Penyakit Hati dan Obatnya (2)

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

💌 Penyakit Hati dan Obatnya

2. Kibr (Sombong)

▪Kadang juga dinamakan tinggi hati, yaitu penyakit hati berupa sikap merasa lebih pintar, lebih kaya, lebih tampan, lebih hebat, dan sebagainya dibanding orang lain, sehingga merendahkan dan meremehkan orang lain, serta menolak masukan, pendapat, atau apa saja dari selain dirinya.

Al Kibr (sombong) didefinisikan oleh Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana dialog berikut:

لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر قال رجل إن الرجل يحب أن يكون ثوبه حسنا ونعله حسنة قال إن الله جميل يحب الجمال الكبر بطر الحق وغمط الناس

“Tidak akan masuk surga orang yang dihatinya ada sombong walau sebesar atom.”  Ada seseorang berkata: “Ada seseorang yang suka memakai pakaian yang bagus dan sendal yang bagus.” Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah itu indah menyukai yang keindahan, sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim No. 91)

Puncaknya kesombongan manusia, pernah dilakukan Fir’aun ketika berkata:

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

“Maka Fir’aun berkata: ‘Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. (QS. An-Nazi’at: 24)

Akhir hidup orang-orang sombong selalu mengenaskan, mereka binasa tidak berdaya, apa yang mereka miliki baik uang, tentara, jabatan, kekuatan, tidak menyelematkan sama sekali. Mereka tertipu oleh diri sendiri. Maka, ambil-lah pelajaran !

Allah Ta’ala berfirman:

فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الْآخِرَةِ وَالْأُولَىٰ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِمَنْ يَخْشَىٰ

“Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).” (QS. An-Nazi’at: 25-26)

▪Solusi terhadap kesombongan adalah sering-sering ingat dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan berakhir. Semua manusia berasal dari air yang hina. Diperut kita terdapat kotoran yang hina. Kita pun akan mati menjadi bangkai yang busuk. Apa yang perlu disombongkan?

3.  I’jab binnafsi (Kagum dengan diri sendiri)

▪Pernahkah saat beribadah merasa ibadah Anda sangat hebat? Pernahkah ketika membaca Al-Quran merasa bacaan Anda begitu merdu dan bagus? Pernahkah ketika Anda mengemukakan pendapat Anda merasa begitu cerdas? Pernahkah saat memberikan gagasan, Anda merasa begitu pintar? Jika ya, maka itulah ‘ujub, atau i’jab binnafsi (kagum dengan diri sendiri).

Dampak negatif dari penyakit ini adalah kurangnya bahkan hilangnya kepekaan atas kekurangan diri sendiri. Bahkan dalam keadaan negatif pun dia masih merasa hebat. Oleh karena itu Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

وَأَمَّا الْمُهْلِكَاتِ: فَهَوًى مُتَّبِعٌ، وَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ، وَهِيَ أَشَدُّهُنَّ

“Ada pun yang membinasakan manusia adalah hawa nafsu yang diikuti, sifat kikir yang dituruti dan seseorang yang kagum dengan dirinya sendiri, dan ini yang paling bahaya diantara semuanya.” (HR. Al Baihaqi, Syu’abul Iman No. 6865)

▪Solusi dari penyakit ini adalah mengevaluasi dan mengakui diri dengan jujur, bahwa kita memiliki kekurangan, dan orang lain punya kelebihan. Walau manusia memuji kita, tapi kita tahu  kondisi kita sebenarnya. Hindari memunculkan diri dan mencari perhatian manusia. Nabi saw bersabda:

إن الله يحب العبد التَّقيَّ الغنيَّ الخفيَّ

“Sesungguhnya Allah cinta kepada hamba yang: bertaqwa, kaya, dan tersembunyi.” (HR. Muslim No. 2965)

Semoga Allah Ta’ala merahmati Imam Asy Syafi’iy ketika dia berkata:

رأيي صواب يحتمل الخطأ ، ورأي غيري خطأ يحتمل الصواب

“Pendapatku benar tapi bisa jadi salah, pendapat orang lain salah tapi bisa jadi benar. (Dikutip oleh Imam Ibnu Hajar Al Haitami dalam Al Fatawi-nya, 6/344)

Wallahu A’lam

Darah Haid atau Istihadhoh

Oleh: Nurdiana

Assalamualaikum….Apakah boleh ikut bertanya
Mohon disampaikan di grup ustadz/ah majelis iman dan islam
Pertanyaan :

1. Bagaimana cara membedakan darah haid dan istihadhah?
2. Apabila kebiasaan haid seseorang adalah satu pekan, kemudian suatu saat mendapati haid yang lebih lama dari kebiasaan, misal sebulan, bagaimana menentukan kapan saat istihadhah dan wajib shalatnya?
3. Apabila haid seseorang lama sekali, lebih dari tiga pekan,  boleh kah kita ber-ijtihad sendiri untuk menentukan kapan haid dan kapan saat istihadhah ?
4. Bagaimana bila penampakan zatnya seperti haid tapi jangka waktunya lebih dari tiga pekan, apakah istihadhah?
Jazakumullah khairan katsiiran

🍂🍃🍂 Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
1.Darah haid warnanya merah tua kehitaman dan bau yg khas. Kalau darah istihadhoh, warnanya merah segar,  Cerah.

2. kalau haid biasa sepekan maka setelahnya bukàn haid . Tetapi isthadhoh. Sholatnya saat sdh berhenti haid mandi bersih lalu sholat .biasanya terlihat dari perubahan darah. Bila segar dan cerah berarti istihadhoh

3. Kalau tidak mengalami maka tidak paham. Kalau mengalami nanti akan tahu dan terasa kapan haid dan kapan istihadhoh. Jadi jangan berandai andai.

4.Jangan bertanya apa yang tidak di alami.
Maksudnya kalau belum terjadi tidak usah ditanya. Karena apa yg ditanyakan tidak sesuai. Krn haid dan istihadhoh pasti beda.

Wallahu a’lam.

Penyakit Hati dan Obatnya

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

💌 Penyakit Hati dan Obatnya

▪Mukadimah

Manusia memiliki unsur terpenting dalam kehidupannya  yaitu  Hati. Hal ini disampaikan oleh Nabi kita, Muhammad ﷺ, sebagaimana hadits berikut:

Dari An-Nu’man bin Bisyr Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

أَلا وإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وإذَا فَسَدَت فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلا وَهيَ القَلْبُ

“Ketahuilah, Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging jika dia baik maka baiklah seluruh jasad itu, jika dia rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan posisi hati yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Sayangnya, zaman ini manusia lebih besar perhatiannya terhadap kesehatan fisik dan penampilan luar, sedikit perhatian mereka terhadap kesehatan hati dan keindahannya. Anggaran habis ratusan ribu bahkan berjuta-juta untuk fisik saja, mulai dari pakaian, fitnes, makanan, dan aksesoris. Tapi, kesehatan hati diperhatikan jika ingat, itu pun sesaat saja. Padahal Allah ﷻ sangat perhatian dengan hati manusia.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada penampilan kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat pada hati dan perbuatan kalian.” (HR. Muslim 4/1987, dari Abu Hurairah)

▪Macam-Macam Penyakit Hati

Hati, sebagaimana badan, juga dapat dihinggapi penyakit. Baik berat atau ringan. Bedanya, penyakit badan hanya membuat penderitaan dunia, sedangkan penyakit hati mambawa penderitaan dunia dan akhirat.

Berikut ini adalah macam-macam penyakit hati:

1. An-Nifaq (Hipokrit)

An-Nifaq adalah seseorang yang dimulutnya mengikrarkan sesuatu tapi dihatinya tidak meyakininya. Di mulut meyakini Islam, memuji Allah, Rasul-Nya, Al-Quran, ulama, umat Islam, dan seterusnya, tapi dihatinya membenci itu semua. Mereka memiliki wajah ganda, di hadapan orang beriman seperti apa, dibelakangnya lain lagi. Orangnya disebut munafiq.

Dalam Al-Quran banyak sekali Allah ﷻ menceritakan tentang karakter mereka. Di antaranya:

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

“Dan jika mereka berjumpa dengan orang-orang beriman mereka berkata: “Kami ini beriman.” Dan jika mereka kembali kepada syetan-syetan (pembesar-pembesar) mereka, mereka mengatakan: “Kami masih bersama kalian, sesungguhnya kami hanya memperolok-olok semata.” (QS. Al-Baqarah: 14)

Bagi orang-orang munafiq, azab mereka sangat keras. Allah ﷻ berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا

“Allah telah menyediakan bagi kaum munafik laki-laki dan perempuan, dan orang-orang kafir, yaitu neraka jahanam, mereka kekal abadi di dalamnya.” (QS. At-Taubah: 68)

Ayat lainnya:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik berada di neraka yang paling bawah, dan mereka sama sekali tidak memiliki penolong.” (QS. An-Nisa: 145)

Solusi bagi yang memiliki penyakit ini adalah hendaknya berusaha sekuat tenaga, menyadarkan diri untuk, menyelaraskan antara mulut dan hatinya. Jujur dalam keimanan kepada Islam, dan bersama kaum muslimin.

(Bersambung ..)

PUASA UNTUK PERUBAHAN

Oleh: Solikhin Abu Izzuddin

Allah Ta’ala telah berfirman:

…إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ …[الرعد : 11]

_”Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Qs. Ar-Ra’du: 11)._

Saudaraku
Mari kita bersyukur karena Allah telah menganugerahkan bulan Ramadhan sebagai bulan dakwah, bulan tarbiyah, bulan rahmat, bulan maghfirah, bulan jihad dan bulan Quran. Dan kalau kita lihat semua harapan di Bulan Ramadhan adalah PERUBAHAN.

Namun anehnya bila kita menginginkan perubahan namun yang kita lakukan hanyalah hal yang monoton. Shalat tanpa pemaknaan. Puasa tanpa penghayatan. Baca Quran tanpa peneguhan keimanan. Akibatnya berulangnya bulan hanya dalam menumpuk kejenuhan.

Saudaraku
jika kita ingin ISTIQOMAH justeru kita harus senantiasa berubah menjadi LEBIH BAIK. Lebih baik dalam ibadahnya. Lebih berkualitas puasanya. Lebih ikhlas dalam setiap amalnya. Lebih cerdas dalam memanfaatkan waktu dan momentumnya. Lebih keras dalam mendidik dan mendisiplinkan diri untuk berakhlak mulia.

Kita berubah bukan sekadar berubah namun berproses secara nyata sehingga ada progress kebaikan yang kita rasa. Sehingga semangat untuk berbuat kebaikan terus menyala. Kebaikan inilah yang menjadi MAGNET KEBAIKAN lain sehingga semakin terasa kehidupan iman di dalam dada.

Alhamdulillah bila dengan puasa BERUBAH yakni memulai kebiasaan baik untuk lebih cinta pada Al Quran, lebih rajin beribadah dan lebih nikmat dalam memakmurkan masjid.

Alhamdulillah bila dengan PUASA kita jaga LISAN kita dari berkata dusta dan perkara tak berguna.

Alhamdulillah bila dengan PUASA kita BERUBAH semakin peka merasakan derita sesama dan ringan bersedekah membantu sesamanya.

Alhamdulillah jika dengan PUASA kita mulai BERUBAH MENINGGALKAN kebiasaan buruk sehingga jiwa lebih cinta pada kebaikan. Alhamdulillah.

Puasa itu jalan meraih taqwa sehingga selalu ada solusi dari setiap masalah dan terbuka pintu rezeki dari arah yang disangka sangka.

Sebenarnya jalan keluar dari setiap masalah itu sudah ada, hanya saja kadang kita belum melihatnya.

Saudaraku
jangan sampai banyak ibadah yang kita lakukan namun tidak membuahkan perubahan, karena tidak adanya langkah yang pasti yang diberikan.

Oleh karena itu, agar puasa bisa MEMBAWA PERUBAHAN NYATA, mari kita siapkan diri sepenuh hati dan penuhi syarat ketentuan yang berlaku di sini.

Puasa adalah tarbiyah agar kita berubah dengan motivasi diri dari dalam karena merasa diawasi oleh Allah sebagaimana dalam hadits qudsi, _”Ash shoumu lii wa ANA ajzii bihi.._. _Puasa itu untuk KU dan AKU lah yang memberikan balasan pahalanya…”_

Kita berupaya menekankan pembelajaran mandiri sehingga langkahnya terstruktur hasilnya terukur.

Karenanya semoga kebersamaan dalam TARBIYAH RAMADHAN ini menjadi pintu Perubahan menuju Sukses penuh Keberkahan, Happy Ending full Barokah.

1⃣. Perubahan tanpa visi melahirkan kekacauan. Visi kita adalah MENJADI MUTTAQIIN.

2⃣. Perubahan tanpa skill melahirkan kecemasan. skill kita adalah FIQH KEHIDUPAN yang sahih dan gamblang (wadhih).

3⃣. Perubahan tanpa insentif perhargaan melahirkan penolakan. Insentif kita adalah BAHAGIA DUNIA dan SEJAHTERA DI SURGA.

4⃣. Perubahan tanpa resource melahirkan frustasi. Sumber Daya kita Muslim Mukmin dengan sumber dana halal, sumber usaha amal dan sumber keyakinan iman untuk bekal di alam yang kekal. Sekecil apapun amal yakinlah semua tercatat di Lauh Mahfudz.

5⃣. Perubahan tanpa action plan melahirkan kegagalan. ACTION SEGERA MOVE ON LAH. Kita raih MAGHFIRAH dgn banyak berdoa. Kita jemput LAILATUL QODAR dgn itikaf. Kita sambut Iedul Fitri dgn mujahadah diri. Kita kawal SYAWAL dgn puasa sunnah 6 hari.

Allahu Akbar.

Hadist Meminta Maaf Sebelum Ramadhan

Oleh: Dr. Wido Supraha

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….benarkah ini 👇hadits shahih?
*Hukum minta maaf sebelum Ramadhan*
Ketika Rasulullah sedang berkhotbah pada suatu Sholat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Aamin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasulullah mengatakan amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasulullah berkata Aamin sampai tiga kali. Ketika selesai sholat Jum’at para sahabat bertanya kepada Rasulullah, kemudian menjelaskan: “ketika aku sedang berkhotbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasulullah
amin-kan doaku ini”, jawab Rasulullah.
Do’a Malaikat Jibril adalah sbb: Yaa Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
– Tidak memohon ma’af terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
– Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami isteri;
– Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.
Maka Rasulullahpun amin sebanyak 3 kali.
(Hadis shahih diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ahmad, dan Al Baihaqi dari sahabat Abu Hurairah ra)

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Yang shahih:
Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, beliau menceritakan,

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم رقي المنبر فقال : آمين آمين آمين فقيل له  يارسول الله ما كنت تصنع هذا ؟ ! فقال : قال لي جبريل : أرغم الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد أدرك و الديه أو أحدهما لم يدخله الجنة فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد ذكرت عنده فلم يصل عليك فقلت : آمين

_Rasulullah Saw naik mimbar lalu beliau mengucapkan, ‘Amin … amin … amin.’ Para sahabat bertanya, ‘Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?’ Kemudian, beliau bersabda, ‘Baru saja Jibril berkata kepadaku, ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadan tanpa mendapatkan ampunan,’ maka kukatakan, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun itu tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua),’ maka aku berkata, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang tidak bersalawat ketika disebut namamu,’ maka kukatakan, ‘Amin.””_

Wallahu a’lam.

Romantisme Nabi SAW dan ‘Aisyah (ra) Ada Saat-saatnya Ditengah Kesibukan Da’wah dan Jihad

Oleh: Agung Waspodo, SE, MPP

Rasulullah SAW membangunkan sebuah rumah (bilik) bagi ‘Aisyah (ra) yang (kelak) menjadi tempat dikuburnya Baginda Nabi Muhammad SAW. Rumah tersebut memiliki pintu (akses) ke masjid yang letaknya berseberangan dengan pintu bilik ‘Aisyah (ra). Dari pintu tersebut Baginda Nabi SAW dapat keluar menuju Masjid Nabawi.

Dalam suatu kesempatan, Nabi SAW sedang ber-i’tikaf di masjid. Kepala baginda diselonjorkan hingga keluar dari batas masjid hingga ke undakan pintu bilik ‘Aisyah (ra). Dalam kondisi haidh, ‘Aisyah (ra) membasuh kepala baginda Nabi Muhammad SAW.

Kita tidak lebih sibuk dan lebih serius berda’wah daripada Nabi SAW, namun sepertinya baginda Muhammad SAW masih dapat menyempatkan untuk bermesraan dengan isterinya.

Thabaqat karya Ibn Sa’d, Vol. X, hal. 159.
Dari az-Zuhri dan ‘Ashim ibn ‘Umar ibn Qatadah

Depok, 24 Mei 2017

Kebiasaan Ziarah Kubur pada Waktu Tertentu

Oleh: Dr. Wido Supraha

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….setiap menjelang romadhon dan sesudahnya (lebaran) kita selalu ziarah kubur pertanyaanya bacan² atau doa ziarah kubur yg rosul ajarkan itu seperti apa? apakah menggunakan hadorot seperti halayaknya sekarang? Syukron

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

🔑 _Bacakan do’a dari Nabi Muhammad ﷺ dan boleh berdo’a tambahan dengan apa yang ingin Ibu doakan untuk jenazah_

📌 Awali dengan do’a berikut sebagaimana diriwayatkan dari Imam Muslim No. 975:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ
أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

Wallahu a’lam.

Saat Orang Tua Sakit Ingin Berjamaah

Oleh: Slamet Setiawan, SHI

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
orang tua yg sakit dan tidak bisa ke masjid. kemudian dia ingin sholat berjamaah dengan anak laki2 nya dirumah.
apakah anak laki lakinya tersebut. tetap mendapat pahala kewajiban shalat berjamaah bagi laki2 di masjid?

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Imam Ibnu Hummam menuliskan:

وَسُئِلَ الْحَلْوَانِيُّ عَمَّنْ يَجْمَعُ بِأَهْلِهِ أَحْيَانًا هَلْ يَنَالُ ثَوَابَ الْجَمَاعَةِ ؟ فَقَالَ : لَا ، وَيَكُونُ بِدْعَةً وَمَكْرُوهًا بِلَا عُذْرٍ .

“Al Halwani ditanya tentang orang yang kadang-kadang berjamaah dengan keluarganya (di rumah), apakah dia mendapatkan pahala shalat berjamaah? Dia menjawab: Tidak, itu adalah bid’ah dan makruh, jika tanpa ‘udzur.” (Imam Ibnu Hummam, Fathul Qadir, Juz. 2,Hal. 196. Al Maktabah Asy Syamilah)

Namun syariat Islam membolehkan bagi seseorang yang sudah selesai melaksanakan shalat wajib, kemudian dia menemani orang lain untuk shalat wajib (karena tidak ada teman), sedangkan bagi dia shalatnya itu dihitung sebagai shalat sunah.

Dalilnya:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ كَانَ يُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى قَوْمِهِ فَيُصَلِّي بِهِمْ تِلْكَ الصَّلَاةَ

Dari Jabir bin Abdillah, bahwa Mu’adz bin Jabal pernah shalat Isya terlambat bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian dia kembali menuju kaumnya dan ikut shalat bersama kaumnya. (HR. Muslim, Kitab Ash Shalah Bab Al Qiraah Fil ‘Isya, Juz. 2, hal. 490, No hadits. 711. Al Maktabah Asy Syamilah)

Dalam hadits ini menunjukkan bolehnya orang yang sudah selesai shalat wajib, lalu dia ikut menemani shalat wajib orang lain, dan baginya dinilai sunah sedangkan orang lain itu adalah wajib. Inilah pandangan yang dikuatkan oleh para Imam seperti Imam Ibnul Mundzir dari Atha’, Al Auza’i, Imam Ahmad, Abu Tsaur, dan Sulaiman bin Harb serta Imam An Nawawi, semoga Allah meridhai mereka semua.

Jadi, silahkan menemani shalat orang tua anda agar beliau bisa mendapatkan pahala berjamaah bersama Anda, walau anda sudah melaksanakan shalat wajib di mesjid. Bagi Anda itu dinilai sunah dan bagi orang tua anda adalah wajib.

Wallahu a’lam.

Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan Nughair?”

Oleh: Abdullah Haidir, Lc

Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata:

_’Dahulu Rasulullah saw suka bercengkrama dengan kami, bahkan terhadap adik saya yang masih kecil dia bekata,_

يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ

_”Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan nughair?” (Muttafaq alaih)_

Abu Umair adalah kuniyah (nama panggilan) seorang bocah kecil.
Dia memiliki burung kecil kesayangan sejenis burung pipit. Dalam bahasa Arab dipanggil Nughar. Agar sepadan dengan kata “Umair”, maka kata ‘nughar’ beliau sebut dengan kata “nughair” yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah _tashgir._

Ungkapan yang menunjukkan keakraban terhadap anak-anak sesuai dengan jiwa mereka.

Jika hal ini diungkapkan oleh orang yang baru berusia belasan tahun, mungkin masih mudah dipahami. Tapi perkataan tersebut diungkapkan Rasulullah saw yang ketika itu ditaksir berusia lima puluh tahun ke atas.

Hal ini menunjukkan akhlak mulia Rasulullah saw yang konstan dan utuh, tidak berubah atau terbelah. Keramahan, keakraban, perhatian, kejujuran dan semua perangai baiknya, terbagi rata dalam setiap keadaan dan untuk semua lapisan.

Suatu hal yang semakin melengkapi keutamaan pribadi Rasulullah saw.

Sebuah sikap yang sepatutnya mengingatkan kita untuk sedapat mungkin menjaga agar perangai dan akhlak kita tetap konstan, siapapun yang ada di hadapan.

Jangan sampai seseorang tampak begitu santun di hadapan atasan namun ketus memperlakukan bawahan.
Unggah ungguh terhadap orang kaya tapi jumawa kepada mereka yang tak berpunya.

Sopan terhadap tetangga elit, namun lancang terhadap tetangga ekonomi sulit.
Dapat akrab dan bercanda dengan orang dewasa, tapi dingin tanpa ekspresi terhadap anak-anak.
Senyumnya yang tersungging di depan kamera berganti dengan mulut yang selalu ditekuk dalam kehidupan nyata.

Akhlak seharusnya menyatu menjadi jati diri kapan dan dimanapun, apa adanya, spontan, tidak dibuat-buat, tidak direkayasa, apalagi sekedar menampilkan citra.

Ketika akhlak kita masih sangat tergantung dengan kedudukan orang yang kita hadapi, disini kita perlu berhenti sejenak, menangkap kekurangan, lalu memperbaiki keadaan.

Suatu saat Rasulullah SAW merasa kehilangan seorang wanita hitam yang biasa beliau lihat menyapu masjid. Lalu beliau bertanya kepada para shahabat. Mereka berkata, ‘Dia meninggal dunia.’ Seakan-akan mereka meremehkan nya.

Rasulullah berkata, _’Mengapa kalian tidak memberitahu aku.’ Lalu Rasulullah saw minta ditunjukkan kuburnya, kemudian beliau shalat (jenazah) di atasnya.” (Muttafaq alaih)_

Begitulah Rasulullah saw memperlakukan seseorang. Sekali lagi, apa adanya, mengalir begitu saja dan tidak dibuat-buat.
Namun disitulah kemuliaan akhlak beliau tampak berkilauan, menjadi teladan abadi dalam kehidupan.

_Asytaaqu ilaika yaa Rasuulallah…_

Aku rindu padamu wahai Rasulullah….

Wallahu A’lam

Membaca Al-Quran di Ponsel Tanpa Wudhu?

Oleh: Slamet Setiawan, SHI

Assalamu’alaikum Ustadz, afwan mau tanya ketika kita membaca Al Qur’an di ponsel dlm kondisi blm wudhu apa haram?
Syukran

Jawaban :
—————-

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak ketika ditanya demikian, beliau menjawab:

Telah disepakati (ulama) bahwa membaca Al-Quran secara hafalan, tidak disyaratkan untuk suci dari hadats kecil, bahkan tidak harus suci dari hadats besar. Namun dalam kondisi suci ketika membaca Al-Quran, sekalipun hafalan adalah lebih utama. Karena Al-Quran adalah firman Allah. Dan termasuk upaya mengagungkan firman Allah, hendaknya tidak dibaca kecuali dalam kondisi suci.

Adapun membaca Al-Quran dengan membawa mushaf maka disyaratkan suci dari hadats karena memagang mushaf, berdasarkan hadis yang masyhur, ‘Tidak boleh menyentuh Al-Quran kecuali orang yang suci.’ Juga berdasarkan riwayat dari para sahabat dan tabi’in.

Dan inilah pendapat mayoritas ulama, bahwa dilarang bagi orang yang berhadats untuk memegang mushaf, baik untuk dibaca maupun untuk tujuan lainnya.

Oleh karena itu, yang benar, HP atau peralatan lainnya, yang berisi konten Al-Quran, tidak bisa dihukumi sebagai mushaf. Karena teks Al-Quran pada peralatan ini berbeda dengan teks Al-Quran yang ada pada mushaf. Tidak seperti mushaf yang dibaca, namun seperti vibrasi yang menyusun teks Al-Quran ketika dibuka. Bisa nampak di layar dan bisa hilang ketika pindah ke aplikasi yang lain. Oleh karena itu, boleh menyentuh HP atau kaset yang berisi Al-Quran. Boleh juga membaca Al-Quran dengan memegang alat semacam ini, sekalipun tidak bersuci terlebih dahulu.

Wallahu a’lam.