Makan, Minum, Rokok..Pembatal Wudhu?

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…saya mau nanya apakah makan,minum,dan merokok itu tidak/dapat membatalkan wudhu..mohon penjelasanya..trima kasih..

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Apakah makan bisa membatalkan wudhu? Ada beberapa rincian tentang hukum ini,

Pertama, makan daging onta
Ada hadis yang menegaskan bahwa orang yang makan daging onta, disyariatkan untuk berwudhu.

Diantaranya hadis dari  Jabir bin Samurah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Apakah  saya harus berwudhu karena makan daging kambing?”
Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إن شئت فتوضأ، وإن شئت فلا تتوضأ

“Kalau kamu mau boleh wudhu, boleh juga tidak wudhu”.

Kemudian dia bertanya lagi,

“Apakah saya harus berwudhu karena makan daging onta?”

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ

“Ya, berwudhulah karena makan daging onta.” (HR. Ahmad 21358, Muslim 828, dan yang lainnya).

Apakah membatalkan wudhu?

Ulama berbeda pendapat tentang hukum makan daging onta, apakah membatalkan wudhu ataukah tidak.

An-Nawawi menyebutkan,

فاختلف العلماء في أكل لحوم الجزور وذهب الاكثرون إلى أنه لاينقض الوضوء ممن ذهب إليه الخلفاء الأربعة الراشدون… وذهب إلى انتقاض الوضوء به أحمد بن حنبل وإسحاق بن راهويه ويحيى بن يحيى وأبو بكر بن المنذر وبن خزيمة واختاره الحافظ أبو بكر البيهقي

Ulama berbeda pendapat tentang status makan daging onta, apakah membatalkan wudhu ataukah tidak. Mayoritas ulama berpendapat, makan daging onta tidak membatalkan wudhu. Diantara yang berpendapat demikian adalah empat khulafa’ Rasyidin. Sementara ulama yang berpendapat makan daging onta membatalkan wudhu, diantaranya Imam Ahmad, Ishaq bin Rahuyah, Yahya bin Yahya, Ibnul Mundzir, Ibnu Khuzaimah, dan al-Hafidz al-Baihaqi as-Syafii.  (Syarh Shahih Muslim, 4/48).

An-Nawawi juga menyebutkan sejumlah sahabat yang berpendapat bahwa makan daging onta bisa membatalkan wudhu.

insyaaAllah pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat kedua, bahwa makan daging onta bisa membatalkan wudhu, sebagaimana dinyatakan dalam hadis Jabir bin Samurah di atas.

Kedua, makan makanan yang dimasak

Ada beberapa hadis yang memberikan kesimpulan hukum berbeda terkait makan makanan yang dimasak. Apakah membatalkan wudhu ataukah tidak. Kita akan simak hadisnya masing-masing.

Pertama, hadis yang mewajibkan wudhu karena makan makanan yang dimasak.

Hadis dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْوُضُوءُ مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

“Harus wudhu karena makan makanan yang tersentuh api.” (HR. Muslim 814)

Keterangan:

Yang dimaksud makanan tersentuh api adalah makanan yang dimasak, dengan cara apapun. (Mur’atul Mafatih, 2/22).

Kemudian hadis dari Ibrahim bin Abdillah bin Qaridz, bahwa beliau pernah melewati Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu yang sedang berwudhu. Kemudian Abu Hurairah bertanya, ‘Tahu kenapa saya berwudhu? Karena saya baru saja maka keju. Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَوَضَّئُوا مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

“Berwudhulah karena makan makanan yang tersentuh api.” (HR. Ahmad 7819, Muslim 815, yang lainnya).

Selanjutnya, kita sebutkan hadis yang kedua, yang tidak menganjurkann wudhu setelah makan.

Hadis dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma,

قَرَّبْتُ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- خُبْزًا وَلَحْمًا فَأَكَلَ ثُمَّ دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ بِهِ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ دَعَا بِفَضْلِ طَعَامِهِ فَأَكَلَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

Saya pernah menghidangkan untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sepotong roti dan daging lalu beliau memakannya. Kemudian beliau minta dibawakan air, lalu beliau wudhu dan shalat dzuhur. Kemudian beliau meminta dibawakan sisa makananya tadi, lalu beliau memakannya, kemudian beliau shalat (sunah) tanpa berwudhu. (HR. Abu Daud 191 dan dishahihkan al-Albani).

Kemudian hadis dari Amr bin Umayyah Radhiyallahu ‘anhu, beliau melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memotong daging kambing dengan pisau untuk dimakan. Kemudian datang waktu shalat. Lalu beliau letakkan pisau itu, kemudian shalat tanpa berwudhu. (HR. Bukhari 208 & Muslim 820)

Kemudian keterangan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma,

كَانَ آخِرُ الأَمْرَيْنِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَرْكَ الْوُضُوءِ مِمَّا غَيَّرَتِ النَّارُ

Aturan terakhir dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak berwudhu karena makan makanan yang dimasak. (HR. Abu Daud 192, Nasai 185, Ibnu Hibban 1134 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Apakah membatalkan wudhu?

Ulama berbeda pendapat dalam memahami dua hadis di atas. Sebagian mengkompromikan kedua hadis itu. Dan mereka berpendapat bahwa hadis yang memerintahkan untuk berwudhu karena makan makanan yang dimasak dipahami sebagai perintah anjuran. Sehingga makan makanan yang dimasak tidak membatalkan wudhu, namun dianjurkan untuk wudhu. (Fiqh Sunah, Sayid Sabiq, 1/59).

Ada juga yang memahami bahwa hadis Jabir menjadi nasikh (menghapus hukum) hadis yang memerintahkan wudhu karena makan makanan yang dimasak.

At-Turmudzi dalam Sunannya setelah menyebutkan hadis Jabir, beliau mengatakan,

والعمل على هذا عند أكثر أهل العلم من أصحاب النبى -صلى الله عليه وسلم- والتابعين ومن بعدهم مثل سفيان الثورى وابن المبارك والشافعى وأحمد وإسحاق رأوا ترك الوضوء مما مست النار. وهذا آخر الأمرين من رسول الله -صلى الله عليه وسلم-. وكأن هذا الحديث ناسخ للحديث الأول حديث الوضوء مما مست النار

Inilah yang diamalkan oleh mayoritas ulama di kalangan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in dan generasi setelahnya. Seperti Sufyan at-Tsauri, Ibnul Mubarok, as-Syafii, Ahmad, Ishaq. Mereka berpendapat tidak perlu wudhu karena makan makanan yang dimasak. Itulah hukum terakhir dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seolah ini adalah hadis yang menghapus hukum untuk hadis pertama, yaitu hadis perintah wudhu karena makan makanan yang dimasak. (Jami’ at-Turmudzi, 1/140).

insyaaAllah pendapat kedua inilah yang lebih mendekati kebenaran.

Ketiga, selain jenis makanan di atas.

Selain onta dan makanan yang dimasak, seperti buah-buahan, atau makanan yang dimakan tanpa dimasak, tidak ada kewajiban berwudhu. Karena hukum asal bukan pembatal wudhu, kecuali ada dalil bahwa itu membatalkan wudhu.

Sedangkan merokok, para ulama memfatwakan bahwa rokok bukan termasuk pembatal wudhu. Sebagaimana makan dan minum tidak membatalkan wudhu. Demikian keterangan Imam Ibnu Baz dalam Majmu’ Fatawa dan Risalah beliau jilid kesepuluh. Hal yang sama juga ditegaskan dalam Fatawa Syabakah Islamimiyah, dalam fatwa no. 31004 dinyatakan:

فالتدخين لا ينقض الوضوء ولا يعلم في ذلك خلاف

“Merokok, tidak membatalkan wudhu. Tidak diketahui adanya perselisihan dalam hal ini.”

Namun ada satu hal yang lebih penting untuk kita perhatikan.

Semua orang sepakat bahwa rokok meninggalkan aroma tidak sedap di mulut. Tidak hanya orang lain, bahkan para perokok sendiri mengakui demikian. Anda bisa buktikan dengan banyaknya wanita yang mengeluh karena dia memiliki suami perokok. Setidaknya, keberadaan rokok di keluarga itu telah mengurangi romantisme suami istri.

Dari sisi medis juga, semua sepakat bahwa merokok memiliki banyak efek negatif bagi kesehatan daripada manfaatnya. Maka kami sangat menganjurkan untuk meninggalkan kebiasaan merokok, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى الْمَازِنِيِّ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari ‘Amru bin Yahya Al Muzani dari Bapaknya bahwa Rasulullah Shalla Allahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak boleh membuat kemudharatan pada diri sendiri dan membuat kemudharatan pada orang lain.” (HR. Malik no. 1234, Ibnu Majah no. 2331). Demikian.

Wallahu a’lam.

Sejarah dan Keutamaan Al Aqsha Serta Kewajiban Melindunginya (Bag. 3)​

📌 Shalat Di Dalamnya Bernilai  Ratusan kali di masjid lain, kecuali Masjidil Haram dan Masjid An Nabawi

Sebenarnya ada beberapa riwayat yang berlainan berkenaan   keutamaan shalat di dalamnya, ada yang menyebut 1000 kali, 500 kali, dan 250 kali lebih utama dibanding masjid biasa.
Dari Abu Dzar Radhiallahu Anhu, ketika kami sedang berada di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kami bertanya: Lebih utama mana, shalat di masjid Rasulullah atau di masjid Al Aqsha?”

Beliau  bersabda:

صلاة في مسجدي هذا أفضل من أربع صلوات فيه

“Shalat di masjidku ini lebih utama empat kali lipat dibanding shalat di dalam masjidil Aqsha.” (HR. Al Hakim 4/509. Katanya: isnadnya shahih, dan disepakati oleh Adz Dzahabi)

Ini menunjukkan, shalat di masjid Al Aqsha adalah ¼ kali nilainya shalat di Masjid Nabawi. Jika Masjid Nabawi bernilai 1000 kali shalat di masjid biasa, maka nilai shalat di masjid Al Aqsha adalah 250 kali shalat di masjid biasa. 

Sementara dalam riwayat Maimunah disebutkan bahwa shalat di Masjid Al Aqsha sama dengan 1000 shalat di masjid biasa, ada pun dalam riwayat Abu Darda disebutkan 500 kali lipat. Syaikh Al Albani Rahimahullah mengatakan:

فيقال : إن الله سبحانه وتعالى جعل فضيلة الصلاة في الأقصى مائتين وخمسين صلاة أولا ثم أوصلها إلى الخمسمائة ثم إلى الألف فضلا منه تعالى على عباده ورحمة . والله تعالى أعلم بحقيقة الحال

“Maka disebutkan: Sesungguhnya Allah Ta’ala pada awalnya  menjadikan fadhilah shalat di Al Aqsha adalah 250 kali, kemudian menaikkannya menjadi 500 kali, kemudian menjadi 1000 kali, sebagai keutamaan dan rahmat dariNya untuk hamba-hambaNya. Allah Yang Maha Tahu  hakikat keadaannya. (Syaikh Al Albani, Ats tsamar Al Mustathab fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, Hal. 549.  Cet. 1, Ghiras Lin Nasyr wat Tauzi) 

📌Masjidil Aqsha dan Sekitarnya Adalah Diberkahi

Allah Taala berfirman:

سُبْحَانَ الذى أسرى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مّنَ المسجد الحرام إلى المسجد الاقصى الذى بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءاياتنا إنَّهُ هُوَ السميع البصير

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Al Isra (17): 1)

 Berkata  Imam Ali Asy Syaukani Rahimahullah tentang makna telah Kami berkahi sekelilingnya:

بالثمار والأنهار والأنبياء والصالحين ، فقد بارك الله سبحانه حول المسجد الأقصى ببركات الدنيا والآخرة

“Dengan buah-buahan, sungai, para nabi dan shalihin, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan keberkahan di sekitar masjid Al Aqsha dengan keberkahan dunia dan akhirat. (Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 4/280. Mawqi Ruh Al Islam)

Bersambung …

Batasan Aurat Bagi Muslimah

Assalamualaikum ustadz/ah..Mau tanya, sebelumnya ada materi tentang wajibnya akhwat untuk menutup kaki?# A42

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Kalau kita bicara aurat wanita , apa sih batasannya?
Sebelum membahas mengenai kaki bagian bawah, perlu dipahami apa batasan aurat bagi wanita. Allah ta’ala berfirman:

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka” (QS. An Nur: 31).

Allah ta’ala juga berfirman:

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh 
mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59)

Allah ta’ala juga berfirman:

وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَايُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ

“dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur: 31)

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu‘anha, beliau berkata,

أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam pun berpaling darinya dan bersabda, “wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Daud 4140, dalam Al Irwa [6/203] Al Albani berkata: “hasan dengan keseluruhan jalannya”)

Selain dalil-dalil mengenai batasan aurat secara umum, terdapat juga beberapa dalil yang jelas menunjukkan bahwa al qadam atau bagian bawah kaki wajib ditutup. Diantaranya yaitu hadits Ummu Salamah radhiallahu’anha,

أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم لما قال في جرِّ الذيلِ ما قال قالت قلتُ يا رسولَ اللهِ فكيف بنا فقال جُرِّيهِ شبرًا ، فقالت (أم سلمة) إذًا تنكشفُ القدمانِ ، قال فجُرِّيهِ ذراعًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersabda mengenai masalah menjulurkan ujung pakaian, aku berkata kepada beliau, ‘wahai Rasulullah bagaimana dengan kami (kaum wanita)?’. Nabi menjawab: ‘julurkanlah sejengkal‘. Lalu Ummu Salamah bertanya lagi: ‘kalau begitu kedua qadam (bagian bawah kaki) akan terlihat?’. Nabi bersabda: ‘kalau begitu julurkanlah sehasta‘. (HR. Ahmad 6/295, Abu Ya’la dalam As Sanad 1/325, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 1/828)

Syaikh Al Albani menyatakan: “hadits ini dalil bahwa kedua qadam wanita adalah aurat. Dan ini merupakan perkara yang sudah diketahui oleh para wanita di masa Nabi. Buktinya ketika Nabi mengatakan: ‘julurkanlah sejengkal‘, Ummu Salamah berkata: ‘kalau begitu kedua qadam (bagian bawah kaki) akan terlihat?‘, menunjukkan kesan bahwa Ummu Salamah sebelumnya sudah mengetahui bahwa kedua bagian bawah kaki adalah aurat yang tidak boleh dibuka. Dan hal itu disetujui oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Oleh karena itu beliau memerintahkan untuk memanjangkan kainnya sehasta. Dan dalam Al Qur’an Al Karim juga ada isyarat terhadap makna ini, yaitu dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya) “dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur: 31)”

Kesimpulannya: kaki adalah aurat yang harus ditutup berdasarkan dalil dalil diatas. 

Wallahu a’lam.

RIYADHUS SHALIHIN (25)​

📕 ​Bab Sabar – Besarnya Pahala Sabar​

​Al Quran Surat Al :Az Zumar: 10​

وَقالَ تَعَالَى :
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَاب [ الزمر :10 ] ،

​Artinya:​
​Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas​

​Al Quran Surat Al :As Syuro: 43​

وَقالَ تَعَالَى:
وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الأُمُورِ [الشورى: 43 ]

​Artinya:​

​Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.​

           ☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian ​AUDIO​ di bawah ini.

Selamat menyimak. Link audio kajian 

Suami Tidak Sholat

Assalamu’alaikum..Mohon pencerahannya tadz..
Bagaiaman jika suami tidak melaksanakan shalat.sang istri sudah sering mengingatkan tetapi tetep ia tidak mau.lalu apakah istri boleh menolak untuk berjima.karena saya pernah baca bahwa muslim yg tidak shalat di katagorikan sebagai  non muslim.syukron

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Saya pernah buat artikel “Hukum Meninggalkan Shalat”, intinya ada beberapa pembahasan ulama:

1. Jika tidak shalat karena MENGINGKARI kewajibannya, maka sepakat semua ulama org itu murtad.

2. Jika tidak shalat karena malas atau sengaja tapi TIDAK MENGINGKARI kewajibannya, maka ada 3 pendapat ulama:

a. Dia kafir, ini pendapat Imam Ahmad bin Hambal, diberi waktu tibat selama 3 hari, jika tidak tobat maka hukuman mati

b. Dia masih muslim, tapi dosa besar, fasiq, ini pendapat Imam Syafi’i dan Imam Malik. Diberikan waktu tobat 3 hr, jika tdk tobat, mk  hukumannya tetap mati krn meninggalkan perintah agama adalah kejahatan besar.

c. Dia masih muslim, dosa besar, fasiq, hukumannya adalah dikucilkan dari msyrkt Muslim.

Jk seorg suami tdk shalat, maka lihat dulu kriteria di atas.

Wallahu a’lam.

Lawan Bersatu, Jangan Dibiarkan!​

Sekelompok kavaleri pengintai dari balatentara Bulgaria di pinggiran kota ​Edirne​, setelah 25 Maret 1913 yang menandai jatuhnya kota tersebut, AND.

Bulgaria telah meminta bantuan meriam berat Serbia untuk meluluh-lantakkan kota Edirne pada awal Perang Balkan Kedua yang dimulai kembali pada 30 Januari 1913. Berbagai upaya serangan untuk mematahkan kepungan Bulgaria dilancarkan oleh Şükrü Paşa sebagai jenderal Turki Utsmani yang mempertahankan kota.

Namun bantuan tak kunjung datang karena Pusat Komando balatentara Turki Utsmani lebih memprioritaskan peningkatan garis pertahanan Çatalca. Garis ini adalah yang terakhir sebelum kota İstanbul. Dalam kondisi serba kekurangan dan banyaknya pengungsi sipil di dalam kota yang berpotensi menjadi korban, maka pada jam 13.00 tanggal 25 Maret 1913, Şükrü Paşa menyerah kepada Jenderal Ivanov.

​Edirne​ yang pernah menjadi ibukota kedua setelah Bursa dan sebelum İstanbul hancur lebur kecuali beberapa masjid seperti Selimiye Cami pada gambar ini. Kota kelahiran Mehmet II Fatih itu harus menunggu hingga 21 Juli tahun yang sama untuk dibebaskan kembali. Kolapsnya Aliansi Balkan melemahkan posisi pendudukan Bulgaria. Enver Bey, pimpinan Turki Muda yang berhasil mengkudeta Sultan Mehmet V Reşat, memanfaatkan kelemahan itu. Enver Bey mengerahkan 250.000 pasukan dibawah Ahmet İzzet Paşa untuk merebut kembali kota bersejarah itu. Namun, Enver Bey yang mengklaim sebagai Pembebas Edirne Kedua.

Agung Waspodo, bekerja agar kesatuan Kaum Muslimin tidak lagi pecah belah.

Depok, 7 Mei 2017

Muntah Saat Puasa

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Jika seseorang Sedang sakit asam lambung, dan ketika bersendawa kadang keluar muntahan dan secara reflek tertelan.
Bagaimana hukumnya?

Terimakasih ☺

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

itu tdk sengaja .. baik muntahnya dan tertelannya, tidak apa-apa.

Sebagaimana ayat: ​Laa tuakhidzna inna siina aw akhtha’na​ .. – Jangan salahkan kami jika kami lupa atau kesalahan yg tidak sengaja.

Wallahu a’lam.

Bacalah Dengan Nama Tuhanmu (QS. Al-‘Alaq) Bag. 3 Selesai

© Pilihan yang Selalu Berkonsekuensi

▪Jika mendustakan dan menghalang-halangi dakwah serta risalah yang dibawa Nabi Muhammad merupakan pilihan yang diambil oleh orang yang tidak memahami atau mengingkari dahsyatnya nikmat dan karunia diutusnya beliau, maka balasan yang buruk sangat pantas baginya. Karena ia telah melecehkan keberadaan dan kekuasaan Dzat Yang Maha Melihat.

”Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatan-nya?” (QS. 96: 14)

▪Bisa jadi bukan karena ketidaktahuan, namun karena kesombongan dan keangkuhan hati yang menutupi kesadaran akan kemahabesaran Allah. Karenanya ia berbuat sesuka hati dan tidak pernah sekalipun ia mengerem nafsunya serta memperturutkan hawa dan syahwat kesesatannya. Ia tidak sadar bahwa yang ia musuhi dan ia hadapi bukanlah sekedar anak yatim saja. Tapi beliau adalah utusan Sang Maha Perkasa yang secara penuh memback up dakwahnya.

▪Tidakkah ia sadar akan ancaman Allah, ”Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” (QS. 96: 15-16)

©Menurut al-Mubarrid, salah seorang pakar Bahasa Arab terkemuka, mengatakan, ”as-saf’u” artinya mengambil dengan paksa dan kekerasan. Apalagi yang diambil di sini adalah ubun-ubun. Maka bukan hanya fisik yang tersakiti. Ia akan benar-benar merasa terhinakan dan direndahkan. Karena ubun-ubun atau kepala adalah bagian termulia manusia.

▪Ada pendapat lain dari al-Farra` bahwa yang dimaksud di sini adalah menghitamkan wajah sebagai kiasan akan ditimpakan kepadanya adzab neraka yang pedih dan menghanguskan.

▪Yaitu ubun-ubun atau wajah yang hangus milik sang pendusta yang mengingkari dan memusuhi serta menyakiti Nabi Muhammad saw. Para pakar bahasa di sini membolehkan badal (ganti) dengan menggunakan isim nakirah padahal sebelumnya disebut dengan isim makrifat.

▪Az-Zamakhsyari dan Abu Hayyan memberikan dispensasi tersebut karena isim nakirah setelah makrifat tersebut memberikan penjelasan sebagai sifat. Sehingga seolah ia berdiri sendiri memberikan penjelasan tambahan setelahnya (al-ifadah).

▪Jika hal di atas terjadi, maka kepada siapa lagi ia hendak meminta pertolongan. ”Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya)” (QS. 96: 17)

Sebagaimana ia mengumpulkan mereka didarunnadwah, mengadakan konspirasi untuk mencelakakan Nabi Muhamamd saw. Dalam ayat ini seolah kata ”nadiah” yang berarti majelis menyimpan sebuah mudhaf yaitu para pegiatnya.

▪Namun, panggilan dan permintaan tolong tersebut tak menghasilkan apapun kecuali keputusasaan dan penyesalan. Karena nasib mereka juga tak lebih baik darinya. Justru Allah yang ”… akan memanggil Malaikat Zabaniyah” (QS. 96: 18) dan diperintahkan untuk mendatanginya, kemudian memberikan siksaan yang tiada tandingan dan bandingannya sebelum dan sesudahnya.

▪Maka, orang dengan karakter pembangkang dan pendusta tersebut tak perlu lagi didengar perkataannya apalagi sampai terpengaruh dengan syubhat dan ejekannya. Dan salah satu jalan untuk menguatkan diri dari pengaruh kejelekan tersebut yang paling mujarab adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah dan bersujud kepada-Nya.

”Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)” (QS. 96: 19)

▪Para ulama kemudian menyimpulkan bahwa kedekatan terbaik dan paling dekat seorang hamba dengan rabbnya terjadi pada saat ia bersujud. Apalagi ada sebuah hadits yang menyatakan,

”Keadaan yang paling dekat dari seorang hamba dengan Tuhannya adalah pada saat ia bersujud maka perbanyaklah berdoa”.

©Penutup

Semoga akhir yang tragis yang dialami oleh Abu Jahal –baik di dunia dengan mati terhinakan atau di akhirat sengsara dalam keabadian adzab-Nya- bisa kita jadikan pelajaran untuk tidak mencoba-coba menjadi penghalang dakwah Rasulullah saw atau menjadi orang yang mengabaikan sunnah-sunnahnya. Karena, pertemuan dengan makhluk termulia ini menjadi impian setiap muslim.

Semoga kelak kita dipertemukan dengan beliau dalam naungan ridha Allah swt, Aamiin.

Jari Telunjuk Bergerak-Gerak Ketika Taayahud

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Afwan ustadz apa hukumnya mengetakan jari saat attahiyat karena ada yg mengatakan itu adalah bid’ad.
mohon penjelasannya tadz.syukron

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
( Ada pertanyaan yang serupa yang pernah dibahas)
Assalamu ‘Alaikum, Wr Wb. Saya sering melihat orang-orang tasyahhudnya berbeda di sisi mengacungkan jari kedepan :
-Ada yang dikibaskan
-Ada yang biasa
-Ada yang menunggu sampai bacaan tertentu..
Saya sering juga melihat orang-orang takbir berbeda
-Ada yang dengan slowmotion/gerak lambat (Enggak bohong !!!!)
-Ada yangg dengan dikekirikan/kanan
-Ada yangg biasa…Yang mana yang benar ?
Tolong pencerahannya
Jazakumullah

Jawab:
Wa ‘alaikum Salam Wa Rahmatullah wa Barakatuh. Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

Apa yang Anda lihat, bahwa ada yang mengkibaskan (menggerak-gerakkan), atau yang biasa saja, atau ada yang menggerakkan pada bacaan tertentu, adalah khilafiyah yang memang benar-benar ada. Maka Anda tidak usah heran, sebab itu terjadi lantaran perbedaan mereka dalam menafsirkan hadits-hadits nabi tentang hal ini.

Dari Wail Bin Hujr Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:

وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ وَرُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَجَعَلَ حَدَّ مِرْفَقِهِ الْأَيْمَنِ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ قَبَضَ اثْنَتَيْنِ مِنْ أَصَابِعِهِ وَحَلَّقَ حَلْقَةً ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا

Bahwa rasulullah meletakkan tangannya yang kiri di atas pahanya dan lututnya yang kiri, dan meletakkan siku kanan di atas paha kanannya, kemudian dia menggenggam jari jemarinya dan membentuk lingkaran. Lalu dia mengangkat jarinya (telunjuk) dan aku melihat dia menggerak-gerakkannya, sambil membaca doa.”[1]

Syaikh Al Albany mengomentari hadits ini:

 أولا : مكان المرفق على الفخذ. ثانيا : قبض إصبعيه والتحليق بالوسطى والإبهام .ثالثا : رفع السبابة وتحريكها    .رابعا : الاستمرار بالتحريك إلى آخر الدعاء

Pertama. Tempat siku adalah di paha. Kedua. Menggenggam jari jemari dan membentuk lingkaran antara jari tengah dan jempol. Ketiga. Mengangkat jari telunjuk. Keempat. Terus-menerus menggerakkannya sampai akhir do’a.[2]

Sangat berbeda dengan Syaikh Al Albany, Imam Al Baihaqi mengomentari demikian:

 يحتمل أن يكون المراد بالتحريك الاشارة بها. لا تكرير تحريكها، ليكون موافقا لرواية ابن الزبير: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يشير بإصبعه إذا دعا لا يحركها. رواه أبو داود بإسناد صحيح.

“Mungkin yang dimaksud dengan menggerakkan itu adalah memberikan isyarat menunjuk, bukan menggerak-gerakkan secara berulang-ulang, agar hadits ini sesuai dengan riwayat dari Ibnu Zubeir, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan isyarat dengan jarinya jika dia berdoa tanpa menggerak-gerakkannya.” Diriwayatkan Abu Daud dengan sanad shahih. [3]

Lalu Imam An Nawawi Rahimahullahmengatakan:

واما الحديث المروى عن ابن عمر عن النبي صلي الله عليه وسلم ” تحريك الاصبع في الصلاة مذعرة للشيطان ” فليس بصحيح قال البيهقى تفرد به الواقدي وهو ضعيف

“Adapun hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Menggerakan jari dalam shalat adalah hal yang ditakuti syetan,’ tidaklah shahih. Berkata Al Baihaqi: Al Waqidi meriwayatkannya sendiri, dan dia dha’if.” [4]

Namun Syaikh Al Albany menyanggah pendapat ini karena hadits dari Ibnu Zubeir yang katanya shahih menurut Imam al Baihaqi, ternyata ghairu shahih (tidak shahih) menurut hasil penelitiannya.[5]

Beliau juga memperkuat dengan hadits dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لهي أشد على الشيطان من الحديد

“Gerakan telunjuk itu benar-benar lebih ditakuti syetan dibanding besi.” [6]

Beliau mengatakan bahwa para sahabat nabi melakukan itu, yakni menggerakan jari sebagai isyarat ketika doa, karena mereka menyontoh terhadap sesama sahabat lainnya. Sebagaiana yang dikatakan Ibnu Abi Syaibah secara hasan. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun melakukannya pula pada semua duduk tasyahudnya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh  An Nasa’i dan Al Baihaqi dengan sanad shahih. [7]

Sementara Syaikh Sayyid SabiqRahimahullah berkata:

وقد سئل ابن عباس عن الرجل يدعو يشير بإصبعه؟ فقال: هو الاخلاص. وقال أنس بن مالك: ذلك التضرع، وقال مجاهد: مقمعة للشيطان. ورأى الشافعية أن يشير بالاصبع مرة واحدة عند قوله (إلا الله) من الشهادة، وعند الحنفية يرفع سبابته عند النفي ويضعها عند الاثبات، وعند المالكية، يحركها يمينا وشمالا إلى أن يفرغ من الصلاة، ومذهب الحنابلة يشير بإصبعه كلما ذكر اسم الجلالة، إشارة إلى التوحيد، لا يحركها.

“Ibnu Abbas ditanya tentang seorang yang memberikan isyarat dengan telunjuknya. Beliau menjawab: ‘Itu menunjukkan ikhlas.’ Anas bin Malik berkata: ‘Itu menunjukkan ketundukan.’ Mujahid berkata: ‘Untuk memadamkan syetan.’ Sedangkan golongan syafi’iyah memberikan isyarat dengan jari hanya sekali yakni pada ucapan Illallah (kecuali Allah) dari kalimat syahadat. Sedangkan menurut golongan Hanafiyah, mengangkat jari telunjuk ketika ucapan pengingkaran (laa ilaha/tiada Tuhan) lalu meletakkan lagi ketika ucapan penetapan(Illallah/ kecuali Allah). Sedangka menurut Malikiyah menggerak-gerakan ke kanan dan ke kiri hingga shalat selesai. Sedankan madzhab Hanabilah (hambali) memberikan isyarat dengan jari telunjuk ketika disebut lafzul jalalah (nama Allah) sebagai symbol tauhid, tanpa menggerak-gerakkannya.” [8]

📌 Tata Cara Mengangkat Tangan Takbiratul Ihram

Tidak dibenarkan slowmotion (terlalu lama) atau terlalu cepat, dan di main-mainkan ke kanan ke kiri.  Hendaknya  kita melakukan secara wajar mengikuti sunah nabi. Di angkat sejajar bahu atau hampir sejajar bahu, bersamaan dengan takbir atau sebelum membaca takbirtul  ihram.

Berkata Syaikh Muhammad NashiruddinAl Albany Rahimahullah:

( البخاري وأبو داود وابن خزيمة ) و ( كان يرفع يديه تارة مع التكبير وتارة بعد التكبير وتارة قبله )
( أبو داود وابن خزيمة ) كان يرفعهما ممدودة الأصابع [ لا يفرج بينها ولا يضمها ] )

 ( البخاري وأبو داود ) و ( كان يجعلهما حذو منكبيه وربما كان يرفعهما حتى يحاذي بهما [ فروع ] أذنيه )

“Rasulullah mengankat kedua tangannya, kadang bersamaan dengan takbir, kadangkala setelah takbir, dan kadang kalasebelum takbir. “ (HR. Bukhari, Abu Daud, dan Ibnu Khuzaimah)

“Rasulullah mengangkat kedua tangannya dengan jari terbuka (tidak merenggangkan dan tidak menggenggamnya) (HR. Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah)

“Rasulullah mengangkat tangannya hingga sampai sejajar kedua bahunya, dan terkadang sampai kedua telinganya.” (HR. Bukhari dan Abu Daud) [9]

Berkata Syaikh Sayyid SabiqRahimahullah:

والمختار الذي عليه الجماهير، أنه يرفع يديه حذو منكبيه، بحيث تحاذي أطراف أصابعه أعلى أذنيه، وإبهاماه شحمتي أذكيه، وراحتاه منكبيه.
قال النووي: وبهذا جمع الشافعي بين روايات الاحاديث فاستحسن الناس ذلك منه.
ويستحب أن يمد أصابعه وقت الرفع.
فعن أبي هريرة قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا قام إلى الصلاة رفع يديه مدا. رواه الخمسة إلا ابن ماجة.
وقت الرفع: ينبغي أن يكون رفع اليدين مقارنا لتكبيرة الاحرام أو متقدما عليها.
فعن نافع: أن ابن عمر رضي الله عنهما كان إذا دخل في الصلاة كبر ورفع يديه، ورفع ذلك إلى النبي صلى الله عليه وسلم.
رواه البخاري والنسائي وأبو داود.
وعنه قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يرفع يديه حين يكبر حتى يكونا حذو منكبيه أو قريبا من ذلك.
الحديث رواه أحمد وغيره.
وأما تقدم رفع اليدين على كبيرة الاحرام فقد جاء عن ابن عمر قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا قام إلى الصلاة رفع يديه حتى يكونا بحذو
منكبيه ثم يكبر، رواه البخاري ومسلم.
وقد جاء في حديث مالك بن الحويرث بلفظ: (كبر ثم رفع يديه) رواه مسلم.
وهذا يقيه تقدم التكبيرة على رفع اليدين، ولكن الحافظ قال: لم أر من قال بتقديم التكبيرة على الرفع.

Riwayat yang dipilih oleh jumhur(mayoritas) adalah mengangkat tangan itu harus sejajar dengan kedua bahu sampai ujung jari sejajar dengan puncak kedua telinga, kedua ibu jari dengan ujung bawahnya serta kedua telapak tangan dengan kedua bahunya.

An Nawawi mengatakan: “Dengan cara ini Asy Syafi’i telah menghimpun beberapa riwayat hadits hingga ia mendapat pengakuan dari kalangan ulama.” Dan, disunnahkan merenggangkan jari jemari pada saat mengangkat tangan. Dari Abu HurairahRadhiallahu ‘Anhu:

“Jika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamhendak melakukan shalat maka beliau mengangkat kedua tangannya sambil merenggangkannya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, An Nasa’i, dan At Tirmidzi kecuali Ibnu Majah)

Saat mengangkat kedua tangan. Hendaknya mengangkat kedua tangan itubersamaan waktunya dengan mengucapkan takbiratul ihram atau mendahulukannya sebelummembaca takbiratul ihram. Nafi’ berkata:

“Jika Ibnu Umar hendak memulai shalat, maka ia membaca takbir dan mengangkat kedua tangannya. Hal ini dinyatakannya berasal dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Bukhari An Nasa’i dan Abu Daud)

Dari Nafi’ juga: “Bahwa RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya ketika takbir hingga sejajar dengan kedua bahu atau hamper sejajar dengannya.” (HR. Ahmad dan lainnya)
               
Adapun mendahulukan mengangkat kedua tangan sebelum takbiratul ihram, maka telah ada riwayat dari Ibnu Umar dia berkata: “Apabila Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri hendak mengerjakan shalat maka beliau mengangkat kedua belah tangannya sehingga sejajar dengan kedua bahunya, lalu beliau membaca takbir.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan telah diterima hadits dari Malik binAl Huwairits dengan lafaz: “Ia membaca takbir, lalu mengangkat kedua tangannya.” (HR. Muslim)

Hadits ini membolehkan mendahulukan takbir daripada mengangkat tangan. Akan tetapi, Al Hafizh (Ibnu Hajar) berkata: “Saya tidak pernah melihat adanya orang yang mengatakan bahwa didahulukannya takbir daripada mengangkat kedua tangan.”[10] Demikian.

Wallahu A’lam

🍃🍃🍃🍃🍃
                      
[1] HR. An Nasa’i, Kitab Al Iftitah Bab Maudhi’Al Yamin minasy Syimali fish Shalah, Juz. 3, Hal. 433 No hadits. 879. Ahmad, Juz.38, Hal. 331, No hadits. 18115.
[2] Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albany, Tamam Al Minnah, Juz. 1, Hal. 221.
[3] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 170. Lihat juga Imam An Nawawi,Al Majmu’ Syarah al Muhadzdzab, Juz. 3, Hal. 454.
[4] Imam An Nawawi, Majmu’ Syarah al Muhadzdzab, Juz. 3, Hal. 454-455. Darul Fikr.
[5] Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Tamamul Minnah, Juz. 1, Hal. 217.
[6] HR. Ahmad, Juz. 12, Hal. 265, No hadits. 5728, Lihat pula Tamamul Minnah, Juz. 1 Hal. 220. Dan Shifah ash Shalah an Nabi, Hal. 159.
[7] Ibid
[8] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 171.  Lihat juga Imam An Nawawi, Majmu’ Syarah al Muhadzdzab, Juz. 3, Hal. 455.
[9] Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Shifah Ash Shalah An Nabi, Hal.  86. Maktabah Al Ma’arif  Linasyr wat Tauzi’.
[10] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 142-143. 

Wallahu a’lam.

Selalu ada Bahaya Besar sebelum Kemenangan Besar​ ​(Ketika Sultan Mehmed II belum Bergelar Fatih)​

Sejak kemarin, 26 Mei, tahun 1453, Sultan Mehmed II masih terus dirayu oleh sadrazam-nya untuk mencabut kepungan atas Konstantinopel. Çandarli Halil Paşa menawarkan pendekatan kompromi terhadap Kaisar Konstantin XI. Mengajukan tuntutan upeti kepada kaisar merupakan salah satu usulannya. Keluarga Çandarli telah lama menjalin hubungan diplomatik antara Turki Utsmani dan Byzantium; upeti bukan barang baru dalam diplomasi.

Untung saja, Mehmed II telah lama melihat gelagat buruk ini. Beliau menempatkan panglima Zaganos Paşa pada posisi sadrazam-sani, satu tingkat dibawah sadrazam, dalam lingkar inti penasihatnya. Kepahlawanan Zaganos Paşa lebih dari cukup untuk mengimbangi pengaruh Halil Paşa. Sepertinya masih ada harapan untuk menggelorakan semangat tempur.

Hari ini, 27 Mei, tahun 1453, Mehmed II mengunjungi setiap kemah kesatuan tempurnya untuk meraba denyut juang pasukan barisan terdepan. Mehmed II tidak menemukan alasan untuk bersedih karena hampir semua kesatuan ingin menjadi yang pertama melampaui dinding pertahanan kota. Mehmed II menginstrusikan agar kisah Sahabat Abu Ayyub al-Anshari (ra) dibacakan kembali di setiap kemah kesatuan.

Tidak ada yang tahu bahwa 2 hari kemudian kota Konstantinopel jatuh ke tangan Kaum Muslimin Turki Utsmani. Nubuwwat Nabi SAW tentang pembebasan kota akhirnya terwujud setelah 8 abad lamanya.

Apa kiranya bahaya besar yang harus diatasi Kaum Muslimin di Indonesia sebelum Allah SWT memberkahi negeri ini dengan kemenangan yang besar?

Agung Waspodo
Depok, 27 Mei 2017