Bolehkah Wanita yang Sedang dalam Masa Iddah Bekerja?

Pertanyaan

Assalamu ‘alaikum …….. Ustazah  saya mau nitip pertanyaan dari teman istri.. begini pertanyaannya:
teman saya suami nya meninggal …..sementara dia terikat kerja dg perusahaan …bgmn dg masa iddah nya…
apakah benar2 tidak boleh keluar untuk bekerja slm ms iddah tsb atau bgm? mhn informasinya …jazakillah.

Jawaban

✏ Oleh: Ustadzah Indra Asih

Wanita yang dalam kondisi iddah dibolehkan keluar siang hari untuk bekerja. Kalau telah masuk     malam hari, maka dia harus berdiam diri di rumah.

Jadi  tidak mengapa dia bekerja, jika hal itu dilakukan hanya waktu siang saja.

Ibnu Qudamah rahimahullah di Mugni, 8/130 berkata, “Wanita yang masih dalam iddah dibolehkan keluar untuk memenuhi keperluannya waktu siang hari. Baik idddah karena dicerai atau karena meninggal dunia.

Sebagaimana diriwayatkan Jabir beliau berkata, ‘Bibiku dicerai tiga kali, kemudian beliau keluar  untuk memotong dan memetik kurmanya. Kemudian beliau bertemu dengan seorang  laki-laki yang melarangnya.

Beliau menceritakan hal itu kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda:

اخرجي , فجذي نخلك , لعلك أن تصدّقي منه , أو تفعلي خيرا (رواه النسائي وأبو داود)

 “Keluarlah dan rawatlah pohon kurmamu. Dengan itu engkau dapat bersadaqah darinya atau melakukan kebaikan.” (HR. Nasa’i dan Abu Daud)

وروى مجاهد قال : ( استشهد رجال يوم أحد فجاءت نساؤهم رسول الله صلى الله عليه وسلم وقلن : يا رسول الله صلى الله عليه وسلم ، نستوحش بالليل , أفنبيت عند إحدانا , فإذا أصبحنا بادرنا إلى بيوتنا ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : تحدثن عند إحداكن , حتى إذا أردتن النوم , فلتؤب كل واحدة إلى بيتها )

Diriwayatkan oleh Mujahid berkata, ‘Beberapa lelaki mati syahid waktu perang Uhud, para para janda mereka mendatangi Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam dan berkata,

‘Wahai Rasulullah, kami takut waktu malam hari. Apakah boleh kami tidur malam di salah seorang diantara kami. Kalau waktu pagi hari kami kembali ke rumah-rumah kami?

Maka Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Berbincang-bincanglah di tempat salah seorang di antara kamu, kalau kalian ingin tidur, kembalilah masing-masing ke rumahnya.”

Seorang wanita tidak diperkenankan tidur malam di selain rumahnya. Tidak juga keluar malam kecuali darurat. Karena malam merupakan sumber kerusakan, berbeda dengan siang. Ia adalah tempat untuk memenuhi kebutuhan dan kehidupan, serta memenuhi keperluan.”


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Maha Berkehendak

Ustadz Menjawab: Hukum memakai Kalung / Gelang Kesehatan

Pertanyaan

Mau tanya ust.:hukum memakai kalung dan gelang kesehatan yg terbuat dari batu giok hitam,apakah termasuk perhuatan syrik  ?syukron…

Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ba’d:

Memakai hukum kalung atau gelang untuk pengobatan memiliki rincian, sbb:

1. Jika dianggap benda2 ini memiliki kekuatan supranatural, bukan sebab medis ilmiah dan empirik, maka itu termasuk tamiimah/penangkal dan  syirik. Sebagaimana hadits Shahih, dr Abu Daud: innar ruqaa wat tamaaim wat tiwaalah syirk, sesungguhnya mantra, penangkal2, dan guna2 adalah syirik.

2. Jika benda2 itu tidak diyakini sbg benda yg memiliki kekuatan supranatural, melainkan obat biasa saja sbgmn refleksi dgn jarum, pijat listrik, tapi dia meyakini sbgai satu2nya penyebab kesembuhan, maka ini juga syirik. Sebab Allah berfirman: idza maridhtu fahuwa yasyfiin.. Jika aku sakit maka Allah yang menyembuhkan

3. Jika benda tersebut diyakini bukan benda supranatural, tapi diteliti secara medis dan ilmiah mengandung obat alamiah, baik krn gelombang elektromagnetiknya, gel listrik, istilah lain yg dipahami ilmu kedokteran modern, lalu kita memakainya sebagai sebab kauniyah saja, bukan penentu utama kesembuhan dan  meyakini kesembuhan dr Allah semata, maka ini boleh.

Wallahu a’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Keutamaan Salat Shubuh

Bermakmum pada Imam yang Tidak Mumpuni

Pertanyaan

Assalamualaikum.
Izin bertanya soal ibadah sholat berjamaah.
‘Suatu ketika saya dapati ada yg sedang berjamaah sholat wajib dmasjid yaitu sholat maghrib, kmudian saya mendatangi sbgai makmum yg masbuq, saya tertinggal 1 rakaat kmudian sya mengikuti imam, pada rakaat ke dua saya memperhatikan bacaan imam (bacaan Al Fatihah) kurang fasih atau dlam tajwid masih bnyak terdpat kesalahan.’
Pertanyaan saya, Apakah hukum berjamaah y sah dlm ilmu fiqih?
Kemudian apa yg harus dilakukan ketika menemukan hal yg spt ini, apakah mmbatalkan sholat kmudian sholat sendirian/membuat jamaah baru?
Mohon jwaban y…
Sukron Katsiron.
Fatih I-43 :


Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS

ketahuilah kekurangan imam, atau bahkan kesalahan fatal imam, semuanya ditanggung oleh imam itu sendiri, dan tidaklah ditanggung oleh makmum. Hal ini berdasarkan beberapa dalil berikut:
Allah Ta’ala berfirman:

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (QS. An Najm : 38-39)

Ayat lain:

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS. Al Mudatsir (74): 38)

Dalam hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلُّونَ بِكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

Dari Abu Hurairah dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Mereka shalat sebagai imam bagi kalian, maka jika mereka benar, pahalanya bagi kalian dan mereka, dan jika mereka salah, maka pahalanya untuk kalian, dosanya ditanggung mereka.”    (HR. Bukhari No. 694)

Sahl berkata:

إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْإِمَامُ ضَامِنٌ فَإِنْ أَحْسَنَ فَلَهُ وَلَهُمْ وَإِنْ أَسَاءَ يَعْنِي فَعَلَيْهِ وَلَا عَلَيْهِمْ

“Sesungguhnya aku mendengar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:”Imam itu adalah penanggung jawab, jika dia benar, maka pahalanya bagi dia dan bagi makmum, jika dia salah, maka tanggung jawabnya adalah kepadanya, bukan kepada makmum.”    (HR. Ibnu Majah No. 981, Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. Lihat  Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 981)

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

تصح إمامة من أخل بترك شرط أو ركن إذا أتم المأموم وكان غير عالم بما تركه الامام

“Bermakmum kepada orang yang tertinggal syarat dan rukun shalat adalah sah, dengan syarat makmum tidak tahu kesalahan tersebut dan dia menyempurnakan apa-apa yang ditinggalkan oleh imam.”   (Fiqhus Sunnah, 1/241)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Keutamaan Salat Shubuh

Hadits Mengusap Dahi dan Wajah Setelah Shalat

Pertanyaan

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustd mo tanya materi di atas adalah mengusap wajah setelah doa, apakah materi ini juga berlaku untuk setelah sholat fardu? Mohon pencerahannya (Ismail-I44)

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

Dalam hal ini ada dua hadits.

1. Hadits pertama, dari Anas bin Malik, katanya:

كان إذا قضى صلاته مسح جبهته بيده اليمنى ثم قال : أشهد أن لا إله إلا الله الرحمن الرحيم ، اللهم أذهب عني الهم و الحزن

“Adalah Rasulullah jika telah selesai shalat, maka dia usapkan dahinya dengan tangan kanannya, kemudian berkata: “Aku bersaksi tiada Ilah kecuali Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, Ya Allah hilangkanlah dariku kegelisahan dan kesedihan.” ( HR. Ibnu Sunni ,‘Amalul Yaum wal lailah, No. 110,  dan Ibnu Sam’un,Al Amali, 2/176q).

Hadits ini dhaif jiddan (sangat lemah), bahkan sebagian ulama mengatakan:maudhu’ (palsu).

Imam Ibnu Rajab Al Hambali berkata dalam Fathul Bari-nya:

وله طرق عن أنس ،كلها واهية

“Hadits ini memiliki banyak jalan dari Anas bin  Malik, semuanya lemah.”(Imam Ibnu Rajab Al Hambali, Fathul Bari, pembahasan hadits no. 836. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Sanad hadits ini adalah dari Salam Al Madaini, dari Zaid Al ‘Ami dari Mu’awiyah, dari Qurrah, dari Anas … (lalu disebutkan hadts di atas)

Cacatnya hadits ini lantaran Salam Al Madaini dan Zaid Al ‘Ami. Salam Al Madaini adalah orang yang dtuduh sebagai pendusta, sedangkan Zaid Al ‘Ami adalah perawi dhaif. Oleh karena itu, Syaikh Al Albani mengatakan, sanad hadits ini palsu. Hanya saja, hadits ini juga diriwayatkan dalam sanad lainnya yang juga dhaif. Secara global, hadits ini dhaif jiddan. (Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Silsilah Ad Dhaifah wal Maudhu’ah, No. 1058.  Darul Ma’arif)

Sementara, Imam Al Haitsami mengutip dari Al Bazzar, bahwa Salam Al Madaini adalah layyinul hadits (haditsnya lemah). (Imam Al Haitsami, Majma’ az Zawaid, 10/47. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Al Haitsami juga mengatakan bahwa Zaid Al ‘Ami adalah dhaif (lemah).(Ibid,1/230) Imam Al Baihaqi juga menyatakan bahwa Zaid Al ‘Ami adalah dhaif. (Al ‘Allamah Ibnu At Turkumani, Al Jauhar, 3/46. Darul Fikr) begitu pula kata Imam Al ‘Iraqi. (Takhrijul Ihya’, 6/290)

Al ‘Allamah As Sakhawi mengatakan, lebih dari satu orang menilai bahwa Zaid Al ‘Ami adalah tsiqah (bisa dipercaya), namun jumhur (mayoritas) menilainya dhaif. (As Sakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, 4/486) yang menilainya tsiqah adalah Imam Ahmad.(Ibid, 2/400) Imam Ahmad juga mengatakan: shalih (baik). (Ibnu Al Mubarrad, Bahr Ad dam, Hal. 58. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Sementara Imam An Nasa’i mengatakan Zaid Al ‘Ami sebagai laisa bil qawwi(bukan orang kuat hafalannya). (Al Hafizh Az Zaila’i, Nashbur Rayyah, 7/185. Lihat Abul Fadhl As Sayyid Al Ma’athi An Nuri, Al Musnad Al Jami’, 14/132) begitu pula kata Imam Abu Zur’ah. (Al Hafiz Abdurrahman bin Abi Hatim Ar Razi, Al Jarh wat Ta’dil, 3/561. Dar Ihya At Turats)

2.  Hadits kedua, dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu katanya:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قضى صلاته مسح جبهته بكفه اليمنى ، ثم أمرها على وجهه حتى يأتي بها على لحيته ويقول : « بسم الله الذي لا إله إلا هو عالم الغيب والشهادة الرحمن الرحيم ، اللهم أذهب عني الغم والحزن والهم ، اللهم بحمدك انصرفت وبذنبي اعترفت ، أعوذ بك من شر ما اقترفت ، وأعوذ بك من جهد بلاء الدنيا ومن عذاب الآخرة »

“Adalah Rasulullah Shallalllahu ‘Alaihi wa Sallam jika telah selesai shalatnya, beliau mengusap dahinya dengan tangan kanan, kemudian ilanjutkan ke wajah sampai jenggotnya. Lalu bersabda: “Dengan nama Allah yang Tidak ada Ilah selain Dia, yang Maha Mengetahui yang Ghaib dan Yang Tampak, Maha Pengasih dan Penyayang. Ya Allah hilangkanlah dariku kegelisahan, kesedihan, dan keresahan. Ya Allah dengan memujiMu aku beranjak dan dengan dosaku aku mengakuinya. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan yang telah aku akui, dan aku berlidung kepadaMu dari beratnya cobaan kehidupan dunia dan siksaan akhirat.”  (HR. Abu Nu’aim, Akhbar Ashbahan, No. 40446. Mawqi’ Jami’ Al Hadits)

Hadits ini dhaif (lemah). Karena di dalam sanadnya terdapat Daud Al Mihbarpengarang kitab Al ‘Aql.

Imam Al Bukhari berkata tentang dia: munkarul hadits. Imam Ahmad mengatakan: Dia tidak diketahui apa itu hadits.  (Imam Al Bukhari, At Tarikh Al Kabir, No. 837. Mawqi’ Ya’sub. Lihat juga kitab Imam Bukhari lainnya, Adh Dhu’afa Ash Shaghir, Hal. 45. Darul Ma’rifah. Lihat juga Al Hafizh Al ‘Uqaili, Dhu’afa, 2/35. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah )

Al Hafizh Az Zarkili mengatakan mayoritas ulama menilainya dhaif. (Khairuddin Az Zarkili,  Al A’lam, 2/334. Darul ‘Ilmi wal Malayin)

Ali Maldini mengatakan Daud ini: haditsnya telah hilang. Abu Zur’ah dan lainnya mengatakan: dhaif (lemah). Ad Daruquthni mengatakan: matruk (haditsnya ditinggalkan). Abu Hatim mengatakan: haditsnya hilang dan tidak bisa dipercaya. Ad Daruquthni mengatakan bahwa Daud Al Mihbar dalam kitab Al ‘Aql  telah memalsukan riwayat Maisarah bin Abdi Rabbih, lalu dia mencuri sanadnya dari Maisarah, dan membuat susunan sanad bukan dengan sanadnya Maisarah. Dia juga pernah mencuri sanad dari  Abdul Aziz bin Abi Raja’, dan Sulaiman bin ‘Isa Al Sajazi. (Imam Adz Dzahabi, Mizan Al I’tidal, 2/20. No. 2646. Darul Ma’rifah) Abu Hatim juga mengatakan:munkarul hadits. (Abdurrahman bin Abi Hatim, Al Jarh wat Ta’dil, 3/424, No. 1931)

Bahkan, Syaikh Al Albani dengan tegas mengatakan sanad hadits ini adalahmaudhu’ (palsu) lantaran perilaku Daud yang suka memalsukan sanad ini. Beliau mengatakan Daud adalah orang yang dituduh sebagai pendusta. Sedangkan untuk Al Abbas bin Razin As Sulami, Syaikh Al Albani mengatakan: aku tidak mengenalnya.(Syaikh Al AlBani, As Silsilah Adh Dhaifah wal Maudhu’ah, No. 1059.  Darul Ma’arif)


Catatan:

Walaupun hadits-hadits ini sangat lemah dan tidak boleh dijadikan dalil, namun telah terjadi perbedaan pendapat para ulama tentang mengusap wajah jika sekadar untuk membersihkan bekas-bekas sujud, seperti pasir, debu, tanah, dan lainnya. Di antara mereka ada yang membolehkan, ada juga yang memakruhkan.

Al Hafizh Al Imam Ibnu Rajab Rahimahullah mengatakan:

فأما مسح الوجه من أثر السجود بعد الصلاة ، فمفهوم ما روي عن ابن مسعودٍ وابن عباسٍ يدل على أنه غير مكروهٍ
وروى الميموني ، عن أحمد ، أنه كان اذا فرغ من صلاته مسح جبينه

“Adapun mengusap wajah dari bekas sujud setelah shalat selesai, maka bisa difahami dari apa yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas, yang menunjukkan bahwa hal itu tidak makruh. Al Maimuni meriwayatkan dari Imam Ahmad, bahwa dia mengusap dahinya jika selesai shalat.”   (Imam Ibnu Rajab Al Hambali,Fathul Bari, pembahasan hadits no. 836. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Sebagian ulama lain memakruhkannya, bahkan mengusap wajah merupakan penyebab hilangnya doa pengampunan dari malaikat. Berikut penjelasan dari Imam Ibnu Rajab Rahimahullah:

وكرهه طائفة ؛ لما فيه من إزالة أثر العبادة ، كما كرهوا التنشيف من الوضوء والسواك للصائم
وقال عبيد بن عميرٍ : لا تزال الملائكة تصلي على إلانسان ما دام أثر السجود في وجهه
خَّرجه البيهقي بإسنادٍ صحيحٍ
وحكى القاضي أبو يعلي روايةً عن أحمد ، أنه كان في وجهه شيء من أثر السجود فمسحه رجل ، فغضب ، وقال : قطعت استغفار الملائكة عني . وذكر إسنادها عنه ، وفيه رجل غير مسمىً
وبوب النسائي ((باب : ترك مسح الجبهة بعد التسليم )) ، ثم خرج حديث أبي سعيد الخدري الذي خَّرجه البخاري هاهنا ، وفي آخره : قال ابو سعيدٍ : مطرنا ليلة أحدى وعشرين ، فوكف المسجد في مصلى النبي – صلى الله عليه وسلم – ، فنظرت إليه وقد انصرف من صلاة الصبح ، ووجهه مبتل طيناً وماءً

“Sekelompok ulama memakruhkannya, dengan alasan hal itu merupakan penghilangan atas bekas-bekas ibadah, sebagaimana mereka memakruhkan mengelap air wudhu (dibadan) dan bersiwak bagi yang berpuasa. Berkata ‘Ubaid bin ‘Amir: “Malaikat senantiasa bershalawat atas manusia selama bekas sujudnya masih ada di wajahnya.” (Riwayat Al Baihaqi dengan sanad shahih)

Al Qadhi Abu Ya’la menceritakan sebuah riwayat dari Imam Ahmad, bahwa  ada bekas sujud di wajahnya lalu ada seorang laki-laki yang mengusapnya, maka beliau pun marah, dan berkata: “Kau telah memutuskan istighfar-nya malaikat dariku.” Abu Ya’la menyebutkan sanadnya darinya, dan didalamnya terdapat seseorang yang tanpa nama.

Imam An Nasa’i membuat bab: Meninggalkan Mengusap Wajah Setelah Salam. Beliau mengeluarkan sebuah hadits dari Abu Said Al Khudri, yang telah dikeluarkan pula oleh Imam Bukhari di sini, di bagian akhirnya berbunyi: Berkata Abu Said: “Kami kehujanan pada malam ke 21 (bulan Ramadhan), lalu air di masjid mengalir ke tempat shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka kami memandang kepadanya, beliau telah selesai dari shalat subuh, dan wajahnya terlihat sisa tanah dan air.” (Ibid)

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allahu Robbul Alamin

Ustadz Menjawab: Mengapa “langit” disebutkan lebih dulu dari pada “bumi” di dalam Al-Quran?

Pertanyaan

Salam.. Ada yg tau tidak kenapa Di ayat yg ada  kalimat layli wannahar, atau pun samawati wal ardh, kenapa duluan disebut layli, tdak ada yg duluan disebut nahar gituu,, begitu juga samaawaati wal ardh, sepertinya belum pernah ardhnya duluan,  apa ada alasan trtentu gtu ? (I # 24)

Jawaban

Oleh: Ustadz Ahmad Sahal Lc.

Kata as-samaawaat atau as-samaa dan al-ardh biasanya disebutkan oleh Al-Quran dalam konteks pembicaraan tentang tanda-tanda keagungan Allah, keesaan dan kekuasaan-Nya. Dan sudah kita ketahui bahwa tanda-tanda itu lebih banyak di langit karena ia jauh lebih luas dan menakjubkan dari pada bumi. Oleh karena itu ia layak didahulukan dari pada bumi.

Tetapi ada juga ayat yang mendahulukan penyebutan bumi sebelum langit seperti surat Yunus ayat 61:

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan KAMI MENJADI SAKSI ATASMU DI WAKTU KAMU MELAKUKANNYA. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di BUMI ataupun di LANGIT. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata. (QS. Yunus: 61).

Sebabnya adalah:
Karena konteks pembicaraan pada ayat itu tentang peringatan dan ancaman kepada manusia yang tinggal di bumi bahwa semua yang mereka lakukan besar maupun kecil tidak akan luput dari catatan dan pengawasan Allah ta’ala. Maka penyebutan bumi sebagai tempat hidup manusia layak didahulukan dari pada langit.

Ada ada ayat yang mirip lafalnya seperti Yunus 61 di atas tetapi kata langit tetap di dahulukan dari kata bumi, yaitu surat Saba ayat 3. Mengapa?

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَأْتِينَا السَّاعَةُ قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتَأْتِيَنَّكُمْ عَالِمِ الْغَيْبِ لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan orang-orang yang kafir berkata: “HARI KIAMAT itu tidak akan datang kepada kami”. Katakanlah: “Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya KIAMAT ITU PASTI AKAN DATANG kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di LANGIT dan yang ada di BUMI dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata.” (QS. Saba: 3).

Karena konteks pembicaraannya tentang hari kiamat, dimana kehancuran dunia didahului oleh kehancuran langit dan benda langit selain bumi, sehingga penyebutan langit di dahului dari pada bumi.

(Diringkas dari Bada-i’ Al-Fawaid, Ibnul Qayim, 1/74).

Mengapa Malam Didahulukan Daripada Siang?

Karena sebelum penciptaan makhluk yang menjadi sumber cahaya, terang itu belum ada. Dapat dikatakan bahwa gelap atau malam lebih dulu ada dari pada terang atau siang.

Tetapi ada rangkaian ayat yang mendahulukan siang dari pada malam seperti awal mula surat Asy-Syams:

وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا (1) وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا (2) وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا (3) وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا (4)

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari. Dan bulan apabila mengiringinya. Dan siang apabila menampakkannya. Dan malam apabila menutupinya..

Dalam surat ini siang didahulukan dari malam, karena matahari disebutkan lebih dulu dari bulan. Juga karena surat ini berbicara tentang tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dimana Allah menghendaki jiwa kita terang, dan tidak menghendaki pengotoran jiwa (tadsiyatun nafs) yang menyebabkan gelapnya jiwa. Wallahu a’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pegang Teguh Tali Allah

Ahlus Sunnah, Antara Salafi dan NU

Pertanyaan

Assalamualaikum.  mau tanya tentang ahlus sunnah (salafy wahabi) dengan aswaja (NU-asy’ariah) kedua kelompok ini mengaku ahlus sunnah wal jamaah.  tapi akidah mereka berdua berbeda khususnya masalah asma wa sifat,  tawasul, tabbaruk, dimanakah Allah. manakah dari keduanya yang lebih mendekati kebenaran.  karena saya sedang membaca idrusramli.com banyak info Baru yang saya pelajari.(#i 19)

Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan SS.

Wa ‘alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ba’d:

Seperti yang saya tulis sebelumnya, bahwa perbedaan keduanya dalam memahami dan menyikapi asma wa sifat sebenarnya tidak terlalu jauh. Sebagaimana dikatakan Asy Syatibi, Ibn Taimiyah, dan Al Banna Rahimahimullah.

Bagi kedua pihak, selalu ada orang yang mutasyaddid/keras, nah keduanya masih bisa berjalan bersama pada tokoh tokoh yang moderat.

Ada pun mencari mana yang mendekati kebenaran?
Tentunya pada sudut pandang masing-masing, mereka semua merasa paling benar.

Masing-masing punya hujjah yang menurut pemahamannya adalah paling unggul.

Ketika saya mengatakan pemahaman Salaf lebih dekat kebenaran dan selamat, dan ini yang dipilih oleh Syaikh Al Banna, tidak berarti saya mengatakan maka asy’ariyah adalah salah.

Ketika saya katakan Asy’ariyah yang benar, maka tidak berarti Salaf yang salah. Apalagi kedua kelompok sebenarnya sama2 mengklaim kelompoknya sbgai pemahaman salaf secara prinsip.

Imam Syafi’i mengatakan, pendapatku benar tp bisa jadi salah. Pendapat mereka salah, tp bisa jd benar.

Berkata Imam an Nawawi Rahimahullah:

وَمِمَّا يَتَعَلَّق بِالِاجْتِهَادِ لَمْ يَكُنْ لِلْعَوَامِّ مَدْخَل فِيهِ ، وَلَا لَهُمْ إِنْكَاره ، بَلْ ذَلِكَ لِلْعُلَمَاءِ . ثُمَّ الْعُلَمَاء إِنَّمَا يُنْكِرُونَ مَا أُجْمِعَ عَلَيْهِ أَمَّا الْمُخْتَلَف فِيهِ فَلَا إِنْكَار فِيهِ لِأَنَّ عَلَى أَحَد الْمَذْهَبَيْنِ كُلّ مُجْتَهِدٍ مُصِيبٌ . وَهَذَا هُوَ الْمُخْتَار عِنْد كَثِيرِينَ مِنْ الْمُحَقِّقِينَ أَوْ أَكْثَرهمْ . وَعَلَى الْمَذْهَب الْآخَر الْمُصِيب وَاحِد وَالْمُخْطِئ غَيْر مُتَعَيَّن لَنَا ، وَالْإِثْم مَرْفُوع عَنْهُ

“Dan Adapun yang terkait masalah ijtihad, tidak mungkin orang awam menceburkan diri ke dalamnya, mereka tidak boleh mengingkarinya, tetapi itu tugas ulama. Kemudian, para ulama hanya mengingkari dalam perkara yang disepati para imam. Adapun dalam perkara yang masih diperselisihkan, maka tidak boleh ada pengingkaran di sana.

Karena berdasarkan dua sudut pandang setiap mujtahid adalah benar. Ini adalah sikap yang dipilih olah mayoritas para ulama peneliti (muhaqqiq). Sedangkan pandangan lain mengatakan bahwa yang benar hanya satu, dan yang salah kita tidak tahu secara pasti, dan dia telah terangkat dosanya.” (Syarah an Nawawi ‘ala Muslim, Juz 1, hal. 131, pembahasan hadits no. 70, ‘Man Ra’a minkum munkaran …..)

Wallahu A’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Hidup dan Mati Adalah Ujian

Azan Saat Menguburkan Mayit

Pertanyaan

Assalamualaikum…tadi pagi saya ikut menguburkan jenazah..pada saat hendak dikubur ada salah satu orang azan.apakah ada tuntutan y atau tidak ? (Ageng-I44)

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man

Tidak ada ayat atau hadits tentang itu, tetapi ada madzhab yang memperluas masalah adzan. Berikut keterangan dalam Al Mausu’ah:

” Kelompok yang memperluas masalah ini adalah kalangan Syafi’iyah, mereka mengatakan disunahkan adzan ke telinga bayi yang baru lahir, ke telinga org yg sedih karena bs menghilangkannya, musafir yg tetinggal,  waktu kebakaran, ketika pasukan terdesak, diganggu syetan, musafir nyasar, dalam keadaan takut, marah, utk org dan ternak yg buruk perangainya, dan ketika menurunkan mayit ke kubur diqiyaskan sbgmn ktka lahir ke dunial.”

Al Mausuah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/373

Tapi, Malikiyah membid’ahkan, kecuali Malikiyah yg setuju kpd Syafi’iyah.

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Dosa Menggelisahkan Jiwa

Ustadz Menjawab : Apakah Dosa Kita Berakibat Buruk untuk Orang Lain?

Pertanyaan

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ana mau tanya. Apakah dosa2 yg dikerjakan seorang ayah bisa mengakibatkan anaknya/istrinya/saudaranya merasakan akibat dosa2 tsb..? Begitu jg sebaliknya..???
(Hidayat – I26]

Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan

Wa ‘alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ba’d:

Langsung aja ya …

Dosa2 yang dilakukan seseorg pada dasarnya ditanggung dirinya sendiri, sbgmn ayat:

Wa allaysa lil insaan illa maa sa’aa …, tidaklah manusia mendapatkan balasan kecuali yg dia kerjakan sendiri

Ayat lainnya:

Kullu nafsim bimaa kasabat rahiinah .., tiap jiwa bertanggungjawab atas perbuatannya masing2.

Nah, ini pada dasarnya …., TAPI, bisa saja seseorg mendapatkan dosa krn perbuatan org lain dengan beberapa sebab:

1. Dia memberikan contoh keburukan, atau mengajarkan keburukan, lalu orang lain mengikuti. Maka, walau dia sdh tdk melakukan, namun dialah yg mengawalinya atau inisiator keburukannya. Maka, dia jg berdosa bahkan mwnanggung dosa semua yg mengikutinya setelahnya, KECUALI dia bertobat dr keburukannya.

Dalilnya hadits SHAHIH MUSLIM, ..

من سن فى الاسلام سنة سيئة فله وزرها و وزر من عمل بها من بعده من غير ان ينقص اوزارهم شيء

“Brg siapa yg dlm Islam berbuat kebiasaan jelek, mk dia berdosa, dan dia jg dpt dosa2 org yg mengikutinya setelahnya tanpa mngurangi dosa2 mrk sedikit pun.”

Jadi, kalo anggota keluarga bikin contoh buruk lalu diikuti anggota keluarga lainnya, maka yang memberikan contoh mendapatkan dosa semua yang mengikutinya.

2. Diam terhadap dosa org lain, pdhal mampu merubah, maka dia ikut berdosa (bahkan azab), karena:

– laa ta’aawanuu ‘alal itsmi wal ‘udwaan …, jgn saling menolong dlm dosa dan kejahatan.

Mendiamkan kesalahan pdhal mampu merubahnya, dan keadaan memungkinkan utk itu, tp dia diam saja maka sama sj dia menyetujui prbuatan tsb.

– wat taquu fitnah laa tushiubanna zhalamuu minkum khaashah …, takutlah kamu thdp malapetaka yg tdk hanya menimpa org2 zalim saja.

Ayat ini menunjukkan bala yg akan diberikan merata, baik yg zalim atau tidak zalim, gara2 mrka diam saja thdp kezaliman

– Abu Ali Ad Daqaq mengatakan: as sukuut ‘anil haq syaithan akhras …, diam saja tdk mengatakan yg benar adalah syetan gagu

Wallahu a’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Ilmu

Benarkan Imam Malik, Hanafi, Syafii, Hambali Murid Imam Ja’far?

Pertanyaan

Apakah benar bahwa imam malik, hanafi, syafi’i dan imam hambali itu muridnya imam ja’far? Krn selama selama ini saya belum menemukan bukti kebenarannya.. syukron *pertanyaan dari Nenden A79.

Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man dan Ust Hafidz

Benar, imam Jakfar Asshadiq adalah salah satu guru imam Malik, beliau meriwayatkan dlm kitab Muawatta nya 9 Hadits dari imam Jakfar, 5 di antaranya hadits Musnad Muttashil yg bersumber dari sahabat Jaber Atthawil dlm bab Hajji & 4 hadits lainnya Munqathi.

Siapakah Imam Jakfar?

-Abu Bakr mempunyai putra :Abdurrahman&Muhammad
Abdurrahman punya putri :Asma
Muhammad punya putra:Al Qasim.
Qasim&Asma menikah , berputri:Umm Farwa
—”
Ali punya Putra :Husain
Husain berputra Ali Zainal Abidin.
Ali ZA berputra Muhammad Al Baqir.
——
Muhammad Al Baqir (cucu Ali) menikah dg Umm Farwa (cucu Abu Bakr), lahirlah Jakfar Asshadiq.

Imam Abu Hanifah juga berguru langsung kepada beliau, ungkapan masyhur Imam Abu Hanifah yg di nukil Adzzhabi sebagi bukti ke faqihan Imam Jakfar, imam Abu Hanifah berkata:

ما رأيت أحد أفقه من جعفر بن محمد

Aku tidak menhetahui orang yang lebih faqih dari Jakfar bin Muhammad.

Adapun Imam Syafii & Imam Ahmad  tidak  secara langsung berguru , sebab Imam Jakfar wafat (148 H) sebelum Imam Syafii lahir (150)&Imam Ahmad bin Hambal  lahir (164 H).

Bukan hanya Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, tapi juga Syu’bah, Dua Sufyan, Yahya Al Qaththan, Al Hasan bin Shalih Al Hayy, Abdullah bin Maimun .. ini yang saya ingat.

Hanya saja, rafidhah menyerobot Beliau menjadi imamnya .. padahal Beliau termasak yang marah kepada kaum Rafidhah seperti yang dikatakan Imam Adz Dzahabi dalam As Siyar.

Wallahu a’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Alam Kubur

Kuburan di Sekitar Masjid

Pertanyaan

Assalamualaikum ustadz
Mau tanya, mengenai mesjid yang dilarang shalat didalamnya adalah mesjid yang didalamnya atau diluarnya ada kuburannya, kecuali berbatas dengan dinding, yang dimaksud dinding disini apakah dinding mesjid atau dinding pagar mesjid, mohon penjelasannya ustadz
(Irwan – I12)

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man

يقول السائل: إنه يوجد في قريتنا مسجد جامع، وهذا المسجد يقع وسط المقابر التي تحيط به من الشمال والجنوب، والمسافة بينه وبين الجهة الشمالية متران، وكذلك الجنوبية متران، وأن تلك المقابر في طريقها للتوسع، كما أن بعض المصلين هداهم الله يجعلون تلك المقابر مواقف لسياراتهم، أخبرونا جزاكم الله عنا كل خير في الحكم في مثل ذلك ولكم جزيل الشكر والتقدير؟
الجواب : لا حرج في بقاء المسجد المذكور؛ لأن العادة جارية أن الناس يدفنون حول المساجد، فلا يضر ذلك شيئا، والمقصود أن الدفن حول المساجد لا بأس به لأنه أسهل على الناس فإذا خرجوا من المسجد دفنوه حول المسجد، فلا يضر ذلك شيئا ولا يؤثر في صلاة المصلين.
لكن إذا كان في قبلة المسجد شيء من القبور فالأحوط أن يكون بين المسجد وبين المقبرة جدار آخر غير جدار المسجد أو طريق يفصل بينهما، هذا هو الأحوط والأولى ليكون ذلك أبعد عن استقبالهم للقبور.
أما إن كانت عن يمين المسجد أو عن شماله، أي عن يمين المصلين، أو عن شمالهم فلا يضرهم شيئا، لأنهم لا يستقبلونها; لأن هذا أبعد عن استقبالها وعن شبهة الاستقبال.
أما بالنسبة لإيقاف السيارات فلا يجوز إيقافها على القبور، بل توقف بعيدا عن القبور، في الأراضي السليمة التي ليس فيها قبور، لأنه لا يجوز للناس أن يمتهنوا القبور، أو تكون السيارات على القبور، فهذا منكر ولا يجوز، ومن الواجب أن يبعدوها عن القبور، وأن تكون في محلات سليمة ليس فيها قبور، وإذا تيسر تسويرها بما يمنع استطراقها وامتهانها فهو أحوط وأسلم لأن المسلم محترم حيا وميتا، ولهذا نهى الرسول صلى الله عليه وسلم أن يصلى إلى القبور وأن يقعد عليها

Perkataan penanya: “Di desa kami terdapat Masjid Jami’, dan masjid tersebut berada di tengah-tengah sekeliling komplek pekuburan, dari bagian timur dan selatan. Jarak antara kuburan tersebut dengan bagian timur masjid adalah dua meter, di bagian selatan juga dua meter. Sesungguhnya komplek kuburan tersebut jalannya akan diperluas, sebagaimana yang mereka beritakan keada kami bahwa  sebagian jamaah  shalat –semoga Allah memberi petunjuk kepada mereka- menjadikan pekuburan tersebut sebagai tempat parkir mobil-mobil mereka. Dari kami, semoga Allah Ta’ala memberikan balasan kepada Anda dengan semua kebaikan dalam menjelaskan hukum masalah ini, dan terima kasih sebanyak-banyaknya buat Anda.

Jawab (Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz):

Tidak apa-apa berada di masjid tersebut, sesungguhnya kebiasaan yang berlangsung, bahwa manusia menguburkan mayit di sekitar masjid, dan hal itu sama sekali tidak membawa mudharat. Maksudnya menguburkan mayit di sekitar masjid adalah tidak apa-apa, sebab itu lebih mudah bagi manusia, ketika mereka keluar dari masjid mereka menguburkannya di sekitar masjid. Hal itu sama sekali tidak membawa mudharat, dan tidak berpengaruh apa-apa bagi shalat orang yang shalat. (baca: tetap sah)

Tetapi jika (kubur) di bagian kiblat masjid, maka untuk lebih hati-hati hendaknya di antara masjid dan kuburan itu dibuat   dinding lagi selain dinding masjid, atau jalanan yang memisahkan antara keduanya. Hal ini lebih hati-hati dan lebih utama, dengan demikian agar mereka lebih jauh dari menghadap kuburan.

Ada pun jika kuburan tersebut berada di sebelah kanan atau kirinya, yakni  di sebelah kanan yang shalat, maka itu sama sekali tidak memudharatkan mereka, sebab mereka tidak menghadap kepadanya.  Keadaan itu jauh dari menghadap   ke kuburan dan jauh pula dari keadaan   yang serupa dengan menghadap.

Terkait dengan parkiran mobil, maka tidak boleh memarkir mobil di atas kuburan-kuburan, tetapi hendaknya menjauh darinya, di tempat yang bersih yang tidak  terdapat  kuburan.  Karena tidak boleh bagi manusia menghina (merendahkan) kuburan, atau meletakkan mobil-mobil di atas  kubur, ini munkar dan tidak boleh. Wajib menjauhkannya dari kubur, dan memindahkannya ke tempat yang bersih yakni bebas dari kubur. Dan jika memungkinkan, hendaknya   dihindari dari pembuatan jalan dan apa-apa yang merendahkan kuburan, dan itu lebih hati-hati da selamat, sebab  seorang muslim mesti dihormati baik ketika hidup dan mati. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang shalat keada kuburan dan duduk di atasnya.  (Syaikh Ibnu Baaz, Fatawa Nur ‘Alad Darb,  Pertanyaan No. 133)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678