Ketika Bulan Shafar Diyakini Sebagai Bulan Membawa Sial

0
44

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ عَدْوَى وَلاَ صَفَرَ وَلاَ هَامَةَ، فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا بَالُ إِبِلِي تَكُونُ فِي الرَّمْلِ كَأَنَّهَا الظِّبَاءُ فَيَأْتِي الْبَعِيرُ الْأَجْرَبُ فَيَدْخُلُ بَيْنَهَا فَيُجْرِبُهَا؟ فَقَالَ فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ؟ (متفق عليه)

Dari Abu Hurairah ra berkata; sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada ‘adwa (meyakini bahwa penyakit tersebar dengan sendirinya, bukan karena takdir Allah), dan tidak ada shafar (menjadikan bulan shafar sebagai bulan haram atau keramat) dan tidak pula hammah (rengkarnasi atau ruh seseorang yang sudah meninggal pada yang lain).” Lalu seorang arab Badui berkata; “Wahai Rasulullah, lalu bagimana dengan unta yang ada dipasir, seakan-akan (bersih) bagaikan gerombolan kijang kemudian datang padanya unta berkudis dan bercampur baur dengannya sehingga ia menularinya?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapakah yang menulari yang pertama?” (Muttafaqun Alaih)

©️ Takhrij Hadits :

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, Ktiab At-Thib, Bab La Shafara Wahuwa Da’ Ya’khudzu Al-Bathn, hadits no 5278. Juga oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab As-Salam, Bab La Adwa, Wala Thirata, Wala Hammata, Wala Shafara Wala Nau’a, hadits no 4116.

®️ Hikmah Hadits :

1. Bahwa bulan Shafar merupakan bulan yang kedua, diantara urutan bulan-bulan hijriah. Dari sisi pengertiannya sendiri, secara bahasa, shafar berasal dari kata sha-fa-ra yang berarti
a. Menjadi kosong, hampa dan lowong,
b. Siulan atau hembusan angin.

Dinamakan shafar, karena memang umumnya rumah-rumah orang Arab pada zaman dahulu kebanyakan kosong di bulan ini. Menurut salah satu keterangan, dikatakan demikian karena pada bulan shafar mereka kebanyakan orang Arab pergi meninggalkan rumah dan kampung halamannya untuk berperang ke luar daerah, setelah sebelumnya mereka dilarang berperang pada bulan-bulan haram, yaitu dzulqa’dah, dzulhijjah dan muharram. Maka usai berbulan-bulan tidak berperang, di bulan shafar inilah mereka pergi meninggalkan rumah dan kampung halamannya untuk berperang, sehingga rumah-rumah dan perkampungan mereka menjadi kosong. Salah satu sumber mengatakan bahwa bisa jadi karena factor ini lah sehingga bulan ini disebut sebagai bulan Shafar.

2. Selain bermakna kosong, hampa dan lowong, shafar juga bermakna siulan atau hembusan angin, karena masyarakat jahiliya berkeyakinan bahwa bulan shafar merupakan bulan kesialan dengan adanya hembusan angin berupa bencana, malapataka dan musibah di masa jahiliyah. Oleh karena itulah, dahulu umumnya masyarakat Arab menghindari mengadakan acara-acara besar di bulan shafar, seperti menghindari melangsungkan pesta pernikahan, perayaan, aqiqah, bepergian yang jauh, memulai pekerjaan-pekerjaan besar dsb. Dan ternyata anggapan seperti itu masih melekat pada sebagian masyarakat, bahkan juga sebagian masyarakat di Indonesia. Karena masih ada sebagian masyarakat kita yang beranggapan adanya kesialan di bulan ini, sehingga mereka menghindari untuk mengadakan acara-acara pernikahan, syukuran, aqiqahan, atau acara-acara besar lainnya di bulan shafar ini.

3. Maka dalam Islam, paradigma dan keyakinan seperti itu dihilangkan, karena dalam Islam seluruh bulan-bulan dan seluruh hari dan tanggal, kesemuanya adalah baik. Demikian juga dalam Islam dibangun paradgma bahwa prinsip segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak dan izin Allah SWT. Segala kebaikan maupun keburukan tidak akan pernah terjadi, kecuali atas kehendak dan izin Allah SWT. Maka berkenaan dengan keyakinan dan anggapan bulan shafar sebagai bulan kesialan, Nabi SAW bersabda, :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لاَ يُعْدِي شَيْءٌ شَيْئًا فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ النُّقْبَةُ مِنْ الْجَرَبِ تَكُونُ بِمِشْفَرِ الْبَعِيرِ أَوْ بِذَنَبِهِ فِي الْإِبِلِ الْعَظِيمَةِ فَتَجْرَبُ كُلُّهَا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا أَجْرَبَ الْأَوَّلَ لاَ عَدْوَى وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ خَلَقَ اللَّهُ كُلَّ نَفْسٍ فَكَتَبَ حَيَاتَهَا وَمُصِيبَاتِهَا وَرِزْقَهَا (رواه أحمد)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata, bawha Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami seraya bersabda, “Tidak ada sesuatu menulari yang lain.” Ada orang arab desa berdiri seraya membantah, “Wahai Rasulullah, permulaan kudis menyebar lewat mulut unta atau dengan ekor unta lalu menjadi kudis semuanya?. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Lalu apa yang pertama kali terkena kudis? Tidak ada ‘Adwa, tidak ada Hammah dan tidak ada bulan shafar, Allah menciptakan setiap jiwa lalu menetapkan hidup, musibah dan rizkinya.” (HR. Ahmad, hadits no 3981)

4. Terlebih apabila kita menelisik ke dalam lembaran sejarah Nabi SAW, ternyata terdapat beberapa peistiwa besar yang terjadi di bulan Shafar, yang peristiwa tersebut sekaligus menjadi sanggahan atas keyakinan yang dimiliki oleh sebagian orang Arab pada zaman tersebut, bahwa shafar merupakan bulan sial dan musibah sehingga tidak boleh mengadakan acaara-acara besar. Diantara peristwa yang terjadi di bulan shafar adalah sebagai berikut :

a. Pernikahan Nabi SAW dengan Khadijah binti Khuwailid, yang terjadi di bulan Shafar.

b. Pernikahan Fathimah ra dengan Ali bin Abi Thalib ra.

c. Menurut salah satu riwayat, bahwa hijrah nya Nabi SAW dari Mekah ke Madinah adalah di bulan Shafar.

d. Penaklukan Khaibar, menurut salah satu pendapat juga terjadi di bulan Shafar, tahun ke 7 H.

e. Diutusnya Usamah bin Zaid ra kepada pimpinan prajurit Ramawi adalah terjadi di bulan shafar tahun ke 11 H.

5. Maka sebagai seorang yang beirman kepada Allah SWT, hendaknya kita berkeyakinan bahwa segala sesuatu terjadi hanya atas kehendak Allah SWT. Jika Allah berkehendak, maka akan terjadi dan jika Allah SWT tidak berkehendak, maka pasti tidak akan pernah terjadi. Dalam hadits juga disebutkan, dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, :

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ (رواه أحمد)

Ketahuilah, seandainya umat ini bersatu untuk memberi manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan padamu. Dan seandainya mereka bersatu untuk mencelakakan dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan padamu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (HR. Ahmad, no 2537)

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here