Kursus di Dalam Gereja

Oleh: Nurdiana

Assalamu’alaikum wrwb…  Ustadz/zah,  pertanyaan saya,  tentang ibu2 yang ikut les jahit digereja walaupun mrk disana tdk diajarkan mslh akidah mereka,  hukumnya apa dan bgmn menyikapinya? Jazakallah khoir
Member Manis 🅰2⃣8⃣

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Untuk menyikapi ibu ibu yang belajar menjahit di gereja .disini di butuhkan ke arifan sikap. Dan sekaligus introspeksi buat aktivis muslimah.

1.kenapa les menjahit atau belajar ketrampilan atau lifeskill belum di programkan di mesjid.

2.penyuluhan dan penguatan aqidah. Mereka harus di ingatkan tentang pepatah “alah bisa karena biasa” jadi kursus menjahit itu sebuah cara atau pembiasaan dini supaya masyarakat muslim sekitar terbiasa dan bisa menerima kehadiran gereja.Ingatkan dengan firman Allah:

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.( Qs. Al-Baqarah : 120)

Orang orang yahudi dan nasrani tidak akan ridho , tidak akan senang selamanya. Ini ditandai dengan  لن , sehingga mereka akan selalu mencari cara dan strategi bagaimana caranya supaya muslim menjadi mengikuti milah(gaya hidup,kebiasaan) mereka.

3.Memberi solusi apa yang jadi kebutuhan mereka dgn membuat kusus yang sama di lingkungan muslim.

*Apa hukum masuk gereja*
1.Haram mutlak bila didalam gereja sedang ada peribadatan mereka.atau kita ikut mereka
2.Makruh. bila kehadiran kita digereja tidak punya kepentingan apa apa.karena ini bisa jadi firnah dan menimbulkan kemudharatan
3.Mubah. bila hadirnya kita dalam rangka dakwah atau mengambil manfaat disana.

Wa Allahu’alam

Dzikrul Maut – Mengingat Kematian

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

❣Allah Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

_Setiap jiwa pasti merasakan kematian .. (QS. Ali Imran: 185)_

Ayat lainnya:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

_Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh … (QS. An Nisa: 78)_

*❣Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma* berkata:

كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ
 
_Aku bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu datang seorang laki-laki dari kaum  Anshar, lalu dia mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian berkata:_

_“Wahai Rasulullah, mu’min apakah yang paling utama?”_

_Beliau bersabda: “Yang paling baik akhlaknya.”_

_Dia berkata lagi: “Mu’min apa yang paling cerdas?”_

_Beliau bersabda: “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang terbaik persiapannya terhadap hari setelah kematian. Merekalah orang-orang cerdas.”_

(HR. Ibnu Majah No. 4259, Al Baihaqi, Syu’abul Iman No. 7993, Al Bazzar dalam Musnadnya No. 6175. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah No. 1384)

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

_Perbanyaklah mengingat pemutus semua kenikmatan, yakni kematian. (HR. At Tirmidzi No. 2307, katanya: hasan shahih. Ibnu Majah No. 4258, An Nasa’i  dalam As Sunan Al Kubra No. 1950, Ibnu Hibban No. 2992)_

*❣Mintalah Husnul Khatimah*

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ فَاعِلًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي
               
_“Janganlah kalian mengharapkan kematian lantaran buruknya musibah yang menimpa, sekali pun ingin melakukannya, maka berdoalah: *“Allahumma Ahyini Maa Kaanat Al Hayatu Khairan Liy, wa Tawaffani Idza Kaanat ý Wafaatu Khairan Liy* (Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan itu adalah baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika memang wafat itu baik bagiku).”_

(HR. Bukhari No. 5990,  Muslim No.  2680,  At Tirmidzi No. 970,    Ibnu Hibban No. 968, Abu Ya’la No. 3799, 3891, Ahmad No. 13579 )

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

_Barang siapa yang berdoa kepada Allah meminta mati syahid dengan jujur, maka Allah akan sampaikan dia pada derajat syuhada walau dia mati di atas ranjangnya._

(HR. Muslim No. 1909)

*❣Umar Radhiallahu ‘Anhu* berdoa:

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ وَاجْعَلْ مَوْتِي فِي بَلَدِ رَسُولِكَ

_Ya Allah, rezekikanlah aku mati syahid di jalanMu, dan jadikanlah kematianku di negeri rasulMu._

(HR. Bukhari No. 1890)

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi was Salam.

Wallahu A’lam

Hak Istri

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Maaf mau tanya ini kan pertanyaannya tentang hak suami terhadap istri ya, saya mau tanya kebalikannya hak-hak istri terhadap suaminya, sekaligus hak-hak istri yang menjadi ibu dari anak2 suaminya itu apa saja? Terima kasih ustad/ustadzah
A39

Jawaban
—————

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،

Hak-hak istri adalah:
1. Nafkah, baik lahir dan batin, sandang, pangan, papan
2. Perlindungan dan penjagaan
3. Dididik dan dibina dgn adab Islam
4. Mahar mutlak miliknya
5. Berhak mengelola uangnya sendiri
6. Mendapatkan waris dr suaminya jika suami wafat

Wallahu a’lam.

Raja Saudi yang Terpaksa Berkompromi dengan AS dan Inggris

Oleh: Agung Waspodo, SE, MPP

Dari Sumber Catatan Sir Winston Churchill

Kisah itu dimulai ketika Raja ‘Abdul ‘Aziz as-Sa’ ud (Ibn Saud) bertemu dengan presiden AS Franklin Delano Roosevelt (FDR) di atas kapal perang USS Quincy pada 14 Februari 1946, setelah Perang Dunia Kedua usai. Setelah itu FDR bertemu Perdana Menteri Inggris Sir Winston Churchill di kota Alexandria, Mesir, pada 15 Februari. Pertemuan terakhir antara keduanya, FDR wafat pada bulan April 1946.

Setelah pertemuan tersebut, Churchill langsung berangkat menuju Oasis Fayyoum untuk bertemu dengan Raja Ibn Sa’ud di Auberge du Lac Hotel. Hotel in dahulunya adalah bekas peristirahatan Raja Farouq Mesir ketika ia sedang berburu. Tempat tersebut diubah menjadi hotel dengan pemandangan Danau (Lac) Qarun. Qarun adalah menteri keuangan di zaman Fir’aun. Hotel yang kini masih dapat dijumpai di lokasi yg sama (1954) bukan yang asli dibangun tahun 1945.

Kisah selanjutnya diambil dari jilid ke-6 buku karya Churchill yang berjudul The Second World War – Triumph and Tragedy:

Setelah kepergian delegasi AS, saya (Churchill) telah mengarsir pertemuan dengan Ibn Saud. Beliau (Ibn Saud) diangkut menggunakan kapal perang kelas perusak USS Murphy dengan penghormatan layaknya seorang pemimpin dari Timur. Ikut bersama rombongan beliau terdapat 50 orang termasuk dua anaknya, perdana menterinya, spesialis ilmu falaq, serta selusinan domba untuk disembelih sesuai aturan Islam.

Beberapa seloroh Churchill yang cukup terkenal, antara lain:

Beberapa masalah sosial timbul. Saya (Churchill) diberitahu tidak boleh ada acara merokok serta pelayanan Minum an beralkohol di dalam jamuan Raja (Ibn Saud). Karena saya (Churchill) adalah penjamu/tuan-rumah maka segera kuangkat masalah ini. Kukatakan kepada penterjemah bahwa hak sang raja untuk tidak menikmati merokok dan alkohol sesuai agamanya. Namun, perlu diketahui bahwa aturan hidupku menuntut merokok cerutu bersama minum alkohol sebelum, setelah, dan jika dirasakan perlu dalam perjamuan sesuai interval. Raja (Ibn Saud) secara terhormat menerima usulanku. Bahkan, pelayan minum raja (Ibn Saud) sendiri yang menuangkan segelas air zam-zam untukku, segelas air yang paling lezat dalam hidupku.

Masalah lainnya menurut Churchill:

It had been indicated to me beforehand that here would be an interchange of presents during the course of our meeting. I had therefore made what I thought were adequate arrangements. “Tommy” Thompson [Churchill’s aide] had bought for me in Cairo for about a hundred pounds, at the Government’s expense, a little case of very choice perfumes which I presented. We were all given jewelled swords, diamond-hilted, and other splendid gifts. Sarah [Churchill’s daughter] had an enormous portmanteau which Ibn Saud had provided for “your womenfolk.” I appeared that we were rather outclassed in gifts, so I told the King, “What we bring are but tokens. His Majesty’s Government have decided to present you with the finest motor-car in the world, with every comfort for peace and every security against hostile action.” This was later done.

Profil Raja Ibn Su’ud menurut impresi Churchill:

King Ibn Saud made a striking impression. My admiration for him was deep, because of his unfailing loyalty to us. He was always at his best in the darkest hours. He was now over seventy, but had lost none of his warrior vigour. He still lived he existence of a patriarchal King of the Arabian desert, with his forty living sons and the seventy ladies of his harem, and three of the four legal wives, as prescribed by the Prophet, one vacancy being left.

Satu-satunya isu yang tidak berhasil didapatkan oleh Churchill dari Ibn Su’ud adalah dukungan Raja Saudi atas usulan Inggris mempartisi Palestina dengan mendirikan Israel seiring dengan mundurnya Inggris dari mandat wilayah tersebut.

Agung Waspodo, tujuh puluh satu tahunan kemudian
Depok, 30 April 2017

Hutang

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

Assalamu’alaikum, ijin bertanya ustadz/ustadzah. Tentang hutang.  Kalau saya menagih hutang yang sudah 1 tahun belum dilunasi apa dibolehkan?  Sedangkan uang itu memang sudah sangat diperlukan.
Dan 1 lagi pertanyaannya, bila ada orang yang berhutang sudah sangat lama lebih dari 5 tahun sedangkan orang yang berhutang itu sudah lupa dengan hutangnya. Bagaimana ya saya menagihnya? Atau diikhlaskn saja?
Sebelumnya saya ucapkan jazakillah, atas jawaban dan penjelasan dari ustad/ ustadzah
Wassalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh .
(Pertanyaan A 43)

Jawaban
—————

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Wa’alaikumussalam warahmatullah .., Bismillah wal Hamdulillah

Menagih hutang adalah hak si pemilik piutang, kapan pun dia mau apalagi jika tidak ada tempo. Termasuk jk itu sdh berjalan lama.

Ada pun jika ada tempo, alangkah baiknya ditagih saat tempo, atau sesudahnya dan jangan kenakan denda, itu riba.

Hendaknya memudahkan dan tidak mempersulit.
Jika ingin mengikhlaskan maka itu lebih baik lagi, sebab nabi bersabda:

مَنْ فَرَّجَ عَنْ أَخِيهِ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Barang siapa yang meringankan saudaranya dari kesulitan2 dunianya, mk Allah akan meringankan kesulitan  dia di hari kiamat. (Hr. Muslim)

Wallahu a’lam.

Ia Datang Menguji Cinta

Oleh: Umar Hidayat M Ag

Ujian bisa datang dari mana saja.

❣Kefakiran mendatangkan ujian. Ujian untuk bertahan hidup. Perjuangan dan pengorbanan yang tiada tara.

Berlelah payah jungkir balik, banting tulang untuk sekedar bisa makan menyambung hidup.

Bagi yang kaya tak akan mengalaminya.

❣Begitupun mereka yang telah mapan. Ternyata kemapanan juga ujian.

Godaan makin membentuk formasi yang canggih.
Soft.
Silent.
Tapi mampu meluluhlantakkan seluruh persendian hidup, hingga korbannya tak berdaya.

Bagi yang miskin tak akan mengalaminya.

🌵Banyak keluarga yang bubar, bercerai gegara kemiskinan yang melanda.
Pun tak sedikit keluarga yang telah mapan ikut bubar juga bersebab kemapanan itu.

Maka bekal apa yang harus kita genggam agar melalui ujian kefakiran dan kemapanan tak membuat kita bubar jalan?

*🌹Iman dan sandarkan cinta pada Allah.🌹*
Dengan cara ini kita semakin memiliki imunitas (kemampuan bertahan) dan mengelola segala ujian yang datang. Karena ujian sesungguhnya menguji cinta kita kepada Allah.

Dengan ini seberapa pun ujian yang datang justru makin membesarkan cinta kita pada Allah.

Renungkanlah..

Penghalang-penghalang mengenal Allah (Keragu-raguan) _ lanjutan

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆Senin, 11Sya’ban 1438H/ 8 Mei 2017

📕 Aqidah

📝 Ustadzah Prima Eyza

📖 Penghalang-penghalang mengenal Allah (Keragu-raguan) _ lanjutan
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🌼🌿🐝🌿🌼🌿🐝🌿🌼

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

💝Adik-adik pemuda Islam harapan umat, semoga hari ini senantiasa dalam kebaikan iman dan Islam serta selalu dalam semangat menggelora untuk membela dan menegakkan kemuliaan Islam di muka bumi. Aamiiiin…

✨Pada rangkaian pembahasan sebelumnya mengenai penghalang-penghalang mengenal Allah SWT, kita telah selesai mengupas satu per satu tentang lima jenis penyakit yang termasuk ke dalam kategori penyakit yang disebabkan oleh dorongan hawa nafsu (مَرَضُ الشَّهْوَةِ).
Kelima penyakit tersebut adalah kefasikan (الْفِسْقُ), sombong (الْكِبْرُ), zhalim/aniaya (الظُّلْمُ), kedustaan (الْكَذِبُ), dan banyak maksiat (كَثْرَةُ الْمَعَاصِي).

✨Mari kita lanjutkan kembali pembahasan hari ini  kepada kategori penyakit yang kedua yang menjadi penghalang-penghalang dalam mengenal/memahami Allah SWT yaitu penyakit karena *kecurigaan/keragu-raguan (مَرَضُ الشُّبْهَةِ).*

✨ Jenis pertama dari penyakit ini adalah kebodohan (الْجَهْلُ).

*1. Kebodohan (الْجَهْلُ)*

Secara hakikat, yang dimaksud dengan kebodohan yakni tidak mau memikirkan ayat-ayat Allah Ta’ala, baik ayat-ayat qauliyah (yang tersurat dalam Al Quran) maupun ayat-ayat kauniyah (yang tersirat di seluruh penjuru alam semesta).

🌀Inilah yang menyebabkan terhalangnya manusia dalam mengenal Allah Ta’ala.
Mereka tidak mau menggunakan potensi yang ada pada diri mereka (penglihatan, pendengaran dan hati) untuk memikirkan ayat-ayat Allah Ta’ala, sehingga mereka dicela dalam Al-Qur’an dengan ungkapan,

 وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا صُمٌّ وَبُكْمٌ فِي الظُّلُمَاتِ ۗ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah tuli, bisu dan berada dalam gelap gulita…”  (QS. Al An’aam [6] : 39).

Padahal Allah Ta’ala telah memberikan kesempatan dan umur yang cukup kepada mereka di dunia untuk memikirkan dan merenungkan ayat-ayat-Nya :

 وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَ

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang shaleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan’.  Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolong pun.” (QS. Fathir [35] : 37)

▪ Permintaan yang Berulang

Firman Allah SWT dalam QS. Al Baqarah [2] : 118,

وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللَّهُ أَوْ تَأْتِينَا آيَةٌ ۗ كَذَٰلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِثْلَ قَوْلِهِمْ ۘ تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ ۗ قَدْ بَيَّنَّا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: “Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?” Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.”

لَا يَعْلَمُون
= Tidak mengetahui = Bodoh

🌀Karena bodoh, maka mereka meminta sesuatu yang tidak semestinya, yakni : meminta Allah berbicara kepada mereka secara langsung.
Ini adalah permintaan Rafi’ bin Haramalah (seorang nasrani) kepada Rasul saw agar Allah SWT berbicara kepadanya tentang kebenaran kenabian beliau saw.
Ternyata ini bukan permintaan yang baru pada zaman itu; karena orang-orang sebelum mereka pun pernah meminta hal yang serupa.

Kenapa berulang?
Dalam QS. Al Baqarah [2] : 118 diatas, Allah SWT menyatakan dengan ungkapan  تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ (hati mereka serupa).
Permintaan-permintaan yang tidak sewajarnya itu senantiasa berulang dari masa ke masa oleh kaum yang berbeda dikarenakan hati mereka sama; sama-sama berada dalam pengingkaran kepada Allah SWT karena kebodohannya.

▪ Keterlaluan Bodohnya

Ayat-ayat Allah SWT begitu banyaknya, tapi mereka yang ingkar itu tidak dapat menangkap petunjuk dan kebenaran yang terkandung dalam semua ayat-ayat itu.
→  benar-benar keterlaluan bodohnya.

✨Dalam hakikat iman, standar bodoh atau cerdasnya seseorang itu adalah ma’rifatullaah, yakni sejauh mana seseorang kenal dan faham akan Allah SWT. Semakin ia mengenal dan memahami tentang Allah SWT dengan segala ke-Maha Besaran dan kekuasaan-Nya, maka semakin cerdaslah ia. Semakin seseorang tidak mengenal dan memahami Allah SWT, maka pada hakikatnya semakin bodoh lah ia.
Sebab dengan ma’rifatullah  (mengenal/memahami Allah SWT), maka seseorang akan dapat menjawab dan memahami persoalan-persoalan yang sangat mendasar dalam kehidupan ini:

 ► Dari mana kita datang?
 ► Untuk apa kita datang ke dunia?
 ► Mau kemana setelah dunia ini berakhir?

✨Seorang profesor atau orang-orang yang berlatar belakang akademik tinggi sekali pun, akan dianggap bodoh dalam pandangan keimanan jika ia tidak mengenal dan tidak memahami Allah Ta’ala. Sebagaimana misalnya Abu Jahal yang dikenal cerdas oleh kaumnya pada masa kehidupan masyarakat Quraisy jahiliyah, bahkan ia diberi gelar “Abul-Ahkam” (Bapak yang paling mengerti hukum-hukum), tapi ia tidak mengenal Allah. Bahkan ia kafir; tidak mengimani Allah SWT sedikitpun. Dalam pandangan iman, justru ia adalah orang yang sangat-sangat bodoh.

▪ Mengenal Diri

Para ulama berkata,

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ عَرَفَ رَبَّهُ

“Siapa yang mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya.”

Oleh karena itu, Allah Ta’ala mengingatkan kita agar selalu melihat diri kita sendiri.

Allah Ta’ala berfirman,

 وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan ?” (QS. Adz Dzaariyat [51] : 21)

✨Maka hendaklah dalam diri kita ini kita selalu memperhatikan, memikirkan, dan merenungkan segenap proses dan kejadian, diantaranya yang amat penting:

► Proses penciptaan
► Proses kelahiran
► Proses pertumbuhan dari lahir, kecil, hingga dewasa dan akhirnya mati.
Yang kesemuanya itu penuh dengan segala keajaiban yang menunjukkan kekuasaan dan keMaha Besaran Allah SWT.

✨ *Maka fahamlah kita, bahwa kebodohan akan menghalangi kita dari mengenal dan memahami allah SWT* ✨

Wallahu a’lam bishshowab…

Bersambung..

🌼🌿🐝🌿🌼🌿🐝🌿🌼

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Tafsir QS. Al-Ahzab:33

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Sabtu, 10 Sya’ban 1438H/ 06 Mei 2017

📕 Al-Qur’an

📝 Ustadzah Novria Flaherti

📖 *Tafsir Surat Al-Ahzab ayat 33*
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🌼🌿🐝🌿🌼🌿🐝🌿🌼

 
{وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى}

dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu. (Al-Ahzab: 33)

🌷Mujahid mengatakan bahwa dahulu di masa Jahiliah wanita bila keluar berjalan di depan kaum pria, maka itulah yang dinamakan tingkah laku Jahiliah.

🌷Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu. (Al-Ahzab: 33) Yakni bila kalian keluar dari rumah. Dahulu wanita bila berjalan berlenggak-lenggok dengan langkah yang manja dan memikat, lalu Allah Swt. melarang hal tersebut.

🌷Muqatil telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu. (Al-Ahzab: 33) At-Tabarruj artinya mengenakan kain kerudung tanpa mengikatnya, kalau diikat dapat menutupi kalung dan anting-antingnya serta lehernya. Jika tidak diikat, maka semuanya itu dapat kelihatan, yang demikian itulah yang dinamakan tabarruj. Kemudian khitab larangan ini berlaku menyeluruh buat semua kaum wanita mukmin.

🌷Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnu Zuhair, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Abul Furat, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ahmar, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a. Disebutkan bahwa Ibnu Abbas membaca ayat ini, yaitu firman-Nya: dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu. (Al-Ahzab: 33) Ibnu Abbas mengatakan bahwa munculnya tabarruj adalah di masa antara masa Nabi Nuh dan Nabi Idris, lamanya kurang lebih seribu tahun; itulah permulaannya.

🌷Sesungguhnya salah satu dari dua kabilah keturunan Adam bertempat tinggal di daerah dataran rendah, sedangkan yang lainnya tinggal di daerah perbukitan. Tersebutlah bahwa kaum pria orang-orang yang tinggal di daerah pegunungan terkenal dengan ketampanannya, sedangkan kaum wanitanya tidak cantik. Lain halnya dengan mereka yang tinggal di daerah perbukitan; kaum prianya bertampang jelek-jelek, sedangkan kaum wanitanya cantik-cantik.

🌷Lalu Iblis la’natull’ah mendatangi seorang lelaki dari kalangan penduduk dataran rendah dalam rupa seorang pelayan, lalu ia menawarkan jasa pelayanan kepadanya, akhirnya si iblis menjadi pelayan lelaki itu. Kemudian iblis membuat suatu alat musik yang semisal dengan apa yang biasa dipakai oleh para penggembala. Alat tersebut dapat mengeluarkan bunyi-bunyian yang sangat merdu dan belum pernah orang-orang di masa itu mendengarkan suara seindah itu. Ketika suara musik iblis itu sampai terdengar oleh orang-orang yang ada di sekitarnya, maka berdatanganlah mereka untuk mendengarkan suara musiknya. Lalu mereka membuat suatu hari raya setiap tahunnya, yang pada hari itu mereka berkumpul. Pada saat itu kaum wanita mereka menampakkan dirinya kepada kaum prianya dengan memakai perhiasan dan tingkah laku Jahiliah.

🌷Begitu pula sebaliknya, kaum pria mereka berhias diri untuk kaum wanitanya pada hari raya itu. Lalu ada seorang lelaki dari kalangan penduduk daerah pegunungan mendatangi hari raya mereka itu, dan ia melihat kaum wanita daerah dataran rendah cantik-cantik. Ia mem­beritahukan hal itu kepada teman-temannya di daerah pegunungan. Akhirnya mereka turun dari gunung dan bergaul dengan wanita daerah dataran rendah. Maka timbullah fahisyah (perbuatan zina) di kalangan mereka. Hal inilah yang dimaksudkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya: dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu. (Al-Ahzab: 33)

🌼🌿🐝🌿🌼🌿🐝🌿🌼

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Bagaimana Allah mengenali ummat Islam pada hari kiamat?

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Jum’at, 08 Sya’ban 1438H/ 05 Mei 2017

📕 Fikih

📝 Ustadzah Trisa Yunita S. Si

📖 *Bagaimana Alloh mengenali ummat Islam pada hari kiamat?*
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🌼🌿🐝🌿🌼🌿🐝🌿🌼

🔖Dari Abu Hurairah ra.  Ia berkata:
Rasulullah saw.  bersabda:

“Sesungguhnya ummatku kelak akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan _ghurran muhajjalin_ karena bekas wudhu.”

*”Barangsiapa ingin memperpanjang cahayanya maka lakukanlah…”*

(Muttafaq ‘Alaih)

✨ *Ghurrah*  adalah warna putih yg terdapat di wajah.

✨ *Muhajjal* adalah putih yg ada di ujung kedua tangan dan kaki.

✨Anggota tubuh ini akan putih bersinar pada hari kiamat karena bekas wudhu…
✨Ciri khusus ini tidak ada pada ummat Islam✨

Betapa beruntungnya ummat Islam..

Masyaa Allah
🌼🌿🐝🌿🌼🌿🐝🌿🌼

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Kisah Nabi Adam AS

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Kamis, 07 Sya’ban 1438H/ 04 Mei 2017

📕 Shirah

📝 Ustadzah Novria Flaherti

📖 Kisah Adam AS.  dalam Al-Quran
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🌼🌿🐝🌿🌼🌿🐝🌿🌼

📖 Al-Quran menceritakan kisah Adam AS. dalam beberapa surat di antaranya surat Al-Baqarah ayat 30 hingga ayat 38 dan surah Al-A’raaf ayat 11 sehingga 25.

Kisah Adam dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 30 s/d 38

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ {30

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ {31

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ {32

“Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ ۖ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ {33

“Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ {34

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ {35

“Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.”

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ {36

“Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ {37

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ {38

“Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Demikianlah kisah Nabiyullah Adam AS. Di dalam Al-Qur’an.

🌼🌿🐝🌿🌼🌿🐝🌿🌼

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c