Ada Zakatkah Rumah yang Di kost kan??


Assalamualaikum waroatullahi wabarakatuh. Saya mohon izin dpt bertanya ttg pembagian waris
Apabila org tua sdh meninggal dan waris belum dilakukan, apakah anak wajib menuntaskan? Bila ada rumah msh atas nama alm org tua dan dijadikan tempat kos dan jg rumah tinggal anaknya, apakah hrs byr zakat usaha? Menurut info anaknya, uang kosnya hanya cukup ut makan, byr listrik, air dan keperluan kenyamanan kosnya spt pel dan perbaikan kerusakan kecil. Kalau anak2 nya tdk mau mengurus waris, apakah dosa jika salah seorg anaknya meminta waris karena anak tsb punya banyak utang di bank dan ingin melunasinya?

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa Ba’d:
Ada tiga pertanyaan ya ..

1⃣ Apakah waris mesti disegerakan?
Ya, sebaiknya waris tidak ditunda agar hak ahli waris tidak terlantar, sebab kita tidak tahu ajal, dikhawatirikan harta waris belum diapa-apakan tetapi ahli waris sudah ada yang wafat juga. Namun, menyegerakan tentu bukan perkara mudah, mengingat kendala teknis. Seperti wujud harta waris adalah bangunan, yang tidak mudah untuk menjualnya. Disegerakan namun tetap bersabar.

2⃣ Lalu, apakah ada zakat pada rumah yang dijadikan kost?
Iya, barang-barang yang produktif kena zakat yaitu hasilnya yang dizakati. Rumah yang disewakan, maka hasil sewanya yang dizakati, bukan harga total rumahnya plus sewanya, bukan itu. Nishabnya adalah jika hasilnya sudah mencapai senilai 85 gram emas, dikeluarkan zakatnya jika usianya sudah memenuhi satu haul (satu tahun), sebesar 2,5%. (Fatwa-Fatwa ulama Terlampir)

Jika rumah itu dijual, karena ini rumah dipakai sendiri, bukan sebuah objek bisnis, maka tidak ada zakat ketika menjualnya. Bedakan antara menjual rumah karena memang itulah usahanya (property) dengan menjual rumah bukan disebabkan bisnis. Menjual rumah karena bisnis property kena zakat, yaitu zakat perdagangan/perniagaan/tijarah, sebagaimana pendapat mayortas ulama. Hanya sebagian kecil saja ulama yang mengatakan tidak ada zakat perniagaan, seperti Imam Ibnu Hazm, Imam Asy Syaukani, Imam Shiddiq Hasan Khan, dan Syaikh Al Albani.

3⃣ Apakah berdosa seorang anak meminta waris tersebut ketika yang lain tidak ada yang mengurus?
Tidak apa-apa dia meminta haknya, apalagi ketika yang lain tidak peduli. Tapi, ini juga diperhatikan keharmonisan hubungan di antara saudara. Sebaiknya dibicarakan dengan baik tentang urgensi penyegeraan pengurusan harta waris.

Wallahu a’lam.

Bacalah Dengan Nama Tuhanmu (QS. Al-‘Alaq) Bag. 1

© Mukaddimah

▪Para ulama meyakini bahwa Surat Al-‘Alaq merupakan surat yang pertama kali diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw di Makkah. Sebagaian besar mushaf yang beredar saat ini menulis surat ini dengan nama Surat Al-‘Alaq. Dan lima ayat pertamanya menjadi wahyu pertama beliau yang disampaikan melalui Malaikat Jibril. Serta ayat-ayat lainnya yang tersisa diturunkan setelah beberapa waktu berlalu dari sejak wahyu pertama diberikan.

▪Tema yang diangkat surat ini cukup beragam. Dari sejak tema wahyu dan turunnya al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw, pembicaraan sifat dan tabiat manusia yang melampaui batas dalam urusan harta, serta kisah Abu Jahal yang menghalang-halangi Nabi Muhammad saw dan melarang beliau untuk shalat di Masjidil Haram.

▪Surat ini diakhiri dengan ancaman Allah untuk orang-orang yang masih terus bersikukuh dalam kesesatan dan sikapnya yang melampaui batas serta perintah kepada Nabi-Nya untuk meneruskan shalat dan sujudnya tanpa mempedulikan gertakan sang durjana.

▪Adapun urutannya yang berada setelah Surat At-Tin seolah memberi isyarat hubungan erat antara keduanya. Terutama dalam pembahasan tentang manusia. Jika dalam surat sebelumnya manusia disebut sebagai penciptaan terbaik yang dilakukan Allah dengan sempurna, maka dalam surat ini dibahas asal muasal penciptaan tersebut serta dimensi lain dari sisi kejiwaan manusia yang kadang melampaui batas serta kufur ni’mat; padahal Allah telah mengaruniakan kepadanya segala kesempurnaan.

©Membaca Penciptaan Manusia

”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan”. (QS. 96: 01)

▪Itulah bunyi ayat pertama surat ini. Memberikan perintah secara jelas kepada Nabi Muhammad saw. juga kepada umatnya untuk membaca. Membaca dengan nama Allah Sang Pencipta. Hal ini secara langsung memberikan isyarat bahwa umat Islam harus menuntut ilmu. Karena membaca merupakan pintu ilmu. Dengan membaca cakrawala berpikir seseorang semakin luas. Dengan membaca kebodohan dan ketidaktahuan bisa diobati, bahkan dipunahkan. Dan karena membaca merupakan gerbang ilmu dan pengetahuan.

▪Apalagi jika perintah membaca ini dikaitkan secara bersamaan dengan menyebut nama Tuhan Sang Pencipta. Tentulah kaitan tersebut ada maksudnya. Mungkin untuk mengingatkan bahwa kemampuan baca seseorang Allah lah yang mengaruniakannya sebagaimana ia diciptakan oleh-Nya. Karena itu dalam segala aktivitasnya termasuk membaca sudah sebaiknya ia mengingat Sang Pencipta, ”yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah” (QS. 96: 02)

▪Segumpal darah yang secara anatomis belum bisa disebut sebagai manusia itu nantinya akan terlahir sebagai makhluk sempurna yang bisa membaca. Jika segumpal darah tersebut teronggok di tepi jalan, siapa yang akan menghargai dan memuliakannya?

”Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah”. (QS. 96: 03)

▪Allahlah yang memuliakannya. Mengangkat derajatnya. Di atas semua makhluk yang diciptakan-Nya. Dzat yang pemurah dan penuh kasih sayang tersebut yang, ”mengajar (manusia) dengan perantaran pena”. (QS. 96: 04)

Dengan belajar membaca dan kemudian menulis maka manusia akan meraih ilmu. Baik ilmu dunia maupun akhirat. Inilah yang oleh Ibnu Katsir kemudian disimpulkan dari sebuah atsar, ”Ikatlah ilmu dengan menulis”. Dengan menjadi manusia yang berilmu sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui menjadi jelas. Sesuatu yang sebelumnya menjadi rahasia berubah tersingkap.

▪Adam as ditinggikan derajatnya melebihi para malaikat dan semua makhluk-Nya karena diajarkan ”nama-nama” oleh Allah sehingga ia mengetahui sesuatu yang sebelumnya tak diketahuinya. ”Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. 96: 05).

▪Tidakkah manusia kemudian merasa ada perubahan ke arah baik dari dalam dirinya. Dari tak mampu melihat kemudian ia bisa melihat. Tak mampu bicara dan mengungkapkan sesuatu karena keterbatasannya, kemudian ia bahkan mampu melakukannya dengan baik.

▪Dari tak berdaya hanya terlentang kemudian ia belajar berbaring miring dan kemudian duduk, lalu berjalan dan berlari serta mengendarai berbagai jenis kendaraan. Dari tak tahu satu hurufpun, kemudian ia bisa merangkai huruf-huruf menjadi kata-kata yang menjadi sarana komunikasi dengan sesama manusia. Siapa yang mengubah kondisi tersebut?

©Hanya Allah lah yang mampu menjadikan perubahan ke arah baik tersebut.

▪Seharusnya karunia penciptaan dan pengajaran yang sangat luar biasa ini direspon positif oleh manusia. Yaitu dengan rasa syukur dan totalitas pengabdian serta penghambaan yang ikhlas kepada-Nya. Namun, justru kebanyakan manusia tak melakukannya. Mereka bahkan bukan hanya tak pandai bersyukur, tapi mendustakan dan mengingkarinya.

Membantu Saudara Sekandung Sepanjang Hayat

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Ustadz apakah berhenti memberikan bantuan kpd saudara (sekandung) karena sudah terlalu sering dan khawatir dia jg mengharap terus,  termasuk memutuskan nikmat dari Allah ataukah termasuk memutuskan silaturahim.
Syukron.

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Ada 2 konteks,
1. Konteksnya mendidik, maka bantuan yg kita berikan sifatnya stimulus utk mandiri. Agar tdk membentuk mentalitas peminta minta atau lemah berjuang.

2. Konteksnya ingin sedekah, memang sebaiknya jgn putus, sebab itu menjadi tabungan akhirat kita. Terlepas dia mengharapkan atau tdk, mandiri atau tdk. Dua sikap ini secara syariah tdk salah.

Wallahu a’lam.

Najiskah Air Bak yg Kejatuhan Kotoran Cicak??


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Gmn hukum kotoran cicak jika jatuh k dlm kolam bak mandi.yg saya tahu jika tdk berubah warna,rasa dan bau tdk najis walaupun kolam bak mandinya tdk mencapai 2 qulah.dan apa hadist tentang 2 qulah hadistny dhoif.syukron

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Hadits 2 Qullah dishahihkan oleh Imam Nawawi, Ibn Khuzaimah, Ibn Hajar, Al Hakim, Adz-Dzahabi, Ibn Hibban, dll.

Secara umum, kesehatan adalah ruh Islam. Satu kotoran cicak tidak akan merubah rasa, bau dan warna air dua qullah, sehingga insya Allah masih dapat digunakan untuk bersuci.

Wallahu a’lam.

Memaksimalkan Amanah, Memanfaatkan Peluang​

Musa ibn Nusayr mempercayakan 7.000 pasukan yang direkrut dari kalangan Berber kepada Thariq ibn Ziyad. Thariq yang juga berasal dari suku Berber telah juga dipercaya sebagai gubernur Tanjah (Tangiers). Tugasnya adalah melakukan survei atas wilayah Visigothic Hispania di seberang Selat Herkules.

Pada tanggal 5 Rajab 92 Hijriyah (sekitar 28-29 April 711 Masehi) Thariq memimpin ekspedisi pengintaian laut menggunakan 4 kapal transpor pinjaman dari Julian. Adapun Julian adalah penguasa Visigoth di Sibtah (Ceuta) yang bersaing dengan Raja Roderick di Hispania.

Pendaratan dilakukan secara senyap di sebelah timur Tanjung Calpe guna terhalangi pantauan pengawas pantai Visigoth. Peyeberangan dilakukan dalam beberapa kali, kelak tanjung ini lebih dikenal sebagai Jabal Thariq atau Jibraltar (Gibraltar). Pada bulan tersebut, Roderick sedang sibuk memadamkan pemberontakan Vascos di Navarra, sebelah utara Hispania.

Melihat peluang yang begitu besar, Thariq mengubah tujuan pendaratan dari pengintaian menjadi pendudukan berkecepatan tinggi. Roderick baru menyadari besarnya ancaman pasukan kecil Thariq ketika pendaratan sudah sempurna dan kekuatan Kaum Muslimin sudah terpusat. Pertempuran di Wadi-Lakah (Guadalete) pada hari Ahad 28 Ramadhan 92 Hijriyah (sekitar 19 Juli 711 Masehi) sudah terlambat hampir 3 bulan.

Agung Waspodo, harusnya saya tuliskan 28-29 April 2017
Depok, 2 Juli 2017

Muhasabah untuk Orang Tua Dalam Mendidik Anak

© Saudaraku

Jangan buru-buru menyalahkan anak ketika melakukan keburukan, jangan-jangan kita selama ini telah berkontribusi menyuburkan keburukan itu tanpa kita menyadarinya dan mengakuinya, Astaghfirullah.

▪Umar bin Abdul Aziz berpesan kepada anaknya, “Nak, jika kamu bertaqwa kepada Allah, maka Allah yang mencukupi rezekimu.”

▪Di penghujung usianya, Said ibnul Musayyib berpesan, “Nak, aku berharap kepada Allah agar Allah menjaga kalian dengan ibadah yang aku lakukan.” (Bersama Ayah Meraih Jannah, ProU Media)

© Dr. Thariq al-Habib berpesan untuk setiap ibu dan ayah begini,
“Anakmu suka berdusta, Anda terlalu ketat mengevaluasi perbuatannya.”

▪ Anakmu tidak punya rasa percaya diri, Anda tidak memberikan dorongan kepadanya.

▪Anakmu lemah dalam bicara, Anda jarang mengajaknya berdialog.

▪Anakmu mencuri, Anda tidak membiasakan dia untuk memberi dan berkorban.

▪Anakmu pengecut, Anda terlalu memberikan pembelaan kepadanya.

▪Anakmu tidak menghormati orang lain, Anda tidak bicara dengan kelembutan kepadanya.

▪Anakmu selalu marah marah, Anda tidak memberikan pujian kepadanya.

▪Anakmu pelit, Anda tidak menyertakannya dalam berbuat.

▪Anakmu suka jahat kepada orang lain, Anda kasar kepadanya.

▪Anakmu lemah, Anda menggunakan ancaman dalam mendidiknya.

▪Anakmu pencemburu, Anda mengabaikannya.

▪Anakmu mengganggumu, Anda tidak mencium atau mendekapnya.

▪Anakmu tidak mau patuh kepadamu, Anda terlalu banyak permintaan.

▪Anakmu cemberut, Anda sibuk terus.

© Anakmu adalah amanah yang harus dirawat dan dididik dengan baik.” (disarikan dari buku Dipikir Sambil Dzikir karya Ustadz Zulfi Akmal, Kairo. Penerbit ProU Media)

© Maka, sebelum jauh melangkah mari kita muhasabah. Anak kita adalah cermin kita. Sebagaimana engkau memperlakukan, begitu pula engkau akan diperlukan. Sebelum jauh-jauh mencari solusi maka perbaiki diri kita, ibadah kita, shalat kita.

▪Semoga Allah menjaga kita, keluarga kita dan anak kita dalam bimbingan, rahmat, dan ridha-Nya. Aamiin

Hukum Mengarang Kisah-Kisah Fiksi

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Bagaimana hukum mengarang cerita fiksi, imajinasi ? Pertanyaan member manis 04

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Fatwa 1: Asy Syaikh Dr. Abdullah Al Faqih

السؤال

هل يحل في الإسلام تأليف الكتب الخيالية أم يعتبر هذا نوعاً من الكذب؟

الفتوى

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد:

فقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: “حدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج” رواه أحمد وأبو داود وغيرهما، وزاد ابن أبي شيبة في مصنفه: “فإنه كانت فيهم أعاجيب”.
وقد صحح الألباني هذه الزيادة
قال أهل العلم: وهذا دالٌّ على حل سماع تلك الأعاجيب للفرجة لا للحجة، أي لإزالة الهم عن النفس، لا للاحتجاج بها، والعمل بما فيها.

وبهذا الحديث استدل بعض أهل العلم على حل سماع الأعاجيب والفرائد من كل ما لا يتيقن كذبه بقصد الفرجة، وكذلك ما يتيقن كذبه، لكن قصد به ضرب الأمثال والمواعظ، وتعليم نحو الشجاعة، سواء كان على ألسنة آدميين أو حيوانات إذا كان لا يخفى ذلك على من يطالعها.
هكذا قال ابن حجر الهيثمي – رحمه الله – من الشافعية.
وذهب آخرون وهم علماء الحنفية إلى كراهة القصص الذي فيه تحديث الناس بما ليس له أصل معروف من أحاديث الأولين، أو الزيادة، أو النقص لتزيين القصص.
ولكن لم يجزم محققو المتأخرين منهم كابن عابدين بالكراهة إذا صاحب ذلك مقصد حسن، فقال ابن عابدين رحمه الله: (وهل يقال بجوازه إذا قصد به ضرب الأمثال ونحوها؟ يُحَرَّر).
والذي يظهر جواز تأليف الكتب التي تحتوي قصصاً خيالياً إذا كان القارئ يعلم ذلك، وكان المقصد منها حسناً كغرس بعض الفضائل، أو ضرب الأمثال للتعليم كمقامات الحريري مثلاً، والتي لم نطلع على إنكاره من أهل العلم مع اطلاعهم عليها، وعلمهم بحقيقتها، وأنها قصص خيالية لا أصل لها في الواقع.
والله أعلم.
المفتي: مركز الفتوى بإشراف د.عبدالله الفقيه

Pertanyaan:
Bolehkah dalam Islam menyusun buku tentang kisah-kisah fiksi ataukah mengambil pelajaran dari kisah jenis ini termasuk kebohongan?

Jawab:

Alhamdulillah Ash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ‘Ala aalihi wa shahbihi wa ba’d: Telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Ceritakan oleh kalian dari Bani Israil, tidak apa-apa.” Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, dan lainnya. Ibnu Abi Syaibah menambahkan dalam Mushannaf-nya: “… sesungguhnya pada diri mereka ada hal-hal yang mengagumkan.”  Syaikh Al Albani menshahihkan tambahan ini.

Berkata para ulama: Ini adalah  dalil halalnya mendengarkan kisah mengagumkan tersebut jika untuk selingan saja, yaitu untuk menghilangkan rasa sedih dalam jiwa,  bukan untuk dijadikan hujjah, bukan pula untuk diamalkan.

Dengan hadits ini pula, sebagian ulama berdalil halalnya mendengarkan hal-hal yang mengagumkan dan berharga, dari segala hal yang belum bisa dipastikan kedustaannya, dengan maksud untuk selingan. Begitu juga kisah yang diyakini kedustaannya (fiksi), tetapi dengan maksud sebagai tamtsil (perumpamaan) danmau’izhah (pelajaran) saja, mengajarkan keberanian, sama saja apakah melalui lisan manusia atau hewan-hewan (fabel, pen), jika  memang   hal-hal tersebut (yakni pelajaran dan hikmah, pen) tidak tersembunyi dari yang membacanya.

Demikianlah yang dikatakan Imam Ibnu Hajar Al Haitsami Rahimahullah dari kalangan Syafi’iyah.

Ulama lain berpendapat, yaitu dari kalangan Hanafiyah, bahwa dimakruhkan kisah-kisah yang bercerita peristiwa manusia yang   tidak memiliki dasar yang ma’ruf (dikenal) dari peristiwa-peristiwa  generasi awal, atau tambahan, atau pengurangannya, dengan tujuan untuk memperindah kisah tersebut.

Tetapi para ulama muhaqiq muta’akhirin (peneliti zaman sekarang) seperti Imam Ibnu ‘Abidin (bermadzhab Hanafi, pen) tidaklah memutuskan hal itu sebagai makruh, jika memiliki maksud yang baik.  Ibnu ‘Abidin Rahimahullah mengatakan: (Apakah dikatakan boleh jika maksudnya untuk perumpamaan dan semisalnya? Perlu diperiksa lagi)

Dan, pendapat yang nampak (benar) adalah bolehnya menulis buku-buku kisah fiksi jika si pembacanya mengetahui hal itu dan memiliki maksud yang baik, seperti menanamkan sifat-sifat yang utama, atau memberikan perumpamaan untuk memberikan pengajaran,  seperti kisah Al Maqamat  yang disusun oleh Al Haririy, yang kami tidak ketahui adanya ulama yang mengingkarinya, padahal mereka sudah mengkaji dan mengetahui hakikat kisah ini sebagai kisah fiksi yang tidak pernah terjadi
Wallahu A’lam. (Mufti: Asy Syaikh Dr. Abdullah Al Faqih. Sumber: Fatawa Asy Syabkah Al Islamiyah, No Fatwa. 13278. Tanggal: 12 Dzulqa’dah 1422H)

Fatwa 2: Asy Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin

السؤال س: ما رأي فضيلتكم في القصص التي تطلب في المدرسة في مادة التعبير والتي تكون في غالبها قصصًا مكذوبة ولم تقع؟
الاجابـــة
إذا عرف الحاضرون أنها قصص خيالية ابتكرها الكاتب، أو القاص لشحذ أذهان الطلاب واجتذاب أفهامهم وضرب الأمثلة لهم فلا بأس بها فقد أقر العلماء القصص المؤلفة كما في مقامات بديع الزمان الهمذاني ومقامات الحريري ونحوها مع أنه يُفضل أن يبحث عن قصص واقعية يصوغها بعبارته ويظهر ما فيها من المعاني والفوائد. والله أعلم.

عبد الله بن عبد الرحمن الجبرين

Pertanyaan:
Apa pendapat Anda tentang kisah-kisah yang dipelajari di sekolah pada materi ta’bir yang biasanya menggunakan kisah-kisah fiksi yang tidak pernah terjadi?

Jawaban:

Jika yang hadir itu tahu bahwa itu adalah kisah fiksi, baik yang disampaikan oleh penulis atau pencerita, dengan maksud untuk menajamkan kecerdasan dan mengasah pemahaman para siswa, dan untuk memberikan perumpamaan bagi mereka, maka itu tidak mengapa. Para ulama telah menyetujui kisah-kisah yang telah dibukukan seperti Maqamat-nya Badi’uz Zaman Al Hamdzani dan Maqamat-nya Al Hariri dan yang semisalnya.

Namun,   yang lebih utama adalah mencari kisah-kisah nyata yang diceritakan dengan bahasa sendiri lalu guru menyampaikan makna dan faidah yang terkandung  pada kisah tersebut. (Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin)

Sumber

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa sallam

Wallahu a’lam.  

Serial Fatwa Ulama Tentang Bom Syahid (Bag. 2)​

3⃣ Fatwa Syaikh Abdullah bin Humaid Rahimahullah

Di suatu sore hari, pada tahun 1400 H, pada saat Syaikh Abdullah bin Humaid rahimahullahu Ta’ala –mantan Hakim Agung di Makkah Al-Mukarramah– sedang memberikan ceramah di samping pintu masuk ke sumur Zamzam di dekat Ka’bah Al-Musyarrafah, ada seseorang yang bertanya tentang hukum aksi bom syahid.

Orang tersebut berkata, “Wahai Syaikh yang mulia, apakah hukumnya dalam Islam jika ada seorang muslim yang mengenakan seperangkat peledak, kemudian dia menyusup ke dalam sekumpulan musuh kaum muslimin dan meledakkan dirinya dengan maksud untuk membunuh sebanyak mungkin dari musuh tersebut?”

Syaikh menjawab:

“Alhamdulillah, sesungguhnya aksi individu seorang muslim yang membawa seperangkat bahan peledak, kemudian dia menyusup ke dalam barisan musuh dan meledakkan dirinya dengan maksud untuk membunuh musuh sebanyak mungkin dan dia sadar bahwa dia adalah orang yang pertama kali terbunuh; saya katakan; bahwa perbuatan yang dilakukannya adalah termasuk bentuk jihad yang disyariatkan. Dan, insya Allah orang tersebut mati syahid.” 

(Dikutip dari Al-‘Amaliyyat Al-Istiyhadiyyah fi Al-Mizan Al-Fiqhiy/DR. Nawaf Hail Takruri/hlm 101-102/penerbit Dar Al-Fikr, Beirut/Cetakan kedua edisi revisi/1997 M –1417 H. http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/26/fatwa-syaikh-abdullah-bin-humaid-tentang-bomb-syahid-2/)

4⃣ Syaikh Hamud ‘Uqla Asy Syu’aibi Rahimahullah

Pertanyaan:

“Mujahidin di Palestina, Chechnya dan selain keduanya di negeri-negeri Muslim yang melaksanakan Jihad demi mengalahkan musuh-musuh mereka dengan satu metode yang disebut Istisyhadiyah (memburu syahid). Operasi Istisyhadiyah ini dilakukan dengan cara mengikatkan bahan peledak pada tubuh mereka, atau diletakkan dalam kantongnya atau alat-alat yang ada pada dirinya atau juga dalam mobilnya yang dipenuhi dengan explosive kemudian meledakkan dirinya ditengah sekumpulan musuh atau tempat-tempat musuh dan yang semisalnya, atau dengan berpura-pura menyerah kepada musuh kemudian dia meledakkan dirinya dengan tujuan memperoleh kesyahidan dan memerangi musuh serta menimbulkan kerugian pada mereka.

Bagaimanakah hukum operasi seperti itu? Dan apakah hal tersebut termasuk perbuatan bunuh diri ? Apapula perbedaan antara bunuh diri dan operasi Istisyhadiyah?.Jazaakumullahu Khair, dan semoga Allah memberikan ampunan-Nya kepada anda..”

Jawaban Syaikh Hamud bin ‘Uqla Asy Syu’aibi (Teks Arab):

الجواب ..

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين أما بعد :

قبل الإجابة على هذا السؤال لابد أن تعلم أن مثل هذه العمليات المذكورة من النوازل المعاصرة التي لم تكن معروفة في السابق بنفس طريقتها اليوم ، ولكل عصر نوازله التي تحدث فيه ، فيجتهد العلماء على تنـزيلها على النصوص والعمومات والحوادث والوقائع المشابهة لها والتي أفتى في مثلها السلف ، قال تعالى : ( ما فرطنا في الكتاب من شيء ) وقال عليه الصلاة والسلام عن القرآن : ( فيه فصل ما بينكم ) ، وان العمليات الاستشهادية المذكورة عمل مشروع وهو من الجهاد في سبيل الله إذا خلصت نية صاحبه وهو من انجح الوسائل الجهادية ومن الوسائل الفعّالة ضد أعداء هذا الدين لما لها من النكاية وإيقاع الإصابات بهم من قتل أو جرح ولما فيها من بث الرعب والقلق والهلع فيهم ،ولما فيها من تجرئة المسلمين عليهم وتقوية قلوبهم وكسر قلوب الأعداء والإثخان فيهم ولما فيها من التنكيل والإغاضة والتوهين لأعداء المسلمين وغير ذلك من المصالح الجهادية .

ويدل على مشروعيتها أدلة من القرآن والسنة والإجماع ومن الوقائع والحوادث التي تنـزّل عليها وردت وأفتى فيها السلف كما سوف نذكره إن شاء الله .

أولا : الأدلة من القرآن :

1 – منها قوله تعالى : ( ومن الناس من يشرى نفسه ابتغاء مرضات الله والله رؤف بالعباد ) ، فإن الصحابة رضي الله عنهم أنزلوها على من حمل على العدو الكثير لوحده وغرر بنفسه في ذلك ، كما قال عمر بن الخطاب وأبو أيوب الأنصاري وأبو هريرة رضي الله عنهم كما رواه أبو داود والترمذي وصححه ابن حبان والحاكم ، ( تفسير القرطبي 2 / 361 ) .

2 – قوله تعالى : ( إن الله اشترى من المؤمنين أنفسهم وأموالهم بأن لهم الجنة يقاتلون في سبيل الله فيقتلون ويُقتلون .. ) الآية ، قال ابن كثير رحمه الله : حمله الأكثرون على أنها نزلت في كل مجاهد في سبيل الله .

3 – قوله تعالى : ( واعدوا لهم ما استطعتم من قوة من رباط الخيل ترهبون به عدو الله وعدوكم ) ، والعمليات الاستشهادية من القوة التي ترهبهم .

4 – قال تعالى في الناقضين للعهود : ( فإما تثقفنهم في الحرب فشرد بهم من خلفهم لعلهم يذكرون ) .

ثانيا : الأدلة من السنة :

1 – حديث الغلام وقصته معروفة وهي في الصحيح ، حيث دلهم على طريقة قتله فقتلوه شهيدا في سبيل الله ، وهذا نوع من الجهاد ، وحصل نفع عظيم ومصلحة للمسلمين حيث دخلت تلك البلاد في دين الله ، إذ قالوا : آمنا برب الغلام ، ووجه الدلالة من القصة أن هذا الغلام المجاهد غرر بنفسه وتسبب في ذهابها من أجل مصلحة المسلمين ، فقد علّمهم كيف يقتلونه ، بل لم يستطيعوا قتله إلا بطريقة هو دلهم عليها فكان متسبباً في قتل نفسه ، لكن أُغتفر ذلك في باب الجهاد ، ومثله المجاهد في العمليات الاستشهادية ، فقد تسبب في ذهاب نفسه لمصلحة الجهاد ، وهذا له أصل في شرعنا ، إذ لو قام رجل واحتسب وأمر ونهى واهتدى الناس بأمره ونهيه حتى قتل في ذلك لكان مجاهدا شهيدا ، وهو مثل قوله عليه الصلاة والسلام 🙁 افضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر ) .

2 – فعل البراء بن مالك في معركة اليمامة ، فإنه اُحتمل في تُرس على الرماح والقوة على العدو فقاتل حتى فتح الباب ، ولم ينكر عليه أحد من الصحابة ، وقصته مذكورة في سنن البيهقي في كتاب السير باب التبرع بالتعرض للقتل ( 9 / 44 ) وفي تفسير القرطبي ( 2 / 364 ) أسد الغابة ( 1 / 206 ) تاريخ الطبري .

3 – حمل سلمة ابن الأكوع والأخرم الأسدي وأبي قتادة لوحدهم على عيينة بن حصن ومن معه ، وقد أثنى الرسول

صلى الله عليه وسلم فقال : ( خير رجّالتنا سلمة ) متفق عليه.، قال ابن النحاس : وفي الحديث الصحيح الثابت : أدل دليل على جواز حمل الواحد على الجمع الكثير من العدو وحده وان غلب على ظنه انه يقتل إذا كان مخلصا في طلب الشهادة كما فعل سلمة بن الأخرم الأسدي ، ولم يعب النبي عليه الصلاة والسلام ولم ينه الصحابة عن مثل فعله ، بل في الحديث دليل على استحباب هذا الفعل وفضله فإن النبي عليه الصلاة والسلام مدح أبا قتادة وسلمة على فعلهما كما تقدم ، مع أن كلاً منهما قد حمل على العدو وحده ولم يتأنّ إلى أن يلحق به المسلمون اهـ مشارع الأشواق ( 1 / 540 ) .

4 – ما فعله هشام بن عامر الأنصاري لما حمل بنفسه بين الصفين على العدو الكثير فأنكر عليه بعض الناس وقالوا : ألقى بنفسه إلى التهلكة ، فرد عليهم عمر بن الخطاب وأبو هريرة رضي الله عنهما وتليا قوله تعالى ( ومن الناس من يشرى نفسه ابتغاء مرضات الله .. ) الآية ، مصنف ابن أبي شيبة ( 5 / 303 ، 322 ) سنن البيهقي ( 9 / 46 ) .

5 – حمل أبي حدرد الأسلمي وصاحيبه على عسكر عظيم ليس معهم رابع فنصرهم الله على المشركين ذكرها ابن هشام في سيرته وابن النحاس في المشارع( 1 /545 ).

6 – فعل عبدالله بن حنظلة الغسيل حيث قاتل حاسراً في إحدى المعارك وقد طرح الدرع عنه حتى قتلوه ، ذكره ابن النحاس في المشارع ( 1 / 555 ) .

7 – نقل البيهقي في السنن ( 9 / 44 ) في الرجل الذي سمع من أبي موسى يذكر الحديث المرفوع : الجنة تحت ظلال السيوف . فقام الرجل وكسر جفن سيفه وشد على العدو ثم قاتل حتى قتل .

8 – قصة أنس بن النضر في وقعة أحد قال : واهاً لريح الجنة ، ثم انغمس في المشركين حتى قتل . متفق عليه

ثالثا : الإجماع :

نقل ابن النحاس في مشارع الأشواق ( 1 / 588 ) عن المهلب قوله : قد أجمعوا على جواز تقحم المهالك في الجهاد ، ونقل عن الغزالي في الإحياء قوله : ولا خلاف في أن المسلم الواحد له أن يهجم على صف الكفار ويقاتل وإن علم أنه يقتل .

ونقل النووي في شرح مسلم الاتفاق على التغرير بالنفس في الجهاد ، ذكره في غزوة ذي قرد ( 12 / 187 ) .

هذه الحوادث السبع السابقة مع ما نُقل من الإجماع هي المسألة التي يسميها الفقهاء في كتبهم مسألة حمل الواحد على العدو الكثير ، وأحيانا تسمى مسألة الانغماس في الصف ، أو مسألة التغرير بالنفس في الجهاد ……..

 (Terjemahannya)

Jawab:                                                                                             
“Segala puji bagi Allah, Rabb (Tuhan) semesta alam,shalawat dan Salam atas semulia-mulia Nabi dan Rasul, nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga atas keluarganya dan sahabatnya,seluruhnya. Selanjutnya:

Sebelum menjawab pertanyaan ini, seyogyanya anda mengetahui bahwa operasi yang disebut ini, merupakan masalah kontemporer  yang dimasa lalu metode seperti ini tidak didapati. Dan memang setiap zaman memiliki karakteristik permasalahan tersendiri yang timbul di zaman itu. Karena itu para ulama berijtihad dengan memperhatikan nash-nash dan keumumannya, serta perbincangan mengenai hal tersebut dan fakta-fakta yang menyerupainya juga, bagaimana fatwa Ulama Salaf mengenai hal berkenaan.

Firman Allah:

“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab” (QS. Al An’am (6) : 3)  

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda tentang Al-Qur’an:

“Di dalamnya terdapat keputusan terhadap urusan di antara kalian”

Amaliyah (operasi) Istisyhadiyah (mencari syahid) yang tersebut di atas adalah amalan masyru’ (disyari’atkan dalam Islam) dan merupakan bagian dari Jihad Fi Sabilillah jika pelakunya memiliki niat yang ikhlas. Operasi inipun termasuk methode yang paling berhasil dalam Jihad Fie Sabilillah melawan musuh-musuh dien ini, karena dengan wasilah seperti terjadilah kerugian dan kerusakan pada musuh, baik berupa terbunuhnya orang-orang kafir atau terluka, sekaligus menimbulkan kengerian dan ketakutan pada mereka. Juga, dalam operasi istisyhad ini nyata, terlihatlah keberanian dan kekuatan hati kaum Muslimin dalam menghadapi kaum kafir, dan merontokkan hati musuh-musuh Islam, sekaligus menghinakan mereka dan mengakibatkan kedongkolan dalam jiwa-jiwa mereka, dan hal-hal lainnya yang merupakan kemaslahatan bagi kaum Muslimin, yang semuanya itu merupakan maslahat-maslahat Jihadiyah.

Disyariatkannya operasi-operasi tersebut dibuktikan dengan adanya dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan Ijma’ juga dengan adanya beberapa fakta yang terjadi di dalamnya serta fatwa Salafush Sholeh mengenai hal ini, sebagaimana akan disebutkan kemudian, Insya Allah.

🔹Pertama : Dalil-dalil Qur’an

Firman Allah:

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (Al-Baqarah : 207)

Sesungguhnya para sahabat Radhiallahu ‘anhum menerapkan ayat ini ketika seorang Muslim seorang diri berjibaku menerjang musuh dengan bilangan yang banyak yang dengan itu nyawanya dalam kondisi berbahaya, sebagaimana Umar bin Khaththab dan Abu Ayub Al-Anshari juga Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhum sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidizy dan Ibnu Hibban serta Al-Hakim menshahihkannya ( Tafsir Al-Qurthubi, 2/361)

Firman Allah :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”  ( At-Taubah 111 ). Imam Ibnu Katsir Rahimahullah  berkata: Kebanyakan (Ulama/Mufassir) berpendapat bahwa ayat tersebut berkenaan dengan setiap Mujahid Fi Sabilillah.

Firman Allah :

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”   (QS.Al Anfal (8) : 60)

Allah berfirman terhadap mereka yang merusak perjanjian :

“Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran” (QS. Al-Anfal (8):57).

🔹Kedua:  Dalil-dalil dari As-Sunnah:

Hadits Ghulam (pemuda) yang kisahnya terkenal, terdapat dalam Shahih Bukhari, ketika ia menunjukkan musuh cara membunuh dirinya, lalu musuh itupun membunuhnya, sehingga ia mati dalam keadaan syahid di jalan Allah. Maka operasi seperti ini merupakan salah satu jenis Jihad, dan menghasilkan manfaat yang besar, dan kemaslahatan bagi kaum Muslimin, ketika penduduk negeri itu masuk kepada dien(agama) Islam, yaitu ketika mereka berkata : “Kami beriman kepada Rabb (Tuhan) nya pemuda ini”.

Petunjuk (dalil) yang dapat di ambil dari hadits ini adalah bahwa Pemuda (Ghulam) tadi merupakan seorang Mujahid yang mengorbankan dirinya dan rela kehilangan nyawa dirinya demi tujuan kemaslahatan kaum Muslimin. Pemuda tadi telah mengajarkan mereka bagaimana cara membunuh dirinya, bahkan mereka sama sekali tidak akan mampu membunuh dirinya kecuali dengan cara yang ditunjukkan oleh pemuda tersebut, padahal cara yang ditunjukkan itu merupakan sebab kematian dirinya, akan tetapi dalam konteks Jihad hal ini diperbolehkan.

Operasi sedemikian ini diterapkan oleh Mujahidin dalam Istisyhad (operasi memburu kesyahidan), kedua-duanya memiliki inti masalah yang sama, yaitu menghilangkan nyawa diri demi kemaslahatan jihad. Amalan-amalan seperti ini memiliki dasar dalam syari’at Islam. Tak ubahnya pula dengan seseorang yang hendak melaksakanan Amar Ma’ruf Nahyi Munkar di suatu tempat dan menunjukkan manusia kepada Hidayah sehingga dia terbunuh di tempat tersebut, maka dia dianggap sebagai seorang Mujahid yang Syahid, ini seperti sabda Nabi  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Jihad yang paling utama adalah mengatakan Al-haq di depan penguasa yang Jaa-ir (jahat).”

Amaliyah yang dilakukan oleh Bara bin Malik dalam pertempuran di Yamamah. Ketika itu ia diusung di atas tameng yang berada di ujung-ujung tombak, lalu dilemparkan ke arah musuh, diapun berperang (di dalam benteng) sehingga berhasil membuka pintu Benteng. Dalam kejadian itu tidak seorangpun sahabat r.a menyalahkannya. Kisah ini tersebut dalam Sunan Al-Baihaqi,

dalam kitab As-Sayru Bab At-Tabarru’ Bit-Ta’rudhi Lilqatli (9/44), tafsir Al-Qurthubi (2/364), Asaddul Ghaabah(1/206), Tarikh Thabari.

Operasi yang dilakukan oleh Salamah bin Al-’Akwa dan Al-Ahram Al-Asadi, dan Abu Qatadah terhadap Uyainah bin Hishn dan pasukannya. Dalam ketika itu Rasulullah s.a.w memuji mereka, dengan sabdanya: “Pasukan infantry terbaik hari ini adalah Salamah” (Hadits Muttafaqun ‘Alaihi /Bukhari-Muslim).

Ibnu Nuhas berkata : Dalam hadits ini telah teguh tentang bolehnya seorang diri berjibaku ke arah pasukan tempur dengan bilangan yang besar, sekalipun dia memiliki keyakinan kuat bahwa dirinya akan terbunuh.Tidak mengapa dilakukan jikan dia ikhlas melakukannya demi memperoleh kesyahidan sebagaimana dilakukan oleh Salamah bin Al-’Akwa, dan Al-Akhram Al-Asaddi. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamtidak mencela, sahabat Radhiallahu ‘Anhum tidak pula menyalahkan operasi tersebut. Bahkan di dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa operasi seperti itu adalah disukai, juga merupakan keutamaan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memuji Abu Qatadah dan Salamah sebagaimana disebutkan terdahulu.Dimana masing-masing dari mereka telah menjalankan operasi Jibaku terhadap musuh seorang diri(Masyari’ul Asywaq, 1/540)

Apa yang dilakukan oleh Hisyam bin Amar Al-Anshari, ketika dia meneroboskan dirinya di antara Dua pasukan, menerjang musuh seorang diri dengan bilangan musuh yang besar, waktu itu sebagian kaum Muslimin berkata: Ia menjerumuskan dirinya dalam kebinasaan, Umar bin Khaththab r.a membantah klaim sebagian kaum Muslimin tersebut, begitu juga Abu Hurairah r.a, lalu keduanya membaca ayat:      “Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya demi mencari keridhaan Allah…” (QS.Al-Baqarah (2): 207 )          

Al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (5/303,222), Sunan Al-Baihaqi (9/46). Abu Hadrad Al-Aslami dan Dua orang sahabatnya menerjangkan diri ke arah pasukan besar, tidak ada orang ke-empat selain mereka bertiga, akhirnya Allah memenangkan kaum Muslimin atas kaum Musyrikin. Ibnu Hisyam menyebut riwayat ini dalam kitab sirahnya. Ibnu Nuhas menyebutnya dalam Al-Masyaari’ (1/545).

Operasi yang dilakukan oleh Abdullah bin Hanzhalah Al-Ghusail, ketika ia berjibaku menerjang musuh dalam salah satu pertempuran, sedangkan baju besi pelindung tubuhnya sengaja ia buang, kemudian kaum kafir berhasil membunuhnya. Disebutkan oleh Ibnu Nuhas dalam Al-Masyari’ (1/555).

Imam Al-Baihaqi dalam As-Sunan (9/44) menukil tentang seorang lelaki yang mendengar sebuah hadits dari Abu Musa :”Jannah (syurga) itu berada di bawah naungan pedang” Lalu lelaki itu memecahkan sarung pedangnya, lantas menerjang musuh seorang diri, berperang sampai ia terbunuh.

Kisah Anas bin Nadhar dalam salah satu pertempuran Uhud, katanya: “Aku sudah terlalu rindu dengan wangi jannah (syurga)” kemudian ia berjibaku menerjang kaum Musyrikin sampai terbunuh. (Muttafaqun ‘Alaihi).

🔹Ketiga: Dalil dari Ijma’

                Ibnu Nuhas mengutip dari Masyari’ al Asywaq (1/588),dari Al Muhallab dia berkata: “Mereka (para ulama) telah ijma’bolehnya menghamburkan diri ke tempat yang membinasakan dalam jihad, dan juga telah mengutip dari Al Ghazali dalam Al Ihya’-nya:  bahwa tidak ada perselisihan pendapat tentang bolehnya seorang muslim menyerang barisan orang kafir untuk membunuh mereka walau dia tahu dia juga akan terbunuh.” An Nawawi dalam Syarh Muslim-nya menyebutkan adanya kesepakatan para ulama tentang bolehnya membahayakan diri sendiri dalam medan jihad, beliau menyebutkannya dalamghazwah (peperangan) dzi qard. (12/187).

                Tujuh kejadian yang telah kami sebutkan sebelumnya, juga kutipan adanya ijma’, maka para fuqaha (ahli fiqih) kita telah menyebutkannya dalam kitab-kitab mereka dalam pembicaraan tentang ‘Serangan seorang diri terhadap musuh yang banyak’,  atau kadang pada permasalahan ‘Menenggelamkan diri ke dalam barisan musuh’, atau permasalahan ‘Membahayakan diri sendiri di medan jihad.’ ….dan seterusnya.   (Al Fatawa An Nadiyyah fil ‘Amaliyat Al Istisyhadiyah, Hal. 6-10)

Pake Make Up Waterboom, bole gak?

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Mau tanya nih ustadz/ah, masalah make up, kalo pakai produk produk yg waterboom resistant untuk eyeliner dan mascara, tidak boleh apa boleh ya?  Kan menghalangi air wudhu masuk yaa ke wajah.. Secara kalo bepergian pasti jg nglewatin waktu sholat dan sering batal wudhu. Kalo ga pakai yg water resistant kan mbleber, mending ga pake yaa?  Tapi kan pengen make up an. Begitu juga​ dgn bedak.. Tolong pencerahan nya ya ustadzah

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Untuk make up, sebenarnya muslimah sudah ada aturannya berdasarkan firman Allah

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Qs. Al-Ahzab : 33)

Berdasarkan ayat tersebut diatas ditegaskan bahwa boleh berhias terutama untuk suami.tapi harus beda dari wanita jahiliah dan tentunya bahan dasar yg digunakan halal dan ramah dengan kulit. Kalau waterboom resistant tidak  boleh alasannya  karena menghalangi air wudhu .jadi silahkan saja pakai eyeliner tp pilih yang tidak water proof. Ya memang resikonya kita harus sedikit repot. Kalau tidak mau repot ya tdk usah pakai make up.

Wallahu a’lam.

Serial Fatwa Ulama Tentang Bom Syahid (Bag. 1)​

Berikut ini adalah fatwa para ulama tentang legalitas bom syahid di negeri perang untuk membunuh musuh. Fatwa ini sudah dikeluarkan puluhan tahun lalu.

Sebagian orang mengingkari fatwa ini bahkan menjelek-jelekkannya,  jelas itu adalah adab yang buruk. Sebagian orang lagi  menyalahgunakan fatwa ini untuk membom di sembarang tempat, sehingga membunuh sesama muslim, ini juga sangat buruk dan konyol.

Yang benar adalah fatwa ini hanya terbatas di negeri-negeri perang dengan musuh yang pasti dan jelas, seperti penjajah Yahudi di Palestina.

1⃣ Fatwa Syaikh Al Muhaddits Muhammad Nashirudin Al Albany Rahimahullah

                Didalam Shahih Mawarid Azh Zham’an oleh Syaikh al Albany (dipublikasikan setelah beliau wafat), dia berkata pada bab kedua, halaman 119, setelah menjelaskan hadits populer Abu Ayyub, mengenai firman Allah walaa tulqu bi aydiikum ilat-tahlukah (janganlah kamu menjerumuskan diri kamu ke dalam jurang kebinasaan), dia berkata :

“Dan ini adalah kisah populer yang menjadi bukti yang sekarang dikenal sebagai operasi bunuh diri dimana beberapa pemuda Islam pergi lakukan terhadap musuh-musuh Allah,akan tetapi aksi ini diperbolehkan hanya pada kondisi tertentu dan mereka melakukan aksi ini untuk Allah dan kemenangan agama Allah, bukan untuk riya, reputasi, atau keberanian, atau depresi akan kehidupan.”[1]

                Selanjutnya beliau juga berkata, ketika ditanya mengenai aksi Bom Syahid, Syaikh Al Albany menjawab:

لا يعد هذا انتحاراً ، لأن الانتحار هو أن يقتل المسلم نفسه خلاصا من هذه الحياة التعيسة … أما هذه الصورة التي أنت تسأل عنها ، فهذا ليس انتحارا ، بل هذا جهادا في سبيل الله .. إلا أن هناك ملاحظة يجب الانتباه لها ، وهي أن هذا العمل لا ينبغي أن يكون فرديا أو شخصيا ، إنما يكون هذا بأمر قائد الجيش .. فإذا كان قائد الجيش يستغني عن هذا الفدائي ، ويرى أن في خسارته ربح كبير من جهة أخرى ، وهو إفناء عدد كبير من المشركين والكفار ، فالرأي رأيه ويجب طاعته ، حتى لو لم يرض هذا الإنسان فعليه طاعته …

“Itu bukanlah bom bunuh diri, bunuh diri adalah dimana ketika seorang muslim membunuh dirinya untuk menyelamatkan diri dari kesusahan hidupnya atau sesuatu yang sama seperti itu, sejauh yang kamu tanyakan itu, itu adalah jihad untuk Allah, akan tetapi kita harus mempertimbangkan aksi ini tidak bisa dilakukan secara individual tanpa di desain oleh seseorang yang menjadi ketua yang mempertimbangkan apakah itu menguntungkan Islam dan kaum muslimin, dan jika Amir memutuskan untuk kehilangan mujahid tadi lebih menguntungkan dibandingkan untuk menahannya, terutama jika hal itu menyebabkan kerusakan  bagi orang kafir dan musyrik, kemudian pendapat Amir tersebut terjamin bahkan walaupun si mujahid tadi tidak senang dengan dengan hal itu, maka dia harus mematuhinya.. dan seterusnya.”

Syaikh Al Albany Rahimahullah kemudian melanjutkan:

الانتحار من أكبر المحرمات في الإسلام ، لن ما يفعله إلا غضبان على ربه ولم يرض بقضاء الله .. أما هذا فليس انتحارا ، كما كان يفعله الصحابة ، يهجم على جماعة ( كردوس ) من الكفار بسيفه

“Bunuh diri adalah salah satu dosa besar dalam Islam, tidaklah orang yang melakukannya melainkan karena dia marah dan tidak ridha dengan ketetapan Allah. Sedangkan ini, bukanlah bunuh diri, sebagaimana yang dilakukan para sahabat Radhiallahu ‘anhum sering dilakukan untuk melawan sejumlah musuh yang besar oleh mereka..[2]

2⃣ Fatwa Syaikh Sulaiman bin Mani’ Hafizhahullah(Ulama Saudi Arabia, anggota Hai’ah Kibaril Ulama)

Beliau ditanya tentang aksi ‘intihariyah’- mengorbankan diri sendiri- ketika melawan musuh Islam dalam jihad apakah itu mati syahid?

Beliau menjawab:

الحمد لله, لا شك أن العمليات الانتحارية في سبيل الله ضد أعداء الله ورسوله وأعداء المسلمين قربة كريمة يتقرب بها المسلم إلى ربه, ولا شك أنها من أفضل أبواب الجهاد في سبيل الله, ومن استشهد في مثل هذه العمليات فهو شهيد إن شاء الله. ولنا من التاريخ الإسلامي في عهد النبوة وفي عهد الخلفاء الراشدين ومن بعدهم مجموعة من صور الجهاد في سبيل الله, ومن أبرز صور جهاد البطولة والشجاعة النابعة من الإيمان بالله وبما أعده سبحانه للشهداء ما في قتال المرتدين وفي طليعتهم مسيلمة الكذاب وقومه, فقد كان لبعض جيوش الإسلام في هذه المعركة عمليات انتحارية في سبيل افتتاح حديقة مسيلمة (حصنه المتين). ولكن ينبغي للمسلم المجاهد أن يحسن نيته في جهاده وأن يكون جهاده في سبيل الله فقط, وألا يلقي بنفسه إلى التهلكة في عملية يغلب على ظنه عدم انتفاعه منها……

“Alhamdulillah, tidak ragu lagi sesungguhnya aksi mengorbankan diri pada jihad fi sabilillah melawan musuh-musuh Allah dan RasulNya dan musuh kaum muslimin, merupakan upaya qurbah (pendekatan) yang mulia bagi seorang muslim kepada Rabbnya dan tidak ragu  pula bahwa itu merupakan di antara pintu jihad fi sabilillah yang paling utama, barang siapa yang mencari syahid dengan aksi ini maka itu adalah mati syahid Insya Allah.

Dalam sejarah Islam baik pada masa kenabian,Khulafa’ur Rasyidin, dan yang mengikuti mereka, kita memiliki kumpulan gambaran jihad fi sabilillah, yang paling menonjol di antara gambaran jihad kepahlawan dan keberanian karena iman kepada Allah Ta’ala dan apa-apa yang telah dijanjikanNya untuk para syuhada, adalah ketika memerangi kaum murtadin yang dipelopori oleh Musailamah Al Kadzdzab dan pengikutnya. Pada peperangan tersebut pasukan Islam membuka benteng pertahanannya yang sangat kuat.

Tetapi hendaknya seorang mujahid memperbaiki niatnya, dia hanya menjadikan jihad fi sabilillah adalah satu-satunya niat dan hendaknya jangan melakukan aksi menjerumuskan diri dalam kebinasaan yang tidak membawa manfaat dan janganlah melakukan takwil untuk keluar (memisahkan diri) dari pemerintahan Islam, dan seseungguhnya mendakwahi mereka bukanlah itu,  melainkan dengan menasehati mereka dengan  hikmah dan pelajaran yang baik, dan komitmen dengan adab memberikan nasihat. Wallahul Musta’an….” (Al Fatawa An Nadiyyah fil ‘Amaliyat Alisytisyhadiyah, Hal. 13)

Bersambung …

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
[1] http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/22/fatwa-syaikh-al-bani-mengenai-bomb-syahid/

[2] Kaset Silsilah Al Huda wan Nuur No. 134, atau risalah  Al Fatawa an Nadiyyah fil ‘Amaliyat Al Isytisyhadiyah, hal. 5.