kedua selat strategis itu; baik dalam kepentingan hubungan perdagangan maupun militer.

Perselisihan Perbatasan

Uni Soviet menginginkan agar perbatasannya dengan Turki do daerah timur region Anatolia dapat dinormalisasikan guna menguntungkan negaranya serta Armenia dan Georgia. Bahkan salah seorang deputi kepala negara, Lavrentiy Beria, “membisikan” kepada Stalin bahwa perbatasan di barat-daya Georgia itu dahulu dirampas pada era Turki Utsmani. Klaim ini jika disetujui tentu saja dapat meningkatkan pengaruh Uni Soviet di Timur Tengah dan menunrunkan pengaruh Inggris dan Amerika Serikat dikemudian hari. Klaim ini nantinya ditarik dengan terpaksa oleh Uni Soviet setelah bulan Mei 1953.

Kasus Kapal Perang Amerika Serikat

Setelah kalahnya Jerman Nazi oleh pihak Sekutu, maka Uni Soviet mulai mengangkat klaimnya pada tahun 1945-46. Sepanjang tahun 1946 berlangsung banyak pertemuan rahasia antara para diplomat Turki dan Amerika Serikat membahas tentang isu tersebut. Uni Soviet semakin berang setelah Turki juga mulai membiarkan kapal-kapal perang bukan dari negara Laut Hitam lalu lalang di selat-selat tersebut; terutama menjelang akhir Perang Dunia Kedua dan sesudahnya.

Pada tanggal 6 April 1946, kunjungan kapal perang Amerika Serikat USS Missouri semakin membuat Uni Soviet meradang. Turki menjelaskan bahwa kapal tersebut datang dalam kunjungan persahabatan sekaligus membawa pulang jenazah perdana menteri Turki utk AS; tentu saja penjelasan ini tidak diterima Uni Soviet.

Walaupun kunjungan Missouri itu bukan sesuatu yg mengagetkan Uni Soviet namun hal tersebut jelas melanggar Konvensi Montreux yg memicu dilayangkannya nota protes dari kedubes US di Washington D.C. dengan Nikolai Vasilevich menyebutnya sebagai demonstrasi politik dan militer menantang Uni Soviet.

Posisi Amerika Serikat

Ketika konflik ini diangkat di Konferensi Potsdam, persiden AS Harry S. Truman mengatakan bahwa permasalahan itu sebaiknya diselesaikan oleh kedua negara yg bersangkutan saja. Seiring dengan memanasnya perdebatan antar kedua negara setelah konferensi tsb barulah AS mengoreksi netralitasnya dalam hal ini dengan menyebutkan posisinya yg tidak menghendaki selat-selat tersebut jatuh ke tangan Uni Soviet. Bahkan muncul argumen bahwa AS juga tidak ingin Turki menjadi negara komunis.

Dukungan AS dan Negara Barat Lainnya

Pada musim panas 1946, Uni Soviet meningkatkan penggelaran kapal perangnya di Laut Hitam, bahkan terjadi peningkatan jumlah pasukan di negara-negara Balkan yg termasuk dalam blok Pakta Warsawa. Setelah beberapa waktu, Turki terpaksa meminta bantuan Amerika Serikat dalam bentuk pinjaman lunak untuk menungkatkan kemampuan perangnya.

Setelah melalui serangkaian rapat yg intensif, akhirnya Presiden Truman mengirim Satuan Tugas Tempur AS ke Turki. Pada 9 Oktober 1946, secara resmi negara AS dan Kerajaan Inggris menguatkan dukungannya kepada Turki. Pada tanggal 26 Oktober 1946, Uni Soviet menarik tuntutannya atas perlunya pertemuan baru utk membahas konflik ini walau tidam pernah mencabut sikapnya. Tidak lama setelah itu seluruh kekuatan militer intimidasi ditarik balik ke pangkalannya.

Turki kemudian mengambil sikap melepaskan netralitasnya dan menerima bantuan AS sebesar $100 juta dalam bentuk bantuan ekonomi dan militer pada tahun 1947. Bantuan ini dicairkan melalui Doktrin Truman yg hendak membendung perluasan pengaruh Uni Soviet; dalam region ini khususnya ke Yunani dan Turki. Kemudian kedua negara tersebut bergabung dengan NATO pada tahun 1952. Pada tahun yg sama, pada tanggal 16 Oktober 1952, Stalin wafat.

Agung Waspodo, mulai sedikit memahami mengapa Turki menjadi anggota NATO, 68 tahun kemudian.. sungguh amat telat!

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Da’wah Terbuka (جهريّة الدعوة)

Pemateri: DR. WIDO SUPRAHA

Beberapa tahun lamanya Rasulullah Saw berdakah secara sembunyi-sembunyi (sirriyyah) hingga Allah Swt. menurunkan kewajiban untuk berdakwah secara terbuka (jahriyyah).

Ragam ujian mulai terasa berat bagi Nabi Saw dan para pengikutnya, namun semangat dakwah yang kuat di atas iman menjadikan sebagian kaum muslimin begitu berani tampil di muka umum untuk memperlihat kan kebenaran Islam.

Faktor dukungan keluarga besar menjadi salah satu penguat dakwah Nabi Saw. hingga periode tertentu.

Tiga tahun atau empat tahun, wallaahu a’lam, dilewati Rasulullah Saw berdakwah sirriyyah hingga turun firman Allah Swt. dalam Surat Al-Hijr.

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.”

Kata fashda’ bermakna menyeleksi antara kebenaran dengan kebathilan.[1]

Dengan penuh keberanian dan semangat ‘bersegera’, Rasulullah Saw. yang terkenal manusia paling jujur dan terpercaya di masanya itu mengumpulkan manusia dari atas bukti Shafa, dan memanggil masyarakat baik dari Bani Firh, Bani ‘Adi, dan kalangan lainnya.

Tidak umumnya perilaku Nabi Saw ini, menghadirkan perasaan di masyarakat bahwa ada sesuatu yang serius yang akan diumumkan, sehingga orang-orang yang berhalangan untuk hadir sampai mengirimkan perwakilannya hanya untuk mendengar apa pengumuman yang akan disampaikan Nabi Saw. Setelah banyak masyarakat yang berkumpul, Nabi Saw mengumumkan satu berita penting sebagaimana Surat Al-Hijr [15] ayat 89,

Dan katakanlah: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan”.

Mendengar seruan dari Nabi Saw. yang tentu tidak pernah terpikirkan sama sekali dalam alam pikiran mereka, dan tidak pernah disangka-sangka, namun karena datang dari manusia yang paling terpercaya, banyak yang kemudian mencoba memahami seruan tersebut kecuali Abu Lahab yang bersegera menolak secara terang-terangan dakwah Nabi.

Penolakan yang keras ini sampai menurunkan firman Allah Swt dalam Surat Al-Lahab [111].

Pasca pengumuman, turunlah Nabi Saw dari atas bukit dan ‘bersegera’ memulai dakwahnya kepada keluarganya yang terdekat seperti Bani Ka’b bin Lu’ai, Bani Murrah bin Ka’b, Bani Abdi Syams, Bani Abdul Muththalib, Fatimah, dan lainnya sebagaimana perintah yang khusus ini turun, meskipun perintah sejenis secara umum telah turun sebelumnya, memperlihatkan pentingnya mengkonsentrasikan dakwah kepada para keluarga. Allah Swt. berfirman dalam Surat Asy-Syu’ara [25] ayat 214-215:

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat;
Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.”

Surat ini diawali dengan kisah Nabi Musa a.s. dari awal nubuwwah hingga hijrahnya bersama Bani Israil hingga kisah tenggelamnya Fir’aun dan para pengikutnya.

Tahapan dakwah Musa a.s. perlu disampaikan agar Nabi Saw dan para sahabatnya mendapatkan sedikit gambaran yang bakal dihadapi pasca deklarasi dakwah terbuka.

Di sisi lain, surat ini juga memuat kesudahan yang dialami para pendusta Rasul, baik dari kaum Nabi Nuh, ‘Ad, Tsamud, Ibrahim, Luth, dan Ash-habul Aikah, agar masyarakat mengetahui hukuman yang bakal diturunkan jika mereka mendustakan, dan kesudahan baik bagi orang-orang beriman. [2]

Namun, cara berpikir mayoritas kaum musyrikin Makkah adalah berpegang teguh pada tradisi nenek moyang yang tidak mungkin mereka tinggalkan.

Semangat taqlid yang tinggi atas adat istiadat yang telah mereka pegang teguh sejak lama mengalahkan hakikat kebenaran yang hakiki.

Pemikiran seperti ini tentu bukan pemikiran yang cerdas, sementara Islam justru mendorong daya nalar dan kritis manusia atas segala sesuatu.

Dari sinilah kita menjadi paham, bahwa terminologi ‘tradisi’ bukanlah milik Islam, dan tidak sepantasnya kaum muslimin terbiasa menggunakan istilah ini, karena tradisi erat kaitannya dengan warisan turun temurun yang membutuhkan referensi kebenaran, sementara Islam hadir untuk membebaskan akal manusia dari ragam tradisi kepada ilmu yang datang dari-Nya.[3]

Ketika tradisi menjadi candu, maka ilmu menjadi obatnya. Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Baqarah [2] ayat 170:

Dan apabila dikatakan kepada mereka:
“Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,”

Mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”.

“(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.

Sebagian dampak permusuhan Nabi kepada berhala-berhala yang disembah, keteguhannya dalam memegang dasar iman yang tidak berkompromi dengan kemusyrikan pada akhirnya mulai melahirkan ujian yang berat, di antaranya penyiksaan kaum musyrikin terhadap kaum muslimin yang terus bertambah, sampai-sampai sebagian dari mereka wafat di dalam penyiksaan, atau terdapat juga yang buta karenanya. [4]

Ragam upaya kaum Musyrikin untuk menghentikan laju dakwah Nabi Saw. terus dilancarkan. Ketika Abu Thalib, pamannya sendiri meminta Nabi Saw. untuk menghentikan dakwahnya,

Nabi Saw. menjawab dengan tegas bahwa kemenangan Islam menjadi tujuan utamanya, atau mati dalam mendakwahnya, meskipun Matahari diletakkan di tangan kanannya dan Bulan diletakkan di tangan kirinya. Ketika Rasulullah thawaf di Makkah dan kemudian diganggu oleh beberapa orang kaum kafir, Rasulullah mendatangi dan balik memberi peringatan dengan tegas.

Ketika esok harinya, lebih banyak lagi kaum kafir hadir mengganggu Thawaf Nabi Saw., hingga Uqbah ibn Abi Mu’aith sampai memegang baju atau surban Nabi Saw., hadir Abu Bakar yang membubarkannya.

Ketika suatu ketika, sembari berpegangan tangan, Nabi Saw., Abu Bakar r.a. dan ‘Utsman bin ‘Affan r.a., berthawaf, kembali diganggu oleh Uqbah ibn Abi Mu’aith, Abu Jahal bin Hisyam, dan Umayyah bin Khalaf, hingga terjadi perkelahian kecil dimana Utsman mendorong Abu Jahal, Abu Bakar melawan Umayyah dan Rasulullah Saw sendiri melawan Uqbah. [5]

Kebenaran Islam sejak awal didakwahkan secara terbuka adalah mendahulukan keilmiahan daripada mistisisme, apalagi materialisme.

Sosok ‘tetua’ seperti Al-Walid bin Al-Mughirah juga tidak menemukan kebenaran akan usulan para kafir Quraisy saat musim haji untuk menuduh Nabi Saw sebagai seorang dukun, orang gila, penyair, atau tukang sihir. Ia lebih memilh penyihir dalam pengertian majazi.

Namun kedudukan tinggi di mata masyarakat menjauhkan Al-Walid dari kebenaran, hingga Allah mengecam dengan turunnya Surat Al-Muddatstsir ayat 11-16, juga 17-22, dan 23-25.

Kebenaran inilah yang membuat Abu Thalib semakin kokoh dalam membela Nabi, meski ia ditawarkan untuk mengganti keponakannya dengan Imarah bin Al-Walid.

Kebenaran inilah yang membuat Hamzah bin Abdul Muththalib sampai memukul Abu Jahal, dan bersaksi sebagai Muslim.

Kebenaran inilah yang menjadikan Nabi Saw tegar dalam prinsipnya meski diiming-imingi harta, posisi pemimpin, raja, atau pengobatan atas ‘sakit gila’ beliau.

Namun Nabi Saw. hanya menjawab dengan Surat Fushshilat ayat 1-5, ayat yang membuat ‘Utbah bin Rabi’ah tidak bisa berkata-kata lain kecuali menikmati kebenaran yang hakiki.

***

Maraji’

1] Ibn Ishaq, Sirah Nabawiyah

2] Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhthum, Bahtsum fi As-Sirah An-Nabawiyyah ‘ala Shahibiha afdhal ash-Shalati wa as-Salam, Riyadh: Dar As-Salam, 1414H

3] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, Fiqh As-Sirah: Dirasat Minhajiah ‘Ilmiyah li-Shirat al-Musthafa ‘alaihi shalatu wa salam, Libanon: Dar al-Fikr, 1977

4] Musthafa as-Siba’i, As-Sirah An-Nabawiyyah, Kairo: Dar as-Salam

5] Ibn al-Jauzi, Al-Wafa’ bi Ihwal al-Musthafa shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, Beirut: Maktabah al-‘Ashriyyah, 2004

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Pilihan Dakwah Rahasia (سرّية الدعوة)

Pemateri: DR. WIDO SUPRAHA

Dakwah yang pertama kali dipilih oleh Rasulullah Saw atas perintah dakwah yang telah diturunkan adalah secara rahasia.

Pilihan ini dibuat berdasarkan kebutuhan masa awal pengembangan Islam untuk melahirkan kemaslahatan agama yang lebih besar.

Sejarah memperlihatkan bahwa pilihan itu adalah pilihan yang tepat.

Dakwah dengan segera telah dimulai Nabi Muhammad Saw. ketika turun Surat Al-Muzzamil

“Bangunlah, lalu berilah peringatan!”

 Ayat 1-7 dari surat ini memberikan pelajaran yang besar dalam dakwah, dan tujuh ayat ini diakhiri dengan perintah kesabaran.

Ayat-ayat ini merangkum seluruh hal mendasar yang dibutuhkan dalam kerja dakwah.[1]

1. Menjaga eksistensi agama jauh lebih utama dari sekedar eksistensi diri

Tentu dapat dibayangkan bahwa dakwah yang baru disemai ini harus lenyap karena kehilangan pengusungnya sementara infrastruktur kekuatan belum terbangun sama sekali.

Maka menjaga kemaslahatan yang lebih besar tentu jauh lebih diprioritaskan.

Tercatat dalam sejarah tokoh-tokoh yang masuk dalam asabiqunal awwalun, adalah Abu Bakar As-Shiddiq yang kemudian diikuti Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Demikian juga Khadijah Al-Kubra yang diikuti Zaid bin Haritsah, dan Waraqah bin Naufal.

Tidak lupa tokoh besar seperti Ali bin Abi Thalib,[2] dan Arqam bin Abi Arqam.

Maka masuklah kemudian golongan berikutnya seperti Bilal bin Rabah, Abu Ubaidan Amir bin Al Jarrah, Abu Salaman bin Abdul Asad, Arqam bin Abil Arqam al-Makhzumy, Utsman bin Mazh’un dan kedua saudaranya, Qudamah dan Abdullah, Ubaidan bin Al-Harits bin Al-Muththalib, Sa’id bin Zaid dan istrinya Fathimah binti al-Khaththab al-Adawiyyah, Khabbab nin Al-Aratt, Abdullah bin Mas’ud, dan laiinya.[3]

2. Tabi’at Dakwah Para Nabi dan Rasul adalah diikuti oleh mayoritas lapisan akar rumput.

Dakwah para Nabi pada tahap awal lebih banyak disambut oleh masyarakat yang fakir, lemah dan bahkan kaum budak.[4]

Shuhaib ar-Rumi dan Bilal al-Habsyi adalah contoh paling tepat yang menyambut seruan Islam meski mereka berasal dari negeri asing.

Dalam hal ini kita dapat melihat sejarah dakwah Nabi Nuh a.s., Nabi Musa a.s., dan Nabi Shaleh a.s.

Allah berfirman dalam Surat Hud ayat 27,

“Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”.”

Allah berfirman dalam Surat Al-A’raf [7] ayat 137,

“Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya.

Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka.

Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.”

Allah berfirman dalam Surat Al-A’raf [7] ayat 75-76,

“Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka:
“Tahukah kamu bahwa Shaleh di utus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?”.

Mereka menjawab:
 “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya”.”

Ketika dakwah mulai diikuti 30 orang, Rasulullah Saw mulai menetapkan satu tempat untuk meningkatkan pembinaan Islam.

Maka dipilihlah rumah Arqam bin Abi Arqam yang juga telah masuk ke dalam Islam. Nabi membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah yang turun kepadanya.[5]

3. Tabiat Penolakan Kaum Elit adalah egoisme daripada penolakan kebenaran

Sebagai contoh dapat kita saksikan dalam peristiwa peperangan Al-Qadisiyah, khususnya menarik mencermati dialog Rustum (komandan Persia) dan Rub’i bin Amir (prajurit dalam komando Sa’ad bin Abi Waqqash).

Proses dakwah secara rahasia ini berlangsung selama kurang lebih 3 tahun,[6] sebelum kemudian dakwah secara terang-terangan nantinya diperintahkan Allah ketika jumlah kaum muslimin telah mencapai minimal 30 orang.

Turunlah firman Allah Swt dalam Surat Al-Hijr ayat 94.

Maraji’

1] Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum, Bahtsum fi As-Sirah an-Nabawiyah ‘ala Shahibiha afdhalish-Shalati wassalam, Riyadh: Darussalam, 1414H

2] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Zaad al-Ma’ad, Jilid 3, Dar at-Taqwa lil Nasyr wa at-Tauzi’, 1999

3] Ibn Ishaq, As-Sirah An-Nabawiyah

4] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, Fiqh as-Sirah: Dirasat Minhajiah ‘Ilmiyah li-Shirat al-Musthafa ‘alaihishshalatu wa salam, Libanon: Darul Fikr, 1977

5] Musthafa as-Siba’i, As-Sirah An-Nabawiyah, Kairo: Dar as-Salam, Cet. I, 1998
6] Ibnul Jauzi, Al-Wafa bi Ahwali al-Musthofa, Beirut: Maktabah al-‘Ashriyah, 2004

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Dari Seorang Nabi Palsu, Menjadi Seorang Pejuang Tauhid

Pemateri: Ust. Agung Waspodo, SE, MPP

Pertempuran Buzakha – September 632

Pertempuran pada bulan Jumadits Tsani 11 Hijriah (September 632) ini mempertemukan Khalid ibn al-Walid (ra) Thulayha ibn Khuwailid ibn Nawfal al-Asadi.

Latar Belakang

Thulayha adalah seorang kepala suku Arab dari Banu Asad ibn Khuzaymah yang kaya raya dan terkenal, namun ia menolak bahkan memerangi Nabi Muhammad (saw) ketika menyampaikan da’wahnya. Pada tahun 625, yaitu 2 tahun setelah hijrah, ia dikalahkan dalam Pertempuran Qatan yang merupakan serangan mendadak oleh kaum Muslimin dipimpin Abu Salamah (ra) ketika Banu Asad sedang bersiap untuk mengepung kota Madinah.

Kekalahan itu tidak membuatnya jera, bahkan ia turut bergabung dengan suku Quraysh lainnya bersama suku Yahudi dalam mengepung kita Madinah dalam Pertempuran Khandaq/al-Ahzab pada tahun 627.

Pada tahun 630, ia masuk Islam langsung dihadapan Nabi Muhammad (saw) tidak lama setelah Makkah dibebaskan dari kejahiliahan. Namun, setahun setelah itu ia memberontak dengan mengklaim dirinya juga mendapat wahyu sebagai nabi. Thulayha menjadi orang ketiga yang mengklaim kenabian diantara bangsa Arab. Pengakuan dari berbagai suku Arab lainnya membuat Thulayha lupa diri dan ambisius untuk membentuk konfedetasi suku Arab melawan kaum Muslimin.

Kekuatan yang Bertarung

Pada bulan Juli 632, khalifah Abu Bakr (ra) memobilisir pasukan untuk memerangi suku-suku Arab yang memberontak. Balatentara ini dibagi 3 dengan komandannya masing-masing diserahkan kepada ‘Ali ibn Abi Thalib (ra), Talhah ibn ‘Ubaidillah (ra), dan az-Zubayr ibn al-Awwam (ra). Balatentara kaum Muslimin ini menyerang konfederasi pimpinan pengaku nabi Thulayha di Pertempuran Dzu al-Qassa yang juga merupakan pendadakan (pre-emptive strike) pada pusat penggalangan kekuatan lawannya. Kekalahan tertimpa pada pihak Thulayha dan memaksa mereka mundur ke ke Dzu al-Hassa.

Kini Abu Bakr (ra) menugaskan Khalid ibn al-Walid (ra) untuk menghancurkan sisa kekuatan Thulyha, kedua kekuatan ini berjumpa di sebuah tempat yg bernama Buzakha. Khalid (ra) berkekuatan 6.000 personil sedangkan Thulayha memiliki 15.000 personil yang loyal kepadanya.

Pertempuran

Khalid (ra) menantang duel Thulayha sebelum pertempuran. Ia menyambut ajakan duel tersebut namun cidera hingga lari berlindunh di belakang pasukannya. Pertempuran ini berlangsung sengit, dalam jarak dekat, serta bertubi-tubi dimana kemenangan terlihat akan jatuh kepada pihak yang paling kokoh. Hampir tidak ada manuver-manuver taktis yang menjadi ciri khas Khalid (ra) dikemudian hari terlihat pada pertempuran ini. Keahlian tanding pasukan Muslimin secara individual sangat menonjol pada pertempuran ini. Dengan perbandingan 1:2 pasukan Muslimin yang lebih sedikit berhasil kemudian mendapatkan kemenangan.

Setelah kekalahan telak yang menimpa suku-suku pendukung Thulayha, banyak yang kemudian insyaf dan masuk Islam kembali. Namun Thulayha berhasil lolos kembali dan bersembunyi di Syam. Setelah Syam pula berhasil ditaklukkan kaum Muslimin barulah Thulayha menerima Islam secara menyeluruh.

Setelah itu, Khalid (ra) diperintahkan langsung bergerak menuju pusat kekuatan tokoh pemberontak lainnya yang bernama Sajah dan mengalahkannya di Pertempuran Zafar pada bulan berikutnya.

Kesudahan & Kisah Thulayha di Kemudian Hari

Thulayha meminta ampunan kepada khalifah Abu Bakr (ra) dan ia beserta sukunya mendapatkan ampunan tersebut. Namun mereka dilarang Abu Bakr (ra) untuk turut serta berperang bersama kaum Muslimin yang tidak oernah murtad maupun memberontak.

Tahun 634, pada masa kekhilafahan ‘Umar ibn al-Khaththab (ra) barulah Thulayha dan sukunya mendapatkan kesempatan untuk menebis masa lalunya yang kelam. Mereka dikerahkan oleh ‘Umar (ra) untuk berperang di front Irak melawan balatentara Sassania Persia. Pertama kalinya ia berperang pada pihak kaum Muslimin adalah pada Pertempuran Jalula.

Thulayha menuliskan sejarah gemilang pada Pertempuran Qadhisiyya sebagaimana yang tertulis pada kitab Tarikh al-Umam wal-Muluk karya Imam Thabari. Thulayha dan suku Bani Asad menjadi penentu bertahannya pasukan kaum Muslimin di hari pertama dalam pertempuran al-Qadhisiyya yang dikenal sebagai Yaum-ul-Armats (يوم أرماث) atau hari kekacauan  (“The Day of Disorder”). Ia tercatat dalam serbuan seorang diri ke barisan lawan pada malam hari serta berhasil membawa tawanan perang. Ia juga tercatat pernah menerobos hingga ke barisan tenda di lini belakang Sassania serta berhasil merubuhkan tenda-tenda lawan, membunuh 2 pasukan elit Sassania, merampas 2 kuda perang berbaju zirah yang ia bawa kembali ke barisan kaum Muslimin, berikut menyerahkan 1 tawanan kepada panglima Sa’ad ibn Abi Waqqasy (ra).

Thulayha mendapatkan syahidnya di Pertempuran Nihavand dengan mengorbankan jiwa raganya guna memancing balatentara Sassania Persia ke dalam jebakan kaum Muslimin sehingga membawa pada kemenangan yang menjadi titik nadir dan kekalahan total dinasti Sassania.

Agung Waspodo, mencatat sebuah epos kehidupan seorang Thulayha yang berawal sebagai musuh Nabi (saw) namun mengakhirinya sebagai pejuang di jalan Allah Ta’ala. Semoga ia diampuni atas dosanya terdahulu dan diterima sebagai mujahid yang ikhlas.. 1.383 tahun kemudian.

Depok, 2 September.. masuk waktu subuh.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Tipu Daya Berbalas Tipu Daya, Selalu Bersiap Siagalah!

Pemateri: Ust. Agung Waspodo, SE, MPP

Pertempuran di Ascalon – 12 Agustus 1099

Pertempuran yang terjadi pada hari Jum’at 22 Ramadhan 492 Hijriah ini terjadi tidak lama setelah al-Quds direbut oleh Pasukan Salib gelombang pertama dari tangan kerajaan syi’ah Fathimiyah yang berbasis di Mesir. Godfrey de Bouillon memimpin Pasukan Salib yang menghalau rombongan Fathimiyah yang semula hendak membebaskan al-Quds. Pertempuran ini terjadi di luar kota Ascalon pada akhir babak Perang Salib Pertama 1096-99.

Latar Belakang

Pada awalnya Pasukan Salib sudah mencoba bernegosiasi dengan kekuatan Fathimiyah untuk mendapatkan kota al-Quds namun menemui jalan buntu. Selama pergerakan Pasukan Salib menuju al-Quds mereka memperoleh jawaban dari pihak Fathimiyah yang bersedia kehilangan Syria tapi tidak untuk Jerusalem. Tentu saja hal ini memancing emosi Pasukan Salib yang merasa lebih berhak atas gereja Holy Sepulchure; tempat yang diyakini dimana Yesus disalib. Kota al-Quds dikepung dan jatuh pada hari Jum’at 23 Sya’ban (15 Juli) setelah dikepung cukup lama. Setelah kota suci itu jatuh ke tangan Pasukan Salin barulah mereka mengetahui dari arsip surat-menyurat bahwa kekuatan Fathimiyah di Mesir telah mengirimkan bantuan menuju al-Quds.

Dinamika di Pihak Pasukan Salib

Perkembangan ini menuntut Pasukan Salib bergerak cepat; Godfrey de Buillon segera dinobatkan sebagai Defender of the Holy Sepulchre pada tanggal 22 Juli, Arnulf de Chocques sebagai Patriarch of Jerusalem pada 1 Agustus, dan salib-asli True Cross konon ditemukan pada tanggal 5 Agustus. Utusan dari Fathimiyah datang untuk memerintahkan mereka semua keluar dari al-Quds namun ia ancaman tersebut dinilai kosong.

Pada tanggal 10 Agustus, Godfrey memimpin pasukan yang masih dapat dikerahkan setelah pertahanan Jerusalem dicukupkan. Pasukan ini bergerak cepat menuju Ascalon; jaraknya sekitar 1 hari berkuda cepat. Pada saat yang sama, Peter the Hermit memimpin para pemuka agama Katholik dan Orthodox dalam sebuah prosesi dan doa keagamaan Nasrani dari Holy Sepulchure ke bekas Kuil Yahudi. Robert II dari Flanders dan Arnulf turut berangkat menemani Godfrey, tetapi Raymond IV dari Toulouse dan Robert dari Normandy tidak ikut. Mereka tidak langsung bergerak karena adanya perselisihan sebelumnya; namun setelah satuan pengintai mereka memastikan bahaya kebenaran info tersebut, maka keduanya bergegas berangkat menyuaul Godfrey.

Di dekat Ramla keduanya bertemu Tancred dan Eustace (saudara Godfrey) yang pada awal bulan telah diberangkatkan untuk merebut kota Nablus. Balatentara yang sudah berangkat lebih dahulu kini bersemangat karena meyakini bahwa bersama mereka ada salib-asli serta tombak-suci Holy Lance yang dipercayai pernah dipakai untuk menusuk jasad Yesus untuk memastikan kematiannya di tiang salib. Arnulf bertugas membawa salib-asli sedangkan Raymod dari Aguilers membawa tombak-suci dan kedua relik itu dikawal ketat.

Pertempuran

Pasukan Fathimiyah dipimpin oleh menteri al-Afdhal Syahansyah yang membawahi sekitar 50 ribu pasukan; adapula yang mengatakan 20-30 ribu dan bahkan 200 ribu dalam klaim fantastis Gesta Francorum. Balatentara Fathimiyah ini terdiri dari pasukan yang beragam mulai dari bangsa Saljuq, Arab, Persia, hingga Kurdi. Al-Afdhal berencana untuk mengepung dan merebut al-Quds walau hal itu amat disangsikan mengingat ia tidak membawa mesin-kepung seperti katapul manjaniq. Walaupun begitu, ia membawa armada laut dari Mesir yang berlabuh di Ascalon; mungkin di kapal inilah perbekalan serta peralatan untuk mengepung itu dibawa.

Jumlah pasti Pasukan Salib tidak dapat diperkirakan, tetapi Raymond dari Aguliers mencatat 1.200 pasukan berkuda berat serta 9.000 pasukan infanteri. Catatan sejarah yang paling tinggi menghitungnya pada kisaran 20.000 personil.

📌 Tipu Daya Berbalas Tipu Daya 👇

Al-Afdhal mengistirahatkan balatentaranya di Padang al-Majdal di luar kota Ascalon, ia tidak menyadari bahwa Pasukan Salib sedang memacu kudanya dengan cepat menuju kota Ascalon itu sendiri. Pada tanggal 11 Agustus rombongan Pasukan salib menemukan kumpulan hewan ternak yang ditinggalkan merumput di luar kota. Menurut informasi dari pasukan Fathimiyah yang tertawan di Ramla ini adalah jebakan biasa al-Afdhal untuk memecah kekuatan lawan. Oleh sebab itu Pasukan Salib tidak mengamankan hewan tersebut namun justru membawanya di belakang barisan tempur menuju Ascalon. Al-Afdhal yang masih belum menyadari bahaya yang mendatanginya kemudian terkaget melihat begitu besar jumlah Pasukan Salib yang menuju ke posisinya; ia tidak tahu jika debu yang banyak berterbangan itu lebih disebabkan oleh sekumpulan hewan miliknya yang diajak berbaris.

Pada pagi hari Jum’at tanggal 12 Agustus, kesatuan pengintai dari Pasukan Salib menemukan bahwa tenda Fathimiyah dibangun berbaris-baris di luar dinding benteng kota. Pasukan Salib membagi barisannya menjadi 9 divisi dengan Godfrey di lini kiri, Raymond di lini kanan, sedangkan lini tengah dipenuhi oleh pasukan Tancred, Eustace, Robert dari Normandy, dan Gaston IV dari Béarnmade. Setiap divisi dipecah menjadi dua bagian dengan pasukan infanteri berbaris di depan keduanya.

Banyak Jumlah Tapi Lemah Kekuatan 👇

Sumber catatan sejarah dari kedua pihak menyepakati bahwa Fathimiyah terkagetkan dengan serangan ini sehingga pertempuran berjalan singkat, walau Albert of Aix mengatakan sebaliknya dimana pertempuran berlangsung alot dan Fathimiya sudah siap tempur. Kedua pihak saling menembaki dengan lesatan panah sampai keduanya cukup dekat untuk bertempur jarak dekat.

Kontingen infanteri Sudan menyerang lini tengah Pasukan Salib sedangkan pasukan terdepan Fathimiyah berhasil mengepung lini belakang; kondisi genting bagi Pasukan Salib ini terselamatkan oleh datangnya bantuan dari pasukan Godfrey. Jumlah pasukan al-Afdhal yang lebih banyak itu tidak sekuat pasukan Saljuq yang pernah dihadapi Pasukan Salib sehingga mereka masih kuat bertahan.

Keunggulan pertempuran berbalik sehingga kini kesatuan Fathimiyah yang mulai porak poranda hingga mundur tidak teratur; bahkan kesatuan kavaleri beratnya ikut mundur tanpa sempat ikut kontak senjata. Sebagian pasukan Fathimiyah masih dapat mundur ke dalam kota sebelum gerbang ditutup, sebagian yang terkunci di luar terpaksa lari ke pantai atau ke padang belukar sehingga mudah tersusul pasukan berkuda lawan dan banyak yang terbantai di sana. Al-Afdhal juga terpaksa meninggalkan tenda dan perbekalannya ke tangan musuh dan korban jatuh di pihak Fathimiyah sekitar 10-13 ribu personil.

Kesudahan

Pasukan Salib bermalam di tenda-tenda yang tertinggal dan bersiap perang lago esok pagi namun mereka justru mendapatkan pasukan Fathimiyah telah mundur ke perbatasan Mesir pada malam harinya. Al-Afdhal sendiri mundur menggunakan kapal pribadinya. Setelah Pasukan Salib berhasil menjarah dan membawa pergi rampasan perang, maka sisa tendanya dibakat sebelum mereka mundur ke Jerusalem pada tanggal 13 Agustus.

Karena terjadinya perselisihan antara Godfrey dan Raymond atas siapa yang lebih berhak atas kota tersebut, maka garnizun Fathimiyah di Ascalon enggan menyerahkan kotanya sehingga ditinggal mundur oleh sisa Pasukan Salib yang banyak sudah rindu kampung halaman. Kota Ascalon tetap menjadi milik Fathimiyah walau mereka kalah di luar kota. Kota ini terus diperkuat oleh Fathimiyah dan menjadi basis penyerangan ke wilayah Pasukan Salib pada tahun berikutnya; itu baru berakhir ketika kota Ascalon akhirnya direbut oleh Pasukan Salib pada tahun 1153.

Agung Waspodo, kembali mencatat bahwa tipu daya itu mutlak dalam setiap konflik dan pertempuran, padahal sudah 916 tahun berlalu, lewat 14 hari pula..

Depok, 27 Agustus 2015.. menjelang maghrib

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Bunda Pejuang Penggelora Semangat yang Pekiknya adalah “Marilah kaum putri, hari ini adalah hari para pejuang”

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Nene Hatun lahir di kota Erzurum di pedalaman Anatolia (Asia Kecil) sebelah timur tahun 1957 pada masa Turki Utsmani. Apa peran beliau pada masanya, mari kita telusuri!

Ketika Turki Utsmani berperang melawan Russia pada tahun 1877-1878 sempat terjadi kemunduran pada permulaan perang yang menyebabkan Benteng Aziziye di kota Erzurum jatuh ke tangan Russia. Benteng ini merupakan salah satu kunci pertahanan Turki Utsmani di front ini dan kejatuhannya pada 7 November 1877 merupakan pukulan yang telak. Pasukan Turki Utsmani mundur untuk menyusun kekuatan, termasuk suami Nene Hatun, namun penduduk setempat punya rencana lain.

Malam itu adik laki-laki Nene Hatun pulang dalam keadaan luka parah yang menyebabkan kematiannya di pangkuannya. Setelah mengurus jenazah adik laki-lakinya yang gugur mempertahankan benteng tersebut, Nene Hatun menitipkan kepada orangtuanya kedua buah hatinya, yaitu anak bungsunya yang baru berusia 3 bulan dan kakak sang bayi yang juga masih balita. Jika seorang ibu telah menitipkan anak-anaknya untuk berangkat perang maka patut diperkirakan bahwa kondisi sudah sangat kritis.

Ia berangkat memanggul senapan adiknya dan berbekal kampak dapur miliknya sendiri. Nene Hatun menyemangati para perempuan lain di desanya dan berkumpul bersama penduduk Erzurum lainnya yang juga bertekad untuk merebut kembali benteng Aziziye. Pasukan Russia di benteng tidak pernah menduga atau menganggap remeh kekuatan penduduk yang sebagian besar terdiri atas barisan perempuan.

Nene Hatun termasuk berada pada barisan terdepan dengan pekik legendarisnya “marilah kaum putri, hari ini adalah hari para syuhada, kalau para prajurit sudah tiada maka kita yang menghentikan (mereka).”

Pertempuran jarak dekat tidak terelakkan lagi ketika sekitar 6.000 penduduk (hanya terdiri dari 1.000 pria) bersenjata apa adanya menyerbu benteng yang dipertahankan sekitar 3.000 pasukan Russia. Setelah pertarungan reda, Nene Hatun ditemui pingsan dengan beberapa luka namun kampak tetap tergenggam erat di tangannya. Pasukan Russia telah terdesak mundur dengan 2.000 korban jiwa dan luka-luka; sebuah corengan atas balatentara bersenjata modern tersebut.

Setelah siuman, Nene Hatun mengatakan “mereka dengan persenjataannya, kami dengan agama (Islam) kami..” berulang kali.

Nene Hatun hidup dalam usia yang panjang, suaminya dan anak laki-lakinya gugur pada Perang Dunia Pertama.

Setahun sebelum beliau wafat, Jenderal Ahmet Nurettin Baransel mengunjungi Nene Hatun secara resmi untuk menjadikannya “Bunda Bagi Balatentara Ke-3” yang berbasis di Erzurum dan sebuah monumen dibangun untuk menghormatinya. Beliau dinobatkan menjadi “Ibunya Kaum Ibu Turki” pada hari Ibu tahun 1955. Beliau wafat dalam usia 98 tahun pada tanggal 22 Mei 1955 dan dikebumikan di pemakaman khusus para ‘sehit’ (syuhada) di dalam Benteng Aziziye.

Memang benar seorang ibu adalah madrasah pertama bagi keluarganya! Para ibu adalah tiang kekuatan bagi negara. Bagaimana perhatian kita bagi pendidikan kaum ibu dan generasi calon ibu?

Agung Waspodo,
Depok, 14 Desember 2015.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…