Sedang Berpuasa Sunnah, Bolehkah Dibatalkan?

0
146

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, Seandainya kita berusaha rutin puasa Senin Kamis. Nah pas hari itu ada undangan untuk arisan RT misalnya, sebaiknya kita tetap puasa atau tidak ya?
Saat acara itu selalu dihidangkan snack yang bisa dibawa pulang karena pakai kardus.  Jazakumullah sebelumnya … A/21

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Sedang puasa Sunnah, lalu datang kondangan, batalkan atau tidak?

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’d:

Ya, untuk orang yang sedang puasa tathawwu’ (sunah), dia boleh dan bebas memilih untuk meneruskan puasanya atau membatalkannya. Termasuk ketika berkunjung dalam suatu undangan, di mana tuan rumah sudah bersusah payah menyediakan makanan buat kita. Hal ini banyak dalilnya, di antaranya yang paling pas adalah berikut ini.

Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu bercerita:

صَنَعْتُ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا فَأَتَانِي هُوَ وَأَصْحَابُهُ فَلَمَّا وُضِعَ الطَّعَامُ , قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: إِنِّي صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” دَعَاكُمْ أَخُوكُمْ وَتَكَلَّفَ لَكُمْ ” ثُمَّ قَالَ لَهُ: ” أَفْطِرْ وَصُمْ مَكَانَهُ يَوْمًا إِنْ شِئْتَ “

Aku membuat makanan untuk Rasulullah ﷺ, Beliau dan sahabat-sahabatnya mendatangiku, ketika makanan sudah dihidangkan ada seorang yang berkata: “Saya sedang puasa.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Saudaramu sudah mengundang kamu dan sudah repot-repot untukmu.” Lalu Beliau bersabda: “Berbukalah, dan puasalah satu hari di waktu lain kalau kamu mau.” (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 8362, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Awsath, No. 3240. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: isnadnya hasan. Lihat Fathul Bari, 4/210)

Hadits ini menunjukkan bahwa bolehnya seseorang berbuka ketika shaum sunnah, saat dia berkunjung ke rumah saudara atau undangan, untuk menghormati tuan rumah, dan juga bolehnya dia mengqadha, boleh juga tidak mengqadha.

Sementara dari Ummu Hani Radhiallahu ‘Anha, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

الصائم المتطوع أمير نفسه إن شاء صام وإن شاء أفطر

Seorang yang sedang shaum sunnah adalah raja bagi dirinya sendiri, jika dia mau maka dia teruskan puasanya, jika dia mau silahkan dia batalkan. (HR. Ahmad No. 26893, Al Hakim No. 1599, 1600, katanya: shahih. Disepakati oleh Adz Dzahabi keshahihannya.  Al Baihaqi dalam As Sunan Ash Shaghir No. 1436. Syaikh Al Albani juga menshahihkannya. Lihat Shahihul Jami’ No. 3854)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

وقد ذهب أكثر أهل العلم إلى جواز الفطر، لمن صام متطوعا، واسحبوا له قضاء ذلك اليوم، استدلالا بهذه الاحاديث الصحيحة الصريحة

Mayoritas ulama berpendapat bolehnya membatalkan puasa bagi yang sedang shaum sunnah, dan mereka dianjurkan mengqadha puasa hari tersebut, berdasarkan hadits-hadits ini yang begitu jelas. (Fiqhus Sunnah, 1/455)

Imam Al Baghawi menjelaskan:

والحديث يدل على أن المتطوع بالصوم إذا أفطر، لا قضاء عليه إلا أن يشاء، وكذلك المتطوع بالصلاة إذا أبطلها، وهو قول عمر، وابن عباس وجابر، وإليه ذهب الثوري، والشافعي، وأحمد، وإسحاق، وقال أصحاب الرأي: يلزمه القضاء، وقال مالك: إن أفطر أو خرج من الصلاة من غير علة، يلزمه القضاء

Hadits ini menjadi dalil bahwa jika seorang yang sedang shaum sunnah dan dia membatalkannya maka dia tidak wajib qadha kecuali jika dia mau. Ini juga berlaku untuk shalat jika dia membatalkannya. Inilah pendapat Umar, Ibnu Abbas, Jabir, dan juga Ats Tsauri, Asy Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq. Sementara Ashhabur Ra’yi (pengikut Abu Hanifah) mengatakan: “Wajib mengqadha.” Sedangkan Malik mengatakan: “Jika batal puasa atau shalatnya tanpa ada alasan maka wajib qadha.” (Syarhus Sunnah, 6/372)

Demikianlah KEBOLEHANNYA, tetapi mana yang lebih utama dengan meneruskannya?  Cukup banyak ulama mengatakan bahwa  tidak membatalkannya puasanya adalah lebih disukai.

Syaikh Muhammad ‘Abid As Sindi berkata:

به أخذ الشافعي في جواز قطع الصوم النافلة والأكل نهارا وبه قال أحمد وإسحاق لكنهم متفقون جميعا على أن إتمام الصوم مستحب

Dengan hadits ini Asy Syafi’i berdalil bolehnya memutuskan shaum sunnah dan makan di siang harinya. Ini juga pendapat Ahmad dan Ishad, tetapi mereka semua sepakat bahwa sempurnanya shaum itu disukai (mustahab). (Musnad Asy Syafi’i,  1/276. Dengan susunan dari Syaikh As Sindi)

Alasannya firmanNya:

“Wahai orang-orang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu batalkan amal-amalmu.” (QS. Muhammad: 33)

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here