Persaudaraan Karena Aqidah Adalah Yang Tertinggi Di Atas Persaudaraan Lainnya


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Lebih utama menolong saudara kandung, tapi non muslim…(dan sulit diharapkan keislamannya) atau…menolong saudara sesama muslim tp bukan siapa2 kita.

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al Hujurat (49): 10)

Imam Al Qurthubi Rahimahullah mengatakan:

أي في الدين والحرمة لا في النسب، ولهذا قيل: أخوة الدين أثبت من أخوة النسب، فإن أخوة النسب تنقطع بمخالفة الدين،وأخوة الدين لا تنقطع بمخالفة النسب.

Yaitu persaudaraan dalam agama dan kehormatan bukan dalam nasab. Oleh karenanya dikatakan:

📌 persaudaraan karena agama lebih kuat dari pada persaudaraan nasab,

📌 maka persaudaraan nasab akan terputus dengan berbedanya agama,

📌 sedangkan persaudaraan karena agama tidaklah terputus dengan berbedanya nasab.”

​📚 Imam Al Qurthubi, ​Al Jami’ Li Ahkamil Quran,​ 16/322-323. Darul ‘Alim Al Kutub, Riyadh. Tahqiq: Hisyam Samir Al Bukhari​

Maka, siapa pun dia, suku apa pun, ras apa pun, tapi dia muslim maka dia saudara. Saudara seiman.

Sebaliknya, walau dia adik, kakak, orang tua, anak, kerabat, tapi berbeda aqidah, maka dia bukan saudara dalam artian sebenarnya, hanya saudara senasab.

Jika berkumpul keduanya, dia saudara senasab dan juga saudara seaqidah sekaligus, maka lebih kuat lagi kedudukannya.

Wallahu a’lam.

Ghirah Islam Itu Yang Utama​


📌 Nahnu Muslim Qabla Kulli Syai’ – Kita adalah muslim sebelum menjadi apa pun, demikian kata para ulama

📌 Di alam ruh, Allah bertanya: “Alastu birabbikum?” – bukankah aku ini Tuhanmu? Saat itu kita menjawab: “Balaa syahidnaa” – Ya, kami bersaksi (bersyahadat). (Qs. Al A’raf: 172)

📌 Dalam hadits Shahih Al Bukhari: Kullu mauludin yuuladu ‘alal fithrah – Semua bayi yang lahir dalam keadaan fithrah.

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah menjelaskan:

وَأَشْهَرُ الْأَقْوَال أَن المُرَاد بالفطرة الْإِسْلَام قَالَ بن عَبْدِ الْبَرِّ وَهُوَ الْمَعْرُوفُ عِنْدَ عَامَّةِ السَّلَفِ وَأَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ بِالتَّأْوِيلِ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا الْإِسْلَامُ

Pendapat yang paling tenar tentang makna “fitrah” adalah Islam. Ibnu Abdil Bar mengatakan: “Ini telah dikenal umumnya kaum salaf.” Ulama telah ijma’ bahwa ta’wil tentang firman Allah Ta’ala: “Tetaplah di atas fitrah Allah yang telah Allah tetapkan atas manusia” adalah Islam. (Fathul Bari, 3/348)

📌 Ini menunjukkan, siapa pun kita, apa pun suku dan kebangsaan kita, apa pun profesi dan pangkat kita, .. kita adalah muslim sebelum menjadi semua itu.

📌 Jika kita mencintai Islam maka Islam mengajarkan untuk membela tanah airnya, negaranya, dan juga mencintai kebaikan, sebab bumi ini Allah Ta’ala wariskan untuk orang-orang beriman

📌 Tapi jika kita mencintai selain Islam di atas cinta kita kepada Islam, entah itu semata mencintai suku, etnis, ras, ormas, ditambah lagi sifat chauvinisme, maka semua itu tidak mampu menolong kita di hari pembalasan kelak; sebab Islamlah yang menyelamatkan kita bukan yang lainnya

📌 Di alam barzakh, kita tidak ditanya: Apa nama negaramu .. Apa suku bangsamu .. Apa ormasmu .., kita ditanya: Siapa Tuhanmu? Siapa Nabimu? ..

📌 Maka, Islam memuliakan kita, Islam yang meninggikan kita .. Sayyidina Umar Radhiallahu ‘Anhu berkata:

انا كنا اذل قوم فاعزنا الله بالاسلام فمهما نطلب العز بغير ما اعزنا الله به اذلنا الله

Kita dulu kaum yang hina, lalu Allah muliakan kita dengan Islam, maka jika kita mencari kemuliaan selain dari apa yang Allah turunkan kepada kita maka Allah akan hinakan kita.

(Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, Imam Al Hakim: shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim. Disepakati Adz Dzahabi dalam At Talkhish-nya)

📌 Wahai .. Umat Islam .. Kembalilah kepada aqidah kita, ke pangkuan agama, .. Insya Allah akan jaya !

Wallahu A’lam

Shalat Jumat Bagi wanita Menggugurkan Shalat Zhuhurnya


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah….Tlg ditanyakan ke grup MANIS ya…😊
Apa hukumnya sholat jum’at bagi wanita? Apakah itu otomatis menggugurkan kewajiban sholat dhuhur….ataukah sekedar sbg sholat sunnah saja, sehingga tetap harus menunaikan sholat dhuhur?
Jazakillah khaiir. A37

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

📌 Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan buat orang yang tidak wajib shalat jumat (seperti anak-anak, wanita, musafir, orang sakit):

وكل هؤلاء لا جمعة عليهم وإنما يجب عليهم أن يصلوا الظهر، ومن صلى منهم الجمعة صحت منه وسقطت عنه فريضة الظهر وكانت النساء تحضر المسجد على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وتصلى معه الجمعة

“Semuanya   tidak diawajibkan shalat jumat, yang diwajibkan buat mereka adalah shalat zhuhur. Dan, barang siapa diantara mereka ikut shalat jumat, maka shalatnya sah dan gugurlah kewajiban shalat zhuhur. Dahulu para wanita hadir di masjid pada zaman Rasulullsh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan shalat jumat bersamanya. (Fiqhus Sunnah, 1/303. Darul Kitab Al ‘Arabi)

📌 Fatwa Al Lajnah Ad Daimah:

لا تجب الجمعة على المرأة ، لكن إذا صلت المرأة مع الإمام صلاة الجمعة فصلاتها صحيحة وتكفيها عن صلاة الظهر ، وإذا صلت في بيتها فإنها تصلي ظهراً أربعاً ، ويكون بعد دخول الوقت، أي بعد زوال الشمس

“Wanita tidak wajib shalat jumat, tetapi jika dia shalat bersama imam pada shalat jumat maka shalatnya sah dan itu telah mencukupinya dari shalat zhuhur. Jika dia mau shalat di rumahnya, maka dia shalat zhuhur empat rakaat yaitu setelah masuknya waktu, setelah tergelincirnya matahari.” (Fatawa Islamiyah, No. 412)

Wallahu a’lam.

RIYADHUS SHALIHIN (23)​


📕 ​Bab Sabar – Sabar Syarat Kemenangan​

​Al Quran Surat Ali Imron; ayat 200:​

قَالَ الله تَعَالَى :يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱصۡبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ.
(آل عمران : 200)

​Artinya:​

​Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.​

☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian ​AUDIO​ di bawah ini.

Selamat menyimak.

https://drive.google.com/folderview?id=0Bx5YNkOteOF8eThFQ3Rfd1BNalE

Berbagai Niat yg Dapat Kita Hadirkan Saat Membaca Al-Qur'an​

كثير من إخواننا المسلمين لا يقرأ القرءان إلا بقصد الثواب والأجر وقصر علمه عن عظيم نفع القرءان وأنه كلما قرأ القرءان بنية نال فضلها كما قال النبي ﷺ إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل أمريء ما نوى..الحديث.
Banyak diantara saudara2 kita kaum muslimin, dia tidak membaca Al-Qur’an kecuali dengan maksud untuk mendapatkan pahala dan ganjaran dikarenakan minimnya pengetahuan mereka tentang betapa besarnya manfaat dari Al-Qur’an. Sesungguhnya setiap kali seseorang membaca Al-Qur’an dengan niat tertentu maka akan mengalir keutamaannya. Sebagaimana sabda Nabi SAW : “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya amal perbuatan seseorang tergantung pada niatnya…..(al-hadits).

فالقرءان منهج حياة والنية تجارة العلماء فمن هذا المبدأ والمنطلق أردت أن أذكر نفسي وإخواني ببعض النوايا عند القراءة ومنها:
Al-Qur’an adalah pedoman hidup, dan niat adalah transaksinya orang  berilmu. Dengan landasan dan titik tolak ini, saya ingin mengingatka diri sendiri dan saudar2ku dengan berbagai niat yg dapat dihadirkan ketika kita membaca Al-Qur’an, diantaranya:
1- اقرأ القرآن لأجل العلم والعمل به.
1.Saya membaca Al-Qur’an demi mengetahui dan mengamalkan isinya.
2- اقرأ القرآن بقصد الهداية من الله.
2. Saya membaca Al-Qur’an dengan tujuan mendapatkan hidayah dari Allah SWT.
3- اقرأ القرآن بقصد مناجاة الله تعالى.
3. Saya membaca Al-Qur’an dengan tujuan bermunajat kepada Allah.
4- اقرأ القرآن بقصد الإستشفاء به من الأمراض الظاهرة والباطنة.
4. Saya membaca Al-Qur’an dengan tujuan mengobati penyakit2 lahir dan batin dengan Al-Qur’an.
5- اقرأ القرآن بقصد أن يخرجنى الله من الظلمات إلي النور.
5. Saya membaca Al-Qur’an tujuan agar Allah SWT mengeluarkanku dari kegelapan menuju cahaya.
6- اقرأ القرآن لأنه علاج لقسوة القلب فيه طمأنينة القلب
 وحياة القلب وعمارة القلب.
6. Saya membaca Al-Qur’an karena ia adalah pengobatan bagi hati yg keras. Dalam membacanya terdapat ketenangan hati, hidupnya hati dan kokohnya bangunan hati.
7- اقرأ القرآن بقصد أن القرآن مأدبة الله تعالى.
7. Saya membaca Al-Qur’an dengan tujuan karena Al-Qur’an merupakan jamuan Allah SWT
8- اقرأ القرآن حتى لا أكتب من الغافلين وأكون من الذاكرين.
8. Saya membaca Al-Qur’an sehingga saya tidak tercatat sebagai orang2 yg lalai dan saya termasuk orang2 yg berdzikir
9- اقرأ القرآن بقصد زيادة اليقين والإيمان بالله.
9.Saya membaca Al-Qur’an dengan tujuan menambah iman dan keyakinan kepada Allah SWT
10- اقرأ القرآن بقصد الإمتثال لأمر الله تعالي بالترتيل.
10. Saya membaca Al-Qur’an dengan tujuan memenuhi perintah Allah dengan tertib
11- اقرأ القرآن للثواب حتى يكون لى بكل حرف 10 حسنات والله يضاعف لمن يشاء.
11. Saya membaca Al-Qur’an untuk mendapatkan pahala sehingga saya bisa meraih 10 kebaikan dari setiap huruf dan Allah akan melipatgandakannya kepada siapa saja yg Ia kehendaki
12- اقرأ القرآن حتى أن أنال شفاعة القرآن الكريم يوم القيامة.
12. Saya membaca Al-Qur’an hingga saya mendapatkan syafa’at Al-Qur’anul Karim di hari kiamat kelak
13- اقرأ القرآن بقصد إتباع وصية النبى ﷺ.
13. Saya membaca Al-Qur’an dengan tujuan mengikuti wasiat Nabi SAW
14- اقرأ القرآن حتى يرفعنى الله به ويرفع به الأمة.
14. Saya membaca Al-Qur’an hingga Allah meninggikan derajat saya dan dengannya derajat umat ini juga menjadi tinggi
15- اقرأ القرآن حتى أرتقي في درجات الجنة وألبس تاج الوقار ويكسي والداى بحلتين لا يقوم لهما الدنيا.
15. Saya membaca Al-Qur’an hingga saya naik -layak- mendapat derajat surga dan saya memakai mahkota dan memakaikan pakaian kebesaran kepada kedua orang tua saya yang tidak pernah mereka dapatkan pakaian itu didunia.

16- اقرأ القرآن بقصد التقرب إلي الله بكلامه.
16. Saya membaca Al-Qur’an dengan tujuan taqarrub mepada Allah melalui kalamNya
17- اقرأ القرآن حتى أكون من أهل الله وخاصته.
17. Saya membaca Al-Qur’an hingga saya menjadi ahlulloh wa khossotihi (keluarga Allah dan mereka yg dekat dengan Allah, pent)
18- اقرأ القرآن بقصد أن الماهر بالقرآن مع السفرة الكرام البررة.
18. Saya membaca Al-Qur’an dengan tujuan bahwa orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama malaikat safarotil kiromim baroroh
19- اقرأ القرآن بقصد النجاة من النار ومن عذاب الله.
19. Saya membaca Al-Qur’an dengan tujuan agar selamat dari api neraka dan adzab Allah
20- اقرأ القرآن حتى أكون في معية الله تعالي.
20. Saya membaca Al-Qur’an hingga saya berada dalam maiyyatulloh (kebersamaan dengan Allah)
21- اقرأ القرآن حتى لا أرد إل أرذل العمر.
21. Saya membaca Al-Qur’an hingga saya tidak menjadi orang yg hina sehina-hinanya
22- اقرأ القرآن حتى يكون حجة لى لا علىّ.
22. Saya membaca Al-Qur’an sehingga ia menjadi pembela saya bukan yg menuntut/mencelakakan saya
23- اقرأ القرآن بقصد أن النظر في المصحف عبادة.
23. Saya membaca Al-Qur’an dengan tujuan bahwa memandang mushaf adalah ibadah
24- اقرأ القرآن حتى تنزل علىّ السكينة وتغشانى الرحمة ويذكرنى الله فيمن عنده.
24. Saya membaca Al-Qur’an hingga turun kepada saya ketenangan dan saya diliputi rahmat dan Allah mengingat saya sebagai orang yg berada bersamaNya
25- اقرأ القرآن بقصد الحصول على الخيرية والفضل عند الله.
25. Saya membaca Al-Qur’an dengan tujuan mendapatkan kebaikan dan keutamaan disisi Allah SWT
26- اقرأ القرآن حتى يكون ريحي طيب.
26. Saya membaca Al-Qur’an hingga saya mendapatkan keuntungan yg baik
27- اقرأ القرآن حتى لا أضل في الدنيا ولا أشقي في الآخرة.
27. Saya membaca Al-Qur’an hingga saya tidak tersesat di dunia dan tidak sengsara di akhirat
28- اقرأ القرآن لأن الله يجلى به الأحزان ويذهب به الهموم والغموم.
28. Saya membaca Al-Qur’an karena dengannya Allah mengangkat kesedihan2 serta menghilangkan resah dan gelisah
29- اقرأ القرآن ليكون أنيسي في قبري ونور لي علي الصراط وهادياً لي في الدنيا وسائقاً لي إلى الجنة.
29. Saya membaca Al-Qur’an agar dia menjadi teman dekat saya di dalam kubur dan cahaya bagi saya diatas jalan kehidupan, menjadi petunjuk bagi saya di dunia dan penuntun menuju surga
30- اقرأ القرآن ليربينى الله ويؤدبنى بالأخلاق التي تحلى بها الرسول ﷺ.
30. Saya membaca Al-Qur’an agar Allah mendidik saya, menta’dib dengan akhlak yang menjadi hiasan diri Rasulullah SAW
31- اقرأ القرآن لأشغل نفسي بالحق حتى لا تشغلني بالباطل.
31. Saya membaca Al-Qur’an agar jiwa saya sibuk dengan kebenaran sehingga kebatilan tidak menyibukan saya
32- اقرأ القرآن لمجاهدة النفس والشيطان والهوى.
32. Saya membaca Al-Qur’an untuk menempa diri, melawan setan dan hawa nafsu
33- اقرأ القرآن ليجعل الله بينى وبين الكافرين حجاباً مستوراً يوم القيامة.
33. Saya membaca Al-Qur’an agar Allah menjadikan penghalang sebagai penutup antara saya dengan orang kafir di hari akhir kelak
٣٤- اقرأ القرآن ثم ابلغ منه ولو آية كما امرنا بذالك الحبيب المصطفى
34. Saya membaca Al-Qur’an kemudian menyampaikannya walau hanya satu ayat sebagaimana diperintahkan oleh  Nabj SAW
٣٥-اقرأ القرآن لأدعو امتى للعمل به وبأحكامه
35. Saya membaca Al-Qur’an agar saya berdakwah kepada umat untuk mengamalkan isi dan hukum2nya
٣٦-أقرأ القرآن لتزداد معرفتى بدينى
36. Saya membaca Al-Qur’an agar bertambah pengetahuan tentang agama saya
٣٧-اقرأ القرآن حتى اشعر بأن الله يكلمني
37. Saya membaca Al-Qur’an hingga saya merasa bahwa Allah sedang berbicara kepada saya
٣٨-أقرأ القرآن لأعرف منه احوال الامم السابقة
38. Saya membaca Al-Qur’an agar saya tahu darinya kondisi umat2 terdahulu
٣٩-أقرأ القرآن لأقبل مأدبة الله
39. Saya membaca Al-Qur’an untuk menerima jamuan dari Allah Swt
٤٠-أقرأ القرآن لانه لا يخلق من كثرة الرد
40. Saya membaca Al-Qur’an karena ia tidak diciptakan dengan keraguan
فهيا لنكون من أهل القرآن، وهذه هي التجارة مع الله المضمونة الرابحة والتي يعطى الله عليها من فضله الكريم وعطائه الذي لا ينفد.
Marilah kita menjadi ahlul Qur’an. Dan ini adalah bisnis kita dengan Allah yang mencakup keuntungan yang Allah berikan karena keutamannya yg mulia dan pemberiannya yang  tidak pernah meleset.

Ada Zakatkah Rumah yang Di kost kan??


Assalamualaikum waroatullahi wabarakatuh. Saya mohon izin dpt bertanya ttg pembagian waris
Apabila org tua sdh meninggal dan waris belum dilakukan, apakah anak wajib menuntaskan? Bila ada rumah msh atas nama alm org tua dan dijadikan tempat kos dan jg rumah tinggal anaknya, apakah hrs byr zakat usaha? Menurut info anaknya, uang kosnya hanya cukup ut makan, byr listrik, air dan keperluan kenyamanan kosnya spt pel dan perbaikan kerusakan kecil. Kalau anak2 nya tdk mau mengurus waris, apakah dosa jika salah seorg anaknya meminta waris karena anak tsb punya banyak utang di bank dan ingin melunasinya?

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa Ba’d:
Ada tiga pertanyaan ya ..

1⃣ Apakah waris mesti disegerakan?
Ya, sebaiknya waris tidak ditunda agar hak ahli waris tidak terlantar, sebab kita tidak tahu ajal, dikhawatirikan harta waris belum diapa-apakan tetapi ahli waris sudah ada yang wafat juga. Namun, menyegerakan tentu bukan perkara mudah, mengingat kendala teknis. Seperti wujud harta waris adalah bangunan, yang tidak mudah untuk menjualnya. Disegerakan namun tetap bersabar.

2⃣ Lalu, apakah ada zakat pada rumah yang dijadikan kost?
Iya, barang-barang yang produktif kena zakat yaitu hasilnya yang dizakati. Rumah yang disewakan, maka hasil sewanya yang dizakati, bukan harga total rumahnya plus sewanya, bukan itu. Nishabnya adalah jika hasilnya sudah mencapai senilai 85 gram emas, dikeluarkan zakatnya jika usianya sudah memenuhi satu haul (satu tahun), sebesar 2,5%. (Fatwa-Fatwa ulama Terlampir)

Jika rumah itu dijual, karena ini rumah dipakai sendiri, bukan sebuah objek bisnis, maka tidak ada zakat ketika menjualnya. Bedakan antara menjual rumah karena memang itulah usahanya (property) dengan menjual rumah bukan disebabkan bisnis. Menjual rumah karena bisnis property kena zakat, yaitu zakat perdagangan/perniagaan/tijarah, sebagaimana pendapat mayortas ulama. Hanya sebagian kecil saja ulama yang mengatakan tidak ada zakat perniagaan, seperti Imam Ibnu Hazm, Imam Asy Syaukani, Imam Shiddiq Hasan Khan, dan Syaikh Al Albani.

3⃣ Apakah berdosa seorang anak meminta waris tersebut ketika yang lain tidak ada yang mengurus?
Tidak apa-apa dia meminta haknya, apalagi ketika yang lain tidak peduli. Tapi, ini juga diperhatikan keharmonisan hubungan di antara saudara. Sebaiknya dibicarakan dengan baik tentang urgensi penyegeraan pengurusan harta waris.

Wallahu a’lam.

Bacalah Dengan Nama Tuhanmu (QS. Al-‘Alaq) Bag. 1

© Mukaddimah

▪Para ulama meyakini bahwa Surat Al-‘Alaq merupakan surat yang pertama kali diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw di Makkah. Sebagaian besar mushaf yang beredar saat ini menulis surat ini dengan nama Surat Al-‘Alaq. Dan lima ayat pertamanya menjadi wahyu pertama beliau yang disampaikan melalui Malaikat Jibril. Serta ayat-ayat lainnya yang tersisa diturunkan setelah beberapa waktu berlalu dari sejak wahyu pertama diberikan.

▪Tema yang diangkat surat ini cukup beragam. Dari sejak tema wahyu dan turunnya al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw, pembicaraan sifat dan tabiat manusia yang melampaui batas dalam urusan harta, serta kisah Abu Jahal yang menghalang-halangi Nabi Muhammad saw dan melarang beliau untuk shalat di Masjidil Haram.

▪Surat ini diakhiri dengan ancaman Allah untuk orang-orang yang masih terus bersikukuh dalam kesesatan dan sikapnya yang melampaui batas serta perintah kepada Nabi-Nya untuk meneruskan shalat dan sujudnya tanpa mempedulikan gertakan sang durjana.

▪Adapun urutannya yang berada setelah Surat At-Tin seolah memberi isyarat hubungan erat antara keduanya. Terutama dalam pembahasan tentang manusia. Jika dalam surat sebelumnya manusia disebut sebagai penciptaan terbaik yang dilakukan Allah dengan sempurna, maka dalam surat ini dibahas asal muasal penciptaan tersebut serta dimensi lain dari sisi kejiwaan manusia yang kadang melampaui batas serta kufur ni’mat; padahal Allah telah mengaruniakan kepadanya segala kesempurnaan.

©Membaca Penciptaan Manusia

”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan”. (QS. 96: 01)

▪Itulah bunyi ayat pertama surat ini. Memberikan perintah secara jelas kepada Nabi Muhammad saw. juga kepada umatnya untuk membaca. Membaca dengan nama Allah Sang Pencipta. Hal ini secara langsung memberikan isyarat bahwa umat Islam harus menuntut ilmu. Karena membaca merupakan pintu ilmu. Dengan membaca cakrawala berpikir seseorang semakin luas. Dengan membaca kebodohan dan ketidaktahuan bisa diobati, bahkan dipunahkan. Dan karena membaca merupakan gerbang ilmu dan pengetahuan.

▪Apalagi jika perintah membaca ini dikaitkan secara bersamaan dengan menyebut nama Tuhan Sang Pencipta. Tentulah kaitan tersebut ada maksudnya. Mungkin untuk mengingatkan bahwa kemampuan baca seseorang Allah lah yang mengaruniakannya sebagaimana ia diciptakan oleh-Nya. Karena itu dalam segala aktivitasnya termasuk membaca sudah sebaiknya ia mengingat Sang Pencipta, ”yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah” (QS. 96: 02)

▪Segumpal darah yang secara anatomis belum bisa disebut sebagai manusia itu nantinya akan terlahir sebagai makhluk sempurna yang bisa membaca. Jika segumpal darah tersebut teronggok di tepi jalan, siapa yang akan menghargai dan memuliakannya?

”Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah”. (QS. 96: 03)

▪Allahlah yang memuliakannya. Mengangkat derajatnya. Di atas semua makhluk yang diciptakan-Nya. Dzat yang pemurah dan penuh kasih sayang tersebut yang, ”mengajar (manusia) dengan perantaran pena”. (QS. 96: 04)

Dengan belajar membaca dan kemudian menulis maka manusia akan meraih ilmu. Baik ilmu dunia maupun akhirat. Inilah yang oleh Ibnu Katsir kemudian disimpulkan dari sebuah atsar, ”Ikatlah ilmu dengan menulis”. Dengan menjadi manusia yang berilmu sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui menjadi jelas. Sesuatu yang sebelumnya menjadi rahasia berubah tersingkap.

▪Adam as ditinggikan derajatnya melebihi para malaikat dan semua makhluk-Nya karena diajarkan ”nama-nama” oleh Allah sehingga ia mengetahui sesuatu yang sebelumnya tak diketahuinya. ”Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. 96: 05).

▪Tidakkah manusia kemudian merasa ada perubahan ke arah baik dari dalam dirinya. Dari tak mampu melihat kemudian ia bisa melihat. Tak mampu bicara dan mengungkapkan sesuatu karena keterbatasannya, kemudian ia bahkan mampu melakukannya dengan baik.

▪Dari tak berdaya hanya terlentang kemudian ia belajar berbaring miring dan kemudian duduk, lalu berjalan dan berlari serta mengendarai berbagai jenis kendaraan. Dari tak tahu satu hurufpun, kemudian ia bisa merangkai huruf-huruf menjadi kata-kata yang menjadi sarana komunikasi dengan sesama manusia. Siapa yang mengubah kondisi tersebut?

©Hanya Allah lah yang mampu menjadikan perubahan ke arah baik tersebut.

▪Seharusnya karunia penciptaan dan pengajaran yang sangat luar biasa ini direspon positif oleh manusia. Yaitu dengan rasa syukur dan totalitas pengabdian serta penghambaan yang ikhlas kepada-Nya. Namun, justru kebanyakan manusia tak melakukannya. Mereka bahkan bukan hanya tak pandai bersyukur, tapi mendustakan dan mengingkarinya.

Membantu Saudara Sekandung Sepanjang Hayat

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Ustadz apakah berhenti memberikan bantuan kpd saudara (sekandung) karena sudah terlalu sering dan khawatir dia jg mengharap terus,  termasuk memutuskan nikmat dari Allah ataukah termasuk memutuskan silaturahim.
Syukron.

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Ada 2 konteks,
1. Konteksnya mendidik, maka bantuan yg kita berikan sifatnya stimulus utk mandiri. Agar tdk membentuk mentalitas peminta minta atau lemah berjuang.

2. Konteksnya ingin sedekah, memang sebaiknya jgn putus, sebab itu menjadi tabungan akhirat kita. Terlepas dia mengharapkan atau tdk, mandiri atau tdk. Dua sikap ini secara syariah tdk salah.

Wallahu a’lam.

Memaksimalkan Amanah, Memanfaatkan Peluang​

Musa ibn Nusayr mempercayakan 7.000 pasukan yang direkrut dari kalangan Berber kepada Thariq ibn Ziyad. Thariq yang juga berasal dari suku Berber telah juga dipercaya sebagai gubernur Tanjah (Tangiers). Tugasnya adalah melakukan survei atas wilayah Visigothic Hispania di seberang Selat Herkules.

Pada tanggal 5 Rajab 92 Hijriyah (sekitar 28-29 April 711 Masehi) Thariq memimpin ekspedisi pengintaian laut menggunakan 4 kapal transpor pinjaman dari Julian. Adapun Julian adalah penguasa Visigoth di Sibtah (Ceuta) yang bersaing dengan Raja Roderick di Hispania.

Pendaratan dilakukan secara senyap di sebelah timur Tanjung Calpe guna terhalangi pantauan pengawas pantai Visigoth. Peyeberangan dilakukan dalam beberapa kali, kelak tanjung ini lebih dikenal sebagai Jabal Thariq atau Jibraltar (Gibraltar). Pada bulan tersebut, Roderick sedang sibuk memadamkan pemberontakan Vascos di Navarra, sebelah utara Hispania.

Melihat peluang yang begitu besar, Thariq mengubah tujuan pendaratan dari pengintaian menjadi pendudukan berkecepatan tinggi. Roderick baru menyadari besarnya ancaman pasukan kecil Thariq ketika pendaratan sudah sempurna dan kekuatan Kaum Muslimin sudah terpusat. Pertempuran di Wadi-Lakah (Guadalete) pada hari Ahad 28 Ramadhan 92 Hijriyah (sekitar 19 Juli 711 Masehi) sudah terlambat hampir 3 bulan.

Agung Waspodo, harusnya saya tuliskan 28-29 April 2017
Depok, 2 Juli 2017

Hukum Mengarang Kisah-Kisah Fiksi

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Bagaimana hukum mengarang cerita fiksi, imajinasi ? Pertanyaan member manis 04

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Fatwa 1: Asy Syaikh Dr. Abdullah Al Faqih

السؤال

هل يحل في الإسلام تأليف الكتب الخيالية أم يعتبر هذا نوعاً من الكذب؟

الفتوى

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد:

فقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: “حدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج” رواه أحمد وأبو داود وغيرهما، وزاد ابن أبي شيبة في مصنفه: “فإنه كانت فيهم أعاجيب”.
وقد صحح الألباني هذه الزيادة
قال أهل العلم: وهذا دالٌّ على حل سماع تلك الأعاجيب للفرجة لا للحجة، أي لإزالة الهم عن النفس، لا للاحتجاج بها، والعمل بما فيها.

وبهذا الحديث استدل بعض أهل العلم على حل سماع الأعاجيب والفرائد من كل ما لا يتيقن كذبه بقصد الفرجة، وكذلك ما يتيقن كذبه، لكن قصد به ضرب الأمثال والمواعظ، وتعليم نحو الشجاعة، سواء كان على ألسنة آدميين أو حيوانات إذا كان لا يخفى ذلك على من يطالعها.
هكذا قال ابن حجر الهيثمي – رحمه الله – من الشافعية.
وذهب آخرون وهم علماء الحنفية إلى كراهة القصص الذي فيه تحديث الناس بما ليس له أصل معروف من أحاديث الأولين، أو الزيادة، أو النقص لتزيين القصص.
ولكن لم يجزم محققو المتأخرين منهم كابن عابدين بالكراهة إذا صاحب ذلك مقصد حسن، فقال ابن عابدين رحمه الله: (وهل يقال بجوازه إذا قصد به ضرب الأمثال ونحوها؟ يُحَرَّر).
والذي يظهر جواز تأليف الكتب التي تحتوي قصصاً خيالياً إذا كان القارئ يعلم ذلك، وكان المقصد منها حسناً كغرس بعض الفضائل، أو ضرب الأمثال للتعليم كمقامات الحريري مثلاً، والتي لم نطلع على إنكاره من أهل العلم مع اطلاعهم عليها، وعلمهم بحقيقتها، وأنها قصص خيالية لا أصل لها في الواقع.
والله أعلم.
المفتي: مركز الفتوى بإشراف د.عبدالله الفقيه

Pertanyaan:
Bolehkah dalam Islam menyusun buku tentang kisah-kisah fiksi ataukah mengambil pelajaran dari kisah jenis ini termasuk kebohongan?

Jawab:

Alhamdulillah Ash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ‘Ala aalihi wa shahbihi wa ba’d: Telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Ceritakan oleh kalian dari Bani Israil, tidak apa-apa.” Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, dan lainnya. Ibnu Abi Syaibah menambahkan dalam Mushannaf-nya: “… sesungguhnya pada diri mereka ada hal-hal yang mengagumkan.”  Syaikh Al Albani menshahihkan tambahan ini.

Berkata para ulama: Ini adalah  dalil halalnya mendengarkan kisah mengagumkan tersebut jika untuk selingan saja, yaitu untuk menghilangkan rasa sedih dalam jiwa,  bukan untuk dijadikan hujjah, bukan pula untuk diamalkan.

Dengan hadits ini pula, sebagian ulama berdalil halalnya mendengarkan hal-hal yang mengagumkan dan berharga, dari segala hal yang belum bisa dipastikan kedustaannya, dengan maksud untuk selingan. Begitu juga kisah yang diyakini kedustaannya (fiksi), tetapi dengan maksud sebagai tamtsil (perumpamaan) danmau’izhah (pelajaran) saja, mengajarkan keberanian, sama saja apakah melalui lisan manusia atau hewan-hewan (fabel, pen), jika  memang   hal-hal tersebut (yakni pelajaran dan hikmah, pen) tidak tersembunyi dari yang membacanya.

Demikianlah yang dikatakan Imam Ibnu Hajar Al Haitsami Rahimahullah dari kalangan Syafi’iyah.

Ulama lain berpendapat, yaitu dari kalangan Hanafiyah, bahwa dimakruhkan kisah-kisah yang bercerita peristiwa manusia yang   tidak memiliki dasar yang ma’ruf (dikenal) dari peristiwa-peristiwa  generasi awal, atau tambahan, atau pengurangannya, dengan tujuan untuk memperindah kisah tersebut.

Tetapi para ulama muhaqiq muta’akhirin (peneliti zaman sekarang) seperti Imam Ibnu ‘Abidin (bermadzhab Hanafi, pen) tidaklah memutuskan hal itu sebagai makruh, jika memiliki maksud yang baik.  Ibnu ‘Abidin Rahimahullah mengatakan: (Apakah dikatakan boleh jika maksudnya untuk perumpamaan dan semisalnya? Perlu diperiksa lagi)

Dan, pendapat yang nampak (benar) adalah bolehnya menulis buku-buku kisah fiksi jika si pembacanya mengetahui hal itu dan memiliki maksud yang baik, seperti menanamkan sifat-sifat yang utama, atau memberikan perumpamaan untuk memberikan pengajaran,  seperti kisah Al Maqamat  yang disusun oleh Al Haririy, yang kami tidak ketahui adanya ulama yang mengingkarinya, padahal mereka sudah mengkaji dan mengetahui hakikat kisah ini sebagai kisah fiksi yang tidak pernah terjadi
Wallahu A’lam. (Mufti: Asy Syaikh Dr. Abdullah Al Faqih. Sumber: Fatawa Asy Syabkah Al Islamiyah, No Fatwa. 13278. Tanggal: 12 Dzulqa’dah 1422H)

Fatwa 2: Asy Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin

السؤال س: ما رأي فضيلتكم في القصص التي تطلب في المدرسة في مادة التعبير والتي تكون في غالبها قصصًا مكذوبة ولم تقع؟
الاجابـــة
إذا عرف الحاضرون أنها قصص خيالية ابتكرها الكاتب، أو القاص لشحذ أذهان الطلاب واجتذاب أفهامهم وضرب الأمثلة لهم فلا بأس بها فقد أقر العلماء القصص المؤلفة كما في مقامات بديع الزمان الهمذاني ومقامات الحريري ونحوها مع أنه يُفضل أن يبحث عن قصص واقعية يصوغها بعبارته ويظهر ما فيها من المعاني والفوائد. والله أعلم.

عبد الله بن عبد الرحمن الجبرين

Pertanyaan:
Apa pendapat Anda tentang kisah-kisah yang dipelajari di sekolah pada materi ta’bir yang biasanya menggunakan kisah-kisah fiksi yang tidak pernah terjadi?

Jawaban:

Jika yang hadir itu tahu bahwa itu adalah kisah fiksi, baik yang disampaikan oleh penulis atau pencerita, dengan maksud untuk menajamkan kecerdasan dan mengasah pemahaman para siswa, dan untuk memberikan perumpamaan bagi mereka, maka itu tidak mengapa. Para ulama telah menyetujui kisah-kisah yang telah dibukukan seperti Maqamat-nya Badi’uz Zaman Al Hamdzani dan Maqamat-nya Al Hariri dan yang semisalnya.

Namun,   yang lebih utama adalah mencari kisah-kisah nyata yang diceritakan dengan bahasa sendiri lalu guru menyampaikan makna dan faidah yang terkandung  pada kisah tersebut. (Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin)

Sumber

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa sallam

Wallahu a’lam.