Wudhu Air Hangatโ€‹

Assalamu’alaikum Ustadzah,izin bertanya,bagaimana hukumnya jika dalam kondisi sakit kita berwudu memakai air hangat? Terima kasih atas jawabannya.

๐ŸŒบJawaban :
—————-

ูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡
Mayoritas ulama’, termasuk madzhab syafi’i berpendapat bahwa bersuci dengan menggunakan air yang dipanaskan dengan selain menggunakan sinar matahari, seperti dengan api itu diperbolehkan dan tidak makruh, pendapat berbeda diriwayatkan dari Imam Mujahid yang menyatakan hukum penggunaannya adalah makruh.

Diantara dalil yang menguatkan diperbolehkannya menggunakan air yang dipanaskan dengan selain menggunakan sinar matahari adalah beberapa riwayat yang menjelaskan penggunaan air yang direbus oleh para sahabat dan tabi’in. Antara lain :

1. Aslam, budak sayyidina Umar, meriwayatkan ;

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุนูู…ูŽุฑูŽ ุจู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุณูŽุฎู‘ูŽู†ู ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุงุกูŒ ูููŠ ู‚ูู…ู’ู‚ูู…ูŽุฉู ูˆูŽูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ุจูู‡ู

“Sesungguhnya Umar bin Al-Khoththob rodhiyallohu ‘anhu direbuskan air didalam qumqumah (wadah untuk merebus air), lalu beliau mandi dengan menggunakan air tersebut.” (Sunan Kubro lil-Baihaqi, no.11 dan Sunan Daruquthni, no.85)

2. Diriwayatkan dari Ayyub, ia berkata

ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชู ู†ูŽุงููุนู‹ุงุŒ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ุงู„ู’ู…ูุณูŽุฎู‘ูŽู†ูุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ูƒูŽุงู†ูŽ ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ูŠูŽุชูŽูˆูŽุถู‘ูŽุฃู ุจูุงู„ู’ุญูŽู…ููŠู…ู

“Aku bertanya pada Nafi’ mengenai (penggunaan) air yang dipanaskan, beliau menjawab : “Ibnu Umar berwudhu dengan menggunakan air panas.”(Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, no.256)

3. Diriwayatkan dari Abu Salamah, ia berkata ;

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู: ุฅูู†ู‘ูŽุง ู†ูŽุฏู‘ูŽู‡ูู†ู ุจูุงู„ุฏู‘ูู‡ู’ู†ู ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุทูุจูุฎูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑูุŒ ูˆูŽู†ูŽุชูŽูˆูŽุถู‘ูŽุฃู ุจูุงู„ู’ุญูŽู…ููŠู…ู ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูุบู’ู„ููŠูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู

“Ibnu Abbas berkata : “Kami (para sahabat) menggunakan minyak wangi yang dimasak diatas api, dan kami juga wudhu dengan air panas yang direbus diatas api” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, no.258)

4. Diriwayatkan dari Qurroh, ia berkata ;

ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชู ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ูˆูุถููˆุกู ุจูุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ุงู„ุณู‘ูŽุงุฎูู†ูุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ู„ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณูŽ ุจูู‡

“Aku bertanya pada Al-Hasan, mengenai wudhu dengan air yang direbus, beliau menjawab : “Tidak apa apa”. (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, no.259)

( Dijawab oleh : dan )
Referensi :
1. Al Majmu’, Juz : 1 Hal : 91
2. Al Hawi Al Kabir, Juz : 1 Hal : 41
3. Al Bayan, Juz : 1 Hal : 14
4. Nihayatul Muhtaj, Juz : 1 Hal : 71
5. Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz : 39 Hal : 364
6. Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, Juz : 1 Hal : 31
Sumber:
fikihkontemporer.com

Wallahu a’lam.

Peran Janissary yang Selama Ini Dikecilkan dalam Pertempuran Mohacs 1526โ€‹

Hari ini 491 Tahun yang Lalu

โ€‹Data Sejarah & Analisis Baruโ€‹

Kekuatan senjata bermesiu milik kesatuan Janissary pada awal abad ke-16 memiliki daya hancur yang mematikan lawan. Kesatuan elit milik sultan kekhilafahan Turki Utsmani ini dapat menembakkan senjata mereka dalam posisi berdiri maupun berlutut tanpa bantuan penyangga.

Dalam pertempuran Mohacs tahun 1526 M, pasukan Janissary menembak dalam formasi sembilan baris, menurut sejarawan Celalzade Mustafa (w. 1567 M). Mereka menembak lawannya dari barisan yang disiplin, baris demi baris. Sebegitu efektif dan mematikan taktik dan persenjataan mereka sehingga mulai banyak sejarawan yang berubah pandangan. Sekarang mereka menilai bahwa yang melumatkan puluhan ribu pasukan kavaleri Hungaria dalam 2 jam itu bukan meriam, namun senjata perorangan bermesiu milik kesatuan Janissary. Untuk data terbaru silakan dibaca buku Mohacs Emlekezete karya Karoly Kis (Budapest: 1987) yang memuat catatan Istvan Brodarics (w. 1537), salah seorang saksi mata peristiwa.

Meriam produksi kekhilafahan Turki Utsmani yang banyak digelar pada pertempuran Mohacs 1526 adalah dari kelas Darbzen. Jenis tersebut merupakan yang mudah diangkut serta diproduksi massal antara tahun 1522 s/d 1525.

Setelah perang di Mohacs, kota ini menjadi salah satu galangan kapal milik kekhilafahan Turki Utsmani di sepanjang Sungai Danube.

Dirangkum dari:

โ€‹Agoston, G. Guns for the Sultan – Military Power and the Weapons Industry in the Ottoman Empire, Cambridge, Cambridge University Press: 2005.โ€‹

Agung Waspodo, bersyukur kepadaNya untuk malam yang produktif
Depok, 28 Agustus 2017

Od Jadrana do Irana, Neje Biti Muslimanaโ€‹

โ€‹Memperingati 491 tahun Pertempuran Mohacs – 29 Agustus 2017-1526 Mโ€‹

Mahkota St. Stephen adalah simbol kedigdayaan kerajaan di Eropa pada awal abad ke-16 dan itu ada di kepala Raja Lajos (Louis II, 1515-26) dari Hungaria. Raja Francis I Valois (1515-47) dari Perancis menginginkan mahkota tersebut untuk dirinya sehingga pecah perang. Dengan bantuan Spanyol, Lajos II berhasil memukul mundur Francis I yang terpaksa bertahan di bentengnya.

Dari dalam benteng ia menulis surat permohonan bantuan kepada Sultan Sรผleyman Kanuni (1520-66) dari Kekhilafahan Turki Utsmani. Untuk mengalihkan sebagian kekuatan Spanyol-Hungaria maka dikirimlah Vezir-i A’zam (Grand Vizier) Pargalฤฑ ฤฐbrahim PaลŸa (1523-36) dengan pasukan elit pionir.

Pada masa itu terdapat dendang Serbia yang populer berirama “od Jadrana do Irana, neje biti Muslimana” yang artinya “dari Adriatik hingga ke Iran, tidak ada Muslim yang bertahan”. Hingga pembantaian Muslimin di Bosnia pada abad ke-20 pun dendang tersebut masih populer. Kekhawatiran akan bersatunya raja-raja Eropa menumpas Ummat Islam mendorong sultan bergerak secara personal memimpin balatentara ke perbatasan.

Sรผleyman berangkat setelah mengunjungi pusara Eyรผp Sultan, ลžeyh Ebu Vefa, Sultan Fatih, Sultan Bayezid, dan Sultan Selim Yavuz dan berdoa memohon keberkahan dari Allah Azza wa Jalla. Menurut sejarawan Solakzade Mehmed Hemdemi dalam kitab Tarihi (1298 H) sultan berangkat membawa Sanjak-i Sherif atau Bendera Perang Kekhilafahan.

Balatentara Hungaria yang diperkuat kontingen berbagai kerajaan, antara lain: wilayah Jerman, Polandia, Czech, kota-kota di semenanjung Italia, dan Spanyol menanti di Palagan Mohacs. Pasukan berkuda gabungan ini berjumlah 60 ribu dan terpusat di lini tengah. Menurut sejarawan Lรผtfi PaลŸa dalam kitab Tevarih-i Ali Osman (1341 H) terdapat juga kontingen Russia.

Atas saran Bali Beg seorang akฤฑnjฤฑ pejabat Sanjakbegi dari Semendire, sultan menyeberangi sungai Sava dan Drava serta meletakkan 300 meriam di lini tengah. Padahal biasanya meriam dalam pernah terbuka diletakkan di sayap kiri dan kanan. Dalam pertempuran singkat 2 jam, kepongahan raja-raja Eropa dibabat habis tak tersisia. Dalam tumpukan korban pasukan berkuda terdapat Raja Lajos sendiri.

Kota Buda, ibukota Hungaria, menyerah tanpa syarat kepada Sรผleyman Kanuni menurut sejarawan modern ฤฐsmail Hakkฤฑ Uzunรงarsฤฑlฤฑ dalam kitab Osmanlฤฑ Tarihi (1982-88 M). Sรผleyman mengangkat Janos Zapoyla sebagai Raja Hungaria bagian timur yang loyal kepada kekhilafahan Turki Utsmani. Sekembalinya dari pertempuran ini, Sรผleyman menegur dutabesar Hungaria di ฤฐstanbul dengan bait: “bangsa Eropa Kristen telah mengumpulkan awan yang mengancam para pendahuluku, tetapi awan tersebut tak pernah turun menjadi hujan, andai mereka tidak memulai, maka aku tidak perlu menumpahkan darah mereka!”

Dirangkum dari:

โ€‹MaksudoฤŸlu M. Osmanlฤฑ History 1289-1922 Based on Osmanlฤฑ Sources, Kuala Lumpur: IIUM, 1999. pp. 117-119.โ€‹

Agung Waspodo, merasa kecil dibawah awan
Depok, 28 Agustus 2017

HIJAB

Assalamu’alaikum ustadz/ah..apa hukum nya jika menjual pakaian yang tidak mnutup aurat (seksi)?
Padahal kan kita d wajibkan untuk menutup aurat..
Trus bagaimana mnyikapi orang yang berjualan pakaian trsebut? Apakah di tegur atau dibiarkan saja. Padahal umur orang tersebut jauh lebih tua dr kita?๐Ÿ…ฐ3โƒฃ8โƒฃ

Jawaban
———–

ูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ

โ€‹Keutamaan Hijabโ€‹

โ€‹โ€ข Hijab itu adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul.โ€‹

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala telah mewajibkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Taโ€™ala:

ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ู…ูุคู’ู…ูู†ู ูˆูŽู„ุงูŽ ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุฉู ุฅุฐุงูŽ ู‚ูŽุถูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ุฃู…ู’ุฑู‹ุง ุฃู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ู„ู‡ูู…ู ุงู„ุฎููŠูŽุฑูŽุฉู ู…ูู†ู’ ุฃู…ู’ุฑูู‡ูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ุตู ุงู„ู„ู‡ูŽ ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูŽู‡ู ููŽู‚ูŽุฏู’ ุถูŽู„ู‘ูŽ ุถูŽู„ุงูŽู„ุงู‹ ู…ูุจููŠู†ู‹ุง

โ€œDan tidaklah patut bagi laki-laki yang muโ€™min dan tidak pula bagi perempuan yang muโ€™minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.โ€ (Q.S. Al-Ahzab: 36)

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala juga memerintahkan kaum wanita untuk menggunakan hijab sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Taโ€™ala:

ูˆูŽู‚ูู„ู’ ู„ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชู ูŠูŽุบู’ุถูุถู’ู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุฃุจู’ุตูŽุงุฑูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽูŠูŽุญู’ููŽุธู’ู†ูŽ ููุฑููˆุฌูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูุจู’ุฏููŠู†ูŽ ุฒููŠู†ูŽุชูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ุฅู„ุงู‘ูŽ ู…ูŽุง ุธูŽู‡ูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง

โ€œDan katakanlah kepada wanita yang beriman: โ€œHendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.โ€
(QS. An-Nur: 31)

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman:

ูˆูŽู‚ูŽุฑู’ู†ูŽ ูููŠ ุจููŠููˆุชููƒูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุจูŽุฑู‘ูŽุฌู’ู†ูŽ ุชูŽุจูŽุฑู‘ูุฌูŽ ุงู„ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ูŽุฉู ุงู„ุฃููˆู„ูŽู‰

โ€œDan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah.โ€
(QS. Al-Ahzab: 33)

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman:

ูˆูŽุฅุฐูŽุง ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชูู…ููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูŽุชูŽุงุนู‹ุง ููŽุงุณู’ุฃูŽู„ููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ูˆูŽุฑูŽุงุกู ุญูุฌูŽุงุจู ุฐูŽู„ููƒูู…ู’ ุฃุทู’ู‡ูŽุฑู ู„ูู‚ูู„ููˆุจููƒูู…ู’ ูˆูŽู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู†ู‘ูŽ

โ€œApabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.โ€
(QS. Al-Ahzab: 53)

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman:

ูŠูŽุง ุฃูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ู‚ูู„ู’ ู„ุฃุฒู’ูˆูŽุงุฌููƒูŽ ูˆูŽุจูŽู†ูŽุงุชููƒูŽ ูˆูŽู†ูุณูŽุงุกู ุงู„ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูŠูุฏู’ู†ููŠู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุฌูŽู„ุงูŽุจููŠุจูู‡ูู†ู‘ูŽ

โ€œHai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang muโ€™min:
โ€œHendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.โ€
(QS. Al-Ahzab: 59)

Rasulullah Shalallahu โ€˜alaihi wassalam bersabda:
โ€œWanita itu auratโ€

maksudnya adalah bahwa ia harus menutupi tubuhnya.

โ€‹โ€ข Hijab itu โ€˜iffah (kemuliaan)โ€‹
Allah Subhanahu wa Taโ€™ala menjadikan kewajiban menggunakan hijab sebagai tanda โ€˜Iffah (menahan diri dari maksiat).
Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman:

ูŠุงูŽ ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ู‚ูู„ู’ ู„ุฃุฒู’ูˆูŽุงุฌููƒูŽ ูˆูŽุจูŽู†ูŽุงุชููƒูŽ ูˆูŽู†ูุณูŽุงุกู ุงู„ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูŠูุฏู’ู†ููŠู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุฌูŽู„ุงูŽุจููŠุจูู‡ูู†ู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃุฏู’ู†ูŽู‰ ุฃู†ู’ ูŠูุนู’ุฑูŽูู’ู†ูŽ ููŽู„ุงูŽ ูŠูุคู’ุฐูŽูŠู’ู†ูŽ

โ€œHai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang muโ€™min: โ€œHendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.โ€
(QS. Al-Ahzab: 59)

Itu karena mereka menutupi tubuh mereka untuk menghindari dan menahan diri dari perbuatan jelek (dosa), โ€œkarena itu mereka tidak digangguโ€. Maka orang-orang fasik tidak akan mengganggu mereka. Dan pada firman Allah โ€œkarena itu mereka tidak digangguโ€ sebagai isyarat bahwa mengetahui keindahan tubuh wanita adalah suatu bentuk gangguan berupa fitnah dan kejahatan bagi mereka.

โ€‹โ€ข Hijab itu kesucianโ€‹
Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman:

ูˆูŽุฅุฐูŽุง ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชูู…ููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูŽุชูŽุงุนู‹ุง ููŽุงุณู’ุฃูŽู„ููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ูˆูŽุฑูŽุงุกู ุญูุฌูŽุงุจู ุฐูŽู„ููƒูู…ู’ ุฃุทู’ู‡ูŽุฑู ู„ูู‚ูู„ููˆุจููƒูู…ู’ ูˆูŽู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู†ู‘ูŽ

โ€œApabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.โ€
(QS. Al-Ahzab: 53)

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala menyifati hijab sebagai kesucian bagi hati orang-orang muโ€™min, laki-laki maupun perempuan. Karena mata bila tidak melihat maka hatipun tidak berhasrat. Pada saat seperti ini, maka hati yang tidak melihat akan lebih suci. Ketiadaan fitnah pada saat itu lebih nampak, karena hijab itu menghancurkan keinginan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya, Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman:

ููŽู„ุงูŽ ุชูŽุฎู’ุถูŽุนู’ู†ูŽ ุจูุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู„ู ููŽูŠูŽุทู’ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูููŠ ู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ู ู…ูŽุฑูŽุถูŒ

โ€œMaka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.โ€
(QS. Al-Ahzab: 32)

โ€‹โ€ข Hijab itu pelindungโ€‹

Rasulullah Shalallahu โ€˜alaihi wassalambersabda:

(ุฅู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ุญูŽูŠููŠู‘ูŒ ุณูŽุชููŠุฑูŒ ูŠูุญูุจู‘ู ุงู„ุญูŽูŠูŽุงุกูŽ ูˆูŽุงู„ุณู‘ูุชู’ุฑูŽ)

โ€œSesungguhnya Allah itu Malu dan Melindungi serta Menyukai rasa malu dan perlindunganโ€

Sabda beliau yang lain:

(( ุฃูŠู‘ูŽู…ูŽุง ุงูู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู ู†ูŽุฒูŽุนูŽุชู’ ุซููŠูŽุงุจูŽู‡ูŽุง ููŠ ุบูŽูŠู’ุฑู ุจูŽูŠู’ุชูู‡ูŽุง ุฎูŽุฑูŽู‚ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽุฒู‘ูŽ ูˆูŽุฌูŽู„ู‘ูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ุณูุชู’ุฑูŽู‡ู))

โ€œSiapa saja di antara wanita yang melepaskan pakaiannya di selain rumahnya, maka Allah Azza wa Jalla telah mengoyak perlindungan rumah itu dari padanya.โ€

Jadi balasannya setimpal dengan perbuatannya.

โ€‹โ€ข Hijab itu taqwaโ€‹
Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman:

ูŠุงูŽ ุจูŽู†ููŠ ุขุฏูŽู…ูŽ ู‚ูŽุฏู’ ุฃู†ู’ุฒูŽู„ู’ู†ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ู„ูุจูŽุงุณู‹ุง ูŠููˆูŽุงุฑููŠ ุณูŽูˆู’ุกูŽุงุชููƒูู…ู’ ูˆูŽุฑููŠุดู‹ุง ูˆูŽู„ูุจูŽุงุณู ุงู„ุชู‘ูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ

โ€œHai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik.โ€
(QS. Al-Aโ€™raaf: 26)

โ€‹โ€ข Hijab itu imanโ€‹

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala tidak berfirman kecuali kepada wanita-wanita beriman:

โ€œDan katakanlah kepada wanita yang beriman.โ€ (Q.S. An-Nur: 31).

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala juga berfirman:

โ€œDan istri-istri orang beriman.โ€ (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Dan ketika wanita-wanita dari Bani Tamim menemui Ummul Muโ€™minin, Aisyah ra dengan pakaian tipis, beliau berkata:

โ€œJika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.โ€

โ€‹โ€ข Hijab itu hayaโ€™ (rasa malu)โ€‹

Rasulullah Shalallahu โ€˜alaihi wassalam bersabda:

((ุฅู†ู‘ูŽ ู„ููƒูู„ู‘ู ุฏููŠู†ู ุฎูู„ูู‚ู‹ุง ุŒ ูˆูŽุฅู†ู‘ูŽ ุฎูู„ูู‚ูŽ ุงู„ุฅุณู’ู„ุงูŽู…ู ุงู„ุญูŽูŠูŽุงุกู))

โ€œSesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.โ€

Sabda beliau yang lain:

โ€œMalu itu adalah bagian dari iman dan iman itu di surga.โ€

Sabda Rasul yang lain:

((ุงู„ุญูŽูŠูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ุฅูŠู…ูŽุงู†ู ู‚ูุฑูู†ูŽุง ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุง ุŒ ููŽุฅู†ู’ ุฑูููุนูŽ ุฃุญูŽุฏูู‡ูู…ูŽุง ุฑูููุนูŽ ุงู„ุขุฎูŽุฑู))

โ€œMalu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.โ€

โ€ข โ€‹Hijab itu ghirah (perasaan cemburu)โ€‹

Hijab itu selaras dengan perasaan cemburu yang merupakan fitrah seorang laki-laki sempurna yang tidak senang dengan pandangan-pandangan khianat yang tertuju kepada istri dan anak wanitanya. Berapa banyak peperangan terjadi pada masa Jahiliyah dan masa Islam akibat cemburu atas seorang wanita dan untuk menjaga kehormatannya.

Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu berkata:

โ€œTelah sampai kepadaku bahwa wanita-wanita kalian berdesak-desakan dengan laki-laki kafir orang โ€˜ajam (non Arab) di pasar-pasar, tidakkah kalian merasa cemburu? Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada seseorang yang tidak memiliki perasaan cemburu.โ€

โ€‹โ€‹Beberapa syarat hijab yang harus terpenuhi:โ€‹โ€‹
1. Menutupi seluruh anggota tubuh wanita -berdasarkan pendapat yang paling rajih / terang
2. Hijab itu sendiri pada dasarnya bukan perhiasan.
3. Tebal dan tidak tipis atau trasparan.
4. Longgar dan tidak sempit atau ketat.
5. Tidak memakai wangi-wangian.
6. Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir.
7. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.
8. Tidak bermaksud memamerkannya kepada orang-orang.

โ€‹Jangan berhias terlalu berlebihanโ€‹

Bila anda memperhatikan syarat-syarat tersebut di atas akan nampak bagi anda bahwa banyak di antara wanita-wanita sekarang ini yang menamakan diri sebagai wanita berjilbab, padahal pada hakekatnya mereka belum berjilbab. Mereka tidak menamakan jilbab dengan nama yang sebenarnya. Mereka menamakan Tabarruj sebagai hijab dan menamakan maksiat sebagai ketaatan.

Musuh-musuh kebangkitan Islam berusaha dengan sekuat tenaga menggelincirkan wanita itu, lalu Allah menggagalkan tipu daya mereka dan meneguhkan orang-orang Muโ€™min di atas ketaatan kepada Tuhannya. Mereka memanfaatkan wanita itu dengan cara-cara kotor untuk memalingkannya dari jalan Tuhan dengan memproduksi jilbab dalam berbagai bentuk dan menamakannya sebagai โ€œjalan tengahโ€ yang dengan itu ia akan mendapatkan ridha Tuhannya -sebagaimana pengakuan mereka- dan pada saat yang sama ia dapat beradaptasi dengan lingkungannya dan tetap menjaga kecantikannya.

โ€‹Kami dengar dan kami taatโ€‹

Seorang muslim yang jujur akan menerima perintah Tuhannya dan segera menerjemahkannya dalam amal nyata, karena cinta dan perhomatannya terhadap Islam, bangga dengan syariat-Nya, mendengar dan taat kepada sunnah nabi-Nya dan tidak peduli dengan keadaan orang-orang sesat yang berpaling dari kenyataan yang sebenarnya, serta lalai akan tempat kembali yang ia nantikan. Allah menafikan keimanan orang yang berpaling dari ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya:

ูˆูŽูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ุขู…ูŽู†ู‘ูŽุง ุจูุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุจูุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ู ูˆูŽุฃูŽุทูŽุนู’ู†ูŽุง ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูŽุชูŽูˆูŽู„ู‘ูŽู‰ ููŽุฑู’ูŠู‚ูŒ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏู ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽู…ูŽุง ุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ุจูุงู„ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ (47)

ูˆูŽุฅุฐูŽุง ุฏูุนููˆุง ุฅู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ู„ููŠูŽุญู’ูƒูู…ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’ ุฅุฐูŽุง ููŽุฑููŠู‚ูŒ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ู…ูุนู’ุฑูุถููˆู†ูŽ(48)

โ€œDan mereka berkata: โ€œKami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami menaati (keduanya).โ€ Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.โ€
(QS. An-Nur: 47-48)

Firman Allah yang lain:

ุฅู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูƒุงูŽู†ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู„ูŽ ุงู„ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ุฅุฐูŽุง ุฏูุนููˆุง ุฅู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ู„ููŠูŽุญู’ูƒูู…ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’ ุฃู†ู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆุง ุณูŽู…ูุนู’ู†ูŽุง ูˆูŽุฃุทูŽุนู’ู†ูŽุง ูˆูŽุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ู…ููู’ู„ูุญููˆู†ูŽ (51)

ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูุทูุนู ุงู„ู„ู‡ูŽ ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูŽู‡ู ูˆูŽูŠูŽุฎู’ุดูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูˆูŽูŠูŽุชู‘ูŽู‚ูู‡ู ููŽุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ููŽุงุฆูุฒููˆู†ูŽ (52)

โ€œSesungguhnya jawaban orang-orang muโ€™min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: โ€œKami mendengar dan kami patuh.โ€ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.โ€ Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.โ€
(QS. An-Nur: 51-52)

Dari Shofiyah binti Syaibah berkata: โ€œKetika kami bersama Aisyah ra, beliau berkata: โ€œSaya teringat akan wanita-wanita Quraisy dan keutamaan mereka.โ€ Aisyah berkata: โ€œSesungguhnya wanita-wanita Quraisy memiliki keutamaan, dan demi Allah, saya tidak melihat wanita yang lebih percaya kepada kitab Allah dan lebih meyakini ayat-ayat-Nya melebihi wanita-wanita Anshor. Ketika turun kepada mereka ayat: โ€œDan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.โ€ (QS. An-Nur: 31)

Maka para suami segera mendatangi istri-istri mereka dan membacakan apa yang diturunkan Allah kepada mereka. Mereka membacakan ayat itu kepada istri, anak wanita, saudara wanita dan kaum kerabatnya. Dan tidak seorangpun di antara wanita itu kecuali segera berdiri mengambil kain gorden (tirai) dan menutupi kepala dan wajahnya, karena percaya dan iman kepada apa yang diturunkan Allah dalam kitab-Nya. Sehingga mereka (berjalan) di belakang Rasulullah Shalallahu โ€˜alaihi wassalamdengan kain penutup seakan-akan di atas kepalanya terdapat burung gagak.โ€

kalo kepada orang yang lebih tua menegur bukan secara langsung tp dengan contoh atau butuh bantuan orang lain yg seusianya.

(Dinukil dari kitab : ุงู„ุญุฌุงุจ Al Hijab. Penebit: Darul Qosim ุฏุงุฑ ุงู„ู‚ุงุณู… ู„ู„ู†ุดุฑ ูˆุงู„ุชูˆุฒูŠุน P.O. Box 6373 Riyadh 11442)

Wallahu a’lam.

Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Amalan-Amalannya (Bag. 3- selesai) (Repost)โ€‹

Ringkasanโ€‹

Shalat Idul Adha dan Menyembelih Hewan Qurban. Shalat Idul Adha (juga Idhul Fitri) adalahย sunah muakadah
Selanjutnya berqurban,
Para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya, ada yang mengatakan wajib bagi yang memiliki kelapangan rezeki, ada pula yang mengatakanย sunah muโ€™akadah, dan inilah pendapat mayoritas sahabat, tabiโ€™in, dan para ulama.

– Tidak Berpuasa pada Hari Raya ( 10 Dzulhijah) dan hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzul Hijjah)

– Berdzikir Kepada Allah Taโ€™ala pada hari-hari Tasyriq

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

โ€‹4. Shalat Idul Adha dan Menyembelih Hewan Qurban.โ€‹

Shalat Idul Adha (juga Idhul Fitri) adalahย sunah muakadah

Dalam hal ini Allah Taโ€™ala berfirman;

ููŽุตูŽู„ู‘ู ู„ูุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ูˆูŽุงู†ู’ุญูŽุฑู’

โ€œMaka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”ย (QS. Al Kautsar: 2)

Shalat Idul Adha (juga Idhul Fitri) adalahย sunah muakadah. Berkata Syaikh Sayyid Sabiqย Rahimahullah:

ุดุฑุนุช ุตู„ุงุฉ ุงู„ุนูŠุฏูŠู† ููŠ ุงู„ุณู†ุฉ ุงู„ุงูˆู„ู‰ ู…ู† ุงู„ู‡ุฌุฑุฉุŒ ูˆู‡ูŠ ุณู†ุฉ ู…ุคูƒุฏุฉ ูˆุงุธุจ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนู„ูŠู‡ุง ูˆุฃู…ุฑ ุงู„ุฑุฌุงู„ ูˆุงู„ู†ุณุงุก ุฃู† ูŠุฎุฑุฌูˆุง ู„ู‡ุง.

Disyariatkannya shalatย โ€˜Idainย (dua hari raya) pada tahun pertama dari hijrah, dia adalahย sunah muakadahย yang selalu dilakukan oleh Nabiย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, Beliau memerintahkan kaum laki-laki dan wanita untuk keluar meramaikannya.ย (Fiqhus Sunnah, 1/317)

Ada pun kalangan Hanafiyah berpendapat wajib, tetapi wajib dalam pengertian madzhab Hanafi adalah kedudukan di antara sunah dan fardhu.

Disebutkan dalamย Al Mausuโ€™ah:

ุตูŽู„ุงูŽุฉู ุงู„ู’ุนููŠุฏูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽุงุฌูุจูŽุฉูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู„ ุงู„ุตู‘ูŽุญููŠุญู ุงู„ู’ู…ููู’ุชูŽู‰ ุจูู‡ู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู’ุญูŽู†ูŽูููŠู‘ูŽุฉู โ€“ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุฑูŽุงุฏู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ูˆูŽุงุฌูุจู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู’ุญูŽู†ูŽูููŠู‘ูŽุฉู : ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽู†ู’ุฒูู„ูŽุฉูŒ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู’ููŽุฑู’ุถู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽุฉู โ€“ ูˆูŽุฏูŽู„ููŠู„ ุฐูŽู„ููƒูŽ : ู…ููˆูŽุงุธูŽุจูŽุฉู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฏููˆู†ู ุชูŽุฑู’ูƒูู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ู…ูŽุฑู‘ูŽุฉู‹

Shalatย โ€˜Idainย adalah wajib menurut pendapat yang shahih yang difatwakan oleh kalangan Hanafiyah โ€“maksud wajib menurut madzhab Hanafi adalah kedudukan yang setara antara fardhu dan sunah. Dalilnya adalah begitu bersemangatnya Nabiย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallamย melakukannya, Beliau tidak pernah meninggalkannya sekali pun.ย (Al Mausuโ€™ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/240)

Sedangkan Syafiโ€™iyah dan Malikiyah menyatakan sebagaiย sunah muakadah, dalilnya adalah karena Nabiย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallamย pernah ditanya oleh orang Arab Badui tentang shalat fardhu, Nabi menyebutkan shalat yang lima. Lalu Arab Badui itu bertanya:

ู‡ูŽู„ ุนูŽู„ูŽูŠู‘ูŽ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู†ู‘ูŽ ุŸ ู‚ูŽุงู„ ู„ุงูŽ ุŒ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุทูŽูˆู‘ูŽุนูŽ

Apakah ada yang selain itu? Nabi menjawab: โ€œTidak ada, kecuali yang sunah.”ย (HR. Bukhari No. 46)

Bukti lain bahwa shalatย โ€˜Idainย itu sunah adalah shalat tersebut tidak menggunakan adzan dan iqamah sebagaimana shalat wajib lainnya. Shalat tersebut sama halnya dengan shalat sunah lainnya tanpa adzan dan iqamah, seperti dhuha, tahajud, dan lainnya. Ini menunjukkan bahwa shalat โ€˜Idainย adalah sunah.

Sedangkan Hanabilah mengatakanย fardhu kifayah, alasannya adalah karena firman Allah Taโ€™ala menyebutkan shalat tersebut dengan kalimat perintah:ย โ€œMaka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”(QS. Al Kautsar: 2). Juga karena Nabiย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallamย selalu merutinkannya.ย (Ibid, 27/240)

Insya Allah, secara khusus pada kesempatan lain akan kami bahas pula adab-adab pada hari raya.

Selanjutnya berqurban,
Para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya, ada yang mengatakan wajib bagi yang memiliki kelapangan rezeki, ada pula yang mengatakanย sunah muโ€™akadah, dan inilah pendapat mayoritas sahabat, tabiโ€™in, dan para ulama.

Ulama yang mewajibkan berdalil dengan hadits berikut, dari Abu Hurairahย Radhiallhu โ€˜Anhuย bahwa Rasulullahย Shalallahu โ€˜Alaihi wa Sallamย bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ุณูŽุนูŽุฉูŒ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูุถูŽุญู‘ู ููŽู„ูŽุง ูŠูŽู‚ู’ุฑูŽุจูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุตูŽู„ู‘ูŽุงู†ูŽุง

โ€œBarangsiapa yang memiliki kelapangan (rezeki) dan dia tidak berkurban, maka jangan dekati tempat shalat kami.”ย (HR. Ibnu Majah No. 3123, Al Hakim No. 7565, Ahmad No. 8273, Ad Daruquthni No. 53, Al Baihaqi dalamย Syuโ€™abul Imanย No. 7334)

Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Hakim dalamย Al Mustadraknya No. 7565, katanya:โ€œShahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya.”ย Imam Adz Dzahabi menyepakati hal ini.

Syaikh Al Albani menshahihkan dalamย Shahihul Jamiโ€™ย No. 6490, namun hanya menghasankan dalam kitab lainnya sepertiย At Taโ€™liq Ar Raghib, 2/103, danย Takhrij Musykilat Al Faqr,No. 102.

Sementara Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mendhaifkan hadits ini, dan beliau mengkritik Imam Al Hakim dan Imam Adz Dzahabi dengan sebutan: โ€œwa huwa wahm minhumaย โ€“ ini adalah wahm (samar/tidak jelas/ragu) dari keduanya.” Beliau juga menyebut penghasanan yang dilakukan Syaikh Al Albani dengan sebutan: โ€œfa akhthaโ€™a โ€“ keliru/salah.”ย (Lihatย Taโ€™liq Musnad Ahmadย No. 8273)

Mengomentari hadits ini, berkataย Imam Amir Ash Shanโ€™aniย Rahimahullah:

ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุงุณู’ุชูŽุฏูŽู„ู‘ูŽ ุจูู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ูˆูุฌููˆุจู ุงู„ุชู‘ูŽุถู’ุญููŠูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ุณูŽุนูŽุฉูŒ ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽู…ู‘ูŽุง ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู’ ู‚ูุฑู’ุจูŽุงู†ู ุงู„ู’ู…ูุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุฏูŽู„ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุฑูŽูƒูŽ ูˆูŽุงุฌูุจู‹ุง ูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽู‚ููˆู„ู ู„ูŽุง ููŽุงุฆูุฏูŽุฉูŽ ูููŠ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ู…ูŽุนูŽ ุชูŽุฑู’ูƒู ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ูˆูŽุงุฌูุจู ูˆูŽู„ูู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ { ููŽุตูŽู„ู‘ู ู„ูุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ูˆูŽุงู†ู’ุญูŽุฑู’ } ูˆูŽู„ูุญูŽุฏููŠุซู ู…ูุฎู’ู†ูŽูู ุจู’ู†ู ุณูู„ูŽูŠู’ู…ู ู…ูŽุฑู’ูููˆุนู‹ุง { ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ูƒูู„ู‘ู ุจูŽูŠู’ุชู ูููŠ ูƒูู„ู‘ู ุนูŽุงู…ู ุฃูุถู’ุญููŠู‘ูŽุฉูŒ } ุฏูŽู„ู‘ูŽ ู„ูŽูู’ุธูู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ูˆูุฌููˆุจู ุŒ ูˆูŽุงู„ู’ูˆูุฌููˆุจู ู‚ูŽูˆู’ู„ู ุฃูŽุจููŠ ุญูŽู†ููŠููŽุฉูŽ

โ€œHadits ini dijadikan dalil wajibnya berkurban bagi yang memiliki kelapangan rezeki, hal ini jelas ketika Rasulullah melarang mendekati tempat shalat, larangan itu menunjukkan bahwa hal itu merupakan meninggalkan kewajiban, seakan Beliau mengatakan shalatnya tidak bermanfaat jika meninggalkan kewajiban ini. Juga karena firmanNya: โ€œmaka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” Dalam hadits Mikhnaf bin Sulaim secaraย marfuโ€™ย (sampai kepada Rasulullah) berbunyi:ย โ€œ (wajib) atas penduduk setiap rumah pada tiap tahunnya untuk berkurban.”ย Lafaz hadits ini menunjukkan wajibnya. Pendapat yang menyatakan wajib adalah dari Imam Abu Hanifah.[6]

Sementara yang tidak mewajibkan, menyatakan bahwa dua hadits di atas tidak bisa dijadikan hujjah (dalil), sebab yang pertamaย mauqufย (hanya sampai sahabat nabi, bukan Rasulullahย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam), hadits keduaย dhaโ€™if. Sedangkan ayatย Fashalli li Rabbika wanhar, tidak bermakna wajib kurban melainkan menunjukkan urutan aktifitas, yakni menyembelih kurban dilakukan setelah shalat Id.

Berikut keterangan dariย Imam Ash Shanโ€™ani:

ูˆูŽู‚ููŠู„ูŽ ู„ูŽุง ุชูŽุฌูุจู ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ุงู„ู’ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ู ู…ูŽูˆู’ู‚ููˆููŒ ููŽู„ูŽุง ุญูุฌู‘ูŽุฉูŽ ูููŠู‡ู ูˆูŽุงู„ุซู‘ูŽุงู†ููŠ ุถูŽุนู’ููŒ ุจูุฃูŽุจููŠ ุฑูŽู…ู’ู„ูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจููŠู‘ู : ุฅู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽุฌู’ู‡ููˆู„ูŒ ูˆูŽุงู„ู’ุขูŠูŽุฉู ู…ูุญู’ุชูŽู…ูู„ูŽุฉูŒ ููŽู‚ูŽุฏู’ ููุณู‘ูุฑูŽ ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ( { ูˆูŽุงู†ู’ุญูŽุฑู’ } ) ุจููˆูŽุถู’ุนู ุงู„ู’ูƒูŽูู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุญู’ุฑู ูููŠ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽู‡ู ุงุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ุญูŽุงุชูู…ู ูˆูŽุงุจู’ู†ู ุดูŽุงู‡ููŠู†ูŽ ูููŠ ุณูู†ูŽู†ูู‡ู ูˆูŽุงุจู’ู†ู ู…ูŽุฑู’ุฏููˆูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽูŠู’ู‡ูŽู‚ููŠู‘ู ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ูˆูŽูููŠู‡ู ุฑููˆูŽุงูŠูŽุงุชูŒ ุนูŽู†ู’ ุงู„ุตู‘ูŽุญูŽุงุจูŽุฉู ู…ูุซู’ู„ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุณูู„ู‘ูู…ูŽ ููŽู‡ููŠูŽ ุฏูŽุงู„ู‘ูŽุฉูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุญู’ุฑูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ููŽู‡ููŠูŽ ุชูŽุนู’ูŠููŠู†ูŒ ู„ููˆูŽู‚ู’ุชูู‡ู ู„ูŽุง ู„ููˆูุฌููˆุจูู‡ู ูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุฅุฐูŽุง ู†ูŽุญูŽุฑู’ุช ููŽุจูŽุนู’ุฏูŽ ุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ู’ุนููŠุฏู ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽ ุงุจู’ู†ู ุฌูŽุฑููŠุฑู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณู { ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽู†ู’ุญูŽุฑู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠูŽ ููŽุฃูู…ูุฑูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูŽู†ู’ุญูŽุฑู } ูˆูŽู„ูุถูŽุนู’ูู ุฃูŽุฏูู„ู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ูˆูุฌููˆุจู ุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ุงู„ู’ุฌูู…ู’ู‡ููˆุฑู ู…ูู†ู’ ุงู„ุตู‘ูŽุญูŽุงุจูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽุงุจูุนููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ููู‚ูŽู‡ูŽุงุกู ุฅู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุณูู†ู‘ูŽุฉูŒ ู…ูุคูŽูƒู‘ูŽุฏูŽุฉูŒ ุจูŽู„ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ุญูŽุฒู’ู…ู ู„ูŽุง ูŠูŽุตูุญู‘ู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุญูŽุฏู ู…ูู†ู’ ุงู„ุตู‘ูŽุญูŽุงุจูŽุฉู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุงุฌูุจูŽุฉูŒ .

โ€œDikatakan: Tidak wajib, karena hadits pertama adalahย mauqufย dan tidak bisa dijadikan hujjah (dalil). Hadits keduaย (dari Mikhnaf bin Sulaim)ย dhaifย karena dalam sanadnya adaย Abu Ramlah. Berkata Imam Al Khathabi: โ€œDia ituย majhulย (tidak dikenal).” Sedangkan firmanNya:ย โ€œโ€ฆberkurbanlah.”adalah tentang penentuan waktu penyembelihan setelah shalat. Telah diriwayatkan oleh Abu Hatim, Ibnu Syahin di dalamย sunan-nya, Ibnu Mardawaih, dan Al Baihaqi dari Ibnu Abbas dan didalamnya terdapat beberapa riwayat dari sahabat yang seperti ini, yang menunjukkan bahwa menyembelih kurban itu dilakukan setelah shalat (โ€˜Ied). Maka ayat itu secara khusus menjelaskan tentang waktu penyembelihnnya, bukan menunjukkan kewajibannya. Seolah berfirman: Jika engkau menyembelih maka (lakukan) setelah shalat โ€˜Ied. Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Anas:ย โ€œBahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam pernah menyembelih sebelum shalat Id, lalu Beliau diperintahkan untuk shalat dulu baru kemudian menyembelih.” Maka nyatalah kelemahan alasan mereka yang mewajibkannya. Sedangkan, madzhabjumhurย (mayoritas) dari sahabat, tabiโ€™in, dan ahli fiqih, bahwa menyembelih qurban adalahย sunah muโ€™akkadah, bahkan Imam Ibnu Hazm mengatakan tidak ada yang shahih satu pun dari kalangan sahabat yang menunjukkan kewajibannya.”[7]

Seandainya hadits-hadits di atas shahih, itu pun tidak menunjukkan kewajibannya. Sebab dalam riwayat lain Rasulullahย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallamย bersabda:

ุฅูุฐูŽุง ุฏูŽุฎูŽู„ูŽุชู’ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑูย ูˆูŽุฃูŽุฑูŽุงุฏูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุถูŽุญู‘ููŠูŽย ููŽู„ูŽุง ูŠูŽู…ูŽุณู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุดูŽุนูŽุฑูู‡ู ูˆูŽุจูŽุดูŽุฑูู‡ู ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง

โ€œJika kalian memasuki tanggal 10 (Dzulhijjah) danย hendakย berkurbanย maka janganlah dia menyentuh sedikit pun dari rambutnya dan kulitnya.”ย (HR. Muslim No. 1977)[8]

Hadits tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa berkurban itu terkait dengan kehendak, manusianya oleh karena itu Imam Asy Syafiโ€™i menjadikan hadits ini sebagai dalil tidak wajibnya berkurban alias sunah.

Berikut ini keterangannya:

ู‚ุงู„ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฅู† ู‚ูˆู„ู‡ ูุฃุฑุงุฏ ุฃุญุฏูƒู… ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุนุฏู… ุงู„ูˆุฌูˆุจ

Berkata Asy Syafiโ€™i: โ€œSesungguhnya sabdanyaย โ€œlalu kalian berkehendak”menunjukkan ketidak wajibannya.[9]

โ€‹5. Tidak Berpuasa pada Hari Raya ( 10 Dzulhijah) dan hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzul Hijjah)โ€‹

Dari โ€˜Uqbah bin โ€˜Amir Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ูŠูŽูˆู’ู…ู ุนูŽุฑูŽููŽุฉูŽ ูˆูŽูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู†ู‘ูŽุญู’ุฑู ูˆูŽุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุงู„ุชู‘ูŽุดู’ุฑููŠู‚ู ุนููŠุฏูู†ูŽุง ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ุงู„ู’ุฅูุณู’ู„ูŽุงู…ู ูˆูŽู‡ููŠูŽ ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุฃูŽูƒู’ู„ู ูˆูŽุดูุฑู’ุจู

Hari โ€˜Arafah, hari penyembelihan qurban, hari-hari tasyriq, adalah hari raya kita para pemeluk islam, itu adalah hari-hari makan dan minum. (HR. At Tirmidzi No. 773, katanya: hasan shahih, Ad Darimi No. 1764, Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: isnaduhu shahih. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1586, katanya: โ€œShahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya.โ€ )

Dari Nubaisyah Al Hudzalli, katanya: bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุงู„ุชู‘ูŽุดู’ุฑููŠู‚ู ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุฃูŽูƒู’ู„ู ูˆูŽุดูุฑู’ุจู

Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. (HR. Muslim No. 1141)

Inilah di antara dalil agar kita tidak berpuasa pada hari raya dan hari-hari tasyriq, karena itu adalah hari untuk makan dan minum. Sedangkan untuk puasa pada hari โ€˜Arafah sudah dibahas pada bagian sebelumnya.

Imam At Tirmidzi berkata:

ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽุฐูŽุง ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ูŠูŽูƒู’ุฑูŽู‡ููˆู†ูŽ ุงู„ุตู‘ููŠูŽุงู…ูŽ ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽุดู’ุฑููŠู‚ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’ ุฑูŽุฎู‘ูŽุตููˆุง ู„ูู„ู’ู…ูุชูŽู…ูŽุชู‘ูุนู ุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฌูุฏู’ ู‡ูŽุฏู’ูŠู‹ุง ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุตูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุตููˆู…ูŽ ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽุดู’ุฑููŠู‚ู ูˆูŽุจูู‡ู ูŠูŽู‚ููˆู„ู ู…ูŽุงู„ููƒู ุจู’ู†ู ุฃูŽู†ูŽุณู ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ู ูˆูŽุฃูŽุญู’ู…ูŽุฏู ูˆูŽุฅูุณู’ุญูŽู‚ู

Para ulama mengamalkan hadits ini, bahwa mereka memakruhkan berpuasa pada hari-hari tasyriq, kecuali sekelompok kaum dari sahabat Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dan selain mereka, yang memberikan keringanan untuk berpuasa pada hari-hari tasyriq bagi orang yang berhaji tamattuโ€™ jika belum mendapatkan hewan untuk berqurban dan dia belum berpuasa pada hari yang sepuluh (pada bulan Dzulhijjah, pen). Inilah pendapat Malik bin Anas, Asy Syafiโ€™i, Ahmad, dan Ishaq. (Sunan At Tirmidzi, lihat komentar hadits No. 773)

Pada saat itu dibolehkan mengadakan acara (haflah) makanย  dan minum, karena memang kaum muslimin sedang berbahagia. Hal itu sama sekali bukan perbuatan yang dibenci.

Al Hafizh Ibnu Hajar memberikan penjelasan terhadap hadits ini, katanya:

ูˆุฃู† ุงู„ุฃูƒู„ ูˆุงู„ุดุฑุจ ููŠ ุงู„ู…ุญุงูู„ ู…ุจุงุญ ูˆู„ุง ูƒุฑุงู‡ุฉ ููŠู‡

Sesungguhnya makan dan minum pada berbagai acara adalah mubah dan tidak ada kemakruhan di dalamnya. (Fathul Bari, 4/238)

โ€‹6. Berdzikir Kepada Allah Taโ€™ala pada hari-hari Tasyriqโ€‹

Dalam riwayat Imam Muslim, dari Nubaisyah Al Hudzalli, bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุงู„ุชู‘ูŽุดู’ุฑููŠู‚ู ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุฃูŽูƒู’ู„ู ูˆูŽุดูุฑู’ุจู

Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. (HR. Muslim No.ย  1141), dan dalam riwayat Abu Al Malih ada tambahan: โ€œdan hari berdzikir kepada Allah.โ€ (HR. Muslim No. 1141)

Pada hari-hari tasyriq kita dianjurkan banyak berdzikir, karena Nabi juga mengatakan hari tasyriq adalah hari berdzikir kepada Allah Taโ€™ala.ย 
Agar kebahagian dan pesta kaum muslimin tetap dalam bingkai kebaikan, dan tidak berlebihan.

Imam Ibnu Habib menjelaskan tentang berdzikir pada hari-hari tasyriq:

ูŠูŽู†ู’ุจูŽุบููŠ ู„ูุฃูŽู‡ู’ู„ู ู…ูู†ู‹ู‰ ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠููƒูŽุจู‘ูุฑููˆุง ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ูŽุงุฑู ุซูู…ู‘ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุงูุฑู’ุชูŽููŽุนูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุฒูŽุงู„ูŽุชู’ ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณู ุซูู…ู‘ูŽ ุจูุงู„ู’ุนูŽุดููŠู‘ู ูˆูŽูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ููŽุนูŽู„ูŽ ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุขููŽุงู‚ู ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’ ููŽูููŠ ุฎูุฑููˆุฌูู‡ูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ูˆูŽูููŠ ุฏูุจูุฑู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽูˆูŽุงุชู ูˆูŽูŠููƒูŽุจู‘ูุฑููˆู†ูŽ ูููŠ ุฎูู„ูŽุงู„ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฌู’ู‡ูŽุฑููˆู†ูŽ

Hendaknya bagi penduduk Mina dan selain mereka untuk bertakbir pada awal siang (maksudnya pagi, pen), lalu ketika matahari meninggi, lalu ketika matahari tergelincir, kemudian pada saat malam, demikian juga yang dilakukan.ย 
Ada pun penduduk seluruh ufuk dan selain mereka, pada setiap keluarnya mereka ke tempat shalat dan setelah shalat hendaknya mereka bertakbir pada saat itu,ย  dan tidak dikeraskan. (Imam Abul Walid Al Baji, Al Muntaqa Syarh Al Muwaththaโ€™, 2/463)

Maka, boleh saja bertakbir saat hari-hari tasyriq (11, 12,13 Dzulhijjah) sebagaimana yang kita lihat pada sebagian masjid dan surau, yang mereka lakukan setelah shalat.

Hal ini berbeda dengan Idul Fithri yang bertakbirnya hanya sampai naiknya khatib ke mimbar ketika shalat Idul Fithri, yaitu takbir dalam artian โ€˜takbiranโ€™-nya hari raya.

Ada pun sekedar mengucapkan takbirย  (Allahu Akbar) tentunya bolehย  kapan pun juga.ย 

Demikian.ย 
Semoga bermanfaat …….

Wallahu Aโ€™lam

Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Amalan-Amalannya (Bag. 3- selesai) (Repost)โ€‹

โ€‹Ringkasanโ€‹

Amalan bulan Zulhijjah lainya adalah:

โ—Shalat Idul Adha dan Menyembelih Hewan Qurban. Shalat Idul Adha (juga Idhul Fitri) adalahย sunah muakadah

โ—Selanjutnya berqurban,
Para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya, ada yang mengatakan wajib bagi yang memiliki kelapangan rezeki, ada pula yang mengatakanย sunah muโ€™akadah, dan inilah pendapat mayoritas sahabat, tabiโ€™in, dan para ulama.

โ—Dilarang berpuasa pada Hari Raya ( 10 Dzulhijah) dan hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzul Hijjah)

โ—Perbanyak berdzikir Kepada Allah Taโ€™ala pada hari-hari Tasyriq

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

โ€‹4. Shalat Idul Adha dan Menyembelih Hewan Qurban.โ€‹

Shalat Idul Adha (juga Idhul Fitri) adalahย sunah muakadah

Dalam hal ini Allah Taโ€™ala berfirman;

ููŽุตูŽู„ู‘ู ู„ูุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ูˆูŽุงู†ู’ุญูŽุฑู’

โ€œMaka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”ย (QS. Al Kautsar: 2)

Shalat Idul Adha (juga Idhul Fitri) adalahย sunah muakadah. Berkata Syaikh Sayyid Sabiqย Rahimahullah:

ุดุฑุนุช ุตู„ุงุฉ ุงู„ุนูŠุฏูŠู† ููŠ ุงู„ุณู†ุฉ ุงู„ุงูˆู„ู‰ ู…ู† ุงู„ู‡ุฌุฑุฉุŒ ูˆู‡ูŠ ุณู†ุฉ ู…ุคูƒุฏุฉ ูˆุงุธุจ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนู„ูŠู‡ุง ูˆุฃู…ุฑ ุงู„ุฑุฌุงู„ ูˆุงู„ู†ุณุงุก ุฃู† ูŠุฎุฑุฌูˆุง ู„ู‡ุง.

Disyariatkannya shalatย โ€˜Idainย (dua hari raya) pada tahun pertama dari hijrah, dia adalahย sunah muakadahย yang selalu dilakukan oleh Nabiย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, Beliau memerintahkan kaum laki-laki dan wanita untuk keluar meramaikannya.ย (Fiqhus Sunnah, 1/317)

Ada pun kalangan Hanafiyah berpendapat wajib, tetapi wajib dalam pengertian madzhab Hanafi adalah kedudukan di antara sunah dan fardhu.

Disebutkan dalamย Al Mausuโ€™ah:

ุตูŽู„ุงูŽุฉู ุงู„ู’ุนููŠุฏูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽุงุฌูุจูŽุฉูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู„ ุงู„ุตู‘ูŽุญููŠุญู ุงู„ู’ู…ููู’ุชูŽู‰ ุจูู‡ู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู’ุญูŽู†ูŽูููŠู‘ูŽุฉู โ€“ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุฑูŽุงุฏู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ูˆูŽุงุฌูุจู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู’ุญูŽู†ูŽูููŠู‘ูŽุฉู : ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽู†ู’ุฒูู„ูŽุฉูŒ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู’ููŽุฑู’ุถู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽุฉู โ€“ ูˆูŽุฏูŽู„ููŠู„ ุฐูŽู„ููƒูŽ : ู…ููˆูŽุงุธูŽุจูŽุฉู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฏููˆู†ู ุชูŽุฑู’ูƒูู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ู…ูŽุฑู‘ูŽุฉู‹

Shalatย โ€˜Idainย adalah wajib menurut pendapat yang shahih yang difatwakan oleh kalangan Hanafiyah โ€“maksud wajib menurut madzhab Hanafi adalah kedudukan yang setara antara fardhu dan sunah. Dalilnya adalah begitu bersemangatnya Nabiย Shallallahu โ€˜Alaihi wa sallamย melakukan nya,

Beliau tidak pernah meninggalkannya sekali pun.ย (Al Mausuโ€™ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/240)

Sedangkan Syafiโ€™iyah dan Malikiyah menyatakan sebagaiย sunah muakadah, dalilnya adalah karena Nabiย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallamย pernah ditanya oleh orang Arab Badui tentang shalat fardhu, Nabi menyebutkan shalat yang lima. Lalu Arab Badui itu bertanya:

ู‡ูŽู„ ุนูŽู„ูŽูŠู‘ูŽ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู†ู‘ูŽ ุŸ ู‚ูŽุงู„ ู„ุงูŽ ุŒ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุทูŽูˆู‘ูŽุนูŽ

Apakah ada yang selain itu? Nabi menjawab: โ€œTidak ada, kecuali yang sunah.”ย (HR. Bukhari No. 46)

Bukti lain bahwa shalatย โ€˜Idainย itu sunah adalah shalat tersebut tidak menggunakan adzan dan iqamah sebagaimana shalat wajib lainnya. Shalat tersebut sama halnya dengan shalat sunah lainnya tanpa adzan dan iqamah, seperti dhuha, tahajud, dan lainnya. Ini menunjukkan bahwa shalat โ€˜Idainย adalah sunah.

Sedangkan Hanabilah mengatakanย fardhu kifayah, alasannya adalah karena firman Allah Taโ€™ala menyebutkan shalat tersebut dengan kalimat perintah:ย โ€œMaka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”(QS. Al Kautsar: 2). Juga karena Nabiย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallamย selalu merutinkannya.ย (Ibid, 27/240)

Insya Allah, secara khusus pada kesempatan lain akan kami bahas pula adab-adab pada hari raya.

Selanjutnya berqurban,
Para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya, ada yang mengatakan wajib bagi yang memiliki kelapangan rezeki, ada pula yang mengatakanย sunah muโ€™akadah, dan inilah pendapat mayoritas sahabat, tabiโ€™in, dan para ulama.

Ulama yang mewajibkan berdalil dengan hadits berikut, dari Abu Hurairahย Radhiallhu โ€˜Anhuย bahwa Rasulullahย Shalallahu โ€˜Alaihi wa Sallamย bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ุณูŽุนูŽุฉูŒ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูุถูŽุญู‘ู ููŽู„ูŽุง ูŠูŽู‚ู’ุฑูŽุจูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุตูŽู„ู‘ูŽุงู†ูŽุง

โ€œBarangsiapa yang memiliki kelapangan (rezeki) dan dia tidak berkurban, maka jangan dekati tempat shalat kami.”ย (HR. Ibnu Majah No. 3123, Al Hakim No. 7565, Ahmad No. 8273, Ad Daruquthni No. 53, Al Baihaqi dalamย Syuโ€™abul Imanย No. 7334)

Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Hakim dalamย Al Mustadraknya No. 7565, katanya:โ€œShahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya.”ย Imam Adz Dzahabi menyepakati hal ini.

Syaikh Al Albani menshahihkan dalamย Shahihul Jamiโ€™ย No. 6490, namun hanya menghasankan dalam kitab lainnya sepertiย At Taโ€™liq Ar Raghib, 2/103, danย Takhrij Musykilat Al Faqr,No. 102.

Sementara Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mendhaifkan hadits ini, dan beliau mengkritik Imam Al Hakim dan Imam Adz Dzahabi dengan sebutan: โ€œwa huwa wahm minhumaย โ€“ ini adalah wahm (samar/tidak jelas/ragu) dari keduanya.” Beliau juga menyebut penghasanan yang dilakukan Syaikh Al Albani dengan sebutan: โ€œfa akhthaโ€™a โ€“ keliru/salah.”ย (Lihatย Taโ€™liq Musnad Ahmadย No. 8273)

Mengomentari hadits ini, berkataย Imam Amir Ash Shanโ€™aniย Rahimahullah:

ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุงุณู’ุชูŽุฏูŽู„ู‘ูŽ ุจูู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ูˆูุฌููˆุจู ุงู„ุชู‘ูŽุถู’ุญููŠูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ุณูŽุนูŽุฉูŒ ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽู…ู‘ูŽุง ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู’ ู‚ูุฑู’ุจูŽุงู†ู ุงู„ู’ู…ูุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุฏูŽู„ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุฑูŽูƒูŽ ูˆูŽุงุฌูุจู‹ุง ูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽู‚ููˆู„ู ู„ูŽุง ููŽุงุฆูุฏูŽุฉูŽ ูููŠ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ู…ูŽุนูŽ ุชูŽุฑู’ูƒู ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ูˆูŽุงุฌูุจู ูˆูŽู„ูู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ { ููŽุตูŽู„ู‘ู ู„ูุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ูˆูŽุงู†ู’ุญูŽุฑู’ } ูˆูŽู„ูุญูŽุฏููŠุซู ู…ูุฎู’ู†ูŽูู ุจู’ู†ู ุณูู„ูŽูŠู’ู…ู ู…ูŽุฑู’ูููˆุนู‹ุง { ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ูƒูู„ู‘ู ุจูŽูŠู’ุชู ูููŠ ูƒูู„ู‘ู ุนูŽุงู…ู ุฃูุถู’ุญููŠู‘ูŽุฉูŒ } ุฏูŽู„ู‘ูŽ ู„ูŽูู’ุธูู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ูˆูุฌููˆุจู ุŒ ูˆูŽุงู„ู’ูˆูุฌููˆุจู ู‚ูŽูˆู’ู„ู ุฃูŽุจููŠ ุญูŽู†ููŠููŽุฉูŽ

โ€œHadits ini dijadikan dalil wajibnya berkurban bagi yang memiliki kelapangan rezeki, hal ini jelas ketika Rasulullah melarang mendekati tempat shalat, larangan itu menunjukkan bahwa hal itu merupakan meninggalkan kewajiban, seakan Beliau mengatakan shalatnya tidak bermanfaat jika meninggalkan kewajiban ini. Juga karena firmanNya: โ€œmaka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” Dalam hadits Mikhnaf bin Sulaim secaraย marfuโ€™ย (sampai kepada Rasulullah) berbunyi:ย โ€œ (wajib) atas penduduk setiap rumah pada tiap tahunnya untuk berkurban.”ย Lafaz hadits ini menunjukkan wajibnya. Pendapat yang menyatakan wajib adalah dari Imam Abu Hanifah.[6]

Sementara yang tidak mewajibkan, menyatakan bahwa dua hadits di atas tidak bisa dijadikan hujjah (dalil), sebab yang pertamaย mauqufย (hanya sampai sahabat nabi, bukan Rasulullahย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam), hadits keduaย dhaโ€™if. Sedangkan ayatย Fashalli li Rabbika wanhar, tidak bermakna wajib kurban melainkan menunjukkan urutan aktifitas, yakni menyembelih kurban dilakukan setelah shalat Id.

Berikut keterangan dariย Imam Ash Shanโ€™ani:

ูˆูŽู‚ููŠู„ูŽ ู„ูŽุง ุชูŽุฌูุจู ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ุงู„ู’ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ู ู…ูŽูˆู’ู‚ููˆููŒ ููŽู„ูŽุง ุญูุฌู‘ูŽุฉูŽ ูููŠู‡ู ูˆูŽุงู„ุซู‘ูŽุงู†ููŠ ุถูŽุนู’ููŒ ุจูุฃูŽุจููŠ ุฑูŽู…ู’ู„ูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจููŠู‘ู : ุฅู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽุฌู’ู‡ููˆู„ูŒ ูˆูŽุงู„ู’ุขูŠูŽุฉู ู…ูุญู’ุชูŽู…ูู„ูŽุฉูŒ ููŽู‚ูŽุฏู’ ููุณู‘ูุฑูŽ ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ( { ูˆูŽุงู†ู’ุญูŽุฑู’ } ) ุจููˆูŽุถู’ุนู ุงู„ู’ูƒูŽูู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุญู’ุฑู ูููŠ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽู‡ู ุงุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ุญูŽุงุชูู…ู ูˆูŽุงุจู’ู†ู ุดูŽุงู‡ููŠู†ูŽ ูููŠ ุณูู†ูŽู†ูู‡ู ูˆูŽุงุจู’ู†ู ู…ูŽุฑู’ุฏููˆูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽูŠู’ู‡ูŽู‚ููŠู‘ู ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ูˆูŽูููŠู‡ู ุฑููˆูŽุงูŠูŽุงุชูŒ ุนูŽู†ู’ ุงู„ุตู‘ูŽุญูŽุงุจูŽุฉู ู…ูุซู’ู„ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุณูู„ู‘ูู…ูŽ ููŽู‡ููŠูŽ ุฏูŽุงู„ู‘ูŽุฉูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุญู’ุฑูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ููŽู‡ููŠูŽ ุชูŽุนู’ูŠููŠู†ูŒ ู„ููˆูŽู‚ู’ุชูู‡ู ู„ูŽุง ู„ููˆูุฌููˆุจูู‡ู ูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุฅุฐูŽุง ู†ูŽุญูŽุฑู’ุช ููŽุจูŽุนู’ุฏูŽ ุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ู’ุนููŠุฏู ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽ ุงุจู’ู†ู ุฌูŽุฑููŠุฑู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณู { ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽู†ู’ุญูŽุฑู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠูŽ ููŽุฃูู…ูุฑูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูŽู†ู’ุญูŽุฑู } ูˆูŽู„ูุถูŽุนู’ูู ุฃูŽุฏูู„ู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ูˆูุฌููˆุจู ุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ุงู„ู’ุฌูู…ู’ู‡ููˆุฑู ู…ูู†ู’ ุงู„ุตู‘ูŽุญูŽุงุจูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽุงุจูุนููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ููู‚ูŽู‡ูŽุงุกู ุฅู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุณูู†ู‘ูŽุฉูŒ ู…ูุคูŽูƒู‘ูŽุฏูŽุฉูŒ ุจูŽู„ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ุญูŽุฒู’ู…ู ู„ูŽุง ูŠูŽุตูุญู‘ู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุญูŽุฏู ู…ูู†ู’ ุงู„ุตู‘ูŽุญูŽุงุจูŽุฉู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุงุฌูุจูŽุฉูŒ .

โ€œDikatakan: Tidak wajib, karena hadits pertama adalahย mauqufย dan tidak bisa dijadikan hujjah (dalil). Hadits keduaย (dari Mikhnaf bin Sulaim)ย dhaifย karena dalam sanadnya adaย Abu Ramlah. Berkata Imam Al Khathabi: โ€œDia ituย majhulย (tidak dikenal).” Sedangkan firmanNya:ย โ€œโ€ฆberkurbanlah.”adalah tentang penentuan waktu penyembelihan setelah shalat. Telah diriwayatkan oleh Abu Hatim, Ibnu Syahin di dalamย sunan-nya, Ibnu Mardawaih, dan Al Baihaqi dari Ibnu Abbas dan didalamnya terdapat beberapa riwayat dari sahabat yang seperti ini, yang menunjukkan bahwa menyembelih kurban itu dilakukan setelah shalat (โ€˜Ied). Maka ayat itu secara khusus menjelaskan tentang waktu penyembelihnnya, bukan menunjukkan kewajibannya. Seolah berfirman: Jika engkau menyembelih maka (lakukan) setelah shalat โ€˜Ied. Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Anas:ย โ€œBahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam pernah menyembelih sebelum shalat Id, lalu Beliau diperintahkan untuk shalat dulu baru kemudian menyembelih.” Maka nyatalah kelemahan alasan mereka yang mewajibkannya.

Sedangkan, madzhabjumhurย (mayoritas) dari sahabat, tabiโ€™in, dan ahli fiqih, bahwa menyembelih qurban adalahย sunah muโ€™akkadah, bahkan Imam Ibnu Hazm mengatakan tidak ada yang shahih satu pun dari kalangan sahabat yang menunjukkan kewajibannya.”[7]

Seandainya hadits-hadits di atas shahih, itu pun tidak menunjukkan kewajibannya. Sebab dalam riwayat lain Rasulullahย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallamย bersabda:

ุฅูุฐูŽุง ุฏูŽุฎูŽู„ูŽุชู’ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑูย ูˆูŽุฃูŽุฑูŽุงุฏูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุถูŽุญู‘ููŠูŽย ููŽู„ูŽุง ูŠูŽู…ูŽุณู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุดูŽุนูŽุฑูู‡ู ูˆูŽุจูŽุดูŽุฑูู‡ู ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง

โ€œJika kalian memasuki tanggal 10 (Dzulhijjah) danย hendakย berkurbanย maka janganlah dia menyentuh sedikit pun dari rambutnya dan kulitnya.”ย (HR. Muslim No. 1977)[8]

Hadits tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa berkurban itu terkait dengan kehendak, manusianya oleh karena itu Imam Asy Syafiโ€™i menjadikan hadits ini sebagai dalil tidak wajibnya berkurban alias sunah.

Berikut ini keterangannya:

ู‚ุงู„ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฅู† ู‚ูˆู„ู‡ ูุฃุฑุงุฏ ุฃุญุฏูƒู… ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุนุฏู… ุงู„ูˆุฌูˆุจ

Berkata Asy Syafiโ€™i: โ€œSesungguhnya sabdanyaย โ€œlalu kalian berkehendak”menunjukkan ketidak wajibannya.[9]

โ€‹5. Tidak Berpuasa pada Hari Raya ( 10 Dzulhijah) dan hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzul Hijjah)โ€‹

Dari โ€˜Uqbah bin โ€˜Amir Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ูŠูŽูˆู’ู…ู ุนูŽุฑูŽููŽุฉูŽ ูˆูŽูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู†ู‘ูŽุญู’ุฑู ูˆูŽุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุงู„ุชู‘ูŽุดู’ุฑููŠู‚ู ุนููŠุฏูู†ูŽุง ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ุงู„ู’ุฅูุณู’ู„ูŽุงู…ู ูˆูŽู‡ููŠูŽ ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุฃูŽูƒู’ู„ู ูˆูŽุดูุฑู’ุจู

Hari โ€˜Arafah, hari penyembelihan qurban, hari-hari tasyriq, adalah hari raya kita para pemeluk islam, itu adalah hari-hari makan dan minum. (HR. At Tirmidzi No. 773, katanya: hasan shahih, Ad Darimi No. 1764, Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: isnaduhu shahih. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1586, katanya: โ€œShahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya.โ€ )

Dari Nubaisyah Al Hudzalli, katanya: bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุงู„ุชู‘ูŽุดู’ุฑููŠู‚ู ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุฃูŽูƒู’ู„ู ูˆูŽุดูุฑู’ุจู

Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. (HR. Muslim No. 1141)

Inilah di antara dalil agar kita tidak berpuasa pada hari raya dan hari-hari tasyriq, karena itu adalah hari untuk makan dan minum. Sedangkan untuk puasa pada hari โ€˜Arafah sudah dibahas pada bagian sebelumnya.

Imam At Tirmidzi berkata:

ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽุฐูŽุง ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ูŠูŽูƒู’ุฑูŽู‡ููˆู†ูŽ ุงู„ุตู‘ููŠูŽุงู…ูŽ ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽุดู’ุฑููŠู‚ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’ ุฑูŽุฎู‘ูŽุตููˆุง ู„ูู„ู’ู…ูุชูŽู…ูŽุชู‘ูุนู ุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฌูุฏู’ ู‡ูŽุฏู’ูŠู‹ุง ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุตูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุตููˆู…ูŽ ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽุดู’ุฑููŠู‚ู ูˆูŽุจูู‡ู ูŠูŽู‚ููˆู„ู ู…ูŽุงู„ููƒู ุจู’ู†ู ุฃูŽู†ูŽุณู ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ู ูˆูŽุฃูŽุญู’ู…ูŽุฏู ูˆูŽุฅูุณู’ุญูŽู‚ู

Para ulama mengamalkan hadits ini, bahwa mereka memakruhkan berpuasa pada hari-hari tasyriq, kecuali sekelompok kaum dari sahabat Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dan selain mereka, yang memberikan keringanan untuk berpuasa pada hari-hari tasyriq bagi orang yang berhaji tamattuโ€™ jika belum mendapatkan hewan untuk berqurban dan dia belum berpuasa pada hari yang sepuluh (pada bulan Dzulhijjah, pen). Inilah pendapat Malik bin Anas, Asy Syafiโ€™i, Ahmad, dan Ishaq. (Sunan At Tirmidzi, lihat komentar hadits No. 773)

Pada saat itu dibolehkan mengadakan acara (haflah) makanย  dan minum, karena memang kaum muslimin sedang berbahagia. Hal itu sama sekali bukan perbuatan yang dibenci.

Al Hafizh Ibnu Hajar memberikan penjelasan terhadap hadits ini, katanya:

ูˆุฃู† ุงู„ุฃูƒู„ ูˆุงู„ุดุฑุจ ููŠ ุงู„ู…ุญุงูู„ ู…ุจุงุญ ูˆู„ุง ูƒุฑุงู‡ุฉ ููŠู‡

Sesungguhnya makan dan minum pada berbagai acara adalah mubah dan tidak ada kemakruhan di dalamnya. (Fathul Bari, 4/238)

โ€‹6. Berdzikir Kepada Allah Taโ€™ala pada hari-hari Tasyriqโ€‹

Dalam riwayat Imam Muslim, dari Nubaisyah Al Hudzalli, bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุงู„ุชู‘ูŽุดู’ุฑููŠู‚ู ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุฃูŽูƒู’ู„ู ูˆูŽุดูุฑู’ุจู

Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. (HR. Muslim No.ย  1141), dan dalam riwayat Abu Al Malih ada tambahan: โ€œdan hari berdzikir kepada Allah.โ€ (HR. Muslim No. 1141)

Pada hari-hari tasyriq kita dianjurkan banyak berdzikir, karena Nabi juga mengatakan hari tasyriq adalah hari berdzikir kepada Allah Taโ€™ala.ย 
Agar kebahagian dan pesta kaum muslimin tetap dalam bingkai kebaikan, dan tidak berlebihan.

Imam Ibnu Habib menjelaskan tentang berdzikir pada hari-hari tasyriq:

ูŠูŽู†ู’ุจูŽุบููŠ ู„ูุฃูŽู‡ู’ู„ู ู…ูู†ู‹ู‰ ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠููƒูŽุจู‘ูุฑููˆุง ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ูŽุงุฑู ุซูู…ู‘ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุงูุฑู’ุชูŽููŽุนูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุฒูŽุงู„ูŽุชู’ ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณู ุซูู…ู‘ูŽ ุจูุงู„ู’ุนูŽุดููŠู‘ู ูˆูŽูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ููŽุนูŽู„ูŽ ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุขููŽุงู‚ู ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’ ููŽูููŠ ุฎูุฑููˆุฌูู‡ูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ูˆูŽูููŠ ุฏูุจูุฑู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽูˆูŽุงุชู ูˆูŽูŠููƒูŽุจู‘ูุฑููˆู†ูŽ ูููŠ ุฎูู„ูŽุงู„ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฌู’ู‡ูŽุฑููˆู†ูŽ

Hendaknya bagi penduduk Mina dan selain mereka untuk bertakbir pada awal siang (maksudnya pagi, pen), lalu ketika matahari meninggi, lalu ketika matahari tergelincir, kemudian pada saat malam, demikian juga yang dilakukan.ย 
Ada pun penduduk seluruh ufuk dan selain mereka, pada setiap keluarnya mereka ke tempat shalat dan setelah shalat hendaknya mereka bertakbir pada saat itu,ย  dan tidak dikeraskan. (Imam Abul Walid Al Baji, Al Muntaqa Syarh Al Muwaththaโ€™, 2/463)

Maka, boleh saja bertakbir saat hari-hari tasyriq (11, 12,13 Dzulhijjah) sebagaimana yang kita lihat pada sebagian masjid dan surau, yang mereka lakukan setelah shalat.

Hal ini berbeda dengan Idul Fithri yang bertakbirnya hanya sampai naiknya khatib ke mimbar ketika shalat Idul Fithri, yaitu takbir dalam artian โ€˜takbiranโ€™-nya hari raya.

Ada pun sekedar mengucapkan takbirย  (Allahu Akbar) tentunya bolehย  kapan pun juga.ย 

Demikian.ย 
Semoga bermanfaat …….

Wallahu Aโ€™lam

Shalat Jumat Saat Hari Raya, Ada atau Tiada?โ€‹

Banyak yang bertanya tentang ini, sudah sejak bertahun-tahun yang lalu. Jika hari raya (Adha dan Fithri) jatuh di hari Jumat. Apakah shalat Jumat gugur bagi orang yang sudah shalat Id?

Berikut ini hadits-haditsnya:

1. Dari Zaid bin Arqam Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu ‘Anhuma bertanya kepadanya:

ู‡ู„ ุดู‡ุฏุช ู…ุน ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุนูŠุฏูŠู† ุงุฌุชู…ุนุง ููŠ ูŠูˆู… ูˆุงุญุฏุŸ ู‚ุงู„: ู†ุนู…ุŒ ู‚ุงู„: ูƒูŠู ุตู†ุนุŸ ู‚ุงู„: ุตู„ู‰ ุงู„ุนูŠุฏ ุซู… ุฑุฎุต ููŠ ุงู„ุฌู…ุนุฉุŒ ูู‚ุงู„: (ู…ู† ุดุงุก ุฃู† ูŠุตู„ูŠ ูู„ูŠุตู„)

Apakah kamu pernah mengalami dua hari raya di hari Jumat bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?

Zaid menjawab: “Ya.”

Muawiyah bertanya lagi: “Apa yang dilakukannya?” Zaid menjawab: “Beliau shalat ‘Id, dan memberikan keringanan atas shalat Jumat. Siapa yang mau melakukannya, silahkan dia shalat.”

(HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ad Darimi. Al Hakim berkata dalam Al Mustadrak: “Shahih sanadnya tapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari – Muslim, hadits ini memiliki penguat yang sesuai standar Imam Muslim.” Disepakati Imam Adz Dzahabi. Imam An Nawawi berkata dalam Al Majmu’: isnadnya jayyid.)

2. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ู‚ุฏ ุงุฌุชู…ุน ููŠ ูŠูˆู…ูƒู… ู‡ุฐุง ุนูŠุฏุงู†ุŒ ูู…ู† ุดุงุก ุฃุฌุฒุฃู‡ ู…ู† ุงู„ุฌู…ุนุฉุŒ ูˆุฅู†ุง ู…ุฌู…ุนูˆู†

Telah berkumpul pada hari ini dua hari raya kalian, maka barang siapa yang mau maka shalat ‘Idnya itu sudah cukup, dan kami akan melakukan shalat Jumat juga.” (HR. Al Hakim, Abu Daus, Ibnu Majah, Al Baihaqi, dll)

3. Dari Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhuma, dia berkata:

ุงุฌุชู…ุน ุนูŠุฏุงู† ุนู„ู‰ ุนู‡ุฏ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูุตู„ู‰ ุจุงู„ู†ุงุณ ุซู… ู‚ุงู„: (ู…ู† ุดุงุก ุฃู† ูŠุฃุชูŠ ุงู„ุฌู…ุนุฉ ูู„ูŠุฃุชู‡ุง ุŒ ูˆู…ู† ุดุงุก ุฃู† ูŠุชุฎู„ู ูู„ูŠุชุฎู„ู).

Pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkumpul dua hari raya, lalu Beliau shalat ‘Id bersama manusia. Kemudian bersabda: “Barang siapa yang mau shalat Jumat silahkan dia shalat Jumat, barangsiapa yang tidak mau mengerjakannya silahkan dia tinggalkan.” (HR. Ibnu Majah)

4. Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ุงุฌุชู…ุน ุนูŠุฏุงู† ููŠ ูŠูˆู…ูƒู… ู‡ุฐุง ูู…ู† ุดุงุก ุฃุฌุฒุฃู‡ ู…ู† ุงู„ุฌู…ุนุฉ ุŒ ูˆุฅู†ุง ู…ุฌู…ุนูˆู† ุฅู† ุดุงุก ุงู„ู„ู‡

Telah berkumpul dua hari raya pada hari ini, maka siapa yang shalat ‘Id maka itu sudah cukup baginya untuk tidak shalat Jumat, sedangkan kami akan shalat Jumat. (HR. Ibnu Majah, Al Bushiri berkata: isnadnya shahih, para perawinya terpercaya)

5. Hadits mursal, dari Dzakwan bin Shalih, dia berkata:

ุงุฌุชู…ุน ุนูŠุฏุงู† ุนู„ู‰ ุนู‡ุฏ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูŠูˆู… ุฌู…ุนุฉ ูˆูŠูˆู… ุนูŠุฏ ูุตู„ู‰ ุซู… ู‚ุงู…ุŒ ูุฎุทุจ ุงู„ู†ุงุณุŒ ูู‚ุงู„: (ู‚ุฏ ุฃุตุจุชู… ุฐูƒุฑุงู‹ ูˆุฎูŠุฑุงู‹ ูˆุฅู†ุง ู…ุฌู…ุนูˆู†ุŒ ูู…ู† ุฃุญุจ ุฃู† ูŠุฌู„ุณ ูู„ูŠุฌู„ุณ -ุฃูŠ ููŠ ุจูŠุชู‡- ูˆู…ู† ุฃุญุจ ุฃู† ูŠุฌู…ุน ูู„ูŠุฌู…ุน).

Telah berkumpul pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam antara hari Junat dan hari raya, Beliau shalat ‘Id lalu bangun dan berkhutbah:

“Kalian telah mendapatkan dzikir dannkebaikan, kami akan melaksanakan shalat Jumat. Barang siapa mau di rumah saja silahkan dia di rumah saja, siapa yang shalat Jumat maka silahkan shalat.” (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra)

6. Dari Atha bin Abi Rabah Rahimahullah, dia berkata:

ุตู„ู‰ ุจู†ุง ุงุจู† ุงู„ุฒุจูŠุฑ ููŠ ูŠูˆู… ุนูŠุฏ ููŠ ูŠูˆู… ุฌู…ุนุฉ ุฃูˆู„ ุงู„ู†ู‡ุงุฑ ุซู… ุฑุญู†ุง ุฅู„ู‰ ุงู„ุฌู…ุนุฉ ูู„ู… ูŠุฎุฑุฌ ุฅู„ูŠู†ุงุŒ ูุตู„ูŠู†ุง ูˆุญุฏุงู†ุงู‹ุŒ ูˆูƒุงู† ุงุจู† ุนุจุงุณ ุจุงู„ุทุงุฆู ูู„ู…ุง ู‚ุฏู…ู†ุง ุฐูƒุฑู†ุง ุฐู„ูƒ ู„ู‡ุŒ ูู‚ุงู„ : (ุฃุตุงุจ ุงู„ุณู†ุฉ).

Ibnuz Zubeir shalat bersama kami pada hari ‘Id di hari Jumat di awal siang (pagi), lalu kami keluar untuk shalat Jumat, tapi Ibnuz Zubeir tidak keluar lalu kami shalat dan dia shalat sendiri. Saat kami berjumpa Ibnu Abbas di Thaif, kami ceritakan itu kepadanya, dan dia berkata: “Dia telah sesuai sunnah.” (HR. Abu Daud, dan Ibnu Khuzaimah dengan lafaz berbeda dan ada tambahan di akhirnya: Ibnuz Zubeir berkata: “Aku lihat Umar bin Al Khathab jika berkumpul dua hari raya, dia melakukan seperti itu”)

7. Dari Abu Ubaid, pelayan Ibnu Azhar, dia berkata:

ุดู‡ุฏุช ุงู„ุนูŠุฏูŠู† ู…ุน ุนุซู…ุงู†

ุจู† ุนูุงู†ุŒ ูˆูƒุงู† ุฐู„ูƒ ูŠูˆู… ุงู„ุฌู…ุนุฉุŒ ูุตู„ู‰ ู‚ุจู„ ุงู„ุฎุทุจุฉ ุซู… ุฎุทุจุŒ ูู‚ุงู„: (ูŠุง ุฃูŠู‡ุง ุงู„ู†ุงุณ ุฅู† ู‡ุฐุง ูŠูˆู… ู‚ุฏ ุงุฌุชู…ุน ู„ูƒู… ููŠู‡ ุนูŠุฏุงู†ุŒ ูู…ู† ุฃุญุจ ุฃู† ูŠู†ุชุธุฑ ุงู„ุฌู…ุนุฉ ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุนูˆุงู„ูŠ ูู„ูŠู†ุชุธุฑุŒ ูˆู…ู† ุฃุญุจ ุฃู† ูŠุฑุฌุน ูู‚ุฏ ุฃุฐู†ุช ู„ู‡).

“Aku mengalami dua hari raya bersama Utsman bin ‘Affan, saat itu di hari Jumat, lalu dia shalat sebelum khutbah, kemudian dia berkhutbah:

“Wahai manusia, sesungguhnya hari ini telah dikumpulkan bagi kalian dua hari raya, barang siapa yang mau menunggu shalat Jumat maka hendaknya dia tunggu, barang siaapa yang ingin pulang maka aku telah mengizinkannya.” (HR. Bukhari)

8. Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata saat dua hari raya berkumpul dalam satu hari:

(ู…ู† ุฃุฑุงุฏ ุฃู† ูŠุฌู…ุน ูู„ูŠุฌู…ุนุŒ ูˆู…ู† ุฃุฑุงุฏ ุฃู† ูŠุฌู„ุณ ูู„ูŠุฌู„ุณ). ู‚ุงู„ ุณููŠุงู†: ูŠุนู†ูŠ : ูŠุฌู„ุณ ููŠ ุจูŠุชู‡.

“Barang siapa yang mau shalat jumat hendaknya dia shalat Jumat, dan barang siapa yang ingin duduk saja maka hendaknya dia dusuk saja.” Sufyan berkata: yaitu duduk si rumahnya. (HR. Abdurrazaq dalam Al Mushannaf, juga Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf)

Bagaimana menjelaskan riwayat-riwayat di atas?

Berikut kami sampaikan penjelasan Al Lajnah Ad Daimah:

ูˆุจู†ุงุก ุนู„ู‰ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ู…ุฑููˆุนุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุŒ ูˆุนู„ู‰ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุขุซุงุฑ ุงู„ู…ูˆู‚ูˆูุฉ ุนู† ุนุฏุฏ ู…ู† ุงู„ุตุญุงุจุฉ ุŒ ูˆุนู„ู‰ ู…ุง ู‚ุฑุฑู‡ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ููŠ ูู‚ู‡ู‡ุงุŒ ูุฅู† ุงู„ู„ุฌู†ุฉ ุชุจูŠู† ุงู„ุฃุญูƒุงู… ุงู„ุขุชูŠุฉ:

1- ู…ู† ุญุถุฑ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุนูŠุฏ ููŠุฑุฎุต ู„ู‡ ููŠ ุนุฏู… ุญุถูˆุฑ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุฌู…ุนุฉุŒ ูˆูŠุตู„ูŠู‡ุง ุธู‡ุฑุงู‹ ููŠ ูˆู‚ุช ุงู„ุธู‡ุฑุŒ ูˆุฅู† ุฃุฎุฐ ุจุงู„ุนุฒูŠู…ุฉ ูุตู„ู‰ ู…ุน ุงู„ู†ุงุณ ุงู„ุฌู…ุนุฉ ูู‡ูˆ ุฃูุถู„.

2- ู…ู† ู„ู… ูŠุญุถุฑ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุนูŠุฏ ูู„ุง ุชุดู…ู„ู‡ ุงู„ุฑุฎุตุฉุŒ ูˆู„ุฐุง ูู„ุง ูŠุณู‚ุท ุนู†ู‡ ูˆุฌูˆุจ ุงู„ุฌู…ุนุฉุŒ ููŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณุนูŠ ุฅู„ู‰ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ู„ุตู„ุงุฉ ุงู„ุฌู…ุนุฉุŒ ูุฅู† ู„ู… ูŠูˆุฌุฏ ุนุฏุฏ ุชู†ุนู‚ุฏ ุจู‡ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุฌู…ุนุฉ ุตู„ุงู‡ุง ุธู‡ุฑุงู‹.

3- ูŠุฌุจ ุนู„ู‰ ุฅู…ุงู… ู…ุณุฌุฏ ุงู„ุฌู…ุนุฉ ุฅู‚ุงู…ุฉ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุฌู…ุนุฉ ุฐู„ูƒ ุงู„ูŠูˆู… ู„ูŠุดู‡ุฏู‡ุง ู…ู† ุดุงุก ุดู‡ูˆุฏู‡ุง ูˆู…ู† ู„ู… ูŠุดู‡ุฏ ุงู„ุนูŠุฏ ุŒ ุฅู† ุญุถุฑ ุงู„ุนุฏุฏ ุงู„ุชูŠ ุชู†ุนู‚ุฏ ุจู‡ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุฌู…ุนุฉ ูˆุฅู„ุง ูุชุตู„ู‰ ุธู‡ุฑุง.

4- ู…ู† ุญุถุฑ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุนูŠุฏ ูˆุชุฑุฎุต ุจุนุฏู… ุญุถูˆุฑ ุงู„ุฌู…ุนุฉ ูุฅู†ู‡ ูŠุตู„ูŠู‡ุง ุธู‡ุฑุงู‹ ุจุนุฏ ุฏุฎูˆู„ ูˆู‚ุช ุงู„ุธู‡ุฑ.

5- ู„ุง ูŠุดุฑุน ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ูˆู‚ุช ุงู„ุฃุฐุงู† ุฅู„ุง ููŠ ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ุงู„ุชูŠ ุชู‚ุงู… ููŠู‡ุง ุตู„ุงุฉ ุงู„ุฌู…ุนุฉุŒ ูู„ุง ูŠุดุฑุน ุงู„ุฃุฐุงู† ู„ุตู„ุงุฉ ุงู„ุธู‡ุฑ ุฐู„ูƒ ุงู„ูŠูˆู….

6- ุงู„ู‚ูˆู„ ุจุฃู† ู…ู† ุญุถุฑ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุนูŠุฏ ุชุณู‚ุท ุนู†ู‡ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุฌู…ุนุฉ ูˆุตู„ุงุฉ ุงู„ุธู‡ุฑ ุฐู„ูƒ ุงู„ูŠูˆู… ู‚ูˆู„ ุบูŠุฑ ุตุญูŠุญุŒ ูˆู„ุฐุง ู‡ุฌุฑู‡ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ูˆุญูƒู…ูˆุง ุจุฎุทุฆู‡ ูˆุบุฑุงุจุชู‡ุŒ ู„ู…ุฎุงู„ูุชู‡ ุงู„ุณู†ุฉ ูˆุฅุณู‚ุงุทู‡ ูุฑูŠุถุฉู‹ ู…ู† ูุฑุงุฆุถ ุงู„ู„ู‡ ุจู„ุง ุฏู„ูŠู„ุŒ ูˆู„ุนู„ ู‚ุงุฆู„ู‡ ู„ู… ูŠุจู„ุบู‡ ู…ุง ููŠ ุงู„ู…ุณุฃู„ุฉ ู…ู† ุงู„ุณู†ู† ูˆุงู„ุขุซุงุฑ ุงู„ุชูŠ ุฑุฎุตุช ู„ู…ู† ุญุถุฑ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุนูŠุฏ ุจุนุฏู… ุญุถูˆุฑ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุฌู…ุนุฉุŒ ูˆุฃู†ู‡ ูŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ ุตู„ุงุชู‡ุง ุธู‡ุฑุงู‹ .
ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู…. ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู….
ุงู„ู„ุฌู†ุฉ ุงู„ุฏุงุฆู…ุฉ ู„ู„ุจุญูˆุซ ุงู„ุนู„ู…ูŠุฉ ูˆุงู„ุฅูุชุงุก

Berdasarkan hadits-hadits marfu’ (sampai) kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan atsar-atsar mauquf dari sejumlah sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Serta ketetapan mayoritas ulama dalam fiqihnya, maka Al Lajnah memberikan penjelasan sebagai berikut:

1. Siapa yang shalat Id maka diberikan keringanan baginya untuk tidak shalat Jumat, tapi wajib baginya shalat zhuhur di waktu zhuhur. Jika dia mau ambil hukum dasar (‘azimah) yaitu shalat Jumat, maka itu lebih utama.

2. Bagi yang tidak shalat ‘Id, maka dia tidak termasuk yang mendapatkan keringanan, kewajiban shalat Jumat tidak gugur baginya, maka wajib baginya melaksanakan shalat Jumat. Namun, jika dia tidak mendapatkan jumlah manusia cukup untuk shalat Jumat, maka dia shalat zhuhur.

3. Wajib bagi Imam masjid untuk mendirikan shalat Jumat di hari itu, diperuntukan bagi mereka yang mau menjalankannya dan mereka yang belum shalat ‘Id, itu jika dia
mendapatkan jumlah manusia cukup untuk shalat Jumat, jika tidak maka dia shalat zhuhur.

4. Bagi yang ikut shalat ‘Id diberikan keringanan baginya untuk tidak shalat Jumat, tp dia shalat zhuhur jika telah masuk waktunya.

5. Tidak disyariatkan azan zhuhur kecuali di masjid yang diadakan shalat Jumat di dalamnya. Tidak disyariatkan azan zhuhur dihari itu.

6. Pendapat yang mengatakan bagi yang sudah shalat ‘Id maka gugurlah shalat Jumat dan shalat zhuhur sekaligus, adalah pendapat yang tidak benar. Para ulama telah menilainya keliru dan aneh, dan bertentangan dengan sunnah. Sebab telah menggugurkan kewajiban di antara kewajiban-kewajiban dari Allah tanpa dalil.
Barangkali pihak yang berpendapat seperti itu belum dapat dalilnya baik dari hadits dan atsar, bahwa orang yang sudah shalat ‘Id diberikan keringanan untuk tidak Shalat Jumat namun tetap wajib zhuhur.

Wallahu Ta’ala A’lam

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

(Fatawa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts wal Ifta)

Sejarah Perang Mohacs

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah …Tolong diceritakan tentang SEJARAH PERANG MOHACS ?
SEJARAH โ€‹HANCURNYA AROGANSI BANGSA EROPAโ€‹ yang dihancurkan oleh Cicitnya โ€‹Muhammad Al Fatihโ€‹ dalam waktu 4 Jam.

Jawaban
———-

โ€Œูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡

Od Jadrana do Irana, Neje Biti Muslimana

Memperingati 491 tahun Pertempuran Mohacs
29 Agustus 2017-1526 M

Mahkota St. Stephen adalah simbol kedigdayaan kerajaan di Eropa pada awal abad ke-16 dan itu ada di kepala Raja Lajos (Louis II, 1515-26) dari Hungaria. Raja Francis I Valois (1515-47) dari Perancis menginginkan mahkota tersebut untuk dirinya sehingga pecah perang. Dengan bantuan Spanyol, Lajos II berhasil memukul mundur Francis I yang terpaksa bertahan di bentengnya.

Dari dalam benteng ia menulis surat permohonan bantuan kepada Sultan Sรผleyman Kanuni (1520-66) dari Kekhilafahan Turki Utsmani. Untuk mengalihkan sebagian kekuatan Spanyol-Hungaria maka dikirimlah Vezir-i A’zam (Grand Vizier) Pargalฤฑ ฤฐbrahim PaลŸa (1523-36) dengan pasukan elit pionir.

Pada masa itu terdapat dendang Serbia yang populer berirama “od Jadrana do Irana, neje biti Muslimana” yang artinya “dari Adriatik hingga ke Iran, tidak ada Muslim yang bertahan”. Hingga pembantaian Muslimin di Bosnia pada abad ke-20 pun dendang tersebut masih populer. Kekhawatiran akan bersatunya raja-raja Eropa menumpas Ummat Islam mendorong sultan bergerak secara personal memimpin balatentara ke perbatasan.

Sรผleyman berangkat setelah mengunjungi pusara Eyรผp Sultan, ลžeyh Ebu Vefa, Sultan Fatih, Sultan Bayezid, dan Sultan Selim Yavuz dan berdoa memohon keberkahan dari Allah Azza wa Jalla. Menurut sejarawan Solakzade Mehmed Hemdemi dalam kitab Tarihi (1298 H) sultan berangkat membawa Sanjak-i Sherif atau Bendera Perang Kekhilafahan.

Balatentara Hungaria yang diperkuat kontingen berbagai kerajaan, antara lain: wilayah Jerman, Polandia, Czech, kota-kota di semenanjung Italia, dan Spanyol menanti di Palagan Mohacs. Pasukan berkuda gabungan ini berjumlah 60 ribu dan terpusat di lini tengah. Menurut sejarawan Lรผtfi PaลŸa dalam kitab Tevarih-i Ali Osman (1341 H) terdapat juga kontingen Russia.

Atas saran Bali Beg seorang akฤฑnjฤฑ pejabat Sanjakbegi dari Semendire, sultan menyeberangi sungai Sava dan Drava serta meletakkan 300 meriam di lini tengah. Padahal biasanya meriam dalam pernah terbuka diletakkan di sayap kiri dan kanan. Dalam pertempuran singkat 2 jam, kepongahan raja-raja Eropa dibabat habis tak tersisia. Dalam tumpukan korban pasukan berkuda terdapat Raja Lajos sendiri.

Kita Buda, ibukota Hungaria, menyerah tanpa syarat kepada Sรผleyman Kanuni menurut sejarawan modern ฤฐsmail Hakkฤฑ Uzunรงarsฤฑlฤฑ dalam kitab Osmanlฤฑ Tarihi (1982-88 M). Sรผleyman mengangkat Janos Zapoyla sebagai Raja Hungaria bagian timur yang loyal kepada kekhilafahan Turki Utsmani. Sekembalinya dari pertempuran ini, Sรผleyman menegur dutabesar Hungaria di ฤฐstanbul dengan bait: “bangsa Eropa Kristen telah mengumpulkan awan yang mengancam para pendahuluku, tetapi awan tersebut tak pernah turun menjadi hujan, andai mereka tidak memulai, maka aku tidak perlu menumpahkan darah mereka!”

Dirangkum dari:

MaksudoฤŸlu M. Osmanlฤฑ History 1289-1922 Based on Osmanlฤฑ Sources, Kuala Lumpur: IIUM, 1999. pp. 117-119.

Agung Waspodo, merasa kecil dibawah awan
Depok, 28 Agustus 2017

Wallahu a’lam.

Bekerjasama Sementara dengan Satu Sekuler untuk Mengalahkan Sekuler Zalim Lainnyaโ€‹

Partai Demokrat (DP) Turki adalah berhaluan kanan moderat yang didirikan oleh Celal Bayar pada 7 Januari 1946. DP menjadi partai oposisi legal ketiga dalam sejarah kepartaian Republik Turki. Sebelum DP pernah ada Partai Liberal Republikan (Serbest Cumhuriyet Fฤฑrkasฤฑ) serta Partai Perkembangan Nasional (Milli Kalkฤฑnma Partisi).

Namun, DP merupakan yang pertama mampu menumbangkan cengkraman Partai Masyarakat Republik (Cumhuriyet Halk Partisi/CHP) pada pemilu 1950. Disamping mengalahkan telak partai CHP warisan Mustafa Kemal, DP juga mengakhiri dominasi sistem satu-partai.

Dalam kajian tadi ba’da Zuhur, yang paling penting dari fenomena naiknya DP adalah naiknya juga kekuatan kaum Muslimin di Turki melalui jalur politik. Kesadaran berpolitik sebagian besar kaum Muslim pada waktu itu tidak lepas dari aktivitas kaum sufi NakลŸibendi dan pergerakan Nurcu.

Selesai menyampaikan Kajian Tematik (ke-11)
Kebangkitan Politik Islamis di Republik Turki era 1946-1950

Masjid al-Ihsan, Bank Syariah Mandiri
Kantor Pusat, Senin 28 Agustus 2017

Hukum merokok, sekedar makruhkah?

Assalamualikum tadz. Saya mau bertanya seperti apa sebenar nya hukum rokok itu. Kalo bisa mnta ayat atau hadits yg menerangkan nya jika ada. Terima kasih. Wassalamuaikum wr.wb

Jawaban
———-

โ€Œูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu โ€˜ala Rasulillah wa โ€˜ala Alihi wa Shahbihi wa man waalah, wa baโ€™d:
Jawaban ini diturunkan dalam rangka menyelamatkan umat manusia, khususnya umat Islam, dari bahaya rokok, serta bahaya para propagandis (pembela)nya dengan ketidakpahaman mereka tentang nash-nash syarโ€™i (teks-teks agama) dan qawaidusy syarโ€™iyyah (kaidah-kaidah syariat). Atau karena hawa nafsu, mereka memutuskan hukum agama karena perasaan dan kebiasaannya sendiri, bukan karena dalil-dalil Al Qurโ€™an dan As Sunnah, serta aqwal (pandangan) para ulama Ahlus Sunnah yang muโ€™tabar (yang bisa dijadikan rujukan). Lantaran mereka, umat terus terombang ambing dalam kebiasaan yang salah ini, dan meneladani perilaku yang salah, lantaran menemukan sebagian para daโ€™i hobi dengan rokok. Padahal para daโ€™i adalah pelita, lalu, bagaimana jika pelita itu tidak mampu menerangi dirinya sendiri? Wallahul Mustaโ€™an!

Mereka beralasan โ€˜tidak saya temukan dalam Al Qurโ€™an dan Al Hadits yang mengharamkan rokok.โ€™ Sungguh, ini adalah perkataan yang mengandung racun berbahaya bagi orang awam, sekaligus menunjukkan keawaman pengucapnya, atau kemalasannya untuk menelusuri dalil. Sebab banyak hal yang diharamkan dalam Islam tanpa harus tertera secara manthuq (tekstual/jelas tertulis) dalam Al Qurโ€™an dan As Sunnah. Kata-kata โ€˜rokokโ€™ jelas tidak ada dalam Al Qurโ€™an dan As Sunnah secara tekstual, sebab bukan bahasa Arab, nampaknya anak kecil juga tahu itu. Nampaknya, orang yang mengucapkan ini tidak memahami fiqih Islam, bahwa keharaman dalam Al Qurโ€™an bisa secara lafaz (teks tegas mengharamkan) atau keharaman karena makna/pengertian/maksudnya. Nah, secara lafaz memang tidak ada tentang haramnya rokok, tetapi secara makna/pengertian/maksud, jelas sangat banyak dalilnya. Orang yang mengucapkan kalimat seperti ini ada beberapa kemungkinan:

Pertama, ia benar-benar tidak tahu alias awam dengan urusan syariat, jika demikian maka ucapannya โ€œtidak saya temukan โ€ฆdstโ€ itu bisa dimaklumi.

Kedua, ia telah mengetahui adanya ayat atau hadits yang secara makna mengharamkan apa pun yang dapat merusak diri sendiri dan orang lain termasuk rokok, tetapi ia memahaminya sesuai selera dan hawa nafsunya sendiri, tidak merujuk kepada pandangan para Imam dan Ulama yang mendalam.

Ketiga, ia sudah mengetahui dalilnya tetapi ia sembunyikan dari umat, atau ia pura-pura tidak tahu, maka ini adalah sikap dusta dan kitmanul haq (menyembunyikan kebenaran) yang dikecam dalam agama.

Keempat, ia juga seorang perokok sehingga dalil agama bisa dipermainkannya sesuai selera dan kebiasaannya, bukan kebiasaannya yang ditundukkan oleh dalil-dalil agama dan fatwa para imam. Sulit sekali seseorang mengharamkan apa yang menjadi kebiasaannya sendiri.

Sejak dahulu mayoritas umat telah meyakini โ€“kecuali sebagian kecil madzhab Maliki- bahwa Anjing adalah haram dimakan, namun adakah ayat atau hadits secara jelas yang menyatakan Anjing haram di makan? Tidak ada! Tetapi kenapa Islam mengharamkan? Karena kita memiliki qawaid al fiqhiyyah fi at tahrim (kaidah-kaidah fiqih dalam mengharamkan), maqashid syariโ€™ah (esensi syariat) yang mafhum secara tersirat, serta qarinah (korelasi/petunjuk isyarat) tentang haramnya sesuatu walau tidak secara jelas disebut nama barangnya atau perbuatannya. Nah, kaidah-kaidah inilah yang nampaknya luput dari mereka dalam perkara rokok ini.

Dikhawatiri dari pandangan sebagian daโ€™i yang terlalu tekstual dan kaku ini, nanti-nanti ada umat yang mengatakan bahwa memonopoli barang dagangan adalah halal, karena tidak ada ayat atau hadits secara terang tentang โ€˜monopoliโ€™, Joget ala ngebor penyanyi seronok juga halal, karena tidak ada ayat atau hadits yang membahas tentang goyangnya mereka! Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Ada lagi yang berkata, โ€œBukankah para kiayi juga merokok? Bukankah mereka ahli agama?โ€

Jawaban: Hanya Rasulullah yang maโ€™shum (terpelihara dari kesalahan), sedangkan selainnya (walau ulama atau kiayi) bisa saja salah. Para ulama di tengah umatnya adalah bintang di tengah langit. Mencintai mereka adalah bagian dari perintah agama, mencela mereka adalah sebuah dosa. Memuliakan mereka adalah kemuliaan, merendahkan mereka adalah kehinaan. Namun, mencintai dan memuliakan ulama atau kaiyi tidaklah dilakukan secara membabi buta, tanpa memperhatikan akhlak Islami dan patokan-patokan syariat. Mereka pun tidak senang jika seandainya umatnya menyikapi mereka secara melampaui batas. Sungguh, kebenaran bukan dilihat dari orangnya, tapi lihatlah dari perilakunya, sejauh mana kesesuaian dengan Al Qurโ€™an dan As Sunnah. Kami amat meyakini dan berbaik sangka, para kiayi yang merokok pun sebenarnya membenci apa yang telah jadi kebiasaan mereka, hanya saja karena sudah candu, mereka sulit meninggalkannya. Akhirnya, tidak sedikit di antaranya yang mencari-cari alasan untuk membenarkan rokok. Sungguh, Ahlus Sunnah wal Jamaah (aswaja) adalah orang yang berani beramal setelah adanya dalil, bukan beramal dulu, baru cari-cari dalil dan alasan.

Imam Mujahid Radhiallahu โ€˜Anhu berkata:

ู„ูŠุณ ุฃุญุฏ ุฅู„ุง ูŠุคุฎุฐ ู…ู† ู‚ูˆู„ู‡ ูˆูŠุชุฑูƒุŒ ุฅู„ุง ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู….

โ€œTidaklah seorang pun melainkan bisa diterima atau ditolak pendapatnya, kecuali Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam ( yang wajib diterima /tidak boleh ditolak).โ€[1]

Imam Malik Rahimahullah berkata:

ุฅู†ู…ุง ุฃู†ุง ุจุดุฑ ุฃุฎุทุฆ ูˆุฃุตูŠุจ ูุงู†ุธุฑูˆุง ููŠ ุฑุฃูŠูŠ ูู…ุง ูˆุงูู‚ ุงู„ูƒุชุงุจ ูˆุงู„ุณู†ุฉ ูุฎุฐูˆู‡ ูˆูƒู„ ู…ุง ู„ู… ูŠูˆุงูู‚ ุงู„ูƒุชุงุจ ูˆุงู„ุณู†ุฉ ูุงุชุฑูƒูˆู‡

โ€œSesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, bisa salah dan bisa benar, maka lihatlah pendapatku, apa-apa yang sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah maka ambillah, dan setiap yang tidak sesuai maka tinggalkanlah.โ€[2]

Imam Hasan Al Banna Rahimahullah berkata:

ูˆูƒู„ ุฃุญุฏ ูŠุคุฎุฐ ู…ู† ูƒู„ุงู…ู‡ ูˆูŠุชุฑูƒ ุฅู„ุง ุงู„ู…ุนุตูˆู… ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… , ูˆูƒู„ ู…ุง ุฌุงุก ุนู† ุงู„ุณู„ู ุฑุถูˆุงู† ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ู… ู…ูˆุงูู‚ุง ู„ู„ูƒุชุงุจ ูˆุงู„ุณู†ุฉ ู‚ุจู„ู†ุงู‡ , ูˆ ุฅู„ุง ููƒุชุงุจ ุงู„ู„ู‡ ูˆุณู†ุฉ ุฑุณูˆู„ู‡ ุฃูˆู„ู‰ ุจุงู„ุฅุชุจุงุน ุŒ ูˆู„ูƒู†ุง ู„ุง ู†ุนุฑุถ ู„ู„ุฃุดุฎุงุต ู€ ููŠู…ุง ุงุฎุชู„ู ููŠู‡ ู€ ุจุทุนู† ุฃูˆ ุชุฌุฑูŠุญ , ูˆู†ูƒู„ู‡ู… ุฅู„ู‰ ู†ูŠุงุชู‡ู… ูˆู‚ุฏ ุฃูุถูˆุง ุฅู„ู‰ ู…ุง ู‚ุฏู…ูˆุง .

โ€œSetiap manusia bisa diambil atau ditinggalkan perkataan mereka, begitu pula apa-apa yang datang dari para salafus shalih sebelum kita yang sesuai dengan Al Qurโ€™an dan As Sunnah, kecuali hanya Rasulullah Shalallahu โ€˜Alaihi wa Sallam (yang perkatannya wajib diterima tidak boleh ditolak, pen), dan jika tidak sesuai, maka Al Quran dan As Sunnah lebih utama untuk diikuti. Tetapi kita tidak melempar tuduhan dan celaan secara pribadi kepada orang yang berbeda, kita serahkan mereka sesuai niatnya dan mereka telah berlalu dengan amal berbuatan mereka.โ€ [3]

Memang keteladanan hanya ada pada diri Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaih wa Sallam. Maka, untuk para daโ€™i hati-hatilah, sebab Allah Taโ€™ala berfirman:

โ€œDan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan Ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.โ€ (QS. An Nahl (16): 116)

Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallah โ€˜Alaihi Wa Sallam bersabda:

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽู‚ู’ุจูุถู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ูŽ ุงู†ู’ุชูุฒูŽุงุนู‹ุง ูŠูŽู†ู’ุชูŽุฒูุนูู‡ู ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุนูุจูŽุงุฏู ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ูŠูŽู‚ู’ุจูุถู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ูŽ ุจูู‚ูŽุจู’ุถู ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูุจู’ู‚ู ุนูŽุงู„ูู…ู‹ุง ุงุชู‘ูŽุฎูŽุฐูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุฑูุกููˆุณู‹ุง ุฌูู‡ู‘ูŽุงู„ู‹ุง ููŽุณูุฆูู„ููˆุง ููŽุฃูŽูู’ุชูŽูˆู’ุง ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุนูู„ู’ู…ู ููŽุถูŽู„ู‘ููˆุง ูˆูŽุฃูŽุถูŽู„ู‘ููˆุง

โ€œSesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara begitu saja dalam diri manusia, tetapi dicabutnya ilmu melalui wafatnya para ulama. Sehingga orang berilmu tidak tersisa, lalu manusia menjadikan orang bodoh menangani urusan mereka. Mereka ditanya lalu menjawab dengan tanpa ilmu. Akhirnya, mereka sesat dan menyesatkan.โ€ [4]

Berikut ini akan kami paparkan adillatusy syarโ€™iyyah (dalil-dalil syaraโ€™) dari Al Qurโ€™an dan As Sunnah tentang haramnya rokok, yang tidak ada keraguan di dalamnya, berserta kaidah-kaidah fiqhiyyah yang telah disepakati para ulama mujtahidin, dan akan kami paparkan pula pandangan ulama dunia tentang rokok. Insya Allah.

1.Dalil dari Al Qurโ€™an

Allah โ€˜Azza wa Jalla berfirman:

โ€œDan Janganlah kalian menjerumuskan diri kalian dengan tangan kalian sendiri ke dalam jurang kerusakan.โ€ (QS. Al Baqarah (2): 195)
ลธwur (#รพqรจ=รงFรธ)s? รถNรค3|ยกร รฟRr& ๏€  ร‡ร‹ร’รˆ
โ€œDan Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri ..โ€ (QS. An Nisa (4): 29)

Perhatikan dua ayat ini, tidak syak (ragu) lagi, merokok merupakan tindakan merusak diri si pelakunya, bahkan tindakan bunuh diri. Para pakar kesehatan telah menetapkan adanya 3000 racun berbahaya, dan 200 diantaranya amat berbahaya, bahkan lebih bahaya dari Ganja (Canabis Sativa). Mereka menetapkan bahwa sekali hisapan rokok dapat mengurangi umur hingga beberapa menit. Wallahu Aโ€™lam bis Shawab. Pastinya, umur manusia urusan Allah Taโ€™ala, namun penelitian para pakar ini adalah pandangan ilmiah empirik yang tidak bisa dianggap remeh. Al Ustadz Muhamad Abdul Ghafar Al Hasyimi menyebutkan dalam bukunya Mashaibud Dukhan (Bencana Rokok) bahwa rokok bisa melahirkan 99 macam penyakit. Lancet, sebuah majalah kesehatan di Inggris menyatakan bahwa merokok itu adalah penyakit itu sendiri, bukan kebiasaan. Perilaku ini merupakan bencana yang dialami kebanyakan anggota keluarga, juga bisa menurunkan kehormatan seseorang. Jumlah yang mati karena rokok berlipat ganda. Majalah ini menyimpulkan, asap rokok lebih bahaya dari asap mobil.

Perhatikan dua ayat di atas, ia menggunakan bentuk kata untuk pengingkaran/larangan yang bermakna jauhilah perbuatan merusak diri atau mengarah pada bunuh diri. Dalam kaidah Ushul Fiqh disebutkan Al Ashlu fi An Nahyi lil Haram (hukum asal dari sebuah larangan adalah haram). Seperti kalimat wa laa taqrabuz zinaa .. (jangan kalian dekati zina) artinya mendekati saja haram apa lagi melakukannya. Maksudnya, ada dua yang diharamkan dalam ayat ini yakni 1. Berzina, dan 2. perilaku atau sarana menuju perzinahan. Ini Sesuai kaidah Ushul Fiqh:

ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽุฏู‘ูŽู‰ ุฅู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู ููŽู‡ููˆูŽ ุญูŽุฑูŽุงู…ูŒ .

โ€œApa saja yang membawa kepada yang haram, maka dia juga haram.โ€[5]

Begitu pula ayat โ€˜Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiriโ€™, artinya, yang diharamkan adalah 1. Bunuh diri, dan 2. Perilaku atau sarana apapun yang bisa mematikan diri sendiri.

Imam Asy Syaukani berkata dalam Kitab tafsirnya, Fat-hul Qadir, tentang maksud ayat An Nisa 29 di atas:

ู‚ูˆู„ู‡ “ูˆู„ุง ุชู‚ุชู„ูˆุง ุฃู†ูุณูƒู…” ุฃูŠ: ู„ุง ูŠู‚ุชู„ ุจุนุถูƒู… ุฃูŠู‡ุง ุงู„ู…ุณู„ู…ูˆู† ุจุนุถุงู‹ ุฅู„ุง ุจุณุจุจ ุฃุซุจุชู‡ ุงู„ุดุฑุนุŒ ุฃูˆ ู„ุง ุชู‚ุชู„ูˆุง ุฃู†ูุณูƒู… ุจุงู‚ุชุฑุงู ุงู„ู…ุนุงุตูŠ ุฃูˆ ุงู„ู…ุฑุงุฏ ุงู„ู†ู‡ูŠ ุนู† ุฃู† ูŠู‚ุชู„ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ู†ูุณู‡ ุญู‚ูŠู‚ุฉ. ูˆู„ุง ู…ุงู†ุน ู…ู† ุญู…ู„ ุงู„ุขูŠุฉ ุนู„ู‰ ุฌู…ูŠุน ุงู„ู…ุนุงู†ูŠ. ูˆู…ู…ุง ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ุงุญุชุฌุงุฌ ุนู…ุฑูˆ ุจู† ุงู„ุนุงุต ุจู‡ุง ุญูŠู† ู„ู… ูŠุบุชุณู„ ุจุงู„ู…ุงุก ุงู„ุจุงุฑุฏ ุญูŠู† ุฃุฌู†ุจ ููŠ ุบุฒุงุฉ ุฐุงุช ุงู„ุณู„ุงุณู„ุŒ ูู‚ุฑุฑ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุงุญุชุฌุงุฌู‡ ูˆู‡ูˆ ููŠ ู…ุณู†ุฏ ุฃุญู…ุฏ ูˆุณู†ู† ุฃุจูŠ ุฏุงูˆุฏ ูˆุบูŠุฑู‡ู…ุง

โ€œMaksud firmanNya โ€˜Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiriโ€™ adalah Wahai muslimun, janganlah kalian saling membunuh satu sama lain, kecuali karena ada sebab yang ditetapkan oleh syariat. Atau, janganlah bunuh diri kalian dengan perbuatan keji dan maksiat, atau yang dimaksud ayat ini adalah larangan membunuh diri sendiri secara hakiki (sebenarnya). Tidak terlarang membawa maksud ayat ini kepada makna-makna yang lebih umum. Dalilnya adalah Amr bin Al Ash berhujjah (berdalil) dengan ayat tersebut, ketika ia tidak mandi wajib (mandi junub) dengan air dingin pada saat perang Dzatul Salasil. Namun, Nabi Shaliallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mendiamkan (tanda setuju) hujjah (alasan) yang yang dipakai olenya. Ini ada dalam Musnad Ahmad, Sunan Abu daud, dan lain-lain.โ€ [6]

Dalam ayat lain Allah Taโ€™ala juga berfirman:

โ€œSesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannyaโ€ (QS. Al Israโ€™ (17): 27)

Tidak ragu pula, hobi merokok tindakan tabdzir (pemborosan) dan penyia-nyiaan terhadap harta. Mereka tidak mendapatkan apa-apa dari rokok kecuali ketenangan sesaat, bahaya penyakit yang mengancam jiwa, dan terbuangnya uang secara sia-sia. Bahkan, Allah Taโ€™ala menyebut mereka sebagai saudara-saudara syaitan.
Berkata Imam Asy Syaukany tentang tafsir ayat ini:

ุฃู† ุงู„ู…ุจุฐุฑ ู…ู…ุงุซู„ ู„ู„ุดูŠุทุงู†ุŒ ูˆูƒู„ ู…ู…ุงุซู„ ู„ู„ุดูŠุทุงู† ู„ู‡ ุญูƒู… ุงู„ุดูŠุทุงู†ุŒ ูˆูƒู„ ุดูŠุทุงู† ูƒููˆุฑุŒ ูุงู„ู…ุจุฐุฑ ูƒููˆุฑ.

โ€œโ€ฆ Bahwa orang yang berbuat mubadzir (pemboros) diumpamakan seperti syaitan, dan setiap yang diumpamakan dengan syaitan maka baginya dihukumi sebagai syaitan, dan setiap syaitan adalah ingkar (terhadap Allah, pen), maka orang yang mubadzir adalah orang yang ingkar.โ€[7]

Sebagian ulama โ€“seperti Imam Asy Syaukany ini- ada yang mengatakan bahwa berlebihan dalam berinfak juga termasuk tabdzir (pemborosan)[8], maka apalagi berlebihan dalam merokok, berpikirlah wahai manusia!

Maka, haramnya rokok adalah muwafaqah bil maqashid asy Syariโ€™ah (sesuai dengan tujuan syariat) yang menghendaki terjaganya lima hal asasi (mendasar), yaitu agama, nyawa, harta, akal, dan keturunan. Imam Al Qarafi Al Maliki menambahkan menjadi enam, yaitu kehormatan.

Allah Taโ€™ala juga menyebut tentang ciri-ciri orang yang beriman yakni orang yang:

โ€œ Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinyaโ€ (QS.Al Muโ€™minun (23): 8)

Kesehatan adalah anugerah dari Allah yang harus dijaga, itu adalah amanah dari Allah Taโ€™ala yang tidak boleh dikhianati. Dalam hadits disebutkan, dari Anas bin Malik Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ู„ูŽุง ุฅููŠู…ูŽุงู†ูŽ ู„ูู…ูŽู†ู’ ู„ูŽุง ุฃูŽู…ูŽุงู†ูŽุฉูŽ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ุฏููŠู†ูŽ ู„ูู…ูŽู†ู’ ู„ูŽุง ุนูŽู‡ู’ุฏูŽ ู„ูŽู‡ู
โ€œTidak beriman bagi orang yang tidak menjaga amanah, dan tidak beragama orang yang tidak menepati janjinya.โ€[9]

Seharusnya, seorang muslim yang baik berhati-hati dengan perkara amanah ini, sebab akan menjatuhkannya dalam kategori kemunafikan. Wal โ€˜Iyadzubillah!

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata tentang ayat di atas: โ€œYaitu jika diberi amanah ia tidak mengkhianatinya, bahkan ia menunaikannya kepada pihak yang memberinya.โ€ [10]

Itulah orang yang beriman, ia menjaga amanah dan tidak mengkhianatinya. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak menjaga amanah?

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุขูŠูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูู†ูŽุงููู‚ู ุซูŽู„ูŽุงุซูŒ ุฅูุฐูŽุง ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽ ูƒูŽุฐูŽุจูŽ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ูˆูŽุนูŽุฏูŽ ุฃูŽุฎู’ู„ูŽููŽ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุงุคู’ุชูู…ูู†ูŽ ุฎูŽุงู†ูŽ

โ€œTanda orang munafik ada tiga: jika bicara ia dusta, jika janji ia ingkar, jika diberi amanah ia khianat.โ€[11]

Demikianlah dalil-dalil Al Qurโ€™anul Karim yang amat tegas dan jelas tentang larangan merusak diri sendiri dan berbuat mubadzir, mengkhianati amanah kesehatan, yang semua itu telah dilakoni oleh aktifitas merokok. Bagian ini telah kami paparkan juga beberapa hadits, dan pandangan para ulama terdahulu kita. Alhamdulillah โ€ฆ

1. Dalil-dalil dari As Sunnah Al Muthahharah

Selain beberapa hadits di atas, ada lagi beberapa hadits lain yang memperkuat larangan merokok bagi seorang muslim. Kami hanya akan menggunakan hadits-hadits yang maqbul (bisa diterima periwayatannya) yaitu yang shahih atau hasan, ada pun hadits yang mardud (tertolak/tidak boleh digunakan khususnya dalam masalah aqidah dan hukum) yaitu hadits dhaif, tidak akan kami gunakan. Nasโ€™alullaha as salamah wal โ€˜afiyah โ€ฆ

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu โ€˜Alaihi wa SallamI bersabda:

ู…ูู†ู’ ุญูุณู’ู†ู ุฅูุณู’ู„ูŽุงู…ู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุกู ุชูŽุฑู’ูƒูู‡ู ู…ูŽุง ู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ู†ููŠู‡ู

โ€œDi antara baiknya kualitas Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.โ€ [12]

Ya, tanda baiknya kualitas Islam seseorang adalah ia meninggalkan perbuatan yang tidak bermanfaat. Rokok tidak membawa manfaat apa-apa, kecuali ancaman bagi kesehatan dan jiwa dan pemborosan. Ada pun ketenangan dan konsentrasi setelah merokok, itu hanyalah sugesti. Hendaknya bagi seorang muslim yang sadar dan faham agama merenungi hadits yang mulia ini.

Dari Abu Shirmah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ู…ู† ุถุงุฑ ู…ุณู„ู…ุง ุถุงุฑู‡ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ู…ู† ุดุงู‚ ู…ุณู„ู…ุง ุดู‚ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡

โ€œBarangsiapa yang memudharatkan (merusak) seorang muslim yang lain, maka Allah akan memudharatkannya, barang siapa yang menyulitkan orang lain maka Allah akan menyulitkan orang itu.โ€ [13]

Ada istilah perokok pasif yaitu orang yang tidak merokok namun tanpa disengaja (baik ia sudah menghindar atau belum) ia menghirup juga asap rokok. Bahkan menurut penelitian, perokok pasif mendapatkan dampak yang lebih berbahaya, sebab selain ia mendapatkan racun dari asap rokok, juga mendapat racun dari udara yang ditiupkan si perokok yang telah bercampur dengan asapnya. Inilah mudharat (kerusakan) yang telah dibuat oleh para perokok aktif kepada orang lain. Jelas Rasulullah amat melarangnya, bahkan ia mendoakan agar Allah Taโ€™ala membalas perbuatan rusak orang tersebut.

Berkata Imam Abu Thayyib Rahimahullah:

ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซ ูููŠู‡ู ุฏูŽู„ููŠู„ ุนูŽู„ูŽู‰ ุชูŽุญู’ุฑููŠู… ุงู„ุถู‘ูุฑูŽุงุฑ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽูŠู‘ ุตูููŽุฉ ูƒูŽุงู†ูŽ ุŒ ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑ ููŽุฑู’ู‚ ุจูŽูŠู’ู† ุงู„ู’ุฌูŽุงุฑ ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑู‡

โ€œHadits ini merupakan dalil, haramnya berbuat dharar (kerusakan) bagaimana pun sifatnya, dan tidak ada perbedaan, baik itu kepada tetangga atau orang lain.โ€[14]

Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah โ€˜Alaihis Shalatu was Salami bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ุชูŽุดูŽุจู‘ูŽู‡ูŽ ุจูู‚ูŽูˆู’ู…ู ููŽู‡ููˆูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’

โ€œBarangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia telah menjadi bagian kaum itu.โ€ [15]

Dalam sejarahnya, rokok pertama kali dilakukan oleh suku Indian ketika sedang ritual penyembahan dewa-dewa mereka. Kami yakin perokok saat ini tidak bermaksud seperti suku Indian tersebut, namun perilaku yang nampak dari mereka merupakan bentuk tasyabbuh bil kuffar (penyerupaan dengan orang kafir) yang sangat diharamkan Islam. Dan perlu diketahui, bahwa Fiqih Islam menilai seseorang dari yang terlihat (nampak), adapun hati atau maksud orangnya, kita serahkan kepada Allah Taโ€™ala.
Allah Taโ€™ala berfirman:

โ€œDan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.โ€ (QS. Al Israโ€™ (17): 36)

Demikian, kami cukupkan dulu dalil-dalil dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. Sebenarnya seluruh keterangan di atas โ€“kami kira- sudah mencukupi, namun ada baiknya kami tambahkan beberapa hal untuk lebih meyakinkan lagi.

2. Al Qawaid Al Fiqhiyyah (Kaidah-kaidah fiqih)

Dalam fiqih ada kaidah-kaidah yang biasa digunakan para Ulama mujtahid (ahli ijtihad) untuk membantu menyimpulkan dan memutuskan sebuah hukum, baik untuk keputusan haram atau halalnya sesuatu benda atau perbuatan.

Dalam menentukan haramnya rokok ini ada beberapa kaidah yang menguatkan, di antaranya (seperti yang sudah disebut sebelumnya):
ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽุฏู‘ูŽู‰ ุฅู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู ููŽู‡ููˆูŽ ุญูŽุฑูŽุงู…ูŒ .

โ€œSesuatu atau sarana yang membawa kepada keharaman, maka hukumnya haram.โ€

Merusak diri sendiri dengan perbuatan yang bisa mengancam kesehatan dan jiwa, jelas diharamkan dalam syariat, tanpa ragu lagi. Maka, merokok atau perilaku apa saja yang bisa merusak diri dan mengancam jiwa, baik cepat atau lambat, adalah haram, karena perilaku tersebut merupakan sarananya.

Kaidah lainnya adalah:

ู„ูŽุง ุถูŽุฑูŽุฑูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุถูุฑูŽุงุฑูŽ
โ€œJanganlah melakukan kerusakan (melakukan dharar), atau merusak diri sendiri.โ€[16] Sebenarnya kaidah ini adalah berasal dari bunyi hadits yang diriwayatkan banyak ulama di antaranya Malik, Ibnu Majah, Ahmad, Ad Daruquthni, Al Baihaqi, dan Al Hakim.[17]

Tertulis dalam kitab Anwarul Buruq ketika mengomentari hadits ini:

ูˆูŽุจูุงู„ู’ุฌูู…ู’ู„ูŽุฉู ุฅู†ู’ ุซูŽุจูŽุชูŽ ูููŠ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ุฏู‘ูุฎูŽุงู†ู ุฃูŽุถู’ุฑูŽุงุฑูŒ ุตูุฑูููŽ ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ู…ูŽู†ูŽุงููุนู ููŽูŠูŽุฌููˆุฒู ุงู„ู’ุฅููู’ุชูŽุงุกู ุจูุชูŽุญู’ุฑููŠู…ูู‡

โ€œSecara global, jika pasti adanya mudharat pada rokok yang menghilangkan manfaatnya, maka bolehlah difatwakan bahwa rokok adalah haram.โ€[18]

Merokok selain merusak diri sendiri, juga merusak kesehatan orang lain di sekitarnya (perokok pasif). Keduanya (yakni merusak diri sendiri dan merusak orang lain) sama-sama dilarang oleh syariat. Ada pun bagi pelakunya ia mengalami dharar mali (kerusakan pada harta, karena ia menyia-nyiakannya), dharar jasady (kerusakan tubuh, karena membahayakan kesehatan bahkan jiwa), dharar nafsi (merusak kepribadian-citra diri, dan mental-kecanduan). Jika berbahaya bagi kesehatan saja sudah cukup untuk mengharamkan, apalagi jika sudah termasuk menghamburkan uang dan menurunkan harga diri. Tentu lebih kuat lagi pengharamannya.

Kaidah lainnya:
ุฅูŽู†ู‘ูŽ ุฏูŽูู’ุนูŽ ุงู„ู’ู…ูŽููŽุงุณูุฏู ู…ูู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฌูŽู„ู’ุจู ุงู„ู’ู…ูŽุตูŽุงู„ูุญู

โ€œSesungguhnya, menghindari kerusakan, harus didahulukan dibanding mengambil manfaat.โ€[19]
Kita tahu, para perokok โ€“katanya- merasa tenang dan konsentrasi ketika merokok. Baik, taruhlah itu manfaat yang ada, namun ternyata dan terbukti bahwa mudharatnya sangat jauh lebih besar, maka menurut kaidah ini walau rokok punya manfaat, ia tetap wajib ditinggalkan, dalam rangka menghindari kerusakan yang ditimbulkannya. Faktanya, manfaatnya tidak ada, hanya sugesti dan mitos.

3. Alasan Mereka dan Bantahannya

Mereka beralasan bahwa โ€œhukum asal segala sesuatu (urusan dunia) adalah mubah (boleh) kecuali ada dalil syariat yang mengharamkannya. Nah, kami tidak menemukan dalil pengharamannya.โ€

Alasan ini sudah terjawab secara tuntas dan rinci dari uraian di atas. Telah kami paparkan beberapa ayat, beberapa hadits, yang mengarah pada haramnya rokok (atau apa saja yang termasuk membahayakan kesehatan dan jiwa, dan mubadzir), beserta pandangan para Imam umat Islam. Ucapan โ€œkami tidak menemukan dalil pengharamannyaโ€ bukan berarti tidak ada dalilnya. Sebab, tidak menemukan bukan berarti tidak ada. Hal ini, tergantung kejelian, kemauan, dan โ€“yang paling penting- kesadaran manusianya. Memang, masalah ilmu dan kebenaran, bukan tempatnya bagi orang malas dan pengekor hawa nafsu dan emosi.

Mereka beralasan bahwa, โ€œKami pusing jika tidak merokok, jika merokok, kami kembali tenang dan konsentrasi.โ€

Alasan ini tidak layak keluar dari mulut orang Islam yang baik, apalagi daโ€™i. Ucapan ini justru telah membuka kedok, bahwa orang tersebut telah ketergantungan dengan rokok, yang justru memperkuat keharamannya. Bahkan menurut sebagian ulama rokok telah menjadi berhala bagi orang ini, sehingga ia tidak layak menjadi imam shalat. Namun bagi kami, ia masih boleh menjadi imam shalat, sebab Abdullah bin Umar Radhiallahu โ€˜Anhu pernah shalat menjadi makmum di belakang ahli maksiat, yaitu seorang gubernur zhalim di Madinah, Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqafy.

Ya, ajaib memang. Jika, memang mengaku muslim (tidak usahlah muโ€™min kalau masih berat), seharusnya ia berdzikir kepada Allah Taโ€™ala supaya pikiran tenang, hati khusyuโ€™ dan konsentrasi, bukan dengan merokok! Karena hanya dengan mengingat Allah Taโ€™ala hati menjadi tenang. Wallahul Mustaโ€™an!

Allah Taโ€™ala berfirman:
โ€œ(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.โ€ (QS. Ar Raโ€™du (13): 28)

Alasan lainnya adalah, โ€œBagi kami merokok adalah makruh saja, makruhโ€™kan tidak berdosa.โ€

Jawaban ini hanya keluar dari orang yang wahnun fid din (lemah dalam beragama), tidak waraโ€™, mempermainkan fiqih, dan mutasahil (menggampang-gampangkan). Jika benar itu makruh, maka tahukah Anda apa itu makruh? Ia diambil dari kata karaha (membenci), makruh artinya sesuatu yang dibenci, siapa yang membenci? Allah Taโ€™ala! Muslim yang baik, yang mengaku Allah Taโ€™ala adalah kekasihnya, ia akan meninggalkan hal yang dibenci kekasihnya. Kekasih model apa yang hobi melakukan sesuatu yang dibenci olah sang kekasih?

Dahulu, kami pun sekadar memakruhkan rokok, sebagaimana pendapat Imam Hasan al Banna dan Syaikh Said Hawwa Rahimahumallah. Namun, apa yang kami yakini itu, dan apa yang difatwakan oleh dua ulama ini adalah pandangan lama ketika sains belum berkembang, penemuan tentang bahaya rokok tidak separah seperti yang terkuak sekarang. Kami yakin, jika dua ulama ini berumur panjang dan diberi kesempatan untuk melihat perkembangan bahaya rokok, niscaya mereka akan merubah pendapatnya. Sebab mereka berdua adalah ulama yang terkenal open mind (pikiran terbuka), tidak jumud (statis/diam di tempat), mereka selalu terus mencari kebenaran.

Sesungguhnya, perubahan pendapat atau ijtihad yang disebabkan perubahan kondisi, tempat, dan peristiwa, dalam sejarah khazanah fiqih Islam bukanlah hal yang aneh.[20] Imam Ahlus Sunnah, Asy Syafiโ€™i Radhiallahu โ€˜Anhu ketika masih tinggal di Baghdad ia memiliki Qaul Qadim (pendapat lama), namun ketika ia hijrah ke Mesir dan wafat di sana, lantaran perubahan kondisi, tempat, dan juga kematangan usia dan ilmu, ia merubahnya menjadi Qaul Jadid (pendapat baru). Contoh lain sangat banyak dan bukan di sini tempatnya.

Yang pasti, kami telah merevisi apa yang kami yakini dahulu. Sebab para ahli telah menegaskan betapa bahayanya rokok bagi penghisapnya dan orang di sekitarnya, cepat atau lambat. Dahulu dengan keterbatasan pengetahuan yang ada, para pakar mengatakan bahaya rokok hanya ini dan itu. Namun sekarang ketika ilmu pengetahuan sudah maju, rahasia yang dahulu tertutup menjadi terbuka, racun yang dahulunya tersembunyi sekarang diketahui. Maka, tidak ragu lagi, bahwa saat ini kurang tepat jika rokok dihukumi makruh, melainkan haram. Masalahnya, adakah kesadaran dalam diri kita untuk merubah kebiasaan yang sudah mentradisi?

Sungguh, bersegera menuju kebenaran adalah lebih utama dari pada berlama-lama dalam kesalahan.

5. Pandangan Ulama Dunia Tentang Rokok

Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Ali Asy Syaikh berkata, โ€œSaya pernah ditanya tentang hukum tembakau yang sering dihisap oleh orang yang belum paham tentang haramnya rokok. Maka kami jawab, bahwa kami kalangan para ulama dan syaikh-syaikh kita yang dahulu, para ahli ilmu, para imam daโ€™wah, ahli Najd (daerah antara Makkah dan Madinah), dahulu sampai sekarang menghukumi bahwa rokok itu haram, berdasarkan dalil yang shahih, dan akal yang waras, serta penelitian para dokter yang masyhur.โ€ Lalu Syaikh menyebut dalil-dalil tersebut, beliau juga mengatakan bahwa haramnya rokok telah difatwakan oleh para ulama dari kalangan madzhab yang empat.

Syaikh Abdurrahman bin Saโ€™di (Ulama tafsir terkenal) berkata, โ€œPerokok, penjualnya, dan orang yang membantunya, semuanya haram. Tidak halal bagi umat islam memperolehnya, baik untuk dihisap atau untuk dijual. Barangsiapa yang memperolehnya, hendaknya ia bertaubat dengan taubat nasuha dari semua dosa. Sebab rokok ini masuk kepada dalil keumuman nash (teks Al Qurโ€™an) yang menunjukkan haram baik lafazh atau makna..dst.โ€

Syaikh Musthafa Al Hamami dalam An Nahdhatu al Ishlahiyah bekata tentang keanehan para perokok, โ€œTembakau dan rokok adalah perkara yang hampir sama. Keduanya memiliki daya tarik dan pengaruh yang kuat bagi para pecandunya, sehingga begitu menakjubkan, seolah-olah tidak ada daya tarik yang melebihi rokok. Kita saksikan bersama, betapa gelisahnya para penghisap rokok jika dia ingin merokok, sedangkan ia tidak punya uang. Maka ia akan mencari temannya yang merokok untuk mengemis walau satu batang. Hal ini kami ceritakan, karena kami melihatnya sendiri. Yang lucu, pengemis rokok itu orang yang berkedudukan tinggi, tetapi karena kuatnya dorongan untuk merokok membuat dirinya menjual harga dirinya untuk mengemis rokok walau satu batang!โ€

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Fauzan hafizhahullah dalam Al Iโ€™lam bi Naqdi Kitab al Halal wal Haram, berkata setelah ia menjelaskan haramnya rokok, โ€œBegitulah intisari nasihat dari dokter tentang bahaya rokok, yang kami ketengahkan setelah fatwa para ulama tentang bahaya rokok. Apakah pantas bagi mereka yang sudah memahami berbagai macam fatwa ulama ini dan pandangan para dokter ahli, mereka masih ragu tentang haramnya rokok dan enggan meninggalkannya? Tidaklah yang demikian itu melainkan suatu ketakabburan tanpa alasan.โ€

Syaikh Yusuf Al Qaradhawy hafizhahullah berkata dalam Al Halal wal Haram fil Islam, โ€œKami mengatakan bahwa rokok, selama hal itu telah dinyatakan membahayakan, maka hukumnya haram. Lebih-lebih jika dokter spesialis sudah menetapkan hal itu kepada orang tertentu.

Sekali pun tidak jelas bahayanya terhadap kesehatan, tetapi yang jelas hal itu termasuk membuang uang untuk yang tidak bermanfaat, baik untuk agama atau urusan dunia. Dalam hadits dengan tegas Rasulullah melarang membuang-buang harta. Keharamannya lebih kuat lagi, jika ternyata sebenarnya ia amat memerlukan uang itu untuk dirinya atau keluarganya.โ€ Inilah fatwa Syaikh Al Qaradhawy saat kitabnya ini baru dibuat yakni tahun 1960-an. Dalam Hadyu Al Islam Fatawa Muโ€™ashirah jilid 1, tahun 1988, Darul Maโ€™rifah Ia lebih panjang lagi menjelaskan tentang haramnya rokok setelah ia membandingkan seluruh alasan yang membolehkan, memakruhkan, dan mengharamkan. Dengan dalil yang ada, serta maksud dalil tersebut, beserta keterangan para dokter, Ia semakin mantap tentang haramnya rokok.
Demikian. Wallahu Aโ€™lam

* * * * *

[1] Imam Abu Nuโ€™aim, Hilyatul Auliyaโ€™, Juz. 2, Hal. 31. Al Maktabah Asy Syamilah

[2] Imam Al Mizzi, Tahdzibul Kamal, Juz. 27, Hal. 120. Al Maktabah Asy Syamilah

[3] Al Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, Majmuโ€™ah Ar Rasail, Hal.306. Maktabah At Taufiqiyah, Kairo. Tanpa tahun

[4] HR. Bukhari, Kitabul Ilmi Bab Kaifa Yuqbadhul โ€˜Ilma, Juz. 1, Hal. 176, No.98. Muslim, Kitabul Ilmi Bab Rafโ€™il Ilmi wa Qabdhihi …., Juz. 13, Hal. 160. No. 4828. Al Maktabah Asy Syamilah
[5] Imam Izzuddin bin Abdissalam, Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam, Juz. 2, Hal. 402. Al Maktabah Asy Syamilah
[6] Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, Juz. 2, Hal. 130. Al Maktabah Asy Syamilah

[7] Ibid, Juz. 4, Hal. 301. Al Maktabah Asy Syamilah

[8] Namun pendapat yang lebih kuat adalah dalam berinfaq untuk Al Haq tidak mengenal kata โ€˜berlebihan atau borosโ€™. Berkata Imam Mujahid, โ€œSeandainya manusia berinfak seluruh hartanya untuk kebenaran bukanlah termasuk tabdzir, tetapi berinfaq di jalan yang bukan al haq walau satu mud, itulah yang mubadzir.โ€ Ini juga pendapat sahabat Nabi seperti Ibnu Masโ€™ud dan Ibnu โ€˜Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma (Ibnu Katsir, Tafsir Al Qurโ€™an al Azhim, Juz. 5, Hal. 69. Al Maktabah Asy Syamilah)
[9] HR. Ahmad, Juz. 24, Hal. 481, No. 11935. Ath Thabari, Al Muโ€™jam Al Kabir, Juz. 9, Hal. 81, No. 10401. Al Baihaqi, Syuโ€™abul Iman, Juz. 9, Hal. 383, No. 4184. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib, Juz. 3, Hal. 88, No. 3004. Al Maktabah Asy Syamilah

[10] Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Qurโ€™an Al โ€˜Azhim, Juz, 5, hal. 463. Al Maktabah Asy Syamilah

[11] HR. Bukhari, Kitab Al Iman Bab โ€˜Alamatil Munafiq, Juz. 1, Hal. 58, No. 32. Muslim, Kitab Al Iman Bab Bayan Khishal Al Munafiq, Juz.1, Hal. 192, No. 90. Al Maktabah Asy Syamilah
[12] HR. At Tirmidzi, Kitab Az Zuhd โ€˜An Rasulillah Bab Fiman Takallam Bikalimatin Yudhhika biha An Nas, Juz. 8, Hal. 294, No. 2239. Malik, Juz. 5, Hal. 381, No. 1402, dari Ali bin Husein bin Ali bin Ab Thalib. Ibnu Majah, Kitabul Fitan Bab Kaffil Lisan fil Fitnah, Juz. 11, Hal. 472, No. 3966. Ahmad, Juz. 4, Hal. 168, No. 1646, dari Ali bin Abi Thalib. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Misykah Al Mashabih, Juz. 3, Hal. 49, No. 4839. Al Maktabah Asy Syamilah

[13] HR. Abu Daud, Kitab Al Aqdhiyah Bab Minal Qadhaโ€™, Juz. 10, Hal. 41, No. 3151. At Tirmidzi, Kitab Al Birr wash Shilah โ€˜an Rasulillah Bab Maa Jaโ€™a fil Khiayanah wal Ghisysyi, Juz. 7, Hal. 188, No. 1863. Katanya: hasan gharib. Ad Daruquthni, Juz. 7, Hal. 375, No. 3124. Al Hakim, Al Mustdarak, Juz. 5, Hal. 454, No. 2305, dari Abu Said Al Khudri. Menurutnya shahih sesuai syarat Imam Muslim. Syakh Al Albani juga menghasankan, Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi, Juz. 4, Hal. 440, No. 1940. Al Maktabah Asy Syamilah

[14] Imam Abu Thayyib Muhammad Syamsuddin Abadi, โ€˜Aunul Maโ€™bud, Juz. 8, Hal. 130. Al Maktabah Asy Syamilah

[15] HR. Abu Daud, Kitab Al Libas Bab Fi Lubsi Asy Syuhrah, Juz. 11, Hal. 48, No. 3512. Syaikh Al Albani mengatakan hasan shahih. Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud, Juz. 31, Hal. 9. Juga dari Ath Thabarani, Juz. 18, Hal. 140, No. 8562, dari Hudzaifah bin Yaman. Imam Al Haitsami mengatakan, dalam sanadnya terdapat periwayat bernama Ali bin Ghurab, lebih dari satu orang menyatakan tsiqah (bisa diperaya), tapi sebagian lain mengatakan dhaif, namun periwayat lainnya tsiqat semua, Majmaโ€™uz Zawaid, Juz. 10, Hal. 271. Al Maktabah Asy Syamilah
[16] Imam As Suyuthi, Al Asybah Wan Nazhair, Juz. 1, Hal. 8 . Al Maktabah Asy Syamilah

[17] HR. Malik, Juz. 5, Hal. 37, No. 1234. Ibnu Majah, Kitab Al Ahkam Bab Man Banaa fi Haqqihi Maa Yadhurru bi Jaarihi, Juz. 7, Hal. 143, No. 2331. Ahmad, Juz. 6, Hal. 251, No. 2719. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, Juz. 6, Hal. 69. Ad Daruquthni, Bab fil Marโ€™ah Taqtulu Idza Irtadat, Juz. 10, Hal. 339, No. 4595. Al Hakim, Al Mustadarak โ€˜alash Shahihain, Juz. 5, Hal. 454, No. 2305. Katanya shahih sesuai syarat Imam Muslim. Sementara Imam Ibnu Rajab mengatakan hadits ini hasan, dan Imam Ibnu Ash Shalah mengatakan hadits ini disandarkan oleh Ad Daruquthni dengan berbagai jalur yang jika dikumpukan akan menjadi kuat dan hasan, dan mayoritas ulama menerimanya dan berargumentasi dengan hadits ini. Lihat Al Qaidah Adz Dzahabiyah, Hal. 1-2. Al Maktabah Asy Syamilah

[18] Imam Al Qarrafi, Anwarul Buruq fi Anwaril Furuq, Juz. 2, Hal. 368. Al Maktabah Asy Syamilah

[19] Imam Abdullah Az Zarkasyi, Al Bahr Al Muhith, Juz. 7, Hal. 51. Al Maktabah Asy Syamilah
[20] Perlu diingat, yang bisa berubah karena perubahan kondisi, tempat, dan peristiwa, adalah fatwa dan ijtihad. Bukan syariatnya, sebab syariat sifatnya tsabit (tetap/aksiomatik) selamanya

Wallahu a’lam.