MANAJEMEN MARAH

📆 Sabtu, 09 Rajab 1437H / 16 April 2016

📚 KELUARGA

📝 Pemateri: Ustadzah KINGKIN ANIDA

📝 MANAJEMEN MARAH

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌿🍀

Sahabatku yang dirahmati Allah Azza wa Jalla,
Istri adalah belahan jiwa seorang suami. Memandangnya menyejukkan mata. Mendengar tutur katanya menenangkan perasaan. Istri anugerah terindah dari Allah Yang Maha Pengasih Maha Lembut.

Allah berfirman :
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَب
Artinya : Laki-laki (suami) itu pelindung  bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan mereka laki-laki telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).  Perempuan perempuan  yang kamu khawatirkan akan nusyuz ( meninggalkan kewajiban suami istri) hendaklah kamu beri  nasehat pada mereka, dan tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang) dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu maka janganlah kamu mencari cari alasan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An-Nisa : 34).

Memahami hakikat bahwa suami adalah pelindung istri, maka lelaki yang telah menikah itu  dimaknai seperti pakaian yang melindungi badan atau bak payung melindungi pemakainya dari panas/hujan atau dapat dimaknai benteng yang melindungi penghuni dari serangan musuh. Suami itu seseorang yang berkarakter kuat, lembut, mampu menahan goncangan dan memberi rasa aman. Demikianlah tentu saja yang dilindungi (istri) mempunyai kekuatan, kelembutan, atau sifat lebih lemah darinya.

Islam memiliki parameter  dalam menilai kekuatan. Sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,
“لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ“
“Orang yang kuat bukanlah jago gulat, namun orang yang kuat adalah yang mampu menahan diri manakala marah” ( HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Jika seorang istri suka marah marah, berarti dia seorang yang lemah. Baik lemah secara wawasan, jasmani, maupun rohaninya.  Para suami hendaknya bisa bersabar dan kuat menghadapi kemarahan istri. Kesabaran suami haruslah diatas kesabaran istri. Batas kemarahannya mesti berada tiga level dibawah level istri. Suami tidak menjadi marah atau tambah marah saat istrinya marah marah…

“وَإِذَا غَضِبْتَ فَاسْكُت”
“Jika engkau marah diamlah”(HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Albany).
Nasehat bagi istri yang lemah, adalah bagian dari kewajiban seorang suami sebagaimana terkandung dalam tarjamah surat An Nisa ayat 34.
Nasehatilah dia, para istri dengan :

✅ Pertama, cobalah diberi waktu istirahat atau tidur yang cukup. Bantu beberapa pekerjaan rumah yang memerlukan tenaga yang besar seperti mengepel lantai, menyetrika pakaian dan menyikat kamar mandi. Kisahkan tentang surga bagi istri yang menahan amarah, sebagaimana sabda Nabi , “Janganlah marah maka bagimu surga”. Tentunya nasehat ini diberikan padanya tidak dihadapan anak atau orang lain. Mengapa? Ya karena nasehat didepan selain dirinya, hanya akan menimbulkan “defence mechanism”. Dia semakin bertahan kuat dan nusyuz (membantah).

✅ Kedua, gambaran yang jelas tentang wanita surga itu lemah lembut, sabar dan cantik, tentu menambah kuat nilai sebuah nasehat. Setiap wanita pada dasarnya cantik. Tak ada wanita yang jelek. Seorang wanita kelihatan jelek saat dia terjebak pada kemarahan. Kemarahan juga hanya akan menambah daftar penyakit masuk kedalam tubuh.

✅ Ketiga, bila dia mau untuk bersabar tapi tak mampu melakukannya, maka seorang suami bisa menawarkan diri sebagai “Coach” yang akan membantunya dengan mengingatkan agar istri saat marah segera memegang dadanya lalu berta’awudz, menarik nafas, melepasnya dan beristighfar. Merubah posisi. Mengambil wudhu dan membaca Al Qur’an.

Tiga point diatas sudah dijalankan, namun istri pemarah mengalami kesulitan menghentikan kebiasaan marahnya?

Maka cobalah dengan langkah berikutnya :

✅ Keempat, berilah kesempatan pada istri untuk  keluar rumah, ikut Majlis Ta’lim. Hadir di Majlis taklim itu seakan piknik atau rihlah ruhiyah. Menyegarkan hati yang penat. Atau bersama ke toko Buku dan menghadiahkan kepadanya buku atau Majalah tentang Pendidikan Anak dalam Islam.

✅ Kelima, jika rangkaian hal tersebut terlalu panjang tahapannya dan ia membantah begitu diingatkan, maka saat itu segeralah peluk dia dan bacakan ayat perlindungan (surat-surat muawidzatain yaitu Annas dan Al Falaq). Jangan lupa godalah untuk bisa tersenyum! Pastikan bahwa kondisi suami juga dalam kelapangan dada. Dalam hubungan yang dekat dengan Allah Yang Maha Bijaksana.

✅ Keenam, bila istri mengulang kembali marah marahnya, maka punggungi dia ditempat tidur (untuk menunjukkan perasaan suami) dengan catatan suami tidak perlu pindah ranjang atau meninggalkan rumah maupun tidak bicara sama sekali dengan istri. Dengan membelakangi istri, kemungkingan dia akan merasa sedang ditegur.

Sahabatku yang dirahmati Allah Azza wa Jalla,
Istri adalah belahan jiwa seorang suami. Memandangnya menyejukkan mata. Mendengar tutur katanya menenangkan perasaan. Istri anugerah terindah dari Allah Yang Maha Pengasih Maha Lembut.

Setiap wanita yang mempunyai kelembutan meski sebesar dzarrah dalam hatinya tentu akan pelan pelan berubah dengan nasehat-nasehat tersebut diatas. Memerlukan waktu yang agak panjang untuk hal itu. Bersabarlah. Langkah berikut mungkin akan menjadi jalan keluar terbaik Insya Allah :

✅ Ketujuh, jelaskan padanya bahwa para suami menginginkan kebaikan dan kelembutan tumbuh dalam diri istri. Bahkan kemarahan yang terus menerus bisa mematikan cinta. Tiadanya cinta dalam perkawinan akan menurunkan gairah bersama. Menjadikan malam malam dalam kehidupan perkawinan, bak siksaan. Seperti tersiksanya hati seorang  Ayah mendengar kabar bahwa anak perempuannya dalam kesakitan, kesedihan, dan penderitaan hidup.

✅Kedelapan, kekerasan di hati seorang istri apabila tidak berkesudahan maka perlu untuk ‘dipecahkan’. Memukul dengan ringan, kemungkinan bisa menjadi jalan keluar sebagaimana yang pernah dilakukan Nabi Ayyub kepada istrinya. Dalam hal ini adalah sunnah untuk menghukum istri dengan cara memukulnya.

Pilihlah waktu pelaksanaan memukul, yaitu diwaktu hati suami sedang tenang, sehingga pukulan tak menyakitkan. Memilih alat pukul yang ringan seperti koran, sajadah, jilbab, atau perlengkapan sholat lainnya. Sampaikan terlebih dulu bahwa itu dilakukan sebagai jalan keluar terakhir sesuai perintah Allah dalam QS surat An Nisa ayat 34. Unik ya?

Semoga hal demikian akan mengubah prilaku kerasnya menjadi semakin lembut.
” Bertakwalah kalian kepada Allah dalam perkara para wanita (istri), karena kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Hak kalian terhadap mereka adalah mereka tidak boleh membiarkan seseorang yang kalian benci untuk menginjak di hamparan (permadani) kalian, jika mereka melakukan hal tersebut maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras” (HR. Muslim).

Ya memang memukul adalah jalan paling akhir dari masalah sifat istri yang pemarah. Nabi kita mengajarkan kelembutan dan kasih sayang. Beliau kanjeng Nabi mendapat gelar “Roufur Rahim” lantaran karakter kuat dalam kelembutannya.  Dari Aisyah radhiyallahu’anha, ” Rasulullah sama sekali tidak pernah memukul seseorang pun dengan tangannya, tidak pernah memukul seorang wanita, tidak pernah pula memukul pembantunya, …” ( HR. Muslim).

Wallahu’alam bishowab

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Tanggung Jawab Pendidikan Anak-Anak Kita Ada Pada Siapa?

📆 Sabtu, 09 Rajab 1437H / 16 April 2016

📚 KELUARGA & PARENTING

📝 Pemateri: Ustadzah Dra. Indra Asih

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 🌿
 
Serasa terkoyak sembilu hati ini, membaca berita seorang anak yang gusar pada ibundanya karena menganggap sang bunda yang sudah renta terlalu lama membelikan nasi uduk untuk sarapan si anak. Kegusaran yang mendorong sang anak tega memukul kepala sang bunda dengan gagang cangkul hingga sang bunda yang naas ini menghembuskan nafas terakhirnya di tangan anak semata wayangnya. Sebelum kejadian menyedihkan itu berlangsung, sang bunda renta yang sedang sibuk mencuci baju kotor sudah berusaha tergopoh berlari membelikan nasi uduk untuk sang anak yang baru bangun kesiangan, merasa lapar, dan dengan kasar memerintahkan ibundanya untuk segera menyiapkan sarapan. Bukannya, merasa malu dan segera mengambil alih kerepotan ibundanya. Satu contoh dari sekian kasus yang relatif sama yang cukup banyak kita baca atau dengar. Duh, ada apa dengan kalian nak?

Sebagai seorang ibu, tercenung aku membaca headline berita, “Kenakalan Remaja Sudah Tak Wajar Dan Mulai Bergeser Ke Arah Kriminal”. Atau membaca opini yang berisi kekurangyakinan atas efektifitas pemberlakuan kurikulum pendidikan.

Muncul pertanyaan pada diri sendiri, sebagai seorang ibu, siapakah yang paling dominan membentuk kepribadian anak-anak kita? Pemerintah? Lingkungan? Masyarakat? Guru-guru atau sekolah? Pembantu? Atau..berat dan lirih aku menyebutkannya, orang tua? Ibu? Kita? Saya?

Apakah kita masih ingat untuk terus menanamkan nilai-nilai mulia ini pada anak-anak kita? “…Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya . Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS Al-Israa’ : 23-24)

Bagaimana dengan konsep, prioritas keutamaan manusia di hadapan anak-anaknya, “ibumu, ibumu, ibumu, baru ayahmu” ?

Sesuai hadits berikut,

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Atau apa yang terjadi dengan mengajarkan keyakinan bahwa doa restu orang tua adalah sesuatu yang begitu sakral untuk memotivasi dan mendorong kesuksesan seorang anak?

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Tiga do’a yang tidak tertolak yaitu do’a orang tua, do’a orang yang berpuasa dan do’a seorang musafir.” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro)

Dalam pembicaraan sehari-hari, ada istilah ibukota, untuk menggambarkan kota yang utama di suatu wilayah atau negeri, tempat berpusat semua aktifitas-aktifitas penting. Ada juga ibu jari, untuk menyebut jari yang paling besar dan menonjol di telapak tangan kita. Pada sebuah computer, motherboard adalah bagian tempat pusat pemrosesan. Ada juga ibu pertiwi, ada sel induk,ada pasar induk dan seterusnya. Tentu saja, maksud tulisan ini bukan untuk membahas istilah-istilah, tapi lebih untuk mengangkat bahwa sadar ataupun tidak sadar, ketika kita ingin menyebut satu bagian dalam suatu sistem, adalah bagian yang terpenting atau sebagai pusat pengorganisasian bagian-bagian lain, maka tak ayal, kata ibu, mother atau induk akan digunakan.

Masihkah anak-anak kita menganggap bahwa kita adalah bagian terpenting di rumah-rumah kita? Ketika, wujud dan keberadaan kita hampir-hampir tidak nampak di mata anak-anak kita, dengan berbagai alasan. Mengejar karir, eksistensi diri, atau bahkan kegiatan-kegiatan menghabiskan waktu untuk keasyikan dan kesenangan diri kita semata. Bagaimana dengan anak-anak? Cukup kita sediakan buat mereka pembantu-pembantu yang dengan sigap melayani kebutuhan mereka. Pendidikan mereka? Cukup kita sekolahkan mereka pada sekolah-sekolah yang kita anggap baik seharian penuh, ditambah dengan kursus-kursus tambahan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka.

Sebagian ibu sekarang ketika ditanya, “Sekarang kerja dimana?”, meresponnya dengan berat, atau bahkan berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk “Saya adalah ibu rumah tangga”. Malu!
Apalagi jika yang menanyakan itu, seorang ibu yang “sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar.
Apalagi jika yang ditanya adalah ibu lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude tapi telah “menyia-nyiakan kepandaiannya” dengan menjadi ibu rumah tangga.

Wahai ibu, posisi dan peran kita begitu mulia.

Realitanya sekarang menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka.
Bagaimana mungkin pekerjaan menanamkan budi pekerti yang baik di dada-dada anak-anak kita bisa dikalahkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bergengsi? Atau kepuasan eksistensi diri kita?

Tapi, bisa saja banyak ibu-ibu penuh waktu mereka di rumah, namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anak-anak mereka, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. “Full” di rumah tapi tidak perduli dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan dan uang jajan saja.

Bukan masalah bekerja atau tidak bekerja, atau masalah keluar atau tidak keluar rumah, tapi yang utama adalah kesadaran kita bahwa mendidik anak-anak kita bukanlah hanya bertujuan menginginkan serta mengarahkan anak-anak kita bahwa kesuksesan mereka adalah keberhasilan akademis dan karir mereka, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar sekian pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di tempat-tempat rekreasi.

Bukan hanya itu!

Wahai ibu…

Di usia tua kita, dalam kondisi makin lemah, apakah anak-anak kita akan teringat keutamaan kita kalau kita tidak optimal mendidik anak-anak kita?

Apakah justru mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu selalu kita bangga-banggakan melebihi kebanggaan atas keberhasilan mereka belajar menata perilaku dan akhlak mereka?
Atau mungkin mereka sedang asyik dengan istri dan anak-anak mereka?

Sedangkan kita? Sosok renta yang membebani mereka, tidak berguna, dan mengganggu kesenangan mereka?

Hangat terasa air mataku mengalir, tak sanggup membayangkannya..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Menganggap bahwa taubat hanya layak dilakukan apabila telah yakin bahwa dirinya tidak akan kembali bermaksiat.

📆 Jumat, 08 Rajab 1437H / 15 April 2016

📚 Motivasi

📝 Ustadz Abdullah Haidir Lc.

📋 KEKELIRUAN SEPUTAR TAUBAT

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Kekeliruan:

✅Menganggap bahwa taubat hanya layak dilakukan apabila telah yakin bahwa dirinya tidak akan kembali bermaksiat.

✅Menunda-nunda bertaubat karena khawatir dirinya akan mengulangi kemaksiatan yang sama.

✅Kian larut dalam maksiat tanpa keinginan mengurangi. Menganggap bahwa taubat tak bermanfaat selama masih suka berdosa.

✅Jika kembali berbuat dosa dirinya menganggap telah mempermainkn taubat dan bersikap munafik.

✅Lebih mengedepankan motivasi duniawi ketimbang ikhlas semata krn Allah seraya berharap ridho dan ampunanNya.

✅Rancu dlm memahami antar “tekad” tak kembali bermaksiat dengan “jaminan” tidak kembali bermaksiat.

✅Tekad tidak kembali bermaksiat adalah syarat taubat. Tapi jaminan tdk kembali bermaksiat bukan syarat taubat.

✅Meninggalkan kewajiban-kewajiban agama dan menjauhi majelis orang-orang saleh dan majelis zikir dengan anggapan dirinya masih penuh kotoran maksiat.

✅Hanya suka membesar-besarkan dosanya, lupa dengan kemurahan dan ampunan Allah yg lebih besar.

✅Tidak bertaubat lagi jika ternyata mengulangi maksiat dengan anggapan taubat berikutnya tidak diterima.

💦Yang benar,
❣jika bermaksiat lagi, taubat lagi…
❣bermaksiat lagi, taubat lagi.
❣Kalahkan setan oleh taubatmu sebelum dia mengalahkanmu dg ke-putus asa-an mu..

❣Sebelum nyawa sampai kerongkongan, atau matahari terbit dari barat, tidak ada yg menutup pintu taubat, selama ikhlas…

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Berkisah kembali tentang Uhud. Teringat kisah Nusaibah Ummu umarah.

📆 Jumat, 08 Rajab 1437H / 15 April 2016

📚 Motivasi

📝 Ustadzah Rochma Yulika

📋 Mari Kita Belajar dari Nusaibah Ummu Umarah

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

🍁Berkisah kembali tentang Uhud.
Teringat kisah Nusaibah Ummu umarah.

💦Kematiannya di Medan perang disambut oleh para penduduk langit.

Dari kejauhan langit nampak hitam berarak seolah sedang bersuka cita menyambut hadirnya sang Mujahidah yang Syahid dalam kisah Uhud.

🌷Beliau seorang wanita yang memiliki 2 anak yang keduanya telah dipersembahkan untuk perjuangan dakwah ilallah setelah suaminya tiada ketika kedua anaknya masih belia.

🍃Dengan penuh keyakinan dia serahkan anak-anaknya kepada Rasulullah untuk membantu perjuangan ini.
Keduanya pun akhirnya syahid.

💦Hingga akhirnya tiada lagi yang bisa diserahkan untuk menjadi pasukan, maka dirinyalah yang akhirnya maju ke gelanggang untuk berhadapan dengan musuh di bukit Uhud.

💡Seorang ibu yang gagah berani bahkan tak ada rasa gentar sedikit pun kala harus menghadapi kaum kafir Quraisy.

Dia sempat terluka hingga tak sadarkan diri.
Ketika tersadar ia berjumpa dengan Ibnu Mas’ud.
Dia tak menghiraukan keadaan dirinya, yang pertama kali dilakukan ketika sadar adalah bertanya tentang keadaan Rasulullah.

🍁Ibnu Mas’ud pun bercerita bahwa Rasulullah terluka hingga ada giginya yang tanggal.

❣Kecintaan yang amat sangat terhadap Rasulullah membuat gelora jihad di dalam dadanya membuncah.

Seketika Nusaibah memohon agar Ibnu Mas’ud agar meminjamkan kuda perang dan senjatanya.

Pada Awalnya Ibnu Mas’ud menolak, namun Nusaibah ummu Umarah memaksanya hingga akhirnya diberikan kuda perang dan senjata tersebut.

Seketika itu Nusaibah menuju gelanggang perang untuk melawan musuh Allah.
Dia pun berhasil membunuh salah satu tentara Quraisy.

Qadarullah tangan kanan Nusaibah terkena tebasan pedang hingga putus.
Keadaan itu tak membuatnya gentar dan semangat memudar. Justru keadaan itulah yang semakin menghadirkan semangat untuk melawan musuh.

Dengan menggunakan tangan kiri yang serba terbatas dia tetap berjuang melawan musuh.
Tak ayal lagi sang ibu pemilik 2 syahid pun harus rela kehilangan tangan kirinya.

🍃Hingga akhirnya ujung kesyahidan menjadi miliknya yakni ketika pasukan Quraisy mampu menebas tubuhnya.

Masya Allah laa quwwata illa billah….

✅Dimana kini Nusaibah-nusaibah pencetak sejarah???

✅Masihkah ada wanita tangguh yang gagah tuk berjuang di sabilillah???

✅Atau sudah tidak ada lagi penerus perjuangan yang memiliki semangat yang menggelora selayaknya para shahabiyah di masa lampau??

💦Ketika menapaktilasi sejarah hidup mereka, diri merasa malu dan seolah tak pantas untuk bersanding dengan para syuhada’.

Mereka hidup hanya untuk Allah…. Hingga besarnya kecintaan itu mengalahkan rasa yang mendera.

Dan kita????

💧Sudah saatnya kita memantaskan diri hingga layak bersanding dengan para pendahulu kita di hadapan Ilahi nanti.

💧Selalu berusaha untuk meneladani para shahabiyah dan mengambil hikmah agar diri tak salah melangkah.

💧Menjadilah kuat agar semangat tetap melekat.
Menjadilah tegar agar jiwa kita kokoh seperti pejuang Badar.

💧Mari segera bergegas agar diri pantas berada di antara para mukminah pencetak sejarah Islam.

🔹Man jadda wa jadda….

💧Kehidupan akhirat yang tiada berujung jadikan sebagai inspirasi agar tetap mampu bertahan di jalan dakwah ini.

💧Dan miliki harapan agar menjadi pribadi dahsyat yang mampu meninggalkan jejak kebaikan melalui karya dan kiprah kita yang tiada henti di jalan Ilahi.

Wallahu musta’an

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Empat Perkara

📆 Rabu,  06 Rajab 1437H / 13 April 2016

📚 Motivasi

📝 Ustadz Abdullah Haidir Lc.

📋 EMPAT PERKARA

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

 Tiga Perkara

ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ وَ ثَلاَثُ مُنْجِيَاتٍ وَ ثَلاَثُ كَفَّارَاتٍ وَ ثَلاَثُ دَرَجَاتٍ ;

Ada Tiga Perkara
Membinasakan,
Menyelamatkan,
Menghapuskan Dosa dan
Meningkatkan Derajat

فَأَمَّا الْمُهْلِكاَتُ: فَشُحٌّ مُطَاعٌ وَ هَوًى مُتَّبَعٌ وَ إِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

Adapun yang membinasakan;
Bakhil yang dituruti,
Hawa nafsu yang diikuti dan
Bangga terhadap diri sendiri.

وَ أَمَّا الْمُنْجِيَاتُ: فَالْعَدْلُ فِي الْغَضَبِ وَ الرِّضَا وَ الْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَ الْغِنَى وَ خَشْيَةُ اللهِ تَعَالَى فِي السِّرِّ وَ الْعَلاَنِيَةِ ;

Adapun yang menyelamatkan adalah:
Adil saat marah maupun ridha,
Hemat  saat miskin maupun kaya, dan
Takut kepada Allah saat sendiri maupun ramai.

وَ أَمَّا الْكَفَّارَاتُ: فَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ وَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي السَّبَرَاتِ وَ نَقْلُ اْلأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ ;

Adapun yang menghapus dosa adalah:
Menunggu waktu shalat (berikutnya) setelah shalat (sebelumnya),
Menyempurnakan wudhu saat cuaca sangat dingin dan
Melangkahkan kaki untuk menghadiri (shalat) jamaah.

وَ أَمَّا الدَّرَجَاتُ: فَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَ إِفْشَاءُ السَّلاَمِ وَ الصَّلاَةُ بِاللَّيْلِ وَ النَّاسُ نِيَامٌ (رواه الطبراني وحسنه الألباني في جامع الصغير

Adapun yang meninggikan derajat adalah:
Memberi makan,
Menebarkan salam dan
Shalat malam saat orang lain tertidur.”

(HR. Thabrani, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Jami Ash-Shagir)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Membaca Surat Pendek Tidak Sampai Akhir Dalam Shalat

👳Ustadz Menjawab
✏Ust. DR. H. Saiful Bahri M.A

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dari korma 02

Pertanyaan :

🌻Assalamualaikum Ustadz…saya mau nanya ttg membaca surat pendek dlm sholat misalnya surat ‘basa tdk sampai selesai?

🅰0⃣8⃣

_ Jawaban :
Waalaikumusalam.wr.wb.
Tidak ada
keharusan membaca surat sampai selesai di dalam shalat. Kalau untuk surah2 pendek seperti adh-dhuha sebaiknya sampai selesai.
Surah al-Baqarah dan surah2 panjang lainnya bisa dipakai dalam banyak rakaat. Demikian halnya surah Abasa.
Wallahu a’lam.

🍃🌺🍃🌻🍃🌸🍃🌼🍃

Dipersemabahkan Oleh :
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan ! Raih pahala..

QS. Al-Mudatsir (Bag. 3)

📆 Senin, 4 Rajab 1437H / 11 April 2016
📚 Tadabbur Al-Qur’an

📝 Dr. Saiful Bahri, M.A

📋 QS. Al-Mudatsir (Bag. 3)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚Golongan Kanan

Jika orang-orang kafir di atas harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya, maka Allah akan memberi keleluasaan bagi orang-orang yang mengimani dakwah Rasulullah saw.

📌“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Kecuali golongan kanan”. (QS.74: 38-39)

Bahkan mereka bisa menanyakan kondisi orang-orang yang diadzab Allah. Hal demikian akan semakin membuat mereka bersyukur. Betapa beruntungnya orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Simaklah saat mereka bertanya kepada para penghuni neraka Saqar,

📌“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. Dan kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya. Dan adalah kami mendustakan hari pembalasan. Hingga datang kepada kami kematian”. Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at”. (QS. 74: 42-48)

Hal diatas bisa kita ambil pelajaran. Bahwa para penghuni Saqar tersebut setidaknya memiliki empat kesalahan fatal.

1⃣ Pertama, tidak mengerjakan shalat. Merupakan simbol keenganan untuk menundukan hati kepada Allah. Sebuah simbol kengkuhan. Simbol kesombongan yang sangat dimurkai oleh Allah, karena kebesaran hanya milik-Nya.

2⃣ Kedua, tidak menunaikan zakat dan tidak menyayangi fakir miskin. Ini merupakan simbol kejahatan sosial. Menjadi sebuah akumulasi keburukan, setelah tak mampu menundukan kepala kepada Allah karena memusuhi fakir miskin dan kaum lemah berarti memusuhi Allah, Sang Pengasih yang sangat menyayangi mereka.

3⃣ Ketiga, selalu membicarakan dan menggunjingkan kebatilan. Jika membicarakan sebuah kebatilan saja sudah dicela, apalagi kebatilan itu kemudian dipergunjingkan, disebarluaskan, dibisniskan. Maka merugi dan celakalah mereka yang mengambil keuntungan dibalik pergunjingan kebatilan ini.

4⃣ Keempat, mengingkari adanya hari pembalasan. Jika hari pembalasan diingkari, maka orang-orang dzalim itu semakin menjadi – jadi. Tak ada lagi yang mereka takuti. Jika sangkaan mereka dibenarkan, maka berapa banyak orang-orang terdzhalimi dan tertindas tak terlindungi. Lantas siapa yang akan membalas mereka. Kaum tertindas yang dijanjikan kemenangan dan pertolongan. Jika tak di dunia mereka sangat mengharapkannya di akhirat. Sementara orang-orang dzhalim itu ditanguhkan oleh Allah sampai datangnya hari pembalasan.

Di samping itu ini menjadi dalil dan bukti bahwa ada dialog dan perbincangan yang terjadi pada penghuni surga dan neraka. Jika di surat ini penghuni surga menanyai penghuni neraka. Maka dalam surat lain para penghuni neraka meminta belas kasihan para penghuni surga yang sarat dengan berbagai kenikmatan.

📌“Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): “Sesunguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami janjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?” mereka (penduduk neraka) menjawab: “Betul”. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: “Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim” [8].

📚 Keterlambatan

Sangat aneh. Peringatan yang demikian jelas seperti diatas justru di dustakan.

📌“Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)”. (QS.74: 49).

Padahal jika mereka mau mengunakan akalnya mereka takakan melakukan kebodohan itu. karena hal tersebut hanya akan mendatangkan penyesalan kelak.

Kita telaah sejenak penggambaran Allah tentang kedunguan mereka,

📌“Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut. Lari dari pada singa”. (QS.74: 50-51).
 Bukankah keledai adalah perumpamaan yang menghinakan. Binatang yang dungu, namun itu lebih baik karena ia tak memiliki akal untuk berpikir. Sementara orang-orang kafir itu diberi akal oleh Allah, tapi mereka tak mau menggunakannya. Jadi mereka lebih buruk dari keledai.

Peringatan yang diberikan Allah seharusnya mereka terima dengan lapang dada dan terbuka. Karena peringatan itu membuat dan menstimulus mereka untuk memperbaiki kualitas hidup dengan penghambaan yang benar kepada Allah. Tapi justru mereka lari menghindar, seperti menghindarnya keledai dari kejaran singa. Jika keledai tak mampu dari kejaran singa. Sanggupkah mereka lari dari takdir Allah, menghindari keputusan dan ketentuan yang telah digariskan oleh Allah. Atau dapatkah mereka bersembunyi dari siksaan Allah yang telah menunggu mereka setelah hari perhitungan. Tak akan ada yang bisa melarikan diri dari keputusan Allah.

📚Sebaik-baik Peringatan

📌“….Sesunguhnya al-Qur’an itu adalah peringatan. Maka barang siapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (Al-Qur’an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Tuhan yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun”. (QS.74: 54-56)

Al-Qur’an yang dibawa Rasulullah saw merupakan pengingat terutama bagi mereka yang mau membacanya dan mau berusaha memahaminya serta menginginkan kebaikan darinya. Beruntunglah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah serta dimudahkan untuk berinteraksi dan memahami al-Qur’an dengan baik.

Karena al-Qur’an adalah pedoman langgeng serta aturan yang berlaku untuk manusia dimana saja sepanjang masa. Ia merupakan salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw. Dan hingga sekarang kemurnian al-Qur’an masih tetap terjaga, berbeda dengan kitab-kitab suci lainya. Hal ini dikarenakan Allah menjaganya dari segala macam perubahan, penggantian, dan pengurangan isinya [9]. Sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw, al-Qur’an memiliki berbagai karakteristik yang mampu menunjukkan keagungannya. Di antaranya al-Qur’an sebagai kitab ilahy (wahyu dari Allah), kitab yang dijaga Allah, sebagai Mukjizat, jelas dan mudah dipahami, kitab agama yang integral (mencakup berbagai aspek kehidupan), kitab yang berlaku untuk sepanjang masa, dan kitab yang memiliki muatan humanisme [10].

Dan barang siapa yang mau berpegang teguh pada al-Qur’an maka ia akan lapang dalam menjalani hidup yang sarat dengan berbagai macam rintangan. Apalagi jika seorang nabi atau dai. Maka kedekatannya dengan Al-Qur’an menjadi spirit tersendiri yang akan menjadi ruh dan motivasi dakwahnya. Wallâhu al-Musta’ân.

                                                                                                ———————————————————————————–

[1]  Imam Jalaluddin as-Suyuthi, al-itqân fi ‘Ulumi al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hal.21, Imam Badruddin az-Zarkasyi, al_Burhan fi Ulumi al-Qur’an, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.I, hal 249

[2]  Syeikh Muhammad Ali ash-Shabuny, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali ash-Shabuny, 1986 M/1406 H, hal 267-268

[3] Lihat Shafiurrahman al-Mubarakfury, Ar-Rahîq al-Makhtûm, edisi terjemah, Jakarta Pustaka al-Kautsar,Cet.II, Januari 2009, hal.65

[4]  Imam Ibnu Jarir at-Thabary, Jâmi’ al-Bayân, Beirut: Dar Ihya Turats a-Araby, Cet.I, 2001 M/1421 H, Vol.29,hal.176, juga Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Cairo: al-Maktabah al-Qayyimah Vol.IV, hal.572

[5]  Shafiurrahman al-Mubarakfury, Ar-Rahîq al-Makhtûm, Op.Cit, hal.66

[6]  Tesis penulis, Kitab Lawami’ al-Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’any al-Qur’an li al-Ma’iny, Dirasah wa Tahqiq, Cairo: Universitas Al-Azhar, 2006 M, Vol.II,hal.738

[7] Ibid. Hal, 739

[8]  Lihat QS. Al-A’raf: 44

[9]  Lihat QS. Al-Hijr: 09

[10]  Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, Kaifa Nata’ âmal ma’a al-Qur’an, Beirut: Darusysyuruq, Cet.I, 1999 M/1419 H, hal 17

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Menaaehati Orang yang Menyakiti Saudaranya

👳Ustadz Menjawab
✏Ustadz Farid Nu’man Hasan

🌿🌺🌸🌻🍄🍀🍁🌷🌹

Assalamu’alaikum…
Afwan ustadz, Bagaimana kita harus bersikap untuk menghadapi seseorang yg secara tidak langsung dia menyakiti hati dan perasaan orang di sekitarnya, tapi dia tidak pernah merasa apabila dia berkata dan berbuat itu menyakiti saudara a.
Apakah akan kita tabayun sendiri atau menyerahkan kepada seseorang lebih berkafaah dengan urusan ini?-A13-

Jawaban:
—————
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ba’d:

Menghadapi orang yang menyakiti kita, ada beberapa cara:

📌 Reaksikan dengan sikap, seperti mendiamkannya dalam rangka memberikan pelajaran. Ini tidak dilarang dan bukan termasuk larangan “mendiamkan saudara melebihi tiga hari.” Rasulullah  ﷺ pernah mendiamkan tiga orang sahabatnya selama 50 hari karena mereka meninggalkan perang Tabuk tanpa alasan.
Orang-orang bijak mengatakan: “Orang biasa menyikapi hal buruk dengan perkataan dan orang ‘alim menyikapi yang tidak disukai dengan sikapnya.”

📌 Jika cara itu tidak membuatnya berubah, maka coba menasihatinya dengan baik. Allah ﷻ berfirman:
  وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan berilah peringatan, sesungguhnya peringatakn itu bermanfaat bagi orang-orang beriman. (QS. Adz Dzariyat: 55)

📌 Jika ini juga tidak bisa, maka minta bantuan kepada orang lain yang mungkin bisa dia dengar nasihatnya. Biasanya orang yang dihormatinya.

 Sebagaimana yang Allah ﷻ perintahkan kepada suami istri yang sedang berselisih, dalam ayat berikut:

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَماً مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَماً مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلاحاً يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيماً خَبِيراً

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. An Nisa: 35)

📌 Jika ini masih belum mempan, maka serahkan kepada Allah ﷻ, yang penting kita sudah melakukan upaya-upaya ishlah (perbaikan).

Allah ﷻ berfirman:

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ (21) لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ

Berilah peringatakan, tugasmu hanyalah memberi peringatan. Kamu tidaklah memiliki kekuasaan kepada mereka untuk memaksa. (QS. Al Ghasyiah: 21-22)

📌 Terakhir doakan dia, karena doa orang teraniaya tidak ada hijab (penghalang).  Nabi ﷺ bersabda:

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ

Dan takutlah kalian terhadap doanya orang teraniaya, sebab tidak hijab (penghalang) antara dirinya dengan Allah ﷻ.  (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Demikian. Wallahu A’lam wa Ilahil Musytaka

🌿🌺🌸🌻🍄🍀🍁🌷🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih pahala…

PENGHALANG TURUNNYA AZAB ALLAH

📆 Ahad, 03 Rajab 1437H / 10 April 2016

📚 Tazkiyatun Nufus

📝 Ustadz Ahmad Sahal Hasan Lc.

📋 PENGHALANG TURUNNYA AZAB ALLAH

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Azab Allah yang bersifat penghancuran umum – menurut sebagian ulama – tidak terjadi lagi setelah Allah swt menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa as berdasarkan isyarat dari ayat Al-Quran:

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الْأُولَى بَصَائِرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia, petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat. (QS. Al-Qashash: 43)

Terkait isyarat dari ayat tersebut, Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan:

أَنَّهُ بَعْدَ إِنْزَالِ التَّوْرَاةِ لَمْ يُعَذِّبْ أُمَّةً بِعَامَّةٍ …

“Bahwa sesudah diturunkan Taurat, Allah tidak mengazab suatu ummat dengan azab yang menyeluruh…”

Sementara Firaun dan bala tentaranya dibinasakan sebelum Nabi Musa menerima Taurat.

Terlepas dari pendapat tersebut, ada beberapa hal yang menjadi penghalang turunnya azab Allah dengan penghancuran menyeluruh sebelum hari kiamat.

Azab Allah dengan penghancuran menyeluruh disebut dengan istilah azab isti’shal yaitu azab dengan penghancuran suatu komunitas secara menyeluruh sehingga tidak ada yang hidup lagi diantara mereka, seperti yang terjadi pada kaum ‘Ad, Tsamud, kaum Nabi Luth dan Firaun beserta bala tentaranya.

Ada beberapa faktor yang dapat menghalangi turunnya azab Allah yang bersifat penghancuran  umum tersebut, meskipun azab Allah kepada individu atau beberapa pihak yang zalim masih mungkin terjadi.

1⃣Pertama, keberadaan pribadi Rasulullah saw, atau para ulama dan da’i atau kaum muslimin yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar di tengah-tengah masyarakat.

وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.”

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS. Al-Anfal: 32-33).

Juga berdasarkan hadits Nabi Muhammad saw dengan derajat hasan :

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ»

Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, lakukanlah amar ma’ruf nahi munkar atau hampir saja Allah mengirimkan hukuman atas kalian dari-Nya kemudian kalian berdoa kepada-Nya lalu doa kalian tidak dikabulkan. (HR. Tirmidzi).

2⃣Kedua, keberadaan orang-orang yang beristighfar memohon ampun kepada Allah di tengah masyarakat.

Atau keberadaan orang-orang yang berdosa namun masih menyadari bahwa perbuatannya adalah dosa, dan masih menyesalinya dengan mohon ampun kepada Allah, seperti yang disebutkan oleh ayat 33 Surat Al-Anfal di atas.

Di dunia saat ini hampir selalu ada para da’i pelaku amar ma’ruf nahi munkar, atau kelompok kaum muslimin yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan menggunakan berbagai sarana, atau orang-orang yang masih memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa mereka.

Ummat-ummat terdahulu dihancurkan oleh Allah karena Nabi mereka dan orang-orang yang beriman diusir semuanya dari wilayah tempat mereka berbaur, atau karena Allah memerintahkan Nabi dan ummatnya yang beriman untuk pergi meninggalkan orang-orang kafir tersebut, seperti yang terjadi pada kaum Nabi Luth alaihissalam.

Sehingga wilayah itu menjadi steril dari orang-orang baik, kemudian Allah menurunkan azab-Nya.

3⃣Ketiga, karena Allah berkehendak menunda azab secara fisik untuk orang-orang zalim tanpa melalaikan perhitungan atas kezaliman yang mereka lakukan dan menyediakan azab yang pedih untuk mereka di akhirat.

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim.

Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (hari kiamat). (QS. Ibrahim: 42).

4⃣Keempat, adanya hikmah lain yang bisa jadi hanya Allah yang tahu sehingga Dia tidak menurunkan azab-Nya kepada suatu kaum meskipun penghalang-penghalang lain sudah tidak ada.

Diantara bentuk hikmah tersebut misalnya:

🍁 Allah mengetahui bahwa diantara mereka di masa depan ada yang bertaubat, yang kafir menjadi muslim, yang zalim menjadi pembela orang yang dizalimi dan seterusnya.

Seperti yang terjadi pada Khalid bin Walid, Ikrimah bin Abu Jahal, Hindun binti Utbah radhiyallahu ‘anhum di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.

Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki; Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 128-129).

🍁Allah mengetahui bahwa diantara keturunan mereka kelak ada yang beriman kepadaNya sehingga sekalipun mereka tidak bertaubat hingga akhir hayat, kehidupan mereka diperlukan untuk melahirkan keturunan yang shalih di masa depan.

Ketika Rasulullah ditawarkan oleh malaikat penjaga gunung untuk menghancurkan orang-orang kafir yang menyakiti beliau dengan menimpakan dua buah bukit kepada mereka, Rasulullah menjawab:

بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ، لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Bahkan aku berharap Allah mengeluarkan dari sulbi mereka keturunan yang akan beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya. (HR. Bukhari & Muslim).

Shalawat & salam untukmu wahai teladan ummat..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

ISLAM BUKAN AGAMA YANG PALING BENAR?

👳Ustadz Menjawab
✏Ust. DR Wido Supraha

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Assalamualaikum wr wb, Ustadz  dalam kajian tertulis  “Hanya disurat ini kemudian ditegaskan secara berulang bahwa ISLAM BUKAN AGAMA YANG PALING BENAR, setuju? “

👆🏼kalimat itu maksudnya apa ya?  Ada di Kalimat sebelum pembahasan  5 hal mencapai ats stabat.

Sy td cm cek aja apa salah tulis?? Soalnya dipakein huruf besar semua.

Ustadz :menurut ibu seharusnya redaksinya “Islam itu agama yang benar atau yang paling benar”

Penanya:
saya jawab semampu saya pak ustadz, Islam itu agama yang benar dan dpt dibenarkan, jd ya bisa dibilang Islam agama yg paling benar.
Jd yg benar yg mana pak Ustadz?

🍀Jawaban:

Bismillāh, Wa ‘alaikum warahmatullāhi wa barakātuhu.

Terima kasih atas pertanyaan dari member A11 yang masuk, yang bermakna seluruh tulisan dari saya telah dibaca secara utuh, hanya saja kemungkinan besar membutuhkan penjelasan lebih utuh terkait kalimat bahwa “ISLAM BUKAN AGAMA YANG PALING BENAR”.

Kalimat tersebut adalah kalimat yang secara tegas harus diyakini oleh setiap mukmin, sebagai konsekuensi iman. Latar belakang tulisan di atas memang redaksi dari beberapa kajian online yang telah saya sampaikan, sebagaimana kalimat tersebut telah saya sampaikan di banyak forum ilmiah seperti khutbah jum’at, majelis ta’lim ibu-ibu atau bapak-bapak, pengajian di musholla perkampungan, di kelas-kelas perkuliahan, dengan maksud hanya untuk menguatkan konsep ad-din sebagai bagian dari cara pandang kaum muslimin yang utuh (baca: Islamic Worldview).

Saya ingin mengingatkan diri ini, bahwa ber-Islam sejatinya adalah penghayatan. Kaum muslimin harus mulai masuk ke dalam tahap menghayati seluruh makna, dan senang berpikir secara mendalam, agar prinsip-prinsip inti nan kunci kita peroleh dari setiap kajian yang diberikan. Berpikir mendalam tidak ada hubungannya dengan filsafat yang dipahami kekinian, karena Islam juga dibangun atas unsur logika, ra’yu di bawah naungan wahyu. Itulah rahasia mengapa Allah ﷻ sering mengingatkan kita untuk mau dan terus berpikir, mengoptimalkan nikmat akal, agar kajian-kajian yang mengalir membawa manusia menuju ‘alim, tidak sekedar ‘abid.

Berpikir mendalam juga tidak ada kaitannya dengan profesi setiap manusia, karena setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk memaknai setiap pesan-pesan Ilahiyah. Inilah rahasia mengapa binaan-binaan seorang ustadz yang bernama Al-Banna, untaian kalimatnya mampu menggugah manusia yang mendengarnya meski pekerjaannya sangatlah biasa di dunia. Penghayatan dalam ber-Islam berkorelasi dengan pemaknaan setiap bahasa yang digunakan, inilah mengapa BAHASA menjadi penting untuk dikuasai, dirawat dan dilestarikan agar sentiasa mengandung serapan-serapan bahasa Arab yang maknanya begitu mendalam. Dalam perspektif ini, bahasa Melayu adalah di antara bahasa yang masih mampu merawatnya, sementara bahasa Indonesia mulai semakin berubah sebagian kata-kata dasarnya yang berasal dari Al-Qur’an dengan kata-kata yang hilang dan tercerabut dari makna Islam. Kata Agama menggantikan kata Ad-Din adalah contoh yang dapat diangkat dalam perspektif ini.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kepada kita untuk berkata yang baik atau diam. Ini mengingatkan kepada kita, bahwa untaian kalimat yang keluar dari lisan kaum mukminin hendaknya adalah kalimat-kalimat yang telah dipikirkan akan dampaknya terlebih dahulu, kalimat-kalimat pilihan, kalimat-kalimat yang berbasis ilmu, kalimat-kalimat yang mendorong lahirnya ilmu. Terkadang kita temukan banyak manusia yang reflek berbicara memberikan pendapatnya tanpa dipikirkan dahulu, sehingga lahir kasus-kasus yang tidak disukai Nabi Saw. seperti ada yang merasa tersakiti, atau lucu dalam diskusi namun di atas kisah dusta, atau diskusi-diskusi penuh kesia-siaan, bahkan yang lebih tragis diskusi-diskusi yang bernilai maksiat di jalan Allah ﷻ.

Untaian kalimat “ISLAM BUKAN AGAMA YANG PALING BENAR” dalam pembahasan kita adalah untaian kalimat dengan latar belakang kajian tadabbur Surat Ali ‘Imran, tadabbur ayat-ayat Qauliyah, tadabbur ayat-ayat yang mendorong manusia teguh (Ats-Tsabat) secara pemikiran dan amal, dalam ber-Islam. Islam sebagai Din dengan seluruh makna yang terkandung di dalamnya, bukan sekedar agama dalam makna yang ada dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Tadabbur ayat-ayat Ilahiyah tentunya harus sampai kepada pencapaian atas pesan-pesan kunci. Dalam konteks di atas, tentu kita bertanya, mengapa ya Allah ﷺ mengulang-ulang dalam beberapa tempat akan khususnya Islam? Di ayat mana saja itu?
Allah ﷻ berfirman,

 إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَـٰمُ‌ۗ

Sesungguhnya agama [yang diridhai] di sisi Allah hanyalah Islam. (Q.S. Ali ‘Imran/3:19)

فَإِنۡ حَآجُّوكَ فَقُلۡ أَسۡلَمۡتُ وَجۡهِىَ لِلَّهِ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِ‌ۗ وَقُل لِّلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡأُمِّيِّـۧنَ ءَأَسۡلَمۡتُمۡ‌ۚ فَإِنۡ أَسۡلَمُواْ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْ‌ۖ وَّإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا عَلَيۡكَ ٱلۡبَلَـٰغُ‌ۗ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ (٢٠)

Kemudian jika mereka mendebat kamu [tentang kebenaran Islam], maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan [demikian pula] orang-orang yang mengikutiku”. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: “Apakah kamu [mau] masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan [ayat-ayat Allah]. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Q.S. Ali ‘Imran/3:20)

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَـٰمِ دِينً۬ا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِى ٱلۡأَخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِينَ (٨٥)

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima [agama itu] daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Q.S. Ali ‘Imran/3:85)

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ (١٠٢)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Q.S. Ali ‘Imran/3:102)

Berdasarkan penegasan dari Allah ﷻ di atas, maka semakin yakinlah bahwa jalan keselamatan itu HANYA ada pada jalan ISLAM. Manusia yang mencari DIN selain ISLAM maka ia bukanlah jalan keselamatan.

***

Berikutya kita coba melihat dari perspektif terminologi BENAR. Apakah sebenarnya konsep BENAR dalam Islam? Apakah BENAR bisa lebih dari satu? Apakah baik pasti benar? Tentunya terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak ada jalan lain bagi kita kecuali kembali menghayati kitab suci yang suci karena bersih dari noda perubahan manusia. Sejatinya, tujuan dari setiap kajian Islam adalah agar para penuntut ilmu mampu mengidentifikasi mana yang BENAR dan mana yang TIDAK BENAR. Sejatinya setiap kajian Islam adalah memberikan alat bagi penuntutnya agar dapat menjadi pegangan dalam ragam persoalan hidup di dunia. Inilah ciri khas ber-Islam yang bebas dari Taklid Buta dan sistem kependetaan, karena setiap manusia didorong untuk terus berpikir dan menghayati ajarannya.

Setiap kitab suci yang diturunkan-Nya adalah untuk tujuan yang sama, agar manusia mampu membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Allah ﷻ berfirman,

وَإِذۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَى ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡفُرۡقَانَ لَعَلَّكُمۡ تَہۡتَدُونَ (٥٣)

Dan [ingatlah], ketika Kami berikan kepada Musa Al Kitab [Taurat] dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk. (Q.S. Al-Baqarah/2:53)

Jika ada yang mengaku mereka benar, maka ia dipersilahkan untuk menunjukkan mana kebenaran yang mereka maksudkan. Inilah rahasia mengapa Islam satu-satunya agama yang ilmiah, karena ia dibangun di atas dasar ilmu bukan hawa nafsu. Allah ﷻ berfirman,

وَقَالُواْ لَن يَدۡخُلَ ٱلۡجَنَّةَ إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوۡ نَصَـٰرَىٰ‌ۗ تِلۡكَ أَمَانِيُّهُمۡ‌ۗ قُلۡ هَاتُواْ بُرۡهَـٰنَڪُمۡ إِن ڪُنتُمۡ صَـٰدِقِينَ (١١١)

Dan mereka [Yahudi dan Nasrani] berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang [yang beragama] Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu [hanya] angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. (Q.S. Al-Baqarah/2:111)

Dalam tadabbur kita terhadap ayat-ayat Surat Ali ‘Imrān, karena memang surat ini diturunkan untuk menjaga ATS-TSABAT manusia, konsep BENAR inipun ditegaskan secara berulang. Allah ﷻ berfirman,

ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ (٦٠)

[Apa yang telah Kami ceritakan itu], itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (Q.S. Ali ‘Imran/3:60)

Allah ﷻ menegaskan bahwa BENAR itu dari-nya dan BENAR itu standarisasi yang perlu diketahui manusia telah ada di dunia, dan Al-Qur’an adalah standarisasi BENAR dimaksud, maka jangan lagi kita menjadi orang-orang yang ragu bahwa Islam adalah satu-satunya jalan yang benar. Allah ﷻ berfirman,

قُلۡ صَدَقَ ٱللَّهُ‌ۗ فَٱتَّبِعُواْ مِلَّةَ إِبۡرَٲهِيمَ حَنِيفً۬ا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ (٩٥)

Katakanlah: “Benarlah [apa yang difirmankan] Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (Q.S. Ali ‘Imrān/3:95)

Bagi kaum selain Islam, karena mereka menyadari bahwa ajaran mereka penuh persoalan, namun mereka tetap berupaya menunjukkan bahwa mereka LEBIH BENAR dari Islam, dalam hal ini Allah ﷻ berfirman,

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ أُوتُواْ نَصِيبً۬ا مِّنَ ٱلۡڪِتَـٰبِ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡجِبۡتِ وَٱلطَّـٰغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ هَـٰٓؤُلَآءِ أَهۡدَىٰ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ سَبِيلاً (٥١)

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir [musyrik Mekah], bahwa mereka itu LEBIH BENAR (AHDA) jalannya dari orang-orang yang beriman. (Q.S. An-Nisā/4:51)

JALAN BENAR itu hanya ada satu, dan itu ada dalam Al-Qur’ān al-Karīm. JALAN BENAR itulah yang menjadi panduan manusia untuk bergerak dan memutuskan pilihan-pilihan hidupnya, bukan jalan lain, karena jalan lain, BUKAN JALAN BENAR. Allah ﷻ berfirman,

إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ بِٱلۡحَقِّ لِتَحۡكُمَ بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِمَآ أَرَٮٰكَ ٱللَّهُ‌ۚ وَلَا تَكُن لِّلۡخَآٮِٕنِينَ خَصِيمً۬ا

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang [orang yang tidak bersalah], karena [membela] orang-orang yang khianat. (Q.S. An-Nisā/4:105)

Maka Allah ﷻ pun kembali menantang penganut jalan hidup selain Islam, jika memang mereka meyakini ajaran mereka LEIH BENAR (ASHDAQU), sementara yang BENAR telah jelas, maka dipersilahkan untuk menunjukkannya. Inilah ciri Islam sebagai Agama Dialog. Allah ﷻ berfirman,

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ سَنُدۡخِلُهُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيہَآ أَبَدً۬ا‌ۖ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقًّ۬ا‌ۚ وَمَنۡ أَصۡدَقُ مِنَ ٱللَّهِ قِيلاً۬ (١٢٢)

Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang LEBIH BENAR (ASHDAQU) perkataannya daripada Allah? (Q.S. An-Nisā/4:122)

Maka Allah ﷻ mengajak kita bukan kepada agama YANG PALING BENAR, tetap kepada agamma YANG BENAR, agama yang diridhoi-Nya sebagai bentuk cinta-Nya kepada hamba-Nya.

إِنِّى وَجَّهۡتُ وَجۡهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفً۬ا‌ۖ وَمَآ أَنَا۟ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ (٧٩)

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada AGAMA YANG BENAR, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Q.S. Al-An’ām/6:79)

وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدۡقً۬ا وَعَدۡلاً۬‌ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَـٰتِهِۦ‌ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ (١١٥)

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu [Al Qur’an, sebagai kalimat YANG BENAR dan adil. Tidak ada yang dapat merobah-robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-An’ām/6:115)

ذَٲلِكَ جَزَيۡنَـٰهُم بِبَغۡيِہِمۡ‌ۖ وَإِنَّا لَصَـٰدِقُونَ (١٤٦)

Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar. (Q.S. Al-An’ām/6:146)

قُلۡ إِنَّنِى هَدَٮٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬ دِينً۬ا قِيَمً۬ا مِّلَّةَ إِبۡرَٲهِيمَ حَنِيفً۬ا‌ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ (١٦١)

Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, [yaitu] AGAMA BENAR (DINUN QAYYIMUN); agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik”. (Q.S. Al-An’ām/6:161)

***

Terma BENAR melahirkan lawan maknanya, dan Allah ﷻ menegaskan bahwa selain BENAR ia adalah BATHIL.

فَوَقَعَ ٱلۡحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ (١١٨)

Karena itu nyatalah yang BENAR dan batallah yang selalu mereka kerjakan. (Q.S. Al-A’rāf/7:118)

Allah ﷻ menugaskan Rasul-Nya dan tentunya umat penerus dakwahnya agar memenangkan AGAMA YANG BENAR (DINUL HAQQ) ini di atas agama yang lain, agama yang tidak benar, maka lahirlah kompetisi dalam dakwah, agar DINUL HAQQ ini menjadi pemenang, dan Allah ﷻ akan melihat upaya-upaya manusia dalam memenangkannya, bukan hasil dari upayanya.

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُ ۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُ ۥ عَلَى ٱلدِّينِ ڪُلِّهِۦ وَلَوۡ ڪَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ (٣٣)

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya [dengan membawa] petunjuk [Al Qur’an] dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (Q.S. At-Taubah/9:33)

Ats-Tsabat dalam memenangkan agama yang benar membutuhkan kesungguhan sekaligus kebersamaan bersama orang-orang yang benar. Allah ﷻ berfirman,

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّـٰدِقِينَ (١١٩)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (Q.S. At-Taubah/9:119)

Kesungguhan manusia dalam memperjuangkan YANG BENAR akan dikokohkan-Nya sehingga YANG BENAR itu akan tegak.

وَيُحِقُّ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَـٰتِهِۦ وَلَوۡ ڪَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ (٨٢)

Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai [nya]. (Q.S. Yunus/10:82)

وَأَتَيۡنَـٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَإِنَّا لَصَـٰدِقُونَ (٦٤)

Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. (Q.S. Al-Hijr/15:64)

فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ‌ۖ إِنَّكَ عَلَى ٱلۡحَقِّ ٱلۡمُبِينِ (٧٩)

Sebab itu bertawakkallah kepada Allah ﷻ, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata (HAQQUL MUBIN). (Q.S. An-Naml/27:79)

***

Terma BENAR juga melahirkan lawan makna selain BATHIL, yakni SESAT. Allah ﷻ menegaskan bahwa selain BENAR ia adalah BATHIL. Allah ﷻ menggunakan kata tunggal untuk menegaskan bahwa BENAR itu hanya satu, dan menggunakan kata jamak untuk SESAT untuk menegaskan bahwa jalan SELAIN BENAR, JALAN SESAT itu banyak.

فَذَٲلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ٱلۡحَقُّ‌ۖ فَمَاذَا بَعۡدَ ٱلۡحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَـٰلُ‌ۖ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ (٣٢)

Maka [Zat yang demikian] itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan [dari kebenaran]? (Q.S. Yunus/10:32)

Allah ﷻ menginginkan manusia tetap berada di JALAN BENAR, karena selain selainnya adalah jalan yang akan membawa kepada KESEDIHAN. JALAN BENAR adalah jalan cahaya yang membawa kepada Kebahagiaan Hakiki. Inilah rahasia mengapa Allah ﷻ menggunakan kata tunggal juga untuk cahaya (Nur) dan terdapat satu ayat yang berbicara tentang bahagia, happiness (As-Sa’adah).

يَوۡمَ يَأۡتِ لَا تَڪَلَّمُ نَفۡسٌ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦ‌ۚ فَمِنۡهُمۡ شَقِىٌّ۬ وَسَعِيدٌ۬ (١٠٥)

Di kala datang hari itu, tidak ada seorangpun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (Q.S. Hud/11:105)

***

Hingga disini, kita sudah memahami Konsep DINUL HAQQ (AGAMA BENAR), bukan Agama yang paling benar. Kata ‘Paling’ dalam bahasa Indonesia masuk dalam kategori Superlatif, dan menurut KBBI, Superlatif (/su·per·la·tif/) adalah tingkat perbandingan yang teratas. Dalam konteks PALING BENAR, maka ini menunjukkan bahwa posisinya akan berada paling atas dari seluruh yang benar. Pertanyaannya adalah apakah memang ada yang benar selain Islam? Jika tidak ada, maka mengapa kita masih bersikukuh bahwa Islam Agama Yang Paling Benar?

Bagian sebagian manusia mungkin hal ini dianggap sebagai semantic game, namun hakikatnya, kalimat ISLAM AGAMA YANG PALING BENAR, mengandung persoalan besar dalam tema iman, dan seluruh firman Allah terkait terma BENAR di atas telah menjelaskan kepada kita bahwa seorang mukmin dengan Aqidah-nya yang lurus, harus mengatakan bahwa ISLAM AGAMA YANG BENAR. Seorang mukmin tentu menyadari secara jelas, bahwa kalimat ISLAM AGAMA YANG BENAR mengandung keyakinan pada saat yang bersamaan, bahwa selain Islam adah AGAMA YANG TIDAK BENAR, BATIL dan SESAT, tidak membawa kepada HUDA. Namun ini adalah konsep iman tertanam di dalam hati, dan ini tidak ada korelasinya sama sekali dengan perasaan sebagian manusia yang merasakan dirinya paling benar, sebagaimana ini tidak ada korelasinya sama sekali dengan perilaku sebagian manusia yang tidak toleran atas perbedaan iman. Surat Ali ‘Imran penting dihayati karena Nabi ﷺ mampu memadukan antara konsep iman yang utuh dan muamalah kepada non-muslim dengan sangat baik.

Jika ada di antara mukmin yang merasa risih dengan kalimat di atas, saya sarankan untuk lebih memaknai penggunaan kata ini. Kalimat ini tidaklah multi-tafsir, dalam bab Aqidah, Islam berbicara tegas dan jelas, Al-Qur’an menyadarkan kepada kita akan penggunaan gaya bahasa yang jelas dan tegas, AGAMA BENAR, bukan AGAMA PALING BENAR. Ini kalimat sederhana yang semestinya dapat segera dipahami bersama penghayatan kita dalam ber-Islam.

Jika ada di antara mukmin yang mendahulukan emosi terhadap pelajaran-pelajaran penting dan inti dari sebuah ilmu, saya sarankan untuk refleksi bersama, sudahkah kita memiliki TSIQAH kepada pemateri, karena ini syarat awal dalam menerima ilmu. Setiap manusia dalam hidupnya selalu berada dalam dua posisi yang bergantian terus menerus, terkadang menjadi guru terkadang menjadi murid, kedua-duanya posisi yang akan terus dialami setiap manusia hingga akhir hidupnya. Emosi akan menutupi pintu ilmu. Ketika syarat Tsiqah telah hadir, maka terhadap sesuatu yang kita belum pahami esensinya, maka dahulukan perasaan ingin tahu, dan dahulukan Adab dalam Menuntut Ilmu. Boleh jadi ilmu yang disampaikan mengandung kesalahan, namun boleh jadi juga sebuah ilmu yang disampaikan mengandung kesulitan untuk dipahami, maka bertanya adalah bagian dari proses transmisi ilmu, sebagaimana diskusi hikmah akan melahirkan cahaya ilmu.

Jika ada di antara mukmin yang mendahulukan labelisasi terhadap seseorang yang kalimat-kalimatnya berbeda atas pemahamannya, maka dahulukan semangat ilmu, karena terburu-buru dalam labelisasi akan membawa kepada keburukan yang besar. Terkadang kita mudah melabeli seseorang dengan label Syi’ah, sementara kita belum memiliki kemampuan mengidentifikasi mana Syi’ah dan mana Ahlus Sunnah, itulah mengapa saya pernah menulis ‘Siapakah Syi’ah?’. Terkadang kita mudah melabeli seseorang dengan label lainnya, sebelum kita bertanya lebih dahulu, dan dalam banyak kasus yang saya temui, terburu-buru dalam labelisasi melahirkan dampak keburukan yang besar.

***

Demikianlah uraian panjang ini disampaikan. Atas nama kebenaran, semoga kita sentiasa berada di jalan yang benar. Dalam meniti jalan yang benar dibutuhkan kebersamaan untuk saling menasihati dalam hal yang benar (tawashau bil-haqq), agar benar itu melahirkan cahaya dan bahagia, karena ilmu yang tidak lagi berhijab menyinari qalbu kita dan menerangkan akal manusia sehingga tercerahkan dan kemudian mencerahkan manusia lain di sekitarnya. Saya akhir dengan satu aqidah Ahli Sunnah wa al-Jama’ah, “haqaiq al-asy-ya’ tsabitah wa al-‘ilmu biha mutahaqqiqun”, hakkat setiap perkara adalah tetap dan ilmu mengenainya dapat dicapai.

Hadanallaahu wa iyyakum ajma’in,
Wassalamu ‘alaikum warahmatullah,
Dr. Wido Supraha
supraha.com

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…