Surat Al Fatihah (Bag. 1)

Qur’an & Tafsir
Senin, 21 September 2015

سورة الفاتحة
Surat Al-Fatihah

Ahmad Sahal, Lc

Surat Al-Fatihah adalah makkiyyah (diturunkan sebelum hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah) menurut pendapat yang lebih kuat. Dalilnya adalah bahwa surat Al-Fatihah disebutkan oleh surat Al-Hijr ayat 87:

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Quran yang agung. (Al-Hijr: 87)
Sedangkan para ulama sepakat bahwa surat Al-Hijr termasuk surat makkiyyah.

Penamaan

Banyak nama yang disematkan untuk surat Al-Fatihah. Dalam pembahasan ini hanya disebutkan beberapa nama yang bersandar dari Al-Qur’an atau Hadits Rasulullah saw saja, diantaranya:

1. Fatihatul Kitab (Pembuka Al-Qur’an) berdasarkan hadits Rasulullah saw:

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ (رواه البخاري)

Tidak sah shalat bagi siapa yang tak membaca Fatihatul Kitab (HR. Al-Bukhari)

Dinamakan Fatihatul Kitab karena surat ini menjadi pembuka bacaan Al-Quran baik secara lisan  saat dilafalkan maupun secara tulisan di dalam mushaf. Surat ini juga menjadi pembuka bacaan yang wajib dalam shalat.

2. Ummul Qur’an sesuai hadits Rasulullah saw:

مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيْهَا بِأُمِّ القُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ –ثَلَاثًا- غَيْرُ تَمَامٍ  (رواه مسلم)

Siapa yang melaksanakan shalat tidak membaca ummul qur’an maka ia tidak sempurna – 3x – (HR. Muslim)

Berkata Imam Al-Baidhawi:
وتسمى أم القرآن، لأنها مفتتحه ومبدؤه فكأنها أصله ومنشؤه، ولذلك تسمى أساسا. أو لأنها تشتمل على ما فيه من الثناء على الله سبحانه وتعالى، والتعبد بأمره ونهيه وبيان وعده ووعيده. أو على جملة معانيه من الحكم النظرية، والأحكام العملية التي هي سلوك الطريق المستقيم والاطلاع على مراتب السعداء ومنازل الأشقياء.
Dinamakan ummul quran karena ialah yang membuka dan memulai (Al-Quran) seolah ia adalah asal dan sumbernya, oleh karena itu ia dinamakan juga asas. Atau karena sesungguhnya ia mengandung sanjungan kepada Allah, ta’abbud (beribadah) dengan perintah & laranganNya serta penjelasan janji & ancamanNya. Atau karena ia mencakup sejumlah nilai-nilai agung berupa hikmah teoritis dan hukum-hukum praktis yang merupakan suluk (perjalanan) menempuh jalan yang lurus, menelaah derajat ketinggian orang-orang yang berbahagia dan level kerendahan orang-orang yang sengsara. (Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil (1/25)(

3. As-Sab’ul Matsani & Al-Quran Al-Azhim

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Quran yang agung. (Al-Hijr: 87)

Al-Hasan Al-Bashri menjelaskan alasan dinamakan As-Sab’ul-Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang): karena ia diulang-ulang pada setiap rakaat shalat baik yang wajib maupun nafilah (tambahan/sunnah). (Jami’ul Bayan fi Ta’wili Ayil Qur’an, At-Thabari, 1/107-109)
Ada juga yang berpendapat bahwa kata Al-Matsani berasal dari ististna (pengecualian) seperti pendapat Mujahid dan juga diriwayatkan oleh Said bin Jubair dari Ibnu Abbas dengan sanad hasan dan kuat:
سميت مثاني لأن الله استثناها لهذه الأمة فذخرها لهم فلم يعطها أمة قبلهم
Dinamakan matsani karena Allah mengecualikannya (mengkhususkannya) untuk ummat ini (ummat Rasulullah saw) maka Dia menyimpannya untuk mereka tidak diberikanNya kepada ummat sebelum mereka. (Ma’anil Quran, An-Nahhas, 1/18; Tafsir Al-Baghawi 1/1; Mafatihul Ghaib, Ar-Razi, 1/159).

Sedangkan nama “Al-Qur’an Al-Azhim untuk surat Al-Fatihah adalah seperti yang juga disebutkan oleh ayat di atas dan beberapa hadits Rasulullah saw, diantaranya:
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ العَظِيمُ الَّذِي أُوْتِيْتُهُ
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin dialah tujuh (ayat) yang diulang-ulang dan Al-Qur’an Al-Azhim yang telah diberikan kepadaku. (HR. Bukhari)

Dinamakan demikian karena ia adalah surat teragung di dalam Al-Qur’an yang mencakup tujuan-tujuan utamanya.
Al-Qurthubi berkata:
سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِتَضَمُّنِهَا جَمِيعَ عُلُومِ الْقُرْآنِ، وَذَلِكَ أَنَّهَا تَشْتَمِلُ عَلَى الثَّنَاءِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَوْصَافِ كَمَالِهِ وَجَلَالِهِ، وَعَلَى الْأَمْرِ بِالْعِبَادَاتِ وَالْإِخْلَاصِ فِيهَا، وَالِاعْتِرَافِ بِالْعَجْزِ عَنِ الْقِيَامِ بِشَيْءٍ مِنْهَا إِلَّا بِإِعَانَتِهِ تَعَالَى، وَعَلَى الِابْتِهَالِ إِلَيْهِ فِي الْهِدَايَةِ إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَكِفَايَةِ أَحْوَالِ النَّاكِثِينَ، وَعَلَى بَيَانِهِ عَاقِبَةَ الْجَاحِدِينَ.

Dinamakan demikian karena kandungannya meliputi seluruh ilmu-ilmu Al-Qur’an, yakni bahwa ia mencakup pujian kepada Allah azza wajalla dengan sifat-sifat kesempurnaan dan keperkasaanNya, mengandung perintah untuk beribadah dan ikhlas dalam beribadah, pengakuan terhadap kelemahan dalam menegakkan ibadah itu tanpa pertolonganNya, mengandung permohonan disertai kehinaan diri agar memperoleh hidayah ke jalan yang lurus, penjelasan tentang keadaan orang yang menyalahi janji/ikrar (tauhid) dan kesudahan akhir para pembangkang. (Tafsir Al-Qurthubi 1/112).

Keutamaan

Diantara fadhail (keutamaan) surat Al-Fatihah adalah:

1. Surat Al-Fatihah hanya diberikan kepada Rasulullah saw dan Allah menjanjikan akan diberikan kepada beliau semua isi kandungannya. Bahwa ia adalah cahaya yang  pada hari ia diturunkan, ada satu pintu langit dibuka yang belum pernah dibuka sebelumnya, dan dari pintu itu turun malaikat ke bumi yang belum pernah turun sebelumnya.

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «بَيْنَمَا جِبْرِيْلٌ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صلّى اللهُ علَيهِ وسَلّم سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: هَذَا بَابٌ مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ، فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ فَقَالَ: هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَسَلَّمَ وَقَالَ: أَبْشِرْ بِنُوْرَيْنِ أُوْتِيْتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ فَاتِحَةِ الكِتَابِ وَخَوَاتِيمَ سُوْرَةِ البَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ حَرْفًا مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيْتَهُ». (رواه مسلم والنسائيّ)

Dari Ibnu Abbas ra ia berkata: Ketika Jibril sedang duduk di sisi Nabi saw, beliau mendengar suara (seperti suara pintu dibuka) di atasnya lalu beliau mengangkat kepalanya. Jibril berkata: ini sebuah pintu di langit telah dibuka hari ini yang belum pernah dibuka kecuali hari ini. Lalu turunlah satu malaikat darinya. Jibril berkata: ini adalah malaikat yang telah turun ke bumi dan belum pernah turun kecuali hari ini, lalu malaikat itu mengucapkan salam dan berkata: bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu, belum pernah ada nabi sebelum engkau yang diberikan keduanya: yaitu fatihatul kitab dan khawatim (ayat-ayat terakhir) surat Al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca satu huruf dari keduanya kecuali pasti engkau akan diberikan (kandungannya). (HR. Muslim & An-Nasai)

2. Surat Al-Fatihah adalah surat teragung dalam Al-Quran ( أَنَّهَا أَعْظَمُ سُوْرَةٍ فِي القُرْآنِ )

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya sabda Rasulullah saw kepada Abu Said Al-Mu’alla ra:

لَأُعَلِّمَنَّكَ سُوْرَةً هِيَ أَعْظَمُ السُّوَرِ فِي القُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ

Aku pasti akan mengajarkanmu sebuah surat yang ia adalah surat paling agung dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid..
Kemudian Rasulullah saw menyebutkan surat Al-Fatihah.

Ibnu Hajar berkata:

وَالْمُرَادُ بِالْعَظِيمِ عِظَمُ الْقَدْرِ بِالثَّوَابِ الْمُرَتَّبِ عَلَى قِرَاءَتِهَا وَإِنْ كَانَ غَيْرُهَا أَطْوَلَ مِنْهَا وَذَلِكَ لِمَا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ مِنَ الْمَعَانِي الْمُنَاسِبَةِ لِذَلِكَ

Dan yang dimaksud dengan agung adalah keagungan kadar ganjaran yang diperoleh dari membacanya meskipun selainnya lebih panjang darinya. Hal itu karena ia mengandung nilai-nilai (makna) yang sesuai dengan kadar ganjarannya. (Fathul Bari 9/54)

3. Tidak ada surat seperti Al-Fatihah baik di dalam Taurat, Zabur, Injil, maupun Al-Quran

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Ubay bin Ka’ab ra membaca surat Al-Fatihah di hadapan Nabi Muhammad saw, lalu Rasulullah bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أُنْزِلَ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الإِنْجِيْلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الفُرْقَانِ مِثْلُهَا إِنَّهَا السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالقُرْآنُ العَظِيمُ الَّذِي أُعْطِيْتُ

Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak pernah diturunkan di dalam Taurat, Injil, Zabur maupun Al-Qur’an yang semisalnya. Ia adalah As-Sab’ul Matsani dan Al-Qur’an Al-Azhim yang telah diberikan kepadaku. (HR. Ahmad, An-Nasai, At-Tirmidzi ia berkata: ini adalah hadits hasan shahih, Al-Hakim ia berkata: ini adalah hadits shahih menurut syarat Muslim sedangkan keduanya (Al-Bukhari & Muslim) tidak meriwayatkannya).

4. Surat Al-Fatihah adalah surat yang wajib dibaca dalam setiap rakaat shalat sehingga shalat tidak sah tanpa membacanya. Shalat adalah aktifitas munajat, dan dipilihnya surat Al-Fatihah agar dibaca dalam setiap rakaat menunjukkan bahwa isinya merupakan munajat terbaik kepada Allah.
Sayid Quthb rahimahullah berkata:

إن في هذه السورة من كليات العقيدة الإسلامية، وكليات التصور الإسلامي، وكليات المشاعر والتوجهات، ما يشير إلى طرف من حكمة اختيارها للتكرار في كل ركعة، وحكمة بطلان كل صلاة لا تذكر فيها..

Sesungguhnya di dalam surat ini terdapat keseluruhan  aqidah islamiyah, keseluruhan gambaran keislaman, keseluruhan perasaan dan arahan yang mengisyaratkan kepada sisi hikmah pemilihannya untuk diulang-ulang pada setiap rakaat, dan hikmah batalnya shalat jika tidak dibaca di dalamnya.. (Fi Zhilal Al-Qur’an 1/21).

Tema Sentral

Tema sentral surat Al-Fatihah adalah:

تَحْقِيْقُ العُبُودِيَّةِ للهِ وَحْدَهُ

Realisasi penghambaan hanya kepada Allah semata.

Karena ia adalah tujuan agung dan utama penciptaan manusia dan jin, maka amat sesuai jika surat teragung di dalam Al-Quran memiliki tema sentral ini.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu (Adz-Dzariyat: 56)

Sub Tema

Dari tema sentral tersebut, surat Al-Fatihah dapat kita bagi menjadi tiga sub tema:

١- مَعْرِفَةُ اللهِ تَعَالَى الْمَعْبُودِ الْحَقِّ
٢- طَرِيْقُ الْعِبَادَةِ الصَّحِيْحَةِ
٣- بَيَانُ السَّالِكِيْنَ فِي طَرِيْقِ العِبَادَةِ الصَّحِيْحَةِ وَ الْمُنْحَرِفِينَ عَنْهُ

1. Pengenalan terhadap Allah ta’ala al-ma’bud (yang berhak diibadahi) dengan sebenarnya
2. Jalan ibadah yang benar
3. Penjelasan tentang salikin (orang-orang yang menempuh) jalan ibadah yang benar dan munharifin (orang-orang yang menyimpang) darinya

Bersambung …

Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

 Sebarkan! Raih pahala…

Memaksimalkan Ketersediaan, Mengoptimalkan MedanPerang

Sirah & Tarikh
Senin, 21 September 2015

✊Memaksimalkan Ketersediaan, Mengoptimalkan Medan
Perang✊

DR. Agung Waspodo

Kisah Awal Khalid Menjadi Panglima
Pertempuran Mu’tah – September 629

Pertempuran yang dalam bahasa Arab ditulis معركة مؤتة , غزوة مؤتة atau Ghazwah/Ma’rakah Mu’tah berlangsung pada tanggal 5 Jumadil Awwal 8 Hijriah ini berlangsung dekat desa Mu’tah di sebelah timur sungai Jordan, daerah Karak (Jordan), mempertemukan antara pasukan yang diutus Rasulullah Muhammad (saw) dengan kekuatan Byzantium.

Dalam sejarah ummat Islam, pertempuran ini berkaitan erat dengan upaya membalas tindakan pembunuhan suku Arab dari Banu Ghassan terhadap utusan Rasul (saw). Pertempuran ini dinilai sama kuat dimana kedua pihak mundur ke wilayahnya masing-masing. Tetapi, menurut sejarah Byzantium pasukan Muslimin kalah setelah ketiga pemimpinnya gugur.

Latar Belakang

Perjanjian Huaibiyah memberikan perdamaian sejenak antara kaum Muslimin di Madinah dan kekuatan Quraisy di Makkah. Pada masa itu, gubernur Sassania-Persia untuk Yaman yang dijabat oleh Badhan memeluk Islam sehingga banyak suku-suku Arab di selatan Jazirah Arab yang juga masuk Islam dan menjadi sekutu Madinah.

Pada masa perdamaian inilah Rasul (saw) mengirmkan utusan-utusannya untuk mengajak kepada Islam berbagai pemimpin di Jazirah Arab termasuk gubernur Byzantium untuk Provinsi Arabia. Surat yang dibawa oleh utusan untuk gubernur tersebut sejatinya surat kepada Kaisar Heraclius. Ketika utusan tersebut melintasi kota Bosra ia ditangkap oleh Banu Ghassan dan dieksekusi atas perintah kepala sukunya di dekat desa Mu’tah. Pasukan yang dikirim oleh Rasul (saw) untuk meminta pertanggung-jawaban Banu Ghassan ini adalah kekuatan terbesar yang pernah dimobilisasi di Madinah serta yang pertama dikirim memasuki wilayah Byzantium.

Mobilisasi Pasukan

Menurut sejarawan Muslim, Nabi (saw) memberangkatkan 3.000 pasukan pada bulan Jumadil Awwal 8 Hijriah dengan misi bergerak cepat dengan hirarki kepemimpinan pada Zayd ibn Haritsah (ra), Ja’far ibn Abi Thalib (ra), dan ‘Abdullah ibn Rawahah (ra)

Pemimpin Banu Ghassan telah mengetahui ekspedisi ini sehingga sempat memobilisasai kekuatannya sekaligus mengirim utusan untuk meminta bantuan kepada Byzantium. Kaisar Heraclius mengirimkan bantuan mengingat Banu Ghassan adalah sekutunya di perbatasan Arabia.

Ketika pasukan kaum Muslimin tiba di area tersebut mereka baru mengetahui besarnya jumlah pasukan Byzantium yang dikirim kaisar. Pada awalnya mereka ingin menunggu di tempat sambil meminta bantuan dari Madinah. ‘Abdullah ibn Rawahah (ra) mengingatkan kembali akan nilai tinggi bagi mereka yang gugur sebagai syuhada; hal ini mendorong pasukan berhentu menunggu dan bergerak menuju arah lawan.

Pertempuran

Kaum Muslimin terlibay baku hantam melawan Byzantium di dekat tendanya dan lini-belakangnya di desa Musyarif; namun tidak berimbangnya kekuatan menyebabkan kaum Muslimin harus mundur ke arah desa Mu’tah. Di tempat ini kedua pasukan bertempur kembali. Sember sejarah kaum Muslimin menyebutkan bahwa pertempuran berlangsung di sebuah ebah diantara dua bukit sehingga jumlah pasukan Byzantium menjadi tidak banyak memberikan keunggulan. Dalam pertempuran ini ketiga komandan perang gugur sebagai syuhada’ sesuai urutan hirarkinya.

*Khalid Menjadi Panglima

Dalam shahih al-Bukhari tercatat bahwa pada tubuh Ja’far (ra) ditemukan 50 bekas luka dan tidak ada satupun yang berada di bagian punggung (belakang). Kisah ini tercatat dalam Shahih al-Bukhari: 5/56/560 dari Ibn ‘Umar: “waqafa ‘alā Ja’farin yawma’idzin wa huwa qatīlun fa’adadtuhu bihi khamsīna bayna tha’natin wa dharbatin laysa minhā sya’un fī duburihi ya’nī fī zuhurihi.”

Setelah ketiga panglima yang ditunjuk Rasul (saw) gugur mulai terlihat tanda-tanda kepanikan pada pasukan kaum Muslimin. Seorang sahabat yang bernama Tsabit ibn al-Arqam (ra) memungut panji perang yang sempat terjatuh dan mengibarkannya sambil menyemangati pasukan kaum Muslimin. Inisiatif Tsabit (ra) ini menyelamatkan pasukan dari kepanikan dan pasukan menginginkan dia untuk bangkit memimpin. Tsabit (ra) menolak serta mengatakan bahwa yang lebih tepat adalah Khalid ibn al-Walid (ra).

Khalid (ra) sendiri mengabarkan di kemudian hari bahwa pertempuran Mu’tah begitu dahsyat sehingga ia sempat mengganti pedang sampai 9 kali karena terus patah, yang tertinggal hanyalah pedang tempaan Yaman (Shahih al-Bukhari: 5/59/565 dari Qays: “Laqad duqqa fī yadī yawma Mu’tata tis’atu asyāfin wa shabarat fi yadī shafihatun lī yamāniytun”)

Khalid (ra) menilai bahwa pertempuran ini sangat tidak berimbang dan hasilnya akan memperburuk kondisi kaum Muslimin sehingga ia menyiapkan rencana kemunduran. Untuk menutup rencana tersebut ia mengirimkan kesatuan kecil untuk terus melancarkan serangan terbatas seolah tidak hendak mundur. Namun Khalid (ra) menghindari serangan umum dan ia tercatat berhasil menewaskan seorang komandan Banu Ghassan yang bernama Malik.

*Tipuan Perang Khalid

Pada suatu malam Khalid (ra) merotasi posisi pasukan sehingga ia menempatkan di barisan terdepan mereka yang tadinya di barisan belakang lengkap dengan panji-panji yang baru; guna memberikan impresi datangnya bala bantuan bagi kaum Muslimin dari Madinah. Ia juga memerintahkan pasukan berkudanya untuk mundur ke belakang bukit pada malam hari serta kembali pada siang hari dengan membawa alat tambahan yang ditarik kuda guna menerbangkan debu sebanyak-banyaknya; guna memberikan impresi bahwa bala bantuan tambahan datang lagi. Tipuan-tipuan perang ini berhasil meyakinkan pihak Byzantium untuk mundur sehingga kaum Muslimin dapat mundur juga tanpa ancaman.

Korban yang jatuh pada pihak Muslimin yang tercatat adalah: Zayd ibn Haritsa (ra), Ja’far ibn Abi Thalib (ra), ‘Abdullah ibn Rawahah (ra), Mas’ud ibn al-Aswad (ra), Wahab ibn Saad (ra), ‘Abbad ibn Qais (ra), ‘Amr ibn Sa’d (ra) tetapi bukan anak Sa’d ibn Abi Waqqasy (ra), Harits ibn Nu’man (ra), Suraqah ibn ‘Amr (ra), Abu Kulaib bin Amr (ra), Jabir ibn ‘Amr (ra), dan Amir bin Sa’ad (ra); sedangkan korban lain tidak tercatat.

Pada pihak Byzantium terdapat jumlah korban yang begitu banyak jila dibandingkan dengan kaum Muslimin walau angka persisnya tidak diketahui.

Kesudahan

Sejarah mencatat bahwa pasukan Muslimin yang berhasil kembali ke Madinah mrndapatkan perlakuan yanv tidak sewajarnya karena diduga terhina karema melarikan diri dari pertempuran. Salah seorang komandan dari ekspedisi itu yang bernama Salamah ibn Hisyam (ra) bahkan memilih untuk shalat di rumah daripada harus ke masjid dan menjelaskan kedudukannya. Akhirnya, Rasul (saw) memerintahkan kaum Muslimin di Madinah untuk menghentikan tindakan itu karena pasukan ini akan kembali memerangi Byzantium pada masa yang lain; khalayak menghentikan aksi tidak simpatik itu. Pada masa inilah Rasul (saw) memberikan gelar “Pedang Allah” (Sayfullah) kepada Khalid ibn al-Walid (ra).

Analisis kekinian atas sejarah ini menunjukkan bahwa ia bukam sebuah kekalahan namun sebuah keberhasilan strategik. Salah satu argumentasinya adalah bahwa keberanian berhadapan langsung dengan Byzantium menaikkan pamor umat Islam di kalangan bangsa Arab sekaligus menyampaikan pesan kepada Byzantium bahwa ummat Islam ada. Para syuhada Mu’tah kini mendapatkan penghormatan serta pekuburan layaknya para pahlawan di Jordan. Bahkan sejarawan al-Balazuri mencatat bahwa kaisar Herclius memindahkan markas besarnya dari Damaskus ke Antoich setelah pertempuran ini.

Agung Waspodo, mencatat awal permulaan Khalid (ra) tercatat kejeniusannya sebagai panglima perang yang terlihat pada pengaturan tipuan dan penjatuhan mental lawan.. walau sudah 1.386 tahun yang berlalu.

Lenteng Agung, Jum’at 18 September 2015.. masih di bulan yang sama, di tengah padatnya Commuter-Line pada jam puncak kembalinya para pekerja ibukota ke arah Depok hingga Bogor.

Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

 Sebarkan! Raih pahala…

Hukum Meninggalkan Shalat Jum’at Tiga Kali Berturut

Assalamu ‘Alaikum, Wr.Wb. Apa hukumnya meninggalkan shalat Jumat tiga kali berturut-turut kafirkah ? (Hamba Allah)

✔ Jawab:

                Wa ‘Alaikum Salam Wa Rahmatullah wa Barakatuh. Bismillah wal hamdulillah washalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’d:

Sejak kecil kita memang diberitahu oleh guru agama atau guru ngaji bahwa orang yang meninggalkan shalat jumat 3 kali berturut-turut maka kafir .. tetapi benarkah itu adakah dalilnya?

                Dalam sebuah riwayat shahih diceritakan:

رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَلَى أَعْوَادِ مِنْبَرِهِ لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda: “Hendaklah orang-orang itu menghentikan perbuatannya meninggalkan shalat Jumat, atau kalau tidak, Allah akan menutup mata hati mereka, kemudian mereka akan dimasukkan ke golongan orang-orang yang lalai.”  (HR. Muslim No. 865, An Nasa’i No. 1370,  Ahmad No. 3099, Ad Darimi No. 1611)

Apa makna hadits di atas? Imam An NawawiRahimahullah memaparkan:

قَالَ الْقَاضِي : اِخْتَلَفَ الْمُتَكَلِّمُونَ فِي هَذَا اِخْتِلَافًا كَثِيرًا فَقِيلَ : هُوَ إِعْدَام اللُّطْف وَأَسْبَاب الْخَيْر ، وَقِيلَ : هُوَ خَلْق الْكُفْر فِي صُدُورهمْ وَهُوَ قَوْل أَكْثَر مُتَكَلِّمِي أَهْل السُّنَّة . قَالَ غَيْرهمْ : هُوَ الشَّهَادَة عَلَيْهِمْ ، وَقِيلَ : هُوَ عَلَامَة جَعَلَهَا اللَّه تَعَالَى فِي قُلُوبهمْ لِتَعْرِف بِهَا الْمَلَائِكَة مَنْ يُمْدَح وَمَنْ يُذَمّ .

“Berkata Al Qadhi: Para Ahli kalam berbeda pendapat dengan perbedaan yang banyak, dikatakan tentang hadis tersebut: maksudnya adalah hilangnya kelembutan dan sebab-sebab kebaikan. Dikatakan pula:  perilaku  kekufuran di dalam dada mereka dan ini merupakan pendapat kebanyakan ahli kalam dari Ahlus Sunnah. Berkata selain mereka: itu adalah kesaksian atas mereka, dan dikatakan pula: itu adalah tanda yang Allah Ta’ala jadikan ke dalam dada mereka yang dengannya malaikat bisa mengetahui siapa yang sedang dicela dan siapa yang dipuji.”   (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/153)

 Imam Abul Hasan As Sindi berkata:

قَالَ الْقُرْطُبِيّ وَالْخَتْم عِبَارَة عَمَّا يَخْلُقهُ اللَّه تَعَالَى فِي قُلُوبهمْ مِنْ الْجَهْل وَالْجَفَاء وَالْقَسْوَة

“Berkata Imam Al Qurthubi, maksud dari tertutup adalah ungkapan dari apa-apa yang Allah Ta’ala ciptakan dalam hati-hati mereka berupa kebodohan, kasar, dan keras.”   (Imam Abul Hasan As Sindi, Hasyiah As Sindi ‘Ala Sunan An Nasa’i, 3/89)

 Sekarang hadits yang lainnya:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jumat TIGA KALI, karena menganggap remeh, maka Allah akan tutup hatinya.” (HR.  At Tirmidzi No. 500, katanya: hasan. Abu Daud No. 1052, An Nasa’i No. 1369, Al Hakim, Al Mustadrak  No. 1034, katanya: shahih sesuai syarat Muslim. Dishahihkan pula oleh Imam Ali Al Qari dalam Mirqah Al Mafatih, 3/1024)

Apa kata ulama tentang makna hadits ini?

يَمْنَع إِيصَال الْخَيْر إِلَيْهِ ، وَقِيلَ كَتَبَهُ مُنَافِقًا

“Tercegahnya kebaikan yang  sampai kepadanya, dan dikatakan: dia ditetapkan sebagaimunafiq.”   (Imam Ali Al Qari, Mirqah Al Mafatih, 3/1024. Imam Abul ‘Ala Abdurrahman Al Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 3/11)

Para Ulama mengkategorikan Munafiq adalah kafir juga, mereka Allah Ta’ala sejajarkan di neraka jahanam (lihat At Taubah: 68)

Imam Abul Hasan As Sindi berkata tentang hadits tersebut:

أَيْ خَتَمَ عَلَيْهِ وَغَشَّاهُ وَمَنَعَهُ الْأَلْطَاف وَالطَّبْع بِالسُّكُونِ الْخَتْم وَبِالْحَرَكَةِ الدَّنَس وَأَصْله الدَّنَس وَالْوَسَخ يَغْشَيَانِ السَّيْف مِنْ طَبَعَ السَّيْف ثُمَّ اُسْتُعْمِلَ فِي الْآثَام وَالْقَبَائِح

“Yaitu Allah menutup atas hatinya, dan menutupi dan mencegahnya dari kelembutan, dan tertutup dengan begitu melekat,  oleh gerakan  kotoran, dan dasarnya telah kotor dan kusam  yang keduanya menutupi pedang  yang tertutup oleh kotoran (karat),   kemudian digunakan dalam perbuatan dosa dan keburukan.”   (Hasyiah As Sindi ‘Ala Sunan An Nasa’i, 3/88)

Nah, jadi tidak ada hadits yang mengatakan kafir bagi yang meninggalkan shalat Jumat tiga kali tanpa ‘udzur,   itu hanya salah satu tafsir ulama atas hadits tersebut yang menyebutnya sebagai munafiq.

Demikian. Wallahu A’lam



-FN-

Mengikat Hati Anak, Menjalin Emotional Bonding (Tips Parenting)

📄 Tarbiyatul Awlad
📆 Ahad, 06 Dzulhijjah 1436 / 20 September 2015

💝Mengikat Hati Anak, Menjalin Emotional Bonding (Tips Parenting)💝

by : Bendri Jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

1| Salah satu tugas pengasuhan adalah membuat ikatan emosi yang kuat antara ortu dan anak yang dikenal dengan istilah emotional bonding

2| Ikatan emosi atau batin ini berpengaruh bagi anak dalam menjalani masa-masa sulit semasa hidup sekalipun tak ada ortu di sisi

3| Tak selamanya ortu mendampingi hidup anak. Ia harus tumbuh mandiri dengan potensinya. Emotional bonding yang kuat terhadap ortu sebagai pengarah

4| Setidaknya ada beberapa masa kehidupan dalam diri anak dimana ia alami krisis : pra sekolah, pra puber, pubertas, pra nikah dan nikah

5| Di masa-masa tersebutlah ia butuh bimbingan dan arahan. Maka meski tak ada ortu di sisi, nasehat-nasehat dan teladan ortu tetap dijaga selama masih ada ikatan batin

6| Hal ini lah yang dialami oleh Nabi Yusuf muda saat terpesona dengan kecantikan zulaikha dan diajak berbuat mesum. Ia punya hasrat

7| Hasratnya hampir saja menjerumuskannya seandainya Allah tak berikan ‘pertanda’. Seperti yang terdapat dalam surat Yusuf : 24. Sila dibaca

‘Pertanda’ yg dimaksud adalah nasehat ayahnya yang tiba-tiba muncul saat ia hampir saja terpedaya oleh nafsunya. Ini kata ibnu katsir

9| Bayangkan! Nabi yusuf yang terpisah jauh oleh ayahnya, terjaga diri dari bujukan setan. Tak jadi berbuat zina. Tersebab ikatan batin dengan ayahnya

10| Itu pula yang diharapkan dari anak kita. Jauh terpisah namun menjaga kehormatan keluarga karena nasehat indah ortu yang tertanam dalam jiwa

11| Saat krisis jiwa melanda, tak kemana-mana cari solusi. Yakin ada ortu yang siap membantu cari jalan keluar. Percaya sepenuhnya

12| Seorang wanita yang sedang konflik dengan suaminya, akan curhat ke ayahnya. Bukan ke lelaki lain. Rumah tangga terselamatkan. Sebab ada father bonding

13| Anak yg tak punya emotional bonding maka tak percaya dengan ortunya. Lebih dengar kata temannya sekalipun buruk

14| Bagaimana menciptakan emotional bonding dengan anak? Usia dini jangan diabaikan. Bermula dari bayi dalam kandungan. Ayah bunda terlibat bersama

15| Saat bayi dalam kandungan, jadikan suara ayah-bunda nya yg lebih banyak didengar. Ajak ia bicara sambil mengusap perut bunda

16| Saat anak lahir, sambutlah anak dalam pelukan yang hangat. Hadapkan wajah kita ke hadapannya. agar perlahan di scan dalam memorinya

17| Usia 0-2 tahun adalah fase pengikatan. Disinilah fase dimana ayah-bunda harus jadi aktor utama dalam pengasuhan. Bukan yg lain

18| Di fase inilah Allah perintahkan ibu untuk memberinya ASI. Yang bukan sekedar susunya, namun juga belaian yang dibutuhkan anak

19| Betapa banyak ibu yang lebih sering menitipkan ASI nya pada botol. Tak memberinya langsung dari puting. Sehingga anak sehat namun jiwanya kosong

20| Fase ini juga seorang ayah harus banyak terlibat mengasuh. Luangkan waktu tuk ganti pampers, gendong anak sambil cerita, bacakan quran, dll

21| Dalam usia 0-2 tahun jangan terburu-buru kenalkan anak pada media meskipun isinya bagus. Sebab emosi belum terikat sepenuhnya

22| Jika ingin ajarkan anak tentang quran, jangan dari kaset. Akan lebih elok jika ortunya yang menyuarakan sekaligus belum fasih. Agar tercipta ikatan batin

23| Sekalipun ada pengasuh lain, peran mereka hanya membantu. Bukan tokoh sentral. Agar ikatan yang terjalin bukan kepada mereka namun kepada ortunya

24| Keluarkan segala energi: suara, bahasa tubuh, dan ekspresi muka agar terekam kuat dalam memori anak. Inilah yang menjadi dasar munculnya ikatan hati

25| Bagaimana jika anak sudah melewati usia 2 th sementara kita terlambat melakukan upaya emotional bonding ?

26| Jika anak sudah melewati usia 2 tahun, bisakah kita ciptakan emotional bonding dengannya? Masih sangat bisa. Asal kita bisa membaca golden moment

27| Golden moment ini adalah situasi dimana anak benar-benar butuh hadirnya kita. Bisa tanpa sengaja atau juga kita rekayasa

28| Golden moment yang dimaksud minimal ada dua : yakni saat anak sedih dan saat anak unjuk prestasi. Hadirlah dengan sungguh-sungguh di dua waktu ini

29| Saat anak sedih, ia butuh sandaran jiwa. Butuh ada yang memeluk dan dengarkan curhatnya. Hadirlah segera. Jangan sampai orang lain yang ambil alih

30| Tak pekanya ortu saat anak sedih malah buat ikatan hati makin rapuh. Kepercayaan menurun. Anak lari kepada sosok lain

31| Dan hadirlah saat anak unjuk prestasi : baca puisi di skolah, ambil raport, menari, dan sejenisnya. Ini adalah persembahan untuk ortu dari anak

32| Saat unjuk prestasi, yang anak butuhkan adalah tepuk tangan dan apresiasi ortunya. Jika ortu tak hadir, rusaklah kepercayaan anak

33| Kehadiran ortu dalam kegiatan mereka adalah pengakuan eksistensi anak. Ortu yang cerdas, akan paksakan diri tuk hadir. Demi tercipta emotional bonding

34| Semoga kita bisa menjadi ortu yg jalin emotional bonding dengan anak kita. Agar anak terdampingi selamanya meski kita tiada. Salam cinta (bendri jaisyurrahman)

🌼Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 🌼

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

💼 Sebarkan! Raih pahala..

Memulai dan Melanggengkan Kemesraan di Rumah

��Materi: Keluarga Islami
��Sabtu, 04 Dzulhijjah 1436/19 September 2015
��Memulai dan Melanggengkan Kemesraan
Di Rumah��
��Dra. Indra Asih
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri kalian) dengan baik.”
(QS. An Nisa’: 19).
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.”
(QS. Al Baqarah: 228).
Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى
“Sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik kepada keluarganya. Sedangkan aku adalah orang yang  paling berbuat baik pada keluargaku”
(HR. Tirmidzi).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai surat An Nisa’ ayat 19 di atas, “Berkatalah yang baik kepada istri kalian, perbaguslah amalan dan tingkah laku kalian kepada istri. Berbuat baiklah sebagai engkau suka jika istri kalian bertingkah laku demikian.” (Tafsir Al Qur’an)
Berbuat ma’ruf adalah kalimat yang sifatnya umum, tercakup di dalamnya seluruh hak istri.
Lihatlah contoh Nabi kita, beliau memanggil ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, sang istri tercinta dengan panggilan Humaira, artinya wahai yang pipinya kemerah-merahan.  Karena putihnya ‘Aisyah, jadi pipinya biasa nampak kemerah-merahan.
Dari ‘Aisyah, ia berkata,
دَخَلَ الحَبَشَةُ المسْجِدَ يَلْعَبُوْنَ فَقَالَ لِي يَا حُمَيْرَاء أَتُحِبِّيْنَ أَنْ تَنْظُرِي
“Orang-orang Habasyah (Ethiopia) pernah masuk ke dalam masjid untuk bermain, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku, “Wahai Humaira (artinya: yang pipinya kemerah-merahan), apakah engkau ingin melihat mereka?”
(HR. An Nasai).
So sweet…
Marilah jaga terus kemesraan yang terasa demikian hangat pada saat awal pernikahan, sampai seterusanya, walaupun sudah menginjak usia pernikahan yang cukup lamapun.
Jangan sampai panggilan sayang ketika awal-awal pernikahan berganti dengan panggilan yang tidak menyenangkan istri.
Dari Mu’awiyah Al Qusyairi radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ
“Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan.
Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah”
(HR. Abu Daud).
Mudah-mudahan Allah terus makin menumbuhkembangkan cinta antara kita dengan pasangan kita.

��Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM ��
– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com
�� Sebarkan! Raih pahala..

Nasehat Jum’at

Materi: Nasihat & Motivasi
📆04 Dzulhijjah / 18 September 2015
🌺🌿 NASIHAT JUM’AT🌺🌿
☑ Tabi’in senior:  Masruq bin Al Ajda’ (W. 63H)
📖 Dia adalah Abu ‘Aisyah biasa dinamakan Masruq, yakni Masruq bin Abdurrahman Al Hamdani Al Kufi (Imam Abu Nu’aim, Hilyatul Aulia’, 1/246. Mawqi’ Al Warraq) , seorang tabi’in terkemuka diperkirakan lahir awal tahun Hijriah atau setahun sebelumnya, bersahabat dengan para sahabat Nabi, seperti Abdullah bin Mas’ud dan ‘Aisyah. Dalam shalat, dipersilahkan di belakang Abu Bakar ketika menjadi imam shalat, sebagai antisipasi mengganti Abu bakar lantaran ilmu dan kewibawaannya.
📕 Berikut ini adalah di antara nasihat berharga darinya:
عن مسروق، قال: كفى بالمرء علماً أن يخشى الله، وكفى بالمرء جهلاً أن يعجب بعمله.
Dari Masruq, dia berkata: “Cukuplah seseorang dikatakan berilmu dengan adanya rasa takut kepada Allah, dan cukuplah seseorang disebut bodoh dengan adanya rasa bangga dengan apa yang diperbuatnya.”  (Ibid. Lihat juga Imam Adz Dzahabi, Siyar A’lamin Nubala, 4/68. Muasasah Ar Risalah)
✔ Dari Hilal bin Yasaf, katanya:
قال مسروق: من سره أن يعلم علم الأولين، وعلم الآخرين، وعلم الدنيا والآخرة، فليقرأ سورة الواقعة.

Berkatalah Masruq: “Diantara rahasianya, untuk mengetahui ilmu orang-orang terdahulu dan belakangan, juga ilmu dunia dan akhirat, maka hendaknya bacalah surat Al Waqi’ah.” (Ibid)

Imam Adz Dzahabi mengomentari ucapan ini, katanya:
قلت: هذا قاله مسروق على المبالغة، لعظم ما في السورة من جمل أمور الدارين.
ومعنى قوله: فليقرأ الواقعة – أي: يقرأها بتدبر وتفكر وحضور، ولا يكن كمثل الحمار يحمل أسفارا.
“Aku berkata: Ucapan Masruq ini memang menunjukkan untuk melebihkan, sebagai upaya mengagungkan surat tersebut yang secara global berisi tentang perkara dunia dan akhirat. Dan, makna ucapannya “bacalah surat Al Waqiah” artinya bacalah dengan mentadabburinya, mentafakkurinya, dan menghadirkan hatinya, sehingga dia tidak seperti seekor keledai yang sedang berat membawa banyak kitab.” (As Siyar, 4/68)
✔ Abu Adh Dhuha berkata: “Masruq ditanya tentang bait syair, beliau menjawab:
أكره أن أجد في صحيفتي شعرا.
“Aku tidak suka menemukan di dalam catatanku adanya syair.” (Ibid, 4/69)
✔ Dari Ibrahim bin Muhammad bin Muntasyir, katanya:
عن مسروق، قال: ما من شيء خير للمؤمنين من لحد، قد استراح من هموم الدنيا، وأمن من عذاب الله.
Dari Masruq, dia berkata: “Tidaklah sesuatu yang lebih baik bagi orang-orang mukmin dibandingkan liang lahad, dengan itu dia telah istirahat dari obsesi dunia dan di dalamnya dia aman dari azab  Allah.” (Hilyatul Auliya’, 1/247)
✔ Dari Muslim atau lainnya, katanya:
عن مسروق، قال: إني أحسن ما أكون ظناً حين يقول لي الخادم ليس في البيت قفيز ولا درهم.
Dari Masruq, dia berkata: “Sesungguhnya prasangka baik yang paling sukai adalah ketika seorang pelayan berkata kepadaku: “Di rumah tidak ada makanan dan tidak pula dirham.” (Ibid) 
✔ Abu Wail berkata:
عن مسروق، قال: ما امتلأ بيت خيره إلا امتلأ عبره.
Dari Masruq, katanya: “Tidaklah sebuah rumah dipenuhi dengan kebaikannya kecuali jika dipenuhi dengan pelajaran-pelajarannya.” (Ibid)
🌿🌴🌿🌴🌿
✏ Farid Nu’man Hasan

🌼Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 🌼
– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com
💼 Sebarkan! Raih pahala..

Akhlaq Terhadap Istri Tercinta

Materi : Keluarga Islami
��03 Dzulhijjah 1436 / 17 September 2015
��Ustadzah Indra Asih
Islam Agama Akhlak
“بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ”
“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(H.R. Al-Hakim).
Sedemikian besar Islam memperhatikan perealisasian akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Islam tidak hanya menjelaskan hal ini secara global, namun juga menerangkannya secara terperinci.
Islam menjelaskan secara rinci bagaimana akhlak seorang muslim kepada Rabb-nya, keluarganya, tetangganya, bahkan kepada hewan dan tetumbuhan sekalipun.
Hal yang tidak terlepas dari pembahasan adalah penjelasan tentang barometer akhlak mulia.
Kapankah seseorang itu berhak dinilai memiliki akhlak mulia?
Qudwah kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  dalam sabdanya,
“خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي”
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.”
(H.R. Tirmudzi).
Beberapa contoh kemuliaan akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap keluarganya.
Sebagai teladan umat, amatlah wajar jika praktik keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bergaul dengan keluarganya kita pelajari. Dan tentu saja lautan kemuliaan akhlak beliau terhadap keluarganya tidak bisa dikupas dalam tulisan sederhana ini.
Oleh karena itu, di sini kita hanya akan menyampaikan beberapa contoh saja.
1. Turut membantu urusan pekerjaan istri
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ikut turun tangan membantu pekerjaan para istrinya.
عَنْ عُرْوَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: “مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ”
Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)?” Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.” (H.R. Ibnu Hibban).
Subhanallah!
Di tengah kesibukannya yang luar biasa padat berdakwah, menjaga stabilitas keamanan negara, berjihad, mengurusi ekonomi umat dan lain-lain, beliau masih bisa menyempatkan diri mengerjakan hal-hal yang mungkin dipandang rendah oleh banyak suami di zaman ini!
Andaikan saja para suami-suami itu mau mempraktekkan hal-hal tersebut, insyaAllah keharmonisan rumah tangga mereka akan langgeng.
2. Berpenampilan prima di hadapan istri dan keluarga
Berikut Aisyah, salah satu istri Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam menyampaikan pengamatannya;
“أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ بَدَأَ بِالسِّوَاكِ”
“Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam jika masuk ke rumahnya, hal yang pertama kali beliau lakukan adalah bersiwak.” (H.R. Muslim).
Bersiwak ketika pertama kali masuk rumah??!
Suatu hal yang mungkin tidak pernah terbetik di benak banyak suami. Tetapi, begitulah cara Nabi kita shallallahu ‘alahi wa sallam menjaga penampilannya di hadapan istri dan putra beliau.
Ini hanya salah satunya lho! Dan beginilah salah satu potret kemuliaan akhlak Rasulullah kepada keluarganya.
3. Tidak bosan untuk terus menasehati istri dan keluarga
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
“أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا”
“Ingatlah, hendaknya kalian berwasiat yang baik kepada para istri.” (H.R. Tirmidzi).
Timbulnya riak-riak dalam kehidupan rumah tangga merupakan suatu hal yang lumrah. Namun, jika hal itu sampai mengotori keharmonisan jalinan kasih sayang antara suami dan istri, atau bahkan menghancurkan bahtera pernikahan, tentulah sangat berbahaya. Agar mimpi buruk itu tidaklah terjadi, seyogyanya ditumbuhkan budaya saling memahami dan kebiasaan saling menasehati antara suami dan istri.
Oleh karenanya, benih-benih kesalahan yang ada dalam pasangan suami-istri hendaknya tidaklah didiamkan begitu saja hanya karena dalih menjaga keharmonisan rumah tangga. Justru sebaliknya, kesalahan-kesalahan itu harus segera diluruskan.
Dan tentunya hal itu harus dilakukan dengan cara yang elegan:
tutur kata yang lembut, raut muka yang manis dan metode yang tidak menyakiti hati pasangannya.
��Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM ��
Twitter: @GrupMANIS
Blog: www.grupmanis.blogspot.com
�� Sebarkan! Raih pahala..

Mau Qurban, Berhutang?

Oleh: Farid Numan Hasan
✔Pertanyaan:
Bolehkah berhutang untuk berqurban ? bagaimana dengan arisan qurban? (beberapa SMS)
✔Jawaban:
Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ala Rasulillah wa Bad:
Kami akan jawab menjadi dua bagian sesuai pertanyaannya.
👉 Pertama. Berqurban dengan biaya dari hutang.
Tidak ada larangan dalam nash, tentang melakukan amal shalih yang sifatnya maaliyah (harta) seperti qurban, aqiqah, dan haji,1)  yang pembiayaannya berasal dari hutang. Maka, dia kembali pada bab hutang piutang yang memang dibolehkan syariat. Dengan catatan:
🔷 Ketika dia berhutang mesti dalam keadaan yakin mampu membayarnya
🔶 Hutang tersebut tidak menambah beban berat hutang lama yang masih banyak dan belum dilunaskan, sebab, semua ibadah qurban ini memang dianjurkan bagi mereka yang sedang dalam keadaan lapang rezeki dan istithaah (mampu).
Para ulama salaf pun melakukannya, dan mereka tidak memandang masalah dengan berhutang untuk berqurban (atau juga aqiqah). Dalam Tafsir-nya, Imam Ibnu Katsir menceritakan dari Imam Sufyan Ats Tsauri tentang Imam Abu Hatim (riwayat lain menyebut Imam Abu Hazim) yang berhutang untuk membeli Unta buat qurban.
وقال سفيان الثوري: كان أبو حاتم  يستدين ويسوق البُدْن، فقيل له: تستدين وتسوق البدن؟ فقال: إني سمعت الله يقول: { لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ }
Berkata Sufyan Ats Tsauri: Dahulu Abu Hatim berhutang untuk membeli Unta qurban, lalu ada yang bertanya kepadanya: “Anda berhutang untuk membeli unta? Beliau menjawab: Saya mendengar Allah Taala berfirman: Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya (unta-unta kurban tersebut). (Q.s. Al Hajj:36). (Tafsir Al Quran Al Azhim, 5/426)
Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah menceritakan dari Al Haarits tentang dialog antara Imam Ahmad bin Hambal  dan Shalih (anaknya), katanya:
وقال له صالح ابنه الرجل يولد له وليس عنده ما يعق أحب إليك أن يستقرض ويعق عنه أم يؤخر ذلك حتى يوسر قال أشد ما سمعنا في العقيقة حديث الحسن عن سمرة عن النبي كل غلام رهينة بعقيقته وإني لأرجو إن استقرض أن يعجل الله الخلف لأنه أحيا سنة من سنن رسول الله واتبع ما جاء عنه انتهى
Shalih –anak laki-laki Imam Ahmad- berkata kepadanya bahwa dia kelahiran seorang anak tetapi tidak memiliki sesuatu buat aqiqah, mana yang engkau sukai berhutang untuk aqiqah ataukah menundanya sampai lapang keadaan finansialnya. Imam Ahmad menjawab: Sejauh yang aku dengar, hadits yang paling kuat anjurannya tentang aqiqah adalah hadits Al Hasan dari Samurah, dari Nabi bahwa, Semua bayi  tergadaikan oleh aqiqahnya, aku berharap jika berhutang untuk aqiqah semoga Allah segera menggantinya karena dia telah menghidupkan sunah di antara sunah-sunah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan telah mengikuti apa-apa yang Beliau bawa. Selesai. (Tuhfatul Maudud fi Ahkamil Maulud, Hal. 64. Cet. 1, 1971M-1391H. Maktabah Darul Bayan)
Demikianlah kebolehan berhutang untuk berqurban, namun boleh bukan berarti lebih utama, sebab lebih utamanya adalah justru membayar hutang dahulu, bukan menambah dengan hutang baru. Membayar hutang adalah wajib, dan tidak ada khilafiyah atas kewajibannya, sedangkan berqurban adalah sunah muakadah bagi yang sedang lapang rezeki menurut jumhur ulama, kecuali Imam Abu Hanifah yang mengatakan wajib. Maka, wajar jika sebagian ulama justru menganjurkan untuk melunaskan hutang dulu barulah dia berqurban jika sudah lunas hutangnya.
Bagaimana dengan hutang yang jangka waktunya panjang, seperti cicilan mobil atau rumah yang mencapai belasan tahun? Apakah orang seperti ini harus menunggu belasan tahun dulu untuk berqurban?
Tidak juga demikian, dia bisa dan boleh saja berhutang untuk qurban selama memang dia mampu untuk melunasinya dan tidak mengganggu cicilan lainnya. Tetapi, bukan pilihan yang bijak jika dia tetap ngotot berhutang tetapi keluarganya sendiri sangat merana hidupnya, atau ada kebutuhan mendesak seperti biaya sekolah yang besar, rumah sakit, dan semisalnya.
Wallahu Alam
👉 Kedua. Arisan untuk Qurban. 
Arisan adalah beberapa orang mengumpulkan uang, lalu diundi atau dengan menggunakan nomor urut, maka siapa yang keluar namanya atau namanya lebih dahulu dalam urutan, maka dialah yang mendapatkan uang tersebut untuk membeli hewan qurban.
Ini bukanlah judi, karena semua peserta akan mendapatkan gilirannya, dan tidak ada yang dirugikan. Ada pun judi, bisa jadi ada orang yang menang berkali-kali, sementara yang lain sama sekali tidak dapat undian sampai judi itu selesai. Dan, arisan menjadi judi jika sekali kocok keluar satu atau beberapa nama, setelah itu bubar, padahal masih banyak orang lain yang tidak dapat.
Nah, arisan secara substansi adalah SAMA dengan berhutang, karena uang yang dia dapatkan merupakan hasil kumpulan dari uang peserta lainnya, sehingga dia memiliki hutang kepada peserta lainnya. Jika demikian, maka  boleh-boleh saja arisan qurban sebagaimana hutang untuk berqurban. Wallahu Alam

🌿🌿🌿🌿

Notes:

1)  Dari Abdullah bin Abi Aufa Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

سألته عن الرجل لم يحج ، أيستقرض للحج ؟ قال : « لا »

“Aku bertanya kepadanya, tentang seorang yang belum pergi haji, apakah dia  berhutang saja untuk haji?” Beliau bersabda: “Tidak.”  (HR. Asy Syafi’i, Min Kitabil Manasik, Juz. 1, Hal. 472, No. 460. Al Baihaqi, Ma’rifatus Sunan wal Atsar, Juz. 7, Hal. 363, No. 2788.  Syamilah)
Imam Asy Syafi’i berkata tentang hadits ini:
ومن لم يكن في ماله سعة يحج بها من غير أن يستقرض فهو لا يجد السبيل
“Barangsiapa yang tidak memiliki kelapangan harta untuk haji, selain dengan hutang, maka dia tidak wajib untuk menunaikannya.  (Imam Asy Syafii, Al Umm, Juz. 1, Hal. 127. Syamilah)
Namun, demikian para ulama tetap menilai hajinya sah, sebab status tidak wajib haji karena dia belum istithaah, bukan berarti tidak boleh haji. Ada pun larangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena Beliau tidak mau memberatkan umatnya yang tidak mampu, itu bukan menunjukkan larangannya. Yang penting, ketika dia berhutang atau kredit, dia harus dalam kondisi bahwa dia bisa melunasi hutang atau kredit tersebut pada masa selanjutnya.

🌼Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 🌼
Follow us: @GrupMANIS
💼 Sebarkan! Raih pahala..

Kedudukan As Sunnah Nabawiyah dalam Islam

🌼 FIQIH & HADITS,
Rabu, 2 Dzulhijjah 1436 H / 16 September 2015
👤 Ustadz Farid Nu’man Hasan
1⃣ Definisi
📝 Secara bahasa (Lughatan – Etimologis):
👉 As Sunnah jamaknya adalah As Sunan, Al Qadhi ‘Iyadh mengatakan artinya Ath Thariiq (jalan/cara/metode). (Al Qadhi’ Iyadh, Ikmal Al Mu’allim, 8/80. Lihat juga Imam Al ‘Aini, ‘Umdatul Qari, 35/436).
👉 Lalu, Imam Abul Abbas Al Qurthubi mengatakan: Ath Thariiq Al Masluukah (jalan yang dilewati). (Imam Abul Abbas Al Qurthubi, Al Mufhim Lima Asykala Min Talkhishi fi Kitabi Muslim, 22/53)
👉bJuga bisa berarti As Siirah (peri kehidupan/perjalanan) (lihat Syaikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Hujjah As Sunnah An Nawawiyah, Hal.  88) Juga berarti perilaku. (Kamus Al Munawwir, Hal. 669)
👉 Dalam Al Munjid disebutkan makna As Sunnah, yakni: As Sirah (perjalanan),  Ath Thariqah (jalan/metode), Ath Thabi’ah (tabiat/watak), Asy Syari’ah (syariat/jalan). (Al Munjid fil Lughah wal A’lam, hal. 353)
Hal ini nampak dari  hadits berikut:
Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ؟ “
“Kalian akan benar-benar mengikuti sunan (JALAN-JALAN) orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai walau mereka melewati lubang biawak, kalian akan menempuhnya juga.” Kami berkata: “Wahai Rasulullah, apakah mereka adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau bersabda: “Ya Siapa lagi?” (HR. Bukhari No. 3269, 6889, Muslim No. 2669, Ibnu Hibban No. 6703 , Ahmad No. 11800)
Disebutkan dalam sebuah hadits terkenal:
مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ ، وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء
ٌ
“Barangsiapa dalam Islam memulai  KEBIASAAN baik, maka tercatat baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka yang mengikutinya. Barangsiapa dalam Islam memulai kebiasaan buruk, maka tercatat baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim, No. 1017, At Tirmidzi No. 2675, An Nasa’i No. 2554, Ibnu Majah No. 203)
Imam Abul Abbas Al Qurthubi Rahimahullah mengomentari kalimat : Man sanna fil Islam sunnatan hasanah …, katanya:
من فعل فعلاً جميلاً
“Barangsiapa yang mengerjakan fi’l (perbuatan/perilaku) yang bagus ..” (Al Mufhim, 9/33)
📝 Makna Secara Istilah (Ishthilahan -Terminologis):
Syaikh Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani menyebutkan makna As Sunnah:
والمراد بالسنة : الطريقة التى كان عليها رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ و أصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة
Yang dimaksud dengan As Sunnah adalah: jalan yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik berada di atasnya sampai hari kiamat. (Syaikh Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasathiyah, Hal. 10. Mu-asasah Al Juraisi)
Selain itu dalam perkembangannya, makna As Sunnah terbagi menjadi beberapa bagian sesuai disiplin ilmu yang mengikatnya.
📜 Menurut Ahli Ushul
Imam Ibnul Atsir Rahimahullah mengatakan:
وإذا أطلقت في الشرع، فإنما يراد بها ما أمر به النبي صلى الله عليه وسلم، ونهى عنه، وندب إليه قولا، وفعلا مما لا ينطق به الكتاب العزيز، ولهذا يقال: في أدلة الشرع الكتاب والسنة. أي القرآن والحديث
“Jika dilihat dari sudut pandang syara’, maka maksudnya adalah apa-apa yang diperintahkan dan dilarang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan apa yang dianjurkannya baik perkataan, perbuatan yang tidak dibicarakan oleh Al Quran. Maka, dikatakan: tentang dalil-dalil Syara’ adalah Al Kitab dan As Sunnah, yaitu Al Quran dan Al Hadits.” (An Nihayah, 1/186)
Syaikh Abdul Qadir As Sindi Rahimahullah mengatakan:
عبارة عما صدر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ما عدا القرآن الكريم من قول, أو فعل, أو تقرير، فيخرج من السنة عندهم ما صدر من غيره عليه الصلاة والسلام رسولا كان أو غير رسول، وما صدر عنه صلى الله عليه وسلم قبل البعثة.
“Keterangan tentang apa yang berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selain dari Al Quran Al Karim, berupa perkataan, perbuatan, atau persetujuannya. Yang tidak termasuk dari As Sunnah menurut mereka adalah apa yang selain dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik dia seorang rasul atau selain rasul, dan apa-apa yang berasal dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebelum masa bi’tsah (masa diutus  menjadi rasul).”
(Syaikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Hujjah As Sunnah An Nawawiyah, Hal.  88. 1975M-1395H. Penerbit: Al Jami’ah Al Islamiyah – Madinah)
Jadi, menurut para ahli ushul, As sunnah adalah semua yang datang dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bukan dari selainnya dan bukan pula dari Al Quran, khususnya yang berimplikasi kepada hukum syara’, baik berupa perintah, larangan, dan anjuran.
📜 Menurut Fuqaha (Ahli Fiqih)
Berkata Syaikh Abdul Qadir As Sindi:
فهي عندهم عبارة عن الفعل الذي دل الخطاب على طلبه من غير إيجاب، ويرادفها المندوب والمستحب، والتطوع، والنفل، والتفرقة بين معاني هذه الألفاظ اصطلاح خاص لبعض الفقهاء، وقد تطلق على ما يقابل البدعة منه قولهم طلاق السنة كذا، وطلاق البدعة كذا، فهم بحثوا عن رسول الله صلة الله عليه وسلم الذي تدل أفعاله على حكم شرعي.
“Maknanya menurut mereka adalah  istilah tentang perbuatan yang menunjukkan perkataan  perintah selain kewajiban. Persamaannya adalah mandub (anjuran), mustahab (disukai), tathawwu’ (suka rela), an nafl (tambahan). Perbedaan  makna pada lafaz-lafaz istilah ini, memiliki makna tersendiri bagi sebagian fuqaha. Istilah ini juga digunakan sebagai lawan dari bid’ah, seperti perkataan mereka: thalaq sunah itu begini, thalaq bid’ah itu begini . Jadi,  pembahasan mereka pada apa-apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menunjukkan perbuatannya itu sebagai hukum syar’i.” (Ibid)
📜 Menurut Muhadditsin (Ahli Hadits)
Beliau juga mengatakan:
الرأي السائد بينهم – ولا سيما المتأخرين منهم – أن الحديث والسنة مترادفان متساويان يوضع أحدهما مكان الآخر 
Pendapat utama di antara mereka –apalagi kalangan muta’akhirin- bahwa Al Hadits dan  As Sunnah adalah muradif (sinonim-maknanya sama), yang salah satunya diletakkan pada posisi yang lain. (Ibid)
Sedangkan hadits adalah –sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah:
الحديث النبوي هو عند الإطلاق ينصرف إلى ما حُدِّث به عنه بعد النبوة : من قوله وفعله وإقراره، فإن سنته ثبتت من هذه الوجوه الثلاثة .
“Al Hadits An Nabawi adalah berangkat dari apa-apa yang diceritakan darinya setelah masa kenabian: berupa perkataan, perbuatan, dan persetujuannya. Jadi, sunahnya ditetapkan dari tiga hal ini.” (Majmu’ Al Fatawa, 18/6)
Syaikh Dr. Mahmud Ath Thahhan mendefinisikan Al Hadits:
ما اضيف إلى النبى صلى الله عليه وسلم من قول او فعل او تقرير او صف
ة
“Apa saja yang dikaitkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berupa perkataan, atau perbuatan, atau persetujuan, atau sifatnya.” (Taysir   Mushthalahul Hadits, Hal. 14. Tanpa tahun)
Jadi, makna As Sunnah dalam pandangan ahli hadits adalah semua yang disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah diutusnya menjadi Rasul, baik perkatan, perbuatan, persetujuan, dan sifatnya, tanpa dibedakan mana yang mengandung muatan syariat atau bukan, semuanya adalah As Sunnah.
Namun dalam pemakaian sehari-hari, istilah Al Hadits –walau maknanya sama dengan As Sunnah- lebih sering dikaitkan dengan perkataan (Qaul) nabi saja. Maka, sering kita dengar manusia mengatakan sebuah kalimat: “Dalam sebuah hadits nabi bersabda ….”, jarang sekali kita dengar manusia mengatakan: “Dalam sebuah sunah nabi bersabda …”
Hal ini dikatakan oleh Prof. Dr. ‘Ajaj Al Khathib, dalam kitab Ushulul Hadits, sebenarnya Al Hadits merupakan sinonim dari As Sunnah, yaitu segala sesuatu yang berasal dari Rasulullah baik ucapan, perbuatan, dan taqrir. Namun, dalam pemakaiannya Al Hadits lebih sempit maknanya, yaitu identik dengan qauliyah (ucapan) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana yang ditetapkan oleh para Ahli Ushul. (Prof. Dr.Muhammad ‘Ajaj Al Khathib, Ushulul Hadits, hal. 8)
🔈 Bersambung…..
🍯🍯🍯🍯
🌼Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 🌼
Follow us @GrupMANIS
💼 Sebarkan! Raih pahala..

Keutamaan Bulan Dzulhijjah

🌼 FIQIH & HADITS,
Rabu, 2 Dzulhijjah 1436 H / 16 September 2015
👤 Ustadz Farid Nu’man Hasan
——————–
1⃣ Salah Satu Bulan-Bulan Haram
Rasulullah ﷺ bersabda:
السنة اثنا عشر شهراً، منها أربعةٌ حرمٌ: ثلاثٌ متوالياتٌ ذو القعدة، وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان”.
            “Setahun ada 12 bulan, di antaranya terdapat 4 bulan haram: tiga yang awal adalah DzulQa’dah, DzulHijjah, dan Muharam. Sedangkan Rajab yang penuh kemuliaan antara dua Jumadil dan Sya’ban.” (HR. Bukhari No. 3025)
Allah  ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَام
َ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah , dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram …” (QS. Al Maidah (5): 2)
Maksud dari “Jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram” adalah larangan berperang di bulan-bulan itu. Sebagian imam ahli tafsir menyebutkan bahwa, hukum berperang pada bulan-bulan haram  adalah dibolehkan, sebab ayat ini telah mansukh (direvisi) secara hukum oleh ayat: “Perangilah orang-orang musyrik di mana saja kalian menjumpainya ….”.  Sementara, ahli tafsir lainnya mengatakan, bahwa ayat ini tidak mansukh, sehingga larangan berperang pada bulan itu tetap berlaku kecuali darurat. Dan, Imam Ibnu Jarir lebih menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa ayat ini mansukh (direvisi) hukumnya. (Jami’ Al Bayan, 9/478-479. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)  Imam Ibnu Rajab mengatakan kebolehan berperang pada bulan-bulan haram adalah pendapat jumhur (mayoritas ulama), pelarangan hanya terjadi pada awal-awal Islam. (Lathaif Al Ma’arif Hal. 116. Mawqi’ Ruh Al Islam)
2⃣ Sepuluh hari pertama yang penuh kemuliaan
Yaitu tanggal 1 – 10 Dzulhijjah, di mana Allah ﷻ berfirman:
وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ (2)
Demi fajar,   dan malam yang sepuluh. (QS. Al Fajr (89): 1-2)
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan maknanya:
والليالي العشر: المراد بها عشر ذي الحجة. كما قاله ابن عباس، وابن الزبير، ومجاهد، وغير واحد من السلف والخلف.
(Dan demi malam yang sepuluh): maksudnya adalah sepuluh hari pada Dzulhijjah. Sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas, Ibnu Az Zubeir, Mujahid, dan lebih dari satu kalangan salaf dan khalaf. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/390. Dar Ath Thayyibah)
Ada juga yang mengatakan maksudnya adalah sepuluh hari awal Muharram, ada juga ulama yang memaknai sepuluh hari awal Ramadhan. Namun yang benar adalah pendapat yang pertama. (Ibid)  yakni sepuluh awal bulan Dzulhijjah.
3⃣ Amal shalih sepuluh hari pertama setara dengan derajat syahid
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwasanya Rasulullah  ﷺ bersabda:
مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ قَالُوا وَلَا الْجِهَادُ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْء
ٍ
“Tidak ada amal yang lebih afdhal dibanding amal pada hari-hari ini.” Mereka bertanya: “Tidak juga jihad?” Beliau menjawab: “Tidak pula oleh jihad, kecuali seseorang yang keluar untuk mengorbankan jiwa dan hartanya, lalu dia tidak kembali dengan sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari No. 969)
Imam Ibnu Katsir mengatakan maksud dari “pada hari-hari ini” adalah sepuluh hari Dzulhijjah. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/390. Lihat Syaikh Sayyid Ath Thanthawi, Al Wasith, 1/4497. Mawqi’ At Tafasir)
Maka, silahkan kita shaum, tilawah,  shalat sunah, sedekah, dan amal shalih lainnya di tanggal-tanggal itu sejauh yang kita mampu.
4⃣ Shaum ‘Arafah (9 Dzulhijjah)
Dari Qatadah Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَة
َ
Nabi ditanya tentang puasa hari ‘Arafah, beliau menjawab: “Menghapuskan dosa tahun lalu dan tahun kemudian.”
(HR. Muslim No. 1162, At Tirmidzi No. 749, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 2805, Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar No. 763, Ahmad No. 22535, 22650. Ibnu Khuzaimah No. 2117, dan ini adalah lafaz Imam Muslim)
Hadits ini menunjukkan sunahnya puasa ‘Arafah. Imam At Tirmidzi Rahimahullah mengatakan:
وقد استحب أهل العلم صيام يوم عرفة إلا بعرف
ة
Para ulama telah menganjurkan berpuasa pada hari ‘Arafah, kecuali bagi yang sedang di ‘Arafah. (Sunan At Tirmidzi, komentar hadits No. 749)
5⃣ Shalat ‘Id dan Berqurban
Perintah keduanya disebutkan  firman Allah ﷻ;
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَر
ْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al Kautsar: 2)
Shalat Idul Adha (juga Idhul Fitri) adalah sunah muakadah. Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:
شرعت صلاة العيدين في السنة الاولى من الهجرة، وهي سنة مؤكدة واظب النبي صلى الله عليه وسلم عليها وأمر الرجال والنساء أن يخرجوا لها.
Disyariatkannya shalat ‘Idain (dua hari raya) pada tahun pertama dari hijrah, dia adalah sunah muakadah yang selalu dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau memerintahkan kaum laki-laki dan wanita untuk keluar meramaikannya. (Fiqhus Sunnah, 1/317)
Bagi Malikiyah dan Syafi’iyah adalah sunnah, sedangkan Hanafiyah mengatakan wajib, tapi maksud wajib dalam madzhab Hanafi adalah antara fardhu dan sunnah, sedangkan Hambaliyah mengatakan fardhu kifayah. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/240, secara ringkas)
Shalat ‘Id dan berqurban, bagi yang sedang tidak haji, merupakan  amal  yang mudah diingat  di bulan Dzulhijjah bagi masyarakat.
Untuk qurban,  dari Abu Hurairah Radhiallhu ‘Anhu bahwa Rasulullah  ﷺ  bersabda:
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَ
ا
“Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rezeki) dan dia tidak berkurban, maka jangan dekati tempat shalat kami.”  (HR. Ibnu Majah No.  3123, Al Hakim No. 7565, Ahmad No. 8273, Ad Daruquthni No. 53, Al Baihaqi dalam  Syu’abul Iman  No. 7334)
Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Hakim dalam Al Mustadraknya No. 7565, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya.” Imam Adz Dzahabi menyepakati hal ini.
Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahihul Jami’ No. 6490, namun hanya menghasankan dalam kitab lainnya seperti At Ta’liq Ar Raghib, 2/103, dan Takhrij Musykilat Al Faqr, No. 102.
Sementara Syaikh Syu’aib Al Arnauth mendhaifkan hadits ini, dan beliau mengkritik Imam Al Hakim dan Imam Adz Dzahabi dengan sebutan: “wa huwa wahm minhuma – ini adalah wahm (samar/tidak jelas/ragu) dari keduanya.” Beliau juga menyebut penghasanan yang dilakukan Syaikh Al Albani dengan sebutan: “fa akhtha’a – keliru/salah.” (Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 8273)
Para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya. Imam Abu Hanifah mengatakan wajib bagi yang sedang lapang rezeki, sedangkan mayoritas ulama mengatakan sunnah. Imam Ash Shan’ani Rahimahulah mengatakan:
وَلِضَعْفِ أَدِلَّةِ الْوُجُوبِ ذَهَبَ الْجُمْهُورُ مِنْ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَالْفُقَهَاءِ إلَى أَنَّهَا سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ بَلْ قَالَ ابْنُ حَزْمٍ لَا يَصِحُّ عَنْ أَحَدٍ مِنْ الصَّحَابَةِ أَنَّهَا وَاجِبَةٌ . 
Dan karena  lemahnya alasan mereka yang mewajibkannya, maka  madzhab jumhur (mayoritas) dari sahabat, tabi’in, dan ahli fiqih, bahwa  menyembelih qurban adalah sunah mu’akkadah, bahkan Imam Ibnu Hazm mengatakan tidak ada yang shahih satu pun dari kalangan sahabat yang menunjukkan kewajibannya.” (Subulus Salam, 4/91)
6⃣ Tidak Berpuasa pada Hari Raya ( 10 Dzulhijah) dan hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzul Hijjah)
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah  ﷺ bersabda:
يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْب
ٍ
Hari ‘Arafah, hari penyembelihan qurban, hari-hari tasyriq, adalah hari raya kita para pemeluk islam, itu adalah hari-hari makan dan minum. (HR. At Tirmidzi No. 773, katanya: hasan shahih, Ad Darimi No. 1764, Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: isnaduhu shahih. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1586, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya.” )
Dari Nubaisyah Al Hudzalli, katanya: bahwa Rasulullah  ﷺ bersabda:
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْب
ٍ
Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. (HR. Muslim No. 1141)
Inilah di antara dalil agar kita tidak berpuasa pada hari raya dan hari-hari tasyriq, karena itu adalah hari untuk makan dan minum. Sedangkan untuk puasa pada hari ‘Arafah sudah dibahas pada bagian sebelumnya.
Pada saat itu dibolehkan mengadakan beragam acara (haflah) makan-makan  dan minum, karena memang kaum muslimin sedang berbahagia. Hal itu sama sekali bukan perbuatan yang dibenci. Al Hafizh Ibnu Hajar memberikan penjelasan terhadap hadits ini, katanya:
وأن الأكل والشرب في المحافل مباح ولا كراهة في
ه
Sesungguhnya makan dan minum pada berbagai acara adalah mubah dan tidak ada kemakruhan di dalamnya. (Fathul Bari, 4/238)
7⃣ Berdzikir Kepada Allah Ta’ala pada hari-hari Tasyriq
Dalam riwayat Imam Muslim, dari Nubaisyah Al Hudzalli, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْب
ٍ
Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. (HR. Muslim No.  1141), dan dalam riwayat Abu Al Malih ada tambahan: “dan hari berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim No. 1141)
Pada hari-hari tasyriq kita dianjurkan banyak berdzikir, karena Nabi juga mengatakan hari tasyriq adalah hari berdzikir kepada Allah Ta’ala. Agar kebahagian dan pesta kaum muslimin tetap dalam bingkai kebaikan, dan tidak berlebihan.
Imam Ibnu Habib menjelaskan tentang berdzikir pada hari-hari tasyriq:
يَنْبَغِي لِأَهْلِ مِنًى وَغَيْرِهِمْ أَنْ يُكَبِّرُوا أَوَّلَ النَّهَارِ ثُمَّ إِذَا اِرْتَفَعَ ثُمَّ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ بِالْعَشِيِّ وَكَذَلِكَ فَعَلَ وَأَمَّا أَهْلُ الْآفَاقِ وَغَيْرُهُمْ فَفِي خُرُوجِهِمْ إِلَى الْمُصَلَّى وَفِي دُبُرِ الصَّلَوَاتِ وَيُكَبِّرُونَ فِي خِلَالِ ذَلِكَ وَلَا يَجْهَرُون
َ
Hendaknya bagi penduduk Mina dan selain mereka untuk bertakbir pada awal siang (maksudnya pagi, pen), lalu ketika matahari meninggi, lalu ketika matahari tergelincir, kemudian pada saat malam, demikian juga yang dilakukan. Ada pun penduduk seluruh ufuk dan selain mereka, pada setiap keluarnya mereka ke tempat shalat dan setelah shalat hendaknya mereka bertakbir pada saat itu,  dan tidak dikeraskan. (Imam Abul Walid Al Baji, Al Muntaqa Syarh Al Muwaththa’, 2/463)
Maka, boleh saja bertakbir saat hari-hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) sebagaimana yang kita lihat pada sebagian masjid dan surau, yang mereka lakukan setelah shalat. Hal ini berbeda dengan Idul Fithri yang bertakbirnya hanya sampai naiknya khatib ke mimbar ketika shalat Idul Fithri, yaitu takbir dalam artian ‘takbiran’-nya hari raya. Ada pun sekedar mengucapkan takbir  (Allahu Akbar) tentunya boleh  kapan pun juga. 
Demikian. Semoga bermanfaat …….
Wallahu A’lam
-Farid Nu’man Hasan-
🍯🍯🍯🍯
🌼Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 🌼
Follow us @GrupMANIS
💼 Sebarkan! Raih pahala..