Pembatal Wudhu

Buang Air Kecil Di Tengah-tengah Mandi Wajib, Bagaimana status mandinya?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, kalau mandi junub kan berwudhu dulu, waktu mandi ternyata buang air kecil, abis mandi perlu wudhu lagi apa tidak kalau mau shalat?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim…

Keluarnya air seni baik sengaja atau tidak, adalah pembatal wudhu berdasarkan ijma’, dan bukan pembatal mandi wajib. Maka teruskan mandi dan ulangi wudhu. Jadi kencing saat itu, tdk mengharuskan mengulang mandinya, lanjutkan saja, dan ulangi wudhunya.

Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid berkata:

خروج الريح من نواقض الوضوء لا من نواقض الغسل ، وعليه : فمن لمس فرجه أو تبول أو أخرج ريحا أثناء غسله فإنه يتم غسله ، ويتوضأ بعده

Buang angin termasuk pembatal wudhu, bukan pembatal mandi, oleh karena itu disaat seseorang memegang kemaluan, kencing, atau buang angin, ketika mandi maka sempurnakan mandinya dan ulangi wudhunya.

(Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 49693)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Mengqodho sholat

Mengqadha Shalat Yang Terlewat Karena Tertidur

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, meng-qadha shalat yg terlewat krn tertidur (ashar). Apakah dilakukan setelah shalat maghrib atau dikeesokan harinya diwaktu ashar dengan niat qadha hari sebelumnya?
Jazakallah khairan before Tadz… Wassalam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tidak usah menunggu besoknya, tapi segera shalat saat teringat atau sadar.

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ{وَأَقِمْ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي}

Barang siapa yang lupa dari shalatnya maka hendaknya dia shalat ketika ingat, tidak ada tebusannya kecuali dengan itu (Allah berfirman: “dirikanlah shalat untuk mengingatKu”). (HR. Bukhari No. 597)

Hal ini pernah dilakukan pula oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Umar Radhiallahu ‘Anhu saat perang Khandaq kelupaan shalat Ashar. Mereka teringat saat waktu sudah maghrib lalu mereka pun shalat ashar di waktu maghrib.

dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu katanya:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ جَاءَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ بَعْدَ مَا غَرَبَتْ الشَّمْسُ فَجَعَلَ يَسُبُّ كُفَّارَ قُرَيْشٍ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كِدْتُ أُصَلِّي الْعَصْرَ حَتَّى كَادَتْ الشَّمْسُ تَغْرُبُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ مَا صَلَّيْتُهَا فَقُمْنَا إِلَى بُطْحَانَ فَتَوَضَّأَ لِلصَّلَاةِ وَتَوَضَّأْنَا لَهَا فَصَلَّى الْعَصْرَ بَعْدَ مَا غَرَبَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهَا الْمَغْرِبَ

“Bahwa Umar bin Al Khaththab datang pada hari peperangan Khandaq setelah matahari terbenam hingga ia mengumpat orang-orang kafir Quraisy, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku belum melaksanakan shaat ‘Ashar hingga matahari hampir terbenam!” Maka Nabi shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun bersabda: “Demi Allah, aku juga belum melaksanakannya.” Kemudian kami berdiri menuju Bath-han, beliau berwudlu dan kami pun ikut berwudlu, kemudian beliau melaksanakan shalat ‘Ashar setelah matahari terbenam, dan setelah itu dilanjutkan dengan shalat Maghrib.” (HR. Bukhari no. 596)

Imam Ibnu Rusyd Rahimahullah menerangkan:

اتفق العلماء على أن قضاء الصلاة واجب على الناسي والنائم

_Para ulama sepakat tentang wajibnya mengqadha shalat bagi orang lupa atau tertidur._ (Bidayatul Mujtahid, 1/182).

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Bersuci istinja cebok najis

Sholat di Atas Kasur Yang Pernah Kena Ompol

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz apa yang harus dilakukan bila saat sakit solatnya di atas tempat tidur yang kasurnya pernah kena ompol, tapi tidak bisa dicuci karena kasurnya spring bed yang besar ?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Salah satu syarat sahnya shalat adalah SUCI, suci orangnya dr hadats, najis, junub, dan suci tempatnya dari najis.

Najis yg dimaksud adalah najis yg zhahir, yg nampak, baik pada pakaian, sajadah, lantai/tanah tempat shalat. Sedangkan najis yg tidak nampak dan tersembunyi, seperti yang ada di perut kita, lambung, atau usus, maka ini tidak termasuk. Begitu pula najis yg ada di bawah tanah, atau di bawah lantai, dan sudah tertutup lapisan tanah yg suci atau tertutup lapisan tanah, tegel, keramik lantai.. Maka ini tdk menghalangi shalat di atasnya. Shalatnya tetap sah, boleh, namun sebagian ulama mengatakan makruh walau sah.

Dalam madzhab Imam Malik, berkata Al Mawaaq, dalam Taj Al Iklil:

 من المدونة قال مالك: لا بأس أن يصلي المريض على فراش نجس إذا بسط عليه ثوبا طاهرا كثيفا، قال بعضهم: بل ذلك جائز للصحيح لأن بينه وبين النجاسة حائلا طاهرا كالحصير إذا كان بموضعه. انتهى

Dari kitab Al Mudawanah: Imam Malik berkata tidak apa-apa orang yang sakit shalat di atas lantai yang najis, jika di atasnya sudah ditutup dengan kain yang suci. Bahkan menurut yang lainnya, hal itu boleh lagi benar, sebab antara dia dan najis ada penghalang yang suci, seperti dia meletakkan keset dari jerami di atasnya. (Taaj Al Iklil, 2/273)

Sementara Imam An Nawawi dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab:

 قال أصحابنا: يكره أن يصلي في مزبلة وغيرها من النجاسات فوق حائل طاهر لأنه في معنى المقبرة. انتهى

Sahabat-sahabat kami (Syafi’iyah) mengatakan, bahwa makruh shalat di tempat sampah atau lainnya yang mengandung najis, walau sudah ditutup dengan penghalang yg suci, sebab itu sama seperti kuburan.

(Al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab, 3/158)

Imam Al Mardawi (Hambali) mengatakan dalam Al Inshaf:

قوله: وإن طين الأرض النجسة، أو بسط عليها شيئاً طاهرا، صحت صلاته عليها مع الكراهة. وهذا المذهب، وهو ظاهر كلام الإمام أحمد

Jika tanah ada najisnya, atau digelar di atasnya sesuatu yang suci, maka shalatnya tetap SAH tapi MAKRUH. Inilah pendapat resmi madzhab (Hambali), dan sesuai zahir ucapan Imam Ahmad bin Hambal. (Al Inshaf, 3/283)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Membayar Zakat

Menikmati Beras Zakat Fitrah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bagaimana hukumnya seorang nenek yang menerima zakat fitrah dari tetangga di dekat rumahnya..
Nenek ini memiliki rumah peninggalan suami yang ditempati bersama anak2nya.
Kebutuhan nenek ini dipenuhi oleh anak2nya secara sederhana karena penghasilan anak2nya hanya sekedar cukup.

Dan bagaimana bila anak2nya juga menikmati/makan dari beras fitrah yang diterima nenek..
Jazakumullah..🙏🏻
Pertanyaan member

A-28

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Jawaban

Oleh: Ustadz Slamet Setiyawan S,HI

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Zakat fitrah termasuk ke dalam salah satu rukun Islam. Zakat dibayarkan pada bulan Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idulfitri.

Zakat fitrah wajib ditunaikan oleh seorang muslim yang telah mampu melakukannya. Zakat diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan yang disebut dengan mustahik.

Umat Islam diperkenankan untuk membayar zakat fitrah langsung kepada mustahik yang bersangkutan.

Namun, tak selamanya mustahik dapat dijumpai sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan. Karena itulah, muslim di Indonesia terbiasa membayarkan zakat fitrah melalui perantara badan amil zakat yang tersedia baik di tingkat daerah ataupun nasional.

Yang perlu dicatat, keberadaan badan amil zakat tak menghalangi orang-orang yang ingin menyampaikan zakat fitrah secara langsung pada mustahik. Keduanya sama-sama dapat membersihkan jiwa dan hati umat Islam.

Adapun beras dari memberi zakat yang diberikan kepada mustahik boleh dinikmati oleh keluarganya, selama mendapatkan Ridho dari mustahik tersebut. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Larangan Memakan Sembelihan Tanpa Dibacakan Basmalah

Menyembelih Banyak Hewan dengan Satu Basmalah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, bagaimana kalau memotong ayam banyak tapi baca bismillahnya cuma satu kali menurut islam?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Prinsip dasar pemotongan hewan yang halal menurut syariat Islam adalah: Penyembelihnya harus seorang muslim, alat yang digunakan tajam, menyembelih pada bagian leher di saluran makanan dan pernafasan dan membaca basmalah.

Terkait bacaan basmalah, jumhur ulama menyatakan bahwa perkara tersebut termasuk syarat sahnya penyembelihan apabila seseorang ingat dan mampu. Berdasarkan firman Allah taala:

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan…” (QS. Al-An’am: 121)

Jika ayam tersebut disembelih secara manual, maka setiap kali menyembelih pemotongnya harus membaca basmalah, tidak cukup sekali basmalah untuk sekian banyak ayam.

Adapun jika penyembelihannya menggunakan mesin khusus penyembelihan yang dapat menyembelih sekian ratus ayam sekaligus maka menurut beberapa fatwa kontemporer dari beberapa lembaga fatwa, hal tersebut dibenarkan dengan beberapa catatan;

– Mesin tersebut dioperasikan oleh seorang muslim dan membaca basmalah saat mengoperasikannya, walau sekali saja.

– Sejumlah ayam yang hendak dipotong sudah dalam keadaan siap disembelih. Jika dipersiapkan lagi kelompok ayam yang baru untuk disembelih, maka ulang lagi bacaan basmalahnya.

– Alat penyembelihan harus berupa benda tajam yang menyembelih bagian leher serta memutus saluran pernafasan dan makanan ayam tersebut.
Wallahu A’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Dzikrullah

Berdzikir Dalam Keadaan Hadats

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, klu lagi haid bolehkah membca Doa Robbitoh, Syukron Ustadz.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim..

Berdzikir kepada Allah ﷻ baik dengan bertasbih, tahmid, takbir, tahlil, atau lainnya, dalam keadaan hadats kecil atau besar adalah boleh. Ini perkara yang tidak diperselisihkan para ulama.

Hal ini berdasarkan beberapa dalil berikut:

Aisyah Radhiallahu ‘Anha berkata:

كَانَ النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – يَذْكُرُ الله عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

Dahulu Nabi ﷺ berdzikir kepada Allah ﷻ di setiap keadaan. (HR. Bukhari secara mu’allaq)

Hadits ini menunjukkan bahwa dzikir bukan hanya saat suci, tapi semua keadaan. Sehingga para ulama menegaskan bahwa suci bukan syarat sahnya berdzikir dan berdoa.

Hadits lain, Aisyah Radhiallahu ‘ Anha bercerita saat dia haid, dan haji ke Mekkah, Rasulullah ﷺ bersabda:

افْعَلِي كَمَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي

“Lakukanlah semua manasik haji seperti yang dilakukan para jamaah haji, selain thawaf di Ka’bah Baitullah sampai kamu suci.”

(HR. Muttafaq ‘Alaihi)

Hadits ini menunjukkan kebolehan wanita haid melaksanakan semua manasik haji (sa’i, wuquf, mabit, jumrah) kecuali thawaf. Padahal saat sa’i, wuquf, dianjurkan banyak berdzikir sebagaimana jamaah haji lainnya. Maka, ini menunjukkan kebolehan yang begitu jelas bagi orang berhadats untuk dzikir dan berdoa.

Imam an Nawawi Rahimahullah mengatakan:

أجمع المسلمون على جواز التسبيح والتهليل والتكبير والتحميد والصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم وغير ذلك من الأذكار وما سوى القرآن للجنب والحائض ودلائله مع الإجماع في الأحاديث الصحيحة مشهورة

Kaum muslimin telah ijma’ (aklamasi) bolehnya bertasbih, tahlil, tahmid, takbir, bershalawat kepada nabi, dan dzikir-dzikir lainnya -selain membaca Al Quran- bagi orang yang junub dan haid. Selain ijma’, hal ini juga ditunjukkan oleh dalil hadits shahih yang begitu banyak dan masyhur.

(Al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab)

Hanya saja, jika seseorang bersuci lebih dulu tentu itu lebih baik, lebih disukai, dan lebih utama.

Berdasarkan hadits berikut:

عَنِ الْمُهَاجِرِ بْنِ قُنْفُذٍ
أَنَّهُ سَلَّمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ حَتَّى تَوَضَّأَ فَرَدَّ عَلَيْهِ وَقَالَ إِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أَرُدَّ عَلَيْكَ إِلَّا أَنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللَّهَ إِلَّا عَلَى طَهَارَةٍ

Dari Al Muhajir bin Qunfudz bahwa ia pernah mengucapkan salam atas Nabi ﷺ dan saat itu, beliau sedang berwudhu. Namun, beliau tidak membalas salamnya hingga beliau selesai wudhu, baru kemudian beliau membalasnya dan bersabda:

“Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk membalas salammu, kecuali karena saya tidak suka berdzikir kepada Allah selain dalam keadaan suci.”

(HR. Ahmad no. 18259)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Memandikan Jenazah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya tentang memandikan jenazah.

1. Bagaimana jika kita memandikan jenazah, menemukan kondisi badan si mayit posisinya tidak lurus. Misalnya kakinya tertekuk, atau dalam kondisi meringkuk. Apakah kita harus meluruskan badan si mayit, atau membiarkannya dalam kondisi seperti itu?
2. Benarkah Ali ra memandikan sendiri Fatimah istrinya ketika wafat?
3. Kami pernah memandikan jenazah seorang ibu yang habis operasi Cesar, luka bekas jahitan operasi itu dalam kondisi ditutup perban. Kami dan pihak keluarga si mayit khawatir jahitannya masih basah, maka kami tidak membuka perban tersebut. Salahkan yang kami lakukan?

Jazakumullaah khoir
Wassalamu ‘alaikum wr wb

A/19


🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

1. Ya, luruskan posisi mayit tersebut, lemaskan dengan gerakan yang lembut beberapa kali sampai lurus atau posisi tubuh menjadi normal telentang.

2. Ya, menurut Imam Ibnul Atsir dalam _Usudul Ghabah_ bahwa yang memandikan Fathimah Radhiyallahu ‘Anha saat wafat adalah Ali Radhiallahu ‘Anhu dan Asma’ Radhiallahu ‘Anha. Menurut Imam Ibnul Atsir ini yg shahih.

Ada pun kisah yang menyebut bahwa Fathimah sudah memandikan dirinya sendiri sebelum wafatnya, dan Ali hanya menguburkan tanpa memandikannya, menurut Imam adz Dzahabi dalam _Siyar A’lam an Nubala_ sanadnya munkar.

3. Jika dibuka akan mencederai dan menyakitinya, maka jangan dibuka. Sebab, manusia itu tetap terhormat baik hidup dan matinya. Dan Memandikannya tetap sah. Tapi, perban kecil atau plester yang masih bisa dibuka tanpa merusak sama sekali tubuhnya, ini hendaknya dibuka.

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

_“Mematahkan tulang seorang mayat, sama halnya dengan mematahkannya ketika dia masih hidup.”_ *(HR. Abu Daud No. 3207, Ibnu Majah No. 1616, Ahmad No. 24783, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Para perawinya terpercaya dan merupakan perawi hadits shahih, kecuali Abdurrahman bin Ubay, yang merupakan perawi kitab-kitab sunan, dan dia shaduq (jujur).” Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 24783)*

Maka menyakitinya ketika sudah wafat adalah sama dengan menyakitinya ketika masih hidup, yaitu sama dalam dosanya. *(Imam Abu Thayyib Abadi, ‘Aunul Ma’bud, 9/18)* karena mayit juga merasakan sakit. *(Ibid)*

Menyakiti seorang mukmin ketika matinya, sama dengan menyakitinya ketika dia masih hidup. *(Lihat Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 12115)*

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Agungkan Allah Ketika Ruku dan Sujud

Posisi Kaki Saat Sujud

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… mau bertanya. Sebenarnya posisi kedua kaki saat sujud shalat itu rapat atau renggang?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

Masalah rapatnya tumit kedua kaki saat sujud, diperselisihkan para ulama. Sebagian ulama menetapkan bahwa sujud itu hendaknya tumit dirapatkan, dengan jari-jemari kaki mengarah ke kiblat.

Dasarnya adalah, dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha, dia berkata:

فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ مَعِي عَلَى فِرَاشِي، فَوَجَدْتُهُ سَاجِدًا رَاصًّا عَقِبَيْهِ مُسْتَقْبِلًا بِأَطْرَافِ أَصَابِعِهِ الْقِبْلَةَ

”Aku kehilangan Rasulullah ﷺ, saat itu dia bersamaku di pembaringan, aku dapati Beliau sedang sujud, merapatkan tumitnya, dan mengarahkan jari jemari kaki ke kiblat.” [1]

Hadits ini shahih menurut Imam Al Hakim, dan sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim. [2]

Imam Adz Dzahabi menyepakatinya dalam At Talkhish. Imam Ibnul Mulaqin juga menyatakan shahih. [3]

Dishahihkan pula oleh Syaikh Muhammad Mushthafa Al A’zhami dalam tahqiq beliau terhadap kitab Shahih Ibni Khuzaimah.

Sementara Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam Ibnu Hibban memasukan hadits ini dalam kitab Shahih mereka masing-masing, artinya dalam pandangan mereka ini hadits shahih. Syaikh Al Albani juga menshahihkan haidts ini.[4]

Bagi yang menshahihkan tentu menjadikan hadits ini sebagai hujjah bahwa saat sujud hendaknya tumit bertemu atau rapat.

Sementara ulama lain mendhaifkan hadits ini, karena dalam sanadnya terdapat perawi bernama Yahya bin Ayyub Al Ghafiqi. Beliau pribadi yang kontroversi, ada yang mendhaifkan ada pula yang menyatakan tsiqah (terpercaya).

Ibnu Sa’ad mengatakan: “Dia haditsnya munkar.”[5]

Al ‘Ijli mengatakan: “terpercaya.” [6]

Yahya bin Ma’in mengatakan: “Orang mesir, shalih, dan terpercaya.” Sementara Abu Hatim berkata: “Haditsnya ditulis tapi tidak bisa dijadikan hujjah.” [7]

Imam An Nasa’i mengatakan: “Tidak kuat dan tidak bisa dijadikan hujjah.” [8]

Imam Ahmad mengatakan: “Buruk hapalannya.” Imam Ad Daruquthni mengatakan: “Sebagian haditsnya goncang.” [9]

Tapi, Imam Al Bukhari dan Imam Muslim memasukan Yahya bin Ayyub sebagai salah satu perawinya, dalam hadits-hadits yang sifatnya penguat saja. Oleh karena itu, sebagaian ulama menganggap ini hadits dhaif, dan secara lafal juga syadz (janggal), karena bertentangan dengan hadits yang lebih shahih darinya.

Apalagi Imam Al Hakim berkata:

وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ بِهَذَا اللَّفْظِ، لَا أَعْلَمُ أَحَدًا ذَكَرَ ضَمَّ الْعَقِبَيْنِ فِي السُّجُودِ غَيْرَ مَا فِي هَذَا الْحَدِيثِ

Imam Al Bukhari dan Imam Muslim tidak meriwayatkan dengan lafaz seperti ini. Aku tidak ketahui seorang pun yang menyebut adanya merapatkan dua mata kaki saat sujud selain yang ada pada hadits ini saja. [10]

Dengan kata lain, inilah satu-satunya hadits yang menyebutkan merapatkan tumit atau mata kaki saat sujud.

Ada pun hadits yang lebih shahih tidak menyebutkan merapatkan kaki, yaitu:

فَقَدْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ

“Aku kehilangan Rasulullah ﷺ suatu malam dari pembaringannya, maka aku menyentuhnya, tanganku memegang bagian dalam kedua kakinya dan dia sedang dimasjid dan beliau berdiri.” [11]

Dalam riwayat lain:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا فَقَدَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَضْجَعِهِ، فَلَمَسَتْهُ بِيَدِهَا، فَوَقَعَتْ عَلَيْهِ وَهُوَ سَاجِدٌ

“Dari ‘Aisyah bahwa dia kehilangan Nabi ﷺ dari pembaringannya, dia menyentuhnya dengan tangannya dan nabi sedang sujud.” [12]

Nah, riwayat-riwayat ini tidak ada yang menyebutkan rapatnya kedua tumit saat sujud. Secara sanad pun ini yang lebih kuat dibanding sebelumnya. Inilah yang dipilih oleh banyak ulama, juga Syaikh Bakr Abu Zaid, Syaikh Muqbil, dan lainnya, bahwa saat sujud kedua telapak kaki direnggangkan.

Demikian. Wallahu A’lam

Catatan:

[1] HR. Ibnu Khuzaimah no. 654, Al Hakim, Al Mustadrak no. 832,
Ibnu Hibban no. 1933, Ath Thahawi dalam Musykilul Atsar no. 111

[2] Imam Al Hakim, Al Mustadrak no. 932

[3] Imam Ibnul Mulaqin, Badrul Munir, 1/621

[4] Syaikh Al Albani, Ta’liqat Al Hisan no. 1930

[5] Imam Muhammad bin Sa’ad, Ath Thabaqat Al Kubra no. 7090

[6] Imam Ibnu Hibban, Ats Tsiqat no. 1791

[7] Imam Ibnu Abi Hatim, Al Jarh wat Ta’dil, 9/128

[8] Imam Ibnul Jauzi, Adh Dhuafa wal Matrukin no. 3694

[9] Imam Adz Dzahabi, Al Mughni fidh Dhuafa no. 6931

[10] Imam Al Hakim, Al Mustadrak no. 832

[11] HR. Muslim no. 486

[12] HR. Ahmad No. 25757. Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan: “Para perawinya terpercaya, semua perawinya Bukhari dan Muslim, kecuali Shalih bin Sa’id. Ibnu Hibban mengatakan terpercaya.”

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Keutamaan Salat Shubuh

Jika Salah Bacaan Sholat, Apakah Wajib Qodho?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, apakah saya wajib mengqadha shalat saya jika saya salah bacaan syahadat saya ketika tahiyat awal dan akhir Karena tidak tahu atau salah mengira, seharusnya lafad asyhadu dibaca dengan ش tapi saya kira di baca dengan س. Apakah ini merubah makna dan saya harus mengqadha shalat saya?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pelaksanaan ibadah yang keliru yang pernah dilakukan karena tidak ada ilmu atau tidak mengetahui permasalahan tersebut dengan sebenarnya, jika sudah terlaksana, maka tidak perlu diqadha lagi. Akan tetapi dia tentu saja harus belajar dan memperbaiki apa yang sebelumnya ia yang merasa kurang melakukannya. Hal ini sesuai dengan ayat yang pernah menjadi doa kita:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا..

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah…” (QS. Al-Baqarah: 286).

Juga disebutakan dalam hadits

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَال: (إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ)

“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah membiarkan(mengampuni) kesalahan dari umatku akibat kekeliruan dan lupa serta keterpaksaan.” (HR. Ibnu Majah).

Ada juga riwayat yang menjelaskan bahwa orang yang keliru sholatnya, ketika dia selesai sholat, kemudian menghadap Rasulullah SAW dan mengucapkan salam, maka Rasulullah SAW perintahkan untuk sholat lagi, lalu dia balik lagi dan Rasulullah SAW perintahkan untuk sholat lagi, karena dikatakan belum sholat. Sampai ketiga kali dia mengatakan “ajarkan aku ya Rasulullah SAW sholat, karena aku tidak bisa lebih dari ini sholatku”, maka Rasulullah Saw ajarkan sholat yang benar (HR. Bukhari).

Dalam riwayat tersebut Rasulullah Saw tidak memerintakan orang tersebut untuk mengulangi sholatnya. Hal ini menunjukkan bahwa amalan-amalan ibadah yang pernah dia lakukan dan di dalamnya ada kekeliruan dan dia ketahui di kemudian hari, maka itu tidak perlu di qadha lagi ibadahnya. Yang jelas ke depan dia harus memperbaiki sebaik mungkin sesuai ajaran yang benar. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Kenikmatan Waktu Luang dan Sehat

Keutamaan Amalan Dibulan Dzulqo’dah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… saya mau bertanya, Apa keutamaan amalan dibulan Dzulqo’dah.dan bagaimana menjaga spirit diluar Ramadhan agar tetap bisa seperti Ramadhan?A_04

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Slamet Setiawan, S,HI

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Dzulqadah adalah bulan ke sebelas dalam Tahun Hijriyah dan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah SWT, yaitu Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab,  sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS at-Taubah: 36)

Dzulqadah berasal dari bahasa Arab  ذُو القَعْدَة (dzul-qa’dah). Dalam kamus al-Ma’ānī kata dzū artinya pemilik, namun jika digandengkan dengan kata lain akan mempunyai makna tersendiri, misalnya dzū mālin (orang kaya), dzū ‘usrah (orang susah).

Kata “qa’dah” adalah derivasi dari kata “qa’ada”, salah satu artinya tempat yang diduduki. Sehingga Dzulqadah secara etimologi orang yang memiliki tempat duduk, dalam pengertian orang itu tidak bepergian kemana-mana ia banyak duduk (di kursi). Dari kata “qa’ada” ini bisa berkembang beberapa bentuk dan pemaknaan, antara lain taqā’ud artinya pensiun, konotasinya orang yang sudah purna tugas akan berkurang pekerjaannya sehingga dia akan banyak duduk (di kursi).
Dalam Lisānul ‘Arab disebutkan, bahwa bulan ke-11 ini dinamai Dzulqadah, karena pada bulan itu orang Arab tidak bepergian, tidak mencari pakan ternak, dan tidak melakukan peperangan. Hal itu dilakukan guna menghormati dan mengagunggkan bulan itu. Sehingga seluruh jazirah Arab pada bulan tersebut dipenuhi ketenangan. Dan ada lagi yang mengatakan bahwa mereka tidak bepergiaan itu karena untuk persiapan ibadah haji.

Keistimewaan :

1. Menurut Mazhab Syafii, barang siapa berbuat kebaikan di bulan-bulan suci, maka pahalanya dilipatgandakan, dan barang siapa berbuat kejelekan di bulan-bulan tersebut, maka dosanya dilipatgandaakan pula. Di samping itu,  pembayaran diyat yang diberikan kepada keluarga terbunuh di bulan-bulan suci harus diperberat.

2. Al-Thabari, sewaktu menafsirkan al-Taubah: 36, dia berpendapat bahwa kata ganti  fī hinna  di ayat itu  kembali ke bulan-bulan suci, dan dia menyebutkan dalil-dalil untuk memperkuat pendapatnya ini. Jika dikatakan bahwa pendapat ini berarti membolehkan untuk berbuat zalim di selain empat bulan suci itu, sudah barang tentu pendapat itu tidak benar, karena perbuatan zalim itu diharamkan kepada kita di setiap waktu dan di setiap tempat. Hanya saja Allah SWT sangat menekankan keempat bulan tersebut karena kemuliaan bulan itu sendiri, sehingga ada penekanan secara khusus kepada orang yang bebuat dosa pada bulan-bulan itu, sebagaimana ada penekanan secara khusus  kepada orang-orang yang memuliakannya.

Sebagai padanannya firman Allah SWT:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى

“Peliharalah semua sholat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa.” (QS al-Baqarah: 238).

Tidak diragukan lagi bahwasanya Allah SWT memerintah kita untuk memelihara (melaksanakan) seluruh shalat-shalat fardlu dan tidak berubah menjadi boleh meninggalkan shalat-shalat itu dikarenakan ada perintah untuk memelihara shalat wustha. Karena perintah memelihara shalat wustha di sana untuk penekanan agar diperhatikan jangan sampai ditinggalkannya.

Demikian halnya larangan berbuat zhalim pada keempat bulan suci dalam QS at-Taubah: 36

3. Bulan Dzulqadah termasuk bulan-bulan haji, sebagaimana firman-Nya:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.” (QS Al-Baqarah: 197)

Menurut Ibn Umar RA yang dimaksud bulan-bulan haji itu adalah: Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Menurut Ibnu Abbas RA diantara sunnah Rasulullah SAW adalah melaksanakan ihram haji hanya pada bulan-bulan haji tersebut.

4. Rasulullah SAW melaksanakan ibadah Umrah empat kali, tiga kali diantaranya dilaksanakan pada bulan Dzulqadah dan sekali bersama ibadah haji di bulan Dzulhijjah.

قَالَ أَنَسٌ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ-: “اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَرْبَعَ عُمَرٍ، كُلَّهُنَّ فِي ذِي القَعْدَةِ، إِلَّا الَّتِي كَانَتْ مَعَ حَجَّتِهِ: عُمْرَةً مِنَ الحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ العَامِ المُقْبِلِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الجِعْرَانَةِ، حَيْثُ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ” متفق عليه

Anas RA berkata: “Rasulullah SAW melaksanakan ibadah umrah empat kali, semuanya dilaksanakan padan bulan Dzulqadah, kecuali umrah yang dilaksanakan bersama ibadah Haji, yaitu umrah dari al-Hudaibiyah di bulan Dzulqadah, umrah tahun berikutnya di bulan Dzulqadah, umrah dari Ji’ranah sambil membagikan ghanimah perang Hunain di bulan Dzulqadah, dan umrah sekalian melaksanakan ibadah haji (di bulan Dzulhijjah).” (HR al-Bukhari/ 1654 dan Muslim/ 1253).

5. Keistimewaan lainnya dari bulan Dzulqadah,  Allah SWT berjanji untuk berbicara kepada Nabi Musa as selama tiga puluh malam di bulan Dzulqadah, ditambah sepuluh malam di awal bulan Dzulhijjah, sebagaimana firman Allah SWT:

وَوَٰعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَٰثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَٰهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَٰتُ رَبِّهِۦٓ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi).” (QS Al-A’raf: 142).

Mayoritas ahli tafsir mengatakan bahwa, “Tiga puluh malam itu adalah di bulan Dzulqadah, sedangkan yang sepuluh malam adalah di bulan Dzulhijjah.” (Tafsir Ibni Katsir II/244)

Menjaga Spirit Ramadhan

Setelah melewati bulan suci Ramadhan, kita memasuki bulan Syawal yang penuh dengan sukacita kemenangan di hari yang fitri. Walau sudah tidak berada dalam bulan Ramadhan, sebagai umat Muslim wajib untuk tetap istiqamah dan bersemangat untuk beribadah kepada Allah Swt agar terus memperoleh keberkahan dan pahala yang berlimpah.

Berikut beberapa tips mudah untuk menjaga semangat beribadah setelah Ramadhan:

1. Istiqamah melakukan hal baik

Dari ’Aisyah, Nabi SAW bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

”Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin walaupun sedikit.” HR. Muslim no. 782

Melakukan ibadah apapun merupakan sesuatu hal baik yang tentunya disukai oleh Allah SWT. Perbuatan baik tidak perlu dengan bentuk yang besar, mulai dari hal kecil seperti memberikan bantuan sedikit rezeki kepada orang yang tidak mampu dan lain lain.

2. Membiasakan berpuasa sunah

Puasa sunnah merupakan salah satu amalan yang dianjurkan dilaksanakan pada bulan bulan setelah bulan Ramadhan. Seperti puasa ayyamul bid, puasa senin/kamis, puasa arafah, puasa asyura, puasa sya’ban atau puasa daud.

Nabi SAW menyebutkan keutamaan puasa sunnah sebagai berikut: “Maukah kutunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai,…” (HR. Tirmidzi).

3. Membaca Al-Quran setiap hari

Rutinitas membaca Al-Quran di bulan Ramadhan bisa menjadi cara tetap bersemangat untuk selalu beribadah kepada Allah. Meskipun intensitas membaca Al-Quran akan berbeda setelah Ramadhan, numan dengan selalu konsisten membaca satu halaman perhari akan lebih mudah. Selain itu, membaca Al-Quran setiap hari akan mendatangkan kebaikan.

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala” (HR. Muslim).

4. Bersilaturahim

Bersilahturahim merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Saat seorang muslim akan panjanglah umurnya dan lapang rejekinya. Selain itu, silaturahmi  ini juga memiliki nilai amalan pahala yang besar. Seperti dalam hadis berikut, Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahim,” (HR. Bukhari – Muslim).

Kegiatan bersilaturahim tentu mudah untuk dilakukan agar tetap bersemangat dalam menjalankan ibadah lainnya. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678