KhutbahMateri Kajian Manis

Melestarikan Kebiasaan Baik Pasca Ramadhan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

๐Ÿ“ Khutbah Jum’at Oleh: Ustadz Ahmad Dahlan, Lc, MA(IKADI DIY)

ุงูŽู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ ุฌูŽุนูŽู„ูŽ ุดูŽู‡ู’ุฑูŽ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ู…ูŽุฏู’ุฑูŽุณูŽุฉู‹ ู„ูู„ุตู‘ูŽุจู’ุฑู ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ุŒ ูˆูŽุฃูŽุนูŽุฏู‘ูŽ ู„ูู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ููŠู’ู†ูŽ ุญูุณู’ู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุฃูˆูŽู‰ุŒ ุฌูŽุฒูŽุงุกู‹ ู„ูุณูŽุนู’ูŠูู‡ูู…ู’ ูููŠ ู…ููƒูŽุงุจูŽุฏูŽุฉู ุงู„ู’ู‡ูŽูˆูŽู‰.
ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู’ ู„ูŽุง ุงูู„ูŽู‡ูŽ ุงูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู„ู‡ ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู ู„ูŽุง ุดูŽุฑููŠู’ูƒูŽ ู„ูŽู‡ุŒ ููŽุงู„ูู‚ู ุงู„ู’ุญูŽุจู‘ู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽูˆูŽู‰ุŒ ูˆูŽุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู‹ุง ุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู’ู„ูู‡ูุŒ ู†ูุจู’ุฑูŽุงุณูŽ ุงู„ู’ู‡ูุฏูŽู‰ ูˆูŽู…ูุตู’ุจูŽุงุญูŽ ุงู„ุฏู‘ูุฌูŽู‰.
ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุญูŽุจููŠู’ุจูู†ูŽุง ูˆูŽุดูŽูููŠู’ุนูู†ูŽุง ูˆูŽู‚ูุฑู‘ูŽุฉู ุฃูŽุนู’ูŠูู†ูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุงู„ู’ู…ูุตู’ุทูŽููŽู‰ุŒ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุขู„ูู‡ู ูˆูŽุตูŽุญู’ุจูู‡ู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ุตู‘ูุฏู’ู‚ู ูˆูŽุงู„ู’ูˆูŽููŽู‰ุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุณูŽุงุฑูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู†ูŽู‡ู’ุฌูู‡ู ูˆูŽุงู‚ู’ุชูŽููŽู‰ุŒ ูˆูŽุชูŽู…ูŽุณู‘ูŽูƒูŽ ุจูุณูู†ู‘ูŽุชูู‡ู ูˆูŽุงูƒู’ุชูŽููŽู‰ุŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽูููˆุฒูŽ ุจูุฑูุถู’ูˆูŽุงู†ููƒูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ุฐูŽุงุชู ุงู„ู†ู‘ูŽุนููŠู…ู ูˆูŽุงู„ุตู‘ูŽููŽุง.
ุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูุ›
ููŽูŠูŽุง ุนูุจูŽุงุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ุŒ ุงูุชู‘ูŽู‚ููˆู’ุง ุงู„ู„ู‡ูŽ ุญูŽู‚ู‘ูŽ ุชูู‚ูŽุงุชูู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู…ููˆู’ุชูู†ู‘ูŽ ุงูู„ู‘ูŽุง ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ู…ูุณู’ู„ูู…ููˆู’ู†ูŽ. ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰: ุฃูŽุนููˆู’ุฐู ุจูุงู„ู„ู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌููŠู’ู…ู: ยซูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุญูŽู‚ู‘ูŽ ุชูู‚ูŽุงุชูู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู…ููˆุชูู†ู‘ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ู…ูุณู’ู„ูู…ููˆู†ูŽยป

Maโ€™asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kita baru saja melewati bulan yang penuh keberkahan, bulan yang Allah jadikan sebagai wasilah untuk menjadikan kita orang-orang yang bertakwa sebagaimana diinginkan oleh Allah Taโ€™ala. Ramadan telah berlalu, tetapi nilai-nilai yang diajarkannya tidak boleh pudar dalam diri kita. Selama sebulan penuh, kita telah merasakan manisnya ibadah, khusyuknya salat malam, serta keberkahan dalam tilawah Alquran dan sedekah. Kini, setelah Ramadan pergi, kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri: apakah semangat ibadah itu tetap hidup dalam diri kita, ataukah ia akan berlalu bersama berlalunya bulan suci ini?
Allah Swt. berfirman:

๏ดฟูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ูƒูุชูุจูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู ุงู„ุตู‘ููŠูŽุงู…ู ูƒูŽู…ูŽุง ูƒูุชูุจูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ููƒูู…ู’ ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชูŽุชู‘ูŽู‚ููˆู†ูŽ๏ดพ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.s. Al-Baqarah: 183)

Ketakwaan yang telah dibentuk dan disempurnakan dalam bulan Ramadan tidak boleh berlalu seiring berlalunya Ramadan. Karena ketakwaan tidak bersifat sementara. Ketakwaan tidak boleh datang dan pergi sebagaimana datang dan perginya bulan dan tahun. Ketakwaan adalah teman yang harus membersamai setiap fase perjalanan hidup kita. Oleh karena itu, setiap Muslim perlu merenungkan sejauh mana Ramadhan telah meninggalkan jejak dalam dirinya. Jangan sampai Ramadan sekadar menjadi rutinitas tahunan, tanpa memberikan perubahan menuju ketakwaan yang paripurna dan istiqamah dalam ketaatan.

Kenyataan menunjukkan bahwa tidak sedikit orang yang gagal mengambil pelajaran dari puasa. Setelah berbuka, mereka kembali lalai dalam ibadah. Setelah Ramadan, mereka kembali kepada kebiasaan lama yang tidak sesuai dengan nilai-nilai ketakwaan. Misalnya, di siang hari mereka mampu menahan lisan mereka dari kekotoran, tetapi begitu azan Maghrib berkumandang, lisan mereka kembali kepada kebiasaan lama dengan menggunjing, mencaci, dan melakukan perdebatan yang sia-sia. Begitu pula, selama Ramadan masjid-masjid penuh dengan jamaah yang bersemangat menunaikan salat tarawih dan tadarus Alquran. Namun, setelah Ramadan berlalu, masjid kembali sepi. Hanya para lansia dan orang-orang yang sudah uzur yang menyambanginya. Yang lebih menyedihkan, banyak orang yang bahkan kembali meninggalkan kewajiban salat lima waktu pasca Ramadan. Padahal, Allah yang kita sembah di bulan Ramadan adalah Tuhan yang sama yang harus kita sembah di bulan-bulan yang lain.

Maโ€™asyiral Muslimin rahimakumullah,
Hendaknya kita menjadi hamba Allah yang sejati, bukan sekadar menjadi hamba saat Ramadan tiba. โ€œKun Rabbaniyyan, wala takun Ramadhaniyyanโ€. Jadilah hamba yang Rabbani, yaitu hamba yang selalu terhubung dengan Allah, menjaga ketaatan kapan pun dan di mana pun.

Jangan menjadi hamba Ramadhani yang hanya bersungguh-sungguh beribadah saat Ramadan, tetapi setelah bulan suci berlalu, ia kembali lalai dan jauh dari ketaatan.

Jika puasa benar-benar dijalankan dengan penuh kesadaran, seharusnya ia menjadi titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Seperti seorang pelajar yang telah menyelesaikan ujian di sekolah, ia tidak kembali ke dalam kebodohan, tetapi sebaliknya ia semakin matang dalam ilmunya. Demikian pula seorang mukmin yang telah ditempa oleh Ramadan, seharusnya keluar darinya dengan ketakwaan yang lebih kuat, bukan kembali kepada kelalaian dan kebiasaan lama yang menjauhkannya dari Allah.

Maโ€™asyiral Muslimin rahimakumullah,
Jangan biarkan Ramadan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak dalam diri kita. Ibadah dan latihan spiritual yang telah dijalani selama sebulan penuh harus terus membentuk kepribadian kita sebagai seorang Muslim. Beberapa pelajaran dan kebiasaan selama Ramadan yang harus kita dilestarikan pasca Ramadan, di antaranya adalah:

Pertama, disiplin dalam waktu dan ibadah. Puasa mengajarkan kita untuk menghargai dan memanfaatkan waktu dengan baik. Kita bangun lebih awal untuk sahur, berbuka pada waktu yang telah ditentukan, serta memperbanyak ibadah di waktu-waktu yang utama. Disiplin ini seharusnya tidak berhenti setelah Ramadan berlalu, tetapi harus menjadi kebiasaan yang berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij as-Salikin (2/129) menjelaskan: “Waktu seorang hamba adalah modal utamanya dalam kehidupan. Jika ia menyia-nyiakan waktunya, maka seluruh urusannya akan berantakan, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.”

Waktu adalah salah satu nikmat terbesar yang harus dimanfaatkan dengan baik. Ramadan melatih kita untuk lebih sadar terhadap waktu dengan mengisinya dengan ibadah, zikir, dan amal kebaikan lainnya. Jika kita mampu mengatur waktu selama Ramadan, seharusnya setelahnya pun kita tetap berusaha menjaga kedisiplinan dalam waktu. Dalam konteks ibadah, kedisiplinan ini mencakup salat tepat waktu, membaca Alquran secara rutin, serta membiasakan diri dengan ibadah-ibadah sunnah.
Rasulullah Saw. bersabda:

ุฃูŽุญูŽุจู‘ู ุงู„ู’ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุฃูŽุฏู’ูˆูŽู…ูู‡ูŽุง ูˆูŽุฅูู†ู’ ู‚ูŽู„ู‘ูŽ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara kontinu meskipun sedikit.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)

Puasa juga mengajarkan untuk menghindari pemborosan waktu dengan tidak mengisinya dengan hal yang sia-sia. Di era digital ini, banyak orang menghabiskan waktunya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti bermedia sosial tanpa tujuan, menonton hiburan yang melalaikan, atau berbincang tanpa faedah. Puasa mengajarkan kita untuk lebih selektif dalam memanfaatkan waktu, karena waktu adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Pada hakikatnya, ibadah puasa bukan sekadar ibadah fisik untuk menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah madrasah ruhaniyah yang mendidik jiwa untuk menjadi lebih disiplin menata kehidupan. Seorang Muslim yang menjalankan puasa dengan benar akan belajar mengatur waktunya dengan baik, dari bangun sahur sebelum fajar, menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, hingga berbuka pada waktu yang telah ditentukan.

Dan dalam realitas kehidupan sehari-hari, orang yang terbiasa hidup disiplin dalam urusan ibadah akan lebih mudah mengatur waktu dalam berbagai aspek kehidupan lainnya. Seorang yang selama Ramadan bangun untuk sahur dan salat Subuh tepat waktu, akan lebih mudah menjaga ketepatan waktu dalam tugas dan pekerjaannya. Ia menjadi terbiasa untu melakukan semua tugasnya sesuai waktu yang ditentukan.

Kedua, sabar menghadapi ujian hidup. Pelajaran besar lain dari puasa Ramadan adalah melatih kesabaran. Jika kita telah berhasil bersabar untuk menahan lapar dan dahaga serta semua perbuatan yang dapat merusak puasa, maka seharusnya kita juga mampu bersabar menghadapi ujian hidup yang pasti akan datang kepada setiap manusia. Hidup ini penuh dengan ujian dan cobaan.

Ada ujian berupa kehilangan, kemiskinan, sakit, kegagalan, dan berbagai cobaan lainnya. Hanya mereka yang bersabar yang akan meraih keberhasilan di dunia dan akhirat. Rasulullah Saw. menjelaskan dalam sabdanya:

ูˆูŽุงู„ุตู‘ููŠูŽุงู…ู ู†ูุตู’ูู ุงู„ุตู‘ูŽุจู’ุฑู

“Puasa adalah separuh kesabaran.” (H.r. At-Tirmidzi)

Selama berpuasa, kita telah berhasil bersabar dalam menahan hawa nafsu. Ini adalah salah satu bentuk kesabaran tertinggi yang diajarkan dalam Islam. Kesabaran sendiri mempunyai dimensi yang luas dan mencakup berbagai aspek kehidupan seorang mukmin, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama. Mereka membagi kesabaran ke dalam tiga bentuk utama.

Pertama, sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Menjalankan ibadah, terutama ibadah yang membutuhkan pengorbanan, seperti puasa, memerlukan kesabaran yang besar. Seorang Muslim harus mampu menahan rasa malas, mengalahkan hawa nafsu, dan tetap ikhlas dalam ketaatan kepada Allah. Kedua, sabar dalam menjauhi maksiat. Saat berpuasa, seorang Muslim tidak hanya menahan diri dari makanan dan minuman, tetapi juga dari perkataan dan perbuatan yang diharamkan. Inilah latihan kesabaran yang sesungguhnya; menahan diri dari segala bentuk kemaksiatan yang dapat merusak ibadah. Bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menjaga hati, lisan, dan anggota tubuh dari segala yang dilarang oleh Allah. Ketiga, sabar dalam menghadapi takdir Allah. Hidup di dunia penuh dengan ujian, dan setiap Muslim pasti akan diuji dengan berbagai bentuk cobaan. Puasa mengajarkan kita untuk menerima takdir dengan hati yang lapang. Karena hakikatnya, seseorang yang berpuasa sedang berlatih mengikuti kehendak Allah dan menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah, bersabar dalam menghadapi segala ketetapan Allah dengan penuh ridla dan tawakal.

Maโ€™asyiral Muslimin rahimakumullah,
Ketiga, mengendalikan nafsu dari maksiat dan perilaku negatif. Puasa telah mengajarkan kita untuk dapat menahan diri dari segala bentuk maksiat dan perilaku negatif. Jika selama Ramadan kita mampu menjaga lisan dari gibah dan dusta, menundukkan pandangan dari hal yang haram, serta menahan diri dari amarah dan perbuatan sia-sia, maka semestinya kita terus mempertahankan kebiasaan ini setelah Ramadan berlalu. Jangan sampai Ramadan hanya menjadi jeda sesaat dari dosa-dosa, lalu setelahnya kita kembali kepada kebiasaan buruk yang merusak hati dan jiwa.

Dalam Islam, hawa nafsu yang tidak terkendali adalah sumber utama dari berbagai kemaksiatan. Allah Taโ€™ala berfirman:

๏ดฟุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽูู’ุณูŽ ู„ูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุงุฑูŽุฉูŒ ุจูุงู„ุณู‘ููˆุกู๏ดพ

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.”(Q.s. Yusuf: 53)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan, “Hawa nafsu adalah penghalang terbesar antara seorang hamba dan Rabb-nya. Barang siapa yang mampu menundukkannya, maka ia telah meniti jalan menuju Allah dengan benar.” (2/129)

Artinya, mengendalikan nafsu adalah tanda keberhasilan seseorang dalam meniti jalan ketaatan. Jika selama Ramadan kita mampu menjaga lisan dan menghindari perbuatan yang sia-sia, maka janganlah setelah Ramadan kita menjadi seorang yang mudah tersulut emosi, berkata kasar, atau menyakiti orang lain dengan lisan kita. Jika Ramadan membiasakan kita untuk mengurangi makan dan minum, maka tidak seharusnya kita kembali kepada kebiasaan berlebihan dalam makanan, minuman, dan gaya hidup. Jangan sampai memiliki pemikiran untuk “balas dendam”, karena selama Ramadan terpaksa harus sedikit makan, maka setelah Ramadan kembali kepada pola hidup boros, konsumtif, makan secara berlebihan, dan hedonis.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang istiqamah dalam ketaatan dan mampu menjaga diri dari maksiat setelah Ramadhan. Aamiin ya Rabbal โ€˜alamin.

ุจูŽุงุฑูŽูƒูŽ ุงู„ู„ู‡ู ู„ููŠู’ ูˆูŽู„ูŽูƒูู…ู’ ููŠ ุงู’ู„ู‚ูุฑู’ุขู†ู ุงู’ู„ุนูŽุธููŠู’ู…ูุŒ ูˆูŽู†ูŽููŽุนูŽู†ููŠ ูˆูŽุฅููŠู‘ูŽุงูƒูู…ู’ ุจูู…ูŽุง ูููŠู’ู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุขูŠูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ุฐู‘ููƒู’ุฑู ุงู„ู’ุญูŽูƒููŠู’ู…ูุŒ ูˆูŽุชูŽู‚ูŽุจู‘ูŽู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ู…ูู†ู‘ูŽุง ูˆูŽู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ุชูู„ุงูŽูˆูŽุชูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู‡ููˆูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ููŠู’ุนู ุงู„ุนูŽู„ููŠู’ู…ู

Khutbah Kedua

ุงูŽู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ู‘ูฐู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฅูุญู’ุณูŽุงู†ูู‡ูุŒ ูˆูŽุงู„ุดู‘ููƒู’ุฑู ู„ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุชูŽูˆู’ูููŠู’ู‚ูู‡ู ูˆูŽุงู…ู’ุชูู†ูŽุงู†ูู‡ุŒ ูˆูŽุฃูŽุดู‡ูŽุฏู ุฃูŽู† ู„ุง ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ุง ุงู„ู„ู‡ู
ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู ู„ุง ุดูŽุฑููŠูƒูŽ ู„ูŽู‡ู ุชูŽุนู’ุธููŠู’ู…ู‹ุง ู„ูุดูŽุฃู’ู†ูู‡ุŒ ูˆุฃูŽุดู‡ุฏู ุฃู†ู‘ูŽ ู†ูŽุจููŠู‘ูŽู†ูŽุง ู…ูุญู…ู‘ูŽุฏู‹ุง ุนูŽุจุฏูู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ุงู„ุฏู‘ูŽุงุนููŠ ุฅูู„ู‰ ุฑูุถู’ูˆูŽุงู†ูู‡.
ุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูุ›
ููŽูŠูŽุง ุนูุจูŽุงุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ุŒ ุงูุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‡ูŽ ุญูŽู‚ู‘ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ุŒ ูˆูŽุฃูŽุทููŠู’ุนููˆู’ู‡ู ูููŠ ุงู„ุณูู‘ุฑูู‘ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุฌู’ูˆูŽู‰.
ุซูู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ููˆุง ูˆูŽุณูŽู„ูู‘ู…ููˆุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู‡ูŽุงุฏููŠ ุงู„ู’ุจูŽุดููŠู’ุฑุŒ ูˆูŽุงู„ุณูู‘ุฑูŽุงุฌู ุงู„ู’ู…ูู†ููŠู’ุฑุŒ ู†ูŽุจููŠู‘ูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุตูŽุงุญูุจู ุงู„ู’ููŽุถู’ู„ู ุงู„ู’ูƒูŽุจููŠู’ุฑ. ููŽู‚ูŽุฏู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ูููŠ ูƒูุชูŽุงุจูู‡ู: ยซุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูˆูŽู…ูŽู„ูŽุงุฆููƒูŽุชูŽู‡ู ูŠูุตูŽู„ู‘ููˆู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุตูŽู„ู‘ููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูู‘ู…ููˆุง ุชูŽุณู’ู„ููŠู…ุงู‹ยป
ุงูŽู„ู„ู‘ูฐู‡ูู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ูู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุขู„ู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูƒูŽู…ุงูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽูŠู’ุชูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู’ู…ูŽ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุขู„ู ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู’ู…ูŽ ุฅู†ู‘ูŽูƒูŽ ุญูŽู…ููŠู’ุฏูŒ ู…ูŽู€ุฌููŠู’ุฏุŒ ูˆูŽุงุฑู’ุถูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ู€ุฎูู„ูŽููŽุงุกู ุงู„ุฑู‘ูŽุงุดูุฏููŠู’ู†ุŒ ุฃูŽุจููŠู’ ุจูŽูƒู’ุฑู ูˆูŽุนูู…ูŽุฑูŽ ูˆูŽุนูุซู’ู…ูŽุงู†ูŽ ูˆูŽุนูŽู„ููŠู‘ุŒ ูˆูŽุนูŽู†ู ุงู„ุตู‘ูŽุญูŽุงุจูŽุฉู ุฃูŽุฌู’ู…ูŽุนูŽูŠู’ู†ุŒ ูˆูŽุนูŽู†ู‘ูŽุง ู…ูŽุนูŽู‡ูู…ู’ ุจูู…ูŽู†ู€ู‘ููƒูŽ ูˆูŽูƒูŽุฑูู…ููƒูŽ ูŠูŽุง ุฃูŽูƒู’ุฑูŽู…ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽูƒู’ุฑูŽู…ููŠู’ู†.
ุงูŽู„ู„ู‘ูฐู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุงู’ู„ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชูุŒ ูˆูŽุงู’ู„ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุงู’ู„ู…ูุณู’ู„ูู…ูŽุงุชูุŒ ุงู’ู„ุฃูŽุญู’ูŠุขุกู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽุงู’ู„ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงุชูุŒ ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุณูŽู…ููŠู’ุนูŒ ู‚ูŽุฑููŠู’ุจูŒ ู…ูุฌููŠู’ุจู ุงู„ุฏู‘ูŽุนูŽูˆูŽุงุชุŒ ูˆูŽูŠูŽุง ู‚ูŽุงุถููŠูŽ ุงู„ู’ุญูŽุงุฌูŽุงุช.
ุงู„ู„ู‡ู… ุฅูู†ู‘ูŽุง ู†ูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู’ููุฑู’ุฏูŽูˆู’ุณูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุนู’ู„ูŽู‰ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉ.
ุงู„ู„ู‡ู… ุฅูู†ู‘ูŽุง ู†ูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ูˆูŽู…ูŽุง ู‚ูŽุฑู‘ูŽุจูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ู‚ูŽูˆู’ู„ู ูˆูŽุนูŽู…ูŽู„ุŒ ูˆูŽู†ูŽุนููˆู’ุฐู ุจููƒูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ูˆูŽู…ูŽุง ู‚ูŽุฑู‘ูŽุจูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ู‚ูŽูˆู’ู„ู ูˆูŽุนูŽู…ูŽู„.
ุงูŽู„ู„ู‘ูฐู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽุง ู†ูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู’ุนูŽูู’ูˆูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุงูููŠูŽุฉุŒ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุนูŽุงููŽุงุฉู ุงู„ุฏู‘ูŽุงุฆูู…ูŽุฉุŒ ูููŠ ุฏููŠู’ู†ูู†ูŽุง ูˆูŽุฏูู†ู’ูŠูŽุงู†ุงูŽ ูˆูŽุฃูŽู‡ู’ู„ูู†ูŽุง ูˆูŽู…ูŽุงู„ูู†ุงูŽ.
ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุธูŽู„ูŽู…ู’ู†ูŽุง ุฃูŽู†ู’ููุณูŽู†ูŽุง ูˆูŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽุชูŽุฑู’ุญูŽู…ู’ู†ูŽุง ู„ูŽู†ูŽูƒููˆู†ูŽู†ู‘ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุงุณูุฑููŠู†ูŽ.
ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุขุชูู†ูŽุง ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู‹ ูˆูŽูููŠ ุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉู ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู‹ ูˆูŽู‚ูู†ูŽุง ุนูŽุฐูŽุงุจูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู.
ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ู‘ูฐู‡ู ุฑูŽุจูู‘ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู†.

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Subscribe YouTube MANIS : https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

Follow Media Sosial MANIS :

IG : https://www.instagram.com/majelis_manis/?igshid=YmMyMTA2M2Y%3D

FB: http://fb.com/majelismanis

TikTok https://www.tiktok.com/@majelis_manis_

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Iman Islam
No Rek BSI : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/6285279776222
wa.me/6287891088812

Related Posts

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *