Berpura-pura Cerai

Assalaamu’alaikum wrwb.. Mohon maaf ustadz/ustadzah, ada beberapa hal penting yang ingin saya tanyakan :
1. Suami saya bermaksud mau membuat surat pernyataan cerai atas saya. Surat ini dia maksudkan hanya untuk membuktikan kepada istri pertamanya bahwa saya dan suami sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Tanpa punya niat benar-benar akan menceraikan saya.
Jika seperti ini bisa benar-benar jatuh talak atau tidak?

2. Bagaimanakah sebaiknya saya harus bersikap?
Memenuhi permintaan dari suami untuk menyembunyikan pernikahan ini atau saya ceritakan semuanya kepada istri pertamanya? Dengan resiko saya bisa diceraikan oleh suami.
Atau saya langsung meminta suami untuk menceraikan saya saja?

Mohon pencerahannya ya ustadza/ustadzah. Mudah-mudahan ustadz/ustadzah berkenan menjawabnya.
Terimakasih..

[Manis_A13] ————–

JAWABAN:

1. Iya, talaq akan jatuh.

2. Masalahnya bukan pada menceritakan atau tidak.. Tapi bila  ada tulisan pernyataan cerai berarti yaa sudah cerai/talaq.

 ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ
“Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius:
(1) nikah,
(2) talak, dan
(3) rujuk”.
( HR. Abu Daud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Jika seseorang menulis pesan kepada istrinya, maka talaknya jatuh.

Az Zuhri berkata, “Jika seseorang menuliskan pada istrinya kata-kata talak, maka jatuhlah talak. Jika suami mengingkari, maka ia harus dimintai sumpah”.

Ibrahim An Nakho’i berkata, “Jika seseorang menuliskan dengan tangannya kata-kata talak pada istrinya, maka jatuhlah talak”.

Ustadzah Dra. Indra Asih

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Seputar Nafkah Keluarga

Bismillaah. . ustadz/ustadzah.. Saya memiliki pertanyaan
1. Jika seorang anak laki-laki menafkahi ibunya yang sudah janda, apakah itu kewajiban? Bagaimana jika anak perempuan?
2. Jika seorang anak laki-laki memiliki saudara laki-laki dan perempuan yang yatim, apakah wajib menafkahi?
3. Jika seorang anak perempuan memiliki saudara laki-laki dan perempuan yang yatim, apakah wajib menafkahi?

[Manis_A19] ————

JAWABAN:

Kewajiban anak laki-laki bila sudah mampu dalam hal ini memiliki pekerjaan maka wajib menafkahi sehingga bisa membiayai kehidupan ibunya seorang janda dan saudara kandungnya yang yatim pula.  Sedangkan seorang perempuan yatim dapat meminta bantuan kepada kerabatnya dalam menafkahi ibu dan saudara kandungnya yang yatim.

Anak yatim adalah anak-anak yang kehilangan ayahnya karena meninggal sedang mereka belum mencapai usia baligh. Batasan ini mencakup yatim yang masih ada hubungan kekerabatan dengan si pemeliharanya, ataupun dari orang lain yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Salim bin Id Al Hilali hafizhahullah ketika mengomentari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:  كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ وَأَشَارَ الرَّاوِيُ وَهُوَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى  “Pemelihara anak yatim, baik dari kerabatnya atau orang lain, aku dan dia (kedudukannya) seperti dua jari ini di surga nanti.” Dan perawi, yaitu Malik bin Anas berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya”. [1] Beliau hafizhahullah berkata, “Makna (لَهُ أوْ لِغَيْرِهِ ) adalah kerabatnya ataupun ajnabi (orang lain). Sedangkan (yang termasuk) kerabat di sini, ialah ibu sang yatim, atau saudara laki-lakinya ataupun pihak-pihak selain mereka yang memiliki kekerabatan dengannya. Wallahu a’lam.” [2] Sebagian fuqaha juga memasukkan dalam kategori anak yatim ini, yaitu mereka yang kehilangan orang tuanya karena sakit dalam waktu yang sangat lama, atau karena perceraian, safar, jihad, hilang dan sebab-sebab lainnya. Dan seorang anak yatim akan keluar dari batasannya sebagai yatim, ketika ia telah mencapai usia baligh, sesuai dengan hadits Nabi Shallallahju.  لاَ يُتْمَ بَعْدَ احْتِلاَمٍ  “Tidak ada keyatiman setelah baligh ……” [3] Kerabat ataupun keluarga serta pihak-pihak yang memiliki hubungan dengannya lebih berhak untuk berbuat baik kepada si yatim, memenuhi kebutuhannya, mendidik serta mengarahkannya, mengasihi, mengayomi, menyayanginya serta mengasuhnya hingga ia tumbuh menjadi pribadi yang baik dan matang, serta siap menghadapi hidup ketika ia telah dewasa. Meski demikian, syari’at Islam yang sempurna, tidak hanya membatasi kewajiban berbuat ihsan kepada anak yatim hanya pada kerabatnya saja, namun kewajiban ini juga berlaku umum bagi setiap kaum muslimin sesuai dengan kadar kemampuan mereka. Banyak nash-nash syar’i yang menegaskan keutamaan menyantuni anak yatim dan menjanjikan balasan yang agung bagi para pemelihara anak yatim. Di antaranya ialah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَيَسْئَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَى قُلْ إِصْلاَحُُ لَّهُمْ خَيْرُُ وَإِن تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ  “Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah:”Mengurusi urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu”. [al Baqarah : 220]. Dalam menafsirkan ayat di atas, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata: Ketika turun ayat  إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرً  “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala”. [An Nisa’: 10]. Ayat tersebut terasa berat bagi para sahabat. (Sehingga para sahabat) segera memisahkan makanan mereka dari makanan anak yatim, karena khawatir akan memakan harta mereka, meskipun sebelumnya mereka terbiasa menggabungkan harta mereka dengan harta anak yatim (yang berada dalam kepengasuhannya). Mereka kemudian bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu, maka Allah memberi kabar kepada mereka, bahwa maksud (ayat tersebut) adalah berbuat ishlah dalam masalah harta anak yatim, dengan cara menjaga harta tersebut dan mengembangkannya dalam perdagangan. Dan menggabungkan harta mereka dengan harta anak yatim dalam masalah makanan ataupun selain itu, hukumnya boleh, asalkan tidak merugikan sang yatim. Kerena mereka itu adalah saudara kalian juga. Dan (sudah menjadi keumuman), jika saudara bergaul dan berbaur dengan saudaranya sendiri. Parameter dalam hal ini adalah niat serta amal (sang pengasuh yatim). Allah Maha mengetahui siapa yang berniat untuk berbuat baik kepada anak yatim dan dia tidak memiliki keinginan untuk mendapatkan harta yatim tersebut. Jika ada yang termakan olehnya tanpa ada maksud demikian, maka ia tidak berdosa.  Allah Maha mengetahui pula siapa yang berniat buruk dalam penggabungan harta tersebut, yakni ia ingin mendapatkannya kemudian ia memakannya. Demikian inilah yang berdosa. Karena washilah (sarana) memiliki hukum yang sama dengan maksud (tujuannya). [4] Dalam satu haditsnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أنا وَ كَافِلُ اليَتِيْمِ في الجَنَّةِ هكَذَا وَ أشَارَ بَالسَبَابَةِ وَ الوُسْطَى وَ فَرَّجَ بَيْنَهُمَا “Aku dan pemelihara anak yatim di surga nanti, kedudukannya seperti (dua jari ) ini,” dan Beliau memberikan isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan memisahkan keduanya”. [5] Dalam hadits tersebut, Rasulullah memberikan permisalan yang sangat gamblang tentang luhurnya kedudukan pemelihara anak yatim. Bahwa di surga nanti mereka memiliki kedudukan yang sangat dekat dengan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wallahu A’lam Bisshawab

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Silaturahmi Atau Silaturahim?

1.Assalamu’alaikum…apakah artinya bahwa air yg ada di sumber air tetap suci walaupun ada najis di dalamnya?
Lalu bgaimana dgn air yg sdh di pindahkan ke bak  air yg kemasukan najis?”

2. Penulisan kalimat yg benar itu silaturrahim apa silaturahmi ustadz?

Jawaban Ustad Haidir

Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullah ..
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ba’d:
 1. Kaidah yg sederhananya  ttg air yang terkena najis adalah…. jika tidak merubah warna rasa dan baunya… air itu suci dan dapat digunakan utk bersuci…. tinggal dicek saja airnya…

2. Yg lebih tepat sesuai ejaan bhs Arab adalah silaturrahim. Tapi ini bukan prinsip, yg menulis silaturrahmi juga dipahami maksudnya…. dan tdk perlu diingkari sedemikian rupa…

Wallahu A’lam. Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbhi Ajma’in.

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Haid, Darah Keluar (lagi) Setelah Dua Hari Bersuci

Assalamualaykum, ustadzah. Saya mau bertanya tentang masalah haid. Saya haid biasanya 6-7 hari. Bulan ini saya halangan lima hari. Dua hari bersih, besoknya keluar flek coklat, mungkin sisa darah haid. Pada saat terhenti dua hari tadi saya sholat. Jadi bagaimana hukumnya?
Terimakasih

[Rahma_ Manis 14] —————

Dalam ilmu Fiqih ada istilah Mu’taadah, artinya: Wanita yang punya kebiasaan haid yang stabil dan teratur. Patokannya bukan tiap tanggal berapa dia haid setiap bulannya, akan tetapi berapa hari lamanya mengalami haid setiap bulannya.

Setiap wanita Mu’tadah berbeda mengenai berapa lama kebiasaan haidnya, ada yang biasa mengalami haid 6 hari, ada yang terbiasa 7 hari, 8 hari, atau mungkin 10 hari di tiap bulannya. Biasanya, wanita akan tahu kebiasaannya apabila sudah mengalami 3 kali haid dan setiap haid itu durasinya selalu stabil dan teratur.

Seluruh ulama ahli Fiqih sepakat jika darah Mu’tadah sudah tidak keluar lagi sebelum kebiasaan masa haidnya berakhir, maka wanita ini sudah suci dan boleh menunaikan shalat. Jika wanita terbiasa mengalami haid selama 6 hari, sedangkan pada satu waktu haid darahnya sudah berhenti di hari ke-4 dan tidak keluar lagi, maka ia sudah masuk masa suci mulai sejak berhentinya darah.

 a. Madzhab Hanafi

Madzhab hanafi sangat menggaris bawahi istilah Mu’tadah dan bukan Mu’tadah dalam menentukan darah haid dan istihadhah. Menurut madzhab ini, Mu’tadah yang darahnya keluar melewati masa kebiasaan haidnya maka dihukumi istihadhah. Misalnya, bila ada wanita terbiasa haid 7 hari pada tiap bulannya, kemudian pada satu masa haid ternyata darahnya tetap mengalir di hari selanjutnya, maka darah yang keluar melewati 7 hari itu dianggap istihadhah.

Begitupula bila wanita terbiasa haid selama 6 hari, kalau tiba-tiba darahnya masih belum berhenti di hari ke-7 maka darah yang keluar di hari ke-7 dan selanjutnya itu dihukumi sebagai darah istihadhah.

Namun jika pada tiap bulannya ia terbiasa keluar haid melebihi 10 hari (misalnya terbiasa mengalami haid 11 hari atau 13 hari), maka yang dihukumi sebagai haid adalah 10 hari pertama, dan darah yang keluar melewati 10 hari dianggap istihadhah. Sebab menurut madzhab ini masa maksimal keluarnya darah haid adalah 10 hari 10 malam. Maka darah yang keluar melewati batas 10 hari dihukumi istihadhah.

Bila darah terputus di tengah-tengah masa haid

Madzhab Hanafi berpendapat bahwa wanita yang mengalami terputusnya darah haid, lalu beberapa hari kemudian darahnya keluar lagi, maka darah kedua ini dianggap darah haid juga. Dengan syarat darah kedua ini keluar di dalam masa rentang 10 hari (masa maksimal haid menurut madzhab ini)

Saat darah teputus, apakah wanita boleh shalat atau tidak?

Madzhab Hanafi mewajibkan wanita untuk menunaikan shalat di saat darahnya sedang berhenti keluar. Misalnya, bila wanita haid di tanggal 1-4 lalu darahnya berhenti di tanggal 5-6, kemudian darah keluar lagi di tanggal 7-9. Pada kondisi ini, tanggal 1-4 dan tanggal 7-9 si wanita tidak boleh shalat karena sedang haid, sedangkan di tanggal 5-6 saat darah berhenti si wanita tetap wajib shalat.

b. Madzhab Maliki

Apabila darah keluar di hari pertama, lalu terputus, kemudian keluar lagi. Maka darah yang pertama dan kedua dianggap satu fase darah haid. Dengan syarat bahwa darahnya tidak terputus atau tidak berhenti lebih dari 15 hari (yakni masa minimal suci menurut madzhab ini).

Pada masa terputusnya / berhentinya darah itu, ia wajib melaksanakan shalat krna ia dianggap suci. Dan saat darah haid keluar lagi (dalam rentang masa 15 hari tersebut), maka ia kembali dianggap haid dan tidak boleh menunaikan shalat.

Misalnya, bila seorang wanita keluar haid di tanggal 1-5, kemudian darahnya terputus atau berhenti di tanggal 6-8, kemudian ternyata keluar lagi darahnya di tanggal 9-10. Maka, tanggal 1-5 dan tanggal 9-10 ia berada dalam keadaan haid, sedangkan tanggal 6-8 dianggap suci dan wajib melaksanakan shalat.

Teori dari madzhab Hanafi dan Maliki mengenai terputusnya darah di tengah-tengah masa haid agaknya hampir sama, hanya saja dua madzhab ini berbeda dalam menetapkan masa minimal dan maksimal haid.

Menurut Madzhab Hanafi, masa minimal haid adalah 3 hari, sedangkan maksimalnya adalah 10 hari. Sedangkan menurut madzhab Maliki, masa minimal haid adalah beberapa tetes saja, sedangkan maksimalnya adalah 18 hari bagi Mu’tadah dan 15 hari bagi yang bukan Mu’tadah.

c. Madzhab Syafi’i

Ulama dari madzhab Syafi’i berpendapat bahwa darah yang berhenti kemudian keluar lagi dianggap seluruhnya satu ‘paket’ haid. Artinya, bahwa jika wanita haid mengalami masa terputusnya/berhentinya darah yang disusul keluarnya darah kedua, semua masa itu dianggap masa haid. Dengan syarat:

1. sejak pertama darah keluar hingga habisnya darah kedua itu tidak melebihi masa maksimal haid (15 hari).

2. darah yang berhenti itu ada di antara 2 masa keluarnya darah yang sempat terputus.

3. darah pertama yang belum sempat terputus sudah keluar minimal sehari semalam. (Mughni al-Muhtaj juz 1 hal. 119)

Misalnya: bila wanita mengalami haid pada tanggal 1-4, kemudian darah terputus dan tidak keluar di tanggal 5-7, lalu darah keluar lagi di tanggal 8-12, maka dari tanggal 1 hingga tanggal 12 dianggap seluruhnya dalam keadaan haid. Konsekwensinya, selama 12 hari itu ia dilarang menunaikan shalat.

Madzhab ini sepertinya lebih memudahkan para wanita untuk menghitung hari-hari haidnya. Apalagi bagi wanita yang siklus haidnya tidak teratur.

d. Madzhab Hambali

Pendapat dar madzhab ini lebih sederhana, yakni apabila darah haid wanita berhenti, baik karena terputus atau tidak, maka ia dihukumi sebagaimana wanita yang suci. Dan jika darahnya keluar lagi pada rentang masa ‘aadah atau kebiasaan haidnya, maka berarti ia kembali haid dan tidak boleh melaksanakan shalat. (al-Kaafi juz 1 hal. 186)

Demikian pendapat dari masing-masing madzhab muktamad. Mudah-mudahan dapat membantu para muslimah dalam menentukan haid dan tidaknya. Hal ini penting, sebab dengan mengetahuinya, para muslimah dapat mengerti kapan ia harus melaksanakan ibadah-ibadah tertentu seperti shalat dan puasa, dan kapan ia tidak boleh melaksanakannya.

Wallahu A’lam Bisshawab.

Ustadzah Suryanisah

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Bolehkah Muslimah ke Salon?

Bagaimana batas aurat muslimah kalau ke salon. Misalkan untuk luluran, pijit, dan sebagainya?

JAWABAN
————

Seorang wanita yang berhias hendaknya ia paham mana anggota tubuhnya yang termasuk aurat dan mana yang bukan. Aurat sendiri adalah celah dan cela pada sesuatu, atau setiap hal yang butuh ditutup, atau setiap apa yang dirasa memalukan apabila nampak, atau apa yang ditutupi oleh manusia karena malu, atau ia juga berarti kemaluan itu sendiri (al-Mu‘jamul Wasith).

Lalu, mana saja anggota tubuh wanita yang termasuk aurat? Pada asalnya secara umum wanita itu adalah aurat, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang artinya,

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu aurat, apabila ia keluar (dari rumahnya) setan senantiasa mengintainya” (HR Tirmidzi, dinilai shahih oleh al-Albani).

Namun terdapat perincian terkait aurat wanita ketika ia di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya, di hadapan wanita lain, atau di hadapan mahramnya.

Adapun aurat wanita di hadapan laki-laki yang bukan mahram adalah seluruh tubuhnya. Hal ini sudah merupakan ijma‘ (kesepakatan) para ulama. Hanya saja terdapat perbedaan pendapat diantara ulama terkait apakah wajah dan kedua telapak tangan termasuk aurat jika di hadapan laki-laki non mahram.

Sedangkan aurat wanita di hadapan wanita lain adalah anggota-anggota tubuh yang biasa diberi perhiasan. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallampernah bersabda,

لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ

“Tidak boleh seorang pria melihat aurat pria lainnya, dan tidak boleh seorang wanita melihat aurat wanita lainnya” (Hadits shahih Riwayat Muslim, dari Abu Sa‘id al-Khudriy radhiyallaahu ‘anhu).

Syaikh al-Albani mengatakan, “Sedangkan perempuan muslimah di hadapan sesama perempuan muslimah maka perempuan adalah aurat kecuali bagian tubuhnya yang biasa diberi perhiasan. Yaitu kepala, telinga, leher, bagian atas dada yang biasa diberi kalung, hasta dengan sedikit lengan atas yang biasa diberi hiasan lengan, telapak kaki, dan bagian bawah betis yang biasa diberi gelang kaki. Sedangkan bagian tubuh yang lain adalah aurat, tidak boleh bagi seorang muslimah demikian pula mahram dari seorang perempuan untuk melihat bagian-bagian tubuh di atas dan tidak boleh bagi perempuan tersebut untuk menampakkannya.”

Wallahu A’lam Bishshawab

Ustadzah Suryanisah

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Menjual Pakan Babi, Bagaimana?

Assalamualaikum, mau tanya tentang halal haram. Ada teman saya yang berbisnis pakan babi dan juga ekspedisi produk babi. Bagaimana hukumnya?

[Manis_A13] ————–

JAWABAN:

Babi adalah makhluk hidup yang perlu dilindungi dan disayangi keberadaannya sebagaimana makhluk hidup lainnya. Mereka pun juga membutuhkan pakan untuk kelangsungan hidupnya, maka menjual pakan untuk kelangsungan hidup babi adalah sesuatu yang dibolehkan khususnya ketika tidak ada lagi yang menjualkannya.

Namun begitu, Islam telah mengharamkan memakan segala sesuatu dari jasad babi. Maka beternak babi dikhawatirkan akan berkontribusi memelihara kebiasaan manusia memakannya yang akan menghalangi masuknya pintu hidayah. Inilah di antara hikmah mengapa manusia dilarang berjual beli babi, sebagaimana hadits berikut:

إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالأَصْنَامِ

“Sesungguhnya, Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi, dan patung.” (Muttafaqun Alaih)

Wassalam,
supraha.com

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Hukum Hypnoterapi

Assalamu’alaikum.. Ustad. Bagaimana hukum hypnoterapi dalam Islam? Benarkah menggunakan jin?

[Manis_A13] ————–

JAWABAN:

Sejauh pemahaman saya dalam seluruh teks agama ini, Islam melarang umatnya untuk mengosongkan pikiran dan menerima sesuatu masuk ke dalam dirinya melalui pengosongan jiwa.

Islam pun telah mengajarkan umatnya bagaimana cara meraih ketenangan jiwa dan melahirkan sifat-sifat terbaik seperti keberanian, optimisme, dan sejenisnya.

Pemanfaatan jin baru diketahui dari praktiknya bukan sekedar dari nama hypnotherapi. Maka menghukuminya dikembalikan kepada praktik yg dilakukan dan dampak yang diperoleh.

Wassalam,
supraha.com

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Dokter Periksa Aurat Pasien

Assalamu’alaikum.. Ustadzah. Saya mau tanya: Tentang aurat,
bagaimana dengan tugas seorang dokter atau perawat yang harus memeriksa pasiennya…?

[Manis_Vivin A08]

Wa’alaikumussalam.
Dalam hal aurat untuk tujuan berbeda (kondisi darurat) maka diperbolehkan. Bila ada dokter perempuan maka dianjurkan untuk memilih dokter yang perempuan terlebih dahulu. Kecuali, dokternya tidak ada yang wanita.

Agama Islam tidak pernah mempersulit umatnya, sholat pun bisa di rukhsoh dalam kondisi tertentu, begitu pula dalam kondisi berobat.

Ustadzah Ida Faridah

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Jual Beli Kredit

1. Assalamualaikum..  Ustadzah. Bagaimana hukumnya jual beli kredit dalam islam.Misalkan si A beli barang kepada si B, boleh pilih antara cash atau kredit.jika cash harganya Rp.300.000,- Jika kredit atau tempo satu bln hrga Rp.350.000,- Tempo 2 bulan Rp.400.000,-.Bolehkah spt itu? Terima kasih.

2. Ustadzah, saya nak nanya soal memakai cadar itu hukumnya bagaimana?

[Manis_A19_A18] ——————-

JAWABAN:

1. Pada prinsipya setiap sesuatu dalam muamalat itu adalah dibolehkan selama tidak bertentangan dengan syari’ah. Mengikuti kaidah fiqih.
Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar memenuhi akad yang mereka lakukan.
Untuk yang namanya kredit juga dibolehkan selama keduaya melaksanakan rukun dan syaratnya, perlu di ingat apabila sistem syari’ah tidak ada riba tapi  menggunakannya sistem bagi untung.

2. Hukum memakai cadar boleh tapi perlu di ingat yang namanya muka dan telapak tangan bukan termasuk aurat.

Wallahu a’alam

Ustadzah Ida Faridah

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com