Hukum Mensteril Binatang


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Saya ingin menanyakan bagaimana hukum mensteril binatang seperti kucing. Karena jika tidak disteril jumlahnya semakin banyak dan tidak terurus …
Terima kasih

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Jika populasi kucing terlalu banyak dan mengganggu, sementara sterilisasi tidak sampai menyakitinya, tidak masalah sterilisasi kucing.

Kalangan Hanafi menyatakan bahwa sterilisasi atau pengebirian pada binatang boleh. Sebab, ia memberikan manfaat baik bagi manusia maupun bagi binatangnya sendiri.

Kalangan Maliki juga membolehkan karena berpengaruh pada kualitas dagingnya yang menjadi baik.

Kalangan Syafii membedakan antara binatang yang boleh dimakan dan tidak. Untuk binatang yang dimakan maka hukumnya boleh selama tidak mendatangkan kebinasaan. Sementara untuk binatang yang tidak dimakan, maka dilarang.

Ahmad ibn Hambal pernah berujar, “Aku tidak suka jika dikebiri. hal itu lantaran ada larangan menyakiti binatang.”

Dapat disimpulkan bahwa dibolehkan sterislisasi pada binatang, jika:

– Mendatangkan manfaat baik bagi manusia maupun binatang itu sendiri.

– Menghilangkan bahaya dan gangguan yang ada.

– Dilakukan dengan cara yang tidak menyakiti.

– Tidak merusak populasinya.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Wudhu Air Hangat​

Assalamu’alaikum Ustadzah,izin bertanya,bagaimana hukumnya jika dalam kondisi sakit kita berwudu memakai air hangat? Terima kasih atas jawabannya.

🌺Jawaban :
—————-

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Mayoritas ulama’, termasuk madzhab syafi’i berpendapat bahwa bersuci dengan menggunakan air yang dipanaskan dengan selain menggunakan sinar matahari, seperti dengan api itu diperbolehkan dan tidak makruh, pendapat berbeda diriwayatkan dari Imam Mujahid yang menyatakan hukum penggunaannya adalah makruh.

Diantara dalil yang menguatkan diperbolehkannya menggunakan air yang dipanaskan dengan selain menggunakan sinar matahari adalah beberapa riwayat yang menjelaskan penggunaan air yang direbus oleh para sahabat dan tabi’in. Antara lain :

1. Aslam, budak sayyidina Umar, meriwayatkan ;

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يُسَخَّنُ لَهُ مَاءٌ فِي قُمْقُمَةٍ وَيَغْتَسِلُ بِهِ

“Sesungguhnya Umar bin Al-Khoththob rodhiyallohu ‘anhu direbuskan air didalam qumqumah (wadah untuk merebus air), lalu beliau mandi dengan menggunakan air tersebut.” (Sunan Kubro lil-Baihaqi, no.11 dan Sunan Daruquthni, no.85)

2. Diriwayatkan dari Ayyub, ia berkata

سَأَلْتُ نَافِعًا، عَنِ الْمَاءِ الْمُسَخَّنِ، فَقَالَ: كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَتَوَضَّأُ بِالْحَمِيمِ

“Aku bertanya pada Nafi’ mengenai (penggunaan) air yang dipanaskan, beliau menjawab : “Ibnu Umar berwudhu dengan menggunakan air panas.”(Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, no.256)

3. Diriwayatkan dari Abu Salamah, ia berkata ;

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: إِنَّا نَدَّهِنُ بِالدُّهْنِ وَقَدْ طُبِخَ عَلَى النَّارِ، وَنَتَوَضَّأُ بِالْحَمِيمِ وَقَدْ أُغْلِيَ عَلَى النَّارِ

“Ibnu Abbas berkata : “Kami (para sahabat) menggunakan minyak wangi yang dimasak diatas api, dan kami juga wudhu dengan air panas yang direbus diatas api” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, no.258)

4. Diriwayatkan dari Qurroh, ia berkata ;

سَأَلْتُ الْحَسَنَ عَنِ الْوُضُوءِ بِالْمَاءِ السَّاخِنِ، فَقَالَ: لَا بَأْسَ بِه

“Aku bertanya pada Al-Hasan, mengenai wudhu dengan air yang direbus, beliau menjawab : “Tidak apa apa”. (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, no.259)

( Dijawab oleh : dan )
Referensi :
1. Al Majmu’, Juz : 1 Hal : 91
2. Al Hawi Al Kabir, Juz : 1 Hal : 41
3. Al Bayan, Juz : 1 Hal : 14
4. Nihayatul Muhtaj, Juz : 1 Hal : 71
5. Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz : 39 Hal : 364
6. Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, Juz : 1 Hal : 31
Sumber:
fikihkontemporer.com

Wallahu a’lam.

Ilmu yang Bermanfaat

Assalamualaikum wrwb Ustadzah…Apakah amalan seorang guru ngaji masih mengalir pd sang guru itu (karena ilmu yg dia ajarkan masih di amalkan sama murid2 nya sampai saat ini)tetapi sekarang sang guru itu sudah tdk serajin dulu dlm beribadah.
🅰2⃣1⃣

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
In shaa Allah pahala akan terus mengalir pada beliau selama msh ada yg terus mengamalkan ajarannya…bahkan walau beliau sudah wafat… sesuai hadits berikut:

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim).

Kebaikan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah kebaikan agama maupun kebaikan dunia.

Termasuk dalam memberikan kebaikan di sini adalah dengan memberikan wejangan, nasehat, menulis buku tentang ilmu yang bermanfaat.

Hadits di atas semakna dengan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim)

Bentuk pengajaran ilmu yang bisa diberikan ada dua macam:

Dengan lisan seperti mengajarkan, memberi nasehat dan memberikan fatwa.

Dengan perbuatan atau tingkah laku yaitu dengan menjadi qudwah hasanah, memberi contoh kebaikan.

Wallahu a’lam.

Adzan di Kuburan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Afwan,mau tanya adzan di kuburan ada haditsnya kah ?Saat jenazah masuk liang lahat?
Pertanyaan dr member manis 04

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah …

Adzan dikuburan memang tidak kita temukan dalam Al Quran, As Sunnah, dan para imam madzhab. Tetapi, hal itu kita dapatkan dalam fiqih pengikut Imam Asy Syafi’i (Syafi’iyah), dengan alasan mengqiyaskan dengan adzan saat bayi dilahirkan.

Tertulis dalam ​Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah:​

شُرِعَ الأَْذَانُ أَصْلاً لِلإِْعْلاَمِ بِالصَّلاَةِ إِلاَّ أَنَّهُ قَدْ يُسَنُّ الأَْذَانُ لِغَيْرِ الصَّلاَةِ تَبَرُّكًا وَاسْتِئْنَاسًا أَوْ إِزَالَةً لِهَمٍّ طَارِئٍ وَالَّذِينَ تَوَسَّعُوا فِي ذِكْرِ ذَلِكَ هُمْ فُقَهَاءُ الشَّافِعِيَّةِ فَقَالُوا : يُسَنُّ الأَْذَانُ فِي أُذُنِ الْمَوْلُودِ حِينَ يُولَدُ ، وَفِي أُذُنِ الْمَهْمُومِ فَإِنَّهُ يُزِيل الْهَمَّ ، وَخَلْفَ الْمُسَافِرِ ، وَوَقْتَ الْحَرِيقِ ، وَعِنْدَ مُزْدَحِمِ الْجَيْشِ ، وَعِنْدَ تَغَوُّل الْغِيلاَنِ وَعِنْدَ الضَّلاَل فِي السَّفَرِ ، وَلِلْمَصْرُوعِ ، وَالْغَضْبَانِ ، وَمَنْ سَاءَ خُلُقُهُ مِنْ إِنْسَانٍ أَوْ بَهِيمَةٍ ، وَعِنْدَ إِنْزَال الْمَيِّتِ الْقَبْرَ قِيَاسًا عَلَى أَوَّل خُرُوجِهِ إِلَى الدُّنْيَا .

Pada dasarnya azan disyariatkan sebagai pemberitahuan untuk shalat, hanya saja adzan juga disunahkan selain untuk shalat dalam rangka mencari keberkahan, menjinakkan, dan menghilangkan kegelisahan yang luar biasa.
Pihak yang memperluas masalah ini adalah para ahli fiqih Syafi’iyah. Mereka mengatakan:

📌 Disunahkan adzan ditelinga bayi saat lahirnya
📌 di telinga orang yang sedang galau karena itu bisa menghilangkan kegelisahan,
📌 mengiringi musafir,
📌 saat kebakaran,
📌 ketika pasukan tentara kacau balau,
📌 diganggu  makhluk halus,
📌 saat tersesat dalam perjalanan,
📌 terjatuh,
📌 saat marah,
📌 menjinakan orang atau hewan yang jelek perangainya,
📌 saat memasukan mayit ke kubur diqiyaskan dengan saat manusia terlahir ke dunia.  ​(Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/372-373)​

Qiyas telah disepakati oleh empat madzhab sebagai salah satu sumber hukum Islam, setelah Al Quran, As Sunnah, dan Ijma’. Hanya saja mereka berbeda dalam domainnya. Sebagian ada yang mempersempit, sebagian ada yang memperluas.

Ada yang membolehkan qiyas dalam urusan ibadah, ada yang mengatakan qiyas hanya dalam masalah keduniaan.

Ada pun Imam Malik memakruhkan semua hal ini, tapi berbeda dengan pengikutnya (Malikiyah) yang justru sepakat dengan kalangan Syafi’iyah.  Berikut ini keterangannya:

وَكَرِهَ الإْمَامُ مَالِكٌ هَذِهِ الأْمُورَ وَاعْتَبَرَهَا بِدْعَةً ، إِلاَّ أَنَّ بَعْضَ الْمَالِكِيَّةِ نَقَل مَا قَالَهُ الشَّافِعِيَّةُ ثُمَّ قَالُوا : لاَ بَأْسَ بِالْعَمَل بِهِ

Imam Malik memakruhkan semua ini dan menyebutnya sebagai bid’ah, kecuali sebagian Malikiyah yang mengambil pendapat yang sama dengan Syafi’iyah, menurut mereka: “Tidak apa-apa mengamalkannya.” ​(Ibid, 2/372-373)​

Wallahu a’lam.

Pahala yang Tak Putus

Oleh: Dra Indra Asih

Assalamualaikum wrwb Ustadzah…
Apakah amalan seorang guru ngaji masih mengalir pd sang guru itu (karena ilmu yg dia ajarkan masih di amalkan sama murid2 nya sampai saat ini)tetapi sekarang sang guru itu sudah tdk serajin dulu dlm beribadah.

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
In shaa Allah pahala akan terus mengalir pada beliau selama msh ada yg terus mengamalkan ajarannya…bahkan walau beliau sudah wafat… sesuai hadits berikut:

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim).

Kebaikan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah kebaikan agama maupun kebaikan dunia.

Termasuk dalam memberikan kebaikan di sini adalah dengan memberikan wejangan, nasehat, menulis buku tentang ilmu yang bermanfaat.

Hadits di atas semakna dengan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim)

Bentuk pengajaran ilmu yang bisa diberikan ada dua macam:

Dengan lisan seperti mengajarkan, memberi nasehat dan memberikan fatwa.

Dengan perbuatan atau tingkah laku yaitu dengan menjadi qudwah hasanah, memberi contoh kebaikan.

Wallahu a’lam.

Mewarnai Rambut

Assalamu’alaikum ustadz/ah… saya mau tanya,Kalau kita mewarnai rambut boleh/tidak? Apa hukumnya?
Terima kasih.

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
1. Mewarnai atau menyemir rambut (Arab: khidob; shibgoh) hukumnya boleh dalam Islam dengan syarat asal bahan yang dibuat mengecat rambut suci, tidak najis dan tidak membahayakan.

2. Karena mewarnai rambut itu boleh, maka wudhu, mandi junub dan shalatnya sah.

Dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi dan Nasai Nabi bersabda:

غَيِّرُوا الشَّيْبَ وَلاَ تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ

Artinya: Rubahlah (warna) uban dan jangan serupakan dirimu dengan Yahudi.

Dalam menjelaskan hadits ini Al-Mubarakpuri dalam kitab Tuhfadzul Ahwadzi hlm. /354 menjelaskan bahwa mewarnai rambut yang sudah uban itu sunnah sebagaimana dilakukan oleh sebagian Sahabat seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab; sedang sebagian yang lain seperti Ali bin Abu Thalib tidak melakukannya.

Adapun warna yang dipakai hendaknya selain warna hitam karena ada larangan dari Nabi. Dalam hadits sahih riwayat Muslim dan lainnya (selain Bukhari dan Tirmidzi) diriwayatkan:

جيء بأبي قحافة يوم الفتح إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وكأن رأسه ثغامة فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : اذهبوا به إلى بعض نسائه فلتغيره بشيء وجنبوه السواد

Artinya: tatkala Abubakar membawa ayahnya Abu Kuhafah ke hadapan Nabi pada hari penaklukan Makkah, sedang Nabi melihat rambutnya bagaikan pohon tsaghamah yang serba putih buahnya maupun bunganya, maka Nabi bersabda: … ubahlah ini (uban) tetapi jauhilah warna hitam.

Dalam menanggapi larangan cat rambut warna hitam dalam hadits tersebut, ulama berbeda pendapat: ada yang menghukumi haram seperti Imam Nawawi ada juga yang menghukumi makruh (Lihat: Nailul Autar, 1/152).

Dalam kitab Al-Halal wal Haram fil Islam, Yusuf Qardhawi sepakat dengan pendapat yang makruh terutama bagi mereka yang usianya belum terlalu tua. Namun ia menganjurkan pada orang yang sudah sangat tua agar menghindari warna hitam. Qardhawi berkata:
 “Termasuk yang membolehkan menyemir dengan warna hitam ini ialah segolongan dari ulama salaf termasuk para sahabat, seperti: Saad bin Abu Waqqash, Uqbah bin Amir, Hasan, Husen, Jarir dan lain-lain.”

Adapun warna yang disunnahkan adalah merah atau merah kehitaman sesuai dengan hadits Nabi Riwayat Tarmizi dan Ashabussunan yang menganjurkan mewarnai rambut dengan bahan inai atau katam.

PENDAPAT ULAMA FIKIH EMPAT MAZHAB TENTANG SEMIR RAMBUT

🌿1. SEMIR RAMBUT DENGAN WARNA SELAIN HITAM

Ulama 4 mazhab (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hambali) sepakat atas bolehnya menyemir atau mewarnai rambut dengan warna coklat atau merah baik dengan bahan inai, katam, atau lainnya. Imam Nawawi (mazhab Syafi’i) dalam Al-Majmuk, hlm. 1/293-294, menyatakan:

يسن خضاب الشيب بصفرةٍ، أو حُمرةٍ، اتفق عليه أصحابنا، وممن صرَّح به الصيمري، والبغوى، وآخرون

Artinya: Sunnah mewarnai rambut uban dengan warna kuning atau merah, ulama mazhab Syafi’i sepakat atas hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Shaiari, Al-Baghawi dan yang lain.

Pendapat mazhab lain lihat: Mazhab Hanafi dalam Al-Fatawa Al-Hindiyah 44/45 dan Ad-Durrul Mukhtar 6/422. Mazhab Maliki dalam Al-Fawakih Ad-Dawani ala Risalati Abi Zaid Al-Qairuwani 8/191 dan Al-Istidzkar 8/439. Mazhab Hambali dalam Al-Mughni 1/105 dan Kashaful Qinak ala Matnil Iqnak 1/204.

🌿2. SEMIR RAMBUT DENGAN WARNA HITAM

A. BOLEH UNTUK TUJUAN JIHAD MELAWAN KAFIR

Ulama empat mazhab sepakat atas bolehnya semir rambut dengan warna hitam dalam keadaan jihad (perang membela agama). Imam Syarwani (mazhab Syafi’i) dalam Hawasyi As-Syarwani 9/375 berkata:

وهو (أي صبغ الشَّعر) بالسَّواد حرامٌ، إلا لمجاهدٍ في الكفار، فلا بأس به

Artinya: Mengecat rambut dengan warna hitam adalah haram kecuali bagi mujahid (pelaku jihad) atas kaum kafir maka boleh.

Pendapat serupa dari literatur klasik mazhab Syafi’i lihat dalam kitab Mughnil Muhtaj 4/293; Raudhah Talibin 1/364; Tuhfatul Muhtaj 41/203.

Pendapat dari mazhab lain atas bolehnya cat rambut warna hitam bagi mujahid lihat: Mazhab Hanafi dalam Al-Fatawa Al-Hindiyah 44/45; Mazhab Maliki dalam Al-Fawakih Ad-Dawani 8/191; Mazhab Hambali

B. HARAM SEMIR WARNA HITAM DENGAN TUJUAN PENIPUAN

Ulama sepakat atas haramnya menyemir rambut dengan tujuan menipu. Seperti seorang lelaki tua menyemir rambut saat hendak menikah agar disangka masih muda oleh wanita yang akan dinikahinya. Ini juga berlaku bagi wanita yang menyemir rambut dengan tujuan agar dikira masih muda oleh lelaki yang akan menikahinya. Rerensi lihat: Mazhab Hanafi dalam Al-Fatawa Al-Hindiyah 44/45; Mazhab Maliki dlam Al-Fawakih Ad-Dawani 8/191; Mazhab Hambali dalam Matolib Ulin Nuha 1/195.

C. MAKRUH SEMIR RAMBUT WARNA HITAM DENGAN TUJUAN BUKAN PENIPUAN

Mayoritas ulama mazhab empat berpendapat makruh mengecat rambut uban dengan warna hitam dengan tujuan bukan penipuan (kalau penipuan haram). Ini adalah pendapat mazhab Hanafi, Maliki, dan sebagian ulama Syafi’i (sebagian lain mengharamkan), dan Hambali. Imam Nawawi dalam Al-Majmuk 1/294 menjelaskan perbedaan ulama mazhab Syafi’i dalam soal ini:

اتفقوا على ذم خضاب الرأس أو اللحية بالسَّواد، ثم قال الغزالي في الإحياء، والبغوى في التهذيب، وآخرون من الأصحاب، هو مكروه، وظاهر عباراتهم: أنه كراهة تنـزيه

Artinya: Ulama Syafi’iyah sepakat mencela semir rambut kepala atau jenggot dengan warna hitam. (Tapi) Al-Ghazali berkata dalam Ihya Ulumiddin dan Al-Baghawi dalam At-Tahdzib dan ulama Syafi’i yang lain bahwa hukumnya makruh tanzih.

Pendapat mazhab lain lihat: Mazhab Hanafi dalam Hasyiyah Ibnu Abidin 6/422; Mazhab Maliki dalam Al-Istidzkar 8/439; Mazhab Hambali dalam As-Syarhul Kabir 1/133.

D. SEMIR RAMBUT WARNA HITAM BOLEH

Sebagian ulama non-mazhab menyatakan bahwa semir rambuat warna hitam hukumnya boleh sebagaimana dikutip oleh Yusuf Qardhawi di atas.

Wallahu a’lam.

Oleh: Dra Indra Asih

Bersalaman dgn Kerabat Bukan Mahram

Assalamu’alaikum ustadz/ah…                  
Jika orang tua beranggapan bahwa setiap anggota keluarga atau kerabat dekat yg di ikat karena satu suku dengan kita(ortu dan anak2nya) tanpa ada garis keturunan yg sekandung(Mahram) dan mereka menganjurkan agar bersalaman dengan yg bukan mahram kita tersebut sedangkan itu nyata salah.
Bagaimana cara menjelaskannya agar ortu si anak paham dan mereka tidak tersinggung dengan penolakan anak untuk bersalaman..
Terimakasih.

Jawaban
————–
www.manis.id
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

DR.  Yusuf Qardhawi (Ketua Persatuan Ulama Internasional) dalam bukunya Fatwa-fatwa Kontemporer (terbitan Gema Insani Pres) menjelaskan dengan detil terkait hukum berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram.

Kutipan kesimpulannya sbb:
(disarankan untuk mengkaji/membaca secara lengkap  di http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/Jabat1.html )

“Sesungguhnya ditusuknya kepala salah seorang diantara kamu dengan jarum besi itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” [HR Thabrani-Baihaqi]

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan pengambilan hadits di atas sebagai dalil:

1. Bahwa imam-imam ahli hadits tidak menyatakan secara jelas akan kesahihan hadits tersebut, hanya orang-orang seperti al-Mundziri dan al-Haitsami yang mengatakan, “Perawi-perawinya adalah perawi-perawi kepercayaan atau perawi-perawi sahih.”

Perkataan seperti ini saja tidak cukup untuk menetapkan kesahihan hadits tersebut, karena masih ada kemungkinan terputus jalan periwayatannya (inqitha’) atau terdapat ‘illat (cacat) yang samar. Karena itu, hadits ini tidak diriwayatkan oleh seorang pun dari penyusun kitab-kitab yang masyhur, sebagaimana tidak ada seorang pun fuqaha terdahulu yang menjadikannya sebagai dasar untuk mengharamkan berjabat tangan antara laki-laki dengan perempuan dan sebagainya.

2. Andaikata kita terima bahwa hadits itu sahih dan dapat digunakan untuk mengharamkan suatu masalah, maka saya dapati petunjuknya tidak jelas. Kalimat “menyentuh kulit wanita yang tidak halal baginya” itu tidak dimaksudkan semata-mata bersentuhan kulit dengan kulit tanpa syahwat, sebagaimana yang biasa terjadi dalam berjabat tangan. Bahkan kata-kata al-mass (massa – yamassu – mass: menyentuh) cukup digunakan dalam nash-nash syar’iyah seperti Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan salah satu dari dua pengertian, yaitu:

– Bahwa ia merupakan kinayah (kiasan) dari hubungan biologis (jima’) sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas dalam menafsirkan firman Allah: “Laamastum an-Nisa” (Kamu menyentuh wanita). Ibnu Abbas berkata, “Lafal al-lams, al-mulaamasah, dan al-mass dalam Al-Qur’an dipakai sebagai kiasan untuk jima’ (hubungan seksual). Secara umum, ayat-ayat Al-Qur’an yang menggunakan kata al-mass menunjukkan arti seperti itu dengan jelas, seperti firman Allah yang diucapkan Maryam:

– Bahwa yang dimaksud ialah tindakan-tindakan dibawah kategori jima’, seperti mencium, memeluk, merangkul, dan lain-lain yang merupakan pendahuluan bagi jima’ (hubungan seksual). Ini diriwayatkan oleh sebagian ulama salaf dalam menafsirkan makna kata mulaamasah.

Dari Aisyah, ia berkata:

“Sedikit sekali hari (berlalu) kecuali Rasulullah saw. mengelilingi kami semua – yakni istri-istrinya – lalu beliau mencium dan menyentuh yang derajatnya dibawah jima’. Maka apabila beliau tiba di rumah istri yang waktu giliran beliau di situ, beliau menetap di situ.”

Karena itu, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Fatawa-nya melemahkan pendapat orang yang menafsirkan lafal “mulaamasah” atau “al-lams” dalam ayat tersebut dengan semata-mata bersentuhan kulit walaupun tanpa syahwat.

Dalam menutup pembahasan ini ada dua hal yang perlu saya tekankan:

Pertama, bahwa berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan itu hanya diperbolehkan apabila tidak disertai dengan syahwat serta aman dari fitnah (fitnah seperti: dituduh selingkuh, menjalin asmara). Apabila dikhawatirkan terjadi fitnah terhadap salah satunya, atau disertai syahwat dan taladzdzudz (berlezat-lezat) dari salah satunya (apa lagi keduanya) maka keharaman berjabat tangan tidak diragukan lagi.

Bahkan seandainya kedua syarat ini tidak terpenuhi – yaitu tiadanya syahwat dan aman dari fitnah – meskipun jabatan tangan itu antara seseorang dengan mahramnya seperti bibinya, saudara sesusuan, anak tirinya, ibu tirinya, mertuanya, atau lainnya, maka berjabat tangan pada kondisi seperti itu adalah haram.

Bahkan berjabat tangan dengan anak yang masih kecil pun haram hukumnya jika kedua syarat itu tidak terpenuhi.

Kedua, hendaklah berjabat tangan itu sebatas ada kebutuhan saja, seperti yang disebutkan dalam pertanyaan di atas, yaitu dengan kerabat atau semenda (besan) yang terjadi hubungan yang erat dan akrab diantara mereka; dan tidak baik hal ini diperluas kepada orang lain, demi membendung pintu kerusakan, menjauhi syubhat, mengambil sikap hati-hati, dan meneladani Nabi saw.

Dan yang lebih utama bagi seorang muslim atau muslimah – yang komitmen pada agamanya – ialah tidak memulai berjabat tangan dengan lain jenis. Tetapi, apabila diajak berjabat tangan barulah ia menjabat tangannya.

Saya tetapkan keputusan ini untuk dilaksanakan oleh orang yang memerlukannya tanpa merasa telah mengabaikan agamanya, dan bagi orang yang telah mengetahui tidak usah mengingkarinya selama masih ada kemungkinan untuk berijtihad.

Wallahu a’lam.

Oleh: Dra Indra Asih

11 Cara Untuk Membangun Kesopanan Pada Remaja Kita

📚 KELUARGA & PARENTING

📝 Pemateri: Ustadzah Dra. INDRA ASIH

(edisi lengkap & terupdate)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

11 Cara Untuk Membangun Kesopanan Pada Remaja Kita


_”Sesungguhnya, ada akhlak dari setiap agama. Dan akhlak Islam adalah kesopanan” (HR Ibnu Majah)_

Saat ini bersikap malu atau malu-malu, sopan dalam berpakaian, berbicara, dan perilaku dianggap sesuatu yang kuno, bahkan dianggap masuk di masa “prasejarah”. Namun, ini adalah akhlak utama Islam.

Hal tersebut yang membedakan seseorang beriman dan mengenal Allah dengan yang tidak.

Tapi memang sangat sulit untuk menjaga kehormatan bagi seorang pemuda Muslim pada masa kini.

Karakteristik anak muda, terutama dalam 60 tahun terakhir, telah ditandai dengan ketidakdewasaan, bersamaan dengan ketidaksopanan dan sering melontarkan ekspresi tidak pantas yang vulgar, lalu mentertawai seseorang yang berusaha menjaga kesopanan. Hal tersebut berupa mengagungkan pakaian yang memamerkan aurot (terutama untuk remaja putri), pembicaraan dan lagu-lagu penuh dengan sindiran dan ekspresi-ekspresi porno dan tidak pantas, serta menganggap biasa semua jenis tindakan asusila di luar pernikahan, serta pergaulan bebas.

Baik lagu yang berisi ungkapan asusila, atau komedi remaja yang tidak baik, akan menjadi sumber referensi seksual mereka.

1⃣ *Mulailah dari diri sendiri – para orang tua*

_Lagi dan lagi, dan itu akan terus perlu untuk ditekankan – orang tua adalah teladan pertama bagi anak-anak mereka._

Jadi jika kita, sebagai orang tua, menikmati tontonan tayangan televisi yang menampilkan penampilan telanjang “ringan” atau pasangan pria dan wanita berbikini, situasi seksual (tidak harus pornografi), dan mengomentari bagaimana menariknya selebriti tertentu, saudara atau teman yang “hot”, ” lucu “, atau menarik, maka akan sulit untuk menyampaikan pentingnya seorang Muslim menjaga kehormatan.

Kita perlu duduk dan melakukan penilaian yang jujur ​​dari perilaku kita. Jika kita menangkap diri kita jatuh ke dalam atau memberi contoh dari perilaku tidak sopan, kita harus meminta ampunan Allah dan memutuskan untuk berusaha lebih keras untuk berkomitmen menjadi Muslim yang lebih bisa menjaga kehormatan.

Saat kini di mana-mana kita memandang, hampir mustahil untuk menghindari dari melihat sesuatu yang tidak sopan. Tetapi jika kita sadar dan meminta Allah untuk menolong kita, kita bisa melakukan lebih baik dalam hal ini meskipun tantangannya sangat besar.
Sehingga kita perlu memberikan contoh-contoh untuk anak-anak kita agar tetap berpegang pada akhlak sopan ini.

2⃣ *Hindari standar ganda kesopanan*

Seorang ibu Muslim, baru-baru ini mengeluh tentang bagaimana seorang gadis Muslim telah mengirim sms remaja putranya dan anaknya membalas sms tersebut.

Ketika ia ditanya mengapa anaknya tidak diminta untuk mengabaikan teks gadis itu atau dia memberitahu si gadis agar jangan mengganggu putranya, respon ibu ini adalah, “yah, dia anak laki-laki. Menurut kamu layak saja kan yang dia lakukan? Jika ada seorang gadis memberikan perhatian padanya, dia akan merespon. “

Sebaliknya, saya tidak ragu jika putrinya yang melakukan hal yang sama terhadap anak laki-laki, ibu ini akan bersikap keras pada dia.

Padahal perilaku sopan merupakan kewajiban bagi pria dan wanita dalam Islam (Quran 33:35) dan merupakan hal yang salah pada orang tua untuk memfokuskan seluruh perhatian kita hanya pada putri-putri kita saja dalam hal kesopanan dalam berpakaian dan perilaku. Tapi pada saat bersamaan memberikan kebebasan pada anak-anak lelaki kita untuk melakukan apa yang mereka suka.

Seperti bersikap berbeda jika kita mengetahui mereka telah menggoda seorang gadis di sekolah, melihat pornografi online, atau berbicara dengan seorang wanita atau gadis dengan tidak hormat.

_Standar kesopanan merupakan persyaratan untuk kedua jenis kelamin dalam Islam, dan kita harus menetapkan aturan yang lebih baik terhadap anak-anak kita baik putra maupun putri, agar berbicara, berpakaian, dan berperilaku sopan._

3⃣ *Memantau Media*

Televisi, video YouTube, Facebook, dan lain-lain adalah cara-cara yang mudah diakses yang menjadi ancaman berupa informasi dan hal-hal merusak lainnya.

Pemantauan konsumsi media anak-anak kita mutlak diperlukan, tidak peduli seberapa sibuk, lelah, atau buta huruf digital, kita sebagai orang tua.

Kebiasaan pornografi dapat tertangkap sejak awal oleh orang tua yang menyadari bahayanya. Misalnya, kita dapat menghapus foto memalukan yang diunggah jika mengetahui apa yang anak kita lakukan secara online.

Adapun terkait dengan konsumsi menonton televisi, duduklah dengan anak-anak untuk menonton bersama program yang mereka pilih. Hal ini tidak hanya akan membuat kita mengetahui apa yang mereka tonton, tetapi juga akan membuat mereka menyadari bahwa kita menonton bersama dia.

_Sangat penting juga untuk mengomentari dan menjelaskan jika ada yang tidak sopan atau tidak pantas dalam program tersebut, sehingga anak-anak tahu, misalnya, bahwa menatap aktor atau artis “hot” atau menonton mereka dalam adegan yang tidak pantas adalah salah._

4⃣ *Berpalinglah dari hal-hal yang tidak dapat kita hindari*

Kita dapat mematikan televisi, atau komputer atau ponsel, tetapi kita tentu tidak dapat melakukannya terhadap hal-hal vulgar yang terpampang di “billboard”.

Di beberapa tempat, jenis iklan meningkat, apakah itu iklan bir, pantai, atau bar.

Dalam kasus ini, pastikan kita memberi contoh dengan menghindar melihat dari hal yang tidak dapat dihindari dan berkata dengan lembut, tapi cukup keras untuk didengar anak-anak, ucapan “Astaghfirullah”.

5⃣ *Allah selalu mengawasi dan kita semua akan dimintai pertanggung jawaban*

Ini adalah kunci konsep Islam yang kita ajarkan dari masa kanak-kanak, tetapi perlu ditegaskan kembali ketika anak-anak mulai tumbuh remaja, mulai usia 9 atau 10.

Tanamkan pada anak-anak bahwa Allah selalu mengawasi segala sesuatu, dan Dia tahu jika kita berselancar dan melihat sesuatu yang tidak pantas secara online, mengirim SMS pada seseorang yang tidak boleh kita lakukan, atau mem-“posting” hal-hal yang Allah dan juga orang tua kita tidak akan setuju.

_Juga penting untuk menekankan pada anak-anak kita bahwa mulai saat anak laki-laki atau perempuan pubertas, maka tindakan mereka akan dihisab di akhirat dan mereka akan bertanggung jawab untuk diri mereka sendiri._

Tanamkan, jika orang tua mungkin tidak mengetahui setiap keburukan, tapi Allah maha tahu semua yang mereka lakukan. Di sampinh Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, Dia juga akan meminta pertanggungjawaban kita.

6⃣ *Apa yang akan Raulullah shalallahu ‘alaihi wassalam lakukan?*

Ini adalah pertanyaan harus kita tanyakan kepada diri sendiri dan mengajarkan anak-anak kita untuk melakukan hal yang sama ketika dihadapkan dengan berbagai macam situasi sehari-hari.

Akankah Nabi saw, merayu teman sekelasnya?
Bagaimana beliau saw akan merespon jika seseorang lawan jenis memintanya untuk sekedar “nongkrong-nongkrong” atau “chat online” sampai larut malam?
Apakah beliau saw akan menatap tak berkedip lawan jenis yang menarik, baik nyata atau online?

_Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, adalah panutan yang terbaik, dan contoh beliau adalah tujuan perilaku kita semua sebagai Muslim._

Menanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mengingatkan kita untuk segera kembali pada jalur kesopanan sesuai syariat Islam.

7⃣ *Jadikan setiap “pembicaraan” – islami*

Ketika banyak orang tua takut melakukan “pembicaraan” tentang seks, padahal hal tersebut lebih diperlukan pada saat ini dibandingkan masa sebelumnya. Jika orang tua bersikap demikian, anak-anak akan belajar lebih cepat tentang masalah seksual ini melalui paparan internet dan televisi.

Orang tua perlu juga mendiskusikan batasan-batasan dalam Islam yang terkait kesopanan.

Ini termasuk:

🔹Menahan pandangan (Quran 24:30 dan 31)

🔸Pakaian yang tepat, apa yang boleh dan apa yang tidak

🔹Bersikap terhadap rayuan baik secara langsung atau melalui SMS / Facebook

🔸Bagaimana berinteraksi dengan lawan jenis secara terhormat

8⃣ *Carikan teman yang bisa menjadi role model*

Nabi Muhammad, shalallahu ‘alaihi wassalam menekankan bahwa peran teman akan mempengaruhi iman seseorang.

Hal inipun berlaku untuk remaja. Carilah sosok buat anak kita yang kita rasa bahwa dia sudah mampu menerapkan pedoman Islam dalam kesopanan dengan baik. Jika usia mereka sama dengan anak-anak kita, doronglah anak-anak untuk bersahabat dengan mereka. Atau, doronglah anak ini untuk membentuk kelompok pemuda muslim sehingga pengaruh positif mereka dapat “menular” pada anggota kelompok lainnya.

9⃣ *Berikan pedoman berpakaian kemudian bebaskan mereka untuk memilih*

Ketika kita arahkan mereka untuk menggunakan pakaian yang tepat, banyak pemuda muslim merasa mereka tidak pernah bisa memutuskan sendiri pakaian mereka.

Mereka mungkin berpikir bahwa mereka diharuskan mengenakan pakaian yang terlalu ini atau itu yang tidak sesuai dengan selera mereka.

Mulailah mencoba pendekatan yang berbeda.

Beri mereka pedoman umum berpakaian secara syariat dan anggaran yang masuk akal. Misalnya, kita dapat mengatakan, “ini ada sekian rupiah, saya ingin kamu untuk menggunakan ini untuk membeli sendiri beberapa pakaian baru untuk liburan. Satu-satunya syarat yang saya minta adalah bahwa pakaian-pakaian itu harus islami.”

Hasilnya, kita mungkin akan terkejut melihat seberapa baik mereka memilih pakaian mereka, disertai tingkat pemahaman mereka tentang apa yang boleh dan apa yang tidak.

🔟 *Arahkan untuk mendapatkan hiburan yang halal, yang sesuai jenis kelamin*

Pada masa remaja, “banyak “suasana dramatis” akan terjadi. Penyebabnya, anak-anak muda menjadi lebih egois dan lebih sadar diri.

Satu jerawat yang tidak nampak oleh orang lain, akan menjadi sumber rasa malu dan kecemasan berlebihan buat mereka.

Jika ia merasa terlihat dengan “cara yang salah” dapat berarti memunculkan perasaan terkucil dari kelompok teman-temannya.

Sapaan biasa dari seorang lawan jenis, bisa berarti lebih dari sekedar “hi”.

Mari kita bantu Muslim muda kita untuk menemukan aktifitas yang halal untuk tetap sibuk -dengan teman sesama jenis. Kesibukan akan memangkas setengah dari drama kehidupan masa remaja mereka.

Olahraga dapat menjadi pilihan yang baik, Pramuka, dan pengabdian masyarakat (di luar apa yang dilakukan untuk sekolah) juga cara produktif untuk menghabiskan waktu dan mengembangkan keterampilan mereka. Juga, pemuda kita dapat kita arahkan menjadi bagian dari kegiatan masjid atau organisasi Islam di sekitar kita.

1⃣1⃣ *Berdoa*

“Tambatkanlah untamu, kemudian tawakkal lah pada Allah”, Nabi saw mengatakan hal tersebut pada seorang Badui yang hendak meninggalkan satu-satunya sarana transportasinya untuk berkeliaran bebas.

Hal yang sama harus dilakukan oleh orangtua dan dalam setiap usaha lainnya.
Kita bisa dan harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan kita, tapi pada akhirnya, Allah lah satu-satunya yang mengetahui segala sesuatu dan memutuskan hasil usaha kita, dan Allah juga yang akan membuat segala sesuatu menjadi mungkin.

Setelah kita melakukan setidaknya beberapa hal di atas, mari kita kembali kepada Allah SWT. Berdoa.

_Ya Allah… jadikanlah kami semua, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, menjadi muslimin yang bisa menjaga kehormatan sesuai dengan syariat Mu._

11 Cara Untuk Membangun Kesopanan Pada Remaja Kita* *(Bag. 2)

KELUARGA & PARENTING

Pemateri: Ustadzah Dra. INDRA ASIH

_Bagian 1_ : http://www.manis.id/2016/12/11-cara-untuk-membangun-kesopanan-pada.html?m=1

4⃣ *Berpalinglah dari hal-hal yang tidak dapat kita hindari*

Kita dapat mematikan televisi, atau komputer atau ponsel, tetapi kita tentu tidak dapat melakukannya terhadap hal-hal vulgar di “billboard”. Tampaknya di beberapa tempat, jenis iklan meningkat, apakah itu iklan bir, pantai, atau bar. Dalam kasus ini, pastikan kita memberi contoh dengan menghindar melihat dari hal yang tidak dapat dihindari dan berkata dengan lembut, tapi cukup keras untuk didengar anak-anak, ucapan “Astaghfirullah”.

5⃣ *Allah selalu mengawasi dan kita semua akan dimintai pertanggung jawaban*

Ini adalah kunci konsep Islam yang kita pelajari dari masa kanak-kanak, tetapi perlu ditegaskan kembali ketika anak-anak mulai tumbuh remaja, mulai usia 9 atau 10. Allah selalu mengawasi segala sesuatu, dan Dia tahu jika kita berselancar dan melihat sesuatu yang tidak pantas secara online, SMS dengan seseorang kita tidak boleh, atau mem-“posting” hal-hal yang Allah dan juga orang tua kita tidak akan setuju. Juga penting untuk menekankan dalam tulisan singkat ini, kita memberi tahukan anak-anak kita bahwa mulai saat anak laki-laki atau perempuan pubertas, tindakan mereka akan dihisab di akhirat dan mereka akan bertanggung jawab untuk diri mereka. Jadi, jika orang tua mungkin tidak mengetahui setiap keburukan, Allah tahu semua yang mereka lakukan. Sementara Dia adalah yang paling Pengampun dan Maha Penyayang, Dia juga meminta pertanggungjawaban kita.

6⃣ *Apa yang akan Raulullah shalallahu ‘alaihi wassalam lakukan?*

Ini adalah pertanyaan harus kita tanyakan kepada diri sendiri dan mengajarkan anak-anak kita untuk bertanya seperti itu ketika dihadapkan dengan berbagai macam situasi. Mendorong anak-anak untuk melakukan hal yang sama tentang hal-hal kesopanan dan isu-isu lainnya. Akankah Nabi saw, merayu melalui teman sekelasnya? Bagaimana dia akan merespon jika seseorang dari lawan jenis memintanya untuk ” nongkrong-nongkrong” sendiri atau “chat online” sampai malam? Apakah dia akan menatap tak berkedip seorang lawan jenis yang menarik, baik dalam kehidupan nyata atau online? Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, adalah panutan yang terbaik, dan contoh beliau adalah tujuan perilaku kita semua sebagai Muslim. Menanyakan pertanyaan ini, akan kembali mengingatkan kita untuk segera kembali pada jalur kesopanan.

_Bersambung ke bag.3_

11 Cara Untuk Membangun Kesopanan Pada Remaja Kita (Bag. 1)

Pemateri: Ustadzah Dra. INDRA ASIH

11 Cara Untuk Membangun Kesopanan Pada Remaja Kita (Bag. 1)

_”Sesungguhnya, ada akhlak dari setiap agama. Dan akhlak Islam adalah kesopanan”_
-Nabi Muhammad, shalallahu ‘alaihi wassalam, Ibn Majah1

Saat ini bersikap malu atau malu-malu, sopan dalam berpakaian, berbicara, dan perilaku dianggap sesuatu yang kuno, bahkan dianggap masuk di masa “prasejarah”. Namun, ini adalah akhlak utama Islam. Ini yang membedakan seseorang beriman dan mengenal Allah dengan yang tidak.
Tapi memang sangat sulit untuk menjaga kehormatan bagi seorang pemuda Muslim pada masa kini. Karakteristik anak muda, terutama dalam 60 tahun terakhir, telah ditandai dengan ketidakdewasaan, bersamaan dengan ketidaksopanan dan sering melontarkan ekspresi tidak pantas yang vulgar, lalu mentertawai seseorang yang berusaha menjaga kesopanan. Hal tersebut berupa mengagungkan pakaian yang memamerkan aurot (terutama untuk remaja putri), pembicaraan dan lagu-lagu penuh dengan sindiran dan ekspresi-ekspresi porno dan tidak pantas, serta menganggap biasa semua jenis tindakan asusila di luar pernikahan, serta pergaulan bebas.
Baik lagu yang berisi ungkapan asusila, atau komedi remaja yang tidak baik, akan menjadi sumber referensi seksual mereka.

1⃣ *Mulailah dari diri sendiri – para orang tua*

Lagi dan lagi, dan itu akan terus perlu untuk ditekankan – orang tua adalah teladan pertama bagi anak-anak mereka. Jadi jika kita, sebagai orang tua, menikmati tontonan tayangan televisi yang menampilkan penampilan telanjang “ringan”   atau pasangan pria dan wanita berbikini, situasi seksual (tidak harus pornografi), dan mengomentari bagaimana menariknya selebriti tertentu, saudara atau teman yang “hot”, ” lucu “, atau menarik, maka akan sulit untuk menyampaikan pentingnya seorang Muslim menjaga kehormatan. _Kita perlu duduk dan melakukan penilaian yang jujur ​​dari perilaku kita._ Jika kita menangkap diri kita jatuh ke dalam atau memberi contoh dari perilaku tidak sopan, kita harus meminta ampunan Allah dan memutuskan untuk berusaha lebih keras untuk berkomitmen menjadi Muslim yang lebih bias menjaga kehormatan. Saat  kini di mana-mana kita memandang, hampir mustahil untuk menghindari dari melihat sesuatu yang tidak sopan. Tetapi jika kita sadar dan meminta Allah untuk menolong kita, kita bisa melakukan lebih baik dalam hal ini meskipun tantangannya sangat besar. Sehingga kita perlu memberikan contoh-contoh untuk anak-anak kita agar tetap berpegang pada akhlak sopan ini.

2⃣ *Hindari standar ganda kesopanan*

Seorang ibu Muslim, baru-baru ini mengeluh tentang bagaimana seorang gadis Muslim telah mengirim sms remaja putranya dan anaknya membalas sms tersebut. Ketika ia ditanya mengapa anaknya tidak  diminta untuk mengabaikan teks gadis itu atau dia memberitahu si gadis agar jangan mengganggu putranya, respon ibu ini adalah, “yah, dia anak laki-laki. Menurut kamu layak saja kan yang dia lakukan? Jika ada seorang gadis memberikan perhatian padanya, dia akan merespon. “
Sebaliknya, saya tidak ragu jika putrinya yang melakukan hal yang sama terhadap anak laki-laki, ibu ini akan bersikap keras pada dia. Padahal perilaku sopan merupakan kewajiban bagi pria dan wanita dalam Islam (Quran 33:35) dan merupakan hal yang salah untuk memfokuskan seluruh perhatian kita hanya pada putri-putri kita saja dalam hal kesopanan dalam berpakaian dan perilaku. Tapi pada saat bersamaan memberikan kebebasan pada anak-anak lelaki kita untuk melakukan apa yang mereka suka, seperti bersikap berbeda  jika kita mengetahui mereka telah menggoda dengan seorang gadis di sekolah, melihat pornografi online, atau berbicara dengan seorang wanita atau gadis dengan tidak hormat. Standar kesopanan merupakan persyaratan untuk kedua jenis kelamin dalam Islam, dan kita harus menetapkan aturan yang lebih baik terhadap baik anak-anak kita baik putra maupun putri, agar berbicara, berpakaian, dan berperilaku sopan.

3⃣ *Memantau Media*

Televisi, video YouTube, Facebook, Instagram dan lain-lain adalah cara-cara yang mudah diakses yang menjadi ancaman berupa informasi  dan hal-hal merusak lainnya.                 🌷Pemantauan konsumsi media anak-anak kita mutlak diperlukan, tidak peduli seberapa sibuk, lelah, atau buta huruf digital, kita sebagai orang tua.  
🌷Kebiasaan pornografi dapat tertangkap sejak awal oleh orang tua yang menyadari bahayanya, misalnya. kita dapat menghapus foto memalukan yang diunggah jika menyadari apa yang anak kita lakukan online. Adapun terkait dengan konsumsi menonton televisi, duduklah dengan anak-anak untuk menonton bersama program yang mereka lakukan. Hal ini tidak hanya akan membuat kita menyadari apa yang mereka tonton, tetapi juga akan membuat mereka menyadari bahwa kita menonton bersama dia. _Sangat penting juga untuk mengomentari jika ada yang tidak sopan atau tidak pantas dalam program tersebut_, sehingga anak-anak tahu, misalnya, bahwa menatap aktor atau artis “hot” atau menonton mereka dalam adegan yang tidak pantas adalah salah.

bersambung…