Ikhtilat itu Apa Sih?

Assalamualaikum ustadz/ah saya mau tanya masalah ikhtilat, saya masih bingung sm hal yg satu, gimana cara menghindari nya, apalagi seorang medis paramedis itu otomatis bakal berbaur sm yg bukan muhrim.
Maksud saya pandangan soal ikhtilat gimana? Katanya bisa dihindari dgn misal saat pertemuan ada pembatasnya/hijab antar laki2 dan perempuan, sdgkan kita berprofesi sbg tenakes yg berinteraksi dgn banyak org, jd harus gimana, tp katanya selama gak ada ketertarikan antar lawan jenis sih masih gapapa, maaf itu maksud saya ๐Ÿ™๐Ÿป

Jawaban
———-

โ€Œูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡

Ikhtilat ada yang โ€‹mamnu’โ€‹ (terlarang), ada yang โ€‹masyru’โ€‹ (dibolehkan).

๐Ÿ“Œ โ€‹Mamnu’โ€‹ itu jika bercampur baur laki perempuan:

– tanpa hajat syar’i
– tanpa adab Islami (misal tidak menutup aurat, menjaga ucapan, tabarruj)

Seperti yang terjadi di diskotik, konser2, dan semisalnya.

๐Ÿ“Œ โ€‹Masyruโ€‹ itu jika ikhtilat tersebut:

– terjadi karena hajat syar’i
– tetap menjaga adab-adab Islami.

Perhatikan riwayat-riwayat berikut ..

Dalam kitab Shahih-nya Imam Al Bukhari dalam Bab โ€‹โ€œIyadatun Nisaa Ar Rijaalโ€โ€‹ yang artinya wanita menjenguk kaum laki-laki.

Tertera di sana:

ูˆูŽุนูŽุงุฏูŽุชู’ ุฃูู…ู‘ู ุงู„ุฏู‘ูŽุฑู’ุฏูŽุงุกูุŒ ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู…ูŽุณู’ุฌูุฏูุŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฃูŽู†ู’ุตูŽุงุฑู

Ummu Ad Darda menjenguk seorang laki-laki ahli masjid dari kalangan Anshar. โ€‹(HR. Al Bukhari, 7/116)โ€‹

Begitu pula โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, Beliau menjenguk ayahnya dan Bilal bin Rabah Radhiallahu โ€˜Anhu yang sedang demam. Padahal Aisyah bukanlah mahramnya Bilal.

โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha berkata:

ู„ูŽู…ู‘ูŽุง ู‚ูŽุฏูู…ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุงู„ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉูŽุŒ ูˆูุนููƒูŽ ุฃูŽุจููˆ ุจูŽูƒู’ุฑู ูˆูŽุจูู„ุงูŽู„ูŒ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุงุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ููŽุฏูŽุฎูŽู„ู’ุชู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ูŽุงุŒ ู‚ูู„ู’ุชู: ูŠูŽุง ุฃูŽุจูŽุชู ูƒูŽูŠู’ููŽ ุชูŽุฌูุฏููƒูŽุŸ ูˆูŽูŠูŽุง ุจูู„ุงูŽู„ู ูƒูŽูŠู’ููŽ ุชูŽุฌูุฏููƒูŽุŸ

Ketika Rasulullah ๏ทบ sampai di Madinah, Abu Bakar dan Bilal mengalami demam. Lalu aku masuk menemui keduanya. Aku berkata: โ€œWahai ayah, bagaimana keadaanmu? Wahai Bilal bagaimana keadaanmu?โ€ โ€‹(HR. Al Bukhari No. 5654)โ€‹

Namun, pembolehan ini terikat oleh syarat bahwa tetap menutup aurat secara sempurna dan aman dari fitnah. โ€‹(Al Hafizh Ibnu Hajar, Fathul Bari, 10/118)โ€‹

Bahkan syarat ini mesti ditambah yakni tidak tabarruj dan tidak khalwat (berdua-duaan), alias mesti ditemani oleh mahramnya atau orang lain yang bisa dipercaya.

Riwayat lain .., Imam Al Bukhari dalam kitab Shahih-nya, membuat enam bab tentang peran muslimah dalam peperangan yang dilakukan kaum laki-laki.

1. Bab Ghazwil Marโ€™ah fil Bahr (Peperangan kaum wanita di lautan)
2. Bab Hamli Ar Rajuli Imraโ€™atahu fil Ghazwi Duna Baโ€™dhi Nisaโ€™ihi (Laki-laki membawa isteri dalam peperangan tanpa membawa isteri lainnya)
3. Bab Ghazwin Nisaโ€™ wa Qitalihinna maโ€™a Ar Rijal (Pertempuran wanita dan peperangan mereka bersama laki-laki)
4. Bab Hamlin Nisaโ€™ Al Qiraba Ilan Nas fil Ghazwi (Wanita membawa (tempat) minum kepada manusia dalam peperangan)
5. Bab Mudawatin Nisaโ€™ Al Jarha fil Ghazwi (Pengobatan Wanita untuk yang terluka dalam peperangan)

6. Bab Raddin Nisaโ€™ Al Jarha wal Qatla Ilal Madinah (Wanita Memulangkan Pasukan terluka dan terbunuh ke Madinah)

Semua ini menunjukkan keterlibatan wanita dalam kehidupan manusia secara wajar: pada dunia pendidikan, kedokteran, bahkan jihad, dan di sana ada kaum laki-laki. Namun, dengan tetap menjaga adab-adab Islam saat di luar rumah dan bersama laki-laki yang bukan mahramnya.

Wallahu a’lam.

Tak Pernah Lelah Belajar Relaโ€‹

Sungguh, bersikap rela tidaklah mudah.

Lantaran banyak harapan yang tak selaras dengan kenyataan. Apa yang ditetapkan tak seiring dengan apa yang manusia rencanakan.

Saat seperti inilah menjadi ujian berat bagi manusia.

Terkadang kita dirudung kecewa, berduka, dan berderailah air mata.

Semua itu terjadi lantaran tak pernah tahu apa yang menjadi rahasia di hari kemudiannya.

Wajar, begitulah sisi manusiawi kita.

Namun kala sempat terlintas kecewa dan kesedihan segeralah untuk berlari menuju Allah. Menunjukkan kerelaan atas apa yang ditakdirkan justru berbuah pada semakin dekatnya hamba pada Rabbnya.

Lisan dipenuhi dzikir. Ibadah terus dilakukan untuk merebut kasih sayang Nya. Akhlak pun semakin diperbaiki.

Seperti itulah pembuktian dari kerelaan atas segala ketetapan.

Bukan sebaliknya.
Bibir mengeluh penuh kekesalan, mulut berucap tentang kekecewaan. Hati pun marah karena merasakan derita. Serta sikap yang semakin menjauh dari Rabbnya.

Bahkan ada yang sampai menuduh bahwa Allah tidak adil. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

Bila diri kita mengaku beriman maka, beginilah sejatinya rela.

Suatu Ibnu Abbas ra berkata,
โ€‹”Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam menemui sahabat-sahabat Anshar, beliau bersabda,”Apakah kalian orang-orang mukmin?”โ€‹

โ€‹Mereka semua terdiam, lantas Umar bin Khatab menjawab, Ya Wahai Rasulullah.” Beliau bersabda lagi,”Apakah tanda keimanan kalian?”โ€‹

โ€‹Mereka berkata, “Kami bersyukur menghadapi kelapangan, bersabar menghadapi bencana, dan rela dengan ketentuan Allah.”โ€‹

โ€‹Nabi saw bersabda lagi, “Orang-orang mukmin yang benar, demi Tuhan Ka’bah.”โ€‹

Masya Allah…
Laa Quwwata illa billah…

Nazar & Kafarat nya

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah …bagaimana penjelasan tentang nazar dan kafaratnya. Syukron.

Jawaban
———-

โ€Œูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡
Bismillah wal Hamdulillah ..

Apa yang ditanyakan ini, istilahnya adalah Nadzar Muqayyad atau Muโ€™allaq. Yaitu seorang yang bernadzar disebabkan karena terikat atau tergantung oleh suatu keadaan atau keinginan tertentu. Nadzar seperti ini makruh, sebab seolah dia baru ingin mendekatkan diri kepada Allah Taโ€™ala dengan amal shalih itu, jika keinginannya terpenuhi dulu. Jelas sekali kesan dia bakhil terhadap amal shalih. Seperti ungkapan: โ€œSaya akan shaum dua hari, jika anak saya lulus ujian sekolah.โ€ Ucapan ini mengandung makna bahwa dia tidak akan shaum jika ternyata anaknya tidak lulus. Jadi, ibadah yang dilakukannya bukan karena Allah Taโ€™ala, tapi jika keinginannya terpenuhi dulu.

Inilah yang disindir oleh riwayat dari Ibnu Umar berikut:

ุนูŽู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽุฐู’ุฑูุŒ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽุฃู’ุชููŠ ุจูุฎูŽูŠู’ุฑูุŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูŠูุณู’ุชูŽุฎู’ุฑูŽุฌู ุจูู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุจูŽุฎููŠู„ูยป

Dari Nabi Shallalahu โ€˜Alaihi wa Sallam bahwa Beliau melarang bernadzar, Beliau bersabda: โ€œNadzar itu tidaklah mendatangkan kebaikan, itu hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil.โ€ (HR. Muslim No. 1639)

Syaikh Abu Bakar Al Jazairi mengatakan:

ูˆ ูŠูƒุฑู‡ ุงู„ู†ุฐุฒ ุงู„ู…ู‚ูŠุฏ ูƒุฃู† ูŠู‚ูˆู„ : ุงู† ุดูุง ุงู„ู„ู‡ ู…ุฑูŠุถู‰ ุตู…ุช ูƒุฐุง ุงูˆ ุชุตุฏู‚ุช ุจูƒุฐุง

Dimakruhkan nadzar muqayyad, seperti ucapan: โ€œJika Allah sembuhkan penyakitku aku akan puasa sekian, atau aku akan sedekah sekian. (Minhajul Muslim, Hal. 394)

Namun demikian, baik nadzar muthlaq dan muqayyad, keduanya wajib dipenuhi jika sudah direncanakan oleh seseorang dan jelas nadzarnya.
Khusus nadzar muqayyad, jika keinginannya masih belum terpenuhi, misal seperti yang ditanyakan oleh penanya yaitu kesembuhan dari penyakit dalam waktu enam bulan belum tercapai, maka nadzar tersebut tidak wajib dijalankan. Sebab memang nadzarnya terikat oleh kesembuhan direntang waktu tersebut.

Jika akhirnya TERCAPAI, dapat sembuh diwaktu enam bulan, maka wajib menjalankannya. Kecuali jika dia tidak mampu menjalankannya. Jika tidak mampu melaksanakan nadzarnya, dia boleh membatalkan nadzarnya dengan melakukan Kaffarat Nadzar sebagaimana kaffarat sumpah, sebagaimana hadits:

ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ุงู„ู†ู‘ูŽุฐู’ุฑู ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ุงู„ู’ูŠูŽู…ููŠู†ู

Kaffarat nadzar itu sama dengan kaffarat sumpah. (HR. Muslim No. 1645)

Bagaimana caranya?

– Dengan memberikan makan kepada 10 fakir miskin masing-masing sebanyak satu mud gandum (atau disesuaikan dengan makanan dan takaran masing-masing negeri), atau mengundang mereka semua dalam jamuan makan malam atau siang sampai mereka puas dan kenyang, dengan makanan yang biasa kita makan.
– Atau memberikan pakaian yang sah untuk shalat, jika fakir miskin itu wanita, maka mesti dengan kerudungnya juga.
– Atau memerdekan seorang budak
– Jika semua tidak sanggup, maka shaum selama tiga hari, boleh berturut-turut atau tidak.

Ketetapan ini sesuai firman Allah Taโ€™ala sebagai berikut:

โ€‹Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi Makan sepuluh orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)โ€‹.
(QS. Al Maidah: 89)

Bolehnya membatalkan nadzar dalam keadaan tidak mampu menjalankannya, berdasarkan hadits berikut dari Ibnu Abbas secara marfuโ€™:

ู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ู†ูŽุฐู’ุฑู‹ุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูุณูŽู…ู‘ูู‡ูุŒ ููŽูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุชูู‡ู ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ูŠูŽู…ููŠู†ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ู†ูŽุฐู’ุฑู‹ุง ูููŠ ู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉูุŒ ููŽูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุชูู‡ู ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ูŠูŽู…ููŠู†ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ู†ูŽุฐู’ุฑู‹ุง ู„ูŽุง ูŠูุทููŠู‚ูู‡ู ููŽูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุชูู‡ู ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ูŠูŽู…ููŠู†ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ู†ูŽุฐู’ุฑู‹ุง ุฃูŽุทูŽุงู‚ูŽู‡ู ููŽู„ู’ูŠูŽูู ุจูู‡ูยป

Barang siapa yang bernadzar dan dia belum tentukan, maka kafaaratnya sama dengan kaffarat sumpah. Barang siapa yang bernadzar dalam hal maksiat, maka kaffaratnya sama dengan kaffarat sumpah, dan barang siapa yang nadzar dengan hal yang dia tidak sanggup maka kaffaratnya sama dengan kaffarat sumpah, dan siapa yang nadzarnya dengan sesuatu yang dia mampu, maka hendaknya dia penuhi nadzarnya.
(HR. Abu Daud No. 3322. Hadits ini didhaifkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 3322.
Sementara Imam Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Maram: โ€œIsnadnya shahih, hanya saja para huffazh lebih menguatkan bahwa ini hanyalah mauquf.โ€ Mauquf maksudnya terhenti sebagai ucapan sahabat nabi saja, yakni Ibnu Abbas, bukan marfuโ€™ /ucapan nabi. )

Wallahu a’lam.

Haruskah Berprasangka Baik Kepada Bangsa yang Moncong Meriamnya Diarahkan ke Kitaโ€‹

Jembatan Kota Intan dari jembatan Jalan Tiang Bendera menatap ke arah selatan. Sebelum jembatan ini didirikan, di tempat itulah VOC menyeberangi Sungai Ciliwung untuk menyerang ke jantung kota Jayakarta pada 30 Mei 1619.

Dengan cerdiknya VOC melewati tiga kubu pertahanan untuk dapat menyerbu langsung ke pasar sehingga menimbulkan kekacauan. Battalion tempur VOC langsung menyebar tiga untuk menguasai alun-alun/dalem, masjid, serta bagian pertahanan utara Jayakarta.

Pangeran Jayawikarta diselamatkan ke Banten begitupula sebagian besar penduduk menyelamatkan diri ke arah barat.

Agung Waspodo, tak habis pikir atas kelalaian dinas intelijen kota akan ancaman ini
Kilometer Nol Jayakarta, 22 Agustus 2017

Shodaqoh ato Kewajiban??

Assalamualaikum ustadz/ ah..Mw tanya,memberi uang kepada orang tua itu termasuk sedekah apa kewajiban?๐Ÿ…ฐ3โƒฃ8โƒฃ

Jawaban
———-

ูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ

Dalam Qur’qn surat al ahqaf : 15
“Dan kami wasiatkan (perintahkan) kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya…”

Dalam Qur’an surat Al Isra : 23
“Dan Tuhanmu telah perintahkan, supaya engkau tidak menyembah melainkan kepadaNya semata, dan hendaklah engkau berbuat baik kepada ibu bapak…”

Dalam beberapa hadist jg di jelaskan begitu pentingnya berbakti kepada orang tua…
Bentuk bakti anak kepada orang tua ada 2 macam
1. Saat masih hidup
2. Setelah meninggal dunia

Saat masih hidup, bakti anak kepada orang tua diantaranya, mengunjunginya, tidak menyakitinya dengan kata2 dan perbuatan, mendoakan, memberi nafkah dan menjamin fasilitas kehidupan jika orang tua adalah fakir miskin.

Ada 2 syarat kewajiban anak dalam memberi nafkah kepada orang tua.
1. Orang tua fakir miskin
2. Si anak memiliki kelapangan rezeki dan berkemampuan memberikan nafkah tsb.

Jadi, jika anak memiliki kemampuan finansial dan orang tuanya termasuk fakir miskin, maka si anak wajib memberikan nafkah kepada orang tuanya.

Wallahu a’lam.

Tentramkan Jiwamu…โ€‹

Hidup dengan tenang adalah idaman setiap insan. Sebab kegaduhan hanya akan menyiksa jiwa dan menyisakan luka di jiwa.

Banyak orang menganggap setelah sukses di puncak karir, terkumpulnya harta, tercukupinya kebutuhan, cerahnya masa depan, bahkan pasangan, menjadi ukuran hadirnya ketenangan hidup.

Faktanya bisa sebaliknya.

โ€‹Tentramkan Jiwamu Agar Kualitas Hidupmu Melejit Jauh dari prasangkamu.โ€‹

Apa kuncinya????

Kita tidak perlu melawan kehendak Yang Maha Besar. Kita hanya perlu memahaminya, lalu belajar berdamai dengan diri kita bahwa itulah yang terbaik untuk kita.

Sebab jika Allah hendak menciptakan peristiwa dan memberlakukan kehendakNya, Ia menyiapkan semua sebab-sebabnya dan terjadilah semua takdirNya.

Berhasil membaca kehendakNya dalam hidup kita akan memberi kita ketenangan jiwa yang tak kan tergoyahkan.

Sayangnya jujur pada diri sendiri, sekarang ini menjadi barang langka yang susah mencarinya. Antara menerima takdir dan menolaknya kadang silih berganti menggulirkan perjuangan yang tak pernah sepi menuntut pengorbanan.

โ€‹โ€‹Padahal rela akan takdir Allah dan tetap husnudzan padaNyaโ€‹ menjadi kunci ketenangan jiwa, melejitkan kualitas hidup dan selalu melahirkan bahagia.โ€‹

Bukankah Allah tak menyiakan hambaNya.

โ€‹”Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNyaโ€โ€‹

(Fushshilat:46)

Dengan itu kita bisa mencintai yang harus si jalani. Menikmati setiap sisi hidup ini sepenuh rasa disyukuri dan di sabari.

Karenanya begitu indah sikap โ€‹Ibnul Qoyyim rohimahullahโ€‹ atas semua takdir yang terjadi. Beliau mengatakan,

ูุฅู† ุงู„ู…ู‚ุฏูˆุฑ ูŠูƒุชู†ูู‡ ุฃู…ุฑุงู† :
ุงู„ุฅุณุชุฎุงุฑุฉ ู‚ุจู„ ูˆู‚ูˆุนู‡ุŒ
ูˆ ุงู„ุฑุถู‰ ุจุนุฏ ูˆู‚ูˆุนู‡.

โ€‹โ€œSesungguhnya suatu hal yang ditakdirkan berporos pada dua hal: โ€‹(1) Istikhoroh (meminta Allah pilihkan) sebelum terjadinya, dan (2) Ridho setelah terjadinyaโ€โ€‹.โ€‹

ูู…ู† ุณุนุงุฏุฉ ุงู„ุนุจุฏ ุฃู† ูŠุฌู…ุน ุจูŠู†ู‡ู…ุง

โ€‹โ€œMaka merupakan bagian dari kebahagiaan seorang hamba mampu mengumpulkan dua perkara di atasโ€ [Mawaaridul amaann hal. 56-57]โ€‹

Wallahua’lam bishawab.

Aqiqah dulu ato Qurban dulu

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Afwan mau nanya kalau udah dewasa belum aqiqah lebih baik qurban dulu apa aqiqah dulu? Mohon penjelasannya. #  I.15

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Sering ditanyakan, kalau blm aqiqah, apa boleh berkurban? Pd dasarnya boleh saja, krn bukan syarat sahnya berkurban harus sudah aqiqah.

Disamping, baik aqiqah maupun berkurban, para ulama menguatkan hukum keduanya sebagai sunah. Bukan perkara wajib.

Akan tetapi jika masalahnya lebih baik aqiqah dahulu atau qurban dahulu, tdk ada dalil detail dlm masalah ini, akan tetapi dapat disimpulkan.

Dpt dilihat masanya. Jika kelahiran jauh dari hari qurban, sebaiknya aqiqah dahulu. Tapi jika sdh datang hari qurban, maka qurban dahulu

Bagaimana jika sudah besar belum diaqiqahkan, sedang dia mau qurban, qurban dulu apa aqiqah dulu? Saran saya qurban saja dahulu….

Adapun aqiqah, dpt dia lakukan di lain waktu. Disamping inipun diperdebatkan para ulama, apakah disyariatkan baginya aqiqah atau tidak?

Bagaimana dgn menggabungkan antara kurban dgn aqiqah dlm satu niat? Ulama berbeda pendapat antara yang memboleh dan melarang.

Lebih hati2 dan keluar dari khilaf sebaiknya tidak digabungkan, karena kurban dan aqiqah walau ada kesamaan di sebagian, tapi masing2 berdiri sendiri

Wallahu a’lam.

Kafarat Suami Karena Mrnzihar Istri

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Di surat Al Ahzab:4, ada kafarat/denda yg hrs dibayar oleh suami krn men zihar istrinya. Bgmn ketentuan kafaratnya, mbak?

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah ..

Utk kafarat zhihar, sudah ada rinciannya dalam surat Al Mujadilah, sebagai berikut:

الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ ۖ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ ۚ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ

Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۚ ذَٰلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) ​memerdekakan seorang budak​ sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۖ فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ۚ ذَٰلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) ​berpuasa dua bulan berturut-turut​ sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) ​memberi makan enam puluh orang miskin.​ Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih. (QS. Al Mujadilah: 2-4)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala, tegaskan rincian kafaratnya:

1. Membebaskan budak, kalau tidak mampu maka..

2. Berpuasa dua bulan berturut-turut, kalau tidak mampu maka ..

3. Memberikan makan ke fakir miskin 60 orang ..

Nah, tiga hal ini sifatnya bukan opsional seenaknya, tapi sesuai urutan sebagaimana ayat menyebutkan, sebagaimana keterangan para ulama.

Wallahu a’lam.

Panduan Qurban dan Pembahasannya (Bag. 4)โ€‹

📝 ​Ringkasan​
Perbedaan Antara Aqiqah dan Qurban

🔸 ​Pertama,​ Jenis hewan yang disembelih.

Qurban jelas-jelas membolehkan hewan ternak seperti Unta, Sapi, Lembu, dan Kambing (dengan berbagai jenisnya). Itulah yang disebut dengan An Naam (hewan ternak). Ini sudah kita bahas pada halaman awal. Sedangkan Aqiqah, pendapat yang lebih kuat adalah hanya menggunakan kambing sebagai hewan yang disembelih.

🔸 ​Perbedaan kedua,​ Faktor penyebab penyembelihan.

Hewan Kurban disembelih karena bentuk pengorbanan kita kepada Allah Taala pada saat bulan Dzulhijjah sebagai pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihimassalam. Sedangkan Aqiqah merupakan penyembelihan Kambing dengan sebab kelahiran bayi.

🔸 ​Perbedaan ketiga,​ Faktor waktu pelaksanaan.

Hewan Kurban disembelih hanya pada 10,11,12,13, Dzulhijjah, demikianlah pendapat jumhur (mayoritas ulama) dan sudah saya bahas pada halaman awal-awal. Sebagian kecil saja ulama  yang membolehkan hingga akhir Dzulhijjah, yakni pendapat Abu Salamah bin Abdurrahman dan Ibrahim An Nakhai.
Sedangkan Aqiqah, waktu pelaksanaannya adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran bayi.

Selengkapnya….
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📚 ​Perbedaan Antara Aqiqah dan Qurban​

Telah terjadi kesimpangsiuran dan campur aduk antara aqiqah dan qurban. Banyak umat Islam yang menyamakan aqiqah dengan kurban, seperti yang terjadi di beberapa daerah, bahkan sayangnya- hal ini dikuatkan oleh pandangan tokoh yang dinilai ahli agama, sebagimana yang terjadi  di TV Swasta ketika acara tanya jawab yang cukup digemari. Sang Nara sumber mengatakan tanpa dalil-  bolehnya aqiqah dengan sapi, sebab sapi bisa untuk tujuh orang!  (adakah aqiqah untuk tujuh bayi !?)

🔑 ​Ada tiga perbedaan prinsip antara Aqiqah dan Qurban.​

1⃣  ​Pertama, Jenis hewan yang disembelih.​

Qurban jelas-jelas membolehkan hewan ternak seperti Unta, Sapi, Lembu, dan Kambing (dengan berbagai jenisnya). Itulah yang disebut dengan An Naam (hewan ternak). Ini sudah kita bahas pada halaman awal. Sedangkan Aqiqah, pendapat yang lebih kuat adalah hanya menggunakan kambing sebagai hewan yang disembelih.

Dalilnya adalah:

عن ابن أبى مليكة يقول نفس لعبد الرحمن بن أبى بكر غلام فقيل لعائشة رضى الله عنها يا ام المؤمنين عقى عليه أو قال عنه جزورا فقالت معاذ الله ولكن ما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم شاتان مكافأتان
Dari Ibnu Abi Malikah ia berkata: Telah lahir seorang bayi laki-laki untuk Abdurrahman bin Abi Bakar, maka dikatakan kepada Aisyah: Wahai Ummul Muminin, adakah aqiqah atas bayi itu dengan seekor unta?. Maka Aisyah menjawab: Aku berlindung kepada Allah, tetapi seperti yang dikatakan oleh Rasulullah, dua ekor kambing yang sepadan.

Ini adalah riwayat pengingkaran yang sangat tegas bagi orang yang menggantikan Kambing dengan yang lainnya, sampai-sampai Aisyah mengucapkan Maadzallah! (Aku berlindung kepada Allah).

Oleh karena itu, dengan tegas berkata Imam Ibnu Hazm Rahimahullah:

ولا يجزئ في العقيقة الا ما يقع عليه اسم شاة إما من الضأن واما من الماعز فقط، ولا يجزئ في ذلك من غير ما ذكرنا لا من الابل ولامن البقر الانسية ولامن غير ذلك

“Tidaklah cukup dalam aqiqah melainkan hanya dengan apa-apa yang dinamakan dengan  kambing (syatun), baik itu jenis kambing benggala atau kambing biasa, dan  tidaklah cukup hal ini dengan selain yang telah kami sebutkan, tidak pula jenis   unta, tidak pula sapi, dan tidak pula lainnya.

Telah ada kasus pada masa sahabat, di antara mereka melaksanakan aqiqah dengan Unta, namun hal itu langsung dingkari oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Imam Ibnul Mundzir menceritakan, bahwa Anas bin Malik meng-aqiqahkan anaknya dengan Unta, juga dilakukan oleh Abu Bakrah dia menyembelih Unta untuk anaknya dan memberikan makan penduduk Bashrah dengannya. Kemudian disebutkan dari Al Hasan, dia berkata:  bahwa Anas bin Malik meng aqiqahkan anaknya dengan Unta.  Kemudian disebutkan hadits, dari Yahya bin Yahya, mengabarkan kepada kami Husyaim, dari Uyainah bin Abdirrahman, dari ayahnya, bahwa Abu Bakrah telah mendapatkan anak laki-laki, bernama Abdurrahman, dia adalah anaknya yang pertama di Bashrah, disembelihkan untuknya Unta dan diberikan untuk penduduk Bashrah, lalu sebagian mereka mengingkari hal itu, dan berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memerintahkan aqiqah dengan dua kambing untuk bayi laki-laki, dan satu kambing untuk bayi perempuan, dan tidak boleh dengan selain itu. 

Imam Ibnul Mundzir membolehkan aqiqah dengan selain kambing, dengan alasan:

مَعَ الْغُلَامِ عَقِيقَةٌ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الْأَذَى

“Bersama bayi itu ada aqiqahnya, maka sembelihlah hewan, dan hilangkanlah gangguan darinya.”

Menurutnya, hadits ini tidak menyebutkan kambing, tetapi hewan secara umum, jadi boleh saja dengan selain kambing.  Alasan Imam Ibnu Mundzir ini lemah, sebab hadits ini masih global, dan telah ditafsirkan dan dirinci oleh berbagai hadits lain yang menjelaskan bahwa apa yang dimaksud hewan dalam hadits itu adalah kambing.  Menurut kaidahnya,  tidak dibenarkan mengamalkan dalil yang masih global, jika sudah ada dalil lain yang memberikan perincian dan penjelasannya. Istilahnya Hamlul Muthlaq ila Al muqayyad (Dalil yang masih muthlaq/umum harus dibatasi oleh dalil yang muqayyad/terbatas).

Hadits-hadits yang memberikan rincian tersebut adalah (saya sebut dua saja)
Dari  Ummu Kurzin Radhiallahu ‘Anha, katanya:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافَأَتَانِ وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, bahwa untuk anak laki-laki adalah dua kambing yang sepadan, dan bagi anak perempuan adalah satu ekor kambing.”

Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:
أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نعق عن الغلام شاتين، وعن الجارية شاة.
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kami untuk meng-aqiqahkan anak laki dengan dua ekor kambing, dan anak perempuan seekor kambing.”

Demikianlah hadits-hadits yang memberikan perinciannya, yakni dengan kambing. Masih banyak hadits lainnya, yang semuanya memerintahkan dengan kambing, tak satu pun menyebut  selain kambing, justru yang ada adalah pengingkaran selain kambing.  Maka, jelaslah kelemahan pendapat yang mengatakan bahwa aqiqah boleh diganti dengan Sapi atau Unta. Wallahu Alam.

Imam Ibnul Qayyim telah mengkoreksi kekeliruan Imam Ibnul Mundzir dalam hal ini, menurutnya hadits yang menyebutkan sembelihan dengan hewan adalah masih  umum, dan telah dirinci dengan riwayat hadits-hadits yang menyebut penyembelihan itu harus dengan kambing. Beliau mengatakan;

وقول النبي صلى الله عليه وسلم عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة مفسر والمفسر أولى من المجمل

“Dan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ‘untuk anak laki-laki dua kambing dan anak perempuan satu kambing,’ merupakan perincinya, dan rincian harus diutamakan dibanding yang masih global (umum).”

Namun demikian, sebenarnya ini adalah masalah khilafiyah di antara ulama, tertulis dalam kitab Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, sebagai berikut:

يُجْزِئُ فِي الْعَقِيقَةِ الْجِنْسُ الَّذِي يُجْزِئُ فِي الأُْضْحِيَّةِ ، وَهُوَ الأَْنْعَامُ مِنْ إِبِلٍ وَبَقَرٍ وَغَنَمٍ ، وَلاَ يُجْزِئُ غَيْرُهَا ، وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ الْحَنَفِيَّةِ ، وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ ، وَهُوَ أَرْجَحُ الْقَوْلَيْنِ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ   وَمُقَابِل الأَْرْجَحِ أَنَّهَا لاَ تَكُونُ إِلاَّ مِنَ الْغَنَمِ .
وَقَال الشَّافِعِيَّةُ : يُجْزِئُ فِيهَا الْمِقْدَارُ الَّذِي يُجْزِئُ فِي الأُْضْحِيَّةِ وَأَقَلُّهُ شَاةٌ كَامِلَةٌ ، أَوِ السُّبُعُ مِنْ بَدَنَةٍ أَوْ مِنْ بَقَرَةٍ .
وَقَال الْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ : لاَ يُجْزِئُ فِي الْعَقِيقَةِ إِلاَّ بَدَنَةٌ كَامِلَةٌ أَوْ بَقَرَةٌ كَامِلَةٌ 
“Aqiqah  sudah mencukupi dengan jenis hewan yang sama dengan qurban, yaitu jenis hewan ternak seperti Unta, Kerbau, dan Kambing, dan tidak sah selain  itu. Ini telah disepakati oleh kalangan Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah, dan ini menjadi pendapat yang lebih kuat dari dua pendapat kalangan Malikiyah, yang diutamakan adalah bahwa tidak sah kecuali dari jenis hewan ternak. Kalangan Syafiiyah mengatakan: telah sah aqiqah dengan hewan yang seukuran dengan hewan yang telah mencukupi bagi qurban, minimal adalah seekor kambing yang telah sempurna, atau sepertujuh dari Unta atau Sapi. Kalangan Malikiyah dan Hanabilah mengatakan: tidak sah aqiqah kecuali dengan Unta dan Sapi yang telah sempurna.

Demikian pandangan kalangan ulama madzhab. Namun pendapat yang lebih kuat, dan diterangkan oleh dalil yang spesifik,  adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Aisyah Radhiallahu Anha, Imam Ibnu Hazm, Imam Ibnul Qayyim, dan para imam muhaqqiq (peneliti) bahwa aqiqah hanya sah dengan kambing, -tanpa mengurangi sara hormat kepada para ulama yang berpendapat bolehnya dengan sapi dan unta. Wallahu Alam

2⃣ ​Perbedaan kedua, Faktor penyebab penyembelihan.​

Hewan Kurban disembelih karena bentuk pengorbanan kita kepada Allah Taala pada saat bulan Dzulhijjah sebagai pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihimassalam. Sedangkan Aqiqah merupakan penyembelihan Kambing dengan sebab kelahiran bayi.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
مَعَ الْغُلَامِ عَقِيقَةٌ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الْأَذَى
“Bersama seorang bayi ada aqiqahnya, maka sembilahlah hewan  dan singkirkanlah gangguan darinya”
Maksud dari ‘singkirkanlah gangguan darinya’ adalah mencukur rambutnya.

3⃣ ​Perbedaan ketiga, Faktor waktu pelaksanaan.​

Hewan Kurban disembelih hanya pada 10,11,12,13, Dzulhijjah, demikianlah pendapat jumhur (mayoritas ulama) dan sudah saya bahas pada halaman awal-awal. Sebagian kecil saja ulama  yang membolehkan hingga akhir Dzulhijjah, yakni pendapat Abu Salamah bin Abdurrahman dan Ibrahim An Nakhai.
Sedangkan Aqiqah, waktu pelaksanaannya adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran bayi.

Sesuai hadits berikut:
Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya, disembelih (hewan) pada hari ketujuh dari kelahirannya, dicukur rambutnya dan diberikan nama. ( HR. Abu Daud No. 2838. Ahmad No. 19382. Ad Darimi No. 2021. Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 8377.  Hadits ini shahih. lihat Syaikh Al Albani, Irwa’ Al Ghalil No. 1165. Al Maktab Al Islami. Imam An Nawawi, Al Adzkar, No. 843. Darul Fikr )

Wasiat

Assalamu’alaikum ustad/ustadzah ya…
Bgmn hukumnya apabila kami melakukan pembagian warisan dlm keluarga namun tdk sesuai wasiat ayah kami yg sudah wafat.semasa hidup ayah kami berwasiat namun tdk secara keseluruhan utk warisan yg ditinggalkan. maka dengan alasan mempermudah pembagian warisan krn warisan ayah kami ada dibeberapa tempat, maka kakak kami membaginya dgn cara yg diaturnya menurut pembagian syariat scara islam. namun pembagian ini ada yg lbh utk kk kami yg tertua laki2 krn  rmh yg kakak kami tempati itu sdh di huni dan direhab oleh kakak kami semasa ayah kami msh hidup dan tdk masuk dlm hitungan beliau utk warisan yg dibagi stelah ayah kami wafat.kami 5 brsaudara 3 perempuan dan 2 laki2. ibu msh hidup. mohon jawabannya ustad/ustadzah .syukron ats jawabannya.

🍃🍃 Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
pada dasarnya wasiat mesti dijalankan oleh si penerima wasiat. Tp, itu tidak mutlak. Jika isi wasiat bertentangan dgn nash-nash syariat maka tidak boleh ditaati.

📌 Untuk wasiat harta, tidak boleh diberikan kepada anak, tetapi kepada orang tua atau  kerabat atau siapa pun yg ingin diwasiatkan, biasanya memang ada hub dekat, sebab pada hakikatnya wasiat adalah sedekah. Maksimal 1/3 harta. Banyak org tidak paham ini, mereka mewasiatkan harta juga diberikan ke anak-anaknya, itu keliru. Sebab, anak-anak akan dapat dari warisan.

Allah Ta’ala berfirman: 

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Baqarah (20: 180)

Dari hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: 

عنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ عَادَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ مِنْ وَجَعٍ أَشْفَيْتُ مِنْهُ عَلَى الْمَوْتِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بَلَغَنِي مَا تَرَى مِنْ الْوَجَعِ وَأَنَا ذُو مَالٍ وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابْنَةٌ لِي وَاحِدَةٌ أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي قَالَ لَا قَالَ قُلْتُ أَفَأَتَصَدَّقُ بِشَطْرِهِ قَالَ لَا الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى اللُّقْمَةُ تَجْعَلُهَا فِي فِي امْرَأَتِكَ )رواه مسلم(

Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqash Radhiallahu ‘Anhu: Rasulullah pernah menjenguk saya waktu haji wada’ karena sakit keras yang saya alami sampai hampir saja saya meninggal. Lalu saya berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah saya sedang sakit keras sebagaimana engkau sendiri melihatnya sedangkan saya mempunyai banyak harta dan tidak ada yang mewarisi saya, kecuali anak perempuan satu-satunya. Bolehkah saya menyedekahkan sebanyak 2/3 dari harta saya?”

Beliau menjawab:  “Tidak” saya mengatakan lagi bolehkah saya menyedekahkan separoh harta saya?

Beliau menjawab “Tidak” sepertiga saja yang boleh kamu sedekahkan, sedangkan sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya adalah lebih baik dari pada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin, menengadahkan tangan meminta-minta pda orang banyak. Apapun yang kamu nafkahkan karena ridha Allah, kamu mendapat pahala karenanya, bahkan termasuk satu suap untuk istrimu”. (HR. Muslim) 

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda dalam hadits lain :

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُل ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ

Sesungguhnya Allah telah memberikan setiap orang masing-masing haknya. Maka tidak boleh harta itu diwasiatkan untuk ahli waris. (HR. At-Tirmizy No. 2046, Abu Daud No. 2486. Shahih)

Dengan demikian, wasiat tersebut tdk wajib ditaati karena tidak bersesuaian dgn Al Quran dan As Sunnah, baik dari sisi sasaran dan jumlah pembagiannya.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.

(HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir No.381, Alauddin Al Hindi, Kanzul ‘Ummal No. 14401, Al Khathib, 10/22. Imam Al Haitsami mengatakan: para perawinya Ahmad dalah para perawi shahih. Majma’ Az Zawaid, 5/407. Syaikh Muhammad bin Darwisy mengatakan: diriwayatkan Ahmad dan sanadnya shahih. Lihat ​Asnal Mathalib​, No. 1713)

Kesimpulan, hendaknya memakai hukum Allah Ta’ala, bukan hawa nafsu manusia. Sebagaimana firmanNya:

ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al Maidah: 44)

Ayat lain:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Rasulullah) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An Nisa: 65)

Wallahu a’lam.