Surat Cinta untuk Sahabat

📆Rabu, 16 Dzulhijjah 1436 / 30 Sept  2015

🌇 TADZKIRAH

📝 Pemateri: Ust. Noorahmat  Abu Mubarak  (@noorahmat)

📮
 
Sungguh….
Tiada manusia tanpa jiwa yang bersemayam didalam tubuhnya….
Bilakah jiwa tiada…maka tinggallah jasad tiada berdaya…
Tiada kuasa kita mengatur hingga kapan jiwa bersemayam…
Hanya Allah Ta’ala Rabb Penguasa Jiwa yang mampu menggenggam jiwa…
 
اللَّهُ يَتَوَفَّى الأَنفُسَ حينَ مَوتِها وَالَّتي لَم تَمُت في مَنامِها ۖ فَيُمسِكُ الَّتي قَضىٰ عَلَيهَا المَوتَ وَيُرسِلُ الأُخرىٰ إِلىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ في ذٰلِكَ لَآياتٍ لِقَومٍ يَتَفَكَّرونَ
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (QS Az Zumar 39:42)
 
💕Sahabat…
Dunia begitu melenakan…
Hidup kita tiada pernah luput dari khilaf…
Meski pintu taubat terbuka lebar….
Meski sadar bahwa Syurga tak terbayang indahnya…
Namun seringkali kita dilalaikan oleh indahnya dunia…

Pun tiada jarang kita menyandarkan pada kefanaan manusia…
Cenderung mencari aman dari pandangan manusia…
Namun melalaikan diri dari tatapan tajam Sang Penguasa Langit…
 
💕Sahabat…
Ketika kita lebih mencari simpati manusia…
Kemudian Ridho Rabb kita di kesampingkan…
Maka sadarkanlah…
Jasad ini bukanlah semata yang kelak menerima siksa atas maksiat itu…
Namun jiwa-pun kelak terpanggang di atas api yang bergolak tinggi menghitam…
 
قَد أَفلَحَ مَن زَكّاها۞ وَقَد خابَ مَن دَسّاها
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS Asy Syams 91:9-10)
 
💕Duhai sahabat…
Lalu bagaimanakah jiwa ini kembali tersucikan?
Bersedekahlah sahabatku….
Bersedekahlah dengan jiwa-mu…
Ingatlah pada apa yang pernah diperintahkan oleh Allah Al Aziz kepada Nabi kita tersayang…
 
يا أَيُّهَا النَّبِيُّ جاهِدِ الكُفّارَ وَالمُنافِقينَ وَاغلُظ عَلَيهِم ۚ وَمَأواهُم جَهَنَّمُ ۖ وَبِئسَ المَصيرُ
Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (QS At Taubah 9:73)
 
Tahukah mengapa kita perlu keras kepada mereka? Siapakah mereka? Apa kesalahan mereka?
 
يَحلِفونَ بِاللَّهِ ما قالوا وَلَقَد قالوا كَلِمَةَ الكُفرِ وَكَفَروا بَعدَ إِسلامِهِم وَهَمّوا بِما لَم يَنالوا ۚ وَما نَقَموا إِلّا أَن أَغناهُمُ اللَّهُ وَرَسولُهُ مِن فَضلِهِ ۚ فَإِن يَتوبوا يَكُ خَيرًا لَهُم ۖ وَإِن يَتَوَلَّوا يُعَذِّبهُمُ اللَّهُ عَذابًا أَليمًا فِي الدُّنيا وَالآخِرَةِ ۚ وَما لَهُم فِي الأَرضِ مِن وَلِيٍّ وَلا نَصيرٍ
Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (QS At Taubah 9:74)
 
وَمِنهُم مَن عاهَدَ اللَّهَ لَئِن آتانا مِن فَضلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكونَنَّ مِنَ الصّالِحينَ
Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. (QS At Taubah 9:75)
 
فَلَمّا آتاهُم مِن فَضلِهِ بَخِلوا بِهِ وَتَوَلَّوا وَهُم مُعرِضونَ
Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). (QS At Taubah 9:76)
 
فَأَعقَبَهُم نِفاقًا في قُلوبِهِم إِلىٰ يَومِ يَلقَونَهُ بِما أَخلَفُوا اللَّهَ ما وَعَدوهُ وَبِما كانوا يَكذِبونَ
Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta. (QS At Taubah 9:77)
 
أَلَم يَعلَموا أَنَّ اللَّهَ يَعلَمُ سِرَّهُم وَنَجواهُم وَأَنَّ اللَّهَ عَلّامُ الغُيوبِ
Tidaklah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib. (QS At Taubah 9:78)
 
الَّذينَ يَلمِزونَ المُطَّوِّعينَ مِنَ المُؤمِنينَ فِي الصَّدَقاتِ وَالَّذينَ لا يَجِدونَ إِلّا جُهدَهُم فَيَسخَرونَ مِنهُم ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنهُم وَلَهُم عَذابٌ أَليمٌ
(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih. (QS At Taubah 9:79)
Maka bersedekahlah sahabatku…

Bersedekah dengan harta-mu…waktu-mu…tenaga-mu…ilmu-mu…pikiran-mu…
Bahkan dengan sepenuh jiwa-mu…

Karena Allah Azza wa Jalla mencintai kita bilamana menyedekahkan harta kita demi kokohnya perjuangan menegakkan nilai-nilai Ilahiyyah dan Rabbaniyyah di muka bumi…
 
وَسَيُجَنَّبُهَا الأَتقَى۞ الَّذي يُؤتي مالَهُ يَتَزَكّىٰ۞ وَما لِأَحَدٍ عِندَهُ مِن نِعمَةٍ تُجزىٰ۞ إِلَّا ابتِغاءَ وَجهِ رَبِّهِ الأَعلىٰ
Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. (QS Al Lail 92:17-20)
 
Semoga Allah Ar Rahmaan memanggil jiwa kita….
Jiwa yang tersucikan karena rindu akan panggilan sayang Penguasa Semesta…
 
يا أَيَّتُهَا النَّفسُ المُطمَئِنَّةُ۞ ارجِعي إِلىٰ رَبِّكِ راضِيَةً مَرضِيَّةً۞ فَادخُلي في عِبادي۞وَادخُلي جَنَّتي
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku. (Qs Al Fajr 89:27-30)
 
Dan mempertemukan kita semua kembali di Syurga-Nya…
Berkumpul bersama junjungan kita Rasulullah SAW, bercengkerama di tepian telaganya…

Aamiin

🌿🌴🌿🌴

🌼Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 🌼

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

TERSINGGUNG

📆Rabu, 16 Dzulhijjah 1436 / 30 September 2015

🌇 MOTIVASI ISLAMI

📝 Pemateri: Ust. Abdullah Haidir Lc.

📜 TERSINGGUNG

Tersinggung acap menghampiri diri kita, beragam penyebab dan latar belakangnya, beragam pula ekspresi dan pelampiasannya.

Namun, ada yang nyaris tidak berbeda, tersinggung dapat membuat suasana hati menjadi keruh, bahkan kadang terluka.

Di sisi lain, tersinggung adalah merupakan kekhasan kita sebagai manusia yang Allah berikan perasaan lembut dan.

Maka, jangan merasa bangga kalau ada orang yang mengaku dirinya tidak pernah tersinggung. Justeru tersinggung merupakan penegasan dari eksistensi kepribadian seseorang. Apalagi ketika radius pergaulannya semakin luas, variatif dan beragam.

Jadi, yang dibutuhkan adalah bukan mematikan sifat ketersinggungan itu, akan tetapi bagaimana kita meminimalisir atau memperkecil tingkat ketersinggungan dalam diri kita, apalagi kalau urusannya hanya bersifat pribadi belaka.
Sebab, kalau hal itu kita biarkan tumbuh membesar dan liar dalam diri kita, akan banyak pintu-pintu kebaikan yang akan terhalang. 

Bahkan, justeru dalam kondisi tertentu, ketersinggungan dapat dikelola dengan sikap positif untuk meraih hal-hal yang positif, di antaranya:

💎 Tersinggung dapat menjadi kesempatan  melatih diri untuk berlapang dada.
Ketika ada hujatan, kritik, kata-kata yang memojokkan –terlepas itu benar atau tidak-, di sinilah sebenarnya kita diuji untuk mempraktekkan sikap lapang dada ini.

Bukankah Rasulullah saw pernah memberikan jaminan surga kepada seseorang yang ketika menjelang tidur, dia melepaskan segala sangkutan dalam hatinya kepada semua orang.

💎 Tersinggung, jika diarahkan dengan benar, akan melatih seseorang menjadi public relation bagi dirinya sendiri terhadap sikap yang dia ambil.

Munculnya sindiran dan prasangka seringkali merupakan buah dari ketidaktahuan terhadap latar belakang sebuah masalah. Nah, berlatihlah agar anda mampu menyampaikan sesuatu dengan jelas, urut, tidak apologi dan emosi sambil tetap mengakui kekurangan kalau memang ada. Setelah itu, rapihkan kembali kondisi hati.

💎 Tersinggung akan membuat seseorang dapat membedakan karakter setiap orang yang pastinya berbeda-beda.
Sehingga berikutnya setiap orang disikapi sesuai karakternya masing-masing, tanpa kesan dibuat-buat atau pura-pura. Karena tidak mungkin setiap orang dengan berbagai karakternya disikapi dengan sikap yang sama.

💎 Terakhir, tersinggung akan menyadarkan kita untuk tidak mudah melakukan tindakan dan perkataan yang dapat menyinggung perasaan orang lain.
Sebab kita telah merasakan sendiri, bagaimana ‘enaknya’ tersinggung itu.  Berlatihlah untuk peka membaca perasaan orang lain, jangan menunggu ‘disemprot’ untuk menyadari bahwa ada ucapan dan tindakan kita yang dapat menyinggung perasaan seseorang.

Kesimpulannya:
Kelolalah ketersinggungan dengan baik,  jangan mudah tersinggung dan jangan suka menyinggung.

“Ya Rabb Kami,
beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman;

Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Wallahu a’lam bishowab.

Semoga memberikan inspirasi.

🌿🌴🌿🌴

🌼Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 🌼

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Polemik Siapakah Manusia Pertama

Selasa, 15 Dzulhijjah 1436 / 29 September 2015

 HADITS

 Pemateri: Farid Nu’man Hasan

 Polemik Siapakah Manusia Pertama

✔Pertanyaan:

Apakah ada ayat alQuran atau hadits Nabi yg menyatakan bahwa Nabi Adam adalah manusia pertama yg diciptakan oleh Allah SWT?

☑Jawaban:

Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘Ala Rasulillah wa ba’d:

Ilmu pengetahuan modern sampai hari ini belum menyimpulkan apa-apa tentang asal-usul manusia, kecuali terjadinya diskontinuitas. Semua penemuan bagian tulang belulang, baik itu tengkorak, rahang, dan lainnya, tidak pernah utuh, hanya bagian-bagian kecil tertentu yang terpisah di tempat yang jauh, lalu di reka-reka dan rekonstruksikan sebagai manusia puba bernama A, B, C, dan seterusnya. Beragam teori tentang asal usul manusia sudah banyak yang mengemukakan, ada yang saling menguatkan, ada yang saling  menegasikan.  Tetapi, semua berujuang pada: ketidakpastian.

Sependek yang saya ketahui, tidak ada satu pun ahli yang benar-benar yakin bahwa temuan mereka, beserta teori yang mereka bangun, merupakan finalisasi perdebatan panjang tentang siapa manusia pertama yang pernah ada. Sebagai orang yang berakal, kita mengapresiasi segala jerih payah para ilmuwan untuk menguak misteri ini secara scientific. Semoga saja semua penemuan ini tidak berujung pada keputusasaan sehingga mengatakan keberadaan pencipta pun bisa diteorikan! Bagaimana mungkin bisa, padahal tentang asal usul dirinya saja mereka kebingungan?

Kemudian, di sisi lain, sebagai orang beriman, kita juga memiliki wahyu yang kebenarannya laa syakka wa laa rayba. Semuanya adalah haq dari Allah ﷻ,hukumnya haq, kisahnya haq, nasihatnya haq, tidak sedikit pun kesalahan baik atas, bawah, kanan, kiri, dan tengahnya.

Semuanya saling menguatkan dan menopang. Maka, ketika penemuan modern masih masuk dalam ranah zhanniyat (dugaan), belum keluar darinya sedikit pun, bahkan tidak ada clue (tanda) baru untuk keluar dari ranah itu, maka selama itu pula dia bukan pegangan, apalagi dijadikan  aqidah yang mencapai derajat ilmul yaqin.

Maka, ketika terjadi ketidakserasian antara keduanya, yang satu masih berputar pada teori, mencari-cari data, mengumpulkan bukti, lalu saling bantah dan koreksi, apa yang mereka  upayakan pun hanya menjadi konsumsi elitis sebagian ilmuwan dan kaum terpelajar, bahkan tidak pernah ada yang bisa memastikan kapan berakhirnya upaya ini …, sementara Al Quran sudah menceritakannya, dengan penceritaan yang tidak sekali, lalu menjadi keyakinan milyaran manusia, baik cerdik cendikia, maupun awamnya, maka apa yang Allah ﷻsampaikan melalui firmanNya lebih kita ikuti.

 Kita meyakini, dalam hal-hal yang pasti kebenarannya selamanya ayat suci tidak akan pernah berbenturan dengan teori modern yang haq, karena keduanya –pada hakikatnya- juga berasal dari ayat-ayatNya, yaitu ayat Qauliyah dan Kauniyah, keduanya berasal dari Allah ﷻ maka keduanya tidak mungkin dan tidak seharusnya berseberangan, justru saling mengkonfirmasi. Jika terjadi benturan keduanya, maka yang qath’i (pasti) lebih kita jadikan pedoman dibanding yang zhanni (dugaan). Justru yang zhanni itu mesti diarahkan kepada yang qath’i.

 Nabi Adam ‘Alaihissalam Dalam Al Quran

Taruhlah kita tidak dapatkan ayat dengan kalimat lugas (manthuq/tersurat) menyebut Nabi Adam ‘Alaihissalam adalah manusia pertama, yang mengharuskan ada kata “manusia pertama” dalam ayat tersebut. Kita tidak akan menemuinya. Tetapi secara mafhum (tersirat) kita banyak mendapatkannya. Mereka-mereka yang menolak atau meragukan Nabi Adam ‘Alaihissalam sebagai manusia pertama, sangat-sangat tekstualist, mereka mensyaratkan  mesti ada kata semisal “Adam adalah manusia pertama, “ atau “Aku ciptakan manusia pertama adalah Adam,” atau yang semakna dengan ini, yang tanpa perlu penjelasan lagi memang begitulah maknanya.

Sejenak kita perhatikan ayat-ayat berikut:

▶        Al Baqarah ayat 30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Mereka yang menolak meyakini Nabi Adam‘Alaihissalam sebagai manusia pertama memahami bahwa ayat ini menunjukkan ada orang lain sebelum Nabi Adam ‘Alaihisalam. Sebab, bagaimana para malaikat bisa tahu sebelum Nabi Adam sudah ada pertumpahan darah di muka bumi?  Pastilah sebelumnya sudah ada manusia lain.

Betulkah seperti itu? Betulkah sebelum Nabi Adam ‘Alaihissalam sudah ada manusia di muka bumi yang saling menumpahkan darah? Ataukah itu makhluk lain selain manusia?

Kita lihat penjelasan dari Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, imamnya para imam ahli tafsir, yang dijuluki Turjumanul Quran (penafsir Al Quran), Al Bahr (samudera), Hibru hadzihil ummah (tintanya umat ini), dan telah didoakan oleh Nabi ﷺ : “Ya Allah ajarkanlah dia ta’wil Al Quran, dan fahamkanlah dia ilmu agama.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 6287, katanya:shahih. Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 10587), dalam hadits lain: “Ya Allah ajarkanlah dia Al Kitab (Al Quran). (HR. Bukhari No. 75)

 Beliau berkata:

أنه كان في الأرض الجِنُّ , فأفسدوا فيها , سفكوا الدماء , فأُهْلِكوا , فَجُعِل آدم وذريته بدلهم

Bahwasanya dahulu di muka bumi ada jin, mereka membuat kerusakan di dalamnya, dan menumpahkan darah dan mereka pun binasa, lalu diciptakanlah Adam dan keturunannya untuk menggantikan mereka. (Imam Abul Hasan Al Mawardi, An Nukat wal ‘Uyun, 1/95. Lihat Imam Ibnu Jarir Ath Thabari, Jami’ul Bayan, 1/450)

Apa yang dikatakan oleh Abdullah bin  Abbas Radhiallahu ‘Anhuma ini sesuai dengan yang Allah ﷻfirmankan:

وَالْجَانَّ خَلَقْناهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نارِ السَّمُومِ

Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (QS. Al Hijr: 27)

Maka, keterangan Abdullah bin AbbasRadhiallahu ‘Anhuma, dan juga  ayat yang menyatakan bahwa Jin lebih dahulu diciptakan  sebelum Adam, merupakan koreksi yang menganulir pemahaman atau perkiraan  bahwa sudah ada manusia sebelum Nabi Adam ‘Alaihissalam.

Sementara, para pakar yang lain mengatakan bahwa pengetahuan para malaikat adanya kerusakan dan pertumbahan darah bukan karena sebelumnya sudah ada manusia, bukan pula karena jin, tetapi itu merupakan pengabaran masa yang akan datang setelah diciptakannya  Adam yang dilakukan oleh anak cucunya, baik itu merupakan terkaan malaikat terhadap yang ghaib, ada pula riwayat yang menyebutkan karena Allahﷻ juga telah mengabarkan itu kepada mereka. Bagi yang ingin memperluas masalah ini silahkan buka Tafsir Jami’ul Bayan-nya Imam Ibnu Jarir Ath Thabari Rahimahullah.

▶       Sebutan bagi manusia adalah “Bani Adam”

Al Quran dan As Sunnah menyebut manusia keseluruhan dengan Bani Adam (Keturunan Adam), atau jika satu orang disebut Ibnu Adam. Keduanya (baik Bani Adam dan Ibnu Adam) ada dalam teks-teks yang shahih lagi sharih (jelas). Penyebutan tersebut, secara mafhum muwafaqah  menjadikan Adam ‘Alaihissalam sebagai porosnya menunjukkan dialah yang pertama, bukan selainnya. Jika memang ada selainnya, tentunya Allah ﷻ tidak akan menyebut (semua) manusia Bani Adam, dan tidak mungkin Allah ﷻ salah sebut. Maha Suci Allah dari hal itu. Allah ﷻ juga menyebut Bani Israel, karena Israel (Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam) adalah yang awal bagi anaknya yang 12 orang dan menjadi suku-suku sendiri di kemudian hari, lalu mereka pun disebut Bani Israel, bukan bani-bani yang lainnya. Jikalau sebelum Nabi Adam ‘Alaihissalam sudah ada manusia, taruhlah namanya X atau jenis X, tentulah Bani X panggilannya.

Masalah ini begitu penting sampai-sampai menyita perhatian  milyaran manusia, bahkan ada disiplin ilmu khusus untuk mempelajarinya dan mereka menghabiskan usianya hanya untuk urusan ini. Apakah masalah sepenting ini luput begitu saja dari Al Quran? Ketika Al Quran telah membahasnya bahwa jenis “manusia”  adalah Bani Adam, maka itulah finalnya dari masalah penting ini, dan itulah jawaban dan perhatian Al Quran terhadap misteri ini.

Tenanglah jadinya hati kita bahwa Adam ‘Alaihissalam memang manusia pertama sebagaimana tersirat dalam beberapa ayat Al Quran.  

Terakhir, ada baiknya kita renungkan perkataan bagus berikut ini. Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah mengatakan:

وقد يتناول كل من النظر الشرعي والنظر العقلي ما لا يدخل في دائرة الآخر , ولكنهما لن يختلفا في القطعي , فلن تصطدم حقيقة علمية صحيحة بقاعدة شرعية ثابتة ، ويؤول الظني منهما ليتفق مع القطعي , فإن كانا ظنيين فالنظر الشرعي أولى بالإتباع حتى يثبت العقلي أو ينهار .

 Pandangan teori agama dan pandangan akal masing-masing punya domain, dan  tidak boleh dicampuradukkan, keduanya tidak akan pernah berselisih dalam masalah yang pasti kebenarannya. Maka, selamanya hakikat teori ilmiah yang shahih tidak akan bertentangan dengan kaidah syar’i  yang pasti. Jika salah satu di antara keduanya ada yang bersifat zhanni, dan yang lainnya adalah qath’i maka yang zhanni mesti ditarik agar sesuai dengan yang qath’i, jika keduanya sama-sama zhanni maka pandangan agama lebih utama diikuti, sehingga akal mendapatkan legalitasnya atau gugur sama sekali.  (Ushul ‘Isyrin, No. 19)

Wallahu A’lam



Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

 Sebarkan! Raih pahala…

Lima Langkah Membangun Karakter Anak (part 1 of 2)

📆Selasa, 15 Dzulhijjah 1436 / 29 September 2015
🌅 TARBIYATUL AULAD
📝 Pemateri: Ust. Ayah  (Irwan) Rinaldi

📜 Lima Langkah Membangun Karakter Anak
(part 1 of 2)

Orang tua membaca laporan perilaku Anto dari gurunya. Orang tua menggeleng-gelengkan kepalanya. Ini adalah laporan ke tiga dari perilakunya yang sering memberi komentar negatif kepada temannya.

“Anto kamu sebaiknya tidak mengatakan hal yang negatif kepada temanmu,” si orang tua mengingatkannya.
“Kamu perlu belajar untuk menghormati temanmu,” lanjut ibunya.
“Aku sudah mencoba bu,” Anto menjawab dengan sedih. “Saya tidak tahu bagaimana cara menghormati teman.”

Banyak orang tua yang menyatakan kecemasannya: terlalu banyak anak yang tidak memahami ciri-ciri karakter anak tangguh.

Hasilnya, banyak anak yang gagal memiliki karakter yang menjadi dasar kesuksesan kehidupannya di masa yang akan datang.

Banyak psikolog mengatakan bahwa cara terbaik bagi anak untuk belajar karakter anak tangguh adalah dengan melihat orang lain melakukannya dengan baik.
Coba perhatikan beberapa kejadian yang dapat dilihat anak-anak di TV –
saat pertandingan bola, ada beberapa pemain bola yang menunjukkan sikap yang kurang baik misalnya meludahi wasit, atau saat acara-acara yang banyak sekali sikap membully – mentertawakan orang lain.

Kemudian, berita di koran yang menceritakan tentang guru yang memberikan contekan jawaban saat UN kepada anak didiknya. Jadi pertanyaannya,
“kepada siapa anak-anak dapat belajar tentang karakter anak tangguh dan memiliki karakter tersebut?”
Jawabannya memang membingungkan.

Ketiadaan atau berkurangnya orang dewasa yang menjadi model akhlak baik memang bukan satu-satunya alasan tentang perkembangan karakter anak di Indonesia.

Dr. Thomas Lickona, pengarang buku Character Matter, menunjukkan adanya peningkatan perilaku remaja bermasalah di masyarakat yang menunjukkan menurunnya moral remaja: kekerasan dan vandalisme (sifat suka merusak), mencuri, curang, tidak menghargai orang lain atau tokoh otoriter, kekejaman sesama remaja, sikap fanatik, penggunaan bahasa buruk, ketertarikan terhadap seks yang lebih cepat dan juga bersikap kasar, meningkatnya egoisme dan menurunnya tanggung jawab sebagai warga negara, dan perilaku merusak diri sendiri.

Ini adalah alasan lain mengapa kebanyakan anak tidak memiliki akhlak yang baik.

👪 Mercu Suar Harapan Terakhir

Fakta bahwa mungkin sekali sekolah adalah satu-satunya harapan atau harapan terakhir bagi anak.
Dimana lagi kira-kira mereka mendapatkan kesempatan untuk memahami nilai-nilai karakter seperti tanggung jawab atau peduli atau menghormati orang lain atau kerjasama?

Dimana kira-kira mereka mendapat kesempatan untuk melihat seseorang yang menjadi teladan karakter yang pas?

Dimana lagi kecuali dari seorang orang tua yang peduli dan memiliki komitmen yang dapat memberikan kesempatan untuk belajar tentang ciri-ciri anak yang tangguh? 

Lalu, bagaimana caranya kita dapat membantu anak untuk mengembangkan karakter tangguh?

Jawabannya: ciri karakter tidak tumbuh secara alami tapi DAPAT DIPELAJARI ; karena itu kita dapat MELATIHnya.

Artinya bahwa pendidik memiliki kekuatan yang luar biasa untuk dapat melatihnya. Tapi membangun karakter anak membutuhkan beberapa langkah.

👪 Langkah Pertama untuk Melatih Ciri Karakter pada Anak

Karakter apa saja yang akan anda ajarakan – ketekunan, keyakinan diri, empati, tanggung jawab, menghormati orang lain, peduli, atau karakter lain – paling tidak ada lima langkah minimum yang harus dilakukan.
Langkah-langkah ini dapat diintegrasikan pada pelajaran, tapi setiap langkah perlu dilakukan dengan tepat karena dapat membantu anak untuk dapat mengembangkan karakter tangguh.

Lima langkahnya adalah:

👪 Langkah 1. Menonjolkan Ciri Satu Karakter.

Langkah awal untuk mengajarkan satu ciri karakter baru kepada anak adalah cukup dengan menonjolkan karakter tersebut.
Ada 4 cara sederhana untuk menonjolkan ciri satu karakter:

💎 Poster Karakter

Minta anak untuk membuat poster ciri karakter.

Tempelkan poster di mana saja paling tidak selama satu bulan:
“Tanggung jawab artinya saya harus melakukan apa saja  dengan baik serta benar untuk aku dan orang lain dan aku dapat diandalkan.”
Minta anak untuk membuat poster tentang ciri satu karakter yang sedang berlaku pada bulan tersebut.

💎 Asembli Karakter

Hal ini dapat dilakukan oleh orang tua atau anak. Orang tua atau anak dapat melakukan lakon pendek tapi dapat memberikan inspirasi     tentang ciri karakter yang sedang dipelajari. 

💎 Screen savers

Setiap hari setiap staf atau orang tua atau anak menulis di screen saver di komputer atau dapat juga membuat banner yang bertuliskan pentingnya memiliki karakter tertentu.

Setiap kali staf, orang tua, atau anak membuka komputer maka yang mereka lihat pertama kali di layar adalah kata-kata yang menunjukkan pentingnya memiliki karekter tersebut atau sejauh mata memandang sekitar sekolah melihat tulisan tersebut.

“Bulan ini adalah bulan ketekunan. Ingatlah untuk selalu mengerjakan yang terbaik dan jangan menyerah.”

💎 Pengumuman untuk Anak dan Ortu

Orang tua-orang tua banyak juga melakukan pembicaraan di pagi hari dengan menggambarkan beberapa cara yang dapat dilakukan anak untuk menunjukkan karakter tertentu. Demikian juga orang tua dapat berkirim surat kepada ortu tentang karakter yang sedang di latih pada bulan tersebut.

👪 Langkah 2. Menjelaskan Nilai dan Arti Karakter.

Langkah kedua dalam melatih ciri karakter adalah menjelaskan kepada anak apa arti ciri karakter tersebut dan mengapa penting untuk mempelajarinya.
Jelaskan ciri-ciri dalam konteks tahap perkembangannya; jangan pernah berasumsi bahwa anak sudah tahu. Kebanyakan anak tidak tahu.

Cara untuk mendefinisikan karakter dapat melakukan beberapa cara di bawah ini:

💎 Literatur Karakter

Pilihlah buku yang di dalamnya dibahas tentang karakter yang sedang diperkenalkan, saat anak membacakannya, tanyanya: “bagaimana tokoh dalam buku ini menunjukkan ciri-ciri dari karakter ketekunan? Bagaimana perasaan orang lain saat tokoh menjalankan ciri karakter ketekunan?

💎 Artikel Baru

Mintalah anak untuk mengumpulkan tulisan atau artikel terbaru tentang orang-orang di Indonesia yang melakukan satu karakter tertentu. Orang tua dapat memulai belajar dengan mengulang sedikit tentang kejadian nyata dimana satu karakter dipraktekkan untuk menunjukkan kepada anak pentingnya karakter tersebut dimiliki. 

💎 Memberi nama ciri-ciri karakter

Setiap kali orang tua melihat atau mendengar anak menunjukkan ciri-ciri karakter yang sedang ditargetkan, ambil waktu untuk menunjukkan secara spesifik apa yang telah dilakukan anak yang menunjukkan ciri target karakter.
“Azzam, yang baru kamu lakukan ini  adalah sikap menghormati karena kamu telah dengan sabar menunggu saya selesai berbicara dengan temanmu sebelum kamu berbicara dengan saya.”

💎 Berbagi perasaan anda.

Anak perlu mendengar mengapa anda berpikir bahwa karakter itu penting. Jika anda mentargetkan menghormati orang lain, anda dapat mengatakan kepada anak bagaimana pentingnya seseorang harus merubah dirinya karena  membicarakan hal negatif tentang diri sendiri atau orang lain.

💎 Anak sebagai reporter

Minta anak untuk mencari demonstrasi dari target karakter yang dilakukan oleh temannya di sekolah.

Tugas anak adalah melaporkan kepada kelas siapa yang sudah mulai menunjukkan perilaku yang menggambarkan target karakter, dan dampaknya pada perilaku anak kepada orang lain. 

(Bersambung – Langkah 3 s/d 5, insya Allah)

Wallahu a’lam bishowab.
Semoga memberikan inspirasi.

🌿🌴🌿🌴

🌼Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 🌼

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Apakah Makhluk Pertama Kali Yang Allah ﷻ Ciptakan?

Senin, 14 Dzulhijjah 1436 / 28 September 2015

 AL-QURAN  DAN TAFSIR

 Pemateri: Farid Nu’man Hasan

 Apakah Makhluk Pertama Kali Yang Allah ﷻ Ciptakan?

Para ulama berbeda pendapat tetang hal ini:

Pertama. Mereka yang mengatakan Qalam adalah makhluk pertama yang Allah ﷻ ciptakan sebelum seluruh makhluk lainnya. Inilah pendapat Imam Ibnu Jarir, Imam Ibnul Jauzi, dan selainnya. Imam Ibnu Jarir mengatakan setelah itu Allah ﷻ menciptakan awan tipis. (Imam Ibnu Katsir, Al Bidayah wan Nihayah, 1/9)

 Dalilnya adalah dari ‘Ubadah bin Ash Shamit Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إن أول ما خلق الله القلم

Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah Al Qalam. (HR. At Tirmidzi No. 3319, katanya:hasan shahih. Abu Daud No. 4700, Ahmad No. 22705. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 22705)

 Kedua. Mereka yang mengatakan ‘Arsy adalah makhluk pertama yang Allah ﷻ ciptakan sebelum yang lainnya. Inilah pendapat mayoritas ulama, seperti yang dinukilkan Al Hafizh Abul ‘Ala Al Hamdani dan lainnya. (Al Bidayah wan Nihayah, Ibid)

 Dalilnya adalah dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

Allah ﷻ menuliskan takdir-takdir bagi makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi sejauh 50.000 tahun. Beliau bersabda: ‘Arsy-Nya di atas air. (HR. Muslim No. 2653)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

وقد دل هذا الحديث أن ذلك بعد خلق العرش فثبت تقديم العرش على القلم الذي كتب به المقادير كما ذهب إلى ذلك الجماهير. ويحمل حديث القلم على أنه أول المخلوقات من هذا العالم.

Hadits ini menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi setelah penciptaan ‘Arsy, maka telah shahih bahwa ‘Arys lebih dahulu dari pada Qalam, yang dengannya dituliskan takdir-takdir sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Ada pun hadits tentang Qalam, mereka menafsirkan bahwa Qalam adalah makhluk pertama di jagat raya (bukan makhluk yang pertama kali  diciptakan, pen). (Al Bidayah wan Nihayah, ibid)

Imam Ibnu Jarir menolak pendapat ini dengan beberapa riwayat yang dia jadikan hujjah. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

قال ابن جرير وقال آخرون ” بل خلق الله عزوجل الماء قبل العرش ” رواه السدي عن أبي مالك وعن أبي صالح عن ابن عباس وعن مرة عن ابن مسعود وعن ناس من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم: قالوا ” ان الله كان عرشه على الماء (1)، ولم يخلق شيئا غير ما خلق قبل الماء ” وحكى ابن جرير عن محمد بن اسحاق أنه قال ” أول ما خلق الله عزوجل النور والظلمة ثم ميز بينهما فجعل الظلمة ليلا أسود مظلما، وجعل النور نهارا مضيئا مبصرا ” قال ابن جرير وقد قيل: ” إن الذي خلق ربنا بعد القلم الكرسي. ثم خلق بعد الكرسي العرش، ثم خلق بعد ذلك الهواء والظلمة. ثم خلق الماء فوضع عرشه على الماء ” والله سبحانه وتعالى أعلم.

 Ibnu Jarir dan lainnya mengatakan: “Bahkan Allah telah menciptakan air sebelum ‘Arsy.” As Suddi meriwayatkan dari Abu Malik, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dan dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dari manusia para sahabat Nabi ﷺ, mereka mengatakan: “Sesungghnya ‘ArsyNya ada di atas air, dan Dia belum menciptakan apa pun selain apa yang Dia ciptakan sebelum air.” Ibnu Jarir menceritakan dari Muhammad bin Ishaq, dia berkata: “Yang pertama kali Allah ﷻ ciptakan adalah cahaya dan kegelapan, lalu  Allah memisahkan keduanya sehingga dijadikanNya kegelapan itu di malam hari dan dijadikannya cahaya itu siang hari yang terang benderang. Berkata Ibnu Jarir: telah dikatakan: “Sesungguhnya yang diciptakan Rabb kami setelah Qalam adalah Kursiy, lalu setelah Kursiy adalah ‘Arsy, lalu setelah itu udara dan kegelapan, lalu diciptakan air maka diletakan ‘ArsyNya di atas air.” Wallahu A’lam (Al Bidayah, 1/10) Tapi, riwayat-riwayat ini tidak dijelaskan keshahihannya oleh Imam Ibnu Jarir.

Ketiga. Pendapat yang mengatakan bahwa yang pertama kali Allah ﷻ ciptakan adalah “Nur Muhammad.” Pendapat ini dianut oleh golongan sufi.

Dalilnya, dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

أول ما خلقت نور نبيك يا جابر

“Pertama kali yang diciptakan adalah Nur Nabimu wahai Jabir!” (HR. Abdurazzaq, lihat Al ‘Ajluni dalam Kasyful Khafa, 1/302)

Bahkan golongan ini meyakini bahwa Nur Muhammad diciptakan sebelum Lauh Mahfuzh, Qalam, surga, neraka, malaikat, langit, bumi, matahari, bulan, jin dan manusia. (Ibid)

Namun pendapat ini ditentang secara keras, dan dituding sebagai pendapat yang  menyimpang, karena dasarnya adalah riwayat yang palsu. Berikut ini keterangannya:

وهذا حديث موضوع مكذوب لا قيمة له، فنحن نسمع الناس في هذا الوقت يقولون: يا أول خلق الله! ويا نور عرش الله! فما هو الفرق بين هذا القول وبين قول النصارى: عيسى ابن الله؟ هذا ضلال وذاك ضلال.

Hadits ini palsu dan dusta, tidak ada nilainya. Kami mendengar orang-orang sekarang  mengatakan: Wahai makhluk Allah yang pertama! Wahai cahaya ‘Arsynya Allah! Maka, apa bedanya perkataan ini dengan perkataan orang Nasrani: “Isa adalah anak Allah?” Ini sesat yang itu juga sesat. (Syaikh Hasan Abul Asybal Az Zuhri Al Mishri, Syarh Shahih Muslim, 13/97)

Sementara Syaikh Al Albani menyebut ini sebagai min abthalil baathil (di antara kebatilan yang paling batil). (Mausu’ah Al Albani fil ‘Aqidah, 3/816)

Manakah yang lebih shahih? Al Hafizh Abul ‘Ala Al Hamdani  Rahimahullah  mengatakan  pendapat yang paling shahih adalah yang mengatakan ‘Arsy sebagai makhluk pertama yang Allah ﷻ ciptakan. (Al ‘Ajluni, Kasyful Khafa, 1/302). Dan, inilah pendapat mayoritas ulama.

Wallahu A’lam



Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

 Sebarkan! Raih pahala…

FIQHUD DA’WAH (Bag. 2)

Da’wah dan Harakah
Senin, 14 Dzulhijjah 1436 / 28 September 2015

Farid Nu’man Hasan, SS

 FIQHUD DA’WAH (Bag. 2)

 Keutamaan-Keutamaan Da’wah

Berbahagialah Para Da’i limpahan fadhilah menanti Anda …

1⃣ Melanjutkan tugas dan perjuangan para Nabi dan Rasul ‘alaihimissalam

Ini kemuliaan yang luar biasa. Para da’i menjadi pelanjut estafeta perjuangan para Nabi dan Rasul. Mengajak manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya Islam, dari kesyirikan menuju tauhid, dari maksiat menuju taat, dari kemunafikan dan kekufuran  menuju iman.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. AN Nahl: 36)

Setiap umat ada Rasul yang diutusNya, dan para rasul itu sejak Adam ‘Alaihissalam sampai Nabi Muhammad ﷺ adalah bersaudara, dan agama mereka sama. Sedangkan pasca wafat Rasulullah ﷺ tidak ada lagi Nabi dan Rasul setelahnya. Maka, para da’i melanjutkan perjuangan mereka, sejak masa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan seterusnya.

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108)

Dari Abu Hurairah
Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ
Para nabi itu bersaudara ayah mereka satu sedangkan ibu-ibu mereka berbeda, dan agama mereka satu (yaitu agama tauhid, Islam). (HR. Al Bukhari No. 3443, Muslim No. 2365)

2⃣ Allah ﷻ dan seluruh makhluk bershalawat kepada para penyeru kebaikan

Abu Umamah Al Bahili Radhiallahu ‘Anhu berkata, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ

Sesungguhnya Allah, para malaikatNya, penduduk langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan di lautan, mereka bershalawat kepada orang yang mengajarkan manusia pada kebaikan. (HR. At Tirmidzi No. 2685, katanya: hasan shahih. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 7912)

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud “shalawat” dalam hadits ini adalah doa dan istighfar. (Imam Ibnu Abdil Bar, Jami’ Bayan, 1/174)

Jadi, semua makhluk mendoakan dan memintakan ampunan buat para penyeru dan pengajar kebaikan.
Sedangkan, kata Imam Al Munawi Rahimahullah, makna “shalawat” dari Allah ﷻ adalah rahmat (kasih sayang). (Imam Al Munawi, Faidhul Qadir, 4/432)

3⃣ Jika manusia dapat hidayah karena perantara seorang da’i maka itu lebih mahal dari Unta Merah

Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ berkata kepada Ali Radhiallahu ‘Anhu:

فَوَاللَّهِ لَأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Demi Allah, Seseorang mendapatkan hidayah karena kamu, maka itu lebih baik bagimu dibandingkan Unta Merah. (HR. Al Bukhari No. 2942, Muslim No. 2406)

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah menjelaskan bahwa bagi orang-orang Arab saat itu tidak ada warna Unta yang lebih baik dibandingkan merah. (Imam Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 24/116)

Syaikh Mushthafa Al Bugha dalam Ta’liqnya terhadap Shahih Al Bukhari mengatakan bahwa Humrun Na’am yaitu Unta Merah, pada masa Arab dahulu dia adalah harta yang paling disukai dan dikagumi.

Sementara Abu Bakar Al Anbari mengatakan digunakannya Unta Merah di sini, karena posisinya yang mulia dan tinggi. (Imam Ibnu Baththal, Syarh Shahih Al Bukhari, 5/166)

4⃣ Mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang mengikuti kebaikan yang diajarkannya

Dari Abu Mas’ud Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barang siapa yang menunjukkan jalan kebaikan maka dia mendapatkan ganjaran yang sama dengan orang yang melakukan kebaikan itu. (HR. Muslim No. 1893)

Imam An Nawawi Rahimahullah menerangkan:

فيه فضيلة الدلالة على الخير والتنبيه عليه والمساعدة لفاعله وفيه فضيلة تعليم العلم ووظائف العبادات

Dalam hadits ini terdapat keutamaan memberikan petunjuk pada kebaikan dan memberikan peringatan atas hal itu, serta membantu orang yang melakukannya. Juga keutamaan mengajarkan ilmu dan agenda-agenda peribadatan. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 13/39)

Bahkan akan menjadi pahala yang tidak putus-putus jika ajakan kebaikannya dilakukan oleh banyak orang dari masa ke masa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ  ….
“Barangsiapa dalam Islam melakukan kebiasaan baik, maka tercatat baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka yang mengikutinya….”   (HR. Muslim, No. 1017, At Tirmidzi No. 2675, An Nasa’i No. 2554, Ibnu Majah No. 203)

5⃣ Sarana Menuju Khairu Ummah (Umat Terbaik)

Allah ﷻ berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kalian adalah umat yang terbaik dikeluarkan untuk manusia, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali ‘Imran: 110)

Siapakah umat terbaik dalam ayat ini? Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan: “Mereka adalah para sahabat nabi yang berhijrah bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari Mekkah ke Madinah.” (Musnad Ahmad No. 2463. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: hasan. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 6164, katanya: shahih. Disepakati Adz DZahabi)

Namun, walau ayat ini secara khusus membicarakan kedudukan kaum muhajirin, namun  Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

وَالصَّحِيحُ أَنَّ هَذِهِ الْآيَةَ عامةٌ فِي جَمِيعِ الْأُمَّةِ، كُلُّ قَرْن بِحَسْبِهِ، وَخَيْرُ قُرُونِهِمُ الَّذِينَ بُعثَ فِيهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلونهم، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Yang benar adalah ayat ini berlaku secara umum bagi semua umat ini (Islam), setiap masing-masing zaman, dan sebaik-baik zaman mereka adalah manusia yang ketika itu pada mereka diutus Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang mengikuti mereka. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/94)

Demikianlah generasi sahabat, dan kita pun bisa menjadi khairu ummah sebagaimana mereka jika sudah memenuhi syarat-syarat seperti mereka, yaitu menjalankan amar ma’ruf, nahi munkar, dan beriman kepada Allah ﷻ. Imam Ibnu Jarir, meriwayatkan dari Qatadah,  bahwa Umar Radhiallahu ‘Anhu berkhutbah ketika haji:

مَنْ سَرَّه أَنْ يَكُونَ مِنْ تِلْكَ الْأُمَّةِ فَلْيؤدّ شَرْط اللَّهِ فِيهَا

Barang siapa yang ingin menjadi seperti umat tersebut maka penuhilah syarat yang Allah tentukan dalam ayat itu. (Tafsir Ath Thabari, 7/102)

6⃣ Sarana Untuk Menghindar Dari Azab Allah ﷻ

Allah ﷻ berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقابِ

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya. (QS. Al Anfal: 25)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ akan memberikan siksaan yang merata, bukan hanya menimpa orang-orang zalim saja. Orang-orang baik juga akan merasakannya. Ini terjadi ketika mereka meninggalkan da’wah dan amar ma’ruf nahi munkar, karena sikap diamnya mereka membuat kezaliman merajalela. Akhirnya, layaklah jika orang-orang shalih pun kena dampak keburukannya.

Al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

يحذر تعالى عباده المؤمنين {فتنة} أي: اختبارا ومحنة، يعم بها المسيء وغيره، لا يخص بها أهل المعاصي ولا من باشر الذنب، بل يعمهما، حيث لم تدفع وترفع.

“Allah ﷻ memperingatkan hamba-hambaNya orang beriman dengan adanya fitnah, yaitu ujian dan cobaan yang ditimpakan secara umum baik orang jahat dan selainnya, tidak dikhususkan bagi pelaku maksiat dan orang berdosa saja, tapi ditimpakan merata, ketika mereka tidak mencegah dan menghilangkannya (kemungkaran).” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 4/37)

Wallahu A’lam



Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

 Sebarkan! Raih pahala…

Tema Sentral Surah Al Fatihah

Tasfir Al Quran
 Senin, 28 September 2015

Tema Sentral Surah Al Fatihah

 by Ustadz Ahmad Sahal, Lc

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

Tema sentral surat Al-Fatihah adalah:
تَحْقِيْقُ العُبُودِيَّةِ للهِ وَحْدَهُ
Realisasi penghambaan hanya kepada Allah semata.
Karena ia adalah tujuan agung dan utama penciptaan manusia dan jin, maka amat sesuai jika surat teragung di dalam Al-Quran memiliki tema sentral ini.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu (Adz-Dzariyat: 56)
Sub Tema
Dari tema sentral tersebut, surat Al-Fatihah dapat kita bagi menjadi tiga sub tema:
1- مَعْرِفَةُ اللهِ تَعَالَى الْمَعْبُودِ الْحَقِّ
2- طَرِيْقُ الْعِبَادَةِ الصَّحِيْحَةِ
3- بَيَانُ السَّالِكِيْنَ فِي طَرِيْقِ العِبَادَةِ الصَّحِيْحَةِ وَ الْمُنْحَرِفِينَ عَنْهُ
1. Pengenalan terhadap Allah ta’ala al-ma’bud (yang berhak diibadahi) dengan sebenarnya
2. Jalan ibadah yang benar
3. Penjelasan tentang salikin (orang-orang yang menempuh) jalan ibadah yang benar dan munharifin (orang-orang yang menyimpang) darinya.
Sub Tema 1: Pengenalan terhadap Allah Al-Ma’bud Al-Haq
Untuk merealisasikan penghambaan yang benar kepada Allah subhanahu wata’ala, maka yang pertama diperlukan adalah mengenal Allah, satu-satunya Dzat yang berhak diberikan segala bentuk ibadah. Ayat 1 sampai ayat 4 mengajak kita untuk mengenal-Nya.
Ayat 1
Aku atau kami memulai segala sesuatu yang baik dengan nama Allah ta’ala, satu-satunya yang berhak diibadahi, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Sayid Quthb berkata:
والبدء باسم الله هو الأدب الذي أوحى الله لنبيه- صلى الله عليه وسلم- في أول ما نزل من القرآن باتفاق، وهو قوله تعالى: «اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ … » .. وهو الذي يتفق مع قاعدة التصور الإسلامي الكبرى من أن الله «هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْباطِنُ» .. فهو- سبحانه- الموجود الحق الذي يستمد منه كلُّ موجود وجودَه، ويبدأ منه كل مبدوء بدأه. فباسمه إذن يكون كل ابتداء. وباسمه إذن تكون كل حركة وكل اتجاه.
Memulai dengan nama Allah adalah adab yang diwahyukan Allah kepada NabiNya – shallallahu ‘alaihi wasallam – di awal turunnya Al-Quran yang disepakati oleh para ulama yakni firman Allah: “Bacalah dengan nama Rabb-mu …” Dan ia sesuai dengan kaidah pemahaman keislaman yang agung bahwa sesungguhnya Allah “Dialah yang Awal, yang Akhir, yang Zhahir dan yang Bathin..” Dialah subhanahu wa ta’ala yang wujud dengan keberadaan yang haq dimana semua yang wujud bersumber dariNya. DariNya pula semua yang dimulai berawal, sehingga dengan namaNyalah hendaknya semua permulaan itu dilakukan, dan dengan namaNya pula hendaknya setiap gerakan dan orientasi (yang baik) diwujudkan. (Fi Zhilal Al-Quran, 1/21).
Ayat 2
Al-hamdu (segala puji) merupakan pembuka ungkapan syukur kepada Allah, oleh karenanya pantas ia dijadikan pembuka tilawah kitabNya. Al-hamdu juga penutup ungkapan syukur, sehingga ia juga menjadi penutup ucapan para penduduk surga:
وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Dan penutup doa mereka ialah: “Alhamdulilaahi Rabbil ´aalamin” (Yunus: 10)
Saat Allah menegaskan bahwa segala puji hanya milikNya, Ia menjelaskan alasannya yakni karena Dia adalah Rabb alam semesta, artinya bahwa hanya Allah saja yang memiliki, menciptakan, mengatur, memberi ni’mat kepada mereka dan yang sempurna kekayaanNya sedangkan seluruh alam semesta amat terrgantung kepadaNya.
Ayat 3
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Setelah Allah memperkenalkan diriNya bahwa ia adalah Rabbul ‘alamin, Ia memperkenalkan juga bahwa Ia adalah Ar-Rahman Ar-Rahim untuk menjelaskan bahwa kekuasaanNya atas seluruh alam semesta, penciptaan, pengaturan dan pemberian rizkiNya didasari semata oleh kasih sayangNya kepada mereka, bukan karena Dia menghendaki manfaat dari mereka untuk diriNya. Mahasuci Allah dari segala sifat kekurangan.
Oleh karenanya Dia berfirman di ayat yang lain:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (Adz-Dzariyat: 56-58).
Selain itu, Al-Qurthubi berkata:
وَصَفَ نَفْسَهُ تَعَالَى بَعْدَ” رَبِّ الْعالَمِينَ”، بِأَنَّهُ “الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ”، لِأَنَّهُ لَمَّا كَانَ فِي اتِّصَافِهِ بـِ” رَبِّ الْعالَمِينَ” تَرْهِيبٌ قَرَنَهُ بِـ” الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ”، لِمَا تَضَمَّنَ مِنَ التَّرْغِيبِ، لِيَجْمَعَ فِي صِفَاتِهِ بَيْنَ الرَّهْبَةِ مِنْهُ، وَالرَّغْبَةِ إِلَيْهِ، فَيَكُونُ أَعْوَنَ عَلَى طَاعَتِهِ وَأَمْنَعَ، كَمَا قَالَ:” نَبِّئْ عِبادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذابِي هُوَ الْعَذابُ الْأَلِيمُ”.
Allah menerangkan tentang diriNya setelah “Rabbul ‘alamin” bahwa sesungguhnya Dia adalah Ar-Rahman Ar-Rahim, karena pada sifatNya sebagai Rabbul alamin terdapat tarhib (penanaman rasa gentar), maka Dia menyandingkan dengan sifat Rahman & Rahim yang mengandung targhib (penumbuhan rasa harap), agar bergabung dalam sifat-sifatNya rasa gentar hamba terhadapNya dan rasa harap kepadaNya sekaligus, sehingga akan lebih membantu ketaatan kepadaNya dan lebih mencegah dari bermaksiat kepadaNya, seperti firmanNya:
Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih. (Al-Hijr: 49-50). (Tafsir Al-Qurthubi, 1/139).
Ayat 4
Pemilik (Raja) hari pembalasan
Jika sifat Rabbul ‘Alamin secara lahiriah menunjukkan permulaan penciptaan makhluk dan proses pemeliharaan mereka, maka sifat “Pemilik (Raja) hari pembalasan” menunjukkan akhir seluruh makhluk dan pengadilan dan pembalasan atas amal perbuatan mereka. Disamping itu ia menunjukkan kekuasaan dan kepemilikanNya yang tak terbatas oleh tempat dan waktu, bahwa Dia adalah satu-satunya Penguasa dan Pemilik di awal dan akhir, di alam dunia dan akhirat, tak ada sekutu bagiNya.
Ayat ini juga untuk menegaskan bahwa kasih sayangNya kepada hambaNya jangan sampai membuat lupa mereka tentang mentalitas masuliyyah (bertanggung jawab) atas segala pilihan keyakinan & perbuatan mereka di dunia. Juga untuk mengingatkan mereka bahwa jika perbuatan mereka tidak dibalas dengan semestinya di dunia karena kezaliman atau ketidakadilan manusia yang berkuasa, masih ada keadilan hakiki di akhirat kelak yang tak ada satupun yang luput darinya.
… وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا (47) وَعُرِضُوا عَلَى رَبِّكَ صَفًّا لَقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ بَلْ زَعَمْتُمْ أَلَّنْ نَجْعَلَ لَكُمْ مَوْعِدًا (48) وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَاوَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا (49)
dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka. Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama; bahkan kamu mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian. Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.” (Al-Kahfi: 47-49).

Sub Tema 2: Jalan ibadah yang benar

Barangsiapa yang mengenal Allah dengan sifat-sifat seperti dijelaskan oleh ayat 1 sampai ayat 4, maka akal sehat dan kejernihan hatinya pasti akan mengantarkannya kepada satu kesimpulan yang pasti bahwa hanya Dialah yang berhak untuk diibadahi (tauhid & ikhlas). Namun untuk memastikan bahwa kita beribadah dengan benar kita memerlukan petunjuk dari Allah tentang jalan ibadah itu sendiri berupa tata cara dan contoh yang diberikan oleh mereka yang sebelumnya telah mendapat petunjuk itu.
Bersambung …

 Dipersembahkan oleh group WA – MANIS (Majelis Iman Islam)

 Twitter : @groupMANIS
 Blog : www.Groupmanis.blogspot.com

Sebarkan raih pahala!

Fiqih Dakwah (Bag. 1)

Da’wah dan Harakah
Ahad, 13 Dzulhijjah 1436 / 27 September 2015

Fiqih Da’wah (bag.1)

Farid Nu’man Hasan, SS

 Definisi

✔Secara bahasa Ad Da’wah – الدعوة adalah:

◀    النداء :
seruan, panggilan
◀الدعاء :
permohonan, permintaan
◀    الطلب :
tuntutan.
(Lengkapnya Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 20/319-321)

✔ Secara istilah adalah:

دعوة الناس الى الله بالحكمة و الموعظة الحسنة حتى يكفروا بالطاغوت و يؤمنوا بالله و يخرجوا من جاهلية الى نور الإسلام

“Seruan manusia menuju (agama) Allah dengan cara hikmah dan memberikan pelajaran yang baik sampai manusia ingkar terhadap thaghut dan beriman kepada Allah, dan keluar dari jahiliyah menuju cahaya Islam”

 Hukumnya

Para ulama sepakat bahwa da’wah adalah fardhu (wajib), hal ini ditunjukkan oleh dalil-dalil berikut:

 وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran: 104)

  ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An Nahl: 125)

Tetapi, para ulama berbeda tentang kewajibannya itu fardhu ‘ain atau kifayah? Imam Ibnu Katsir berpendapat da’wah adalah fardhu ‘ain, ketika Beliau menjelaskan surat Ali ‘Imran 104: wal takun minkum ummah … :

✏ “Maksud ayat ini adalah bahwa hendaknya ada segolongan umat ini yang menjalankan tugas ini, walau pun kewajibannya adalah berlaku bagi tiap pribadi pada umat ini sesuai kemampuannya. Sebagaimana hadits Shahih Muslim dari Abu Hurairah,1)  bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”

(Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/91. Dar Ath Thayibah)

Jadi, kata min -من   pada kata منكم (minkum – di antara kalian) bukan berfungsi تبعيضية    – tab’idhiyah (menyatakan sebagian), tetapi menyatakan تأكيدية    – ta’kidiyah (penegasan). Sehingga artinya bukan bermakna “hendaknya ada sebagian kalian ..”, tetapi bermakna “hendaknya kalian ..!” Pendapat ini juga diikuti oleh Al ‘Allamah Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullah.

Sementara, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah menyatakan bahwa da’wah adalah fardhu kifayah, berikut ini perkataannya:

✏ “Para ulama menjelaskan bahwa da’wah adalah fardhu kifayah, yaitu pada sebuah daerah mesti ada aktifitas da’wahnya para da’i, walau pun aktifitas da’wah dibutuhkan  di setiap daerah dan wilayah namun dia adalah fardu kifayah yang jika sudah ada yang menjalankannya maka gugurlah kwajiban bagi yang lainnya, bagi yang lain itu menjadi sunah muakadah dan merupakan amal shalih yang agung.
Jika penduduk di sebuah wilayah belum ada yang menjalankan aktifitas da’wah, maka semuanya berdosa, maka menjadi wajib bagi semuanya, dan seluruhnya wajib menjalankannya sesuai kekuatannya.”

(Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baaz, Ad Da’wah Ilallah wa Akhlaqud Du’aah, Hal. 15.  Ri-asah Idarah Al Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’, 2002M-1423H. KSA)

Bagi yang ingin memperluas masalah hukum da’wah silahkan lihat Tafsir Ibnu Katsir pada surat Al Maidah ayat 105.

(Bersambung …. Insya Allah)

Notes:

1) Hadits ini tidak diriwayatkan dari Abu Hurairah sebagaimana dikatakan Imam Ibnu Katsir. Dalam Shahih Muslim (No. 49) diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu. Oleh karena itu Syaikh Ahmad Syakir menganggap ini merupakan wahm (keraguan) dari Imam Ibnu Katsir.



Wallahu A’lam



Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

 Sebarkan! Raih pahala…

Bermakmum di Rumah Sedangkan Imam di Masjid

Sekilas Fiqh Menambah Khazanah
Sabtu, 12 Dzulhijjah 1436 / 26 September 2015

Bermakmum di Rumah Sedangkan Imam di Masjid 

Farid Nu’man Hasan, SS


Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa man waalah, wa ba’d:

Shalatnya kaum laki-laki -yang sedang tidak ada ‘udzur syar’i- di masjid sangat dianjurkan oleh syariat ini. Berdasarkan beberapa dalil-dalil berikut:

▶ Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ، فَيُحْطَبَ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلاَةِ، فَيُؤَذَّنَ لَهَا، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ، فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

Demi yang jiwaku ada ditanganNya, aku berkeinginan kuat memerintakan manusia untuk mengumpulkan kayu bakar, lalu memerintahkan mereka untuk menyerukan adzan shalat, lalu memerintahkan seseorang untuk mengimami manusia. Lalu aku datangi kaum laki-laki yang tidak ikut berjamaah lalu saya bakar rumah-rumah mereka. (HR. Al Bukhari No. 644)

▶ Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

إِنْ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَنَا سُنَنَ الْهُدَى، وَإِنَّ مِنْ سُنَنَ الْهُدَى الصَّلَاةَ فِي الْمَسْجِدِ الَّذِي يُؤَذَّنُ فِيهِ

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah mengajari kami sunah-sunah petunjuk, dan di antara sunah petunjuk itu adalah shalat di masjid yang sudah diserukan adzan di dalamnya. (HR. Muslim No. 654)

▶ Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, dari Rasulullah ﷺ, katanya:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ، فَلَا صَلَاةَ لَهُ، إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

Barang siapa yang mendengarkan adzan lalu dia tidak mendatangi masjid (untuk berjamaah), maka tidak ada shalat baginya, kecuali bagi yang ‘udzur. (HR. Ibnu Majah No. 793, Dishahihkan oleh  Imam Al Hakim, Imam An Nawawi, Imam Ibnu Hajar, Imam Adz Dzahabi,  Imam Abdul Haq, Syaikh Al Albani, dan sebagainya)

Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma menjelaskan yang dimaksud dengan ‘udzur adalah rasa takut atau sakit. (Lihat Sunan Abi Daud No. 551, Sunan Ad Daruquthni No. 1557, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 896, Al Baihaqi dalam As Sunan Ash Shaghir No. 486, dll)

Dan masih banyak lagi hadits-hadits senada yang mendorong kita, khususnya kaum laki-laki, untuk shalat wajib secara berjamaah di masjid. Oleh karena itu berbagai riwayat ini dipahami beragam oleh para imam kaum muslimin sejak masa salaf dan khalaf, bahwa berjamaah  bersama kaum muslimin itu:

1⃣ Berjamaah di masjid merupakan syarat sahnya shalat, alias tidak sah jika tidak berjamaah. Ini pendapat Imam Daud Azh Zhahiri dan yang mengikutinya. (Fathul Bari, 2/126), ini juga dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Majmu’ Al Fatawa, 11/615), juga Imam Ibnu ‘Aqil Al Hambali. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/166)

2⃣ Fardhu ‘ain, ini pendapat Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma (Riwayat Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 1914, 1916), juga pendapat Atha’, Al Auza’i,  Imam Ahmad, dan jamaah ahli hadits kalangan Syafi’iyah seperti Abu Tsaur, Ibnu Khuzaimah, Ibnul Mundzir, Ibnu Hibban. (Fathul Bari, Ibid). Juga pendapat yang dipilih oleh para ulama kerjaan Arab Saudi di Al Lajnah Ad Daimah.

3⃣ Fardhu kifayah, ini pendapat Imam Asy Syafi’i dan mayoritas Syafi’iyah generasi terdahulu, dan kebanyakan Malikiyah dan Hanafiyah. (Ibid)

4⃣ Sunnah Muakadah,  ini pendapat yang lebih  resmi dari Hanafiyah, mayoritas Malikiyah, dan sebagian Syafi’iyah. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/165

Jadi, kalau diperhatikan semua perbedaan ini, mayoritas ulama baik salaf dan khalaf menyatakan wajib berjamaah di masjid bersama kaum muslimin. (Majmu’ Al Fatawa, 11/615) Maka, sebagai upaya keluar dari khilafiyah ini adalah sebaiknya tetap menjaga untuk berjamaah di masjid. Sehingga diperspektif pendapat mana pun posisi kita sebagai laki-laki tetap aman.

 Makmum  Di Rumah  Sedangkan Imam di Masjid

Sebenarnya yang seperti ini tidak perlu terjadi seandainya orang tersebut mau menghormati tata krama shalat berjamaah, yaitu di masjid. Lain halnya jika jamaah membludak sehingga shaf pun melebar dan meluas sampai jalan-jalan dan rumah-rumah sekitar masjid, ini tidak masalah sebab masih adanya ketersambungan shaf, seperti yang kita lihat di sebagian masjid  perumahan ketika shalat ‘Id misalnya.
Dari Ma’mar, dari Hisyam bin ‘Urwah, katanya:

جِئْتُ أَنَا، وَأَبِي مُرَّةَ، فَوَجَدْنَا الْمَسْجِدَ قَدِ امْتَلَأَ، فَصَلَّيْنَا بِصَلَاةِ الْإِمَامِ فِي دَارٍ عِنْدَ الْمَسْجِدِ بَيْنَهُمَا طَرِيقٌ

Aku dan Abu Murrah datang ke masjid, dan kami dapatkan masjid sudah penuh maka kami pun shalat (bersama imam di masjid) di rumah yang berada di samping masjid yang di antara keduanya dipisahkan oleh jalan. (Lihat Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf, No. 4885)

Namun, kasus yang terjadi adalah makmum seorang diri di rumahnya, alias berbeda gedung dengan masjid,  dan dia berimam kepada imam di masjid yang terpisah darinya, bahkan sudah terhalang dinding, jalan, bahkan mungkin parit/selokan. Sehingga dia tidak melihat gerakan imam, hanya mengandalkan suara imam saja. Ini bagaimana? Ada beberapa pendapat:

✔Pertama. Ini tidak sah. Inilah pendapat Umar bin Al Khathab, Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hambaliyah. Ada beberapa alasan:

 Syarat sahnya makmum adalah dia mesti mengetahui gerak-gerik imam dan mendengar suaranya. Ini dikatakan Asy Syaikh Abdul Qadir Ar Rahbawi dalam Ash Shalatu ‘Ala Madzahibil Arba’ah. Maka tidak sah pula berimam dengan imam yang ada di radio dan TV.

 Terpisahnya makmum tersebut dengan imam, oleh adanya jalan, atau sungai, sehingga terputusnya shaf merupakan sebab tidak sahnya shalat baginya. (Kasyaaf Al Qinaa’, 1/493), yang serupa dengan ini adalah seorang yang berjamaah di sebuah perahu sementara imamnya di perahu lainnya secara tidak berbarengan, maka ini juga tidak sah, sebab air adalah jalanan, bukan shaf yang besambung, kecuali jika darurat perang. (Ibid)

 Sebagian imam ada yang menyatakan batal shalat sendiri di belakang shaf, padahal dia masih di dalam masjid dan masih bisa masuk ke shaf, apalagi berjamaah dengan memisahkan  diri di rumahnya yang jelas jauh dari jamaah. Imam Ahmad, Ishaq, Hammad, Ibnu Abi Laila, Waki’, Hasan bin Shalih, Ibrahim An Nakha’i, Ibnul Mundzir, mereka mengatakan: “Barang siapa yang shalat seorang diri  satu rakaat sempurna di belakang shaf, maka batal shalatnya.” (Fiqhus Sunnah, 1/244)

Mereka beralasan dengan hadits Wabishah bin Ma’bad:
سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن رجل صلى خلف الصف وحده؟ فقال (يعيد الصلاة)
Rasulullah ﷺ ditanya tentang shalat seseorang sendirian di belakang shaf? Beliau menjawab: “Ulangi shalatnya.” (HR. At Tirmdzi No. 230, katanya: hasan. Abu Daud No. 682, Ibnu Majah No. 1004, Ahmad No. 18002, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 18002. Juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam berbagai kitabnya)

Untuk pembahasan shalat sendiri di belakang shaf ada kajian tersendiri, dan bukan di sini pembahasan detailnya. Insya Allah.

✔ Pendapat kedua. Shalat ma’mum tetap sah tapi bersyarat. Ini pendapat Malikiyah yaitu dengan syarat ma’mum masih bisa melihat dan mendengar  imam, ada pun larangan terputusnya shaf bagi Malikiyah berlaku untuk shalat Jumat, bukan shalat lainnya.  Sedangkan Imam Syafi’i mensyaratkan jarak terpisahnya gedung tidak boleh lebih dari 300 dzira’ (hasta), jika kurang dari itu maka tidak sah.

Diriwayatkan oleh Shalih bin Ibrahim:

أَنَّهُ رَأَى أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ صَلَّى الْجُمُعَةَ فِي دَارِ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بِصَلَاةِ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ وَبَيْنَهُمَا طَرِيقٌ

Bahwasanya dia melihat Anas bin Malik shalat Jumat di rumah Humaid bin Abdirrahman, yang menjadi imam adalah Al Walid bin Abdil Malik, dan di antara keduanya terpisahkan oleh jalan.  (Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 4887)

Walau ini diperselisihkan, tetaplah shalat tersebut jika dalam keadaan tidak normal, jika dalam keadaan normal maka di masjid bersama imam dan kaum muslimin sepakat oleh semuanya untuk diikuti. Di sisi lain, hikmah berjamaah dan kebersamaan baru bisa kita rasakan dengan berjamaah di masjid, bukan memisahkan diri di rumah.

Wallahu A’lam



Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

 Sebarkan! Raih pahala…

Bermakmum di Rumah Sedangkan Imam di Masjid

Sekilas Fiqh Menambah Khazanah
Sabtu, 12 Dzulhijjah 1436 / 26 September 2015

Bermakmum di Rumah Sedangkan Imam di Masjid 

Farid Nu’man Hasan, SS


Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa man waalah, wa ba’d:

Shalatnya kaum laki-laki -yang sedang tidak ada ‘udzur syar’i- di masjid sangat dianjurkan oleh syariat ini. Berdasarkan beberapa dalil-dalil berikut:

▶ Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ، فَيُحْطَبَ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلاَةِ، فَيُؤَذَّنَ لَهَا، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ، فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

Demi yang jiwaku ada ditanganNya, aku berkeinginan kuat memerintakan manusia untuk mengumpulkan kayu bakar, lalu memerintahkan mereka untuk menyerukan adzan shalat, lalu memerintahkan seseorang untuk mengimami manusia. Lalu aku datangi kaum laki-laki yang tidak ikut berjamaah lalu saya bakar rumah-rumah mereka. (HR. Al Bukhari No. 644)

▶ Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

إِنْ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَنَا سُنَنَ الْهُدَى، وَإِنَّ مِنْ سُنَنَ الْهُدَى الصَّلَاةَ فِي الْمَسْجِدِ الَّذِي يُؤَذَّنُ فِيهِ

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah mengajari kami sunah-sunah petunjuk, dan di antara sunah petunjuk itu adalah shalat di masjid yang sudah diserukan adzan di dalamnya. (HR. Muslim No. 654)

▶ Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, dari Rasulullah ﷺ, katanya:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ، فَلَا صَلَاةَ لَهُ، إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

Barang siapa yang mendengarkan adzan lalu dia tidak mendatangi masjid (untuk berjamaah), maka tidak ada shalat baginya, kecuali bagi yang ‘udzur. (HR. Ibnu Majah No. 793, Dishahihkan oleh  Imam Al Hakim, Imam An Nawawi, Imam Ibnu Hajar, Imam Adz Dzahabi,  Imam Abdul Haq, Syaikh Al Albani, dan sebagainya)

Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma menjelaskan yang dimaksud dengan ‘udzur adalah rasa takut atau sakit. (Lihat Sunan Abi Daud No. 551, Sunan Ad Daruquthni No. 1557, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 896, Al Baihaqi dalam As Sunan Ash Shaghir No. 486, dll)

Dan masih banyak lagi hadits-hadits senada yang mendorong kita, khususnya kaum laki-laki, untuk shalat wajib secara berjamaah di masjid. Oleh karena itu berbagai riwayat ini dipahami beragam oleh para imam kaum muslimin sejak masa salaf dan khalaf, bahwa berjamaah  bersama kaum muslimin itu:

1⃣ Berjamaah di masjid merupakan syarat sahnya shalat, alias tidak sah jika tidak berjamaah. Ini pendapat Imam Daud Azh Zhahiri dan yang mengikutinya. (Fathul Bari, 2/126), ini juga dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Majmu’ Al Fatawa, 11/615), juga Imam Ibnu ‘Aqil Al Hambali. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/166)

2⃣ Fardhu ‘ain, ini pendapat Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma (Riwayat Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 1914, 1916), juga pendapat Atha’, Al Auza’i,  Imam Ahmad, dan jamaah ahli hadits kalangan Syafi’iyah seperti Abu Tsaur, Ibnu Khuzaimah, Ibnul Mundzir, Ibnu Hibban. (Fathul Bari, Ibid). Juga pendapat yang dipilih oleh para ulama kerjaan Arab Saudi di Al Lajnah Ad Daimah.

3⃣ Fardhu kifayah, ini pendapat Imam Asy Syafi’i dan mayoritas Syafi’iyah generasi terdahulu, dan kebanyakan Malikiyah dan Hanafiyah. (Ibid)

4⃣ Sunnah Muakadah,  ini pendapat yang lebih  resmi dari Hanafiyah, mayoritas Malikiyah, dan sebagian Syafi’iyah. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/165

Jadi, kalau diperhatikan semua perbedaan ini, mayoritas ulama baik salaf dan khalaf menyatakan wajib berjamaah di masjid bersama kaum muslimin. (Majmu’ Al Fatawa, 11/615) Maka, sebagai upaya keluar dari khilafiyah ini adalah sebaiknya tetap menjaga untuk berjamaah di masjid. Sehingga diperspektif pendapat mana pun posisi kita sebagai laki-laki tetap aman.

 Makmum  Di Rumah  Sedangkan Imam di Masjid

Sebenarnya yang seperti ini tidak perlu terjadi seandainya orang tersebut mau menghormati tata krama shalat berjamaah, yaitu di masjid. Lain halnya jika jamaah membludak sehingga shaf pun melebar dan meluas sampai jalan-jalan dan rumah-rumah sekitar masjid, ini tidak masalah sebab masih adanya ketersambungan shaf, seperti yang kita lihat di sebagian masjid  perumahan ketika shalat ‘Id misalnya.
Dari Ma’mar, dari Hisyam bin ‘Urwah, katanya:

جِئْتُ أَنَا، وَأَبِي مُرَّةَ، فَوَجَدْنَا الْمَسْجِدَ قَدِ امْتَلَأَ، فَصَلَّيْنَا بِصَلَاةِ الْإِمَامِ فِي دَارٍ عِنْدَ الْمَسْجِدِ بَيْنَهُمَا طَرِيقٌ

Aku dan Abu Murrah datang ke masjid, dan kami dapatkan masjid sudah penuh maka kami pun shalat (bersama imam di masjid) di rumah yang berada di samping masjid yang di antara keduanya dipisahkan oleh jalan. (Lihat Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf, No. 4885)

Namun, kasus yang terjadi adalah makmum seorang diri di rumahnya, alias berbeda gedung dengan masjid,  dan dia berimam kepada imam di masjid yang terpisah darinya, bahkan sudah terhalang dinding, jalan, bahkan mungkin parit/selokan. Sehingga dia tidak melihat gerakan imam, hanya mengandalkan suara imam saja. Ini bagaimana? Ada beberapa pendapat:

✔Pertama. Ini tidak sah. Inilah pendapat Umar bin Al Khathab, Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hambaliyah. Ada beberapa alasan:

 Syarat sahnya makmum adalah dia mesti mengetahui gerak-gerik imam dan mendengar suaranya. Ini dikatakan Asy Syaikh Abdul Qadir Ar Rahbawi dalam Ash Shalatu ‘Ala Madzahibil Arba’ah. Maka tidak sah pula berimam dengan imam yang ada di radio dan TV.

 Terpisahnya makmum tersebut dengan imam, oleh adanya jalan, atau sungai, sehingga terputusnya shaf merupakan sebab tidak sahnya shalat baginya. (Kasyaaf Al Qinaa’, 1/493), yang serupa dengan ini adalah seorang yang berjamaah di sebuah perahu sementara imamnya di perahu lainnya secara tidak berbarengan, maka ini juga tidak sah, sebab air adalah jalanan, bukan shaf yang besambung, kecuali jika darurat perang. (Ibid)

 Sebagian imam ada yang menyatakan batal shalat sendiri di belakang shaf, padahal dia masih di dalam masjid dan masih bisa masuk ke shaf, apalagi berjamaah dengan memisahkan  diri di rumahnya yang jelas jauh dari jamaah. Imam Ahmad, Ishaq, Hammad, Ibnu Abi Laila, Waki’, Hasan bin Shalih, Ibrahim An Nakha’i, Ibnul Mundzir, mereka mengatakan: “Barang siapa yang shalat seorang diri  satu rakaat sempurna di belakang shaf, maka batal shalatnya.” (Fiqhus Sunnah, 1/244)

Mereka beralasan dengan hadits Wabishah bin Ma’bad:
سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن رجل صلى خلف الصف وحده؟ فقال (يعيد الصلاة)
Rasulullah ﷺ ditanya tentang shalat seseorang sendirian di belakang shaf? Beliau menjawab: “Ulangi shalatnya.” (HR. At Tirmdzi No. 230, katanya: hasan. Abu Daud No. 682, Ibnu Majah No. 1004, Ahmad No. 18002, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 18002. Juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam berbagai kitabnya)

Untuk pembahasan shalat sendiri di belakang shaf ada kajian tersendiri, dan bukan di sini pembahasan detailnya. Insya Allah.

✔ Pendapat kedua. Shalat ma’mum tetap sah tapi bersyarat. Ini pendapat Malikiyah yaitu dengan syarat ma’mum masih bisa melihat dan mendengar  imam, ada pun larangan terputusnya shaf bagi Malikiyah berlaku untuk shalat Jumat, bukan shalat lainnya.  Sedangkan Imam Syafi’i mensyaratkan jarak terpisahnya gedung tidak boleh lebih dari 300 dzira’ (hasta), jika kurang dari itu maka tidak sah.

Diriwayatkan oleh Shalih bin Ibrahim:

أَنَّهُ رَأَى أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ صَلَّى الْجُمُعَةَ فِي دَارِ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بِصَلَاةِ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ وَبَيْنَهُمَا طَرِيقٌ

Bahwasanya dia melihat Anas bin Malik shalat Jumat di rumah Humaid bin Abdirrahman, yang menjadi imam adalah Al Walid bin Abdil Malik, dan di antara keduanya terpisahkan oleh jalan.  (Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 4887)

Walau ini diperselisihkan, tetaplah shalat tersebut jika dalam keadaan tidak normal, jika dalam keadaan normal maka di masjid bersama imam dan kaum muslimin sepakat oleh semuanya untuk diikuti. Di sisi lain, hikmah berjamaah dan kebersamaan baru bisa kita rasakan dengan berjamaah di masjid, bukan memisahkan diri di rumah.

Wallahu A’lam



Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 

– Twitter: @GrupMANIS
– Blog: www.grupmanis.blogspot.com

 Sebarkan! Raih pahala…