Berjihad Mencari Ridha Allah

Tenang Dalam Kemenangan, Tenang Dalam Kekalahan (Bagaimana Shalahuddin Mengelola Emosi Pasukannya) (bag-1)

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE. MPP

Pertempuran Arsuf – 7 September 1191

Pertempuran ini terjadi pada masa Perang Salib Ketiga dimana Raja Richard I dari Inggris (bergelar “Berhati Singa” atau The Lionheart) mengalahkan Sultan Shalahuddin (Yusuf ibn Ayyub) di luar kota Arsuf di Palestina. Pada perang itu pasukan Salib telah merebut kota Acre melalui pengepungan yang berkepanjangan. Sasaran mereka berikutnya adalah menguasai kota Jaffa guna menopang pencapaian sasaran utamanya yaitu merebut kota al-Quds (Jerusalem).

Setelah tidak tergiur oleh serbuan-serbuan pancingan yang dilancarkan Shalahuddin, maka pada hari Sabtu 11 Sya’ban 587 Hijriah (7 September 1191) pertempuran besar mulai berkobar. Balatentara Richard berhasil mempertahankan kedisiplinan untuk tidak terpancing maju menyerang keluar dari jarak formasi kohesif. Hanya kesatuan Hospitallers yang tidak tahan dan melancarkan serangan keluar sehjngga Richard terpaksa mengerahkan seluruh pasukannya. Richard kemudian menyusun ulang barisan pasukannya setelah keberhasilan serbuan pertama dan menyerang lagi lalu menang. Pertempuran ini menyebabkan beberapa kota di pesisir selatan Palestina, termasuk kota Jaffa, kembali ke tangan Pasukan Salib. Sejauh itu sepertinya target merebut Jerusalem sepertinya dimungkinkan.

Permulaan di Selatan Acre

Setelah berhasil menguasai Acre pada tahun 1191, Richard sadar bahwa ia juga harus merebut Jaffa sebelum bergerak menuju Jerusalem. Ia mulai bergerak menuju Jaffa menyisiri jalur pesisir dari Acre  pada bulan Agustus 1191. Shalahuddin pun menyadari tujuan manuver ini sehingga ia pun mengarahkan pasukannya guna mencegat Richard. Raja Inggris yang konon tidak bisa berbahasa Inggris ini telah menyusun formasi dan manuver militer secara detail.

Setelah jatuhnya Acre, angkatan laut Shalahuddin yang berasal dari Mesir telah jatuh ke tangan lawan sehingga Richard dapat bebas bergerak menyusuri pesisir ke arah selatan tanpa harus khawatir akan serangan dari sayap kanannya (dari laut).

*Richard Belajar dari Pertempuran Hattin

Richard sangat sadar akan permasalahan yang menyebabkan kekalahan telak Pasukan Salib di Pertempuran Hattin sehingga ia menyiapkan persediaan air yang cukup serta rutin memantau tingkat keletihan pasukannya dari sengatan terik matahari. Walaupun ia harus mengejar waktu untuk sampai ke titik transit sebelum sampai ke Jaffa namun Richard tidak memacu barisan pasukannya. Ia hanya menggerakkan pasukannya pada pagi hari sebelum matahari menyengat dan berhenti pada titik-titik mata air untuk beristirahat. Angkatan lautnya berlayar secara paralel sebagai pangkalan logistik sekaligus ambulans bagi mereka yang cidera.

Richard juga menyadari taktik lawannya berupa serangan pancingan serbu-mundur sehingga ia mewajibkan formasi ketat dengan 12 resimen berkuda masing-masing berkekuatan 100 knight sebagai inti kekuatan. Pasukan infanteri berbaris dalam formasi sejajar di sebelah pasukan berkuda pada sisi daratan sebagai perlindungan bagi pasukan berkuda atas serangan panah. Barisan terluar dari infanteri ditempati oleh pasukan crossbow sebagai penggentar kesatuan berkuda ringan Shalahuddin. Pasukan infanteri secara bergantian pindah ke sisi dalam (ke dekat pantai) untuk beristirahat untuk menjaga mereka selalu dalam kondisi segar.

Walaupun seluruh Pasukan Salib tersiksa perasaan akibat tidak diperbolehkannya meladeni serangan-serangan pancingan Shalahuddin, namun kharisma Richard mampu meredam emosi serta menegakkan disiplin mereka; bahkan untuk ini ditulis oleh Bahauddin, seorang sejarawan sekretaris pribadi Shalahuddin yang juga saksi peristiwa tersebut:

“Pasukan Muslimin menyerang sisi luar untuk memancing emosi mereka agar keluar dari formasi rapat barisan, namun mereka (pasukan Richard) sangat terkendali dan tetap dalam formasi barisan sambil bergerak maju seiring dengan berlayarnya kapal sepanjang pesisir, hal ini mereka lakukan dengan rapi hingga tercapai setiap tahapan perjalanan diselingi peristirahatan.”

Bahauddin juga memaparkan adanya perbedaan kekuatan antara crossbow Passukan Salib dan kaum Muslimin. Ia melihat bagaimana prajurit Salib tetap berjalan dalam formasi walaupun pada baju besinya tertancap 1 sampai 10 panah. Sedangkan, prajurit kaum Muslimin banyak yang langsung terbunuh manakala tertembak crossbow lawan dan kuda tersungkur sekali tembak.

Strategi Shalahuddin

Derap laju Pasukan Salib ditentukan oleh kecepatan infanteri dan rombongan logistik, sedangkan pasukan Ayyubi sebagian besar bertunggang kuda sehingga mobilitasnya lebih tinggi. Tindakan membakar dan memanen lebih awal bahan pangan di jalur lawan oleh pihak Shalahuddin ternyata tidak  efektif menghambat laju karena logistik Pasukan Salib sebagian besar diangkut via laut.

Pada hari Ahad 3 Sya’ban 587 Hijriah (25 Agustus 1191) elemen terbelakang  Pasukan Salib sempat tertinggal sehingga diserbu lawannya. Kalau saja kesigapan iring-iringan Pasukan Salib tidak sempat menghubungkan barisan maka mereka sudah bisa diperkirakan binasa. Dari tanggal 28-29 Agustus pasukan Richard mengalami jeda serangan karena mereka harus mengitari bukit Caramel sehingga tidak ada ruang manuver kavaleri yang cukup. Shalahuddin membawa pasukannya mengitari dari sisi dalam dan kedua balatentara bertemu lagi di sekitar kota Caesaria; separuh jalan antara Acre dan Jaffa. Shalahuddin tiba di luar Caesarea lebih dahulu pada tanggal 30 Agustus karena Pasukan Salib menempuh jarak jarak yang lebih jauh dengan kecepatan yang lebih lamban. Antara tanggal 30 Agustus hingga 7 september Shalahuddin selalu berada pada jarak dekat dan siap menyergap jika kesempatan terbuka.

*Penyesuaian Strategi

Pada awal bulan September, Shalahuddin menyadari bahwa mengerahkan sebagian kecil saja dari pasukannya tidak akan mampu menghentikan laju pasukan Richard. Ia harus mengerahkan keseluruhan pasukannya dalam suatu serangan umum. Perubahan taktik ini mendapatkan peluangnya karena tidak lama lagi lawan akan melintasi salah satu dari sedikit area di Palestina yang berhutan agak lebat; yaitu Hutan Arsuf. Daerah berpohon lebat ini membentang sejajar pesisir sekitar 19 km panjangnya dan merupakan medan yang cocok untuk menyamarkan penyebaran pasukan Shalahuddin dalam rencana penyerbuan.

*Dalam Penyamaran Hutan Arsuf

Pasukan Salib telah melintasi separuh hutan tanpa gangguan yang berarti dan mereka beristirahat pada hari Jum’at 15 Sya’ban 587 Hijriah (6 September 1191) dimana tendanya terlindungi oleh sedikit rawa pada muara Sungai Nahrul Falaik (Rochetaillée). Lebih ke selatan lagi terbentang jarak sekitar 9.7 km yang harus ditempuh Pasukan Salib sebelum sampai ke reruntuhan Arsuf. Pada bentangan ini terdapat padang rumput selebar 1.5-3.0 km antara pinggiran hutan dan pantai; di sinilah rencana Shalahuddin akan melancarkan serangannya.

Shalahuddin tetap melancarkan serbuan pancingan sepanjang kolom barisan Pasukan Salib namun kali ini memusatkan serbuan terkuat pada bagian belakang. Rencananya adalah memberikan dorongan bagi elemen terdepan untuk menjauh hingga memecah kekuatan mereka sendiri. Jika celah nanti terbentuk maka Shalahuddin akan menumpahkan elemen cadangannya guna menuntaskan jebakan serta melumatkan lawannya.

(bersambung…insyaa Allah Kamis pekan depan)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Majelis ilmu

LEZATNYA BACA (sejarah dari) BUKU ASLINYA…

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE., MPP.

Catatan kecil mengapa terjemahan itu tidak selalu dapat menjelaskan dengan jelas dan terperinci.

***

Pertama, saya ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan penterjemah kitab sejarah klasik dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia.

Kedua, saya ucapkan selamat kepada rekan-rekan yang masih menyempatkan membaca buku klasik sejarah Islam yang ditulis oleh para ulama dan sejarawan Muslim.

Namun, perlu diketahui bahwa hanya mengandalkan terjemahan saja kadang bisa membuat bingung jika tidak dirujuk ke kitab berbahasa aslinya.

Hikmah dari studi kasus pertanyaan pemirsa kajian sejarah tentang penaklukan kota Damaskus pada zaman khalufah ‘Umar ibn al-Khaththab (ra):

Dalam buku terjemahan “Futuhul Buldan” karya al-Balazurī halaman 154 dituliskan

“.. Abu Darda’ Uwaimir bin Amir al-Khazraji turun di Masalahah Bairazah..”

Sempat terjadi kesalahpahaman dengan menjadikan Masalahah Bairazah sebagai nama salah satu gerbang pertahanan kota Damaskus.

Dalam buku aslinya, bagian ini tertulis

“.. wa ju’ila Abū ad-Dardā’ ‘Uwaymir ibn ‘Āmir al-Khazrajī ‘alā musallahatin bi-Barzata..”

Kata kerja ju’ila artinya Abu ad-Darda yang memerintahkan kepada Uwaymir (menjadi komandan) atas (maslahah [LA] musallahah [HW]: pusat pertahanan) garnizun di Barzah.

Bukan Abu ad-Darda yg menjabat langsung, bukan Abu ad-Darda itu nama kepanjangannya Uwaymir, dan bukanlah Masalahah Bairazah (seperti yg tercetak) itu nama sebuah gerbang kota Damaskus.

Imam al-Balazuri menggunakan kata kerja na-za-la (makna harafiah-nya turun) utk menggambar kan debarkasi (turunnya pasukan dari tunggangannya) untuk melaksakan kepungan.

Di dalam kitab Lisanul ‘Arab karya Ibn Manzur, vol. 4, hal. 2061 dijelaskan tentang makna kata al-Maslahatu sebagai “Qawmun ‘uddatin bi-mawdhi’i rashadin qad wukkilū bihi bi-izā’i tsaghrin” yang artinya “suatu kaum (kesatuan) yang dipersiapkan di sebuah tempat sebagai pengintai (atas objek pengintaian) yang telah ditetapkan bagi mereka di hadapan perbatasan (front tempur).”

Oleh karena itu, makna kata “maslahah” atau “musallahah” memang sangat spesifik terminologi militer; jelas bukan menunjukkan sebuah gerbang.

Yang tidak ditanyakan dalam kasus di atas, namun sekalian saja saya coba jelaskan adalah terjemahan pada paragraf yg sama yaitu

“.. Yazid bin Abu Sufyan turun di pintu kecil menuju pintu yang dikenal dengan Kaisan..”

Pada buku dalam bahasa aslinya tertulis

“.. wa nazala Yazīd ibn Abī Sufyān ‘alā al-Bāb-i ash-shaghīri ilā al-Bāb-i lladzī ya’rifu bi-Kaysān..”

Yang lebih tepat dimaknai bahwa Yazid ibn Abi Sufyan mengepung (kota Damaskus) dari gerbang Kecil hingga gerbang Kaysan.

Kedua gerbang ini berada pada bagian selatan kota.

Dalam kitab Al-Bidāyath wan-Nihayah karya Imam Ibn Katsir (bundel) vol. 7-8 hal. 20 dijelaskan bahwa gerbang Kaysan (pada awalnya) termasuk tanggung jawab Khalid ibn al-Walid selain gerbang Timur (sebelum diserah-terimakan kepada Yazid).

CATATAN TAMBAHAN:

Musallahah dalam terminologi militer Islam pada masa klasik diturunkan dari kata kerja (fi’il) sa-la-ha yang juga berarti “mempersenjatai.”

Dalam Lisanul ‘Arab dijelaskan sebagai “sa-la-ha, as-Silāhu: ismun jāmi’un li-Ālati l-harbi (semua peralatan perang) atau memperkuat dengan persenjataan (“to arm”) dlm kamus Hans Wehr.

REFERENSI:

1. Futuhul Buldan, cetakan Maktabah al-Muarif, Beirut.

2. Al-Bidayah wan-Nihayah, cetakan Darul Kutub wal Ilmiyah, Beirut.

3. Lisanul ‘Arab li-Ibn Manzur [LA] , Darul Mu’arif, Beirut.

Buku Terjemahan yg dibahas:
Futuhul Buldan, Pustaka al-Kautsar, Jakarta: 2015.

RadhiyalLahu ‘anhum ‘ajma’in.. walLaahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Alhamdulillah

Depok, Rabu 28 Oktober 2015.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berjihad Mencari Ridha Allah

KHALID BIN WALID (ra) – Penaklukan Damaskus. (Bag-2 Tamat)

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE., MPP.

Tetap Adil Walau Sudah Diperangi;
Tetap Sabar Walau Sudah Dikhianati.

Untuk mendapatkan tulisan bagian 1, silahkan klik:
http://www.iman-islam.com/2015/10/khalid-bin-walid-ra-penaklukan-damaskus.html

BALA BANTUAN BYZANTIUM

Kaisar Heraclius yanh berkedudukan di Antioch ketika kepungan ini dimulai telah mengirimkan pasukan bantuan pada 9 September 634 sejumlah 12.000 personil.

Kolom militer ini terpantau oleh pasukan yang ditempatkan Khalid (ra) di jalur ke Emesa. Khalid (ra) langsung mengirimkan Rafay ibn ‘Umayr (ra) beserta 5.000 pasukannya dan terjadilah kontak senjata di Celah Uqab (Eagle Oass) sekitar 32 km sebelah utara Damaskus.

Pasukan Rafay (ra) ini kewalahan menghadapi Byzantium namun tetap bertahan karena tidak diizinkan mundur.

Khalid (ra) sendiri yang datang bersama tambahan 4.000 pasukan dan membalikkan keadaan.

Kemenangan kaum Muslimin di tempat itu dikenal sebagai Pertempuran Celah Uqab.

Seandainya pada waktu itu pihak garnizun Byzantium menyerang keluar dari Damaskus besar kemungkinan mengalahkan pasukan yang tertinggal.

Menyadari kegentingan ini maka Khalid (ra) bergegas kembali membawa pasukannya ke Damaskus sebelum Thomas menyadari kesempatannya.

SERANGAN PERTAMA BYZANTIUM

Setelah menyadari bahwa tidak ada bantuan yang datang kepada mereka, Thomas memutuskan untuk menyerang pada awal pekan ketiga September 634.

Ia mengumpulkan personil dari berbagai sektor pertahanan kota dan memulai serangan dari Gerbang Thomas yang dipimpinnya sendiri.

Ia berhadapan dengan pasukan Syurahbil dengan melesatkan anak panah untuk melindungi gerak maju infanterinya. Dalam bentrok senjata itu Thomas terkena panah pada mata kanannya tapi pasukan Byzantium tak kunjung berhasil mendesak mundur pasukan yang dipimpin Syurahbil (ra).

SERANGAN KEDUA BYZANTIUM

Kali ini Thomas melancarkan serangannya dari empat gerbang sekaligus dengan serangan utama tetap pada Gerbang Thomas untuk memaksimalkan efek kelelahan sebelumnya.

Serangan dari gerbang Jabiyah, Kecil, dan Timur ditujukan untuk mengikat perhatian sektor lain agar tidak memberikan bantuan kepada Syurahbil yang akan dikenai beban serangan paling berat.

Serbuan pada Gerbang Timur juga ditingkatkan agar Khalid (ra) juga tidak dapat membantu sektornya Syurahbil (ra). Disamping itu, serangan pada beberapa gerbang juga bernilai taktis karena Thomas sudah menyiapkan pasukan terobosan untuk memanfaatkan keberhasilan di sektor manapun nantinya.

Secara khusus Thomas menginstruksikan agar Khalid (ra) harus ditawan hidup-hidup.

Bentrok senjata di Gerbang Jabiyah berlangsung alot hingga Abu ‘Ubaydah (ra) maju ke depan dan semangat juang pasukannya meningkat kembali sehingga pasukan Byzantium terpukuk balik ke dalam kota.

Bentrok senjata di Gerbang Kecil hampir saja mengalahkan Yazid (ra) yang jumlah pasukannya lebih sedikit, namun keadaan berbalik setelah Dhirar (ra) datang membantu dengan 2.000 pasukan berkudanya yang menyerang lini sayap pasukan Byzantium hingga terpukul balik ke dalam kota.

Bentrok senjata di Gerbang Timur menjadi sangat menguntungkan Byzantium dengan jumlah pasukan yang lebih besar.

Rafay (ra) sudah hampir memerintahkan mundur jika saja Khalid (ra) telat datang bersama 400 kavaleri veteran front Irak yang membalikkan keseimbangan dan memukul mundur pasukan Byzantium kembali ke dalam kota.

Bentrok senjata yang paling berat terjadi kembali di Gerbang Thomas, namun Thomas sendiri tidak melihat adanya tanda-tanda kelelahan dari sektor ini walau sudah mengalami serangan besar sebanyak dua kalj. Ia akhirnya menarik mundur pasukan Byzantium kembali ke kota dibawah deraan panah yang deras. Ini adalah serangan terakhirnya untuk mencoba menembus kepungan.

SERANGAN KHALID

Pada hari Ahad 19 Rajab 13 Hijriah (18 September 634) seorang pendeta nasrani dari kalangan Monophysite yang bernama Jonah membocorkan lemahnya penjagaan nanti malam karena adanya festival religi.

Ia menyarankan untuk menyerang pada malam hari, informasi berharga ini ia berikan dengan meminta jaminan keselamatan bagi ia dan calon pengantinnya.

Khalid (ra) melakukan pengecekan ulang atas informasi ini karena mengkhawatirkan adanya jebakan.

Setelah informasi tersebut dapat dipastikan, Khalid (ra) merencanakan untuk menyerang dari sektornya sendiri karena tidak cukup waktu untuk koordinasi ke sektor lainnya serta kekhawatiran bocornya rencana serangan itu.

Sebagai pemanjat dinding pertama; Khalid (ra), Qa’qa’a ibn Amr, dan Manzur ibn ‘Adi secara sigap sampai ke atas dan segera membentangkan tali panjat untuk membawa 100 pasukan pilihan yang akan membuka gerbang dari dalam.

Khalid (ra) memimpin langsung pertempuran jarak dekat untuk merebut kendali gerbang dan tidak lama kemudian dapat dibuka dan mengalirlah pasukan utamanya ke dalam kota Damaskus.

Pertempuran sengit malam hari berkecamuk di dalam kota di sektor Gerbang Timur.

Thomas menyadari bahwa serangan ini tidak serentak dari semua gerbang sehingga ia segera mengirim utusan ke luar Gerbang Thomas untuk cepat-cepat merundingkan penyerahan kota kepada Abu ‘Ubaydah (ra) serta kesiapan mereka membayar jizyah.

Thomas mengtahui bahwa aturan Islam dalam peperangan bahwa kota yang diserbu tidak memiliki hak runding dan perlindugan yang berbeda dengan kota menyerah yang terlindungi hak-haknya.

Taktik diplomasi ini adalah upaya terakhir Thomas untuk menyelamatkan kotanya.

Ia mengathui dari dinas intelijen Byzantium bahwa Abu ‘Ubaydah (ra) merupakan sosok yang lebih mudah diajak berunding.

TAKLUKNYA DAMASKUS

Khalid (ra) merasa bahwa kota berhasil dia taklukan sedangkan Abu ‘Ubaydah (ra) merasa bahwa kota sudah lebih dahulu menyerah.

Setelah syura digelar dengan menerima berbagai masukan maka akhirnya pendapat Abu ‘Ubaydah (ra) didahulukan oleh Khalid (ra) sebagai panglima tertinggi di lapangan.

Salah satu pertimbangan beliau adalah agar kota-kota Byzantium di propinsi Syam lainnya akan meniru pola penyerahan daripada bertahan berlamaan.

Khalid (ra) menerima perjanjian itu termasuk memberikan jaminan keamana pada pasukan dan penduduknya untuk mundur ke wilayah yang masih dikuasai Byzantium dengan aman selama 3 hari.

Disamping itu, kaum Muslimin juga terikat pada perjanjian untuk tidak menangkap penduduk yang tetap ingin tinggal di kota, tidak menjarah apapun di dalam kota, serta tidak menghancurkan satupun gereja di dalam kota.

Sungguh sulit ditemukan klausul perdamaian tandingannya di masa manapun.

AGUNG WASPODO, tetap dan terus terkesima dengan sosok pahlawan Khalid (ra) beserta para komandan dan pasukannya setelah 1.381 tahun kemudian, lewat 1 hari..

***

Depok, 22 Agustus 2015.. mengetik dalam kondisi terbaring sakit yang tidak seberapa dibandingkan pengorbanan para generasi pendahulu..


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

mukmin satu tubuh

Sama Dalam Seruan Syari’ah, Berbeda Dalam Tugas & Peran

Pemateri: Ustz Eko Yuliarti Siroj S.Ag.

UMMU AIMAN bersama beberapa sahabiyat bertugas sebagai tim kesehatan dan penyiapan makanan pasukan perang Uhud.

Dan inilah yang dilakukannya saat pasukan panah tidak memenuhi instruksi Rasulullah sehingga musuh berhasil memukul mundur pasukan muslimin.

Saat mereka lari ketakutan, Ummu Aiman menghadang mereka sambil melempar pasir ke muka mereka

“Ini bedak yang pantas kalian terima. Ambil pedang kalian dan kembali ke medan perang!”.

Bersama para sahabiyat ia mencari kabar tentang Rasulullah. Dan ia merasa tenang saat mengetahui Rasulullah selamat.

AR-RUBAYYI binti MU’AWWIDZ adalah teladan bagi setiap muslimah yang sedang belajar.

Ia menguasai ilmu dengan baik dan sangat berhati-hati dalam menyampaikan setiap kata dan maknanya.

Semua orang mengakui kedudukan dan kehormatannya dan menyanjung kekuatan ilmunya.

Banyak sahabat dan tabi’in yang menemuinya untuk bertanya tentang hukum agama dan banyak penduduk madinah yang meriwayatkan hadits darinya.

Ini mereka lakukan karena mereka tahu kedudukan Ar-Rubayyi’ di mata Rasulullah dan kebiasaan yang dilakukannya yaitu berkunjung kepada Aisyah ra. untuk belajar memperdalam dan memahami ilmu khususnya ilmu agama.

UMMU HISYAM  binti HARITSAH salah seorang sahabiyat yang turut dalam rombongan umroh bersama Rasulullah pada bulan Dzulqo’dah tahun 6 hijrah.

Saat mengetahui Rasulullah akan datang, orang-orang Quraisy sepakat untuk menghadang beliau.

Dan saat mendekati Makkah, Rasulullah mengutus Utsman bin Affan untuk berunding. Waktu berlalu namun Utsman tak kunjung kembali.

Kaum muslimin mulai gelisah dan mereka bersumpah setia rela mengorbankan nyawanya. Rasulullah memegang tangan mereka dan semua kaum muslimin bersumpah setia kecuali seorang munafik bernama Jaad bin Qais.

Tak lama Utsman muncul dan ia pun ikut bersumpah setia.

Sumpah setia ini dilakukan dibawah sebuah pohon dan inilah yang dinamakan baiatur Ridwan.

Ummu Hisyam termasuk diantara yang bersumpah setia rela untuk mati.

***

Pada banyak aspek umum dalam kehidupan, laki-laki dan perempuan memiliki posisi dan perlakuan yang sama dari Allah SWT.

Keduanya Allah seru secara bersama-sama dalam ayat-ayat yang dimulai dengan kata “يا أيها الناس”.

Dalam sebuah ayat, Allah SWT menyebut keduanya secara rinci dalam kalimat yang setara. Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab : 35).

Dalam ayat ini Allah SWT menempatkan laki-laki dan perempuan dalam posisi yang sejajar untuk mendapatkan ampunan dan pahala yang besar dengan berlakunya syarat yang sama dalam pekerjaan yang dilakukan.

Demikian juga di surat At-Taubah ayat 17 Allah SWT berfirman :

“Dan orang-orang yang beriman laki -laki dan perempuan sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.”

Bukan hanya kaum mukminin yang menjadi penolong tapi Allah tegaskan keduanya (mukminin dan mukminat) bisa SALING bantu, SALING tolong menolong.

Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda :

النساء شقائق الرجال

“Perempuan adalah saudara kandung laki-laki.” (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi)

Abu Halim Abu Syuqqoh dalam kitab tahrirul mar’ah fii ‘ahdi risalah menyebutkan bahwa makna syaqoiq (saudara kandung) menunjukkan laki-laki dan perempuan memiliki KEDUDUKAN SETARA didalam Islam.

Yang membedakan keduanya adalah fungsi & peran.

Didalam ayat-ayat lain, Allah menjelaskan bahwa fungsi diciptakannya laki-laki dan perempuan untuk saling menyempurnakan dalam menunaikan misinya sebagai manusia.

Mereka adalah mitra dalam seluruh aspek kehidupan. Mereka adalah mitra dalam berkeluarga. Allah SWT berfirman :

“Dan Allah menjadikan bagi kamu istri-istrimu dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istrimu anak-anak dan cucu-cucu dan memberimu rizki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari ni’mat Allah?” (QS An-Nahl:72)

Disamping fungsi untuk SALING MENGUATKAN dan menjadi mitra, Allah SWT menciptakan laki-laki dan perempuan dengan kekhususan masing-masing.

Kekhususan itu terkait erat dengan perbedaan fisik, psikologi, dan fungsi sebagian organ tubuhnya.

Perbedaan inilah yang menyebabkan laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan tugas dan peran.

Perbedaan ini tidak menjadikan yang satu lebih unggul dari yang lain karena keunggulan hanya ditentukan oleh ketakwaan dan kesiapan menunaikan misi hidup sebagai manusia (ibadah & memakmurkan bumi).

PEREMPUAN dengan kelembutan, keibuan, kasih sayang dan sifat kewanitaannya adalah sumber stabilitas dan ketenangan bagi lingkungannya.

Dengan fitrah sabarnya, Allah takdirkan ia menanggung beban kehamilan, melahirkan, menyusui, mengasuh, merawat dan mengurus anak-anaknya.

LAKI-LAKI dengan kekuatan fisiknya diwajibkan untuk terjun ke dunia yang keras berupaya konsisten mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga, membimbing dan melindungi seluruh anggota keluarga.

Masing-masing Allah berikan tugas sesuai dengan kondisi yang telah Allah siapkan.

Oleh karenanya tidak ada ruang untuk saling mencemburui dan menggugat tugas & peran yang telah ditetapkan Allah.
Imam Ahmad dalam musnadnya dan Ibnu Jarir At-Thabary dalam tafsirnya menjelaskan asbabun nuzul dari QS An-Nisa:32.

Mujahid menyampaikan bahwa Ummu Salamah berkata :
“Wahai Rasulullah, kaum laki-laki digarda depan peperangan, kami tidak pergi berperang. Kami juga mendapatkan setengah hak waris dari laki-laki.”

Maka Allah menurunkan ayat

:”Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.
(Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan ada bagian dari apa yang mereka usahakan.

Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS An-Nisa:32)

Kisah para sahabiyat diatas menunjukkan kematangan para sahabiyat dalam menunaikan perannya di tengah masyarakat tanpa mengganggu peran para sahabat bahkan memberikan dorongan untuk terus bekerja/berjihad.

Sebaliknya para sahabat menerima dengan lapang dada kehadiran para sahabiyat.

Bahkan untuk hadir di medan perang mereka lakukan akan tetapi mereka bertugas sesuai fitrahnya.

Para sahabiyat juga menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan turut berjanji setia kepada Allah dan RasulNya.

Memahami kesamaan dihadapan Allah dan perbedaan dalam beberapa tugas dan peran merupakan bagian penting dari pondasi kehidupan berkeluarga.

Agar setiap anggota keluarga baik ayah, ibu, dan anak-anak tidak memiliki ketergantungan karena masing-masing memiliki posisi yang sama dihadapan Allah.

Agar masing-masing tidak melakukan tugas dan peran yang terbalik.

Ibu fokus pada peran utamanya mengurus keluarga, ayah fokus pada peran utamanya mencari nafkah dan anak-anak hormat dan berbakti pada orang tuanya bukan sebaliknya.

Maka ketika mulai ada tugas dan peran yang dilakukan terbalik, terjadilah kerusakan di muka bumi.

Dari kefahaman akan pembahasan ini, kita akan mudah memaknai dan menerima pernikahan, tujuannya, makna qowwamah, kerjasama dalam keluarga, membentuk keluarga harmonis, menangani problematika dalam keluarga, dll.

Bagi mereka yang belum menikah, fahamilah pondasi-pondasi dan prinsip-prinsip berkeluarga ini dengan baik.

Dan bagi mereka yang sudah menikah, tidak ada salahnya bila kita menata ulang prinsip-prinsip yang harus kita tanamkan dalam kehidupan berkeluarga.

Semoga Allah ridhoi setiap detik kehidupan kita dan Allah jadikan keluarga kita keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.

Wallohu a’lam bis showwab.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berjihad Mencari Ridha Allah

KHALID BIN WALID (ra) – Penaklukan Damaskus. (Bag-1)

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE., MPP.

Tetap Adil Walau Sudah Diperangi;
Tetap Sabar Walau Sudah Dikhianati.

Bukti Kuatnya Karakter Khalid ibn al-Walid (ra) pada
Pengepungan Damaskus – 21 Agustus s/d 19 September 634

Pengepungan terhadap kota Damaskus pada tahun 634 ini menandai kejatuhan kota besar Byzantium pertama dalam Penaklukan Syam pada era Khulafa ar-Rasyidin.

LATAR BELAKANG

Perang antara Byzantium dan Sassania Persia telah berakhir pada tahun 5 Hijriah (627) dimana Kaisar Heraclius menyudahi kampanye militernya di Mesopotamia (Irak) dengan berhasil.

Pada saat yang hampir bersamaan, Muhammad (saw) berhasil juga menyatukan suku-suku Arab di bawah panji tauhid al-Islam. Setelah Rasul (saw) wafat pada tahun 11 Hijriah (633), maka Abu Bakr ash-Shiddiq (ra) meneruskan kepemimpinan ummat sebagai khalifah pertama.

Setelah beliau berhasil menundukkan kaum Arab yang murtad dalam Perang Riddah maka perhatian pun diarahkan kepada kedua negara adidaya waktu itu aktif sebagai penyokong gerakan destabilisasi.

Pada bulan Muharam 12 Hijriah (April 634), Abu Bakr (ra) mengerahkan pasukannya menuju wilayah Byzantium di propinsi Syam dan mengalahkannya di Pertempuran Ajnadayn.

Setelah itu balatentara kaum Muslimin bergerak ke utara dan mengepung ibukota Propinsi Syam yaitu Damaskus.

Kota ini berhasil dikuasai setelah titik lemah pertahanannya dibocorkan oleh seorang uskup nasrani dari kalangan Monophysite kepada pangliman kaum Muslimin yang dijabat oleh Khalid ibn al-Walid (ra).

Ternyata dinding kota lebih mudah dijatuhkan pada malam hari ketika penjagaan sedang lemah.

Ketika Khalid (ra) berhasil menguasai kota bagian timur dengan serbuan, komandan garnizun kota Damaskus yang bernama Thomas sedang merundingkan penyerahan di sisi barat dengan Abu ‘Ubaydah (ra) sebagai pimpinan kedua.

Setelah menyerahnya kota, terjadi perbedaan pandangan atas status penyerahan kota.
Setelah syura komandan lapangan dilakukan akhirnya kota Damaskus disepakati menyerah lewat negosiasi seperti yang diterima oleh Abu ‘Ubaydah (ra).

Khalid (ra) dengan besar hati menerima hal tersebut.

Namun, tingkah angkuh serta sikap permusuhan dari pasukan garnizun yg diperbolehkan meninggalkan kota Damaskus mendorong Khalid (ra) untuk tetap waspada.

Ternyata firasatnya benar karena mereka tidak menuju kota Antioch sebagaimana kesepakatan damai namun menyusun kekuatan secara diam-diam.

Pasukan ini berhasil dikalahkan oleh pasukan Khalid ibn al-Khalid (ra) di al-Jayyad.

PETA SITUASI

Pada tahun 11 Hijriah (633) seluruh wilayah Jazirah ‘Arab telah terkendali di bawah Medina.

Setelah pasukan kaum Muslimin berhasil mengatasi kekuatan Sassania-Persia di propinsi Irak, maka Abu Bakr (ra) segera mengirimkan balatentaranya dalam 4 kolom menuju Syam pada tahun 12 Hijriah (634).

Syam merupakan propinsi milik Byzantium yang sangat luas dan keempat kolom militer yang dikirimkan beliau dirasakan tidak memadai sehingga dikeluarkan perintah kepada Khalid ibn al-Walid (ra) untuk membawa bala bantuan dari Irak menuju Syam.

Pasukan Khalid (ra) melintasi padang pasir dan masuk ke perbatasan Syam dari arah yang tidak biasa dipakai oleh para pedagang.

Jalur yang lebih berbahaya karena tidak terdapat sumber mata air itu ditempuh Khalid (ra) untuk memberikan pendadakan terhadap lawannya.

Benar saja, pasukan Khalid (ra) berhasil menyerbu dan menguasai ibukota Suku Ghassan dalam waktu yang singkat.

Kota Bosra jatuh ke tangan pasukan Khalid (ra) sehingga Damaskus terbuka tanpa pertahanan.

Setelah kekalahan Byzantium di Ajnadayn maka kini giliran ibukota Syam tersebut yang dikepung.

LOKASI PENGEPUNGAN

Damaskus merupakan kota tua yang sudah dihuni manusia sejak lama karena letaknya yang strategis.

Kota ini sering disebut sebagai surganya Syam dan pertahanan kotanya sesuai dengan julukannya.

Terdapat dinding pertahanan setinggi 11 meter yang mengelilingi pusat kota dengan 6 pintu gerbang:

1. Gerbang Timur (Bab Sharqi)
2. Gerbang Thomas (Bab Touma)
3. Gerbang Jabiya (Bab al-Jabiya)
4. Gerbang Surga (Bab al-Faradis)
5. Gerbang Keisan (Bab Kisan)
6. Gerbang Kecil (Bab al-Saghir)

Walaupun Sungai Baradah mengalir pada bagian utara dinding pertahanan kota Damaskus tetapi sungai tersebut terlalu dangkal untuk menjadi pertahanan natural.

Pada pengepungan ini komandan garnizun dijabat oleh Thomas, menantu Kaisar Heraclius yang terkenal relijius, pemberani, pemimpin yang cakap, cerdas, dan pembelajar.

PENGGELARAN PASUKAN

Balatentara kaum Muslimin pada abad ke-7 masehi belum memiliki alat kepung yang memadai sehingga pengepungan adalah taktik terakhir yg dipakai jika sudah tidak ada lagi pilihan.

Oleh karena itu taktik pengepungan hanya untuk memutus jalur logistik sampai kota menyerah.

Perebutan kota hanya dilakukan dengan pendekatan sabotase atau mencari informan yang dapat menunjukkan titik lemah sehingga pendekatan serbuan tidak menjadi prioritas.

Standar operasi pengepungan kaum Muslimin pada waktu itu adalah menempatkan pasukan penghadang di setiap jalur penghubung.

Untuk mengisolir Damaskus, Khalid (ra) memutus jalur transportasi dan komunikasi ke utara Syam, khususnya ke Antioch karena itu merupakan pusat komando militer Byzantium.

Untuk wilayah barat, Khalid (ra) mengerahkan detasemen berkuda di Fahal (Fihl) untuk mengikat perhatian garnizun Byzantium setempat.

Detasemen yang sama juga difungsikan untuk melindungi jalur logistik ke Madinah. Detasemen berkuda lainnya dikerahkan ke jalan menuju Emesa (Hims) di dekat Bait Lahiya sekitar 16 km dari Damaskus untuk mengintai serta menghadang kolom bantuan Byzantium yang mungkin melewatinya.

Secara khusus Khalid (ra) memerintahkan untuk meminta bantuan kepadanya jika kesulitan menghentikan lawan di jalur tersebut.

Setelah mengisolir Damaskus dari dunia luar, Khalid (ra) menggelar pasukannya untuk mengepung kota pada hari Ahad 21 Jumadits Tsani 13 Hijria (21 Agustus 634) dengan instruksi kepada setiap komandannya agar memberi kabar jika serangan dari dalam kota dirasakan terlalu berat.

Khalid (ra) mengangkat Dhirar ibn al-Azwar (ra) sebagai komandan 2.000 pasukan berkuda yang bertugas untuk mematroli area kosong diantara kesatuan; khususunya pada malam hari.

Kesatuan ini juga berfungsi sebagai elemen mobilitas bantuan sekiranya ada sektor yang membutuhkan.

Khalid (ra) membagi pasukannya sesuai dengan jumlah area gerbang kota Damaskus masing-masing berkekuatan sekitar 4.000-5.000 personil:

❂ Gerbang Thomas: Syurahbil ibn Hasana (ra)
❂ Gerbang Jabiyah: Abu Ubaidah ibn al-Jarrah (ra)
Gerbang Surga: Amr ibn al-Asy (ra)
❂ Gerbang Keisan: Yazid ibn Mu’awiyah (ra)
❂ Gerbang Kecil: Yazid ibn Mu’awiyah (ra)
❂ Gerbang Timur: Rafay ibn ‘Umayr (ra)

Khalid menempatkan pasukan utamanya di bawah Rafay ibn ‘Umayr (ra) pada Gerbang Timur dan beliau menempatkan tenda komandonya sedikit di belakang pasukan utama ini pada sebuah bangunan tak terpakai. Tempat sekarang dikenal sebagai Deir al-Khalid.

Dukungan suku-suku Arab di sekitar Damaskus kepada pasukan kaum Muslimin dikelola oleh seorang yang bernama al-Ghautsa.

BALA BANTUAN BYZANTIUM

Kaisar Heraclius yang berkedudukan di Antioch ketika kepungan ini dimulai telah mengirimkan pasukan bantuan pada 9 September 634 sejumlah 12.000 personil.

Bersambung ke bag 2


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

kobarkan semangat jihad

Manuver Akhir Sebagai Panglima – Babak Keteladanan Khalid (ra) Berikutnya Ternyata Lebih Sulit Untuk Diteladani!

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO SE., MPP.

Manuver Akhir Sebagai Panglima – Babak Keteladanan Khalid (ra) Berikutnya Ternyata Lebih Sulit Untuk Diteladani!

★ Pertempuran Maraj al-Debaj – September 634

Pertempuran ini terjadi ketika pasukan kaum Muslimin mengejar pasukan Byzantium yg telah melampaui 3 hari batas waktu perdamaian dari sejak dibebaskannya Damaskus pada bulan Rajab 13 Hijriah (September 634).

❂ LATAR BELAKANG

Kota Damaskus yang berhasil dibebaskan pada era Khalifah Abu Bakr (ra) setelah dikepung selama 1 bulan sejak 21 Agustus hingga 19 September 634.

Kota ini adalah titik pertahanan kuat Byzantium pertama yang dibebaskan oleh kaum Muslimin di Syam. Komandan garnizun sekaligus gubernur kota yang bernama Thomas yang juga menantu Kaisar Heraclius dengan culas memanfaatkan hukum perang dalam Islam.

Thomas lekas mengatur negosiasi penyerahan kota di salah satu gerbang kepada Abu Ubaydah ibn al-Jarrah (ra) untuk mendapatkan jaminan keamanan ketika di gerbang lain kota sudah berhasil ditaklukan secara militer oleh Khalid ibn al-Walid (ra) yang memiliki konsekuensi hilangnya jaminan keamanan itu.

Setelah kejadian itu Khalid (ra) menerima masukan dari majelis syura untuk tetap menghormati perjanjian penyerahan untuk memudahkan penaklukan kota-kota lain di Syam.

Perjanjian perdamaian itu sangat diincar oleh garnizun Byzantium di kota Damascus untuk dapat meloloskan dirinya dari penangkapan.

❂ MENGEJAR SEBUAH KELICIKAN

Seorang muslim dari bangsa Yunani yang bernama Jonah mengusulkan kepada Khalid (ra) untuk mengejar pasukan Byzantium setelah 3 hari perdamaian berlalu.

Jonah menawarkan jasanya sebagai penunjuk jalan pintas agar dapat menyusul pasukan Byzantium yang meloloskan diri.

Jonah ini juga yang membocorkan titik lemah dari dinding pertahanan kepada Khalid (ra) pada bagian gerbang sebelah timur.

Jonah juga yang mengusulkan agar pasukan berkuda Khalid (ra) mengenakan pakaian Arab lokal untuk mengelabui patroli Byzantium yang mungkin mereka temui di perjalanan.

❂ PERTEMPURAN

Rute yang ditunjukkan oleh Jonah bagi pasukan kavaleri kawal depan (mobile guard) tidak tercatat dalam sejarah, hanya saja al-Waqidi menyatakan bahwa setelah 3 hari mereka baru dapat menegejarnya tidak jauh dari kota Antioch.

Sejarawan al-Waqidi menyebutkan tempatnya di sebuah tanah tinggi yang datar di sebelah barisan perbukitan Jabal Anshariyah; Syria sebelah utara yang tidak jauh dari pesisir.

Langit baru saja menimpakan hujan yang lebat sehingga pasukan Byzantium tersebar di padang datar itu demi mencari perlindungan dari tumpahan air. Perbekalan mereka pun terserak di beberapa tempat.

Posisi mereka ini ditemukan oleh para pengintai yang disebar Khalid (ra) yang mulai menyusun rencana alur penyerangan.

Khalid (ra) merancang serangan dari 4 arah dalam gelombang 1.000 pasukan berkuda.

🔹Resimen penyerbu pertama datang dari selatan dari arah jalan ke Damascus yang dipimpin oleh Zirrar ibn Azwar (ra)

✶Setengah jam kemudian dari arah timur datanglah serbuan yang dipimpin oleh Rafi’ ibn Umayr (ra).

✶Setengah jam kemudian datang lagi resimen penyerbu dari utara dipimpin oleh Abdurrahman ibn Abi Bakr (ra) yang tidak lain adalah anak dari khalifah sendiri yang menyerang garis belakang lawan.

✶Setengah jam kemudian tiba pula resimen utama dipimpin Khalid (ra) menyerang dari arah yang paling sulit yaitu timur.

Setelah itu pasukan Byzantium benar-benar terkepung; bahkan dalam kepanikan tersebut Khalid (ra) berhasil membunuh Thomas dan komandan pengawalnya Harbis dalam duel satu lawan dua.

Gugurnya panglima Byzantium ini menyebabkan jatuhnya moral juang pasukan. Namun, karena jumlah pasukan kaum Muslimin terlalu sedikit untuk benar-benar mengepungnya maka beberapa ribu lawan berhasil lolos menuju kota Antioch.

Diantara yang tewas di Maraj al-Debaj adalah calon tunangan Jonah yang bunuh diri mengetahui bahwa pasukan ini sudah terkepung dan Jonah sendiri berseberangan.

Khalid membawa jandanya Thomas untuk diberikan sebagai calon pengantin wanita bagi Jonah. Ia menolak tawaran Khalid (ra) dan terus membantu kaum Muslimin hingga syahid di pertempuran Yarmuk (silakan lihat artikel saya sebelumnya tentang persitiwa di Yarmuk) beberapa tahun kemudian.

❂ KESUDAHAN

Al-Waqidi menulis bahwa dalam perjalanan balik menuju Damascus, utusan Kaisar Heraklius tiba kepada Khalid (ra) untuk meminta kembali putrinya (janda Thomas), dengan surat yang berbunyi:

“Saya mendapat kabar tentang apa yang engkau timpakan atas pasukanku.
Engkau telah menewaskan menantuku dan menawan anakku.
Engkau telah berhasil kembali menuju wilayah aman.
Sekarang aku meminta kembali anakku.
Engkau kembalikan anakku dengan tebusan atau sebagai hadiah karena aku mengetahui kedermawananmu.”

Khalid (ra) mengatakan kepada utusan kaisar Byzantium itu: “Bawalah pulang dia (anak kaisar) sebagai hadiah, saya tidak membutuhkan uang tebusan.”

Utusan kaisar membawa pulang anaknya ke Antioch sedangkan pasukan Khalid (ra) pulang dengan harta rampasan yang banyak.

Mereka tiba kembali ke Damascus setelah 10 hari operasi militer. Mereka tiba pada hari Sabtu 3 Sya’ban 13 Hijriah (1 Oktober 634).

Sesampainya Khalid (ra) ke Damascus ia memperoleh kabar wafatnya khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq (ra) langsung dari Abu ‘Ubaydah (ra) yang sudah mendapatkan perintah tertulis untuk menggantikannya dari khalifah yang baru, ‘Umar ibn al-Khaththab (ra).

AGUNG WASPODO, kembali menyaksikan manuver-manuver cerdas Khalid (ra) pada pertempuran taktis ini di penghujung  karirnya sebagai panglima perang.

Setelah ia memberikan keteladanan atas bagaimana kepiawaian seorang panglima, tidak lama lagi ia akan memberikan teladan bagaimana keikhlasan komandan yang dicopot dari jabatannya.

Banyak yang berhasil meneladani kepiawaian Khalid (ra) dalam medan tempur, namun sangat sedikit yang mampu meneladani keikhlasannya dalam pergantian kepemimpinan setelah 1.381 tahun berlalu.

Depok, 6 September 2015, hampir masuk waktu siang.

❆❆❆


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Majelis ilmu

URGENSI SIRAH NABAWIYAH

Pemateri: Ust. DR. WIDO SUPRAHA 

Sirah Nabawiyah adalah sejarah hidup Nabi Muhammad Saw, manusia dengan sebaik-baik nasab dari seluruh nasab penghuni bumi [1], namun bukanlah buku sejarah an sich.

Ia merupakan ungkapan tentang risalah yang dibawa Rasulullah Saw kepada masyarakat manusia untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya [2].

Muslim pasti membutuhkan Sirah Nabawiyah untuk mendapatkan pemahaman utuh dan gambaran sempurna hakikat Islam, cara menghidupkan-nya, dan segudang rahasia keindahan Islam sebagai sebuah manhaj hidup.

Darinya muslim akan menghayati kemudahan Islam untuk ditegakkan oleh seluruh manusia, karena Nabi Saw adalah seorang manusia yang tergabung dalam dirinya segudang peran, mulai dari seorang suami hingga pemimpin dunia.

Bahkan tidak ada satupun Nabi yang diutus kepada seluruh umat manusia, kecuali Nabi Muhammad Saw. [3]

※Sirah Nabawiyah memberikan KEMUDAHAN bagi manusia untuk:

⇛Memahami pribadi Nabi Saw dalam keseluruhan aspek

⇛Mendapatkan gambaran al-matsul a’la (referensi ideal) untuk dijadikan sumber

⇛Mudah memahami Al-Qur’an

⇛Mengumpulkan segudang wawasan dan pengetahuan Islam yang benar.

⇛Memiliki rujukan pola dakwah terbaik [4]

Kebutuhan manusia terhadap jejak hidup Nabi Saw jauh lebih besar dari kebutuhan raga terhadap nyawanya, mata terhadap cahaya penglihatannya dan jiwa terhadap kehidupannya. [5]

※Sirah Nabawiyah memiliki banyak KEISTIMEWAAN [6]:

⇛Sejarah yang paling benar dari sejarah seorang Nabi yang diutus, dan telah hadir melalui jalur ilmiah dan otentik, sehingga terbebas dari sekedar mengikuti kepopuleran sebuah kisah dan riwayat, karena keshahihan sejarah tentu adalah yang lebih utama.[7]

⇛Mengandung semua fase kehidupan Nabi Saw., mulai dari sebelum kelahirannya, sejak pernikahan ayahnya, bahkan sejak kisah berpindahnya ‘Amr bin Amir keluar dari Negeri Yaman [8]

⇛Mengandung sisi risalah yang bersih, bebas dari penisbatan manusia dengan sifat Tuhan, dan bebas dari kisah tanpa asal-usul.

⇛Mencakup semua aspek kehidupan manusia.

⇛Menegaskan kebenaran risalah dan kenabiannya.

★ Dengan semangat ilmiah, menyelami sirah Nabawiyah akan menjadi satu agenda menarik untuk peningkatan pemahaman agama.

✾ Yuk semangat mempelajari Sirah Nabawiyah!

♗ MARAJI’
1] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Zad al-Ma’d fi Hady Khair al-‘Ibad, Dar at-Taqwa lil an-Nasyr wa at-Tauzi’, 1999
2] Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum, Bahtsun fi as-Sirah an-Nabawiyah ‘ala Shahibiha afdhal ash-Shalati wa as-Salam, Riyahd: Dar as-Salam, 1414H
3] Ibn al-Jauzi, Al-Wafa bi Ahwal al-Musthafa shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Beirut: Maktabah al-‘Ashriyah, 2004
4] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, Fiqh as-Sirah: Dirasat Minhajiyah ‘Ilmiyah li Shiratil Musthafa ‘alahi ash-shalatu wa as-salam, Libanon: Dar al-Fikr, Cet. ke-6, 1977
5] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Jami’ as-Sirah, Dar al-Wafa, 2002
6] Musthafa as-Siba’i, As-Sirah an-Nabawiyyah, Kairo-Dar as-Salam, 1998
7] Al-Usyan, Ma sya’a wa lam Yatsbutu fi as-Sirah an-Nabawiyah,
8] Ibn Ishaq, As-Sirah an-Nabawiyah


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

kobarkan semangat jihad

Aliansi Itu Perlu dan Penting, Namun Hanya Pada Kekuatan Diri Sendirilah Segala Perencanaan Harus Ditumpukan !

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE, MPP

Invasi Pulau Corsica – Agustus 1553
Penguasaan Atas Kota Bastia – 24 Agustus 1553

Penaklukan pulau Corsica terjadi ketika Perancis, Turki Utsmani, dan pihak Corsica yang terasingkan bekerja sama untuk mengusir pendudukan pulau tersebut oleh pihak Genoa.

Pulau ini memiliki beberapa nilai strategis untuk wilayah barat Laut Mediterranean karena ia berada di tengah jalur komunikasi dan jaringan transportasi Kerajaan Habsburg.

Disamping itu, pulau ini juga merupakan tempat berhenti sementara bagi kapal kecil yang melayari rute Italia-Spanyol. Pulau ini sudah dikuasai oleh perusahaan bank Saint George milik Genoa sejak 1453.
Penguasaan pulau ini akan paling menguntungkan Perancis dari aliansi tersebut.

 Konteks Aliansi & Konflik

Raja Perancis, Henry II, telah terlibat dalam perang besar melawan Kerajaan Habsburg yang dipimpin Charles V pada tahun 1551 yang juga memicu Perang Italia 1551-59. Henry II mencari pihak yang dapat membantunya sehingga meneruskan kebijakan ayahnya, Francis I, untuk beraliansi dengan Khilafah Turki Utsmani.

Pada periode ini khilafah dipimpin oleh Sultan Suleiman I Kanuni yang juga bermusuhan dengan Kerajaan Habsburg.

Armada Turki Utsmani bersama skuadron kapal duta besar Perancis, Gabriel de Luetz d’Aramon telah mengalahkan armada Genoa yang dipimpin Andrea Doria di Pertempuran Ponza pada tahun sebelumnya. Pada hari Rabu 17 Safar 960 Hijriah (1 Februari 1553) sebuah perjanjian aliansi baru antara Khilafah Turki Utsmani dengan Perancis ditanda-tangani dengan klausul kesepakatan operasi militer laut melawan Kerajaan Habsburg

 Operasi Militer – Kampanye Musim Panas 1553

Kedua admiral Turki Utsmani yang ditugaskan dalam operasi ini adalah Turgut Reis dan Koca Sinan. Keduanya berlayar dengan skuadron Baron Paulin de la Garde untuk menyerbu pantai Naples, Pulau Sisilia, Elba, hingga ke Corsica sebagai pemanasan.

Pada waktu itu Pulau Corsica diduduki oleh kekuatan Genoa. Armada Turki Utsmani membantu mengangkut pasukan Perancis dari kesatuan Parma pimpinan Marshal Paul de Thermes dari pelabuham Maremma Sienna ke Corsica.
Pasukan Perancis juga didukung oleh pihak lokal Corsica dalam prngasingan dibawah Sampiero Corso dan Giordano Orsini (dalam sejarah Perancis dicatat dengan nama”Jourdan des Ursins”). Pendaratan ini belum sepenuhnya disetujui oleh Raja Perancis.

 Penguasaan Beberapa Kota

Kota Bastia berhasil dikuasai pada hari Kamis 14 Ramadhan 960 Hijriah (24 Agustus 1553), de La Garde mendarat di Saint-Florent dua hari kemudian. Kota Bonifacio juga direbut pada bulan September dan tinggal kota Calvi yang belum ditaklukkan.

Armada Turki Utsmani memenuhi kapal mereka dengan harta rampasan perang yang menjadi kesepakatan perjanjian. Pada akhir bulan September armada Turki Utsmani kembali ke İstanbul.

Dengan bantuan Turki Utsmani tersebut, Perancis berhasil menguasai beberapa kota strategis dalam posisi yang menguntungkan hingga pada akhir musim panas hampir menguasai seluruhnya. Keberhasilan ini dipandang rendah oleh Cosmio de Medici serta Tahta Suci Kepausan. Kembalinya armada Turki Utsmani ke İstanbul dan skuadron Perancis ke Marseilles pada musim dingin menjadikan situasi angkatan darat Perancis di Corsica terancam dengan hanya 5.000 pasukan yang tertinggal bersama sedikit pihak lokal.

 Serangan Balasan Geno 1553-54

Raja Henry II sudah memulai negosiasi dengn Genoa pada bulan November, namun mereka sudah mengirim 15.000 pasukan bersama armadanya Andrea Doria untuk memulai perebutan kekuasaan dimulai demgan pengepungan kota Saint-Florent.

Armada Turki Utsmani dipimpin Admiral Dragut yang kembali menuju pulau Corsica terlambat datang sehingga tidak dapat membantu Perancis melawan Andrea Doria.

Pihak Perancis hanya sempat mendapatkan bantuan kecil dari skuadron galliot dari Amir Aljazair.

 Operasi Gabungan Turki Utsmani-Perancis 1555-58

Pada tahun 1555, pihak Perancis telah dikalahkan oleh Genoa dari kota-kota Pesisir, namun wilayah pedalaman pulau masih dipegang oleh Perancis. Pada tahun yang sama, Jourdan des Ursins menggantikan Thermes dan mendapat gelar Gubernur-Letnan Jenderal Corsica (Gouverneur et lieutenant général du roi dans l’île de Corse).

 Perang di Timur & Wabah Penyakit

Duta besar Perancis untuk Khilafah Turki Utsmani yang dijabat oleh Codignac sampai harus berangkat ke markas besar ketentaraan Turki Utsmani di perbatasan Safawi untuk menemui sultan yang sedang bertempur di perbatasan.

Codignac menempuh jarak begitu jauh untuk melobi agar sultan berkenan mengirimkan armadanya membantu Perancis untuk urusan Corsica.

Sultan Suleiman I Kanuni saat itu sedang dalam Peperangan Turki Utsmani-Safawi 1532-55. Armada yang dapat dikirimkan tidak banyak berbuat untuk Perancis karena didera wabah penyakit. Armada Turki Utsmani terpaksa pulang dengan menarik kapal-kapal perang yang kosong akibat gugur terkena wabah penyakit.

 Kesudahan

Armada lain lagi dikirim oleh sultan untuk membantu Perancis pada tahun 1558 namun terhambat di dekat kota Bastia karena terjadi perubahan sasaran atas inisiatif Admiral Dragut Reis ke kepulauan Balearic.

Sultan kemudian meminta maaf kepada Henry II pada akhir tahun 1558 atas kesalahan operasional ini. Aliansi antara Turki Utsmani dan Perancis ini mencapai puncaknya pada tahun 1553. Setelah disepakatinya Perjanjian Cambrésis maka Perancis menyerahkan Pulau Corsica kepada Genoa.

 Agung Waspodo, mencatat betapa aliansi itu diperlukan tanpa mengorbankan tujuan utama disepakatinya, setelah melihat betapa sulit dan rumit pelaksanaannya 462 tahun kemudian.

Wallahu a’lam.

✈✈✈✈✈✈✈✈

Palembang, 25 Agustus 2015.. Tulisan pendek yang dicicil dalam penerbangan, menjelang pagi setelah mendarat di Palembang..


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

kobarkan semangat jihad

Memaksimalkan Ketersediaan, Mengoptimalkan MedanPerang

📝 Pemateri: DR. Agung Waspodo

Kisah Awal Khalid Menjadi Panglima

Pertempuran Mu’tah – September 629

Pertempuran yang dalam bahasa Arab ditulis معركة مؤتة , غزوة مؤتة atau Ghazwah/Ma’rakah Mu’tah berlangsung pada tanggal 5 Jumadil Awwal 8 Hijriah ini berlangsung dekat desa Mu’tah di sebelah timur sungai Jordan, daerah Karak (Jordan), mempertemukan antara pasukan yang diutus Rasulullah Muhammad (saw) dengan kekuatan Byzantium.

Dalam sejarah ummat Islam, pertempuran ini berkaitan erat dengan upaya membalas tindakan pembunuhan suku Arab dari Banu Ghassan terhadap utusan Rasul (saw). Pertempuran ini dinilai sama kuat dimana kedua pihak mundur ke wilayahnya masing-masing. Tetapi, menurut sejarah Byzantium pasukan Muslimin kalah setelah ketiga pemimpinnya gugur.

Latar Belakang

Perjanjian Huaibiyah memberikan perdamaian sejenak antara kaum Muslimin di Madinah dan kekuatan Quraisy di Makkah. Pada masa itu, gubernur Sassania-Persia untuk Yaman yang dijabat oleh Badhan memeluk Islam sehingga banyak suku-suku Arab di selatan Jazirah Arab yang juga masuk Islam dan menjadi sekutu Madinah.

Pada masa perdamaian inilah Rasul (saw) mengirmkan utusan-utusannya untuk mengajak kepada Islam berbagai pemimpin di Jazirah Arab termasuk gubernur Byzantium untuk Provinsi Arabia. Surat yang dibawa oleh utusan untuk gubernur tersebut sejatinya surat kepada Kaisar Heraclius. Ketika utusan tersebut melintasi kota Bosra ia ditangkap oleh Banu Ghassan dan dieksekusi atas perintah kepala sukunya di dekat desa Mu’tah. Pasukan yang dikirim oleh Rasul (saw) untuk meminta pertanggung-jawaban Banu Ghassan ini adalah kekuatan terbesar yang pernah dimobilisasi di Madinah serta yang pertama dikirim memasuki wilayah Byzantium.

Mobilisasi Pasukan

Menurut sejarawan Muslim, Nabi (saw) memberangkatkan 3.000 pasukan pada bulan Jumadil Awwal 8 Hijriah dengan misi bergerak cepat dengan hirarki kepemimpinan pada Zayd ibn Haritsah (ra), Ja’far ibn Abi Thalib (ra), dan ‘Abdullah ibn Rawahah (ra)

Pemimpin Banu Ghassan telah mengetahui ekspedisi ini sehingga sempat memobilisasai kekuatannya sekaligus mengirim utusan untuk meminta bantuan kepada Byzantium. Kaisar Heraclius mengirimkan bantuan mengingat Banu Ghassan adalah sekutunya di perbatasan Arabia.

Ketika pasukan kaum Muslimin tiba di area tersebut mereka baru mengetahui besarnya jumlah pasukan Byzantium yang dikirim kaisar. Pada awalnya mereka ingin menunggu di tempat sambil meminta bantuan dari Madinah. ‘Abdullah ibn Rawahah (ra) mengingatkan kembali akan nilai tinggi bagi mereka yang gugur sebagai syuhada; hal ini mendorong pasukan berhentu menunggu dan bergerak menuju arah lawan.

Pertempuran

Kaum Muslimin terlibay baku hantam melawan Byzantium di dekat tendanya dan lini-belakangnya di desa Musyarif; namun tidak berimbangnya kekuatan menyebabkan kaum Muslimin harus mundur ke arah desa Mu’tah. Di tempat ini kedua pasukan bertempur kembali. Sember sejarah kaum Muslimin menyebutkan bahwa pertempuran berlangsung di sebuah ebah diantara dua bukit sehingga jumlah pasukan Byzantium menjadi tidak banyak memberikan keunggulan. Dalam pertempuran ini ketiga komandan perang gugur sebagai syuhada’ sesuai urutan hirarkinya.

*Khalid Menjadi Panglima

Dalam shahih al-Bukhari tercatat bahwa pada tubuh Ja’far (ra) ditemukan 50 bekas luka dan tidak ada satupun yang berada di bagian punggung (belakang). Kisah ini tercatat dalam Shahih al-Bukhari: 5/56/560 dari Ibn ‘Umar: “waqafa ‘alā Ja’farin yawma’idzin wa huwa qatīlun fa’adadtuhu bihi khamsīna bayna tha’natin wa dharbatin laysa minhā sya’un fī duburihi ya’nī fī zuhurihi.”

Setelah ketiga panglima yang ditunjuk Rasul (saw) gugur mulai terlihat tanda-tanda kepanikan pada pasukan kaum Muslimin. Seorang sahabat yang bernama Tsabit ibn al-Arqam (ra) memungut panji perang yang sempat terjatuh dan mengibarkannya sambil menyemangati pasukan kaum Muslimin. Inisiatif Tsabit (ra) ini menyelamatkan pasukan dari kepanikan dan pasukan menginginkan dia untuk bangkit memimpin. Tsabit (ra) menolak serta mengatakan bahwa yang lebih tepat adalah Khalid ibn al-Walid (ra).

Khalid (ra) sendiri mengabarkan di kemudian hari bahwa pertempuran Mu’tah begitu dahsyat sehingga ia sempat mengganti pedang sampai 9 kali karena terus patah, yang tertinggal hanyalah pedang tempaan Yaman (Shahih al-Bukhari: 5/59/565 dari Qays: “Laqad duqqa fī yadī yawma Mu’tata tis’atu asyāfin wa shabarat fi yadī shafihatun lī yamāniytun”)

Khalid (ra) menilai bahwa pertempuran ini sangat tidak berimbang dan hasilnya akan memperburuk kondisi kaum Muslimin sehingga ia menyiapkan rencana kemunduran. Untuk menutup rencana tersebut ia mengirimkan kesatuan kecil untuk terus melancarkan serangan terbatas seolah tidak hendak mundur. Namun Khalid (ra) menghindari serangan umum dan ia tercatat berhasil menewaskan seorang komandan Banu Ghassan yang bernama Malik.

*Tipuan Perang Khalid

Pada suatu malam Khalid (ra) merotasi posisi pasukan sehingga ia menempatkan di barisan terdepan mereka yang tadinya di barisan belakang lengkap dengan panji-panji yang baru; guna memberikan impresi datangnya bala bantuan bagi kaum Muslimin dari Madinah. Ia juga memerintahkan pasukan berkudanya untuk mundur ke belakang bukit pada malam hari serta kembali pada siang hari dengan membawa alat tambahan yang ditarik kuda guna menerbangkan debu sebanyak-banyaknya; guna memberikan impresi bahwa bala bantuan tambahan datang lagi. Tipuan-tipuan perang ini berhasil meyakinkan pihak Byzantium untuk mundur sehingga kaum Muslimin dapat mundur juga tanpa ancaman.

Korban yang jatuh pada pihak Muslimin yang tercatat adalah: Zayd ibn Haritsa (ra), Ja’far ibn Abi Thalib (ra), ‘Abdullah ibn Rawahah (ra), Mas’ud ibn al-Aswad (ra), Wahab ibn Saad (ra), ‘Abbad ibn Qais (ra), ‘Amr ibn Sa’d (ra) tetapi bukan anak Sa’d ibn Abi Waqqasy (ra), Harits ibn Nu’man (ra), Suraqah ibn ‘Amr (ra), Abu Kulaib bin Amr (ra), Jabir ibn ‘Amr (ra), dan Amir bin Sa’ad (ra); sedangkan korban lain tidak tercatat.

Pada pihak Byzantium terdapat jumlah korban yang begitu banyak jila dibandingkan dengan kaum Muslimin walau angka persisnya tidak diketahui.

Kesudahan

Sejarah mencatat bahwa pasukan Muslimin yang berhasil kembali ke Madinah mrndapatkan perlakuan yanv tidak sewajarnya karena diduga terhina karema melarikan diri dari pertempuran. Salah seorang komandan dari ekspedisi itu yang bernama Salamah ibn Hisyam (ra) bahkan memilih untuk shalat di rumah daripada harus ke masjid dan menjelaskan kedudukannya. Akhirnya, Rasul (saw) memerintahkan kaum Muslimin di Madinah untuk menghentikan tindakan itu karena pasukan ini akan kembali memerangi Byzantium pada masa yang lain; khalayak menghentikan aksi tidak simpatik itu. Pada masa inilah Rasul (saw) memberikan gelar “Pedang Allah” (Sayfullah) kepada Khalid ibn al-Walid (ra).

Analisis kekinian atas sejarah ini menunjukkan bahwa ia bukam sebuah kekalahan namun sebuah keberhasilan strategik. Salah satu argumentasinya adalah bahwa keberanian berhadapan langsung dengan Byzantium menaikkan pamor umat Islam di kalangan bangsa Arab sekaligus menyampaikan pesan kepada Byzantium bahwa ummat Islam ada. Para syuhada Mu’tah kini mendapatkan penghormatan serta pekuburan layaknya para pahlawan di Jordan. Bahkan sejarawan al-Balazuri mencatat bahwa kaisar Herclius memindahkan markas besarnya dari Damaskus ke Antoich setelah pertempuran ini.

Agung Waspodo, mencatat awal permulaan Khalid (ra) tercatat kejeniusannya sebagai panglima perang yang terlihat pada pengaturan tipuan dan penjatuhan mental lawan.. walau sudah 1.386 tahun yang berlalu.

Lenteng Agung, Jum’at 18 September 2015.. masih di bulan yang sama, di tengah padatnya Commuter-Line pada jam puncak kembalinya para pekerja ibukota ke arah Depok hingga Bogor.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678