Bolehkah Makan Daging Qurban Lebih Dari 3 Hari?

Fiqih & Hadits
Jum’at, 11 Dzulhijjah 1436

Bolehkah Makan Daging Qurban Lebih Dari 3 Hari?

Dra. Indra Asih

Kesimpulan yang salah muncul ketika kita membaca hadits yang merupakan potongan hadits:

مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلاَ يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَفِى بَيْتِهِ مِنْهُ شَىْءٌ

Siapa di antara kalian berqurban, maka janganlah ada daging qurban yang masih tersisa dalam rumahnya setelah hari ketiga. (HR. Bukhari).

Bagaimana cara yang benar bagi kita untuk memahami hadits ini?

Dan faktor kesalahan sebagian besar kita dalam hal ini bukan karena tidak berdalil dengan hadits shahih, melainkan karena kekurangan dalil alias hanya membaca satu dua dalil, itupun hanya sepotong-sepotong.

Kalau kita selami hadits di atas, kita dengan mudah akan menemukan jawabannya.

Larangan itu sifatnya sementara saja, dan kemudian larangan itu pun dihapus.

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama atas dihapuskannya larangan ini, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abdil Bar di dalam kitab Al-Istidzkar.

Memang benar bahwa di jalur riwayat dan versi yang lain, disebutkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahuanhu tidak mau memakan daging hewan udhiyah, bila sudah disimpan selama tiga hari.

عَنْ سَالِمٍ عَنِ بْنِ عُمَرَ  أَنَّ رَسُولَ اللهِ  نَهَى أَنْ تَأْكُلَ لُحُوْمَ الأَضَاحِي بَعْدَ ثَلاَثٍ . قال سالم : فَكَانَ ْبنُ عُمَرَ لاَ يَأْكُلُ لُحُوْمَ الأَضَاحِي بَعْدَ ثَلاَثٍ

Dari Salim dari Ibnu Umar radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW melarang kamu memakan daging hewan udhiyah yang sudah tiga hari. Salim berkata bahwa Ibnu Umar tidak memakan daging hewan udhiyah yang sudah tiga hari (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam Fathul Bari mengutip penjelasan Asy-Syafi’i, beliau menyebutkan bahwa kemungkinan Ibnu Umar belum menerima hadits yang menasakh(menghapus) larangan itu.

Terusan dari hadits di atas adalah :

فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَفْعَلُ كَمَا فَعَلْنَا عَامَ الْمَاضِى قَالَ « كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا فَإِنَّ ذَلِكَ الْعَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا »

Ketika datang tahun berikutnya, para sahabat mengatakan,
”Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana tahun lalu?”
Maka beliau menjawab, ”(Adapun sekarang), makanlah sebagian, sebagian lagi berikan kepada orang lain dan sebagian lagi simpanlah.
Pada tahun lalu masyarakat sedang mengalami paceklik sehingga aku berkeinginan supaya kalian membantu mereka dalam hal itu.”
(HR. Bukhari)

Jadi jelaslah bahwa kenapa Nabi SAW pada tahun sebelumnya melarang umat Islam menyimpan daging hewan udhiyah lebih dari tiga hari. Karena saat itu terjadi paceklik dan kelaparan dimana-mana. Beliau ingin para shahabat berbagi daging itu dengan orang-orang, maka beliau melarang mereka menyimpan daging agar daging-daging itu segera didistribusikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Tetapi tahun berikutnya, ketika mereka menyimpan daging lebih dari tiga hari, Rasulullah SAW membolehkan. Karena tidak ada paceklik yang mengharuskan mereka berbagi daging.

Hadits di atas juga dikuatkan dengan hadits lainnya, sebagai berikut :

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الأَضَاحِى فَوْقَ ثَلاَثٍ لِيَتَّسِعَ ذُو الطَّوْلِ عَلَى مَنْ لاَ طَوْلَ لَهُ فَكُلُوا مَا بَدَا لَكُمْ وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا

“Dulu aku melarang kalian dari menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari agar orang yang memiliki kecukupan memberi keluasan kepada orang yang tidak memiliki kecukupan.
Namun sekarang, makanlah semau kalian, berilah makan, dan simpanlah.”
(HR. Tirmizi)

Jadi daging hewan qurban, hukumnya boleh dimakan kapan saja, selagi masih sehat untuk dimakan.

Apalagi sekarang di masa modern ini, sebagian umat Islam sudah ada yang mengkalengkan daging qurban ini, sehingga bisa bertahan cukup lama.

Karena sudah dikalengkan, mudah sekali untuk mendistribusikannya kemanapun, dengan tujuan untuk membantu saudara kita yang kelaparan, entah karena perang atau bencana alam.

Walau pun afdhalnya tetap lebih diutamakan untuk orang-orang yang lebih dekat, namun bukan berarti tidak boleh dikirim ke tempat yang jauh tapi lebih membutuhkan.

Jadi boleh saja memakan daging qurban, walau pun sudah tiga tahun yang lalu disembelihnya, yang penting belum melewati batas kadaluarsa.

Wallahu a’lam

Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

 Sebarkan! Raih pahala…

Mengangkat Tangan Ketika Berdoa Bagi Khatib Jumat

Sekilas Fiqh Menambah Khazanah
Kamis, 10 Dzulhijjah 1436 / 24 September 2015

Mengangkat Tangan Ketika Berdoa Bagi Khatib Jumat 

Farid Nu’man Hasan, SS



عَنْ حُصَيْنٍ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ قَالَ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ فَقَالَ قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ

“Dari Hushain dari ‘Umarah bin Ru’aibah (beliau adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , pent) ia berkata bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar mengangkat kedua tangannya. Lalu ia (‘Umarah) berkata: “Semoga Allah memburukkan kedua tangan ini, sungguh aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (saat berdoa dalam khutybahnya) tidak lebih  dari mengisyaratkan dengan jari telunjuk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim No 874)

Komentar ulama:

✔ Kata Imam An Nawawi:

– Sunahnya ktka khutbah adalah tidak angkat kedua tangan, ini adalah pndpt Malik, Syafi’iyah, dll

– Al Qadhi ‘Iyadh mnceritakan dr sbagian salaf dan sebagian Malikiyah boleh mengangkat kdua tangan. alasannya Nabi pernah khutbah Jumat mngangkat kedua tangan juga saat itu beliau doa minta hujan. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim,  6/162)

✔Imam Ali Al Qari mwngatakan maksud raafi’an yadaih artinya mengangkat kedua tangan ketika ceramah/’indat takallam. (Mirqah Al Mafatih, 3/1049)

✔ Sementara Ath Thayyibiy  mengatakan maksud hadits di atas bukan berdoa ktka khutbah tapi angkat kedua tgn ketika khutbah utk menarik perhatian pendengar spy dengar. (‘Aunul Ma’bud, 3/319)

✔Syaikh Abul Hasan Al Mubarkafuri mngatakan: makruh mengangkat kedua tangan dlm doa khutbah jumat atau utk mnarik prhatian pndengar. Yg boleh adlh dgn jari telunjuk, baik doa maupun menarik perhatian. (Mir’ah Al Mafatih, 4/511)



Notes:

-Haditsnya sama tp beda pahamnya: ada yg memakruhkan berdoa ktk khutbah dgn mngangkat kedua tgn , ada membolehkan, bhkan ada yg bilang bukan lagi mmbicarakan doa, tp mngangkat tgn ktka ceramah. So, mslh ini luas n mesti luwes.

Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

 Sebarkan! Raih pahala…

Kedudukan As Sunnah An Nabawiyah Dalam Islam (pengantar – bag. 2)

Kajian Fiqih & Hadits
Kamis, 10 Dzuhijjah 1436 / 24 September 2015

 Kedudukan As Sunnah An Nabawiyah Dalam Islam (pengantar – bag. 2)

Ust. Farid Nu’man Hasan, SS

Kemarin kita sudah bahas definisi As Sunnah, selanjutnya kita bahas dalil-dalil kenapa kita menggunakan As Sunnah.

 Dalil-Dalil Kehujjahan As Sunnah

Berikut ini adalah dalil-dalil kenapa umat Islam menjadikan As Sunnah sebagai salah satu marja’  (referensi) pokok bersama Al Quran.

1⃣ Dari Al Qur’an:

 Ayat 1:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa (4): 59)

Dikeluarkan oleh Abdullah bin Humaid, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim, dari ‘Atha, bahwa ayat ‘Taatlah kepada Allah dan Rasul’ adalah mengikuti Al Kitab dan As Sunnah. (Imam Asy Syaukany, Fathul Qadir, 2/166. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Athi’uur rasul artinya khudzuu bisunnatihi (ambillah sunahnya). (Imam Ibnu Katsir, Jilid 1, hal. 518. Darul Kutub Al Mishriyah)

 Ayat kedua:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An Nisa (4): 65)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menerangkan:

يُقْسِمُ تَعَالَى بِنَفْسِهِ الْكَرِيمَةِ الْمُقَدَّسَةِ: أَنَّهُ لَا يُؤْمِنُ أَحَدٌ حَتَّى يُحَكم الرَّسُولَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَمِيعِ الْأُمُورِ، فَمَا حَكَمَ بِهِ فَهُوَ الْحَقُّ الَّذِي يَجِبُ الِانْقِيَادُ لَهُ بَاطِنًا وَظَاهِرًا؛ وَلِهَذَا قَالَ: {ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا} أَيْ: إِذَا حَكَّمُوكَ يُطِيعُونَكَ فِي بَوَاطِنِهِمْ فَلَا يَجِدُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا حَكَمْتَ بِهِ، وَيَنْقَادُونَ لَهُ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ فَيُسَلِّمُونَ لِذَلِكَ تَسْلِيمًا كُلِّيًّا مِنْ غَيْرِ مُمَانِعَةٍ وَلَا مُدَافِعَةٍ وَلَا مُنَازِعَةٍ، كَمَا وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ: “وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ”.
Allah ﷻ bersumpah dengan diriNya yang mulia dan suci, bahwasanya tidaklah seseorang itu beriman sampai dia berhukum kepada Rasulullah ﷺ disemua urusan, maka apa-apa yang diputuskannya adalah kebenaran yang wajib ditaati baik  bathin dan zhahir. Oleh karena itu firmanNya (“kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”) yaitu jika mereka berhukum kepadamu (Muhammad) dan mentaatimu dalam bathin mereka dan mereka tidak ada kesempitan hati pada keputusanmu, dan tidak ada kontradiksi antara bathin dan zhahir mereka, maka mereka menerima secara total tanpa ada penolakan, perlawanan, dan perdebatan, sebagaimana terdapat dalam hadits: “Demi yang jiwaku ada di tanganNya, tidaklah seseorang di antara kamu beriman sampai dia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa-apa yang aku bawa.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/349)

 Ayat ketiga:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah…” (QS. An Nisa (4): 80)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengomentari;

يخبر تعالى عن عبده ورسوله محمد صلى الله عليه وسلم بأنه من أطاعه فقد أطاع الله، ومن عصاه فقد عصى الله،وما ذاك إلا لأنه ما ينطق عن الهوى، إن هو إلا وحي يوحى.

Allah Ta’ala mengabarkan tentang hamba dan RasulNya, bahwa barangsiapa yang taat kepadanya, maka itu termasuk taat juga kepada Allah, barangsiapa yang bermaksiat kepadanya maka itu termasuk bermaksiat kepada Allah, dan tidaklah hal itu melainkan bahwa apa yang dikatakannya bukan berasal dari hawa nafsunya, melainkan wahyu kepadanya. (Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 1. hal. 528)

Dan masih banyak ayat lainnya.

Wallahu A’lam

Bersambung … Insya Allah dalil-dalil As Sunnah sendiri.



Farid Nu’man Hasan


Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 

Twitter: @GrupMANIS
Blog: www.grupmanis.blogspot.com

 Sebarkan! Raih pahala..

Kedudukan As Sunnah An Nabawiyah Dalam Islam (pengantar – bag. 2)

Kajian Fiqih & Hadits
Kamis, 10 Dzuhijjah 1436 / 24 September 2015

 Kedudukan As Sunnah An Nabawiyah Dalam Islam (pengantar – bag. 2)

Ust. Farid Nu’man Hasan, SS

Kemarin kita sudah bahas definisi As Sunnah, selanjutnya kita bahas dalil-dalil kenapa kita menggunakan As Sunnah.

 Dalil-Dalil Kehujjahan As Sunnah

Berikut ini adalah dalil-dalil kenapa umat Islam menjadikan As Sunnah sebagai salah satu marja’  (referensi) pokok bersama Al Quran.

1⃣ Dari Al Qur’an:

 Ayat 1:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa (4): 59)

Dikeluarkan oleh Abdullah bin Humaid, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim, dari ‘Atha, bahwa ayat ‘Taatlah kepada Allah dan Rasul’ adalah mengikuti Al Kitab dan As Sunnah. (Imam Asy Syaukany, Fathul Qadir, 2/166. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Athi’uur rasul artinya khudzuu bisunnatihi (ambillah sunahnya). (Imam Ibnu Katsir, Jilid 1, hal. 518. Darul Kutub Al Mishriyah)

 Ayat kedua:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An Nisa (4): 65)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menerangkan:

يُقْسِمُ تَعَالَى بِنَفْسِهِ الْكَرِيمَةِ الْمُقَدَّسَةِ: أَنَّهُ لَا يُؤْمِنُ أَحَدٌ حَتَّى يُحَكم الرَّسُولَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَمِيعِ الْأُمُورِ، فَمَا حَكَمَ بِهِ فَهُوَ الْحَقُّ الَّذِي يَجِبُ الِانْقِيَادُ لَهُ بَاطِنًا وَظَاهِرًا؛ وَلِهَذَا قَالَ: {ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا} أَيْ: إِذَا حَكَّمُوكَ يُطِيعُونَكَ فِي بَوَاطِنِهِمْ فَلَا يَجِدُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا حَكَمْتَ بِهِ، وَيَنْقَادُونَ لَهُ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ فَيُسَلِّمُونَ لِذَلِكَ تَسْلِيمًا كُلِّيًّا مِنْ غَيْرِ مُمَانِعَةٍ وَلَا مُدَافِعَةٍ وَلَا مُنَازِعَةٍ، كَمَا وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ: “وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ”.
Allah ﷻ bersumpah dengan diriNya yang mulia dan suci, bahwasanya tidaklah seseorang itu beriman sampai dia berhukum kepada Rasulullah ﷺ disemua urusan, maka apa-apa yang diputuskannya adalah kebenaran yang wajib ditaati baik  bathin dan zhahir. Oleh karena itu firmanNya (“kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”) yaitu jika mereka berhukum kepadamu (Muhammad) dan mentaatimu dalam bathin mereka dan mereka tidak ada kesempitan hati pada keputusanmu, dan tidak ada kontradiksi antara bathin dan zhahir mereka, maka mereka menerima secara total tanpa ada penolakan, perlawanan, dan perdebatan, sebagaimana terdapat dalam hadits: “Demi yang jiwaku ada di tanganNya, tidaklah seseorang di antara kamu beriman sampai dia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa-apa yang aku bawa.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/349)

 Ayat ketiga:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah…” (QS. An Nisa (4): 80)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengomentari;

يخبر تعالى عن عبده ورسوله محمد صلى الله عليه وسلم بأنه من أطاعه فقد أطاع الله، ومن عصاه فقد عصى الله،وما ذاك إلا لأنه ما ينطق عن الهوى، إن هو إلا وحي يوحى.

Allah Ta’ala mengabarkan tentang hamba dan RasulNya, bahwa barangsiapa yang taat kepadanya, maka itu termasuk taat juga kepada Allah, barangsiapa yang bermaksiat kepadanya maka itu termasuk bermaksiat kepada Allah, dan tidaklah hal itu melainkan bahwa apa yang dikatakannya bukan berasal dari hawa nafsunya, melainkan wahyu kepadanya. (Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 1. hal. 528)

Dan masih banyak ayat lainnya.

Wallahu A’lam

Bersambung … Insya Allah dalil-dalil As Sunnah sendiri.



Farid Nu’man Hasan


Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 

Twitter: @GrupMANIS
Blog: www.grupmanis.blogspot.com

 Sebarkan! Raih pahala..

Kapan Mulai Takbiran?

Fiqih & Hadits
Rabu, 9 Dzulhijjah / 23 September 2015

✊Kapan Mulai Takbiran?✊

Farid Nu’man Hasan, SS

Dalam Majmu’ Syarah al Muhadzdzab dijelaskan tentang hal ini sebagai berikut:

(ﻓﺼﻞ) ﻭاﻣﺎ ﺗﻜﺒﻴﺮ اﻻﺿﺤﻰ ﻓﻔﻰ ﻭﻗﺘﻪ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻗﻮاﻝ (ﺃﺣﺪﻫﺎ) ﻳﺒﺘﺪﺉ ﺑﻌﺪ اﻟﻈﻬﺮ ﻣﻦ ﻳﻮﻡ اﻟﻨﺤﺮ اﻟﻲ اﻥ ﻳﺼﻠﻰ اﻟﺼﺒﺢ ﻣﻦ ﺁﺧﺮ اﻳﺎﻡ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ﻭاﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻲ اﻧﻪ ﻳﺒﺘﺪﺉ ﺑﻌﺪ اﻟﻈﻬﺮ ﻗﻮﻟﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ (ﻓﺈﺫا ﻗﻀﻴﺘﻢ ﻣﻨﺎﺳﻜﻜﻢ ﻓﺎﺫﻛﺮﻭا اﻟﻠﻪ) ﻭاﻟﻤﻨﺎﺳﻚ ﺗﻘﻀﻲ ﻳﻮﻡ اﻟﻨﺤﺮ ﺿﺤﻮﺓ ﻭاﻭﻝ ﺻﻼﺓ ﺗﻠﻘﺎﻫﻢ اﻟﻈﻬﺮ ﻭاﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻲ اﻧﻪ ﻳﻘﻄﻌﻪ ﺑﻌﺪ اﻟﺼﺒﺢ اﻥ اﻟﻨﺎﺱ ﺗﺒﻊ ﻟﻠﺤﺎﺝ ﻭﺁﺧﺮ ﺻﻼﺓ ﻳﺼﻠﻴﻬﺎ اﻟﺤﺎﺝ ﺑﻤﻨﻰ ﺻﻼﺓ اﻟﺼﺒﺢ ﺛﻢ ﻳﺨﺮﺝ (ﻭاﻟﺜﺎﻧﻰ) ﻳﺒﺘﺪﺉ ﺑﻌﺪ ﻏﺮﻭﺏ اﻟﺸﻤﺲ ﻣﻦ ﻟﻴﻠﺔ اﻟﻌﻴﺪ ﻗﻴﺎﺳﺎ ﻋﻠﻰ ﻋﻴﺪ اﻟﻔﻄﺮ ﻭﻳﻘﻄﻌﻪ ﺇﺫا ﺻﻠﻰ اﻟﺼﺒﺢ ﻣﻦ ﺁﺧﺮ اﻳﺎﻡ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ﻟﻤﺎ ﺫﻛﺮﻧﺎﻩ (ﻭاﻟﺜﺎﻟﺚ) ﺃﻥ ﻳﺒﺘﺪﺉ ﺑﻌﺪ ﺻﻼﺓ اﻟﺼﺒﺢ ﻣﻦ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﻭﻳﻘﻄﻌﻪ ﺑﻌﺪ ﺻﻼﺓ اﻟﻌﺼﺮ ﻣﻦ ﺁﺧﺮ اﻳﺎﻡ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ﻟﻤﺎ ﺭﻭﻯ ﻋﻤﺮ ﻭﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ” ﻛﺎﻥ ﻳﻜﺒﺮ ﻓﻲ ﺩﺑﺮ ﻛﻞ ﺻﻼﺓ ﺑﻌﺪ ﺻﻼﺓ اﻟﺼﺒﺢ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﺇﻟﻰ ﺑﻌﺪ ﺻﻼﺓ اﻟﻌﺼﺮ ﻣﻦ ﺁﺧﺮ اﻳﺎﻡ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ” *

jadi ada tiga pendapat, dalam madzhab Syafi’i:

1. Mulai takbiran dari zuhur hari penyembelihan sampai dengan subuh hari tasyriq yang terakhir

2. Seteleh tenggelam matahari malam hari raya, seperti malam ini, qiyas dengan malam takbiran Idul Fitri, sampai dengan subuh akhir tasyriq

3. Mulai dari ba’da subuh hari arafah sampai dengan ba’da ashar akhir tasyriq

Mana yang paling kuat?

ﻓﺎﻟﺤﺎﺻﻞ ﺃﻥ اﻷﺭﺟﺢ ﻋﻨﺪ ﺟﻤﻬﻮﺭ اﻷﺻﺤﺎﺏ اﻻﺑﺘﺪاء ﻣﻦ ﻇﻬﺮ ﻳﻮﻡ اﻟﻨﺤﺮ ﺇﻟﻰ ﺻﺒﺢ ﺁﺧﺮ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ﻭاﺧﺘﺎﺭﺕ ﻃﺎﺋﻔﺔ ﻣﺤﻘﻘﻲ اﻷﺻﺤﺎﺏ اﻟﻤﺘﻘﺪﻣﻴﻦ ﻭاﻟﻤﺘﺄﺧﺮﻳﻦ ﺃﻧﻪ ﻳﺒﺪﺃ ﻣﻦ ﺻﺒﺢ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﻭﻳﺨﺘﻢ ﺑﻌﺼﺮ ﺁﺧﺮ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ﻣﻤﻦ اﺧﺘﺎﺭﻩ ﺃﺑﻮ اﻟﻌﺒﺎﺱ اﺑﻦ ﺳﺮﻳﺞ ﺣﻜﺎﻩ ﻋﻨﻪ اﻟﻘﺎﺿﻲ ﺃﺑﻮ اﻟﻄﻴﺐ ﻓﻲ اﻟﻤﺠﺮﺩ ﻭﺁﺧﺮﻭﻥ ﻗﺎﻝ اﻟﺒﻨﺪﻧﻴﺠﻲ ﻫﻮ اﺧﺘﻴﺎﺭ اﻟﻤﺰﻧﻲ ﻭاﺑﻦ ﺳﺮﻳﺞ ﻗﺎﻝ اﻟﺼﻴﺪﻻﻧﻲ ﻭاﻟﺮﻭﻳﺎﻧﻲ ﻭﺁﺧﺮﻭﻥ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﻋﻤﻞ اﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ اﻷﻣﺼﺎﺭ ﻭاﺧﺘﺎﺭﻩ اﺑﻦ اﻟﻤﻨﺬﺭ ﻭاﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻣﻦ ﺃﺋﻤﺔ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ اﻟﺠﺎﻣﻌﻴﻦ ﺑﻴﻦ اﻟﻔﻘﻪ ﻭاﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﻫﻮ اﻟﺬﻱ اﺧﺘﺎﺭﻩ *

Ternyata pendapat  1, yaitu  di mulai sejak zuhur ketika 10 Dzulhijah …

Tapi, ini pendapat mayoritas Syafi’iyah saja … madzhab lain tidak jauh beda dari 2 pendapat lain di atas.

Sayyid Sabiq memilih dari tanggal 9 Dzulhijah sampai dengan 13 ba’da ashar.

Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

 Sebarkan! Raih pahala…

Takbiran 3x

Fiqih & Hadits
Rabu, 9 Dzulhijjah 1436 / 23 September 2015

✊TAKBIRAN 3X✊

Farid Nu’man Hasan, SS

Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi berkata dalam kitabnya Al-Muhadzab:

والسنة في التكبير أَنْ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثلاثا لما روى عن ابن عباس انه قال ” الله اكبر ثلاثا ” وعن عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ قَالَ رَأَيْت الْأَئِمَّةَ رضى الله عنهم يكبرون أيام التشريق بعد الصلاة ثلاثا وعن الحسن مثله

“Yang sesuai sunnah dalam Takbir adalah mengucapkan Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. sebanyak tiga kali berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas bahwa beliau mengatakan: Allahu Akbar sebanyak tiga kali.

Abdullah bin Muhamad bin Abu Bakr bin Amr bin Hazm mengatakan: Saya melihat para imam bertakbir pada hari-hari Tasyriq setelah shalat sebanyak tiga kali. Riwayat dari Al-Hasan pun demikian.”

قال في الام وان زاد زيادة فليقل بعد الثلاث:

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعَدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ
“Dalam kitab Al-Umm disebutkan:

Seandainya ada yang ingin menambah bacaan maka hendaknya ia membacanya setelah takbir tiga kali tersebut:

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعَدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

“Allahu akbar kabiran, wal hamdulillahi katsiran, wa subhanallahi bukrotan wa ashilan, la ilaha illallahu, wa la na’budu illa iyyahu, mukhlishina lahud dina, wa lau karihal kafiruna, la ilaha illallahu wahdahu, shodaqo wa’dahu, wa nashoro ‘abdahu, wa hazamal ahzaba wahdahu, la ilaha illallahu, wallahu akbar.”

(Allahu Maha Besar sebesar-besarnya, Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya. Maha suci Allah di waktu pagi dan sore hari. Tidak ada tuhan selain Allah dan kita tidak menyembah selain-Nya secara ikhlas hanya untuk-Nya agama ini meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya. Tidak ada tuhan selain Allah saja. Dia menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, mengalahkan musuh-Nya seorang diri. Tidak ada tuhan selain Allah. Allah Maha Besar.)

Imam Syafi’i mengatakan:

وما زاد من ذكر الله فحسن

“Tambahan zikir itu baik.”

Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

 Sebarkan! Raih pahala…

Konsep Kebahagiaan Dalam Islam

🌅Rabu, 9 Dzulhijah 1436 / 23 September 2015

🌿Konsep Kebahagiaan Dalam Islam🌿

📝Dr. Wido Supraha

Terminologi bahagia sebagai sebuah realitas hakiki hanya diulang satu kali, sebagaimana jalan cahaya pun hanya satu di antara ragam kezhaliman, merujuk kepada realitas kebenaran yang juga satu bersama satu realitas rahmat Allah yang melahirkan keberkahan yang banyak dan terus menerus.

Allah Swt. berfirman di dalam Surat Huud [11] ayat 105-108,
يَومَ يَأتِ لا تَكَلَّمُ نَفسٌ إِلّا بِإِذنِهِ ۚ فَمِنهُم شَقِيٌّ وَسَعيدٌ
فَأَمَّا الَّذينَ شَقوا فَفِي النّارِ لَهُم فيها زَفيرٌ وَشَهيقٌ
خالِدينَ فيها ما دامَتِ السَّماواتُ وَالأَرضُ إِلّا ما شاءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعّالٌ لِما يُريدُ
۞ وَأَمَّا الَّذينَ سُعِدوا فَفِي الجَنَّةِ خالِدينَ فيها ما دامَتِ السَّماواتُ وَالأَرضُ إِلّا ما شاءَ رَبُّكَ ۖ عَطاءً غَيرَ مَجذوذٍ
Di kala datang hari itu, tidak ada seorangun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia; Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih); Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki; Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.

Dari rangkaian ayat di atas, Allah Swt menghadirkan terminologi bahagia (sa’adah; happiness) dan celaka (syaqawah;misery), keduanya adalah terminologi yang saling berlawanan. Kata sa’adah digunakan di dalam Al-Qur’an hanya pada rangkaian ayat ini yakni 1 kata benda (sa’idun) dan 1 kata kerja (su’idu) . Kata shaqawah digunakan di dalam Al-Quran pada 12 tempat, 8 tempat dalam bentuk kata benda (shiqwatna, shaqiyyan, shaqiyyun, ashqa-ha, al-ashqa), dan 4 tempat dalam bentuk kata kerja (yashqa, shaqu, litashqa, fatashqa).

Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Prolegomenamenjelaskan bahwa kebahagiaan dalam perspektif Islam diekspresikan dengan terminologi sa’adah, dan terminologi ini sangat terkait dengan dua dimensi eksistensi, akhirat (ukhrawiyyah) dan dunia (dunyawiyyah). Dalam konteks akhirat, sa’adah bermakna kebahagiaan tertinggi tanpa akhir, diberikan hanya kepada manusia yang selama di dunia memberikan penyerahan diri secara total, menjaga dirinya dari apa yang diperintahkan-Nya dan dilarang-Nya. Maka dari pengertian ini, terminologi sa’adah di akhirat sangat terkait sekali dengan kehidupan dunianya, dalam hal ini mencakup tiga hal: 1) jiwa (nafsiyyah) berkenaan dengan ilmu dan karakter baik; 2) jasad (badaniyyah) berkenaan dengan kesehatan fisik dan rasa aman; dan 3) sisi eksternal jiwa dan jasad (kharijiyyah) berkenaan dengan kesuksesan dan kekayaan dan penyebab lain di luar unsur jiwa dan jasad.

Kebahagiaan dapat juga dimaknai dengan memahami lawan katanya, syaqawah, yang mengandung elemen-elemen khauf, huzn, dank, hasrat, hamm, ghamm, dan ‘usr.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Tha-ha [20] ayat 2,
ما أَنزَلنا عَلَيكَ القُرآنَ لِتَشقىٰ
Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah;

Allah Swt. juga berfirman dalam ayat 117,
فَقُلنا يا آدَمُ إِنَّ هٰذا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوجِكَ فَلا يُخرِجَنَّكُما مِنَ الجَنَّةِ فَتَشقىٰ
Maka Kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka.

Allah Swt. juga berfirman dalam ayat 123,

قالَ اهبِطا مِنها جَميعًا ۖ بَعضُكُم لِبَعضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمّا يَأتِيَنَّكُم مِنّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشقىٰ
Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Bersama tiga ayat Surat Tha-ha, manusia akan terbebas dari ‘shaqawah‘ jika menjalani kehidupan berpedoman dengan Al-Qur’an, menjauhi gangguan iblis, dan istiqomah mengikuti petunjuk Allah Swt.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Mukminum [23] ayat 106,
قالوا رَبَّنا غَلَبَت عَلَينا شِقوَتُنا وَكُنّا قَومًا ضالّينَ
Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Maryam [19] ayat 4,
قالَ رَبِّ إِنّي وَهَنَ العَظمُ مِنّي وَاشتَعَلَ الرَّأسُ شَيبًا وَلَم أَكُن بِدُعائِكَ رَبِّ شَقِيًّا
Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku.

Allah Swt. juga berfirman pada ayat 32,
وَبَرًّا بِوالِدَتي وَلَم يَجعَلني جَبّارًا شَقِيًّا
Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.

Allah Swt juga berfirman dalam ayat 48,
وَأَعتَزِلُكُم وَما تَدعونَ مِن دونِ اللَّهِ وَأَدعو رَبّي عَسىٰ أَلّا أَكونَ بِدُعاءِ رَبّي شَقِيًّا
Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo’a kepada Tuhanku,mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku”.

Bersama tiga ayat dalam Surat Maryam ini, kita menyaksikan bagaimana para Nabi seperti Nabi Zakaria a.s., Nabi ‘Isa a.s., dan Nabi Ibrahim a.s. sentiasa bermunajat kepada Allah agar terhindar dari ‘syaqawah‘.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Syams [91] ayat 12,
إِذِ انبَعَثَ أَشقاها
Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka,

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al A’laa [87] ayat 11,
وَيَتَجَنَّبُهَا الأَشقَى
Dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Lail [92] ayat 15,
لا يَصلاها إِلَّا الأَشقَى
Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka; Yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).

Kebahagiaan harus diawali dengan mengenali hakikat diri. Unsur jiwa di dalam Al-Qur’an merupakan substansi  spiritual yang mengacu kepada qalb (hearth), nafs (soul or self),‘aql (intellect), atau ruh (spirit), melibatkan dua aspek, jasad dan ruh, maka di satu sisi kita mengenal al-nafs al-hayawaniyyah dan di sisi lain al-nafs al-natiqah (rational soul). Cara seseorang dalam meraih kebahagiaan tergantung pada aspek mana yang dipilihnya yang paling memberikan pengaruh. Kedua aspek ini melahirkan dua kekuatan, kekuatan nafsu hewan adalah motif dan perseptif, sementara kekuatan rasio adalah aktif dan kognitif.

Kebahagiaan harus selalu dihiasi dengan kebajikan. Kebajikan di dalam Islam mencakup apa yang bersifat zhahir (eksternal) dan bathin (internal). Kebajikan eksternal mencakup lima hal utama yakni ritual ibadah yang benar, pembacaan Al-Qur’an, dzikrullah, do’a, memenuhi seluruh keunikan cara hidup dan akhlak Muslim. Kebajikan internal mengacu pada aktifitas-aktifitas hati yang menggabungkan niyyah, ‘amal, ikhlas, dan shidq. Mengenal diri secara lebih baik akan mengarahkan kepada pengetahuan mana yang berkualitas baik dan buruk. Kebiasaan kita dalam proses pemilihan ini akan melibatkan ragam aktifitas diri mulai dari tafakkur (meditation), taubah (repentance), shabr (patience), syukr (gratitude), raja (hope), khauf (fear), tauhid (divine unity), tawakkal (trust), hingga mahabbah (love of god).

Kebahagiaan sangat erat kaitannya dengan iman, sebagai kata amina bermakna aman, bebas dari segala ketakutan, maka terminologi khauf merupakan lawan kata amnu, jika menggunakan pengertian ketakutan kepada selain Allah. Adapun khauf kepada Allah justru akan menghadirkan ‘iffah (temperance), wara’ (abstinence), taqwa (piety), sidq (truthfulness). Dari sinilah kita menjadi faham mengapa iman sangat terkait dengan kondisi-kondisi tatma’innu, tuma’ninah, sehingga melahirkan al-nafs al-muthma’innah.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Ra’d [13] ayat 28,
الَّذينَ آمَنوا وَتَطمَئِنُّ قُلوبُهُم بِذِكرِ اللَّهِ ۗ أَلا بِذِكرِ اللَّهِ تَطمَئِنُّ القُلوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Keimanan kepada Allah hanya akan melahirkan keyakinan (yaqin) utuh bahwa seluruh hakikat kepastian hanya datang dari Allah semata. Maka terminologi yaqin berlawanan dengan syakk(keraguan) dan zhann (prasangka). Keyakinan dalam Al-Qur’an disebutkan dalam tiga tingkatan: ‘ilm al-yaqin, ‘ayn al-yaqin, dan haqq al-yaqin. Maka yakinlah kebahagiaan akan hadir manakalah iman tidak lagi terganggu dengan keraguan dan prasangka, iman yang dibangun di atas ilmu sehingga menghadirkan bashirah.

Akhirul kalam, Ibn Khaldun mengatakan, “Bahagia itu tunduk dan patuh mengikuti garis-garis yang ditentukan Allah dan perikemanusiaan”, Ibn Khalid mengatakan, “Bahagia itu sentosa perangai, kuat ingatan, bijaksana akal, tenang dan sabar menuju maksud. Maka jadilah orang yang berbahagia (KUN SA’IIDAN) dengan berpegang teguh dalam agama, maka kebahagiaan hakiki akan diraih.

Buya Hamka mengutip sya’ir Hutai’ah,

Bukanlah kebahagiaan itu pada mengumpul harta benda;

Tetap taqwa akan Allah itulah bahagia

Taqwa akan Allah itulah bekal yang sebaik-baiknya disimpan,

Pada sisi Allah sajalah kebahagiaan para orang yang taqwa.

🌼Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 🌼

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Doa Yang Paling Cepat Diijabah

🌅 Rabu, 09 Dzulhijjah 1436 / 23 September 2015

🌷Doa Yang Paling Cepat Diijabah🌷

📝 Dra, Indra Asih

Sebaik-baik do’a adalah do’a hari Arafah (9 Dzulhijjah). Maksudnya, do’a ini paling cepat diijabahi.

Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ
“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arafah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim).

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ
“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah.” (HR. Tirmidzi).

Apakah keutamaan do’a ini hanya khusus bagi yang wukuf di Arafah?

Apakah berlaku juga keutamaan ini bagi orang yang tidak menunaikan ibadah haji?

Mustajabnya do’a tersebut adalah umum, baik bagi yang berhaji maupun yang tidak berhaji karena keutamaan yang ada adalah keutamaan pada hari.

Sedangkan yang berada di Arafah (yang sedang wukuf pada tanggal 9 Dzulhijjah), ia berarti menggabungkan antara keutamaan waktu dan tempat.

Do’a ini bagi yang wukuf dimulai dari siang hari selepas matahari tergelincir ke barat (masuk shalat Zhuhur) hingga terbenamnya matahari.

Semoga Allah memudahkan kita untuk menyibukkan diri dengan do’a pada hari Arafah.

🌼Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 🌼

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Rahasiakan Amalmu

Kisah dari Sunnah
Selasa, 22 September 2015

RAHASIAKAN AMAL SHOLIHMU 

Syahroni Mardani, Lc

Amal seorang hamba akan diterima oleh Allah mesti memenuhi dua syarat yaitu Ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rosulullah SAW.

Beramal baik dan menampakannya agar bisa menjadi contoh orang lain memang bukanlah dilarang dan juga bukan berarti kita tidak ikhlas, karena memang ikhlas bukan terletak pada ditampakkan atau tidaknya amalan kebaikan kita, tetapi setidaknya dari kisah-kisah berikut dapatlah kita ketahui “posisi khusus” yang Allah janjikan dan Rasulullah SAW khabarkan bagi mereka yang menyembunyikan amal-amal baiknya.

قال سعد بن أبي وقاص : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول “إن الله يحب العبد التقي الغني الخفي”. (رواه مسلم)
Saad bin Abi Waqqas berkata, Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah swt senang pada hamba-Nya yang bertaqwa, kaya (hatinya) dan suka menyembunyikan amalnya.
(HR Muslim)

“من استطاع منكم أن يكون له  خبء من عمل صالح فليفعل“
“Barang siapa yang dapat memiliki amal soleh yang disembunyikannya, maka lakukanlah”

“اكتم من حسناتك كما تكتم من سيئاتك”
Salamah bin Dinar berkata, “Sembunyikanlah kebaikanmu seperti engkau sembunyikan keburukanmu”

SHALAT SUNNAH DI RUMAH
صلوا أيها الناس في بيوتكم فإن أفضل الصلاة صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة (متفق عليه)
“Wahai sahabatku, shalatlah kalian di rumah kalian. Sesung-guhnya sebaik-baik shalatnya seseorang adalah shalat yang dikerjakan di rumahnya sendiri, kecuali shalat wajib (shalat fardhu).  (Muttafaq Alaih)

صلاة الرجل تطوعا حيث لا يراه الناس تعدل صلاته علي أعين الناس خمسا وعشرون  (رواه أبويعلى)
Shalat sunnahnya seseorang jauh dari pandangan manusia (tak ada orang yang melihat) jika dibandingkan dengan shalatnya dihadapan manusia, bandingannya (pahalanya) 25 kali lipat. (HR Abu Ya’la)

MERAHASIAKAN PUASA SUNNAH
“إذا كان يوم  صوم أحدكم فليصبح دهينا مترجلا”
Sahabat Ibnu Abbas berkata, “Jika salah seorang diantaramu sedang berpuasa, maka hendaklah dia memakai minyak wangi da bersisirlah”. (selalu berpenampilan segar, sehingga orang lain tak menyangka kalau dia sedang berpuasa)

MERAHASIAKAN DOA ; MENDOAKAN ORANG LAIN TANPA BILANG BILANG
Dari Abu Darda ra sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa saudaranya tahu adalah sangat mustajab. Di atas kepala orang yang sedang berdoa ini ada malaikat yang menyertainya. Setiap dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat berkata, “Amin, engkau juga mendapatkan hal yang sama”. (HR Muslim)

 العبد المسلم يغفر له وهو نائم
Ummu Darda meriwayatkan bahwa Abu Darda pernah berkata, “Seorang hamba muslim diampuni dosanya padahal dia sedang tidur”. Ummu Darda bertanya, “Bagaimana maksudnya dia diampuni padahal dia sedang tidur?”. Abu Darda menjelaskan, “Saat dia sedang tidur, saudaranya bangun malam untuk qiyamullail dan mendoakan orang yang sedang tidur ini. Doanya dikabulkan Allah. Lalu, orang yang tidur ini bangun dan juga bangun untuk qiyamullail dan juga mendoakan saudaranya yang pertama tadi. Doanya juga dikabulkan Allah”. (HR Bukhari)

من كنوزالبر كتمان المصائب والأمراض والصدقة (رواه أبونعيم)
Rasulullah saw bersabda, “Termasuk perbendaharaan kebaikan adalah merahasiakan musibah, penyakit dan sodaqoh”. (HR Abu Nuaim).

Dari Abu Hurairoh ra dari Nabi saw bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan perlindungan dari Allah pada saat tak ada perlindungan lain selain perlindungan Allah swt: … seseorang yang bersedekah dan dia sembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tak tahu apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya,.. (Muttafaq Alaih)

  “الجاهر بالقرآن كالجاهر بالصدقة والمُسِر بالقرآن كالمُسِر بالصدقة”
 “Orang yang mengeraskan suara saat membaca Al Quran bagaikan orang yang menampakkan sedekahnya. Dan orang yang merendahkan suaranya saat membaca Al Quran bagaikan orang yang merahasiakan sedekahnya. (HR Ahmad).

Semoga kisah-kisah dalam Sunnah di atas dapat menginspirasikan kita dalam beramal dan semoga Allah menerima segala amal ibadah kita. Aaamiiin.

Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

 Sebarkan! Raih pahala…

Istimrariyah (Kontinyuitas)

Motivasi Islam
Selasa, 22 September 2015

♻Istimroriyah (Kontinyuitas)♻

Abdullah Haidir, Lc

Istimroriyah artinya berkelanjutan atau bahasa kerennya adalah kontinyuitas. Dia adalah sebuah sikap yang menunjukkan upaya tak kenal henti dalam menekuni satu perbuatan, dalam bahasa kita dikenal istilah kontinyuitas.

Berbicara tentang sebuah cita-cita, harapan, dan keinginan-keinginan yang ingin digapai apalagi menyangkut perkara yang sangat berarti dalam kehidupan, maka istimroriyah mutlak disertakan. Tanpa itu, keinginan hanyalah sebatas keinginan, harapan tinggallah harapan.

Realita kehidupan sering memberikan pelajaran kepada kita bahwa keberhasilan seseorang –dalam berbagai bidangnya – lebih banyak disebabkan oleh keuletannya dan sikap pantang menyerah dalam menggeluti sebuah perbuatan dibanding potensi-potensi lainnya yang dia miliki. Karena sunnatullah dalam kehidupan ini adalah adanya proses sebelum terwujudnya sesuatu, semakin besar sesuatu tersebut, semakin panjang pula proses yang harus dilalui. Itu artinya semakin besar harapan kita, maka proses yang harus dilalui semakin panjang dan berat, di sinilah kita dapat memahami pentingnya istimroriyah.

Pada titik ini pula kita dapat memahami sabda Rasulullah saw,

أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ (متفق عليه)

“Amalan yang paling dicintai adalah yang kontinyu, meskipun sedikit.” (Muttafaq alaih)
Keinginan meraih sebuah harapan, baik urusan dunia maupun akhirat tanpa disertai istimroriyah bak pungguk merindukan bulan.

Dalam kontek dakwah, istimroriyah menjadi kata kunci tersendiri. Ciri bahwa sebuah gerakan dakwah itu sehat adalah adanya sifat istimroriyahnya. Kalau sekedar membangkitkan emosi seseorang untuk berjuang, gemas dengan berbagai bentuk kemungkaran, prihatin dengan berbagai kekurangan dan semacamnya, itu adalah perkara yang relatif mudah. Tetapi bagaimana menjaga stamina agar seseorang terus berada dalam track (jalur) dakwah, terus bergerak, berinovasi tanpa henti. Itulah yang sulit, padahal disitulah letak keberhasilan sebuah dakwah di sisi Allah Ta’ala yang pada akhirnya akan melahirkan keberhasilan yang riil di tengah masyarakat.

Hendaklah kita belajar dari para Nabi bagaimana mereka tak kenal henti berdakwah hingga kesempatan terakhir yang tersedia, betapapun halangan yang mereka dapatkan.

Dan… belajarlah kita dari orang yang paling kita cintai; Rasulullah j, tak kenal henti beliau berjuang, tertutup di sana beliau cari di sini, terhalang di sini beliau upayakan di sana, begitu seterusnya. Bahkan ketika ada tawaran dari malaikat untuk membinasakan kaumnya yang selalu menyakitinya dengan membalikkan gunung di atas mereka, dengan penuh kasih sayang beliau berkata,

بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Aku masih berharap bahwa nantinya akan lahir anak keturunan mereka yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukannya.” (Muttafaq alaih)

Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

 Sebarkan! Raih pahala…