Bulan Rajab dan Keutamaannya

๐Ÿ“† Selasa,  27 Jumadil Akhir 1437H / 5 April 2016

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹ Bulan Rajab dan Keutamaannya

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

1โƒฃ Rajab termasuk Ayshurul Hurum

Bulan Rajab adalah salah satu bulan mulia, yang telah Allah Taโ€™ala sebutkan sebagai asyhurul hurum (bulan-bulan haram). Maksudnya, saat itu manusia dilarang (diharamkan) untuk berperang, kecuali dalam keadaan membela diri dan terdesak.
Allah Taโ€™ala berfirman:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ู„ูŽุง ุชูุญูู„ู‘ููˆุง ุดูŽุนูŽุงุฆูุฑูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ุงู„ุดู‘ูŽู‡ู’ุฑูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ูŽ

๐Ÿ“Œโ€œHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah , dan jangan melanggar kehormatan bulan haram (syahral haram) โ€ฆโ€ (QS. Al Maidah (95): 2)

Ayat mulia ini menerangkan secara khusus keutamaan bulan-bulan haram, yang tidak dimiliki oleh bulan lainnya. Bulan yang termasuk Asyhurul hurum (bulan-bulan haram) adalah dzul qaโ€™dah, dzul hijjah, rajab, dan muharam. (Sunan At Tirmidzi No. 1512)

 Namun sebagian ulama mengatakan, larangan berperang pada bulan-bulan haram ini telah mansukh (dihapus hukumnya) oleh ayat wa qaatiluuhum haitsu tsaqiftumuuhum (dan perangilah mereka di mana saja kamu jumpai mereka).  Imam Ibnu Jarir lebih menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa ayat ini mansukh. (Jamiโ€™ Al Bayan, 9/478-479. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah).

 Imam Ibnu Rajab mengatakan kebolehan berperang pada bulan-bulan haram adalah pendapat jumhur (mayoritas ulama), pelarangan hanya terjadi pada awal-awal Islam. (Lathaif Al Maโ€™arif Hal. 116. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam)

Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุงู„ุณู†ุฉ ุงุซู†ุง ุนุดุฑ ุดู‡ุฑุงู‹ุŒ ู…ู†ู‡ุง ุฃุฑุจุนุฉูŒ ุญุฑู…ูŒ: ุซู„ุงุซูŒ ู…ุชูˆุงู„ูŠุงุชูŒ ุฐูˆ ุงู„ู‚ุนุฏุฉุŒ ูˆุฐูˆ ุงู„ุญุฌุฉ ูˆุงู„ู…ุญุฑู…ุŒ ูˆุฑุฌุจ ู…ุถุฑ ุงู„ุฐูŠ ุจูŠู† ุฌู…ุงุฏู‰ ูˆุดุนุจุงู†”.

๐Ÿ“Œ            โ€œSetahun ada 12 bulan, di antaranya terdapat 4 bulan haram: tiga yang awal adalah Dzul Qaโ€™dah, Dzul Hijjah, dan Muharam. Sedangkan Rajab yang penuh kemuliaan antara dua jumadil dan syaโ€™ban.โ€ (HR. Bukhari No. 3025)

2โƒฃ Rajab adalah bulan untuk banyak mengagungkan Allah Taโ€™ala

            Dinamakan Rajab karena itu adalah bulan untuk yarjubu, yakni Yaโ€™zhumu (mengagungkan), sebagaimana dikatakan Al Ashmuโ€™i, Al Mufadhdhal, dan Al Farraโ€™. (Imam Ibnu Rajab, Lathaif Al Maโ€™arif, Hal. 117. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam)

 Banyak manusia meyakini bulan Rajab secara khusus sebagai bulan untuk memperbanyak ibadah, seperti shalat, puasa, dan menyembelih hewan untuk disedekahkan. Tetapi, pengkhususan kebiasaan ini nampaknya tidak didukung oleh sumber yang shahih. Para ulama hadits telah melakukan penelitian mendalam, bahwa tidak satu pun riwayat shahih yang menyebutkan keutamaan shalat khusus, puasa, dan ibadah lainnya pada bulan Rajab, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, Imam Ibnu Rajab, Syaikh Sayyid Sabiq,  Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, dan lainnya.    Benar, bulan Rajab adalah bulan yang agung dan mulia, tetapi kita tidak mendapatkan hadits shahih tentang rincian amalan khusus pada bulan Rajab. Wallahu Aโ€™lam

3โƒฃ Penelitian Ulama Terhadap Hadits-Hadits Tentang Bulan Rajab

 Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah , Beliau berkata:

ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุตูŽูˆู’ู…ู ุฑูŽุฌูŽุจู ุจูุฎูุตููˆุตูู‡ูุŒ ููŽุฃูŽุญูŽุงุฏููŠุซูู‡ู ูƒูู„ู‘ูู‡ูŽุง ุถูŽุนููŠููŽุฉูŒุŒ ุจูŽู„ู’ ู…ูŽูˆู’ุถููˆุนูŽุฉูŒุŒ ู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ุชูŽู…ูุฏู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุดูŽูŠู’ุกู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽุชู’ ู…ูู†ู’ ุงู„ุถู‘ูŽุนููŠูู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูุฑู’ูˆูŽู‰ ูููŠ ุงู„ู’ููŽุถูŽุงุฆูู„ูุŒ ุจูŽู„ู’ ุนูŽุงู…ู‘ูŽุชูู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุถููˆุนูŽุงุชู ุงู„ู’ู…ูŽูƒู’ุฐููˆุจูŽุงุชู

๐Ÿ“ŒAda pun mengkhususkan puasa Rajab, maka semua hadits-haditsnya adalah dhaif bahkan palsu, para ulama tidak berpegang sedikit pun  terhadapnya, dan itu bukanlah termasuk dhaifnya riwayat tentang masalah keutamaan (fadhaail), bahkan umumnya adalah palsu lagi dusta … (Al Fatawa Al Kubra, 2/478, Majmu Fatawa, 25/290)

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah, berkata:

ูƒู„ ุญุฏูŠุซ ููŠ ุฐูƒุฑ ุตูŠุงู… ุฑุฌุจ ูˆุตู„ุงุฉ ุจุนุถ ุงู„ู„ูŠุงู„ูŠ ููŠู‡ ูู‡ูˆ ูƒุฐุจ ู…ูุชุฑู‰

๐Ÿ“ŒSemua hadits yang menyebutkan tentang puasa Rajab dan shalat pada sebagian malam-malamnya adalah dusta. (Al Manar Al Muniif, Hal. 96)

 Imam Ibnu Hajar Al โ€˜Asqalani Rahimahullah, mengatakan:

ู‚ุงู„ ุงุจู† ุญุฌุฑ : ู„ู… ูŠุฑุฏ ููŠ ูุถู„ู‡ุŒ ูˆู„ุง ููŠ ุตูŠุงู…ู‡ุŒ ูˆู„ุง ููŠ ุตูŠุงู… ุดุฆ ู…ู†ู‡ ู…ุนูŠู†ุŒ ูˆู„ุง ููŠ ู‚ูŠุงู… ู„ูŠู„ุฉ ู…ุฎุตูˆุตุฉ ู…ู†ู‡ุŒ ุญุฏูŠุซ ุตุญูŠุญ ูŠุตู„ุญ ู„ู„ุญุฌุฉ.

๐Ÿ“Œโ€œTidak ada hadits yang menyebutkan keutamaannya, tidak pula keutamaan puasanya, tidak ada puasa khusus pada Rajab, tidak juga shalat malam secara khusus, dan hadits shahih lebih utama dijadikan hujjah (dalil).โ€ (Dikutip oleh Syaikh Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah, 1/453)

Imam Ibnu Hajar juga berkata dalam Kitab Tabyinul โ€˜Ajab, sebagaimana dikutip oleh Imam Abdul Hay Al Luknawi:

ุฃู…ุง ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ูˆุงุฑุฏุฉ ููŠ ูุถู„ ุฑุฌุจ ุฃูˆ ุตูŠุงู…ู‡ ุฃูˆ ุตูŠุงู… ุดูŠุก ู…ู†ู‡ ูู‡ูŠ ุนู„ู‰ ู‚ุณู…ูŠู† ุถุนูŠูุฉ ูˆู…ูˆุถูˆุนุฉ

๐Ÿ“Œโ€œAdapun hadits-hadits yang ada tentang keutamaan Rajab atau puasanya atau sedikit puasa pada bulan Rajab, terdiri atas dua bagian; yaitu dhaif (lemah) dan maudhuโ€™ (palsu).โ€ (Al Atsar Al Marfuโ€™ah fil Akhbar Al Maudhuโ€™ah, hal. 59)

Imam Ibnu Rajab Al Hambali Rahimahullah, berkata:

ูˆุฃู…ุง ุงู„ุตูŠุงู… ูู„ู… ูŠุตุญ ููŠ ูุถู„ ุตูˆู… ุฑุฌุจ ุจุฎุตูˆุตู‡ ุดูŠุก ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆู„ุง ุนู† ุฃุตุญุงุจู‡

๐Ÿ“ŒAda pun puasa, tidak ada yang shahih sedikit pun tentang keutamaan puasa Rajab dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salam dan tidak pula dari sahabat-sahabatnya. (Al Latha-if Al Ma’arif, Hal. 228)

  Imam Al Munawi Rahimahullah berkata:

ุจู„ ุนุงู…ุฉ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ู…ุฃุซูˆุฑุฉ ููŠู‡ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูƒุฐุจ

๐Ÿ“Œ โ€œBahkan Umumnya hadits-hadits tentang keutamaan Rajab adalah dusta.โ€ (Faidhul Qadir, 4/24)

 Imam Muhammad bin Manshur As Samโ€™ani Rahimahullah, mengatakan:

ู„ู… ูŠุฑุฏ ููŠ ุงุณุชุญุจุงุจ ุตูˆู… ุฑุฌุจ ุนู„ู‰ ุงู„ุฎุตูˆุต ุณู†ุฉ ุซุงุจุชุฉุŒ ูˆุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุชูŠ ุชุฑูˆู‰ ููŠู‡ ูˆุงู‡ูŠุฉ ู„ุง ูŠูุฑุญ ุจู‡ุง ุนุงู„ู…

๐Ÿ“ŒTidak ada riwayat dalam sunah yang tsabit (kuat) tentang anjuran puasa Rajab secara khusus, dan hadits-hadits yang diriwayatkan tentangnya adalah lemah dan tidak  cukup membahagiakan para ulama. (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 4/331)

 Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

ูˆุตูŠุงู… ุฑุฌุจุŒ ู„ูŠุณ ู„ู‡ ูุถู„ ุฒุงุฆุฏ ุนู„ู‰ ุบูŠุฑู‡ ู…ู† ุงู„ุดู‡ูˆุฑุŒ ุฅู„ุง ุฃู†ู‡ ู…ู† ุงู„ุงุดู‡ุฑ ุงู„ุญุฑู…. ูˆู„ู… ูŠุฑุฏ ููŠ ุงู„ุณู†ุฉ ุงู„ุตุญูŠุญุฉ: ุฃู† ู„ู„ุตูŠุงู… ููŠู‡ ูุถูŠู„ุฉ ุจุฎุตูˆุตู‡ุŒ ูˆุฃู† ู…ุง ุฌุงุก ููŠ ุฐู„ูƒ ู…ู…ุง ู„ุง ูŠู†ุชู‡ุถ ู„ู„ุงุญุชุฌุงุฌ ุจู‡

๐Ÿ“ŒPuasa Rajab, tidak memiliki
kelebihan apa pun dibanding bulan-bulan lainnya, hanya saja dia termasuk bulan-bulan haram. Tidak ada dalam sunah yang shahih tentang bahwa  puasa pada bulan tersebut memiliki  keutamaan khusus, ada pun riwayat yang menyebutkan tentang hal itu tidak kuat dijadikan sebagai hujjah. (Fiqhus Sunnah, 1/453)

๐Ÿ“– Sebagai contoh:

โ€œSesungguhnya di surga ada sungai bernama Rajab, airnya lebih putih dari susu dan rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa yang berpuasa Rajab satu hari saja, maka Allah akan memberikannya minum dari sungai itu.โ€ (Status hadits: โŒbatil. Lihat As Silsilah Adh Dhaifah No. 1898. Imam Ibnul Jauzi mengatakan: tidak shahih. Imam Adz Dzahabi mengatakan: batil. Lihat Syaikh Muhammad bin Darwisy bin Muhammad, Asnal Mathalib, Hal. 86)

โ€œ Ada lima malam yang doa tidak akan ditolak: awal malam pada bulan Rajab, malam nishfu syaโ€™ban, malam Jumat, malam idul fitri, dan malam hari raya qurban.โ€ (Status hadits: Maudhuโ€™โŒ (palsu). As Silsilah Adh Dhaifah No. 1452. Lihat juga Syaikh Khalid bin Saโ€™ifan, Ma Yatanaaqaluhu Al โ€˜Awwam mimma Huwa Mansuub li Khairil Anam, Hal.  14)

โ€œRajab adalah bulannya Allah, Syaโ€™ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.โ€ (Status hadits:โŒ Dhaif (lemah). Lihat As Silsilah Adh Dhaifah No. 4400. Imam Al Munawi mengutip dari Imam Zainuddin Al โ€˜Iraqi mengatakan: dhaif jiddan โ€“ sangat lemah. Lihat Faidhul Qadir, 4/24)

โ€œDinamakan Rajab karena di dalamnya banyak kebaikan yang diagungkan (yatarajjaba)  bagi Syaโ€™ban dan Ramadhan.โ€ (Status hadits: Maudhuโ€™โŒ (palsu). As Silsilah Adh Dhaifah No. 3708. Lihat juga Imam As Suyuthi, Al Jamiโ€™ Ash Shaghir No. 4718)

Dan masih banyak lagi yang lainnya, seperti shalat raghaib (12 rakaat) pada hari kamis baโ€™da maghrib di bulan Rajab (Ini ada dalam kitab Ihya Ulumuddin-nya Imam Al Ghazali). Segenap ulama seperti Imam An Nawawi mengatakan ini adalah bidโ€™ah yang buruk dan munkar, juga Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Nuhas, dan lainnya mengatakan hal serupa).

4โƒฃ Sekedar ingin berpuasa di Bulan Rajab?
Boleh!

Walau demikian, tidak berarti kelemahan semua riwayat ini menunjukkan larangan ibadah-ibadah  secara global. Melakukan puasa, sedekah, memotong hewan untuk sedekah, dan amal shalih lainnya adalah perbuatan mulia dan dianjurkan, kapan pun dilaksanakannya termasuk bulan Rajab (kecuali puasa pada hari-hari terlarang puasa).

Tidak mengapa puasa pada bulan Rajab, seperti puasa senin kamis dan ayyamul bidh (tanggal 13,14,15 bulan hijriah), sebab ini semua memiliki perintah secara umum dalam syariat.Tidak mengapa puasa di bulan Rajab karena mengikuti perintah Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam secara umum untuk shaum di bulan-bulan haram. Tidak mengapa sekedar memotong hewan untuk disedekahkan, yang keliru adalah meyakini dan MENGKHUSUSKAN ibadah-ibadah ini dengan fadhilah tertentu yang hanya bisa diraih di bulan Rajab, dan tidak pada bulan lainnya.Jika seperti ini, maka membutuhkan dalil shahih yang khusus, baik Al Quran atau As Sunnah yang shahih.

Imam An Nawawi mengatakan:

ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุซู’ุจูุช ูููŠ ุตูŽูˆู’ู… ุฑูŽุฌูŽุจ ู†ูŽู‡ู’ูŠูŒ ูˆูŽู„ูŽุง ู†ูŽุฏู’ุจูŒ ู„ูุนูŽูŠู’ู†ูู‡ู ุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู‘ูŽ ุฃูŽุตู’ู„ูŽ ุงู„ุตู‘ูŽูˆู’ู…ู ู…ูŽู†ู’ุฏููˆุจูŒ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุŒ ูˆูŽูููŠ ุณูู†ูŽู† ุฃูŽุจููŠ ุฏูŽุงูˆูุฏูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽุฏูŽุจูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุตู‘ูŽูˆู’ู… ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฃูŽุดู’ู‡ูุฑ ุงู„ู’ุญูุฑูู… ุŒ ูˆูŽุฑูŽุฌูŽุจ ุฃูŽุญูŽุฏู‡ูŽุง . ูˆูŽุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู .

๐Ÿ“Œโ€œTidak ada yang shahih tentang larangan berpuasa pada bulan Rajab, dan tidak shahih pula mengkhususkan puasa pada bulan tersebut, tetapi pada dasarnya berpuasa memang hal yang disunahkan. Terdapat dalam Sunan Abu Daud bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam menganjurkan berpuasa pada asyhurul hurum (bulan-bulan haram), dan Rajab termasuk asyhurul hurum. Wallahu Aโ€™lam (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/39)

Hadits yang dimaksud Imam An Nawawi berbunyi:

ุนูŽู†ู’ ู…ูุฌููŠุจูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุจูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ูŽุฉู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุนูŽู…ู‘ูู‡ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุชูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุงู†ู’ุทูŽู„ูŽู‚ูŽ ููŽุฃูŽุชูŽุงู‡ู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุณูŽู†ูŽุฉู ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุชูŽุบูŽูŠู‘ูŽุฑูŽุชู’ ุญูŽุงู„ูู‡ู ูˆูŽู‡ูŽูŠู’ุฆูŽุชูู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽู…ูŽุง ุชูŽุนู’ุฑูููู†ููŠ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽู†ูŽุง ุงู„ู’ุจูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุฌูุฆู’ุชููƒูŽ ุนูŽุงู…ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽู…ูŽุง ุบูŽูŠู‘ูŽุฑูŽูƒูŽ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ูƒูู†ู’ุชูŽ ุญูŽุณูŽู†ูŽ ุงู„ู’ู‡ูŽูŠู’ุฆูŽุฉู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽุง ุฃูŽูƒูŽู„ู’ุชู ุทูŽุนูŽุงู…ู‹ุง ุฅูู„ู‘ูŽุง ุจูู„ูŽูŠู’ู„ู ู…ูู†ู’ุฐู ููŽุงุฑูŽู‚ู’ุชููƒูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู„ูู…ูŽ ุนูŽุฐู‘ูŽุจู’ุชูŽ ู†ูŽูู’ุณูŽูƒูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุตูู…ู’ ุดูŽู‡ู’ุฑูŽ ุงู„ุตู‘ูŽุจู’ุฑู ูˆูŽูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ู…ูู†ู’ ูƒูู„ู‘ู ุดูŽู‡ู’ุฑู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฒูุฏู’ู†ููŠ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุจููŠ ู‚ููˆู‘ูŽุฉู‹ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุตูู…ู’ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽูŠู’ู†ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฒูุฏู’ู†ููŠ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุตูู…ู’ ุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉูŽ ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฒูุฏู’ู†ููŠ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุตูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุญูุฑูู…ู ูˆูŽุงุชู’ุฑููƒู’ ุตูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุญูุฑูู…ู ูˆูŽุงุชู’ุฑููƒู’ ุตูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุญูุฑูู…ู ูˆูŽุงุชู’ุฑููƒู’ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุจูุฃูŽุตูŽุงุจูุนูู‡ู ุงู„ุซู‘ูŽู„ูŽุงุซูŽุฉู ููŽุถูŽู…ู‘ูŽู‡ูŽุง ุซูู…ู‘ูŽ ุฃูŽุฑู’ุณูŽู„ูŽู‡ูŽุง

๐Ÿ“ŒDari Mujibah Al Bahili, dari ayahnya, atau pamannya, bahwasanya dia mendatangi Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, lalu dia pergi. Kemudian mendatangi lagi setelah satu tahun lamanya, dan dia telah mengalami perubahan baik keadaan dan penampilannya. Dia berkata: โ€œWahai Rasulullah, apakah kau mengenali aku?โ€ Nabi bertanya: โ€œSiapa kamu?โ€ Al Bahili menjawab: โ€œSaya Al Bahili yang datang kepadamu setahun lalu.โ€ Nabi bertanya:: โ€œApa yang membuatmu berubah, dahulu kamu terlihat baik-baik saja?โ€ Al Bahili menjawab: โ€œSejak berpisah denganmu, saya tidak makan kecuali hanya malam.โ€ Bersabda Rasulullah: โ€œKanapa kamu siksa dirimu?โ€, lalu bersabda lagi: โ€œPuasalah pada bulan kesaabaran, dan    sehari pada tiap bulannya.โ€ Al Bahili berkata: โ€œTambahkan, karena saya masih punya kekuatan.โ€ Beliau bersabda: โ€œPuasalah dua hari.โ€ Beliau berakata: โ€œTambahkan.โ€ Beliau bersabda: โ€œPuasalah tiga hari.โ€ Al Bahili berkata: โ€œTambahkan untukku.โ€ Nabi bersabda: โ€œPuasalah pada bulan-bulan haram, dan tinggalkanlah (sebagiannya), Puasalah pada bulan-bulan haram, dan tinggalkanlah (sebagiannya), Puasalah pada bulan-bulan haram, dan tinggalkanlah (sebagiannya). Beliau berkata dengan tiga jari jemarinya, lalu menggenggamnya kemudian dilepaskannya. (HR. Abu Daud No. 2428, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra  No. 8209, juga Syuโ€™abul Iman No. 3738. Syaikh Sayyid Sabiq mengatakan: sanadnya jayyid. Lihat Fiqhus Sunnah, 1/453.  Namun Syaikh Al Albani mendhaifkan dalam berbagai kitabnya)

Kebolehannya semakin terlihat berdasarkan riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, sebagai berikut:

Dari Utsman bin Hakim Al Anshari, beliau berkata:

ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชู ุณูŽุนููŠุฏูŽ ุจู’ู†ูŽ ุฌูุจูŽูŠู’ุฑู ุนูŽู†ู’ ุตูŽูˆู’ู…ู ุฑูŽุฌูŽุจู ูˆูŽู†ูŽุญู’ู†ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽุฆูุฐู ูููŠ ุฑูŽุฌูŽุจู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุงุจู’ู†ูŽ ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู„ู ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุตููˆู…ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ู†ูŽู‚ููˆู„ูŽ ู„ูŽุง ูŠููู’ุทูุฑู ูˆูŽูŠููู’ุทูุฑู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ู†ูŽู‚ููˆู„ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุตููˆู…ู

๐Ÿ“ŒAku bertanya kepada Saโ€™id bin Jubeir tentang shaum pada bulan Rajab, saat itu kami sedang berada pada bulan Rajab, Beliau menjawab: โ€œAku mendengar Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma berkata: Dahulu Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam berpuasa (pada bulan Rajab) sampai-sampai kami mengatakan Beliau tidak meninggalkannya, dan Beliau pernah meninggalkannya sampai kami mengatakan dia tidak pernah berpuasa (Rajab). (HR. Muslim No. 1157)

Oleh karenanya, mayoritas para imam membolehkan berpuasa pada bulan Rajab secara umum, selama dia tidak mengkhususkan, mengistimewakan, dan menspesialkannya  melebihi bulan lainnya.

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

ุงู„ุธุงู‡ุฑ ุฃู† ู…ุฑุงุฏ ุณุนูŠุฏ ุจู† ุฌุจูŠุฑ ุจู‡ุฐุง ุงู„ุงุณุชุฏู„ุงู„ ุฃู†ู‡ ู„ุง ู†ู‡ู‰ ุนู†ู‡ ูˆู„ุง ู†ุฏุจ ููŠู‡ ู„ุนูŠู†ู‡ ุจู„ ู„ู‡ ุญูƒู… ุจุงู‚ูŠ ุงู„ุดู‡ูˆุฑ

๐Ÿ“ŒSecara lahiriah, maksud dari Saโ€™id bin Jubeir dengan pendalilan ini adalah bahwa tidak ada larangan dan tidak ada pula anjuran secara khusus puasa pada Rajab,  tetapi hukumnya sama seperti bulan-bulan lainnya. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/38-39)

Jumhur ulama – imam tiga madzhab- membolehkannya, sementara kalangan Hanabilah (Hambaliyah) memakruhkannya (Lihat  Al Fiqhu ‘alal Madzaahib Al Arba’ah, 1/895), sebagaimana itu juga  pendapat Umar bin Al Khathab  Radhiallahu ‘Anhu [1] dan anaknya, Abdullah bin Umar Radhiallahu โ€˜Anhu. [2]

Berkata Syaikh Dr. Abdullah Al Faqih Hafizhahullah:

ูˆู…ู† ุฎู„ุงู„ ู‡ุฐู‡ ุงู„ู†ู‚ูˆู„ ูŠุชุถุญ ู„ู†ุง ุฌู„ูŠุงู‹ ุฃู† ุงู„ู…ุณุฃู„ุฉ ุฎู„ุงููŠุฉ ุจูŠู† ุงู„ุนู„ู…ุงุกุŒ ูˆู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุฃู† ุชูƒูˆู† ู…ู† ู…ุณุงุฆู„ ุงู„ู†ุฒุงุน ูˆุงู„ุดู‚ุงู‚ ุจูŠู† ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†ุŒ ุจู„ ู…ู† ู‚ุงู„ ุจู‚ูˆู„ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ู…ู† ุงู„ุนู„ู…ุงุก ู„ู… ูŠุซุฑุจ ุนู„ูŠู‡ุŒ ูˆู…ู† ู‚ุงู„ ุจู‚ูˆู„ ุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉ ู„ู… ูŠุซุฑุจ ุนู„ูŠู‡.ูˆุฃู…ุง ุตูŠุงู… ุจุนุถ ุฑุฌุจุŒ ูู…ุชูู‚ ุนู„ู‰ ุงุณุชุญุจุงุจู‡ ุนู†ุฏ ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ุฐุงู‡ุจ ุงู„ุฃุฑุจุนุฉ ู„ู…ุง ุณุจู‚ุŒ ูˆู„ูŠุณ ุจุฏุนุฉ.
ุซู… ุฅู† ุงู„ุฑุงุฌุญ ู…ู† ุงู„ุฎู„ุงู ุงู„ู…ุชู‚ุฏู… ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ู„ุง ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉ.

๐Ÿ“ŒPada masalah ini, kami katakan bahwa telah jelas perkara ini telah diperselisihkan para ulama, dan tidak boleh masalah ini menjadi sebab pertentangan dan perpecahan di antara kaum muslimin. Bahkan, siapa saja yang berpendapat seperti jumhur ulama dia tidak boleh dicela, dan siapa saja yang berpendapat seperti Hanabilah dia juga tidak boleh dicela. Ada pun berpuasa pada sebagian bulan Rajab, maka telah disepakati kesunahannya menurut para pengikut empat madzhab sebagaimana penjelasan lalu, itu bukan bid’ah

Kemudian, sesungguhnya pendapat yang lebih kuat dari perbedaan pendapat sebelumnya adalah pendapat jumhur, bukan pendapat Hanabilah. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah No. 28322)

Sementara itu, mengkhususkan menyembelih hewan (istilahnya Al โ€˜Atirah) pada bulan Rajab, telah terjadi perbedaan pendapat di dalam Islam. Imam Ibnu Sirin mengatakan itu sunah, dan ini juga pendapat penduduk Bashrah, juga Imam Ahmad bin Hambal sebagaimana yang dikutip oleh Hambal. Tetapi mayoritas ulama mengatakan bahwa hal itu adalah kebiasaan jahiliyah yang telah dihapuskan oleh Islam. Sebab Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits shahih: โ€œTidak ada Al Faraโ€™ dan Al โ€˜Atirah.โ€ (Imam Ibnu Rajab, Lathaif Al Maโ€™arif Hal. 117)

 Namun, jika sekedar ingin menyembelih hewan pada bulan Rajab, tanpa mengkhususkan dengan fadhilah tertentu pada bulan Rajab, tidak mengapa dilakukan. Karena Imam An Nasaโ€™i meriwayatkan, bahwa para sahabat berkata kepada Rasulullah: โ€œWahai Rasulullah, dahulu ketika jahiliyah kami biasa menyembelih pada bulan Rajab?โ€ Maka Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุงุฐุจุญูˆุง ู„ู„ู‡ ููŠ ุฃูŠ ุดู‡ุฑ ูƒุงู†

๐Ÿ“Œ            โ€œMenyembelihlah karena Allah, pada bulan apa saja.โ€ (HR. An Nasaโ€™i, hadits ini shahih. Lihat Shahih Al Jamiโ€™ Ash Shaghir wa Ziyadatuhu, 1/208)

5โƒฃ Benarkah Isra Miโ€™raj Terjadi Tanggal 27 Rajab?

Ada pun tentang Israโ€™ Miโ€™raj, benarkah peristiwa ini terjadi pada bulan Rajab? Atau tepatnya 27 Rajab? Jawab: Wallahu Aโ€™lam. Sebab, tidak ada kesepakatan para ulama hadits dan para sejarawan muslim tentang kapan peristiwa ini terjadi, ada yang menyebutnya Rajab, dikatakan Rabiul Akhir, dan dikatakan pula Ramadhan atau Syawal. (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 7/242-243)  

 Imam Ibnu Rajab Al Hambali  mengatakan, bahwa banyak ulama yang melemahkan pendapat bahwa peristiwa Isra terjadi pada bulan Rajab, sedangkan Ibrahim Al Harbi dan lainnya mengatakan itu terjadi pada Rabi’ul Awal. (Lathaif Al Maโ€™arif,  Hal. 95).

Beliau juga berkata:

ูˆ ู‚ุฏ ุฑูˆูŠ: ุฃู†ู‡ ููŠ ุดู‡ุฑ ุฑุฌุจ ุญูˆุงุฏุซ ุนุธูŠู…ุฉ ูˆู„ู… ูŠุตุญ ุดูŠุก ู…ู† ุฐู„ูƒ ูุฑูˆูŠ: ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆู„ุฏ ููŠ ุฃูˆู„ ู„ูŠู„ุฉ ู…ู†ู‡ ูˆุฃู†ู‡ ุจุนุซ ููŠ ุงู„ุณุงุจุน ูˆุงู„ุนุดุฑูŠู† ู…ู†ู‡ ูˆู‚ูŠู„: ููŠ ุงู„ุฎุงู…ุณ ูˆุงู„ุนุดุฑูŠู† ูˆู„ุง ูŠุตุญ ุดูŠุก ู…ู† ุฐู„ูƒ ูˆุฑูˆู‰ ุจุฅุณู†ุงุฏ ู„ุง ูŠุตุญ ุนู† ุงู„ู‚ุงุณู… ุจู† ู…ุญู…ุฏ: ุฃู† ุงู„ุฅุณุฑุงุก ุจุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูƒุงู† ููŠ ุณุงุจุน ูˆุนุดุฑูŠู† ู…ู† ุฑุฌุจ ูˆุงู†ูƒุฑ ุฐู„ูƒ ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ุงู„ุญุฑุจูŠ ูˆุบูŠุฑู‡

๐Ÿ“Œ”Telah diriwayatkan bahwa pada bulan Rajab banyak terjadi peristiwa agung dan itu tidak ada yang shahih satu pun. Diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dilahirkan pada awal malam bulan itu, dan dia diutus pada malam 27-nya, ada juga yang mengatakan pada malam ke-25, ini pun tak ada yang shahih. Diriwayatkan pula dengan sanad yang tidak shahih dari Al Qasim bin Muhammad bahwa peristiwa Isra-nya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terjadi pada malam ke-27 Rajab, dan ini diingkari oleh Ibrahim Al Harbi dan lainnya.” (Lathaif Al Ma’arif Hal. 121. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Sementara, Imam Ibnu Hajar mengutip dari Ibnu Dihyah, bahwa: โ€œHal itu adalah dusta.โ€ (Tabyinul โ€˜Ajab hal. 6). Imam Ibnu Taimiyah juga menyatakan peristiwa Israโ€™ Miโ€™raj tidak diketahui secara pasti, baik tanggal, bulan, dan semua riwayat tentang ini terputus dan berbeda-beda.

6โƒฃ Adakah Doa Khusus Menyambut Rajab, Syaโ€™ban dan Ramadhan?

            Tidak ditemukan riwayat yang shahih tentang ini. Ada pun doa yang tenar diucapkan manusia yakni: Allahumma Bariklana fi rajaba wa syaโ€™ban, wa ballighna ramadhan, adalah hadits dhaif (lemah).โŒ

            Dari Anas bin Malik Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

   ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ุฑูŽุฌูŽุจูŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุจูŽุงุฑููƒู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูููŠ ุฑูŽุฌูŽุจู ูˆูŽุดูŽุนู’ุจูŽุงู†ูŽ ูˆูŽุจูŽุงุฑููƒู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูููŠ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ

 ๐Ÿ“Œ         Dari Anas bin Malik berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam jika masuk bulan Rajab, dia berkata: โ€œAllahumma Barik lanaa fii Rajaba wa Syaโ€™ban wa Barik lanaa fii Ramadhan.โ€
(Ya Allah Berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaโ€™ban wa Berkahilah kami di bulan Ramadhan).

(HR. Ahmad, No. 2346. Ath Thabarani, Al Muโ€™jam Al Awsath,  No. 4086, dengan teks agak berbeda yakni, โ€œWa Balighnaa fii Ramadhan.โ€ Al Baihaqi, Syuโ€™abul Iman, No. 3815. Ibnus Sunni dalam โ€˜Amalul Yaum wal Lailah No. 659. Abu Nuโ€™aim dalam Al Hilyah, 6/269)

Dalam sanad hadits ini terdapat Zaidah bin Abi Ruqad dan Ziyad an Numairi.

๐Ÿ”น  Imam Bukhari berkata tentang Zaidah bin Abi Ruqad: โ€œMunkarul hadits.โ€ (haditsnya munkar) (Imam Al Haitsami, Majmaโ€™ az Zawaid, Juz. 2, Hal. 165. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah)

๐Ÿ”น  Imam An Nasaโ€™i berkata: โ€œAku tidak tahu siapa dia.โ€  Imam Adz Dzahabi sendiri mengatakan: โ€œDhaโ€™if.โ€  Sedangkan tentang Ziyad an Numairi beliau berkata: โ€œZiyad dhaโ€™if juga.โ€ (Imam Adz Dzahabi, Mizanul Iโ€™tidal, Juz. 2, Hal. 65)

๐Ÿ”น  Imam Abu Daud berkata tentang Zaidah bin Abi   Ruqad: โ€œAku tidak mengenal haditsnya.โ€ Sementara Imam An Nasaโ€™i dalam kitabnya yang lain, Adh Dhuโ€™afa, mengatakan: โ€œMunkarul hadits.โ€ Sedangkan dalam Al Kuna dia berkata: โ€œTidak bisa dipercaya.โ€ Abu Ahmad Al Hakim mengatakan: โ€œhaditsnya tidak kokoh.โ€ (Imam Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, Juz. 3, Hal. 305)

๐Ÿ”น  Imam Al Haitsami berkata tentang Ziyad an Numairi: โ€œDia dhaโ€™if menurut jumhur (mayoritas ahli hadits).โ€ (Majmaโ€™ az Zawaid, Juz. 10, Hal. 388. Darul Kutub Al Ilmiyah)

๐Ÿ”นImam Ibnu Hibban  mengatakan bahwa penduduk Bashrah meriwayatkan dari Ziyad hadits-hadits munkar. Imam Yahya bin Maโ€™in  meninggalkan hadits-haditsnya, dan tidak menjadikannya sebagai hujjah (dalil). Imam Yahya bin Maโ€™in juga  berkata tentang dia: โ€œTidak ada apa-apanya.โ€ (Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, Juz. 1, Hal. 306)

๐Ÿ”น   Sementara dalam Al Jarh wat Taโ€™dil, Imam Yahya bin Maโ€™in mengatakan: โ€œDhaโ€™if.โ€ (Imam Abu Hatim ar Razi, Al jarh Wat Taโ€™dil, Juz. 3, Hal. 536)

๐Ÿ”น  Syaikh Al Albany mendhaโ€™ifkan hadits ini. (Misykah al Mashabih, Juz. 1, Hal. 306, No. 1369. Lihat juga Dhaiful jamiโ€™ No. 4395), begitu pula Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: isnaduhu dhaif (isnadnya dhaif). (Lihat Musnad Ahmad No. 2346. Muasasah Ar Risalah)

๐Ÿ”‘  Walau hadits ini dhaif, tidak mengapa sekedar membaca doa seperti di atas dengan syarat seperti yang digariskan para ulama terhadap masalah fadhailul a’mal:

๐Ÿ”ธ1. Tidak ada perawi yang tertuduh pendusta atau pemalsu hadits.
๐Ÿ”ธ2. Isinya tidak bertentangan dengan tabiat umum agama Islam.
๐Ÿ”ธ3.  Tidak menganggapnya sebagai doa dari Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam

Sebab, berdoa dengan membuat redaksi sendiri juga dibolehkan selama isinya tidak bertentangan syariat.

 Anggaplah ini doa bagus yang kita pinjam redaksinya. Lalu, sebaiknya jangan membiasakan doa ini tanpa menjelaskan kedudukannya sebagai doa yang tidak valid dari Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. Sebab, mentradisikan dan mengulang-ulangnya setiap tahun, akan terbuka peluang bagi pikiran sebagian manusia bahwa ini adalah sunah nabi, atau paket yang sudah menjadi pakem khusus ketika menjelang Rajab, Syaโ€™ban, dan Ramadhan. Tentunya ini keliru khawatir dusta atas nama Beliau Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. Maka, kelemahannya mesti dijelaskan agar manusia tidak terkecoh.

 Wallahu Aโ€™lam
๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Foot notes:

[1] Umar bin Al Khathab Radhiallahu โ€˜Anhu tidak men
yukai puasa Rajab. Berikut ini riwayatnya:

–          Riwayat Imam Ath Thabarani, berkata kepada kami Muhammad bin Al Marziban,  berkata kepada kami   Al Hasan bin Jablah,  berkata kepada kami Saโ€™id bin Shalt, dari Al Aโ€™Masy, dari Barrah bin Abdirrahman, bahwa  Kharasyah bin Al Hurr berkata:

ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุนูู…ูŽุฑูŽ ูŠูŽุถู’ุฑูุจู ุฃูŽูƒููู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูููŠ ุฑูŽุฌูŽุจู ุŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุถูŽุนููˆู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุฌูููŽุงู†ู ูˆูŽูŠูŽู‚ููˆู„ู : ูƒูู„ููˆุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ู’ุฑูŒ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุนูŽุธู‘ูู…ูู‡ูุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ูŽุฉู ูู„ู…ุง ุฌุงุก ุงู„ุฅุณู„ุงู… ุชุฑูƒ

๐Ÿ“ŒAku melihat Umar memukul telapak tangan manusia pada bulan Rajab, hingga dia mengantarkannya ke mangkuk besar, dan berkata: โ€œMakanlah, ini adalah bulan yang dimuliakan oleh orang-orang Jahiliyah, yang ketika Islam datang dia sudah ditinggalkan.โ€ (Ath Thabarani dalam Al Muโ€™jam Al Awsath No. 7636)

Imam Al Haitsami mengatakan tentang sanad Ath Thabarani: โ€œSanadnya terdapat Al Hasan bin Jablah, aku belum temukan orang yang menceritakannya, dan perawi lainnya terpercaya.โ€ (Majmaโ€™ Az Zawaid,  3/439) Maka, sanad ini belum meyakinkan. Tetapi Syaikh Al Albani mengatakan: โ€œTidak apa-apa jika sebagai mutabaโ€™ah (penguat).โ€ (Irwaโ€™ul Ghalil, 4/114)

Ternyata ada riwayat lain dari Imam Ibnu Abi Syaibah sebagai berikut:

Dari Abu Muโ€™awiyah, dari Al Aโ€™masy, dari Barah bin Abdirrahman, dari Kharasyah bin Al Hurr, dia berkata:

ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุนูู…ูŽุฑูŽ ูŠูŽุถู’ุฑูุจู ุฃูŽูƒููู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูููŠ ุฑูŽุฌูŽุจู ุŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุถูŽุนููˆู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุฌูููŽุงู†ู ูˆูŽูŠูŽู‚ููˆู„ู : ูƒูู„ููˆุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ู’ุฑูŒ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุนูŽุธู‘ูู…ูู‡ู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ูŽุฉู

๐Ÿ“ŒAku melihat Umar memukul telapak tangan manusia pada bulan Rajab, hingga dia mengantarkannya ke mangkuk besar, dan berkata: โ€œMakanlah, ini adalah bulan yang dimuliakan oleh orang-orang Jahiliyah. (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 9851)

                Syaikh Al Albani berkata: haadza sanadun shahihun โ€“ sanad hadits ini shahih. (Irwaโ€™ul Ghalil, 4/114)

[2] Imam Ibnu Abi Syaibah menceritakan:

ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ูˆูŽูƒููŠุนูŒ ุŒ ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุตูู…ู ุจู’ู†ู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุŒ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ู ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ูƒูŽุงู†ูŽ ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฅุฐูŽุง ุฑูŽุฃูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ุŒ ูˆูŽู…ูŽุง ูŠูุนูุฏู‘ูˆู†ูŽ ู„ูุฑูŽุฌูŽุจู ุŒ ูƒูŽุฑูู‡ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ

๐Ÿ“Œ                Berkata kepada kami Waki;, dari โ€˜Ashim bin Muhamad, dari ayahnya, dia berkata: โ€œDahulu Ibnu Umar jika dia melihat manusia -dan betapa banyak yang melakukannya  pada Rajab- maka dia membencinya.โ€ (Al Mushannaf No. 9854)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (11) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

๐Ÿ“† Selasa,  20 Jumadil Akhir 1437H / 29 Maret 2016

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šHadits ke 11:

Al Hafizh Ibnu Hajar menambahkan:

ูˆูŽู„ูุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู “ุงูŽู„ุณู‘ูู†ูŽู†ู”: – ุงูุบู’ุชูŽุณูŽู„ูŽ ุจูŽุนู’ุถู ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌู ุงูŽู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ูููŠ ุฌูŽูู’ู†ูŽุฉู, ููŽุฌูŽุงุกูŽ ู„ููŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง, ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ู„ูŽู‡ู: ุฅูู†ู‘ููŠ ูƒูู†ู’ุชู ุฌูู†ูุจู‹ุง, ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: “ุฅูู†ู‘ูŽ ุงูŽู„ู’ู…ูŽุงุกูŽ ู„ูŽุง ูŠูุฌู’ู†ูุจู” – ูˆูŽุตูŽุญู‘ูŽุญูŽู‡ู ุงูŽู„ุชู‘ูุฑู’ู…ูุฐููŠู‘ู, ูˆูŽุงุจู’ู†ู ุฎูุฒูŽูŠู’ู…ูŽุฉูŽ

๐Ÿ“ŒDan diriwayatkan oleh para penyusun kitab Sunan: โ€œSebagian istri Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mandi di bak yang besar, maka Beliau datang untuk mandi memakai air darinya, lalu berkatalah istrinya kepadanya: โ€œSaya sedang junub.โ€ Lalu Beliau bersabda: โ€œSesungguhnya air tidaklah junub.โ€ Dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.

๐Ÿ“šTakhrij Hadits:

๐Ÿ”น-          Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 65

๐Ÿ”น-          Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 68

๐Ÿ”น-          Imam Ibnu Majah dalam Sunannya No. 370

๐Ÿ”น-          Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 859

๐Ÿ”น-          Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya No. 1248

๐Ÿ”น-          Imam  Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 355

๐Ÿ“šStatus Hadits:

๐Ÿ”น-          Imam At Tirmidzi berkata: hasan shahih.(Sunan At Tirmidzi No. 65)

๐Ÿ”น-          Imam As Suyuthi mengatakan: shahih.(Al Jamiโ€™ Ash Shaghir No. 2097)

๐Ÿ”น-          Syaikh Al Albani juga menshahihkannya. (Shahihul Jamiโ€™ No. 1927)

๐Ÿ“šKandungan hadits:

๐Ÿ“‹1โƒฃ .       Ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan:

a.       Ashhabus Sunan, Al Hafizh menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ashhabus Sunan. Siapakah Ashhabus Sunan? Yaitu para pengarang kitab As Sunan, seperti Imam At Tirmidzi dengan Sunan At Tirmidzi (kadang juga disebut Jamiโ€™ At Tirmidzi), Imam Abu Daud dengan Sunan Abi Daud, Imam Ibnu Majah dengan Sunan Ibni Majah, dan Imam An Nasaโ€™i dengan Sunan An Nasaโ€™i. Inilah yang terkenal, walau kitab sunan masih ada lagi selain mereka.

b.      Jafnah, apa arti Jafnah?

Syaikh Abul โ€˜Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah berkata:

ุจูุชุญ ุงู„ุฌูŠู… ูˆุณูƒูˆู† ุงู„ูุงุก ุฃูŠ ู‚ุตุนุฉ ูƒุจูŠุฑุฉ ูˆุฌู…ุนู‡  ุฌูุงู†

๐Ÿ“ŒDengan jim difathahkan dan fa disukunkan artinya adalah wadah yang besar dan jamaknya adalah jifaan.  (Tuhfah Al Ahwadzi, 1/167)

๐Ÿ“‹2โƒฃ .       Hadits ini menegaskan kebolehan bagi laki-laki (suami) untuk bersuci dengan air yang sudah digunakan mandi oleh wanita (istri), walau si istri dalam keadaan junub.

Imam Ash Shanโ€™ani Rahimahullah mengatakan:

ูˆุฃู†ู‡ ูŠุฌูˆุฒ ุบุณู„ ุงู„ุฑุฌู„ ุจูุถู„ ุงู„ู…ุฑุฃุฉุŒ ูˆูŠู‚ุงุณ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุนูƒุณ ู„ู…ุณุงูˆุงุชู‡ ู„ู‡ุŒ ูˆููŠ ุงู„ุฃู…ุฑูŠู† ุฎู„ุงูุŒ ูˆุงู„ุฃุธู‡ุฑ ุฌูˆุงุฒ ุงู„ุฃู…ุฑูŠู†ุŒ ูˆุฃู† ุงู„ู†ู‡ูŠ ู…ุญู…ูˆู„ ุนู„ู‰ ุงู„ุชู†ุฒูŠู‡.

๐Ÿ“ŒSesungguhnya dibolehkan seorang laki-laki mandi dengan air sisa wanita, dan qiyaskan kebalikannya karena adanya kesamaan, dan dua hal ini merupakan hal yang diperselisihkan, namun yang lebih benar adalah dua hal  ini dibenarkan, sedangkan larangannya menunjukkan tanzih[2] saja.(Subulus Salam, 1/22)

Bagaimana memadukan antara hadits ini dan semisalnya โ€“yang jelas-jelas membolehkan- dengan hadits lain yang menunjukkan bahwa justru Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melarang melakukannya?

Berikut ini ulasan Syaikh Abul โ€˜Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah:

 ู‡ูŽุฐูŽุง ูŠูŽุฏูู„ู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ุงู„ุชู‘ูŽุทูŽู‡ู‘ูุฑู ุจูููŽุถู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ูˆูŽุญูŽุฏููŠุซู ุงู„ู’ุญูŽูƒูŽู…ู ุจู’ู†ู ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุงู„ู’ุบูููŽุงุฑููŠู‘ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุชูŽู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุจูŽุงุจู ุงู„ู’ู…ูุชูŽู‚ูŽุฏู‘ูู…ู ูŠูŽุฏูู„ู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠู ุนูŽู†ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุŒ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฌูู…ูุนูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ุจูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠูŽ ู…ูŽุญู’ู…ููˆู„ูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ุชูŽุณูŽุงู‚ูŽุทูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฃูŽุนู’ุถูŽุงุกู ู„ููƒูŽูˆู’ู†ูู‡ู ู‚ูŽุฏู’ ุตูŽุงุฑูŽ ู…ูุณู’ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ู‹ุง ูˆูŽุงู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ุจูŽู‚ููŠูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ูˆูŽุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ุฌูŽู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจููŠู‘ู ุŒ ูˆูŽุจูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠูŽ ู…ูŽุญู’ู…ููˆู„ูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุชู‘ูŽู†ู’ุฒููŠู‡ู ุจูู‚ูŽุฑููŠู†ูŽุฉู ุฃูŽุญูŽุงุฏููŠุซู ุงู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ู‚ููŠู„ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู„ูŽ ุจูŽุนู’ุถู ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ูƒูู†ู’ุช ุฌูู†ูุจู‹ุง ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฅูุฑูŽุงุฏูŽุชูู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽูˆูŽุถู‘ูุคูŽ ุจูููŽุถู’ู„ูู‡ูŽุง ูŠูŽุฏูู„ู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูุชูŽู‚ูŽุฏู‘ูู…ู‹ุง ููŽุญูŽุฏููŠุซู ุงู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ู†ูŽุงุณูุฎูŒ ู„ูุญูŽุฏููŠุซู ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠู ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู .

๐Ÿ“ŒHadits ini menunjukkan kebolehan bagi laki-laki bersuci dengan air sisa kaum wanita, sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Al Hakam bin Amru Al Ghifari pada pembahasan Bab sebelumnya justru menunjukkan larangannya. Keduanya telah dipadukan bahwasanya larangan tersebut dimaknai sebagai air yang menetes dari anggota badan sehingga membuat air tersebut menjadi mustaโ€™mal, sedangkan kebolehannya adalah pada air yang tersisa. Itulah kompromi yang dilakukan oleh Imam Al Khathabi, dengan memaknai bahwa larangan itu hanya bersifat tanzih semata, hal ini ditunjukkan oleh hadits-hadits yang membolehkannya. Ada juga yang mengatakan bahwa ucapan sebagian istri Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam ketika Beliau hendak berwudhu dengan air sisa mereka, menunjukkan bahwa larangan tersebut adalah telah lalu, sedangkan hadits yang membolehkan telah menghapus hadits yang melarang. Wallahu Taโ€™ala Aโ€™lam (Tuhfah Al Ahwadzi, 1/167)

Selesai. Wallahu Aโ€™lam
ใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐ
[1] Tahnik adalah memasukkan kurma yang telah dilembutkan ke dalam mulut bayi, di bagian langit-langitnya, dilakukan tidak lama setelah lahirnya bayi.

[2] Tanzih adalah makruh yang mendekati boleh.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (10) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

๐Ÿ“† Selasa,  13 Jumadil Akhir 1437H / 22 Maret 2016

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šHadits ke 10:

ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุงูุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง; – ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงูŽู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ุจูููŽุถู’ู„ู ู…ูŽูŠู’ู…ููˆู†ูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง – ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽู‡ู ู…ูุณู’ู„ูู…ูŒ

๐Ÿ“ŒDari Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma; bahwasanya Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mandi dengan memakai air sisa Maimunah Radhiallahu โ€˜Anha. Dikeluarkan oleh Muslim

๐Ÿ“šTakhrij Hadits:

-๐Ÿ”น          Imam Muslim dalam Shahihnya No.  323

-๐Ÿ”น          Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 3465

-๐Ÿ”น          Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Ash Shaghir No.  141,  juga As Sunan Ash Shughra No. 191, juga As Sunan Al Kubra No. 857

-๐Ÿ”น         Imam Ath Thabarani dalam Al Muโ€™jam Al Kabir No. 1033

-๐Ÿ”น         Imam Ad Daruquthni dalam Sunannya, 1/53

-๐Ÿ”น         Imam Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya No. 108

-๐Ÿ”น          Imam Abu โ€˜Uwanah dalam Musnadnya No. 808

-๐Ÿ”น          Imam Al Bazzar dalam Musnadnya No. 5261

-๐Ÿ”น          Imam Abdurrazzaq dalam Al MushannafNo. 1037

๐Ÿ“šStatus Hadits:

                Hadits ini shahih, dimasukkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, dan lain-lain. Shahih Muslim adalah kitab paling shahih setelah Shahih Bukhari.

                Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:

ุฃูˆู„ ู…ุตู†ู ููŠ ุงู„ุตุญูŠุญ ุงู„ู…ุฌุฑุฏุŒ ุตุญูŠุญ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠุŒ ุซู… ู…ุณู„ู…ุŒ ูˆู‡ู…ุง ุฃุตุญ ุงู„ูƒุชุจ ุจุนุฏ ุงู„ู‚ุฑุขู†ุŒ ูˆุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ุฃุตุญู‡ู…ุง ูˆุฃูƒุซุฑู‡ู…ุง ููˆุงุฆุฏุŒ ูˆู‚ูŠู„ ู…ุณู„ู… ุฃุตุญุŒ ูˆุงู„ุตูˆุงุจ ุงู„ุฃูˆู„

       ๐Ÿ“Œ     “Kitab pertama yang paling shahih adalah Shahih Al Bukhari, kemudian Shahih Muslim. Keduanya adalah kitab paling shahih setelah Al Quran. Dan Shahih Al Bukhari paling shahih di antara keduanya dan paling banyak manfaatnya. Ada yang mengatakan Shahih Muslim paling shahih, tapi yang benar adalah yang pertama.” (Imam An Nawawi, At Taqrib wat Taisir, Hal. 1. Mawqi’ Ruh Al Islam)

๐Ÿ“šKandungan Hadits:

                Ada beberapa hal yang bisa diambil maknanya dari hadits ini:

๐Ÿ“‹1โƒฃ .       Hadits ini dari Ibnu Abbas, yakni Abdullah bin Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma, siapakah dia?

Abdullah bin Abbas memiliki kun-yah (gelar) Abu โ€˜Abbas (bapaknya Abbas). Namanya adalah  Abdullah, putera Abbas bin Abdul Muthalib.   Beliau dan ayahnya adalah sahabat sekaligus famili  Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. Abbas bin Abdul Muthalib adalah adik dari ayah Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, Abdullah. Maka, โ€˜Abbas bin Abdul Muthalib adalah paman nabi, sedangkan Abdullah bin โ€˜Abbas adalah sepupu nabi. Jadi, ayah beliau bernama โ€˜Abbas, anaknya juga bernama โ€˜Abbas.

                Imam Ibnul Atsir Rahimahullah mengatakan:
                โ€œAbdullah bin โ€˜Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf, Abul Abbas Al Qursyi Al Hasyimi. Dia adalah anak dari paman Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, diberikan kun-yah (gelar panggilan) dengan nama anaknya Al โ€˜Abbas,   sebagai anaknya yang paling besar, dan ibunya bernama Lubabah Al Kubra binti Al Harits bin Khuznul Al Hilaliyah.

                Abdullah bin Abbas juga dinamakan Al Bahr (samudera) karena ilmunya yang luas, dia juga dinamakan Hibrul Ummah (tintanya umat). Dia dilahirkan di celah bukit di Mekkah tiga tahun sebelum hijrah, Beliau di-tahnik[1]oleh Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. (Usadul Ghabah, Hal. 630)

                Imam Adz Dzahabi Rahimahullah menyebutnya dengan istilah Al Bahr(Samudera), Hibrul Ummah (tintanya umat),Faqihul โ€˜Ashr (ahli fiqih zamannya), dan  Imamut Tafsir (imam ahli tafsir).

                Beliau mengambalih hadits secara baik dari Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, juga meriwayatkan dari Umar, Ali, Muadz, ayahnya, Abdurrahman bin Auf, Abu Sufyan Sakhr bin Harb, Abu Dzar, Ubay bin Kaโ€™ab, Zaid bin Tsabit, dan lainnya. Beliau membacakan Al Quran di hadapan Ubay dan Zaid (karena Ubay dan Zaid di antara sahabat nabi yang menulis wahyu Allah Taโ€™ala, pen).

                Sederetan nama beken dari kalangan tabiโ€™in senior telah menjadi muridnya, seperti Urwah bin Zubeir, Said bin Jubeir, Ikrimah, Abu Asy Syaโ€™tsa Jabir, Mujahid bin Jabr, Al Qasim bin Muhammad, Abu Rajaโ€™ Al โ€˜Atharidi, Abul โ€˜Aliyah, โ€˜Atha bin Yasar, โ€˜Atha bin Abi Rabah, Asy Syaโ€™bi, Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin,  Muhammad bin Kaโ€™ab Al Qurzhi, Syahr bin Hausyab, Ibnu Abi Malikah, Amru bin Dinar, Dhahak bin Muzahim, Ismail As Suddi, dan lainnya.

                Beliau memiliki beberapa anak, paling tua adalah Al Abbas, paling kecil Ali Abu Al Khulafaโ€™. D antara mereka ada Al Fadhl, Muhammad, Ubaidullah, Lubabah, dan Asmaโ€™.

                Ketika Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam wafat, usia beliau adalah  10 tahun, ada juga riwayat yang menyebut 13 tahun, ada juga yang menyebut 15 tahun. (Siyar Aโ€™lam An Nubala, 3/331-335)

                Menurut Ali bin Al Madini,  Ibnu Abbas wafat pada tahu 68 atau 67 Hijriyah. Sementara Al Waqidi, Al Haitsam, dan Abu Nuโ€™aim mengatakan: tahun 68. Disebutkan bahwa Beliau hidup selama 71 tahun.  (Ibid, 3/359)

                 Abdullah bin โ€˜Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma memiliki banyak keutamaan dan pujian untuknya. Diantaranya sebagai berikut:

                 Beliau mengatakan:

ุฏูŽุนูŽุง ู„ููŠ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุคู’ุชููŠูŽู†ููŠ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู’ุญููƒู’ู…ูŽุฉูŽ ู…ูŽุฑู‘ูŽุชูŽูŠู’ู†ู

๐Ÿ“Œ                Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mendoakan untukku sebanyak dua kali, agar Allah memberikanku hikmah (ilmu). (HR. At Tirmidzi No. 3823, katanya: hasan gharib. Syaikh Al Albani menshahihkannya. LihatRaudh An Nadhir No. 395, Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 3823)

                Ibnu โ€˜Abbas mengatakan, ketika Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam berada di rumah Maimunah, dia membawa air wudhu buat nabi, lalu berkata kepada nabi: โ€œAbdullah bin Abbas telah menyediakan air wudhu untukmu.โ€ Lalu Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุงู„ู„ู‡ู… ูู‚ู‡ู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ูˆ ุนู„ู…ู‡ ุงู„ุชุฃูˆูŠู„

             

๐Ÿ“ŒYa Allah, fahamkanlah agama baginya, dan ajarkanlah ia taโ€™wil. (HR. Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 6280, katanya: shahih, dan Bukhari-Muslim tidak meriwayatkannya. Imam Adz Dzahabi menyepakati keshahihannya. Ath Thabarani dalam Al Muโ€™jam Al Kabir No. 10587, Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar No. 2159)

                Sementara dalam riwayat Imam At Tirmidzi yang lain berbunyi: โ€˜Allimhu Al Hikmah – Ajarkanlah dia Al Hikmah. (No. 3824, katanya:hasan shahih)

                Ada pun dalam riwayat Imam Al Bukhari, hanya: โ€œAllahumma faqqihhu fiddin โ€“ Ya Allah, fahamkanlah agama baginya. (HR. Bukhari No. 143), juga dalam Kitab Al Fadhail,berbunyi: Allahumma โ€˜allimhu Al kitab โ€“ Ya Allah ajarkanlah dia Al Kitab (Al Quran).

๐Ÿ“‹2โƒฃ .       Hadits ini menunjukkan kebalikan dari hadits sebelumnya, yakni bolehnya suami menggunakan air bekas mandi istrinya, atau sebaliknya.  Sebab, dengan jelas bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam sendiri   memakai air   sisa yang dipakai istrinya. Kenyataan ini menguatkan apa yang dikatakan oleh para ulama, bahwa larangan yang ada pada hadits sebelumnya bukanlah larangan yang menunjukkan haram atau makruh, tetapi larangan untuk mendidik dan membimbing suami istri.

Inilah pandangan mayoritas ulama, bolehnya seorang suami bersuci memakai air bekas istrinya atau sebaliknya, secara bergantian.

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata:

ูˆุฃู…ุง ุชุทู‡ูŠุฑ ุงู„ุฑุฌู„ ูˆุงู„ู…ุฑุฃุฉ ู…ู† ุฅู†ุงุก ูˆุงุญุฏ ูู‡ูˆ ุฌุงุฆุฒ ุจุฅุฌู…ุงุน ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ู„ู‡ุฐู‡ ุงู„ุงุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุชูŠ ููŠ ุงู„ุจุงุจ ูˆุฃู…ุง ุชุทู‡ูŠุฑ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุจูุถู„ ุงู„ุฑุฌู„ ูุฌุงุฆุฒ ุจุงู„ุงุฌู…ุงุน ุฃูŠุถุงูˆุฃู…ุง ุชุทู‡ูŠุฑ ุงู„ุฑุฌู„ ุจูุถู„ู‡ุง ูู‡ูˆ ุฌุงุฆุฒ ุนู†ุฏู†ุง ูˆุนู†ุฏ ู…ุงู„ูƒ ูˆุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉ ูˆุฌู…ุงู‡ูŠุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก

๐Ÿ“ŒAda pun seorang laki-laki (suami) dan wanita (istri) bersuci dari bejana yang sama, maka itu boleh berdasarkan ijmaโ€™ kaum muslimin karena adanya hadits-hadits dalam bab ini. Ada pun bersucinya wanita dengan menggunakan sisa air laki-laki adalah boleh berdasarkan ijmaโ€™ juga. Ada pun bersucinya laki-laki dengan air sisa wanita, maka itu boleh menurut kami (Syafiโ€™iyah), Malik, Abu Hanifah, dan mayoritas ulama. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 4/2)

Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal, Imam Daud Azh Zhahiri, mengatakan hal itu terlarang, begitu juga menurut sebagian tabiโ€™in seperti Abdullah bin Sarjis dan Al Hasan Al Bashri.  Sedangkan Imam Saโ€™d bin Al Musayyib memakruhkannya. (Ibid)

Lalu, Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

ูˆุงู„ู…ุฎุชุงุฑ ู…ุง ู‚ุงู„ู‡ ุงู„ุฌู…ุงู‡ูŠุฑ ู„ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุตุญูŠุญู‡ ููŠ ุชุทู‡ูŠุฑู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ู…ุน ุฃุฒูˆุงุฌู‡ ูˆูƒู„ ูˆุงุญุฏ ู…ู†ู‡ู…ุง ูŠุณุชุนู…ู„ ูุถู„ ุตุงุญุจู‡

๐Ÿ“ŒPendapat yang dipilih adalah apa yang dikatakan oleh mayoritas ulama, karena hadits-haditsnya yang shahih menunjukkan bersucinya Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersama istri-istrinya, keduanya masing-masing menggunakan sisa yang lainnya. (Ibid, 4/3)

Pernyataan Imam An Nawawi bahwa telah terjadi ijmaโ€™ kebolehan wanita bersuci dengan air bekas suaminya telah dikritik ulama lain. Sebab, pada kenyataannya telah terjadi pendapat juga sebagaimana perbedaan pendapat tentang laki-laki yang bersuci dengan air bekas istrinya.

Berikut ini penjelasan Syaikh Abul โ€˜Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah:

 ู‚ูู„ู’ุช ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ูุงุฎู’ุชูู„ูŽุงูู ูููŠ ุชูŽุทู’ู‡ููŠุฑู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ุจูููŽุถู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุชูŽุทู’ู‡ููŠุฑู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ุจูููŽุถู’ู„ู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽูˆูŽูˆููŠู‘ู ุฌูŽุงุฆูุฒูŒ ุจูุงู„ู’ุฅูุฌู’ู…ูŽุงุนู ุŒ ูˆูŽุชูŽุนูŽู‚ู‘ูŽุจูŽู‡ู ุงู„ู’ุญูŽุงููุธู ุจูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ุทู‘ูŽุญูŽุงูˆููŠู‘ูŽ ู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุซู’ุจูŽุชูŽ ูููŠู‡ู ุงู„ู’ุฎูู„ูŽุงููŽ

๐Ÿ“ŒAku berkata: inilah perbedaan pendapat tentang bersucinya laki-laki dengan air bekas wanita. Ada pun bersucinya wanita dengan air bekas laki-laki Imam An Nawawi mengatakan boleh menurut ijmaโ€™. Hal ini telah dikomentari oleh Al Hafizh (Ibnu Hajar) dengan pernyataan Ath Thahawi bahwa telah pasti adanya perbedaan pendapat di dalamnya. (Tuhfah Al Ahwadzi, 1/168)

Namun demikian umumnya para ulama memang memberikan keringanan atas kebolehan kaum laki-laki bersuci dengan air bekas istrinya, sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Berikut ini keterangannya:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงูุจู’ู†ู ุชูŽูŠู’ู…ููŠู‘ูŽุฉูŽ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูู†ู’ุชูŽู‚ูŽู‰ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุฑู‘ูุฎู’ุตูŽุฉู ู„ูู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ู…ูู†ู’ ููŽุถู’ู„ู ุทูŽู‡ููˆุฑู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู

๐Ÿ“ŒBerkata Ibnu Taimiyah dalam Al Muntaqa, bahwa mayoritas ulama memberikan keringanan bolehnya bagi laki-laki menggunakan air bekas bersucinya wanita.(Ibid)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Larangan Talaqqi Ruqban (Mencegat Kafilah Dagang)

๐Ÿ“† Jumat,  9 Jumadil Akhir 1437H / 18 Maret 2016
๐Ÿ“š Muamalah
๐Ÿ“ Ustadz Rikza Maulan, Lc,. M.Ag
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ 
Materi sebelumnya bisa dilihat di tautan berikut
๐Ÿ“šDampak Talaqqi Rukban Pada Jual Beli
Ulama berbeda pendapat, apakah jual beli dalam kasus talaqqi rukban berkonsek wensi pada rusak (fasad) nya jual beli tersebut, ataukah jual beli tersebut tetap sah?
Sebagian ulama berpenda pat bahwa apabila dilihat dari dzahir haditsnya, maka jual beli tersebut tetap sah dan tidak rusak (fasad).
Karena larangan tersebut merupakan hal yang berada di luar substansi jual belinya, yaitu di luar rukun dan syarat jual beli. Oleh karenanya, tidak mengganggu keabsahan akad jual belinya.
Juga karena dalam hadits kedua disabdakan oleh Nabi SAW, bahwa pemilik barang (kafilah) boleh melakukan khiyar (meneruskan atau membatalkan jual beli), apabila ia sudah sampai di pasar dan mengetahui harga pasar.
Sedangkan sebagian ulama Malikiyah dan madzhab Hambali berpendapat bahwa jual belinya tidak sah dan batal. Karena larangan menunjukkan haram, dan sesuatu yang haram tidak boleh dilakukan.
๐Ÿ“šPenyebab Larangan Talaqqi Rukban
Sebab larangan talaqqi rukban atau menghadang kafilah dagang ini adalah sebagai berikut :
๐Ÿ”นPotensi adanya khidaโ€™ (tipuan) atau pengelabuan harga pasar. 
Karena penjual belum mengetahui berapa harga pasar, dan bisa jadi si pembeli sudah mengetahuinya, namun ia memanfaatkan ketidaktahuan penjual dengan memberikan informasi palsu.
๐Ÿ”นPotensi adanya dzulm (aniaya) terhadap penjual. 
Karena bisa jadi, atas adanya informasi yang tidak benar berkenaan dengan harga yang sesungguhnya, maka penjual melepas harga yang jauh lebih rendah dari harga yang seharusnya.
๐Ÿ”นPotensi hilangnya โ€œan taradhinโ€ (saling ridha), baik dari salah satu pihak, maupun kedua belah pihak, oleh karena adanya manipulasi informasi. Sementara saling ridha merupakan salah satu syarat sahnya jual beli.
๐Ÿ“šBagaimana apabila terjadi kasus, si penjual di tawar dagangannya di tengah perjalanan sebelum ia sampai ke pasar, dan si penjual benar-benar telah mengetahui harga pasaran?
Dalam hal, si penjual mengetahui harga pasar lalu dagangannya dibeli orang di tengah-tengah perjalanannya, dan ia rela serta ridha dengan harga yang ditawar oleh si pembeli, maka jual belinya sah, dan tidak termasuk dalam kategori jual beli yang dilarang.
Karena seluruh illat atau sebab larangannya menjadi tidak ada. Dan dalam hal larangannya sudah tidak ada, maka jual belinya berlaku seperti jual beli yang standar, yaitu sah nya transaksi.
๐Ÿ“šBerlaku Bagi Pedagang Yang Berkendara Atau Berjalan Kaki?
Para ulama mengemukakan, bahwa secara dzahir larangan dalam hadits di atas adalah untuk kafilah dagang yang menggunakan kendaraan. 
Karena dalam hadits disebutkan ( ุงู„ุฑูƒุจุงู† ) yang secara bahasa berarti para pengendara, atau yang mengendarai kendaraan.
Namun ulama sepakat bahwa yang dimaksud adalah bukan hanya pedagang yang mengendarai kendaraan, namun juga semua pedagang termasuk yang berjalan kaki.
Menguatkan pendapat tersebut, adalah hadits kedua riwayat Abu Hurairah ra, dimana nabi bersabda yang redaksinya (ูŠุชู„ู‚ู‰ ุงู„ุฌู„ุจ ) yang berarti menghadang barang dagangan. Tanpa menyebutkan apakah dengan berkendaraaan, atau berjalan kaki.
Sehingga kesimpulannya, menghadang atau mencegat kafilah dagang tersebut adalah haram, baik pedagangnya berkendaraan atau berjalan kaki.
๐Ÿ“šMakna Khiyar
Hadits di atas menjelaskan bahwa โ€œpemilik barang boleh melakukan khiyar, apabila ia sudah sampai ke pasar.โ€
Khiyar adalah hak pilih bagi salah satu pihak (dalam hal ini adalah bagi pedagang atau bagi pemilik barang), untuk meneruskan atau membatalkan transaksi, yang dikaitkan dengan syarat atau peristiwa tertentu.
Dalam konteks hadits di atas, pedagang atau kafilah dagang apabila telah terlanjur melepas barang dagangannya di tengah perjalanan, kepada pembeli yang membeli barangnya di tengah perjalanannya, maka ia memiliki hak khiyar yaitu hak pilih; apakah akan meneruskan transaksinya atau membatalkannya, apabila ia telah sampai di pasar dan mengetahui berapa harga pasar.
Jika penjual berkeinginan membatalkan transaksi, maka si pembeli harus mengembalikan barangnya secara keseluruhan, dan pedagang juga harus mengembalikan uangnya secara keseluruhan.
Hanya saja ulama berbeda pendapat berkenaan dengan khiyar dalam talaqqi rukban ini, apakah khiyar terjadi langsung pada saat jual beli dengan penghadang kafilah dagang tanpa di syarakatkan pada akad, ataukah ia terjadi khiyar apabila diyaratkan khiyar pada saat akad?
Jumhur ulama berpendapat bahwa khiyar langsung terjadi meskipun tidak disyaratkan sebelumnya. Karena khiyar dimaksudkan untuk menjaga kepentingan penjual dari adanya unsur tipuan dalam harga (karena ia belum mengetahui harga pasar), dan agar ia tidak merugi.
Sementara ulama lainnya berpendapat bahwa hal tersebut harus disepakati di awal akad, akan adanya khiyar.
๐Ÿ“šLarangan Berlaku Baik Bagi Pembeli Maupun Bagi Penjual
Secara dzahir, hadits di atas melarang untuk menghadang kafilah dagang lalu membeli barang dagangan mereka sementara mereka belum sampai di pasar dan atau belum mengetahui harga pasar.
Namun para ulama sepakat, bahwa larangan tersebut berlaku bukan hanya bagi calon pembeli yang menghadang para kafilah untuk membeli barang mereka, namun juga berlaku bagi penjual yang menghadang pembeli yang akan ke pasar, sebelum pembeli mengetahui harga pasar.
Karena illat (sebab) larangannya adalah untuk menjaga kemasalahatan jual beli bagi semua pihak, termasuk untuk pasar agar tercipta suasana jual beli yang baik dan saling ridha.
๐Ÿ“šHikmah Larangan Talaqqi Rukban
Islam merupakan agama yang universlal, yang ajarannya mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Dan diantara cakupan ajaran Islam adalah mencakup sisi muamalah, khususnya jual beli. Sehingga Islam demikian memperhatikan sisi kemaslahatan pada jual beli, dan memberikan aturan untuk melindungi kemaslahatan umat manusia.
Dalam jual beli pun, Islam tidak hanya memperhatikan pada sisi objek akad dalam jual beli semata, akan tetapi juga sangat memperhatikan pada tatacara dan proses dalam jual belinya. Sehinga tata cara dan proses yang berpotensi menimbulkan kerugian salah satu pihak atau bahkan kedua belaih pihak menjadi dilarang.
Pentingnya kesetaraan posisi antara penjual dan pembeli, dimana keduanya memiliki hak dan kewajiban yang sama. Dan oleh karenanya, ketika melakukan transaksi mereka harus saling ridha satu dengan yang lainnya. Itulah sebabnya, Islam melarang jual beli yang tidak didasari dengan an taradhin. Maka Ijab dan Qabul merupakan representatif dari tanda keridhaan kedua belah pihak.
Informasi merupakan sesuatu yang sangat penting dalam transaksi. Karena apabila transaksi yang diterima adalah salah, maka akan berdampak bisa merugikan salah satu pihak. Oleh karenanya, tidak bolehnya mencegat kafilah dagang adalah karena potensi mendapatkan informasi yang tidak tepat atau bahkan palsu, lalu merugikan pihak penjual.
Islam mengharamkan manipulasi dalam segala transaksi, apapun bentuknya. Terlebih-lebih apabila manipulasi itu dimaksudkan untuk menguntungkan diri sendiri yang sekaligus merugikan pihak lain. Itulah sebabnya dilarangnya berbagai bentuk jual beli yang mengandung hal-hal yang manipulatif, seperti larangan jual beli najsyi, jual beli habalil habalah, jual beli urbun, dsb.
Keabsahan jual beli dan transaksi akan mendatangkan keberkahan. Keberkahan dalam rizki, insya Allah akan mendatangkan manfaat yang besar. 
Karena rizki yang halal, kecenderungannya akan mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang baik. Sebaliknya rizki yang haram, kecenderungannya akan mendorong pada perbuatan buruk dan dosa.
ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู‰ ูˆุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ
ูˆุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (9) – Bab Al Miyah (Tentang Air) (Bag.1)

๐Ÿ“† Selasa,  6 Jumadil Akhir 1437H / 15 Maret 2016
๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits
๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ 
๐Ÿ“šHadits ke 9:
ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุฑูŽุฌูู„ู ุตูŽุญูุจูŽ ุงูŽู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ู‚ูŽุงู„ูŽ: – ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ู – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – “ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุบู’ุชูŽุณูู„ูŽ ุงูŽู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ุจูููŽุถู’ู„ู ุงูŽู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู, ุฃูŽูˆู’ ุงูŽู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ุจูููŽุถู’ู„ู ุงูŽู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู, ูˆูŽู„ู’ูŠูŽุบู’ุชูŽุฑูููŽุง ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุง – ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽู‡ู ุฃูŽุจููˆ ุฏูŽุงูˆูุฏูŽ. ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุณูŽุงุฆููŠู‘ู, ูˆูŽุฅูุณู’ู†ูŽุงุฏูู‡ู ุตูŽุญููŠุญูŒ
๐Ÿ“Œ                Dari seorang laki-laki, sahabat NabiShallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, dia berkata: โ€œRasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melarang seorang wanita mandi dengan air  sisa yang dipakai laki-laki, atau seorang laki-laki terhadap air sisa yang dipakai wanita, dan hendaknya mereka menyiduk air bersama-sama.โ€ Dikeluarkan oleh Abu Daud, An Nasaโ€™i, dan isnadnya shahih.
๐Ÿ“šTakhrij Hadits:
-๐Ÿ”น          Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 81, dan ini adalah lafaz beliau
-๐Ÿ”น          Imam An Nasaโ€™i dalam Sunannya No. 238
-๐Ÿ”น          Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 23132
-๐Ÿ”น          Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 869
๐Ÿ“šStatus Hadits:
-๐Ÿ”น          Imam Ibnu Hajar mengatakan dalam kitab ini: shahih.
-๐Ÿ”น          Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: isnadnya shahih. (Taโ€™liq Musnad AhmadNo. 23132)
-๐Ÿ”น          Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. (Shahih wa Dhaif  Sunan At Tirmidzi No. 238)
๐Ÿ“šKandungan Global hadits ini:
                Hadits ini memiliki beberapa  pelajaran:
๐Ÿ“‹1โƒฃ .       Hadits ini diriwayatkan dari seorang sahabat nabi yang tidak disebutkan siapa dia?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah mengatakan:
ูˆู‡ูˆ ู…ุฌู‡ูˆู„ ู„ูƒู† ุฌู‡ุงู„ุฉ ุงู„ุตุญุงุจูŠ ู„ุง ุชุถุฑ ู„ุฃู† ุงู„ุตุญุงุจุฉ ูƒู„ู‡ู… ุซู‚ุงุฉ ูƒู„ู‡ู… ู„ุง ูŠู…ูƒู† ุฃู† ูŠูƒุฐุจ ุนู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…
๐Ÿ“ŒDia tidak diketahui, tetapi tidak diketahuinya identitas seorang sahabat nabi tidaklah mengapa, karena semua sahabat nabi adalah terpercaya, tidak mungkin mereka mendustakan riwayat dari RasulullahShallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. (Asy Syarh Al Mukhtashar โ€˜Ala Bulughil Maram, 2/7)
Lalu, siapakah sahabat nabi ? Telah banyak penjelasan dari para ulama, di antaranya tercatat dalam Al Qamus Al Fiqhiysebagai berikut:
                Imam Al Jurjani Rahimahullahmengatakan:
ู…ู† ุฑุฃู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ูˆุทุงู„ุช ุตุญุจู‡ุŒ ูˆุฅู† ู„ู… ูŠุฑูˆ ุนู†ู‡
๐Ÿ“ŒSiapa saja yang melihat Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dan bersahabat dalam waktu yang lama, walau pun mereka tidak meriwayatkan hadits darinya.  
                Pendapat ahli hadits, mayoritas ahli fiqih baik salaf dan khalaf, dan yang shahih dari Madzhab Syafiโ€™iyah, Hanabilah, dan Ibadhiyah, sahabat nabi adalah:
ู‡ูˆ ูƒู„ ู…ุณู„ู… ุฑุฃู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ุณูˆุงุก ุฌุงู„ุณู‡ุŒ ุฃู… ู„ุง.
๐Ÿ“Œ                Dia adalah setiap muslim yang melihat Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, sama saja apakah dia pernah duduk bersamanya atau tidak.
                Imam Saโ€™id bin Al Musayyib Radhiallahu โ€˜Anhu (menantu Abu Hurairah), menjelaskan:
ู…ู† ุฃู‚ุงู… ู…ุน ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุณู†ุฉุŒ ูุตุงุนุฏุงุŒ ุฃูˆ ุบุฒุง ู…ุนู‡ ุบุฒูˆุฉ.
๐Ÿ“ŒSiapa saja yang menetap bersama Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam selama setahun atau lebih atau berperang bersamanya dalam sebuah peperangan. 
Menurut madzhab Malikiyah:
ู…ู† ุงุฌุชู…ุน ุจุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŠ ุญูŠุงุชู‡ุŒ ู…ุคู…ู†ุง ุจู‡ุŒ ูˆู…ุงุช ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ.
๐Ÿ“ŒSiapa saja yang berkumpul bersama Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dalam hidupnya, dia mengimaninya, dan mati dalam keadaan demikian.
Sebagian ahli ushul mengatakan:
ู…ู† ู„ู‚ูŠ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู…ุณู„ู…ุงุŒ ูˆู…ุงุช ุนู„ู‰ ุงู„ุงุณู„ุงู…ุŒ ุฃูˆ ู‚ุจู„ ุงู„ู†ุจูˆุฉ ูˆู…ุงุช ู‚ุจู„ู‡ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุญู†ููŠุฉุŒ ูƒุฒูŠุฏ ุจู† ุนู…ุฑูˆ ุจู† ู†ููŠู„ุŒ ุฃูˆ ุงุฑุชุฏ ูˆุนุงุฏ ููŠ ุญูŠุงุชู‡.
๐Ÿ“ŒSiapa saja yang berjumpa NabiShallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam sebagai seorang muslim, dan dia mati dalam Islam, atau dia hidup sebelum masa kenabian dan mati sebelum masa kenabian dalam keadaan agama yang hanif, seperti Zaid bin Amru bin Nufail, atau orang yang murtad dan kembali kepada Islam pada masa hidupnya (Nabi).(Lihat Syaikh Saโ€™diy Abu Jaib, Al Qamus Al Fiqhiy, Hal. 208. Cet. 2, 1988M. Darul Fikr)
Syaikh โ€˜Athiyah Muhammad Salim menjelaskan:
ู…ู† ุฑุขู‡ ูˆู„ูˆ ู„ุญุธุฉ ูˆู‡ูˆ ู…ุคู…ู† ุจู‡ ูˆู…ุงุช ุนู„ู‰ ุงู„ุฅุณู„ุงู…
๐Ÿ“ŒSiapa saja yang melihatnya walau sesaat dan dia mengimaninya dan dia mati dalam keadaan Islam. (Syarh Bulughul Maram, 7/178)
Sedangkan mayoritas ulama terdahulu dan belakangan mengatakan:
ู‡ูˆ ุฃู† ุงู„ุตุญุงุจูŠ ู…ู† ู„ู‚ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู…ุคู…ู†ุง ุจู‡ ูˆู…ุงุช ุนู„ู‰ ุงู„ุงุณู„ุงู…
๐Ÿ“ŒSahabat nabi adalah siapa saja yang berjumpa dengan Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam yang mengimaninya dan dia mati dalam keadaan Islam. (Imam Al โ€˜Ijliy, Maโ€™rifah Ats Tsiqat, hal. 95. Cet. 1, 1985M-1405H. Maktabah Ad Dar)
Dan inilah definisi yang anggap kuat oleh Al Hafizh Ibnu Hajar. (Al Ishabah fi Tamyizish Shahabah, 1/7)
๐Ÿ“‹2โƒฃ .       Dalam hadits ini terdapat larangan bagi kaum laki-laki (suami) untuk mandi dengan berendam menggunakan air sisa kaum wanita (istri), dan sebaliknya.   Tetapi, menurut sebagian ulama larangan ini adalah untuk pendidikan saja, bukan menunjukkan haram. Melainkan sebagai bimbingan kepada suami istri agar lebih melahirkan keakraban di antara mereka berdua.
Berikut ini keterangannya:
ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… -ู†ู‡ู‰ ุฃู† ูŠุบุชุณู„ ุงู„ุฑุฌู„ ุจูุถู„ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุฃูˆ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุจูุถู„ ุงู„ุฑุฌู„ ูˆู„ูŠุบุชุฑูุง ุฌู…ูŠุนุง ู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ุฃูุถู„ ูˆุงู„ู…ุดุฑูˆุน ูŠุนู†ูŠ ู…ุซู„ุง ุฑุฌู„ ูˆุฒูˆุฌุชู‡ ุนู†ุฏู‡ู…ุง ุฅู†ุงุก ูŠู…ูƒู† ุฃู† ูŠุบุชุณู„ ุงู„ุฑุฌู„ ู‚ุจู„ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุซู… ุชุฃุชูŠ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ูุชุบุชุณู„ ุฃูˆ ุชุบุชุณู„ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุซู… ูŠุฃุชูŠ ุงู„ุฑุฌู„ ููŠุบุชุณู„ ูู†ู‡ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ู†ู‡ูŠ ุฅุฑุดุงุฏ ู„ุง ู†ู‡ูŠ ุชุญุฑูŠู… ูˆุฃู…ุฑ ุจุญุงู„ ุฃูุถู„ ู…ู† ู‡ุงุชูŠู† ุงู„ุญุงู„ุชูŠู† ูˆู‡ู‰ ุฃู† ูŠุบุชุฑูุง ุฌู…ูŠุนุง ููŠุฌู„ุณ ุงู„ุฑุฌู„ ุฅู„ู‰ ุฌุงู†ุจ ุงู„ุฅู†ุงุก ูˆุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุฅู„ูŠ ุงู„ุฌุงู†ุจ ุงู„ุฃุฎุฑ ู„ุฃู† ู‡ุฐุง ุฃูˆูุฑ ู„ู„ู…ุงุก ูˆุฃุฌู…ุน ู„ู„ู‚ู„ุจ ูˆุฃุดุฏ ู„ู„ู…ุญุจุฉ ุจูŠู† ุงู„ุฒูˆุฌูŠู† ูˆู„ู‡ุฐุง ุฃุฑุดุฏ ุงู„ู†ุจูŠ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… -ุฅู„ู‰ ุฐู„ูƒ
๐Ÿ“ŒBahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melarang seorang suami mandi dengan bekas air istrinya, atau seorang istri memakai sisa air laki-laki, dan hendaknya mereka berdua menyiduk air bersama-sama. Inilah yang lebih utama yakni dan disyariatkan, yakni misalnya seorang suami dan istrinya  yang memiliki   sebuah bejana yang memungkinkan suami mandi dulu sebelum istrinya, kemudian datang istrinya lalu dia mandi, atau si istri mandi duluan kemudian datang suaminya lalu dia mandi, maka larangan Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam adalah larangan untuk bimbingan bukan larangan pengharaman, atau Beliau memerintahkan  cara yang lebih utama dibanding dua cara tersebut, yakni dengan menyiduk bersama-sama. Si suami duduk di hadapan bejana dan si istri di sisi lainnya, karena hal ini  bisa mengambil air lebih banyak, menyatukan hati, dan menguatkan cinta di antara suami istri. Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam membimbing ke arah sana.     (Asy Syarh Al Mukhtashar, 2/7)
Ulama lain ada yang memahami bahwa larangan ini adalah benar adanya, tetapi makruh tanzih, sebagaimana penjelasan nanti. Ada pula yang mengatakan bahwa larangan ini adalah larangan menggunakan air bekas yang terjatuh dari anggota badan.
๐Ÿ“‹3โƒฃ .       Al Fadhl secara bahasa artinya lebih. Maka, dalam konteks pembahasan ini, Fadhl adalah air lebih yang berada di dalam wadah (bak, ember, kolam kamar mandi) yang sebelumnya dipakai mandi. Bukan air menetes dari anggota tubuh, kalau itu dinamakan air mustaโ€™mal.
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Bab Larangan Jual Beli Najsyi

๐Ÿ“ Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ 
๐Ÿ“šHadits #1
ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู’ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุจููŠู’ุนูŽ ุญูŽุงุถูุฑูŒ ู„ูุจูŽุงุฏู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุชูŽูŽู†ูŽุงุฌูŽุดููˆู’ุง (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ)
Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Nabi SAW melarang orang kota menjual kepada orang desa, dan beliau SAW melarang saling melakukan najsyi (yaitu saling meninggikan tawaran harga barang supaya orang lain membeli dengan harga tinggi.โ€™) (HR. Bukhari)
๐Ÿ“šHadits #2
ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽุฌู’ุดู (ู…ุชูู‚ ุนู„ูŠู‡)
Dari Ibnu Umar ra berkata, bahwa Nabi SAW melarang jual beli najsyi. (Muttafaqun Alaih)
๐ŸŒทTakhrij Hadits
1. Hadits Pertama, diriwayatkan oleh : 
๐Ÿ”นDiriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyuโ€™ Bab La Yabiโ€™ ala Baiโ€™i Akhihi, hadits no 1996. Juga dalam Kitab As-Syurut, bab Ma La Yajuzu Minas Syurut Fin Nikah, hadits no 2522.
๐Ÿ”น Diriwayatkan juga oleh Imam Nasaโ€™i dalam Sunannya, Kitab Al-Buyuโ€™, bab Saumir Rajuli ala Saumi Akhihi, hadits no 4426. Juga dalam Kitab Al-Buyuโ€™, bab Najsy, hadits no 4430 dan 4431. 
๐Ÿ”นDiriwayatkan juga oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya,  dalam Musnad Abi Hurairah ra, hadits no 7375.
๐ŸŒทTakhrij Hadits
2. Hadits Kedua, diriwayatkan oleh : 
๐Ÿ”นImam Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyuโ€™, Bab An-Najsy wa man Qala La Yajuzu Dzalikal Baiโ€™. Hadits no 1998. Juga dalam Kitab Al-Hiyal, Bab Ma Yukhrahu Minat Tanajus, hadits no 6448.
๐Ÿ”น Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyuโ€™, Bab Tahrim baiโ€™ Rajul Ala Baiโ€™i Akhihi, hadits no 2792. 
โ€ข Imam Nasaโ€™i dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu. Bab An-Najsy, hadits no 4429. 
๐Ÿ”น Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab At-Tijarat, Bab Ma Jaโ€™a Fin Nahyi Anin Najs, hadits no 2164. 
๐ŸŒทMakna Umum
Secara umum, hadits ini menggambarkan tentang adanya larangan dalam proses jual beli, yaitu jual beli dengan proses najsyi.
Secara umum baiโ€™ najsyi adalah sebuah proses atau upaya dalam jual beli, dimana si penjual melakukan promosi yang berlebihan dalam memumi-muji barangnya, sehingga menarik minat pembeli untuk membelinya.
Atau bisa juga dalam bentuk si penjual melakukan persekongkolan dengan orang lain, yang berpura-pura menawar barang dagangannya dengan harga tinggi, supaya menipu pembeli sebenarnya, sehingga ia membelinya dengan harga yang tinggi.
Praktek jual beli seperti ini dilarang oleh Rasulullah SAW, karena selain merugikan salah satu pihak (yaitu pembeli), ia juga mengandung unsur tipuan atau promosi yang tidak wajar.
๐ŸŒทMakna Najsyi
Secara bahasa (dikemukakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari), adalah (ุชู†ููŠุฑ ุงู„ุตูŠุฏ) mengejutkan hewan buruan. 
Sedangkan maknanya secara umum adalah : 
Menambahkan sesuatu pada barang dagangan dengan kesepakatan atau persekongkolan sesama penjual atau antara penjual dengan teman-temannya, untuk menjual dengan harga yang tinggi, dan hal tersebut tidak diketahui oleh si pembeli. 
Memuji muji dagangannya sendiri, supaya laris atau supaya memiliki harga yang tinggi.
Bersekongkol dengan temannya yang berpura-pura menawar barang dengan harga tinggi agar orang lain merasa tidak kemalahan, lalu terpengaruh membelinya.
Jadi, unsur-unsur dalam baiโ€™ Najsyi adalah sebagai berikut : 
1โƒฃ. Adanya pengiklanan yang berlebihan, yang melebihi dari objek barang yang sesungguhnya, atau dengan kata lain, ada unsur tipuan dalam periklananannya. 
2โƒฃ. Adanya persekongkolan antara penjual dengan para crew nya, 
3โƒฃ. Adanya penawaran fiktif dari teman persekongkolannya dengan harga tinggi untuk menipu calon pembeli, agar ia juga turut menwar dengan harga yang tinggi juga. 
4โƒฃ. Pengiklanan yang berlebihan tersebut, atau persekongkolan tersebut tidak diketahui oleh pembeli.
Pada Intinya, najsy itu adalah salah satu taktik yang dilakukan oleh penjual untuk melariskan dagangannya melalui reklame yang berlebihan atau melalui taktik penawaran fiktif, agar orang-orang menjadi terkesan lalu membelinya atau menjadi tertipu dalam harganya.
Praktek seperti ini merupakan praktek yang bathil, yang pada initinya dapat menipu pembeli, atau akan terjadi praktek jual beli yang tidak saling ridha (an taradhin).
Sementara salah satu syarat dalam jual beli adalah harus adanya saling ridha antara penjual dan pembeli, yaitu : 
1โƒฃ. Ridha untuk membeli barang dagangan apa adanya
2โƒฃ. Ridha dengan harganya, sesuai dengan harga yang sesungguhnya.
3โƒฃ. Ridha pada proses jual belinya tersebut. 
๐ŸŒทPandangan Ulama
Ibnu Bathal mengemukakan bahwa para ulama sepakat menetapkan bahwa baiโ€™ najsyi merupakan perbuatan maksiat. Dan jual beli yang dilakukan secara najsyi adalah batal menurut madzhab Dzhahiri dan Hambali. 
Sementara Madzhab Maliki berpendapat bahwa jika terjadi baiโ€™ Najsyi, pembeli berhak melakukan khiyar, yaitu berhak membatalkan jual beli tersebut, apabila kemudian ia mengetahui bahwa ia telah tertipu. 
Adapun Ibnu Abi Aufa berkata, bahwa pelaku baiโ€™ Najsyi adalah pemakan riba dan pengkhianat.
Jadi, kesimpulannya bahwa ulama sepakat, jual beli najsyi merupakan perubatan yang buruk dan dilarang oleh syariat dan oleh karenanya haram dilakukan. 
๐ŸŒทHukum Mempromosikan Dagangan
Secara umum, mempromosi kan barang dagangan atau produk tertentu adalah boleh saja, selama dilakukan dengan benar dan jujur serta tidak berlebih-lebihan (tidak bohong dan tidak ada unsur tipuan). 
Adapun apabila iklan dilakukan dengan cara berbohong dan atau berlebihan, sehingga โ€œmenipuโ€ image pembeli, maka hukumnya menjadi haram dan jual belinya menjadi tidak sah.
Oleh karenanya, dalam segala hal yang terkait dengan aspek marketing, hendaknya dilakukan dengan hati-hati, agar jangan sampai mengejar target penjualan tertentu sehingga kita mengorbankan ketaatan terhadap syariat dan hukum Allah SWT. 
Dalam konteks muamalah kontemporer, baiโ€™ najsyi bisa terjadi dalam praktek sebagai berikut : 
๐Ÿ”นTender fiktif, dimana sesama pemasok yang mengikuti tender saling bersekongkol dalam masalah harga, untuk kemudian โ€œmenipuโ€ perusahaan (calon pembeli) sehingga ia membelinya dengan harga yang tinggi.
๐Ÿ”นPenawaran fiktif terhadap objek tertentu, supaya harganya tinggi, sehingga barang tersebut dapat dibeli dengan harga yang tinggi.
๐Ÿ”นPermintaan fiktir terhadap barang tertentu, sehingga pasar meresponnya dengan membeli barang-barang tersebut. Namun setelah para pedagang membelinya, ternyata tidak ada pembeli sesungguhnya di pasaran.
๐ŸŒทBentuk Baiโ€™ Najsyi Dalam Konteks Kekinian
Iklan terhadap suatu produk yang berlebihan, tidak sesuai dengan barang atau produk yang sesungguhnya. Hal ini bisa terjadi dalam produk barang maupun jasa : 
๐Ÿ”บProduk Barang : batu akik, barang-barang seni, barang antik, dengan mengatakan misalnya batu-batuan tersebut bersumber dari barang yang langka. Atau karyawan seni tersebut merupakan karya seni yang bernilai sangat tinggi, dsb.
๐Ÿ”บProduk Jasa : seperti asuransi, saham, yang dilakukan dengan cara promosi berlebihan, menutupi kekurangan dari produk tersebut, yang ditampilkan hanya kebaikan-kebaikan saja .
ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู‰ ูˆุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ
ูˆุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (8) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ 
๐Ÿ“šHadits 8
                Al Hafizh Ibnu Hajar juga menambahkan:
ูˆูŽู„ูุฃูŽุจููŠ ุฏูŽุงูˆูุฏูŽ: – ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ูููŠู‡ู ู…ูู†ู’ ุงูŽู„ู’ุฌูŽู†ูŽุงุจูŽุฉู
๐Ÿ“Œ                Dan pada riwayat Abu Daud: โ€œJanganlah mandi janabah padanya (fiihi).โ€
                Lengkapnya adalah:
ู„ูŽุง ูŠูŽุจููˆู„ูŽู†ู‘ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ุงู„ุฏู‘ูŽุงุฆูู…ู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ูููŠู‡ู ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽุงุจูŽุฉู
๐Ÿ“Œ                Janganlah salah seorang kalian kencing pada air tergenang dan janganlah  mandi janabah padanya.
๐Ÿ“šTakhrij Hadits:
๐Ÿ”น          Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 70
๐Ÿ”น          Imam An Nasaโ€™i dalam Sunannya No. 398
๐Ÿ”น          Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 9596
๐Ÿ”น          Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 285
๐Ÿ”น          Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 1064
๐Ÿ”น          Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya No.  1257
๐Ÿ”น          Imam Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalamKanzul โ€˜Ummal No. 26422
๐Ÿ“šStatus Hadits:
๐Ÿ”น          Hadits ini dishahihkan oleh Imam Ibnu Hibban, dengan dimasukkannya hadits ini dalam kitab Shahihnya.
๐Ÿ”น          Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad menceritakan bahwa semua perawi hadits ini, adalah jujur dan terpercaya. (Lihat rinciannya dalam Syarh Sunan Abi Daud,  1/286)
๐Ÿ”น          Syaikh Al Albani menilai: hasan shahih. (Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 70)
๐Ÿ“šKandungan hadits:
๐Ÿ“‹1โƒฃ .       Hadits ini sama dengan sebelumnya, yakni larangan kencing di air diam, dan larangan mandi dalam keadaan junub di air diam, atau larangan mandi janabah di air yang telah dikencingi.
๐Ÿ“‹2โƒฃ .       Hikmah dilarangnya mandi di air tergenang adalah karena air tersebut memiliki potensi besar tidak aman dari najis dan kotoran yang berasal dari manusia dan hewan. Biasanya ini terjadi pada air tergenang yang berada di alam terbuka seperti kubangan, empang, kolam ikan, bahkan kolam renang, yang semuanya tidak dialirkan sehingga tidak terganti dengan air yang baru. Maka, maka itulah sebabnya  menjadi terlarang.
โšNamun, sebagaian fuqaha berpandangan lain, bahwa larangan orang junub untuk mandi di air tergenang, disebabkan karena keadaan junub mereka membuat air tersebut menjadi rusak, dan tidak layak dijadikan air untuk mandi dan bersuci; seakan air itu juga menjadi junub karenanya
Al โ€˜Allamah Ibnu At Turkumani Rahimahullah menjelaskan hal tersebut berserta alasannya:
ูุงุณุชุฏู„ ุจู‡ ุจุนุถ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ุนู„ู‰ ุงู† ุงุบุชุณุงู„ ุงู„ุฌู†ุจ ููŠ ุงู„ู…ุงุก ูŠูุณุฏู‡ ู„ูƒูˆู†ู‡ ู…ู‚ุฑูˆู†ุง ุจุงู„ู†ู‡ูŠ ุนู† ุงู„ุจูˆู„ ููŠู‡
๐Ÿ“ŒSebagian ahli fiqih berdalil dengan hadits ini, bahwa mandinya orang junub pada air maka itu bisa merusakkannya, alasannya adalah karena hal ini dibarengi dengan pernyataan larangan kencing di dalamnya. (Al Jauhar An Naqiy, 8/323)
๐Ÿ”‘Jadi, sebagaimana kencing di air yang tergenang bisa merusak air tersebut, maka orang junub yang  nyebur di dalamnya juga bisa merusakannya, oleh karenanya keduanya dilarang dalam hadits ini.
Tetapi, pemahaman ini dipandang lemah dan bertentangan dengan riwayat berikut:
ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุบู’ุชูŽุณูŽู„ูŽ ุจูŽุนู’ุถู ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูููŠ ุฌูŽูู’ู†ูŽุฉู ููŽุฌูŽุงุกูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู„ููŠูŽุชูŽูˆูŽุถู‘ูŽุฃูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ู„ูŽู‡ู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ููŠ ูƒูู†ู’ุชู ุฌูู†ูุจู‹ุง ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกูŽ ู„ูŽุง ูŠูุฌู’ู†ูุจู
๐Ÿ“ŒDari Ibnu Abbas, katanya: โ€œSebagian istri Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mandi dijafnah (bak besar), lalu Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam datang untuk berwudhu dari air tersebut atau dia mandi. Berkatalah isterinya kepadanya: โ€˜Wahai Rasulullah, saya sedang keadaan junub.โ€™ Maka, Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam menjawab; โ€œSesungguhnya air tidaklah junub.โ€ (HR. Abu Daud No. 68, At Tirmidzi No. 65, katanya: hasan shahih. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 859, Ibnu Hibban No. 1248, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 355)
๐Ÿ“‹3โƒฃ .       Adapun air tergenang yang memang berasal dari air tanah yang suci dan bersih, telaga, mata air, sungai,  atau air tadah hujan, lalu semuanya ditampung di bak mandi, tempayan, tangki air, atau ember, yang semuanya pada asalnya adalah suci dan bersih secara meyakinkan. Maka, semua ini โ€“walau termasuk air diam karena memang diwadahkan- adalah boleh dimanfaatkan karena bersih dan sucinya, baik keperluan makan minum, atau bersuci dan mandi. Ini dibenarkan oleh syaraโ€™ selama air tersebut tidak terkena najis yang membuatnya berubah warna, bau, dan rasa (sebagaimana pembahasan pada hadits 1-4), dibenarkan pula oleh โ€˜urf (kebiasaan) yang berlaku pada masyarakat kaum muslimin dari zaman ke zaman tanpa ada yang mengingkarinya. Sebab, air pada wadah-wadah ini jauh dari kemungkinan terkena najis dan kotoran, kecuali memang sengaja dibuat demikian.
Wallahu Aโ€™lam
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (7) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐Ÿ“šHadits 7:

                Al Hafizh Ibnu Hajar menulis;

ูˆูŽู„ูู…ูุณู’ู„ูู…ู: “ู…ูู†ู’ู‡ู”

๐Ÿ“Œ                Pada riwayat Imam Muslim disebutkan: minhu (darinya).

                Lengkapnya adalah:

ู„ูŽุง ุชูŽุจูู„ู’ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ุงู„ุฏู‘ูŽุงุฆูู…ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู„ูŽุง ูŠูŽุฌู’ุฑููŠ ุซูู…ู‘ูŽ ุชูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ู…ูู†ู’ู‡ู

             
๐Ÿ“ŒJanganlah kamu kencing di air  diam yang tidak mengalir, kemudian kamu mandi darinya (minhu).

๐Ÿ“šTakhrij hadits:

-๐Ÿ”น          Imam Muslim dalam Shahihnya No. 282

-๐Ÿ”น          Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 8186

๐Ÿ“šStatus Hadits:

                Hadits ini shahih, disebutkan Imam Muslim dalam kumpulan hadits shahihnya,Jamiโ€™ush Shahih. Asy Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: โ€œShahih sesuai syarat syaikhan(Bukhari dan muslim).โ€ (Taโ€™liq Musnad Ahmad No. 8186)

๐Ÿ“šKandungan Hadits:

๐Ÿ“‹1โƒฃ .       Hadits ini sama dengan hadits sebelumnya mengandung larangan kencing di air tergenang secara tersendiri, atau dia lalu mandi di dalamnya setelah dia kencing di air tersebut.

๐Ÿ“‹2โƒฃ .       Hadits ini menggunakan kata yang berbeda dengan sebelumnya yakni tsumma taghtasiluminhu (kemudian kalian mandi darinya), bukan tsumma yaghtasilu fiihi.

Perbedaan pemakaian fiihi dan minhu, dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah sebagai berikut:

ูˆุงู„ูุฑู‚ ุจูŠู† ููŠู‡ ูˆู…ู†ู‡ ุฃู† ุงู„ุฐูŠ ูŠุบุชุณู„ ููŠู‡ ูŠุนู†ูŠ ูŠู†ุบู…ุณ ููŠู‡ ูˆู…ู†ู‡ ูŠุนู†ูŠ ูŠุบุชุฑู ู…ู†ู‡ ูˆูŠุบุชุณู„ ุจู‡ ูˆูƒู„ุงู‡ู…ุง ู…ู†ู‡ูŠ ุนู†ู‡

๐Ÿ“Œ                Perbedaan antara fiihi (padanya) dan minhu (darinya) adalah bahwa makna yaghtasilu fiihi (dia mandi padanya) yakni dia menceburkan diri ke dalamnya (berendam), ada pun minhu (darinya) adalah dia menciduknya dan dia mandi dengannya, dan kedua hal ini adalah terlarang. (Asy Syarh Al Mukhtashar โ€˜alal Bulughil Maram, 2/6)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (6) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

Hadits ke 6:

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah menulis:

ูˆูŽู„ูู„ู’ุจูุฎูŽุงุฑููŠู‘ู: – ู„ูŽุง ูŠูŽุจููˆู„ูŽู†ู‘ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ูููŠ ุงูŽู„ู’ู…ูŽุงุกู ุงูŽู„ุฏู‘ูŽุงุฆูู…ู ุงูŽู„ู‘ูŽุฐููŠ ู„ูŽุง ูŠูŽุฌู’ุฑููŠ, ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ูููŠู‡ู

                Dalam riwayat Imam Bukhari:โ€œJanganlah salah seorang kalian kencing pada air yang diam yang tidak mengalir, kemudian dia mandi di dalamnya (fiihi).โ€

Takhrij hadits:

–          Imam Al Bukhari dalam Shahihnya No. 239
–          Imam AthThahawi dalam Syarh Maโ€™anil Aatsar No. 15
–          Imam Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalamKanzul โ€˜Ummal No. 26419

Kandungan Hadits:

1.       Pada hadits ini mengandung dua larangan:

1. Pertama, terlarangnya kencing di air yang tergenang.

2. Kedua, terlarangnya mandi di air tergenang yang telah dikencingi tersebut.

Sebagian ulama menyebutkan bahwa hadits ini sebagai perinci dari hadits sebelumnya. Hadits ini menyebutkan sebab kenapa terlarang mandi di air tergenang, yaitu karena air tersebut telah dia kencingi. Artinya larangan terjadi jika dua aktifitas tersebut menjadi satu paket yang berurut; dia kencing   kemudian mandi di air tersebut. Jika dia tidak kencing di air tersebut, maka tidak terlarang untuk mandi di dalamnya, tetapi larangan kencing di air tergenang tetaplah mutlak terlarang.

Inilah yang dikatakan Imam Ash Shanโ€™aniRahimahullah, sebagai berikut:

ูˆุฅู† ุฃูุงุฏ ุฃู† ุงู„ู†ู‡ูŠ ุฅู†ู…ุง ู‡ูˆ ุนู† ุงู„ุฌู…ุน ุจูŠู† ุงู„ุจูˆู„ ูˆุงู„ุงุบุชุณุงู„ุŒ ุฏูˆู† ุฅูุฑุงุฏ ุฃุญุฏู‡ู…ุงุŒ ู…ุน ุฃู†ู‡ ูŠู†ู‡ู‰ ุนู† ุงู„ุจูˆู„ ููŠู‡ ู…ุทู„ู‚ุงู‹

๐Ÿ“ŒFaidah hadits ini adalah bahwa larangan hanyalah terjadi bagi penggabungan antara kencing dan mandi, bukan ketika dipisahkan satunya, hanya saja larangan kencing di dalamnya adalah larangan yang mutlak.(Subulus Salam, 1/20)

Sementara ulama lain menjelaskan, bahwa larangan tersebut adalah satu persatu. Mandi junub di air tergenang adalah terlarang, juga kencing di air tergenang adalah terlarang, karena keduanya memiliki dalilnya masing-masing.  Ada pun menggabungkan kedua perbuatan itu lebih terlarang lagi.

Imam Abu Thayyib Syamsul โ€˜Azhim Abadi Rahimahullah menjelaskan:

( ู„ุง ูŠุจูˆู„ู† ุฃุญุฏูƒู… ููŠ ุงู„ู…ุงุก ุงู„ุฏุงุฆู… ูˆู„ุง ูŠุบุชุณู„ ููŠู‡ ู…ู† ุงู„ุฌู†ุงุจุฉ ) ูˆู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ ุตุฑูŠุญ ุงู„ู…ู†ุน ู…ู† ูƒู„ ูˆุงุญุฏ ู…ู† ุงู„ุจูˆู„ ูˆุงู„ุงุบุชุณุงู„ ููŠู‡ ุนู„ู‰ ุงู†ูุฑุงุฏู‡

                (Janganlah salah seorang kalian kencing di air tergenang dan janganlah mandi janabah di dalamnya) hadits ini begitu jelas melarang masing-masingnya, baik kencing dan mandi di dalamnya, secara tersendiri. (โ€˜Aunul Maโ€™bud, 1/93)

Syaikh Abul Hasan Al Mubarkafuri Rahimahullah menjelaskan bahwa larangan kencing secara tersendiri, mandi secara tersendiri, dan menggabungkan keduanya, semuanya ada dalilnya masing-masing:

ููŠุคุฎุฐ ู…ู† ู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ู†ู‡ู‰ ุนู† ุงู„ุฌู…ุนุŒ ูˆู…ู† ุฑูˆุงูŠุฉ ู…ุณู„ู… ุงู„ุชุงู„ูŠุฉ ุงู„ู†ู‡ู‰ ุนู† ุฅูุฑุงุฏ ุงู„ุงุบุชุณุงู„ุŒ ูˆู…ู† ุญุฏูŠุซ ุฌุงุจุฑ ุงู„ุขุชูŠ ุนู† ุฅูุฑุงุฏ ุงู„ุจูˆู„ุŒ ูˆุงู„ู†ู‡ู‰ ุนู† ูƒู„ ูˆุงุญุฏ ู…ู†ู‡ู…ุง ุนู„ู‰ ุงู†ูุฑุงุฏู‡ ู„ูŠุณุชู„ุฒู… ุงู„ู†ู‡ู‰ ุนู† ูุนู„ู‡ู…ุง ุฌู…ูŠุนุงู‹ ุจุงู„ุฃูˆู„ู‰ุŒ ูˆู‚ุฏ ูˆุฑุฏ ุงู„ู†ู‡ู‰ ุนู† ูƒู„ ูˆุงุญุฏ ู…ู†ู‡ู…ุง ููŠ ุญุฏูŠุซ ูˆุงุญุฏ

                Dari hadits ini, larangan ditetapkan pada gabungannya (kencing dan mandi), pada riwayat muslim berikutnya larangan pada mandi secara tersendiri, dari hadits Jabir larangan pada kencing secara tersendiri, dan larangan pada setiap masing-masing hal itu menunjukkan kemestian lebih terlarangnya melakukan keduanya secara bersama-sama, dan setiap hal ini telah terdapat hadits yang melarangnya secara tersendiri . (Mirโ€™ah Mafatih Syarh Misykah Al Mashabih, 2/169)

                Syaikh Abdul Muhsin Hamd Al โ€˜Abbad Al Badr Rahimahullah juga berkata:

ูุฏู„ ู‡ุฐุง ุนู„ู‰ ุงู„ู…ู†ุน ู…ู† ุงู„ุจูˆู„ ูˆุงู„ุงุบุชุณุงู„ ุงุฌุชู…ุงุนุงู‹ ูˆุงูุชุฑุงู‚ุงู‹ุŒ ุงุฌุชู…ุงุนุงู‹ ุจุฃู† ูŠุจูˆู„ ูˆูŠุบุชุณู„ุŒ ุฃูˆ ุงูุชุฑุงู‚ุงู‹ ุจุฃู† ูŠุจูˆู„ ูˆู„ุง ูŠุบุชุณู„ุŒ ุฃูˆ ูŠุบุชุณู„ ูˆู„ุง ูŠุจูˆู„.

                Hadits ini menunjukkan bahwa larangan kencing dan mandi adalah baik bersama-sama dan masing-masing. Larangan kencing dan mandi berbarengan,  atau sendiri-sendiri kencing saja tanpa mandi, atau mandi saja tanpa kencing. (Syarh Sunan Abi Daud, 1/286)

                Jadi, bisa disimpulkan dari uraian para ulama di atas:

–          Larangan mandi janabah di air yang diam, ada haditsnya tersendiri. (Lihat hadits ke-5)

–          Larangan kencing di air yang diam, ada haditsnya tersendiri. (Lihat hadits ke-6)

–          Larangan mandi di air yang telah kita kencingi sebelumnya, ada haditsnya tersendiri (Lihat hadits ke-6)
           

2.       Kalimat  ุงูŽู„ู‘ูŽุฐููŠ ู„ูŽุง ูŠูŽุฌู’ุฑููŠ โ€“ air yang tidak mengalir, merupakan penjelas dari kalimat ุงูŽู„ู’ู…ูŽุงุก ุงูŽู„ุฏู‘ูŽุงุฆูู… โ€“ air yang diam, yang disebutkan pada hadits sebelumnya.

3.       Kata tsumma yaghtasilu fiihi (kemudian dia mandi padanya), yaitu dia mandi dengan menceburkan dirinya ke dalam air tersebut. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al โ€˜Utsaimin Rahimahullah:

ุฃู† ุงู„ุฐูŠ ูŠุบุชุณู„ ููŠู‡ ูŠุนู†ูŠ ูŠู†ุบู…ุณ ููŠู‡

                Bahwasanya makna dari yaghtasilu fiihi adalah dia menceburkan diri di dalamnya.(Asy Syarh Al Mukhtashar โ€˜alal Bulughil Maram, 2/6)

                Sehingga, jika seseorang mandi dengan cara berendam di air tergenang, maka air tersebut menjadi air mustaโ€™mal (air yang sudah dipakai).  Itulah sebabnya kita dilarang mandi di sana, sebab itu bisa merusaknya sehingga tidak bisa lagi untuk bersuci, tentunya  pendapat ini bagi yang berpendapat air mustaโ€™mal adalah tidak bisa mensucikan, yakni sebagian kalangan Hanafiyah.

                Al Hafizh Ibnu Hajar menceritakan:

ูˆุงุณุชุฏู„ ุจู‡ ุจุนุถ ุงู„ุญู†ููŠุฉ ุนู„ู‰ ุชู†ุฌูŠุณ ุงู„ู…ุงุก ุงู„ู…ุณุชุนู…ู„ ู„ุฃู† ุงู„ุจูˆู„ ูŠู†ุฌุณ ุงู„ู…ุงุก ููƒุฐู„ูƒ ุงู„ุงุบุชุณุงู„ ูˆู‚ุฏ ู†ู‡ู‰ ุนู†ู‡ู…ุง ู…ุนุง ูˆู‡ูˆ ู„ู„ุชุญุฑูŠู…

                Sebagian Hanafiyah berdalil dengan hadits ini, bahwa najisnya air mustaโ€™mal, karena kencing bisa menajiskan air, demikian juga mandi, dan keduanya telah dilarang bersamaan, dan larangan itu menunjukkan haram. (Fathul Bari, 1/374)

                Imam Abu Thayyib Syamsul โ€˜Azhim Abadi Rahimahullah menjelaskan:

ูˆุฐู‡ุจ ุฌู…ุงุนุฉ ู…ู† ุงู„ุนู„ู…ุงุก ูƒุนุทุงุก ูˆุณููŠุงู† ุงู„ุซูˆุฑูŠ ูˆุงู„ุญุณู† ุงู„ุจุตุฑูŠ ูˆุงู„ุฒู‡ุฑูŠ ูˆุงู„ู†ุฎุนูŠ ูˆุฃุจูŠ ุซูˆุฑ ูˆุฌู…ูŠุน ุฃู‡ู„ ุงู„ุธุงู‡ุฑ ูˆู…ุงู„ูƒ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉ ููŠ ุฅุญุฏู‰ ุงู„ุฑูˆุงูŠุงุช ุนู† ุงู„ุซู„ุงุซุฉ ุงู„ู…ุชุฃุฎุฑูŠู† ุฅู„ู‰ ุทู‡ุงุฑุฉ ุงู„ู…ุงุก ุงู„ู…ุณุชุนู…ู„ ู„ู„ูˆุถูˆุก

                Jamaah para ulama seperti โ€˜Atha, Sufyan Ats Tsauri, Al Hasan Al Bashri, Az Zuhri, An Nakhaโ€™i, Abu Tsaur, semua ahli zhahir (tekstualis), Malik, Asy Syafiโ€™i, Abu Hanifah pada salah satu riwayat dari tiga riwayat kalangan generasi mutaโ€™akhirin (belakangan), mereka berpendapat bahwa sucinya air mustaโ€™mal untuk berwudhu.  (โ€˜Aunul Maโ€™bud, 1/93)

          Alasannya adalah hadits Shahih Bukhari, dari Abu Juhaifah yang menceritakan para sahabat menggunakan air bekas wudhu nabi untuk mengusap diri mereka, juga dari Abu Musa dan Bilal, bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam memerintahkan Abu Musa dan Bilal untuk meminum sisa wudhu Beliau, juga mengusap wajah mereka berdua dengannya. (1/93)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Fiqih Shalat Gerhana

Ilustrasi. kominfo.go.id
Fiqih 
Shalat Gerhana
Oleh: Farid Nuโ€™man Hasan
Kusuful Qamar (Gerhana Bulan) dan Khusufusy Syams (Gerhana Matahari) adalah dua
tanda-tanda kebesaran Allah Taโ€™ala yang dikehendakiNya terjadi dalam kehidupan
dunia. Keduanya tidak terkait dengan mitos dan khurafat tertentu.
Keduanya โ€“dan hal apa pun yang terjadi pada benda-benda langit- adalah terjadi
sesuai dengan iradah dan   qudrahNya
atas mereka.

Allah Taโ€™ala berfirman:
ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณู ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽู…ูŽุฑู ุจูุญูุณู’ุจูŽุงู†ู (5)
ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุฌู’ู…ู ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽุฌูŽุฑู ูŠูŽุณู’ุฌูุฏูŽุงู†ู (6) ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกูŽ ุฑูŽููŽุนูŽู‡ูŽุง ูˆูŽูˆูŽุถูŽุนูŽ
ุงู„ู’ู…ููŠุฒูŽุงู†ูŽ (7) ุฃูŽู„ู‘ูŽุง ุชูŽุทู’ุบูŽูˆู’ุง ูููŠ ุงู„ู’ู…ููŠุฒูŽุงู†ู (8)


Matahari
dan bulan (beredar) menurut perhitungan dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan
Kedua-duanya tunduk kepada nya dan Allah telah meninggikan langit dan Dia
meletakkan neraca (keadilan), supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca
itu.
(QS. Ar Rahman: 5-8)

                Islam
telah memberikan bimbingan bagi umatnya tentang apa yang mesti mereka perbuat
jika datang peristiwa gerhana. Peristiwa ini bukan sekedar menjadi pengalaman
alamiah semata, dan sekedar untuk bersenang-senang melihat gerhana, tetapi
dikembalikan kepada upaya dan sarana pengabdian kepada yang menciptakan
terjadinya gerhana.

I.                   
Taโ€™rif (Definisi)
                Apakah
yang dimaksud dengan Kusuful Qamar dan Khusufusy Syams?
                Imam
An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

ูˆุฌู…ู‡ูˆุฑ ุฃู‡ู„ ุงู„ู„ุบุฉ ูˆุบูŠุฑู‡ู… ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุฎุณูˆู
ูˆุงู„ูƒุณูˆู ูŠูƒูˆู† ู„ุฐู‡ุงุจ ุถูˆุฆู‡ู…ุง ูƒู„ู‡ ูˆ
ูŠูƒูˆู† ู„ุฐู‡ุงุจ ุจุนุถู‡

                Menurut
mayoritas ahli bahasa dan selain mereka, bahwa khusuf dan kusuf  itu terjadi 
karena hilangnya cahaya keduanya (matahari dan bulan) secara
keseluruhan, dan karena juga hilangnya sebagiannya.   (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim,
6/198)


II.                 
Masyruโ€™nya Shalat Gerhana
                Kesunahan shalat
gerhana telah menjadi kesepakatan dari masa ke masa, sebab begitu banyak
riwayat yang menyebutkannya, baik untuk dilakukan oleh kaum laki-laki dan
wanita, dan afdhalnya dilakukan secara berjamaah.
                Khadimus Sunnah,
Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menjelaskan:
ุงุชูู‚ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุนู„ู‰ ุฃู† ุตู„ุงุฉ ุงู„ูƒุณูˆู ุณู†ุฉ ู…ุคูƒุฏุฉ ููŠ ุญู‚ ุงู„ุฑุฌุงู„ ูˆุงู„ู†ุณุงุกุŒ ูˆุฃู† ุงู„ุงูุถู„ ุฃู† ุชุตู„ู‰ ููŠ ุฌู…ุงุนุฉ ูˆุฅู† ูƒุงู†ุช ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ู„ูŠุณุช ุดุฑุทุง ููŠู‡ุง

                Para ulama telah sepakat, bahwasanya shalat gerhana adalah sunah
muakadah
(sunah yang ditekankan) bagi kaum laki-laki dan wanita, dan
afdhalnya dilakukan secara berjamaah, hanya saja berjamaah itu bukan syarat
sahnya shalat gerhana. (Fiqhus Sunnah, 1/213)
                Imam An Nawawi Rahimahullah juga
menjelaskan:

ูˆุฃุฌู…ุน ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ุง ุณู†ุฉ ูˆู…ุฐู‡ุจ ู…ุงู„ูƒ
ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุฃุญู…ุฏ ูˆุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุฃู†ู‡ ูŠุณู† ูุนู„ู‡ุง ุฌู…ุงุนุฉ ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุนุฑุงู‚ูŠูˆู† ูุฑุงุฏู‰


                Ulama telah ijmaโ€™
bahwa shalat gerhana adalah sunah, dan madzhab Malik, Syafiโ€™i, Ahmad, dan
mayoritas ulama bahwa shalat tersebut disunahkan dilakukan dengan cara
berjamaah. Sedangkan โ€˜Iraqiyin (para ulama Iraq, yakni Abu Hanifah dan
sahabat-sahabatnya, pen) berpendapat dilakukan sendiri saja. (Al
Minhaj
Syarh Shahih Muslim, 6/198)


                Artinya, tidak mengapa
dilakukan sendiri, namun menghidupkan sunah โ€“yakni berjamaah- adalah lebih
utama, sebab begitulah yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa
Sallam
bersama para sahabatnya, dan ini menjadi pegangan umumnya fuqaha.
III.               
Dalil
Pensyariatannya
                Di sini akan di
sebutkan satu saja dari sekian banyak dan model penceritaan shalat gerhana,
yakni dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu
โ€˜Alaihi wa Sallam
bersabda:

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽู…ูŽุฑูŽ ุขูŠูŽุชูŽุงู†ู ู…ูู†ู’ ุขูŠูŽุงุชู
ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽุฎู’ุณูููŽุงู†ู ู„ูู…ูŽูˆู’ุชู ุฃูŽุญูŽุฏู ูˆูŽู„ูŽุง ู„ูุญูŽูŠูŽุงุชูู‡ู ููŽุฅูุฐูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูู…ู’
ุฐูŽู„ููƒูŽ ููŽุงุฏู’ุนููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽูƒูŽุจู‘ูุฑููˆุง ูˆูŽุตูŽู„ู‘ููˆุง ูˆูŽุชูŽุตูŽุฏู‘ูŽู‚ููˆุง


                Sesungguhnya
(gerhana)  matahari dan bulan adalah dua
tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah, keduanya terjadi bukan karena
wafatnya seseorang dan bukan pula lahirnya seseorang. Jika kalian
menyaksikannya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat, dan bersedehkahlah.
(HR. Bukhari No. 1044, 1046, Muslim No. 901) 

                Inilah cara Islam,
yakni berdoa, berdzikir (takbir), shalat, dan bersedekah, bukan mengaitkannya
dengan mitos, tahayul, dan khurafat tertentu. Sabda nabi ini, sekaligus
mengoreksi keyakinan sebagian manusia pada zaman itu yang mengaitkan terjadinya
gerhana dengan wafatnya anak Beliau Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, yaitu
Ibrahim.

IV.               
Waktu
Pelaksanaannya
                Waktunya adalah sejak
awal gerhana sampai keadaan kembali seperti sedia kala.
Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

ูˆูˆู‚ุชู‡ุง ู…ู† ุญูŠู† ุงู„ูƒุณูˆู ุฅู„ู‰ ุงู„ุชุฌู„ูŠ
Waktunya adalah dari sejak gerhana sampai kembali
tampak (sinarnya).
(Fiqhus
Sunnah
, 1/215)


Dengan kata lain, seperti yang dikatakan oleh
Syaikh Wahbah Az Zuhaili Hafizhahullah:

ุชุตู„ู‰ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆู‚ุช ุญุฏูˆุซ ุงู„ูƒุณูˆู
ูˆุงู„ุฎุณูˆู
Dilaksanakannya shalat ini adalah pada waktu
terjadinya gerhana (Al Kusuf dan Al Khusuf).
(Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 2/552)

Sehingga, shalat gerhana belum boleh dilaksanakan
jika belum mulai gerhana, dan sebaliknya  jika sudah nampak terang atau sinar lagi
secara sempurna, selesailah waktu dibolehkannya  pelaksanaan shalat gerhana.

Bolehkah dilakukan pada waktu-waktu terlarang
shalat? Yaitu setelah shalat subuh sampai saat awal terbit matahari, ketika
matahari tegak di atas sampai tergelincirnya, lalu setelah shalat ashar sampai
saat pas matahari terbenam.

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat, Jumhur
(mayoritas) mengatakan  tidak boleh  yakni  makruh,
inilah pandangan Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah, kalangan Hanabilah mengatakan
berdoa dan berdzikir  saja, tanpa
shalat,  sebab larangan itu berlaku umum
untuk jenis shalat sunah apa pun. Ada pun kalangan syafiโ€™iyah membolehkannya. (Ibid,
2/553-554)


Yang lebih kuat โ€“ Wallahu Aโ€™lam– adalah
yang menyatakan boleh. Dalilnya adalah:
         
Keumuman
dalil:
ููŽุฅูุฐูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูู…ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ููŽุงุฏู’ุนููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ
ูˆูŽูƒูŽุจู‘ูุฑููˆุง ูˆูŽุตูŽู„ู‘ููˆุง ูˆูŽุชูŽุตูŽุฏู‘ูŽู‚ููˆุง


Jika kalian menyaksikannya, maka berdoalah kepada
Allah, bertakbirlah, shalat, dan bersedehkahlah. (HR. Bukhari No. 1044,
Muslim No. 901)
 

Maka, hadits ini berlaku secara mutlak (umum)
bahwa shalat gerhana dilakukan kapan saja, sebab itu adalah konsekuensi dari
perkataan  โ€œJika kalian
menyaksikannya.โ€
Jadi, kapan saja menyaksikan gerhana, shalatlah . …

         
Larangan
shalat pada waktu-waktu terlarang itu hanya berlaku bagi shalat-shalat yang
dilakukan tanpa sebab (istilahnya shalat muthlaq). Ada pun jika
dilakukan karena adanya sebab khusus, maka dibolehkan. Hal ini terlihat jelas
ketika Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam membolehkan seorang sahabatnya
yang mengqadha shalat sunah fajar dilakukan setelah shalat subuh.[1]
Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam 
juga pernah mengqadha shalat sunah  baโ€™diyah  zhuhur di waktu setelah ashar.[2]
Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam memerintahkan seseorang untuk
melaksanakan shalat tahiyatul masjid ketika beliau sedang khutbah,  padahal itu adalah waktu yang terlarang
melakukan aktifitas apa pun kecuali mendengarkan khutbah, ternyata Nabi
Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam
justru memerintahkan sahabat itu, dengan
mengatakan qum farkaโ€™ rakโ€™atain (Bangunlah dan shalatlah dua rakaat).[3]
Para sahabat juga pernah shalat jenazah pada waktu setelah ashar, sehingga
menurut Imam An Nawawi[4]
dan Imam Abul Hasan Al Mawardi[5]
kebolehan shalat jenazah pada waktu terlarang adalah ijmaโ€™ , karena saat
itu para sahabat tidak ada yang mengingkarinya. Begitu pula shalat gerhana di
waktu-waktu terlarang ini, dia termasuk shalat yang memiliki sebab (yakni peristiwa
gerhana), bukan termasuk shalat muthlaq. Sehingga tetap dibolehkan walau
dilakukan saat waktu terlarang shalat.
V.                 
Tata
Cara Pelaksanaannya
Tata
cara pelaksanaan shalat gerhana telah dijelaskan secara rinci dalam kitab Shahih
Bukhari
dan Shahih Muslim, sebagai berikut:
Dari
โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, katanya:
ุฎูŽุณูŽููŽุชู’
ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณู ูููŠ ุญูŽูŠูŽุงุฉู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽุฎูŽุฑูŽุฌูŽ
ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ููŽุตูŽูู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูˆูŽุฑูŽุงุกูŽู‡ู ููŽูƒูŽุจู‘ูŽุฑูŽ ููŽุงู‚ู’ุชูŽุฑูŽุฃูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู
ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูุฑูŽุงุกูŽุฉู‹ ุทูŽูˆููŠู„ูŽุฉู‹ ุซูู…ู‘ูŽ ูƒูŽุจู‘ูŽุฑูŽ
ููŽุฑูŽูƒูŽุนูŽ ุฑููƒููˆุนู‹ุง ุทูŽูˆููŠู„ู‹ุง ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุณูŽู…ูุนูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูู…ูŽู†ู’ ุญูŽู…ูุฏูŽู‡ู ููŽู‚ูŽุงู…ูŽ ูˆูŽู„ูŽู…ู’
ูŠูŽุณู’ุฌูุฏู’ ูˆูŽู‚ูŽุฑูŽุฃูŽ ู‚ูุฑูŽุงุกูŽุฉู‹ ุทูŽูˆููŠู„ูŽุฉู‹ ู‡ููŠูŽ ุฃูŽุฏู’ู†ูŽู‰ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู‚ูุฑูŽุงุกูŽุฉู ุงู„ู’ุฃููˆู„ูŽู‰
ุซูู…ู‘ูŽ ูƒูŽุจู‘ูŽุฑูŽ ูˆูŽุฑูŽูƒูŽุนูŽ ุฑููƒููˆุนู‹ุง ุทูŽูˆููŠู„ู‹ุง ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฃูŽุฏู’ู†ูŽู‰ ู…ูู†ู’ ุงู„ุฑู‘ููƒููˆุนู
ุงู„ู’ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ู ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุณูŽู…ูุนูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูู…ูŽู†ู’ ุญูŽู…ูุฏูŽู‡ู ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ูˆูŽู„ูŽูƒูŽ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู
ุซูู…ู‘ูŽ ุณูŽุฌูŽุฏูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูููŠ ุงู„ุฑู‘ูŽูƒู’ุนูŽุฉู ุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉู ู…ูุซู’ู„ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ููŽุงุณู’ุชูŽูƒู’ู…ูŽู„ูŽ
ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŽ ุฑูŽูƒูŽุนูŽุงุชู ูููŠ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู ุณูŽุฌูŽุฏูŽุงุชู ูˆูŽุงู†ู’ุฌูŽู„ูŽุชู’ ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’
ูŠูŽู†ู’ุตูŽุฑูููŽ


 Terjadi gerhana matahari pada saat hidup
Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, Beliau keluar menuju masjid
lalu dia berbaris bersama manusia di belakangnya, lalu Beliau bertakbir, lalu
Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam membaca surat dengan panjang
(lama), lalu beliau bertakbir dan ruku dengan ruku yang lama, lalu bangun dan
berkata: samiโ€™allahu liman hamidah, lalu Beliau berdiri lagi tanpa
sujud, lalu Beliau membaca lagi dengan panjang yang hampir mendekati panjangnya
bacaan yang pertama, lalu Beliau takbir, lalu ruku dengan ruku yang lama yang
hampir mendekati lamanya ruku yang pertama, lalu mengucapkan: samiโ€™allahu
liman hamidah
rabbana wa lakal hamdu, kemudian Beliau sujud.
Kemudian dia berkata: pada rakaat terakhir dilakukan seperti itu juga maka
sempurnalah empat kali ruku pada empat kali sujud. Lalu, matahari terbit
sebelum Beliau pulang. (HR. Bukhari   No. 1046, Muslim No. 901, 1, 3)
Dalam
hadits ini bisa dipahami:
         
Shalat
gerhana dilakukan oleh Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam di dalam
masjid
         
Shalat
gerhana dilakukan secara berjamaah
         
Shalat
gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat
         
Rakaat
pertama dua kali ruku, Rakaat kedua juga dua kali ruku, total empat kali ruku
         
Tertibnya:
takbiratul ihram,  membaca Al
Fatihah,  membaca surat yang panjang,
lalu ruku yang lama, bangun lagi, membaca Al Fatihah, membaca surat yang
panjangnya hampir sama dengan yang pertama, lalu rukuโ€™ yang lamanya hampir sama
dengan ruku sebelumnya, setelah itu sujud seperti shalat biasa (lengkap dengan
duduk di antara dua sujudnya), lalu bangun lagi dan melakukan hal yang sama
dengan rakaat pertama, hingga salam.
Tambahan:
         
Ada pun dalam
riwayat lain, diceritakan bahwa sujudnya juga panjang. (HR. Bukhari No.
3203)
         
Dianjurkan
imam mengucapkan Ash Shalatu Jamiโ€™ah, boleh juga orang lain, untuk
mengumpulkan manusia agar berkumpul di masjid, sebagaimana riwayat berikut:
Dari Abdullah bin Amr Radhiallahu โ€˜Anhuma,
katanya:
ู„ูŽู…ู‘ูŽุง ูƒูŽุณูŽููŽุชู’ ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณู ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽู‡ู’ุฏู ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰
ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ููˆุฏููŠูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉูŽ ุฌูŽุงู…ูุนูŽุฉูŒ


Ketika
terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam
telah diserukan bahwa sesungguhnya shalat ini berjamaah (Ash Shalatu
Jaamiโ€™ah
). (HR. Bukhari 1045, menurut lafaz Imam Muslim No. 910, 20: nudiya
bish shalati jaamiโ€™ah
โ€“ diserukan dengan kalimat: Ash Shalatu Jaamiโ€™ah.)
Oleh karenanya, Syaikh Sayyid Sabiq berkata:
ูˆูŠู†ุงุฏู‰ ู„ู‡ุง: (ุงู„ุตู„ุงุฉ ุฌุงู…ุนุฉ)

Dan diserukan untuk shalat gerhana: Ash Shalatu
Jaamiโ€™ah!
 (Fiqhus Sunnah,
1/213)
Demikian ini adalah tata cara shalat menurut
jumhur
ulama.

Apakah Ada Cara Lain?
                Dalam pandangan Imam
Abu Hanifah dan pengikutnya,  tatacara
shalat gerhana adalah dua rakaat biasa dengan sekali ruku, sebagaimana shalat
hari raya atau shalat Jumat.
                Imam An Nawawi
menyebutkan:

ูˆู‚ุงู„ ุงู„ูƒูˆููŠูˆู† ู‡ู…ุง ุฑูƒุนุชุงู† ูƒุณุงุฆุฑ
ุงู„ู†ูˆุงูู„ ุนู…ู„ุง ุจุธุงู‡ุฑ ุญุฏูŠุซ ุฌุงุจุฑ ุจู† ุณู…ุฑุฉ ูˆุฃุจูŠ ุจูƒุฑุฉ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ุตู„ู‰
ุฑูƒุนุชูŠู†
                Berkata Kufiyyin
(Para ulama Kufah), shalat gerhana adalah dua rakaat sebagaimana shalat nafilah
lainnya, berdasarkan zahir hadits Jabir bin Samurah dan Abu Bakrah bahwa Nabi
Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam
shalat dua rakaat. (Al Minhaj Syarh
Shahih Muslim
, 6/198)
   
Dalilnya adalah bahwa:

1.        Rasulullah Shallallahu
โ€˜Alaihi wa Sallam
bersabda:
ูุฅุฐุง ุฑุฃูŠุชู… ุฐู„ูƒ ูุตู„ูˆุง ูƒุฃุญุฏุซ ุตู„ุงุฉ ุตู„ูŠุชู…ูˆู‡ุง ู…ู†
ุงู„ู…ูƒุชูˆุจุฉ


                Maka, jika kalian
melihat gerhana, shalatlah kalian sebagaimana shalat wajib yang kalian lakukan.
(HR. Ahmad No. 20607, dari Qabishah, An Nasaโ€™i dalam As Sunan Al Kubra No.
1870, dari An Nuโ€™man bin Basyir, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra  No. 6128, Al Bazzar No. 1371, Ath Thabarani dalam
Al Kabir No. 957, dalam Al Awsath No. 2805)
 

2.       Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda:
ุงู„ุดู…ุณ ุงู†ุฎุณูุช ูุตู„ู‰
ู†ุจูŠ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฑูƒุนุชูŠู† ุฑูƒุนุชูŠู†


                Matahari mengalami
gerhana, lalu Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam shalat dua rakat dua
rakaat. (HR. An Nasaโ€™i dalam Sunannya No. 1487, juga dalam As
Sunan Al Kubra
No. 1872, Al Bazzar No. 3294)


                Namun dua hadits ini
dipermasalahkan para ulama. Kita bahas satu persatu.
                Hadits pertama,
yang berbunyi: โ€œMaka, jika kalian melihat gerhana, shalatlah kalian
sebagaimana shalat wajib yang kalian lakukan.โ€

  • Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 20607, dengan sanad: Berkata kepada kami Abdul Wahhab Ats Tsaqafi, berkata kepada kami Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Qabishah, katanya: (lalu disebut hadits di atas) 
  • Dikeluarkan oleh Imam An Nasaโ€™i dalam As Sunan Al Kubra No. 1870, dengan sanad: Telah mengabarkan kami Muhammad bin Basyar, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahhab, dia berkata: Khalid dari Abu Qilabah dari An Nuโ€™man bin Basyir, katanya: (lalu disebutkan hadits diatas)
  • Dikeluarkan oleh Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 6128, dengan sanad: Telah mengabarkan kami Abul Hasan Ali bin Muhammad Al Muqriโ€™ Al Mihrajani, dengannya dia mengabarkan kepada Al Hasan bin Muhammad bin Ishaq, berkata kepada kami Yusuf bin Yaโ€™qub Al Qadhi, berkata kepada kami Muhammad bin Abi Bakr, berkata kepada kami Abdul Wahhab Ats Tsaqafi, dari Khalid, dari Abu Qilabah, dari An Nuโ€™man bin Basyir, katanya: (lalu disebut hadits di atas)
  • Dikeluarkan oleh Imam Al Bazzar dalam Musnadnya No. 1371, dengan sanad: bercerita kepada kami Nashr bin Ali, bercerita kepada kami Ziyad bin Abdullah, Yazid bin Abi Ziyad, Abdurrahman bin Abi Laila, dari Bilal, katanya: (lalu disebut hadits di atas)
  • Imam Al Bazzar juga mengeluarkan pada No. 3294, dengan sanad: bercerita kepada kami Muhammad bin Mutsanna, mengabarkan kami Muadz bin Hisyam, katanya: ayahku mengabarkan kepadaku, dari Qatadah, dari Abu Qilabah, dari An Nuโ€™man bin Basyir, katanya: (lalu disebut hadits di atas)
  • Imam Ath Thabarani mengeluarkan dalam Al Muโ€™jam Al Awsath No. 2805, sanadnya: bercerita kepada kami Ibrahim, bercerita kepada kami Ruh bin Abdul Muโ€™min Al Bashri, bercerita kepada kami Muadz bin Hisyam, katanya: ayahku berkata kepadaku, dari Qatadah, dari Abu Qilabah, dari An Nuโ€™man bin Basyir, katanya: (lalu disebut hadits di atas)
  • Imam Ath Thabarani juga mengelurkan dalam Al Muโ€™jam Al Awsath No. 957, sanadnya: bercerita kepada kami โ€™Abdan bin Ahmad, bercerita kapeada kami Muawiyah bin โ€˜Imran Al Jarmi, bercerita kepada kami Anis bin Siwar Al Jarmi, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Hilal bin Amru, bahwa Qabishah Al Hilali berkata kepadanya: (disebutkan hadits di atas)

Validitas hadits ini diperselisihkan para imam,
sebab umumnya   jalur hadits ini  melalui Abu Qilabah (nama aslinya adalah Abdullah
bin Zaid Al Jarmi),
Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan:

ูƒุงู† ูƒุซูŠุฑ ุงู„ุฅุฑุณุงู„ุŒ ูˆู„ู… ูŠุตุฑู‘ูุญ ู‡ู†ุง
ุจุณู…ุงุนู‡ ู…ู† ู‚ุจูŠุตุฉ ุจู† ู…ุฎุงุฑู‚


            Dia
banyak memursalkan hadits, dan  pada
hadits ini tidak ada kejelasan   bahwa
dia  mendengar hadits tersebut dari
Qabishah bin Mukhaariq. (Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 20607. Beliau
pun mengatakan: isnaduhu dhaif  –
isnadnya dhaif)
                Imam
Al Baihaqi juga mengisyaratkan kedhaifan riwayat ini, katanya:

ู‡ุฐุง ู…ุฑุณู„ ุฃุจูˆ ู‚ู„ุงุจุฉ ู„ู… ูŠุณู…ุนู‡ ู…ู†
ุงู„ู†ุนู…ุงู† ุจู† ุจุดูŠุฑ ุฅู†ู…ุง ุฑูˆุงู‡ ุนู† ุฑุฌู„ ุนู† ุงู„ู†ุนู…ุงู†


          Hadits ini mursal,[6]
Abu Qilabah belum pernah mendengarnya dari An Nuโ€™man bin Basyir, sesungguhnya
dia cuma mendengar dari seorang laki-laki, dari An Nuโ€™man.  (Lihat As Sunan Al Kubra No. 6128)

                Imam Yahya bin Al
Qaththan juga menyatakan bahwa hadits ini memiliki cacat, yakni inqithaโ€™
(terputus sanadnya). (Al Hafizh Ibnu Hajar, At Talkhish Al Habir,
2/215)


Imam Al Haitsami mengomentari:

ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฒุงุฑ ูˆุงู„ุทุจุฑุงู†ูŠ ููŠ ุงู„ุฃูˆุณุท
ูˆุงู„ูƒุจูŠุฑ ูˆุนุจุฏ ุงู„ุฑุญู…ู† ุจู† ุฃุจูŠ ู„ูŠู„ู‰ ู„ู… ูŠุฏุฑูƒ ุจู„ุงู„ุง ูˆุจู‚ูŠุฉ ุฑุฌุงู„ู‡ ุซู‚ุงุช


Diriwayatkan oleh Al Bazzar, Ath Thabarani dalam Al
Awsath
, dan Al Kabir, dan Abdurrahman bin Abi Laila belum pernah
berjumpa dengan Bilal, namun para perawi lainnya terpercaya. (Majmaโ€™ Az
Zawaid
, 2/446)


Imam Ibnu Abi Hatim mengatakan:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุจููŠ: ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุญู’ูŠูŽู‰ ุจู’ู†ู
ู…ูŽุนููŠู†ู: ุฃูŽุจููˆ ู‚ูู„ูŽุงุจูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูุนู’ู…ูŽุงู†ู ุจู’ู†ู ุจูŽุดููŠุฑู ู…ูุฑู’ุณูŽู„ูŒุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃุจูŠ: ู‚ุฏ
ุฃุฏุฑูƒ ุฃุจูŠ ู‚ูู„ูŽุงุจูŽุฉูŽ ุงู„ู†ู‘ูุนู’ู…ูŽุงู†ูŽ ุจู’ู†ูŽ ุจูŽุดููŠุฑูุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุฃูŽุณูŽู…ูุนูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูุŒ
ุฃูŽูˆู’ ู„ูŽุง



                Berkata Ayahku (Imam
Abu Hatim): Berkata Yahya bin Maโ€™in: Abu Qilabah dari An Nuโ€™man adalah mursal.
Berkata ayahku: Abu Qilabah telah berjumpa dengan An Nuโ€™man bin Basyir, tapi
aku tidak tahu apakah dia mendengar darinya atau tidak. (Imam Az Zailaโ€™i, Nashbur
Rayyah
, 2/228)


Jadi, permasalahan yang ada pada hadits ini adalah
semua jalurnya terputus sanadnya baik Abu Qilabah  kepada 
An Nuโ€™man bin Basyir, atau Abu Qilabah kepada Qabishah, atau Abdurrahman
bin Abi Laila kepada Bilal, walau periwat lainnya  adalah orang-orang terpercaya, sehingga
dilemahkan oleh sebagian imam ahli hadits seperti yang kami sebutkan di atas.

Sedangkan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani
Rahimahullah
menilai bahwa hadits ini mudhtharib (guncang), sehingga
pendapat tentang tata cara shalat gerhana seperti shalat biasa adalah keliru.
Beliau mengatakan:

ู‚ู„ุช : ู‡ุฐุง ุงู„ู…ุฐู‡ุจ ุบูŠุฑ ุตุญูŠุญ ู„ุฃู† ุงู„ุญุฏูŠุซ
ู„ูŠุณ ุจุตุญูŠุญ ูุฅู†ู‡ ู…ุถุทุฑุจ ูƒู…ุง ูŠุฃุชูŠ ูˆู…ุฎุงู„ู ู„ู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุตุญูŠุญุฉ ุงู„ูˆุงุฑุฏุฉ ููŠ ุงู„ุจุงุจ


                Aku berkata: madzhab
ini tidak benar, karena hadits tersebut tidak shahih, karena dia hadits mudhtharib
sebagaimana penjelasan nanti, dan bertentangan dengan hadits-hadits yang shahih
yang ada pada masalah ini. (Tamamul Minnah, Hal. 262)

Namun, sebagian imam menshahihkan hadits ini.  Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits
ini dishahihkan oleh Imam Ibnu Abdil Bar. (At Talkhish Al Habir,
2/215)


 Imam An
Nawawi mengatakan bahwa hadits ini shahih, walaupun Imam Al Baihaqi mengatakan
adanya rawi yang gugur (maksudnya tidak disebutkan orangnya) antara Abu Qilabah
dan Qabishah, yaitu Hilal bin Amru, tidaklah menodai keshahihannya, sebab Hilal
bin Amru adalah tsiqah. Imam Al Hakim telah menshahihkannya. (Imam An
Nawawi,  Khulashah Al Ahkam,
2/863)


Demikian penjelasan hadits pertama.
Hadits kedua, yang berbunyi: Matahari mengalami gerhana, lalu Nabi Shallallahu
โ€˜Alaihi wa Sallam shalat dua rakat dua rakaat.


         
Dikeluarkan
oleh Imam An Nasaโ€™i dalam Sunannya No. 1487, dengan sanad: mengabarkan
kami Muhammad bin Mutsanna, mengabarkan kami Muadz (dia adalah Ibnu Hisyam),  ayahku bercerita kepadaku, dari Qatadah, dari Abu
Qilabah
, dari Qabishah Al Hilali, bahwasanya: (lalu disebutkan hadits
di atas)

Hadits ini sama dengan sebelumnya yakni kemursalan
Abu Qilabah terhadap Qabishah  Al Hilali.
Sehingga Syaikh Al Albani mendhaifkannya. (Lihat Dhaif ul Jamiโ€™ No.
1474, Shahih  wa Dhaif Sunan An Nasaโ€™i
No. 1487)


Jadi, setelah diketahui bahwa keshahihan hadits
ini tidak pasti, bahkan kecenderungan adalah dhaif, maka tata cara
shalat gerhana yang shahih adalah sebagaimana pendapat jumhur ulama, dengan
masing-masing rakaat dua kali rukuโ€™, sebab hal itu diriwayatkan oleh
hadits-hadits yang lebih shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim,
dari para sahabat nabi yang lebih banyak dan lebih utama.

Oleh karenanya, Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

ูˆุญุฌุฉ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุญุฏูŠุซ ุนุงุฆุดุฉ ู…ู† ุฑูˆุงูŠุฉ ุนุฑูˆุฉ
ูˆุนู…ุฑุฉ ูˆุญุฏูŠุซ ุฌุงุจุฑ ูˆุจู† ุนุจุงุณ ูˆุจู† ุนู…ุฑูˆ ุจู† ุงู„ุนุงุต ุฃู†ู‡ุง ุฑูƒุนุชุงู† ููŠ ูƒู„ ุฑูƒุนุฉ ุฑูƒูˆุนุงู†
ูˆุณุฌุฏุชุงู† ู‚ุงู„ ุจู† ุนุจุฏุงู„ุจุฑ ูˆู‡ุฐุง ุฃุตุญ ู…ุง ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ุจุงุจ


 Alasan
jumhur adalah hadits โ€˜Aisyah dari riwayat, โ€˜Urwah, โ€˜Umrah, jabir, Ibnu Abbas,
Ibnu Amr bin Al โ€˜Ash, bahwa shalat tersebut adalah dua kali ruku pada setiap
rakaat, dan juga dua kali sujud. Ibnu Abdil Bar berkata: Ini adalah yang paling
shahih tentang masalah ini. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/198)
Imam Ibnul Qayyim 
Rahimahullah menjelaskan:

ุงู„ุณู†ุฉ ุงู„ุตุญูŠุญุฉ
ุงู„ุตุฑูŠุญุฉ ุงู„ู…ุญูƒู…ุฉ ููŠ ุตู„ุงุฉ ุงู„ูƒุณูˆู ุชูƒุฑุงุฑ ุงู„ุฑูƒูˆุน ููŠ ูƒู„ ุฑูƒุนุฉุŒ ู„ุญุฏูŠุซ ุนุงุฆุดุฉ ูˆุงุจู† ุนุจุงุณ
ูˆุฌุงุจุฑ ูˆุฃุจูŠ ุจู† ูƒุนุจ ูˆุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุนู…ุฑูˆ ุจู† ุงู„ุนุงุต ูˆุฃุจูŠ ู…ูˆุณู‰ ุงู„ุงุดุนุฑูŠ.
ูƒู„ู‡ู… ุฑูˆู‰ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ
ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุชูƒุฑุงุฑ ุงู„ุฑูƒูˆุน ููŠ ุงู„ุฑูƒุนุฉ ุงู„ูˆุงุญุฏุฉุŒ ูˆุงู„ุฐูŠู† ุฑูˆูˆุง ุชูƒุฑุงุฑ ุงู„ุฑูƒูˆุน
ุฃูƒุซุฑ ุนุฏุฏุง ูˆุฃุฌู„ ูˆุฃุฎุต ุจุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู…ู† ุงู„ุฐูŠู† ู„ู… ูŠุฐูƒุฑูˆู‡

                 Sunah yang shahih dan jelas, yang
bisa dijadikan hukum tentang shalat kusuf adalah yang menunjukkan diulangnya
ruku pada setiap rakaat, yang ditunjukkan oleh hadits โ€˜Asiyah, Ibnu โ€˜Abbas, jabir,
Ubai bin Kaโ€™ab, Abdullah bin โ€˜Amr bin Al โ€˜Ash, dan Abu Musa Al Asyโ€™ari.
                Semuanya meriwayatkan dari Nabi Shallallahu
โ€˜Alaihi wa Sallam
bahwa ruku diulang dalam satu rakaat, orang-orang yang
meriwayatkan berulangnya ruku lebih banyak jumlahnya, lebih berwibawa, lebih
istimewa hubungannya dengan Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam
dibanding orang-orang yang tidak menyebutkan hal demikian.   (Lihat
Fiqhus Sunnah, 1/214. Lihat Raudhah An Nadiyah, 1/157)


Wallahu Aโ€™lam
VI.               
Khutbah
 Imam tiga madzhab
mengatakan bahwa tidak ada khutbah dalam masalah gerhana ini. Baik sebelum atau
sesudah shalat. Apalagi bagi yang mengatakan bahwa shalat gerhana itu dilakukan
secara munfarid (sendiri). Hal itu merupakan konsekuensi logis dari
pendapat mereka bahwa shalat gerhana dilakukan secara sendiri, sebab mana
mungkin ada khutbah jika shalatnya sendiri.
Tertulis dalam  berbagai
kitab para ulama:
ู‚ูŽุงู„ ุฃูŽุจููˆ
ุญูŽู†ููŠููŽุฉูŽ ูˆูŽู…ูŽุงู„ููƒูŒ ูˆูŽุฃูŽุญู’ู…ูŽุฏู : ู„ุงูŽ ุฎูุทู’ุจูŽุฉูŽ ู„ูุตูŽู„ุงูŽุฉู ุงู„ู’ูƒูุณููˆูู ุŒ ูˆูŽุฐูŽู„ููƒูŽ
ู„ูุฎูŽุจูŽุฑู : ููŽุฅูุฐูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูู…ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ููŽุงุฏู’ุนููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุŒ ูˆูŽูƒูŽุจู‘ูุฑููˆุง ุŒ
ูˆูŽุตูŽู„ู‘ููˆุง ูˆูŽุชูŽุตูŽุฏู‘ูŽู‚ููˆุง
 ุฃูŽู…ูŽุฑูŽู‡ูู…ู’
– ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู…ู – ุจูุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉู ุŒ ูˆูŽุงู„ุฏู‘ูุนูŽุงุกู ุŒ
ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽูƒู’ุจููŠุฑู ุŒ ูˆูŽุงู„ุตู‘ูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู ุŒ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฃู’ู…ูุฑู’ู‡ูู…ู’ ุจูุฎูุทู’ุจูŽุฉู ุŒ ูˆูŽู„ูŽูˆู’
ูƒูŽุงู†ูŽุชู ุงู„ู’ุฎูุทู’ุจูŽุฉู ู…ูŽุดู’ุฑููˆุนูŽุฉู‹ ูููŠู‡ูŽุง ู„ุฃูŽู…ูŽุฑูŽู‡ูู…ู’ ุจูู‡ูŽุง ุ› ูˆูŽู„ุฃู

ู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุตูŽู„ุงูŽุฉูŒ ูŠูŽูู’ุนูŽู„ูู‡ูŽุง ุงู„ู’ู…ูู†ู’ููŽุฑูุฏู ูููŠ ุจูŽูŠู’ุชูู‡ู ุ› ููŽู„ูŽู…ู’
ูŠูุดู’ุฑูŽุนู’ ู„ูŽู‡ูŽุง ุฎูุทู’ุจูŽุฉูŒ
Berkata Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad: tidak ada khutbah
pada shalat gerhana, alasannya adalah karena hadits:  Jika kalian melihat hal itu (gerhana) maka
berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat, dan bersedehkahlah.

Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam memerintahkan mereka dengan
shalat, doa, takbir, dan bersedekah, tidak memerintahkan mereka berkhutbah.
Seandainya khutbah itu disyariatkan, tentunya mereka akan diperintahkan
melakukannya, dan juga disebabkan bahwa shalatnya dilakukan sendiri dirumah,
maka khutbah tentunya tidak disyariatkan. (Badaโ€™i Ash Shanaโ€™i, 1/282,
Mawahib Al Jalil, 2/202, Hasyiah Ad Dasuqi, 1/302, Al Mughni,
2/425, Tabyinul Haqaiq, 1/229)
Sementara Imam Asy Syafiโ€™i dan pengikutnya mengatakan
bahwa khutbah pada shalat gerhana itu disyariatkan. Dilakukan setelah shalat
dengan dua kali khutbah, diqiyaskan dengan shalat Id. (Al Majmuโ€™ Syarh Al
Muhadzdzab
, 5/52, Asnal Mathalib, 1/286)
Dalilnya adalah hadits dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha
yang menceritakan tatacara shalat gerhana yang dilakukan Nabi Shallallahu
โ€˜Alaihi wa Sallam
, lalu kata โ€˜Aisyah:
 ….ุซูู…ู‘ูŽ
ุงู†ู’ุตูŽุฑูŽููŽ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุงู†ู’ุฌูŽู„ูŽุชู’ ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณู ููŽุฎูŽุทูŽุจูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ููŽุญูŽู…ูุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ
ูˆูŽุฃูŽุซู’ู†ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽู…ูŽุฑูŽ ุขูŠูŽุชูŽุงู†ู ู…ูู†ู’ ุขูŠูŽุงุชู
ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽุฎู’ุณูููŽุงู†ู ู„ูู…ูŽูˆู’ุชู ุฃูŽุญูŽุฏู ูˆูŽู„ูŽุง ู„ูุญูŽูŠูŽุงุชูู‡ู ููŽุฅูุฐูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูู…ู’
ุฐูŽู„ููƒูŽ ููŽุงุฏู’ุนููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽูƒูŽุจู‘ูุฑููˆุง ูˆูŽุตูŽู„ู‘ููˆุง ูˆูŽุชูŽุตูŽุฏู‘ูŽู‚ููˆุง
 โ€œ … kemudian
Beliau berbalik badan dan matahari mulai terang, lalu dia berkhutbah di
hadapan manusia
, beliau memuji Allah dengan berbagai pujian, kemudian
bersabda: Sesungguhnya (gerhana)  matahari dan bulan adalah dua tanda di antara
tanda-tanda kebesaran Allah, keduanya terjadi bukan karena wafatnya seseorang
dan bukan pula lahirnya seseorang. Jika kalian menyaksikannya, maka berdoalah
kepada Allah, bertakbirlah, shalat, dan bersedehkahlah.โ€ (HR. Bukhari No.
1044)
Hadits  ini tegas menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu
โ€˜Alaihi wa Sallam
melakukan khutbah setelah shalat gerhana, dan Rasulullah Shallallahu
โ€˜Alaihi wa Sallam
melakukannya dimulai dengan puji-pujian.
Maka, yang shahih
adalah โ€“wallahu aโ€™lam– bahwa khutbah gerhana adalah sunah. Seandai pun
nabi hanya melakukan sekali dalam hidupnya, itu tidaklah menghilangkan
kesunahannya. Hanya saja tidak ada keterangan khutbah itu adalah dua kali
khutbah sebagaimana shalat Id. Tidak dalam hadits, dan tidak pula dalam atsar
para salaf.  Dengan kata lain, aturan
dalam khutbah  setelah shalat gerhana
tidak se-rigid (kaku) khutbah Jumat dan Id (Hari Raya).
Ada pun pendapat kalangan Syafiโ€™iyah bahwa khutbah adalah dua kali hanya
berasal dari qiyas saja.
 Ada ulasan yang bagus dan patut dijadikan
renungan dari Imam Shiddiq Hasan Khan Rahimahullah  sebagai berikut:
ุซู… ุงุนู„ู… ุฃู† ุงู„ุฎุทุจุฉ ุงู„ู…ุดุฑูˆุนุฉ ู‡ูŠ
ู…ุง ูƒุงู† ูŠุนุชุงุฏู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู„ูŠู‡ ูˆุขู„ู‡ ูˆุณู„ู… ู…ู† ุชุฑุบูŠุจ ุงู„ู†ุงุณ ูˆุชุฑู‡ูŠุจู‡ู… ูู‡ุฐุง ููŠ
ุงู„ุญู‚ูŠู‚ุฉ ุฑูˆุญ ุงู„ุฎุทุจุฉ ุงู„ุฐูŠ ู„ุฃุฌู„ู‡ ุดุฑุนุช, ูˆุฃู…ุง ุงุดุชุฑุงุท ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฃูˆ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุนู„ู‰ ุฑุณูˆู„
ุงู„ู„ู‡ ุฃูˆ ู‚ุฑุงุกุฉ ุดูŠุก ู…ู† ุงู„ู‚ุฑุขู† ูุฌู…ูŠุนู‡ ุฎุงุฑุฌ ุนู† ู…ุนุธู… ุงู„ู…ู‚ุตูˆุฏ ู…ู† ุดุฑุนูŠุฉ ุงู„ุฎุทุจุฉ ูˆุงุชูุงู‚
ู…ุซู„ ุฐู„ูƒ ููŠ ุฎุทุจุชู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู„ูŠู‡ ูˆุขู„ู‡ ูˆุณู„ู… ู„ุง ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู…ู‚ุตูˆุฏ ู…ุชุญุชู… ูˆุดุฑุท
ู„ุงุฒู… ูˆู„ุง ูŠุดูƒ ู…ู†ุตู ุฃู† ู…ุนุธู… ุงู„ู…ู‚ุตูˆุฏ ู‡ูˆ ุงู„ูˆุนุธ ุฏูˆู† ู…ุง ูŠู‚ุน ู‚ุจู„ู‡ ู…ู† ุงู„ุญู…ุฏ ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ
ุนู„ูŠู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู„ูŠู‡ ูˆุขู„ู‡ ูˆุณู„ู…, ูˆู‚ุฏ ูƒุงู† ุนุฑู ุงู„ุนุฑุจ ุงู„ู…ุณุชู…ุฑ ุฃู† ุฃุญุฏู‡ู… ุฅุฐุง ุฃุฑุงุฏ
ุฃู† ูŠู‚ูˆู… ู…ู‚ุงู…ุง ูˆูŠู‚ูˆู„ ู…ู‚ุงู„ุง ุดุฑุน ุจุงู„ุซู†ุงุก ุนู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ูˆุนู„ู‰ ุฑุณูˆู„ู‡ ูˆู…ุง ุฃุญุณู† ู‡ุฐุง ูˆุฃูˆู„ุงู‡,
ูˆู„ูƒู† ู„ูŠุณ ู‡ูˆ ุงู„ู…ู‚ุตูˆุฏ ุจู„ ุงู„ู…ู‚ุตูˆุฏ ู…ุง ุจุนุฏู‡ ูˆู„ูˆ ู‚ุงู„ ู‚ุงุฆู„ ุฃู† ู…ู† ู‚ุงู… ููŠ ู…ุญูู„ ู…ู†
ุงู„ู…ุญุงูู„ ุฎุทูŠุจุง ู„ูŠุณ ู„ู‡ ุจุงุนุซ ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ุฅู„ุง ุฃู† ูŠุตุฏุฑ ู…ู†ู‡ ุงู„ุญู…ุฏ ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ ู„ู…ุง ูƒุงู† ู‡ุฐุง
ู…ู‚ุจูˆู„ุง ุจู„ ูƒู„ ุทุจุน ุณู„ูŠู… ูŠู…ุฌู‡ ูˆูŠุฑุฏู‡, ุฅุฐุง ุชู‚ุฑุฑ ู‡ุฐุง ุนุฑูุช ุฃู† ุงู„ูˆุนุธ ููŠ ุฎุทุจุฉ ุงู„ุฌู…ุนุฉ ู‡ูˆ
ุงู„ุฐูŠ ูŠุณุงู‚ ุฅู„ูŠู‡ ุงู„ุญุฏูŠุซ ูุฅุฐุง ูุนู„ู‡ ุงู„ุฎุทูŠุจ ูู‚ุฏ ูุนู„ ุงู„ุฃู…ุฑ ุงู„ู…ุดุฑูˆุน ุฅู„ุง ุฃู†ู‡ ุฅุฐุง ู‚ุฏู…
ุงู„ุซู†ุงุก ุนู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ูˆุนู„ู‰ ุฑุณูˆู„ู‡ ุฃูˆ ุงุณุชุทุฑุฏ ููŠ ูˆุนุธู‡ ุงู„ู‚ูˆุงุฑุน ุงู„ู‚ุฑุขู†ูŠุฉ ูƒุงู† ุฃุชู… ูˆุฃุญุณู†.


  Kemudian ketahuilah, bahwa khutbah yang
disyariatkan adalah yang biasa dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi
wa sallam
, yaitu memberikan kabar gembira dan menakut-nakuti manusia.
Inilah hakikat yang menjadi jiwa sebuah khutbah yang karenanya khutbah menjadi
disyariatkan. Adapun yang disyaratkan berupa membaca Alhamdulillah,
shalawat kepada Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, membaca ayat Al
Quran, maka semuanya itu adalah perkara di luar tujuan umum disyariatkannya
khutbah. Telah disepakati bahwa hal-hal seperti ini (membaca hamdalah,
shalawat, dan membaca ayat, pen) dalam khutbah Rasulullah Shallallahu
โ€˜Alaihi wa Sallam
tidaklah menunjukkan 
bahwa hal itu menjadi syarat yang wajib dilakukan. Tidak ragu lagi bagi
orang yang objektif (munshif), bahwa tujuan utama dari khutbah adalah
nasihatnya, bukan apa yang dibaca sebelumnya baik itu Alhamdulillah
dan  shalawat kepada Nabi Shallallahu
โ€˜Alaihi wa Sallam
.
Telah menjadi tradisi orang Arab yang terus menerus, bahwa jika salah
seorang di antara mereka berdiri untuk 
pidato mereka akan memuji Allah Taโ€™ala dan Rasulullah Shallallahu
โ€˜Alaihi wa Sallam,
dan memang betapa baik dan utama hal itu. Tetapi itu
bukanlah tujuannya, tujuannya adalah apa yang diuraikan setelahnya. Jika ada
yang mengatakan bahwa tujuan orang berpidato dalam sebuah acara adalah hanya
mengutarakan Alhamdulillah dan Shalawat, maka hal ini tidak bisa
diterima, dan setiap yang berpikiran sehat akan menolaknya.
Jadi, jika telah dipahami bahwa jika orang sudah menyampaikan nasihat dalam
khutbah Jumat, dan itu sudah dilakukan oleh khatib, maka dia telah cukup
disebut telah menjalankan perintah. Hanya saja jika dia mendahuluinya dengan
membaca puji-pujian kepada Allah Taโ€™ala dan Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi
wa Sallam
, serta mengaitkan 
pembahasannya dengan membaca ayat-ayat Al Quran, maka itu lebih sempurna
dan lebih baik. (Imam Shiddiq Hasan Khan, Ar Raudhah An Nadiyah,
1/137)
Demikian menurut Imam Shiddiq Hasan Khan. Sebenarnya di dalam sunah, Nabi Shallallahu
โ€˜Alaihi wa Sallam
membuka khutbah dengan bacaan berikut:
ุฃูŽู†ู’
ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ู†ูŽุณู’ุชูŽุนููŠู†ูู‡ู ูˆูŽู†ูŽุณู’ุชูŽุบู’ููุฑูู‡ู ูˆูŽู†ูŽุนููˆุฐู ุจูู‡ู ู…ูู†ู’ ุดูุฑููˆุฑู
ุฃูŽู†ู’ููุณูู†ูŽุง ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽู‡ู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽู„ูŽุง ู…ูุถูู„ู‘ูŽ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูุถู’ู„ูู„ู’ ููŽู„ูŽุง
ู‡ูŽุงุฏููŠูŽ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู’ ู„ูŽุง ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู‘ูŽ
ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู‹ุง ุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง
{ ุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ
ุชูŽุณูŽุงุกูŽู„ููˆู†ูŽ ุจูู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุญูŽุงู…ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุฑูŽู‚ููŠุจู‹ุง }
{ ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง
ุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุญูŽู‚ู‘ูŽ ุชูู‚ูŽุงุชูู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู…ููˆุชูู†ู‘ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ู…ูุณู’ู„ูู…ููˆู†ูŽ
}
{ ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง
ุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽู‚ููˆู„ููˆุง ู‚ูŽูˆู’ู„ู‹ุง ุณูŽุฏููŠุฏู‹ุง ูŠูุตู’ู„ูุญู’ ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ูŽูƒูู…ู’
ูˆูŽูŠูŽุบู’ููุฑู’ ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฐูู†ููˆุจูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูุทูุนู’ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูŽู‡ู ููŽู‚ูŽุฏู’ ููŽุงุฒูŽ
ููŽูˆู’ุฒู‹ุง ุนูŽุธููŠู…ู‹ุง }
(Bacaan pembuka khutbah ini, diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi No. 1105,
Imam Abu Daud No.  2118, Imam Al Baihaqi
dalam As Sunan Al Kubra No. 1360, Imam An Nasaโ€™i dalam As Sunan Al
Kubra
No. 5528, Imam Ath Thabarani Al Muโ€™jam Al Kabir No. 10079,
Ahmad No. 4115)


Hadits ini dikatakan hasan oleh Imam At Tirmidzi. (Sunan At
Tirmidzi
No.  1105)
,  dishahihkan oleh Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth. (Tahqiq
Musnad Ahmad
No. 4115)
,  Syaikh
Al Albani juga menshahihkan hadits ini. (Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No.
2118)
Kalimat pembuka ini dipakai ketika Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam
khutbah haji wadaโ€™, oleh karenanya dikenal dengan Khutbatul Hajjah.
Tetapi, pembukaan seperti ini juga dianjurkan pada khutbah-khutbah lainnya,
termasuk khutbah gerhana.
Imam Al Baihaqi menceritakan sebagai berikut:
ู‚ุงู„ ุดุนุจุฉ ู‚ู„ุช ู„ุฃุจูŠ
ุฅุณุญุงู‚ ู‡ุฐู‡ ููŠ ุฎุทุจุฉ ุงู„ู†ูƒุงุญ ุฃูˆ ููŠ ุบูŠุฑู‡ุง ู‚ุงู„ ููŠ ูƒู„ ุญุงุฌุฉ
Berkata Syuโ€™bah: Aku bertanya kepada Abu Ishaq, apakah bacaan ini pada
khutbah nikah atau selainnya? Beliau menjawab: โ€œPada setiap hajat
(kebutuhan).โ€
(Lihat As Sunan Al Kubra No. 13604)
Ada pun tentang penutup khutbah, di dalam sunah pun ada petunjuknya, yaitu
sebuah doa ampunan yang singkat untuk khathib dan pendengarnya.
ุนู† ุงุจู†
ุนู…ุฑ ุŒ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ู‚ุงู„ : ุฅู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠูˆู… ูุชุญ ู…ูƒุฉ ู‚ุงู… ุนู„ู‰
ุฑุฌู„ูŠู‡ ู‚ุงุฆู…ุง ุŒ ูˆุฎุทุจ ูุญู…ุฏ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูˆุฃุซู†ู‰ 
ุนู„ูŠู‡ ูˆุฎุทุจ ุฎุทุจุฉ ุŒ ุฐูƒุฑู‡ุง ุซู… ู‚ุงู„ : ยซ ุฃู‚ูˆู„ ู‚ูˆู„ูŠ ู‡ุฐุง ูˆุฃุณุชุบูุฑ ุงู„ู„ู‡ ู„ูŠ ูˆู„ูƒู… ยป


Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, dia berkata: sesungguhnya Nabi Shallallahu
โ€˜Alaihi wa Sallam
pada hari Fathul Makkah berdiri di atas kedua kakinya,
dan dia berkhutbah, lalu memuji Allah Taโ€™ala, dan menyampaikan khutbahnya,  kemudian berkata: Aquulu qauliy hadza wa
astaghfirullahu liy wa lakum
โ€“ aku ucapkan perkataanku ini dan aku
memohonkan ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian.  (HR. Al Fakihani dalam Al Akhbar Al
Makkah
No. 1731)
  Ucapan ini juga diriwayatkan banyak
imam dengan kisah yang berbeda-beda, 
seperti oleh Imam Abu Nuโ€™aim dalam Maโ€™rifatush Shahabah, Imam Al
Baghawi dalam Syarhus Sunnah, Imam Ad Darimi dalam Sunannya, Imam
Ath Thabarani dalam Al Muโ€™jam Al Kabir, dan lainnya.
VII.             
 Adakah
amalan khusus selain shalat?
Seperti yang telah diketahui, kita diperintahkan untuk
berdoa, shalat, bertakbir dan 
bersedekah. Dari empat amalan ini hanya shalat yang memiliki keterangan
khusus dan mendetail.
Ada pun doa, tidak ada keterangan doa khusus  gerhana; baik sebelum, ketika, dan sesudahnya;
baik diawal khutbah, ketika, dan di akhirnya, dan sesudah gerhananya. Maka,
kapan saja berdoa selama masih keadaan gerhana, dengan doa apa pun untuk
kebaikan dunia, akhirat, pribadi, dan umat, adalah boleh, karena termasuk
keumuman  perintah untuk berdoa.
Begitu pula bertakbir, tidak ada keterangan khusus bentuk
takbir apa yang diucapkan. Oleh karenanya, takbir apa pun secara umum yang
bermakna  membesarkan dan mengagungkan
nama Allah Taโ€™ala tidaklah mengapa.
Tidak ada pula 
keterangan dalam Al Quran dan As Sunnah tentang   kadar dan jenis sedekah yang mesti
dikeluarkan ketika gerhana. Maka, ini diserahkan atas kerelaan masing-masing.
Wallahu
Aโ€™lam

[1] Yakni kisah Qais bin Umar bahwa beliau shalat subuh di mesjid bersama
Rasulullah, sedangkan dia sendiri belum mengerjakan shalat sunah fajar. Setelah
selesai shalat subuh dia berdiri lagi untuk shalat sunah dua rakaat. Nabi pun
berjalan melewatinya dan bertanya:
ู…ูŽุง ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ููŽุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู‡ู ููŽุณูŽูƒูŽุชูŽ
ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽู…ูŽุถูŽู‰ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู‚ูู„ู’ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง
                โ€œShalat apa ini?, maka dia
menceritakannya. Lalu, Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam diam,
dan berlalu tanpa mengatakan apa-apa.โ€
(HR. Ahmad No. 23812, Syaikh Syuโ€™aib
Al Arnauth mengatakan: hadits ini mursal, tapi para perawinya
terpercaya. Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 23812. Syaikh Sayyid Sabiq
mengutip dari Imam Al โ€˜Iraqi: sanad hadits ini hasan. Lihat Fiqhus Sunnah,
1/187)
[2] Dari Ummu Salamah Radhiallahu โ€˜Anha,
katanya:
ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูุชููŠูŽ ุจูู…ูŽุงู„ู ููŽู‚ูŽุนูŽุฏูŽ
ูŠูู‚ูŽุณู‘ูู…ูู‡ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุฃูŽุชูŽุงู‡ู ู…ูุคูŽุฐู‘ูู†ู ุงู„ู’ุนูŽุตู’ุฑู ููŽุขุฐูŽู†ูŽู‡ู ุจูุงู„ู’ุนูŽุตู’ุฑู ุŒ ููŽุตูŽู„ู‘ูŽู‰
ุงู„ู’ุนูŽุตู’ุฑูŽ ุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ุงู†ู’ุตูŽุฑูŽููŽ ุฅูู„ูŽูŠู‘ูŽ ุŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ููŠ ููŽุฑูŽูƒูŽุนูŽ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู
ุฎูŽูููŠููŽุชูŽูŠู’ู†ู ุŒ ููŽู‚ูู„ู’ุชู : ู…ูŽุง ู‡ูŽุงุชูŽูŠู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู†ู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ ุŸ!
ุฃูŽู…ูŽุฑู’ุชูŽ ุจูู‡ูู…ูŽุง ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ู„ุงูŽ ุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู‘ูŽู‡ูู…ูŽุง ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽุงู†ู ูƒูู†ู’ุชู
ุฃูŽุฑู’ูƒูŽุนูู‡ูู…ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ุธู‘ูู‡ู’ุฑู ุŒ ููŽุดูŽุบูŽู„ูŽู†ููŠ ู‚ูŽุณู’ู…ู ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰
ุฃูŽุชูŽุงู†ููŠูŽ ุงู„ู’ู…ูุคูŽุฐู‘ูู†ู ุจูุงู„ู’ุนูŽุตู’ุฑู ููŽูƒูŽุฑูู‡ู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูŽุฏูŽุนูŽู‡ูู…ูŽุง
Rasulullah Shallallahu
โ€˜Alaihi wa Sallam
sedang shalat zuhur, lalu didatangkan kepadanya harta,
beliau pun duduk-duduk membagikan harta itu, sampai terdengar suara muadzin
untuk adzan ashar. Kemudian Beliau melaksanakan shalat ashar, dan setelah
selesai shalat Beliau pulang dan menuju rumahku, karena hari itu adalah
gilirannya di tempatku. Lalu, Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam
melakukan shalat dua rakaat yang ringan (sebentar), lalu saya pun bertanya: โ€œShalat
apakah ini ya Rasulullah? Apakah kau diperintahkannya?โ€ Beliau bersabda: โ€œTidak,
ini hanyalah pengganti dua rakaat baโ€™da zhuhur yang biasa saya lakukan, tadi
saya sibuk membagikan harta hingga datang waktu ashar. Maka saya tidak suka
meninggalkan dua rakaat tadi.โ€ (HR. Ahmad No. 26602, Syaikh Syuaโ€™ib Al
Arnauth mengatakan: shahih. Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 26602)
[3] Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu
โ€˜Anhu
, katanya:
 ุฌูŽุงุกูŽ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู
ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุฎู’ุทูุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ุฌูู…ูุนูŽุฉู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุตูŽู„ู‘ูŽูŠู’ุชูŽ ูŠูŽุง
ููู„ูŽุงู†ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูู…ู’ ููŽุงุฑู’ูƒูŽุนู’ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู
                Datang seorang laki-laki dan Nabi Shallallahu
โ€˜Alaihi wa Sallam
sedang berkhutbah di hadapan manusia pada hari Jumat.
Beliau bersabda: โ€œWahai fulan, apakah engkau sudah shalat?โ€ orang itu menjawab:
โ€œTidak.โ€ Beliau bersabda: โ€œBangunlah dan shalatlah dua rakaat.โ€ (HR.
Bukhari No. 930, dan Muslim No. 875)
[4] Imam An Nawawi berkata โ€“ketika membahas shalat jenazah setelah ashar:
 ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุตูŽู„ูŽุงุฉ ุงู„ู’ุฌูู†ูŽุงุฒูŽุฉ
ู„ูŽุง ุชููƒู’ุฑูŽู‡ ูููŠ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ูˆูŽู‚ู’ุช ุจูุงู„ู’ุฅูุฌู’ู…ูŽุงุนู
Karena
shalat jenazah tidaklah makruh pada waktu-waktu tersebut menurut ijmaโ€™
. (Al Minhaj, 6/144)
[5] Tertulis dalam Kitab Al Hawi Al Kabir: โ€œBerkata Asy
Syafiโ€™i Radhiallahu โ€˜Anhu: โ€œShalat terhadap jenazah dilakukan pada
setiap waktu.โ€
                Berkata
Al Mawardi: โ€œIni benar, shalat terhadap mayit tidaklah khusus pada waktu
tertentu saja tanpa waktu lainnya, dan tidak dimakruhkan melakukannya di waktu
tertentu tanpa waktu lainnya, dan dibolehkan pula melaksanakannya pada
waktu-waktu terlarang. Tetapi Abu Hanifah memakruhkannya jika dilakukan pada
waktu-waktu terlarang shalat, termasuk shalat-shalat yang pada dasarnya
memiliki sebab untuk dilaksanakan, dalilnya adalah riwayat dari โ€˜Uqbah bin
Amir, dia berkata:
โ€œ
Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melarang kami shalat pada tiga
waktu dan juga melarang menguburkan mayit pada waktu-waktu tersebut, yakni:
ketika  matahari
benar-benar terbit  hingga meninggi, ketika matahari tegak di atas
hingga bergeser, dan ketika matahari bergerak terbenam hingga dia benar-benar
terbenam
.โ€
Berkata Al Mawardi: โ€œInilah dalil hukum
asal
dalam
masalah ini seperti yang telah kami sampaikan sebelumnya. Kemudian dalil
khusus
untuk masalah ini adalah telah diriwayatkan bahwa   โ€˜Aqil bin Abi Thalib Radhiallahu โ€˜Anhu
wafat, lalu dia dishalatkan oleh kaum muhajirin dan anshar ketika matahari
menguning (bergerak terbenam, pen), dan tidak diketahui adanya seorang
pun yang mengingkarinya, maka ini telah menjadi ijmaโ€™ (kesepakatan), dan
shalat tersebut menjadi sebab (dalil) dibolehkannya. Maka dibolehkan melakukan
(shalat jenazah) di semua waktu seperti shalat-shalat wajib, dan hadits dari
โ€˜Uqbah bin Amir bukanlah alasan untuk melarangnya, karena itu merupakan
larangan menguburkan ayat pada waktu-waktu tersebut. Dan hal ini (shalat
jenazah) tidaklah dilarang berdasarkan ijmaโ€™. โ€œ
(Imam Abul Hasan Al
Mawardi, Al Hawi Al Kabir, 3/95)
Klaim   adanya ijmaโ€™
dalam masalah ini tidaklah sesuai realita, walau saat ini kami cenderung pada
pendapat Imam An Nawawi dan Imam Abul Hasan Al Mawardi, yakni bolehnya shalat
sunah pada saat waktu-waktu terlarang jika ada sebab khusus.   Sebab, faktanya para imam kaum muslimin
telah berbeda pendapat. Oleh karena itu Syaikh Abul โ€˜Ala Al Mubarkafuri
mengkritik klaim ijmaโ€™ ini, katanya:
ู‚ู„ุช ู‚ูˆู„ู‡ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุฌู†ุงุฒุฉ ู„ุง ุชูƒุฑู‡ ููŠ
ู‡ุฐุง ุงู„ูˆู‚ุช ุจุงู„ุฅุฌู…ุงุน ููŠู‡ ู†ุธุฑ ุธุงู‡ุฑ ูƒู…ุง ุณุชู‚ู ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ููŠ ุจูŠุงู† ุงู„ู…ุฐุงู‡ุจ
Aku (Syaikh Al Mubarkafuri) katakan: ucapannya (Imam An
Nawawi) bahwa: shalat jenazah tidak dimakruhkan pada waktu terlarang ini
menurut ijmaโ€™
, pada ucapan ini jelas-jelas mesti dipertimbangkan lagi,
sebagaimana (perbedaan) masalah ini telah dijelaskan dalam keterangan
madzhab-madzhab.   (Tuhfah Al
Ahwadzi
, 4/100)
[6] Hadits mursal adalah hadits yang
gugur pada akhir sanadnya, seorang setelah generasi tabiโ€™in. Hadits mursal ada
tiga macam.
Mursal Jaliy (jelas) yaitu
pengguguran yang dilakukan oleh rawi (tabiโ€™in) sangat jelas, yaitu jelas-jelas
dia tidak hidup sezaman dengan sahabat nabi yang meriwayatkan hadits tersebut,
tapi dia mengatakan bahwa sahabat nabi telah berkata, bahwa nabi bersabda
begini dan begitu. Padahal dia tidak pernah hidup sezaman dengan sahabat
tersebut. Status hadits mursal seperti ini adalah mardud (tertolak).
Mursal
Khafiy 
(tersembunyi)
yaitu perawi pada masa tabiโ€™in tersebut hidup sezaman dengan sahabat, tapi dia
tidak pernah mendengarkan hadits darinya sekali pun, walau pernah berjumpa.
Baik karena saat itu dia masih kecil. Atau, karena bisa juga tidak pernah
berjumpa, walau hidup sezaman. Ini juga hadits dhaif. Nampaknya hadits
Abu Qilabah ini termasuk Mursal Khafiy, sebab menurut Imam Abu Hatim,
Abu Qilabah pernah berjumpa dengan An Nuโ€™man bin Basyir, tetapi tidak diketahui
dia mendengar hadits darinya atau tidak.
Mursal Shahabiy yaitu
periwayatan  seorang sahabat dari Nabi Shallallahu
โ€˜Alaihi wa Sallam
tetapi dia tidak pernah mendengar atau melihat sendiri
dari Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, lantaran dia masih kecil, atau
saat itu baru masuk Islam.  Ini termasuk shahih.
Jumhur ulama dan
Imam Asy Syafiโ€™i menyatakan hadits mursal adalah dhaif dan tidak bisa
dijadikan hujjah, kecuali hadits mursalnya Said bin Al Musayyib, karena dia
dimungkin meriwayatkannya dari mertuanya (Abu Hurairah), atau hadits mursal
yang dikuatkan oleh hadits yang musnad, atau hadits mursal yang kuatkan
oleh qiyas, atau yang dikuatkan oleh hadits mursal lain yang banyak.
Imam Abu Hanifah,
Imam Malik, Imam Ahmad, menerima hadits mursal sebagai hujjah. menurut
mereka seorang tabiโ€™in yang dikenal tsiqah dan 
adil tidak mungkin menipu dengan menggugurkan sanad secara sengaja, dan
nabi telah memuji generasi tabiโ€™in dengan hadits Shahih Bukhari: sebaik-baik
manusia adalah pada zamanku (sahabat), kemudian setelahnya (tabiโ€™in),kemudian
setelahnya (tabiut tabiโ€™in).
Imam Asy Syaukani
mengatakan hadits mursal tertolak secara mutlak, tanpa kecuali. Sebab hadits
mursal hanya menghasilkan keraguan, bukan kepastian. Pendapat ini didukung oleh
mayoritas muhadditsin setelahnya. Wallahu Aโ€™lam