APA DAN MENGAPA REMAJA MENGALAMI STRES

Apa itu stres?

Kita bereaksi terhadap bahaya, ketakutan, atau setiap kebutuhan akan reaksi mendadak dengan respon “lawan atau lari”.

Ketika kita merasa terancam, otak kita memicu dilepaskannya unsur kimia yang membuat tubuh memberi tanggapan dgn cepat. Dua unsur itu adalah adrenalin dan kortisol.

Stres Negatif

Apabila stres muncul secara berulang dalam waktu yang panjang, maka, kamu akan selalu berada dlm keadaan “lawan atau lari”, tanpa ada sesuatu yang membuat kamu harus melawan atau lari.
Biasanya stres yang banyak dihadapi saat ini adalah jenis tersebut, tidak ada bahaya yang sesungguhnya shg seakan-akan bahaya itu tidak pernah berlalu.

Stres Positif

Adalah kondisi tertekan yang mendorongmu untuk berusaha sungguh-sungguh, bekerja keras, dan rela bersusah payah dalam mencapai tujuan atau utk menghindari hal yang tidak menyenangkan.

Kamu membutuhkan keseimbangan antara stres dan relaksasi dalam hidup. Setelah mengalami hal yang menegangkan, kamu membutuhkan sesuatu untuk menenangkan diri dan membuang kortisol dari dalam tubuh.

Daya Tahan

Daya tahan adalah kemampuan untuk bangkit kembali setelah mengalami kesulitan atau hal yang tidak menyenangkan.

Meskipun kita dilahirkan dengan kemampuan daya tahan yang berbeda-beda, tapi, keterampilan ini bisa dipelajari dan dilatihkan.

Daya tahan akan membuatmu kuat, sehingga membantumu mengembangkan stres positif dan menjauhi stres negatif.

Kamu tidak bisa mencegah terjadinya hal-hal buruk, tapi kamu bisa melakukan sesuatu untuk menangani hal-hal buruk itu.

Sebagai seorang Muslim, tentunya daya tahan kita terhadap stres dipengaruhi oleh kondisi keimanan dalam diri kita. Oleh karena itu, penting sekali untuk selalu memperbaharui iman, membersihkan hati, dan selalu meminta petunjuk, pertolongan, dan penjagaan Allah SWT.

Oke Sobat, jadilah sosok yang bersemangat, dan memiliki daya tahan yang kuat. Ayo. Kamu pasti bisa!!

Oleh: Ustadzah Dina Farihani

Menemukan Dompet di Jalan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah saya mau tanya kemaren pagi saya menemukan dompet jatuh dijalan dan saya ambil karena saya pikir didalamnya ada indentitas yg punya tapi ternyata tdk ada identitasnya sama sekali…. trus saya hrs bagaimana….? Mau mngembalikkan tapi ndak tau siapa yg punya.

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Sebenarnya tdk boleh diambil jika itu jelas milik seseorang, kecuali dia mengizinkannya. Tapi, jika menyelamatkannya khawatir diambil orang yang tidak bertanggungjawab maka tidak apa-apa.

Menyikapinya adalah jika itu barang yang kemungkinan masih diinginkan pemiliknya, kita boleh mnyimpannya selama 1 th untuk menunggu pemiliknya, jika yg punya datang maka berikan, jika tdk ada yg datang maka boleh jadi milik kita atau sedekahkan atas nama yg punya.

Jika barangnya sesuatu yg tdk berharga, rongsokan, atau sesuatu yg oleh pemiliknya sdh tdk diinginkan, maka boleh langsung dimiliki.
Pembahasan ini ada dalam Bab Luqathah.

Wallahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Farid Nu’man

Tanpa Iman

Tanpa iman hidup kita tak kan berarti. Jauh dari cahaya Ilahi.
Hati kelam bagai malam yang sunyi. Dan diri tak kenal budi pekerti.

Tanpa iman hati bagai ruang kosong tak berpenghuni.
Perangai jauh dari terpuji.
Akal akan sulit terkendali.
Pribadi pun jauh dari mawas diri.

Dengan iman kesulitan tiada memberatkan.
Keterjatuhan tak akan memperburuk keadaan.
Kelelahan tak menyurutkan
Semua dinikmati sebagai tempaan.

Iman kita seperti laut kadang pasang kadang pula surut.
Menjaga keimanan menjadi kewajiban.
Dengan amaliyah yang istiqamah. Dengan segala ibadah yang tak pernah lelah.

Mari menjaga iman kita agar tak sengsara di dunia.
Mari menjaga iman kita agar tak menderita di akhirat sana.

Imam Hasan Al Banna mengungkapkan:

_”Mereka mendengar seruan yang mengajak untuk beriman, maka mereka pun beriman. Kita memohon kepada Allah agar membuat diri kita mencintai iman ini, menghiasi hati kita dengannya sebagaimana Allah pernah memberikan cinta itu kepada mereka dan menghiasi hati mereka dengannya. Iman adalah Bekal utama kita. (Ath-Thariq ila Ar-Rabbaniyyah, Majdi Al Hilali, hlm 46-47)_

Iman itu perbuatan. Saatnya kita merealisasikan keimanan kita dengan perjuangan hingga titik darah terakhir kita.

Bergerak dan segera tinggalkan kebekuan. Lantaran iman itu energi yang mampu memelesatkan kita.

Selayaknya anak panah yang tak pernah lepas dari busurnya maka sampai kapan anak panah itu hingga ke sasaran.

Jika kita tak berusaha untuk bergerak dan berusaha keras untuk ambil bagian dari perjuangan ini maka dimana keberadaan iman kita.

Tidaklah harapan akan sampai pada yang dicitakan bila kita tak segera bergegas untuk meraihnya.

Seperti halnya matahari yang enggan beranjak dari ufuk tak akan ada kebermanfaatan yang ia tebar.
*Kata kuncinya adalah bergerak atau tergantikan.*

Mari kita segera tinggalkan belenggu-belenggu  yang bisa menghentikan langkah kita. Tatap ke depan dan segera lah melaju.

Abaikan hal-hal yang sia-sia dan merugikan diri kita dan berusaha menghentikan derap langkah kita.

Maju dan terus melaju hingga perjumpaan dengan Sang Penentu.

Jadikan iman sebagai kendaraan menuju haribaan Tuhan. Niscaya jiwa-jiwa kan terselamatkan.

Wallahu musta’an.

Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

Waktu

Allah Azza wa Jalla telah menciptakan manusia dan memberikan kenikmatan yang tidak terhingga. Manusia tidak akan mampu menghitungnya.
Diantara nikmat yang allah berikan ialah nikmat waktu(kesempatan)…

Sobat MFT yang allah muliakan..
Hendaknya kita memakmurkan waktu untuk kegiatan ibadah hingga tidak berlalu waktu malam dan siang kecuali engkau menjadikannya untuk aktifitas kebaikan, menghabiskan waktu untuk ibadah. Sehingga tampak keberkahan waktu, diperoleh manfaat dalam umur ini dan selalu semangat beribadah kepada الله. Dan luangkan waktu tertentu untuk aktifitas harian seperti makan, minum, dan bekerja.

Ketahuilah, Bahwa keadaan seseorang tidak akan bisa istiqomah apabila diiringi dengan ketidakseriusan. Dan hati tidak akan menjadi baik apabila diiringi dengan kelalaian.

Hadits di bawah ini:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. (HR. Bukhari, no. 5933)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Kenikmatan adalah keadaan yang baik. Ada yang mengatakan, kenikmatan adalah manfaat yang dilakukan dengan bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain”. (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, penjelasan hadits no. 5933)

Sobat MFT, sebaiknya kita bisa mengatur waktu kita kepada hal-hal yang bermanfaat.

So, penting untuk kita ingat terkait waktu.

Hendaknya engkau membagi waktumu dan mengatur wirid-wiridmu.
Dan tentukanlah untuk setiap waktu ada aktifitas (wird/ ibadah) yang tidak akan engkau tinggalkan ataupun mementingkan yang lainnya.

Adapun orang yang membiarkan dirinya sia-sia begitu saja, tak ubahnya seperti seekor binatang yang menyibukkan dirinya setiap saat. Ia berbuat apa saja yang ia mau dengan cara sesukanya, sehingga waktunya banyak habis sia-sia.

Ketahuilah, bahwasannya waktumu adalah umurmu, umurmu adalah modalmu, dan modal utama perdaganganmu. Dengannya engkau bisa mencapai kenikmatan abadi di sisi Allah Taala.

Maka, setiap nafasmu adalah permata yang tak ternilai harganya dan tidak dapat ditukar, jika ia telah terlewat tak akan pernah kembali lagi.

والله أعلم

Oleh: Ustadzah Lelisya

Selengkapnya klik www.manis.id

SYARAT-SYARAT DITERIMANYA SYAHADATAIN (Lanjutan)

Assalaamu’alaikum wr.wb

Adik-adik pemuda Islam harapan umat, mudah-mudahan hari ini senantiasa dalam kebaikan iman dan limpahan hidayah dari Allah SWT. Aamiin..

Mari kita lanjutkan kembali pembahasan kita mengenai syarat-syarat diterima syahadat yang pada kesempatan lalu telah selesai membahas syarat yang keenam.

Kali ini pembicaraan kita masuk pada syarat yang terakhir yakni yang ketujuh.

SYARAT KETUJUH:

اَلاِنْقِيَادُ اَلْمُنَافِيْ لِلاِمْتَنَاعِ

(PELAKSANAAN YANG MENGHILANGKAN KEPASIFAN / TIDAK MAU BERAMAL)

Orang yang telah bersyahadat harus melaksanakan semua ajaran syariat dan ketentuan Islam.

Firman Allah SWT :

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”.  Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. An Nuur [24] : 51)

Orang-orang beriman itu, ketika diseru langsung oke.

Demikian pula firman Allah dalm QS Al-Baqarah (2) : 124 yang menjelaskan sosok Nabi Ibrahim yang menunaikan SEMUA perintah ALLAH dengan SEMPURNA:

 … وَ إِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيْمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ

“Dan (ingatlah) tatkala telah diuji Ibrahim oleh TuhanNya dengan beberapa kalimat, lalu ia melaksanakannya dengan sempurna.  …”

Juga dalam QS Al-Baqarah (2) : 131,

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ

“Tatkala Tuhannya berfirman kepadanya: berserah dirilah engkau !  Dia menjawab : Aku serahkan diriku pada Tuhan bagi sekalian alam .”

Iman dan Amal Shaleh

Allah SWT selalu mengaitkan iman dengan amal shaleh. Orang-orang yang beriman, pastilah ia kemudian beramal shaleh. Amal shaleh adalah buah dan bukti langsung dari pengakuan iman. Bahkan, orang yang beriman tidaklah bisa menghambat dan menahan dirinya dari beramal shaleh. Terus-menerus. Sayyid Quthb dalam kitab tasirnya Fii Zhilaalil Quran menggambarkan kondisi keterkaitan keimanan dan amal shaleh ini dengan ungkapan “seperti bunga yang tidak dapat menahan bau wanginya”. Demikianlah orang-orang yang beriman, ia tidak bisa berhenti dan membatasi dirinya dari beramal shaleh.

Sebaliknya, orang-orang munafik kesukaannya adalah pasif (duduk-duduk) saja dan meninggalkan mujahadah (bersungguh-sungguh di jalan Allah).

Firman Allah dalam QS At-Taubah (9) : 83,

فَإِنْ رَجَعَكَ اللَّهُ إِلَىٰ طَائِفَةٍ مِنْهُمْ فَاسْتَأْذَنُوكَ لِلْخُرُوجِ فَقُلْ لَنْ تَخْرُجُوا مَعِيَ أَبَدًا وَلَنْ تُقَاتِلُوا مَعِيَ عَدُوًّا ۖإِنَّكُمْ رَضِيتُمْ بِالْقُعُودِ أَوَّلَ مَرَّةٍ فَاقْعُدُوا مَعَ الْخَالِفِينَ

“Maka jika Allah mengembalikanmu kepada satu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk ke luar (pergi berperang), maka katakanlah: “Kamu tidak boleh ke luar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut berperang.”

Orang-orang munafik meninggalkan jihad dan amal shaleh dengan seribu satu alasan:

Merasa berat (QS. At-Taubah [9] : 38)
    (اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الأرْضِ )

Puasnya kepada kehidupan dunia (QS. At-Taubah [9] : 38)
    (أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَ)

Cenderung kepada dunia (QS. Al-A’raaf [7] : 176)  
    (أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ)

Mengikuti hawa nafsu (QS. Al-A’raaf [7] : 176)  
    (وَاتَّبَعَ هَوَاهُ)

Keuntungan yang masih lama (QS. At-Taubah [9] : 42)  
    (عَرَضًا قَرِيبًا)

Jaraknya jauh (QS. At-Taubah [9] : 42)  
    (وَسَفَرًا قَاصِدًا)

Hawa/udara panas (QS. At-Taubah [9] : 81)  
    (لا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ)

Maka, seorang mukmin yang benar adalah mukmin yang produktifitas amal shalehnya tinggi. Karena produktif, maka amal shaleh tersebut surplus, bermanfaat luas bagi orang banyak. Karena amal shaleh dan kebaikan-kebaikan yang surplus, maka bukan hanya orang Islam saja yang mendapatkan manfaatnya, tapi juga manusia seluruhnya, bahkan alam semesta. Mukmin seperti inilah yang dikatakan dapat menjadi rahmat bagi semesta alam. Allah mewahyukan dalam Al Quran :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.  (QS. Al-Anbiyaa`[21] : 107)

Kesimpulan

Dari seluruh pembahasan kita sejak awal tentang syarat-syarat diterimanya syadahat, maka, hendaklah difahami bahwa agar syahadat kita diterima maka harus didasari oleh ilmu (kefahaman), keyakinan, keikhlasan, ketulusan, kecintaan, penerimaan, dan pelaksanaan.
Kebodohan, keraguan, syirik, dusta, benci, menolak, dan pasif adalah hal-hal yang menyebabkan syahadat tidak diterima.

Jika semua persyaratan itu terpenuhi, maka pasti kita akan RIDHA diatur oleh:
ALLAH
Rasul
Islam
di setiap keadaan.

Wallaahu a’lam bishshowab.

-Tamat-

Oleh: Ustadzah Prima Eyza Purnama

Pernikahan Siri

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…..
bagaimana hukumnya anak hasil pernikahan siri ( hamil stelah menikah siri ) dan bagaimana hubungannya dg saudara2nya yg mereka itu dilahirkan dr pernikahan yg sah. Terimaksih
Wassalamu’alaikum… # A 45

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،

Nikah Sirri bila dilihat dari penggunaan katanya sebenarnya bermakna nikah tanpa meramaikan dengan walimah atau tanpa pencatatan di hadapan hukum negara (dari kata _sirriyah_ -diam atau tersembunyi,lawan dari  _jahriah_,dikeraskan atau diumumkan).

Nikah Sirri ini halal hukumnya sepanjang terpenuhi semua rukun nikah: *ada mempelai,wali,ijabqabul,mahar dan saksi*. Namun,meski sah dari sisi agama,pernikahan tanpa pencatatan hukum negara ini sebaiknya dihindarkan atau diupayakan untuk sesegera mungkin mendaftar ke KUA karena bila tidak,kelak dapat memunculkan beberapa implikasi sosial yang bisa menyulitkan pasutri sendiri.
Misalnya saja dalam hal pencatatan surat kelahiran anak,hubungan kepemilikan harta yang bernilai besar (misalnya membeli rumah),hubungan sewa-menyewa terutama yang menyangkut pihak ketiga,serta hutang piutang,banyak membutuhkan bukti-bukti pernikahan sebagai salah satu syarat tertib administrasinya.
Begitu pula dengan klaim asuransi atau klaim waris bila salah satu pasangan meninggal dunia,yang akan terhambat bila tak ada bukti otentik pencatatan pernikahan.

 Tambahan lagi,perlu dipertimbangkan juga fitnah sosial dari masyarakat yang tidak mengetahui status hubungan resmi sang suami-istri.

Kalau dikembalikan pada Sunnahnya,pernikahan itu sendiri semestinya disebarluaskan kabarnya ke hadapan umum sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah SAW,dari Aisyah RA,
“umumkanlah perkawinan dan selenggarakan lah di masjid-masjid serta buktikanlah untuknya rebana-rebana” (HR Ahmad dan At.Tirmidzi).

Begitu pula sabdanya yang lain dari Amir Ibnu Abdullah Ibnu al-zubair,dari ayahnya Ra bahwa Rasulullah saw bersabda:
” sebarkanlah berita pernikahan” (HR Ahmad. Hadist shahih menurut hakim)

Perintah ini sesungguhnya juga mengandung tujuan agar orang tahu bahwa Fulan dan Fulana telah menjadi suami istri yang sah. Namun,untuk masa sekarang yang pola kehidupannya lebih kompleks dengan mobilitas tinggi dan jumlah penduduk lebih banyak,hanya membuat walimah dengan mengandung orang saja belum cukup.
Sumber : Majalah UMMI 2007

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadzah Dwi Hastuti Rakhmawati S.Psi

Memimpin Ummat, Cakupannya Luas & Jauh -Memimpin Ummat, Kadang Tak Searah Kepentingan Lokal

Armada Laut Turko Utsmani Berlayar Menuju Diu – 19 Agustus 1538

Permulaan Pengepungan kota Diu Milik Portugis di India 1538

Gubernur yg mewakili khalifah Turki Utsmani di Mesir sejak tahun 1525 yg bernama Hadım Suleiman Pasha telah mengantongi izin dari sultan İstanbul untuk memerangi Portugis yang merajalela di Samudera Hindia. Sultan Suleiman I Kanuni memberikan restu untuk membela nasib kaum Muslimin di wilayah laut yang jauh itu.

Armada yang dibangun oleh gubernur Mesir berkekuatan 80 kapal yang tulang-punggung kekuatannya terdiri atas 17 galley dan 2 galleon. Disamping itu, penggalian kanal antara Sungai Nil dan kota pelabuhan Suez mulai dibangun pada tahun 1531-32.

Keterlambatan

Persiapan utk proyek pembangunan armada laut Turki Utsmani di Mesir ini mengalamj banyak hambatan karena adanya operasi militer lain yang juga menyerap sumber daya seperti Pengepungan Coron di Laut Mediterranenan serta konflik perbatasan di timur menghadapi entitas syi’ah Safawi antara tahun 1533 hingga 1535. Sementara armada ini belum bisa melaut, maka Portugis terus bebas menguatkan cengramannya di region tersebut.

Portugis mengeksekusi Sultan Bahadur Shah pada bulan Februari 1537 ketika pemimpin Gujarat tersebut sedang mengunjungi kapal perang Portugis dalam sebuah misi diplomatik.

Posisi Yaman

Yaman sudah hampir semuanya dikuasai, tinggal kota pelabuhan Aden yang harus didapatkan okej Hadım Suleiman Pasha pada 1538 karena letaknya yang strategis untuk menjadi titik aju di region tersebut. Dari Aden ini pula kapal-kapal Khilafah Turki Utsmani menyerang pos-pos Portugis yang tersebar dari pesisir timur Benua Afrika, pesisir barat dan timur Anak Benua India, hingga jauh ke Malaka.

Namun, Sultan Aden masih takut kepada Portugis untuk mendukung “kekuatan baru” Turki Utsmani di region ini. Sikapnya yang memusuhi Turki Utsmani dan menutup pelabuhannya memaksa terjadinya konflik yang mengakibatkan terbunuhnya Sheikh Amir bin Dawaud dan kota Aden tunduk tanpa perlawanan.

Ekspedisi ke Diu

Armada laut Turki Utsmani segera mempersiapkan serangan selanjutnya yaitu menuju kota Diu yang dikuasai oleh Portugis. Armada yang diberangkatkan berjumlah 72 kapal yang berlayar pada hari Senin 24 Rabi’ul Awwal 945 Hijriah (19 Agustus 1538) dan tiba di Diu pada hari Rabu 4 Rabi’uts Tsani 945 Hijriah (4 September 1538). Armada tersebut adalah yanh terbesar yang pernah digelar oleh Khilafah Turki Utsmani di Samudera Hindia. Mereka mengepung Diu dengan kekuatan 130 kanon dan mulai menghujani kota.

Bagaimana selanjutnya? In-syaa-Allah saya akan tuliskan pada edisi yang akan datang

Agung Waspodo, mencatat betapa jauh dan luasnya urusan yang menjadi perhatian Sultan di İstanbul, ketika para emir dan sultan lokal hanya mampu melihat kepentingannya sendiri.. masih kurang lebih sama dengan sekarang, bahkan sekarang lahirlah analisis para “jagoan-baru” seolah itu semua tidak ada bedanya dengan imperialisme berbaju agama.. amir dan sultan kecil masih terus larut dalam kebingungan walau sudah berlalu 477 tahun kemudian..

Depok, 21 Agustus 2015, masuk waktu dhuha.

Oleh: Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

Menamai Anak dengan Asmaul Husna

Assalamu’alaykum ustadzah. Mohon ijin bertanya. Saya pernah mendengar kalau nama-nama yang diambil dari asmaul husna tidak boleh digunakan untuk menamai anak. Untuk saudara yang terlanjur menamai anaknya dengan panggilan Rahman, Karim atau Hadi, apakah harus mengganti nama tersebut? Jazakumullah khoir

Jawaban:
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Betul sebaiknya Asma’ul Husna tidak dipakai untuk pemberian nama anak. Bahkan khusus untuk nama ‘Rahman’ sebagian ulama melarang  menggunakannnya. Karena merupakan Asmaul Husna yang sangat khusus, sebagaimana firman Allah :

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman.” (QS. Al-Isra’ :110)

Berkata Imam Asy Syaukani :
 “Ar-Rahman adalah diantara sifat-sifat Ghalibah yang tidak (boleh) dipakai untuk selain Allah Azza Wajalla.”

Berkata Al Imam An Nawawi :
“Ketahuilah memberi nama dengan nama ini diharamkan demikian pula memberi nama dengan nama-nama Allah yang khusus bagiNya seperti Ar-Rahman, Al-Quddus, Al-Muhaimin, Khaliqul Khalqi dan semisalnya.”

Tetapi ada juga yang berpendapat yang membolehkan untuk nama-nama seperti Rahim, Nur, Malik asal tidak memakai alif lam
karena dalam bahasa Arab, sebuah kata bila masih nakirah (diantara cirinya tanpa alif lam) maka ia berlaku umum, jadi kata malik, nur dan semisalnya selama masih dalam bentuk nakirah, bersifat kata yang umum dan tidak dimonopoli oleh lafadz asmaul Husna.

Dahulu ada shahabat yang juga memiliki nama serupa dengan Asmaul Husna semisal Ali (Ali bin Abi Thalib) dan Hakiim (Hakim bin Hizam).
Namun bila kata – kata diatas telah beralif lam, yakni dalam bentuk Ma’rifah (telah dikhususkan) barulah kemudian ini tidak boleh.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadzah Nurdiana

Track Record

Ada dua peristiwa yang disikapi berbeda oleh Rasulullah saw.

Pertama, saat setan yang berpura-pura menjadi manusia berpesan kepada Abu Hurairah (dalam sebuah hadits panjang riwayat Bukhari) untuk membaca ayat Kursi sebelum tidur agar selalu dijaga Allah dan tidak diganggu setan.

Maka ketika mendengar berita tersebut, Rasulullah saw bersabda,

صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ

“Dia telah benar kepadamu sedangkan dia adalah pendusta. Dia adalah setan.” (HR. Bukhari)

Peristiwa lain terjadi menjelang Fathu Makkah (Penaklukan kota Mekah). Rasulullah saw telah mempersiapkan matang, namun beliau berupaya merahasiakan rencana tersebut agar tidak diketahui kaum kafir Quraisy Mekah.

Siapa nyana, seorang shahabat membocorkan rencana tersebut dengan mengirim surat kepada keluarganya yang masih berada di Mekah melalui kurir seorang wanita.

Singkat cerita rencana tersebut tercium oleh Rasulullah saw, wanita tersebut dicegat dan akhirnya diketahui bahwa dia diperintahkan oleh Hatib bin Abi Balta’ah.

Beliau segera di interogasi. Rupanya dia beralasan karena khawatir dengan keluarganya kalau-kalau terjadi pertumpahan darah, maka keluarganya cepat berlindung, sebab keluarganya bukan dari suku besar yang dapat melindunginya.

Pelanggaran berat!
Umar minta izin kepada Rasulullah saw untuk membunuhnya sebagai pengkhianat!

Namun apa jawab Rasulullah saw….?

Beliau berkata,

وَمَا يُدْرِيك يَا عُمَرُ لَعَلّ اللّهَ قَدْ اطّلَعَ إلَى أَصْحَابِ بَدْرٍ يَوْمَ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ، فَقَدْ غَفَرْت لَكُمْ

“Tidakkah kau tahu wahai Umar, Allah telah menyatakan untuk ahli Badar saat perang Badar dengan berfirman, ‘Perbuatlah sesuka kalian, sungguh Aku telah ampuni kalian.’ ” (Lihat sirah Ibnu Hisyam, 2/398, Maktabah Syamilah)

Pelajaran berharga dari dua peristiwa di atas adalah bahwa memberikan penilaian terhadap seseorang (atau institusi) tidak cukup hanya mengandalkan satu dua kejadian yang tampak sekilas.

Tapi harus dilihat track record (rekam jejak)nya.

Seseorang yang track recordnya buruk, boleh jadi satu dua kali melakukan kebaikan, jangan langsung kita anggap bahwa dia adalah pionir kebaikan, apalagi pahlawan yang dipuja-puja, namun juga kebaikannya ketika itu tidak perlu diingkari.

Sebagaimana Rasulullah saw tidak mengingkari kebenaran yang dibawa oleh setan saat dia mengajarkan ayat Kursy kepada Abu Hurairah ra. Maka, beliau katakan bahwa setan itu benar, tapi dia tetaplah makhluk pendusta berdasarkan rekam jejaknya.

Sebaliknya, seseorang yang track recordnya baik, boleh jadi suatu saat melakukan kekhilafan, kesalahan atau pelanggaran.

Jangan kemudian keburukan itu yang selalu kita semati kepadanya, meskipun tidak kita ingkari keburukan yang dia lakukan saat itu.

Sahabat yang ikut perang Badar (Ahlu Badr) memiliki kedudukan tinggi, namun boleh jadi dia suatu saat melakukan kesalahan. Hatib bin Abi Balta’ah adalah Ahlu Badr yang melakukan kesalahan.

Rasulullah saw tetap nyatakan bersalah, namun beliau tetap tidak melupakan rekam jejaknya sebagai seorang pejuang mulia.

Semoga kita pandai meneladani jejak Rasulullah saw, tidak hanya dalam shalat dan puasanya, tapi juga dalam sikap dan pandangannya.

Wallahua’lam.

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc

Akhir Episode Dua Kubu Ini

Nabi Nuh menunaikan perintah Rabbnya dan membuat kapal. Setiap kali ada kaumnya yang melintasinya mereka mencemoohnya, dan Nabi Nuh bersabar menerima cemoohan itu, dengan menjelaskan bahwa cemoohan itu akan menimpa mereka pada saat mereka ditimpa kehinaan dan adzab pedih. Firman Allah:

“Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal”. (QS. Al-Huud: 38-39)

Datanglah perintah Allah, dan hujan turun dari langit, mata air memancar dari bumi sehingga air itu memenuhi tannur. Nabi Nuh naik kapalnya bersama orang-orang yang beriman dengannya, dan sepasang-sepasang makhluk, dengan memohon pertolongan Allah, bertaubat dan beristighfar. Kapal berlayar di antara ombak sebesar gunung.

Nabi Nuh melihat salah seorang anaknya terpencil jauh dari kapal, lalu ia memanggilnya, agar beriman dengannya lalu naik kapal bersamanya, dan tidak bersama dengan orang kafir. Anaknya itu menolak dengan mengatakan, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” dan ayahnya mengingatkannya, karena yakin akan akibat buruk yang dialami kaum kafir dengan mengatakan: لا عاصم اليوم من أمر الله إلا من رحم tetapi ia menolak dan binasa bersama mereka yang binasa.

Disinilah Allah memerintahkan langit untuk berhenti menurunkan hujan, dan bumi untuk menelan airnya, maka air surut, tampaklah daratan, dan kapal itu berhenti di Al Juudiy, nama sebuah bukit.وقيل بعدا للقوم لظالمين kaum yang zhalim divonis jauh dari rahmat dan ampunan Allah.

Nabi Nuh bertanya kepada Allah tentang anaknya yang binasa, dengan bersandar pada janji Allah kepadanya yang akan menyelamatkan keluarganya. Ketika itu Allah memberitahukan kepadanya bahwa anaknya itu tidak termasuk dalam keluarganya karena kafir. Dan sesungguhnya keluarga yang hakiki adalah ahlul iman dan amal shalih. Dna sesungguhnya tidak boleh bagi Nuh untuk meminta kepada Rabbnya apa yang tidak diketahuinya, jika tidak demikian maka termasuk orang yang jahil. Firman Allah dalam surat Huud ayat
 40-48, Al-Mukminun ayat 27-29 dan surat Al-Qamar ayat 11-16 (silahkan d buka al-qur’anya adik-adik)

Oleh: Ustadzah Ida Faridah