๐๐๐บ๐๐บ๐๐
๐ Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi M.A
ููุง ุฃููููููุง ุงูููุฐูููู ุขูู ููููุง ููู ู ุชููููููููู ู ูุง ููุง ุชูููุนูููููู (2) ููุจูุฑู ู ูููุชูุง ุนูููุฏู ุงูููููู ุฃููู ุชูููููููุง ู ูุง ููุง ุชูููุนูููููู (3)
โWahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.โ (QS. Ash Shaff: 2-3).
Penjelasan:
Ayat ini sebagai bentuk pengingkaran terhadap orang-orang yang menetapkan suatu janji atau mengucapkan suatu ucapan akan tetapi dia tidak menepatinya. Oleh karena itu sebagian ulama salaf menjadikan ayat yang mulia ini sebagai landasan wajibnya menepati janji secara mutlak, baik janji itu harus dilaksanakan atau tidak oleh orang yang menetapkan janji tersebut.
Mereka juga beralasan dengan hadist yang disebut dalam shahih al Bukhari dan Muslim bahwasanya Rasulullah pernah bersabda, “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: Apabila dia berjanji dia ingkar, apabila dia berbicara niscaya dia berdusta, dan apabila dia dipercaya niscaya ia berkhianat.”
Di dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim juga disebutkan, “Ada empat perkara yang barangsiapa keempat perkara tersebut ada pada dirinya maka ia termasuk munafik murni dan barang siapa yang ada pada dirinya salah satu dari dari keempat ciri tersebut, maka ia termasuk orang yang munafik sehingga ia meninggalkannya.” Kemudian beliau menyebut ciri-ciri tersebut diantaranya adalah menyelisihi janji, oleh karena itu Allah menegaskan pengingkaran-Nya kepada mereka didalam firman-Nya, “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
Ada juga yang mengatakan bahwa sebabnya turun ayat ini adalah sekelompok kaum muslimin sebelum diturunkan kewajiban jihad mereka berkata seandainya Allah menunjukkan kepada kita amalan yang paling dicintai-Nya kemudian kita mengamalkannya, kemudian Allah mewahyukan kepada nabi-Nya adalah beriman tanpa diliputi keraguan, memerangi pelaku maksiat yang menyelisihi keimanan tersebut dan tidak mengakuinya, namun ketika perintah jihad diturunkan, sebagian orang membencinya dan tidak ingin melaksanan perintah tersebut, maka Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”, inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir.
Muqatil bin Hayyan berkata: Orang-orang mukmin berkata, “Seandainya kami mengetahui amalan yang paling dicintai Allah pasti kami mengamalkannya.” Lalu Allah menunjukkan kepada mereka sebaik-baik amalan yang dicintai-Nya. Dia berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang terartur.” Allah menjelaskan kepada mereka dengan menguji mereka melalui perang Uhud, namun mereka justru meninggalkan Nabi dan berpaling darinya, maka Allah menurunkan ayat, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? โ Dia berkata, “Orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah yang berperang di jalan-Ku.”
Sebagian ahli tafsir mengatakan surat-surat ini diturunkan berkaitan dengan perang. Ada seseorang yang berkata, “Aku telah perang,” padahal sebenarnya dia belum berperang. “Aku telah menikam,” padahal sebenarnya dia belum menikam, “Aku telah memukul,” sebenarnya dia belum memukul dan, “Aku telah bersabar,” padahal sebenarnya ia belum bersabar, demikian dijelaskan dalam tafsir Ibnu Katsir.
Adapun pelajaran yang bisa dipetik dari ayat ini adalah:
1. Yang berucap berkewajiban menyesuaikan tindakannya dengan ucapan, jika tidak ia terancam dengan murka Tuhan.
2. Bila menyuruh orang lain berbuat baik, apabila kebaikan itu belum dikerjakan oleh yang menyuruh, maka paling sedikit ia harus menyuruh pula dirinya dengan menancapkan niat untuk melakukannya. Bukanlah syarat bagi yang menganjurkannya untuk melaksanakan terlebih dahulu anjurannya, walau sangat baik melaksanakannya terlebih dahulu. Demikian ditulis oleh Prof.
Quraish Shihab dalam tafsir Al-Lubab.
Syaikh Assaโdi berkata tentang ayat ini: โHai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat,โ maksudnya, mengapa kalian mengatakan kebaikan dan mendorongnya, dan boleh jadi kalian memuji-muji kebaikan itu namun tidak kalian lakukan? Mengapa kalian melarang keburukan, boleh jadi kalian sucikan diri kalian dari keburukan tersebut namun kalian lakukan bahkan menjadi sifat kalian? Lantas apakah kondisi tercela seperti ini pantas bagi orang-orang yang beriman? Bukankah amat besar murka Allah pada orang yang mengatakan sesuatu namun tidak dikerjakan? Karena itu, orang yang memerintahkan berbuat baik seharusnya menjadi orang pertama yang melakukannya. Dan orang yang melarang keburukan seharusnya menjadi orang yang paling jauh darinya. Allah berfirman, โMengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?โ (QS. Al Baqarah: 44).
Nabi Syuaib berkata kepada kaumnya, โDan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.โ (QS. Hud: 88)
Surat As Shaf ayat 2-3, janganlah dijadikan alasan untuk melarikan diri dari jalan dakwah dengan alasan belum sempurnanya diri seorang pendakwah, karena andai seorang pendakwah menunggu sempurna baru dia akan berdakwah, maka yang terjadi dia tidak akan berdakwah sampai wafat. Lihatlah Nabi Muhammad saw tetap berdakwah walau pamannya enggan mengikuti risalahnya; Nabi Nuh tetap istiqomah dijalan dakwah walau anaknya enggan beriman kepadanya dan begitu juga dengan nabi Luth, ia tetap berdakwah walau istrinya tidak mau bersamanya meniti jalan dakwah, lalu Nabi Ibrahim ia menyeru kaumnya untuk beriman kepada Allah walau ayahnya tetap membuat patung.
Namun ayat ini hendaknya dijadikan semangat untuk memperbaiki diri, sebab dengan berdakwah insya Allah diri ini akan menjadi lebih baik, karena telinga seorang juru dakwah lebih dekat dari mereka yang akan didakwahi.
Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,
ููุง ุจุฏ ููุฅูุณุงู ู ู ุงูุฃู ุฑ ุจุงูู ุนุฑูู ู ุงูููู ุนู ุงูู ููุฑ ู ุงููุนุธ ู ุงูุชุฐููุฑ ู ูู ูู ูุนุธ ุฅูุง ู ุนุตูู ู ู ุงูุฒูู ูู ูุนุธ ุงููุงุณ ุจุนุฏ ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ู ุณูู ุฃุญุฏ ูุฃูู ูุง ุนุตู ุฉ ูุฃุญุฏ ุจุนุฏู
โTetap bagi setiap orang untuk mengajak yang lain pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Tetap ada saling menasihati dan saling mengingatkan. Seandainya yang mengingatkan hanyalah orang yang maksum (yang bersih dari dosa, pen.), tentu tidak ada lagi yang bisa memberi nasihat sepeninggal Nabi shallallahu โalaihi wa sallam. Karena sepeninggal Nabi shallallahu โalaihi wa sallam tidak ada lagi yang maksum.โ
Dalam bait syaโir disebutkan,
ูุฆู ูู ูุนุธ ุงูุนุงุตูู ู ู ูู ู ุฐูุจ โฆ ูู ู ูุนุธ ุงูุนุงุตูู ุจุนุฏ ู ุญู ุฏ
โJika orang yang berbuat dosa tidak boleh memberi nasihat pada yang berbuat maksiat, maka siapa tah lagi yang boleh memberikan nasihat setelah (Nabi) Muhammad (wafat)?โ
๐๐๐บ๐๐บ๐๐
Dipersembahkan oleh : www.manis.id
Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis
Subscribe YouTube MANIS : https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial
๐ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis
๐ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/6285279776222
wa.me/6287782223130







