🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
📝 Pemateri: Ustadzah Dra. Indra Asih
Banyak dari kita khawatir tentang satu hal yang terefleksikan dengan seringnya kita bertanya tentangnya: “Bagaimana mengajar anak-anak tentang Islam sejak usia dini?”
Banyak kita dapati para orang tua dengan cemas mencari sekolah Islami dan guru Al-Qur’an yang sempurna untuk anak-anak mereka.
Benar, keduanya merupakan sarana yang sangat luar biasa dan sangat dibutuhkan, tetapi keduanya bukanlah sarana yang pertama kali untuk dipertimbangkan!
Karena jika kita bersikap seperti itu, seolah-olah kita ingin mendelegasikan tugas kita kepada orang lain. Orang lain itu yang bertanggung jawab untuk menjelaskan kepada anak-anak kita apa itu Islam, siapa Allah, siapa Rasulullah, dan seterusnya
Sesungguhnya KITA lah penyampai pesan pertama dan utama tentang Islam kepada anak-anak kita.
Pertanyaan sesungguhnya adalah: Apakah KITA sudah melengkapi diri kita sebagai pembawa pesan untuk menyampaikan pesan mulia ini kepada anak-anak kita?
Islam bukan hanya ‘mata pelajaran’ yang akan dipelajari anak-anak kita di sekolah.
Islam adalah kehidupan. Tunjukkan pada mereka kehidupan ini. Jalani dan wujudkan kehidupan islami ini dengan bangga dan anggun dalam rumah tangga kita. Suasana ini akan menciptakan makna dan pengalaman yang tidak dapat dipisahkan dari hati, pikiran, jiwa, dan identitas anak-anak kita.
Maksudnya adalah bahwa alih-alih mengatakan “Islam mengajarkan kebaikan dan penghormatan kepada wanita”, lebih baik para suami langsung menunjukan kebaikan kepada para istri dan contohlah hal itu pada Nabi shallallahu A’laihi Wassalam yang menjalani kehidupan dengan penuh kemuliaan, elegan dan menyentuh hati bersama istri-istri beliau. Dan beliau bersabda:
“Yang terbaik dari kalian adalah orang yang terbaik terhadap istrinya, dan saya yang terbaik dari kalian terhadap istri-istri saya.” (Sunan Ibnu Majah)
Dari pada memberi tahu mereka “Islam mencakup semua aspek kehidupan dan mendorong kita untuk punya kesempatan untuk menikmati hidup bersama Islam tapi juga waktu yang penuh bermakna dengannya,” lebih baik kita benar-benar memperlihatkan hidup dengan cara itu pada anak-anak kita…
Tunjukkan pada mereka bahwa memberi makan ibu mereka dengan menyuapinya adalah amal ibadah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu A’laihi Wassalam dan diberi pahala oleh Allah, dan hal ini menunjukkan betapa indahnya agama ini.
Tunjukkan pada mereka bahwa saling tersenyum satu sama lain dan mengucapkan kata-kata cinta dan kebaikan adalah amal ibadah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu A’laihi Wassalam dan diberi pahala oleh Allah, dan ini juga menjukkan betapa indahnya agama ini.
Tunjukkan pada mereka amalan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Biarkan mereka hidup, mengalami dan menghirup Islam dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.
Kita tidak perlu harus menemukan kembali cara lain atau menghasilkan teknik lain yang luar biasa, karena kita sudah memiliki jalur para Nabi dan Rasul dan jalur sempurna dan terakhir dari Rasul terakhir shallallahu A’laihi Wassalam untuk diikuti dan ditiru.
Semua hal itu telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Dan kesemuanya bukan tulisan dalam buku-buku biasa ataupun dongeng menjelang tidur. Hal-hal tersebut adalah kehidupan yang kadang-kadang kita abaikan atau sedikit sekali usaha kita untuk mempelajarinya.
Jika kita sendiri tidak menjalani kehidupan ini dengan penuh semangat dan komitmen, kita tidak dapat berharap anak-anak kita untuk mempelajarinya dari sekolah, pesantren, atau kajian-kajian. Islam bukanlah lencana yang ditempel pada dada anak-anak kita saat bereka mereka tumbuh dan bersekolah. Islam adalah perjalanan emosional, intelektual, spiritual, dan fisik yang kita amalkan, dan anak-anak perlu melihat kita memimpin perjalanan ini dengan penuh cinta dan motivasi.
Ada beberapa hal untuk dijalankan bersama anak-anak kita untuk membantu mereka – dan kita – menemukan makna, tujuan, kesenangan dan kepuasan dalamjalan Islam yang indah.
A. Cintailah Istri dan Keluarga Besarnya
Merupakan salah satu aspek yang sekuat tenaga harus kita tumbuh kembangkan dan amalkan di rumah kita. Sebagai usaha untuk menjadikan anak-anak kita mencintai Islam.
Benar-benar membingungkan, bagaimana bisa Islam dan/atau pria Muslim menjadi terkonotasi dengan perlakuan buruk terhadap wanita, sementara secara fakta kebenaran, dengan jujur harus kita akui, tidak akan pernah kita menemukan ajaran lain yang menghormati wanita seperti apa yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya!
Beberapa menuduh bahwa wanita-wanita muslim dianiaya dan didzalimi hak-hak mereka. Padahal, hal inilah yang dilakukan oleh teladan kita, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Sebagai salah satu contoh, romantisme dan kasih sayang yang dibangun beliau bersama istri beliau.
Diriwayatkan bahwa ‘Aisyah Radhiallahu’anha berkata,
“Setelah minum dari gelas, dalam kondisi haid, lalu saya menyerahkan gelas minuman tersebut kepada Nabi shallallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau lalu meletakkan mulutnya dan minum di tempat saya minum…
Dan setelah menggigit tulang di mana ada beberapa potong daging tersisa di situ, saat saya sedang haid, lalu saya memberikan tulang tersebut kepada Nabi shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan beliau meletakkan mulutnya dan menggigit di tempat mulut saya sebelumnya.” (HR. an-Nasa’i)
Suatu potret suasana yang hangat dan romantis yang akan memberikan dampak emosional dan spiritual yang dalam dalam kehidupan keluarga kita.
Jika kita bisa mengikuti teladan ini, anak-anak kita akan dibesarkan dalam suasana rumah yang penuh dengan cinta, keakraban dan kasih sayang. Suasana tadi akan memunculkan keyakinan yang dalam pada jiwa mereka dan menjadikan mereka tidak mungkin mempercayai atau menerima tuduhan-tuduhan negatif terhadap Islam.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam telah bersikap dan mewujudkan makna dalam kehidupan yang akan membuat hati kita tersentuh setiap kali kita membacanya.
Suatu ketika beliau ditanya, “Siapakah yang paling Anda kasihi?” Beliau menjawab “Aisyah.”
Kemudian beliau ditanya, “Dan di antara kalangan pria?” Beliau menjawab, “Ayahnya.”
Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memprioritaskan mencintai istrinya daripada orang lain yang masih hidup. Berikutnya, cinta beliau untuk orang yang telah membawa cinta tersebut ke dalam hidupnya, yaitu ayah istrinya.
Apakah kita menganggap kisah ini hanya legenda saja untuk dikagumi, atau akankah kita berusaha sungguh-sungguh untuk meneladaninya?
Mencintai pasangan dan keluarga pasangan kita dengan menyingkirkan semua godaan untuk tidak melakukan nya. Hal ini bertujuan untuk menghidupkan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Sikap ini akan menghadirkan kebaikan dan bertujuan untuk membawa keberkahan bagi diri kita sendiri, anak-anak kita dan keluarga besar kita.
Cintailah pasangan kita, dan sampaikan pada anak-anak kita bahwa inilah yang diajarkan Islam, dan ini yang harus mereka lakukan juga.
Bermain dan bersenda guraulah dengan istri. Nabi selalu berusaha meluangkan waktu untuk menghibur, mencintai, dan bermain dengan para istri beliau.
Aisyah Radhiallahu’anha sedang dalam perjalanan bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Dia berkata, “Saya berlomba lari dengan beliau (Nabi) dan saya mengalahkan beliau. Ketika saya sudah gemuk saya berpacu lagi dengan beliau (Nabi) dan beliau mengalahkan saya. Beliau berkata, Ini untuk membalas.” (HR. Abu Dawud)
Kapan terakhir kali kita bermain dan bersenda gurau dengan pasangan di hadapan anak-anak kita?
Ada puluhan kisah dan teladan dari kehidupan nabi. Jika kita meneladaninya maka kita akan bisa menanamkan kebahagiaan, kehangatan, dan rasa memiliki yang sangat kuat terhadap Islam dalam jiwa dan pikiran anak-anak kita. Marilah selalu memohon pertolongan pada Allah, berkah-Nya dan perlindungan-Nya dari semua bisikan-bisikan dan kecenderungan-kecenderungan yang tidak baik.
B. Jadikanlah Al-Qur’an bagian dari seluruh kehidupan mereka.
Mengenal Al-Qur’an secara mendalam melalui mendengarkan, membaca, dan merenungkan benar-benar merupakan pengalaman yang akan menjadi sebab anak-anak bertransformasi diri menjadi pribadi Islami.
Akan menjadi hal tak terlupakan bagi anak-anak, yaitu pengalaman di masa kecil mereka, ketika mereka terbangun setiap pagi karena mendengar lantunan Al-Qur’an yang dinyalakan setelah shalat Subuh. Mereka dibangunkan oleh lantunan al-Qur’an yang indah dan syahdu, yang dibaca oleh qori yang indah qiroahnya.
Al-Qur’an akan terhubung dalam pikiran dan hati semua penghuni rumah termasuk anak-anak dengan suasana rumah yang tenang, damai, segar, penuh harapan, rileks, semangat dan penuh motivasi. Semua makna dan rasa itu menjadi konsep yang tumbuh dalam pikiran penghuni rumah termasuk anak-anak.
Jangan menyerahkan seluruh tanggung jawab pada guru untuk mengajarkan anak-anak kandungan dan bacaan Al-Qur’an, orang tua bisa sangat berperan untuk memulai mengkondisikan anak-anak membangun hubungan yang kuat dengan Al-Qur’an sejak dini.
Kiat: Lakukanlah tadabbur kandungan Al-Qur’an bersama anak-anak sesering mungkin atau jadikanlah aktifitas tersebut sebagai bagian dari rutinitas/diskusi mingguan seluruh keluarga.
Orang tua dapat berbagi dengan anak-anak tentang bagaimana menjalani kehidupan dengan Al-Qur’an dan menyaksikan makna ayat tertentu dari Al-Qur’an, hidup nyata dalam ke seharian mereka.
Misal, orang tua dapat berbagi perenungan ayat-ayat berikut bersama mereka:
… وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3)
“… Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
(Al-Quran 65: 2-3)
Ceritakanlah pada anak-anak pengalaman ketika orang tua memutuskan untuk memprioritaskan ketaqwaan pada Allah atau ketaatan pada Nya di atas mengejar kepuasan syahwat atau melakukan kemaksiatan, dan langkah tersebut ternyata terbukti menjadi pembuka jalan yang sebelumnya seakan buntu.
Kita semua, termasuk anak-anak kita, akan benar-benar menyaksikan makna-makna di dalam Al-Qur’an itu menjadi nyata dalam kehidupan. Jadi, biarkan anak-anak menjalani kehidupan mereka dan menyaksikan kebenaran Al Qur’an hadir di hadapan mereka.
Contoh lain lagi, berbagilah ayat berikut kepada anak-anak:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
(Qur’an 94: 5–6)
Lalu ceritakan pada mereka pengalaman orang tua ketika mengalami keadaan yang begitu sulit, yang nampaknya tak ada solusi, tapi akhirnya terselesaikan. Allah menghadirkan kelapangan, penerang dan kemudahan setelah kegelapan dan kesulitan.
Ajak anak-anak untuk mengamalkan Al-Qur’an dan menyaksikan bukti kebenaran Al-Qur’an dan pengamalannya dalam kehidupan mereka bersama orang tua.
Lakukan selalu tadabbur bersama anak-anak tentang kandungan Al-Qur’an dan bagaimana ayat-ayat itu sangat relevan bagi kita dan bagaimana ayat-ayat itu menjelaskan beberapa makna yang sangat mendalam di dalam diri dan lingkungan kita dengan cara-cara yang sempurna.
Allah berfirman:
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْأَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?
(Al-Qur’an 41:53)
Ayat di atas terbukti benar!
Allah sudah dan akan terus menunjukkan kepada kita ayat-ayat dan tanda-tanda kebesaranNya di alam semesta ini atau di lingkungan di sekitar kita, juga di dalam diri kita masing-masing serta dalam pengalaman kehidupan kita. Kesemuanya menjadi sarana bagi kita dan anak-anak untuk menyaksikan bukti kebenaran dari Kitab-Nya.
Jadi, mari kita hidupkan kitab ini dalam keseharian kita bersama anak-anak.
C. Hubungkan Anak-Anak Dengan Sumber Keselamatan dan Kesejahteraan.
Allah adalah As-Salam, Maha Pemberi Keselamatan dan Kesejahteraan. Hubungkanlah selalu perjalanan dan pengalaman hidup yang dilalui anak-anak dengan Allah.
Perlu disampaikan pada anak-anak, bahwa mereka bisa berhubungan dengan Allah bukan hanya melalui sholat saja, tetapi anak-anak bisa terhubung dengan Allah dengan mengingatkan mereka bahwa Allah-lah yang menciptakan makanan dan minuman lezat yang baru saja mereka nikmati, Allah-lah yang menciptakan rasa cinta dan sayang yang dimiliki orang tua terhadap anak-anak mereka, Allah-lah yang memberkahi mereka dengan kesehatan dan bentuk tubuh yang sempurna.
Allah-lah yang menciptakan semua keindahan yang mereka lihat di alam sekitar mereka, Allah-lah yang menciptakan apapun yang mereka lihat dengan penuh kekaguman.
Jadikanlah kekaguman, cinta dan hubungan dengan Allah di mana pun mereka berada karena Dia selalu bersama mereka di mana pun mereka berada, kemanapun mereka pergi.
هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ يَعۡلَمُ مَا يَلِجُ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَمَا يَخۡرُجُ مِنۡهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعۡرُجُ فِيهَاۖ وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
(Al-Qur’an 57: 4)
Kiat: Tanamkan kecintaan kepada Allah dan terhubung dengan-Nya dalam rutinitas harian anak-anak.
Biarkan mereka berkomunikasi dengan-Nya, bersahabat dengan-Nya, bertawakkal pada-Nya (mengandalkan-Nya) dan bersyukur kepada-Nya.
Kita bisa membayangkan, betapa dahsyatnya ikatan yang dalam di usia muda ini, akan sangat membantu mereka di kemudian hari, untuk menghadapi dan melawan semua cobaan, godaan dan ujian dalam kehidupan mereka.
Wallahu a’lam bish showab
Dipersembahkan oleh : www.manis.id
Subscribe YouTube MANIS : https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial
Follow Media Sosial MANIS :
IG : https://www.instagram.com/majelis_manis/?igshid=YmMyMTA2M2Y%3D
FB: http://fb.com/majelismanis
TikTok https://www.tiktok.com/@majelis_manis_
📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis
💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Iman Islam
No Rek BSI : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/6285279776222
wa.me/6287891088812







