Shalat Jumat Bagi wanita Menggugurkan Shalat Zhuhurnya

Ustadz Menjawab
Kamis, 13 September 2018
Ustadz Farid Nu’man Hasan
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….Apa hukumnya sholat  jum’at bagi wanita? Apakah itu otomatis menggugurkan kewajiban sholat dhuhur….ataukah sekedar sbg sholat sunnah saja, sehingga tetap harus menunaikan sholat dhuhur?
Jazakillah khaiir.
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
📌 Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan buat orang yang tidak wajib shalat jumat (seperti anak-anak, wanita, musafir, orang sakit):
وكل هؤلاء لا جمعة عليهم وإنما يجب عليهم أن يصلوا الظهر، ومن صلى منهم الجمعة صحت منه وسقطت عنه فريضة الظهر وكانت النساء تحضر المسجد على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وتصلى معه الجمعة
“Semuanya   tidak diawajibkan shalat jumat, yang diwajibkan buat mereka adalah shalat zhuhur. Dan, barang siapa diantara mereka ikut shalat jumat, maka shalatnya sah dan gugurlah kewajiban shalat zhuhur. Dahulu para wanita hadir di masjid pada zaman Rasulullsh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan shalat jumat bersamanya. (Fiqhus Sunnah, 1/303. Darul Kitab Al ‘Arabi)
📌 Fatwa Al Lajnah Ad Daimah:
لا تجب الجمعة على المرأة ، لكن إذا صلت المرأة مع الإمام صلاة الجمعة فصلاتها صحيحة وتكفيها عن صلاة الظهر ، وإذا صلت في بيتها فإنها تصلي ظهراً أربعاً ، ويكون بعد دخول الوقت، أي بعد زوال الشمس
“Wanita tidak wajib shalat jumat, tetapi jika dia shalat bersama imam pada shalat jumat maka shalatnya sah dan itu telah mencukupinya dari shalat zhuhur. Jika dia mau shalat di rumahnya, maka dia shalat zhuhur empat rakaat yaitu setelah masuknya waktu, setelah tergelincirnya matahari.” (Fatawa Islamiyah, No. 412)
Wallahu a’lam.

Mati syahid

Ustadz Menjawab
Rabu, 12 September 2018
Ustadzah Dra. Indra Asih
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Apa  saja kategori mati syahid fii sabilillah? Bagaimana cara meraihnya? Setiap mendengar keutamaan2 mati syahid hati sy bergemuruh, air mata tak terbendung.  bisakah mendapatkan?? Sedangkan sy bukan siapa2
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Definisi syahid menurut para ulama
a. Al-Hanafiyah
Mewakili madzhab Al-Hanafiyah, Ibnu Abidin mendefinisikan tentang orang yang mati syahid sebagai :
هُوَ كُلُّ مُكَلَّفٍ مُسْلِمٍ طَاهِرٍ قُتِلَ ظُلْمًا بِجَارِحَةٍ
Semua orang yang mukallaf, muslim, suci dari hadats, terbunuh secara zalim dengan luka-luka.
b. Al-Malikiyah
Ada pun ulama di kalangan madzhab Al-Malikiyah membuat definisi tentang orang yang mati syahid dengan redaksi :
شَهِيْدٌ مُعْتَرِكٌ فَقَطْ وَلَوْ بِبَلَدِ الإِسْلاَمِ أَوْلَمْ يُقَاتِلْ وَإِنْ أَجْنَبَ عَلَى الأَحْسَنِ إِلاَّ إِنْ رَفَعَ حَيًا وَإِنْ أَنْفَذَتْ مُقَاتِلهُ
Hanya yang ikut dalam perang fisik saja, meski matinya di negeri Islam dan tidak ikut membunuh, meski pun berjanabah, dan bukan orang yang keluar dalam keadaan hidup meski ditolong oleh lawan.
c. Asy-Syafi’iyah
Sedangkan definisi mati syahid dalam pandangan mazhab Asy-Syafi’iyah adalah :
مَنْ مَاتَ بِسَبَبِ قِتَالِ الكُفَّارِ حَالَ قِيَامِ القِتَالِ
Orang yang mati karena sebab memerangi orang-orang kafir ketika terjadi peperangan.    Kesimpulannya, melihat definisi diatas, siapapun bisa berpeluang tuk mendapatkan syahid bila ia sungguh sungguh berjuang tuk fi sabilillah.
Wallahu a’lam.

Jalinan Ukhuwah Lillah

📆 Rabu, 02 Muharram 1440 H / 12 September 2018
📚 Motivasi
 
📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika
Mari mengekspresikan indahnya kebersamaan agar hidup bertambah hidup. Hiduplah hidup berada dalam satu jalan. Hiduplah hidup berada dalam naungan. Hiduplah hidup untuk bersapaan. Hiduplah hidup berada dalam kebersamaan.
Keindahan dunia tak kan bisa kita nikmati kala kesendirian. Bila sepi melanda teman perlu dihadirkan. Inilah saatnya kita ambil peran. Saling menolong sudah menjadi kebiasaan. Hidup bermasyarakat kan jadi tuntutan. Ajaran kebaikan selalu jadi pedoman.
Rasulullah pernah ditanya tentang amal apa yang banyak memasukkan orang ke dalam surga, demikian Abu Hurairah meriwayatkan, lalu Nabi saw menjawab, “Taqwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” (Hr. Tirmidzi dan Ibn Hibban).
Bencana terbesar bagimu adalah Allah telah memberimu kesempatan yang sama untuk berbuat baik, tapi engkau memilih perbuatan yang buruk dengan sadar. Jika kamu berbuat baik atau buruk, maka sesungguhnya perbuata itu untuk dirimu sendiri.
Kawan itu bak cermin dalam kehidupan kita. Adanya saling mengingatkan, tiadanya saling meninggalkan jejak kebaikan. Perbaikilah kamu dan perbaiki aku, saling mengingatkan. Karena setiap kebaikan akan menyebar dan menghadirkan kebaikan yang lain. Hal itu tidak akan mungkin terjadi tanpa kita berada dalam kebersamaan. Maka jangan pernah berniat sedikit pun meninggalkan kebersamaan ini. 
Tapi tak mudah memang mencari sahabat yang sejati. Sahabat yang selalu menemani dalam suka dan duka. Mengerti apa yang harus terisi di hati. Merasa apa yang membuat ia tak kuasa. Memenuhi harapan dan mencukupi keinginan. Mencari sahabat sejati sering diawali dengan kesiapan diri untuk memberi, bukan menerima. Lantaran seseorang yang diberi lebih mudah menjadi sahabat sejati.
Ketika pun terjadi pada kita, kita membutuhkan orang lain. Kita membutuhkan ada orang yang mendengarkan keluh isi hati ini. Ketika seseorang mengeluarkan isi hatinya, menumpahkan segala asa, menjadi plong jiwanya. Beban itu terkurangi, mungkin malah terlepaskan. Soal memberi solusi itu bagian lain yang diharapkan. Bagilah beban pada orang yang dapat dipercaya, shohib, atau sahabat. Sahabat sejati selalu jadi cermin bagi yang lainnya.
Seindah sabda Nabi yang dikisahkan Imam Bukhari; “Seorang mukmin adalah cermin dari saudaranya. Seorang mukmin itu bersaudara dengan mukmin lainnya. Dia tidak akan membiarkannya disia-siakan dan dicampakkan, dan dia akan menjaganya dari belakang.”
Namun ingin menjadi shalihah bersama itu tak mudah bahkan butuh perjuangan bahkan kadang harus ada yang berkorban. Seberapa pun tangguhnya seorang Muslimah, ia tak mungkin bisa hidup sendiri. Ketangguhan atau kerapuhan seseorang itu memang pilihan hidup. Tapi, kebutuhan akan hadirnya orang lain dan bersama-sama di tengah kita adalah cara yang paling efektif untuk mewujudkan dan menjaga ketangguhan itu.
“Meski yang menghubungkanku dengan orang lain hanya seutas benang, maka akan kujaga jalinannya. Bila ia mengendurkan aku akan mengencangkan, dan bila ia mengencangkan aku akan mengendurkannya hingga tak putus ikatannya.” 
Kata itu sederhana tapi teramat dalam maknanya. Terucap dari seorang shahabat Nabi sekaligus negarawan yang tak perlu diragukan keislamannnya, Mu’awiyah ibnu Sufyan r.a. Inilah seni berteman. Menjaga, merawat, memelihara jauh lebih sulit daripada mengawali pertemanan dan persaudaraan. Mengawali sangat mudah karena kita masih tahu sisi-sisi baiknya saja, benturan belum ada, keasliannya belum tampak. Yang tampak baru sedikit, itu pun indah-indah saja.
Sesulit apa pun, jalin persaudaraan dengan siapa pun. Dengan harapan banyak kebaikan yang akan kita peroleh bila bisa berinteraksi dengannya. Apalagi kita tahu sekiranya berteman dengannya akan membuat ter-upgrade keimanan dan ketakwaan kita. Kenapa kita butuh untuk mencari teman? Tak perlu bekernyit dahi mengulas teori manusia makhluk sosial. Adalah sangat manusiawi jika kita memang butuh teman. Kita butuh teman bicara. Kita butuh teman untuk saling mengisi. Tak hanya itu, tentunya kita memilih teman yang baik agar bisa saling menasihati. 
Seperti perumpamaan dalam sebuah hadits Rasulullah saw yang menjelaskan tentang pengaruh teman. Sabda Rasulullah, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628).
Maka menjaga indahnya ukhuwah agar keshalihan terjaga.Hidup dalam kebersamaan pasti berbenturan dengan kepentingan masing-masing orang. Setiap kepala berbeda yang dipikirkannya. Jangankan beda kepala, satu kepala saja banyak yang dipikirkan, sekiranya mana yang akan didahulukan dari keinginan yang muncul.
Saya jadi teringat Imam Syafi’i pernah memberi nasihat, ”Kalau ternyata nafsumu mendorong untuk membalas seseorang atas dirimu, maka renungkan kebaikan-kebaikan yang pernah ia lakukan untukmu, lalu gugurkan satu dari padanya sebagai balasan atas dosanya. Tapi jangan sekali-kali mengurangi kebaikan-kebaikan hanya karena dosa yang satu ini, karena itulah kezaliman yang sesungguhya. Jika kamu memiliki sahabat dekat maka peganglah erat-erat. Karena mencari sahabat amatlah susah, sedangkan memutuskan sahabat itu mudah.”(Shifatushafwah:1/234).
Cari sahabat dalam kebaikan butuh proses. kenalan dulu…. terus ngobrol makin dekat terus dan semakin dekat. kadang sebulan baru bisa dekat. Tapiiii….
Coba saja mau cari musuh. lepas sepatu lempar orang lewat… nah dapat tuh musuh kan….. apalagi sepatunya hak tinggi lempar pas kepala. Sekejap udah jadi musuh. Maka…..
Seperti tadi bagaimana muawiyah kasih nasihat. agar senantiasa terjaga keshalihan diantara kita. saling mengerti, menasihati, memberi ruang, memotivasi. Menjaga, merawat itu jauh lebih berat dibanding memulai. Bila diukur dengan materi, persahabatan dan persaudaraan itu sangat mahal harganya. Tak terbeli oleh materi. Tak tertukar oleh dolar. Tak tergoyah oleh rupiah. Persaudaraan hakiki berasal dari hati. Dan keikhlasan dari semua yang terjadi porosnya adalah hati.
Hidup dalam kebersamaan. Tak mudah seperti apa yang dibayangkan kadang butuh pengorbanan dan saling menjaga perasaan. Yang terpenting dari kita bila bergaul dengan siapa saja lakukan dengan tulus dari lubuk hati yang terdalam. Kejujuran dan selalu bersikap apa adanya dengan orang lain menjadi bumbu indahnya persaudaraan. Beginilah ukhuwah. Bila ada kesalahan temanmu tuliskan di atas pasir biarlah angin menerpanya. Namun bila kau lihat kebaikan yang ada pada dirinya tuliskan di atas batu biar mampu dikenang sepanjang masa. Mengingat setiap kebaikan yang ia perbuat dan menghapus segala khilaf dan alpa dari saudara kita. Kita harus menyadari keberadaannya hingga tanpa ia sadari khilaf dan lupa terlahirkan begitu saja.
Wallahul musta’an

Berniaga Dgn Non Muslim

Ustadz Menjawab
Selasa, 11 September 2018
Ustadz Oni Syahroni
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Afwan ustadz wa ustadzah.. saya mau bertanya, jika seorang muslim berdagang.. ketika ada pembeli yang non muslim membeli dagangan kita,, boleh tidak? Dan status uangnya itu bagaimana ustadz?? Halalkah atau bagaimana.. mohon penjelasan beserta dalilnya ustadz..syukron 🙏
Jawaban
————–
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Dalam fikih, tidak ada larangan bagi setiap pihak dalam transaksi bisnis untuk membeli atau menjual komoditasnya kepada non-muslim selama dipastikan bahwa komoditas yang dijual atau keuntungan yang didapatkan oleh penjual non-muslim tidak diperuntukkan untuk hal yang maksiat atau mendzalimi masyarakat atau umat islam.
Kebolehan tersebut sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah saw yang pernah bermuamalah dengan non-muslim, dimana beliau membeli secara tidak tunai dari seorang yahudi, sebagai jaminannya adalah baju besinya.
Sesusai hadits dari ‘Aisyah r.a yang menyampaikan bahwa:
اشترى رسول الله صل الله عليه وسلم من يهودي طعاما بنسيءة، فاعطاه درعا له رهنا (رواه مسلم).
Di samping itu dalam rukun dan syarat akad, tidak disyaratkan bahwa pihak-pihak yang menjadi mitra bisnis kita harus muslim. Oleh karena itu dalam syarat-syarat atau kriteria pihak-pihak akad atau ‘aqid yang ada hanya baligh, berakal, dan rasyid, dan tidak ada syarat agama atau harus muslim.
Kaidah ini juga sesuai dengan aspek maslahat yang menuntut transaksi atau muamalah itu dilakukan terhadap muslim dan non-muslim, karena tidak setiap komoditas yang kita butuhkan bisa kita dapatkan pada umat islam. Apalagi saat ini, dimana banyak sekali kebutuhan-kebutuhan seperti alat kesehatan dan sebagainya yang hanya bisa kita dapatkan atau bisa kita beli dari non-muslim.
Dari aspek fikih aulawiyat atau fikih prioritas, selama pilihan yang boleh atau bertransaksi dengan non-muslim itu tidak hanya satu, maka kita memilih pilihan yang paling ashlah (yang paling maslahat). Begitupula jika pilihannya adalah muslim dan non-muslim, maka kita memilih bermitra dengan sesama muslim, juga apabila pilihannya sesama muslim maka kita memilih pilihan muslim yang paling bermanfaat untuk  umat islam.
Wallahu a’lam.

Jangan Kriminalisasi Kalimat Tauhid Kami

📆 Selasa, 01 Muharrom 1440H / 11 September 2018
📚 Muamalah

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.
📌 Ini realita yang mengherankan dan menyedihkan
📌 Sebagian orang menjadikan tulisan Laa Ilaaha Illallah seolah seperti musuhnya, padahal dia muslim
📌 Tulisan tersebut menjadi monster bagi kehidupannya, bahkan menurutnya menjadi ancaman bagi negaranya
📌 Padahal Laa Ilaaha Illallah, dia baca dalam shalat
📌 Laa Ilaaha Illallah, adalah bukti iman yang tertinggi
📌 Laa Ilaaha Illallah, adalah dzikir yang paling utama
📌 Laa Ilaaha Illallah, adalah ucapan yg jika dibaca diakhir hidup maka surga baginya
📌 Tapi, jika ada tulisan Laa Ilaaha Illallah di stiker mobil, hiasan dinding, apalagi bendera para demonstran .. mereka  langsung curiga dan menuduh, Ini HTI!! Ini ISIS!!
📌 Begitu polos dan simplistismya mereka, mereka lupa kalimat itu milik semua umat Islam, bahkan milik diri mereka sendiri
📌 Jauh sebelum ada HTI di negeri ini, tulisan Laa Ilaaha Illallah sudah biasa kita lihat dan miliki
📌 Namun Tulisan tauhid menjadi monster dalam hidup mereka, krn  terbawa oleh bius fitnah media jago framing
📌 Zaman serba fitnah seperti ini memang berat .. Hadapilah dengan membawa Laa Ilaaha Illallah, agar dapat kemenangan dan keselamatan ..
Wallahul Muwaffiq ila Aqwamith Thariq

Doa khusus malam tahun baru

📆 Senin, 29 Dzulhijjah 1439H / 10 September 2018
📚 Fiqih dan Hadits

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.
Bismillahirrahmanirrahim ..
Dalam sunnah tidak ada doa khusus tahun baru, baik tahun baru hijriyah atau tahun baru Masehi. Namun, terdapat dalam sunnah bahwa Nabi ﷺ  berdoa setiap awal masuk bulan (bulan sabit). Awal masuk tahun, tentunya juga awal masuk bulan. 1 Muharam adalah awal tahun sekaligus awal bulan.
Jika mau menjalankan yang ada sunnahnya maka bacalah yg Nabi ﷺ  baca. Inilah yang lebih utama.
Dari Thalhah bin ‘Ubaidillah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الْهِلَالَ قَالَ اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ
Bahwa Nabi ﷺ apabila melihat bulan sabit beliau mengucapkan: “ALLAAHUMMA AHLILHU ‘ALAINAA BILYUMNI WAL AIMAANI WAS SALAAMATI WAL ISLAAM, RABBII WA RABBUKALLAAH” (Terbitkanlah bulan tersebut kepada kami dengan berkah, iman, keselamatan serta Islam! Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah).
(HR. At Tirmidzi no. 3451, Ahmad no. 1397)
Hadits ini HASAN. (Musnad Ahmad dgn Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir, 2/178. Juga Ta’liq Musnad Ahmad oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth, 3/17)
Lalu, apakah boleh doa buatan manusia? Doa susunan sendiri, bukan berasal dari Al Qur’an dan Sunnah, jelas boleh dan itu merupakan pendapat mayoritas ulama. Hanya saja terikat oleh syarat:
1. Isinya tidak bertentangan dengan syariat
2. Tidak boleh diklaim berasal dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam
3. Tidak boleh pula dibuat fadilah-fadilah yg direkayasa. Misal, “jika anda baca doa ini maka akan begini,” tanpa ada dasarnya.
Nah, begitu pula doa malam tahun baru yang bukan berasal dari sunnah juga terikat oleh syarat-syarat tersebut.
Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah berkata:
فلا حرج على المسلم أن يدعو بدعاء يعبر فيه عن حاجته ورغبته أو كشف ضره، ولكنه إذا دعا بالأدعية المأثورة عن النبي صلى الله عليه وسلم أو غيره من الأنبياء كما جاء في القرآن الكريم أو السنة المطهرة كان أفضل، وعليه أن يختار من الأدعية ما يتناسب مع المقام الذي هو فيه أو الحاجة التي يطلبها، ولا مانع أن يجمع بين هذا وذلك ويركب من بينهما أدعية تعجبه وتناسب مقامه، فقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: ثم يتخير من الدعاء أعجبه إليه فيدعوه . رواه البخاري .
  Tidak apa-apa bagi seorang muslim berdoa dengan kalimat yang di dalamnya tertera hajatnya, keinginannya, atau solusi atas kesulitannya. Tetapi, jika berdoa dengan doa-doa yang ma’tsur dari Nabi ﷺ atau dari para nabi lainnya, sebagaimana tertera dalam Al Quran, atau sunnah yang suci, maka itu lebih utama. Hendaknya dia memilih doa yang sesuai dengan keadaannya, kedudukannya, atau kebutuhan yang dia inginkan. Tidak terlarang baginya menggabungkan antara doa yang ini dan itu, dan mempraktekkan keduanya dengan doa-doa yang dia sukai dan sesuai posisinya.
Nabi ﷺ telah bersabda: “.. kemudian dia memilih doa yang ia sukai maka berdoalah kepadaNya.” (HR. Al Bukhari).
(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah, 10/124)
Demikian. Wallahu A’lam

Ambil KPR Konvensional Karena Butuh?

Ustadz Menjawab
Senin, 10 September 2018
Ustadz Dr. Oni Sahroni, M.A
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….Apakah tetap bisa dikatakan rumah sebagai kebutuhan darurat dan akhirnya dengan terpaksa mengambil kredit riba (bank konvensional). Padahal kita, masih bisa tinggal di rumah orang tua atau mertua?
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
👉🏻 Kita bisa merujuk atau kembali pada kriteria darurat.
1⃣ Tidak ada alternatif lain yang halal atau mubah. Apabila ada  yang halal, alternatif itu sulit dilakukan. Apakah cara untuk mendapatkan pembiayaan rumah ini tidak ada alternatif yang halal kecuali konvensional? Padahal banyak alternatif untuk mendapatkan kebutuhan rumah salah satunya dari bank syariah atau properti syariah.
2⃣ Tingkat kebutuhan sekunder atau primer atau dalam bahasa maqashid disebut hajiyat atau dharuriyat. Dalam kriteria ini, kebutuhan keluarga akan rumah yang digunakan untuk tempat tinggal merupakan kebutuhan primer dan termasuk kriteria kedua ini.
3⃣ Walaupun diperbolehkan, hal ini temporal selama dalam kondisi darurat sesuai dengan kriteria 1 dan 2, tetapi jika ada alternatif lain yang halal dan mudah untuk dilakukan, kondisi darurat ini sudah berakhir.
📚 Berdasarkan tiga kriteria ini, apakah masalah yang disebutkan dalam pertanyaan termasuk tiga kategori di atas?
✅ Jika ya, berarti termasuk kondisi darurat dan diperbolehkan untuk mengajukan kredit melalui konvensional.
❌ Jika tidak, berarti tidak termasuk kondisi darurat dan tidak diperbolehkan untuk mengajukan kredit ke konvensional.
👆🏻 Ketiga kriteria tersebut sesuai dengan penegasan Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam salah satu bukunya yang mengupas masalah darurat, yaitu Kitab Nazhariyyatu Dharurah.
Facebook : @onisahronii
Instagram : @onisahronii
Twitter : @onisahroni
telegram.me/onisahronii
www.rumahwasathia.org
Wallahu a’lam.

Kerugian Dalam Mudharabah

Ustadz Menjawab
Sabtu, 09 September 2018
Ustadz Dr. Oni Sahroni, M.A
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….Kita tahu bahwa kerugian dalam mudharabah ditanggung oleh pemilik modal (bank syariah) kecuali nasabah wanprestasi, hal demikian ditanggung oleh nasabah. Bagaimana jika terjadi kesalahan praktik, kerugian dalam mudharabah yang bukan disebabkan wanprestasi nasabah, tidak hanya di-cover oleh bank syariah, tetapi nasabah juga ikut meng-cover (kerugian ditangggung bersama seperti musyarakah)? Bagaimana kedudukan harta ganti kerugian tersebut yang memang menyalahi prinsip mudharabah? Apakah ia termasuk dana nonhalal di bank syariah? Jika memang demikian, apa kegunaan dana tersebut?
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
🅰 Kaidah yang berlaku dalam mudharabah terkait dengan pembagian keuntungan dan kewajiban menanggung risiko adalah bahwa kerugian ditanggung oleh pemilik modal kecuali kalau kerugian tersebut diakibatkan oleh wanprestasi atau lalai yang dilakukan oleh pengelola. Wanprestasi tersebut lebih mudah diterjemahkan dengan menyalahi kesepakatan dalam perjanjian. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah Saw;
فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْخَرَاجُ بِالضَّمَانِ
“Manfaat (didapatkan oleh seseorang) disebabkan ia menanggung risiko.” (HR. Tirmidzi).
Kaidah fikih menjelaskan,
الْغُرْمُ بِالْغُنْمِ
“Risiko berbanding dengan manfaat.”
👉🏻 Oleh karena itu, jika kerugian tersebut terjadi akibat lalai yang dilakukan oleh pengelola atau cedera janji terhadap kesepakatan, berarti pengelola yang harus menanggung sebagaimana yang ditegaskan dalam fatwa DSN MUI No.92 /DSN-MUI/IV/2014 tentang At-Tamwil Al-Mautsuq bi Rahn, sehingga prinsipnya kerugian ditanggung oleh pemodal kecuali kerugian tersebut diakibatkan oleh cedera janji pengelola sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam form akad.
🅱 Jika yang terjadi belum ada kesepakatan dan berpotensi menimbulkan perbedaan, sebaik-baiknya jalan ialah merelakan dan menoleransi. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW;
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً سَمْحًا إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى
Dari Jabir ibnu Abdullah ra, Rasulullah Saw bersabda : “Allah merahmati orang yang memudahkan ketika menjual, dan ketika membeli, dan ketika memutuskan perkara.” (HR Bukhari).
👨🏻‍🌾 Sebaik-baiknya pelaku pasar adalah toleran sebagai penjual dan toleran dalam menuntut hak. Oleh karena itu, yang dirujuk adalah kesepakatan.
🤝🏻 Selama kesepakatan itu tidak berpotensi multitafsir, sebaik-baiknya pelaku pasar adalah yang merelakan haknya untuk kompromi sehingga masing-masing bisa memenuhi hak orang lain sebelum menuntut haknya.
Facebook : @onisahronii
Instagram : @onisahronii
Twitter : @onisahroni
telegram.me/onisahronii
www.rumahwasathia.org
Wallahu a’lam.

Ku Poligami…

Ustadz Menjawab
Sabtu, 08 September 2018
Ustadz Farid Nu’man Hasan
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
…suami saya berpoligami. Awalnya saya hidup serumah dengan madu.namun karena banyak perbedaan maka kami memutuskan untuk berbeda rumah. Belakangan ini saya merasa perbedaan diantara saya dan madu saya semakin banyak sehingga saya meminta madu saya untuk tidak menemui saya&anak2 lagi(melainkan hanya pada acara2 khusus seperti hari raya dsb saja)
Saya tidak ingin memutus silaturahim dengan beliau namun hanya hal ini hanya untuk kemaslahatan (saya khawatir setiap perjumpaan kami hanya akan mengotori hati saya).
Pertanyaan saya ,
berdosakah saya  ?
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Memutuskan hubungan dan  pertemuan dgn seseorang, termasuk dosa besar. Dalam hadits Bukhari Muslim dikatakan tidak akan masuk surga. Dalam hadits Ibnu Majah dikatakan shalatnya tidak akan diterima.
Kapankah boleh “memutuskan?” Ada keadaan kita boleh memutuskan seseorang Jika dia punya keburukan sisi aqidah, akhlak, atau lainnya, yg jika kita tetap berhubungan dgnnya maka berbahaya. Saat itulah boleh diputus sebagai bentuk nasihat bagi diri org tsb.
Untuk kasus yg ditanyakan, silahkan dipertimbangkan sudah masuk kategori yg manakah ? Apakah sebabnya hanya kekesalan semata, atau ada sebab-sebab keburukan yg memang layak baginya utk diboikot ..?
Wallahu a’lam.

Nasihat Pernikahan

📆 Sabtu, 27 Dzulhijjah 1439H / 08 September 2018
📚 KELUARGA MUSLIM

📝 Pemateri: Ustadz DR. Wido Supraha, M.Si.
Hadits Rasulullah saw.
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اْلبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَاِنَّهُ اَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَ اَحْصَنُ لِلْفَرْجِ. وَ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَاِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. الجماعة
Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Hai para pemuda!
Barang siapa di antara kalian yang telah mencapai masa nikah (memiliki kemampuan seksualitas/ mampu menikah, maka nikahlah. Karena yang demikian itu lebih bisa menjaga pandanganmata dan kemaluan. Barang siapa yang belum mampu hendaklah ia berpuasa, karena itu adalah penyembuh (HR. Bukhari dan Muslim).
Hari pernikahan adalah hari bersejarah bagi kedua mempelai, disaksikan oleh para sesepuh dan orang-orang shalih, semoga Allah memberikan keberkahan.
Islam menempatkan nikah sebagai sesuatu yang agung. Melaksanakan nikah sesuatu yang mulia.
Kalau akad nikah menjadi ibadah, maka membangun rumah tangga harus kalian kedepankan
Mitsaqan Ghalizan, perjanjian berat dengan sejumlah konsekuensi.
Nikah tidak saja menghalalkan yang haram, namun juga mengharamkan yang halal.
Nikah melahirkan kebebasan, dalam waktu yang sama melahirkan keterikatan dan kebebasan.
Nikah melahirkan sejumlah hak, tapi tidak boleh lupa nikah juga melahirkan kewajiban.
Nikah terkadang menjadi tidak harmonis ketika suami atau isteri hanya menuntut hak tapi melupakan kewajiban. Tunaikanlah kewajiban sepenuh hati niscaya hak akan datang dengan sendirinya.
Beberapa kali Al-Qur’an menceritakan kisah-kisah keluarga rabbani.
Dalam Surat Ar-Rum ayat 21, yakni salah satu ciri-ciri keluarga ideal yakni keluarga yang dihiasi dengan sakinah, mawaddah, warahmah.
Harta penting dalam membangun keluarga tapi harta bisa habis karena celaka.
Kecantikan pun harus dijaga, tapi itu pun akan sirna karena dijemput usia.
Yang lestari dan abadi adalah cinta dan kasih. Karena itu tumbuhkan di antara kalian semangat ta’awun, kreatif menolong istri/suami, menyenangkan istri/suami. Bangun budaya tasamuh (toleran, senitasa memperhatikan keinginan suami dan istri.
Tidak boleh lupa, biasakanlah saling doa mendokan. Ketika kalian bersimpuh di atas sajadah, sebelum atau sesudah shalat memohon sesuatu, jangan lupa sertakan permohonan untuk keselamatan dan kebahagiaan istri dan suami. Atau pada suatu saat kalian sedang memohon ampun kepada Allah, sertakan permohonan ampun untuk istri/suami. Doa yang terbaik itu adalah doa untuk orang lain terutama suami/istri disertai dengan ketulusan dan ikhlas.
Kalau suatu saat suami dihadapkan dengan suatu masalah yang berat, istri hendaknya mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat syukrul wudhu dan berdoa: Yaa Allah tolong dia, sayangi dia, rahmati dia, berkati dia. Pintu ‘arsy seolah2 terbuka, ribuan malaikat turun mengamini doa istri yang tulus dan ikhlas.
Akhi,
Rumah tangga adalah bagian dari kehidupan duniawi yang fana.
Rumah tanggal sangat tergantung bagaimana kalian menyikapi ujian demi ujian. Tidak sedikit kegagalan dan musibah karena kebodohan dan kesalahan kita. Sadar akan kekurangan diri adalah pintu gerbang perbaikan diri. Tidak sadar akan kekurangan diri, dan merasa sempurna akan sulit diperbaiki.
Betapapun besar ujian yang melanda kita, jangan pernah berputus asa dari pertolongan Allah.
Nyatakanlah oleh kalian berdua di penghujung jalan: Hasbunallaahu wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashiir.
Serahkan seluruh kesulitan kepada orang lain, sebelum kalian menyerahkan kepada orang lain yang belum tentu bisa menolong kalian.
Satu lagi, birrul walidain, khidmat kepada kedua orang tua. Ridhallah Ridha Rabbi fi ridhal walidain. Murka Allah tergantung kepada murka ayah dan ibunya kepada yang bersangkutan.
Wallahu a’lam bish showab