Jangan Kriminalisasi Kalimat Tauhid Kami

📆 Selasa, 01 Muharrom 1440H / 11 September 2018
📚 Muamalah

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.
📌 Ini realita yang mengherankan dan menyedihkan
📌 Sebagian orang menjadikan tulisan Laa Ilaaha Illallah seolah seperti musuhnya, padahal dia muslim
📌 Tulisan tersebut menjadi monster bagi kehidupannya, bahkan menurutnya menjadi ancaman bagi negaranya
📌 Padahal Laa Ilaaha Illallah, dia baca dalam shalat
📌 Laa Ilaaha Illallah, adalah bukti iman yang tertinggi
📌 Laa Ilaaha Illallah, adalah dzikir yang paling utama
📌 Laa Ilaaha Illallah, adalah ucapan yg jika dibaca diakhir hidup maka surga baginya
📌 Tapi, jika ada tulisan Laa Ilaaha Illallah di stiker mobil, hiasan dinding, apalagi bendera para demonstran .. mereka  langsung curiga dan menuduh, Ini HTI!! Ini ISIS!!
📌 Begitu polos dan simplistismya mereka, mereka lupa kalimat itu milik semua umat Islam, bahkan milik diri mereka sendiri
📌 Jauh sebelum ada HTI di negeri ini, tulisan Laa Ilaaha Illallah sudah biasa kita lihat dan miliki
📌 Namun Tulisan tauhid menjadi monster dalam hidup mereka, krn  terbawa oleh bius fitnah media jago framing
📌 Zaman serba fitnah seperti ini memang berat .. Hadapilah dengan membawa Laa Ilaaha Illallah, agar dapat kemenangan dan keselamatan ..
Wallahul Muwaffiq ila Aqwamith Thariq

Doa khusus malam tahun baru

📆 Senin, 29 Dzulhijjah 1439H / 10 September 2018
📚 Fiqih dan Hadits

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.
Bismillahirrahmanirrahim ..
Dalam sunnah tidak ada doa khusus tahun baru, baik tahun baru hijriyah atau tahun baru Masehi. Namun, terdapat dalam sunnah bahwa Nabi ﷺ  berdoa setiap awal masuk bulan (bulan sabit). Awal masuk tahun, tentunya juga awal masuk bulan. 1 Muharam adalah awal tahun sekaligus awal bulan.
Jika mau menjalankan yang ada sunnahnya maka bacalah yg Nabi ﷺ  baca. Inilah yang lebih utama.
Dari Thalhah bin ‘Ubaidillah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الْهِلَالَ قَالَ اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ
Bahwa Nabi ﷺ apabila melihat bulan sabit beliau mengucapkan: “ALLAAHUMMA AHLILHU ‘ALAINAA BILYUMNI WAL AIMAANI WAS SALAAMATI WAL ISLAAM, RABBII WA RABBUKALLAAH” (Terbitkanlah bulan tersebut kepada kami dengan berkah, iman, keselamatan serta Islam! Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah).
(HR. At Tirmidzi no. 3451, Ahmad no. 1397)
Hadits ini HASAN. (Musnad Ahmad dgn Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir, 2/178. Juga Ta’liq Musnad Ahmad oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth, 3/17)
Lalu, apakah boleh doa buatan manusia? Doa susunan sendiri, bukan berasal dari Al Qur’an dan Sunnah, jelas boleh dan itu merupakan pendapat mayoritas ulama. Hanya saja terikat oleh syarat:
1. Isinya tidak bertentangan dengan syariat
2. Tidak boleh diklaim berasal dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam
3. Tidak boleh pula dibuat fadilah-fadilah yg direkayasa. Misal, “jika anda baca doa ini maka akan begini,” tanpa ada dasarnya.
Nah, begitu pula doa malam tahun baru yang bukan berasal dari sunnah juga terikat oleh syarat-syarat tersebut.
Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah berkata:
فلا حرج على المسلم أن يدعو بدعاء يعبر فيه عن حاجته ورغبته أو كشف ضره، ولكنه إذا دعا بالأدعية المأثورة عن النبي صلى الله عليه وسلم أو غيره من الأنبياء كما جاء في القرآن الكريم أو السنة المطهرة كان أفضل، وعليه أن يختار من الأدعية ما يتناسب مع المقام الذي هو فيه أو الحاجة التي يطلبها، ولا مانع أن يجمع بين هذا وذلك ويركب من بينهما أدعية تعجبه وتناسب مقامه، فقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: ثم يتخير من الدعاء أعجبه إليه فيدعوه . رواه البخاري .
  Tidak apa-apa bagi seorang muslim berdoa dengan kalimat yang di dalamnya tertera hajatnya, keinginannya, atau solusi atas kesulitannya. Tetapi, jika berdoa dengan doa-doa yang ma’tsur dari Nabi ﷺ atau dari para nabi lainnya, sebagaimana tertera dalam Al Quran, atau sunnah yang suci, maka itu lebih utama. Hendaknya dia memilih doa yang sesuai dengan keadaannya, kedudukannya, atau kebutuhan yang dia inginkan. Tidak terlarang baginya menggabungkan antara doa yang ini dan itu, dan mempraktekkan keduanya dengan doa-doa yang dia sukai dan sesuai posisinya.
Nabi ﷺ telah bersabda: “.. kemudian dia memilih doa yang ia sukai maka berdoalah kepadaNya.” (HR. Al Bukhari).
(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah, 10/124)
Demikian. Wallahu A’lam

Ambil KPR Konvensional Karena Butuh?

Ustadz Menjawab
Senin, 10 September 2018
Ustadz Dr. Oni Sahroni, M.A
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….Apakah tetap bisa dikatakan rumah sebagai kebutuhan darurat dan akhirnya dengan terpaksa mengambil kredit riba (bank konvensional). Padahal kita, masih bisa tinggal di rumah orang tua atau mertua?
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
👉🏻 Kita bisa merujuk atau kembali pada kriteria darurat.
1⃣ Tidak ada alternatif lain yang halal atau mubah. Apabila ada  yang halal, alternatif itu sulit dilakukan. Apakah cara untuk mendapatkan pembiayaan rumah ini tidak ada alternatif yang halal kecuali konvensional? Padahal banyak alternatif untuk mendapatkan kebutuhan rumah salah satunya dari bank syariah atau properti syariah.
2⃣ Tingkat kebutuhan sekunder atau primer atau dalam bahasa maqashid disebut hajiyat atau dharuriyat. Dalam kriteria ini, kebutuhan keluarga akan rumah yang digunakan untuk tempat tinggal merupakan kebutuhan primer dan termasuk kriteria kedua ini.
3⃣ Walaupun diperbolehkan, hal ini temporal selama dalam kondisi darurat sesuai dengan kriteria 1 dan 2, tetapi jika ada alternatif lain yang halal dan mudah untuk dilakukan, kondisi darurat ini sudah berakhir.
📚 Berdasarkan tiga kriteria ini, apakah masalah yang disebutkan dalam pertanyaan termasuk tiga kategori di atas?
✅ Jika ya, berarti termasuk kondisi darurat dan diperbolehkan untuk mengajukan kredit melalui konvensional.
❌ Jika tidak, berarti tidak termasuk kondisi darurat dan tidak diperbolehkan untuk mengajukan kredit ke konvensional.
👆🏻 Ketiga kriteria tersebut sesuai dengan penegasan Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam salah satu bukunya yang mengupas masalah darurat, yaitu Kitab Nazhariyyatu Dharurah.
Facebook : @onisahronii
Instagram : @onisahronii
Twitter : @onisahroni
telegram.me/onisahronii
www.rumahwasathia.org
Wallahu a’lam.

Ku Poligami…

Ustadz Menjawab
Sabtu, 08 September 2018
Ustadz Farid Nu’man Hasan
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
…suami saya berpoligami. Awalnya saya hidup serumah dengan madu.namun karena banyak perbedaan maka kami memutuskan untuk berbeda rumah. Belakangan ini saya merasa perbedaan diantara saya dan madu saya semakin banyak sehingga saya meminta madu saya untuk tidak menemui saya&anak2 lagi(melainkan hanya pada acara2 khusus seperti hari raya dsb saja)
Saya tidak ingin memutus silaturahim dengan beliau namun hanya hal ini hanya untuk kemaslahatan (saya khawatir setiap perjumpaan kami hanya akan mengotori hati saya).
Pertanyaan saya ,
berdosakah saya  ?
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Memutuskan hubungan dan  pertemuan dgn seseorang, termasuk dosa besar. Dalam hadits Bukhari Muslim dikatakan tidak akan masuk surga. Dalam hadits Ibnu Majah dikatakan shalatnya tidak akan diterima.
Kapankah boleh “memutuskan?” Ada keadaan kita boleh memutuskan seseorang Jika dia punya keburukan sisi aqidah, akhlak, atau lainnya, yg jika kita tetap berhubungan dgnnya maka berbahaya. Saat itulah boleh diputus sebagai bentuk nasihat bagi diri org tsb.
Untuk kasus yg ditanyakan, silahkan dipertimbangkan sudah masuk kategori yg manakah ? Apakah sebabnya hanya kekesalan semata, atau ada sebab-sebab keburukan yg memang layak baginya utk diboikot ..?
Wallahu a’lam.

Kerugian Dalam Mudharabah

Ustadz Menjawab
Sabtu, 09 September 2018
Ustadz Dr. Oni Sahroni, M.A
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….Kita tahu bahwa kerugian dalam mudharabah ditanggung oleh pemilik modal (bank syariah) kecuali nasabah wanprestasi, hal demikian ditanggung oleh nasabah. Bagaimana jika terjadi kesalahan praktik, kerugian dalam mudharabah yang bukan disebabkan wanprestasi nasabah, tidak hanya di-cover oleh bank syariah, tetapi nasabah juga ikut meng-cover (kerugian ditangggung bersama seperti musyarakah)? Bagaimana kedudukan harta ganti kerugian tersebut yang memang menyalahi prinsip mudharabah? Apakah ia termasuk dana nonhalal di bank syariah? Jika memang demikian, apa kegunaan dana tersebut?
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
🅰 Kaidah yang berlaku dalam mudharabah terkait dengan pembagian keuntungan dan kewajiban menanggung risiko adalah bahwa kerugian ditanggung oleh pemilik modal kecuali kalau kerugian tersebut diakibatkan oleh wanprestasi atau lalai yang dilakukan oleh pengelola. Wanprestasi tersebut lebih mudah diterjemahkan dengan menyalahi kesepakatan dalam perjanjian. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah Saw;
فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْخَرَاجُ بِالضَّمَانِ
“Manfaat (didapatkan oleh seseorang) disebabkan ia menanggung risiko.” (HR. Tirmidzi).
Kaidah fikih menjelaskan,
الْغُرْمُ بِالْغُنْمِ
“Risiko berbanding dengan manfaat.”
👉🏻 Oleh karena itu, jika kerugian tersebut terjadi akibat lalai yang dilakukan oleh pengelola atau cedera janji terhadap kesepakatan, berarti pengelola yang harus menanggung sebagaimana yang ditegaskan dalam fatwa DSN MUI No.92 /DSN-MUI/IV/2014 tentang At-Tamwil Al-Mautsuq bi Rahn, sehingga prinsipnya kerugian ditanggung oleh pemodal kecuali kerugian tersebut diakibatkan oleh cedera janji pengelola sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam form akad.
🅱 Jika yang terjadi belum ada kesepakatan dan berpotensi menimbulkan perbedaan, sebaik-baiknya jalan ialah merelakan dan menoleransi. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW;
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً سَمْحًا إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى
Dari Jabir ibnu Abdullah ra, Rasulullah Saw bersabda : “Allah merahmati orang yang memudahkan ketika menjual, dan ketika membeli, dan ketika memutuskan perkara.” (HR Bukhari).
👨🏻‍🌾 Sebaik-baiknya pelaku pasar adalah toleran sebagai penjual dan toleran dalam menuntut hak. Oleh karena itu, yang dirujuk adalah kesepakatan.
🤝🏻 Selama kesepakatan itu tidak berpotensi multitafsir, sebaik-baiknya pelaku pasar adalah yang merelakan haknya untuk kompromi sehingga masing-masing bisa memenuhi hak orang lain sebelum menuntut haknya.
Facebook : @onisahronii
Instagram : @onisahronii
Twitter : @onisahroni
telegram.me/onisahronii
www.rumahwasathia.org
Wallahu a’lam.

Nasihat Pernikahan

📆 Sabtu, 27 Dzulhijjah 1439H / 08 September 2018
📚 KELUARGA MUSLIM

📝 Pemateri: Ustadz DR. Wido Supraha, M.Si.
Hadits Rasulullah saw.
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اْلبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَاِنَّهُ اَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَ اَحْصَنُ لِلْفَرْجِ. وَ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَاِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. الجماعة
Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Hai para pemuda!
Barang siapa di antara kalian yang telah mencapai masa nikah (memiliki kemampuan seksualitas/ mampu menikah, maka nikahlah. Karena yang demikian itu lebih bisa menjaga pandanganmata dan kemaluan. Barang siapa yang belum mampu hendaklah ia berpuasa, karena itu adalah penyembuh (HR. Bukhari dan Muslim).
Hari pernikahan adalah hari bersejarah bagi kedua mempelai, disaksikan oleh para sesepuh dan orang-orang shalih, semoga Allah memberikan keberkahan.
Islam menempatkan nikah sebagai sesuatu yang agung. Melaksanakan nikah sesuatu yang mulia.
Kalau akad nikah menjadi ibadah, maka membangun rumah tangga harus kalian kedepankan
Mitsaqan Ghalizan, perjanjian berat dengan sejumlah konsekuensi.
Nikah tidak saja menghalalkan yang haram, namun juga mengharamkan yang halal.
Nikah melahirkan kebebasan, dalam waktu yang sama melahirkan keterikatan dan kebebasan.
Nikah melahirkan sejumlah hak, tapi tidak boleh lupa nikah juga melahirkan kewajiban.
Nikah terkadang menjadi tidak harmonis ketika suami atau isteri hanya menuntut hak tapi melupakan kewajiban. Tunaikanlah kewajiban sepenuh hati niscaya hak akan datang dengan sendirinya.
Beberapa kali Al-Qur’an menceritakan kisah-kisah keluarga rabbani.
Dalam Surat Ar-Rum ayat 21, yakni salah satu ciri-ciri keluarga ideal yakni keluarga yang dihiasi dengan sakinah, mawaddah, warahmah.
Harta penting dalam membangun keluarga tapi harta bisa habis karena celaka.
Kecantikan pun harus dijaga, tapi itu pun akan sirna karena dijemput usia.
Yang lestari dan abadi adalah cinta dan kasih. Karena itu tumbuhkan di antara kalian semangat ta’awun, kreatif menolong istri/suami, menyenangkan istri/suami. Bangun budaya tasamuh (toleran, senitasa memperhatikan keinginan suami dan istri.
Tidak boleh lupa, biasakanlah saling doa mendokan. Ketika kalian bersimpuh di atas sajadah, sebelum atau sesudah shalat memohon sesuatu, jangan lupa sertakan permohonan untuk keselamatan dan kebahagiaan istri dan suami. Atau pada suatu saat kalian sedang memohon ampun kepada Allah, sertakan permohonan ampun untuk istri/suami. Doa yang terbaik itu adalah doa untuk orang lain terutama suami/istri disertai dengan ketulusan dan ikhlas.
Kalau suatu saat suami dihadapkan dengan suatu masalah yang berat, istri hendaknya mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat syukrul wudhu dan berdoa: Yaa Allah tolong dia, sayangi dia, rahmati dia, berkati dia. Pintu ‘arsy seolah2 terbuka, ribuan malaikat turun mengamini doa istri yang tulus dan ikhlas.
Akhi,
Rumah tangga adalah bagian dari kehidupan duniawi yang fana.
Rumah tanggal sangat tergantung bagaimana kalian menyikapi ujian demi ujian. Tidak sedikit kegagalan dan musibah karena kebodohan dan kesalahan kita. Sadar akan kekurangan diri adalah pintu gerbang perbaikan diri. Tidak sadar akan kekurangan diri, dan merasa sempurna akan sulit diperbaiki.
Betapapun besar ujian yang melanda kita, jangan pernah berputus asa dari pertolongan Allah.
Nyatakanlah oleh kalian berdua di penghujung jalan: Hasbunallaahu wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashiir.
Serahkan seluruh kesulitan kepada orang lain, sebelum kalian menyerahkan kepada orang lain yang belum tentu bisa menolong kalian.
Satu lagi, birrul walidain, khidmat kepada kedua orang tua. Ridhallah Ridha Rabbi fi ridhal walidain. Murka Allah tergantung kepada murka ayah dan ibunya kepada yang bersangkutan.
Wallahu a’lam bish showab

Pemanfaatan Barang Gadai (Tanah/Ladang)

📆 Jum’at, 26 Dzulhijjah 1439/ 06 September 2018
📚 Fikih Muamalah

📝 Pemateri: Ustadz Dr. Oni Sahroni, M.A
1. Pihak kreditor (peminjam dana atau penerima gadai) tidak diperkenankan untuk memanfaatkan lahan tanah tersebut yang berstatus jaminan atau gadai dengan memanfaatkan atau mengelolanya untuk dinikmati hasilnya, karena lahan tersebut adalah jaminan milik debitur (peminjam atau pemilik lahan). Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah Saw,
لاَ يَغْلَقُ الرَّهْنُ مِنْ صَاحِبِهِ الَّذِيْ رَهَنَهُ، لَهُ غُنْمُهُ وَعَلَيْهِ غُرْمُهُ .
“Tidak terlepas kepemilikan barang gadai dari pemilik yang menggadaikannya. Ia memperoleh manfaat dan menanggung risikonya.” (HR. al-Syafi’i, al-Daraquthni dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah)
Dalam hal ini, debitur atau peminjam lah yang berhak atas manfaat dan bertanggung jawab atas risikonya.
2. Jika dimanfaaatkan, itu termasuk pinjaman berbunga karena transaksi antara debtitur dan kreditor adalah kredit (utang piutang). Jika disyaratkan utang piutang tersebut harus ada gadai dengan hasil lahan tersebut, itu termasuk pinjaman berbunga. Sebagaimana kaidah fiqh:
كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبَا.
“Setiap utang piutang yang mendatangkan manfaat (bagi yang berpiutang, muqridh) adalah riba.”
3. Menurut saya penerima gadai (kreditor) berhak menikmati lahan tersebut dengan skema berikut.
a. Apabila tidak disyaratkan baik lisan maupun tulisan. Tidak ada syarat bahwa utang piutang itu terjadi andaikan ada gadai yang dinikmati hasilnya, tetapi yang terjadi tanpa ada syarat, kemudian debitur merelakan tanah atau ladangnya untuk dinikmati oleh kreditor tanpa ada paksaan dan syarat.
b. Apabila tanah tersebut, selain dijadikan gadai, juga disewakan kepada kreditor sehingga kreditor harus membayar sewa lahan tersebut.
c. Debitur dan kreditor bersepakat untuk berbagai hasil. Pemilik lahan berkontribusi dengan lahan, sedangkan penerima gadai berkontribusi dengan bibit dan mengelola lalu hasilnya dibagi dua. Dengan skema ini, kreditor boleh memanfatkan lahan tersebut dan menikmati hasilnya.
Wallahu a’lam

Angsuran di Lembaga Konvensional

Ustadz Menjawab
Ustadz Dr. Oni Sahroni, M.A
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….Kalau ada yang sudah terlanjur melakukan jual beli dengan leasing konvensional kemudian ingin berhenti, tetapi belum bisa melunasi. Sudah berusaha memindahkan ke leasing syariah, tetapi juga tidak bisa. Mungkin Ustadz tahu informasi cara pengalihan ke leasing syariah? Apa yang harus  dilakukan?
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan jika sudah terlanjur melakukan kredit ke leasing konvensional. Misalnya
1⃣ Jika ada kemampuan finansial untuk menutup sisa angsuran ke leasing konvensional, maka tutuplah (lunasilah).
2⃣ Akan tetapi, jika tidak bisa dilakukan, maka take over ke Lembaga Keuangan Syariah dengan biaya yang tidak terlalu mahal dan bisa dijangkau oleh setiap nasabah.
3⃣ Jika tidak bisa dilakukan karena satu dan lain hal dan jika memenuhi kondisi darurat, lanjutkan angsuran kredit konvesional ini sebagai kredit terakhir muamalah kita dengan konvensional. Setelah itu, berazam untuk tidak lagi bermuamalah dengan konvensional.
👆🏻 Ketiga opsi ini berdasarkan kaidah darurat dan semidarurat:
الْحَاجَةُ تَنْزِلُ مَنْزِلَةَ الضَّرُوْرَةِ

“Keperluan (akan sesuatu) dapat menempati posisi (setara dengan) darurat”;
الضَّرُورَاتُ تُبِيحُ الْمَحْظُورَات
“Keadaan darurat (menyebabkan) dibolehkannya (hal-hal) yang terlarang”;
مَا اُبِيْحُ لِلضَّرُوْرَةِ يُقَدَّرُ بِقَدَرِهَا
“Apa yang dibolehkan karena adanya darurat diukur menurut kadarnya”.
📚 Sebagaimana yang telah ditegaskan oleh As-Suyuthi dalam Al-Asybah wan Nazha`ir.
Wallahu a’lam.

Bolehkah Membeli Rumah, Harta Sitaan??

Ustadz Menjawab
Kamis, 06 September 2018
Ustadz Farid Nu’man Hasan
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….bolehkah kita membeli rumah/tanah sitaan bank dimana harga tanah atau rumah dibawah harga pasar?
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Barang sitaan ada dua macam:
1. Barang sitaan yg dilakukan  oleh negara
Yaitu Barang selundupan misalnya, atau hasil korupsi yang   merugikan negara.  Maka, negara berhak mengambil dan menatapnya, dan itu menjadi milik negara.
Innallaha ya’muru an tu’addul amanaat ilaa ahlihaa – Allah memerintahkan agar amanah diberikan kepada pemiliknya ..
Lalu, kalau negara menjualnya maka tidak apa-apa, bebas mereka menyikapinya, baik dijual lelang atau tidak. Jual beli lelang boleh menurut jumhur.
2. Sitaan karena kredit macet.
Seseorang yang tidak tuntas atau tidak mampu membayar kewajiban cicilan sampai beberapa kali  .. lalu barangnya disita dan menjadi milik bank atau leasing, .. maka ini tidak boleh, ini zalim. Sebab dia tidak memiliki apa-apa, barang disita, uang yg dicicil pun hangus, dp juga hangus. Maka, tidak boleh kita membeli barang sitaan ini.
Seharusnya .. jika dia tidak mampu membayar, pihak bank beri kesempatan untuk menjualnya lalu melunasi hutangnya ke bank.
Wallahu a’lam.

Sudah Berapa Luka Kita di Jalan Allah Ta’ala?

📆 Kamis, 25 Dzulhijjah 1439H / 06 September 2018

📚 SIROH  DAN TARIKH ISLAM

📝 Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

Ibnu Umar berkata, aku bersama dalam pasukan itu (Perang Mu’tah) dan ketika mencari jenazah Ja’far (ibn Abi Thalib Radhiyallahu’anhu) Kami temukan pads tubuhnya sekitar 90 luka sabetan (pedang) dan tancapan panah. Tak ada sesuatu yang tertinggal (tersisa dari tubuhnya kecuali terluka).

Syaikh Muhammad ibn Umar al-Hadhrami asy-Syafi’i, Hada’iq al-Anwar, 344 menyatakan ada dalam Shahih al-Bukhari no. 4012.

Agung Waspodo, temukan pada no. 3927 atau no. 4260 versi Fathul Bari dengan teks:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ عَمْرٍو عَنْ ابْنِ أَبِي هِلَالٍ قَالَ وَأَخْبَرَنِي نَافِعٌ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ أَخْبَرَهُ
أَنَّهُ وَقَفَ عَلَى جَعْفَرٍ يَوْمَئِذٍ وَهُوَ قَتِيلٌ فَعَدَدْتُ بِهِ خَمْسِينَ بَيْنَ طَعْنَةٍ وَضَرْبَةٍ لَيْسَ مِنْهَا شَيْءٌ فِي دُبُرِهِ يَعْنِي فِي ظَهْرِهِ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dari Amru dari Ibnu Abu Hilal katanya, telah mengabarkan kepadaku Nafi’ bahwasanya Ibnu Umar mengabarinya bahwa ia berhenti mengamati Ja’far yang ketika itu dalam keadaan terbunuh, dan kuhitung ternyata ada padanya lima puluh luka akibat sabetan pedang atau tancapan tombak, dan tak ada lagi sisa daging pada punggungnya.

Depok, 20 Dzul-Hijjah 1439 Hijriyah, mencoba memaksimalkan waktu istirahat pasca ESWL tadi pagi. Alhamdulillah