Pertanyaan
السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
Ustadz… Saya mau bertanya, misal kita merekrut karyawan dalam usaha kita, ketika di awal ada surat perjanjian bahwa karyawan tersebut tidak akan mengundurkan diri sepihak dalam jangka waktu tertentu & sudah disepakati oleh karyawan tsb. Jika melanggar kesepakatan maka konsekuensinya karyawan tersebut tidak mendapat gaji.
Kemudian jika ternyata dalam perjalanan baru sebentar misal baru 2 pekan ternyata karyawan tersebut tiba-tiba mundur, apakah jika kita tidak membayarkan gajinya yang selama 2 pekan tersebut ternasuk dzalim? Karena sesuai point kesepakatan di awal tadi.
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃
Jawaban
Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاتة
Masalah ini berawal dari klausul SPK (Surat Perjanjian Kerja) yang nampaknya perlu dikritisi. Khususnya pada “tidak digaji jika resign sebelum waktunya”, sebab Upah itu hak buruh.
Dari AbdullAh bin Umar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
أعط الأجير أجره قبل أن يجف عرقه
Berikanlah upah buruh sebelum keringatnya kering. (HR. Ibnu Majah No. 2443, hadits Hasan)
Oleh karena itu, jangan buat agreement yang mengharamkan apa yang Allah haramkan, dan sebaliknya. Berdasarkan hadits:
والمسلمون على شروطهم ، إلا شرطا حرم حلالا أو أحل حراما
Kaum muslimin terikat oleh perjanjian yang mereka buat, kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. (HR. At Tirmidzi, Beliau berkata: shahih)
Saran saya, berikan hukuman yang lain. Yang jelas, pegawai tersebut memang salah karena inkar janji dan tidak sesuai akad di SPK. Tapi kezaliman jangan dibalas kezaliman.
Yang paling pas dan umum dilakukan banyak corporate baik pemerintah atau swasta saat ini adalah memberikan denda atas tindakan indisipliner pegawai seperti itu, dengan denda tidak sampai menzaliminya. Misal, dipotong sekian persen gaji, jika resign di bulan 2, sekian persen jika resign di bulan 3 .. dst.
Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid mengatakan:
وذهب شيخ الإسلام ابن تيمة وتلميذه ابن القيم إلى جواز التعزير بأخذ المال إذا رأى الولاة أن هذا يحقق المصلحة ، ويردع الظلمة ، ويكف الشر ، لأن التعزير باب واسع ، فأوله التوبيخ بالكلام ، وأعلاه التعزير بالقتل إذا لم ينكف الشر إلا بالقتل ، وأخذ المال نوع من أنواع التعزير الذي يحصل به ردع المعتدين
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnul Qayyim, membolehkan hukuman berupa denda uang jika memang seorg pemimpin menilai hal itu ada maslahat, menolak kezaliman, dan menahan laju keburukan.
Sesungguhnya memberikan sanksi itu perkara yang lapang. Pertama diawali dgn teguran lisan, dan sanksi yang paling tinggi adalah hukuman mati jika memang hanya dgn itu cara mencegah keburukan. Ada pun sanksi dgn denda uang adalah salah satu jenis hukuman utk mencegah orang-orang yang melampaui batas.
(Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 21900)
Wallahu A’lam
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh : www.manis.id
Subscribe YouTube MANIS : https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial
Follow IG MANIS : https://www.instagram.com/majelis_manis/?igshid=YmMyMTA2M2Y%3D
📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis
💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Iman Islam
No Rek BSI : 5512 212 725
Konfirmasi:
wa.me/6285279776222
wa.me/6287891088812







