Doakan Selalu Orang Tua Kita

Jika Dewasa Belum Aqiqah

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ijin bertanya ustadz .. Biasanya kan orang tua yg mengaqiqahkan anaknya, kalau seandainya sebaliknya, anak yang mengaqiqahkan orang tuanya. Boleh apa tidak ustadz? mohon pencerahannya terima kasih. Wassalamu’alaikum

Jawaban

Oleh: Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim..

Tugas mengaqiqahkan adalah tugas orang tua ke anaknya, yaitu di saat anak mereka masih kecil.

Namun, demikian sebagian ulama seperti Syafi’iyah dan Hambaliyah, membolehkan aqiqah diri sendiri di saat dewasa.

Dari Anas bin Malik, katanya:

عق رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نفسه بعد ما بعث بالنبوة

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya setelah beliau diangkat menjadi nabi.” (HR. Abdurrazaq, No. 7960)

Hadits ini sebenarnya dha’if, karena ada perawi bernama Abdullah bin Muharrar, seorang perawi yang dinilai dha’if oleh umumnya ulama. Namun, hadits ini memiliki beberapa mutaba’ah (pendukung) dari beberapa jalur lain, sehingga terangkat menjadi shahih. (Ash Shahihah, 6/502)

Ulama yang membolehkan aqiqah sesudah dewasa adalah Imam Muhammad bin Sirin, Al Hasan Al Bashri, Atha’, sebagian Hambaliyah dan Syafi’iyah.

Imam Ahmad ditanya tentang bolehkah seseorang mengaqiqahkan dirinya ketika sudah dewasa? Imam Ibnul Qayyim menyebutkan dalam kitabnya sebagai berikut:

وقال أن فعله إنسان لم أكرهه

“Dia (Imam Ahmad) berkata: Aku tidak memakruhkan orang yang melakukannya.” (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal 61. Cet. 1. 1983M-1403H. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Imam Muhammad bin Sirrin berkata:

لَوْ أَعْلَمُ أَنَّهُ لَمْ يُعَقَّ عَنِّي ، لَعَقَقْتُ عَنْ نَفْسِي

Seandainya aku tahu aku belum diaqiqahkan, niscaya akan aku aqiqahkan diriku sendiri. (Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 24718)

Imam Al Hasan Al Bashri berkata:

إذا لم يعق عنك ، فعق عن نفسك و إن كنت رجلا

Jika dirimu belum diaqiqahkan, maka aqiqahkan buat dirimu sendiri, jika memang kamu adalah laki-laki. (Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, 8/322)

Maka, solusinya adalah jika anaknya punya dana hendaknya dia menghadiahkan uangnya ke ortuanya. Lalu orangtuanya aqiqah untuk dirinya sendiri.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Minyak Rambut yang Dilarang

Minyak Rambut Menutupi Wudhu?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… ingin tanya, apakah memakai minyak rambut (gatsby) dan berwudhu, wudhunya tidak sah?

Jawaban

Oleh: Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Tidak semua minyak rambut menghalangi wudhu, apalagi jika minyak tersebut cair, Rasulullah ﷺ pun memakai minyak rambut.

Jabir bin Samurah ditanya tentang uban Nabi ﷺ :

كَانَ إِذَا ادَّهَنَ رَأْسَهُ لَمْ يُرَ مِنْهُ، وَإِذَا لَمْ يُدَّهَنْ رُئِيَ مِنْهُ

Dahulu jika Beliau melumasi dengan minyak ubannya tidak terlihat, dan jika tidak memakai minyak ubannya terlihat. (HR. Muslim No. 2344)

Tapi, jika minyak rambutnya jel atau krim yang melapisi, sehingga tertutuplah rambut tersebut dengan minyak tsb, sehingga air wudhu pun tidak kena maka tidak boleh.

Imam an Nwawi Rahimahullah berkata:

إذا كان على بعض أعضائه شمع، أو عجين، أو حناء وأشباه ذلك فمنع وصول الماء إلى شيء من العضو لم تصح طهارته سواء كثر ذلك أم قل

Jika sebagian anggota tubuhnya terlapisi oleh lilin, tepung, henna, dan lainnya, serta menghalangi sampainya air ke anggota tubuh yang diwudhukan, maka tidak sah wudhunya, baik yang terhalang itu sedikit atau banyak. (Al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab, 1/467)

Demikian. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Salat Bagi Musafir

Shalat Jum’at Bagi Musafir

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bagaimana shalat jumat bagi musafir? Dan melakukan perjalanan setelah terbit fajar?

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Safar di hari Jumat ada beberapa keadaan:

1. Sebelum Fajar, ini sepakat semua ulama mengatakan BOLEH.

2. Sesudah shalat Jumat selesai, ini juga sepakat Boleh.

3. Sesudah adzan shalat Jumat, atau ketika adzan, maka ini disepakati haram khususnya bagi yang wajib shalat Jumat.

4. Antara Fajar dan Adzan Jumat (yaitu antara shalat subuh dan shalat Jumat, misal jam 6, 7, 8, 9, pagi WIB).. Ini diperselisihkan ulama, namun mayoritas mengatakan BOLEH.

Imam Asy Syaukani berkata:

قَالَ الْعِرَاقِيُّ: وَهُوَ قَوْل أَكْثَر الْعُلَمَاءِ. فَمِنْ الصَّحَابَةِ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَامّ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ وَابْنُ عُمَرَ. وَمِنْ التَّابِعِينَ الْحَسَنُ وَابْنُ سِيرِينَ وَالزُّهْرِيُّ. وَمِنْ الْأَئِمَّة أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ فِي الرِّوَايَة الْمَشْهُورَة عَنْهُ وَالْأَوْزَاعِيُّ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ فِي الرِّوَايَة الْمَشْهُورَة عَنْهُ وَهُوَ الْقَوْل الْقَدِيم لِلشَّافِعِيِّ، وَحَكَاهُ ابْنُ قُدَامَةَ عَنْ أَكْثَر أَهْل الْعِلْم

Al ‘Iraqi berkata: “Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Dari kalangan sahabat nabi seperti Umar bin Khathab, Zubair bin Awwam, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan Ibnu Umar. Dari kalangan tabi’in adlh Al Hasan, Ibnu Sirin, dan Az Zuhri. Dari para imam, seperti Abu Hanifah, Malik dalam salah riwayat terkenal darinya, Al Awza’i, Ahmad dalam salah satu riwayat yang terkenal darinya, Syafi’i dalam qaul qadim (pendapat lama), Ibnu Qudamah menyebutkan dari mayoritas ulama. (Nailul Authar, jilid. 3, hal. 273)

Lalu bagaimana shalat Jumatnya? Shalat Jumat tidak wajib, bagi para musafir.

Syaikh Sayyid Sabiq menjelaskan tentang orang-orang yang tidak wajib shalat Jumat, di antaranya:

المسافر وإذا كان نازلا وقت إقامتها فإن أكثر أهل العلم يرون أنه لا جمعة عليه: لان النبي صلى الله عليه وسلم كان يسافر فلا يصلي الجمعة فصلى الظهر والعصر جمع تقديم ولم يصل جمعته، وكذلك فعل الخلفاء وغيرهم

Seorang yang safar, walau pun dia berhenti untuk sementara waktu untuk mukim, sesungguhnya mayoritas ulama mengatakan bahwa seorang yang safar tidak wajib shalat Jumat, karena Nabi ﷺ jika sedang safar tidak shalat Jumat tapi dia shalat zhuhur dan ashar secara jamak taqdim, dan dia tidak melaksanakan shalat Jumatnya, itu juga dilakukan para khalifah dan selain mereka. (Fiqhus Sunnah, jilid. 1, hal. 303)

Namun, jikalau ikut shalat Jumat juga bagaimana? Boleh saja, namun para ulama berbeda pendapat apakah boleh shalat Jumat dijamak dengan ashar atau tidak.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Salam dalam Salat

Buang Angin Ketika Salam Shalat?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz…ijin bertanya. Ketika shalat pada salam pertama ternyata buang angin itu bagaimana seharusnya?

Jawaban

Oleh: Faisal Kunhi MA.

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Hal ini perlu dirinci dulu, sbb:

– Jika buang anginnya di SALAM PERTAMA, baik sengaja atau tidak, maka itu BATAL, sebab salam pertama adalah rukun shalat menurut mayoritas. Kecuali, menurut Hanafiyah yang mengatakan shalat tanpa salam itu sah, tapi makruh.
(Syaikh Said Hawwa, Al Asas fis Sunnah wa Fiqhiha, 2/770)

– Jika buang angin di SALAM KEDUA, maka shalat tetap sah menurut mayoritas ulama. Sebab, salam kedua adalah sunnah, jika tanpa dilakukan maka shalat sudah sah dan cukup.

Dalilnya:

عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ تَسْلِيمَةً وَاحِدَةً تِلْقَاءَ وَجْهِهِ يَمِيلُ إِلَى الشِّقِّ الْأَيْمَنِ شَيْئًا

Dari ‘Aisyah berkata, “Rasulullah ﷺ salam dalam shalatnya hanya sekali salam ke arah mukanya sedikit condong ke sebelah kanan.” (HR. At Tirmidzi no. 296, shahih)

Imam At Tirmidzi mengutip dari Imam asy Syafi’i, katanya:

إِنْ شَاءَ سَلَّمَ تَسْلِيمَةً وَاحِدَةً وَإِنْ شَاءَ سَلَّمَ تَسْلِيمَتَيْنِ

Siapa yang ingin salam sekali saja silahkan, dan yang ingin salam dua kali juga silahkan.

Dalam hadits lainnya:

ثم يُصلِّي ركعتينِ وهو جالسٌ ثم يُسلِّمُ تسليمةً واحدةً: السَّلامُ عليكم، يرفَعُ بها صوتَه حتَّى يوقِظَنا

Lalu Beliau shalat dua rakaat dalam keadaan duduk, kemudian salam dengan SEKALI SALAM: “Assalamu ‘Alaikum,” dengan meninggikan suara sampai membangunkan kami.(HR. An Nasa’ i. Imam Ibnul Mulaqin mengatakan: “Shahih sesuai syaratnya Imam Muslim.” Badrul Munir, 4/54)

Dalil lainnya, Imam al Qurthubi mengatakan bahwa hadits- وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ Dan penghalalnya adalah salam, menunjukkan kata AT TASLIM, bermakna sekali salam (taslimah wahidah). (Tafsir Al Qurthubi, 1/262)

Artinya, jika sudah sekali salam pertama, maka sudah selesai shalatnya walau dia tidak salam kedua. Inilah pendapat jumhur sahabat nabi dan tabi’in. (Al Majmu’ Syarh al Muhadzdab, 3/481)

Imam Ibnu Qudamah mengatakan:

والواجب تسليمة واحدة والثانية سنة قال ابن المنذر : أجمع كل من أحفظ عنه من أهل العلم أن صلاة من اقتصر على تسليمة واحدة جائزة

Yg wajib adalah salam yg pertama, yang kedua itu sunnah. Ibnul Mundzir mengatakan: “Telah ijma’ dari orang yang aku ketahui sebagai ulama, bahwa salam satu kali itu boleh.”
(Al Mughni, jilid. 1, hal. 396)

Syaikh Muhammad Mukhtar Asy Syanqithi mengatakan:

فلو أنه سلَّم التسليمة الأولى ثم أحدث فإن صلاته تصح وتجزيه

Seandainya seseorang sudah salam pertama, lalu dia hadats maka shalatnya itu tetap sah. (Syarh Zaad al Mustaqni’, 47/8)

Demikian. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Bersuci Istinja Cebok Bersih Najis

Istinja

Pertanyaan

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz izin bertanya…
Setelah kencing sy langsung membersihkan kemaluan sy dengan air dan kemudian sy langsung pakai celana,
pertanyaan sy : apakah sy boleh langsung pakai celana tanpa mengelap kemaluan sy hingga kering ?

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim..

Istinja (cebok) walau nampaknya sederhana, tapi sangat penting dalam Islam, sebab pengaruhnya pada rusaknya kesucian seseorang dari hadats. Dampaknya, tentu shalatnya tidak sah. Oleh karena itu hendaknya muslim dan muslimah serius dalam membersihkan dirinya dari najis dan hadats.

Ada pun cara istinja, bisa dengan batu sebanyak ganjil, yaitu tiga atau lebih. Ditambah dgn air maka itu lebih baik. Budaya Indonesia tidak biasa istinja dengan batu, namun dengan air. Itu sudah cukup bersih, mensucikan, itulah substansinya. Tujuan membersihkan telah tercapai walau alatnya berbeda, walau tidak dilap atau dikeringkan setelah istinja. Ini tidak masalah.

Muttahidah fil aghrad mukhtalifah fisy syakl (Sama dalam tujuan tapi berbeda dalam bentuk)

Dari Salman Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ، أَوْ بَوْلٍ، أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ، أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ، أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ

Rasulullah telah melarang kami buang air besar atau kencing menghadap kiblat, atau istinja dengan tangan kanan, atau istinja dengan kurang dari tiga batu, atau istinja dengan menggunakan kotoran hewan dan tulang. (HR. Muslim No. 262)

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

( وَأَنْ لَا يَسْتَنْجِي بِالْيَمِينِ ) هُوَ مِنْ أَدَب الِاسْتِنْجَاء ، وَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّهُ مَنْهِيّ عَنْ الِاسْتِنْجَاء بِالْيَمِينِ ، ثُمَّ الْجَمَاهِير عَلَى أَنَّهُ نَهْي تَنْزِيه وَأَدَب لَا نَهْي تَحْرِيم ، وَذَهَبَ بَعْض أَهْل الظَّاهِر إِلَى أَنَّهُ حَرَام ، وَأَشَارَ إِلَى تَحْرِيمه جَمَاعَة مِنْ أَصْحَابنَا ، وَلَا تَعْوِيل عَلَى إِشَارَتهمْ ، قَالَ أَصْحَابنَا : وَيُسْتَحَبّ أَنْ لَا يَسْتَعِين بِالْيَدِ الْيُمْنَى فِي شَيْء مِنْ أُمُور الِاسْتِنْجَاء إِلَّا لِعُذْرٍ ، فَإِذَا اِسْتَنْجَى بِمَاءٍ صَبَّهُ بِالْيُمْنَى وَمَسَحَ بِالْيُسْرَى

(janganlah istinja dengan tangan kanan) ini adalah adab dalam istinja (cebok), para ulama telah ijma’ (sepakat) bahwa istinja dengan tangan kanan terlarang. Lalu, mayoritas ulama mengatakan larangan ini bermakna makruh tanzih, bukan haram. Sebagian kalangan tekstualist (ahluzh zhahir) mengatakan bahwa ini diharamkan. Para sahabat kami (Syafi’iyah) juga mengisyaratkan keharamannya, namun tidak ada takwil atas isyarat mereka itu. Para sahabat kami mengatakan: disunahkan sama sekali tidak menggunakan tangan kanan dalam urusan istinja kecuali ada ‘udzur. Jika istinja dengan air, maka tangan kanan menyiramkan air, dan membersihkannya dengan tangan kiri.

(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 1/421)

Jadi, walau tidak dilap dulu tidak masalah asalkan sudah yakin bersih setelah dicebok.

Demikian. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Dzikrullah

Kapan menggunakan Subhanallah dan Masyaallah??

Pertanyaan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah. Mohon bantuan penjelasan ttg penggunaan yg tepat kata “subhanallah” dan “masya Allah” ada teman yg bertanya terkait ini cuman ana ingin hujjah yg jelas dr yg lebih berilmu.

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Subhanallah – Maha Suci Allah .. diucapkan saat ta’jub terhadap sebuah hal atau peristiwa. Begitu pula Masya Allah, ucapan ta’jub pada hal-hal yg hebat dari manusia. Begitu pula tabaarakallah .. tapi ini jarang dipakai.

Dalam hadits Shahih Bukhari, saat nabi berjalan bersama Shafiyyah, ada dua laki-laki Anshar, yg melihat dgn pandangan heran, maka Nabi mengklarifikasi bahwa itu adalah istrinya .. lalu  Kedua orang itu berkata; “Subhanallah (Maha suci Allah) wahai Rasulullah”. Kedua orang itu pun merasa segan terhadap ucapan beliau. Maka kemudian Rasulullah Shallallahu’alaiwasallam bersabda: “Sesungguhnya syetan masuk kepsda manusia lewat aliran darah dan aku khawatir bila syetan telah membisikkan sesuatu dalam hati kalian berdua”.

Dalam surat Al Isra juga Allah Ta’ala berfirman: Subhanalladzi asraa bi’abdihi .. .. ttg Isra Mi’raj ..

Dalam surat Yasin, .. Subhanalladzi khalaqal azwaaja kullahaa ..dst, ttg kehebatan penciptaan Allah thdp makhluknya ..

Tentang ucapan: Masya Allah, berdasarkan:..

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا

Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan ”Masya Allah, la quwwata illa billah” (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud), tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah, sekalipun engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu. (QS. Al-Kahfi: 39)

Juga hadits:

من رأى شيئاً فأعجبه فقال : ما شاء الله لا قوة إلا بالله : لم تصبه العين “

Siapa yg melihat suatu mengagumkan lalu dia mengatakan: Masya Allah Laa quwwata Illa billah, maka tidak akan kena penyakit ‘ain…

Hanya saja hadits ini ada perawi yg DHAIF JIDDAN, sangat lemah. (Imam al Haitsami, Majma’ Az Zawaid, 5/21)
Jadi, tidak usah dibenturkan antara keduanya.

Ada pun na’udzubillah, kami berlindung kpd Allah adalah doa kita saat melihat yg buruk, musibah, dan smisalnya, .. agar kita terhindar.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Larangan Rasulullah Tentang Istinja

Mani, Madzi dan Wadzi

Pertanyaan

Assalamu’alaikum ustadz/ah, ada yg ingin sy tanyakan ttg perbedaan mani, madzi dan wadzi, termasuk terdapat pada siapa sj (laki2/pr) dan bagaimana cara bersucinya, syukron atas jawabannya,  # A 40

✍🏻 *Jawaban….*

Oleh: Ustadzah Yani

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،

Ada tiga cairan yang keluar ketika syahwat seseorang saat memuncak baik itu laki laki maupun perempuan :

1.  Madzi :

Cairan bening, tidak terlalu kental, tidak berbau, keluarnya tidak memancar, setelah keluar tidak lemas, biasanya keluar sebelum mani keluar. Cairan ini termasuk najis ringan (najis mukhaffafah), namun jika keluar, tidak menyebabkan wajib mandi dan tidak membatalkan puasa.

2.  Mani :

Cairan yang keluar ketika syahwat mencapai puncak, memiliki bau khas, disertai pancaran, setelah keluar menimbulkan lemas. Hukum cairan ini tidak najis, menurut pendapat yang kuat, namun jika keluar bisa menyebabkan hadats besar, sehingga bisa membatalkan puasa dan wajib mandi.

3.  Wadi :

Cairan bening, agak kental, keluar ketika kencing. Dari ketiga cairan di atas, yang paling mudah dibedakan adalah wadi, karena cairan ini hanya keluar ketika kencing, baik bersamaan dengan keluarnya air kencing atau setelahnya. (Lihat Al-Wajiz fi Fiqh Sunnah, hlm. 24–25)

Sementara itu, yang agak sulit dibedakan adalah madzi dan mani. Untuk memudahkan pembahasan terkait dua cairan ini, masalah ini bisa dirinci pada dua keadaan:
ketika sadar dan ketika tidur.

Pertama, ketika sadar

Cairan yang keluar dalam kondisi sadar, bisa digolongkan termasuk jika memenuhi tiga syarat:

1. Keluarnya memancar, disertai syahwat memuncak, sebagaimana yang Allah sebutkan di surat Ath-Thariq, ayat 5–6.

2. Ada bau khas air mani

3. Terjadi futur (badan lemas) setelah cairan tersebut keluar. (Asy-Syarhul Mumti’, 1:167)
Jika cairan keluar ketika kondisi sadar dan tidak disertai tiga sifat di atas maka cairan itu adalah madzi, sehingga tidak wajib mandi. Misalnya, cairan tersebut keluar ketika sakit, ketika kelelahan, atau cuaca yang sangat dingin.

Kedua, ketika tidur

Orang yang bangun tidur, kemudian ada bagian yang basah di pakaiannya, tidak lepas dari tiga keadaan:

1. Dia yakin bahwa itu adalah mani, baik dia ingat mimpi ataukah tidak. Dalam kondisi ini, dia diwajibkan untuk mandi, berdasarkan kesepakatan ulama. (Lihat Al-Mughni, 1:269)

2. Dia yakin bahwa itu bukan mani, karena yang menempel hanya tetesan cairan atau cairan berbau pesing, misalnya. Dalam kondisi ini, dia tidak wajib mandi. Namun, dia wajib mencuci bagian yang basah karena cairan ini dihukumi sebagaimana air kencing.

3. Dia ragu, apakah itu mani ataukah madzi. Dalam kondisi semacam ini, dia mengacu pada keadaan sebelum tidur atau ketika tidur. Jika dia ingat bahwa ketika tidur dia bermimpi, maka cairan itu dihukumi sebagai mani.

Namun, jika dia tidak mengingatnya, dan sebelum tidur dia sempat membayangkan jima’ maka cairan itu dihukumi sebagai madzi karena cairan ini keluar ketika dia membayangkan jima’, sementara dia tidak merasakan keluarnya suatu cairan. (Asy-Syarhul Mumti’, 1:168)

Adapun jika dia tidak ingat mimpi dan tidak memikirkan sesuatu sebelum tidur, ulama berselisih pendapat tentang hukumnya. Ada yang berpendapat wajib mandi, sebagai bentuk kehati-hatian, dan ada yang berpendapat tidak wajib mandi. Insya Allah, pendapat yang lebih kuat adalah wajib mandi, berdasarkan hadis dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang laki-laki yang tidak ingat mimpi, namun tempat tidurnya basah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia wajib mandi.” (H.R. Abu Daud; dinilai hasan oleh Al-Albani)

Sedangkan perbedaan hukumnya:

1. Keluarnya mani mewajibkan mandi besar, namun tidak mewajibkan wudhu, dan mani dihukumi sebagai benda yang suci.

Keluarnya mani mewajibkan mandi besar besar jika ditemui salah satu dari 3 tanda berikut ini:

A. Terasa enak saat keluar, karena keluarnya saat syahwat telah memuncak.

B. Keluarnya memancar, maksudnya keluar sedikit demi sedikit.

C. Ketika masih basah baunya seperti adonan roti atau mayang kurma, sedangkan jika sudah kering baunya seperti putih telur.

Jadi warna putih dan lemasnya badan saat keluar bukanlah ciri-ciri utama mani, namun kebanyakan memang warnanya putih dan terasa lemas saat keluar.

2. Hukum madzi dan wadi sebagaimana hukumnya air kencing, keduanya membatalkan wudhu dan dihukumi najis.

Kewajiban mandi besar bagi orang yang mengeluarkan mani didasarkan pada beberapa hadits diantaranya hadits yang diriwayatkan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, beliau mengisahkan;

جَاءَتْ أَمُّ سُلَيْمٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ اللهِ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ، فَهَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا احْتَلَمَتْ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «نَعَمْ، إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ»

“Ummu Sulaim dating kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia berkata; “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah tak pernah “malu” dalam hal kebenaran, apakah wanita diharuskan mandi apabila ia mimpi basah?” Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wasallam menjawab; “Ya, (wanita tersebut wajib mandi), jika ia melihat ada air (keluar maninya),” (Shahih Bukhari, no.282 dan Shahih Muslim, no.313)

Sedangkan dalil tidak diwajibkannya wudhu ketika seseorang mengeluarkan madzi berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ali karromallahu wajhah, beliau menceritakan;

كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً وَكُنْتُ أَسْتَحْيِي أَنْ أَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ: «يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ»

“Aku adalah lelaki yang sering keluar madzi, tetapi aku malu untuk bertanya Nabi Shallallahu’alaihiwasallam karena puteri beliau adalah istriku sendiri. Maka kusuruh al-Miqdad bin al-Aswad supaya bertanya beliau, lalu beliau bersabda, “Hendaklah dia membasuh kemaluannya dan berwudhu.” (Shahih Bukhari, no.209 dan Shahih Muslim, no. 303)

Imam Nawawi menjelaskan, bahwa hadits ini merupakan dalil bahwa madzi tidak mewajibkan mandi, namun mewajibkan wudhu.

Adapun mengenai alasan tidak wajibnya mandi bagi orang yang mengeluarkan wadi adalah sebab  tidak adanya dalil yang mewajibkan mandi ketika mengeluarkan wadi, karena kewajiban sesuatu harus ada dalilnya, selain itu jika madzi tidak mewajibkan mandi, padahal madzi mendekati sifat-sifat mani, tentunya wadi juga tidak mewajibkan mandi, karena sifat-sifat wadi lebih dekat dengan sifat-sifat air kencing.

Diriwayatkan dari Zur’ah Abu Abdurrohaman, beliau berkata;

سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ: الْمَنِيُّ وَالْوَدْيُ وَالْمَذْيُ، أَمَّا الْمَنِيُّ: فَهُوَ الَّذِي مِنْهُ الْغُسْلُ، وَأَمَّا الْوَدْيُ وَالْمَذْيُ فَقَالَ: اغْسِلْ ذَكَرَكَ أَوْ مَذَاكِيرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ

“Aku mendengar Ibnu Abbas menjelaskan mengenai mani, madzi dan wadi, beliau berkata; “(Keluarnya) Mani mewajibkan mandi”, sedangkan mengenai (keluarnya) wadi dan madzi beliau berkata; “Basuhlah dzakar (kemaluan)mu, dan wudhulah sebagaimana engkau wudhu ketika hendak sholat.” (Sunan Baihaqi, no.800).

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Larangan Rasulullah Tentang Istinja

Seputar Madzi dan Mani

Pertanyaan

Assalaamu ‘alaikum Ust.
Utk bahasan ttg mani ini ada bbrp yg ana mau usulkan:

1. Seingat ana Ali bin Abi Thalib ra. yg ‘digelari abu madza’ prnh bbrp kali ditanya ttg hal d atas. (Dan dijawab bliau …, mgkn ada haditsny)

2. Alangkah baikny utk bahasan terkait seputar hal2 semacam bahasan ini terkait tubuh manusia, jg diberikan (dalil aqli selain naqli) & didiskusikan kpd ahli medis (dokter) yg tentu bnyk mnjd sahabat2 Ust. penulis d Depok.

Krn bahasan ttg masalah ini sdh tuntas di bidang anatomi tubuh manusia. Bhw mani walaupun di-ekskresi-kan (dikeluarkan melalui qubul) tp diproduksi oleh bagian tubuh yg berbeda.
Jalan keluar yg sama hny bermuara di uretra.
Bahkan ALLah SWT telah menciptakan bhw bila seseorang mengeluarkan mani maka tdk akan bisa mengeluarkan air kencing pd saat yg sama. (Hikmah bisa bnyk diambil dari hal tsb).

3. Bila kedua poin bahasan di atas sdh dilakukan maka akan semakin menguatkn bahwa mani adlh suci, namun memang perlu dibersihkan dgn sapuan yg berbeda dgn najis.  Membersihkn utk najis mnrt hadits kalau tdk salah “Menjadi tidak bernoda, tidak berbau.”

Wal ‘afwu minkum. #mohon tanggapan (I-17)


Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS.

Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.

Jazakallah khairan atas masukan dan usulnya …

1. Mungkin yang antum maksud adalah MADZI, bukan mani. Ali disebut Abu Madza karena Ali sering keluar madzi.

Ali Radhiallahu ‘Anhu :

كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ ? فَسَأَلَهُ فَقَالَ فِيهِ الْوُضُوءُ

Aku adalah laki-laki yang mudah keluar madzi, maka aku suruh Al Miqdad bin Al Aswad menanyakan kepada Nabi? Lalu Beliau menanyakannya dan Nabi bersabda: “Padanya wajib berwudhu.” (HR. Al Bukhari No. 132)

Pada hadits ini menunjukkan madzi itu hadats kecil, yaitu cukup baginya berwudhu, Nabi ﷺ tidak memerintahkannya untuk mandi junub.

Dalam riwayat lain:

كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ رَجُلًا أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ ? لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَسَأَلَ (فَسَأَلَهُ) فَقَالَ تَوَضَّأْ وَاغْسِلْ ذَكَرَكَ

Aku adalah laki-laki yang mudah keluar madzi, maka aku suruh seseorang  untuk menanyakan kepada Nabi hal itu, karena posisi anaknya terhadap diriku (maksudnya Fatimah adalah istrinya, Ali malu bertanya langsung ke nabi, pen).  Lalu Beliau menanyakannya dan Nabi bersabda: “ Berwudhulah dan cuci kemaluanmu.” (HR. Al Bukhari No. 132)

Pada hadits ini menunjukkan bahwa madzi itu najis, karena Nabi ﷺ memerintahkan untuk mencucinya kemaluannya. Kenajisannya telah disepakati ulama, tidak ada khilafiyah.

Syaikh Sayyid Sabiq berkata:

وهو ماء أبيض لزج يخرج عند التفكير في الجماع أو عند الملاعبة، وقد لا يشعر الانسان بخروجه، ويكون من الرجل والمرأة إلا أنه من المرأة أكثر،وهو نجس باتفاق العلماء

Itu adalah air berwarna putih yang merembas keluar ketika memikirkan jima’ atau ketika bercumbu. Manusia tidak merasakan apa-apa ketika itu keluar. Hal ini terjadi pada pria dan wanita, hanya saja wanita lebih banyak, dan dia (madzi) najis menurut kesepakatan ulama. (Fiqhus Sunnah, 1/26)

Apa beda Mani dan Madzi?

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْمَذْيِ وَالْمَنِيِّ أَنَّ الْمَنِيَّ يَخْرُجُ بِشَهْوَةٍ مَعَ الْفُتُورِ عَقِيبَهُ ، وَأَمَّا الْمَذْيُ فَيَخْرُجُ عَنْ شَهْوَةٍ لاَ بِشَهْوَةٍ وَلاَ يَعْقُبُهُ فُتُورٌ

Perbedaan antara madzi dan mani adalah, bahwa mani keluar dibarengi dengan syahwat dan keadaan lemas setelah keluarnya, ada pun madzi bisa keluar dengan syahwat dan tanpa syahwat, dan tidak membuat lemas setelah keluarnya. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 2/141,Fathul Qadir, 1/42)

2. Jazakallah khairan masukannya.

Hal-hal seperti ini yang paling utama adalah dalil naqli dulu, lalu kemudian dalil ‘aqli sebagai penguat dan penyempurna, apalagi dalam hal-hal yang baru terkuak hikmahnya belakangan, bagi masyarakat modern dan rasional hal itu sangat penting.  Mendahului naqli di atas ‘aqli, itulah yang ditempuh para ulama baik dahulu dan kontemporer. Ada atau tidak ada penemuan-penemuan modern tersebut tentu tidak akan mengalihkan kita dari dalil-dalil naqli. Dalil ‘aqli (akal), ketika terdapat dalil naqli (Al Quran dan As Sunnah), sifatnya hanya mengkonfirmasi dan menguatkan. Hal ini penting, untuk menghindari kesan ilmu “cocoklogi” antara ayat dan hadits dengan penemuan modern, apalagi ilmu pengetahuan modern itu dinamis dan berkembang, bisa saling menafikan. Apa yang ditemukan hari ini, bisa dibantah esok hari.

Jika penemuan hari ini sesuai Al Quran dan As Sunnah, lalu besok ada penemuan lain yang berbeda tentu ini menjadi masalah yang tidak sederhana; bisa saja ada manusia yang menuduh Al Quran dan As Sunnah tidak sesuai penemuan modern. Oleh karena itu tidak semua ulama setuju metodogi perangkaian dalil Naqli dan ‘Aqli sekaligus, karena yang satu dogmatis, yang satu lagi dinamis. Dalil-dalil ‘aqli sangat diperlukan ketika berhadapan dengan kaum rasionalis ekstrim dan free thinkers.

3. Kesucian mani, memang tidak berarti kita membiarkan ketika menodai pakaian kita, mesti dibersihkan.  Sebagaimana penjelasan lalu.

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Larangan Rasulullah Tentang Istinja

Bolehkah Shalat Dengan Pakaian Ada Noda Air Mani?

Pertanyaan

Assalamu’alaykum, ustadz ada pertanyaan

Ada pertanyaan ust. dr tmn.grup sblh.
Seandainya kita dalam posisi kerja ya ustadz terus kita tidur dan mimpi basah .. Trus kita sholat subuh nih apa sholat kita sah? Krn keadaan tdk membawa baju ganti
mksdx tmn:
Iya mandi besar .. Tapi yg ana maksud kan pakaian ana ga ganti sedangkan di mani itu kan ada najisnya jd sah apa tdk kalau ana sholat tp pakaian nya ga ganti?
Azam I5

Jawaban

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS

Wa ‘alaikujussakam wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du:

Apa itu air mani?

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah  mengatakan:

هُوَ الْمَاءُ الْغَلِيظُ الدَّافِقُ الَّذِي يَخْرُجُ عِنْدَ اشْتِدَادِ الشَّهْوَةِ

Itu adalah air kental yang hangat yang keluar ketika begitu kuatnya syahwat. (Al Mughni, 1/197)

Lebih rinci lagi disebutkan dalam kitab Dustur Al ‘Ulama:

الْمَنِيُّ هُوَ الْمَاءُ الأْبْيَضُ الَّذِي يَنْكَسِرُ الذَّكَرُ بَعْدَ خُرُوجِهِ وَيَتَوَلَّدُ مِنْهُ الْوَلَدُ

Air mani adalah air berwarna putih yang membuat   kemaluan lemas setelah keluarnya, dan terbentuknya bayi adalah berasal darinya. (Dustur Al ‘Ulama, 3/361)

Apa perbedaannya dengan madzi?

Imam An Nawawi menjelaskan:

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْمَذْيِ وَالْمَنِيِّ أَنَّ الْمَنِيَّ يَخْرُجُ بِشَهْوَةٍ مَعَ الْفُتُورِ عَقِيبَهُ ، وَأَمَّا الْمَذْيُ فَيَخْرُجُ عَنْ شَهْوَةٍ لاَ بِشَهْوَةٍ وَلاَ يَعْقُبُهُ فُتُورٌ

Perbedaan antara madzi dan mani adalah, bahwa mani keluar dibarengi dengan syahwat dan keadaan lemas setelah keluarnya, ada pun madzi bisa keluar dengan syahwat dan tanpa syahwat, dan tidak membuat lemas setelah keluarnya. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 2/141,Fathul Qadir, 1/42)

Mani Suci atau Najis?

Para ulama berselisih tentang kenajisannya, tetapi yang lebih kuat adalah suci, namun dianjurkan untuk mencuci atau mengeriknya jika terkena olehnya, apalagi jika akan digunakan untuk shalat.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

ذهب بعض العلماء إلى القول بنجاسته والظاهر أنه طاهر، ولكن يستحب غسله إذا كان رطبا، وفركه إن كان يابسا

Sebagian ulama berpendapat bahwa mani adalah najis, yang benar adalah dia suci, tetapi dianjurkan untuk mencucinya jika masih basah, dan mengeriknya jika dia kering. (Fiqhus Sunnah, 1/27)

Kalangan Hanafiyah dan Malikiyah menyatakan najis, ini juga menjadi pendapat Abu Hurairah, Hasan Al Bashri, dan lainnya.  Alasannya:

Hadits dari Sulaiman bin Yasar, katanya:

 سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ الْمَنِيِّ يُصِيبُ الثَّوْبَ فَقَالَتْ كُنْتُ أَغْسِلُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَخْرُجُ إِلَى الصَّلَاةِ وَأَثَرُ الْغَسْلِ فِي ثَوْبِهِ بُقَعُ الْمَاءِ

Aku bertanya kepada ‘Aisyah tentang air mani yang mengenai pakaian, beliau berkata: “Aku pernah mencucinya dari pakaian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu dia keluar untuk shalat, dan bekas cuciannya masih ada di pakaiannya.” (HR. Bukhari No. 230, Muslim No. 289, ini menurut lafaz Bukhari)

Menurut kelompok ini, sangat jelas bahwa mani adalah najis, sebab tidak mungkin dicuci jika bukan najis. Disebutkan dalam  beberapa kitab:

وَجْهُ الدَّلاَلَةِ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَدْ غَسَلَتِ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْغُسْل شَأْنُ النَّجَاسَاتِ وَأَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ عَلِمَ بِهَذَا فَأَقَرَّهُ وَلَمْ يَقُل لَهَا أَنَّهُ طَاهِرٌ وَلأِنَّهُ خَارِجٌ مِنْ أَحَدِ السَّبِيلَيْنِ فَكَانَ نَجِسًا كَسَائِرِ النَّجَاسَاتِ

📌Sisi pendalilan dari hadits ini adalah bahwa ‘Asiyah Radhiallahu ‘Anha telah mencuci mani dari pakaian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan kebiasaan mencuci itu terjadi pada hal-hal yang najis, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga tahu hal itu dan menyetujuinya, dan Beliau tidak mengatakan suci, disamping itu karena mani keluar dari salah satu di antara dua jalan (dua jalan: dubur dan kemaluan), maka dia najis seperti najis-najis lainnya. (Bada’i Shana’i, 1/60,Tabyinul Haqaiq, 1/71, Al Binayah ‘alal Hidayah, 1/722, Intishar Al Faqir As Saalik, Hal. 256)

Dalil lainnya adalah hadits:

يا عمار إنما يغسل الثوب من خمس من الغائط والبول والقيء والدم والمني

📌Wahai ‘Ammar, sesungguhnya pakaian dicuci karena lima hal: tinja, kencing, muntah, dan darah, dan mani. (HR. Ad Daruquthni, 1/127)

Imam Az Zaila’i Rahimahullah menyebutkan:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي الْمَنِيِّ يُصِيبُ الثَّوْبَ إنْ رَأَيْته فَاغْسِلْهُ ، وَإِلَّا فَاغْسِلْ الثَّوْبَ كُلَّهُ ، وَعَنْ الْحَسَنِ الْمَنِيُّ بِمَنْزِلَةِ الْبَوْلِ

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu tentang mani yang mengenai pakaian: Jika saya melihatnya maka saya akan mencucinya, jika tidak maka saya akan cuci semua bagiannya. Dari Al Hasan Al Bashri: ari mani sama kedudukannya dengan kencing. (Tabyinul Haqaiq, 1/337)

Ulama lain mengatakan mani adalah suci, dan ini menjadi pendapat Syafi’iyah, Hambaliyah, Imam Asy Syaukani, Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, dan lainnya.

Alasan mereka adalah hadits ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha di atas bahwa Beliau mencuci air mani tidak berarti mani itu najis, tetapi sekedar kotor saja, sebagaimana pakaian yang terkena dahak, debu, dan semisalnya. “Mencuci” tidak selalu karena ada najisnya, sebab aktifitas mencuci biasanya akan dilakukan terhadap benda-benda yang dianggap sudah kotor atau kena kotoran. Ditambah lagi, pencucian itu adalah inisiatif ‘Aisyah sebagai istrinya yang memang biasa mencuci pakaian suaminya, bukan atas perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jikalau najis tentu Allah dan RasulNya akan menerangkannya, bukan melalui penafsiran  perbuatan ‘Aisyah.

Alasan lain adalah  dari Ibnu Abbas ketika  Rasulullah Shallalalhu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang mani, beliau bersabda:

إنَّمَا هُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُخَاطِ وَالْبُزَاقِ وَإِنَّمَا يَكْفِيكَ أَنْ تَمْسَحَهُ بِخِرْقَةٍ أَوْ بِإِذْخِرَةٍ

“Itu hanyalah sebagaimana ingus dan ludah, kamu cukup mengelapnya dengan sehelai kain  atau dedaunan.” (HR. Ad Daruquthni, 1/124)

Imam Ad Daruquthni berkata:

لَمْ يَرْفَعْهُ غَيْرُ إِسْحَاقَ الأَزْرَقِ عَنْ شَرِيكٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ هُوَ ابْنُ أَبِى لَيْلَى ثِقَةٌ فِى حِفْظِهِ شَىْءٌ

Tidak ada yang memarfu’kan selain Ishaq Al Azraq, dari Syarik, dari Muhammad bin Abdirrahman, dia adalah Ibnu Abi Laila, terpercaya namun hafalannya bermasalah.  (Ibid)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengutip dari para ulama:

قَالُوا : وَهَذَا لَا يَقْدَحُ ؛ لِأَنَّ إسْحَاقَ بْنَ يُوسُفَ الْأَزْرَقَ أَحَدُ الْأَئِمَّةِ

“Mereka mengatakan: Hal itu tidaklah menodainya, sebab Ishaq bin Yusuf al Azraq adalah salah seorang Imam.”   (Fatawa Al Kubra, 1/409)

Imam Asy Syaukani Rahimahullah mengatakan:

وَهَذَا لَا يَضُرُّ ؛ لِأَنَّ إِسْحَاقَ إمَامٌ مُخَرَّجٌ عَنْهُ فِي الصَّحِيحَيْنِ فَيُقْبَل رَفْعُهُ وَزِيَادَتُهُ

“Hal itu tidak masalah, karena Ishaq adalah seorang Imam, riwayatnya dipakai dalam shahihain (Bukhari-Muslim) maka dapat diterima permarfu’annya dan tambahannya.” (Nailul Authar, 1/65)

Dengan kata lain, hadits di atas maqbul (dapat diterima) kemarfu’annya sampai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.[1]

Berkata Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu:

قال الشافعي : « المني ليس بنجس ، لأن الله جل ثناؤه ، أكرم من أن يبتدئ خلق من كرمه ، وجعل منهم النبيين ، والصديقين ، والشهداء ، والصالحين ، وأهل جنته

“Mani bukanlah najis, karena Allah Ta’ala telah memuliakannya dengan permulaan penciptaan, darinya pula diciptakan para nabi, shiddiqin, syuhada, shalihin, dan penduduk surga.”  (Imam Al Baihaqi, Ma’alim As Sunan wal Atsar No. 1349)

Imam Ash Shan’ani Rahimahullah mengatakan:

وَقَالَتْ الشَّافِعِيَّةُ : الْمَنِيُّ طَاهِرٌ ، وَاسْتَدَلُّوا عَلَى طَهَارَتِهِ بِهَذِهِ الْأَحَادِيثِ قَالُوا : وَأَحَادِيثُ غَسْلِهِ مَحْمُولَةٌ عَلَى النَّدْبِ ، وَلَيْسَ الْغَسْلُ دَلِيلُ النَّجَاسَةِ ، فَقَدْ يَكُونُ لِأَجْلِ النَّظَافَةِ وَإِزَالَةِ الدَّرَنِ وَنَحْوِهِ ؛ قَالُوا : وَتَشْبِيهُهُ بِالْبُزَاقِ وَالْمُخَاطِ دَلِيلُ طَهَارَتِهِ أَيْضًا

Golongan Asy Syafi’iyyah mengatakan, “Mani adalah suci,” mereka berdalil tentang kesuciannya berdasarkan hadits-hadits tersebut. Mereka mengatakan: ‘Hadits-hadits yang menunjukkan mencuci mani mengandung arti anjuran, bukan berarti mencuci adalah dalil atas kenajisannya, melainkan sekedar membersihkan dan menghilangkan sesuatu yang kotor dan lainnya. Mereka mengatakan: “Diserupakannya mani dengan ludah dan ingus juga merupakan dalil atas kesuciannya.”(Subulus Salam, 1/38)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:

أَنَّ النَّاسَ لَا يَزَالُونَ يَحْتَلِمُونَ فِي الْمَنَامِ فَتُصِيبُ الْجَنَابَةُ أَبْدَانَهُمْ وَثِيَابَهُمْ فَلَوْ كَانَ الْغُسْلُ وَاجِبًا لَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِهِ مَعَ أَنَّهُ لَمْ يَأْمُرْ أَحَدًا مِنْ الْمُسْلِمِينَ بِغَسْلِ مَا أَصَابَهُ مِنْ مَنِيٍّ لَا فِي بَدَنِهِ وَلَا فِي ثِيَابِهِ وَقَدْ أَمَرَ الْحَائِضَ أَنْ تَغْسِلَ دَمَ الْحَيْضِ مِنْ ثَوْبِهَا وَمَعْلُومٌ أَنَّ إصَابَةَ الْجَنَابَةِ ثِيَابَ النَّاسِ أَكْثَرُ مِنْ إصَابَةِ دَمِ الْحَيْضِ ثِيَابَ النِّسَاءِ فَكَيْفَ يُبَيِّنُ هَذَا لِلْحَائِضِ وَيَتْرُكُ بَيَانَ ذَلِكَ الْحُكْمِ الْعَامِّ ؟

“Sesungguhnya para sahabat senantiasa bermimpi (basah), maka badan dan pakaian mereka mengalami junub (kena mani), seandainya mencuci itu wajib maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pasti akan memerintahkannya, namun nyatanya tidak satu pun dari kaum muslimin yang diperintahkan untuk mencuci mani yang mengenai badan dan pakaian mereka. Beliau telah memerintahkan wanita haid untuk mencuci darah haid yang ada pada pakaian. Telah diketahui bahwa pakaian manusia yang kena junub (mani) adalah lebih banyak dibanding darah haid yang mengenai pakaian wanita. Maka,  bagaimana bisa hal ini dijelaskan kepada wanita haid, namun tidak bahas hukum  tersebut dalam hal ini?” (Majmu’ Al Fatawa, 20/369)

Selain itu hadits yang berbunyi:

يا عمار إنما يغسل الثوب من خمس من الغائط والبول والقيء والدم والمني

Wahai ‘Ammar, sesungguhnya pakaian dicuci karena lima hal: tinja, kencing, muntah, dan darah, dan mani. (HR. Ad Daruquthni, 1/127)

Hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah karena kedhaifannya. Berkata Imam Ad Daruquthni:

لم يروه غير ثابت بن حماد وهو ضعيف جدا وإبراهيم وثابت ضعيفان

Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini selain Tsabit bin Hammad, dan dia sangat dhaif. Dan,  Ibrahim dan Tsabit adalah dua orang yang dhaif. (Sunan Ad Daruquthni, 1/127)

Imam Asy Syaukani mengatakan: “Hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah karena telah mencapai derajat dhaif.” (Sailul Jarar, 1/24)

Imam An Nawawi juga menyebutkan kedhaifan hadits ini, katanya:

قال البيهقى هو حديث باطل لا أصل له وبين ضعفه الدارقطني والبيهقى

Berkata Al Baihaqi, hadits ini batil, tidak ada dasarnya, dan kedhaifannya telah dijelaskan oleh Ad Daruquthni dan Al Baihaqi. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 2/549)

Dengan demikian, pandangan yang lebih kuat adalah yang menyebutkan bahwa air mani adalah suci, mengimgat tidak ada dalil yang shahih dan sharih/lugas yang menyatakan kenajisannya. Sehingga tetap boleh menggunaannya dalam shalat. Namun, tetap dianjurkan baginya membersihkan dahulu atau mengganti saja dengan pakaian yang lebih baik.

Wallahu A’lam

***

[1] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa hadits tersebut hanya mauqufsebagai ucapan (fatwa) Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bukan marfu’ :

وَأَنَا أَقُولُ: أَمَّا هَذِهِ الْفُتْيَا فَهِيَ ثَابِتَةٌ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَقَبْلَهُ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ، ذَكَرَ ذَلِكَ عَنْهُمَا الشَّافِعِيُّ وَغَيْرُهُ فِي كُتُبِهِمْ، وَأَمَّا رَفْعُهُ إلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَمُنْكَرٌ بَاطِلٌ، لَا أَصْلَ لَهُ؛ لِأَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ رَوَوْهُ عَنْ شَرِيكٍ مَوْقُوفًا.

Saya katakan: fatwa ini adalah tsabit (pasti) dari Ibnu Abbas, dan sebelumnya dari Sa’d bin Abi Waqqash, hal itu disebutkan oleh Asy Syafi’i dan selainnya dalam kitab-kitab mereka. Ada pun memarfu’kan hadits ini sampai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah munkar, dan tidak ada dasarnya, karena semua manusia meriwayatkannya dari Syarik secara mauquf. (Fatawa Al Kubra, 1/408)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Keutamaan Salat Shubuh

Bermakmum pada Imam yang Tidak Mumpuni

Pertanyaan

Assalamualaikum.
Izin bertanya soal ibadah sholat berjamaah.
‘Suatu ketika saya dapati ada yg sedang berjamaah sholat wajib dmasjid yaitu sholat maghrib, kmudian saya mendatangi sbgai makmum yg masbuq, saya tertinggal 1 rakaat kmudian sya mengikuti imam, pada rakaat ke dua saya memperhatikan bacaan imam (bacaan Al Fatihah) kurang fasih atau dlam tajwid masih bnyak terdpat kesalahan.’
Pertanyaan saya, Apakah hukum berjamaah y sah dlm ilmu fiqih?
Kemudian apa yg harus dilakukan ketika menemukan hal yg spt ini, apakah mmbatalkan sholat kmudian sholat sendirian/membuat jamaah baru?
Mohon jwaban y…
Sukron Katsiron.
Fatih I-43 :


Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS

ketahuilah kekurangan imam, atau bahkan kesalahan fatal imam, semuanya ditanggung oleh imam itu sendiri, dan tidaklah ditanggung oleh makmum. Hal ini berdasarkan beberapa dalil berikut:
Allah Ta’ala berfirman:

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (QS. An Najm : 38-39)

Ayat lain:

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS. Al Mudatsir (74): 38)

Dalam hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلُّونَ بِكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

Dari Abu Hurairah dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Mereka shalat sebagai imam bagi kalian, maka jika mereka benar, pahalanya bagi kalian dan mereka, dan jika mereka salah, maka pahalanya untuk kalian, dosanya ditanggung mereka.”    (HR. Bukhari No. 694)

Sahl berkata:

إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْإِمَامُ ضَامِنٌ فَإِنْ أَحْسَنَ فَلَهُ وَلَهُمْ وَإِنْ أَسَاءَ يَعْنِي فَعَلَيْهِ وَلَا عَلَيْهِمْ

“Sesungguhnya aku mendengar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:”Imam itu adalah penanggung jawab, jika dia benar, maka pahalanya bagi dia dan bagi makmum, jika dia salah, maka tanggung jawabnya adalah kepadanya, bukan kepada makmum.”    (HR. Ibnu Majah No. 981, Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. Lihat  Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 981)

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

تصح إمامة من أخل بترك شرط أو ركن إذا أتم المأموم وكان غير عالم بما تركه الامام

“Bermakmum kepada orang yang tertinggal syarat dan rukun shalat adalah sah, dengan syarat makmum tidak tahu kesalahan tersebut dan dia menyempurnakan apa-apa yang ditinggalkan oleh imam.”   (Fiqhus Sunnah, 1/241)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678