Nasihat Bagi Kolektor Buku dan Para Penulis​


Imam Al Khathib Al Baghdadi Rahimahullah berkata:

وقيل لبعض الحكماء : إن فلانا جمع كتبا كثيرة ، فقال : هل فهمه على قدر كتبه ؟ قيل : لا ، قال : فما صنع شيئا ، ما تصنع البهيمة بالعلم ، وقال رجل لرجل كتب ولا يعلم شيئا مما كتب : ما لك من كتبك إلا فضل تعبك ، وطول أرقك ، وتسويد ورقك

Dikatakan kepada sebagian orang bijak: “Sesunguhnya si Fulan banyak mengkoleksi buku.”

Lalu dia berkata: “Apakah pemahamannya sesuai kadar buku-bukunya?” Dijawab: “Tidak.”

Dia berkata: “Dia tidak berbuat apa-apa, apa yang bisa dilakukan binatang ternak terhadap ilmu?”

Berkata seorang laki-laki kepada orang yang menulis tapi tidak mengetahui apa yang ditulisnya: “Kamu tidak memperoleh dari apa yang kamu tulis kecuali kelebihan lelahmu, lamanya begadangmu, dan hitamnya coretan kertasmu.”

📚 Al Faqih wal Mutafaqih, 3/168

▪️ Kolektor buku yg hanya kagum dengan jumlahnya sedemikian banyak, tapi tidak memahami apa kandungannya, bagaikan Bani Israel yang memiliki taurat tapi tidak memahami isinya, Allah Ta’ala mengumpamakannya dengan keledai sebagaimana firman Allah Ta’ala:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS. Al Jumu’ah: 5)

Wallahu yahdinaa ilaa sawaa’is sabiil ..

Prediksi Kenabian Yang Menjadi Kenyataan​


Malam Senin (31 Desember), kita menyaksikan apa-apa yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam prediksikan 14 abad silam:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Dari Abu Sa’id Al Khudri dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

“Sungguh, engkau akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, hingga kalaulah mereka masuk liang biawak, niscaya kalian mengikuti mereka.”

Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nasranikah (yang akan kami ikuti)?”

Nabi menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?”

📚 Imam Al Bukhari no. 7320, Imam Muslim no. 2669

Maka, … Tanyakan kepada umumnya umat Islam, apakah 1 Muharram? Mereka tidak tahu! Tapi, apakah 1 Januari? Semuanya tahu …

Tanyakan kepada remaja-remaja kita .., ada apa dengan 9 Zulhijjah? Umumnya tidak tahu!
Tapi, tanyakan tentang 14 Februari ? Hampir semuanya tahu ..

Tanyakan tentang Sirah Nabawiyah …, tanyakan tentang Usamah bin Zaid, Khalid bin Walid, Al Qa’qa’, Al Mutsanna, sangat sedikit yg tahu ..

Tapi, tanyakan biografi Messi dan CR7 .., atau artis Korea dan penyanyi Barat .. meluncur dengan mudah dr lisan mereka ..

Demikianlah .. “Lubang Biawak” itu kecil dan kotor, tapi kita tetap memaksa memasukinya .. artinya betapa kuat daya tarik budaya mereka, sekotor itu pun masih diikuti juga .. walau tidak pantas diikuti ..

Semoga, fajar kemenangan Islam tidak terhalang oleh sebongkah fakta menyedihkan yg terus berulang tiap akhir tahun di negeri-negeri muslim ..

Hadits inilah yang membuat kami masih bisa tersenyum optimis:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشِّرْ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِالسَّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ وَالدِّينِ وَالنَّصْرِ وَالتَّمْكِينِ فِي الْأَرْض

Dari Ubay bin Ka’b dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Berilah kabar gembira kepada umat ini dengan kejayaan, kemulyaan, agama, pertologan dan kekuasaan di muka bumi.”

(HR. Ahmad no. 20273, Al Hakim dalam Al Mustadrak no. 7862, beliau berkata: Shahih. Disepakati keshahihannya oleh Imam Adz Dzahabi)

Wallahul Musta’an wa ilaihil musytakaa …

Maaf, Tahun Barumu Bukan Tahun Baru Kami​


Kami umat Islam menghargai adanya perbedaan, dan mengakui perbedaan itu adalah sunatullah kehidupan. Sebab Rabb kami telah berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

​Seandainya Rabbmu berkehendak niscaya manusia Dia jadikan umat yang satu, namun mereka senantiasa berselisih. (QS. Huud: 118)​

Ayat yang lain:

وَلَوْ شاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعاً أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

​Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? (QS. Yunus: 99)​

Oleh karena itu, kami akan tetap berbuat baik dan adil kepada siapa pun yang berbeda dengan kami, selama mereka tidak berbuat aniaya kepada kami.

Rabb kami mengajarkan:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

​Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil. (QS. Al Mumtahanah: 8)​

Maka, biarlah kami istiqamah atas agama kami dan budaya kami, jangan kalian kecut dan jangan pula cemberut, sebab itu bagian dari tuntutan iman kami.

Nabi kami – Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam– mewasiatkan kami:

قُلْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

​Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah! (HR. Muslim, 62/38)​

Dan, kami pun tidak memaksa kalian untuk mengikuti agama dan budaya kami. Sebab memaksa bukan ajaran Rabb kami.

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (QS. Al Baqarah: 256)

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ

​Maka berilah peringatan, karena Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka (untuk memaksa). (QS. Al Ghasyiah: 21-22)​

Jadi, sangat ingin kami katakan kepada kalian.

​Bahwa hari raya kalian bukan hari raya kami, begitu pula hari raya kami bukan hari raya kalian, sebagaimana tahun baru masehi kalian bukanlah tahun baru bagi kami​

Karena titik tolak sejarah awal tahun kalian berbeda dengan tahun hijriyah kami, tahun baru kalian diawali oleh kelahiran Nabi kami yang mulia -yang telah kalian Tuhankan- ‘Isa ‘Alaihissalam, sementara tahun kami diawali hijrah Rasulullah dan para sahabatnya dari Mekkah ke Madinah.

Walaupun banyak saudara kami muslimin awam yang ikut-ikutan berbahagia dan bersuka cita atas hari raya dan budaya kalian karena ketidaktahuan mereka itu bukan alasan bagi kami untuk turut larut di dalamnya.

Maka, jangan ajak kami hura-hura di malam itu; petasan, tiup terompet, dan sebagainya. Biarlah kami mengisinya dengan kebaikan yang sudah biasa kami jalankan, berkumpul bersama keluarga, ta’lim rutin, ibadah, sebagaimana malam-malam lain.

Nabi kami – Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam– mengajarkan:

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

​“Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya masing-masing, dan hari ini adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari No. 952, Muslim, 16/892)​

Ya, jelaskan?!
Setiap kaum, setiap umat punya hari raya dan hari besarnya sendiri, silahkan berbahagia dan suka cita dihari itu. Kami tidak memaksa dan menuntut kalian mengucapkan selamat atas kami karena kebahagiaan kami sangat berlimpah dan tidak akan berkurang tanpa ucapan selamat dari kalian. Kami pun meyakini, kebahagiaan kalian tidak akan berkurang seandainya kami tidak mengucapkan selamat atas hari raya kalian, sebab sangat tidak dewasa bila perasaan kebahagiaan dan suka cita mesti didahului ucapan selamat dahulu.

Kami, umat Islam, memiliki sangat banyak hari raya dan hari-hari istimewa, dan kami pun puas atas hal itu, itulah kenapa kami tidak membutuhkan hari raya yang tidak berasal dari Rabb dan nabi kami, yang telah menjadi budaya dan sejarah kami.

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, beliau berkata:

​“Dahulu orang jahiliyah memiliki dua hari untuk mereka bermain-main pada tiap tahunnya.”​

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang ke Madinah, dia bersabda: ​“Dahulu Kalian memiliki dua hari yang kalian bisa bermain-main saat itu. Allah telah menggantikan keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya, yakni hari Fithri dan hari Adha.” (HR. Abu Daud No. 1134, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 1755, Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 1098, katanya: hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar (Fathul Bari, 3/371) juga mengatakan: shahih.)​

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

​Hari ‘Arafah, hari penyembelihan qurban, hari-hari tasyriq, adalah hari raya kita para pemeluk islam, itu adalah hari-hari makan dan minum. (HR. At Tirmidzi No. 773, katanya: hasan shahih, Ad Darimi No. 1764, Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: isnaduhu shahih. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1586, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya.”)​

Dari Abu Lubabah bin Abdil Mundzir, dia berkata: Bersabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

​“Sesungguhnya hari Jumat adalah Sayyidul Ayyam (pimpinan hari-hari), keagungannya ada pada sisi Allah, dan dia lebih agung di sisi Allah dibanding hari Idul Adha dan Idul Fitri. Padanya ada lima hal istimewa: pada hari itu Allah menciptakan Adam, pada hari itu Allah menurunkan Adam ke bumi, pada hari itu Allah mewafatkan Adam, pada hari itu ada waktu yang tidaklah seorang hamba berdoa kepada Allah melainkan akan dikabulkan selama tidak meminta yang haram, dan pada hari itu terjadinya kimat. Tidaklah malaikat muqarrabin, langit, bumi, angin, gunung, dan lautan, melainkan mereka ketakutan pada hari Jumat.” (HR. Ibnu Majah No. 1083. Ahmad No. 15547, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 4511, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 2973, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 817, Al Bazzar No. 3738. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 2279).​

Lihatlah hari raya kami. Idul Fitri (1 Syawwal), Idul Adha (10 Dzulhijjah), hari Arafah (9 Dzulhijjah), hari-hari tasyriq (11,12,13 Dzulhijjah), dan hari Jum’at yang datangnya tiap pekan.

Belum lagi hari istimewa lainnya, walau bukan hari raya tetapi ini merupakan hari istimewa bagi kami karena di dalamnya mengandung keutamaan yang banyak untuk beribadah dan nilai sejarah. Seperti Senin, Kamis, 10 hari pertama Dzulhijjah, 6 hari Syawwal, hari ‘asyura, Ayyamul Bidh, 17 Ramadhan, 1 Muharam awal penanggalan kami, dan Lailatul Qadar.

Semua ini ada dasarnya dalam agama dan sejarah kami.

Inilah kami, dan inilah agama kami, walau kami bersikap Lakum diinukum wa liyadin dalam urusan agama, tetapi kami ini rahmatan lil ‘alamin bagi kalian dalam urusan muamalah. Kalian tetap saudara dan sahabat, jangan khawatir. Sebab Rabb kami mengajarkan:

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ نُوحٌ أَلَا تَتَّقُونَ

​Ketika saudara mereka ​(Nuh)​ berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy Syu’ara: 106)​

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ

​Ketika saudara mereka ​Hud​ berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy Syu’ara: 124)​

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ صَالِحٌ أَلَا تَتَّقُونَ

​Ketika saudara mereka, shaleh, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy Syu’ara: 142)​

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ لُوطٌ أَلَا تَتَّقُونَ

​Ketika saudara mereka, ​Luth​, berkata kepada mereka: mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy Syu’ara: 161)​

Lihatlah, Allah Ta’ala tetap menyebut para nabi pembawa risalahNya; Nuh, Hud, Shalih, dan Luth, sebagai saudara bagi kaumnya, walau kaumnya mengingkari agama yang dibawa mereka, mengingkari kenabian, dan mengingkari ketuhanan Allah Ta’ala. Itulah sikap kami juga, walau kalian ingkar kepada agama yang kami yakini, ingkar kepada nabi kami, kalian tetap saudara kami; saudara setanah air.

Wallahu A’lam

Hukum Suami Takut Istri Dalam Islam


Assalamualaikum ,, saya mau bertanya apa hukumnya kalau suami takut sama istri ,??? dan satu lagi apakah dosa kalau seorang istri selingkuh msalah keuangan ?? mohon jawabannya syukron,,,

Maksudnya selingkuh masalah keuangan yang sudah di kasih dari suami ke istri dan sama istri nya dipakai untuk kebutuhan orangtua dan saudaranya atau bayar hutang yang suaminya tidak tahu , dan istrinya cukup dengan bilang ke suami uangnya sudah terpakai untuk kebutuhan dapur ,, bagaimana klo seperti itu hukumnya dosa besarkah seorang istri ???

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

1. Suami takut istri .., ini belum jelas bagaimana takutnya, sebabnya apa .. seorang suami itu pemimpin, seharusnya punya wibawa, dan menjadi pelindung bagi keluarga. Bukan hukum halal haram dalam hal ini, tapi tidak sepantasnya seperti itu, kecuali TAKUT yang dibenarkan syariat.

2. Keuangan mesti jujur, khususnya yang berasal dari harta suami, walau itu buat sedekah mesti ada penjelasan agar suami tidak merasa dikhianati. Istri bebas menggunakan hartanya yang pribadi, paling suami hanya sekedar tahu, atau boleh tidak diberitahu jika justru lahir fitnah dan keributan.

Tapi uang yang berasal dari suami, mesti ada izin, bukan hanya pemberitahuan.

Wallahu a’lam.

Apakah Ada Buktinya Shalat dan Doa Diterima?


Pertanyaan Manis I17:
Assalamualaikum Waruhmatullahi Wabarakatuh..mau Bertanya
1. Apakah Tandanya / Buktinya klo shalat yang dikerjakan diterima Allah S.W.T
2. Apakah Tandanya / Buktinya klo Doa yang kita peruntukan kepada Almarhum sampai diterima
Syukoron

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

1. Dalam Nash2 yg sharih (lugas), tidak ada penjelasan khusus ttg tanda Allah Ta’ala menerima amal hambaNya. Biarlah ini tidak kita ketahui, agar kita senantiasa beramal, beramal, beramal, dan tidak merasa puas dgn amal. Para ulama dan penulis memang ada yg mencoba menerka-nerka, namun sifatnya ijtihadiyah.

Ada pun yg ada dalam keterangan adalah syarat-syarat diterimanya amal yaitu;

1. Iman. Amal org kafir tidak akan diterima, sebaik apa pun amal itu.

2. Amalnya benar, yaitu sesuai Sunnah, atau ada dasar dalam syariah, baik secara global atau khusus. Sebagaimana hadits:

​Man ahdatsa fii amrinaa haadza man Laisa minhu fahuwa raddun​ – siapa yang melakukan perkara baru yg tidak ada dasar dalam agama ini maka itu tertolak.

3. Ikhlas, hanya untuk Allah, tdk ada niatan lain.

Allah Ta’ala berfirman:

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

​Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya​. (QS. Al Kahfi: 110)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala mengumpulkan dua syarat;

– Amal itu Shalih,

– Amal itu mencari Ridha Allah, tidak menyekutukan dgn yg lainnya.

2. Pertanyaan ini sama seperti di atas. Yg ada adalah hadits-hadits yg mencontohkan doa untuk orang yg sudah wafat. Tapi, kalau ditanya “apa tandanya doa kita sampai?” Tidak ada penjelasannya, yg diperintahkan dalam syariat adalah perintah untuk mendoakannya.

Ini menunjukkan bahwa kita diperintahkan untuk beramal dan berdoa, hasilnya serahkan kepada Allah Ta’ala. Agar manusia tidak pernah merasa puas dgn amal dan doanya.

Wallahu a’lam.

Waria Jadi Imam Shalat​


​Bismillah wal Hamdulillah ..​

Dalam fiqih, ada jenis ketiga yaitu ​Al Khuntsa​. Siapa ​Al Khuntsa?​ yaitu orang yg laki atau wanitanya blm bisa dipastikan, karena dia berkelamin ganda.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ​Rahimahullah​ mengatakan:

والخُنثى هو: الذي لا يُعْلَمُ أَذكرٌ هو أم أنثى؟ فيشمَلُ مَن له ذَكَرٌ وفَرْجٌ يبول منهما جميعاً, ويشمَلُ مَن ليس له ذَكَرٌ ولا فَرْجٌ، لكن له دُبُرٌ فقط

​​Al Khuntsa​ adalah orang yg tidak diketahui priakah dia atau wanita? Mencakup didalamnya pula yaitu orang yg memiliki dzakar dan vagina jg dan kencingnya lewat keduanya. Mencakup pula di dalamnya orang yg tidak punya dzakar dan tidak punya vagina, hanya punya dubur.​ (Selesai)

Jenis ini, hanya boleh menjadi imam bagi kaum wanita. Tidak boleh jadi imam kaum laki-laki, dan tidak boleh jadi imam sesama mereka.

Syaikh Abdullah Al Faqih ​Hafizhahullah​ mengatakan:

فهو لا تصح إمامته للرجال, ولا لمثله من الخناثى لاحتمال أن يكون امرأة، وتصح إمامته للنساء عند الجمهور

​Maka, dia tidak sah menjadi imam bagi kaum laki-laki, dan tidak sah bagi yg semisal dirinya dari kalangan Al Khuntsa juga, karena bisa jadi kemungkinannya dia wanita, tapi dia SAH menjadi imam bagi kaum wanita saja menurut pendapat mayoritas ulama.​

​(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 189089)​

Nah, ​Al Khuntsa​ inilah yg dimaksud dalam buku tersebut.

Bagaimana dgn banci? Atau istilah lain waria atau bencong? Mereka bukan ​Al Khuntsa.​ Mereka ini kelompok yg sejak lahirnya adalah laki-laki lalu berpolah seperti wanita; suara, kedipan mata, pakaian, cara jalan, gerakan tangan, .. maka ini fasiq. Salah gaul jadi seperti ini. Kalau perempuan, yang berprilaku seperti laki-laki; ​gaya, suara, pakaian, maka ini lebih dikenal dgn tomboy.​ Keduanya tercela dalam ​As Sunnah.​

Inilah yg disebut dalam hadits Nabi ​Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam​ sebagai berikut:

ِعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِينَ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ مِنْ النِّسَاءِ

Dari Ibnu Abbas ​Radhiallahu ‘anhuma​ mengatakan, Nabi ​Shallallahu’alaihi wasallam​ melaknat laki-laki yang menyerupai wanita (waria) dan perempuan yang menyerupai laki-laki.

​(HR. Bukhari no. 6834)​

Shalat menjadi makmumnya waria adalah suatu yg dibenci kecuali terpaksa.

Imam Az Zuhri ​Rahimahullah​ berkata:

ُّ لَا نَرَى أَنْ يُصَلَّى خَلْفَ الْمُخَنَّثِ إِلَّا مِنْ ضَرُورَةٍ لَا بُدَّ مِنْهَا

​Kami tidak membenarkan shalat menjadi ma’mumnya waria kecuali kondisi darurat yg mengharuskan demikian.​ ​(Shahih Al Bukhari no. 659, Kitabullah Adzan)​

Dalam ​Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah​ dijelaskan:

والذي يتشبه بهن في تليين الكلام, وتكسر الأعضاء عمدا، فإن ذلك عادة قبيحة ومعصية, ويعتبر فاعلها آثما وفاسقا, والفاسق تكره إمامته عند الحنفية والشافعية، وهو رواية عند المالكية, وقال الحنابلة والمالكية في رواية أخرى ببطلان إمامة الفاسق.

​Laki-laki yg menyerupai wanita; dalam melembutkan pembicaraan, gerakan anggota tubuhnya secara sengaja, ini adalah kebiasaan yg buruk lagi jelek, pelakunya dinilai berdosa dan fasiq.​

​Orang fasiq makruh menjadi imam menurut Syafi’iyyah dan Hanafiyah, dan salah satu riwayat Malikiyah.​

​Adapun bagi Hanabilah dan Malikiyah dalam riwayat yg lain, batal menjadi ma’mumnya orang fasiq.​ (selesai).

Semoga bisa dibedakan antara Al Khuntsa, dan Al Mukhannats (banci/waria).

Demikian. Wallahu a’lam

Menjual Barang Untuk Keperluan Natal​


Imam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam ​Iqtidha Sirath Al Mustaqim:​

فأمّا بيع المسلم لهم في أعيادهم ما يستعينون به على عيدهم من الطعام واللباس والرّيحان ونحو ذلك أو إهداء ذلك لهم فهذا فيه نوع إعانة على إقامة عيدهم المحرّم.

​Ada pun Seorang Muslim menjual untuk mereka pada saat hari raya mereka, yg dengan itu dapat membantu pelaksanaan hari raya itu seperti makanan, pakaian, parfum, dan lainnya, atau memberikan hadiah kepada mereka, maka semua ini adalah bentuk pertolongan atas terlaksananya perayaan mereka yang diharamkan.​ ​(Hal. 229)​

Imam Abdul Malik bin Habib ​Rahimahullah,​ seorang ulama Malikiyah, berkata:

ألا ترى أنّه لا يحلّ للمسلمين أن يبيعوا من النصّارى شيئا من مصلحة عيدهم؟ لا لحما ولا إداما ولا ثوبا ولا يُعارون دابّة ولا يعاونون على شيء من عيدهم لأنّ ذلك من تعظيم شركهم ومن عونهم على كفرهم

​Apakah Anda tidak lihat bahwanya tidak halal bagi kaum muslimin menjual sesuatu kepada kaum Nasrani apa-apa yang dimanfaatkan pada hari raya mereka ? Tidak boleh menjual daging, pakaian, dipinjamkan hewan, dan tidak pula menolong mereka dgn sesuatu pada hari raya mereka, sebab itu merupakan pemuliaan thdp kesyirikan mereka dan termasuk pertolongan atas kekafiran mereka.​ ​(Ibid, hal. 231)​

Demikian. Wallahu a’lam

Mengingatkan Imam yang Lupa..


Assalamualaikum ustadz/ ah.. Kebetulan saya rumahnya deket mesjid dan selalu sholat berjamaah yang ingin saya tanyakan bagaimana hukumnya kalau kita melakukan sholat berjamaah trus imamnya lupa satu rakaat lagi dan beliau langsung tasyahud akhir ,apakah bnar sholat kita tetep sah? ,,, atau kita harus melakukan sholat satu rakaat lagi yang kurang tadi ??? Mohon jawaban nya ,, syukron
Kebetulan imam di mesjid saya sering lupa dalam sholat dan kadang juga sering lupa ayat yang dibaca walau satu ayat , bagaimana hukumnya ke kita sebagai ma’mum nya beliau apakah dosa kita sebagai ma’mum atau kah imam nya harus diganti ????
[ A 33 ]

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Ketahuilah kekurangan imam, atau bahkan kesalahan fatal imam, semuanya ditanggung oleh imam itu sendiri, bahkan tidaklah ditanggung oleh makmum. Hal ini berdasarkan beberapa dalil berikut: Allah Ta’ala berfirman:

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (QS. An Najm : 38-39)   Ayat lain:

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

 “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS. Al Mudatsir (74): 38)
Dalam hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلُّونَ بِكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

Dari Abu Hurairah dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Mereka shalat sebagai imam bagi kalian, maka jika mereka benar, pahalanya bagi kalian dan mereka, dan jika mereka salah, maka pahalanya untuk kalian, dosanya ditanggung mereka.” (HR. Bukhari No. 694)  Sahl berkata:

إِنِّي سَمِعْتُ رَسُول
َ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْإِمَامُ ضَامِنٌ فَإِنْ أَحْسَنَ فَلَهُ وَلَهُمْ وَإِنْ أَسَاءَ يَعْنِي فَعَلَيْهِ وَلَا عَلَيْهِمْ

“Sesungguhnya aku mendengar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:”Imam itu adalah penanggung jawab, jika dia benar, maka pahalanya bagi dia dan bagi makmum, jika dia salah, maka tanggung jawabnya adalah kepadanya, bukan kepada makmum.”    (HR. Ibnu Majah No. 981, Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. Lihat  Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 981)                
Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

تصح إمامة من أخل بترك شرط أو ركن إذا أتم المأموم وكان غير عالم بما تركه الامام

“Bermakmum kepada orang yang tertinggal syarat dan rukun shalat adalah sah, dengan syarat makmum tidak tahu kesalahan tersebut dan dia menyempurnakan apa-apa yang ditinggalkan oleh imam.”   (Fiqhus Sunnah, 1/241)

Wallahu a’lam.

Tata cara mubahalah​


Assalamualaikum ustadz… Apakah itu Muhaballah dan bagai mana tata caranya…
Jika ada suatu kasus yg mnimpa A kmudian smua org mnghujat… lalu si A ber muhaballah.. apakah yg mnghujat kena imbasnya? Makasi ustadz

Jawaban
~~~~~~~~~~~~~~~~

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh .

Bukan Muhaballah .. tapi Mubaahalah, Yaitu:

أَن يجتمع القوم إِذا اختلفوا في شيء فيقولوا : لَعْنَةُ الله على الظالم منا .

Berkumpulnya sekelompok rangka ketika mereka berbeda pendapat dalam suatu hal, lalu mereka berdoa: ​Semoga laknat Allah atas orang yang zalim di antara kita.​

​(Lihat Lisaanul ‘Arab, 11/71)​

Hal ini disyariatkan dalam rangka menerangkan yg hak dan membuktikan yang batil, setelah hujjah disampaikan kepada orang yang dianggap berada dalam kebatinan.

Dalilnya adalah:

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. Ali Imran: 61)

Mujahadah ini Sunnah dilakukan kepada orang yg keras kepala dan membangkang kepada Al Haq. Imam Ibnul Qayyim berkata:

السُّنَّة فى مجادلة أهل الباطل إذا قامت عليهم حُجَّةُ اللهِ ولم يرجعوا ، بل أصرُّوا على العناد أن يدعوَهم إلى المباهلة ، وقد أمر اللهُ سبحانه بذلك رسولَه

Adalah Sunnah mendebat orang-orang yg di atas kebatilan, jika sudah ditegakkan hujjah-hujjah agama Allah kepada mereka tp mereka belum rujuk dari kesalahannya, bahkan jika mereka melakukan pembangkangan maka hendaknya lakukan mubahalah kepada mereka, hal itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan RasulNya.

​(Zaadul Ma’ad, 3/643)​

Mubahalah ini berlaku umum, tidak hanya saat mendebat orang kafir. Tetapi jika kepada orang Islam yang menyimpang dan jahat.

Para ulama di ​Al Lajnah Ad Daimah​ mengatakan:

ليست المباهلة خاصة بالرسول صلى الله عليه وسلم مع النصارى ، بل حكمها عام له ولأمته مع النصارى وغيرهم ؛ لأن الأصل في التشريع العموم ، وإن كان الذي وقع منها في زمنه صلى الله عليه وسلم في طلبه المباهلة من نصارى نجران فهذه جزئية تطبيقية لمعنى الآية لا تدل على حصر الحكم فيه

Mubahalah bukan Kekhususan bagi Nabi ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ bersama Nasrani saja, tapi juga berlaku umum bagi umatnya baik dengan Nasrani atau selainnya.

Sebab, hukum asal dari tasyri’ (pensyariatan) adalah berlaku umum, walau pun kejadian nyatanya di zaman Nabi ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ merupakan ajakan kepada Nasrani Bani Najran secara khusus, tapi penerapan hukum yg ada tidaklah dibatasi.

​(Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 4/203-204)​

Syarat-syarat mubahalah adalah:

1. Ikhlas karena Allah Ta’ala, bukan untuk mencari ketenaran, tapi membuktikan kebenaran.

2. Sudah disampaikannya hujjah kepada pihak yang menyelisihi kebenaran.

3. Pihak yang menyelisihi memang membangkang dan melawan

4. Hanya dalam masalah agama yang urgen, bukan masalah perselisihan fiqih yang memang para ulama sdh sejak lama tidak sama pendapatnya. Atau masalah bukan pada masalah-masalah sepele dan tidak penting, misal mubahalah hanya karena perbedaan lebih dulu mana ayam atau telurnya.

Demikian. Wallahu a’lam

Menjual Tanah Wakaf dan Memalsukan Kwitansi


Assalamualaikum wr wb, Ustadz…

1. Di sekitar tempat tinggal ada bangunan sekolah+perumahan guru yg sudah bertahun2 lamanya,info nya lahan yg dipakai adalah hasil waqaf,kemudian belakangan,oleh si pemilik,lahan2 yg ada perumahan gurunya dijual,yg tersisa hanya lahan yg ada bangunan sekolah dan halamannya,. Bagaimana hukumnya status jual beli perumahan tsb?

2. Bila si fulan diminta oleh perusahaan/instansi tempat bekerja untuk membeli barang,misal harga barang 1jt,kmudian diadakan tawar menawar sehingga harga menjadi 900rb,namun di kwitansi si fulan meminta agar harga tetap ditulis 1jt (100rb nya untuk fulan),bagaimana hukumnya? Manis🅰2⃣8⃣

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ba’d:

1⃣ Jika benar itu adalah tanah waqaf, maka penjualan tersebut tidak lepas dari dua kemungkinan:

📌 Dijual untuk kepentingan pribadi, maka ini haram, bahkan termasuk dosa besar. Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang beriman, janganlah kalian memakan harta kalian yang ada di antara kalian, dengan cara yang bathil.” (QS. An Nisa: 29)

📌 Dijual untuk dipindahkan, lalu dibelikan tanah waqaf baru, agar tetap terpelihara amanah waqafnya. Ini tidak apa-apa.

2⃣ Kasus seperti itu tidak boleh. Sebab:

📌 “Walaa ta’aaanuu ‘alal itsmi wal ‘udwaan” – Jangan saling bantu dalam dosa dan kejahatan. (QS. Al Maidah: 2)

📌 Nabi Shallallahu ‘Alahi wa Sallam bersabda: “Man ghasysyanaa falaisa minnaa” – barang siapa yang menipu kami maka bukan golongan kami.” (HR. Muslim No. 101)

Wallahu a’lam.