Menyikapi Kenaikan Harga Kebutuhan Kita

Oleh: Dr. Wido Supraha

Bagaimana cara menanggapi kenaikan harga rumah yg tidak berbanding lurus dengan  kenaikan penghasilan..

Bagaimana sebaiknya? Apakah masih boleh meminjam ke bank dengan mminimalisir meminjam ke bank syariah atau memang tdk boleh sama sekali?

#riba

Jawaban:

Bismillahirrahmanirrahim,

Tidak ada satupun ayat dalam Al-Quran yg begitu keras berbicara tentang hukuman kemaksiatan kecuali ketika berbicara tentang riba, dimana Allah Swt langsung yang akan memeranginya, sebagaimana firman-Nya,

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Q.S. 2:279)

Tentu ini merupakan ancaman terberat bagi manusia, makhluknya yg sangat lemah.

Di sisi lain, Allah Swt menghadirkan keberkahan hidup bagi manusia yang istiqomah di jalan-Nya. Dalam beberapa pengalaman penulis yang terbatas, penulis menemukan ragam kesulitan hidup yang dirasakan oleh mereka yang menggunakan akad ribawi, akad yang dibenci Allah Swt.

Maka, hendaknya kita menjaga seluruh muamalah dari seluruh bentuk akad yang tidak diridhoi-Nya, agar lahir keberkahan, agar pintu langit tidak tertutup dari seluruh doa-doa yang kita munajatkan, di atas keyakinan bahwa di balik seluruh pilihan kebaikan atas dasar ketaqwaan manusia ada kehidupan yang indah,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. 16:97)

Maka sentiasalah kita berdoa,

“Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian lebih baik bagiku. Jadikanlah kehidupan sebagai penambah segala kebaikan bagiku dan kematian sebagai istirahatku dari segala
keburuk-an.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Insya Allah, ada begitu banyak cara Allah menghadirkan solusi kemudahan bagi hamba-Nya yang tidak menutup pintu pertolongan-Nya karena kita butuh pertolongan-Nya saja.

Wallahu a’lam.

Bolehkah Aqiqah Dengan Sapi?

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan
       
Pertanyaan I-02

Mau tanya apa bisa sapi dijadikan aqiqah untuk anak?

Jawaban:

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulilllah wa ‘ala aalihi wa ashhabihi wa man waalah, wa ba’d:

Sebagian ulama membolehkan AQIQAH dengan menggunakan jenis hewan sebagaimana qurban, yaitu An Na’am, seperti Unta, Sapi, dan Kambing.
Tertulis dalam kitab Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, sebagai berikut:

يُجْزِئُ فِي الْعَقِيقَةِ الْجِنْسُ الَّذِي يُجْزِئُ فِي الأُْضْحِيَّةِ ، وَهُوَ الأَْنْعَامُ مِنْ إِبِلٍ وَبَقَرٍ وَغَنَمٍ ، وَلاَ يُجْزِئُ غَيْرُهَا ، وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ الْحَنَفِيَّةِ ، وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ ، وَهُوَ أَرْجَحُ الْقَوْلَيْنِ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَمُقَابِل الأَْرْجَحِ أَنَّهَا لاَ تَكُونُ إِلاَّ مِنَ الْغَنَمِ .وَقَال الشَّافِعِيَّةُ : يُجْزِئُ فِيهَا الْمِقْدَارُ الَّذِي يُجْزِئُ فِي الأْضْحِيَّةِ وَأَقَلُّهُ شَاةٌ كَامِلَةٌ ، أَوِ السُّبُعُ مِنْ بَدَنَةٍ أَوْ مِنْ بَقَرَةٍ .وَقَال الْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ : لاَ يُجْزِئُ فِي الْعَقِيقَةِ إِلاَّ بَدَنَةٌ كَامِلَةٌ أَوْ بَقَرَةٌ كَامِلَةٌ

“Aqiqah sudah mencukupi dengan jenis hewan yang sama dengan qurban, yaitu jenis hewan ternak seperti Unta, Kerbau, dan Kambing, dan tidak sah selain itu. Ini telah disepakati oleh kalangan Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah, dan ini menjadi pendapat yang lebih kuat dari dua pendapat kalangan Malikiyah, yang diutamakan adalah bahwa tidak sah kecuali dari jenis hewan ternak. Kalangan Syafi’iyah mengatakan: telah sah aqiqah dengan hewan yang seukuran dengan hewan yang telah mencukupi bagi qurban, minimal adalah seekor kambing yang telah sempurna, atau sepertujuh dari Unta atau Sapi.

Kalangan Malikiyah dan Hanabilah mengatakan: tidak sah aqiqah kecuali dengan Unta dan Sapi yang telah sempurna.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 30/279)
Imam Ibnul Mundzir membolehkan Aqiqah dengan selain kambing, dengan alasan:

مَعَ الْغُلَامِ عَقِيقَةٌ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الْأَذَى

“Bersama bayi itu ada aqiqahnya, maka sembelihlah hewan, dan hilangkanlah gangguan darinya.” (HR. Bukhari No. 5154. At Tirmidzi No. 1551 Ibnu Majah No. 3164. Ahmad No. 17200)

Menurutnya, hadits ini tidak menyebutkan kambing, tetapi hewan secara umum, jadi boleh saja dengan selain kambing.

Tetapi, pendapat yang mengatakan bolehnya aqiqah dengan selain kambing telah dikoreksi oleh para ulama muhaqqiq (peneliti), pendapat tersebut dianggap lemah dan telah diingkari oleh orang-orang mulia.

Sebagaimana yang diterangkan dalam riwayat berikut:

عن ابن أبى مليكة يقول نفس لعبد الرحمن بن أبى بكر غلام فقيل لعائشة رضى الله عنها يا ام المؤمنين عقى عليه أو قال عنه جزورا فقالت معاذ الله ولكن ما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم شاتان مكافأتان

Dari Ibnu Abi Malikah ia berkata: Telah lahir seorang bayi laki-laki untuk Abdurrahman bin Abi Bakar, maka dikatakan kepada ‘Aisyah: “Wahai Ummul Mu’minin, adakah aqiqah atas bayi itu dengan seekor unta?”. Maka ‘Aisyah menjawab: “Aku berlindung kepada Allah, tetapi seperti yang dikatakan oleh Rasulullah, dua ekor kambing yang sepadan.” (HR. Ath Thahawi, Musykilul Atsar, No. 871, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 19063.

Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’, 4/390)
Ini adalah riwayat pengingkaran yang sangat tegas bagi orang yang menggantikan Kambing dengan yang lainnya, sampai-sampai ‘Aisyah mengucapkan Ma’adzallah! (Aku berlindung kepada Allah).

Riwayat ini menjadi pembatal bagi siapa saja yang mencoba-coba mengganti hewan aqiqah menjadi Sapi atau Unta.
Dalam riwayat lain, dari ‘Atha Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

قالت امرأة عند عائشة لو ولدت امرأة فلان نحرنا عنه جزورا قالت عائشة : لا ولكن السنة عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة

Seorang wanita berkata di hadapan ‘Aisyah: “Seandainya seorang wanita melahirkan fulan (anak laki-kaki) kami menyembelih seekor unta.” Berkata ‘Aisyah: “Jangan, tetapi yang sesuai sunah adalah buat seorang anak laki-laki adalah dua ekor kambing dan untuk anak perempuan seekor kambing.” (HR. Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya No. 1033)

Oleh karena itu, dengan tegas berkata Imam Ibnu Hazm Rahimahullah:

ولا يجزئ في العقيقة الا ما يقع عليه اسم شاة إما من الضأن واما من الماعز فقط، ولا يجزئ في ذلك من غير ما ذكرنا لا من الابل ولامن البقر الانسية ولامن غير ذلك

“Tidaklah sah aqiqah melainkan hanya dengan apa-apa yang dinamakan dengan kambing (syatun), baik itu jenis kambing benggala atau kambing biasa, dan tidaklah cukup hal ini dengan selain yang telah kami sebutkan, tidak pula jenis unta, tidak pula sapi, dan tidak pula lainnya.” (Al Muhalla, 7/523. Darul Fikr)

Ini juga menjadi pendapat yang masyhur dari Imam Malik, bahwa tidak sah aqiqah dengan selain kambing. (Syarh An Nail wa Syifa Al ‘Alil, 4/539)

Begitu pula seorang ‘alim kontemporer, Syaikh Al Albani Rahimahullah:

و قولها ” لا ” ، فإنه صريح في أنه لا تجزي العقيقة بغير الغنم

Dan ucapan ‘Aisyah “Jangan”, itu begitu jelasnya bahwa tidak sah aqiqah dengan selain kambing. (As Silsilah Ash Shahihah, 6/219)

Imam Ibnul Qayyim menceritakan, bahwa telah ada kasus pada masa sahabat, di antara mereka melaksanakan Aqiqah dengan Unta, namun hal itu langsung dingkari oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Imam Ibnul Mundzir menceritakan, bahwa Anas bin Malik meng-aqiqahkan anaknya dengan Unta, juga dilakukan oleh Abu Bakrah dia menyembelih Unta untuk anaknya dan memberikan makan penduduk Bashrah dengannya.

Kemudian disebutkan dari Al Hasan, dia berkata: bahwa Anas bin Malik meng –aqiqahkan anaknya dengan Unta. Kemudian disebutkan hadits, dari Yahya bin Yahya, mengabarkan kepada kami Husyaim, dari ‘Uyainah bin Abdirrahman, dari ayahnya, bahwa Abu Bakrah telah mendapatkan anak laki-laki, bernama Abdurrahman, dia adalah anaknya yang pertama di Bashrah, disembelihkan untuknya Unta dan diberikan untuk penduduk Bashrah, lalu sebagian mereka mengingkari hal itu, dan berkata: ”Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memerintahkan aqiqah dengan dua kambing untuk bayi laki-laki, dan satu kambing untuk bayi perempuan, dan tidak boleh dengan selain itu.” (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud fi Ahkamil Maulud, Hal. 58. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Adapun alasan Imam Ibnu Mundzir bahwa hadits tersebut masih global, tidak menyebut jenis hewannya, maka hewan selain kambing juga boleh. Itu adalah pendapat lemah pula. Sebab, hadits tersebut telah ditafsirkan dan dirinci oleh berbagai hadits lain yang menjelaskan bahwa apa yang dimaksud hewan dalam hadits itu adalah kambing.

Menurut kaidahnya, tidak dibenarkan mengamalkan dalil yang masih global, jika sudah ada dalil lain yang memberikan perincian dan penjelasannya secara khusus. Istilahnya Hamlul Muthlaq ila Al muqayyad (Dalil yang masih muthlaq/umum harus dibatasi oleh dalil yang muqayyad/terbatas).

Hadits-hadits yang memberikan rincian tersebut adalah (kami sebut dua saja). Dari Ummu Kurzin Radhiallahu ‘Anha, katanya:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافَأَتَانِ وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, bahwa untuk anak laki-laki adalah dua kambing yang sepadan, dan bagi anak perempuan adalah satu ekor kambing.” (HR. At Tirmidzi No. 1550. Ibnu Majah No. 3162. An Nasa’i No. 4141, juga As Sunan Al Kubra No. 4542. Ahmad No. 27142, Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 401, 402, 403, Al Awsath No. 1818. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 19059. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 4215. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih lighairih. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 27142)
Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نعق عن الغلام شاتين، وعن الجارية شاة.

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kami untuk meng-aqiqahkan anak laki dengan dua ekor kambing, dan anak perempuan seekor kambing.” (HR. Ibnu Majah No. 3163. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ Al Ghalil No. 1166)

Demikianlah hadits-hadits yang memberikan perinciannya. Masih banyak hadits lainnya, yang semuanya memerintahkan dengan kambing, tak satu pun menyebut selain kambing, justru yang ada adalah pengingkaran selain kambing.

Maka, jelaslah kelemahan pendapat yang mengatakan bahwa aqiqah boleh diganti dengan Sapi atau Unta. Wallahu A’lam.
Imam Ibnul Qayyim telah mengoreksi pendapat Imam Ibnul Mundzir dalam hal ini, menurutnya hadits yang menyebutkan sembelihan dengan hewan adalah masih umum, dan telah dirinci dengan riwayat hadits-hadits yang menyebut penyembelihan itu harus dengan kambing. Beliau mengatakan:

وقول النبي صلى الله عليه وسلم عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة مفسر والمفسر أولى من المجمل

“Dan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ‘untuk anak laki-laki dua kambing dan anak perempuan satu kambing,’ merupakan perincinya, dan rincian harus diutamakan dibanding yang masih global (umum).” (Tuhfatul Maudud, Hal. 58. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Inilah pandangan yang lebih rajih. Namun, kita tetap menghargai yang membolehkannya. Demikian. Semoga bermanfaat. Aquulu qauliy haadza wa astaghfirullah liy wa lakum …..

Wallahu A’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Ustadz Menjawab: Membeli Barang Lelang

Oleh: Ust. Rikza Maulan Lc. MAg.
       
Pertanyaan:

Assalamu’alaikum..

Ustadz ingin bertanya..

Bagaimana hukum membeli barang dari lelang atau sitaan leasing yangg macet kreditnya bagaimana ya..?

#pertanyaan dr member grup akhwat A 63

—-
Jawaban :

Waalaikumussalam wr wb.

Hukum membeli barang dari hasil sitaan pembiayaan yg macet dari bank syariah atau leasing syariah hukumnya boleh saja.

Sedangkan jika dari bank atau leasing konvensional, hukumnya tdk boleh.

Karena kalau bukan syariah, berarti barang tsb merupakan hasil sitaan atas transaksi riba. Dan riba hukumnya haram.

Sedangkan kalau dari syariah, barang tsb merupakan hasil jual beli, dimana objek jual beli sekaligus menjadi alat bayar apabila nasabah kesulitan membayar pembiayaannya.

Wallahu A’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Ustadz Menjawab: Jual Beli

Oleh: Ust. Rikza Maulan Lc. M Ag.

Pertanyaan:

Ustadz kalo per kayuan biasanya begini prosesnya :dari petani Pohon berdiri(kubikasi belum pasti) dijual ke Penebang,  dari penebang dipotong sehingga ukuran (kubikasi jelas), terus dijual ke Pangkalan harga per kubikasi,

Apakah aktivitas Beli Si Penebang termasuk yg dikharamkan ?

Kalo ini termasuk diharamkan… Siap meninggalkan profesi beli pohonnya,  ganti profesi

(I-09 Mustolih)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wr wb.

Menaksir harga kayu dari pohonnya yg sudah siap tebang, hukumnya boleh.

Karena objek akad jual belinya sudah ada (wujud) dan keberadaannya sdh jelas.

Adapun ukuran kubikasi yg belum jelas, tidak mengapa dengan syarat ada standar umum harga pohon berdasarkan ukurannya.

Misal utk pohon dgn diameter tertentu, maka harganya sekian, kalau diameter lebih besar, harga lebih tinggi, kalau lebih kecil harga lebih rendah.

Kemudian kualitas pohon lebih baik juga harga lebih tinggi dst.

Jadi, selama ada patokan umum boleh saja.

Yang tidak boleh adalah ketika pohonnya masih kecil diperjualbelikan dengan pengambilan pohonnya ketika sudah besar.

Maka kalau seperti itu tidak boleh, mengandung unsur gharar.

Wallahu A’lam

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Ustadzah Menjawab: Seputar Keluarga

Oleh: Ustadzah Wulandari Eka Sari

1. Pertanyaan :

Assalamualaikum ustadzah Wulan, Jika melihat beberapa lapis dalam membangun keluarga seperti yang ustadzah sampaikan sangatlah bagus dan ideal untuk semua keluarga muslim. Tapi dalam praktek di lapangan sehari-hari seringnya kita menemukan kendala-kendala terutama dalam mendidik anak-anak kita. Wa bil khusus untuk anak yang mulai menginjak remaja. Karena faktor pergaulan dan lingkungan di luar rumah mau tidak mau juga ikut andil dalam membentuk pribadi anak kita. Sekuat tenaga kita sebagai orang tua pastilah kita upayakan untuk tetap melakukan yang terbaik untuk menjaga anak kita dari pengaruh buruk pergaulannya di luar rumah. Nah yg saya mau tanyakan adalah, kiat-kiat apa atau apa yg perlu kita lakukan sebagai ortu bagi anak yang mulai remaja agar anak kita bisa tetap ada pada rule-rule yang sudah kita susun dalam mencapai keluarga muslim yang diharapkan Allah seperti yang ustadzah wulan sampaikan. (Ukhti Yani – Riyadh)

Jawaban :
Salam kenal ukhti Yani di Riyadh. Kendala dalam proses pendidikan di keluarga adalah hal yang lumrah. Merupakan bagian dari kehidupan. Maka ada beberapa hal yang bisa kita siapkan agar ketika kendala menghadang, solusi bisa diperoleh.

Yang pertama : Dalam menjalani proses pendidikan keluarga kita harus selalu bersandar pada Allah. Bahwa setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan, itu bagian dari penciptaan Allah. “kenakalan” tidak hanya mutlak milik anak, orang dewasa pun bisa melakukannya. Karena itu dalam upaya pendidikan keluarga, selalu ingat bahwa Allah yang punya kuasa dalam menentukan segalanya. Kita hanya berupaya.

Yang ke dua : Dalam proses pendidikan keluarga semuanya berperan, semua bisa menjadi subyek dan obyek. Anak bisa belajar dari ortu dan sebaliknya. Hal ini melahirkan rasa saling menghargai dan membutuhkan. inilah prinsip tawashowbil haq tawashowbishobr tawashowbil marhamah.

Yang ketiga : Bangun komitmen bersama melalui komunikasi yang intensif dan ramah. Mengapa al quran banyak bercerita tentang kisah-kisah? Karena berkisah adalah sarana terbaik dalam membangun komunikasi. Dengan komunikasi yang harmonis antar anggota keluarga, proses pendidikan bisa dijalankan dengan baik… Allahu a’lam bish showab.

Proses pendidikan untuk anak memiliki keunikan di tiap fase usia. Seperti pesan Ali bin Abi Thalib ra, ada 3 fase yaitu usia 0-7 di mana anak ibarat raja, 7-14 anak ibarat tawanan dan di atas 14 anak adalah sahabat. Namun 3 fase itu saling berkelindan (berkaitan laksana rajutan). Bila dirasa anak usia baligh sulit diajak berkomunikasi, mungkin ada yang sempat ‘miss’ pada hubungan kita sebagai ortu dengan si anak di fase sebelumnya. Namun tidak ada kata terlambat utk perbaikan….

2. Pertanyaan :

Seperti apa langkah-langkah teknis yg dapat kami terapkan untuk anak umur 0-5 tahun agar kami orang tua dapat melahirkan anak-anak dengan kepribadian seperti yang di gambarkan dalam surah Al Ahzab ayat 35? ( Ummu Hisyma)

Jawaban :
Salam kenal Ummu Hisyma.. Usia 0-5 tahun adalah fase penting di mana sel neuron dalam otak sangat aktif membangun jaringan. Informasi apapun yg masuk di otak anak sangat melekat. Dalam ilmu neuroscience, dalam otak ada bagian ‘ketuhanan’. Di mana pada hakekatnya manusia itu mengakui keberadaan Dzat yang Maha Besar yang menguasai dirinya. Di usia ini, sangat baik dimulai dengan menstimulan pengenalan terhadap Allah. Misal ortu sering menyebut-nyebut Asmaul Husna, tilawah alQuran di dekatnya, kalau ortu memiliki bacaan al Quran yg bagus bisa juga mentalaqqi anak hafalan al Quran dan bercerita banyak kisah. Terkait perkembangan motorik kasar dan halus bisa dilakukan di rumah dan sekitarnya oleh keluarganya, misal pengenalan tubuh, alam, hal-hal di dalam dan sekitar rumah. Namun perlu diingat, pada fase ini fungsi pengembangan kognitif anak bukan prioritas. Sehingga tidak disarankan anak utk diajari membaca, menulis bila ia tidak tertarik. Stimulan dengan banyak hal yg bisa membuatnya mengenal Robbnya, RasulNya dan kondisi sekitarnya..

3. Pertanyaan

Bisa diceritakan ustdzh, pendampingan seperti apa yg ustdzh. Wulan berikan, hingga anak anak bisa terus termotivasi untuk mengambil jalannya dengan penuh kesadaran? (Ummu Ahda)

Jawaban :
Salam kenal Ummu Ahda. Pendampingan seperti apa yang kami lakukan, saya sendiri merasa belum optimal dan masih terus belajar.
📌Upaya pertama yg kami lakukan adalah ada kesamaan pandang antara suami dan istri dalam menjalani proses pendidikan, sehingga bisa saling sinergi. Karena dalam pendidikan anak, ada peran ayah dan peran ibu dalam proses pendampingan tersebut. Misal ada saat di mana ayah yg harus bersikap dan berbicara. Saya sendiri kadang ada momen merasa sulit utk bisa menyampaikan maksud saya ke anak2, lalu saya komunikasikan ke suami dan beliaulah yg berbicara ke anak2. Begitu juga kadang ada momen di mana anak butuh kelembutan sikap seorang ibu.

Yang kedua, membangun komitmen bersama dengan anak adalah upaya pendampingan ortu ke anak. Kita tidak bisa mengawasi mereka 24 jam. Komitmen inilah yang menjadi kesepakatan kita.

Yang ke tiga, mereview komitmen bersama sebagai upaya menyegarkan kembali hubungan ortu dan anak.

Yang ke empat, selalu mohon kepada Allah utk penjagaanNya kepada keluarga kita.

4. Pertanyaan :

Ustadzah, bagaimana membuat kurikulum yang pas bagi putra-putri kita, agar tercapai tujuan-tujuan sebagaimana tersebut di materi? (Ummu Maryam, Riyadh)

Jawaban :
Salam kenal Ummu Maryam di Riyadh. Bila ditanyakan ke saya, sebagai praktisi Homeschooling, saya sekarang menyebutnya Familyschooling, tidak bisa menyatakan kurikulum yg pas itu seperti apa. Karena tiap manusia unik. Apa yg saya tulis di artikel ttg 10 model pembentuk pribadi muslim adalah sarana yg saya coba pakai sebagai standar. Saya sendiri membuat kurikulum bisa utk 6 bulan atau untuk setahun disesuaikan dengan masing-masing anak.

Yang kita perlukan sebagai langkah pertama dalam membuat kurikulum adalah membangun kedekatan kita dengan anak. Output dari kedekatan ini adalah pengenalan satu dengan yang lain.

Yang kedua  dengan melakukan dokumentasi misal foto, pencatatan dll yg bisa dibuat menjadi portofolio yg bisa dijadikan tolak ukur perkembangan proses pendidikan anak.

Yang ketiga, kurikulum perlu direview dengan kembali melihat tujuan dengan anak sebagai subyek. Disesuaikan dg potensi, kapasitas dan kemampuan anak.

5. Pertanyaan :

Ustadzah, mau tanya bagaimana memotivasi anak agar bersemangat dlm menghafal al qur’an dan tumbuh kecintaannya thd al qur’an atas kesadaran pribadi , bkn atas suruhan ortu.

Jawaban :
Pengenalan terhadap al Quran bisa dilakukan sejak usia dini.

Yang pertama adalah banyak berdoa khusus meminta kepada Allah agar keluarga kita dirahmati dengan al Quran. Allahummarhamna bil Qur’an, Allahumma yassirlana litilawatil Qur’an, yassir lana li hifdzil Qur’an…

📌Yang kedua, banyak menghidupkan al Quran dalam kehidupan, bisa dengan tilawah, menghafal, berkisah yg diambil dr al Quran, membaca terjemah, mendengar murottal. Bahkan di saat iman sedang lemah, tetaplah dekat dengan al Quran walaupun hanya mendengar murottal, sedikit tilawah. anak-anak yang melihat kebiasaan ini jadi terbiasa hidup dengan al Qur’an dan tidak merasa canggung…

Yang ketiga, tidak mengapa di awal anak membaca dan menghafal Qur’an atas suruhan ortu. Tentu saja kita memotivasinya dengan niat liLlah dan dengan cara yg positif. Setelah menjalaninya, insya Allah pada diri anak perlahan tumbuh rasa cintanya pada al Qur’an dan mulai berinteraksi dg al Qur’an secara mandiri… Allahu a’lam bish showab.

6. Pertanyaan :

Bagaimana caranya agar dalam mendidik anak si anak tidak merasa sebagai objek tunggal tetapi mereka melihat bahwa ortu pun termasuk dalam proyek besar pendidikan dlm keluarga itu sendiri.

Jawaban :
Dalam proses pendidikan keluarga semua anggota keluarga terlibat. Ini yang perlu dihidupkan. Mulai dari yang kecil seperti saling membangunkan pagi, membersihkan rumah hingga yang besar seperti cara mewujudkan keinginan dll. Komunikasi, walaupun sepertinya sederhana tapi ternyata merupakan batu terbesar yang sering sulit dipecahkan dalam proses harmonisasi dalam keluarga. Inilah hal yang sangat perlu dibangun sejak awal. Jangan biarkan siapapun, suami, istri atau anak bahkan ortu kita, bila masih ada, membangun impian atau cita-citanya sendiri. Tak perlu sungkan menceritakan impian kita ke orang terdekat. Maka impian anak pun kita genggam bersama. Katakan padanya, kita jalan bareng yuk menuju ke impianmu.

7. Pertanyaan :
Ustadzah Wulan, dalam mendidik anak di rumah, apa kiat Ustadzah dlm manajemen emosi menghadapi rutinitas bersama anak?

Jawaban :
Manajemen emosi memang butuh jam terbang. Kalau teringat saya dulu sering tidak mampu mengontrol emosi pada anak ketika anak masih kecil dan pemahaman saya yg masih minim, saya merasa malu dan mohon ampun kepada Allah. Itu pun karena minimnya ilmu saya. Alhamdulillah itu tidak berlangsung lama. Kesadaran demi kesadaran Allah berikan dari kejadian-kejadian dalam kehidupan yg membuka mata saya untuk selalu move on. Rasa kesal kadang muncul baik kepada pasangan atau anak adalah hal lumrah. Namun yg membedakan kita dg org lain adalah pada cara mengendalikannya.

Yang pertama yang perlu menjadi kesadaran utama adalah tidak ada manusia sempurna. Begitu juga anak kita. Kesalahan yg dilakukannya atau hal yang tidak menyenangkan bagi kita, bukan pula hal yg diharapkannya. Karena itulah Rasul saw mengatakan bahwa kesabaran itu ada pada pukulan pertama. Ketika masalah itu muncul di hadapan kita, istighfar, bertasbih, mencoba tenang, berpikir positif dan bersikap positif.

📌Yang kedua, ajak anak utk menyelesaikan masalah bersama. Tidak melempar masalah ke pihak lain dan meminta pihak lain menyelesaikannya.

📌Yang ke tiga, utk keluar dr rutinitas yg kadang menjenuhkan kita, buatlah hal-hal yang di luar dari rutinitas kita dan buang pikiran bahwa itu akan membebani kita nantinya. Misal bila kita ingin bersantai di hari ahad, biarlah rumah berantakan, makanan apa adanya, anak-anak tidak mandi dll.. Itu hanya terjadi sehari, dan tidak akan mengubah banyak hal… asal ibadah tetap baik loh…
Allahu a’lam bi showab….

Bismillah… Tidak ada manusia sempurna kecuali Rasulullah saw.. Dalam proses pendidikan keluarga, hanya Allah yang berkehendak menentukan kita akan bagaimana. Semoga Allah mudahkan cita-cita mulia dan langkah-langkah kita… fa idza ‘azamta fa tawakkal ‘alaLlah…

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Tanya Ustadz/Ustadzah: Seputar Keluarga

Dari mba Sumi Ati member A 83

Afwan ustadzah ada yang ingin saya tanyakan.

 Ini dari seorang teman, yang sudah bersuami.  Dia bilang suaminya seringkali selingkuh suka marah-marah dengan ucapan2 kasar, dan kadang dia juga ringan tangan, tidak sholat sehingga merasa sudah tidak tahan lagi menghadapi tingkahnya

Pertanyaan dia, apakah berdosa jika dia meminta untuk cerai /Khuluq.

 Ustadzah…. syukron

Jawaban Ustadzah Indra Asih:

Asalnya seorang wanita dilarang untuk meminta dicerai.

Nabi shallallahu ‘alaiahi wa sallam bersabda:

أيُّما امرأةٍ سألت زوجَها طلاقاً فِي غَير مَا بَأْسٍ؛ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الجَنَّةِ

“Wanita mana saja yang meminta kepada suaminya untuk dicerai tanpa kondisi mendesak maka haram baginya bau surga” (HR Abu Dawud no 1928, At-Thirmidzi dan Ibnu Maajah, dan dishahihkan oleh Syaikh Albani)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

الْمُخْتَلِعَاتُ وَالْمُنْتَزِعَاتُ هُنَّ الْمُنَافِقَاتُ

“Para wanita yang khulu’ dari suaminya dan melepaskan dirinya dari suaminya, mereka itulah para wanita munafiq” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 632)

Para ulama telah menyebutkan perkara-perkara yang membolehkan seorang wanita meminta khulu’ (pisah) dari suami, di antaranya:

1. Akhlak suami yang buruk terhadap sang istri, seperti suka menghinanya atau suka memukulnya.

2. Agama sang suami yang buruk, seperti sang suami yang terlalu sering melakukan dosa-dosa, seperti minum khomr, berjudi, berzina, atau sering meninggalkan sholat, dll

Bersabar lebih baik

Memang menjadi idaman setiap wanita untuk mendapatkan suami yang shalih, yang lembut, setia, pengertian, bertutur kata halus, berimu, membimbing, bertanggungjawab dan kriteria-kriteria ideal lainnya. Namun harus diingat, saat ini kita hidup di dunia, bukan di surga. Dunia adalah negeri ujian, bukan negeri pembalasan.

Sebaik-baik suami tentu tetaplah ada celah kekurangannya, dan seburuk-buruk suami tentu tetaplah ada sisi kebaikannya.

Setiap kali wanita bertemu dengan kondisi tidak ideal dalam rumah tangga yang menyusahkannya akibat perlakuan suami, maka sebaik-baik sikap adalah Shobr (tabah). Kesusahan yang dihadapi dengan Shobr karena semata-mata ingin memperoleh ridha Allah, akan menghapuskan dosa dan kesalahan seorang hamba.

Bukhari meriwayatkan
dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.(H.R.Bukhari)

Terhapusnya dosa bermakna bersihnya diri. Bersihnya diri dan kesucian jiwa akan membuat seorang hamba dicinta Rabbnya. Jika seorang hamba sudah dicintai Rabbnya maka doanya akan didengar, kebutuhannya akan dipenuhi, dilindungi dari marabahaya, dan dibela jika disakiti. Boleh jdi juga dengan kedekatan kepada Allah seorang wanita bisa membuat ‘keajaiban’, yakni menjadi perantara suaminya menjadi orang shalih sebagaimana dirinya.

Wallahu a’lam

Ustadzah Menjawab: Seputar Shalat

Oleh: Ustz Aan Rohana

Pertanyaan

1. Jika kita shalat sebelum azan dgn jeda waktu tdk terlalu lama krn di daerah tsb jauh dr masjid/ musholla ternyata pas kita shalat baru terdengar sayup2 azan, apakah kita hrs mengulang shalat kita lg atau tdk?

2. Mengenai qorin, sy pernah baca tp sy lupa dimana krn sdh lama skli klo qorin itu afa yg baik ada yg jahat… Tapi saat ini saya baca lagi qorin itu jahat smua kec qorinnya nabi muhammad SAW.

3. Bagaimana cara kita mhadirkan hati pd saat shalat krn seringkali kita sdh berusaha khusyu’ tp sering ada lintasan2 pikiran yg muncul

Jzklh khair ust/ ustz atas penjelasannya

Jawaban:

Jika shalat dilakukan sudah masuk waktunya. Maka shalatnya sah sekalipun belum terdengar adzan. Karena yg menjadi syarat sahnya shalat adalah sudah masuk waktunya.
Sdgk adzan itu utk panggilan shalat.

Adzan juga menjadi isyarat sudah masuk waktu shalat, namun tdk semua sang muadzdzin adzan di awal waktu shalat terkadang ada yg tertunda bbrp menit.

2. Mengenai qorin , iya semua Qarin mengajak manusia kepada keburukan, kecuali hanya Qarin yg mendampingi Rasulullah SAW selalu mengajak pada kebaikan. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah kpd Aisyah rodiyallahu anha.

3. Cara mrnghadirkan khusyuk dlm shalat , adalah;

a. Menyiapkan dan mengkondisikan jiwa  utk shalat .
b. Konsentrasikan fikiran agar bisa fokus kepada bacaan dan gerakan shalat.
c. Memahami makna semua bacaan dan gerakan shalat.
d. Menghindari dari hal2 yg mengganggu kekhusyuan shalat.
e. Banyak berdoa kpd Allah agar diberikan kekhudyuan dlm shalat.
f. Merasakan diri yg hina sedang berhadapan dgn
 Allah yang Maha agung .

Wallahu a’lam

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Ustadz Menjawab: Seputar Muamalat

Oleh: Ust. Rikza Maulan Lc. M.Ag.

Pertanyaan:

1. Afwan ust, kalau petugas insenminasi buatan atau ib bgm? Petani biasanya bayar biaya ib.

2. Manis30 Tulus: Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. Afwan Ustad ”..mau nanya?…bagaimana tetang hukum Sperma Laki-laki yang katanya bisa di tanam ke Rahim Wanita, dari Sperma yang bukan Suaminya?”..apa istilah bayi Tabung itu Ustd?”…Jazaakallahkhair,Mohon Pencerahanya.Wassalamu alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

3. Ustadz, terkait dengan jual beli sperma,, bagaimana hukumnya bagi orang yang bekerja sebagai perantaranya..,misal rekan kami yang bekerja di dinas peternakan, salah satu kegiatan rutin mereka yaitu melakukan IB (inseminasi buatan) pada lembu, dengan memasukkan sperma unggul dari lembu lain yang merupakan benih unggul yang diperjual belikan kepada indukan. Mohon tanggapannya. Terima kasih
Abu faruqi i33

4. MANIS A55
Bgmn hukum ensiminasi buatan? Karena sekarang ini kan lagi trend, mau pilih bibit yg seperti apa silahkan saja dgn harga yg berbeda?

5. Bgmn hukum upah bg mantri/ dokter hewan yg mengkawinkan sapi dengan ensiminasi buatan?
Sangat penting info ini bg sy..krn ada sapi yg sy pelihara dg cara ini.

Jazakumullah

6. Jadi program “setetes mani sejuta harapan” yg merpkn program pemerintah mll bid pwternakan berupa peningkatan kualitas n kuantitas ternak dg inseminasi buatan ato kawin IB “tak sesuai syariah”?
Suryanto I28

Jawaban Ust Rikza:

 Wa’alaikumsalam wbr

1. Inseminasi buatan, apabika kadar mani pejantannya sdh ada, disimpan dan diproses dengan menggunakan tatacara tertentu yg bukan merupakan cara kawin alami hewan, adalah boleh, namun dengan syarat ;

1. Kadar kuantitas dan kualitasnya dapat diukur dengan jelas.
2. Proses suntik atau memasukkan mani pejantan yg sudah diproses adalah dengan cara khusus yang bukan merupakan kawin alami.
Apabila persyaratan tersebut sdh dilaksanakan, maka hukumnya boleh.

Adapun tidak boleh nya upah kawin pejantan secara alami adalah karena objek akadnya tidak jelas dan tidak diketahui serta tidak ada ukurannya secara jelas, sehingga menimbulkan gharar. Dan transaksi yg mengandung gharar adalah dilarang secara syariah.
Wallahu A’lam

2. Dalam kasus bayi tabung para ulama sepakat hukumnya boleh apabila sperma yg dimasukkan ke dalam rahim istri adalah bersumber dari sperma suami.

Apabila bukan berasal dari suaminya, maka hukumnya haram.
Wallahu A’lam

3. Petugas inseminasi buatan hukumnya boleh saja, karena hukum inseminasi nya juga boleh.

Yg tdk diperbolehkan adalah upah kawin pejantan karena mentransaksikan sesuatu yg tidak jelas keberadaan yaitu mani pejantan. Keberadaan bisa ada atau tidak ada.

Ukurannya juga tdk jelas dan cara memperoleh nya juga spekulasi bisa wujud atau tidak.
Wallahu A’lam

4, 5 & 6
 Inseminasi buatan, apabika kadar mani pejantannya sdh ada, disimpan dan diproses dengan menggunakan tatacara tertentu yg bukan merupakan cara kawin alami hewan, adalah boleh, namun dengan syarat ;

1. Kadar kuantitas dan kualitasnya dapat diukur dengan jelas.

2. Proses suntik atau memasukkan mani pejantan yg sudah diproses adalah dengan cara khusus yang bukan merupakan kawin alami.

Apabila persyaratan tersebut sdh dilaksanakan, maka hukumnya boleh.

Adapun tidak boleh nya upah kawin pejantan secara alami adalah karena objek akadnya tidak jelas dan tidak diketahui serta tidak ada ukurannya secara jelas, sehingga menimbulkan gharar.

Dan transaksi yg mengandung gharar adalah dilarang secara syariah.
Kalaupun harga bibit atau mani pejantannya berbeda tergantung kualitas nya, maka tetap boleh, selama mani tersebut sdh wujud adanya dan bukan masih berada dalam tubuh pejantan nya.

Wallahu A’lam

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Ustadz Menjawab: Mengambil Paksa Hak Kita

✏Ust. Farid Nu’man Hasan

Pertanyaan:

Assalamualaikum
Ustadz, mohon jawaban dan tanggapanya disertai hadits atau referensi shohi perihal kejadian berikut:
[06/12 18:22] SIP Doni: Bagaimana hukumnya mencuri uang hak kita sendiri?
Contoh: uang transport hak karyawan yg tidak diberikan, bolehkah karyawan mencuri uangnya sendiri?
[06/12 20:11] SIP Doni: Kasus ke-2, juga kisah nyata. Temen orang madura punya usaha rental mobil. Salah satu mobilnya dicuri. Karena ada GPSnya mobil ketemu diseorang penadah yg oknum TNI. Bukan ngembaliin mobil malah ngancam.
Teman saya pulang dgn tangan hampa tp tidak kehabisan akal. Dgn menggunakan kunci cadangan dia mengupah orang untuk mencuri mobilnya sendiri dari oknum TNI tsb.

Jawab:

Wa ‘alaikum salam, … afwan br sempet.
Mengambil hak kita sendiri yg telah dirampas orang lain, pada prinsipnya boleh. Atau, hak seorg yg ditahan pdhal sudah waktunya dia dapatkan sperti gaji karyawan yg ditunda2. Hal ini sbgmn dilakukan Hindun ketika mengambil uang belanja harian ke suaminya,  Abu Sufyan, tanpa sepengetahuan suaminya, lantaran Abu Sufyan bgtu bakhil kepadanya, dan nabi pun membolehkan karena itu haknya. Hanya saja, masalah ini juga ditimbang maslahat dan madharatnya.

Lalu, utk kasus korban pencurian yg punya kesempatan untuk mengambil kembali haknya, baik diam2 atau terang2an, ini juga tdk apa-apa. Sebab kezaliman yg dialaminya, jika dia mampu melawan lawanlah walau dgn tipu daya. Sebab, kata Nabi: Al Harbu khad’ah … perang itu tipu daya. Hr. Al Bukhari.

Wallahu a’lam

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Rizki Halal

Hukum Jual Beli Kucing

Pertanyaan

Assalamualaikum..
Ustadz, sya mau tnya ttg bagaimana hukum jual beli kucing. Karena saat ini utk memelihara kucing yg bagus, kbanyakan kita harus mmbelinya dgn uang yg tdk sedikit
Syukron
I5

Jawaban

✏ Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS

Wa ‘Alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. BIsmillah wal hamdulillahirabbil ‘alamin, wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Man walah, wa ba’d:

Ada beberapa hadits yang menunjukkan larangan jual beli kucing. Di antaranya:

Dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن ثمن الكلب والسنور

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang harga dari Anjing dan Kucing.” (HR. At Tirmidzi No. 1279, Abu Daud No. 3479, An Nasa’i No. 4668, Ibnu Majah No. 2161, Al-Hakim No. 2244, 2245, Ad Daruquthni No. 276, Al-Baihaqi, As Sunan Al-KubraNo. 10749, Ibnu Abi Syaibah, Al-Mushannaf, 54/4. Abu Ya’la No. 2275)

Imam At Tirmidzi mengatakan, hadits ini idhthirab(guncang), dan tidak shahih dalam hal menjual kucing. (Lihat Sunan At Ttirmidzi No. 1279) dan Imam An Nasa’i mengatakan hadits ini: munkar!(Lihat Sunan An Nasa’i No. 4668)

Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al-Mubarakfuri Rahimahullah mengatakan:

وقال الخطابي: وقد تكلم بعض العلماء في إسناد هذا الحديث. وزعم أنه غير ثابت عن النبي صلى الله عليه وسلم. وقال أبو عمر بن عبد البر: حديث بيع السنور لا يثبت رفعه. هذا آخر كلامه

“Berkata Al-Khathabi: sebagian ulama membicarakan isnad hadits ini dan mengira bahwa hadits ini tidak tsabit (shahih) dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Berkata Abu Umar bin Abdil Bar: hadits tentang menjual kucing tidak ada yang shahih marfu’. Inilah akhir ucapannya.” (Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al-Mubarakfuri, Tuhfah Al-Ahwadzi, 4/501. Cet. 2, 1383H-1963M. Maktabah As Salafiyah. Lihat juga Imam Abu Thayyib Syamsul Azhim Abadi,‘Aunul Ma’bud, 9/271. Darul Kutub Al-‘Ilmiyah)

Berkata Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah:

وليس في السنور شيء صحيح وهو على أصل الإباحة وبالله التوفيق

“Tidak ada yang shahih sedikit pun tentang kucing, dan dia menurut hukum asalnya adalah mubah (untuk dijual). (Imam Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 8/403. Muasasah Al-Qurthubah)

Pendhaifan yang dilakukan para imam di atas telah dikritik oleh Imam lainnya. Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:

 وَأَمَّا مَا ذَكَرَهُ الْخَطَّابِيّ وَأَبُو عَمْرو بْن عَبْد الْبَرّ مِنْ أَنَّ الْحَدِيث فِي النَّهْي عَنْهُ ضَعِيف فَلَيْسَ كَمَا قَالَا ، بَلْ الْحَدِيث صَحِيح رَوَاهُ مُسْلِم وَغَيْره . وَقَوْل اِبْن عَبْد الْبَرّ: إِنَّهُ لَمْ يَرْوِهِ عَنْ أَبِي الزُّبَيْر غَيْر حَمَّاد بْن سَلَمَة غَلَط مِنْهُ أَيْضًا ؛ لِأَنَّ مُسْلِمًا قَدْ رَوَاهُ فِي صَحِيحه كَمَا يُرْوَى مِنْ رِوَايَة مَعْقِل بْن عُبَيْد اللَّه عَنْ أَبِي الزُّبَيْر ؛ فَهَذَانِ ثِقَتَانِ رَوَيَاهُ عَنْ أَبِي الزُّبَيْر ، وَهُوَ ثِقَة أَيْضًا . وَاَللَّه أَعْلَم

“Ada pun apa yang dikatakan Al-Khathabi dan Ibnu Abdil Bar, bahwa hadits ini dhaif, tidaklah seperti yang dikatakan mereka berdua, bahkan hadits ini shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim dan selainnya. Sedangkan ucapan Ibnu Abdil Bar bahwa tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari Abu Az Zubair selain Hammad bin Salamah saja, itu merupakan pernyataan yang salah darinya juga, karena Imam Muslim telah meriwayatkan dalam Shahihnya sebagaimana diriwayatkan dari riwayat Ma’qil bin Abaidillah dari Abu Az Zubair, dan keduanya adalah tsiqah, dan dua riwayat dari Az Zubair juga tsiqah . ” (Imam An Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/420. Mawqi’ Ruh Al-Islam. Lihat juga Imam Al-Mula ‘Ali Al-Qari, Mirqah Al-Mafatih Syarh Misykah Al-Mashabih, Mawqi’ Ruh Al-Islam.)

Berkata Syaikh Al-Mubarakfuri Rahimahullah:

لا شك أن الحديث صحيح فإن مسلما أخرجه في صحيحه كما ستعرف

“Tidak ragu lagi, bahwa hadits ini adalah shahih karena Imam Muslim telah mengeluarkannya dalam kitab Shahihnya sebagaimana yang akan kau ketahui.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 4/500)

Imam Al-Mundziri Rahimahullah mengatakan:

والحديث أخرجه البيهقي في السنن الكبرى من طريقين عن عيسى بن يونس وعن حفص بن غياث كلاهما عن الأعمش عن أبي سفيان عن جابر ثم قال: أخرجه أبو داود في السنن عن جماعة عن عيسى بن يونس . قال البيهقي: وهذا حديث صحيح على شرط مسلم دون البخاري

“Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam As Sunan Al-Kubra dari dua jalan, dari ‘Isa bin Yunus dan dari Hafsh bin Ghiyats, keduanya dari Al-A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir. Kemudian dia berkata: Abu Dua mengeluarkannya dalam As Sunan, dari Jamaah dari ‘Isa bin Yunus. Berkata Al-Baihaqi: Hadits ini shahih sesuai syarat Muslim tanpa Al-Bukhari.” (Tuhfah Al-Ahwadzi , 4/500-501, ‘Aunul Ma’bud , 9/270)

Syaikh Al-Albani Rahimahullah menshahihkan hadits ini, menurutnya hadits ini memiliki tiga jalur yang satu sama lain saling menguatkan. (As Silsilah Ash Shahihah, 6/1155, No. 2971)

Hadits Imam Muslim yang dimaksud adalah: dari Abu Az Zubair, dia berkata:

سألت جابرا عن ثمن الكلب والسنور؟ قال: زجر النبي صلى الله عليه وسلم عن ذلك

Aku bertanya kepada Jabir tentang harga anjing dan kucing? Beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang hal itu.” (HR. Muslim No. 1569, Ibnu Hibban No. 4940)

Hadits ini shahih. Dan, secara zhahir menunjukkan keharaman jual beli kucing, Imam An Nawawi menyebutkan:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَة وَطَاوُسٍ وَمُجَاهِد وَجَابِر بْن زَيْد أَنَّهُ لَا يَجُوز بَيْعه ، وَاحْتَجُّوا بِالْحَدِيثِ

Dari Abu Hurairah, Thawus, Mujahid, Jabir bin Zaid, bahwa tidak boleh menjual kucing. Mereka berhujjah dengan hadits ini. (Al Minhaj, 5/420)

Dalam Nailul Authar, Imam Asy Syaukani mengatakan:

وفيه دليل على تحريم بيع الهروبه قال أبو هريرة ومجاهد وجابر وابن زيد

“Dalam hadits ini terdapat dalil haramnya menjual kucing, inilah pendapat Abu Hurairah, Jabir, dan Ibnu Zaid.” (Nailul Authar, 5/145)

Nampak ada perbedaan dengan apa yang dikatakan Imam An Nawawi dan Imam Abu Thayyib yang menyebutkan Jabir bin Zaid (sebagai satu orang), sedangkan di sisi lain Imam Asy Syaukani dan Syaikh Al-Mubarakuri menyebut Jabir, lalu Ibnu Zaid, sebagai dua orang yang berbeda.

Perbedaan lain adalah tentang posisi Thawus. Beliau disebut oleh Imam An Nawawi (dalam Al-Minhaj) dan Imam Abu Thayyib (dalam ‘Aunul Ma’bud) termasuk yang mengharamkan, tetapi oleh Imam Asy Syaukani (dalam Nailul Authar) dan Syaikh Al-Mubarakfuri (Tuhfah Al-Ahwadzi)disebutkan bahwa Thawus membolehkan menjual kucing. Wallahu A’lam

Ada pun jumhur (mayoritas) ulama mengatakan bahwa menjual kucing adalah boleh, karena dhaifnya hadits tersebut. (Tuhfah Al-Ahwadzi, 4/500). Namun, yang benar adalah hadits tersebut adalah shahih sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dan lainnya.

Tetapi, apakah makna pelarangan ini? Apakah bermakna haram? Demikianlah yang menjadi pandangan sebagian ulama. Namun sebagian lain mengartikan bahwa larangan ini menunjukkan makruh saja, yaitu makruh tanzih (makruh yang mendekati kebolehan) sebab menjual kucing bukanlah perbuatan yang menunjukan akhlak baik dan muru’ah (citra diri). (Ibid)

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan;

 وَأَمَّا النَّهْي عَنْ ثَمَن السِّنَّوْر فَهُوَ مَحْمُول عَلَى أَنَّهُ لَا يَنْفَع ، أَوْ عَلَى أَنَّهُ نَهْي تَنْزِيه حَتَّى يَعْتَاد النَّاس هِبَته وَإِعَارَته وَالسَّمَاحَة بِهِ كَمَا هُوَ الْغَالِب . فَإِنْ كَانَ مِمَّا يَنْفَع وَبَاعَهُ صَحَّ الْبَيْع ، وَكَانَ ثَمَنه حَلَالًا هَذَا مَذْهَبنَا وَمَذْهَب الْعُلَمَاء كَافَّة إِلَّا مَا حَكَى اِبْن الْمُنْذِر . وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَة وَطَاوُسٍ وَمُجَاهِد وَجَابِر بْن زَيْد أَنَّهُ لَا يَجُوز بَيْعه ، وَاحْتَجُّوا بِالْحَدِيثِ . وَأَجَابَ الْجُمْهُور عَنْهُ بِأَنَّهُ مَحْمُول عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ ، فَهَذَا هُوَ الْجَوَاب الْمُعْتَمَد

“Ada pun tentang larangan mengambil harga kucing, hal itu dimungkinkan karena hal itu tidak bermanfaat, atau larangannya adalah tanzih, sehingga manusia terbiasa menjadikannya sebagai barang hibah saja, ada yang menelantarkannya, dan bermurah hati, sebagaimana yang biasa terjadi. Jika dia termasuk yang membawa manfaat maka menjualnya adalah penjualan yang sah dan harganya adalah halal. Inilah pendapat madzhab kami dan madzhab semua ulama kecuali apa yang diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir. Bahwa dari Abu Hurairah, Thawus, Mujahid, Jabir bin Zaid, mereka tidak membolehkan menjualnya, mereka berhujjah dengan hadits tersebut. Jumhur menjawab bahwa hadits tersebut maknanya sebagaimana yang kami sebutkan, dan ini adalah jawaban yang dapat dijadikan pegangan.” (Al Minhaj, 5/420. Mawqi’ Ruh Al-Islam)

Demikian. Jadi menurut mayoritas ulama, larangan itu bukan bermakna haram tetapi masalah kepantasan dan adab, sebab memang kucing bukan hewan yang biasa diperjualbelikan sebab keberadaannya yang mudah didapat, dan manusia pun biasanya bisa seenaknya saja memeliharanya atau dia membiarkannya. Tetapi, bagi yang ingin berhati-hati dengan mengikuti pendapat yang mengharamkannya, tentu bukan pilihan yang salah. Perbedaan dalam hal ini sangat lapang, dan tidak boleh ada sikap keras dalam mengingkari. Wallahu A’lam

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Alihi wa Shahbihi ajma’in


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678