Larangan Rasulullah Tentang Istinja

Ini Mani atau Madzi?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

numpang tanya ust/ustzh. Saya ada kecemasan dalam keseharian saya.setiap pulang ke rumah dr berpergian/pulang kerja. saya dapati di dalaman saya ada bekas mani mengering& banyak bercak.apakah itu tetap sah seharian Sy melaksanakan solat.dlm kondisi seperti tsb.karena saya merasa ketika buang air kecil atau besar itu saya berusaha membersihkan sebisa mungkin.saya pernah baca kisah sahabat Ali bin Abi Tholib. sahabat juga menantu Rasulullah SWA.kalau tidak salah mohon di luruskan. 🙏kondisinya mirip seperti yg saya alami. dan setau saya di kisah itu tetap sah&ga usah mandi junub.mohon pencerahannya. 🙏

Terimakasih atas jawabannya. Jazakallah khoiron katsiro. (I/13)

وسلا م عليكم ورحمة الله وبر كاته

 

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz : Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim..

Pastikan dulu apakah itu mani atau madzi. Apa yang dialami olehAli bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhy adalah MADZI bukan MANI.

Ini Mani atau Madzi?

Bismillahirrahmanirrahim..

Air mani dan madzi itu ada cirinya masing-masing, bukan hanya secara zat tapi juga sebab keluarnya.

📌 Air Madzi

Madzi itu keluar disaat syahwat, dialami oleh laki-laki dan perempuan. Hanya saja perempuan lebih banyak, karena baginya berfungsi sebagai pelumas disaat jima’. Namun madzi bisa juga keluar tanpa syahwat, khususnya bagi yang sakit. Keluarnya madzi merembas, dan tanpa ada rasa apa-apa.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah memberikan penjelasan tentang madzi:

وهو ماء أبيض لزج يخرج عند التفكير في الجماع أو عند الملاعبة، وقد لا يشعر الانسان بخروجه، ويكون من الرجل والمرأة إلا أنه من المرأة أكثر، وهو نجس باتفاق العلماء

Itu adalah air berwarna putih agak kental yang keluar ketika memikirkan jima’ atau ketika bercumbu, manusia tidak merasakan keluarnya, terjadi pada laki-laki dan wanita hanya saja wanita lebih banyak keluarnya, dan termasuk najis berdasarkan kesepakatan ulama.

(Fiqhus Sunnah, 1/26. Darul Kitab Al ‘Arabi)

Dalilnya adalah riwayat dari Ali Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ رَجُلًا أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَسَأَلَ فَقَالَ تَوَضَّأْ وَاغْسِلْ ذَكَرَكَ

Saya adalah laki-laki yang mudah keluar madzi, maka saya minta seorang laki-laki untuk bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena kedudukan anak wanitanya, lalu dia bertanya, dan beliau berkata: Wudhulah dan cuci kemaluanmu. (HR. Bukhari No. 269)

Laki-laki tersebut adalah Al Miqdad bin Al Aswad, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Bukhari lainnya. (HR. Bukhari No. 132)

Hukumnya disepakati para ulama adalah najis, dan wajib dibersihkan, lalu wudhu. Bukan hadats besar.

📌 Air Mani

Ada pun mani, keluarnya saat puncak syahwat. Ditandai dengan rasa nikmat dan menyenangkan saat keluarnya, keluarnya memancar, lalu lemas setelah itu, dan darinyalah anak berasal.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah  mengatakan:

هُوَ الْمَاءُ الْغَلِيظُ الدَّافِقُ الَّذِي يَخْرُجُ عِنْدَ اشْتِدَادِ الشَّهْوَةِ

Itu adalah air kental yang hangat yang keluar ketika begitu kuatnya syahwat. (Al Mughni, 1/197)

Lebih rinci lagi disebutkan dalam kitab  Dustur Al ‘Ulama:

الْمَنِيُّ هُوَ الْمَاءُ الأْبْيَضُ الَّذِي يَنْكَسِرُ الذَّكَرُ بَعْدَ خُرُوجِهِ وَيَتَوَلَّدُ مِنْهُ الْوَلَدُ

Air mani adalah air berwarna putih yang membuat   kemaluan lemas setelah keluarnya, dan terbentuknya bayi adalah berasal darinya. (Dustur Al ‘Ulama, 3/361)

Para ulama tidak sepakat atas kenajisannya. Sebagian mengatakan suci seperti Syafi’iyah, Hambaliyah, Imam asy Syaukani, Syaikh Yusuf al Qaradhawi, dan lainnya. Ada pula yang mengatakan najis seperti Abu Hurairah, Hasan al Bashri, Hanafiyah, dan Malikiyah.

📌 Apa perbedaan mani dengan madzi?

Imam an Nawawi Rahimahullah mengatakan:

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْمَذْيِ وَالْمَنِيِّ أَنَّ الْمَنِيَّ يَخْرُجُ بِشَهْوَةٍ مَعَ الْفُتُورِ عَقِيبَهُ ، وَأَمَّا الْمَذْيُ فَيَخْرُجُ عَنْ شَهْوَةٍ لاَ بِشَهْوَةٍ وَلاَ يَعْقُبُهُ فُتُورٌ

Perbedaan antara madzi dan mani adalah, bahwa mani keluar dibarengi dengan syahwat dan keadaan lemas setelah keluarnya, ada pun madzi bisa keluar dengan syahwat dan tanpa syahwat, dan tidak membuat lemas setelah keluarnya. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 2/141)

Jadi, dari apa yang Anda ceritakan bahwa Anda tidak merasakan apa-apa saat keluarnya, aromanya tidak khas air mani, lalu membandingkannya dengan penjelasan ulama di atas, maka kemungkinan besarnya itu bukan mani, tapi madzi. Cukup cebok dan wudhu saja, serta ganti celana dalam. Lalu, sungguh-sungguhlah dalam menghilangkan was was. Anda bisa perkuat dengan membaca surat perlindungan (al Mu’awwidzat: al Ikhlas, al falaq dan an naas).

Namun, jika Anda mengalami keraguan, maka pilih yang paling meyakinkan dugaannya (zhann ar raajih) saat itu. Lalu ambillah sikap dari situ, sesuai kaidah:

اليقين لا يزال بالشك

Keyakinan tidak bisa dianulir oleh keraguan

Demikian. Wallahu a’lam

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa’ Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

ilmu tasawauf

Bagaimana Hukum Mempelajari Ilmu Tasawuf?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, ketika tarikat (tasawuf) itu merupakan sesuatu yang menjadi penyempurna ibadah, apa hukum mempelajarinya apakah wajib atau bagaimana?

Jawaban

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim

Ilmu Tasawwuf (ahli tasawwuf disebut sufi) adalah “lembaga” keilmuan sebagaimana yang lainnya seperti ilmu fiqih, ilmu aqidah, ilmu sejarah, ilmu tafsir, ilmu hadits, dan lainnya.

Ilmu tasawwuf menitikberatkan pada pembinaan akhlak dan spiritualitas (tarbiyah akhlaqiyah wa ruhiyah). Inilah bagian yang luput dari perhatian para ulama yang umumnya menitikberatkan hukum-hukum lahiriyah. Sebagian orang ada yang lebih menyukai penamaannya adalah ilmu akhlak dan jiwa. Sebab, penamaan tasawwuf dianggap sesuatu yang bercitra negatif lantaran perilaku sebagian sufi, khususnya sufi di abad pertengahan yang telah keluar dari rel sufi generasi pertama.

Tidak ada sepakat para sejarawan dari mana asal muasal istilah tasawwuf. Ada yang menyebutnya dari Ash Shuf (wol) karena pakaian yang mereka pakai terbuat dari bahan wol dan kasar yang menunjukkan ketidakcintaan mereka kepada dunia. Ada juga yang mengatakan berasal dari kata: Ahlush Shufah, yaitu sekelompok sahabat nabi yang hidup sederhana di emperan masjid nabawi.

Ada baiknya, kita mencermati dahulu perjalanan tasawwuf. Syaikh Hasan al-Banna bercerita:

حين اتسع عمران الدولة الإسلامية في صدر القرن الأول، وكثرت فتوحاتها وأقبلت الدنيا على المسلمين من كل مكان، وحببت إليهم ثمرات كل شيء، وكان خلفيتهم بعد ذك يقول للسحابة في كبد السماء: شرقي أو غربي فحيثما وقع قطرك جاءني خراجه. وكان طبيعيا أن يقبلوا على هذه الدنيا يتمتعون بنعيمها ويتذوقون حلاوتها وخيراتها في اقتصاد أحيانا وفي إسراف أحيانا أخرى، وكان طبيعيا أمام هذا التحول الاجتماعي، من تقشف عصر النبوة الزاهر إلى لين الحياة ونضارتها فيما بعد ذلك، أن يقوم من الصالحين الأتقياء العلماء الفضلاء دعاة مؤثرون يزهدون الناس في متاع هذه الحياة الزائل، ويذكرونهم بما قد يسره من متاع الآخرة الباقي: “وإن الدار الآخرة لهي الحيوان لو كانوا يعلمون” ومن أول هؤلاء الذين عرفت عنهم هذه الدعوة – الإمام الواعظ الجليل – الحسن البصري، وتبعه على ذلك كثير من أضرابه الدعاة الصالحين، فكانت طائفة في الناس معروفة بهذه الدعوة إلى ذكر الله واليوم الآخر. والزهادة في الدنيا، وتربية النفوس على طاعة الله وتقواه. وطرأ على هذه الحقائق ما طرأ على غيرها من حقائق المعارف الإسلامية فأخذت صورة العلم الذي ينظم سلوك الإنسان ويرسم له طريقا من الحياة خاصا: مراحله الذكر والعبادة ومعرفة الله، ونهايته الوصول إلى الجنة ومرضاة الله

“Ketika kemakmuran pemerintahan Islam telah melebar luas pada permulaan abad pertama, penaklukan berbagai negara pun banyak berlangsung. Masyarakat dari berbagai penjuru dunia memberikan perhatiannya kepada kaum muslimin. Segala jenis buah telah tergenggam dan bertumpuk di tangan mereka. Khalifah ketika itu berkata kepada awan dan langit, ‘Barat maupun Timur entah bagian bumi mana pun yang mendapat tetesan air hujan-Mu, pasti akan datang kepadaku membawa upeti’.”

Suatu hal yang lumrah jika ada umat manusia ketika menerima nikmat dunia, mereka menikmati kelezatan dan anugerah yang ada. Memang ada yang menikmatinya dengan kesahajaan. Ada pula yang menikmatinya dengan berlebihan. Sudah menjadi hal yang lumrah pula perubahan sosial itu terjadi. Dari kesahajaan hidup masa kenabian, kini telah sampai pada masa kemewahan.

Melihat kenyataan itu, bangkitlah dari kalangan ulama yang shalih dan bertakwa serta para dai yang menghimbau umat manusia untuk kembali kepada kehidupan zuhud terhadap kesenangan duniawi yang fana sekaligus mengingatkan mereka pada berbagai hal yang dapat melupakan dirinya dari nikmat akhirat yang kekal abadi. Sungguh, kampung akhirat itulah kehidupan yang kekal lagi sempurna jika mereka mengetahui.

Satu yang saya ketahui adalah seorang Imam pemberi petuah yang mulia, Hasan al Bashri. Meski akhirnya diikuti pula sekian banyak orang shalih lainnya semisal beliau. Terbentuklah sebuah kelompok di tengah-tengah umat yang dikenal dengan dakwahnya untuk selalu mengingat Allah Ta’ala dan mengingat akhirat, zuhud di dunia, serta men-tarbiyah diri untuk selalu menaati Allah Ta’ala dan bertakwa kepada-Nya.

Dari fenomena itu, lahirlah format keilmuan seperti disiplin ilmu keislaman lainnya. Dibangunlah suatu disiplin ilmu yang mengatur tingkah laku manusia dan melukiskan jalan kehidupannya yang spesifik. Tahapan jalan itu adalah zikir, ibadah, dan ma’rifatullah. Sedangkan hasil akhirnya adalah surga Allah dan ridha-Nya.”

(Imam Hasan al-Banna, Mudzakkirat ad-Da’wah wad-Da’iyyah, Hal. 24)

Demikianlah tasawwuf. Pada mulanya, ia adalah suatu yang mulia. la mengisi kekosongan yang dilupakan fuqaha (ahli fiqh), muhadditsin (ahli hadis), dan mutakallimin (ahli kalam). Yaitu kekosongan ruhiyah (jiwa) dan akhlak. Secara jujur harus diakui, inti ajaran Islam adalah akhlak yang menjadi tujuan diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menyempurnakannya. Penerapan syariat Islam dari lingkup terkecil, individu, sampai terbesar, pergaulan antar bangsa, dan semuanya memiliki dimensi akhlak. “Pada hakikatnya, tasawwuf adalah akhlak. Siapa yang bertambah baik akhlaknya, bertambah baik pula tasawwuf-nya.” Demikian kata Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah. Di sisi ini, adalah hal yang bagus jika seorang muslim mempelajarinya baik dinamakan dengan tasawwuf atau tarbiyah ar ruhiyah wal akhlaqiyah atau apa pun. Selama tidak mengandung penyimpangan sebagai tasawwuf yang dianut sebagian tokohnya yang sudah tercampur ajaran filsafat (sufi falsafi).

Dalam kitab-kitab madzhab Maliki dan lainnya, tersebar perkataan yang masyhur dari Imam Malik Rahimahullah:

مَنْ تَفَقَّهَ وَلَمْ يَتَصَوَّفْ فَقَدْ تَفَسَّقَ، وَمَنْ تَصَوَّفَ وَلَمْ يَتَفَقَّهْ فَقَدْ تَزَنْدَقَ، وَمَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فَقَدْ تَحَقَّقَ

Siapa yang berfiqih tapi tidak bertasawwuf maka dia akan fasiq, siapa yang bertasawwuf tapi tidak berfiqih maka dia akan zindiq, siapa yang menggabungkan keduanya maka dia telah benar.

(Imam Ali al ‘Adawi, Hasyiyah al ‘Adawi, 3/195, Imam Ali al Qari, Mirqah al Mafatih, 1/335. Imam asy Sya’rani, ath Thabaqat al Kubra, 1/417)

Imam al’ Ajluni Rahimahullah menyebutkan bahwa Imam asy Syafi’i Rahimahullah berkata:

وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث: ترك التكلف، وعشرة الخلق بالتلطف، والاقتداء بطريق أهل التصوف

Ada tiga hal yang jadi kesukaanku atas dunia kalian: meninggalkan sikap memberatkan diri, bergaul dengan makhluk dengan kelembutan, dan mengikuti jalan ahli tasawwuf.

(Kasyful Khafa, 1/394)

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah mengutip dari Imam asy Syafi’i Rahimahullah yang mengatakan:

صَحِبْتُ الصُّوفِيَّةَ فَمَا انْتَفَعْتُ مِنْهُمْ إِلَّا بِكَلِمَتَيْنِ سَمِعْتُهُمْ يَقُولُونَ: الْوَقْتُ سَيْفٌ. فَإِنْ قَطَعْتَهُ وَإِلَّا قَطَعَكَ. وَنَفْسُكَ إِنْ لَمْ تَشْغَلْهَا بِالْحَقِّ، وَإِلَّا شَغَلَتْكَ بِالْبَاطِلِ

Aku bersahabat dengan golongan sufi, tidaklah aku mendapatkan manfaat dari mereka kecuali dua ucapan yang aku dengar dari mereka. Mereka berkata: “Waktu adalah pedang, jika kamu tidak bisa mengendalikannya maka dia akan menebasmu. Dirimu jika sedang tidak sibuk dalam kebaikan, maka niscaya dia akan menyibukkanmu dengan kebatilan.” (Madarij as Salikin, 3/125)

Imam Amin al Kurdi Rahimahullah menceritakan tentang Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah:

إنه كان يقول لولده عبد الله قبل مصاحبة الصوفية: ” يا ولدي عليك بالحديث، وإياك ومجالسة هؤلاء الذين سموا أنفسهم بالصوفية، فإنهم ربما كان أحدهم جاهلاً بأحكام دينه، فلما صحب (أبا حمزة البغدادي الصوفي)، وعرف أحوال القوم أصبح يقول لولده: يا ولدي. عليك بمجالسة هؤلاء القوم، فإنهم زادوا علينا بكثرة العلم والمراقبة والخشية والزهد، وعلو الهمة “

Imam Ahmad bin Hambal berkata kepada anaknya di saat dia belum bergaul dengan majelisnya sufi: “Wahai anakku, peganglah hadits, dan jauhilah majelisnya orang-orang yang menamakan diri mereka dengan sufiyah karena bisa jadi mereka bodoh terhadap hukum-hukum agamanya.”

Namun saat dia bersahabat dengan Abu Hamzah al Baghdadi seorang sufi, maka dia menjadi tahu kondisi sufi, dan dia berkata: “Wahai anakku, hendaknya engkau bermajelis bersama kaum itu, karena mereka menambah untuk kita banyak ilmu, muraqabah, rasa takut, zuhud, dan cita-cita yang tinggi.”

(Tanwir al Qulub, Hal. 405)

Demikian. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Sedekah Utama Memberi Air

Macam-Macam Sedekah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, antara zakat dan sedekah, lebih diutamakan mana? Dan apa bila kita sudah berzakat dari gaji, lalu kita bersedekah dengan hajat ingin hutang² kita lunas, apa kah boleh??
Jazzakallah khoiron 🙏

Jawaban

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sedekah itu ada dua macam:

1. Sedekah dgn harta
2. Sedekah dgn amal perbuatan seperti senyum, berkata2 baik, membantu org yg kesulitan.

Yang sedekah harta juga ada dua:

1. Sedekah wajib, yaitu zakat, nafkah suami ke Istri dan anak.

2. Sedekah sunnah, seperti ke masjid, anak yatim, dll

Tentunya yg wajib lebih utama dibanding yang sunnah ..

Bayar hutang juga wajib, maka itu juga didahulukan dibanding sedekah yg sunnah.. Maka jk ada uang, bayar hutang dulu bukan sedekah sunnah dulu.. Apalagi jk hutang tsb lebih mendesak dilunasi, atau sudah ditagih..

Ada pun hutang yang lunak, jangka panjang, tidak mendesak atau tdk tagih secepatnya, maka boleh baginya untuk sedekah sunnah.

Demikian. Wallahu A’lam
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jangan berputus asa dari rahmat Allah

Mandi Taubat, Adakah?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, ada pertanyaan dari temen ….Nah aq di minta untuk ngikutin ky gitu. Sharing mba, suamiku kini ikut tharikat yg bagi jamaahnya untuk mandi taubat tiap tengah malam kemudian sholat hajat dan dzikir. Nah apakah seorang Hamba diwajibkan Mandi taubat kapan….? Apa setiap malam….? Tolong minta pencerahannya Ustadz. Jazakumullah🙏 A/30

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Perlu diketahui bahwasanya, yang dianjurkan adalah bertaubat itu sendiri, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةٗ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَيُدۡخِلَكُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ يَوۡمَ لَا يُخۡزِي ٱللَّهُ ٱلنَّبِيَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥۖ نُورُهُمۡ يَسۡعَىٰ بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَبِأَيۡمَٰنِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

(QS. At-Tahrim, Ayat 8)

Dari Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

” مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا، فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ، ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ: {وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ} [آل عمران: 135] إِلَى آخِرِ الْآيَةِ

Tidaklah seorang hamba melakukan dosa, lalu dia bersuci sebaik-baiknya, lalu melakukan shalat dua rakaat, lalu dia beristighfar kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuninya, lalu Beliau membaca ayat ini: Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali ‘Imran: 135)

(HR. At Tirmidzi No. 406,  katanya: hasan)

Hukumnya sunah, menurut kesepakatan empat madzhab Ahlus Sunnah:

صَلاَةُ التَّوْبَةِ مُسْتَحَبَّةٌ بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الأْرْبَعَةِ

                Shalat taubat adalah sunah menurut kesepakatan madzhab yang empat.(Hasyiah Ibni ‘Abidin, 1/462, Hasyiah Ad Dasuqi, 1/314, Asnal Mathalib, 1/205, Kasysyaaf Al Qina’, 1/443)

Ada pun mandi taubat, diperselisihkan para ulama. Sebagian mereka mengatakan tidak dikenal dan tidak disyariatkan, serta tidak ada dalam kitab-kitab fiqih. Yang dikenal adalah mandi wajib (janabah, haid, nifas, mandi bagi muallaf), ada juga mandi sunnah seperti: mandi setelah mandikan mayat, mandi ihram, mandi masuk ke mekkah, mandi setelah bekam, dll. Itulah yg ada dalam kitab-kitab fiqih.

Sebagian lain mengatakan, mandi taubat itu WAJIB, bagi yang masuk Islam lagi setelah murtad, dan mandi taubat adalah SUNNAH setelah berbuat dosa besar dan kefasikan.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

zakat fitrah

Hukum Zakat Fitrah Untuk Bayi

Pertanyaaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apakah anak balita wajib zakat fitrah, sedangkan zakkat fitrah wajib bagi yang mampu A_39

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Slamet Setyawan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Hukum zakat fitrah untuk bayi menurut kesepakatan ulama atau Jumhur ulama selain Imam Abu Hanifah radhiallahu anhu sudah wajib zakat. Termasuk bayi yang lahir setelah terbenamnya matahari pada malam 1 Syawal maka hukumnya sudah wajib dizakatkan.

Karena titik dimulainya kewajiban zakat itu ada pada saat terbenamnya matahari pada malam 1 Syawal.

Sedangkan Imam Abu Hanifah radhiallahu anhu mengatakan bahwa titik awal wajibnya zakat fitrah adalah saat terbit fajar keesokan harinya. Jadi bila bayi lahir pada tanggal 1 Syawwal pagi hari setelah matahari terbit, harus dikeluarkan zakat fithrahnya.

Berikut acaan lafadz nait zakat fitrah untuk bayi dan anak kecil:

Niat atas nama anaknya yang masih kecil:

نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ وَلَدِي الصَّغِيْرِ…

“ Saya niat mengeluarkan zakat atas nama anakku yang masih kecil…”

Dalil Perintah Zakat

Diketahui Zakat fitrah merupakan kewajiban bagi tiap muslim atas dirinya dan orang-orang yang dinafkahinya. Bayi yang belum memiliki kemampuann menjadi tanggung jawab orang tua. Perintah mengeluarkan zakat fitrah tertuang dalam Alquran. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dan janganlah kalian campur adukkan yang hak dengan yang batil, dan janganlah kalian sembunyikan yang hak itu, sedangkan kalian mengetahui. Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk. (QS. Al Baqarah ayat 42-43).

Mubarak ibnu Fudalah meriwayatkan dari Al-Hasan sehubungan dengan makna firman-Nya, “Dan tunaikanlah zakat,” bahwa makna yang dimaksud ialah zakat merupakan fardu yang tiada gunanya amal perbuatan tanpa zakat dan salat.

Dalil kewajiban zakat fitrah adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbas ra.;

قال ابن عباس: فرض رسول الله صلعم زكاة الفطر طهرةللصائم من اللغو والرفث وطعمة للمساكن

Ibnu ‘Abbas ra. berkata, Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang puasa dari perkataan yang sia-sia dan perkataan kotor dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin.

Syarat Wajib Zakat Fitrah yakni:

1. Islam

2. Merdeka (bukan budak, hamba sahaya)

3. Mempunyai kelebihan makanan atau harta dari yang diperlukan di hari raya dan malam hari raya. Maksudnya mempunyai kelebihan dari yang diperlukan untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang wajib ditanggung nafkahnya, pada malam dan siang hari raya. Baik kelebihan itu berupa makanan, harta benda atau nilai uang.

4. Menemui waktu wajib mengeluarkan zakat fitrah. Artinya menemui sebagian dari bulan Ramadhan dan sebagian dari awalnya bulan Syawwal (malam hari raya).

Wallahu A’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

berdoa setelah membaca alfatihah

Membaca Alfatihah Setelah Shalat

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya tentang hukum membaca Al Fatihah setelah shalat atau dalam bacaan zikir pagi/petang, karena ada yang berpendapat itu bid’ah. Mohon penjelasannya ustadz

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Ustadz : Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Salah satu adab berdoa adalah mengawali dengan pujian. Salah satu surat yang isinya penuh dengan pujian adalah surat Al Fatihah.

Sehingga tidak mengapa mengawali doa dan dzikir dengan membaca Al Fatihah, tertulis dalam Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah:

وأما الابتداء في دعائك بالفاتحة، فلا حرج عليك فيه؛ لأن الفاتحة تشتمل على الثناء على الله تعالى، وتمجيده، كما في صحيح مسلم وتقديم الثناء في الدعاء محمود في الدعاء

Ada pun memulai doa dengan membaca Al Fatihah, tidak masalah bagi Anda melakukannya, sebab di dalam Al Fatihah mengandung pujian dan pemuliaan kepada Allah ﷻ, dan mendahulukan pujian saat berdoa adalah hal terpuji dalam berdoa. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah no. 256792)

Hal serupa juga dikatakan dalam lembaga fatwa Jordania:

قراءة الفاتحة – بعد الدعاء أو قبله – بقصد التوسل لقبول الدعاء أمر مشروع ولا حرج فيه، وذلك لسببين اثنين:
الأول: أن التوسل بالقرآن الكريم هو توسل بصفة من صفات الله تعالى، والتوسل بصفات الله عز وجل مشروع باتفاق العلماء.
الثاني: أن التوسل بتلاوة الفاتحة توسل بعمل صالح، وهو أيضا مشروع باتفاق العلماء، واختيار سورة الفاتحة خاصة له وجه مقبول شرعا؛ وذلك لأنها أم الكتاب، وتجتمع فيها جميع معاني القرآن العظيم. والله أعلم.

Membaca surat Al Fatihah baik setelah dan sebelum berdoa dengan maksud tawassul dengannya adalah diperbolehkan oleh syariat. Hal itu karena ada dua sebab:

1. Tawassul dengan Al Quran adalah tawassul dengan sifat di antara sifat-sifat Allah Ta’ala. Ini masyru’ (sesuai syariat) menurut kesepakatan ulama.

2. Tawassul dengan membaca Al Fatihah adalah tawassul dengan amal shalih. Ini pun juga disepakati kebolehannya para ulama. Dipilihnya surat Al Fatihah secara khusus, karena Al Fatihah adalah Ummul Kitab, di dalamnya terkandung semua makna Al Quran yang mulia. Wallahu a’lam. (Al Ifta no. 928)

Lajnah fatwa Darul Ifta Al Mishriyyah, bahwa membaca Al Fatihah di pendahuluan doa dan penutupnya adalah hal yang disyariatkan berdasarkan keumuman dalil-dalil keistimewaan Al Fatihah. Mereka mengatakan:

وعلى ذلك جرى عمل السلف والخلف حتى صنف الشيخ العلاّمة يوسف بن عبد الهادي الحنبلي الشهير بابن المِبْرَد رسالةً في ذلك سمّاها “الاستعانة بالفاتحة على نجاح الأمور” نقل فيها كلام العلامة ابن القيم السابق إيراده من كتابه “زاد المعاد”،

Ini adalah amalan kaum Salaf dan Khalaf, sampai sampai Al ‘Allamah Syaikh Yusuf bin Abdul Hadi Al Hambali yg dikenal dengan Ibnul Mibrad, membuat kitab khusus tentang itu berjudul: “Al Isti’anah bil Fatihah’ ala Najahil Umuur”. Di dalamnya terdapat kutipan dari Ibnul Qayyim yg lalu dari Zaadul Ma’ad. (selesai)

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Hidup dan Mati Adalah Ujian

Doa Husnul khatimah Untuk Mayit

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, terkait do’a atau Kata Husnul Khatimah bagi mayit apakah itu salah ustadz?

Jawaban

Oleh: Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Tidak terlarang mendoakan husnul khatimah, kepada mayit muslim yang baik-baik, dengan wafat yang baik pula. Hal itu sesuai keumuman dalil anjuran mendoakan sesama muslim baik yang hidup dan mati dengan doa yang baik.

“Melarang” itu butuh dalil, tidak boleh sembarang melarang. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mencontohkan berdoa disaat wafatnya Abu Salamah wafat, agar Abu Salamah ditinggikan derajatnya. (HR. Muslim), padahal hidup dia sudah berakhir. Aktifitas memperbaiki diri, meninggikan derajat, memang sudah off. Tapi, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tetap mendoakan sahabatnya agar ditinggikan derajatnya dengan doa Allahummarfa’ darajatahu fil mahdiyyin …

Imam Al ‘Aini menyebutkan:

إِحْسَان الظَّن بِاللَّه عز وَجل وبالمسلمين وَاجِب

Berbaik sangka kepada Allah dan kepada kaum muslimin adalah wajib. (‘Umdatul Qaari, 20/133)

Mendoakan husnul khatimah adalah salah satu wujud baik sangka dan harapan baik kepada sesama muslim. Kecuali bagi mereka yang wafatnya dalam keadaan zalim dan maksiat seperti wafat saat zina, mabuk, merampok.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berbuat Kebajikan

Keutamaan Amalan di Bulan Dzulqo’dah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… saya mau bertanya, Apa keutamaan amalan dibulan Dzulqo’dah.dan bagaimana menjaga spirit diluar Ramadhan agar tetap bisa seperti Ramadhan? A_04

Jawaban

Oleh: Slamet Setiawan, S,HI

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Dzulqadah adalah bulan ke sebelas dalam Tahun Hijriyah dan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah SWT, yaitu Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab,  sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS at-Taubah: 36)

Dzulqadah berasal dari bahasa Arab  ذُو القَعْدَة (dzul-qa’dah). Dalam kamus al-Ma’ānī kata dzū artinya pemilik, namun jika digandengkan dengan kata lain akan mempunyai makna tersendiri, misalnya dzū mālin (orang kaya), dzū ‘usrah (orang susah).

Kata “qa’dah” adalah derivasi dari kata “qa’ada”, salah satu artinya tempat yang diduduki. Sehingga Dzulqadah secara etimologi orang yang memiliki tempat duduk, dalam pengertian orang itu tidak bepergian kemana-mana ia banyak duduk (di kursi). Dari kata “qa’ada” ini bisa berkembang beberapa bentuk dan pemaknaan, antara lain taqā’ud artinya pensiun, konotasinya orang yang sudah purna tugas akan berkurang pekerjaannya sehingga dia akan banyak duduk (di kursi).
Dalam Lisānul ‘Arab disebutkan, bahwa bulan ke-11 ini dinamai Dzulqadah, karena pada bulan itu orang Arab tidak bepergian, tidak mencari pakan ternak, dan tidak melakukan peperangan. Hal itu dilakukan guna menghormati dan mengagunggkan bulan itu. Sehingga seluruh jazirah Arab pada bulan tersebut dipenuhi ketenangan. Dan ada lagi yang mengatakan bahwa mereka tidak bepergiaan itu karena untuk persiapan ibadah haji.

Keistimewaan :

1. Menurut Mazhab Syafii, barang siapa berbuat kebaikan di bulan-bulan suci, maka pahalanya dilipatgandakan, dan barang siapa berbuat kejelekan di bulan-bulan tersebut, maka dosanya dilipatgandaakan pula. Di samping itu,  pembayaran diyat yang diberikan kepada keluarga terbunuh di bulan-bulan suci harus diperberat.

2. Al-Thabari, sewaktu menafsirkan al-Taubah: 36, dia berpendapat bahwa kata ganti  fī hinna  di ayat itu  kembali ke bulan-bulan suci, dan dia menyebutkan dalil-dalil untuk memperkuat pendapatnya ini. Jika dikatakan bahwa pendapat ini berarti membolehkan untuk berbuat zalim di selain empat bulan suci itu, sudah barang tentu pendapat itu tidak benar, karena perbuatan zalim itu diharamkan kepada kita di setiap waktu dan di setiap tempat. Hanya saja Allah SWT sangat menekankan keempat bulan tersebut karena kemuliaan bulan itu sendiri, sehingga ada penekanan secara khusus kepada orang yang bebuat dosa pada bulan-bulan itu, sebagaimana ada penekanan secara khusus  kepada orang-orang yang memuliakannya.

Sebagai padanannya firman Allah SWT:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى

“Peliharalah semua sholat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa.” (QS al-Baqarah: 238).

Tidak diragukan lagi bahwasanya Allah SWT memerintah kita untuk memelihara (melaksanakan) seluruh shalat-shalat fardlu dan tidak berubah menjadi boleh meninggalkan shalat-shalat itu dikarenakan ada perintah untuk memelihara shalat wustha. Karena perintah memelihara shalat wustha di sana untuk penekanan agar diperhatikan jangan sampai ditinggalkannya. Demikian halnya larangan berbuat zhalim pada keempat bulan suci dalam QS at-Taubah: 36

3. Bulan Dzulqadah termasuk bulan-bulan haji, sebagaimana firman-Nya:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.” (QS Al-Baqarah: 197)

Menurut Ibn Umar RA yang dimaksud bulan-bulan haji itu adalah: Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Menurut Ibnu Abbas RA diantara sunnah Rasulullah SAW adalah melaksanakan ihram haji hanya pada bulan-bulan haji tersebut.

4. Rasulullah SAW melaksanakan ibadah Umrah empat kali, tiga kali diantaranya dilaksanakan pada bulan Dzulqadah dan sekali bersama ibadah haji di bulan Dzulhijjah.

قَالَ أَنَسٌ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ-: “اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَرْبَعَ عُمَرٍ، كُلَّهُنَّ فِي ذِي القَعْدَةِ، إِلَّا الَّتِي كَانَتْ مَعَ حَجَّتِهِ: عُمْرَةً مِنَ الحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ العَامِ المُقْبِلِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الجِعْرَانَةِ، حَيْثُ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ” متفق عليه 

Anas RA berkata: “Rasulullah SAW melaksanakan ibadah umrah empat kali, semuanya dilaksanakan padan bulan Dzulqadah, kecuali umrah yang dilaksanakan bersama ibadah Haji, yaitu umrah dari al-Hudaibiyah di bulan Dzulqadah, umrah tahun berikutnya di bulan Dzulqadah, umrah dari Ji’ranah sambil membagikan ghanimah perang Hunain di bulan Dzulqadah, dan umrah sekalian melaksanakan ibadah haji (di bulan Dzulhijjah).” (HR al-Bukhari/ 1654 dan Muslim/ 1253).

5. Keistimewaan lainnya dari bulan Dzulqadah,  Allah SWT berjanji untuk berbicara kepada Nabi Musa as selama tiga puluh malam di bulan Dzulqadah, ditambah sepuluh malam di awal bulan Dzulhijjah, sebagaimana firman Allah SWT:

وَوَٰعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَٰثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَٰهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَٰتُ رَبِّهِۦٓ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi).” (QS Al-A’raf: 142).

Mayoritas ahli tafsir mengatakan bahwa, “Tiga puluh malam itu adalah di bulan Dzulqadah, sedangkan yang sepuluh malam adalah di bulan Dzulhijjah.” (Tafsir Ibni Katsir II/244)

Menjaga Spirit Ramadhan

Setelah melewati bulan suci Ramadhan, kita memasuki bulan Syawal yang penuh dengan sukacita kemenangan di hari yang fitri. Walau sudah tidak berada dalam bulan Ramadhan, sebagai umat Muslim wajib untuk tetap istiqamah dan bersemangat untuk beribadah kepada Allah Swt agar terus memperoleh keberkahan dan pahala yang berlimpah.

Berikut beberapa tips mudah untuk menjaga semangat beribadah setelah Ramadhan:

1. Istiqamah melakukan hal baik

Dari ’Aisyah, Nabi SAW bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

”Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin walaupun sedikit.” HR. Muslim no. 782

Melakukan ibadah apapun merupakan sesuatu hal baik yang tentunya disukai oleh Allah SWT. Perbuatan baik tidak perlu dengan bentuk yang besar, mulai dari hal kecil seperti memberikan bantuan sedikit rezeki kepada orang yang tidak mampu dan lain lain.

2. Membiasakan berpuasa sunah

Puasa sunnah merupakan salah satu amalan yang dianjurkan dilaksanakan pada bulan bulan setelah bulan Ramadhan. Seperti puasa ayyamul bid, puasa senin/kamis, puasa arafah, puasa asyura, puasa sya’ban atau puasa daud.

Nabi SAW menyebutkan keutamaan puasa sunnah sebagai berikut: “Maukah kutunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai,…” (HR. Tirmidzi).

3. Membaca Al-Quran setiap hari

Rutinitas membaca Al-Quran di bulan Ramadhan bisa menjadi cara tetap bersemangat untuk selalu beribadah kepada Allah. Meskipun intensitas membaca Al-Quran akan berbeda setelah Ramadhan, numan dengan selalu konsisten membaca satu halaman perhari akan lebih mudah. Selain itu, membaca Al-Quran setiap hari akan mendatangkan kebaikan.

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala” (HR. Muslim).

4. Bersilaturahim

Bersilahturahim merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Saat seorang muslim akan panjanglah umurnya dan lapang rejekinya. Selain itu, silaturahmi  ini juga memiliki nilai amalan pahala yang besar. Seperti dalam hadis berikut, Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahim,” (HR. Bukhari – Muslim).

Kegiatan bersilaturahim tentu mudah untuk dilakukan agar tetap bersemangat dalam menjalankan ibadah lainnya. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Wajib Mengikuti Gerakan Imam

Salah Dalam Mengucapkan I’tidal, Sah Kah Shalat?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, tadi ada kejadian unik, saat kami shalat Berjamaah, mungkin karena grogi, sang imam yang ditunjuk salah dalam mengucapkan i’tidal, seharusnya dibaca samiallahuliman hamidah, beliau malah bertakbir, kejadian ini berulang hingga rakaat ke 3, dan baru dibenarkan saat rakaat ke 4 setelah makmum mengingatkan, sayangnya setelah shalat sang imam tidak sujud sahwi. Pertanyaan Saya adalah, apakah shalat kami tetap sah? Bolehkah setelah salam kami (makmum) sujud sahwi sendiri tersebab sang imam tidak melakukannya?

Jawaban

Oleh: Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Takbir intiqal (takbir antar gerakan shalat) adalah sunnah menurut mayoritas ulama, kecuali Hanabilah yang mengatakan wajib. Namun, semua sepakat tidak mengucapkannya tidak sampai membatalkan shalat. Termasuk salah ucap disaat antara sami’allah dan takbir. Ini bukan pembatal shalat.

Sebagian ulama mengatakan wajib sujud sahwi, sebagian mengatakan tidak.

ما هو حكم من قال الله أكبر عند الرفع من الركوع؟

يقال إن صلاته صحيحة ولا شيء عليه وهذا على رأي أكثر أهل العلم، لأن حكمها عندهم ليست من الفرض أو الركن الأساسي في الصلاة بل هي تكبيرة انتقالية وحكمها مندوب.

Apa hukum orang yang mengucapkan ALLAHU AKBAR, saat bangun ruku’?

Dikatakan bahwa hal itu shalatnya tetap sah dan tidak ada masalah. Inilah pendapat mayoritas ulama, karena menurut mereka ini sunnah, bukan wajib dan bukan rukun asasi dalam shalat. Takbir ini hukumnya adalah mandub (anjuran/sunnah).

Untuk kehati-hatian adalah tetap sujud sahwi jika imam tersebut tidak meralatnya saat itu juga. Tapi jika dia meralatnya langsung membaca Sami’allahu dst, maka tidak sujud sahwi.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Maha Berkehendak

Letak Posisi Kepala Mayat Ketika Dishalatkan

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, salah satu yang menjadi polemik di masyarakat yaitu tentang letak/posisi kepala mayit ketika di shalatkan. Ada yang mengatakan kepala mayit berada di arah Utara dan ada juga yang mengatakan ke arah selatan. Jadi mana yang betul ustadz?

Jawaban

Oleh: Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim..

Kepala mayit mengarah utara, hanya saja para ulama berbeda dalam posisi imamnya.

Madzhab Syafi’i mengatakan jika mayit laki-laki, posisi kepala mayit di bagian kiri imam. Mayit perempuan, posisi kepala mayit sebelah kanan imam, jadi imam sejajar dengan leher atau dada mayit.

Ada pun madzhab Malikiyah tidak membedakan jenazah laki-laki dan perempuan, keduanya sama saja yaitu posisi kepala mayit di sebelah kanan imam.

فقد ذهب الشافعية إلى أن الإمام يقف عند رأس الميت الذكر ووسط المرأة، ويجعل رأس الذكر إلى جهة يساره ورأس المرأة إلى جهة يمينه قال البجيرمي رحمه الله تعالى: ويوضع رأس الذكر لجهة يسار الإمام ويكون غالبه لجهة يمينه خلافا لما عليه عمل الناس الآن، أما الأنثى والخنثى فيقف الإمام عند عجيزتهما ويكون رأسهما لجهة يمينه على عادة الناس الآن.

ولم يفرق المالكية بين الذكر والأنثى بل يجعل رأسهما عن يمين الإمام، كما في مختصر خليل وشروحه

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678