Daging Qurban

Mau Qurban, Berhutang?

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ

Pertanyaan

ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡

Bolehkah berhutang untuk berqurban ? bagaimana dengan arisan qurban? (beberapa SMS)

Jawaban

Oleh: Farid Nu’man Hasan

ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡

Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ala Rasulillah wa Bad:

Kami akan jawab menjadi dua bagian sesuai pertanyaannya.

๐Ÿ‘‰ Pertama. Berqurban dengan biaya dari hutang.

Tidak ada larangan dalam nash, tentang melakukan amal shalih yang sifatnya maaliyah (harta) seperti qurban, aqiqah, dan haji,1)ย  yang pembiayaannya berasal dari hutang. Maka, dia kembali pada bab hutang piutang yang memang dibolehkan syariat. Dengan catatan:

๐Ÿ”ท Ketika dia berhutang mesti dalam keadaan yakin mampu membayarnya

๐Ÿ”ถ Hutang tersebut tidak menambah beban berat hutang lama yang masih banyak dan belum dilunaskan, sebab, semua ibadah qurban ini memang dianjurkan bagi mereka yang sedang dalam keadaan lapang rezeki dan istithaah (mampu).

Para ulama salaf pun melakukannya, dan mereka tidak memandang masalah dengan berhutang untuk berqurban (atau juga aqiqah). Dalam Tafsir-nya, Imam Ibnu Katsir menceritakan dari Imam Sufyan Ats Tsauri tentang Imam Abu Hatim (riwayat lain menyebut Imam Abu Hazim) yang berhutang untuk membeli Unta buat qurban.

ูˆู‚ุงู„ ุณููŠุงู† ุงู„ุซูˆุฑูŠ: ูƒุงู† ุฃุจูˆ ุญุงุชู…ย  ูŠุณุชุฏูŠู† ูˆูŠุณูˆู‚ ุงู„ุจูุฏู’ู†ุŒ ูู‚ูŠู„ ู„ู‡: ุชุณุชุฏูŠู† ูˆุชุณูˆู‚ ุงู„ุจุฏู†ุŸ ูู‚ุงู„: ุฅู†ูŠ ุณู…ุนุช ุงู„ู„ู‡ ูŠู‚ูˆู„: { ู„ูŽูƒูู…ู’ ูููŠู‡ูŽุง ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ }

Berkata Sufyan Ats Tsauri: Dahulu Abu Hatim berhutang untuk membeli Unta qurban, lalu ada yang bertanya kepadanya: โ€œAnda berhutang untuk membeli unta? Beliau menjawab: Saya mendengar Allah Taala berfirman: Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya (unta-unta kurban tersebut). (Q.s. Al Hajj:36). (Tafsir Al Quran Al Azhim, 5/426)

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah menceritakan dari Al Haarits tentang dialog antara Imam Ahmad bin Hambalย  dan Shalih (anaknya), katanya:

ูˆู‚ุงู„ ู„ู‡ ุตุงู„ุญ ุงุจู†ู‡ ุงู„ุฑุฌู„ ูŠูˆู„ุฏ ู„ู‡ ูˆู„ูŠุณ ุนู†ุฏู‡ ู…ุง ูŠุนู‚ ุฃุญุจ ุฅู„ูŠูƒ ุฃู† ูŠุณุชู‚ุฑุถ ูˆูŠุนู‚ ุนู†ู‡ ุฃู… ูŠุคุฎุฑ ุฐู„ูƒ ุญุชู‰ ูŠูˆุณุฑ ู‚ุงู„ ุฃุดุฏ ู…ุง ุณู…ุนู†ุง ููŠ ุงู„ุนู‚ูŠู‚ุฉ ุญุฏูŠุซ ุงู„ุญุณู† ุนู† ุณู…ุฑุฉ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ูƒู„ ุบู„ุงู… ุฑู‡ูŠู†ุฉ ุจุนู‚ูŠู‚ุชู‡ ูˆุฅู†ูŠ ู„ุฃุฑุฌูˆ ุฅู† ุงุณุชู‚ุฑุถ ุฃู† ูŠุนุฌู„ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฎู„ู ู„ุฃู†ู‡ ุฃุญูŠุง ุณู†ุฉ ู…ู† ุณู†ู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูˆุงุชุจุน ู…ุง ุฌุงุก ุนู†ู‡ ุงู†ุชู‡ู‰

Shalih โ€“anak laki-laki Imam Ahmad- berkata kepadanya bahwa dia kelahiran seorang anak tetapi tidak memiliki sesuatu buat aqiqah, mana yang engkau sukai berhutang untuk aqiqah ataukah menundanya sampai lapang keadaan finansialnya. Imam Ahmad menjawab: Sejauh yang aku dengar, hadits yang paling kuat anjurannya tentang aqiqah adalah hadits Al Hasan dari Samurah, dari Nabi bahwa, Semua bayiย  tergadaikan oleh aqiqahnya, aku berharap jika berhutang untuk aqiqah semoga Allah segera menggantinya karena dia telah menghidupkan sunah di antara sunah-sunah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan telah mengikuti apa-apa yang Beliau bawa. Selesai. (Tuhfatul Maudud fi Ahkamil Maulud, Hal. 64. Cet. 1, 1971M-1391H. Maktabah Darul Bayan)

Demikianlah kebolehan berhutang untuk berqurban, namun boleh bukan berarti lebih utama, sebab lebih utamanya adalah justru membayar hutang dahulu, bukan menambah dengan hutang baru. Membayar hutang adalah wajib, dan tidak ada khilafiyah atas kewajibannya, sedangkan berqurban adalah sunah muakadah bagi yang sedang lapang rezeki menurut jumhur ulama, kecuali Imam Abu Hanifah yang mengatakan wajib. Maka, wajar jika sebagian ulama justru menganjurkan untuk melunaskan hutang dulu barulah dia berqurban jika sudah lunas hutangnya.

Bagaimana dengan hutang yang jangka waktunya panjang, seperti cicilan mobil atau rumah yang mencapai belasan tahun? Apakah orang seperti ini harus menunggu belasan tahun dulu untuk berqurban?
Tidak juga demikian, dia bisa dan boleh saja berhutang untuk qurban selama memang dia mampu untuk melunasinya dan tidak mengganggu cicilan lainnya. Tetapi, bukan pilihan yang bijak jika dia tetap ngotot berhutang tetapi keluarganya sendiri sangat merana hidupnya, atau ada kebutuhan mendesak seperti biaya sekolah yang besar, rumah sakit, dan semisalnya.

Wallahu Alam

๐Ÿ‘‰ Kedua. Arisan untuk Qurban.

Arisan adalah beberapa orang mengumpulkan uang, lalu diundi atau dengan menggunakan nomor urut, maka siapa yang keluar namanya atau namanya lebih dahulu dalam urutan, maka dialah yang mendapatkan uang tersebut untuk membeli hewan qurban.

Ini bukanlah judi, karena semua peserta akan mendapatkan gilirannya, dan tidak ada yang dirugikan. Ada pun judi, bisa jadi ada orang yang menang berkali-kali, sementara yang lain sama sekali tidak dapat undian sampai judi itu selesai. Dan, arisan menjadi judi jika sekali kocok keluar satu atau beberapa nama, setelah itu bubar, padahal masih banyak orang lain yang tidak dapat.

Nah, arisan secara substansi adalah SAMA dengan berhutang, karena uang yang dia dapatkan merupakan hasil kumpulan dari uang peserta lainnya, sehingga dia memiliki hutang kepada peserta lainnya. Jika demikian, makaย  boleh-boleh saja arisan qurban sebagaimana hutang untuk berqurban.

Wallahu Alam๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Notes:

1)ย  Dari Abdullah bin Abi Aufa Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:ุณุฃู„ุชู‡ ุนู† ุงู„ุฑุฌู„ ู„ู… ูŠุญุฌ ุŒ ุฃูŠุณุชู‚ุฑุถ ู„ู„ุญุฌ ุŸ ู‚ุงู„ : ยซ ู„ุง ยป

โ€œAku bertanya kepadanya, tentang seorang yang belum pergi haji, apakah diaย  berhutang saja untuk haji?โ€ Beliau bersabda: โ€œTidak.โ€ย  (HR. Asy Syafiโ€™i, Min Kitabil Manasik, Juz. 1, Hal. 472, No. 460. Al Baihaqi, Maโ€™rifatus Sunan wal Atsar, Juz. 7, Hal. 363, No. 2788.ย  Syamilah)
Imam Asy Syafiโ€™i berkata tentang hadits ini:

ูˆู…ู† ู„ู… ูŠูƒู† ููŠ ู…ุงู„ู‡ ุณุนุฉ ูŠุญุฌ ุจู‡ุง ู…ู† ุบูŠุฑ ุฃู† ูŠุณุชู‚ุฑุถ ูู‡ูˆ ู„ุง ูŠุฌุฏ ุงู„ุณุจูŠู„

โ€œBarangsiapa yang tidak memiliki kelapangan harta untuk haji, selain dengan hutang, maka dia tidak wajib untuk menunaikannya.ย  (Imam Asy Syafii, Al Umm, Juz. 1, Hal. 127. Syamilah)
Namun, demikian para ulama tetap menilai hajinya sah, sebab status tidak wajib haji karena dia belum istithaah, bukan berarti tidak boleh haji. Ada pun larangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena Beliau tidak mau memberatkan umatnya yang tidak mampu, itu bukan menunjukkan larangannya. Yang penting, ketika dia berhutang atau kredit, dia harus dalam kondisi bahwa dia bisa melunasi hutang atau kredit tersebut pada masa selanjutnya.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678