🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi MA.
كن ميتا أمام شيخك
“Jadilah engkau mayyit di depan gurumu”
Ungkapan di atas berasal dari ulama tasawwuf yang ditulis oleh Buya Hamka dalam karyanya yang berjudul “Dari Hati ke Hati”
Ungkapan ini bermaksud, hendaklah seorang murid bersikap taat kepada gurunya dalam menerima ilmu dan tidak boleh menyanggahnya walaupun ia salah, persis seperti mayyit yang tidak dapat protes bagaimanapun ia diperlakukan.
Tentunya ini bertentangan dengan prinsip prinsip Islam yang membolehkan adanya perbedaan antara guru dengan murid.
Sebagaimana Imam Syafi’i yang berbeda pandangan fiqh dengan gurunya Imam Malik.
Ini adalah isyarat bahwa hadirnya perbedaan pendapat di antara ulama bukanlah sebuah cela melainkan ia merupakan jalan untuk memperkaya khazanah keilmuan.
Islam tidak pernah berkata
“ولا تختلفوا”
Jangan kamu berselisih pendapat, tetapi yang di larang Allah adalah
” ولا تفرقوا “
Jangan kamu bercerai berai.
Usahlah meributkan hal hal yang tidak prinsip karena musuh Islam saat ini kian kuat dan bersatu dalam kesesatan dan menghancurkan Islam.
Syaikh Muhammad Abduh menasihati kita semua dengan tuturnya yang indah lagi menyentuh kalbu, seraya berkata
“نتعاون فيما اتفقنا عليه ويعذر بعضنا بعضا فيما اختلفنا فيه”
Mari kita bekerjasama atas permasalahan yang disepakati dan bertoleransi atas permasalahan yang diperselisihkan”
Istri juga boleh berbeda pendapat dengan suaminya, karena hubungan mereka berdua bukanlah antara majikan dan pembantu, melainkan ia adalah hubungan partnership yang mensyaratkan hadirnya komunikasi dan diskusi.
Anak juga boleh berbeda pendapat dengan orang tuanya, namun perbedaan itu tetap disampaikan dengan akhlak yang mulia.
Allah berfirman:
“ولا تقل لهما أف ولا نههر هما وقل لهما قولا كريما”
Janganlah berkata ah kepada keduanya, jangan membentak keduanya dan katakanlah kepada mereka perkataan yang mulia”
Ali bin Abi Thalib mengatakan
“Andai ada perkataan yang lebih kasar dari “ah”, pastilah dilarang oleh Allah”
Sejarah menceritakan bagaimana perbedaan antara Sa’ad bin Abi Waqash dengan ibunya, ketika ia memeluk Islam, ibunya tidak mau makan sampai Sa’ad kembali pada kekufuran, dengan penuh kelembutan ia berkata kepada ibunya. “Ibu ..andai engkau memiliki 100 nyawa lalu ruh mu bercerai dari badan satu demi satu, aku tidak akan tinggalkan Islam ini.
Ibunda Sa’ad tertegun dengan keteguhan Sa’ad lalu membuatnya mereguk keindahan berislam.
Masalah aqidah memang tidak bisa ditawar-tawar walaupun kepada orang tua sekalipun yang telah bersimbah darah melahirkan kita dan bercucur keringat membesarkan kita.
Nabi saw bersabda:
لا طاعة لمخلوق فى معصية الخالق
“Tidak ada keta’atan kepada makhluk jika itu menyebabkan kedurhakaan kepada Khaliq”
Lihatlah keteguhan Luth berpisah dengan istrinya karena mahalnya sebuah keyakinan.
Lihatlah kekuatan Nuh berpisah dengan anaknya yang enggan mengikutinya karena begitu berharganya iman yang bersarang di kalbu.
Dan lihatlah Ibrahim yang dengan lemah lembut menasihati ayah angkatnya ketika ia bersikukuh membuat berhala, namun Ibrahim tak putus asa mendoakannya.
Allah berfirman
“Dan jika kedua orang tuamu mengajakmu untuk menyekutukan Nya dimana engkau tidak memiliki pengetahuan tentangnya, jangan taati keduanya dan bergaullah kepada keduanya dengan baik.
(QS Luqman 15)
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Dipersembahkan oleh : www.manis.id
Subscribe YouTube MANIS : https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial
Follow Media Sosial MANIS :
IG : https://www.instagram.com/majelis_manis/?igshid=YmMyMTA2M2Y%3D
FB: http://fb.com/majelismanis
TikTok https://www.tiktok.com/@majelis_manis_
📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis
💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Iman Islam
No Rek BSI : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/6285279776222
wa.me/6287891088812







