Panduan Shaum Ramadhan (4)

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

📚 Safar yang bagaimana yang dapat keringanan tidak puasa dan diganti di hari lain?

▣ Hadist dibawah ini menunjukkan bahwa orang safar boleh tidak puasa, baik ia tidak berpuasa sebelum berangkat atau ketika berangkat. Hal ini ditegaskan oleh beberapa hadits berikut, dari Hamzah bin Amru Al Aslami saw katanya:
يا رسول الله: أجد بي قوة على الصيام في السفر. فهل علي جناح ؟، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “هي رخصة من الله فمن أخذ بها فحسن. ومن أحب أن يصوم فلا جناح عليه”.

“Wahai Rasulullah, saya punya kekuatan untuk berpuasa dalam safar, apakah salah saya melakukannya? Maka Rasulullah saw menjawab: Itu adalah rukhshah dari Allah, barang siapa yang mau mengambilnya (yakni tidak puasa) maka itu baik, dan barang siapa yang mau berpuasa maka tidak ada salahnya. (HR. Muslim No. 1121. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, no.  7947. Ibnu Khuzaimah No. 2026)

▣ Hadits di atas adalah bagi yang merasa kuat dan sanggup, ada pun bagi yang kepayahan puasa dalam perjalanan maka Nabi saw lebih menganjurkan berbuka saja.  Dari Jabir bin Abdullah ra katanya:
 أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج إلى مكة عام الفتح في رمضان فصام حتى بلغ كراع الغميم فصام الناس معه فقيل له يا رسول الله إن الناس قد شق عليهم الصيام فدعا بقدح من ماء بعد العصر فشرب والناس ينظرون فأفطر بعض الناس وصام بعض فبلغه أن ناسا صاموا فقال أولئك العصاة

“Bahwa Rasulullah saw keluar pada tahun Fath (penaklukan) menuju Mekkah pada saat Ramadhan. Dia berpuasa hingga sampai pinggiran daerah Ghanim. Manusia juga berpuasa bersamanya. Dikatakan kepadanya: Wahai Rasulullah, nampaknya manusia kepayahan berpuasa. Kemudian Beliau meminta segelas air  setelah asar,  lalu beliau minum, dan manusia melihatnya. Maka sebagian manusia berbuka, dan sebagian lain tetap berpuasa. Lalu, disampaikan kepadanya  bahwa ada orang yang masih puasa. Maka Beliau bersabda: Mereka  durhaka.  (HR. Muslim No. 1114.  Ibnu Hibban No. 2706, An Nasai No. 2263. At Tirmidzi No. 710.  Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No.7935)

▣ Bahkan Nabi saw pernah mengkritik orang yang berpuasa dalam keadaan safar dan dia kesusahan karenanya.
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفره. فرأى رجلا قد اجتمع الناس عليه. وقد ضلل عليه. فقال: “ماله ؟” قالوا: رجل صائم. فقال رسول الله عليه وسلم: “ليس من البر أن تصوموا في السفر”.

“Rasulullah tengah dalam perjalanannya. Dia melihat seseorang yang dikerubungi oleh manusia. Dia nampak kehausan dan kepanasan. Rasulullah bertanya: “Kenapa dia?” Mereka menjawab: “Seseorang yang puasa. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Tidak ada kebaikan kalian berpuasa dalam keadaan safar. (HR. Muslim No. 1115)

▣ Jika diperhatikan berbagai dalil ini, maka dianjurkan tidak berpuasa ketika dalam safar, apalagi perjalanan diperkirakan melelahkan. Oleh karena itu, para imam hadits mengumpulkan hadits-hadits ini dalam bab tentang anjuran berbuka ketika safar atau dimakruhkannya puasa ketika safar. Contoh: Imam At Tirmidzi membuat Bab Maa Jaa fi Karahiyati Ash Shaum fi As Safar (Hadits Tentang makruhnya puasa dalam perjalanan), bahkan Imam Ibnu Khuzaimah menuliskan dalam Shahihnya:
 باب ذكر خبر روي عن النبي صلى الله عليه وسلم في تسمية الصوم في السفر عصاة من غير ذكر العلة التي أسماهم بهذا الاسم توهم بعض العلماء أن الصوم في السفر غير جائز لهذا الخبر

“Bab tentang khabar dari Nabi saw tentang penamaan berpuasa saat safar adalah DURHAKA  tanpa menyebut alasan penamaan mereka dengan nama ini. Sebagian ulama menyangka bahwa berpuasa ketika safar adalah TIDAK BOLEH karena hadits ini.”

▣ Tetapi, jika orang tersebut kuat dan mampu berpuasa, maka boleh saja dia berpuasa sebab berbagai riwayat menyebutkan hal itu, seperti riwayat Hamzah  bin Amru Al Aslami ra di atas. Ini juga dikuatkan oleh riwayat lainnya, dari Ibnu Abbas ra, katanya:
لا تعب على من صام ولا من أفطر. قد صام رسول الله صلى الله عليه وسلم، في السفر، وأفطر.

“Tidak ada kesulitan bagi orang yang berpuasa, dan tidak ada kesulitan bagi yang berbuka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berpuasa dalam safar dan juga berbuka.” (HR. Muslim No. 1113)

 Dari Ibnu Abbas juga:
سافر رسول الله صلى الله عليه وسلم في رمضان. فصام حتى بلغ عسفان. ثم دعا بإنء فيه شراب. فشربه نهارا. ليراه الناس. ثم أفطر. حتى دخل مكة .
قال ابن عباس رضي الله عنهما: فصام رسول الله صلى الله عليه وسلم وأفطر. فمن شاء صام، ومن شاء أفطر.

“Rasulullah saw mengadakan perjalanan pada Ramadhan, dia berpuasa singga sampai ‘Asfan. Kemudian dia meminta sewadah air dan meminumnya siang-siang. Manusia melihatnya, lalu dia berbuka hingga masuk Mekkah. Ibnu Abbas ra berkata: Maka Rasulullah saw berpuasa dan berbuka. Barang siapa yang mau maka dia puasa, dan bagi yang mau buka maka dia berbuka. (Ibid)

▣ Dengan mentawfiq (memadukan) berbagai riwayat yang ada ini, bisa disimpulkan bahwa anjuran dasar  bagi orang yang safar adalah berbuka. Namun, bagi yang kuat dan sanggup untuk berpuasa maka boleh saja berbuka atau tidak berpuasa sejak awalnya. Namun bagi yang sulit dan lelah, maka lebih baik dia berbuka saja. Wallahu A’lam

▣●Dalam konteks ‘boleh buka dan boleh puasa’ bagi yang sanggup, lalu manakah yang lebih utama?

● Syaikh Sayyid Sabiq Rahimullah meringkas sebagai berikut:
  فرأى أبو حنيفة، والشافعي، ومالك: أن الصيام أفضل، لمن قوي عليه، والفطر أفضل لمن لا يقوى على الصيام.
وقال أحمد: الفطر أفضل.
وقال عمر بن عبد العزيز: أفضلهما أيسرهما، فمن يسهل عليه حينئذ، ويشق عليه قضاؤه بعد ذلك، فالصوم في حقه أفضل.
وحقق الشوكاني، فرأى أن من كان يشق عليه الصوم، ويضره، وكذلك من كان معرضا عن قبول الرخصة، فالفطر أفضل وكذلك من خاف على نفسه العجب أو الرياء – إذا صام في السفر – فالفطر في حقه أفضل.
وما كان من الصيام خاليا عن هذه الامور، فهو أفضل من الافطار.

“Menurut Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, puasa adalah lebih utama bagi yang kuat menjalankannya, dan berbuka lebih utama bagi yang tidak kuat. Ahmad mengatakan: berbuka lebih utama. Sedangkan Umar bin Abdul Aziz berkata: Yang paling utama dari keduanya adalah yang paling mudah. Barangsiapa yang lebih mudah puasa saat itu, dan mengqadha setelahnya justru berat, maka berpuasa baginya adalah lebih utama.”

● Asy Syaukani melakukan penelitian, dia berpendapat bahwa bagi yang berat berpuasa dan membahayakannya, dan juga orang yang tidak mau menerima  rukhshah, maka berbuka lebih utama. Demikian juga bagi orang yang khawatir pada dirinya ada ujub dan riya jika puasa dalam perjalanan- maka berbuka lebih utama. Ada pun jika puasanya sama sekali bersih dari perkara ini semua, maka puasa lebih utama. (Fiqhus Sunnah, 1/443. Nailul Authar, 4/225)

▣● Bolehkah Berbuka Sebelum Berangkat?

◈ Jika seseorang sedang puasa Ramadhan, lalu di waktu tengah berpuasa, dia hendak melakukan safar, bolehkah dia berbuka sebelum berangkat safarnya?

Dari Ubai bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
أتيت في رمضان أنس بن مالك، وهو يريد سفرا، وقد رحلت له راحلته، ولبس ثياب السفر، فدعا بطعام فأكل فقلت له: سنة؟ فقال: سنة، ثم ركب

“Saya menemui Anas bin Malik, dan dia hendak safar, dan sudah bersiap-siap dengan kendaraannya, serta sudah mengenakan pakaian safar. Lalu dia minta disediakan makanan, lalu dia makan. Maka saya bertanya kepadanya: apakah ini sunah? Dia menjawab: Ini sunah. Kemudian dia berangkat dengan kendaraannya. (HR. At Tirmidzi No. 799, katanya: hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 799)

◈ Ja’far berkata, Dari  ’Ubaid bin Jubeir ra, katanya:
كنت مع أبي بصرة الغفاريِّ صاحب رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم في سفينة من الفسطاط في رمضان فرفع، ثم قرِّب غداؤه، قال جعفر في حديثه: فلم يجاوز البيوت حتى دعا بالسُّفرَة قال: اقترب قلت: ألست ترى البيوت؟ قال أبو بصرة: أترغب عن سنة رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم؟ قال جعفرٌ في حديثه: فأكل.

“Aku bersama Abu Bashrah Al Ghifari, seorang sahabat Rasulullah saw dalam sebuah perahu dari daerah Fusthath (Mesir) pada saat Ramadhan. Tiba-tiba dia menawarkan dan menyajikan sarapannya.” Ja’far berkata dalam haditsnya: belumlah meninggalkan rumah-rumah dan dia mengajak ke meja makan. Dia (Abu Bashrah) berkata: Mendekatlah. Aku berkata: Bukankah engkau masih  melihat rumah-rumah? Berkata Abu Bashrah: Apakah engkau tidak suka sunah Rasulullah saw? Jafar berkata dalam haditsnya: maka dia memakannya. (HR. Abu Daud No. 2412. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 2412)

◈ Dua riwayat ini sangat jelas menerangkan bahwa berbuka sebelum safar adalah boleh, bahkan para sahabat menyebutnya sunah Nabi. Imam Asy Syaukani memberikan penjelasan sebagai berikut:
“والحديثان” يدلان على أنه يجوز للمسافر أن يفطر قبل خروجه من الموضع الذي أراد السفر منه. قال ابن العربي في العارضة: هذا صحيح

“Dua hadits ini menunjukkan bahwa boleh bagi musafir untuk berbuka sebelum dia keluar dari tempat kediamannya. Ibnul ‘Arabi mengatakan dalam Al ‘Aridhah: Inilah yang benar. (Nailul Authar, 4/229. Maktabah Ad Dawah Al Islamiyah)

 Lalu, Ibnul Arabi berkata lagi:
وأما حديث أنس فصحيح يقتضي جواز الفطر مع أهبة السفر

“Ada pun hadits Anas adalah shahih, dan menetapkan bolehnya berbuka puasa ketika sedang persiapan safar.” (Ibid)

▣● Berapakah Jarak Safar Yang Membolehkan Untuk Berbuka?

● Tidak ada keterangan khusus tentang hal ini. Kasus ini sama halnya dengan jarak dibolehkannya Qashar, juga tidak ada  keterangan khusus. Sedangkan Imam Ibnul Mundzir menyebutkan ada 20 pendapat lebih tentang jarak untuk dibolehkannya qashar. Oleh karena itu, jarak yang sudah dibolehkan bagi seseorang untuk berbuka adalah sebagaimana dibolehkannya untuk qashar. Inilah pendapat para ulama muhaqqiq (peneliti). Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:
والسفر المبيح للفطر، هو السفر الذي تقصر الصلاة بسببه، ومدة الاقامة التي يجوز للمسافر أن يفطر فيها، هي المدة التي يجوز له أن يقصر الصلاة فيها. وتقدم جميع ذلك في مبحث قصر الصلاة ومذاهب العلماء وتحقيق ابن القيم.

“Safar yang membolehkan berbuka adalah safar yang membuatnya boleh pula qashar shalat. Begitu pula rentang waktu waktu yang membolehkan untuk berbuka bagi seorang musafir, yaitu selama jangka waktu dibolehkan pula mengqashar. Semua pembahasan ini telah kami bahas sebelumnya dalam pembahasan qashar shalat, pandangan para ulama, dan tahqiq dari Ibnul Qayyim. (Fiqhus Sunnah, 1/444)

🔸Bersambung 🔸

I’TIKAF MALAM SAJA

Oleh: Dr. Wido Supraha

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Mengenai sebagian saudara2 kita yg kerjanya sbg pegawai atau bahkan pekerjaan yg lainnya, yg mungkin hanya bisa hadir di Masjid pd saat malam (saat itikaf) apakah jg mendapat fadhilah itikaf seperti yg di contohkan Rasulullah dan para sahabat beliau..?

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

🔑 _Jika tidak bisa seluruhnya, maka jangan tinggalkan seluruhnya_.

📌 I’tikaf yang sempurna adalah siang dan malam tanpa henti berdiam di Masjid

📌 Puncak ibadah i’tikaf adalah di waktu malam, sehingga menghidupkan malam adalah fokus i’tikaf

📌 Awali selalu dengan niat untuk i’tikaf saat masuk masjid selama 1 (satu) malam

💡 I’tikaf berpadu dengan kata ‘mencari’, dan ‘mencari’ bermakna selalu bangun, meski mengantuk adalah fitrah.

Wallahu a’lam.

Panduan Shaum Ramadhan (3)

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

📚 *Niat, Bagaimanakah itu?*

❣ *Definisinya*

Secara Lughah, niat adalah Al Qashdu (maksud/kehendak) dan Al Azm (tekad/kemauan kuat) untuk melakukan sesuatu. (Imam Ibnul Qayyim, Ighatsatul Lahfan, Hal. 136)

Dalam Al Mausu’ah disebutkan, makna niat secara mutlak adalah Al Qashdu. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/287)

Dia juga bermakna Al Hifzhu (penjagaan), nawallahu fulanan, yaitu Allah menjaganya (Hafizhahu). (Al Mausu’ah, 42/59)

Makna secara Syariat,   hakikat niat adalah kehendak (Al Iradah) yang terarah pada  sebuah perbuatan untuk mencari ridha Allah Taala dengan menjalankan hukumNya. (Fiqhus Sunnah, 1/42. Al Mausuah, 2/287. Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 1/137)

Menurut fuqaha Hanafiyah, artinya adalah  kehendak ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah Taala. Kalangan Malikiyah mengatakan kehendak di hati terhapap apa-apa yang dikehendaki manusia untuk dilakukan, itu termasuk pembahasan Al Uzuum (tekad) dan Al Iradaat (kehendak), bukan pembahasan ilmu dan aqidah. Kalangan Syafi’iyah mengartikan kehendak terhadap sesuatu yang tersambung dengan perbuatannya. Ada pun fuqaha hanabilah mengartikan kemauan kuat di hati untuk melakukan ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah Taala, menjadikan Allah Taala sebagai tujuannya bukan selainnya.  (Al Mausu’ah, 42/59-60)

Ada beberapa istilah yang terkait dengan niat, yakni:

✅ Al ‘Azm  (tekad),  bermakna kehendak yang pasti setelah adanya keraguan (Jazmul Iradah bada taraddud). Hubungan  antara niat dan Al ‘Azm adalah keduanya merupakan marhalah (tahapan/tingkatan) dari kehendak. Al ‘Azm merupakan  ism (kata benda) yang lebih dahulu ada sebelum  berwujud  perbuatan. Sedangkan niat adanya langsung bersambung dengan perbuatan yang dibarengi dengan pengetahuan terhadap apa yang diniatkan.

✅ Al Iradah (kehendak), artinya adalah Ath Thalab (tuntutan), Al Ikhtiyar (daya untuk memilih), dan Al Masyi’ah  (kemauan). Jika dikatakan Araada syai’a artinya dia menghendaki sesuatu dan menyukainya. Secara istilah,  Al Iradah adalah sifat yang mesti  ada pada sesuatu yang hidup dan terjadinya pada perbuatan, pada satu  sisi tidak pada sisi lainnya.  (Lihat semua dalam Al Mausu’ah, 42/60)

❣ *Letaknya*

Niat terletak di hati, demikianlah yang dikatakan semua literatur fiqih, kamus, tradisi dan akal manusia. Kami tidak perlu menyampaikan referensinya sebab hal itu sudah diketahui dengan mudah oleh semua manusia.

Berkata Imam Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki:

( وَالنِّيَّةُ بِالْقَلْبِ ) إجْمَاعًا هُنَا وَفِي سَائِرِ مَا تُشْرَعُ فِيهِ لِأَنَّهَا الْقَصْدُ وَهُوَ لَا يَكُونُ إلَّا بِهِ فَلَا يَكْفِي مَعَ غَفْلَتِهِ

(Niat itu di hati) berdasarkan ijma’, dan mesti ada pada setiap amal yang disyariatkan karena niat adalah maksud, dan tidaklah perbuatan dianggap ada kecuali dengan adanya niat, maka tidaklah mencukupi jika melalaikannya. (Tuhfah Al Muhtaj, 5/285)

Mayoritas fuqaha kalangan Hanafiyah, dan ini juga pendapat Malikiyah, dan Syafiiyah,  serta Hanabilah, menyatakan bahwa niat adalah syarat sahnya ibadah.

Pendapat mayoritas Syafi’iyah menyatakan bahwa niat adalah rukunnya ibadah.

Sedangkan kalangan Malikiyah menyatakan bahwa niat adalah fardhu (wajib) ketika wudhu. Berkata Al Mazari: itu adalah pendapat yang lebih terkenal (pada madzhab Maliki). Berkata Ibnu Hajib: itu adalah pendapat yang lebih benar.  (Al Asybah wan Nazhair Libni Nujaim, Hal. 20, 24, 52. Al Mawahib Al Jalil, 1/182-230. Adz Dzakhirah, Hal. 235-236. Al Qawaid Al Ahkam, Hal. 175-176. Hasyiah Al Jumal, 1/103. Mughni Muhtaj, 1/148. Al Asybah Wan Nazhair Lis Suyuthi, Hal. 10, 43, 44. Kasyful Qina, 1/85, 313. Al Mughni, 3/91)

❣ *Melafazkan Niat*

Ada pun melafazkan niat, tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, para sahabat, dan para tabi’in, bahkan imam empat madzhab. Wacana tentang melafazkan  niat baru ada pada masa pengikut-pengikut mereka.

Sejak berabad-abad lamanya, umat Islam mulai dari ulama hingga kaum awamnya, berpolemik tentang melafazkan niat (At Talafuzh An Niyah), seperti lafaz niat hendak shalat:

“ushalli fardha subhi rak’ataini mustaqbilal qiblati adaan lillahi ta’ala,”  atau lafaz niat hendak wudhu: “nawaitu wudhu’a liraf’il hadatsil asghari lillahi ta’ala,” atau lafaz niat hendak berpuasa Ramadhan: “nawaitu shaama ghadin an ada’i fardhusy syahri Ramadhana haadzihis sanati lillahi ta’ala, dan lainnya. Di negeri ini, kalimat-kalimat ini sering diajarkan dalam pelajaran agama di sekolah-sekolah dasar, umumnya pesantren, dan forum-forum pengajian.

Polemik ini bukan hanya terjadi di negeri kita, tapi juga umumnya di negeri-negeri Muslim. Di antara mereka ada yang membid’ahkan, memakruhkan, membolehkan, menyunnahkan, bahkan mewajibkan (namun yang mewajibkan   telah dianggap   pendapat yang syadz janggal lagi menyimpang).

Di sisi lain, tidak ada perbedaan pendapat tentang  keberadaan niat di hati dalam melaksanakan ibadah. Mereka juga sepakat bahwa melafazkan niat tidaklah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, para sahabat, dan tabi’in, bahkan imam empat madzhab. Perbedaan mereka adalah  dalam hal legalitas pengucapan niat ketika ibadah.

❣ *Menurut  Pendapat Madzhab*

Sebelumnya, mari kita tengok bagaimana pandangan para ulama madzhab tentang melafazkan niat dalam beribadah ritual.

Tertulis dalam Al Mausu’ah:

فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ فِي الْمُخْتَارِ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ فِي الْمَذْهَبِ إِلَى أَنَّ التَّلَفُّظَ بِالنِّيَّةِ فِي الْعِبَادَاتِ سُنَّةٌ لِيُوَافِقَ اللِّسَانُ الْقَلْبَ   .
وَذَهَبَ بَعْضُ الْحَنَفِيَّةِ وَبَعْضُ الْحَنَابِلَةِ إِلَى أَنَّ التَّلَفُّظَ بِالنِّيَّةِ مَكْرُوهٌ  .
وَقَال الْمَالِكِيَّةُ بِجَوَازِ التَّلَفُّظِ بِالنِّيَّةِ فِي الْعِبَادَاتِ ، وَالأْوْلَى تَرْكُهُ ، إِلاَّ الْمُوَسْوَسَ فَيُسْتَحَبُّ لَهُ التَّلَفُّظُ لِيَذْهَبَ عَنْهُ اللَّبْسُ

Pendapat kalangan Hanafiyah (pengikut Imam Abu Hanifah) berdasarkan pendapat yang dipilih, dan Syafi’iyah (pengikut imam Asy Syafi’i) serta Hanabilah (Hambaliyah-pengikut Imam Ahmad bin Hambal) menurut pendapat madzhab bahwasanya melafazkan niat dalam peribadatan adalah SUNAH, agar lisan dapat membimbing hati.

Sebagian Hanafiyah dan sebagian Hanabilah menyatakan bahwa melafazkan niat adalah MAKRUH.

Kalangan Malikiyah (pengikut Imam Malik) mengatakan bolehnya melafazkan niat dalam peribadatan, namun yang lebih utama adalah meninggalkannya, kecuali bagi orang yang was-was maka baginya dianjurkan untuk melafazkannya untuk menghilangkan kekacauan dalam pikirannya. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 42/67)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili Hafizhahullah menyebutkan:

ولا يشترط التلفظ بها قطعاً، لكن يسن عند الجمهور غير المالكية التلفظ بها لمساعدة القلب على استحضارها، ليكون النطق عوناً على التذكر، والأولى عند المالكية: ترك التلفظ بها   ؛ لأنه لم ينقل عن النبي صلّى الله عليه وسلم وأصحابه التلفظ بالنية، وكذا لم ينقل عن الأئمة الأربعة.

“Secara qah’i melafazkan niat tidaklah menjadi syarat sahnya, tetapi disunahkan menurut jumhur (mayoritas) ulama -selain Malikiyah- melafazkannya untuk menolong hati menghadirkan niat, agar pengucapan itu menjadi pembantu dalam mengingat, dan yang lebih utama menurut kalangan Malikiyah adalah meninggalkan pelafazan niat itu, karena tidak ada riwayat dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya tentang melafazkan niat, begitu pula tidak ada riwayat dari imam yang empat. (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 1/137)

Jadi, secara umum kebanyakan ulama madzhab adalah menyunnahkan melafazkan niat, ada pun sebagian Hanafiyah dan sebagian Hanabilah memakruhkan. Sedangkan Malikyah membolehkan walau lebih utama meninggalkannya, kecuali bagi orang yang was-was maka dianjurkan mengucapan niat untuk mengusir was-was tersebut. Sedangkan para imam perintis empat madzhab, tidak ada riwayat dari mereka tentang pensyariatan melafazkan niat.

❣ *Pandangan Para Imam Kaum Muslimin*

Berikut adalah pandangan para ulama yang mendukung pelafazan niat, baik yang menyunnahkan atau membolehkan.

❣ *Imam Muhammad bin Hasan Rahimahullah, kawan sekaligus murid Imam Abu Hanifah Rahimahullah.*

Beliau  mengatakan:

النِّيَّةُ بِالْقَلْبِ فَرْضٌ ، وَذِكْرُهَا بِاللِّسَانِ سُنَّةٌ ، وَالْجَمْعُ بَيْنَهُمَا أَفْضَل

“Niat di hati adalah wajib, menyebutnya di lisan adalah sunah, dan menggabungkan keduanya adalah lebih utama.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 42/100)

❣ *Imam Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki Rahimahullah*

Beliau mengatakan:

( وَيَنْدُبُ النُّطْقُ ) بِالْمَنْوِيِّ ( قُبَيْلَ التَّكْبِيرِ ) لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ الْقَلْبَ وَخُرُوجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَهُ وَإِنْ شَذَّ وَقِيَاسًا عَلَى مَا يَأْتِي فِي الْحَجِّ

“(Disunahkan mengucapkan) dengan apa yang diniatkan (sesaat sebelum takbir) agar lisan  membantu hati dan keluar dari khilaf (perbedaan pendapat) dengan kalangan yang mewajibkan, walaupun yang mewajibkan ini adalah pendapat yang syadz (janggal),  sunnahnya ini  diqiyaskan dengan apa yang ada pada haji (yakni pengucapan kalimat talbiyah, pen).” (Tuhfah Al Muhtaj, 5/285)

❣ *Imam Syihabuddin Ar Ramli Rahimahullah*

Beliau mengatakan:

ويندب النطق بالمنوي قبيل التكبير ليساعد اللسان القلب ولأنه أبعد عن الوسواس وللخروج من خلاف من أوجبه

“Dianjurkan mengucapkan apa yang diniatkan sesaat sebelum takbir untuk membantu hati, karena hal itu dapat menjauhkan was-was dan untuk keluar dari perselisihan pendapat dengan pihak yang mewajibkannya.” (Nihayatul Muhtaj, 1/457. Darul Fikr)

❣ *Imam Al Bahuti Rahimahullah*

  Beliau mengatakan ketika membahas niat dalam shalat:

وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ وُجُوبًا وَاللِّسَانُ اسْتِحْبَابًا

“Tempatnya niat  adalah  di hati sebagai hal yang wajib, dan disukai (sunah) diucapkan lisan ..  (Kasyful Qina’,  2/442. Mawqi Islam)

Dan lain-lain.

📚 *Kepada Siapa Diwajibkan dan Tidak Diwajibkan?*

Puasa Ramadhan diwajibkan kepada setiap umat Islam, laki-laki dan perempuan,  baligh, berakal, dan sedang tanpa udzur (halangan). Udzur-udzur  tersebut adalah:

❣ *Orang Sakit*

Hal ini berdasarkan ayat:

ومن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر

“Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”  (QS. Al Baqarah (2): 184)

❣ *Sakit Yang Bagaimana?*
Sebagian ulama mengatakan bahwa segala macam sakit walau ringan- boleh untuk tidak puasa. Alasan mereka adalah karena ayat ini tidak merincinya. Jadi,  karena kemutlakan ayat ini maka semua macam sakit boleh membuat seseorang tidak puasa dan wajib diganti di hari lain.

Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi Rahimahullah  mengatakan dalam kitabnya Al Mughni:

وَحُكِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ أَبَاحَ الْفِطْرَ بِكُلِّ مَرَضٍ ، حَتَّى مِنْ وَجَعِ الْإِصْبَعِ وَالضِّرْسِ ؛ لِعُمُومِ الْآيَةِ فِيهِ

“Diceritakan dari sebagian salaf bahwa dibolehkan berbuka bagi setiap jenis penyakit, sampai rasa sakit di jari-jari dan tergigit, lantaran keumuman ayat tentang hal ini. (Al Mughni, 6/149. Mawqi Islam)

Ini juga pendapat Imam Bukhari, Imam Atha, dan ahluzh zhahir seperti Imam Daud dan Imam Ibnu Hazm Al Andalusi.

Namun, pendapat yang lebih aman dan selamat adalah bahwa penyakit yang boleh bagi penderitanya untuk meninggalkan puasa adalah penyakit yang membuatnya sulit dan berat berpuasa, dia tidak mampu, dan bisa membahayakan dirinya jika dia berpuasa. Dengan demikian, seseorang tidak bermain-main dengan syariat, hanya dengan alasan sakit yang sebenarnya tidak menyulitkannya.

Imam Ibnu Qudamah mengomentari ayat di atas, katanya;

وَالْمَرَضُ الْمُبِيحُ لِلْفِطْرِ هُوَ الشَّدِيدُ الَّذِي يَزِيدُ بِالصَّوْمِ أَوْ يُخْشَى تَبَاطُؤُ بُرْئِهِ .

“Sakit yang dibolehkan untuk berbuka adalah sakit keras yang bisa bertambah parah karena puasa atau dikhawatiri lama sembuhnya.” (Ibid)

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah pernah di tanya:

مَتَى يُفْطِرُ الْمَرِيضُ ؟ قَالَ : إذَا لَمْ يَسْتَطِعْ .
قِيلَ : مِثْلُ الْحُمَّى ؟ قَالَ : وَأَيُّ مَرَضٍ أَشَدُّ مِنْ الْحُمَّى

“Kapankah orang sakit boleh berbuka?” Dia  menjawab: “jika dia tidak mampu (puasa).” Ditanyakan lagi: “semacam demam?” Beliau menjawab: “Sakit apa pun yang lebih berat dari demam.” (Ibid)

Dialog ini menunjukkan bahwa beliau hanya mengkhususkan sakit tertenu saja yakni yang memberatkan bagi si penderitanya.

Berkata Syaikh Sayid Sabiq Rahimahullah:

والصحيح الذي يخاف المرض بالصيام، يفطر، مثل المريض وكذلك من غلبه الجوع أو العطش، فخاف الهلاك، لزمه الفطر وإن كان صحيحا مقيما وعليه القضاء.

“Yang benar adalah jika puasa  dikhawatirkan membuat sakit maka dia boleh berbuka, sebagaimana puasa, begitu juga bagi orang yang tidak kuat menahan lapar dan haus yang dikhawatiri membuatnya celaka, maka dia mesti berbuka. Jika dia dalam keadaan sehat dan mukim maka wajib baginya qadha’ “ (Fiqhus Sunnah, 1/442)

Syaikh Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili Rahimahullah  mengatakan tentang standar sakit  yang boleh berbuka puasa:

هوالذي يشق معه الصوم مشقة شديدة أو يخاف الهلاك منه إن صام، أو يخاف بالصوم زيادة المرض أو بطء البرء أي تأخره  . فإن لم يتضرر الصائم بالصوم كمن به جرب أو وجع ضرس أو إصبع أو دمل ونحوه، لم يبح له الفطر.

“Yaitu sakit   berat yang jika puasa beratnya semakin parah atau  khawatir dia celaka, atau khawatir dengan puasa akan menambah sakit atau memperlama kesembuhan. Jika seorang puasa tidaklah mendatangkan mudharat baginya seperti   sakit kudis, sakit gigi, jari,  bisul, dan yang semisalnya, maka ini tidak boleh berbuka. (Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 3/75. Maktabah Al Misykah)

Inilah pendapat yang lebih kuat, karena Allah Taala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

”Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.. “ (QS. At Taghabun (64): 16)

Jadi, selama masih ada kesanggupan maka berpuasalah. Jangan menyerah begitu saja hanya karena penyakit ringan seperti panu, kudis, keseleo kaki, dan sejenisnya.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

وأما الصحيح المقيم الذي يُطيق الصيام، فقد كان مخيَّرًا بين الصيام وبين الإطعام، إن شاء صام، وإن شاء أفطر، وأطعم عن كل يوم مسكينا، فإن أطعم أكثر من مسكين عن كل يوم، فهو خير، وإن صام فهو أفضل من الإطعام، قاله ابن مسعود، وابن عباس، ومجاهد، وطاوس، ومقاتل بن حيان، وغيرهم من السلف؛ ولهذا قال تعالى: { وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ }

“Ada pun orang sehat yang tidak bepergian, tapi dia mengalami kesulitan untuk puasa, maka mereka bisa memilih antara puasa atau berbuka. Jika dia mau maka puasa, jika dia mau buka maka buka saja, lalu memberikan makan tiap hari (yang ditinggalkannya)  ke orang miskin, jika dia memberikan makannya lebih banyak dari hari yang ditinggalkannya maka itu lebih baik. Jika dia mau berpuasa maka itu lebih utama dibanding memberikan makan. Inilah pendapat Ibnu Masud, Ibnu Abbas, Mujahid, Thawus, Muqatil bin Hayyan, dan selain mereka dari kalangan salaf. Oleh karena Allah Taala berfirman:

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Tafsir Al Quran Al Azhim, 1/498. Dar Ath thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi)

Ada pun jika orang yang sakit keras memaksakan diri untuk puasa, maka puasanya tetap sah, walau hal itu dibenci (makruh), lantaran dia telah menyiksa diri sendiri dan menolak keringanan yang Allah dan RasulNya berikan.

Allah Taala berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah (2): 185)

Ayat lainnya:

وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
  “ dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”  (QS. Al Baqarah (2): 195)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

وإذا صام المريض، وتحمل المشقة، صح صومه، إلا أنه يكره له ذلك لاعراضه عن الرخصة التي يحبها الله، وقد يلحقه بذلك ضرر.

“Jika orang sakit berpuasa dan hal itu membawanya pada keadaan yang menyulitkan, maka puasanya sah, tetapi hal itu makruh karena dia menentang rukhshah (dispensasi) yang Allah Taala sukai, dan dengan itu dia bisa jadi  tertimpa hal yang buruk. (Fiqhus Sunnah, 1/442)

🔸Bersambung 🔸

Dapat Undian Simpedes

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Klo misalnya nabung dbank (simpedes) trus ga niat ikut undian dan dapt mobil itu hukumnya gmna ?  (bukan sy 😅)

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah … Menabung di bank konvensional (ribawi) pada dasarnya terlarang, sebab dia tidak lepas dari yang disebutkan dalam hadits berikut:

Dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم آكل الربا وموكله وكاتبه وشاهديه وقال هم سواء

  Rasulullah ﷺ melaknat pemakan riba, yang memberinya, pencatatnya, dan dua  saksinya. Beliau berkata: semua sama. (HR. Muslim No. 1598)

  Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

هذا تصريح بتحريم كتابة المبايعة بين المترابيين والشهادة عليهما وفيه تحريم الاعانة على الباطل والله أعلم

Ini merupakan penjelasan keharaman penulisan transaksi antara para pelaku riba, juga menjadi saksinya, dan dalam hadits ini terdapat pengharaman pertolongan terhadap kebatilan. Wallahu A’lam. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 11/26)

Walaupun kita tidak ikut-ikutan undiannya, tetaplah itu sebagai wujud ta’awun/saling kerjasama dlm kebatilan.

Namun, dalam kondisi terdesak, seperti memang tidak ada bank syariah di sebuah kota atau daerah, sementara kita membutuhkan jasa transfer Bank, bukan untuk sengaja menabung di situ, maka tidak masalah.

Wallahu a’lam.

Panduan Shaum Ramadhan (2)

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

📚 *Sejak Kapan Puasa Ramadhan Diwajibkan?*

Telah diketahui secara pasti bahwa puasa Ramadhan adalah wajib berdasarkan Al Quran (QS. Al Baqarah (2): 183), Al Hadits, dan ijma.

Telah masyhur pula bahwa puasa Ramadhan diwajibkan sejak tahun kedua hijriyah, dan sepanjang hayat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hanya menjalankan sembilan kali puasa Ramadhan.

Dalam sejarah Islam, pewajiban puasa pun tidak langsung, melainkan diberikan anjuran puasa sebagai memberikan pengalaman dan pembiasaan.

Berkata Syaikh Ibnu Al Utsaimin Rahimahullah:

وحكمه: الوجوب بالنص والإجماع.
ومرتبته في الدين الإسلامي: أنه أحد أركانه، فهو ذو أهمية عظيمة في مرتبته في الدين الإسلامي. وقد فرض الله الصيام في السنة الثانية إجماعاً، فصام النبي صلّى الله عليه وسلّم تسع رمضانات إجماعاً، وفرض أولاً على التخيير بين الصيام والإطعام؛ والحكمة من فرضه على التخيير التدرج في التشريع؛ ليكون أسهل في القبول؛ كما في تحريم الخمر 

 “Hukumnya adalah wajib berdasarkan nash (teks Al Quran dan Al Hadits) dan ijma’.

Kedudukannya dalam agama Islam adalah dia sebagai salah satu rukun Islam yang memiliki urgensi yang agung dalam Islam.

Telah ijma bahwa Allah   mewajibkan puasa pada tahun kedua,  dan ijma pula  bahwa puasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah sembilan kali Ramadhan.

Pertama kali diwajibkan adalah sebagai  takhyir  (pemberian opsi) antara puasa dan makan, hikmah dari pewajiban dengan cara ini adalah sebagai pentahapan dalam pensyariatannya agar lebih mudah diterima, sebagaimana dalam pengharaman khamr. (Syarhul Mumti , 6/298. Mawqi Ruh Al Islam)

📚 *Rukun Puasa*

Ada dua rukun Puasa :

☝ *Pertama* ,  _menahan diri dari yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari._

☝ *Kedua* , _niat untuk puasa. Niat dilakukan paling lambat sebelum terbit fajar._

 (Lengkapnya lihat Fiqhus Sunnah, 1/437)

🔸Bersambung🔸

Suntik KB agar Full Puasa

Oleh: Dr. Wido Supraha

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah …Bila ibu² yang biasa nya KB sebulan sekali, karena alasannya biar puasa nya full tdk punya hutang puasa akhir nya Kb suntik yg 3bln. Bgmn hukum nya ustadz??..

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

🔑 Lebih utama mengikuti fitrah biologis manusia karena dampak positifnya yang besar.

📌 Menunjukkan kepasrahan penuh anak Adam

📌 Darah haidh adalah ketetapan dari Allah Swt untuk memuliakan wanita dan menjaganya dari penyakit

📌 Dampak negatif dari obat terhadap orman dan fungsi kerja jasad secara umum yang tidak bisa dipastikan aman

📌 Segala sesuatu yang merubah siklus biologis berpotensi melahirkan keburukan

📝 Perlu menjadi keyakinan utuh bahwa tidak puasanya seorang wanita di bulan Ramadhan “bukan” berarti mengurangi keutamaannya di hadapan Allah, karena seluruhnya dari Allah, dan bahwa amal ibadah Ramadhan bervariasi dengan ganjaran yang besar di bulan ini. Maka tetaplah dalam apa yang telah menjadi fitrah manusia.

Wallahu a’lam.

Panduan Shaum Ramadhan (1)

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

*📋Definisi Shaum Ramadhan*

📚  *Apa arti shaum?*

Secara bahasa, berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah:

الصيام في اللغة مصدر صام يصوم، ومعناه أمسك، ومنه قوله تعالى: {فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْناً فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَن صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا } [مريم] فقوله: {صَوْمًا} أي: إمساكاً عن الكلام، بدليل قوله: {فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا} أي: إذا رأيت أحداً فقولي: {إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَن صَوْمًا} يعني إمساكاً عن الكلام {فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا}.

“Shiyam secara bahasa merupakan mashdar dari shaama – yashuumu, artinya adalah menahan diri. Sebagaimana firmanNya: (Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”) (QS. Maryam (19):26). firmanNya: (shauman) yaitu menahan diri dari berbicara, dalilnya firmanNya: (jika kamu melihat seorang manusia), yaitu jika kau melihat seseorang, maka katakanlah: (Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah) yakni menahan dari untuk bicara. (Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini).

(Syarhul Mumti’, 6/296.  Cet. 1, 1422H.Dar Ibnul Jauzi. Lihat juga Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/431. Lihat Imam Al Mawardi, Al Hawi Al Kabir, 3/850)

Secara syara’, menurut Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah, makna shaum adalah:

الامساك عن المفطرات، من طلوع الفجر إلى غروب الشمس، مع النية

“Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan, dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, dan dibarengi dengan niat (berpuasa).” (Fiqhus Sunnah, 1/431)

  Ada pun Syaikh Ibnul Utsaimin menambahkan:

وأما في الشرع فهو التعبد لله سبحانه وتعالى بالإمساك عن الأكل والشرب، وسائر المفطرات، من طلوع الفجر إلى غروب الشمس.
ويجب التفطن لإلحاق كلمة التعبد في التعريف؛ لأن كثيراً من الفقهاء لا يذكرونها بل يقولون: الإمساك عن المفطرات من كذا إلى كذا، وفي الصلاة يقولون هي: أقوال وأفعال معلومة، ولكن ينبغي أن نزيد كلمة التعبد، حتى لا تكون مجرد حركات، أو مجرد إمساك، بل تكون عبادة

“Ada pun menurut syariat, maknanya adalah ta’abbud (peribadatan) untuk Allah Ta’ala dengan cara menahan diri dari makan, minum, dan semua hal yang membatalkan, dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Wajib dalam memahami definisi ini, dengan mengaitkannya pada kata taabbud, lantaran banyak ahli fiqih yang tidak menyebutkannya, namun mengatakan: menahan dari dari ini dan itu sampai begini. Tentang shalat, mereka mengatakan: yaitu ucapan dan perbuatan yang telah diketahui. Sepatutnya kami menambahkan kata taabbud, sehingga shalat bukan  semata-mata gerakan , atau semata-mata menahan diri, tetapi dia adalah ibadah.

(Syarhul Mumti’,  6/298. Cet.1, 1422H. Dar Ibnul Jauzi)

🔑 Dari definisinya ini ada beberapa point penting sebagai berikut:

🔹️Menahan diri dari perbuatan yang membatalkan
🔹Harus dibarengi dengan niat
🔹Bertujuan ibadah kepada Allah Taala

📚 *Lalu, apa arti Ramadhan ?*

Ramadhan, jamaknya adalah Ramadhanaat, atau armidhah, atau ramadhanun. Dinamakan demikian karena mereka mengambil nama-nama bulan dari bahasa kuno (Al Qadimah), mereka menamakannya dengan waktu realita yang terjadi saat itu, yang melelahkan, panas, dan membakar (Ar ramadh).  Atau juga diambil dari  ramadha ash shaaimu: sangat panas rongga perutnya, atau karena hal itu membakar dosa-dosa. (Lihat Al Qamus Al Muhith, 2/190)

Imam Abul Hasan Al Mawardi Rahimahullah mengatakan:

وَكَانَ شَهْرُ رَمَضَانَ يُسَمَّى فِي الْجَاهِلِيَّةِ ناتِقٌ  ، فَسُمِّيَ فِي الْإِسْلَامِ رَمَضَانَ مَأْخُوذٌ مِنَ الرَّمْضَاءِ ، وَهُوَ شِدَّةُ الْحَرِّ : لِأَنَّهُ حِينَ فُرِضَ وَافَقَ شِدَّةَ الْحَرِّ وَقَدْ رَوَى أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} قَالَ : إِنَّمَا سُمِّيَ رَمَضَانُ : لِأَنَّهُ يَرْمِضُ الذُّنُوبَ أَيْ : يَحْرِقُهَا وَيَذْهَبُ بِهَا .

“Adalah bulan Ramadhan pada zaman jahiliyah dinamakan dengan ‘kelelahan’, lalu pada zaman Islam dinamakan dengan Ramadhan yang diambil dari kata Ar Ramdha yaitu panas yang sangat. Karena ketika diwajibkan puasa bertepatan dengan keadaan yang sangat panas. Anas bin Malik telah meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: sesungguhnya dinamakan Ramadhan karena dia memanaskan  dosa-dosa, yaitu membakarnya dan menghapskannya. (Al Hawi Al Kabir, 3/854. Darul Fikr)

Secara istilah (terminologis), Ramadhan adalah nama bulan (syahr) ke sembilan dalam bulan-bulan hijriyah, setelah Syaban dan sebelum Syawal. Ada pun bulan dalam artian benda langit adalah al qamar, dan bulan sabit adalah al hilaal.

📚 *Keutamaan-Keutamaannya*

Sangat banyak keutamaan puasa. Di sini kami hanya paparkan sebagian kecil saja.

📋 *Berpuasa Ramadhan menghilangkan dosa-dosa yang lalu*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ومن صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan ihtisab,  maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari No. 38, 1910, 1802. Al Baihaqi, Syu’abul Iman No. 3459)

Makna ‘diampuninya dosa-dosa yang lalu adalah dosa-dosa kecil, sebab dosa-dosa besar seperti membunuh, berzina, mabuk, durhaka kepada orang tua, sumpah palsu, dan lainnya- hanya bisa dihilangkan dengan tobat nasuha, yakni dengan menyesali perbuatan itu, membencinya, dan tidak mengulanginya sama sekali.  Hal ini juga ditegaskan oleh hadits berikut ini.

📋 *Diampuni dosa di antara Ramadhan ke Ramadhan*

  Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

الصلوات الخمس. والجمعة إلى الجمعة. ورمضان إلى رمضان. مكفرات ما بينهن. إذا اجتنب الكبائر

“Shalat yang lima waktu, dari jumat ke jumat, dan ramadhan ke Ramadhan, merupakan penghapus dosa di antara mereka, jika dia menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim No. 233)

📋 *Dibuka Pintu Surga, Dibuka pintu Rahmat, Dibuka pintu langit,  Ditutup Pintu Neraka, dan Syetan dibelenggu*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَان فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِي

“Jika datang Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan syetan dibelenggu.” (HR. bukhari No. 1800. Muslim No. 1079.  Malik No. 684. An Nasa’i No. 2097, 2098, 2099, 2100, 2101, 2102, 2104, 2105)

📋 *Orang berpuasa akan dimasukkan ke dalam surga melalui pintu Ar Rayyan*

Dari Sahl Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di surga ada pintu yang disebut Ar Rayyan, darinyalah orang-orang puasa masuk surga pada hari kiamat, tak seorang pun selain mereka  masuk lewat pintu itu. Akan ditanya: Mana orang-orang yang berpuasa? Maka mereka berdiri, dan tidak akan ada yang memasukinya kecuali  mereka. Jika mereka sudah masuk, maka pintu itu ditutup dan tak ada yang memasukinya seorang pun.

(HR. Bukhari No. 1797, 3084. Muslim No. 1152. An NasaI No. 2273, Ibnu Hibban No. 3420. Ibnu Abi Syaibah 2/424)

🔸Bersambung🔸

TARHIB RAMADHAN

Oleh: Dr. Wido Supraha

Bismillāh, Saudaraku, hari ini kita berada di bulan Sya’ban, tepatnya 14 Sya’ban 1438 H.

Perlu dipahami bahwa Sya’bān bermakna awal kelompok-kelompok manusia yang bergerak mencari air agar di bulan Ramadhān memiliki persediaan yang mencukupi. Namun, dapat dipahami juga, khususnya bagi kita di zaman ini, bahwa Sya’bān bermakna bulannya mencari sumber-sumber air ilmu agar di bulan Ramadhān, kita telah memiliki persediaan ilmu yang cukup untuk mengarungi bulan penuh kemuliaan tersebut.

Adapun terkait Ramadhān, bulan ini bermakna ‘yang membakar’, karena demikian panasnya bulan ini di Jazirah Arab, namun juga bermakna yang membakar dosa-dosa manusia, selama ia tidak mengerjakan dosa-dosa besar, insya Allah mengisinya dengan tips dan trik yang benar dan tepat, akan mengeluarkan dirinya laksana baru keluar dari rahim ibunya, bersih tanpa dosa.

Kita bukan Nabi, tidak ma’shum, hisab masih mengkhawtirkan, surga masih jauh, tentunya kita sangat membutuhkan Ramadhān ini.

_Saudaraku yang semoga dimuliakan Allah Rabb al-‘Izzati wa al-Jalālah,_

Ramadhān itu ada 30 hari, cara memandang kita akan bulan ini harus berawal dari cara pandang helicopter view. Kerinduan kepada bulan itu yang mendorong kita berdo’a, Allāhumma bāriklanā fī Sya’bān wa ballighnā Ramadhān, sehingga sangat wajar jika banyak yang begitu merindukan terkabulnya do’a ini, tatkala adzan Maghrib berkumandang di tempatnya berada, ia pun segera sujud syukur, bersyukur kepada Allah ﷻ yang telah mengabulkannya, ketika banyak manusia yang tidak dikabulkan-Nya.

Kalau Allah ﷻ mengizinkan kita memasuki Ramadhān bersama usia kita, tentunya Allah ﷻ menginginkan agar kita tidak menyia-nyiakan rahmat-Nya dengan cara tidak mengisinya kecuali dengan segala sesuatu yang telah direncanakan jauh hari sebelumnya. Demikian generasi terbaik dahulu telah melewati hari-harinya ketika hendak datang bulan Ramadhan.

_Saudaraku yang semoga diberikan keistiqomahan oleh Allah ﷻ,_

30 hari itu waktu yang tidak sebentar, tapi juga akan terasa sebentar ketika kita sudah berada di akhirnya. Ketika kita melihat cara Nabi Muhammad ﷺ mengisi Ramadhan, kita akan tersadar, bahwa minimal ada 4 (empat) hal yang perlu kita siapkan, yakni:

🎯 *Persiapan Jiwa agar berbahagia menyambutnya*
✳ *Persiapan Akal agar memahami Ilmu*
🎯 *Persiapan Jasad agar kuat mengisinya hingga akhir*
✳ *Persiapan Harta agar lebih dermawan di dalamnya*

Keempat bentuk persiapan (i’dād) ini penting untuk kita perhatikan agar bukan saja melewati Ramadhan dengan melepaskan seluruh kewajiban semata, namun melewati Ramadhan dengan maksimal, penuh penghayatan, dan meraih ridha Allah ﷻ.

_Saudaraku yang semoga selalu berani, tenang dan optimis dalam mengarungi kehidupan,_

🏁 *Pertama, Persiapan jiwa agar berbahagia menyambutnya.*🏁

Berbahagia yang dimaksud adalah berbahagianya manusia karena memahami bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh keutamaan (fadhilah), seperti bulan pendidikan, bulan jihad, bulan Al-Qur’an, bulan toleransi, bulan taubat, bulan diampuninya dosa, selain bahwa Ramadhan adalah bulan puasa.

Berbahagia yang berbeda mungkin dirasakan bagi sebagian manusia yang belum memiliki ilmu ketika ia mendengar Ramadhan akan hadir, ia berbahagia karena teringat dirinya akan pulang cepat di bulan Ramadhan, atau bisa tidur panjang bakda shalat Zhuhr, atau bisa punya baju baru, atau bisa pulang kampung di 10 hari terakhir, atau hal-hal lain yang bersifat mubah, tapi menunjukkan bahwa ia belum paham keutamaan Ramadhan.

Sebagian lainnya justeru mungkin bersedih ketika mendengar hadirnya Ramadhan, karena ia tidak bisa merokok, susah mencari makan dan minum, merasa tidak kuat berpuasa, merasa hidup akan menjadi sulit selama 30 hari. Wal ‘iyadzubillah.

Oleh karenanya, Bunda termasuk sosok yang perlu memanfaatkan momen strategis ini, dan menjadi sosok yang paling berbahagia, karena Allah akan mempermudah langkah Bunda dalam membina Ananda untuk dekat kepada Allah ﷻ khususnya Masjid dan Al-Qur’an, dan bisa menjadikan ini awal bagi Bunda dalam mengkondisikan rumah agar kondusif bagi tumbuh kembang jiwa seluruh penghuninya. Awalilah dengan spanduk ‘Marhaban Yaa Ramadhan’ di depan rumah, agar seisi rumah bersemangat bahkan menularkan aura positif ke tetangga yang akan berbalik memberikan aura positif kepada keluarga anda sekalian.

_Saudaraku yang semoga memiliki anak-anak penghafal Al-Qur’an 30 Juz, bukan Juz 30,_

🏁 *Kedua, Persiapan Akal agar memahami Ilmu.*🏁

Berakal dan menggunakan akal untuk berpikir adalah perintah agama. Berpikir untuk mendapatkan hikmah dari setiap proses penghayatan yang dilakukan adalah aktifitas yang dimuliakan agama. Ilmu akan membimbing manusia dari kekosongan program dan penyimpangan pilihan kehidupan. Ramadhān yang hanya 30 hari sejatinya terbagi pada 3 (tiga) periode waktu, sebagai kehidupan manusia pun terbagi pada 3 (tiga) fase kehidupan.

Pemahaman akan 3 (tiga) periode waktu ini berawal dari puncak periode yang penuh kemuliaan, sehingga Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah meninggalkannya, hingga mengqadhanya jika meninggalkannya, dialah 10 (sepuluh) hari terakhir bulan Ramadhan. Bergerak dengan memulainya dari menetapkan target pencapaian akhir akan membuat program ikutannya terukur, dan bahkan menguatkan konsep agama untuk tidak terlalu bersemengat di awal, tapi jagalah semangat, dan terus tingkatkan, hingga di fase terakhir Ramadhan, pada saat itulah Allah ﷻ ingin melihat kita ada di Rumah-Rumah-Nya, i’tikaf, meraih kemuliaan lipatan umur, dan ini semua hasil kesabaran dan pintarnya kita menjaga semangat pada 20 hari sebelumnya.

_Saudaraku yang semoga dikehendaki Allah ﷻ mudah memahami agama ini,_

🏁 *Ketiga, Persiapan Jasad agar kuat mengisinya hingga akhir.*🏁

Ramadhan termasuk ibadah yang membutuhkan kekuatan jasad, sama seperti Shalat dan Haji. Ketika Allah ﷻ menyandingkan kata Halāl dan Thayyib, bermakna jasad adalah salah satu fokus utama, karena ia telah dititipkan kepada ruh untuk dipelihara sebaik-baiknya.

Memiliki jasad yang sehat, tidak gendut tapi juga tidak terlalu kurus adalah hikmah agar mukmin dapat beribadah sempurna. Ramadhān mengingatkan kita bahwa jasad bisa lelah dalam menerima makanan, ia perlu melalui proses detoksifikasi racun-racun, sehingga idealnya, Ramadhan akan menjadikan pengeluaran mukmin semakin sedikit, dan menjadikannya lebih sehat. Jika tidak, berarti ia belum memahami poin kedua di atas, yakni ilmu yang belum memenuhi akal dan jiwanya.

Namun begitu, keutamaan Ramadhān pun membutuhkan kekuataan jasad, siang dan malam. Bagi Saudara yang punya penyakit khusus, seperti maag, asam urat, kolesterol, jantung, dan sejenisnya, tentu harus memiliki siasat sejak dini, atau kalau saat ini tidak memiliki gangguan itu, perlu memaksimalkan ikhtiar agar ketika Ramadhan tiba, Saudara berada dalam kondisi paling prima.

Memilih makanan di sisa bulan Sya’bān ini, memperbanyak olahraga, dan pemanasan dengan beberapa shaum sunnah, dan tilawah Qur’an adalah contoh persiapan yang baik dilakukan.

_Saudaraku yang semoga selalu dijaga ALlah ﷻ,_

🏁 *Keempat, Persiapan Harta agar lebih dermawan di dalamnya.*🏁

Ramadhān adalah bulan dilipatgandakannya amal, termasuk dalam hal terkait infaq dan shadaqah. Nabi Muhammad ﷺ adalah sosok dermawan setiap bulan, namun ketika datang Ramadhan, Jibril datang untuk memuraja’ah hafalan dan qira’at Nabi Muhammad ﷺ. Ketika itu, Nabi ingin ketika Jibril datang, ia dalam kondisi jauh lebih dermawan.

Kedermawanan ini adalah latihan agama. Kelaparan adalah juga latihan agama. Keduanya berpadu melahirkan sosok yang mencintai keadilan dan cinta kasih kepada orang-orang lemah. Tujuan ini harus kita dapatkan dalam proses rangkaian puasa di siang hari dan berdiri di malam hari, karena inilah tujuan besar agama.

Demikian ya pengantar dari saya, silahkan masukannya. Semoga kita semua masuk ke Jannah, dan dipanggil melalui pintu Ar-Rayyān, 1 dari 8 pintu Surga yang dikhususkan untuk pecinta Ramadhān.

Hukum Money Canger

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….mhn pencerahan:  Apa hukumnya jika kita usaha money changer

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah

Money Canger (Ash Sharraaf), bukanlah membeli uang, tapi sesuai namanya jasa penukaran uang. Hal ini dibolehkan dengan syarat _yadan biyadin_ (kontan), saat itu juga, sehingga tidak ada  riba.

Kalau nukarnya pagi, tapi ambilnya uang sore, ini tidak boleh sebab nilai mata uangnya bs jadi berubah. Sehingga terjadi riba.

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz mengatakan:

بيع العمل بالعمل الأخرى لا بأس به، إذا كان يداً بيد، فإذا باع عملة سعودية بدولار أمريكي يداً بيد، يعطيه ويأخذ منه، أو بعملة ليبية أو عملة عراقية أو عملة إنجليزية أو غير ذلك لا بأس، لكن يداً بيد

Menjual mata uang dengan mata uang lain tidaklah apa-apa, jika dilakukannya secara kontan. Jika menjual mata uang Saudi dengan Dolar AS secara kontan, dilakukan langsung baik memberi dan mengambilnya, atau dengan mata uang Libia, Iraq, Inggris, tidak apa-apa, selama dilakukan kontan. (Selesai dari Syaikh Bin Baaz)

Dalilnya adalah:

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa” (HR. Muslim no. 1584).

Wallahu a’lam.

Tukar Kado

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

Assalamu’alaykum Wr.wb…Ust…sy ingin tanyakan :

1. Dalam sebuah acara  semua peserta diminta datang dengan membawa barang bernilai misal minimal Rp 20.000,- yang dibungkus dengan rapi, sehingga isinya tidak bisa diketahui. Pada akhirnya, bungkusan-bungkusan tersebut dipertukarkan di antara sesama peserta,, bagaimana hukumnya kado silang tersebut?

2. Saya pernah membaca kalau Fatimah Azzahra itu tidak mengalami haid dan nifas, tetapi saya juga pernah membaca dari referensi yang lain mengatakan bahwa hadis yang menyebutkan demikian adalah dhoif, mohon bantu penjelasannya. “A28”

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
1. Jika harganya sama, maka tidak ada riba (yaitu riba fadhl). Tapi, karena barangnya dibebaskan maka  khawatir terjadi gharar. Untuk itu, sebaiknya jenis barang diberitahu misal Rp.20.000 dengan jenis barang-barang dapur. Sehingga gharar bisa dihindari.

2. Tidak diketahui riwayat shahih tentang itu.