Al Qur'an Nutrisi Akal dan Jiwa

Hukum Membaca aI-Qur’an di Kamar Mandi dan WC

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

An-Nawawi (w. 676 H) di dalam Raudhah ath-Thalibin mengatakan: “Tidak dimakruhkan membaca al-Qur’an di dalam kamar mandi.” Demikian juga yang dikatakannya di dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab. Dan sebagaimana yang beliau sampaikan, memang tidak ada dalil yang menunjukkan kepada kemakruhannya. Penting untuk diketahui bahwa hammam yang disebut oleh Imam an-Nawawi yang biasa kita terjemahkan dengan tempat pemandian atau kamar mandi, tentu berbeda antara zaman dulu dengan sekarang. Bahkan kebanyakan yang ada sekarang adalah kamar mandi yang sudah menyatu dengan WC. Tentu saja yang dimaksud oleh tidak makruh oleh beliau adalah ketika tempat tersebut terbebas dari kotoran dan najis. Sehingga, jika memang ada kamar mandi yang tidak menyatu dengan WC, tetapi jika di sana terdapat kotoran dan najis, tetap saja tidak diperkenankan membaca al-Qur’an di sana, tiada lain dalam rangka memuliakan al Qur’an itu sendiri.

Di dalam at-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an, beliau pun mengatakan bahwa yang disunnahkan adalah membacanya di tempat-tempat yang bersih. Sehingga, banyak para ulama yang menganjurkan untuk membacanya di dalam masjid, karena ia telah memenuhi semua unsur kebersihan, juga termasuk tempat yang mulia.

Sementara itu, hukum membaca al-Qur’an di tempat buang hajat atau WC adalah makruh. Hal ini sebagaimana dapat kita temukan di dalam penjelasan Imam an-Nawawi sendiri dalam al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj ketika beliau menjelaskan tentang sebuah riwayat dari ‘Abdullah ibn ‘Umar, sebagaimana disampaikan oleh Imam Muslim (w. 261 H) di dalam Shahihnya bahwa Nabi saw. tidak menjawab salam seseorang ketika beliau sedang berada di tempat buang hajat. Jika menjawab salam yang wajib saja tidak diperkenankan karena di dalamnya terkandung dzikir, maka tentu dalam hal ini termasuk juga di dalamnya membaca al-Qur’an, karena ia merupakan dzikir yang paling utama. Namun, makruh yang dimaksud beliau dalam hal ini tergolong makruh tanzih, yaitu perkara yang dituntut untuk ditinggalkan, tetapi dengan perintah yang tidak atau kurang tegas, dalam arti seseorang memang tidak berdosa jika melakukannya, namun tentu akan sangat baik dan berpahala jika ia meninggalkannya.[]

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *