Sepatuku Dibawa Pergi Anjing

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah..
Kemarin waktu aku kerja, ditugasin buat datang ke rapat wilayah kerjaku. Waktu aku kerumah pak RW ada anjing. Waktu sepatuku lepas diciumin sama anjing sempet dibawa juga hehe. Tapi anjingnya itu tidak ada air liurnya. Trus apa yg mesti aku lakukan? #A 40

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Bismillah wal Hamdulillah ..

Hanafiyah dan Hambaliyah mengatakan liur anjing itu najis, sedangkan kulit, kuku, dan bulunya tidak.

Syafi’iyah mengatakan liur anjing dan sekujur tubuhnya adalah najis.

Malikiyah mengatakan liur anjing dan sekujur tubuhnya suci, tidak najis.

Kalau digigit, apalagi sampai dibawa segala, pastilah ada liurnya walau sedikit. Maka, ambil amannya saja, ikuti pendapat mayoritas ulama bahwa liur anjing adalah najis. Maka, cuci dengan air 7 kali, diawali dengan tanah.

Wallahu a’lam.

Dijawab olehi: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S

Berbicara Ketika Wudhu, Makruh?

Tidak ada dalil larangan berbicara saat wudhu, hanya saja hal itu memang dapat meninggalkan keadaan yang lebih utama untuk dijaga, yaitu kekhusu’an saat wudhu. Sebab wudhu sendiri sebuah ibadah. Pemakruhan yang disampaikan sebagian ulama karena berbicara saat wudhu telah menyia-nyiakan yang lebih utama yaitu tenang saat berwudhu.

Syaikh Abdullah Al Faqih Haizhahullah berkata:

فيجوز الكلام أثناء الوضوء، ولم يرد ما يدل على النهي عن ذلك

Dibolehkan berbicara saat berwudhu, dan tidak ada dalil yang menunjukkan larangan hal itu. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah, 11/934)

Tersebut dalam Al Mausu’ah:

ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّ التَّكَلُّمَ بِكَلاَمِ النَّاسِ بِغَيْرِ حَاجَةٍ أَثْنَاءَ الْوُضُوءِ خِلاَفُ الأَْوْلَى ، وَإِنْ دَعَتْ إِلَى الْكَلاَمِ حَاجَةٌ يَخَافُ فَوْتَهَا بِتَرْكِهِ لَمْ يَكُنْ فِيهِ تَرْكُ الأَْدَبِ .

Mayoritas ahli fiqih berpendapat bahwa berbicara dengan manusia  saat wudhu dengan pembicaraan yang tidak diperlukan, adalah perbuatan yang menyelisihi hal yang utama. Jika   memang ada keperluan yang membuatnya mesti berbicara, dan khawatir  akan kehilangan hajatnya itu karena meninggalkannya, maka hal itu tidak termasuk meninggalkan adab. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 35/114)  

Imam An Nawawi Rahimahullah menyebutkan sunah-sunah wudhu, di antaranya:
وأن لا يتكلم فيه لغير حاجة

Tidak berbicara tanpa adanya kebutuhan. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/465)

Maka,  berbicara saat wudhu, sama juga meninggalkan salah satu sunah wudhu, walau itu bukan hal terlarang.

Imam An Nawawi juga berkata:

وقد نقل القاضي عياض في شرح صحيح مسلم أن العلماء كرهوا الكلام في الوضوء والغسل وهذا الذي نقله من الكراهة محمول علي ترك الاولى والا فلم يثبت فيه نهى فلا يسمي مكروها الا بمعنى ترك الاولى

Al Qadhi ‘Iyadh telah menukil pada Syarh Shahih Muslim, bahwa para ulama memakruhkan berbicara saat wudhu dan mandi. Pemakruhan ini dimaknai sebagai aktifitas yang meninggalkan perkata yang lebih utama, jika tidak maka belum ada larangan yang shahih dalam masalah ini, maka tidaklah dinamakan makruh kecuali dengan makna meninggalkan hal yang lebih utama. (Ibid, 1/466)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah berkata:

” الكلام في أثناء الوضوء ليس بمكروه ، لكن في الحقيقة أنه يشغل المتوضئ ؛ لأن المتوضئ ينبغي له عند غسل وجهه أن يستحضر أنه يمتثل أمر الله ، وعند غسل يديه ومسح رأسه وغسل رجليه ، يستحضر هذه النية ، فإذا كلمه أحد وتكلم معه ، انقطع هذا الاستحضار وربما يشوش عليه أيضاً ، وربما يحدث له الوسواس بسببه ، فالأولى ألا يتكلم حتى ينتهي من الوضوء ، لكن لو تكلم ، فلا شيء عليه ” .

Berbicara saat wudhu tidaklah makruh, hal itu pada kenyataannya dapat menyibukkan orang yang berwudhu. Sebab seorang yang sedang berwudhu hendaknya saat dia membasuh wajahnya dia menghadirkan hatinya untuk menjalankan perintah Allah, begitu pula saat dia mencuci tangan, membasuh kepala, dan mencuci kaki, hendaknya dia hadirkan niat tersebut. Jika ada yang berbicara dengannya, maka terputuslah hal itu dan bisa jadi dia juga hatinya terganggu, dan gara-gara itu dia jadi was was. Maka, lebih utama adalah tidak berbicara sampai dia selesai wudhunya. Tapi, jika dia berbicara, itu tidak apa-apa. (Fatawa Nuur ‘Alad  Darb, Bab Ath Thaharah No. 326)

Wallahu A’lam

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S

DESIGN MANIS COMPETITION

Ayo buat dan kirimkan design kamu yang bertemakan Majelis Iman Islam! Design bisa berbentuk ilustrasi, hand lettering, dll yang mudah diaplikasikan kedalam Kaos. Lomba ini diselenggarakan oleh Yayasan Majelis Iman Islam (MANIS). Yuk ikutan!

TEMA : Majelis Iman Islam

HADIAH:

    Juara 1 : Kaos MANIS 2 pasang (4 pcs)
    Juara 2 : Kaos MANIS 1 pasang (2 pcs)
    Juara 3 : Kaos MANIS 1 pcs

TIMELINE:

    Pelaksanaan Lomba : 1-28 Februari 2017
    Deadline Lomba : 28 Februari 2017
    Pengumuman Finalis : 4 Maret 2017
    Pengumuman Pemenang : 10 Maret 2017

CONTOH DESIGN KAOS :

http://www.manis.id/p/blog-page_30.html?m=1

JURI :

    Team Majelis Manis

CARA IKUTAN :

    Daftar sebagai Member Majelis Manis di www.manis.id (jika belum)
   
    Kirimkan design kaos (format .jpg) kamu melalui WhatsApp 085279776222 atau email majelisimanislam@gmail.com
   
    Jika “Ditolak” artinya karya kamu tidak lolos seleksi tahap pertama karena belum sesuai dengan kriteria yang kami cari;
   
    Jika “Diceklis” artinya karya kamu lolos tahap pertama atau selanjutnya masuk daftar tunggu;
   
    Tim Majelis Manis membutuhkan waktu max. 2×24 jam untuk pelaksanaan seleksi tahap pertama;

    Follow dan mention karya kamu ke twitter @majelismanis dan tag instagram @majelismanis dengan tagar #KaosManis
   
    Pengumuman pemenang melalui web www.manis.id dan dikontak langsung oleh panitia

*PERATURAN :*

    Lomba Design ini bersifat tertutup dimana peserta tidak dapat melihat karya satu sama lain.
   
    Peserta boleh membuat design kaos untuk ikhwan atau akhwat saja, namun boleh juga keduanya.

    Peserta dapat mengirimkan karya sebanyak – banyaknya;

    Karya dalam bentuk design grafis, bukan materi fotografi;

    Setiap PEMENANG wajib mengirimkan file asli berformat .ai, .eps, .tif, atau .jpg (high res) ke email majelisimanislam@gmail.com

    Karya tidak mengandung merek dagang, ciptaan yang dilindungi hak cipta, atau Hak Kekayaan Intelektual dalam bentuk apapun milik pihak lain;

    Karya yang ddihasilkan harus mengandung logo Majelis Manis;

    Peserta sepakat untuk hanya akan menyerahkan karya desain yang berupa karya asli yang sepenuhnya dihasilkan dan dimiliki oleh Peserta sendiri, dan bukan merupakan hasil peniruan, penjiplakan, perbanyakan, plagiat, dan/atau pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual atas karya milik pihak lain; di mana panitia tidak dapat dikenai pertanggung jawaban dalam bentuk apapun dalam hal timbul klaim atau tuntutan dari pihak manapun;

    Peserta sepakat bahwa segala bentuk plagiat dan/atau pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual terkait dengan karya yang diikut-sertakan dalam Lomba ini akan menimbulkan konsekuensi baik perdata maupun pidana sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku;

    Peserta sepakat untuk hanya akan menyerahkan karya desain yang belum pernah diikut-sertakan dalam kompetisi, sayembara dan/atau perlombaan apapun, baik yang dilangsungkan di dalam maupun di luar negeri;

    Peserta sepakat bahwa selama berlangsungnya Lomba sampai dengan ditetapkannya Pemenang Lomba, karya desain yang diikut-sertakan tidak akan diumumkan dalam bentuk apapun dan/atau melalui media apapun kecuali atas perintah dan/atau persetujuan tertulis dari Majelis Manis, serta tidak akan diikut-sertakan dalam sayembara dan/atau perlombaan lain yang serupa baik yang dilangsungkan di dalam maupun di luar negeri;

    Majelis Manis adalah pemegang Hak Cipta dan segala bentuk Hak Kekayaan Intelektual lainnya sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku, yang mungkin terdapat dalam karya desain yang ditetapkan sebagai Pemenang;

    Majelis Manis berhak untuk menggunakan karya desain yang terpilih kedalam kategori pemenang untuk keperluan cetak.

    Setelah penerimaan hadiah, desain dan hak produksi sepenuhnya menjadi milik Majelis Manis dan tidak lagi terikat pembayaran pada pemenang/kreator.

    Majelis Manis memiliki hak penuh yang tidak dapat diganggu-gugat dan tidak memiliki batasan baik waktu maupun wilayah,  untuk mengumumkan, memperbanyak, dan/atau mempergunakan (termasuk namun tidak terbatas mengedit dan memodifikasi) karya pemenang untuk segala kepentingan promosi Majelis Manis;

    Peraturan dapat berubah sewaktu – waktu;

    Keputusan panitia dan dewan juri mengikat, tidak dapat diganggu gugat dan tidak ada surat menyurat.

Hormat Kami,


Djunaedi, SE
Ketua Yayasan Majelis Iman Islam (MANIS)

Bersyukur Selalu, Hidup Anda Akan Lebih Baik

Assalamu’alaikum adik-adik, apa kabar semuanya?
Semoga kita masih dalam rahmat Allah swt, Aamiin
Adik-adik hari ini kita akan membahas tentang Bersyukur

Syukur, suatu kata yang sangat berbobot dan memberikan makna yang tidak terhingga. Allah telah menjamin dalam Al-Qur’an, barang siapa yang bersyukur maka Allah akan menambah nikmat kepada orang tersebut. Pada artikel ini, akan dibahas 2 manfaat penting bersyukur yang akan mengubah hidup Anda. Anda akan lebih sukses jika pandai bersyukur.

Sudahkan kita bersyukur? Sudahkah kita merasakan tambahan nikmat atas syukur Anda? Apakah kita ingin mendapatkan nikmat yang lebih besar lagi? Lupakan mengeluh, mulailah perbanyak syukur.

Inilah 2 Manfaat Bersyukur

Saya tidak membatasi bahwa manfaat bersyukur itu hanya 2. Hanya saja yang dibahas pada materi kali ini fokus kepada 2 manfaat ini.

Berikut adalah dua manfaat syukur. Mudah-mudahan bisa memotivasi kita menjadi hamba yang pandai bersyukur.

1. Pahala dari Allah.

Jelas, bersyukur adalah perintah Allah, kita akan mendapatkan pahala jika kita bersyukur dengan ikhlas. Menciptakan Feeling Good. Dengan bersyukur akan membuat kita lebih bahagia.

2. Perasaan kita menjadi lebih enak dan nyaman dengan bersyukur.

Bagaimana tidak, pikiran kita akan fokus pada berbagai kebaikan yang kita terima.

Apa Hubungan Pahala dari Allah Dengan Sukses?

Jelas sekali. Semakin banyak pahala dari Allah, maka Allah akan lebih sayang kepada kita. Jika Allah lebih sayang, maka pertolongan Allah semakin dekat. Do’a-do’a kita dikabulkan. Tindakan dan pikiran kita dibimbing, diarahkan ke jalan yang benar.

Bukankah ini luar biasa?

Lalu apa manfaat Feeling Good?

Jika kita yang percaya dengan Hukum Daya Tarik (law of attraction), feeling good akan meningkatkan kekuatan kita menarik apa yang kita inginkan. Kekuatan hukum ini akan sebanding dengan keyakinan dan perasaan positif. Sementara semakin banyak kita bersyukur, akan semakin banyak perasaan positif pada diri kita. Jika dari sekian teknik LOA tidak bisa kita ikuti, fokus saja pada bersyukur maka akan menghasilkan kondisi emosi yang positif.

Sementara bersyukur akan menciptakan emosi yang positif karena kita fokus pada hal-hal yang positif. Semakin banyak kita bersyukur akan semakin besar motivasi yang kita miliki. Syukur memfokus pikiran kita kepada hal-hal positif, kufur justru mengarahkan pikiran kepada hal yang negatif. Bersyukur akan membentuk pola pikir sukses. Pola pikir sukses adalah keyakinan dalam mendapatkan. Saat kita bersyukur, maka pikiran kita secara tidak sadar diberikan suatu “pola” mendapatkan, sehingga akan terbentuk pola sukses. Semakin banyak bersyukur, pola pikir sukses kita akan semakin kuat.

Dengan melihat ketiga manfaat dari feeling good, kita bisa menyimpulkan bahwa feeling good adalah mungkin menjadi salah satu cara Allah memberikan nikmat tambahan kepada kita. Jika orang baru ribut dengan manfaat syukur pada kahir-akhir ini, Al-Qur’an sudah 14 abad yang lalu. Sungguh suatu nikmat Allah yang diberikan kepada kita, sayang jika kita mengabaikannya.

Cara Meningkatkan Syukur

Saya yakin, kita orang-orang yang pandai bersyukur. Namun, bukan berarti kita tidak perlu meningkatkan syukur kita. Jika masih ada hal yang Anda inginkan, maka tingkatkan rasa syukur Anda.

Setinggi apa pun kita menjadi hamba yang bersyukur, kita masih tetap perlu meningkatkan syukur kita. Jika Anda baru bersyukur saat menambatkan nikmat berupa materi, ini adalah baru tahap awal menjadi hamba yang pandai bersyukur.

Untuk meningkatkan rasa bersyukur, kita harus lebih jeli dan peka terhadap berbagai nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Kurangnya kepekaan terhadap nikmat Allah akan mengurangi syukur kita, sebab kita merasa tidak ada yang perlu disyukuri lagi. Meningkatkan kepekaan bisa dilakukan dengan melakukan perenungan terhadap apa yang terjadi pada hidup kita sehari-hari. Luangkan waktu Anda setiap hari untuk merenungkan nikmat setiap harinya. Sadari bahwa: Setiap saat, kita mendapatkan nikmat baru. Satu detik waktu berlalu berarti kita mendapatkan nikmat hidup selama satu detik. Nafas kita, penglihatan kita, penciuman kita, detak jantung kita dan sebagainya yang tidak mungkin disebutkan disini. Selalu ada hikmah dari setiap kejadian, baik kejadian pada diri sendiri maupun orang lain.

Sementara setiap saat selalu ada kejadian, berarti selalu ada hikmah yang bisa kita ambil. Sementara hikmah adalah suatu nikmat. Syukurilah. Caranya ialah dengan rajin tafakur. Pikirkan apa hikmah dari setiap kejadian? Kitaa akan menemukan banyak hikmah dan lebih banyak bersyukur.

3 Cara bersyukur ini bisa kita lakukan setiap hari, bahkan setiap saat. Sampai kapan? Jangan bertanya sampai kapan, sebab bersyukur adalah sebuah ibadah, tidak diukur oleh keberhasilan materi. Justru, jika kita lupa bersyukur, apa yang telah kita miliki bisa jadi malah menjadi laknat, bukan lagi nikmat.

Jadi fahami, bagaimana syukur bisa mengubah diri Anda menjadi pribadi yang lebih sukses, kemudian tingkatkan syukur kita.

Sumber : motivasi-islam.com

Oleh: Ustadz M. Shafwan Husein el-Lomboki

Adab Left Grup

Dari Abu Burdah, katanya:

دَخَلْت مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ فَإِذَا عَبْدُ اللهِ بْنُ سَلاَمٍ ، فَسَلَّمْت ثُمَّ جَلَسْت ، فَقَالَ : يَا ابْنَ أَخِي ، إنَّك جَلَسْت وَنَحْنُ نُرِيدُ الْقِيَامَ.

Aku masuk ke Masjid Madinah, ada Abdullah bin Salam, lalu aku mengucapkan salam kemudia aku duduk. Dia berkata: _”Wahai Anak saudaraku, kamu duduk sedangkan kami  hendak berdiri.”_

Al Mushannaf Ibni Abi Syaibah No. 26178

Dari Musa bin Nafi’, dia berkata:

قَعَدْتُ إِلَى سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ، قَالَ: ” أَتَأْذَنُونَ؟ إِنَّكُمْ جَلَسْتُمْ إِلَيَّ “

Aku duduk bersama Sa’id bin Jubair, ketika Beliau hendak berdiri, Beliau berkata : “Apakah kamu mengizinkan ? Sesungguhnya kamu telah bermajelis (duduk)  bersamaku.”

Al Mushannaf Ibni Abi Syaibah,  No. 26184

Di antara adab bermajelis atau berkumpul adalah izin atau pamit kepada manusia yang semajelis dengannya. Ini merupakan hiasan akhlak bagi seorang muslim.

Sebagaimana datang mengucapkan salam atau izin, meninggalkannya juga demikian. Bermajelis di zaman modern bukan hanya di sebuah tempat, ruangan, masjid, dan semisalnya, tetapi juga di dunia maya, di antaranya grup _Whatsapp, Telegram,_ dll. Hal ini penting, bukan hanya menunjukkan bagusnya perilaku, tapi juga meminimalisir zhan yang tidak baik bagi rekan-rekan sekumpulannya, dan terputusnya silaturrahim.

Namun, diakui bahwa kadang _left grup_ terjadi secara tidak sengaja dan tidak diduga oleh pemiliknya, baik karena; hp error, dimainkan anak, dsb.

Wallahu A’lam

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

Penyakit didalam Dakwah

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…
Kami ngin solusi/obat dari masing2 penyakit itu (materi tgl 25 Januari, ‘ Dakwah dan Harokah’) Sudah sering penyakit itu di share, bc dll… Tapi obatnya ana gak pernah lihat dishare d sini….

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
‘ilaj/obat dari penyakit2 ini adalah:

1. Luruskan niat dalam da’wah, meninggikan Islam, bukan diri sendiri atau kelompok. Terus begitu, perbarui niat …

2. Pelajari dan resapi lagi sejarah da’wah para nabi yang begitu panjang, yg merupakan tabiat jalan da’wah

3. Lapang dada dengan kekurangan sesama aktifis Islam, memanusiakannya, bukan memalaikatkannya, dan memberikan uzur atas kekurangannya

4. Tidak boleh merasa paling baik, paling benar, sebab semua sama2 dlm proses titian menuju kebaikan tersebut

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Farid Nu’man

RIYADHUS SHALIHIN (3)

Ikhlas & Niat dalam Seluruh Perbuatan Yang Tampak dan Tersembunyi

Ayat-ayat al Quran tentang Ikhlas & Niat:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ} [البينة : 5]

“Dan tidaklah mereka itu diperintahkan melainkan supaya sama menyembah Allah, dengan tulus ikhlas menjalankan agama untuk-Nya semata-mata, berdiri lurus dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat dan yang sedemikian itulah agama yang benar.” (al-Bayyinah: 5)

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ [الحج : 37]

“Sama sekali tidak akan sampai kepada Allah daging-daging dan darah-darah binatang korban itu, tetapi akan sampailah padaNya ketaqwaan dan engkau sekalian.” (al-Haj: 37).

قُلْ إِن تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ  [آل عمران : 29]

“Katakanlah – wahai Muhammad,sekalipun engkau  semua sembunyikan apa-apa yang ada di dalam hatimu ataupun engkau sekalian tampakkan, pasti diketahui juga oleh Allah.” (ali-lmran: 29)

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian AUDIO berikut dibawah ini.

Selamat menyimak.

Pemateri: Ustadz Arwani Amin Lc. MPH

Makan, Minum, Rokok… Pembatal Wudhu?

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…saya mau nanya apakah makan,minum,dan merokok itu tidak/dapat membatalkan wudhu..mohon penjelasanya..trima kasih..

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Apakah makan bisa membatalkan wudhu? Ada beberapa rincian tentang hukum ini,

Pertama, makan daging onta
Ada hadis yang menegaskan bahwa orang yang makan daging onta, disyariatkan untuk berwudhu.

Diantaranya hadis dari  Jabir bin Samurah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Apakah  saya harus berwudhu karena makan daging kambing?”
Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إن شئت فتوضأ، وإن شئت فلا تتوضأ

“Kalau kamu mau boleh wudhu, boleh juga tidak wudhu”.

Kemudian dia bertanya lagi,

“Apakah saya harus berwudhu karena makan daging onta?”

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ

“Ya, berwudhulah karena makan daging onta.” (HR. Ahmad 21358, Muslim 828, dan yang lainnya).

Apakah membatalkan wudhu?

Ulama berbeda pendapat tentang hukum makan daging onta, apakah membatalkan wudhu ataukah tidak.

An-Nawawi menyebutkan,

فاختلف العلماء في أكل لحوم الجزور وذهب الاكثرون إلى أنه لاينقض الوضوء ممن ذهب إليه الخلفاء الأربعة الراشدون… وذهب إلى انتقاض الوضوء به أحمد بن حنبل وإسحاق بن راهويه ويحيى بن يحيى وأبو بكر بن المنذر وبن خزيمة واختاره الحافظ أبو بكر البيهقي

Ulama berbeda pendapat tentang status makan daging onta, apakah membatalkan wudhu ataukah tidak. Mayoritas ulama berpendapat, makan daging onta tidak membatalkan wudhu. Diantara yang berpendapat demikian adalah empat khulafa’ Rasyidin. Sementara ulama yang berpendapat makan daging onta membatalkan wudhu, diantaranya Imam Ahmad, Ishaq bin Rahuyah, Yahya bin Yahya, Ibnul Mundzir, Ibnu Khuzaimah, dan al-Hafidz al-Baihaqi as-Syafii.  (Syarh Shahih Muslim, 4/48).

An-Nawawi juga menyebutkan sejumlah sahabat yang berpendapat bahwa makan daging onta bisa membatalkan wudhu.

insyaaAllah pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat kedua, bahwa makan daging onta bisa membatalkan wudhu, sebagaimana dinyatakan dalam hadis Jabir bin Samurah di atas.

Kedua, makan makanan yang dimasak

Ada beberapa hadis yang memberikan kesimpulan hukum berbeda terkait makan makanan yang dimasak. Apakah membatalkan wudhu ataukah tidak. Kita akan simak hadisnya masing-masing.

Pertama, hadis yang mewajibkan wudhu karena makan makanan yang dimasak.

Hadis dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْوُضُوءُ مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

“Harus wudhu karena makan makanan yang tersentuh api.” (HR. Muslim 814)

Keterangan:

Yang dimaksud makanan tersentuh api adalah makanan yang dimasak, dengan cara apapun. (Mur’atul Mafatih, 2/22).

Kemudian hadis dari Ibrahim bin Abdillah bin Qaridz, bahwa beliau pernah melewati Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu yang sedang berwudhu. Kemudian Abu Hurairah bertanya, ‘Tahu kenapa saya berwudhu? Karena saya baru saja maka keju. Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَوَضَّئُوا مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

“Berwudhulah karena makan makanan yang tersentuh api.” (HR. Ahmad 7819, Muslim 815, yang lainnya).

Selanjutnya, kita sebutkan hadis yang kedua, yang tidak menganjurkann wudhu setelah makan.

Hadis dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma,

قَرَّبْتُ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- خُبْزًا وَلَحْمًا فَأَكَلَ ثُمَّ دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ بِهِ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ دَعَا بِفَضْلِ طَعَامِهِ فَأَكَلَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

Saya pernah menghidangkan untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sepotong roti dan daging lalu beliau memakannya. Kemudian beliau minta dibawakan air, lalu beliau wudhu dan shalat dzuhur. Kemudian beliau meminta dibawakan sisa makananya tadi, lalu beliau memakannya, kemudian beliau shalat (sunah) tanpa berwudhu. (HR. Abu Daud 191 dan dishahihkan al-Albani).

Kemudian hadis dari Amr bin Umayyah Radhiyallahu ‘anhu, beliau melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memotong daging kambing dengan pisau untuk dimakan. Kemudian datang waktu shalat. Lalu beliau letakkan pisau itu, kemudian shalat tanpa berwudhu. (HR. Bukhari 208 & Muslim 820)

Kemudian keterangan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma,

كَانَ آخِرُ الأَمْرَيْنِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَرْكَ الْوُضُوءِ مِمَّا غَيَّرَتِ النَّارُ

Aturan terakhir dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak berwudhu karena makan makanan yang dimasak. (HR. Abu Daud 192, Nasai 185, Ibnu Hibban 1134 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Apakah membatalkan wudhu?

Ulama berbeda pendapat dalam memahami dua hadis di atas. Sebagian mengkompromikan kedua hadis itu. Dan mereka berpendapat bahwa hadis yang memerintahkan untuk berwudhu karena makan makanan yang dimasak dipahami sebagai perintah anjuran. Sehingga makan makanan yang dimasak tidak membatalkan wudhu, namun dianjurkan untuk wudhu. (Fiqh Sunah, Sayid Sabiq, 1/59).

Ada juga yang memahami bahwa hadis Jabir menjadi nasikh (menghapus hukum) hadis yang memerintahkan wudhu karena makan makanan yang dimasak.

At-Turmudzi dalam Sunannya setelah menyebutkan hadis Jabir, beliau mengatakan,

والعمل على هذا عند أكثر أهل العلم من أصحاب النبى -صلى الله عليه وسلم- والتابعين ومن بعدهم مثل سفيان الثورى وابن المبارك والشافعى وأحمد وإسحاق رأوا ترك الوضوء مما مست النار. وهذا آخر الأمرين من رسول الله -صلى الله عليه وسلم-. وكأن هذا الحديث ناسخ للحديث الأول حديث الوضوء مما مست النار

Inilah yang diamalkan oleh mayoritas ulama di kalangan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in dan generasi setelahnya. Seperti Sufyan at-Tsauri, Ibnul Mubarok, as-Syafii, Ahmad, Ishaq. Mereka berpendapat tidak perlu wudhu karena makan makanan yang dimasak. Itulah hukum terakhir dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seolah ini adalah hadis yang menghapus hukum untuk hadis pertama, yaitu hadis perintah wudhu karena makan makanan yang dimasak. (Jami’ at-Turmudzi, 1/140).

insyaaAllah pendapat kedua inilah yang lebih mendekati kebenaran.

Ketiga, selain jenis makanan di atas.

Selain onta dan makanan yang dimasak, seperti buah-buahan, atau makanan yang dimakan tanpa dimasak, tidak ada kewajiban berwudhu. Karena hukum asal bukan pembatal wudhu, kecuali ada dalil bahwa itu membatalkan wudhu.

Sedangkan merokok, para ulama memfatwakan bahwa rokok bukan termasuk pembatal wudhu. Sebagaimana makan dan minum tidak membatalkan wudhu. Demikian keterangan Imam Ibnu Baz dalam Majmu’ Fatawa dan Risalah beliau jilid kesepuluh. Hal yang sama juga ditegaskan dalam Fatawa Syabakah Islamimiyah, dalam fatwa no. 31004 dinyatakan:

فالتدخين لا ينقض الوضوء ولا يعلم في ذلك خلاف

“Merokok, tidak membatalkan wudhu. Tidak diketahui adanya perselisihan dalam hal ini.”

Namun ada satu hal yang lebih penting untuk kita perhatikan.

Semua orang sepakat bahwa rokok meninggalkan aroma tidak sedap di mulut. Tidak hanya orang lain, bahkan para perokok sendiri mengakui demikian. Anda bisa buktikan dengan banyaknya wanita yang mengeluh karena dia memiliki suami perokok. Setidaknya, keberadaan rokok di keluarga itu telah mengurangi romantisme suami istri.

Dari sisi medis juga, semua sepakat bahwa merokok memiliki banyak efek negatif bagi kesehatan daripada manfaatnya. Maka kami sangat menganjurkan untuk meninggalkan kebiasaan merokok, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى الْمَازِنِيِّ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari ‘Amru bin Yahya Al Muzani dari Bapaknya bahwa Rasulullah Shalla Allahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak boleh membuat kemudharatan pada diri sendiri dan membuat kemudharatan pada orang lain.” (HR. Malik no. 1234, Ibnu Majah no. 2331). Demikian.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Slamet Setiawan

Memuliakan, Mencintai, dan Menghormati Ulama

Assalamualaikum, sebelumnya saya minta maaf saya gatau apa apa, saya mohon bimbingan nyaa, saya hanya bertanya apa yg saya tidak tau, agar saya bisa belajar dan dapat pengetahuan, saya ingin bertanya, apakah di alquran kita di wajibkan mencintai para ulama? Mohon maaf , saya cuma ingin bertanya. Supaya saya dapat pengetahuan baru.

Jawab:

Wa’alaikumussalam warahmatullah .. Bismillah wal Hamdulillah ..

Ya, anjuran menghormati, memuliakan, dan mencintai ulama (org2 berilmu), sangat banyak, baik Al Quran dan As Sunnah.
Bahkan Allah memuliakan mereka, maka pantaslah jika manusia memuliakan mereka pula ..

Misalnya:

Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menjadikan mereka sbg tempat bertanya

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

maka bertanyalah kepada ahludz dzikri (orang yang mempunyai pengetahuan) jika kamu tidak mengetahui. (Qs. An Nahl: 43)

Berkata Imam Al Qurthubi Rahimahullah dalam kitab tafsirnya:

وقال ابن عباس: أهل الذكر أهل القرآن وقيل: أهل العلم، والمعنى متقارب

.Berkata Ibnu ‘Abbas: “Ahludz Dzikri adalah Ahlul Quran (Ahlinya Al Quran), dan dikatakan: Ahli Ilmu (ulama), makna keduanya berdekatan.” (Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Quran, Juz. 10, Hal. 108, Ihya’ Ats Turats Al ‘Arabi, 1985M-1405H. Beirut-Libanon)

 Allah Ta’ala membedakan kedudukan ulama dengan lainnya

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُون

 Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Qs. Az Zumar: 9)

Allah Ta’ala menerangkan ulama itu orang yang takut kpd Allah

 إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

 Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Qs. Fathir: 28)

Allah Ta’ala mengangkat derajat org beriman dan berilmu

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al Mujadilah: 11)

Dalam As Sunnah, saya ambil beberapa sj:

Bukan Umat Rasulullah mereka yang tidak mengetahui hak-hak ulama

Dari ‘Ubadah bin Ash Shaamit Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

Bukan termasuk umatku, orang yang tidak menghormati orang besar kami (orang tua, pen), tidak menyayangi anak kecil kami, dan tidak mengetahui hak para ulama kami.”

(HR. Ahmad No. 22755, Al Bazzar No. 2718, Ath Thahawi dalam Syarh Musykilul Atsar No. 1328, Asy Syaasyi dalam Musnadnya No. 1272. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih lighairih. Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 22755)

Tiga hal dalam hadits ini yang dinilai “bukan golongan umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,”   yakni:

1.       Tidak menghormati orang besar/orang tua.

2.       Tidak sayang dengan yang kecil

3.       Tidak mengetahui hak ulama yang dengan itu dia merendahkannya

Imam Ibnu ‘Asakir memberikan nasihat buat kita, khususnya orang yang merendahkan ulama (karena mungkin merasa sudah jadi ulama sehingga dia berani merendahkannya!):

يا أخي وفقنا الله وإياك لمرضاته وجعلنا ممن يغشاه ويتقيه حق تقاته أن لحوم العلماء مسمومة وعادة الله في هتك أستارمنتقصيهم معلومة وأن من أطلق لسانه في العلماء بالثلب ابتلاه الله تعالى قبل موته بموت القلب فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم

Wahai saudaraku –semoga Allah memberikan taufiq kepada saya dan anda untuk mendapatkan ridhaNya dan menjadikan kita termasuk orang yang bertaqwa kepadaNYa dengan sebenar-benarnya- dan Ketahuilah, bahwa daging–daging ulama itu beracun, dan sudah diketahui akan kebiasaan Allah dalam membongkar tirai orang-orang yang meremehkan mereka, dan sesungguhnya barang siapa siapa yang m

elepaskan mulutnya untuk mencela ulama maka Allah akan memberikan musibah baginya dengan kematian hati sebelum ia mati: maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (Imam An Nawawi, At Tibyan, Hal. 30. Mawqi’ Al Warraq)

Allah Ta’ala umumkan perang kepada orang yang memusuhi para ulama

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:

 مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

Barang siapa yang memusuhi waliKu, maka aku telah umumkan peperangan kepadanya .. (Hr. Al Bukhari No. 6021)

Para ulama, amilin (org yg beramal shalih), shalihin, zahidin (org yg zuhud), adalah para wali-wali (kekasih) Allah Ta’ala. Memusuhi mereka, maka Allah Ta’ala proklamirkan perang buat buat  musuh-musuh mereka.

Demikian. Wallahu a’lam

Oleh: Farid Nu’man Hasan

Membangun Masjid dgn Meminta Sumbangan di Jalan

Assalamualaikum Wr.Wb Ibu ustadzah, saya mau tanya bagaimana hukumnya dalam Islam jika ada sekelompok orang meminta-minta di tengah jalan untuk pembangunan mesjid. Sangat mengganggu sekali karena setel lagu Qasidahan dan orangnya berbicara sangat keras menggunakan mick… trus di jalanan pasang 5 drum dan tambang besar dan kursi…. mohon jawabannya terima kasih.

Jawaban:

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،

Tentang pembangunan masjid. Niat mereka sesungguhnya baik mengajak setiap yang lewat untuk berpartisipasi dalam pembangunan masjid. Akan tetapi niat baik saja tidak cukup, terbukti banyak yang berpendapat bahwa apa yang dilakukan itu mempermalukan Islam. Mengganggu karena  suara keras, macet dan masih banyak lagi komentar. Lantas bagaimana dalam Islam hukumnya?
Hukum asal memotivasi orang untuk menyumbang mesjid boleh. Akan tetapi kalau pelaksanaannya mengganggu ketertiban umum. Jalan jadi macet atau berpotensi terjadi kecelakaan atau menimbulkan kemudharatan ini tidak boleh.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadzah Nurdiana