Hak & Kewajiban Suami

assalamu’alaykum ustadz/ustadzah..
sy mau bertnya,apa sajakah hak dan kewajiban suami terhadap istrinya?
jazaakillaahu khayran atas jawabannya. 🙏🏻

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Apa yang menjadi hak suami sama dengan kewajiban istri dan apa yang menjadi kewajiban suami itu adalah hak istri. Diantara hak suami adalah:
🌿Suami berhak ditaati dalam hal apapun dengan  batasan hadits “Tidak ada ketaatan kepada makhluq apabila mengajak kepada kemaksiatan kepada Allah”

🌿 Istri menjaga kesucian dirinya disaat suami tidak ada dirumah .
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ.

“Barangsiapa yang menjaga apa yang ada di antara dua bibir (lisan)nya dan di antara dua paha (kemaluan)nya, aku akan jamin ia masuk ke dalam Surga.”

🌿 Menjaga harta suami.

🌿Menjauhkan diri dari mencampuri sesuatu yang dapat menyusahkan suami.

🌿Menjaga penampilan dihadapan suami

🌿Menjaga perasaan suami

Kewajiban suami atas istri diantaranya yaitu:

🌴Suami wajib membayar mahar pernikahan.

🌴Suami adalah pemimpin terhadap istri dan rumah tangganya. Allah berfirman:

” Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. ” (Qs. An-nisaa,4:34)

🌴Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup rumah tangga sesuai dengan kemampuannya .

🌴Suami wajib memberikan pendidikan agama kepada istrinya dan memberi kesempatan belajar pengetahuan yang berguna dan bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa.

🌴Suami wajib memberikan nafkah pada istri seperti tempat kediaman bagi istri, biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi istri dan anak juga biaya pendidikan bagi anak.

🌴Wajib memuliakan istri. Karena dengan memuliakan istri akan menambah rizki dan Allah akan mencukupkannya.

🌴. Menggaulinya dengan baik

Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)

Itulah diantara  sebagian.hak dan kewajiban suami.

Wallahu a’lam.

Oleh: Nurdiana

Ketika Non Islam Mengucapkan Salam

*📕Hadits:*

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ اسْتَأْذَنَ رَهْطٌ مِنْ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكُم،ْ فَقَالَتْ عَائِشَةُ بَلْ عَلَيْكُمْ السَّامُ وَاللَّعْنَة،ُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّه،ِ قَالَتْ أَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ قَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ (رواه مسلم)

_Artinya:_
_Dari ‘Aisyah ra berkata, “Sekelompok orang-orang Yahudi minta izin untuk bertemu Nabi Saw, lalu mereka mengucapkan:_

_Assaamu ‘alaikum (kematian bagimu).”_

_’Aisyah menjawab; ‘Bal ‘alaikumus saam wal la’nah.’ (Justru bagi kalian kematian dan laknat)”._

_Maka Rasulullah Saw bersabda, Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah Swt mencintai, kelemahlembutan dalam segala urusan.’_

_Lalu ‘Aisyah berkata, ‘Tidakkah Anda mendengar ucapan mereka? ‘_

_Jawab beliau: ‘Ya, aku mendengarnya, dan aku telah menjawab; wa’alaikum.’ (HR. Muslim, hadits no 4027)_

*📕Hikmah Hadits:*

1. Kedengkian orang-orang kafir, khususnya orang-orang Yahudi terhadap Nabi Saw, sehingga dalam mengucapkan salam kepada beliau pun mereka “memplesetkannya” dari ucapan _”assalamualaikum”_ (semoga Allah memberikan keselamatan bagimu) menjadi _”assaamualaikum”_ (kematian bagimu).

Ungkapan ini adalah bentuk kebencian mereka terhadap Nabi Saw dan menginginkan keburukan menimpa beliau.

2. Bahwa tidak selalu setiap keburukan harus dibalas dengan keburukan juga.

Terbukti bahwa Nabi Saw ‘menegur’ Aisyah ra yg marah dengan ucapan salam orang Yahudi kepada beliau. Lalu Aisyah ra membalasnya dengan “bal alaikumussaamu wal la’nah” (justru bagi kalian kematian dan laknat).

Dan kemudian Nabi Saw menasehatinya, ‘Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah itu mencintai kelemahlembutan dalam segala urusan.’

Artinya bahwa seyogianya kita juga tetap berusaha berlaku baik dan bijak, meskipun terhadap orang yang berlaku buruk sekalipun terhadap kita.

3. Dalam hal ada orang kafir yang kemudian mengucapkan salam kepada kita, maka anjurannya adalah tetap dijawab salamnya, namun dengan jawaban *”wa alaikum”*(saja).

Hal ini sebagaimana hadits di atas dan juga hadits lainnya sebagai berikut, dari Anas bahwa Para sahabat Nabi Saw bertanya kepada beliau, ‘Sesungguhnya orang-orang Ahli Kitab memberi salam kepada kami, bagaimana kami menjawabnya? ‘ Jawab beliau, jawablah dengan Wa’alaikum’ (saja).’ (HR. Muslim, hadits no 4025).

4. Bahwa salam adalah doa, cita-cita dan harapan, agar Allah Swt memberikan keselamatan, rahmat dan keberkahan tethadap orang yang kita tujukan salam kepadanya. Karena doa adalah termasuk bagian dari aqidah dan ibadah. Maka oleh karenanya hanya boleh ditujukan dan atau dijawab antara saudara sesama muslim saja.

Bahkan dalam riwayat lainnya, ternyata salam adalah jalan untuk mempererat ukhuwah, memperkokoh iman dan mengantarkan menuju jannah.

Nabi Saw bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling menyayangi. Maukan kalian aku tunjukkan atas sesuatu yang mana apabila kalian mengerjakannya niscaya kalian akan saling menyayangi?

(Yaitu) *Sebarkanlah salam di antara kalian*.” (HR. Muslim, hadits no 81).

Wallahu A’lam

Oleh: Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Qadho Puasa karena Nifas

Assalamu’alaikum ust/ustadzah..mau tanya,tahun sebelumnya saya tidak berpuasa karena nifas dan tidak membayar fidyah karena rencananya mau menggantinya, saya belum bisa mengganti dan sekarang udah hamil lagi dan …apa yanb harus saya lakukan? Bolehkan saya membayar fidyah untuk yang tidak puasa tahun sebelumnya di tahun ini?  {Member A03}

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah ..

Mengqadha puasa sampai berjumpa bulan sya’ban selanjutnya tidak apa-apa, sebagaimana riwayat berikut:

  ‘Aisyah _Radhiallahu ‘Anha_ berkata:

ما كنت أقضي ما يكون علي من رمضان إلا في شعبان حتى توفي رسول الله صلى الله عليه و سلم

  Aku tidak pernah mengqadha apa-apa yang menjadi kewajiban atasku dari Ramadhan, kecuali di bulan sya’ban, sampai wafatnya Rasulullah ﷺ. (HR. At Tirmidzi No. 783, katanya: hasan shahih)

  Hadits ini jelas bahwa ‘Aisyah _Radhiallahu ‘Anha_, mengqadha shaum Ramadhan di bulan Sya’ban selanjutnya. Itu tidak mengapa.

  Bahkan sebagian ulama membolehkan kapan saja waktunya tanpa batasan, berdasarkan ayat berikut:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ *فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ*

  Maka barang siapa di antara kamu yang sakit atau dalam keadaan perjalanan (lalu ia berbuka), *maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu _pada hari-hari yang lain_*. (QS. Al Baqarah: 184)

  Dalam ayat ini, tidak dibatasi kapankah _“hari-hari lain itu,”_ sehingga bagi mereka boleh sampai kapan pun.

  Syaikh Sayyid Sabiq _Rahimahullah_ mengatakan:

قضاء رمضان لا يجب على الفور، بل يجب وجوبا موسعا في أي وقت، وكذلك الكفارة. فقد صح عن عائشة: أنها كانت تقضي ما عليها من رمضان في شعبان (1) ولم تكن تقضيه فورا عند قدرتها على القضاء.

  Mengqadha shaum Ramadhan tidak wajib bersegera, tapi ini kewajiban yang waktunya lapang kapan saja waktunya, begitu juga kafarat. Telah shahih dari ‘Aisyah bahwa Beliau mengqadha kekewajiban Raamadhan di bulan Sya’ban, dia tidak menyegerakannya pada dia mampu melakukannya. *( _Fiqhus Sunnah_, 1/470)*

  Hanya saja menurut mayoritas ulama, jika seseorang menunda qadha tanpa adanya ‘udzur, bukan karena sakit, hamil, menyusui, tapi karena *sengaja* menunda-nunda maka bukan hanya qadha tapi juga fidyah.

  Syaikh Wahbah Az Zuhaili _Rahimahullah_ menjelaskan:

وأما إذا أخر القضاء حتى دخل رمضان آخر، فقال الجمهور: يجب عليه بعد صيام رمضان الداخل القضاء والكفارة (الفدية). وقال الحنفية: لا فدية عليه سواء أكان التأخير بعذر أم بغير عذر.

  Jika menunda qadha sampai masuk Ramadhan selanjutnya, maka mayoritas ulama mengatakan: wajib baginya setelah puasa Ramadhan dia melakukan qadha dan kafarat sekaligus (yaitu fidyah). Ada pun Hanafiyah mengatakan: “Tidak ada fidyah baginya, sama saja apakah dia menundanya karena ada ‘udzur atau tidak ada ‘udzur.” *( _Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu_ , 3/108)*

  Kita lihat, apa yang dilakukan oleh ‘Aisyah _Radhiallahu ‘Anha_, dia tanpa fidyah hanya qadha. Sedangkan mewajibkan fidyah membutuhkan dalil, jika tidak ada maka, cukup qadha saja tanpa fidyah sebagaimana pendapat Imam Abu Hanifah, juga Hasan Al Bashri, Ibrahim An Nakha’i, dan lainnya.

Wallahu A’lam. Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

Untuk Bang Anis dan Bang Sandi, … Apa Setelah Kemenangan ?

*📕Bertasbih dengan menyebut nama Allah Ta’ala dan beristighfarlah* , sebagaimana Allah Ta’ala firmankan kepada RasulNya,

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ

*📕Memimpin dengan panduan yang Allah Ta’ala ajarkan*, di antaranya:

✅ Berikan tugas kepada Ahlinya, sebagaimana ayat:

_innallaha ya’murukum an tu’addul amanaat ilaa ahliha_

(Allah memerintahkan kalian (para pemimpin) agar memberikan amanah kepada yang ahli/berhak). (Qs. An Nisa: 58)

✅ Menegakkan hukum seadil-adilnya, sebagaimana ayat:

_wa idza hakamtum bainannaas an tahkumuu bil ‘adl_

(dan jika kamu menerapkan hukum di antara manusia, maka putuskanlah secara adil). (Qs. An Nisa: 58)

✅Tetap ibadah dengan baik dan menjamin keamanan ibadah bagi umat, sebagaimana ayat:

_alladzina immakaanahum fil ardh aqamush shalaah wa atawuz zakaah_

(Orang-orang yang Allah kuatkan kedudukannya di muka bumi/para pemimpin, mereka shalat dan mereka berzakat). (Qs. Al Hajj: 41)

✅ Mengajak pada kebaikan dan menjamin keamanan hidup warganya dengan amar ma’ruf nahi munkar, sebagaimana lanjutan ayat tersebut:

_wa amaruu bil ma’ruf wa nahaw ‘anil munkar_

(dan mereka memerintahkan pada kebajikan dan mencegah kemunkaran). (Qs. Al Hajj: 41)

Ini juga sebagaimana hadits:

As Sulthan Zhilullah fil Ardhi (Pemimpin adalah naungan Allah di muka bumi). (Hr. Al Baihaqi, Al Bazzar,  Imam As Suyuthi mengatakan shahih. Al Jaami’ Ash Shaghiir No.  4815)

✅ Membuka jalan dan menjadi sebab untuk kesejahtaraan warganya, sebagaimana ayat:

_alladzi ath’amahum min juu’ wa aamanahum min khauf_

(Dialah (Allah) yang memberikan makan mereka dari kelaparan dan melindungi mereka dari rasa takut). (Qs. Quraisy: 4)

Ini dulu …
Masih banyak yang lain, tapi sebagai sebuah program awal ini juga bukan tugas yang ringan bagi gubernur baru, apalagi daerah dengan permasalahan sekompleks DKI JAKARTA.

_*Selamat buat Bang Anis dan Sandi, tetap rendah hati, dan ingat kepada Allah Ta’ala bahwa jabatan hanyalah titipan, bukan pemuliaan.*_

_Wallahu Yahdina ilaa sawaa’is sabiil_

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

Hari yang Sama ini Seratus Tahun yang Lalu Allah SWT Juga Turunkan Kemenangan

19 April 1917-2017

Seratus tahun yang lalu, prajurit mujahidin dari Divisi Infanteri ke-3 Kekhilafahan Turki Utsmani di perimeter Gaza mempertahankan dirinya dari gempuran darat, laut, dan udara Inggris, Australia, dan Selandia Baru dalam Pertempuran Gaza Kedua. Perang Dunia Pertama memang menandai akhir kekhilafan, namun masih terus ada pertolongan Allah SWT.

Para mujahid dari Resimen Infanteri ke-31 dan ke-32 dibawah Kolonel Refet bahkan dihujani tembakan 4.000 kanister gas beracun oleh Sekutu. Bahkan, Inggris menggempur mereka menggunakan 8 tank Mark I generasi pertama. Hujan tembakan artileri Sekutu pada pagi hari jam 05.30 berlangsung selama 1 jam 45 menit setelah waktu syuruq itu. Dengan kekuasanNya, Allah SWT mandulkan efek kehancuran mesin perang lawan.

Bahkan sore menjelang Ashr, sekitar jam 14.45 Brigadir Jenderal Cemal Küçük melesatkan Divisi Kavaleri pimpinan Kolonel Esat untuk merebut kembali Tel es Shelia dari tangan lawan. Jam 16.00 beliau juga meyusulkan Divisi Kavaleri ke-3 Turki Utsmani untuk memperkuat serangan balik tersebut.

Dengan persiapan yang matang, penempatan garis pertahanan dan kompi senapan mesin yang saling menyilang, serta tentu saja pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka kemenangan itu menjadi kenyataan.

Kini kemenangan itu pun nampak di Jakarta, InsyaAllah

Agung Waspodo, berpacu dengan degub jantungnya

Rabu, 19 April 2017

Sumber: Erickson, Palestine the Ottoman Campaigns of 1914-1918.

Oleh: Agung Waspodo, SE, MPP

Hubud dunia, Fasiq & Munafiq

Assalamualaikum ustadz/ah..  minta tolong di jelaskan tentang hubuddunia, beda fasiq & munafiq…terima kasih
🐝🐝🐝

Jawaban
—————
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Hubbud Dunia, cinta dunia yaitu sikap mental yg mendahulukan dunia dibanding akhirat. Itu sederhanya. Dunia menjadi pertimbangan utama dlm hal apa pun.

Milih jodoh, dunia yg dipikirkan
Milih sekolah, dunia yg dipikirkan
Milih perumahan, dunia yg dipertimbangkan
Mau dakwah dan jihad, dunia yg jd halangan
Milih pemimpin, dunia yg jd pertimbangan
Dll

Fasiq lebih umum, dia perilaku merusak, tau hukum tp tdk menjalankan, bs dialami oleh muslim dan kafir.

Sedangkan munafiq, zahirnya muslim tp hatinya kafir. Di akhirat mereka neraka, sebagaimana ayat:

وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ

“Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.” (Qs. At Taubah: 68)

Wallahu a’lam

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

Tentang memilih orang kafir sebagai pemimpin, walau bukan Imamatul ‘uzhma/khalifah.

*📕 Hukumnya*

Hal itu tetap terlarang secara mutlak, sesuai keumuman ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al Maidah: 51).

Larangan dalam ayat ini umum, tidak mengkhususkan pada satu jenis dan level kepemimpinan. Dan, tidak ada keterangan dalam Al Quran dan As Sunnah bahwa larangan mengangkat orang kafir sebagai pemimpin hanya khusus berlaku  bagi imamatul ‘uzhma saja.

Maka, berlakulah larangan ini secara umum; bahwa orang-orang beriman dilarang memilih orang kafir sebagai waliyul amri bagi mereka di semua level kepemimpinan.

Wali (وَلِيُّ) jamaknya adalah أَوْلِيَاء  (Auliyaa’) yang artinya –sebagaimana kata Imam Ibnu Jarir Ath Thabari- adalah para penolong (Anshar) dan kekasih
(Akhilla). (Jami’ul Bayan, 9/319)

Bisa juga bermakna teman dekat, yang mengurus urusan, dan orang yang mengusai (pemimpin). (Ahmad Warson, Kamus Al Munawwir, Hal. 1582)

Dalam Lisanul ‘Arab disebutkan bahwa Al Waliy adalah An Naashir (penolong/pembantu). (Ibnu Manzhur, Lisanul ‘Arab, 15/405)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa untuk Ali Radhilallahu ‘Anhu:

اللهم والِ مَنْ والاه

“Allahumma waali man waalaahu.” (HR. Ibnu Majah No. 116, Al Hakim No. 4576, Abu Ya’la No. 6423, 6951, Ibnu Hibban No. 6931, Ahmad No. 950, Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad mengatakan: shahih lighairih)

Apa artinya? Syaikh Ibnu Manzhur mengatakan tentang makna terhadap doa ini:

أَي أَحْبِبْ مَنْ أَحَبَّه وانْصُرْ من نصره

“Yaitu cintailah orang yang mencintainya dan tolonglah orang yang menolongnya.” (Ibnu Manzhur, Lisanul ‘Arab, 15/405)

Dengan demikian Waliy adalah sesuatu tempat kita berteman dekat, minta bantuan dan pertolongan, kekasih, pemimpin, dan yang mengurus urusan kita.
             
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah memberikan keterangan dengan sebuah kisah Abu Musa Al Asy’ari Radhiallahu ‘Anhu yang mengangkat seorang *sekretaris* dari Syam yang beragama *Nashrani,* lalu Umar Radhiallahu ‘anhu merasa heran dan mencegah pengangkatan itu, lalu Umar Radhiallahu ‘Anhu mengutip ayat di atas. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 3/123)

Sikap herannya Umar Radhiallahu ‘anhu ini hanya Abu Musa menjadikan Nasrani sebagai  sekretaris, apalagi dia menjadikannya sebagai pemimpin.

*📌 Allah Ta’ala Menyebut Munafiq kepada Orang yang menjadikan orang kafir sebagai pemimpin dan mengenyampingkan orang beriman*

Allah Ta’ala menyebut munafik kepada orang yang sengaja memilih orang kafir sebagai pemimpin, padahal dia tahu ada orang beriman yang seharusnya diangkat menjadi pemimpin:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138  (الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا (139(

          Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih
(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi waliy dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. (QS. An Nisa: 138-139)

*📌 Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebut pengkhianat*

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 «مَنِ اسْتَعْمَلَ عَامِلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّ فِيهِمْ أَوْلَى بِذَلِكَ مِنْهُ وَأَعْلَمُ بِكِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ فَقَدْ خَانَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَجَمِيع

َ الْمُسْلِمِينَ»

Barang siapa yang memilih seseorang untuk mengurus urusan kaum muslimin padahal dia tahu ada orang lain yang lebih pantas darinya, lebih paham Kitabullah dan Sunnah Rasulnya, maka dia telah mengkhianati Allah, Rasul, dan semua Kaum Muslimin.

(HR.  Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 20861,  Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 11053 , Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 7023)

*📕Jika Muslim Menjadi Minoritas*

                Lalu bagaimana dengan umat Islam yang terlahir di negeri mayoritas non muslim seperti di Eropa atau Amerika, atau sebagian kecil di tanah air kita? Maka, untuk mereka boleh saja memilih atau tidak memilih tergantung kondisinya.

 📌Jika calon yang ada adalah sama-sama kafir dan membenci Islam, dan semua calon yang ada sama-sama memusuhi kaum muslimin, maka hendaknya golput saja. Mengingat bahaya pada keduanya.

📌 Tetapi, jika dari calon yang ada terdapat orang yang TERBUKTI  lebih ringan permusuhannya dengan Islam, maka dia boleh saja dipilih dengan asumsi dan harapan potensi kezaliman yang akan menimpa umat Islam juga lebih ringan jika dia yang menjadi pemimpin.  Sesuai kaidah  _Irtikab Akhafu Dhararain,_  yaitu menjalankan mudharat yang lebih ringan untuk menghindari mudharat yang lebih besar. Saat itu tidak bisa dikatakan mereka telah memberikan wala’ (loyalitas) kepada orang kafir, sebab mereka melakukan itu secara terpaksa, atau dalam upaya memilih yang lebih kecil permusuhannya terhadap Islam.

Pada masa awal Islam, saat masih lemah dan sedikit, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menunjuk Abdullah bin Uraikit -seorang musyrik Quraisy- sebagai penanggungjawab menghapus jejak dan penunjuk jalan, saat hijrah ke Madinah. Ini disebutkan dalam _Shahih Al Bukhari._

*📕Bos kantor Non Muslim*

Kadang ada yang berpikir aneh, _”Jika tidak boleh memilih pemimpin non muslim, maka kerja di perusahaan yang dipimpin non muslim juga tidak boleh dong?”_.  Penyamaan ini karena mereka tidak paham tentang kebolehan hubungan muamalah atau bekerja dengan non muslim dalam urusan bisnis. Baik kita yang diupah atau kita yang mengupah. Ini tidak masalah, tidak _apple to apple_ dengan masalah memilih pemimpin non muslim.

Lagi pula karyawan itu posisinya lemah, dia tidak bisa mengelak siapa yang akan menjadi atasannya. Berbeda dengan pilkada, rakyat punya power untuk menentukan sendiri siapa pemimpinnya.

Lalu, “atasan di kantor” juga tidak sama dengan kepala daerah. Kepala daerah memiliki wewenang/otoritas dan wilayah, sedangkan “atasan di kantor” hanya punya wewenang tanpa wilayah.

Maka, menyamakan kedua jenis kepemimpinan ini sangat tidak pas dibanyak sisi.

Wallahu A’lam

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

Asuramsi

Assalamu’alaykum Ustadz/ah, mau tanya. Bagaimana hukum tentang asuransi dalam islam? Dan hukum bagi orang yang mengasuransikan dirinya?
Sekarang banyak sekali lembaga asuransi yg menawarkan spt menabung sekian banyak perbulan dgn batas waktu tertentu baru bisa diambil. Dan nanti hasilnya jauh lebih besar dr jml tabungan yg kita masukan itu..
Mohon penjelasannya Jazakallahu khairan katsira.

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Asuransi dalam Islam masuk dalam kategori muamalah, dan dalam hal ini seluruhnya dikembalikan kepada jenis akad yang digunakan.

Di negara kita, sudah ada Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI yang akan memonitor seluruh akad yang digunakan oleh Asuransi Syari’ah.

Oleh karenanya, kita serahkan seluruh mekanisme kepada yang lebih otoritatif dalam menghukuminya.

Demikian, semoga Allah Swt sentiasa menjaga kita dari bentuk muamalah yang tidak diridhoi-Nya.

Wallahu a’lam.

Oleh: Dr. Wido Supraha

Biarlah Sebagian .. karena masih ada sebagian lain

📌 Sebagian kaum muslimin menganggap Si Penista adalah pahlawan … Biarlah, masih ada kaum muslimin yang mampu melihat bahwa Si Penista memang durjana

📌 Sebagian “partai Islam” justru mendukung Si Penista … Biarlah, masih ada Partai Islam yang istiqamah menuntut Si Penista

📌 Sebagian tokoh Islam masih malu-malu bersikap … biarlah, masih ada tokoh Islam yang tegas mengambil sikap; lawan penista!

📌 Sebagian umat Islam ada yang nyinyir dengan perjuangan saudaranya … Biarlah, masih banyak yang terbuka hatinya dan mendukung perjuangan saudaranya

📌 Sebagian orang-orang pengajian tidak peduli apa yang terjadi saat ini … Biarlah, masih banyak orang yang rajin ta’lim dan tetap peduli

📌 Sebagian pejabat dan orang-orang kuat ada dibelakang Si Penista … Biarlah, kita masih memiliki iman, ukhuwah, dan sandarakan kepada Yang Maha Kuat

📌 Sebagian umat Islam ada yang tertipu oleh kerja tipu-tipu Si Penista … Biarlah, masih banyak umat Islam yang melihat bahwa dia kerja pencitraan belaka

📌 Sebagian prajurit TNI/POLRI ada yang simpati dengan Si Penista … Biarlah, sebagian lain justru bersimpati dengan perjuangan umat Islam

📌 Sebagian orang-orang kaya berpihak kepada Si Penista … Biarlah, masih banyak “Abdurrahman bin ‘Auf” masa kini yang siap mempersembahkan kekayaannya untuk Islam ..

Biarlah itu semua .. pertempuran sudah di depan mata, lakukanlah:

– Quwwatush Shilah Billah (kekuatan hubungan dengan Allah),   bangunkan dengan tilawah, shaum sunnah, ibadah nawafil, dan sebagainya

 – Tauhidus Shufuf (penyatuan barisan), toleranlah dalam fiqih dan tegas dalam aqidah

– ‘Amaliyah Al Mutawashil (usaha terus menerus), lakukan apa yang bisa dilakukan selama halal untuk kemenangan Islam.

✅ Ingatlah kisah Thalut yang sedikit dan ribuan pasukannya berkhianat, tapi tetap mampu mengalahkan Jalut … biidznillah

✅ Ingatlah pasukan muslim di Badar yang sedikit tapi mengalahkan kafir Quraisy yang tiga kali lipat

Allah Ta’ala berfirman:

ۚ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Qs. Al Baqarah: 249)

📌 Sebagian orang Islam menentang dan sangat anti dengan keislaman …. Biarlah, masih banyak manusia yang ghirah terhadap Islamnya

Wallahu A’lam wa Ilaihil Musytaka

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

Shadaqah dari Uang Takziah

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…
1. Kalau uang dari ta’dziah disedekahkan a.n almarhum. boleh ga ya. trus pahalanya sampai kpd almarhum ga?
2. Kalau uang pensiun karena meninggal dan diwariskan kpd istri dan anak2nya, ada zakatnya ga dan berapa besarny, terutama taspennya?
Jazakallah khoir. # A 39

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillahi wal Hamdulillah..

*🌴🌸 Bersedekah Atas Nama Orang Tua Yang Sudah Wafat 🌸🌴*

  Bersedekah yang diniatkan kebaikan pahalanya untuk mayit, telah menjadi keyakinan dan ijma’ (aklamasi) seluruh para Salafush Shalih, dan imam kaum muslimin dari zaman ke zaman bahwa hal itu boleh, dan sampai pahalanya kepada mayit. Tak satu pun  ulama yang mengingkarinya. Sedangkan, ijma’ merupakan salah satu sumber hukum Islam, setelah Al Quran dan As Sunnah.

  Berikut dalil-dalil  shahih ‘sampainya pahala sedekah ke mayit’:

Hadits 1:

  Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَبِي مَاتَ وَتَرَكَ مَالًا وَلَمْ يُوصِ فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ

  “Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya ayahku sudah wafat, dia meninggalkan harta dan belum diwasiatkannya, apakah jika disedekahkan untuknya maka hal itu akan menghapuskan kesalahannya? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawa: Na’am (ya).” (HR. Muslim No. 1630, Ibnu Majah No.  2716, An Nasa’i No. 3652, Ahmad No. 8486)

  Hadits ini sanadnya shahih. (Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Shahih wa Dhaif Sunan Nasa’i No. 3562, dan Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 2716)

  Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, memasukkan hadits ini dalam Bab Wushul Tsawab Ash Shadaqat Ilal Mayyit (Bab: Sampainya pahala Sedekah kepada Mayit).

  Imam An Nasa’i dalam kitab Sunan-nya memasukkan hadits ini dalam Bab Fadhlu Ash Shadaqat ‘anil Mayyit (Bab: Keutamaan Bersedekah Untuk Mayyit)

Hadits 2:

  Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

 أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ تَصَدَّقْ عَنْهَا

  “Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya ibuku wafat  secara mendadak, aku kira dia punya wasiat untuk sedekah, lalu apakah ada pahala baginya jika aku bersedekah untuknya? Beliau menjawab: “Na’am (ya), sedekahlah untuknya.” (HR. Bukhari No. 2609, 1322, Muslim No. 1004, Malik No. 1451, hadits ini menurut lafaz Imam bukhari)

  Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya memasukkan hadits ini dalam Bab Maa Yustahabu Liman Tuwufiya Fuja’atan An Yatashaddaquu ‘Anhu wa Qadha’i An Nudzur ‘anil Mayyit (Bab: Apa saja yang dianjurkan bagi yang wafat tiba-tiba, bersedekah untuknya, dan memenuhi nazar si mayyit).

  Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya memasukkan hadits ini dalam Bab Wushul tsawab Ash Shadaqah ‘anil Mayyit Ilaih. (Sampainya pahala sedekah dari Mayit kepada yang Bersedekah)

Hadits 3:

Dari Sa’ad bin ‘Ubadah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

قلت يا رسول الله إن أمي ماتت أفأتصدق عنها قال نعم قلت فأي الصدقة أفضل قال سقي الماء .

  “Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku wafat, apakah aku bersedekah untuknya? Beliau menjawab: Ya. Aku berkata: “Sedekah apa yang paling afdhal?” Beliau menjawab: “Mengalirkan air.” (HR. An Nasa’i No. 3664, Ibnu Majah No. 3684)

  Hadits ini sanadnya shahih. (Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 3664, dan Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3684)

  Dan masih banyak hadits lainnya.

  Semua hadits ini adalah shahih. Penjudulan nama Bab yang dibuat oleh para imam ini sudah menunjukkan  kebolehan bersedekah untuk mayit, serta sampainya manfaat pahala untuk mayit dan juga pahala bagi yang bersedekah. Tak ada yang mengingkarinya kecuali kelompok inkar sunnah (kelompok yang menolak hadits nabi) dan mu’tazilah (kelompok yang mendewakan akal).
 
📕 Pandangan Imam Ahlus Sunnah

  Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan tentang maksud hadits di atas:

وَفِي هَذَا الْحَدِيث جَوَاز الصَّدَقَة عَنْ الْمَيِّت وَاسْتِحْبَابهَا ، وَأَنَّ ثَوَابهَا يَصِلهُ وَيَنْفَعهُ ، وَيَنْفَع الْمُتَصَدِّق أَيْضًا ، وَهَذَا كُلّه أَجْمَعَ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ

“Dalam hadits ini menunjukkan bolehnya bersedekah untuk mayit dan itu disunahkan melakukannya, dan sesungguhnya pahala sedekah itu sampai kepadanya dan bermanfaat baginya, dan juga bermanfaat buat yang bersedekah. Dan, semua ini adalah ijma’ (kesepakatan) semua kaum muslimin.” (Imam An Nawawi, Al Minhaj Syah Shahih Muslim, 6/20. Mawqi’ Ruh Al Islam)

    Imam Ibnu Katsir Rahimahullah, dalam kitab tafsirnya:

  فأما الدعاء والصدقة فذاك مجمع على وصولهما، ومنصوص من الشارع عليهما.

  “Adapun doa dan bersedekah, maka keduanya telah disepakati (ijma’) akan sampai kepadanya (mayit), dan keduanya memiliki dasar dalam nash  syariat.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,  Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, Juz.7, Hal. 465. Dar Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’. Cet. 2, 1999M-1420H)

  Imam Abu Sulaiman Walid Al Baji Rahimahullah mengatakan:
 
فَاسْتَأْذَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَم فِي أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْهَا فَأَذِنَ لَهُ فِي ذَلِكَ فَثَبَتَ أَنَّ صَدَقَتَهُ عَنْهَا مِمَّا يُتَقَرَّبُ بِهِ

  “Maka, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengizinkan bersedekah darinya, hal itu diizinkan untuknya, karena sedekahnya itu termasuk apa-apa yang bisa mendekatkan dirinya (kepada Allah).” (Al Muntaqa’ Syarh Al Muwaththa’, 4/74. Mawqi’ Al Islam)

  Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لَيْسَ فِي الْآيَةِ وَلَا فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الْمَيِّتَ لَا يَنْتَفِعُ بِدُعَاءِ الْخَلْقِ لَهُ وَبِمَا يُعْمَلُ عَنْهُ مِنْ الْبِرِّ بَلْ أَئِمَّةُ الْإِسْلَامِ مُتَّفِقُونَ عَلَى انْتِفَاعِ الْمَيِّتِ بِذَلِكَ وَهَذَا مِمَّا يُعْلَمُ بِالِاضْطِرَارِ مِنْ دِينِ الْإِسْلَامِ وَقَدْ دَلَّ عَلَيْهِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَالْإِجْمَاعُ فَمَنْ خَالَفَ ذَلِكَ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ .

  “Segala puji bagi Allah. Tidak ada dalam ayat, dan tidak pula dalam hadits, yang mengatakan bahwa ‘Tidak Bermanfaat’ doa seorang hamba bagi mayit, dan juga amal perbuatan yang diperuntukkannya berupa amal kebaikan, bahkan para imam Islam sepakat hal itu bermanfaat bagi mayit, hal ini sudah ketahui secara pasti dalam agama Islam, hal itu telah ditunjukkan oleh Al Quran, As Sunnah, dan ijma’. Barang siapa yang menyelesihinya, maka dia adalah ahli bid’ah.” (Majmu’ Fatawa, 5/466. Mawqi’ Al Islam)

  Beliau juga berkata:

وَالْأَئِمَّةُ اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ الصَّدَقَةَ تَصِلُ إلَى الْمَيِّتِ وَكَذَلِكَ الْعِبَادَاتُ الْمَالِيَّةُ : كَالْعِتْقِ

  “Para imam telah sepakat bahwa sedekah akan sampai kepada mayit, demikian juga ibadah maliyah (harta), seperti membebaskan budak.” (Ibid)

  Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

أَيَّ قُرْبَةٍ فَعَلَهَا الإِْنْسَانُ وَجَعَل ثَوَابَهَا لِلْمَيِّتِ الْمُسْلِمِ نَفَعَهُ ذَلِكَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى : كَالدُّعَاءِ وَالاِسْتِغْفَارِ ، وَالصَّدَقَةِ وَالْوَاجِبَاتِ الَّتِي تَدْخُلُهَا النِّيَابَةُ

  “Amal apa pun demi mendekatkan diri kepada Allah yang dilakukan oleh manusia dan menjadikan pahalanya untuk mayit seorang muslim, maka hal itu membawa manfaat bagi mayit itu, Insya Allah, seperti: doa, istighfar, sedekah, dan kewajiban yang bisa diwakilkan.” (Al Mughni, 567-569)

  Kewajiban yang bisa diwakilkan adalah haji dan puasa, sebagaimana yang diterangkan dalam hadits-hadits shahih.

  Imam Khathib Asy Syarbini Rahimahullah mengatakan:

تَنْفَعُ الْمَيِّتَ صَدَقَةٌ عَنْهُ ، وَوَقْفٌ وَبِنَاءُ مَسْجِدٍ ، وَحَفْرُ بِئْرٍ وَنَحْوُ ذَلِكَ

  “Sedekah bagi mayit  membawa manfaat baginya, wakaf membangun masjid, dan membuat sumur air dan semisalnya ..” (Mughni Muhtaj, 3/69-70)

Imam Al Bahuti Rahimahullah   mengatakan:

قَالَ أَحْمَدُ : الْمَيِّتُ يَصِلُ إلَيْهِ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ الْخَيْرِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ صَلَاةٍ أَوْ غَيْرِهِ لِلْأَخْبَارِ .

Imam Ahmad mengatakan, bahwa  semua bentuk amal shalih dapat sampai kepada mayit baik berupa doa, sedekah, dan amal shalih lainnya, karena adanya riwayat tentang itu. (Syarh Muntaha Al Iradat, 3/16)

  Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin  Baz Rahimahullah – mantan Mufti Saudi Arabia- mengatakan:

وهكذا القراءة للأموات أيضا ليس لها أصل والواجب ترك ذلك.
أما الصدقة عن أموات المسلمين والدعاء لهم ، فكل ذلك مشروع

  “Demikian juga membaca Al Quran untuk mayit, ini juga tidak memiliki dasarnya, maka wajib ditinggalkan. Ada pun bersedekah dan berdoa bagi mayit kaum muslimin, maka  semua ini disyariatkan.” (Syaikh Bin Baz, Fatawa Nur ‘Alad Darb, 1/89)

  Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

أما الصدقة عن الميت فلا بأس بها يجوز أن يتصدق فإن رجلاً جاء إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله إن أمي قد افتلتت نفسها وأظنها لو تصدقت لتكلمت أفأتصدق عنها قال نعم فيجوز للإنسان أن يتصدق عن أبيه إذا مات وعن أمه وعن إخوته وأقاربه وكذلك عن غيره من المسلمين

  “Ada pun sedekah buat mayit, maka itu tidak apa-apa, boleh bersedekah (untuknya). Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku wafat  mendadak, aku mengira dia berencana untuk bersedekah, apakah saya boleh bersedekah untuknya? Beliau menjawab: Ya. Maka, boleh bagi manusia bersedekah untuk ayahnya jika sudah wafat, juga untuk ibunya, saudaranya, kerabatnya, demikian juga untuk yang lainnya dari kaum muslimin.” (Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin, Fatawa Nur ‘Alad Darb, No. 44)

  Dan masih banyak ulama lainnya, namun para ulama di atas sudah mewakili yang lainnya, bahwa bersedekah untuk mayit adalah boleh, dan sampai pahalanya kepada mayit, serta berpahala juga bagi yang bersedekah. Ini adalah ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin dari dahulu hingga saat ini, bahkan Imam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa hal ini telah diketahui secara pasti dalam agama. Maka, barang siapa yang mengingkarinya –kata Imam Ibnu Taimiyah- dia adalah ahli bid’ah (pelaku kesesatan).

  Bukan hanya itu, mengingkari hal ini merupakan pengingkaran terhadap sunah nabi, dan Imam Asy Syaukani  dan lainnya menyebutkan pengingkaran hal ini hanya dilakukan oleh kaum mu’tazilah (pendewa akal).

Kehujjahan Ijma’ telah diakui semua umat Islam, kecuali para pengikut hawa nafsu. Berkata Imam Ibnu Taimiyah:

 الْإِجْمَاعُ وَهُوَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ عَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ الْفُقَهَاءِ وَالصُّوفِيَّةِ وَأَهْلِ الْحَدِيثِ وَالْكَلَامِ وَغَيْرِهِمْ فِي الْجُمْلَةِ وَأَنْكَرَهُ بَعْضُ أَهْلِ الْبِدَعِ مِنْ الْمُعْتَزِلَةِ وَالشِّيعَةِ

  “Ijma’ telah menjadi kesepakatan antara umumnya kaum muslimin, baik dari kalangan ahli fiqih, sufi, ahli hadits, dan ahli kalam, serta selain mereka secara global, dan yang mengingkarinya adalah sebagian ahli bid’ah seperti mu’tazilah dan syi’ah.” ( Majmu’ Fatawa, 3/6. Mawqi’ Al Islam)

Dan, orang-orang yang mengingkari ijma’ adalah penghancur dasar-dasar agama, sebagaimana kata Imam As Sarkhasi dalam kitab Ushul-nya:

 “Orang-orang yang mengingkari keberadaan ijma sebagai hujjah , maka mereka telah membatalkan ushuluddin (dasar-dasar agama), padalah lingkup dasar-dasar agama dan referensi umat Islam adalah ijma’nya mereka, maka para munkirul ijma (pengingkar ijma’) merupakan orang-orang yang merobohkan dasar-dasar agama.” (Ushul As Sarkhasi, 1/296. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Al Imam  Al Hafizh  Al Khathib Al Baghdadi   berkata:

“Ijma’ (kesepakatan) ahli ijtihad dalam setiap masa adalah satu di antara hujjah-hujjah Syara’ dan satu di antara dalil-dalil hukum yang dipastikan benarnya”. (Al Faqih wal Mutafaqih, 1/154)

Allah Ta’ala memerintahkan agar kita mengikuti ijma’, dan bagi penentangnya disebut sebagai orang-orang yang mengikuti jalan selain jalan orang-orang beriman, yakni dalam firmanNya:

“Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu  dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa (4): 115)

Dalam hadits juga disebutkan:

إن الله تعالى لا يجمع أمتي على ضلالة وَيَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَة

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah meng-ijma’kan  umatku dalam kesesatan, dan tangan Allah bersama jamaah.” (HR. At Tirmidzi No. 2255, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No 1848)

Demikian, Semoga bermanfaat bagi siapa saja yang menginginkan kebenaran.

Wallahu A’lam wa ilaihi musytaka …

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.