Muslimah Berpergian Sendirian

Ustadzah Nurdiana

Assalamualaikum, kakak afwan bolehkan bertanya sesuatu…akhwat tidak boleh berpergian sendiri?
apakah itu benar? kalau bepergiannya tanpa memakan waktu lama atau tidak sambil menginap apakah boleh? Member A 44 😊

Jawaban :

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Idealnya memang setiap keluar rumah di temani mahram khususnya bepergian jauh.
Yang harus kita pahami bahwa aturan yang Allah turunkan adalah merupakan bentuk kasih sayang Allah dalam menjaga hambanya . Apabila seorang perempuan tidak punya keperluan keluar rumah maka Allah berfirman:

{وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ} [الأحزاب: 33]

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu”. [Al-Ahzab: 33]

Dari Abdullah bin Mas’ud; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن المرأة عورة فإذا خرجت استشرفها الشيطان ، وأقرب ما تكون من وجه ربها و هي في قعر بيتها [صحيح ابن خزيمة]

“Sesungguhnya wanita itu adalah aurat, maka jika ia keluar rumah setan akan memuliakannya, dan tempat yang paling dekat bagi wanita dari wajah Tuhannya adalah ketika ia di dalam rumahnya.” [Sahih Ibnu Khuzaimah]

Ummu Humaid istri Abu Humaid As-Sa’idy mendatangi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: Ya Rasulullah sesungguhnya aku suka jika salat bersamamu. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي، وَصَلَاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِي

“Aku sudah tau kalau engkau suka shalat bersamaku, akan tetapi shalat di kamarmu lebih baik dari pada di luar kamar, dan di luar kamar lebih baik daripada di luar rumah, dan di luar rumah lebih baik daripada di mesjid kaummu, dan di mesjid kaummu lebih baik daripada di mesjidku.” [Musnad Ahmad: Hadits hasan]

Akan tetapi jika ada keperluan mendesak yang mengharuskan seorang muslimah untuk keluar rumah, maka ia boleh keluar dengan memperhatikan aturan yang telah ditetapkan syari’at.
Dari Abu Hurairah; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ، وَلَكِنْ لِيَخْرُجْنَ وَهُنَّ تَفِلَاتٌ [سنن أبي داود: صححه الألباني]

“Jangan kalian melarang hamba Allah (wanita) pergi ke mesjid, akan tetapi hendaklah mereka keluar dengan tidak memakai wangi-wangian.” [Sunan Abu Daud: Sahih]

Aisyah radiyallahu ‘anha berkata:

لَوْ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى مَا أَحْدَثَ النِّسَاءُ لَمَنَعَهُنَّ الْمَسْجِدَ كَمَا مُنِعَتْ نِسَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ [صحيح البخاريٍ ومسلم]

“Seandainya Rasulullah melihat apa yang diperbuat wanita jaman sekarang maka ia akan melarang mereka pergi ke mesjid sebagaimana wanita bani Israil dilarang.” [Sahih Bukhari dan Muslim]

Ada beberapa kewajiban yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya yang harus dipatuhi oleh seorang wanita ketika keluar rumah. Diantaranya:
Keluar seizin walinya (suami, ayah, saudara laki2 yang baligh, atau paman).

Sebagaimana hadits Abu Hurairah di atas: “Jangan kalian melarang hamba Allah (wanita) pergi ke mesjid”. Kalau seandainya perempuan boleh keluar rumah tampa seizin walinya maka tidak perlu Rasulullah memberi peringatan tersebut. Wallahu a’lam !

Dengan aturan yang Allah buat tidak membuat perempuan tidak produktiv atau jumud. Buktinya di zaman Rasul dan zaman keemasan Islam banyak tinta emas sejarah yang di toreh oleh sahabiat dan sejak awal dakwah Islam Rasul selalu melibatkan dan memberi ruang untuk sahabiat berkontribusi.siapa orang yang pertama beriman? Ibunda khodijah ra. Siapa yang syahid pertama dari kaum muslimin? Seorang perempuan ” Sumayah”. Siapa penyuplai logistik saat Rasul akan hijrah? Dialah Asma binti abu bakar. Dan masih banyak lg wanita- wanita hebat bahkan ada wanita yang ikut berjuang dan jadi pembela Rasul saat perang uhud .

Kesimpulannya:
Didalam konsep ajaran Islam , Islam memberi ruang dan gerak untuk perempuan dengan aturan yang indah yang membuat perempuan terlindungi dan terjaga.

Wa Allahu Alam bisshawab

Hukum Vaksinasi

Ustadz Farid Nu’man Hasan

Ustadz mau tanya diluar pembahasan diatas, terkait dengan vaksinasi/imunisasi utk bayi,bgmna hukumnya menurut syari’at islam? Mohon penjelasannya ust,..syukran (# i44)

Jawaban
—————

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ada dua pendapat dalam masalah ini:

1.       Mengharamkan
Jika terbukti ada unsur2 yang diharamkan, seperti Babi, baik minyak, daging, atau apa saja darinya. Dalilnya jelas yaitu keharaman Babi itu sendiri, dan  kaidah fiqih yang berbunyi:

إذَا اجْتَمَعَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ غَلَبَ الْحَرَامُ

“Jika Halal dan haram bercampur maka yang haramlah yang menang (dominan).”

Kaidah ini berasal dari riwayat mauquf dari Ibnu Mas’d sebagai berikut:

مَا اجْتَمَعَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ إلَّا غَلَبَ الْحَرَامُ الْحَلَالَ

“Tidakah halal dan haram bercampur melainkan yang haram akan mengalahkan yang halal.”

Imam As Suyuti Rahimahullah mengomentari riwayat ini, katanya:

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو الْفَضْلِ الْعِرَاقِيُّ : وَلَا أَصْلَ لَهُ ، وَقَالَ السُّبْكِيُّ فِي الْأَشْبَاهِ وَالنَّظَائِرِ نَقْلًا عَنْ الْبَيْهَقِيّ : هُوَ حَدِيثٌ رَوَاهُ جَابِرٌ الْجُعْفِيُّ، رَجُلٌ ضَعِيفٌ ، عَنْ الشَّعْبِيُّ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ ، وَهُوَ مُنْقَطِعٌ . قُلْت : وَأَخْرَجَهُ مِنْ هَذَا الطَّرِيقِ عَبْدُ الرَّزَّاقِ فِي مُصَنَّفِهِ . وَهُوَ مَوْقُوفٌعَلَى ابْنِ مَسْعُودِ لَا مَرْفُوعٌ . ثُمَّ قَالَ ابْنُ السُّبْكِيّ : غَيْرِ أَنَّ الْقَاعِدَةَ فِي نَفْسِهَا صَحِيحَةٌ .

Berkata Al Hafizh Abul Fadhl Al ‘Iraqi: “Tidak ada asalnya.” As Subki berkata dalam Al Asybah wan Nazhair, mengutip dari Al Baihaqi: ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir Al Ju’fi, seorang yang dhaif, dari Asy Sya’bi, dari Ibnu Mas’ud, dan hadits ini munqathi’ (terputus). Aku (As Suyuthi) berkata: Abdurrazzaq dalamMushannaf-nya, telah mengeluarkannya dengan jalan ini. Itu adalah riwayat mauquf(terhenti) pada ucapan Ibnu Mas’ud, bukan marfu’(Sampai kepada Rasulullah). Kemudian, berkata Ibnu As Subki: ” “Namun, sesungguhnya kaidahnya sendiri,  yang ada pada hadits ini adalah shahih (benar). (Al Asybah wan Nazhair, 1/194)

Inilah yang dipilih oleh MUI kita, kalau pun mereka membolehkan karena dharurat saja, yaitu dalam keadaan memang tidak ada penggantinya yang halal, atau dalam konteks haji, hanya dibolehkan untuk haji yang wajib bukan haji sunah (haji kedua, ketiga, dst).

2.       Membolehkan.
Ini pendapat dari segolongan Hanafiyah, seperti Imam Abu Ja’far Ath Thahawi. Nampaknya ini juga diikuti oleh ulama kerajaan Arab Saudi.

Alasannya adalah karena ketika sudah menjadi vaksin, maka itu sudah menjadi wujud baru, tidak lagi dikatakan campuran. Sedangkan fiqih melihat pada wujud baru, bukan pada wujud sebelumnya. Dahulu ada sahabat Nabi ﷺ yang membuat cuka berasal dari nabidz anggur (wine). Ini menunjukkan bahwa benda haram, ketika sudah berubah baik karena proses alami atau kimiawi, maka tidak apa-apa dimanfaatkan ketika sudah menjadi wujud baru. Dianggap, unsur haramnya telah lenyap. Hal ini bagi mereka juga berlaku untuk alat-alat kosmetik dan semisalnya. Ini juga yang dipegang oleh Syaikh Al Qaradhawi Hafizhahullah.

Dari kedua pendapat ini, pendapat pertama nampak lebih hati-hati. Di sisi lain, tidaklah apple to apple menyamakan unsur Babi dalam vaksin dengan wine yang menjadi cuka. Sebab, wine berasal dari buah anggur yang halal, artinya memang sebelumna adalah benda halal. Beda dengan Babi, sejak awalnya memang sudah haram.

 Pembolehan hanya jika terpaksa, belum ada gantinya yang setara, dan terbukti memang vaksin itu penting, dan pada haji pertama. Kalau ada cara lain, atau zat lain yang bisa menggantikan vaksin tersebut maka itulah yang kita pakai. Ini sekaligus menjadi tantangan bagi ilmuwan muslim untuk menemukannya.

Wallahu A’lam

Ilmu Allah (Part 2)

📗 Aqidah – MFT

📝 Ustadzah Novria Flaherti

◐•• Ayat-ayat Qauliyah dan Ayat-ayat Kauniyah ••◑

●• Allah SWT menuangkan sebagian kecil dari ilmu-Nya kepada umat manusia dengan dua jalan.

◈• Pertama, dengan ath-thariqah ar-rasmiyah (jalan resmi) yaitu dalam jalur wahyu melalui perantaraan malaikat Jibril kepada Rasul-Nya, yang disebut juga dengan ayat-ayat qauliyah.

◈• Kedua, dengan ath-thariqah ghairu rasmiyah (jalan tidak resmi) yaitu melalui ilham secara kepada makhluk-Nya di alam semesta ini (baik makhluq hidup maupun yang mati), tanpa melalui perantaraan malaikat Jibril. Karena tak melalui perantaraan malaikat Jibril, maka bisa disebut jalan langsung (mubasyaratan). Kemudian jalan ini disebut juga dengan ayat-ayat kauniyah.

▣• Wahyu dalam pengertian ishtilahi adalah: “kalamullah yang diturunkan kepada Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang menjadi hudan (petunjuk) bagi umat manusia”, baik yang diturunkan langsung, dari belakang tabir (min wara’ hijab) maupun yang diturunkan melalui malaikat Jibril, seperti firman Allah SWT: “Tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seseorang (malaikat) lalu diwahyukan kepada-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi maha Bijaksana.” (QS. Asy-Syura: 51)

▣• Pengertian wahyu secara ishtilahi perlu dipertegas karena makna wahyu secara lughawi memiliki pengertian yang bermacam-macam, antara lain:


◐• 1. Ilham Fithri, seperti wahyu yang diberikan kepada ibu Nabi Musa untuk menyusukan Musa yang masih bayi.
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil)…” (QS. Al-Qashash: 7)

◐• 2. Instink Hayawan, seperti wahyu yang diberikan kepada lebah untuk bersarang di bukit-bukit, pohon-pohon, dan dimana saja dia bersarang.
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.” (QS. An-Nahl: 68).

◐• 3. Isyarat, seperti yang diwahyukan oleh Nabi Zakaria kepada kaumnya untuk bertasbih pagi dan sore.
“Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.” (QS. Maryam: 11)

◐• 4. Perintah Allah kepada malaikat, untuk mengerjakan sesuatu seperti perintah Allah kepada malaikat untuk membantu kaum muslimin dalam Perang Badar.
“(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat; Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman…” (QS. Al-Anfal: 12)

◐• 5. Bisikan syaitan
“…Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musrik.” (QS. Al-An’am: 121)
Dalam ayat tersebut ada kata layuhuna (mewahyukan) yang berarti membisikkan.

◐• 6. Hadist Qudsi, juga termasuk dalam wahyu (hadits yang maknanya dari Allah SWT, sedangkan redaksinya dari Rasulullah SAW).

◐• 7. Hadist Nabawiy, (makna dan redaksinya dari Rasulullah SAW) karena pada hakekatnya apa saja yang berasal dari Rasulullah SAW mempunyai nilai wahyu.
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah dia; dan bertakwa-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr: 7)

◈• Ayat-ayat qauliyah mengisyaratkan kepada manusia untuk mencari ilmu alam semesta (ayat-ayat kauniyah), oleh sebab itu manusia harus berusaha membacanya, mempelajari, menyelidiki dan merenungkannya, untuk kemudian mengambil kesimpulan. Allah SWT berfirman: “Bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang Mengajar (manusia) dengan perantaraan alam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq:1-5)

● “Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan. Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Ar -Ra’du: 3)

● “Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian tanah yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanam-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ra’du: 4)

● “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 190-191)

▣• Dengan mempelajari, mengamati, menyelidiki, dan merenungkan alam semesta (al-kaun) dengan segala isinya, manusia dapat melahirkan berbagai disiplin ilmu seperti: Kosmologi, Astronomi, Botani, Meterologi, Geografi, Zoologi, Antropologi, Psikologi, dan sebagainya. Sedangkan dari mempelajari wahyu manusia melahirkan berbagai disiplin ilmu seperti: Tafsir, Ilmu Tafsir, Hadits, Ilmu Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih, dan sebagainya.

◈• Dengan memahami bahwa semua ilmu itu adalah dari Allah SWT, maka dalam mendalami dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan pun (Al-Kaun) harus mengacu firman Allah SWT sebagai referensi, sehingga akan semakin meneguhkan keimanan. Selain itu penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi akan terkendali serta mengenal adab.

Allahu’Alam

Sebab-sebab Penyimpangan dari Aqidah Yang Benar (bag-2)

📚 AQIDAH

📝 Pemateri: Ustadz Aus Hidayat Nur

Tulisan sebelumnya bisa di buka disini:

http://www.manis.id/2016/12/sebab-sebab-penyimpangan-dari-aqidah.html?m=1

❣6) Ghaflah (lalai),
terhadap merenungkan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang terhampar di jagat raya ini (ayat-ayat kauniyah).

Di antara mereka banyak yang terbuai dengan hasil-hasil teknologi dan kebudayaan, sampai-sampai mengira bahwa itu semua adalah hasil kreasi manusia semata.

Mereka mengagung-agungkan manusia serta menisbatkan kemajuan ini kepada jerih payah dan penemuan manusia modern.

Sebagaimana kesombongan Qorun yang berkata, “Innamaa utiituhu ala ilmin iendie “ (Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu , karena ilmu yang ada padaku) (Alqasshas: 78)

Mereka tidak berpikir dan melihat keagungan Allah yang telah menciptakan alam ini dan menambahkan berbagai keistimewaan di dalamnya sebagai penyempurnaan nikmat-Nya.

Bahwa Allah melengkapi manusia dengan keahlian kemampuan untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memfungsikannya untuk kepentingan manusia.

Firman Allah:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu (Ashshaaffat: 96)
ۚ
يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dia menambahkan pada ciptaan-nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Faathir:1 )

dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya (An Nahal:8 )

❣7) Lemahnya keluarga dalam menanamkan aqidah sejak dini dari dalam rumahnya sendiri.

Peranan orangtua, ketika para orangtua lalai dari menanamkan aqidah yang menjadi tugas utamanya, maka hancurlah generasi penerusnya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah mengingatkan kita,
”setiap bayi dilahirkan atas dasar fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang (kemudian) membuatnya menjadi yahudi, nasrani atau majusi (HR AlBukhari).

❣8) Rusaknya kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah negeri sehingga pendidikan agama diserahkan ke pesantren-pesantren yang dengan susah payah memerangi penyimpangan aqidah ini.

Kaum Muslimin banyak yang kecolongan memasukkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah yang kurikulumnya berasal dari kaum kafirin yang diubahsuaikan oleh orang-orang munafik yang lemah imannya.

❣9) Ghazwul Fikri, atau invasi pemikiran asing yang menyerbu ummat manusia dan khususnya Ummat Islam dengan ideologi dan tradisi materialisme, menyajikan kehidupan yang ibahiyah (serba boleh) dan berorientasi pada dunia.

Ghazwul Fikri masuk melalui media-media yang canggih seperti televisi media sosial, menyajikan kesenangan dan hiburan yang melalaikan manusia dari Allah.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. (Luqman: 6)

❣10). Pengaruh pemimpin yang sesat dan sistem kepemimpinan yang menyesatkan.

Ini banyak sekali terjadi di negeri-negeri muslimin yang pemimpinnya sekuler dan tidak beraqidah sahihah. Mereka mengikuti pemimpin fasik dan munafik terhadap Islam dan Kaum Muslimin. Keadaan para pengikut dari pemimpin-pemimpin ini telah digambarkan Al Qur-an dalam beberapa ayat,
Dan orang-orang kafir berkata: “Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al Quran ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya.”

Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadap kan perkataan kepada sebagian yang lain, orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri,
“Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa.”

Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.”

Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan. (Saba: 31-33)

Para pengikut pemimpin yang zalim disebut mustadhafuun (orang-orang yang dianggap lemah dari segi akidah dan perekonomian sehingga membebek saja kepada para pemimpin yang membawa pada kesesatan.

Sementara para pemimpin sesat ini disebut Al Qur-an sebagai Al mustakbirun (orang-orang yang menyombongkan diri) dari ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Al mustakbirun mempengaruhi al mustadhafiin untuk mengikuti penyimpangan akidah dan kesesatan al mustakbiruun yang berbuah penyesalan di hadapan Allah di Hari Pembalasan nanti. Itulah sebabnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyatakan , “An nas ala diini muluukihim” (Biasanya masyarakat itu mengikuti agama para raja mereka). .

❣11) Salah memilih teman atau lingkungan hidup yang menjauhkan mereka dari Al Qur-an dan Sunnah. Kawan yang buruk menularkan penyakitnya yang berbahaya kepada teman-teman bermain dan bertukar pikirannya.

Karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud)

Manusia itu mengikuti kecenderungan teman-temannya karena itu hendaknya Kita melakukan pertemanan dengan orang-orang yang saleh dan memperjuangkan Islam .

Wallahu A’lam.

Fenomena “Iman Setengah”

📚 Al-Quran

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

📌 Ada kalangan yang senang dengan ayat:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. (QS. Al Hujurat: 13)

Tapi mereka bermuka masam dengan ayat:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Kamu tak akan mendapati saling kasih sayang antara kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (QS. Al Mujadilah: 22)

📌 Ada kalangan yang berbahagia dengan potongan ayat:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, ..” (QS. Ali Imran: 64)

Seolah ayat ini menunjukkan bahwa antara Islam dan Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) itu sama ..

Tapi mereka menutup mata dengan kalimat selanjutnya yang merupakan ajakan untuk tauhid dan bersyahadat:

أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali Imran: 64)

atau ayat lain:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam .. (QS. Ali ‘Imran: 19)

Juga ayat:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali ‘Imran: 85)

Begitulah pengusung paham bahwa semua agama sama …

📌 Ada kalangan yang berseri wajah dan cepat _loading_nya dengan ayat:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al Baqarah: 62)

Mereka anggap semuanya itu beriman, bukan kafir, baik Yahudi, Nasrani, dan Shabiin (penyembah bintang dan berhala) … , padahal tidak ada satu pun mufassir mengatakan seperti itu.

Tapi lihat .., mereka cemberut bercampur kejang-kejang dan gagal _loading_ ketika ada ayat yang menjelaskan kekafiran mereka semua dan neraka tempat akhirnya:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yaitu ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS. Al Bayyinah: 6)

📌 Ada kalangan yang mengelu-elukan ayat:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tidaklah engkau (Muhammad) diutus melainkan sebagai kasih sayang bagi alam semesta. (QS. Al Anbiya: 107)

Tapi mereka gerah dan panas dalam terhadap ayat-ayat tegas dan perang seperti:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang beriman bersamanya, mereka tegas terhadap orang-orang kafir dan saling berkasih sayang terhadap sesama mereka. (QS. Al Fath: 29)

Atau ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ قَاتِلُواْ الَّذِينَ يَلُونَكُم مِّنَ الْكُفَّارِ وَلِيَجِدُواْ فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan darimu, dan Ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At Taubah : 123)

🔑Intinya … mereka hanya akan ikuti dan yakini ayat-ayat yang sesuai keinginan dan hawa nafsu mereka, dengan tafsiran keluar dari koridor para ulama terpercaya. Ada pun ayat-ayat yang bertolak belakang dengan paham dan hawa nafsu mereka, akan mereka buang jauh-jauh, bahkan berani mengatakan TIDAK RELEVAN.

Begitulah kelompok pengusung paham sepilis (Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme), dan para pengikutnya, baik yang sudah stadium mengerikan atau yang masih bersin-bersin saja.

Inilah tipe-tipe manusia yang Allah ﷻ sebutkan dalam firmanNya:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (QS. an-Nisa: 150-151)

🔑Sudah seharusnya seorang muslim mengimani semua ayat, dengan sebenar-benarnya iman dan berserah diri. Semuanya adalah haq (kebenaran), tidak ada ragu dan bimbang.

Wallahu A’lam

Dukungan Allah Swt Kepada Nabi Nuh

📔 Sirah – MFT

📝 Ustadzah Ida Faridah

Disinilah Allah swt memberitahukan kepadanya agar tidal berharap banyan mereka ini akan beriman. Dan hendaklah membuat perahu, Dan menunggu perintah Allah. Tandanya adalah ketika air sudah keluar dari tannut (tungku perapian), air telah memancar dari daratan bumu lain. Ketika air sudah keluar dari tannur Yang merupakan tungku api, dan ketika tanda ini sudah ada maka hendaklah ia bawa di kapal itu sepasang-sepasang, bersama dengan keluarganya, kecuali orang-orang Yang telah diketahui tidak akan beriman dan tidal akan selamat, dan hendaklah senantiasa meminta pertolongan Allah dalam mengemudikan kapal dan menghentikannya. Dan jika sudah selamat hendaklah memuji Rabbnya yang telah Menyelamatkannya dari kaum yang dzalim, dan memohon kepada Allah untuk diturunkan di tempat turun yang baik dan diberkahi. Firman Allah:

Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim”. Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat. Sesungguhnya pada (kejadian) itu benar-benar terdapat beberapa tanda (kebesaran Allah), dan sesungguhnya Kami menimpakan azab (kepada kaum Nuh itu). (QS. Al-Mukminun: 27-31)

“Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal”. Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman”. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya”. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Huud: 36-41)

Berniaga Dengan Non Muslim

Ustadz Oni Syahroni

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Afwan ustadz wa ustadzah.. saya mau bertanya, jika seorang muslim berdagang.. ketika ada pembeli yang non muslim membeli dagangan kita,, boleh tidak? Dan status uangnya itu bagaimana ustadz?? Halalkah atau bagaimana.. mohon penjelasan beserta dalilnya ustadz..syukron 🙏
# A 42

Jawaban
————–

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته ،
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Dalam fikih, tidak ada larangan bagi setiap pihak dalam transaksi bisnis untuk membeli atau menjual komoditasnya kepada non-muslim selama dipastikan bahwa komoditas yang dijual atau keuntungan yang didapatkan oleh penjual non-muslim tidak diperuntukkan untuk hal yang maksiat atau mendzalimi masyarakat atau umat islam.

Kebolehan tersebut sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah saw yang pernah bermuamalah dengan non-muslim, dimana beliau membeli secara tidak tunai dari seorang yahudi, sebagai jaminannya adalah baju besinya.

Sesusai hadits dari ‘Aisyah r.a yang menyampaikan bahwa:

اشترى رسول الله صل الله عليه وسلم من يهودي طعاما بنسيءة، فاعطاه درعا له رهنا (رواه مسلم).

Di samping itu dalam rukun dan syarat akad, tidak disyaratkan bahwa pihak-pihak yang menjadi mitra bisnis kita harus muslim. Oleh karena itu dalam syarat-syarat atau kriteria pihak-pihak akad atau ‘aqid yang ada hanya baligh, berakal, dan rasyid, dan tidak ada syarat agama atau harus muslim.

Kaidah ini juga sesuai dengan aspek maslahat yang menuntut transaksi atau muamalah itu dilakukan terhadap muslim dan non-muslim, karena tidak setiap komoditas yang kita butuhkan bisa kita dapatkan pada umat islam. Apalagi saat ini, dimana banyak sekali kebutuhan-kebutuhan seperti alat kesehatan dan sebagainya yang hanya bisa kita dapatkan atau bisa kita beli dari non-muslim.

Dari aspek fikih aulawiyat atau fikih prioritas, selama pilihan yang boleh atau bertransaksi dengan non-muslim itu tidak hanya satu, maka kita memilih pilihan yang paling ashlah (yang paling maslahat). Begitupula jika pilihannya adalah muslim dan non-muslim, maka kita memilih bermitra dengan sesama muslim, juga apabila pilihannya sesama muslim maka kita memilih pilihan muslim yang paling bermanfaat untuk umat islam.

Wallahu a’lam.

Seputar Warisan

Ustadz Slamet Setiawan

Assalamualaikum ustadz/ah..Begini kondisinya saat ini ada seorang ibu yang mempunyai 4 orang anak laki2 dan 1 orang perempuan… Saat ini beliau sudah dlm kondisi tidak sehat lagi…
Pertanyaan :
1. Anak laki2 nya tdk ada satupun yang mau mengurus beliau setiap harinya (kondisi beliau sudah tdk bs bangun dr tempat tidur) selama 4 bulan ini diurus oleh anak perempuannya.. Namun lama kelamaan karena urusan ngurus anak dan rumah serta urusan biologis sang suami dirumah jd agak terbengkalai alhasil suami sang istri ini jadi keberatan jika ortu sang istri kelamaan diurus dirumah sang istri krn kan ada anak laki2nya yang lain… Nah dlm hal ini bagaimana kewajiban dlm mengurus sang ibu ini ya?

2. C ibu meminta untuk rumah beliau dijual dan dibagi rata kepada 5 orang anaknya (4 orang laki2 dan 1 org perempuan) nah nanti pembagian ini termasuk kategori hibah atau warisan? Apa boleh dibagi rata, apa ada hitungan pembagian lain?

3. Jika ada harta warisan dr org tua yang mempunyai 2 orang anak (1 laki2 dan 1 perempuan) namun anak perempuannya ini sudah meninggal… Apa jatah warisannya bisa diberikan ke anak2 dari anak perempuannya tersebut?

Mohon maaf atas borongan pertanyaannya… Mudah2an bisa segera mendapatkan jawabannya

Pertanyaan 🅰0⃣9⃣

Jawaban
—————

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Pertama,
Rasulullah ﷺ bersabda:

“Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita?” Rasulullah menjawab, “Suaminya” (apabila sudah menikah). Aisyah Ra bertanya lagi, ”Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab, “Ibunya” (HR. Muslim).

Hadits di atas menjelaskan bahwa seorang anak laki-laki adalah milik ibunya, artinya sang anak bertanggung jawab atas ibunya, merawat dan menjaganya.

Akan tetapi pada kasus di atas anak laki-laki enggan merawat ibunya, maka solusinya adalah lakukan musyawarah dengan semua anaknya, kemudian bicarakan dengan baik. Jika tetap tidak ada anak laki-lakinya yang mau merawat, maka kewajiban anda sebagai anak perempuannya untuk merawat.

Masalah suami yang tidak mengijinkan, ini hanya masalah komunikasi yang kurang baik antara anda dan suami. Mungkin ada sikap anda yang membuat suami yang asalnya mengijinkan lalu sekarang keberatan. Hilangkan penyebab dari keberatan suami itu. Kalau anda tidak tahu, tanyakan padanya apa saja sikap anda yang membuat dia keberatan dan lakukan negosiasi yang baik. Kalau komunikasi empat mata tidak bisa, mintalah bantuan pihak ketiga yang disetujui suami dan anda. 

Soal kedua,
Islam agama rahmatal lil’alamin, dalam pembagian warisan anak laki-laki mendapatkan dua kali bagian dari anak perempuan bukan berarti tidak adil, tetapi karena islam menitikberatkan pada berat ringanya pada tanggung jawab.

Sesuatu hal jika tidak sesuai dengan aturan yang sudah ada maka hukumnya haram. Harta pusaka itu wajib dibagi menurut semestinya sesuai dengan hukum yang telah ditentukan dalam alquran.

“Dan janganlah sebagian kamu makan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil.” (QS Al-Baqarah: 188)

Kalaupun orang tua ingin memberikan harta lebih kepada anak perempuanya ada satu cara yaitu dengan cara wasiat, namun wasiat ini tidak boleh lebih dari sepertiga harta kekayaannya kecuali apabila diijinkan ahli waris sesudah matinya yang berwasiat.

“Sesungguhnya Allah menganjurkan untuk bersedakah atasmu dengan harta sepertiga harta pusaka kamu. Ketika menjelang wafatmu, sebagai tambahan kebaikanmu.” (HR. Ad Daru Quthni dari Mu’ad bin Jabal)

Ketiga,

Dalam hukum waris secara Islam, memang dikenal sebuah aturan hijab. Hijab artinya penutup. Maksudnya bahwa seorang yang termasuk dalam daftar ahli waris tertutup haknya -baik semua atau sebagian- dari harta yang diwariskan.

Sehingga orang yang terhijab ini bisa berkurang haknya atau malah sama sekali tidak mendapatkan harta warisan. Kalau hanya berkurang, disebut dengan istilah hijab nuqshan. Sedangkan kalau hilang 100%, disebut dengan istilah hijab hirman.

Yang menyebabkan adanya seorang ahli waris terhijab adalah keberadaan ahli waris yang lebih dekat kepada almarhum. Ketika seorang meninggal dunia dan meninggalkan anak dan cucu, maka yang mendapat warisan hanya anak saja, sedangkan cucu tidak mendapat warisan. Karena kedudukan cucu lebih jauh dari kedudukan anak. Atau boleh dibilang, keberadaan anak akan menghijab cucu dari hak menerima warisan.

Dan dalam kasus ini, hijab yang berlaku memang hijab hirman, yaitu hijab yang membuat si cucu menjadi kehilangan haknya 100% dari harta warisan.

Ada dua ilustrasi yang mungkin bisa membantu pemahaman ini. Ilustrasi pertama, mungkin anda bisa memahaminya dengan mudah. Tapi yang sering kurang dipahami adalah ilustrasi kedua, karena agak aneh namun memang demikian aturannya.

Pada diagram sebelah kiri, ktia dapati ilustrasi pertama. Seorang almarhum yang wafat, maka anaknya akan mendapat warisan. Namun cucunya yang posisinya ada di bawahnya, jelas tidak akan dapat warisan. Karena antara cucu dengan almarhum, dihijab oleh anak.

Pada diagram yang di sebelah kanan, almarhum punya 2 orang anak, anak 1 dan anak 2.Anak 2 punya anak lagi dan kita sebut cucu [anak2]. Seandainya anak 2 wafat lebih dahulu dari almarhum, maka cucu [anak2] tidak mendapat warisan.

Mengapa?

Karena almarhum masih punya anak 1, maka anak 1 ini akan menghijab cucu [anak 2]. Sehingga warisan hanya diterima oleh anak 1 sedangkan cucu [anak2] tidak mendapat warisan. Dia terhijab oleh pamannya, yaitu anak 1.

Walaupun dalam diagram itu, tidak ada penghalang antara cucu dengan almarhum, namun keberadaan anak akan menghijab cucu, meski cucu itu bukan anak langsung dari anak.
*dari berbagai sumber

Wallahu a’lam

Artinya .. Umurmu Berkurang, Kenapa Hura-Hura?

📚 Muamalah

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

📌 Malam tahun baru, bagi seorang muslim tidak ada yang istimewa dan keutamaan apa pun, dia sama dengan malam-malam lainnya

📌 Keistimewaan malam diukur dari apa yang diperbuat malam itu; jika diisi kebaikan maka dia baik, jika diisi keburukan maka dia buruk

📌 Justru bergulirnya waktu merupakan tanda jatah umur kita berkurang .., kenapa justru berbahagia? Oh .. Mungkin amal shalihnya sudah banyak ..

📌 Di antara kita, bisa jadi jatah usianya tinggal 30 tahun lagi, atau 20, 10, 2, .. , atau hitungan bulan, bahkan beberapa hari lagi .. kita tidak tahu ..

📌 Bersuka cita dalam keadaan Malaikat Maut mengintai adalah kebodohan dan kegilaan … tapi manusia jenis itu memang ada ..

📌 Banyak manusia bersusah payah untuk kehidupan yang baik, tapi jarang bersusah payah untuk kematian yang baik ..

📌 Tragis, jika sedang niup terompet Malaikat Maut menjemputmu ..

📌 Jingkrak-jingkrak pukul 00:00 pas ruhmu terlepas ..

📌 atau genjrang genjreng dipinggir jalan dengan gitar mu ..

📌 atau saat berduaan dengan orang yang bukan mahrammu

📌 sungguh akhir kehidupan yang tidak enak dilihat, tidak sudi di dengar ..

📌 Keluarga dan handaitaulan malu atas kematian yang tidak membanggakan .. mati meninggalkan aib ..

📌 Karyakan kebaikan, ukir prestasi ilmu dan ibadah .. agar baik dalam hidup, baik saat kematian ..

Ada seorang laki-laki Anshar bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ أَكْيَسُ النَّاسِ ، وَأَكْرَمُ النَّاسِ ؟ قَالَ : ” أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلْمَوْتِ ، وَأَشَدُّهُمُ اسْتِعْدَادًا لَهُ ، أُولَئِكَ هُمُ الأَكْيَاسُ ، ذَهَبُوا بِشَرَفِ الدُّنْيَا ، وَكَرَامَةِ الآخِرَةِ ” .

“Wahai Rasulullah, siapakah manusia paling cerdas dan paling mulia ?”

Beliau bersabda: “(Yaitu) Manusia yang paling banyak mengingat kematian dan paling serius mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Mereka itulah orang-orang cerdas. Mereka pergi dengan membawa kehormatan dunia dan kemuliaan akhirat.”

📚 HR. Ibnu Majah No. 4249, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 9845, Ath Thabarani dalam Al Kabir, Al Awsath, dan Ash Shaghir, Ibnu Wahb dalam Al Jaami’ Al Hadits No. 458, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya No. 1140, dll, dengan sanad HASAN

Allahumarzuqnasy syahaadah fi sabiilik … amiin

Tabdzir dan Mubadzirin dalam perspektif Al-Qur’an

📒 Al-Qur’an – MFT

📝 Ustadz Noorrahmat

▣◈▣ Assalamu’alaikum wr wb.
◈ Adik-adik MFT….khabar baik? Bagaimana liburannya? Alhamdulillah Allah Ta’ala berikan kesempatan untuk kita berbagi di akhir tahun miladiyyah 2016 ini.

▣ Dalam kesempatan kali ini, kita akan membahas tindakan tabdzir para mubadziriin dalam perspektif Qur’aniyyah. Khususnya terkait dengan 3 ayat Al-Qur’an dalam surat Al-Isra ayat 26 hingga 28. InsyaAllah pembahasan ini merujuk pada Kitab Tafsir Ibnu Katsir.

◈ Untuk mempersingkat, langsung saja dihamparkan nasihat Allah Azza wa Jalla dalam ayat-ayat tersebut.

▣ Allah Ar-Rahman berfirman

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan kepada orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kalian menghambur-hamburkan (harta kalian) secara tabdzir.” (QS. 17:26)

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

“Sesungguhnya mubadziriin itu adalah saudara-saudara syaithan, dan syaithan itu adalah sangat ingkar terhadap Tuhannya.” (QS. 17:27)

وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُلْ لَهُمْ قَوْلا مَيْسُورًا

“Dan jika kamu berpaling dari mere­ka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harap­kan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.” (QS. 17:28)

◈ Adik-adik sekalian, dalam ayat ke 26 kita melihat untaian nasihat yang sangat kuat untuk kita sebagai pembuka terhadap apa yang Allah Ta’ala akan tekankan kemudian. Setelah Allah Al-Hakiim buka dengan perintah berbakti kepada kedua orang tua, kepada kaum kerabat dan bersilaturahmi. Kemudian Allah Ta’ala tutup ayat 26 dengan perintah-Nya

…وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا
“…dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (harta kalian) secara tabdzir.”

▣ Adik-adik yang dirahmati Ar-Rahmaan, di bagian penutup ayat 26 ini Allah Ta’ala menegaskan larangan bersikap tabdzir dalam memberi nafkah (membelanjakan harta). Hal ini selaras dengan apa yang disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam ayat lain dalam Al-Qur’an.

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا…

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir…” (QS. Al-Furqan 25:67)

◈ Adik-adik sekalian, sebagai pengokoh kemudian Allah Azza wa Jalla melanjutkan firman-Nya untuk menanamkan rasa antipati terhadap sikap pemborosan atau berlebih-lebihan:

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ…

“Sesungguhnya mubadziriin itu adalah saudara-saudara syaithan…” (QS. 17:27)

▣ Dengan ini maka Allah Ta’ala menegaskan bahwa tindakan tabdzir serupa dengan amal atau sepak terjang syaithan.

◈ Sebentar-sebentar….. sudah sampai sejauh ini, adik-adik tahukah apa makna tabdzir itu?

▣ Adik-adik, berikut ini adalah 3 penjelasan tabdzir menurut ulama generasi salafuna shalih…generasi awal Islam….

⇨ 1. Tabzir berarti membelanjakan harta bukan pada jalan yang benar. (Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas)

⇨ 2. Tabzir berarti membelanjakan harta dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla, pada jalan yang tidak benar, serta untuk kerusakan. (Qatadah)

⇨ 3. Terkait tabzir, Imam Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang membelanjakan semua hartanya dalam kebenaran, dia bukanlah termasuk orang yang boros. Dan seandai­nya seseorang membelanjakan satu mud bukan pada jalan yang benar, dia termasuk seorang pemboros.”

◈ Jadi, secara sederhana bisa kita simpulkan bahwa tabdzir adalah tindakan boros/pemborosan karena membelanjakan harta secara berlebihan atau membelanjakanya tidak diatas jalan yang diridhai Allah Ta’ala. Pelaku Tabdzir adalah Mubadziriin. Nyaris sama ya dengan Bahasa Indonesia yang berkembang saat ini yang menamakan tindakan ini sebagai tindakan mubadzir dan pelakunya disebut orang yang mubadzir 😊

▣ Nah adik-adik semua….
Firman Allah Ta’ala dalam QS 17:27 ini menegaskan bahwa mubadziriin merupakan saudara syaithan karena tidak taat kepada Allah serta berbuat maksiat kepada-Nya.

◈ Dalam bagian akhir dari ayat 27 ini selanjutnya Allah Ta’ala tegaskan:

…وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

“…dan syaithan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”

▣ Dikatakan demikian karena syaithan ingkar kepada nikmat yang telah diberikan Allah Ta’ala kepadanya dan tidak mau mengerjakan amal ketaatan kepada-Nya, bahkan membalasnya dengan perbuatan durhaka dan melanggar perintah-Nya.

◈ Nah adik-adik sekalian….
Allah Azza wa Jalla kemudian menutup rangkaian ayat ini dengan firman-Nya di ayat 28

وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُلْ لَهُمْ قَوْلا مَيْسُورًا

“Dan jika kamu berpaling dari mere­ka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harap­kan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.” (QS. 17:28)

▣ Dengan kata lain, apabila ada yang meminta bantuan kepada kita dari kalangan sanak famili dan orang-orang yang dianjurkan Allah Ta’ala untuk diberikan sedekah atas mereka, sedangkan kita dalam keadaan tidak mempunyai sesuatu pun untuk kita berikan kepada mereka, lalu kita berpaling dari mereka karenanya, maka….

فَقُلْ لَهُمْ قَوْلا مَيْسُورًا

“…maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.”

◈ Maksudnya, sampaikanlah kepada mereka dengan kata-kata yang lemah lembut dan ramah serta bila memungkinkan janjikanlah kepada mereka bilamana kita mendapat rezeki dari Allah Ar-Razzaq maka kita akan menemui mereka untuk berbagi sebagai wujud قَوْلا مَيْسُورًا.

▣ Menurut tafsir yang dikemukakan oleh Mujahid, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Al-Hasan, Qatadah, dan lain-lainnya sehubungan dengan makna قَوْلا مَيْسُورًا Bahwa yang dimaksud dengan قَوْلا مَيْسُورًا ialah perkataan yang mengandung janji dan harapan.

◈ Nah adik adik sekalian….
3 ayat yang dibahas kali ini memiliki struktur yang indah dalam hal penekanan terhadap larangan tabdzir. Diawali dengan perintah amal shalih yang utama terkait menunaikan hak kerabat, orang miskin dan fii sabilillah atas harta kita. Kemudian dilanjutkan dengan larangan tabdzir sekaligus Allah Ta’aala berikan alasan, latar belakang, serta akibatnya yang menguatkan larangan. Diakhiri dengan solusi bilamana kita dalam menunaikan hak.

▣◈▣ Jadi….
▣ Jangan belanjakan harta kita untuk sesuatu yang sia-sia. Belanjakanlah rezeki yang kita miliki sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala. Jangan menjadi mubadziriin yang merupakan kawan-kawan syaithan. Tindakan tabdzir yang lazim di akhir/awal penanggalan miladiyah (masehi) diantaranya dengan membakar petasan dan aktifitas tabzir lainnya.

◈ Semoga Allah Ta’ala selamatkan kita dari tindakan tabdzir agar kita tidak jadi temannya Syaithan yang terkutuk…

▣ Barakallahu fiikum ajma’iin.
◈ Wassalam