Kisah Sarah Istri Ayahanda Para Nabi

 قَالَتْ يَا وَيْلَتَا أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ

Dia (istrinya) berkata, “Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib.” (QS Hud : 72)

Sarah adalah seorang perempuan berparas sangat cantik. Ia menikah dengan anak pamannya yaitu Ibrahim AS. Namun Allah memberinya cobaan dengan tak kunjung hadirnya si buah hati. Dan ia bersabar. Hingga datanglah suatu masa dimana sangat sulit sekali untuk mendapatkan makanan. Tidak ada yang memiliki makanan kecuali Namruz raja yang dzalim. Dan orang-orang berbondong-bondong pergi kepada Namruz untuk mendapatkan makanan dengan syarat mereka harus menyembah Namruz.

Dalam situasi seperti itu, nabi Ibrahim AS membawa istri dan hartanya yang tersisa untuk menyelamatkan aqidah menuju Mesir. Dan di Mesir…penguasa kejam Fir’aun mendengar kabar bahwa seorang perempuan cantik sedang berjalan menuju Mesir bersama Ibrahim dari negeri Syam. Ia menginginkan perempuan itu untuknya. Akan tetapi Allah melindungi perempuan itu dari kebejatan akhlak Fir’aun. Ketika Fir’aun hendak menyentuhnya, tiba-tiba tangannya lumpuh. Sambil menggigil ketakutan, Fir’aun berkata: “berdo’alah kepada Tuhanmu dan aku tidak akan menyakitimu selamanya.” Maka Sarah berdo’a kepada Allah dan sembuhlah tangan Fir’aun. Kemudian Fir’aun memberinya hadiah yaitu Hajar serta hadiah-hadiah lain yang sangat banyak. Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Sarah melakukan shalat dan berdo’a kepada Allah : Ya Allah…sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku beriman kepadaMu dan kepada rasulMu, maka jagalah kehormatanku kecuali hanya untuk suamiku dan janganlah Engkau jadikan orang kafir menodaiku.”
Sebuah cerita menyebutkan bahwa Allah membuka pandangan yang menghalangi antara Ibrahim dan Sarah. Ibrahim bisa terus memperhatikan Sarah sejak ia diambil dari sisinya hingga ia kembali ke sisinya. Dan Ibrahim melihat bagaimana Allah menjaga Sarah dari kejahatan Fir’aun. Yang menjadikan hatinya tenang.

Pulanglah Ibrahim dan Sarah ke Palestina melewati nabi Luth AS dan kaum Sadum di Amuroh (Yordania).

Lama waktu berselang namun Sarah tak juga memiliki anak. Ia pun menghadiahkan Hajar kepada suaminya untuk dinikahi agar segera mendapatkan keturunan yang didamba.

Suatu sore…datanglah malaikat dalam bentuk pemuda yang sangat tampan. Mereka adalah Jibril, Mikail dan Isrofil alaihimus salam. Saat mereka datang, nabi Ibrahim berada di pintu rumahnya. Sifat dermawannya menyegerakan ia untuk menyembelih kambing, memasaknya dan menghidangkannya demi memuliakan para tamu. Namun para malaikat menolaknya karena mereka tidak makan. Nabi Ibrahim merasa takut kepada mereka.

  وَلَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا سَلامًا قَالَ سَلامٌ فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ (٦٩) فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمِ لُوطٍ

69.Dan para utusan Kami (para malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, “Selamat.” Dia (Ibrahim) menjawab, “Selamat (atas kamu),” Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.
70. Maka ketika dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Dia (Ibrahim) mencurigai mereka, dan merasa takut kepada mereka. Mereka (malaikat) berkata, “Jangan takut, sesungguhnya kami diutus kepada kaum Luth.” (QS Luth : 69-70)

Para malaikat berkata kepada nabi Ibrahim: “Janganlah engkau takut, sesungguhnya kami adalah utusan Tuhanmu kepadamu. Kami diutus untuk menghancurkan kaum nabi Luth.” Sarah yang berdiri disamping Ibrahim terlihat sangat cemas. Ia mengkhawatirkan Luth yang masih memiliki hubungan saudara dengan Ibrahim. Kemudian Ibrahim berkata: “Akan tetapi Luth berada ditengah mereka. Bagaimana mungkin kalian menghancurkan suatu kaum yang disana ada seorang nabi?” Malaikat menjawab: “Tak perlu khawatir akan Luth, sesungguhnya Allah menyelamatkannya bersama orang-orang yang beriman kepadanya. Allah tidak menimpakan keburukan kepadanya kecuali pada istrinya. Ia termasuk orang-orang yang binasa.” Allah SWT berfirman :

 وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا إِنَّا مُهْلِكُو أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ إِنَّ أَهْلَهَا كَانُوا ظَالِمِينَ (٣١) قَالَ إِنَّ فِيهَا لُوطًا قَالُوا نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَنْ فِيهَا لَنُنَجِّيَنَّهُ وَأَهْلَهُ إِلا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ

31. Dan ketika utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengatakan, “Sungguh, Kami akan membinasakan penduduk kota (Sodom) ini karena penduduknya sungguh orang-orang zalim.”
32. Ibrahim berkata, “Sesungguhnya di kota itu ada Luth.” Mereka (para malaikat) berkata, “Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami pasti akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” (QS Al-Ankabut:31-32)

Kemudian para malaikat berpamitan..namun sebelum mereka berpaling, mereka menyampaikan kabar gembira mengenai akan hadirnya Ishak ditengah keluarga mereka. Dan Ishak akan memiliki anak yang bernama Ya’qub.

وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ (71) قَالَتْ يَا وَيْلَتَا أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ (72) قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ 7الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ (73)

” Dan istrinya berdiri (di sampingnya), lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira akan (kelahiran)Ishak dan sesudah Ishak (lahir pula) Ya’qub. Istrinya berkata, “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak, padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.” Para malaikat itu berkata, “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?(Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kalian, hai ahli bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”(QS Hud:71-73)

Saat itu usia Sarah sudah 70 tahun.

فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ (29) قَالُوا كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكِ إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ (30)

Kemudian istrinya datang memekik (tercengang), lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, “(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.” Mereka menjawab, “Demikianlah Tuhanmu memfirmankan. Sesungguhnya Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS Adz Dzariyat:29-30)

Sarah hidup hingga usia 127 tahun. Saat wafat ia dimakamkan di kota Al-Kholil di sebidang tanah milik nabi Ibrahim AS. Semoga Allah limpahkan keberkahan kepada ibunda Sarah.

Hikmah kehidupan :

1. Paras cantik yang Allah berikan kepada kaum perempuan adalah amanah dan juga ujian. Maka hendaknya amanah itu dijaga dan dipelihara agar hanya suami saja yang berhak untuk menyentuh dan menikmatinya. Karena ia yang membuka jalan halal melalui pernikahan.
2. Menjaga kehormatan diri dalam kondisi sulit sekalipun, merupakan kewajiban seorang istri.
3. Hijrah adalah sunnah para nabi. Pergi meninggalkan satu tempat menuju tempat lain untuk menyelamatkan aqidah. Saat ditempat asal ia tidak memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan.
4. Cobaan itu akan kita temui dimanapun kita berada.
5. Sebaik-baik perlindungan adalah perlindungan Allah. Maka mintalah perlindungan hanya kepadaNya. Ia akan memberikan perlindungan bahkan dengan cara diluar dugaan dan kemampuan kita. Disinilah letak kemurnian aqidah.
6. Do’a adalah senjata terbaik seorang mukmin. Berdo’alah dalam situasi dan kondisi apapun. Karena Allah sangat menyukai seorang hamba yang berkeluh kesah hanya kepadaNya.
7. Kejahatan yang dilakukan seseorang tidak selamanya harus dihadapi dengan sikap keras. Dalam kondisi tertentu, do’a lebih ampuh dari pada perlawanan.
8. Do’a yang kita lantunkan, perlu disampaikan secara definitif. Apa saja yang kita minta dan kita butuhkan.
9. Memuliakan tamu adalah akhlak para nabi. Dan menjamu mereka merupakan akhlak mulia.
10. Kedermawanan seseorang terlihat dan terasah saat ia menjamu tamunya.
11. Kita perlu memperhatikan penampilan ketika bertamu ke rumah orang lain. Upayakan agar penampilan menarik dan segar sehingga membawa aura segar kepada tuan rumah.
12. Kesabaran dan pengorbanan yang panjang akan berbuah anugerah yang indah. Jika semua masalah diserahkan kepada Allah. Disertai ikhtiar yang maksimal.
13. Tidak ada hal mustahil bagi Allah. Jika Ia berkehendak, apapun akan dapat terjadi. Bahkan kehamilan seorang perempuan di usia tua (70 tahun)
14. Berita gembira harus disyukuri. Minimalnya dengan menampakkan wajah ceria saat menerima berita itu.
15. Usia panjang adalah anugrah dari Allah. Maka bersyukurlah atas usia yang Allah berikan. Dan semoga kita mampu mengisi waktu dalam usia kita dengan hal-hal bermanfaat yang mendatangkan ridho dan pahala Allah.

اَللَّهُمَّ طَوِّلْ عُمُورَنَا وَصَحِّحْ أَجْسَادَنَا وَنَوِّرْ قُلُوْبَنَا وَثَبِّتْ إِيْمَانَنَا وَأَحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَوَسِّعْ أَرْزَقَنَا وَإِلَى الخَيْرِ قَرِّبْنَا وَعَنِ الشَّرِّ اَبْعِدْنَا وَاقْضِ حَوَائِجَنَا فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالۤاخِرَةِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya :
Ya Allah! Panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Wallohu a’lam bish showwab

Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj

Setiap Kita Pasti Bisa Sukses

Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh
Bagaimana kabar semuanya? Semoga Allah selalu mencurahkan Rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita masih dalam iman islam.

Bayangkan, rasakan, dan dengarkan, seakan dirimu punya banyak tombol di pikiranmu. Ada tombol “malas”, ada tombol “ah, nanti dulu”, ada tombol “cuek”, tapi ada pula tombol “kerja keras”, tombol “move on”, juga tombol “semangat”.

Keyakinan Menentukan Masa Depan
Salah satu faktor penting yang akan menentukan keberhasilan adalah keyakinan bahwa kita bisa sukses.

Yakinlah kamu bisa
Yakin dan percaya bahwa kita bisa tidak hanya berlaku dalam hal pelajaran. Semua cita-cita dan impianmu harus diiringi keyakinan bahwa suatu saat nanti kami bisa mencapainya.

Bangun Percaya Dirimu
Kita memang punya kekurangan, tapi jangan terpaku dengan kekurangan kita. Yakinlah bahwa kita punya keunikan dan kelebihan yang bisa dikembangkan.

Buktikan Kamu Bisa
Jangan takut jika orang lain menganggap impianmu tidak bisa tercapai. Buktikan bahwa kamu bisa mencapainya, mulailah usaha dari sekarang dan dengan sungguh-sungguh.

Tuliskan Impianmu
Tuliskan supaya bisa mengingat impian itu, hal itu akan membuat kita terus bersemangat.

Sukses Butuh Proses
Semua keberhasilan butuh proses, melalui berbagai jalan, yang terkadang tidak mudah. Segeralah bertindak!

Selain hal-hal diatas, beberapa hal berikut ini juga sangat penting untuk mencapai kesuksesan :
● Jangan menyerah
● Gunakan waktumu dengan bijaksana
● Kerja keras, tawakal, terus berdoa
● Hindari mengeluh, malas, dan menunda
● Ubah kebiasaan buruk, ganti dengan kebiasaan positif.

Referensi :
Zainudin, Akbar. _Man Jadda wajadda for teen_.2014.Jakarta: Zikrul Hakim

Oleh: Ustadzah Heni & Tim

TAUHIDULLAH (Mengesakan Allah) Bag-3

Materi sebelumnya bisa dilihat di tautan berikut:

http://www.manis.id/2017/01/tauhidullah-mengesakan-allah-bag-2.html?m=1

3. Ketiga: Tauhid Asma dan Sifat

Tauhid ini merupakan keyakinan yang kokoh terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya Shallallaahu alaihi wa Salam menurut apa yang pantas bagi Allah   tanpa melakukan ta’wil, ta’thil, takyif, dan tamtsil terhadap nama-nama Allah. Berdasarkan firman Allah Subhannahu wa Ta’ala,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [الأعراف : 180] Hanya milik Allah asmaa-ul husna,  (nama-nama yang terbaik) maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Al Aa’roof: 180)

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا [الإسراء : 110]

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya  dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (Al Isra: 110)

Maksudnya Allah memiliki nama-nama yang agung dan indah agar manusia memohon dan memelas dengan menyebut-nyebut nama-Nya. Jangan berlebihan dalam memperlakukan Nama-nama Allah seperti orang yang beranggapan Allah serupa dengan Makhluk-Nya karena dari nama dan sifatnya ada kesamaan dengan Allah.

Nama-nama itu tidak boleh pula dita’wil atau diterjemahkan maksud-maksudnya di luar pengertian bahasa Arab, tidak boleh dithatil atau ditiadakan, juga dipertanyakan bentuknya (takyif) atau diserupakan dengan makhluk ciptaan-Nya (tamtsil). Allah berfirman,

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

Allah diberi nama dan disifati dengan nama dan sifat yang Dia berikan untuk diriNya dan dengan nama dan sifat yang disampaikan oleh RasulNya. Allah menolak jika ada sesuatu yang dianggap menyerupai-Nya, dan Dia menetapkan bahwa Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman,

“Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15)

Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam hal ini tidak boleh dilanggar, karena tidak seorang pun yang lebih mengetahui Allah daripada Allah sendiri, dan tidak ada sesudah Allah orang yang lebih mengetahui Allah daripada RasulNya.

Maka barangsiapa yang meng-ingkari nama-nama Allah dan sifat-sifatNya atau menamakan Allah dan menyifatiNya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhlukNya, atau men-ta’wil-kan dari maknanya yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan RasulNya.

Sikap para sahabat Nabi, tabi’in dan ulama Ahlus Sunnah dalam hal asma’ dan sifat Allah adalah mengimani dan menetapkannya sebagaimana ia datang tanpa tahrif (mengubah), ta’thil (menafikan), takyif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil (menyerupakan).

Sikap terhadap Nama-nama Allah ini termasuk pengertian beriman kepada Allah.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, “Kemudian ucapan yang menyeluruh dalam semua bab ini adalah hendaknya Allah itu disifati dengan apa yang Dia sifatkan untuk DiriNya atau yang disifatkan oleh Rasul-Nya, dan dengan apa yang disifatkan oleh As-Sabiqun Al-Awwalun (para generasi pertama), serta tidak melampaui keterangan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Imam Ahmad Rahimahullaah berkata, “Allah tidak boleh disifati kecuali dengan apa yang disifati oleh-Nya untuk Diri-Nya atau apa yang disifatkan oleh RasulNya, serta tidak boleh melampaui Al-Qur’an dan Al-Hadits”.

Sejarah mencatat Madzhab salaf menyifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan untuk DiriNya dan dengan apa yang disifatkan oleh RasulNya, tanpa tahrif dan ta’thil, takyif dan tamtsil.

Kita mengetahui bahwa apa yang Allah sifatkan untuk DiriNya adalah haq (benar), tidak mengandung teka-teki dan tidak untuk ditebak.

Maknanya setiap sifat Allah sudah dimengerti secara bahasa, sebagaimana maksud orang yang berbicara juga dimengerti dari pembicaraannya. Apalagi jika yang berbicara itu adalah Rasulullah, manusia yang paling mengerti dengan apa yang dia katakan, yang paling fasih dalam menjelaskan ilmu, dan yang paling baik serta mengerti dalam menjelaskan atau memberi petunjuk.

Dan sekali pun demikian tidaklah ada sesuatu pun yang menyerupai Allah. Tidak dalam Diri (Dzat)Nya Yang Mahasuci yang disebut dalam asma’ dan sifatNya, juga tidak dalam perbuatanNya.

Allah Subhannahu wa Ta’ala mempunyai Dzat, Af’al (perbuatan), Sifat-sifat, yang  tidak ada satu pun yang menyamaiNya, “walam yakunlahu kufuwan ahad” (tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya).

Setiap anggapan yang mengharuskan adanya kekurangan dan huduts harus ditolak, sebab Allah Subhannahu wa Ta’ala benar-benar bebas dan Mahasuci dari hal tersebut.

Sesungguhnya dalam segala hal Allah memiliki kesempurnaan yang paripurna, tanpa batas. Dan mustahil baginya mengalami huduts (baru), karena mustahil bagiNya sifat ‘adam (tidak ada); sebab huduts (baru) mengharuskan adanya sifat ‘adam sebelumnya, dan karena sesuatu yang baru pasti memerlukan muhdits (yang mengadakan), juga karena Allah bersifat wajibul wujud binafsihi (wajib ada dengan sendiriNya).

Kita beriman dengan dalil Al Qur-an,

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-hadiid: 3)

Maka madzhab ulama salaf dalam meyakini Asma dan Sifat Allah adalah antara ta’thil dan tamtsil. Mereka tidak menyamakan atau menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhlukNya. Sebagaimana mereka tidak menyerupakan DzatNya dengan dzat pada makhlukNya.

Mereka tidak menafikan apa yang Allah sifatkan untuk diriNya, atau apa yang disifatkan oleh Allah dan RasulNya. Seandainya mereka menafikan, berarti mereka telah menghilangkan asma’ husna dan sifat-sifatNya yang ‘ulya (luhur), dan berarti mengubah kalam dari tempat yang sebenarnya, dan berarti pula mengingkari asma’ Allah dan ayat-ayatNya.

(Bersambung)

Pemateri: Ustadz Aus Hidayat Nur

Kehati-hatian dalam Makanan

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh ustadz/ah….kalau dapat kiriman makanan dari non-Muslim yang bukan snack kemasan (tapi dimasak dirumah), dan kita tahu mereka dirumah masak babi untuk konsumsi mereka sendiri, gak boleh dong? Walaupun daging yang dibeli halal.

Jawaban :
—————-

 وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jika kita sudah tahu kondisinya demikian, untuk kehati-hatian sebaiknya tidak dikonsumsi. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda bahwa halal dan haram itu jelas. Dan di antara keduanya ada syubhat.

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Telah menceritakan kepada kami Zakaria dari ‘Amir berkata; aku mendengar An Nu’man bin Basyir berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 “Yang halal sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas. Namun diantara keduanya ada perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Maka barangsiapa yang menjauhi diri dari yang syubhat berarti telah memelihara agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang sampai jatuh (mengerjakan) pada perkara-perkara syubhat, sungguh dia seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang yang dikhawatirkan akan jatuh ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki batasan, dan ketahuilah bahwa batasan larangan Allah di bumi-Nya adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati”. (Shahih Bukhari nomor 50).

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Slamet Setiawan

Jangan Remehkan Urusan Sebab Kehidupan Bisa Berubah !

Shalat sunah dua rakaat sebelum subuh senilai dunia dan isinya

Memindahkan duri dari jalan adalah cabang dari iman

Lidah yang lentur bisa menjerumuskan pemiliknya ke neraka

Memberi minum seekor anjing kehausan dapat melindungi pelakunya dari api neraka

Jadi, kebaikan apa pun lakukan saja .., keburukan sekecil apa pun jauhilah …

لا تحقرن من المعروف شيئا ولو أن تلقى أخاك بوجه طلق

Jangan remerhkan kebaikan sedikit pun walau menoleh ke  saudaramu dengan wajah ceria. (HR. Muslim No. 2626)

Ahli hikmah mengatakan:

الطيور تأكل النمل، وعندما تموت فإن النمل يأكلها .. الظروف قد تتغير .. فلا تقلل من شأن أحد.

Burung memakan semut, namun di saat burung mati semutlah yang memakannya …, keadaan itu bisa berubah … maka jangan kecilkan satu pun urusan

Wallahu A’lam

By: Farid Nu’man Hasan

Tidak Mudah Menyatukan Ummat, Kepentingan Bersama Tidak Selalu Menjadi Prioritas

Penaklukan kota Tunis – 16 Agustus 1534

Penaklukan kota ini terjadi pada hari Ahad 6 Safar 941 Hijriah (16 Agustus 1534) ketika kota Tunis diserbu dan dikuasai oleh Khairuddin Barbarossa dari Muley Hasan, penguasa dari Emirat Hafsiyah yang berpihak kepada Kerajaan Habsburg di Spanyol. Tunis kini merupakan ibukota negara Tunisia.

Latar Belakang

Pada tahun 1533, Sultan Suleiman I Kanuni memerintahkan admiralnya, Khairuddin Barbarossa, untuk membangun armada laut dalam jumlah yang besar untuk masa itu. Khairuddin berlayar dari pangkalannya di Aljazair ke İstanbul untuk mengawasi pembangunam armada tersebut. Sepanjang musim dingin 1533-34 berhasil dibangun 70 galley dengan awak sebanyak 1.200 budak.

Operasi Kilat

Dengan mengandalkan armada baru ini, Khairuddin melakukan manuver agresif di sepanjang pantau Italia sebelum menyerbu Tunis. Kota pelabuhan Tunis waktu itu menutup diri dari kapal-kapal Khilafah Turki Utsmani serta memihak pada Kerajaan Habsburg yg berada di Spanyol.

Khairuddin Barbarossa kemudian menjadikan Tunis sebagai salah satu pangkalannya untuk operasi militer di Laut Mediterranean bagian tengah; termasuk untuk memantau aktivitas pasukan salib yang juga memiliki pangkalan di Pulau Malta.

Kelanjutan

Atas permohonan Muley Hasan dari Emirat Hafsiyah kepada Raja Charles V maka pada tahun 1535 menyerbu dan merebut kembali kota Tunis.

Agung Waspodo, demikian untuk diketahui bahwa untuk kepentingan yang lebih strategis maka berposisi merangkul entitas lokal mungkin akan berdampak positif dalam jangka panjang. Setelah 481 tahun kemudian, lebih 5 hari.. Agustus memang padat dan saya keteteran..

Depok, 21 Agustus 2015

By: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

Adab di Kamar Mandi

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Minta dalil yang menerangkan kalau di kamar mandi tidak boleh nyanyi atau berlama-lama dan wudhu tanpa pakaian.

Jawaban :

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Dalil yang menjelaskan tidak boleh berlama lama di kamar mandi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ هَذِهِ الْحُشُوشَ مُحْتَضَرَةٌ
“Sesungguhnya tempat buang hajat ini telah didiami (oleh syetan)..” (HR Ahmad: 4/373, Ibnu Majah: 296, Ibnu Hibban: 1406)

Maka jika salah seorang dari kalian hendak memasuki kamar mandi (WC), ucapkanlah:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ اْلخُبُثِ وَ اْلخَبَائِثِ

Allahumma innii a’uudzu bika minal-khubusyi wal-khabaaisyi.

“Yaa Allah… Aku berlindung kepada-Mu dari gangguan Syaithon laki-laki dan Syaithon perempuan.” (HR. Bukhori 142, Muslim 375). [1]

Diantara tanda suksesnya iblis menggoda yaitu.mereka yang berlama lama.di kamar mandi seperti main hp, bernyanyi. Meroko atau hanya bermain main air.

Wudhu tanpa pakaian
Sepanjang syarat dan rukunnya di penuhi wudhu nya sah.akan tetapi kita bicara  sebaiknya tidak hanya dari sudut fiqh saja tapi juga perhatikan dari sisi adab. Menghadap orang saja kita malu bahkan kita akan memakai pakaian terbaik kita saat kita dipanggil orang penting atau tokoh. Nah apalagi ini.kita akan mengahadap Allah raja di raja penguasa Alam semesta dan harusnya kita lebih malu lagi karena Allah sudah memberi rezqi terbaik buat kita kenapa sebelum berwudhu kita tidak berpakaian baik dulu atau paling tidak ada tabir penutup aurat. Rasulullah bersabda

فَالله أَحقّ أَنْ يستحيا مِنْهُ

“Allah lebih layak seseorang itu mallu kepada-Nya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Turmudzi, Ibn Majah, dan dihasankan Al-Albani)

Wallahu a’lam.


Dijawab oleh Ustadzah Nurdiana

Dulu Sapa Sekarang Tidak

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah saya mau bertanya. Gimana hukumnya jika dua orang (akhwat & ikhwan) yang dulunya berteman tetapi sekarang tidak pernah bertegur sapa saat bertemu? Seolah-olah seperti tidak saling kenal..
# A 45

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Bergaul dengan siapa saja bagi setiap individu mungkin merupakan suatu kebutuhan yang lazim dan harus. Sosialisasilah yang membuat manusia dapat  mengalami titik tolak perubahan dalam dirinya. Pergaulan yang harus diperlihatkan bukanlah pergaulan yang salah, tidak jenis pergaulan yang mematuhi syariat yang dianjurkan/diperintahkan islam di dalamnya. Semua pencapaian dan akhir klimaks bagi setiap orang harus memenuhi rasa syukur dan bangga secara lahiriah maupun batiniah. Itulah tadi mengapa manusia harus melakukan interaksi yang baik? Jawabannya karena ingin memperoleh hasil yang baik dan mempunyai manfaat bagi dirinya atau orang lain yang bersangkutan.

 Perlu kita bahas bagaimana pergaulan yang benar antara saudara kita yang satu dengan yang lainnya. Ikwan dan akhwat. Jika mendengar kata tersebut, maka setiap individu sontak menyadari bahwa dirinyalah ikhwan atau akhwan. Sebuah penciptaan yang tidak sia-sia dari yang Maha Agung dalam menciptakan manusia yang berbeda-beda jenis kelamin. Tujuan ini di dasarkan atas tujuan sang pencipta untuk manusia berpasang-pasangan.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang artinya:

” Wahai orang-orang yang beriman ! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-oorang kafir itu tidak halal bagi mereka. Dan berikanlah kepada ( suami ) mereka mahar yang telah mereka berikan. Dan tidak ada dosa bagimu menikahi mereka apabila kamu bayarkan kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu meminta kembali mahar yang telah kamu berikan; dan (jika suaminya tetap kafir) biarkan mereka meminta kembali mahar yang telah mereka bayarkan (kepada mantan istrinya yang telah beriman). Demikianlah hukum Allah yang telah ditetapkanNya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS : Al- Mumtahanah: 10)

Dalam pergaulannya, tidak selamanya seorang ikhwan akan bergaul dengan ikhwan. Begitupun sebaliknya, tak selamanya seorang akhwat akan bergaul dengan seorang akhwat. Pasti ada hubungan atau interaksi sosial yang sifatnya heterogen. Dan biasanya interaksi yang heterogen dapat diambil arti bahwa hubungan pertemanan yang dilakukan dari akwat dengan ikhwan. Pergaulan antara ikhwan dan akhwat tetap diperbolehkan dalam islam asalkan semua pergaulan yang dilakukan didasarkan atas perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya, serta mengikuti anjuran Al-Quran, Hadits, dan As-sunnah.

Jangan sampai pergaulan yang kita lakukan antara ikhwan dan akhwat merupakan pergaulan yang dapat mengundang murka Allah, dan setiap orang (Ikhwan-akhwat) harus meemperhatikan dan menjaga dirinya baik- baik.

Islam tidak melarang ikhwan dan akhwat untuk bertegur sapa selama tidak berlebihan dan tetap menjaga diri. Dan perlu dicatat, dalam pergaulan antar lawan jenis jangan sampai membuka peluang setan untuk menjerumuskan atau menggoda kita melewati batas, misalnya mengobrol berdua di tempat sepi dll.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Slamet Setiawan

Diantara Penyakit-Penyakit Para Aktifis

1. Kamaliyat (Perfeksionis)

Ada aktifis Islam yang begitu ingin sempurna dan ideal. Apa yang dia baca, dia pahami, dan dia inginkan harus benar-benar terwujud sejak proses sampai tujuan akhirnya. Pandangan terhadap seseorang, nilai, dan entitas, begitu sempurna.

Aktifis model ini akan mudah kecewa jika tidak sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi.
Jenis muharrik (aktifis) seperti ini rentan menggerutu dan merajuk (ngambek) jika idealismenya tidak terwujud.
Dia lupa bahwa dirinya manusia, qiyadah-nya manusia,  kawannya manusia, mad’u (objek da’wah)-nya juga manusia, yang akan terjadi hal-hal yang sifatnya manusiawi pula.

2. Isti’jaal (Tergesa-gesa)

Ada lagi aktifis Islam yang begitu semangat dalam da’wahnya, mengerahkan semua tenaga dan pikirannya, tanpa memahami tabiat jalan da’wah yang begitu panjang dan melelahkan.

Akhirnya staminanya berakhir pada saat jauh dari tujuan. Ini terjadi karena keinginannya untuk cepat-cepat menang, cepat-cepat terjadinya futuhat (penaklukan) atas musuh atau daerah.

Kadang tergesa-gesa pula dalam menilai perubahan musuh-musuh da’wah, sehingga hilang kewaspadaan.
Disangkanya musuh melunak, disangkanya musuh sudah ditaklukan, disangkanya musuh menjadi pendukung,  padahal itu strategi mereka. Tergesa-gesa memang membuat kesadaran untuk hati-hati dan waspada menjadi tipis.

3. Futuur (Lemah dan Berhenti)

Ada pula aktifis yang lemah setelah semangat, berhenti setelah bergerak. Itulah futur. Biasanya disebabkan oleh kerasnya pertarungan dan minimnya stamina baik berupa pasokan ruhiyah yang ringkih, fikriyah yang lemah, jasadiyah yang layu, ditambah faktor ekonomi yang terseok-seok.
Di sisi luar, kemenangan yang tidak kunjung datang, sementara musuh-musuh da’wah Islam semakin keras menteror, memfitnah, sampai menangkap mereka. Lahirlah rasa takut, akhirnya mereka surut dan meninggalkan da’wah sama sekali.  Dulunya mereka rijal, sekarang menjadi buih.

5. Hubbuzh Zhuhuur (Senang Tampil)

Ada pula aktifis yang selalu ingin tampil. Ingin disebut namanya, dianggap besar saham da’wahnya, dan penting kontribusinya. Semangat dalam keramaian, lesu dalam kesendirian. Sesak dada jika saudaranya lebih unggul dan sering tampil. Keikhlasannya dipertaruhkan. Memandang saudaranya sesama aktifis sebagai kompetitor dalam arti negatif, bukan berlomba dalam kebaikan.

Penyakit ini hanya bisa disembuhkan dengan bagusnya tauhid,  mujahadah untuk meluruskan niat, dan mengenyampingkan target pribadi duniawi.

5. Isytighal bimaa laa ya’nih (Sibuk Dengan Hal Yang Tidak Bermanfaat)

Ada aktifis yang sibuknya mengoleksi kesalahan saudaranya, berdebat di sana sini, berkutat pada masalah yang tidak produktif, dan jauh dari umat. Seolah dia autis, punya dunia dan kehidupan sendiri.

Bagaimana bisa memperbaiki, jika sibuk sendiri, dan menjauh dari permasalahan umat?

6. Tafarruq (perpecahan)

Ada aktifis yang sulit untuk menerima pandangan saudaranya. Lapang dada adalah sikap yang tidak mampu dia raih. Ke mana dia berada selalu mengundang dan mengandung ihtikaak (gesekan/friksi), baik di organisasi, perkumpulan, masjid, bahkan dunia maya.

Hobi sekali berpecah, dengan alasan “meluruskan yang salah”. Akhirnya, kawan menjadi lawan, saudara menjauh, sementara musuh bertepuk tangan.

Wahai para aktifis, apakah ini pernah anda alami?

By: Ustadz Farid Nu’man Hasan

Doa Nurbuat

Assalamu’alaikum, mau tanya. Pengalaman membaca doa nurbuat itu apakah dianjurkan oleh Rasulullah? Mohon jawabannya yaa ukh, syukron.

Jawab:

Wa’alaikumussalaam wrwb…

Banyak ulama meragukan apakah doa nurbuat ini benar berasal dari Rasulullah saw atau tidak.
Karena ada beberapa alasan yang cukup kuat yang harus dipertimbangkan, diantaranya adalah kesalahan tata bahasa dalam sebagian lafazh doa yang tidak sesuai dengan nahwu bahasa Arab, juga isi permintaan dalam doa tersebut serta keutamaan-keutamaan membaca doa ini yang tidak jelas dasar dalilnya.
Oleh karena itu, sebagian ulama berpendapat bahwa doa ini bukan berasal dari Nabi saw dan tidak ada anjuran khusus untuk membacanya sehingga tidak layak untuk dirutinkan.

Meskipun demikian, ada juga kalangan ulama yang mengatakan bahwa walaupun doa nurbuat ini bukan berasal dari Nabi saw, namun membaca doa ini boleh-boleh saja, sebagaimana hukum berdoa secara umum yakni boleh-boleh saja untuk berdoa meminta kebaikan-kebaikan kepada Allah SWT asalkan isinya tidak bertentangan dengan syariat.
Walaupun memang, doa yang paling utama adalah doa yang terdapat dalam Al Quran, doa yang berasal dari Nabi saw, dan doa yang berasal dari para sahabat dan orang-orang sholeh terdahulu.

Maka untuk lebih afdhol dan keluar dari perbedaan pendapat ini, adalah lebih baik jika kita mengamalkan doa-doa yang utama yakni doa-doa yang terdapat dalam Al Quran, doa yang berasal dari Nabi saw, para sahabat dan orang-orang sholeh terdahulu.

Demikian, wallaahu a’lam bishshowab…

Dijawab oleh Ustadzah Prima Eyza