Muamalah

Assalamualaikum ustadz/ah..mau tanya ttg tahlilan persatuan Rt yg diadakan setelah magrib dan selesai setelah waktu isya..sehingga isya nggak tepat waktu molor karena makan2 dulu. Gmana menyikapi hal ini bila tdk ikut persatuan kita dibilang tidak mau bergaul. Uasinan ini khusus bpk2 dan ada arisannya..sehingga klo malam jumat magrib dan isya gak ada yg sholat kemasjid?mhon pencerahannya..syukron
A34

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
 Penyelewengan dakwah yang harus dihindari:
– Fitnah Ilmu: dapat menyebabkan dikeluarnya hukum baru yang sama sekali tidak ada di al-qur’an dan al-Hadits.

– Furu’iyah dan ushul: selalu memperdebatkan masalah tersebut dari bentuk lahiriahnya tanpa melihat dan mengurus isi/pokok (inti). Karena sebelum menyuruh seseorang yang diseru dengan hal-hal yang bersifat furu’iyah (cabang), terlebih dahulu bersama mereka harus mengukuhkan dan menegakkan masalah ushul (pokok) atau dasar aqidah Islam dalam diri kita.

– Keras dan Keterlaluan: para da’i harus waspada untuk tidak terlalu keras dan sangat keterlaluan dalam membebankan dirinya dengan melakukan tugas-tugas taat dan ibadah yang diluar kemampuannya. Juru dakwah harus dapat membedakan antara tindakan yang tegas penuh kesungguhan, dengan keterlaluan serta membebani diri di luar kemampuan. Amal yang sedikit tetapi kontinu itu lebih baik dari pada amal yang banyak tetapi terputus dan terhenti di tengah jalan.

– Sikap terburu-buru dan Kelonggaran: Sikap terburu-buru berbahaya karena mengakibatkan tindakan tanpa perencanaan yang matang. Selanjutnya, hal ini akan mengakibatkan tidak tercapainya tujuan yang dicita-citakan, bahkan dapat merusak dan membahayakan harakah Islam.

– Antara Politik dan Pendidikan: Dalam dakwah tidak boleh memandang enteng peranan tarbiyah (pendidikan) pembentukan dan perlunya beriltizam dengan ajaran Islam dalam membentuk asas dan dasar yang teguh. Dalam dakwah juga tidak boleh terburu-buru mempergunakan cara dan uslub politik menurut syarat dan cara partai-partai politik karena dengan begitu kita akan mudah terpedaya dengan kuantitas anggota yang diambil dan dianggap menguntungkan tanpa mewujudkan iltizam tarbiyah.

– Antara Dakwah dan Pribadi Manusia: karena Juru dakwah adalah manusia yang kadang kala benar dan kadang kala salah serta kadangkala berbeda pendapat. Tetapi diharapkan para da’i dapat mengkondisikan diri. Sehingga perbedaan pendapat tidak menjadikan para da’i merasa paling benar dan menjadi ahli debat dengan mengatas namakan dakwah. Hal ini akan menghancurkan segala usaha kita disebabkan waktu yang terbuang percuma untuk perdebatan, perpecahan, dan usaha untuk membuat perdamaian yang terus saja berulang jika muncul masalah baru.

Di sekitar penyelewengan:
– Kontradiksi dan Kesulitan: Seorang da’i harus terampil dalam mengamati lingkungannya. Karena banyaknya kondisi yang kontradiksi di masyarakat kita. Yang mana adanya masyarakat dihadapkan pada kehidupan yang penuh kemaksiatan dan kehidupan yang Islami yang bebas dari kemaksiatan. Jika tidak ada yang memberi petunjuk dan bimbingan terhadap jalan fikiran dikhawatirkan masyarakat akan memilih kehidupan yang penuh kemaksiatan daripada kehidupan yang bebas dari kemaksiatan.

– Siapa yang bertanggung jawab bila penyelewengan terjadi? Jawabannya adalah jamaah. Karena seharusnya jamaah inilah yang mengarahkan, menunjukkan dan membimbing mereka berjalan di jalan dakwah sesuai dengan perjalan Rasulullah saw. Dan terus diterapkan sampai ajal tiba.

– Syumul dan Pandangan Jauh: Bekerja untuk Islam harus mempunyai pandangan yang syumul (menyeluruh) dan mendalam serta berpandangan jauh. Karena jalan dakwah ini butuh strategi yang sudah diperhitungkan sebelumnya resiko apa yang akan diambil. karena berdasarkan pengalaman, semangat yang meluap-luap bukanlah bukti kekuatan iman, malah menunjukkan kedangkalan jiwanya dan kurangnya kesiapan serta tidak bersabar menghadapi penderitaan. Ingatlah bahwa permasalahan dakwah ini menginginkan perubahan menuju tegaknya Daulah Islamiyah ‘Alamiyah (Negara Islam sejagat) dan untuk seluruh manusia. Maka diperlukan pandangan yang syumul, perhatian, dan perhitungan sewajarnya.

– Jalan yang benar: Untuk mencapai tujuan yang telah dicita-citakan, agar yang bathil itu diubah dan daulah yang haq ditegakkan, bagaimanapun harus dilakukan dengan jalan yang benar dan tepat yaitu, dengan menanam dasar aqidah secarah kokoh di dalam jiwa, mendidik da mempersiapkan generasi mukmin yang benar dan mampu mambangun suatu perubahan, membangun rumah tangga muslim yang menampilkan Islam di segenap kegiatan dan aspek hidupnya, bekerja dan berusaha sungguh-sungguh memenangkan pendapat umum, agar mereka memihak dakwah Islam.

– Merubah Realitas dan Menghapus Kemungkaran: hal ini memang merupakan tujuan dakwah. Tapi sekali lagi, para da’i harus memperhatikan bahwa merubah realitas dan menghapus kemungkaran bukanlah dilakukan dengan tindakan serta merta dan memerangi secara langsung atau memasuki medan pertentangan. Teladan yang diberikan oleh Rasulullah pada penduduk Mekah patut dijadikan contoh. Beliau tidak langsung memerangi penduduk Mekah yang menyembah berhala. Tetapi menunggu waktu yang tepat dan masa yang tepat untuk menghancurkan berhala-berhala tersebut.

– Kesabaran, Ketahanan dan penyampaian dakwah: Tiga unsur ini sangat penting di peringkat pertama dakwah yaitu sabar, tetap bertahan (istiqomah), dan menyampaikan dakwah dengan tekun.

– Jihad dan Menjual diri untuk Allah. Kesadaran inilah yang harus dimiliki seorang da’i untuk mensukseskan jalan dakwah ini.

Bagaimanapun, penyelewengan fikrah (pemikiran) lebih berbahaya dari pada penyelewengan harakiah (gerakan).

Tapi memang membangun kebaikan butuh perjuangan. Tidak mudah. Kita harus menyelami keadaan masyarakat. Menyesuaikan sebagai etika. Jika bisa diberi masukan lebih bagus.
Bole menyelesaikan acaranya terlebih dahulu lalu coba mengajak u sholat isya berjamaah, usahakan tdk jauh terlewat dari waktu adzan.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadzah Rochma Yulika

Kisah budak perempuan Abdullah bin Rawahah

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. ” (QS Al Baqarah : 221).

Ayat ini turut berkaitan dengan seorang budak yang hitam milik seorang sahabat yang mulia Abdullah bin Rawahah. Ia marah kepadanya sampai menampar wajahnya. Akan tetapi hatinya menegurnya karena ia seorang budak yang beriman. Ia berkata kepada dirinya sendiri setelah mengingat wasiat Rasulullah Saw :”Apa yang dia tidak mampu, maka jangan membuat mereka semakin lemah. Jika dia berbuat buruk sepuluh kali maka berbuat baiklah kepadanya satu kali.

Abdullah bin Rawahah bergegas menemui Rasulullah dan ia berkata:”Ya Rasulullah….aku memukul budak hitam perempuan milikku.” Nabi Saw berkata:”Apa statusnya wahai Abdullah?”. Abdullah menjawab:”Ia seorang mukminah. Ia shalat dan shaum, berwudhu dengan baik dan aku ditegur oleh diriku sendiri karenanya. Demi Dia Yang Telah Mengutusmu ya Rasulullah..aku akan memerdekakannya dan menikahinya.”

Kemudian Abdullah membebaskannya dan menikahinya. Ramailah orang memperbincangkannya. Mereka mengatakan:”Abdullah bin Rawahah menikahi seorang budak yang hitam. Maka turunlah ayat :
وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ
“Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. ” (QS Al Baqarah : 221)

Ibnu Abbas meriwayatkan : Sesungguhnya Rasulullah Saw mengutus seseorang -disebutkan bahwa orang itu Martsad bin Abi Martsad- sekutu Bani Hasyim ke Makkah untuk membebaskan kaum muslimin yang ditawan. Ia memiliki seorang sahabat perempuan bernama Annaq. Dia adalah sahabatnya semasa jahiliyah. Ketika ia masuk Islam, komunikasi mereka terputus. Dan ketika ia pergi ke Makkah, ia bertemu dengannya dan mulailah mereka berinteraksi seperti dulu. Martsad berkata:”Sesungguhnya Islam telah memisahkan kita. Akan tetapi aku bisa menikahimu.” Perempuan itu meninggalkannya dan ia mengadukan apa yang dialaminya kepada kaumnya. Mereka menemui Martsad dan memukulinya. Kemudian mereka mempersilahkan Martsad melanjutkan perjalanan. Setelah urusan di Makkah usai, Martsad pulang dan menemui Rasulullah serta menceritakan pengalamannya. Ia bertanya kepada Rasulullah:”Apakah boleh bagiku untuk menikahi seorang perempuan musyrikah?”. Maka turunlah ayat larangan menikahi perempuan musyrikah.

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”(QS Al-Baqarah:221)

Hikmah kehidupan:

Kemuliaan dalam Islam tidak dilihat dari status sosial tapi dilihat dari iman taqwanya.
Seorang mukmin yang hatinya suci, akan segera mengetahui kesalahan yang ia lakukan dan bersegera bertaubat.
Keterbukaan dan komunikasi Rasulullah dengan para sahabat, ini sesuatu yang sangat istimewa.
Para sahabat tidak sungkan untuk bercerita kepada Rasulullah Saw bahkan untuk hal-hal yang sensitif.
Hati-hati dengan teman lama. Setan akan bermain untuk menjerumuskan seorang muslim dengan dalih cinta lama bersemi kembali.
Seorang pemimpin harus sabar menghadapi berbagai situasi yang dialami anak buahnya.

Wallohu a’lam bis showwab

By: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj

Ngomongin Sex (2)

Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh
Bagaimana kabar semuanya? Semoga Allah selalu mencurahkan Rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita masih dalam iman islam.

Sekitar dua pekan yang lalu kita telah membahas mengenai seks, kali ini bahasa tentang seks dilanjutkan kembali. Yuukk duduk melingkar di sini

⇨Apakah Homo dan Lesbi?
Ditinjau dari bahasa, homo berarti sejenis. Dalam masalah seksual, dikenal sebutan homoseksual atau lesbian. Kata-kata tersebut mengandung arti seseorang memiliki kecenderungan hasrat seksual atau mengadakan hubungan seksual dengan jenis kelamin yang sama.

Homo atau gay biasa dipakai untuk sebutan kaum laki-laki yang melakukan seks dengan sesama laki-laki. Sedangkan sebutan lesbian atau lesbi biasa ditujukan buat kaum perempuan yang melakukan hubungan seksual dengan seksama perempuan.

⇨Mengapa bisa terjadi Homoseks dan Lesbian?
Para peneliti dalam bidang kedokteran menyatakan bahwa, di dalam tubuh laki-laki ada unsur keperempuan dan di dalam tubuh perempuan ada unsur kelaki-lakian meskipun hanya sedikit. Banyak orang akhirnya membenarkan perilaku homoseks ataupun lesbi karena mendasarkan pada hasil penelitian itu. Namun, pendapat tersebut sebenarnya tidak tepat.

Perilaku homoseks ataupun lesbi antara lain disebabkan karena pendidikan, pola asuh, dan pergaulannya yang nggak baik semasa kanak-kanak, yang mengakibatkan kelainan dalam perkembangan kepribadian seseorang, juga karena keinginan melepaskan syahwat atau nafsu tapi tidak inggin memiliki keturunan.

By: Ustadzah Heni & Tim

Membunuh Semut

Assalamu’alaikum ustadzah… sebenarnyaaa membunuh semut itu haram gk sih . Terus kalau diberi kapur barus hingga semutnya mati .. itu menurut ukh miya gimna hukumnya ?

=========
Jawab:

Wa’alaikumussalaam warahmatullah…

Binatang semut sebenarnya termasuk salah satu dari binatang yang diharamkan untuk dibunuh. Sebagaimana hadits Nabi saw dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ قَتْلِ أَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِّ النَّمْلَةُ وَالنَّحْلَةُ وَالْهُدْهُدُ وَالصُّرَدُ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh empat hewan: semut, lebah, burung Hudhud dan burung Shurad.” (HR. Abu Daud no. 5267, Ibnu Majah no. 3224 dan Ahmad 1: 332. Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Jadi ada empat binatang yang dilarang boleh Nabi saw untuk dibunuh, yakni: semut, lebah, burung Hudhud, dan burung Shurad.

Namun apabila binatang-binatang tersebut mengganggu, maka ia diperbolehkan untuk dibunuh. Hal ini mengacu kepada hadits Nabi saw tentang binatang fasik yang boleh dibunuh karena sifatnya yang pengganggu. Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِى الْحَرَمِ الْفَأْرَةُ ، وَالْعَقْرَبُ ، وَالْحُدَيَّا ، وَالْغُرَابُ ، وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ

“Ada lima jenis hewan fasik yang boleh dibunuh ketika sedang ihram, yaitu tikus, kalajengking, burung rajawali, burung gagak dan kalb aqur (anjing galak).” (HR. Bukhari no. 3314 dan Muslim no. 1198)

Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim (8: 114) menjelaskan bahwa makna fasik dalam bahasa Arab adalah al khuruj (keluar). Seseorang disebut fasik apabila ia keluar dari perintah dan ketaatan pada Allah Ta’ala. Lantas hewan-hewan ini disebut fasik karena keluarnya mereka hanya untuk mengganggu dan membuat kerusakan di jalan yang biasa dilalui hewan-hewan tunggangan. Ada pula ulama yang menerangkan bahwa hewan-hewan ini disebut fasik karena mereka keluar dari hewan-hewan yang diharamkan untuk dibunuh di tanah haram dan ketika ihram.

Maka hal ini berlaku pula kepada semut, apabila ia mengganggu maka boleh dibunuh. Namun jika ia tidak mengganggu, maka kembali kepada hadits Nabi saw di awal bahwa ia diharamkan untuk dibunuh.

Lalu bagaimana cara membunuh semut ?
Ada larangan dari Nabi saw untuk membunuh semut dengan api, berdasarkan hadits dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu, ketika Rasulullah dan para sahabat sedang melakukan safar, Rasulullah saw melihat sebuah sarang semut sedang terbakar oleh api.
Lalu Rasullulah saw bertanya “siapa yang telah membakar ini? lalu para sahabat langsung menjawab “kami ya Rasulullah” lalu Rasulullah bersabda : “Tidak boleh membunuh dengan api kecuali Rabb sang pemilik api (Allah).”
(H.R Abu Daud).

Maka jika pun semut terpaksa dibunuh karena mengganggu, tidak boleh dengan menggunakan api. Menggunakan kapur barus dan sejenisnya lebih aman dan keluar dari keharaman hadits ini.

Demikian, waLLAAHU a’lam bishshowab…

Dijawab oleh Ustadzah Prima Eyza Purnama

Betapa Malang Manusia Yang Jauh Dari Al Quran

Betapa Malang Manusia Yang Jauh Dari Al Quran

📒 Al-Qur’an

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan

Banyak kerugian yang akan dialami oleh orang yang melupakan Al Quran, di antaranya:

● Diberikan Penghidupan yang sempit

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)

Makna dzikri di sini adalah Al-Quran, Imam Ibnu Katsir mengatakan:

أي: خالف أمري، وما أنزلته على رسولي، أعرض عنه وتناساه وأخذ من غيره

“Yaitu menyelisihi perintahKu, dan apa yang Aku turunkan kepada RasulKu, dia berpaling darinya dan melupakannya dan mengambil dari selainnya.” (Tafsir Al-Quran Al ‘Azhim, 5/322)

Mereka akan diberi penghidupan yang sempit, jika kita melihat mereka mengalami kemudahan dalam ma’isyah (penghasilan), maka kesempitan itu akan diberikan di kuburnya berupa azabNya.

Dijelaskan dalam Tafsir Al Muyassar:

فإن له في الحياة الأولى معيشة ضيِّقة شاقة -وإن ظهر أنه من أهل الفضل واليسار-، ويُضيَّق قبره عليه ويعذَّب فيه

“Maka sesungguhnya baginya pada kehidupan yang pertama (di dunia) berupa penghidupan dan sempit dan sulit, jika nampak bahwa dia termasuk orang banyak karunia dan kemudahan maka dia akan disempitkan dan diazab di dalam kuburnya.  (Tafsir Al Muyassar, 5/408)

● Dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan buta

Allah Ta’ala menjelaskan:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan akan Kami kumpulkan pada hari kiamat nanti dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)

Abu Shalih, Mujahid, dan As Suddi mengatakan makna “buta” adalah mereka tidak memiliki hujjah dihadapan Allah. ‘Ikrimah mengatakan bahwa mereka buta dari segala hal, kecuali neraka jahanam. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 5/324)

● Hidupnya tersesat

 Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

“Telah aku tinggalkan untuk kalian dua hal yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya maka kalian tidak akan pernah tersesat: Kitabullah dan Sunah NabiNya.” (HR. Malik dalam Al Muwatha’ No. 1594, secara mursal. Syaikh Al Albani menyatakan: hasan. Lihat Misykah Al Mashabih No. 186)

Mafhum mukhalafah/makna implisit-nya, jika berpegang pada Al-Quran dan As-Sunnah tidak akan tersesat maka, menjauhinya akan tersesat. Hal ini juga ditegaskan dalam Al-Quran:

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلإِسْلامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az Zumar: 22)

● Mendapatkan  azab yang buruk

Allah Ta’ala berfirman:

أَوْ تَقُولُوا لَوْ أَنَّا أُنْزِلَ عَلَيْنَا الْكِتَابُ لَكُنَّا أَهْدَى مِنْهُمْ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَّبَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَصَدَفَ عَنْهَا سَنَجْزِي الَّذِينَ يَصْدِفُونَ عَنْ آيَاتِنَا سُوءَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يَصْدِفُونَ

“Atau agar kamu (tidak) mengatakan: “Sesungguhnya jikalau kitab ini diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari mereka.” Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling daripadanya? Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksa yang buruk, disebabkan mereka selalu berpaling.” (QS. Al Maidah: 157)

● Terus menerus dalam kegelapan

Orang yang berpaling dari Al-Quran akan terus menerus dalam kegelapan (Az Zhulm). Allah Ta’ala berfirman:

الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إ

ِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

“Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim: 1)

●Kehidupan yang merugi

Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al Baqarah: 121)

Dan masih banyak bahaya-bahaya lainnya, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Semoga Allah Ta’ala teguhkan kita untuk hidup bersama Al Quran.

Wallahu A’lam

TAUHIDULLAH (Mengesakan Allah) Bag-2

TAUHIDULLAH (Mengesakan Allah) Bag-2

📚 AQIDAH

📝 Pemateri: Ustadz Aus Hidayat Nur

Materi sebelumnya bisa dilihat di tautan berikut:

http://www.manis.id/2017/01/tauhidullah-mengesakan-allah.html?m=1

2⃣Kedua: *Tauhid Mulkiyah*

Tauhid mulkiyah adalah keyakinan yang  kokoh dalam diri seorang mukmin bahwa Allah adalah satu-satunya pemilik alam semesta sekaligus Raja yang paling berkuasa di alam semesta. Seluruh ciptaan Allah adalah milik Allah, maka Dia saja yang paling berhak merajai dan Dia tidak memberi kewenangan (otoritas) kepada siapa pun tanpa idzin dan kehendak-Nya.

Allah adalah Robbul alam semesta, Robb manusia dan sekaligus Raja manusia sebagaimana dinyatakan dalam Surat An Nas:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَٰهِ النَّاسِ

_Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia.(An Naas: 1-3)_

Seluruh alam semesta merukan milik Allah dan baginya  kerajaan di Dunia maupun Akhirat telah dinyatakan dalam beberapa ayat,

_Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.(Ali Imraan: 109)_

_Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi; dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.(Ali Imraan: 189)_

_Mahasuci Allah Yang menguasai segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu,(Al Mulk:1)_

_Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (Yaasiin: 83)_

_Dan hanya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia memberikan ampun kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mengazab siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Alfath: 14)_

Allah adalah Raja yang sebenarnya. Setiap penguasa dunia diberikan kewenangan sangat terbatas dengan waktu yang terbatas pula. Mereka tidak dapat disebut Raja yang sebenarnya, karena bersifat mandatori (amanat) yang harus dia tunaikan sesuai dengan syariat dan atauran-Nya,

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

_Katakanlah: “Wahai Allah Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali Imraan: 26)_

Karena itu orang yang memiliki Tauhid mulkiyah tidak akan tunduk kepada Raja-raja Dunia yang tidak melaksanakan syariat Allah. Mereka selalu berusaha menegakkan kedaulatan Allah dalam jiwanya dan berjuang sekuat tenaga agar hukum dan syariat Allah tegak di muka bumi.

Mereka hanya memberikan ketaatan dan loyalitas kepada Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman. Mereka akan meninggalkan segala bentuk ketundukan yang bukan kepada Allah. Mereka tidaka kan taat kepada  para penguasa yang mengingkari Allah atau menolak tegaknya hukum Allah di muka bumi.

Tauhid mulkiyah ini merupakan keyakinan yang paling dibenci oleh para penguasa yang enggan menegakkan Kalimatullah (syariah dan hukum) Allah di muka bumi. Penguasa yang mengajak bangsa atau kaumnya mengingkari Allah.

Karena tauhid ini melepaskan hati mereka dari sang penguasa yang ingin menayaingi Allah dalam membuat hukum atau undang-undang dalam mengatur manusia. Maka Kita jumpai dalam sejarah para Nabi  dan Rasul selalu dimusuhi penguasa-penguasa zholim dan diktator dengan alasan hendak berbuat makar, padahal mereka tidak lain ingin mengembalikian kekuasaan (mulkiyah) kepada Allah Raja yang sebenarnya.

_Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (Al Maaidah: 50)_

Namrudz seorang Raja yang menolak dakwah Tauhid Mulkiyah Nabi Ibrahim Alaihis salaam berkeyakinan bahwa dirinya mempunyai kewenangan untuk menghidupkan dan mematikan.

Para pengikut Namrudz tentu saja ikut pada aqidah batil ini. Perhatikan bagaimana Allah menggambarkannya di dalam Al Qur-an,

_Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.”[164]_

_Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al Baqarah: 258)_

Musa Alaihis Salaam sebagai pembawa tauhid mulkiyah ini  berhadapan dengan gembong syirik mulkiyah paling besar di Dunia. Karena Fir’aun beranggapan bahwa kekuasaannya mutlak tanpa batas dan menolak tunduk kepada hukum Allah yang dibawa Musa Alaihis Salaam.
Dia berkata dengan sombong,

_Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)? (Azzukhruf: 51)_

Nabi Yusuf Alaihis Salaam dalam Al Qur-an digambarkan sebagai pemilik tauhid mulkiyah ini. Sehingga meskipun berada di negeri yang tidak berhukum dengan hukum Allah Beliau selamat karena keyakinan Aqidah mulkiyatullah ini. Inilah yang dikatakan Nabi Yusuf Alaihis Salaam,

_Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan (hak membuat hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Yusuf: 40)_

_Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui. (Yusuf: 76)_

Karena tuntutan Tauhid mulkiyah ini orang-orang beriman berupaya dengan sungguh-sungguh (berjihad) demi tegaknya hukum Allah di muka bumi dengan amar amakruf  nahi munkar.

_(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (Al Hajj: 41)_

Sebagian ulama menggolongkan Tauhid mulkiyah ini ke dalam Tauhid Rububiyah karena diantara makna Ar Rabb adalah al Malik (Yang Maha Merajai). Inilah yang membuat para pemuda Kahfi yang tidak mengakui kekuasaan Raja di masa itu berkata,

_Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri,  lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” (Al Kahfi: 13)_

Merestui penguasa zhalim dapat menyeret manusia ke dalam jurang neraka, apalagi bila memilih atau pun mendukungnya.

Perhatikan ayat-ayat berikut,

_Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” Dan mereka berkata;:”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (Al ahzab: 64-67)_

(Bersambung)

Adab Menasehati Teman

Adab Menasehati Teman

Ustadz Wido Supraha

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…bagaimana cara nya memberi tau yg baik ke teman agar dia bisa hijrah ke yg lebih baik..karena pd dasar nya dia ingin berubah akan tetapi karena pergaulan jd sepertinya dia susah utk meninggal kan itu..contoh ketika mau ketemu dengan kita pakaian nya syar’i..tetapi ketika dengan teman gaul nya dia pakenya celana jeans dan kerudung pun hanya di lilit ke leher…mohon penjelasan..

 Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Sampaikanlah ilmu secara tidak langsung secara hikmah kecuali dia adalah sosok yang terbuka.

✔ Cintailah sahabatmu sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri
✔ Berikanlah keteladanan terbaikmu, nikmatilah, dan konsisten dalam keteladanan.
✔ Berpikirlah mendalam dan temukan gagasan pembicaraan yang memasukkan sedikit konten yang ‘membicarakan perilaku dirinya’ dalam kemasan pembahasan yang tidak kentara namun meninggalkan jejak cara berpikir di sanubari sahabat tercinta
✔ Berikanlah motivasi selalu bahwa Allah ﷻ sangat mencintainya dan mintalah ia untuk tidak lupa mendoakan kita agar selalu diberikan keistiqomahan dalam meraih ridho Ilahi.

⭐ Memberi tahu sejatinya adalah menjadikan seorang manusia menjadi tahu, bukan salah tahu. Maka gunakanlah seluruh cara yang mudah-mudahan di antaranya menjadi obat terbaik untuk sahabat tercinta.

Wallahu a’lam.

Ketika Allah Menjadi Prioritas Utama

Ketika Allah Menjadi Prioritas Utama

📘 Ibadah – MFT

📝 Ustadzah Lelisya

●•• Duhai Pejuang Perubahan, perlu diperhatikan 3 hal yang mungkin sedang kita lalui dan itu berkaitan dengan syahwat diri kita yang sangat merusak

回● Rasa takutnya diri kita dalam melihat masa depan yang belum pasti, saat kita merencanakan mimpi besar kita, yang terbayang dalam fikiran kita adalah pertanyaan yang meragukan “bisa atau tidak yaa ??? dan bayangan-bayangan kegagalan lebih menyelimuti fikiran kita

回● Kemalasan yang di perjuangkan, karena kita memang lebih sibuk dengan aktifitas mubah daripada sunnah, karena kita lebih di sibukkan dengan perkara yang makruh dan mungkin kita berlebihan dalam menggunakan waktu kosong dengan memperbanyak diri di kasur

回● Kita sering futur atau lemah dalam menata aktifitas dan ibadah, kita mengetahui bahwa Dhuha melapangkan, kita mengetahui infaq shodaqoh memberikan kesehatan, kita mengetahui Al-Qur’an mensakinahkan dan menjamin kebahagiaan, kita mengetahui bentuk ubudiyah lain nya jalan menuju Cinta dan Ampunan dari الله عزوجل

Sobat Mft,coba perhatikan baik-baik tadabbur ayat ini👇🏻👇🏻👇🏻

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Al-Anfaal : 2)

Ada 4 penekanan di ayat ini untuk kita dalam merangkai syahwat menjadi fitrah kebaikan

● Ada jaminan dari الله untuk kita dalam menggapai kesakinahan Hati, kualitas Iman dan Tawakkal yang tidak terkikis dengan rasa putus asa

● Bukan sekedar Dzikrullah tetapi lisan kita harus selalu basah dan Dzikrullah agar الله memberikan Hati kita berselimut kesakinahan, kelembutan dan kesantunan

perbanyaklah Taubat dengan Istighfar, perbanyaklah Tasbih, Tahmid, Tahlil dan Takbir, karena kalimat-kalimat Thoyibah menjamin Hati kita semakin sakinah

● Benteng terbaik untuk menjamin Hati dan Jiwa kita agar mendapatkan perlindungan Cahaya الله adalah Al-Qur’an, perbanyak terus lisan kita membaca dan menghafal Al-Qur’an, hiduplah dengan Al-Qur’an dan biarlah Al-Qur’an menjadi Sahabat Sejati kalian

● Raihlah kesuksesan masa depan kita dengan Do’a yang berlapis Tawakkal dan jangan pernah mengemis dengan yang menginjak Tanah, karena mereka juga Tanah yang tidak memiliki kekuatan

Sobat Mft yang Allah muliakan, Fitrah Hati kita mencintai kebaikan dan 3 hal yg harus kalian fahami itu adalah kerusakan

1. menunda waktu
2. melalaikan waktu senggang
3. menikmati kemalasan dan kebosanan

Ingatlah sukses itu bukan sekedar saat kalian bisa sederhana dalam hidup tetapi kalian bisa mengendalikan diri kalian tetap berpijak terhadap kebaikan.

Semoga kita menjadi pribadi insan yang baik

Wallahu’alam bis showab

Main ke Pantai, Shalatnya Gimana?

Main ke Pantai, Shalatnya Gimana?

✍🏽 Ustadzah Novria Flaherti

Assalamu’alaikum, kita dalam one day trip ke pantai sehingga memungkinkan untuk nyemplung ke air. Nah dalam pertengahan agenda masuk waktu shalat dzuhur misal. Apakah dibolehkan shalat dalam keadaan basah atau dijama’ saja atau gimana ustadzah?

==========
Jawaban

Ada dua poin disini yang pertama bolehkan shalat dalam keadaan basah setelah main di pantai?

● Yang menjadi syarat sah shalat diantaranya adalah kesucian badan dan pakaian. Namun kesucian sedikit berbeda dengan kebersihan. Yang membuat badan dan pakaian menjadi tidak suci adalah benda-benda najis. Sesuatu dikatakan najis hanya jika ada dalil yang menunjukkan kenajisannya. Jika tidak ada dalil yang menunjukkan, maka benda tersebut tetap dihukumi suci meski manusia merasa jijik terhadapnya.

Atas dasar ini: darah, air kencing, kotoran manusia semuanya dihukumi najis karena ada dalil yang menunjukkan kenajisannya. Adapun ingus, sisa makanan dalam gigi, dan ludah semuanya dihukumi suci karena tidak ada dalil yang menunjukkan kenajisannya.

Debu dan keringat bukan benda najis karena tidak ada dalil yang menunjukkan kenajisannya. Karena itu, badan yang “kotor” karena debu atau keringat, tetap dihukumi suci sehingga sah melakukan shalat dalam keadaan badan berkeringat  (basah kuyup sekalipun) atau badan penuh debu.

Air laut juga bukan najis tetapi untuk menjaga keyakinan dalam hati hendaklah shalat dalam keadaan bersih. Jika memungkinkan untuk shalat terlebih dahulu dan dipending acaranya disambung lagi setelah shalat Dzuhur

Pembahasan yang ke dua adalah sebaiknya jamak atau tidak?

● Untuk kriteria apakah memenuhi syarat jamak shalat yaitu telah melakukan  perjalanan dari satu kota ke kota lainnya.

Saran saya hendaklah shalat di awal waktu dan break sebantar untuk melaksanakan shalat Dzuhur

Zhihar

Zhihar

Ustadz Farid Nu’man

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah.
Memanggil Istri Dengan Sebutan “Ummi”, “bunda”, “dik” dan semisalnya,  Terlarangkah?

Jawaban
——-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Sebagian ulama memakruhkan seorang suami memanggil istrinya seperti itu, sebab dianggap sebagai zhihar atau penggilan yang membuat terjadinya mahram.

Ada pun dibanyak negeri panggilan tersebut sudah biasa sebagai panggilan keakraban, kasih sayang, dan pemuliaan.

Pihak yang memakruhkan berdalil  dengan hadits:

عَنْ أَبِي تَمِيمَةَ الْهُجَيْمِيِّ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِامْرَأَتِهِ: يَا أُخَيَّةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أُخْتُكَ هِيَ؟»، فَكَرِهَ ذَلِكَ وَنَهَى عَنْهُ

Dari Abu Tamimah Al Hujaimiy, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada istrinya: “Wahai saudariku.” Maka, Rasulullah ﷺ bersabda: “Apakah dia saudarimu?” Rasulullah ﷺ membenci itu dan melarangnya.
(HR. Abu Daud No. 2210,  Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 15146)

Para ulama menilai lemah hadits ini karena mursal. Imam Al Mundziri berkata: “Hadits ini mursal.” (Mukhtashar, 3/136). Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Mursal. (Fathul Bari, 9/387). Syaikh Abdul Qadir Al Arnauth mengatakan: “Mursal, dan Abu Daud meriwayatkan apa yang ada di dalamnya terdapat keguncangan (idhthirab).” (Jaami’ Al Ushuul, No. 5819, cat kaki No. 1). Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr juga mengatakan:”Mursal.” (Syarh Sunan Abi Daud, 253) Syaikh Al Albani mengatakan: “Dhaif.” (Dhaif Abi Daud, 2/240-241)

Pemakruhan tersebut menjadi teranulir karena lemahnya hadits ini. Tetapi, anggaplah hadits ini shahih, apakah maksud pemakruhannya?

Para ulama menjelaskan makruhnya hal itu jika dimaksudkan sebagai zhihar, sebagaimana ucapan “kamu seperti ibuku”, tapi jika tidak demikian, melainkan hanya untuk panggilan pemuliaan dan penghormatan (ikram), atau menunjukkan persaudaraan seaqidah dan seiman, maka itu tidak apa-apa.

Imam Al Bukhari dalam Shahihnya, dalam “Bab Seorang Laki-Laki Berkata Kepada Istrinya: Wahai Saudariku, maka Ini Tidak Apa-apa.”

Beliau meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِامْرَأَتِهِ: هَذِهِ أُخْتِي، وَذَلِكَ فِي اللَّه

Berkata Ibrahim kepada istrinya: “Ini adalah saudariku,” dan itu fillah (saudara karena Allah). (HR. Al Bukhari, 7/45,  9/22)

Riwayat ini tentu lebih shahih dibanding riwayat Imam Abu Daud sebelumnya.

Imam Ibnu Baththal Rahimahullah mengatakan:

إنما أراد البخارى بهذا التبويب ، والله أعلم ، رد قول من نهى عن أن يقول الرجل لامرأته : يا أختى

“Sesungguhnya penjudulan bab oleh Imam Al Bukhari seperti ini –wallahu a’lam- sebagai bantahan buat mereka yang melarang seorang suami memanggil istrinya dengan panggilan: “Wahai Saudariku.”(Syarh Shahih Al Bukhari, 7/409)

Beliau berkata lagi:

ومعنى كراهة ذلك، والله أعلم، خوف ما يدخل على من قال لامرأته: يا أختى، أو أنت أختى، أنه بمنزلة من قال: أنت علىَّ كظهر أمى أو كظهر أختى فى التحريم إذا قصد إلى ذلك، فأرشده النبى (صلى الله عليه وسلم) إلى اجتناب الألفاظ المشكلة التى يتطرق بها إلى تحريم المحلات، وليس يعارض هذا بقول إبراهيم فى زوجته: هذه أختى؛ لأنه إنما أرادa بها أخته فى الدين والإيمان، فمن قال لامرأته: يا أختى، وهو ينوى ما نواه إبراهيم من أخوة الدين، فلا يضره شيئًا عند جماعة العلماء.

Makna dari ketidaksukaan nabi atas hal itu –Wallahu a’lam- karena dikhawatirkan   orang yang berkata kepada istrinya: “Ya Ukhtiy -Wahai Saudariku”, atau “ kamu adalah saudariku”, sama kedudukannya dengan orang yang mengatakan: “Bagiku kau seperti punggung ibuku”, atau “seperti punggung saudariku”, maka ini jatuhnya menjadi mahram jika memang dia maksudkan seperti itu. Maka, Nabi ﷺ membimbingnya untuk menjauhi kata-kata yang kontroversi yang dapat membawa pada makna mahram.

Hadits ini (Abu Daud) tidak bertentangan dengan ucapan Nabi Ibrahim kepada istrinya: “Kau adalah saudariku.” Sebab maksud kalimat itu adalah sebagai saudara seagama dan seiman. Maka, barang siapa yang berkata kepada istrinya: “Wahai Saudariku” dan dia berniat sebagaimana Ibrahim, yaitu saudara seagama, maka ini sama sekali tidak apa-apa menurut jamaah para ulama. (Imam Ibnu Baththal, Syarh Shahih Al Bukhari, 7/409-410)

Imam Al Khathabi Rahimahullah menjelaskan bahwa dibencinya memanggil “wahai saudariku” kepada istri  jika maksudnya sebagai zhihar, seperti ucapan kamu seperti ibuku, atau seperti wanita lain yang mahram bagi suami, … lalu Beliau  berkata:

وعامة أهل العلم أو أكثرهم متفقون على هذا إلاّ أن ينوي بهذا الكلام الكرامة فلا يلزمه الظهار، وإنما اختلفوا فيه إذا لم يكن له نية، فقال كثير منهم لا يلزمه شيء.

Umumnya ulama atau kebanyakan mereka sepakat atas larangan itu, KECUALI jika kalimat itu diniatkan untuk karamah (pemuliaan-penghormatan) maka tidaklah itu berkonsekuensi seperti zhihar. Hanya saja para ulama berbeda pendapat jika pengucapan itu tidak ada niat  pemuliaan,  banyak di antara mereka mengatakan bahwa itu juga tidak ada konsekuensi apa-apa.”

 (Imam Al Khathabi, Ma’alim As Sunan, 3/249-250)

Nah, dari penjelasan para ulama ini, jelas bagi kami bahwa pemakruhan memanggil istri dengan “bunda”, “ummi”, atau semisalnya, jika memang itu dimaksudkan   sebagaimana zhihar. Ada pun jika panggilan tersebut sebagai bentuk penghormatan suami kepada istrinya, atau pendidikan bagi anak-anaknya, maka tidak apa-apa.

Hal ini sesuai kaidah fiqih:

الأمور بمقاصدها

  Berbagai pekara/urusan/perbuatan dinilai sesuai maksud-maksudnya.

(Imam As Suyuthi’, Al Asybah wan Nazhair, Hal. 8. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Imam Tajuddin As Subki, Al Asybah wan Nazhair, 1/65. Cet. 1,  1991M-1411H. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Syaikh Abdullah bin Sa’id Al Hadhrami Al Hasyari, Idhah Al Qawaid Al Fiqhiyah Lithulab Al Madrasah, Hal. 11)

  Sementara itu, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah mengoreksi para ulama yang memakruhkan, menurutnya pemakruhan itu tidak tepat.

Beliau berkata:

فإذا قال: أنت علي كأمي، أي: في المودة والاحترام والتبجيل فليس ظهاراً؛ لأنه ما حرمها، وإذا قال: أنت أمي، فحسب نيته، فإذا أراد التحريم فهو ظهار، وإذا أراد الكرامة فليس بظهار؛ فإذا قال: يا أمي تعالي، أصلحي الغداء فليس بظهار، لكن ذكر الفقهاء ـ رحمهم الله ـ أنه يكره للرجل أن ينادي زوجته باسم محارمه، فلا يقول: يا أختي، يا أمي، يا بنتي، وما أشبه ذلك، وقولهم ليس بصواب؛ لأن المعنى معلوم أنه أراد الكرامة، فهذا ليس فيه شيء، بل هذا من العبارات التي توجب المودة والمحبة والألفة.

Jika ada yang bekata: “Kau bagiku seperti ibuku” yaitu dalam hal kasih sayang, penghormatan, dan pujian, maka ini bukan zhihar, karena itu tidak diharamkan. Jika ada yang berkata: “Engkau adalah ibuku,” maka dihitung niatnya apa, jika maksudnya adalah sebagai mahram maka ini zhihar, tapi jika maksudnya pemuliaan maka ini bukan zhihar.

  Jika dia berkata: “Wahai Ummi, mari sini makan.” Maka ini bukan zhihar, tetapi sebagian ahli fiqih –rahimahumullah- ada yang memkruhkan suami memanggil istrinya dengan panggilan mahramnya, maka janganlah berkata: “Wahai Ukhtiy, Wahai Ummi, wahai bintiy/anakku,” dan yang semisal itu.  Pendapat mereka tidak benar, sebab maknanya seperti telah diketahui maksudnya adalah pemuliaan, maka ini sama sekali tidak masalah. Bahkan, kalimat-kalimat ini dapat melahirkan kasih sayang, cinta, dan kedekatan.
(Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Asy Syarh Al Mumti’, 13/236). Sekian.

Wallahu A’lam