Otoritas Aturan Ayah "Ayah Kepsek"

📆 Kamis, 10 Muharram 1440H / 20 September 2018
📚 KELUARGA MUSLIM

📝 Pemateri: Ustadz Bendri Jaisyurrahman (@ajobendri)
📋  Otoritas Aturan Ayah “Ayah Kepsek”
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹
Inilah keseimbangan dalam pengasuhan. Ayah sebagai pemilik otoritas aturan bertugas menjaga anak dari pengaruh buruk lingkungan. Dan ibu sebagai pemberi rasa nyaman menjadi daya pikat anak untuk selalu pulang…
ANJ*NG
BAB*
BANG*AT
Sengaja kalimat itu saya sensor. Anda tentu sudah bisa memahami apa isinya. Itu bukan kalimat dari seorang pejabat populer di negeri ini yang lagi memarahi anak buahnya. Sama sekali bukan. Percaya atau tidak, kalimat itu berasal dari seorang remaja kepada ibu kandungnya. Sebut saja bunga. Bukan Bunga Citra Lestari lho. Apalagi bunga bangkai smile emoticon.
Dia ngamuk-ngamuk via akun facebooknya akibat laptop kesayangannya rusak kena air tumpahan dari ibunya. Dan meluncurlah segala jenis cacian kepada ibunya layaknya petugas kebun binatang yang sedang mengabsen penghuni satwa di dalamnya.
Apa yang sebenarnya terjadi? Mereka bukan sedang mencari sensasi. Atau belajar akting untuk dapat tampil di TV. Kalau cuma mau masuk TV modalnya gampang kok. Tak perlu caci maki ortu sendiri. Cukup bisa tepuk tangan, sedikit menggoyangkan pinggul dan menghentakkan kaki seraya meneriakkan yel.
la la la..ye ye ye berkali-kali. Itu sudah cukup meloloskan mereka sebagai penonton bayaran di stasiun TV. Dan jika mereka beruntung, bisa diajak tampil ke atas panggung oleh HOST sambil disiram air atau tepung. Tragis!
Tapi bukan itu inti pembahasan kita. Yang jelas, ketika seorang anak berani mencaci maki ibunya, itu pertanda hilangnya ikatan batin antara ibu dan anak yang dikenal dengan istilah mother distrust. Faktornya bisa macam-macam. Namun dari sisi pengasuhan ada dua hal yang bisa disorot:
Pertama, proses menyusui yang salah di saat anak berumur 0-2 tahun. Dimana si ibu hanya mampu memberikan asupan fisik saja berupa ASI kepada anak. Namun mengabaikan asupan psikis. Anak tak mendapatkan belaian dan dekapan yang cukup saat disusui. Tersebab ibu merasa tugasnya tertunaikan dengan memberi susu meski hanya lewat botol. Akibatnya fisik anak bisa jadi tumbuh subur namun jiwanya kerdil. Tak ada ikatan batin dengan ibunya. Badannya bongsor tapi kelakuan kayak bocah. Kata-katanya gak jauh dari Miapah? Macacih? Udah maem tiang belom? (Maksudnya sih makan siang). Helloww! Yang maem tiang mah ultraman!. Hadeuuh, Benar-benar seperti bayi. Sama ibunya gak punya jiwa empati. Saat ibunya kelelahan ia cuek. Ibu bermuka masam karena marah malah dipuji “Mama cool banget”. Tak paham bahwa ibunya sungguh tersiksa batinnya.
Faktor Kedua, mengambil peran ayah – dan ini yang akan kita bahas – yakni sebagai pemilik otoritas aturan. Ibu yang khawatir akan pengasuhan anaknya biasanya cenderung memprotect anaknya dengan segudang aturan.
“JANGAN PULANG MALAM-MALAM”
“JANGAN NONTON TV LAMA-LAMA”
“JANGAN PAKAI BAJU GAMBAR HELLO KITTY. PAKAI SPONGE BOB AJA”
“CUCI KAKI DAN TIDUR SEBELUM JAM 9”
“MAKAN SAYUR DAN BUAH”
“JANGAN IKUT DEMO”
Dan sederet aturan lainnya. Mulai dari yang berat sampai yang remeh seperti selera makan anak pun diatur. Dan inilah yang justru menjadi tren di kalangan ibu-ibu modern. Akibatnya fungsi dasar ibu dalam memberikan rasa nyaman pun hilang. Anak menjauh dan tak nyaman bersama ibunya. Sehingga lebih betah di luar bersama kawannya dan mudah terperosok dalam pergaulan yang rusak. Tak peduli apa kata orangtua.
Tapi jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa ibu lah yang salah dalam hal ini. Saya katakan tidak. Ibu yang mengambil otoritas aturan dalam rumah tangga akibat dari fungsi ayah yang hilang. Sementara ibu dituntut untuk menjaga buah hatinya. Ditambah seringnya ibu yang menghadiri seminar parenting yang malah menambah was-was karena pembicaranya banyak memberikan data-data yang mencemaskan. Maka jadilah ibu memprotect anaknya. Ayah tak mau tahu dalam hal ini. Padahal tugas dasar ayah sebagai kepala sekolah adalah menegakkan aturan. Ayahlah sang pemilik aturan. Dan ibulah pusat rasa nyaman bagi anak.
Ayah yang tak mau menegakkan aturan dalam rumah pada dasarnya mendzholimi si ibu juga anak. Membiarkan anak dengan kesalahannya dan mencabut fungsi dasar ibu sebagai pemberi rasa nyaman. Terlebih jika ayah ikut-ikutan menyalahkan sang ibu. Lengkaplah predikat ibu sebagai “musuh” bagi anak. Ingat. Petaka pertama pengasuhan: ketika ibu tak lagi dicintai dan dirindukan oleh buah hatinya.
Maka, ayah harus pulang. Terlibat dalam pengasuhan. Tunjukkan otoritas dan ketegasan. Tapi gak perlu bawa-bawa pentungan. Emangnya mau tangkap maling? Jangan biarkan ibu yang ambil alih fungsi ini. Biarlah anak merasa ayahnya galak dan tegas. Karena memang inilah the real father. Asalkan anak merasa nyaman dengan ibunya, itu lebih baik. Saat protes dengan keputusan ayah, ibulah yang menenangkan dan menguatkan.
Inilah keseimbangan dalam pengasuhan. Ayah sebagai pemilik otoritas aturan bertugas menjaga anak dari pengaruh buruk lingkungan. Dan ibu sebagai pemberi rasa nyaman menjadi daya pikat anak untuk selalu pulang. Tentu ayah yang tegas juga harus diimbangi dengan kelembutan dan kebaikan di sisi yang lain agar anak tidak trauma. Begitu juga ibu. Sesekali bolehlah ibu bawel asal jangan kebablasan. Kalaupun ibu mau tegakkan aturan, cukup dengan kalimat “Ingat gak, ayah bilang apa?”. Anak tahu bahwa aturan bukan dari ibunya tapi dari si ayah. Jika fungsi ayah serius dijalani, maka tak ada lagi kalimat resah dari si ibu : “pusiiiing pala barbie”. Sebab ayah telah kembali.
Wallahu a’lam bish shawab
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Sebarkan! Raih Pahala
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: manis.id
📱 Info & pendaftaran member: bit.ly/mediamanis
💰Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
a.n Yayasan MANIS,
No Rek BSM 7113816637
Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis

Kematian Seperti Apa yang Menanti Kita?

📆 Kamis, 03 Muharram  1440 H / 13 September 2018
📚 SIROH  DAN TARIKH ISLAM
📝 Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP
Ketika ditugaskan Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam menjadi panglima pengganti jika Zayd ibn Haritsah Radhiyallahu’anhu dan Ja’far ibn Abi Thalib Radhiyallahu’anhu, menangislah Abdullah ibn Rawahah. Ketika ditanya mengapa ia menangis, ia mengatakan “bukan karena cinta dunia” (ما بي حبّ الدنيا) dan bukan juga karena “rindu kepada kalian (keluarga)” (ولا صبابة بكم) tetapi
فلست ادري كيف لي بالصدر بعد الورود
Aku tidak tahu pasti bagaimana keadaanku setelah menjumpai (kematian)
Kemudian Abdullah ibn Rawahah menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam pernah menangis (juga) ketika membaca ayat Allah Ta’ala:
وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا
Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan.
Surah Maryam, Ayat 71
Ingat Agung Waspodo, bahwa kematian mengintaimu setiap saat. Bagaimana mungkin ada orang yang begitu gembira ketika mendapat amanah? Bahkan berusaha supaya mendapat amanah kembali, kalau bisa berulang-ulang, apakah sudah diketahui kematian seperti apa yang menantinya?
Depok, 16 Dzul-Hijjah 1439 Hijriyah

Sirah Nabawiyah li-Ibni Hisyam, Raudhul Unuf, IV, p. 132. Bab Ghazwah Mu’tah.
Makam Abdullah ibn Rawahah, Ja’far Abi Thalib, Zayd ibn Haritsah insyaAllah sudah saya masukkan dalam itinerary Napak Tilas kami di Jordan 🇯🇴 6-13 September 2018 ini.

Membaca Shadaqallahul 'Azhim, Bid'ahkah ?

Ustadz Menjawab
Sabtu, 15 September 2018
Ustadz Farid Nu’man Hasan
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
… membaca Shadaqallahul ‘Azhim, bid’ahkah?
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ‘ala aalihi wa ashhabihi wa man waalah, wa ba’du:
Sebagusnya lisan kita sebagai penuntut ilmu jangan mudah mengeluarkan kata-kata bid’ah atau haram, terhadap permasalahan yang hakikatnya kita belum tahu. Tahan dahulu. Urusan bid’ah atau haram, adalah perkara besar dalam Islam. Sebab bagi pelakunya diancam neraka oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Masih bagus jika mereka mengatakan, “Masalah ini para ulama berbeda pendapat, ada yang membolehkan ada pula yang melarang, tetapi saya pilih yang melarang.” Dengan demikian berarti kita telah jujur dalam ilmu dan permasalahan, dan amanah dalam penyampaian.
Termasuk dalam hal membaca shadaqallahul ‘azhim setelah membaca ayat. Sebagaimana kita tahu ada pihak yang membid’ahkan, alasannya sederhana, karena tidak ada dalilnya hal itu dilakukan oleh Rasulullah dan sahabat. Nah, benarkah masalah ini hanya satu pendapat yakni bid’ah? Ternyata tidak, justru banyak Imam yang mempraktekkannya dan membolehkannya di berbagai zaman dan madzhab. Maka, hendaknya kita menjaga lisan dan adab, kalau pun tidak tahu, lebih baik diamlah.
📌 Siapa sajakah para Imam yang pernah membacanya?
Pada kesempatan ini kami hanya akan memaparkan para ulama yang membolehkan saja. Ada pun pihak yang melarangnya, seperti para ulama di Lajnah Daimah Saud Arabia, Syaikh Shalih Fauzan, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Mushthafa Al ‘Adawi, Syaikh Muhammad Musa Nashr, dan lainnya tidak kami sampaikan, sebab fatwa-fatwa mereka sangat mudah di dapatkan di berbagai situs Islam, dan jawaban ini juga bertujuan sebagai cover both side, sisi lain,  bahwa apa yang dituduhkan sekelompok manusia sebagai bid’ah, ternyata itu merupakan perbuatan atas rekomendasi sebagian para Imam Ahlus Sunnah wal Jamaah lainnya juga. Sehingga, tidak sepantasnya bersikap keras dalam perkara yang para imam terdahulu hingga saat ini mereka masih berselisih pendapat. Di sisi lain, umat pun mengetahui secara adil dan imbang kenyataan sebenarnya.
Berikut ini sebagian para ulama yang membolehkan bahkan menerapkan membaca Shaddaqallahul ‘Azhim setelah membaca Al Quran.
✅ Imam Hasan Al Bashri Radhiallahu ‘Anhu
Dia adalah tokoh tabi’in senior. Dia termasuk tujuh ahli fiqih Madinah pada zamannya. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ketika membahas surat Saba’ ayat 18, beliau mengutip ucapan Imam Hasan Al Bashri, sebagai berikut:
وقال الحسن البصري: صدق الله العظيم. لا يعاقب بمثل فعله إلا الكفور.
Berkata Al Hasan Al Bashri: “Shadaqallahul ‘Azhim. Tidaklah mendapatkan siksa semisal ini bagi pelakunya, melainkan orang kafir.” [1] ✅ Imam Al Qurthubi Rahimahullah
Dalam tafsirnya dia menulis:
” وفى السماء رزقكم وما توعدون ” فإنا نقول: صدق الله العظيم، وصدق رسوله الكريم، وأن الرزق هنا المطر بإجماع أهل التأويل
“Dan di langit Dia memberikan rizki kepada kalian, dan apa-apa yang dijanjikan kepada kalian,” Maka, kami berkata: Shadaqallahul ‘Azhim wa shadaqa rasul al karim, sesungguhnya maksud rezeki di sini adalah hujan berdasarkan6 ijma’ ahli takwil ..dst.” [2] ✅ Imam Ibnul ‘Iraqi Rahimahullah
Beliau ditanya begini;
وَسُئِلَ ابْنُ الْعِرَاقِيِّ عَنْ مُصَلٍّ قَالَ بَعْدَ قِرَاءَةِ إمَامِهِ صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيمُ هَلْ يَجُوزُ لَهُ ذَلِكَ وَلَا تَبْطُلُ صَلَاتُهُ فَأَجَابَ بِأَنَّ ذَلِكَ جَائِزٌ وَلَا تَبْطُلُ بِهِ الصَّلَاةُ
Ibnul Iraqi ditanya tentang orang yang shalat, setelah imam selesai membaca, orang itu membaca ‘Shadaqallahul ‘Azhim’, apakah boleh baginya dan tidak membatalkan shalatnya? Dia menjawab: Hal itu boleh, dan tidaklah membatalkan shalat.” [3] ✅ Imam Syihabuddin Ar Ramli Rahimahullah
Dalam Nihayatul Muhtaj dia mengatakan:
لَوْ قَالَ صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيمُ عِنْدَ قِرَاءَةِ شَيْءٍ مِنْ الْقُرْآنِ قَالَ م ر يَنْبَغِي أَنْ لَا يَضُرَّ
“Seandainya dia berkata Shadaqallahul ‘Azhim saat membaca bagian dari Al Quran,(berkata Ar Rafi’i) maka
itu tidak memudharatkan (tidak mengapa).” [4] ✅ Imam Abu Hafs Umar Al Wardi Rahimahullah
Dalam Syarhul Bahjah Al Wardiyah beliau berkata:
كُلُّ مَا لَفْظُهُ الْخَبَرُ نَحْوُ صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيمُ أَوْ آمَنْتُ بِاَللَّهِ عِنْدَ سَمَاعِ الْقِرَاءَةِ بَلْ قَالَ شَيْخُنَا ز ي : لَا يَضُرُّ الْإِطْلَاقُ فِي هَذَا
“Semua yang dilafazhkannya, seperti Shadaqallahul ‘Azhim atau amantu billah, ketika mendengar bacaan Al Quran, bahkan syaikh kami berkata: Tidak memudharatkan secara muthlak dalam hal ini (alias boleh).”[5] ✅ Imam An Nawawi Rahimahullah
Dalam Al Majmu’ beliau mengatakan:
ثم صدق الله العظيم ” يسئلونك عن الاهلة قل هي مواقيت للناس والحج
“Kemudian Shadaqallahul ‘Azhim “Yas aluunaka ‘anil ahilah qul hiya mawaqitu linnas.” [6] ✅ Syaikh Dhiya’ Al Mishri dalam Fathul Manan mengatakan:
ويستحب للقارىء إذا انتهت قراءته أن يصدق ربه ويشهد بالبلاغ لرسوله صلى الله عليه وسلم ويشهد على ذلك أنه حق فيقول: صدق الله العظيم، وبلغ رسوله الكريم، ونحن على ذلك من الشاهدين.
“Dianjurkan bagi pembaca Al Quran, jika telah selesai hendaknya dia membenarkan Tuhannya, dan bersaksi atas tabligh yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan bersaksi bahwa itu adalah kebenaran, maka hendaknya membaca: Shadaqallahul ‘Azhim, Wa balagha rasuluhul karim, wa nahnu ‘ala dzalika minasy syahidin.” [7] ✅ Syaikh Athiyah Saqr, Mufti Mesir, ketika ditanya apa hukum membaca Shadaqallahhul ‘Azhim. Dia mengkirtik dan memberi peringatan kepada orang-orang yang gampang membid’ahkan termasuk masalah ini, beliau berkata:
وقول “صدق الله العظيم ” من القارى أو من السامع بعد الانتهاء من القراءة ، أو عند سماع آية من القراَن ليس بدعة مذمومة، أولا لأنه لم يرد نهى عنها بخصوصها، وثانيا لأنها ذكر لله والذكر مأمور به كثيرا ، وثالثا أن العلماء تحدثوا عن ذلك داعين إليه كأدب من آداب قراءة القرآن ، وقرروا أن قول ذلك فى الصلاة لا يبطلها، ورابعا أن هذه الصيغة أو قريبا منها ورد الأمر بها فى القرآن ، وقرر أنها من قول المؤمنين عند القتال .
قال تعالى : {قل صدق الله فاتبعوا ملة إبراهيم حنيفا} آل عمران :95 ، وقال {ولما رأى المؤمنون الأحزاب قالوا هذا ما وعدنا الله ورسوله وصدق الله ورسوله } الأحزاب : 22 ، وذكر القرطبى في مقدمة تفسيره أن الحكيم الترمذى تحدث عن آداب تلاوة القراَن الكريم وجعل منها أن يقول عند الانتهاء من القراءة : صدق الله العظيم أو أية عبارة تؤدى هذا المعنى .
“Kalimat Shadaqallahu Al ‘Azhim yang diucapkan oleh pembaca Al-Quran atau oleh pendengar setelah selesai membaca atau mendengar ayat-ayat Al-Quran, bukanlah bid’ah tercela, bahkan memiliki landasan yang cukup kuat. Yaitu:
Tidak ada satupun dalil yang melarangnyaKalimat itu merupakan zikir.Para ulama menjadikannya sebagai salah satu adab ketika hendak membaca Al Quran. Bahkan menurut mereka jika ia diucapkan dalam salat tidak membatalkan salat. Demikianlah pendapat kalangan Hanafi dan Syafi’i.Lafal atau ucapan tersebut demikian dekat dengan apa yang diperintahkan dalam Al-Quran serta merupakan ucapan orang mukmin di saat akan perang.
قل صدق الله فاتبعوا ملة إبراهيم حنيفا
Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang musyrik (Ali Imran: 95)
ولما رأى المؤمنون الأحزاب قالوا هذا ما وعدنا الله ورسوله وصدق الله ورسوله
Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Benarlah Allah dan Rasul-Nya.
Al-Qurthubi dalam muqaddimah tafsirnya mengatakan bahwa menurut Imam Al Hakim dan Imam At Tirmidzi mengucapkan kalimat shadaqallahu al-azhim setelah selesai membaca Al-Quran merupakan salah satu bentuk adab membaca Al-Quran.”[8] Lalu Syaikh ‘Athiyah Shaqr melanjutkan:
وجاء فى فقه المذاهب الأربعة ، نشر أوقاف مصر، أن الحنفية قالوا : لو تكلَّم المصلى بتسبيح مثل . صدق اللّه العظيم عند فراغ القارئ من القراءة لا تبطل صلاته إذا قصد مجرد الثناء والذكر أو التلاوة ، وأن الشافعية قالوا : لا تبطل مطلقا بهذا القول ، فكيف يجرؤ أحد فى هذه الأيام على أن يقول : إن قول : صدق الله العظيم ، بعد الانتهاء من قراءة القرآن بدعة؟ أكرر التحذير من التعجل فى إصدار أحكام فقهية قبل التأكد من صحتها ، والله سبحانه وتعالى يقول :{ولا تقولوا لما
تصف ألسنتكم الكذب هذا حلال وهذا حرام لتفتروا على الله الكذب إن الذين يفترون على الله الكذب لا يفلحون } النخل :116
“Terdapat dalam fiqih empat madzhab, yang telah tersebar di Mesir, bahwa kalangan Hanafiyah mengatakan, seandainya orang yang shalat memuji Allah Ta’ala dengan mengucapkan Shadaqallah Al ‘Azhim, setelah pembaca selesai membaca Al Quran, maka itu tidak membatalkan shalatnya, jika dia memang murni bermaksud memuji, dzikir, atau tilawah. Sedangkan Syafi’iyah mengatakan, ucapan ini secara mutlak tidak membatalkan shalat. Lalu bagaimana bisa seseorang zaman ini mengatakan: “Membaca Shadaqallahul ‘Azhim setelah selesai membaca Al Quran adalah bid’ah?”  Apakah mesti diulang-ulang peringatan tentang sikap tergesa-gesa menelurkan ketetapan hukum fiqih sebelum menguatkan kebenarannya. Terakhir Allah Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung”. (QS. An Nahl: 116).[9] Demikian. Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi ajma’in. Wallahu A’lam.
Catatan Kaki:
[1] Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al Azhim, Juz. 6, Hal. 508
[2] Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkam AL Qur’an, Juz. 13, Hal. 15, lihat juga Juz. 16, Hal. 222
[3] Imam Zakariya al Anshari, Asna Al Mathalib, Juz. 3, Hal. 68. Mawqi’ Al Islam
[4] Imam Muhammad Syihabbudin Ar Ramli, Nihayatul Muhtaj, Juz. 5, Hal. 60. Lihat juga Imam Zakariya Al Anshari, Hasyiyah Al Jumal, Juz.4, Hal. 96. Mawqi’ Al Islam
[5] Imam Abu Hafs Zainuddin Umar Al Wardi, Syarhul Bahjah Al Wardiyah, Juz. 3, Hal. 496. Mawqi’ Al Islam
[6] Imam An Nawawi, Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, Juz. 17, Hal. 208. Mawqi’ Ya’sub
[7] Syaikh Adh Dhiya al Mishri, Fathul Manan, Hal. 4.
[8] Fatawa Al Azhar, Juz. 8, Hal. 86.
[9] Ibid
Wallahu a’lam.

Ibu Shalihah Memberikan Yang Terbaik Untuk Keluarga

📆 Sabtu, 05 Muharram 1440H / 15 September 2018
📚 KELUARGA MUSLIM

📝 Pemateri: Ustadzah DR. Aan Rohanah, Lc. M.Ag.
Ibu shalihah adalah ibu yang cerdas, menjadikan asas berkeluarga dengan takwa, dan mau berkorban dengan apa saja untuk kebaikan keluarga dan generasinya, berjuang dengan bersungguh-sungguh untuk menciptakan kebahagiaan bagi dirinya, keluarganya dan generasinya di dunia dan di akhirat. Itu semua dilakukan dengan sebaik-baiknya sebagai ibadahnya kepada Allah SWT.
Ibu shalihah meyakini bahwa kualitas keberhasilan pendidikan anak  tergantung seberapa besar dia melaksanakan perannya. Juga meyakini seberapa besar peran dan kiprah generasi tergantung pada seberapa besar kiprah dan perannya sebagai ibu. Maka ibu shalihah selalu berusaha memberikan yang terbaik dari ruhaninya, jiwanya, pikirannya, tenaganya, hartanya, waktunya dan lain-lain untuk keluarga dan anak-anaknya.
Mengapa harus memberikan yg terbaik kepada keluarga? Karena :
1. Ibu Shalihah harus sukses mewujudkan rumahku surgaku
2. Ibu shalihah harus berhasil menciptakan generasi masa depan yang menjadi :
a, Generasi permata hati
b, Generasi pemimpin terbaik yakni pemimpin bagi orang2 yg bertakwa.
3. Ibu shalihah menentukan kualitas generasi dan kiprahnya di masa yang akan datang.
4. Ibu shalihah menjadikan keluarga sebagai basis pembentukan masyarakat madani.
5. Ibu shalihah menentukan kebahagiaan keluarga di dunia dan di akhirat.
Urgensinya :
1. Ibu shalihah adalah ibu teladan bagi anaknya dan bagi semua kaum ibu. Ibu shalihah berusaha memiliki karakter yang dimiliki para istri Rasulullah SAW.
لستن كأحد من النساء
” Kalian bukan seperti wanita biasa ” ( 33: 32)
2. Istri shalihah berusaha keras untuk lulus seleksi dalam ujian dunia dan akhirat.
الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم ايكم احسن عملا
”Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian mana yang paling baik amalnya” (QS 67 : 2)
3. Dalam rangka taat kepada Allah (QS 28:77)
” واحسن كما احسن الله اليك
”Dan berbuat baiklah sebagaiman Allah telah berbuat baik kepada kalian” (QS 28 : 77 )
4. Agar menjadi hamba yang istiqomah dan meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
واسثقم كما امرت
”Dan istiqamahlah kamu sebagaimana yang sudah diperintahkan kepadamu” (QS 42 : 15)
Adab-adabnya :
1. Beriman dan bertaqwa kepada Allah
للذين احسنوا منهم واتقوا اجر عظيم
”Bagi orang yang berbuat baik dari mereka dan bertakwa mendapatkan pahala yang besar”
(QS 3 : 172)
2. Ikhlas, hanya mengharapkan balasan terbaik dari Allah. (QS 98 : 5)
3. Memiliki prinsip ingin mendapatkan derajat dan pahala yg tinggi dari Allah SWT (QS 10:26)
4. Memperjuangkan kesuksesan visi dan misi keluarga (QS 25:74).
5. Menjadikan rumah tangga sebagai medan jihad dan pahalanya sama seperti pahala seorang mujahid
Adapun karakter pribadi mujahidah adalah :
a. Siap berkorban kapan saja
b. Siap untuk melayani
c. Selalu berusaha dengan maksimal
d . Menjaga motivasi dan semangat keluarga.
6. Memprioritaskan keluarga
7. Berkorban menjadikan rumah sbg masjid
(terjaga kesuciannya, bersih dr najis. Suasana kondusif untuk ibadah).
8. Menjadikan rumah sbg sekolah, sehingga
anggota kluarga jd senang belajar dan hobbi membaca
9. Menjadikan rumah sebagai tempat yang menyenangkan. Sehingga betah tinggal di dalam rumah.
10. Rumah sebagai tempat menata hati dan jiwa sehingga bisa bersabar, berlapang dada, bersyukur, memaafkan, menahan amarah, bersikap lembut, bijak dan lembut.
Sangatlah disayangkan bagi muslimah yang mengabaikan perannya dalam melaksanakan kewajiban sebagai istri dan ibu, sehingga tidak bisa menciptakan lingkungan rumah sebagai masjid, sekolah, tempat berukhuwwah, bersosial, berkhidmah, rumah yang sejuk, damai, rapih, bersih dan selalu menyenangkan bagi penghuni dan siapapun yang hadir. Karena itu tidak bisa menyiapkan generasi terbaik yang kompetitif yang berkarya dan berperan besar pada ummat dang bangsa, tidakj bisa merasakan rumah sebsgai surga, bahkan banyak beban dan masalah.
Selain itu tidak bisa mendapatkan semua balasan yang luar biasa istimewanya dari Allah SWT.
Baarokallahu kepada muslimah yang selalu berperan sebagai istri dan ibu yang selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada suami dan anak2nya. Semoga Allah selalu memberkahi dalam mewujudkan rumahku surgaku dan menjadikan keluarga teladan yang bisa menjadi permata hati dan imam bagi orang2 yang bertakwa.
Wallahu a’lam bishshawaab.

Apa Itu Ratib??

Ustadz Menjawab
Jum’at, 15 September 2018
Ustadz Farid Nu’man Hasan
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….Bagaimana dg membaca Ratib ustad? Ratib itu apa yah ustad? Syukron
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Ratib itu kumpulan dzikir atau wirid yg dibaca secara rutin (rawatib) maka disebut ratib.
Kemunculannya dahulu oleh para ulama sebagai alternatif bagi anak-anak muda yang lalai dgn dunia, seperti kumpul2 di kedai, judi, sabung ayam, .. maka dibuatlah alternatif yaitu berdzikir ..
Kemudian apakah boleh menyusun dzikir sendiri?
1. Lebih utama dari Al Qur’an dan As Sunnah. Ini tidak ada perselisihan pendapat para ulama ttg keutamaan dan keunggulannya.
2. Dzikir dan doa selain Al Qur’an dan As Sunnah, yaitu SUSUNAN YG DIBUAT MANUSIA baik sahabat nabi, tabi’in atau para ulama setelahnya.
Ini boleh menurut jumhur, dengan syarat:
– Isi doa dan dzikir tersebut berisi kebaikan, tidak ada muatan yg melanggar Aqidah dan akhlak Islam.
– Saat membacanya tidak boleh dianggap sebagai bacaan dari Nabi ﷺ …
Saya pernah membahasnya panjang .. silahkan kunjungi channel ya .. bit.ly/1Tu7OaC ..
Tentang “Bid’ahkah Menyusun Dzikir Sendiri?” Dan “Bid’ahkah Berdoa dengan Susunan Sendiri?”
Wallahu a’lam.

Jika Memang Harus Bersandar

📆 Jum’at, 04 Muharram 1440/ 14 September 2018
📚 Motivasi

📝 Pemateri: Ustadz Umar Hidayat, M.Ag
Pernahkah kau jatuh saat begitu yakin bisa duduk dan bersandar di kursi, tapi ternyata sandaran kursi itu patah. Orang jawa bilang ‘geblak’. Jika jatuh sudah sepenuh kesiapan meski tetap sakit tapi terkurangkan. Bahkan bisa berantisipasi untuk menghindarinya. Seringnya kita tidak siap. Bahkan terjadi tak diduga, sakit. Dan teramat sakit. Na’udzubillah.
Tak jarang ketika jatuh tanpa persiapan, geblak begitu terasa. Bisa gegar otak, patah tulang, syaraf kejepit, lebam, memar. Bahkan bisa sampai jatuh ajalnya, masya Allah.
Seberapa pun beban yang kau pikul jika tak salah bersandar, hidup masih berasa nikmat. Seringan apapun beban terasa begitu berat mendaku, mengurat-saraf serasa bumi dan seisinya menimpanya, jika salah bersandar.
Dunia dan seisinya ini rapuh tak cukup kuat untuk kita sandari. Kadang bersandar harta, rapuh dan geblak. Bersandar jabatan, ada masanya, habis masa jabatan geblak. Bersandar harga diri, terbatas, tak kuat menyangga geblak. Bersandar sesama, pasti akan lemah dan akhirnya pun geblak.
Bukankah Allah Ta’ala menceritakan mengenai Rasul dan sahabatnya dalam firman-Nya,
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Hasbunallah wa ni’mal wakiil (cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”” (QS. Ali-‘Imron: 173)
Kata Ibnu ‘Abbas, “hasbunallah wa ni’mal wakiil” adalah perkataan Nabi ‘Ibrahim as. ketika mau dilempar di api membara. Sedang Nabi Muhammad saw mengatakan kalimat tersebut dalam ayat,
إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (HR. Bukhari no. 4563)
Mari bersandarlah pada Allah agar semua ada solusinya. “Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’mal nashir”.

Shalat Jumat Bagi wanita Menggugurkan Shalat Zhuhurnya

Ustadz Menjawab
Kamis, 13 September 2018
Ustadz Farid Nu’man Hasan
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….Apa hukumnya sholat  jum’at bagi wanita? Apakah itu otomatis menggugurkan kewajiban sholat dhuhur….ataukah sekedar sbg sholat sunnah saja, sehingga tetap harus menunaikan sholat dhuhur?
Jazakillah khaiir.
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
📌 Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan buat orang yang tidak wajib shalat jumat (seperti anak-anak, wanita, musafir, orang sakit):
وكل هؤلاء لا جمعة عليهم وإنما يجب عليهم أن يصلوا الظهر، ومن صلى منهم الجمعة صحت منه وسقطت عنه فريضة الظهر وكانت النساء تحضر المسجد على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وتصلى معه الجمعة
“Semuanya   tidak diawajibkan shalat jumat, yang diwajibkan buat mereka adalah shalat zhuhur. Dan, barang siapa diantara mereka ikut shalat jumat, maka shalatnya sah dan gugurlah kewajiban shalat zhuhur. Dahulu para wanita hadir di masjid pada zaman Rasulullsh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan shalat jumat bersamanya. (Fiqhus Sunnah, 1/303. Darul Kitab Al ‘Arabi)
📌 Fatwa Al Lajnah Ad Daimah:
لا تجب الجمعة على المرأة ، لكن إذا صلت المرأة مع الإمام صلاة الجمعة فصلاتها صحيحة وتكفيها عن صلاة الظهر ، وإذا صلت في بيتها فإنها تصلي ظهراً أربعاً ، ويكون بعد دخول الوقت، أي بعد زوال الشمس
“Wanita tidak wajib shalat jumat, tetapi jika dia shalat bersama imam pada shalat jumat maka shalatnya sah dan itu telah mencukupinya dari shalat zhuhur. Jika dia mau shalat di rumahnya, maka dia shalat zhuhur empat rakaat yaitu setelah masuknya waktu, setelah tergelincirnya matahari.” (Fatawa Islamiyah, No. 412)
Wallahu a’lam.

Mati syahid

Ustadz Menjawab
Rabu, 12 September 2018
Ustadzah Dra. Indra Asih
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Apa  saja kategori mati syahid fii sabilillah? Bagaimana cara meraihnya? Setiap mendengar keutamaan2 mati syahid hati sy bergemuruh, air mata tak terbendung.  bisakah mendapatkan?? Sedangkan sy bukan siapa2
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Definisi syahid menurut para ulama
a. Al-Hanafiyah
Mewakili madzhab Al-Hanafiyah, Ibnu Abidin mendefinisikan tentang orang yang mati syahid sebagai :
هُوَ كُلُّ مُكَلَّفٍ مُسْلِمٍ طَاهِرٍ قُتِلَ ظُلْمًا بِجَارِحَةٍ
Semua orang yang mukallaf, muslim, suci dari hadats, terbunuh secara zalim dengan luka-luka.
b. Al-Malikiyah
Ada pun ulama di kalangan madzhab Al-Malikiyah membuat definisi tentang orang yang mati syahid dengan redaksi :
شَهِيْدٌ مُعْتَرِكٌ فَقَطْ وَلَوْ بِبَلَدِ الإِسْلاَمِ أَوْلَمْ يُقَاتِلْ وَإِنْ أَجْنَبَ عَلَى الأَحْسَنِ إِلاَّ إِنْ رَفَعَ حَيًا وَإِنْ أَنْفَذَتْ مُقَاتِلهُ
Hanya yang ikut dalam perang fisik saja, meski matinya di negeri Islam dan tidak ikut membunuh, meski pun berjanabah, dan bukan orang yang keluar dalam keadaan hidup meski ditolong oleh lawan.
c. Asy-Syafi’iyah
Sedangkan definisi mati syahid dalam pandangan mazhab Asy-Syafi’iyah adalah :
مَنْ مَاتَ بِسَبَبِ قِتَالِ الكُفَّارِ حَالَ قِيَامِ القِتَالِ
Orang yang mati karena sebab memerangi orang-orang kafir ketika terjadi peperangan.    Kesimpulannya, melihat definisi diatas, siapapun bisa berpeluang tuk mendapatkan syahid bila ia sungguh sungguh berjuang tuk fi sabilillah.
Wallahu a’lam.

Jalinan Ukhuwah Lillah

📆 Rabu, 02 Muharram 1440 H / 12 September 2018
📚 Motivasi
 
📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika
Mari mengekspresikan indahnya kebersamaan agar hidup bertambah hidup. Hiduplah hidup berada dalam satu jalan. Hiduplah hidup berada dalam naungan. Hiduplah hidup untuk bersapaan. Hiduplah hidup berada dalam kebersamaan.
Keindahan dunia tak kan bisa kita nikmati kala kesendirian. Bila sepi melanda teman perlu dihadirkan. Inilah saatnya kita ambil peran. Saling menolong sudah menjadi kebiasaan. Hidup bermasyarakat kan jadi tuntutan. Ajaran kebaikan selalu jadi pedoman.
Rasulullah pernah ditanya tentang amal apa yang banyak memasukkan orang ke dalam surga, demikian Abu Hurairah meriwayatkan, lalu Nabi saw menjawab, “Taqwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” (Hr. Tirmidzi dan Ibn Hibban).
Bencana terbesar bagimu adalah Allah telah memberimu kesempatan yang sama untuk berbuat baik, tapi engkau memilih perbuatan yang buruk dengan sadar. Jika kamu berbuat baik atau buruk, maka sesungguhnya perbuata itu untuk dirimu sendiri.
Kawan itu bak cermin dalam kehidupan kita. Adanya saling mengingatkan, tiadanya saling meninggalkan jejak kebaikan. Perbaikilah kamu dan perbaiki aku, saling mengingatkan. Karena setiap kebaikan akan menyebar dan menghadirkan kebaikan yang lain. Hal itu tidak akan mungkin terjadi tanpa kita berada dalam kebersamaan. Maka jangan pernah berniat sedikit pun meninggalkan kebersamaan ini. 
Tapi tak mudah memang mencari sahabat yang sejati. Sahabat yang selalu menemani dalam suka dan duka. Mengerti apa yang harus terisi di hati. Merasa apa yang membuat ia tak kuasa. Memenuhi harapan dan mencukupi keinginan. Mencari sahabat sejati sering diawali dengan kesiapan diri untuk memberi, bukan menerima. Lantaran seseorang yang diberi lebih mudah menjadi sahabat sejati.
Ketika pun terjadi pada kita, kita membutuhkan orang lain. Kita membutuhkan ada orang yang mendengarkan keluh isi hati ini. Ketika seseorang mengeluarkan isi hatinya, menumpahkan segala asa, menjadi plong jiwanya. Beban itu terkurangi, mungkin malah terlepaskan. Soal memberi solusi itu bagian lain yang diharapkan. Bagilah beban pada orang yang dapat dipercaya, shohib, atau sahabat. Sahabat sejati selalu jadi cermin bagi yang lainnya.
Seindah sabda Nabi yang dikisahkan Imam Bukhari; “Seorang mukmin adalah cermin dari saudaranya. Seorang mukmin itu bersaudara dengan mukmin lainnya. Dia tidak akan membiarkannya disia-siakan dan dicampakkan, dan dia akan menjaganya dari belakang.”
Namun ingin menjadi shalihah bersama itu tak mudah bahkan butuh perjuangan bahkan kadang harus ada yang berkorban. Seberapa pun tangguhnya seorang Muslimah, ia tak mungkin bisa hidup sendiri. Ketangguhan atau kerapuhan seseorang itu memang pilihan hidup. Tapi, kebutuhan akan hadirnya orang lain dan bersama-sama di tengah kita adalah cara yang paling efektif untuk mewujudkan dan menjaga ketangguhan itu.
“Meski yang menghubungkanku dengan orang lain hanya seutas benang, maka akan kujaga jalinannya. Bila ia mengendurkan aku akan mengencangkan, dan bila ia mengencangkan aku akan mengendurkannya hingga tak putus ikatannya.” 
Kata itu sederhana tapi teramat dalam maknanya. Terucap dari seorang shahabat Nabi sekaligus negarawan yang tak perlu diragukan keislamannnya, Mu’awiyah ibnu Sufyan r.a. Inilah seni berteman. Menjaga, merawat, memelihara jauh lebih sulit daripada mengawali pertemanan dan persaudaraan. Mengawali sangat mudah karena kita masih tahu sisi-sisi baiknya saja, benturan belum ada, keasliannya belum tampak. Yang tampak baru sedikit, itu pun indah-indah saja.
Sesulit apa pun, jalin persaudaraan dengan siapa pun. Dengan harapan banyak kebaikan yang akan kita peroleh bila bisa berinteraksi dengannya. Apalagi kita tahu sekiranya berteman dengannya akan membuat ter-upgrade keimanan dan ketakwaan kita. Kenapa kita butuh untuk mencari teman? Tak perlu bekernyit dahi mengulas teori manusia makhluk sosial. Adalah sangat manusiawi jika kita memang butuh teman. Kita butuh teman bicara. Kita butuh teman untuk saling mengisi. Tak hanya itu, tentunya kita memilih teman yang baik agar bisa saling menasihati. 
Seperti perumpamaan dalam sebuah hadits Rasulullah saw yang menjelaskan tentang pengaruh teman. Sabda Rasulullah, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628).
Maka menjaga indahnya ukhuwah agar keshalihan terjaga.Hidup dalam kebersamaan pasti berbenturan dengan kepentingan masing-masing orang. Setiap kepala berbeda yang dipikirkannya. Jangankan beda kepala, satu kepala saja banyak yang dipikirkan, sekiranya mana yang akan didahulukan dari keinginan yang muncul.
Saya jadi teringat Imam Syafi’i pernah memberi nasihat, ”Kalau ternyata nafsumu mendorong untuk membalas seseorang atas dirimu, maka renungkan kebaikan-kebaikan yang pernah ia lakukan untukmu, lalu gugurkan satu dari padanya sebagai balasan atas dosanya. Tapi jangan sekali-kali mengurangi kebaikan-kebaikan hanya karena dosa yang satu ini, karena itulah kezaliman yang sesungguhya. Jika kamu memiliki sahabat dekat maka peganglah erat-erat. Karena mencari sahabat amatlah susah, sedangkan memutuskan sahabat itu mudah.”(Shifatushafwah:1/234).
Cari sahabat dalam kebaikan butuh proses. kenalan dulu…. terus ngobrol makin dekat terus dan semakin dekat. kadang sebulan baru bisa dekat. Tapiiii….
Coba saja mau cari musuh. lepas sepatu lempar orang lewat… nah dapat tuh musuh kan….. apalagi sepatunya hak tinggi lempar pas kepala. Sekejap udah jadi musuh. Maka…..
Seperti tadi bagaimana muawiyah kasih nasihat. agar senantiasa terjaga keshalihan diantara kita. saling mengerti, menasihati, memberi ruang, memotivasi. Menjaga, merawat itu jauh lebih berat dibanding memulai. Bila diukur dengan materi, persahabatan dan persaudaraan itu sangat mahal harganya. Tak terbeli oleh materi. Tak tertukar oleh dolar. Tak tergoyah oleh rupiah. Persaudaraan hakiki berasal dari hati. Dan keikhlasan dari semua yang terjadi porosnya adalah hati.
Hidup dalam kebersamaan. Tak mudah seperti apa yang dibayangkan kadang butuh pengorbanan dan saling menjaga perasaan. Yang terpenting dari kita bila bergaul dengan siapa saja lakukan dengan tulus dari lubuk hati yang terdalam. Kejujuran dan selalu bersikap apa adanya dengan orang lain menjadi bumbu indahnya persaudaraan. Beginilah ukhuwah. Bila ada kesalahan temanmu tuliskan di atas pasir biarlah angin menerpanya. Namun bila kau lihat kebaikan yang ada pada dirinya tuliskan di atas batu biar mampu dikenang sepanjang masa. Mengingat setiap kebaikan yang ia perbuat dan menghapus segala khilaf dan alpa dari saudara kita. Kita harus menyadari keberadaannya hingga tanpa ia sadari khilaf dan lupa terlahirkan begitu saja.
Wallahul musta’an

Berniaga Dgn Non Muslim

Ustadz Menjawab
Selasa, 11 September 2018
Ustadz Oni Syahroni
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Afwan ustadz wa ustadzah.. saya mau bertanya, jika seorang muslim berdagang.. ketika ada pembeli yang non muslim membeli dagangan kita,, boleh tidak? Dan status uangnya itu bagaimana ustadz?? Halalkah atau bagaimana.. mohon penjelasan beserta dalilnya ustadz..syukron 🙏
Jawaban
————–
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Dalam fikih, tidak ada larangan bagi setiap pihak dalam transaksi bisnis untuk membeli atau menjual komoditasnya kepada non-muslim selama dipastikan bahwa komoditas yang dijual atau keuntungan yang didapatkan oleh penjual non-muslim tidak diperuntukkan untuk hal yang maksiat atau mendzalimi masyarakat atau umat islam.
Kebolehan tersebut sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah saw yang pernah bermuamalah dengan non-muslim, dimana beliau membeli secara tidak tunai dari seorang yahudi, sebagai jaminannya adalah baju besinya.
Sesusai hadits dari ‘Aisyah r.a yang menyampaikan bahwa:
اشترى رسول الله صل الله عليه وسلم من يهودي طعاما بنسيءة، فاعطاه درعا له رهنا (رواه مسلم).
Di samping itu dalam rukun dan syarat akad, tidak disyaratkan bahwa pihak-pihak yang menjadi mitra bisnis kita harus muslim. Oleh karena itu dalam syarat-syarat atau kriteria pihak-pihak akad atau ‘aqid yang ada hanya baligh, berakal, dan rasyid, dan tidak ada syarat agama atau harus muslim.
Kaidah ini juga sesuai dengan aspek maslahat yang menuntut transaksi atau muamalah itu dilakukan terhadap muslim dan non-muslim, karena tidak setiap komoditas yang kita butuhkan bisa kita dapatkan pada umat islam. Apalagi saat ini, dimana banyak sekali kebutuhan-kebutuhan seperti alat kesehatan dan sebagainya yang hanya bisa kita dapatkan atau bisa kita beli dari non-muslim.
Dari aspek fikih aulawiyat atau fikih prioritas, selama pilihan yang boleh atau bertransaksi dengan non-muslim itu tidak hanya satu, maka kita memilih pilihan yang paling ashlah (yang paling maslahat). Begitupula jika pilihannya adalah muslim dan non-muslim, maka kita memilih bermitra dengan sesama muslim, juga apabila pilihannya sesama muslim maka kita memilih pilihan muslim yang paling bermanfaat untuk  umat islam.
Wallahu a’lam.