Memperbanyak Taubat dan Istighfar

عن أَبي هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ
أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah ra berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar (meminta ampunan) dan bertaubat kepada Allah dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari)

© Hikmah Hadits :

1. Bahwa setiap manusia, pastilah pernah berbuat salah dan dosa, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Bahkan, baik dosa yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.

2. Oleh karenanya, kita dianjurkan memperbanyak istighfar dan taubat. Istighfar adalah permohonan ampunan kepada Allah Swt dari dosa-dosa kecil. Sedangkan taubat, permohonan ampunan kepada Allah Swt dari dosa-dosa besar.

3. Rasulullah Saw sebagai seorang Nabi yang maksum (terjaga dari dosa dan khilaf), senantiasa memperbanyak istighfar dan taubat kepada Allah Swt. Karena salah satu hikmah taubat dan istighfar adalah, bahwa istighfar dan taubat merupakan tanda kecintaan dan ketakwaan seorang hamba kepada Allah Swt.

Wallahu A’lam

Haruskah Khutbah Jumat Memakai Bahasa Arab?​

Ada tiga pendapat dalam masalah “Khutbah Jumat Memakai Bahasa Arab”.

1. Lebih utama pakai bahasa Arab yaitu bagi khathib yang mampu dgn baik bahasa Arabnya,  walau pendengar tidak paham bahasa Arab.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menjelaskan:

أنه يشترط أن تكون بالعربية للقادر عليها ولو كان السامعون لا يعرفون العربية .
وبهذا قال المالكية ، وهو المذهب والمشهور عند الحنابلة .

Disyaratkan pada khutbah Jum’at hendaknya dgn bahasa Arab bagi yang mampu walau audiens tidak paham bahasa Arab. Ini pendapat Malikiyah, dan  pendapat yg masyhur dr Hanabilah.

2. Jika audiens tidak paham bahasa Arab maka boleh pakai bahasa mereka.

Syaikh menjelaskan lg:

يشترط أن تكون بالعربية للقادر عليها ، إلا إذا كان السامعون جميعاً لا يعرفون العربية فإنه يخطب بلغتهم .
وهذا هو الصحيح عند الشافعية ، وبه قال بعض الحنابلة .

Disyaratkan khutbah Jum’at dgn bahasa Arab bagi yang mampu, KECUALI jika semua audiens tidak paham bahasa Arab, maka khutbahnya dgn bahasa mereka. Inilah pendapat yg shahih dari Syafi’iyyah dan sebagian Hanabilah.

3. Khutbah pakai bahasa Arab hanya Sunnah bukan syaratnya khutbah,   jadi tidak masalah sama sekali memakai selain bahasa Arab.

Syaikh menjelaskan lagi:

يستحب أن تكون بالعربية ولا يشترط ، ويمكن للخطيب أن يخطب بلغته دون العربية :
وهو قول أبي حنيفة وبعض الشافعية .

Disunnahkan menggunakan bahasa Arab dan itu bukan syarat. Dimungkinkan si khathib menggunakan bahasa audiens, bukan bahasa Arab. Inilah pendapat Hanafiyah dan sebagian Syafi’iyyah.

(Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 112041)

Pendapat yang ketiga adalah pendapat yang saya pilih. Mengingat tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa bahasa Arab menjadi syarat sahnya khutbah. Disampingnya tujuan khutbah adalah sampainya pesan ke jamaah yg tidak bisa diraih kecuali dgn bahasa yg mereka pahami.

Dalam ​Majelis Al Majma’ Al Fiqhiy​-nya ​Rabithah ‘Alam Islamiy​ , dikeluarkan fatwa:

الرأي الأعدل هو أن اللغة العربية في أداء خطبة الجمعة والعيدين في غير البلاد الناطقة بها ليست شرطاً لصحتها ، ولكن الأحسن أداء مقدمات الخطبة وما تضمنته من آيات قرآنية باللغة العربية ، لتعويد غير العرب على سماع العربية والقرآن ، مما يسهل تعلمها ، وقراءة القرآن باللغة التي نزل بها ، ثم يتابع الخطيب ما يعظهم به بلغتهم التي يفهمونها

Pendapat yang paling adil adalah bahwa berkhutbah Jumat di negeri yg tidak berbahasa Arab bukanlah syarat sahnya khutbah Jum’at. Tetapi lebih baik dalam pembukaan khutbah dan membaca kandungan Al Qur’an hendaknya memakai bahasa Arab. Agar orang-orang selain Arab terbiasa mendengar bahasa Arab dan Al Qur’an, juga agar mudah dalam mempelajarinya dan membaca Al Qur’an sesuai bahasa saat turunnya.

Lalu si khathib melanjutkan mau’izhahnya  dengan bahasa yang mereka pahami.

(Qararat Al Majma’ Al Fiqhiy, Hal. 99)

Demikian. Wallahu a’lam

Berikan Hak Pengguna Jalan

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ بِالطُّرُقَاتِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَنَا مِنْ مَجَالِسِنَا بُدٌّ نَتَحَدَّثُ فِيهَا فَقَالَ إِذْ أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ (رواه البخاري)

Dari Abu Sa’id Al Khudri radliallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan.” Para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami untuk bercakap-cakap.” Beliau bersabda: “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu (duduk-duduk di jalan), maka tunaikanlah hak (pengguna) jalan.” Sahabat bertanya: “Apa saja hak jalan?” Beliau menjawab: “Menundukkan pandangan, menyingkirkan halangan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Bukhari)

© Hikmah Hadits :

1. Anjuran untuk tidak duduk-duduk (nongkrong) di pinggir jalan. Karena duduk-duduk di pinggir jalan bukanlah merupakan perbuatan yang terpuji, karena tentunya dapat menggaggu kenyamanan pengguna jalan. Bahkan bisa jadi orang lain tidak jadi melalui jalan tersebut, karena ada orang-orang yang duduk-duduk di sana, lantaran khawatir keburukan mereka.

2. Kalaupun tetap duduk-duduk di pinggir jalan, maka  kewajiban bagi yang duduk-duduk di jalan untuk memberikan hak pada pengguna jalan. Dan hak-hak pengguna jalan adalah sebagai berikut :

a. Menundukkan pandangan, khususnya terhadap orang lewat di jalanan, terlebih apabila yang lewat di jalan adalah lawan jenis kita. Bukan malah menggoda atau mengganggunya.

b. Menyingkirkan halangan, seperti tidak memakai badan jalanan untuk duduk, atau menyingkarkan duri, batu dan sejenisnya yang dapat mengalangi pengguna jalan serta melancarkan para pengguna jalan.

c. Menjawab salam, khususnya dari pengguna jalan, apabila menyapa dan mengucapkan salam kepada mereka.

d. Amar ma’ruf nahi mungkar, yaitu menyuruh pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, bukan malah membuat kemungkaran di pinggir jalan, seperti mengganggu pengguna jalan, dan sebagainya.

Wallahu A’lam

Saling Do’a Dalam Bersin

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَلْيَقُلْ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ababila salah seorang dari kalian bersin, maka hendaknya ia mengucapkan, ‘Al Hamdulillah’ sedangkan saudaranya atau temannya hendaklah mengucapkan, ‘Yarhamukallah’ (semoga Allah merahmatimu), dan hendaknya ia membalasnya kembali ; ‘Yahdikumullah wa yushlih baalakum’ (semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu).” (HR. Bukhari)

© Hikmah Hadits

1. Diantara adab ketika bersin adalah mengucapkan hamdalah, sebagai bentuk pujian kepada Allah Swt atas segala nikmat, termasuk nikmat ketika bersin. Karena bersin bisa terjadi atas nikmat dari Allah Swt.

2. Disunnahkan bagi yang mendengar bacaan hamdalah dari orang yang bersin, ia mendoakannya dengan mengucapkan Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu). Dan kemudian, ia mendoakan orang yang mendoakannya dengan ucapan, “yahdikumullah wayuslih balakum” (semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu).

3. Indahnya akhlak sesama muslim yang saling mendoakan satu dengan yang lainnya. Dan hal ini menunjukkan persaudaraan antara muslim dengan muslim lainnya.

Wallahu A’lam

Anjuran Shalat Sunah di Rumah​

Nabi ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ bersabda:

فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ صَلَاةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الْمَكْتُوبَةَ

Maka, Shalatlah kalian wahai manusia di rumah-rumah kalian. Shalat paling utama bagi seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat wajib.

(HR. Bukhari no. 731)

📙 Hikmah dan Pelajaran :

1. Anjuran untuk menghidupkan shalat Sunnah di rumah

Yaitu shalat qabliyah dan ba’diyah, juga shalat malam, dhuha, … apa sebabnya? Karena hal itu lebih melindungi hati dari riya’ (pamer), sebab shalat sunah itu adalah tambahan, biasanya tambahan itu ada jika yg pokoknya sudah terpenuhi. Maka, saat org melakukan tambahan, seolah dia menunjukkan ke khalayak ramai bahwa dia sudah melewati batas yg pokoknya.

Imam An Nawawi ​Rahimahullah​ menjelaskan:

الصواب أن المراد النافلة وجميع أحاديث الباب تقتضيه ولا يجوز حمله على الفريضة وإنما حث على النافلة
في البيت لكونه أخفى وأبعد من الرياء وأصون من المحبطات وليتبرك البيت بذلك وتنزل فيه الرحمة والملائكة وينفر منه الشيطان كما جاء في الحديث الآخر وهو معنى قوله صلى الله عليه وسلم في الروايةالأخرى فإن الله جاعل في بيته من صلاته خيرا

Yang benar, maksud hadits ini adalah shalat nafilah (tambahan/Sunnah), semua hadits yang membicarakan bab ini menunjukkan seperti itu, tidak boleh memaknai bahwa maksud shalat di rumah itu adalah shalat wajib.

Sesungguhnya, distimulusnya shalat sunah di rumah karena itu lebih tersembunyi dan jauh dari riya’ (pamer ibadah), serta lebih menjaga dari kesia-siaan, dan untuk mendatangkan keberkahan bagi rumah karenanya, mendatangkan rahmat dan turunnya malaikat (pemberi rahmat), dan menjauhinya dari syetan sebagaimana keterangan hadits lain. Inilah makna hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang lain,  “Allah jadikan kebaikan pada shalat di rumahnya.”

(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/67-68)

2. Hadits ini juga menunjukkan anjuran shalat wajib di masjid bagi kaum laki-laki

Imam At Tirmidzi ​Rahimahullah​ berkata:

وَقَدْ رُوِيَ عَنْ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ قَالُوا مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يُجِبْ فَلَا صَلَاةَ لَهُ و قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا عَلَى التَّغْلِيظِ وَالتَّشْدِيدِ وَلَا رُخْصَةَ لِأَحَدٍ فِي تَرْكِ الْجَمَاعَةِ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

Telah diriwayatkan dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan banyak jalur, mereka mengatakan, ​“Barangsiapa mendengar adzan lalu tidak memenuhi panggilannya, maka tidak ada shalat baginya.”

Dan sebagian para ahli ilmu berkata; ​“Hal ini sangat ditekankan dan tidak ada keringanan bagi seseorang untuk meninggalkan shalat berjama’ah kecuali dengan udzur/halangan.”​ ​(Sunan At Tirmidzi no. 217)

Jika shalat sunah di rumah dalam rangka menyelamatkan hati dari riya’ …, maka shalat wajib ke masjid adalah syiar yg nyata kehidupan Islami ( ​sya-aa’ir zhahirah​) di sebuah daerah.

3. Anjuran shalat Sunnah di rumah bukan berarti terlarang melakukannya di masjid.

Imam An Nawawi ​Rahimahullaah​ membuat Bab dalam penjelasan hadits ini:

باب استحباب صلاة النافلة في بيته وجوازها في المسجد

Bab Disunahkannya Shalat Nafilah di rumah dan boleh shalat Sunnah  di masjid

Bahkan ada shalat sunnah tertentu yang bukan di rumah, seperti: tahiyatul masjid, istisqa’ (minta hujan), khusuf (gerhana), ‘id (shalat id), bahkan shalat tarawih lebih utama di masjid menurut mayoritas ulama.

Demikian.  ​Wallahul  Muwafiq ilaa aqwaamith Thariq

Air Kencing Unta; Najiskah?​

​Bismillah wal Hamdulillah ..​

Tentang meminum air kencing unta memang ada dalam Sunnah, atas perintah Nabi ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ .

Kisahnya termaktub dalam dua kitab hadits paling Shahih (authentic text), yaitu ​Shahih Al Bukhari​ dan ​Shahih Muslim.​

Dalam Kitab ​Shahih Al Bukhari;​

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ نَاسًا اجْتَوَوْا فِي الْمَدِينَةِ فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَلْحَقُوا بِرَاعِيهِ يَعْنِي الْإِبِلَ فَيَشْرَبُوا مِنْ أَلْبَانِهَا وَأَبْوَالِهَا فَلَحِقُوا بِرَاعِيهِ فَشَرِبُوا مِنْ أَلْبَانِهَا وَأَبْوَالِهَا حَتَّى صَلَحَتْ أَبْدَانُهُمْ

Dari Anas ​Radhiallahu ‘anhu​ bahwa sekelompok orang sedang menderita sakit ketika berada di Madinah, maka ​Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan​ mereka supaya menemui penggembala beliau dan ​meminum susu dan kencing unta,​ mereka lalu pergi menemui sang penggembala dan meminum air susu dan kencing unta tersebut sehingga badan-badan mereka kembali sehat .

​(HR. Bukhari no. 5686)​

Juga terdapat dalam ​Shahih Muslim:​

ةَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ حَدَّثَنِي أَنَسٌ
أَنَّ نَفَرًا مِنْ عُكْلٍ ثَمَانِيَةً قَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعُوهُ عَلَى الْإِسْلَامِ فَاسْتَوْخَمُوا الْأَرْضَ وَسَقِمَتْ أَجْسَامُهُمْ فَشَكَوْا ذَلِكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَلَا تَخْرُجُونَ مَعَ رَاعِينَا فِي إِبِلِهِ فَتُصِيبُونَ  مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا فَقَالُوا بَلَى فَخَرَجُوا فَشَرِبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا فَصَحُّوا

DARI Abu Qilabah telah menceritakan kepadaku Anas, bahwa sekelompok orang dari Bani ‘Ukl yang berjumlah delapan orang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mereka membai’at beliau atas Islam. Tidak beberapa lama mereka sakit karena tidak terbiasa dengan iklim Kota Madinah. Mereka kemudian mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: ​”Maukah kamu pergi ke unta-unta yang digembalakan, lalu kamu meminum susu dan air kencingnya?”​ mereka menjawab, “Tentu.” Kemudian mereka pergi ke unta-unta tersebut dan meminum susu dan air kencingnya hingga mereka sehat seperti biasa ..

​(HR. Muslim no. 1671)​

Dalam ilmu hadits, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Imam Muslim -istilahnya ​Muttafaq ‘Alaih​- adalah hadits yang tingkat keshahihannya tertinggi.

Kemudian …

​📙Keterangan Para Ulama​

Kisah ini dijadikan dasar bagi banyak ulama dan madzhab bahwa air kencing Unta itu suci, dan dia juga sebagai obat.

Imam An Nawawi ​Rahimahullah​ mengatakan:

واستدل أصحاب مالك وأحمد بهذا الحديث أن بول ما يؤكل لحمه وروثه طاهران 

​Para sahabat Imam Malik (Malikiyah) dan Imam Ahmad (Hambaliyah) berdalil dengan hadits ini bawah kencing dan kotoran hewan yang boleh dimakan dagingnya itu SUCI.​

​(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 11/154)​

Sementara Syafi’iyyah tidak sepakat dengan mereka. Bagi Syafi’iyyah semua kotoran dan kencing  hewan adalah najis termasuk hewan yang bisa dimakan.

Imam An Nawawi ​Rahimahullah​ melanjutkan;

وأجاب أصحابنا وغيرهم من القائلين بنجاستهما بأن شربهم الأبوال كان للتداوي وهو جائز بكل النجاسات سوى الخمر omوالمسكرات 

​Para sahabat kami (Syafi’iyyah) dan selainnya yg berpendapat ​najisnya keduanya (kencing dan kotoran Unta)​ memberikan jawaban; bahwasanya minumnya mereka terhadap air kencing Unta krn untuk berobat, itu (berobat) memang boleh dgn semua najis kecuali khamr (minuman keras)  dan apa pun yang memabukkan.​ ​(Ibid)​

Dalam konteks madzhab Syafi’iy, Berkata Imam Ibnu Ruslan ​Rahimahullah:​

وَالصَّحِيحُ مِنْ مَذْهَبِنَا يَعْنِي الشَّافِعِيَّةَ جَوَازُ التَّدَاوِي بِجَمِيعِ النَّجَاسَاتِ سِوَى الْمُسْكِرِ لِحَدِيثِ الْعُرَنِيِّينَ فِي الصَّحِيحَيْنِ حَيْثُ أَمَرَهُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالشُّرْبِ مِنْ أَبْوَالِ الْإِبِلِ لِلتَّدَاوِي

                “Yang benar dari madzhab kami –yakni Syafi’iyah- bahwa dibolehkan berobat dengan seluruh benda najis kecuali yang memabukkan, dalilnya adalah hadits kaum ‘Uraniyin dalam shahihain (Bukhari-Muslim), ketika mereka diperintah oleh Nabi untuk minum air kencing Unta untuk berobat.”

​(Nailul Authar, 13/166)​

Jadi, bagi Syafi’iyyah, diminumnya air kencing unta karena ada konteksnya; saat dharurat untuk berobat. Bukan karena air kencing Unta itu suci.

📓 ​Koreksi Dari Imam Asy Syaukani ​Rahimahullah​​

             Tapi, Apa yang dikatakan oleh Imam Ibnu Ruslan ini koreksi oleh Imam Asy Syaukani, sebagai berikut:

وَلَا يَخْفَى مَا فِي هَذَا الْجَمْع مِنْ التَّعَسُّف ، فَإِنَّ أَبْوَال الْإِبِل الْخَصْم يَمْنَع اِتِّصَافهَا بِكَوْنِهِمَا حَرَامًا أَوْ نَجَسًا ، وَعَلَى فَرْض التَّسْلِيم فَالْوَاجِب الْجَمْع بَيْن الْعَامّ وَهُوَ تَحْرِيم التَّدَاوِي بِالْحَرَامِ وَبَيْن الْخَاصّ وَهُوَ الْإِذْن بِالتَّدَاوِي بِأَبْوَالِ الْإِبِل بِأَنْ يُقَال يَحْرُم التَّدَاوِي بِكُلِّ حَرَام إِلَّا أَبْوَال الْإِبِل ، هَذَا هُوَ الْقَانُونَ الْأُصُولِيّ

“Jelaslah, bahwa kompromi tersebut adalah keliru, ​sebab sesungguhnya sifat kencing Unta  tidaklah dikatakan haram atau najis,​ dan wajib menerima hal itu. Maka, wajib memadukan antara dalil yang ‘am (umum) yakni keharaman pengobatan dengan yang haram, dengan dalil yang khas (khusus) yaitu diidzinkannya berobat dengan kencing Unta, maka seharusnya dikatakan: ​Haram berobat dengan segala yang haram kecuali dengan Unta, demikianlah aturan dasarnya.”​ ​(Ibid)​

Apa yg dikatakan Imam Asy Syaukani berdasarkan kaidah: ​Hamlul muthlaq Ilal muqayyad​ – dalil yang masih umum mesti dibawa pemahamannya berdasarkan yang khusus.

Misal, ketika Allah Ta’ala haramkan bangkai secara umum berdasarkan ayat:  ​hurrimat ‘alaikumul mayyitah​ – diharamkan bagi kalian daging bangkai .. , ternyata dikecualikan dua bangkai, yaitu ikan dan belalang berdasarkan riwayat Ibnu Umar ​Radhiyallahu ‘Anhuma​: ​Uhillat lanaa mayitan Al Huut wal Jarad​ – Dihalalkan bagi kita dua bangkai; yaitu ikan dan belalang. Beginilah jalan berpikirnya; semua air kencing hewan adalah najis kecuali yg khususkan oleh dalil, misalnya kencing Unta.

Sementara ulama lain, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga memguatkan kencing Unta tidakah najis, sebab ketika dibolehkan untuk diminum, itu menunjukkan kesuciannya. Bahkan beliau memaparkan 15 dalil. Pendapat ini juga di dukung Syaikh Yusuf Al Qaradhawi ​Hafizhahullah.​

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ​Rahimahullah​ berkata:

نعم، هذا هو الصواب: أن بول ما يؤكل  لحمه وروثه كله طاهر؛ مثل الإبل والبقر والغنم والصيد كله طاهر، والنبي صلى الله عليه وسلم كان يصلي في مرابض الغنم، ولما استوخم العرنيون في المدينة بعثهم إلى إبل الصدقة من وألبانها حتى صحوا، فلما أذن لهم بالشرب من أبوالها دلّ على طهارتها

​Ya, inilah yang benar, bahwa ​air kencing dan kotoran dari hewan yg bisa dimakan dagingnya adalah SUCI.​ Seperti Unta, sapi, kambing, dan hasil buruan laut, dan dahulu Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam pernah shalat di kandang kambing.​

​Saat kaum ‘Uraniyun sakit,  Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam mengutus kepada mereka para gembala untuk mereka bisa minum susah dan air kencingnya. Saat Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam mengizinkan mereka meminumnya menunjukkan kesuciannya.​ ​(selesai)​

Jadi, dibolehkannya meminum air kencing Unta bukan karena dibolehkanya berobat dengan yang najis karena darurat, tetapi karena memang  air kencing Unta adalah benda suci, atau seperti kata Imam Asy Syaukani, kencing Unta adalah pengecualian.

Sehingga bagi mereka, menjelaskan masalah ini dengan:  ​”Boleh meminumnya jika darurat”​ menjadi tidak pas, sebab sesuatu yg suci dan tidak haram,  boleh digunakan walau tidak darurat.

Demikian. Wallahu a’lam

Prediksi Kenabian Yang Menjadi Kenyataan​


Malam Senin (31 Desember), kita menyaksikan apa-apa yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam prediksikan 14 abad silam:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Dari Abu Sa’id Al Khudri dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

“Sungguh, engkau akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, hingga kalaulah mereka masuk liang biawak, niscaya kalian mengikuti mereka.”

Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nasranikah (yang akan kami ikuti)?”

Nabi menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?”

📚 Imam Al Bukhari no. 7320, Imam Muslim no. 2669

Maka, … Tanyakan kepada umumnya umat Islam, apakah 1 Muharram? Mereka tidak tahu! Tapi, apakah 1 Januari? Semuanya tahu …

Tanyakan kepada remaja-remaja kita .., ada apa dengan 9 Zulhijjah? Umumnya tidak tahu!
Tapi, tanyakan tentang 14 Februari ? Hampir semuanya tahu ..

Tanyakan tentang Sirah Nabawiyah …, tanyakan tentang Usamah bin Zaid, Khalid bin Walid, Al Qa’qa’, Al Mutsanna, sangat sedikit yg tahu ..

Tapi, tanyakan biografi Messi dan CR7 .., atau artis Korea dan penyanyi Barat .. meluncur dengan mudah dr lisan mereka ..

Demikianlah .. “Lubang Biawak” itu kecil dan kotor, tapi kita tetap memaksa memasukinya .. artinya betapa kuat daya tarik budaya mereka, sekotor itu pun masih diikuti juga .. walau tidak pantas diikuti ..

Semoga, fajar kemenangan Islam tidak terhalang oleh sebongkah fakta menyedihkan yg terus berulang tiap akhir tahun di negeri-negeri muslim ..

Hadits inilah yang membuat kami masih bisa tersenyum optimis:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشِّرْ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِالسَّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ وَالدِّينِ وَالنَّصْرِ وَالتَّمْكِينِ فِي الْأَرْض

Dari Ubay bin Ka’b dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Berilah kabar gembira kepada umat ini dengan kejayaan, kemulyaan, agama, pertologan dan kekuasaan di muka bumi.”

(HR. Ahmad no. 20273, Al Hakim dalam Al Mustadrak no. 7862, beliau berkata: Shahih. Disepakati keshahihannya oleh Imam Adz Dzahabi)

Wallahul Musta’an wa ilaihil musytakaa …

Diantara Akhlak Dalam Bersin Dan Menguap


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ (رواه اليخاري)

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai bersin, dan membenci menguap. Maka apabila salah seorang dari kalian bersin, hendaklah ia memuji Allah (mengucapkan alhamdulillah), dan kewajiban muslim lainnya yang mendengarnya untuk mendo’akannya (mengucapkan yarhamukallah). Sedangkan menguap datangnya dari syetan, maka hendaknya ia menahan menguap semampunya. Dan jika sampai ia mengucapkan “haaah” (menguap dengan bersuara), maka syetan akan tertawa (senang) karenanya.” (HR. Bukhari)

© Hikmah Hadits :

1. Anjuran berakhlaqul karimah dalam segenap aspek kehidupan, tidak terkecuali dalam kebiasaan sehari-hari yang terkadang dianggap sepele dan ringan, seperti akhlak ketika sedang bersin atau ketika sedang menguap.

2. Ketika bersin, kita dianjurkan untuk berdoa memuji Allah Swt dengan mengucapkan “alhamdulillah”. Karena bersin merupakan nikmat dari Allah Swt.

Sementara, bagi muslim lainnya yang mendengarkan ucapan hamdalah dari orang yang bersin, dianjurkan untuk turut mendoakannya dgn mengucapkan “yarhamukallah”. Kemudian selanjutnya orang yang bersin tadi membalasnya kembali dengan mendoakan orang tersebut dengan ucapan “yahdikumullah”.

Dan sungguh, betapa indahnya kehidupan orang yang beriman, yang selalu saling mendoakan satu dengan yang lainnya.

3. Adapun menguap, umumnya datangnya dari syaitan dan termasuk perkara yang tidak disukai Allah Swt. Maka anjuranya ketika menguap adalah hendaknya ditahan sebisa mungkin. Dan kalaupun harus menguap juga, maka hendaknya jangan sampai mengeluarkan suara ketika menguap. Sebab menguap dengan mengeluarkan suara, termasuk perbuatan tercela, dan syaitan sangat menyukainya serta tertawa karenanya.

Wallahu A’lam

Waria Jadi Imam Shalat​


​Bismillah wal Hamdulillah ..​

Dalam fiqih, ada jenis ketiga yaitu ​Al Khuntsa​. Siapa ​Al Khuntsa?​ yaitu orang yg laki atau wanitanya blm bisa dipastikan, karena dia berkelamin ganda.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ​Rahimahullah​ mengatakan:

والخُنثى هو: الذي لا يُعْلَمُ أَذكرٌ هو أم أنثى؟ فيشمَلُ مَن له ذَكَرٌ وفَرْجٌ يبول منهما جميعاً, ويشمَلُ مَن ليس له ذَكَرٌ ولا فَرْجٌ، لكن له دُبُرٌ فقط

​​Al Khuntsa​ adalah orang yg tidak diketahui priakah dia atau wanita? Mencakup didalamnya pula yaitu orang yg memiliki dzakar dan vagina jg dan kencingnya lewat keduanya. Mencakup pula di dalamnya orang yg tidak punya dzakar dan tidak punya vagina, hanya punya dubur.​ (Selesai)

Jenis ini, hanya boleh menjadi imam bagi kaum wanita. Tidak boleh jadi imam kaum laki-laki, dan tidak boleh jadi imam sesama mereka.

Syaikh Abdullah Al Faqih ​Hafizhahullah​ mengatakan:

فهو لا تصح إمامته للرجال, ولا لمثله من الخناثى لاحتمال أن يكون امرأة، وتصح إمامته للنساء عند الجمهور

​Maka, dia tidak sah menjadi imam bagi kaum laki-laki, dan tidak sah bagi yg semisal dirinya dari kalangan Al Khuntsa juga, karena bisa jadi kemungkinannya dia wanita, tapi dia SAH menjadi imam bagi kaum wanita saja menurut pendapat mayoritas ulama.​

​(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 189089)​

Nah, ​Al Khuntsa​ inilah yg dimaksud dalam buku tersebut.

Bagaimana dgn banci? Atau istilah lain waria atau bencong? Mereka bukan ​Al Khuntsa.​ Mereka ini kelompok yg sejak lahirnya adalah laki-laki lalu berpolah seperti wanita; suara, kedipan mata, pakaian, cara jalan, gerakan tangan, .. maka ini fasiq. Salah gaul jadi seperti ini. Kalau perempuan, yang berprilaku seperti laki-laki; ​gaya, suara, pakaian, maka ini lebih dikenal dgn tomboy.​ Keduanya tercela dalam ​As Sunnah.​

Inilah yg disebut dalam hadits Nabi ​Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam​ sebagai berikut:

ِعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِينَ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ مِنْ النِّسَاءِ

Dari Ibnu Abbas ​Radhiallahu ‘anhuma​ mengatakan, Nabi ​Shallallahu’alaihi wasallam​ melaknat laki-laki yang menyerupai wanita (waria) dan perempuan yang menyerupai laki-laki.

​(HR. Bukhari no. 6834)​

Shalat menjadi makmumnya waria adalah suatu yg dibenci kecuali terpaksa.

Imam Az Zuhri ​Rahimahullah​ berkata:

ُّ لَا نَرَى أَنْ يُصَلَّى خَلْفَ الْمُخَنَّثِ إِلَّا مِنْ ضَرُورَةٍ لَا بُدَّ مِنْهَا

​Kami tidak membenarkan shalat menjadi ma’mumnya waria kecuali kondisi darurat yg mengharuskan demikian.​ ​(Shahih Al Bukhari no. 659, Kitabullah Adzan)​

Dalam ​Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah​ dijelaskan:

والذي يتشبه بهن في تليين الكلام, وتكسر الأعضاء عمدا، فإن ذلك عادة قبيحة ومعصية, ويعتبر فاعلها آثما وفاسقا, والفاسق تكره إمامته عند الحنفية والشافعية، وهو رواية عند المالكية, وقال الحنابلة والمالكية في رواية أخرى ببطلان إمامة الفاسق.

​Laki-laki yg menyerupai wanita; dalam melembutkan pembicaraan, gerakan anggota tubuhnya secara sengaja, ini adalah kebiasaan yg buruk lagi jelek, pelakunya dinilai berdosa dan fasiq.​

​Orang fasiq makruh menjadi imam menurut Syafi’iyyah dan Hanafiyah, dan salah satu riwayat Malikiyah.​

​Adapun bagi Hanabilah dan Malikiyah dalam riwayat yg lain, batal menjadi ma’mumnya orang fasiq.​ (selesai).

Semoga bisa dibedakan antara Al Khuntsa, dan Al Mukhannats (banci/waria).

Demikian. Wallahu a’lam

Menjual Barang Untuk Keperluan Natal​


Imam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam ​Iqtidha Sirath Al Mustaqim:​

فأمّا بيع المسلم لهم في أعيادهم ما يستعينون به على عيدهم من الطعام واللباس والرّيحان ونحو ذلك أو إهداء ذلك لهم فهذا فيه نوع إعانة على إقامة عيدهم المحرّم.

​Ada pun Seorang Muslim menjual untuk mereka pada saat hari raya mereka, yg dengan itu dapat membantu pelaksanaan hari raya itu seperti makanan, pakaian, parfum, dan lainnya, atau memberikan hadiah kepada mereka, maka semua ini adalah bentuk pertolongan atas terlaksananya perayaan mereka yang diharamkan.​ ​(Hal. 229)​

Imam Abdul Malik bin Habib ​Rahimahullah,​ seorang ulama Malikiyah, berkata:

ألا ترى أنّه لا يحلّ للمسلمين أن يبيعوا من النصّارى شيئا من مصلحة عيدهم؟ لا لحما ولا إداما ولا ثوبا ولا يُعارون دابّة ولا يعاونون على شيء من عيدهم لأنّ ذلك من تعظيم شركهم ومن عونهم على كفرهم

​Apakah Anda tidak lihat bahwanya tidak halal bagi kaum muslimin menjual sesuatu kepada kaum Nasrani apa-apa yang dimanfaatkan pada hari raya mereka ? Tidak boleh menjual daging, pakaian, dipinjamkan hewan, dan tidak pula menolong mereka dgn sesuatu pada hari raya mereka, sebab itu merupakan pemuliaan thdp kesyirikan mereka dan termasuk pertolongan atas kekafiran mereka.​ ​(Ibid, hal. 231)​

Demikian. Wallahu a’lam